Nama : ERZHA RAFI RIZALDI
Kelas : x kin 1
Nomer : 15
Batu Menangis
Cerita Rakyat Kalimantan Barat
Alkisah di sebuah desa kecil di Kalimantan Barat, hiduplah seorang gadis cantik
bersama dengan ibunya yang lembut dan bijaksana. Kecantikan si gadis tidak ada
bandingannya. Matanya indah dan bersinar. Rambutnya hitam, panjang, dan berkilau
bagai mutiara hitam. Kulitnya putih dan lembut bagaikan sutera. Parasnya cantik
menawan. Semua orang mengakui dan mengagumi kecantikan si gadis.
Gadis itu tidak bosan-bosannya memandangi cermin. Dalam hati, gadis itu berkata,
"Betapa cantiknya diriku. Semua orang yang melihatku pasti mengagumi kecantikanku.
Tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkan kecantikanku."
Mengetahui keangkuhan anaknya, si ibu berulang kali berusaha menasihatinya. "Anakku,
wajahmu yang rupawan janganlah menjadikanmu angkuh dan congkak. Jadikan karunia
Tuhan itu sebagai sesuatu yang harus disyukuri dengan kerendahan hati."
Tapi, nasihat ibunya dianggap seperti angin lalu. Ia masih tetap angkuh dan sombong.
Setiap hari, kerja gadis itu hanya bersolek dan bercermin. Ia tidak pernah membantu
ibunya yang dibiarkan bekerja seorang diri. Meskipun begitu, si ibu tidak pernah
mengeluh. Ia hanya berdoa dalam hati, "Ya Tuhan, lindungilah anak hamba dan
sadarkanlah anak hamba."
Pada suatu pagi, seperti kebiasaan gadis itu sehari-hari, ia tidak pernah lupa
untuk bersolek. Ia bercermin selama berjam-jam dan mengurung diri di kamar. Si
gadis tidak mau kulitnya yang putih mulus terkena debu ataupun sinar matahari
yang dapat merusak kecantikan kulitnya.
Sementara itu, ibunya dijadikan layaknya pembantu. Ketika di gadis merawat
kulitnya yang halus, tidak biasanya si ibu lupa menyiapkan lulur dan air hangat
untuk anaknya. "Ibu..., kemana air hangat dan lulur untukku? Kamarku juga
belum dirapikan," teriak si gadis dari dalam kamarnya.
Dengan tergopoh-gopoh, si ibu lari menuju kamar anak gadisnya. "Maaf. ibu tidak
sempat menyiapkan untukmu. Hari ini pekerjaan ibu banyak sekali. Ibu harus
mencuci, memasak, dan membersihkan rumah," jawab si ibu dengan lembut.
"Bagaimana sih ibu ini. Aku kan harus membersihkan kulitku agar sehat dan
cantik. Tidak seperti kulit ibu yang kusam dan tidak terawat," ucap gadis itu.
"Cobalah sekali-kali kamu siapkan sendiri kebutuhanmu. Jangan hanya
mengandalkan ibu saja. Kamu kan sudah dewasa," nasihat si ibu.
"Aku kan sibuk," jawab si gadis dengan ketus.
Si ibu mencoba bersabar. Ia sudah mengetahui tabiat anaknya. Setiap hari yang
dilakukan gadis itu hanya mempercantik diri tanpa mempedulikan ibunya. Bahkan
pekerjaan yang setidaknya dapat dilakukan gadis itu sendiri masih saja si ibu
yang mengerjakannya. Si ibu berulang kali mencoba menasihati anaknya untuk
mengubah tabiat buruknya.
"Anakku, jika kamu terus begini, bagaimana kamu bisa mandiri? Dan jika suatu
hari nanti ibu sudah tidak ada di dunia ini lagi, bagaimana kamu bisa mengurusi
dirimu sendiri? Cobalah kamu melakukan pekerjaan yang setidaknya dapat kamu
lakukan sendiri. Jadi, ibu tidak khawatir lagi jika suatu hari nanti harus
meninggalkanmu sendiri," kata si ibu.
"Aku tidak pernah meminta ibu untuk melahirkan aku ke dunia. Aku juga tidak
pernah meminta ibu menjadi ibuku," jawab si gadis dengan ketus.
Betapa sedih dan teririsnya hati si ibu. Dalam hatinya ia berdoa,"Ya Tuhan,
ampunilah dosa anakku dan sadarkanlah anakku."
Hari berganti hari, kebiasaan si gadis yang enggan keluar rumah karena takut
kulitnya hitam kini sudah mulai berubah. Ia sudah mau keluar rumah dan
mengenali lingkungannya. Setiap ia berjalan, orang selalu menatapnya penuh
kekaguman. Kecantikan wajah si gadis membuat orang lain terpana dan berdecak
kagum.
Suatu hari, tidak biasanya si gadis mau keluar rumah dengan ibunya. Betapa
bahagianya hati si ibu melihat anaknya sudah mau menemaninya berbelanja atau
sekedar menemani ibunya pergi ke kota.
Namun, kebahagiaan si ibu tidak berlangsung lama ketika anaknya mengatakan, "Ibu,
aku mau sering keluar bersama ibu asalkan tidak mengaku bahwa ibu adalah ibuku. Dan
jika aku berjalan, ibu jangan menghalangi pandanganku. Ibu harus berjalan di belakang
aku."
Kali ini ucapan sang anak bagaikan sambaran petir untuk ibunya. Hatinya terluka sangat
dalam. Si ibu hanya bisa pasrah dengan keinginan anaknya. Ia tidak mampu lagi untuk
menasihati anaknya yang angkuh.
"Ya Tuhan, terlalu burukkah aku menjadi ibu untuk anakku? Mengapa anakku sampai
malu untuk mengakui bahwa aku adalah ibunya?" tanya si ibu dalam hati.
Benar saja, ketika gadis itu keluar bersama ibunya, banyak yang bertanya kepada si
gadis, siapa perempuan setengah baya yang berjalan di belakangnya. Penampilan
mereka jauh berbeda. Si ibu berpakaian sederhana dan bersahaja, sedangkan si gadis
berpakaian indah dan mewah. Penampilan keduanya bertolak belakang. Si ibu hanya
berusaha tersenyum ketika orang-orang bertanya. Ia dilarang oleh gadis itu untuk
mengakui bahwa ia adalah ibu kandungnya.
"Hai gadis cantik, apakah beliau ini ibumu?" tanya salah seorang pejalan kaki. "Oh, tentu
saja dia bukan ibuku," sangkal si gadis.
"Benarkah? Pantas saja, kalian tampak berbeda. Tapi, jika dilihat-lihat, wajah kalian
sebenarnya mirip," ucap pejalan kaki itu. "Ah, bagaimana mungkin aku mirip
dengannya? Dia ini adalah seorang pembantu. Ibuku tentu sangat mirip denganku, cantik
dan berkelas," ucap si gadis dengan angkuh.
Untuk kesekian kalinya, hati si ibu terluka sangat dalam. Hatinya menangis mendengar
ucapan anaknya. Tidak pernah ia mengira bahwa anaknya akan mengatakan dirinya
seorang pembantu. Sakit hatinya sudah tidak terbendung lagi.
Si ibu akhirnya berkata dalam hati, "Ya Tuhan, anakku sudah sangat keterlaluan.
Hambamu ini tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Dengan cara apa Engkau akan
menghukum anak yang angkuh ini Tuhan?"
Tuhan Mahaadil dan mendengar doa hambanya. Segala yang dikehendaki-Nya pastilah
sesuatu yang terbaik untuk umatnya. Suatu hari, ketika gadis itu kembali menyakiti hati
ibunya, tiba-tiba saja tubuh si gadis tampak kaku dan tidak dapat bergerak.
"Ibu..., apa yang terjadi dengan tubuhku? Aku tidak dapat menggerakkan tubuhku. Apa
yang terjadi?" jerit si gadis. "Karena keangkuhan dan kecongkakanmu, Tuhan mungkin
menghukummu, anakku," ucap si ibu.
Benar saja, tubuh si gadis semakin lama semakin kaku. Awalnya kakinya mengeras, lalu
tubuhnya. Pada kesempatan yang terakhir, gadis itu berteriak minta maaf. Ia baru
menyadari kesalahannya. "Ibu, maafkan kesalahanku," jerit si gadis itu sambil menangis
menyesali perbuatannya.
Penyesalan memang selalu datang terlambat. Nasi sudah menjadi bubur, penyesalan
gadis itu sudah tidak berguna. Tubuh si gadis berubah menjadi batu. Sekarang, batu itu
dikenal dengan sebutan "Batu Menangis".
Pesan Moral:
Surga ada di telapak kaki ibu. Itulah pepatah bijak yang
menggambarkan betapa agungnya peran seorang ibu bagi kehidupan
anak-anaknya di dunia dan akhirat kelak. Karenanya, berbuat baiklah
pada ibu dan jangan menjadi anak durhaka.