The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by 1710120120030, 2022-05-17 03:21:14

E-MODUL MATERI KOLOID

Kompetensi Dasar:

3.14 Mengelompokkan berbagai tipe sistem koloid, dan menjelaskan kegunaan
koloid dalam kehidupan berdasarkan sifat-sifatnya.

Indikator:

3.14.1 Membedakan larutan, koloid dan suspensi
3.14.2 Mengklasifikasikan jenis koloid berdasarkan fase terdispersi dan fase
pendispersi

3.14.3 Membedakan pembuatan koloid dengan metode dispersi dan metode
kondensasi

3.14.4 Menjelaskan sifat-sifat koloid

3.14.5 Menganalisis penerapan koloid berdasarkan sifat-sifatnya dalam kehidupan
sehari-hari


























































k o l o i d i |

KATA PENGANTAR




Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah karena berkat rahmat dan karunia-
Nya penulis dapat menyelesaikan e-modul tentang koloid ini. Turut serta penulis sampaikan

terima kasih kepada Bapak Drs. Parham Saadi, M.Si dan Ibu Prof. Dr. Hj. Atiek Winarti,
M.Pd, M.Sc selaku dosen pembimbing yang telah membimbing dan memberikan arahan

kepada penulis sehingga e-modul ini dapat terselesaikan.

E-modul ini disusun agar peserta didik lebih mudah memahami materi koloid. Pada e-
modul mampu memberi efek flip, yaitu membuka atau membalik lembar demi lembar halaman

buku sehingga seperti membaca modul sungguhan. E-modul yang dihasilkan juga tidak berupa
modul saja, tapi dilengkapi dengan gambar dan video sehingga menjadikan e-modul ini lebih

menarik.

Penulis menyadari bahwa e-modul ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu,
kritik dan saran sangat diharapkan agar e-modul ini dapat dikembangkan menjadi lebih baik

lagi. Penulis berharap e-modul bermanfaat bagi pembaca khususnya peserta didik, guru dan
sekolah serta dapat dijadikan salah satu sumber belajar dalam proses pembelajaran kimia di

kelas.









Banjarmasin, Mei 2022






Siti Khadijah

NIM. 1710120120030











k o l o i d ii |

DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ................................................................................................... ii

DAFTAR ISI ................................................................................................................ iii
PETUNJUK PENGGUNAAN...................................................................................... iv
GLOSARIUM ................................................................................................................ v

PETA KONSEP ............................................................................................................ vi

PENDAHULUAN ....................................................................................................... vii
A. MACAM KOLOID .................................................................................................. 2
1. Jenis Campuran .................................................................................................... 2

2. Tipe Sistem Koloid............................................................................................... 4

B. SIFAT-SIFAT KOLOID .......................................................................................... 9
1. Efek Tyndall ......................................................................................................... 9
2. Gerak Brown ...................................................................................................... 11

3. Adsorpsi ............................................................................................................. 12
4. Koagulasi ............................................................................................................ 13

5. Stabilitas Sistem Koloid ..................................................................................... 15
6. Koloid Liofil dan Koloid Liofob ........................................................................ 17

C. PEMBUATAN KOLOID ...................................................................................... 21
1. Cara Kondensasi ................................................................................................. 21

2. Cara Dispersi ...................................................................................................... 22
RANGKUMAN ........................................................................................................... 23

ASAH KEMAMPUAN ............................................................................................... 23

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................. 23























k o l o i d iii |

PETUNJUK PENGGUNAAN




Dalam e-modul ini, kamu akan menemukan beberapa petunjuk yang dapat membantu
kamu untuk mempermudah penggunaannya.


Petunjuk Penggunaan

Peta Konsep Berisi tentang rangkaian materi yang akan
dibahas

Pendahuluan Berisi deskripsi singkat tentang koloid

Indikator Pembelajaran Berisi indikator yang menjadi kriteria
keberhasilan pencapaian kompetensi dasar

Sekilas Info Berisi tentang informasi tambahan yang
berkaitan dengan materi pembelajaran

Latihan Berisi soal-soal yang harus dikerjakan

peserta didik
Rangkuman Berisi ringkasan materi pembelajaran dari

awal sampai akhir

Asah Kemampuan Berisi soal-soal untuk mengasah kemampuan
dalam memahami materi pembelajaran


































k o l o i d iv |

GLOSARIUM






Adsorpsi : Salah satu sifat koloid, yaitu kemampuan mengikat
materi di permukaannya.

Aerosol : Koloid yang fase terdispersinya berupa cairan atau
padatan dan medium pendispersinya merupakan gas.

Buih : Koloid yang fase terdispersinya merupakan gas.

Dialisis : Penghilangan muatan koloid dengan cara memasukkan
koloid ke dalam membran semi permiabel, kemudian
dimasukkan ke dalam aliran zat cair.

Efek Tyndal : Hamburan cahaya oleh partikel-partikel koloid yang
mengakibatkan tampaknya berkas sinar yang melewati
sistem koloid.

Emulsi : Koloid yang fase terdispersinya merupakan zat cair.

Fase Terdispersi : Fase zat yang didispersikan ke dalam medium
pendispersi.

Gel : Koloid yang fase terdispersinya mengadsorpsi medium
pendispersi sehingga terbentuk koloid yang agak padat
atau setengah kaku (antara padat dan cair).

Koagulasi : Penggumpalan partikel koloid.

Koloid Liofob : Koloid yang fase terdispersinya berinteraksi lemah atau
tidak ada interaksi dengan medium pendispersi

Koloid Pelindung : Koloid yang dapat menstabilkan sistem koloid lain
Koloid : Bentuk campuran yang keadaanya yang terletak antara
larutan dan suspensi.

Medium Pendispersi : Medium yang digunakan untuk mendispersikan zat.

Sol : Sistem koloid yang fase terdispersi padat.

Suspensi : Campuran kasar (campuran heterogen) yang komponen-
komponen penyusunnya masih dapat dibedakan dan
dapat dipisahkan dengan penyaringan biasa.











k o l o i d v |

PETA KONSEP










Larutan


Jenis Campuran Suspensi

Koloid
Macam Sistem
koloid
Sol


Tipenya Emulsi


Efek Tyndall Busa/Buih


Gerak Brown

Sistem Koloid Sifat-Sifat Sistem Stabilitas koloid
Adsorpsi
Koloid
Koagulasi






Koloid Liofil dan
Liofob

Reaksi Reduksi-
Oksidasi

Reaksi Hidrolis
Kondensasi
Reaksi Substitusi

Penggantian
Pembuatan Sistem pelarut
Koloid

Mekanik


Dispersi Peptisasi

Proses Bredig




k o l o i d vi |

PENDAHULUAN


Sistem koloid pertama kali dikemukakan oleh Thomas Graham seorang ilmuwan dari

Inggris. Thomas Graham menemukan bahwa larutan Natrium Klorida mudah berdifusi

sedangkan kanji, gelatin, dan putih telur sangat lambat atau sama sekali tidak berdifusi. Difusi
adalah proses bergeraknya molekul dari larutan dengan konsentrasi lebih tinggi ke larutan

dengan konsentrasi lebih rendah yang terjadi secara spontan. Zat-zat yang sukar berdifusi
tersebut disebut koloid.


Koloid merupakan suatu jenis campuran yang keadaannya di antara larutan (campuran
homogen) dan suspensi (campuran heterogen). Dikarenakan keadaannya di antara larutan dan

suspensi, maka koloid memiliki sifat di antara dua jenis campuran tersebut. Jika pada larutan
dikenal istilah zat terlarut dan pelarut, pada koloid dikenal istilah fase terdispersi dan medium

pendispersi, yang kemudian fase terdispersi dan medium pendispersi dijadikan dasar untuk

menentukan jenis koloid. Dengan mempelajari koloid kita akan memahami sifat- sifatnya, yang
kemudian dapat kita terapkan dan manfaatkan dalam kehidupan sehari hari. Pada e-modul ini

kita juga akan mempelajari cara pembuatan koloid.








































k o l o i d vii |

Gambar 1 Susu termasuk sistem koloid
Sumber: https://s.id/BxFNa


Cobalah kalian perhatikan zat-zat yang ada di sekitar kalian. Tanah, air, pasir, debu,
awan, cat, susu yang kalian minum, gula, garam. Tergolong apakah zat-zat tersebut? Kalian

tentu masih ingat pembahasan mengenai zat murni dan campuran, bukan? Ciri khas dari
zat murni adalah komposisinya yang tetap. Semua unsur dan senyawa tergolong ke dalam

zat murni. Air, gula, dan garam memiliki komposisi yang tetap. Jadi, mereka termasuk zat-

zat murni. Sebaliknya, campuran memiliki komposisi yang berbeda- beda. Tanah, pasir,
debu, awan, cat, dan susu memiliki komposisi yang berbeda sehingga mereka digolongkan

ke dalam campuran. Kalian tentu dapat menyebutkan contoh-contoh yang lainnya, bukan?
Komposisi yang berbeda dalam suatu campuran mengakibatkan terbentuknya

campuran yang berbeda-beda pula. Bagaimanakah membedakan campuran satu dengan
yang lainnya? Apa keistimewaan dari masing-masing campuran tersebut? Nah, pada

bahasan berikut, kalian akan dikenalkan dengan beberapa jenis campuran, terutama tentang

sistem koloid yang sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari.












k o l o i d 1 |

A. MACAM KOLOID
1. Jenis Campuran
Campuran terdiri dari zat atau partikel yang terdispersi (tersebar) di dalam zat lain

sehingga disebut juga sistem dispersi. Dalam sistem dispersi, zat yang didispersikan disebut

fase terdispersi, sedangkan zat dimana partikel terdispersi disebut medium pendispersi.
Partikel-partikel zat yang terdispersi dalam campuran memiliki ukuran yang berbeda-beda.

Berdasarkan perbedaan ukuran partikelnya, maka campuran dibedakan menjadi tiga jenis,
yaitu larutan, suspensi, dan koloid.

a. Larutan

Kalian tentu pernah melarutkan gula atau garam ke dalam air, bukan? Jika kalian
pernah sakit gigi dan berobat ke dokter gigi, dokter akan menyuruh kalian untuk

berkumur dengan air garam. Air garam juga dapat digunakan sebagai obat sakit
diare. Bagaimanakah wujud dari campuran yang terbentuk antara gula atau garam

dengan air tersebut? Gula atau garam dan air akan membentuk campuran yang

homogen dan stabil dimana gula atau garam tersebar secara merata dalam air.
Campuran yang homogen inilah yang kalian sebut sebagai larutan (atau sering

disebut juga larutan sejati).
Gambar 2 Air garam termasuk
larutan
Sumber: https://s.id/CpT6y

Larutan merupakan sistem dispersi yang ukuran partikel-partikelnya sangat kecil

sehingga tidak dapat dibedakan (diamati) antara partikel pendispersi dengan partikel

terdispersi, walaupun menggunakan mikroskop dengan tingkat pembesaran yang tinggi
(mikroskop ultra).

Tingkat ukuran partikel larutan adalah molekul atau ion-ion sehingga larutan

merupakan caampuran yang homogen dan sukar dipisahkan dengan penyaringan atau alat
sentrifugasi. Oleh karena ukuran partikel zat terdispersi dengan medium pendispersinya

hampir sama, sifat zat pendispersi dalaam larutan akan terpengaruh (berubah) dengan
adanya zat terdispersi.












k o l o i d 2 |

b. Suspensi
Anak kecil biasanya senang bermain-main dengan tanah atau pasir. Bahkan ada

yang kreatif membuat kue mainan dari campuran tanah dan air. Pernahkah kalian

melihat orang membuat batu bata dari tanah? Mereka mencampurkan tanah dan air
dengan perbandingan tertentu. Campuran tanah atau pasir dengan air termasuk salah

satu contoh suspensi. Fase terdispersinya adalah tanah dan pasir, medium
Gambar 3 Air pasir termasuk
pendispersinya adalah air. suspensi
Sumber: https://s.id/CpRwi


Suspensi merupakan sistem dispersi di mana partikel yang ukurannya relatif tersebar

merata di dalam medium pendipersinya. Pada umumnya, sistem dispersi merupakan

campuran yang heterogen. Suspensi merupakan sistem dispersi yang tidak stabil sehingga
jika tidak diaduk terus-menerus akan mengendap akibat gaya gravitasi bumi. Cepat

lambatnya suspensi mengendap tergantung besar kecilnya ukuran partikel zat terdispersi.
Semakin besar ukuran partikel zat terdispersi, semakin cepat terjadinya proses

pengendapan. Untuk memisahkan suspensi, dapat dilakukan dengan proses penyaringan

(filtrasi).


c. Koloid


Sekilas Info










Gambar 4 Thomas Graham
Sumber: https://s.id/CJT41


Koloid berasal dari kata “kolia” yang dalam bahasa Yunani berarti
“lem”. Istilah koloid pertama kali diperkenalkan oleh Thomas
Graham (1861) berdasarkan pengamatannya terhadap gelatin yang
merupakan kristal, tetapi sukar mengalami difusi. Padahal, umumnya
kristal mudah mengalami difusi. Oleh karena itu, zat semacam gelatin

ini kemudian disebut dengan koloid.

k o l o i d 3 |

Pada umumnya koloid mempunyai ukuran partikel antara 1 nm sampai dengan 100 nm.
Beberapa koloid tampak jelas secara fisik misalnya santan, susu, dan lem, tetapi beberapa

koloid sepintas tampak seperti larutan, misalnya larutan kanji yang encer dan agar-agar
yang masih cair. Oleh karena ukuran partikelnya relatif kecil, sistem koloid tidak dapat

diamati dengan mata, tetapi dapat diamati dengan mikroskop dengan tingkat pembesaran

yang tinggi (mikroskop Ultra).
Beberapa koloid dapat terpisah jika didiamkan dalam waktu yang relatif lama meskipun

tidak semuanya, misalnya koloid belerang dalam air dan santan. Beberapa koloid yang lain
sukar terpisah, misalnya lem, cat, dan tinta.


Tabel 1. Perbedaan Suspensi, Koloid, dan Larutan

Perbedaan Suspensi Koloid Larutan
Ukuran Partikel > 100 nm 1-100 nm <1 nm
Penampilan Fisik Keruh, partikel Keruh, jernih, Jernih, partikel
terdispersi dapat partikel terdispersi terdispersi tidak
diamati langsung hanya dapat dapat diamati
dengan mata diamati dengan dengan mikroskop
mikroskop ultra ultra
Kestabilan (jika Mudah terpisah Sukar terpisah Tidak terpisah
didiamkan) (mengendap) (relatif stabil) (sangat stabil)
Cara Pemisahan Filtrasi Tidak dapat Tidak dapat
(penyaringan) disaring disaring















video 1 Perbedaan larutan, koloid dan suspensi
sumber: https://youtu.be/6UtJOHdpjoc

2. Tipe Sistem Koloid


Pengelompokan sistem koloid didasarkan pada wujud fase terdispersi dan medium
pendispersinya. Zat yang jumlahnya sedikit disebut fasa terdispersi (fasa dalam),

k o l o i d 4 |

sedangkan zat yang jumlahnya banyak disebut medium pendispersi (fase luar). Baik fase

terdispersi maupun medium pendispersi dapat berwujud padat, cair, atau gas. Akan tetapi,
untuk gas yang terdispersi dalam gas tidak dapat menghasilkan koloid, sebab semua gas

bercampur secara homogen sehingga akan berupa larutan dengan sesamanya. Berdasarkan
wujud fase terdispersi dan medium pendispersi, maka sistem koloid dikelompokkan ke

dalam tiga tipe utama, yaitu sol, emulsi, dan busa.

a. Sol
Sol merupakan sistem koloid yang fase terdispersinya berupa zat padat yang

didispersikan dalam padatan, cairan atau gas. Jadi, sol dibedakan menjadi tiga jenis
berdasarkan medium pendispersinya, yaitu:

1) Jika medium pendispersinya berupa zat padat,

maka sistem koloidnya disebut sol padat. Sebagai
contoh adalah intan hitam, dan kaca rubi.



Gambar 5 Gelas warna-warni (sol
padat)
Sumber: https://s.id/CpWBT

2) Jika medium pendispersinya berupa

zat cair, maka sistem koloidnya

disebut sol atau gel. Misalnya, cat,
selai, jelly, dan pati dalam air. Gambar 6 Jelly (sol) Gambar 7 Cat (sol)

Sumber: https://s.id/CpZ6d Sumber: https://s.id/CpYNR


3) Jika medium pendispersinya berupa gas, maka
sistem koloidnya disebut aerosol padat.

Misalnya, debu dan asap.



Gambar 8 Asap (aerosol padat)
Sumber: https://s.id/Cp-lK


b. Emulsi
Emulsi merupakan sistem koloid yang fase terdispersinya berupa zat cair yang

didispersikan dalam padatan, cairan, atau gas. Jadi, emulsi dibedakan menjadi tiga jenis

berdasarkan medium pendispersinya.


k o l o i d 5 |

1) Jika medium pendispersinya berupa zat padat, maka

sistem koloidnya disebut emulsi padat. Sebagai
contoh keju, di mana lemak mentega didispersikan

dalam kasein (protein susu) dan mentega. Ada juga
jenis emulsi padat yang disebut sebagai gel. Gel

merupakan sistem koloid yang setengah kaku (antara Gambar 9 Keju (emulsi padat)

padat dan cair). Misalnya gelatin dan silika gel. Sumber: https://s.id/Cq0QV


2) Jika medium pendispersinya berupa zat cair,
maka sistem koloidnya disebut emulsi.

Misalnya: santan, susu, dan mayones, di mana

ketiganya terdiri dari minyak yang terdispersi
dalam air.
Gambar 10 Santan (emulsi)
Sumber: https://s.id/Cq3lv


3) Jika medium pendispersinya berupa gas, maka sistem koloidnya disebut aerosol
cair. Sebagai contoh adalah kabut dan awan, di mana partikel-partikel air terdispersi

dalam udara, produk industri dalam bentuk spray (semprot), seperti hairspray,

pengharum ruangan, obat nyamuk semprot.


















Gambar 11 Hairspray (aerosol cair) Gambar 12 Pengharum ruangan
(aerosol cair)
Sumber: https://s.id/Cq808
Sumber: https://s.id/Cq5Lw


c. Busa atau Buih

Busa atau buih merupakan sistem koloid yang fase terdispersinya berupa gas

yang didispersikan dalam padatan atau cairan. Jadi, busa hanya dibedakan menjadi dua
jenis.
k o l o i d 6 |

1) Jika medium pendispersinya berupa zat padat, maka sistem koloidnya disebut busa

padat. Misalnya, batu apung dan karet busa.













Gambar 13 Batu apung (busa padat) Gambar 14 Karet busa (busa padat)

Sumber: https://s.id/Cq9bQ Sumber: https://s.id/Cqbrd



2) Jika medium pendispersinya berupa zat cair, maka sistem koloidnya disebut busa.
Sebagai contoh adalah krim kocok dan busa sabun.















Gambar 15 Busa sabun (busa) Gambar 16 Krim kocok (busa)
Sumber: https://s.id/CJTwq Sumber: https://s.id/CJTEa


Tabel 2. Beberapa Jenis Koloid
Fase Terdispersi Medium Jenis (nama) Contoh
Pendispersi Koloid
Padat Sol padat Mutiara, kaca
berwarna
Cair Padat Emulsi padat Keju, mentega
Gas Buih padat Batu apung,
kerupuk
Padat Sol Pati dalam air,
cat, jeli
Cair Cair Emulsi Susu, mayones,
santan
Gas Buih Krim, pasta
Padat Gas Aerosol padat Debu, asap
Cair Aerosol cair Awan, kabut





k o l o i d 7 |

LATIHAN




1. Cermati beberapa zat kimia berikut!
1) Mayones
2) Kabut
3) Air gula
4) Sari buah jeruk
5) Air garam
Pasangan zat yang merupakan sistem koloid adalah.....
a. 1) dan 2)
b. 1) dan 3)
c. 2) dan 3)
d. 2) dan 4)
e. 3) dan 4)
2. Sistem koloid yang medium pendispersinya cair dan fase terdispersinya cair adalah.....
a. susu d. keju
b. asap e. mentega
c. kabut
3. Zat terdispersi dalam santan tidak dapat disaring dengan kertas saring biasa karena....
a. larutannya satu fase.
b. sifat larutan homogen.
c. zat terdispersi tidak stabil.
-7
-5
d. ukuran partikel 10 – 10 cm.
e. zat terdispersi tidak dapat mengendap.
4. Kelompok sistem koloid yang termasuk tipe emulsi yaitu....
a. mentega dan kue
b. kanji dan tinta
c. susu dan mentega
d. kanji dan mayones
e. mayones dan susu
5. Zat-zat di bawah ini yang apabila didispersikan ke dalam air akan membentuk koloid
adalah.....
a. protoplasma d. garam
b. asam sulfat e. gula
c. alkohol











k o l o i d 8 |

B. SIFAT-SIFAT KOLOID

Sistem Koloid mempunyai sifat yang khas, yang berbeda dengan sifat sistem dispersi

lainnya. Sifat-sifat tersebut tampak dalam keunikan kenampakan koloid dalam kehidupan

sehari-hari. Berikut ini akan dijelaskan empat sifat koloid, yaitu efek Tyndall, gerak
Brown, adsorpsi, dan koagulasi.


1. Efek Tyndall

Sekilas Info














Gambar 17 John Tyndall
Sumber: https://s.id/CJVKl

Peristiwa efek Tyndall pertama kali diamati oleh fisikawan dari

Inggris yaitu John Tyndall. John Tyndall (1820-1893) mengamati
seberkas cahaya putih yang dilewatkan pada sistem dispersi koloid.
Dari pengamatan tersebut John Tyndall melihat adanya hamburan
cahaya pada partikel koloid sehingga berkas cahaya terlihat dengan
jelas. Gejala ini selanjutnya dinamakan efek Tyndall.



Coba kalian perhatikan cahaya matahari yang masuk ke dalam kamar kalian melalui ventilasi jendela
di pagi hari. Apa yang kalian lihat? Partikel-partikel debu beterbangan di udara, bukan? Setiap saat partikel

debu juga beterbangan di sekitar kalian namun karena ukurannya yang sangat kecil, maka tidak terlihat

oleh mata biasa. Mengapa partikel debu bisa terlihat ketika ada berkas cahaya? Ternyata, cahaya yang
melewati partikel debu akan dihamburkan oleh debu tersebut sehingga debu jadi bisa terlihat.

Terhamburnya cahaya oleh partikel koloid disebut dengan efek Tyndall.

Partikel koloid dan suspensi cukup besar untuk dapat menghamburkan sinar,
sedangkan partikel-partikel larutan berukuran sangat kecil sehingga tidak dapat

menghamburkan sinar.



k o l o i d 9 |

Gambar 18 Jejak cahaya pada larutan, koloid, dan suspensi
Sumber: https://s.id/BxH9Z

Efek Tyndall terjadi karena partikel koloid yang berupa ion atau molekul

dengan ukuran cukup besar mampu menghamburkan cahaya yang diterimanya ke

segala arah, meskipun partikel koloidnya tidak tampak. Namun, efek Tyndall tidak
terjadi pada larutan sejati. Hal ini dikarenakan ukuran partikel zat terlarutnya terlalu

kecil sehingga tidak dapat menghamburkan cahaya. Menurut Lord Rayleigh,
ukuran partikel dan konsentrasi partikel koloid berpengaruh terhadap intensitas

hamburan cahaya. Semakin besar konsentrasi dan ukuran partikel koloid, semakin
bertambah intensitas cahaya yang dihamburkan.

Dalam kehidupan sehari-hari efek Tyndall dapat diamati dalam peristiwa-peristiwa

berikut.
a. Terjadinya warna merah dan jingga di langit pada pagi atau sore hari dan

terjadinya warna biru di langit pada siang hari.

b. Sorot lampu mobil atau sepeda motor di saat udara berkabut tampak lebih jelas.
c. Sorot lampu proyektor di gedung bioskop akan tampak jelas saat ada asap

rokok. Hal ini mengakibatkan gambar film di layar menjadi kabur.






https://youtu.be/0ZxJWn2PpeE







video 2 Pengenalan efek Tyndall pada koloid
sumber: https://youtu.be/0ZxJWn2PpeE
k o l o i d 10 |

2. Gerak Brown


Sekilas Info









Gambar 19 Robert Brown
Sumber: https://s.id/CJYBl

Gerak Brown pertama kali ditemukan oleh ilmuwan biologi dari

Inggris, Robert Brown pada tahun 1827. Robert Brown mengamati

gerakan tepung sari dalam air menggunakan mikroskop ultra. Dalam

pengamatan tersebut Brown melihat partikel tepung Sari
menghamburkan cahaya dan bergerak terus menerus secara acak di
dalam air. Oleh karena itu, gerakan acak partikel koloid dinamakan

dengan gerak Brown. Semakin kecil ukuran partikel koloid, gerak
Brown semakin cepat.


Jika dispersi koloid diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran yang

tinggi, akan tampak adanya partikel yang bergerak dengan arah yang acak (tak
beraturan). Gerakan-gerakan tersebut mempunyai lintasan lurus. Gerakan partikel

koloid dengan lintasan lurus dan arah yang acak disebut dengan gerak Brown.

terjadinya gerak Brown ini diakibatkan adanya tumbukan partikel partikel
pendispersi terhadap partikel terdispersi sehingga partikel terdispersi akan terlontar.

Lontaran tersebut akan mengakibatkan partikel terdispersi menumbuk partikel
terdispersi yang lain sehingga partikel yang tertumbuk akan terlontar. Kejadian

tersebut berulang secara terus-menerus. Hal ini terjadi akibat ukuran partikel
terdispersi yang relatif besar dibandingkan medium pendispersinya.

Gerak Brown mengakibatkan partikel-partikel koloid relatif stabil meskipun

ukurannya relatif besar, sebab dengan adanya partikel yang bergerak secara terus-
menerus, dan pengaruh dari gaya gravitasi menjadi kurang berarti








k o l o i d 11 |

video 3 Gerak Brown pada sistem koloid
sumber: https://youtu.be/crPqLCoKvJ8

3. Adsorpsi


Adsorpsi adalah peristiwa penyerapan muatan oleh permukaan-permukaan
partikel koloid. Adsorpsi terjadi karena adanya kemampuan partikel koloid untuk

menarik (ditempeli) oleh partikel-partikel kecil. Kemampuan menarik ini
disebabkan adanya tegangan permukaan koloid yang cukup tinggi sehingga jika ada

partikel yang menempel, akan cenderung dipertahankan pada permukaannya.

Jika partikel-partikel koloid mengadsorpsi ion yang bermuatan positif maka
pada permukaannya, koloid tersebut menjadi bermuatan positif, dan sebaliknya jika

yang diadsorpsi ion bermuatan negatif, koloid akan menjadi bermuatan negatif.
Bila permukaan partikel koloid menyerap ion yang bermuatan positif, maka

koloid tersebut menjadi bermuatan positif. Sebagai contoh adalah koloid Fe(OH)3
+
bermuatan positif karena permukaannya menyerap ion H . Sebaliknya, bila
permukaan partikel koloid menyerap ion yang bermuatan negatif, maka koloid

tersebut menjadi bermuatan negatif. Misalnya, koloid As2S3 bermuatan negatif
2–.
karena permukaannya menyerap ion S














video 4 Penerapan adsorpsi pada sistem koloid
sumber: https://youtu.be/5mTxiQk9WBE k o l o i d 12 |

Jadi, partikel-partikel koloid dalam suatu sistem koloid memiliki muatan yang

sejenis, entah positif atau negatif. Oleh karena muatannya sejenis, maka partikel
tersebut akan saling tolak-menolak. Akibatnya mereka tidak akan pernah

bergabung satu sama lain sehingga sistem koloid menjadi stabil.
Adanya peristiwa adsorpsi ini menyebabkan partikel koloid menjadi bermuatan

listrik. Jika sistem koloid diletakkan dalam medan listrik, maka partikel koloid yang

bermuatan tertentu akan bergerak menuju elektroda yang muatannya berlawanan
dengan partikel tersebut. Jadi, partikel koloid yang bermuatan positif akan menuju

elektroda negatif (katoda), sedangkan partikel koloid yang bermuatan negatif akan
bergerak menuju elektroda positif (anoda). Dengan adanya fenomena ini, kalian

dapat menentukan jenis muatan partikel koloid. Peristiwa gerakan partikel koloid

yang bermuatan ke salah satu elektroda dalam medan listrik disebut elektroforesis.
Prinsip elektroforesis digunakan untuk membersihkan asap dan jenis aerosol yang

lain dalam suatu industri menggunakan alat yang disebut alat Cottrell.

















video 5 Konsep elektroforesis pada koloid
sumber: https://youtu.be/pjMMSZ0yp3I


4. Koagulasi

Dispersi koloid dapat mengalami peristiwa penggumpalan atau koagulasi.

Peristiwa koagulasi pada koloid dapat terjadi akibat peristiwa-peristiwa mekanis
atau peristiwa kimia. Peristiwa mekanis misalnya pemanasan atau pendinginan.

Darah merupakan sol butir-butir darah merah yang terdispersi dalam plasma darah.
Jika darah dipanaskan, darah akan menggumpal. Sebaliknya agar-agar akan

menggumpal jika didinginkan. Peristiwa kimia yang dapat menyebabkan terjadinya

koagulasi misalnya sebagai berikut.
k o l o i d 13 |

a. Penambahan larutan elektrolit

Jika koloid yang bermuatan positif dicampurkan dengan suatu larutan
elektrolit, ion-ion negatif dari larutan elektrolit tersebut akan segera ditarik oleh

partikel-partikel koloid positif tersebut. Akibatnya, ukuran koloid menjadi
sangat besar dan akan mengalami koagulasi. Sebaliknya, koloid negatif akan

menyerap ion-ion positif dari suatu larutan elektrolit.

Jadi, ion negatif akan mengoagulasi koloid positif dan sebaliknya ion
positif akan mengoagulasi koloid negatif. Proses koagulasi semakin mudah jika

konsentrasi ion dalam larutan tersebut semakin besar, dan jika ukuran muatan
ion yang berperan dalam proses koagulasi semakin besar.

Contoh lainnya adalah terbentuknya delta di muara sungai akibat lumpur

(koloid) yang ada dalam air yang ada dalam air sungai berinteraksi dengan air
sungai yang mengandung ion-ion garam sehingga lumpur mengalami koagulasi

dan mengendap.
b. Pencampuran koloid yang berbeda muatan

jika sistem koloid yang berbeda muatan dicampurkan, akan
menyebabkan terjadinya koagulasi dan akhirnya mengendap. Sebagai contoh,

sol Fe(OH)3 yang bermuatan positif akan mengalami koagulasi jika dicampur

dengan sol As2S3. Dengan adanya peristiwa tersebut, jika anda mempunyai tinta
dari merk yang berbeda dimana yang satu merupakan koloid negatif dan yang

lain merupakan koloid positif, jangan sampai dicampurkan karena dapat
mengalami koagulasi.
















video 6 Koagulasi pada koloid
sumber: https://youtu.be/J44wh7muLC4

k o l o i d 14 |

Sekilas Info
Koagulasi Koloid

Koagulasi koloid dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
mekanik dan kimiawi. Cara mekanik dapat dilakukan melalui

pendinginan, pemanasan, dan pengadukan. Cara kimiawi dapat
dilakukan melalui penetralan silang atau menghilangkan muatan
secara elektrolisis dan penambahan elektrolit.

koagulasi dengan penambahan elektrolit banyak

diterapkan pada pembuatan tahu dari kedelai. Kedelai yang
dihancurkan dengan air akan membentuk emulsi. Emulsi dapat
dikoagulasikan dengan penambahan CaSO4.2H2O senyawa

CaSO4.2H2O dikenal dengan batu tahu. Batu tahu merupakan
elektrolit.



5. Stabilitas Sistem Koloid

a. Penambahan Koloid Pelindung


Koloid pelindung adalah koloid yang ditambahkan ke dalam sistem koloid agar

koloid menjadi stabil dan terhindar dari koagulasi. Salah satu contoh adalah gelatin
yang ditambahkan pada es krim. Es krim merupakan koloid yang kompleks karena

merupakan emulsi dan buih sekaligus. Untuk menstabilkan es krim tersebut agar
tidak mudah menggumpal perlu ditambahkan koloid pelindung. Salah satu koloid

pelindung yang dapat ditambahkan adalah gelatin. Gelatin adalah bahan makanan

tak berwarna tanpa rasa yang berasal dari kolagen. Gelatin tersebut berperan
sebagai pengemulsi dan umumnya digunakan untuk membuat es krim agar

teksturnya lembut dan tampak segar. Hal ini mencegah pembentukan kristal besar
dan juga menjaga konsistensi es krim dengan menurunkan kadar airnya.

Koloid pelindung pada emulsi disebut emulgator. Jadi, emulgator adalah koloid
yang ditambahkan ke dalam sistem koloid yang berupa emulsi agar koloid menjadi

stabil. Sebagai contoh adalah kuning telur yang ditambahkan pada mayones.

Mayones terdiri dari minyak yang terdispersi dalam air. Seperti yang kalian ketahui,
minyak dan air tidak dapat bercampur sehingga mudah terpisah kembali. Kuning

telur yang ditambahkan pada mayones akan membentuk lapisan pelindung di

sekeliling tetes-tetes minyak ketika campuran dikocok. Melalui cara inilah mayones




k o l o i d 15 |

dibuat tetap stabil. Contoh yang lain adalah kasein yang ditambahkan pada susu

sehingga susu tidak menggumpal.


b. Penghilangan Muatan Koloid
Cara lain yang dapat digunakan untuk menstabilkan sistem koloid adalah

dengan menghilangkan muatan pada permukaan partikel koloid. Melalui cara ini,

koagulasi sistem koloid dapat dicegah. Proses pemurnian partikel-partikel koloid
dengan menghilangkan muatan koloid disebut dialisis. Pada proses dialisis,

pemurnian partikel koloid dilakukan dengan difusi selektif melalui membran
semipermeabel. Membran semipermeabel dapat berupa seloran, kertas perkama,

dan beberapa plastik sintetik. Membran ini memiliki pori-pori yang dapat dilewati
ion tetapi tidak dapat dilewati oleh partikel koloid. Sebagai contoh, jika kalian ingin

memisahkan campuran pati dengan glukosa. Campuran ini dimasukkan ke dalam

wadah yang terbuat dari bahan semipermeabel dan direndam dalam wadah berisi
air. Molekul glukosa akan melewati membran dan bercampur dengan air,

sedangkan molekul pati tetap tertinggal dalam wadah.
Membran sel pada makhluk hidup bersifat semipermeabel dan proses dialisis

terjadi secara alami dalam ginjal untuk mengeluarkan limbah dari dalam darah.
Untuk ginjal yang sudah tidak berfungsi, proses pengeluaran limbah dibantu dengan

mesin dialisis (alat pencuci darah) yang didasarkan pada prinsip dialisis. Proses

dialisis pada alat pencuci darah dikenal dengan istilah Hemodialisis.
















video 7 Koloid pelindung
sumber: https://youtu.be/xnoTwxcraRA




k o l o i d 16 |

video 8 Penerapan dialisis pada koloid (hemodialisis)
sumber: https://youtu.be/L_hqMPYZLrc


6. Koloid Liofil dan Koloid Liofob

Dalam sistem koloid yang berupa sol terjadi interaksi antara fase terdispersi yang berupa padatan

dengan medium pendispersi yang berupa air. Berdasarkan interaksi tersebut, sol dibagi ke dalam dua
golongan liofil utama, yaitu koloid liofil (koloid hidrofil) dan koloid liofob (koloid hidrofob).

a. Koloid Liofil

Koloid liofil, merupakan sistem koloid yang fase terdispersinya suka menarik
medium pendispersinya. Hal ini disebabkan oleh adanya gaya tarik yang kuat antara

fase terdispersi dengan medium pendispersinya. Koloid liofil tampak seperti larutan

sejati, kecuali ukuran partikel terdispersinya yang jauh lebih besar. Contoh koloid
liofil adalah pati dalam air, larutan protein seperti gelatin dalam air, agar-agar, lem,

dan cat.
b. Koloid Liofob

Koloid liofob, merupakan koloid yang fase terdispersinya tidak suka menarik
medium pendispersinya. Hal ini disebabkan oleh kurangnya gaya tarik antara fase

terdispersi dengan medium pendispersinya. Pada dasarnya, koloid liofob tidak

stabil. Fase terdispersi dari koloid, hidrofob mudah mengumpul menjadi partikel
besar dan menggumpal sehingga mudah dipisahkan dari medium pendispersinya.

Ketidakstabilan partikel dalam koloid liofob dapat diatasi karena partikel koloidnya

memiliki muatan permukaan yang akan mencegah partikel-partikel tersebut untuk
saling berdekatan. Contoh koloid liofob adalah sol belerang, sol emas, dan sol

perak.



k o l o i d 17 |

Tabel 3. Perbedaan Sol Liofil dan Sol Liofob

Sifat Sol liofil Sol liofob
Daya adsorpsi terhadap Kuat, mudah Tidak mengadsorpsi
medium mengadsorpsi mediumnya mediumnya
sehingga ukuran
partikelnya dapat semakin
besar
Efek Tyndall Kurang jelas Sangat jelas
Viskositas (kekentalan) Lebih besar dari Hampir sama dengan
mediumnya mediumnya
Koagulasi Sukar terkoagulasi Mudah terkoagulasi
(kurang stabil)
Lain-lain Bersifat reversible (jika Bersifat irreversible (jika
sudah terkoagulasi dapat sudah menggumpal sukar
dengan mudah dijadikan diubah menjadi koloid
koloid kembali) kembali)
Contoh Sabun, deterjen, agar-agar, Sol logam, darah sol
kanji, gelatin Fe(OH)3

Selain koloid hidrofil dan koloid hidrofob, terdapat jenis koloid lain yang

terbentuk dari molekul atau ion yang memiliki ujung liofob dan liofil. Sistem

koloid seperti ini disebut koloid asosiasi, misalnya detergen dalam air. Detergen
merupakan zat yang memiliki ujung hidrofil dan ujung hidrofob dan digunakan

untuk meningkatkan daya pembersih air pada proses pencucian baju. Kotoran yang
menempel pada serat kain pada umumnya berupa lemak atau minyak yang tidak

dapat larut dalam air. Dengan ditambahkannya detergen, ujung hidrofil dari

detergen akan mengikat air, sedangkan ujung hidrofobnya akan mengikat kotoran
(lemak atau minyak). Adanya gaya tarik-menarik ini akan menurunkan tegangan

permukaan lemak dan minyak sehingga kotoran tersebut dapat dilepaskan dari serat
kain dan dihasilkan cucian yang lebih bersih. Sabun yang kalian gunakan untuk

membersihkan badan pada waktu mandi juga bekerja dengan cara yang sama.
















Gambar 20 Gelatin (koloid liofil) Gambar 21 Kanji (koloid liofil)
Sumber: https://s.id/13419 Sumber: https://s.id/134YL

k o l o i d 18 |

Gambar 22 Sol emas (koloid liofob) Gambar 23 Sol belerang (koloid liofob)
Sumber: https://s.id/134Xv Sumber: https://s.id/134bK



















Gambar 24 Agar-agar (koloid hidrofil) Gambar 25 Mayonaise (koloid hidrofob)
Sumber: https://s.id/134r2 Sumber: https://s.id/134p9





























k o l o i d 19 |

LATIHAN


1. Hamburan cahaya oleh partikel koloid dikenal sebagai.....
a. elektroforesis d. koagulasi
b. gerak brown e. koloid pelindung
c. efek tyndall
2. Dalam pengamatan menggunakan mikroskop ultra, partikel tepung sari tidak
mengendap, bergerak terus menerus secara acak di dalam air. peristiwa yang
ditunjukkan oleh gerak tepung sari tersebut dinamakan....
a. dialisis
b. adsorpsi
c. efek tyndall
d. gerak brown
e. elektroforesis
3. Peristiwa penting yang berhubungan dengan sifat koloid:
1) Pembentukan delta di muara sungai
2) Penyembuhan sakit perut dengan norit
3) Pemutihan gula
4) Penjernihan air dengan tawas
5) Cuci darah pada penderita ginjal
Sifat koagulasi ditunjukkan oleh nomor....
a. 1) dan 4)
b. 2) dan 3)
c. 2) dan 4)
d. 3) dan 5)
e. 4) dan 5)
4. Gerak Brown terjadi karena.....
a. adanya gaya gravitasi bumi.
b. perbedaan muatan partikel koloid.
c. ukuran partikel koloid sangat halus.
d. massa partikel koloid sangat ringan.
e. tumbukan antarpartikel koloid dalam medium pendispersinya.
5. Di antara sifat-sifat berikut yang merupakan sifat sol liofob adalah.....
a. sedikit menunjukkan gerak brown saat diamati menggunakan mikroskop
ultra.
b. mampu mengadsorpsi medium pendispersinya.
c. mudah diendapkan dengan penambahan elektrolit.
d. partikel-partikelnya kurang mampu menghamburkan cahaya.
e. medium yang diadsorpsi berupa molekul.








k o l o i d 20 |

C. PEMBUATAN KOLOID

Partikel koloid memiliki ukuran di antara partikel larutan dan suspensi. Baik

larutan maupun suspensi dapat dibuat menjadi sistem koloid dengan mengubah ukuran

partikelnya. Berdasarkan pengubahan ukuran partikel, pembuatan sistem koloid dapat
dilakukan dengan dua cara, yaitu cara kondensasi dan cara dispersi. Cara kondensasi

dilakukan dengan memperbesar ukuran partikel. Cara ini diterapkan pada pembuatan
koloid dari partikel larutan. Cara dispersi dilakukan dengan memperkecil ukuran

partikel dan diterapkan pada pembuatan koloid dari partikel suspensi.


1. Cara Kondensasi

Pembuatan koloid dengan cara kondensasi dilakukan dengan mengubah ukuran

partikel larutan yang berupa ion, atau molekul menjadi partikel koloid melalui
beberapa reaksi kimia, antara lain:

a. Reaksi Reduksi-Oksidasi
Reaksi oksidasi-reduksi (atau disingkat reaksi redoks) merupakan reaksi

yang melibatkan perubahan bilangan oksidasi. Koloid yang terbentuk melalui
reaksi ini merupakan hasil oksidasi atau reduksi. Sebagai contoh, pembuatan sol

belerang dari larutan SO2 dilakukan dengan mengalirkan gas H2S ke dalam

larutan tersebut.

2H2S(g) + SO2(aq) 3S(s) + 2H2O(l)

Contoh yang lain adalah pembuatan sol emas dari larutan garamnya, AuCl3

dengan mereduksi larutan tersebut menggunakan pereduksi organik
formaldehid (HCOH).




2AuCl3(aq) + HCOH(aq) + 3H2O(l) 2Au(s) + HCOOH(aq) + 6HCl(aq)


b. Reaksi Hidrolisis
Reaksi hidrolisis merupakan reaksi suatu senyawa dengan air. Pada

pembuatan koloid melalui reaksi hidrolisis, suatu larutan yang berupa garam
direaksikan dengan air sehingga dihasilkan suatu sistem koloid. Sebagai

contoh, pembuatan sol Fe(OH)3 dari larutan FeCl3 dengan mereaksikan larutan

tersebut dengan air mendidih.

k o l o i d 21 |

FeCl3(aq) + 3H2O(l) Fe(OH)3(s) + 3HCl(aq)


Contoh yang lain adalah pembuatan sol Al(OH)3 dari larutan AlCl3 dengan
mereaksikan larutan tersebut dengan air mendidih.
AlCl3(aq) + 3H2O(l) Al(OH)3(s) + 3HCl(aq)



c. Reaksi Substitusi
Reaksi substitusi merupakan suatu reaksi yang melibatkan pertukaran

ion. Koloid dihasilkan dari pertukaran ion-ion dalam reaktan-reaktannya.
Sebagai contoh, pembuatan sol As2S3 dari larutan asam arsenit (H3AsO3)

dengan mengalirkan gas H2S ke dalam larutan tersebut sampai terbentuk sol

As2S3 yang berwarna kuning terang.

2H3AsO3(aq) + 3H2S(g) As2S3 (s) + 6H2O(l)

Contoh yang lain adalah pembuatan sol AgCl dari larutan AgNO3 dengan

mereaksikan larutan tersebut dengan larutan HCl encer.
AgNO3(aq) + HCl(aq) AgCl(s) + HNO3(aq)



d. Penggantian Pelarut
Pembuatan koloid dengan penggantian pelarut dilakukan dengan cara

melarutkan suatu zat dalam pelarut yang sesuai kemudian didispersikan ke
dalam medium pendispersinya untuk membentuk suatu koloid. Sebagai contoh,

pembuatan sol belereng dalam air. Belerang sukar larut dalam air tetapi mudah

larut dalam alkohol, misalnya etanol. Jadi, untuk membuat sol belerang dalam
air, larutan belerang dalam etanol tersebut ditambahkan sedikit demi sedikit ke

dalam air sambil diaduk. Akibat adanya penurunan kelarutan belerang dalam
air, belerang akan menggumpal menjadi partikel koloid dan terbentuk sol

belerang.

2. Cara Dispersi


Pembuatan koloid dengan cara dispersi dilakukan dengan mengubah partikel
suspensi menjadi partikel koloid. Hal itu dapat dilakukan secara mekanik atau

kimia.


k o l o i d 22 |

a. Cara Mekanik

Pembuatan koloid dengan cara dispersi dapat dilakukan secara mekanik,
yaitu melalui penggilingan/penggerusan. Partikel suspensi dihancurkan atau

dihaluskan menjadi partikel koloid dengan cara digerus/digiling kemudian
didispersikan ke dalam suatu cairan sehingga membentuk sol. Misalnya, jika

kalian akan membuat sol belerang, dilakukan dengan mencampur belerang

dengan gula kemudian digerus sampai halus. Setelah itu didispersikan ke dalam
air.

Dalam skala industri, alat yang digunakan untuk menghaluskan partikel
suspensi atau zat padat lainnya disebut alat penggilingan koloid. Alat ini

terdiri dari dua pelat baja dengan arah rotasi yang berlawanan. Partikel-partikel

kasar dimasukkan ke ruang antara kedua pelat tersebut kemudian digiling.
Partikel- partikel berukuran koloid yang terbentuk kemudian didispersikan ke

dalam medium pendispersinya untuk membentuk sistem koloid.
Beberapa industri yang menerapkan pembuatan koloid dengan cara ini dalam

membuat produk-produknya, antara lain:
1) Industri makanan untuk membuat jus buah, sirup, selai, es krim, dan lain-

lain.

2) Industri bahan-bahan kimia untuk membuat pasta gigi, detergen, semir
sepatu, tinta, cat, bahan pelumas, dan lain- lain.

3) Industri farmasi untuk membuat obat-obatan dalam bentuk sirup, dan lain-
lain.

b. Homogenisasi

Pembuatan susu kental manis yang bebas kasein dilakukan dengan
mencampurkan serbuk susu skim ke dalam air di dalam mesin homogenisasi

sehingga partikel-partikel susu berubah menjadi ukuran partikel koloid.
Emulsi obat pada pabrik obat dilakukan dengan proses homogenisasi

menggunakan mesin homogenisasi.

c. Peptisasi
Proses peptisasi dilakukan dengan cara memecah partikel-partikel besar,

misalnya suspensi, gumpalan, atau endapan dengan menambahkan zat pemecah
tertentu. Sebagai contoh, endapan Al(OH)3 akan berubah menjadi koloid

dengan menambahkan AlCl3 ke dalamnya. Endapan AgCl akan berubah
menjadi koloid dengan menambahkan larutan NH3 secukupnya.
k o l o i d 23 |

Contoh:

1) Sol NiS dibuat dengan cara menambahkan gas H2S ke dalam endapan NiS.
2) Sol Al(OH)3 dibuat dengan cara menambahkan AlCl3 ke dalam endapan

Al(OH)3.
3) Sol AgCl dibuat dengan cara menambahkan HCl ke dalam endapan AgCl.

4) Karet dibuat menjadi sistem koloid dengan menambahkan bensin.

d. Proses Bredig (Cara Listrik)
Proses Bredig digunakan untuk membuat sol-sol dari logam, misalnya

dalam pembuatan sol emas, perak, platina, dan tembaga. Dalam proses Bredig,
logam yang akan diubah menjadi partikel- partikel koloid digunakan sebagai

elektroda. Dua elektroda logam dicelupkan ke dalam medium pendispersi (air

dingin) dengan kedua ujung saling berdekatan dan diberi loncatan listrik. Panas
yang timbul menyebabkan logam tersebut menguap. Uap yang dihasilkan akan

terkondensasi dalam medium pendispersinya dan membentuk partikel-partikel
koloid.




















video 9 Praktikum sedeerhana pembuatan koloid secara dispersi
sumber: https://youtu.be/zivTGCGF2UU






















k o l o i d 24 |

LATIHAN


1. Pembuatan koloid dengan cara mencampurkan dua macam larutan elektrolit hingga
menghasilkan endapan berukuran koloid merupakan pembuatan koloid secara
reaksi.....
a. redoks
b. hidrolisis
c. pemindahan
d. pengendapan
e. penggantian pelarut
2. Di antara reaksi-reaksi berikut yang merupakan pembuatan koloid secara hidrolisis
adalah.....
a. AgNO3(aq) + NaCl(aq) AgCl(aq) + NaNO3(aq)
b. As2O3(aq) + 3H2S(g) As2S3(s) + 3H2O(l)
c. FeCl3(aq) + 3H2O(l) Fe(OH)3(s) + 3HCl(aq)
d. 2AuCl3(aq) + 3HCHO(aq) + 3H2O(l) 2Au(s) + 6HCl(aq) +
3HCOOH(aq)
e. H2S(g) + H2O2(aq) S(s) + 2H2O(l)
3. Di antara pembuatan koloid berikut yang merupakan pembuatan koloid secara
kondensasi adalah.....
a. mekanik
b. peptisasi
c. busur bredig
d. homogenisasi
e. reaksi substitusi
4. Pembuatan koloid dengan cara membuat partikel-partikel fase terdispersi
menggunakan loncatan bunga api listrik merupakan pembuatan koloid secara.....
a. pendinginan
b. busur bredig
c. homogenisasi
d. pengembunan uap
e. penggantian pelarut
5. Sol Agl dibuat dengan cara.....
a. memasang Agl pada elektrode dan dihubungkan dengan sumber arus listrik
bertegangan tinggi.
b. melewatkan zat Agl melalui lubang berpori dengan tekanan tinggi.
c. mencampurkan larutan AgNO3 dengan larutan KI berlebih.
d. mereaksikan Agl dengan air sambil dididihkan.
e. mengalirkan uap Agl ke dalam oksidanya.







k o l o i d 25 |

RANGKUMAN




1. Sistem koloid adalah sistem dispersi dengan ukuran partikel di antara larutan dan
suspensi (1 – 100 nm). Terdiri dari fase terdispersi dan medium pendispersi.
2. Fase terdispersi adalah zat yang didispersikan dan dapat berwujud padat, cair atau
gas. Medium pendispersi adalah zat di mana partikel terdispersi dan hanya dapat
berwujud padat atau cair.
3. Tipe sistem koloid berdasarkan fase terdispersi dan medium pendispersi.
a. Sol (padat terdispersi dalam cair).
b. Sol padat (padat terdispersi dalam padat).
c. Aerosol padat (padat terdispersi dalam gas).
d. Emulsi padat atau gel (cair terdispersi dalam padat).
e. Emulsi (cair terdispersi dalam cair).
f. Aerosol cair (cair terdispersi dalam gas).
g. Busa padat (gas terdispersi dalam padat).
h. Busa (gas terdispersi dalam cair).
4. Sifat-sifat sistem koloid:
a. Efek Tyndall, yaitu terhamburnya cahaya oleh partikel koloid.
b. Gerak Brown, yaitu gerakan partikel koloid dengan lintasan lurus dan arah yang
acak.
c. Adsorpsi, yaitu peristiwa penyerapan muatan oleh permukaan-permukaan
partikel koloid.
d. Koagulasi, untuk memisahkan partikel koloid dari medium pendispersi dengan
menghilangkan muatan listrik. Caranya:
1) Penambahan larutan elektrolit
2) Pencampuran koloid yang berbeda muatan
5. Stabilitas sistem koloid
a. Penambahan koloid pelindung
b. Penghilangan muatan koloid
6. Koloid liofil dan koloid liofob
a. Koloid liofil merupakan sistem koloid yang fase terdispersinya suka menarik
medium pendispersinya.
b. Koloid liofob, merupakan koloid yang fase terdispersinya tidak suka menarik
medium pendispersinya.
7. Kondensasi adalah pembuatan sistem koloid dari suatu larutan, dilakukan dengan
cara:
a. Reaksi reduksi-oksidasi
b. Reaksi hidrolisis
c. Reaksi substitusi
d. Penggantian pelarut
8. Dispersi adalah pembuatan sistem koloid dari suatu suspensi, dilakukan dengan
cara:
a. Cara mekanik
b. Homogenisasi
c. Peptisasi
d. Proses Bredig (cara listrik)

k o l o i d 26 |

ASAH KEMAMPUAN



1. Koloid di bawah ini yang tidak dapat dibuat dengan cara kondensasi adalah.....
a. sol belerang d. sol AgCl

b. sol As2S3 e. sol NiS

c. sol Fe(OH)3
2. Pembuatan koloid di bawah ini yang termasuk pembuatan cara kondensasi adalah.....

a. sol As2S3 dibuat dengan mengalirkan gas H2S ke dalam larutan As2O3.
b. sol emas dibuat dengan melompatkan bunga api listrik dari elektroda Au dalam air.

c. sol belerang dibuat dengan mencampurkan serbuk belerang dengan gula kemudian

dimasukkan dalam air.
d. sol Al(OH)3 dibuat dengan menambahkan larutan Al(OH)3.

e. sol agar-agar dibuat dengan memasukkan serbuk agar- agar ke dalam air panas.
3. Proses pembuatan koloid berikut yang tergolong cara kondensasi adalah.....

a. menambahkan larutan AlCl3 ke dalam endapan Al(OH)3.
b. menambahkan larutan jenuh FeCl3 ke dalam air panas.

c. mengalirkan arus listrik tegangan tinggi ke dalam larutan AuCl3.

d. memasukkan serbuk belerang yang sudah digerus ke dalam air.
e. menambahkan alkohol 95% ke dalam larutan jenuh kalsium asetat.

4. Fase terdispersi dan medium pendispersi pada kabut adalah.....
a. cair dalam gas d. cair dalam padat

b. gas dalam cair e. padat dalam gas

c. padat dalam padat
5. Jenis koloid yang zat terdispersinya cair dan medium pendispersinya gas adalah.....

a. gel d. emulsi
b. sol e. aerosol cair

c. busa

6. Pembuatan koloid dapat dilakukan dengan cara:
1) Hidrolisis

2) Peptisasi
3) Reaksi redoks

4) Penggilingan/penggerusan

k o l o i d 27 |

Pembuatan koloid dengan cara kondensasi adalah nomor.....

a. 1 dan 2 d. 2 dan 3
b. 1 dan 3 e. 2 dan 4

c. 1 dan 4
7. Kelebihan elektrolit dalam suatu dispersi koloid biasanya dihilangkan dengan cara.....

a. elektrolisis d. dekantasi

b. elektroforesis e. presipitasi
c. dialisis

8. Di antara sistem koloid berikut yang medium pendispersinya padat dan fase terdispersinya
cair adalah.....

a. asap d. susu

b. awan e. batu apung
c. agar-agar

9. Pembuatan koloid di bawah ini yang termasuk pembuatan cara dispersi adalah.....
a. sol As2S3 dibuat dengan mengalirkan gas H2S ke dalam larutan As2O3.

b. sol belerang dibuat dengan mengalirkan gas H2S ke dalam larutan SO2.
c. sol AgCl dapat dibuat dengan mereaksikan perak nitrat encer dengan larutan HCl.

d. sol emas dibuat dengan melompatkan bunga api listrik dari elektroda Au dalam air.

e. sol Fe(OH)3 dibuat dengan menambahkan larutan FeCl3 jenuh ke dalam air yang
mendidih.

10. Di antara zat berikut, yang bukan merupakan sistem koloid adalah . . . .
a. asap d. darah

b. debu e. udara

c. kabut
























k o l o i d 28 |

DAFTAR PUSTAKA





Rufaida, A. D., & Qurniawati, A. (2014). Kimia kelas XI. Jakarta: Intan Pariwara.
Sudarno, U., & Mitayani, N. (2014). KIMIA untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta: Erlangga.

Suwardi, Soebiyanto, & Widiasih, T. E. (2009). Panduan Pembelajaran Kimia XI. Jakarta:
Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.




































































k o l o i d 29 |


Click to View FlipBook Version