The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by fannyanggraini453, 2021-11-26 12:53:10

BOOK CHAPTER LEARNING_KELOMPOK 3

BOOK CHAPTER LEARNING_KELOMPOK 3

LEARNING

BOOK CHAPTER

PENULIS

Fanny Anggraini Jati Pertiwi
Lidia Aprilia Sari

Yusia Manshurina Firdausi
Alya Nor Laela
Aisyah Isnaini

Dinda Nilam Puspasari
Naswa Nafilah

Ainun najwa ilyas
Mufti Ramadhani

i

LEARNING

PENULIS: Fanny Anggraini Jati Pertiwi
Lidia Aprilia Sari
Yusia Manshurina Firdausi
Alya Nor Laela
Aisyah Isnaini
Dinda Nilam Puspasari
Naswa Nafilah
Ainun najwa ilyas
Mufti Ramadhani

DESAIN COVER : Lidia Aprilia Sari

DESAIN ISI : Fanny Anggraini Jati Pertiwi

PENERBIT : FPSI UNTAG

ii

KATA PENGANTAR
Segala Puji dan Syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Atas rahmat
dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan pembuatan book chapter mata kuliah fungsi
mental dan sejarah aliran psikologi dengan judul "LEARNING"
Adapun tujuan dari pembuatan e book ini adalah untuk memenuhi tugas Ibu Etik
Darul Muslikah dan sekaligus menjadi pembelajaran bagi kami mahasiswa baru di jurusan
psikologi. topik dari e book chapter ini secara garis besar meliputi Teori teori belajar menurut
para tokoh dan contoh dari penerapanya.
Penulisan e book chapter berjudul “LEARNING” dapat diselesaikan karena adanya
kerja sama dalam mengerjakan tugas ini. Kami menyadari e book chapter berjudul learning
ini masih memerlukan penyempurnaan. Kami menerima segala bentuk kritik dan saran dari
pembaca demi penyempurnaan tugas e book ini. Apabila terdapat banyak kesalahan pada e
book chapter ini, kami memohon maaf.
Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah fungsi mental
dan aliran psikologi Ibu Etik Darul Muslikah yang telah memberikan kami tugas ini sehingga
kami dapat mempelajari dan menambah pengetahuan dan wawasan kami terkait dengan tugas
yang kami terima.
Demikian yang dapat kami sampaikan. Akhir kata, semoga tugas e book chapter berjudul
learning ini dapat bermanfaat.

Surabaya, 27 Oktober 2021

Tim penyusun

iii

PRAKATA

Hadirnya book chapter dengan judul LEARNING yang disusun oleh mahasiswa/i Psikologi
Untag Angkatan 2021 sangat penting untuk dibaca dan diterapkan agar dapat memberikan
tambahan ilmu yang bermanfaat.
Book chapter ini terdiri dari empat bab, yang ditulis oleh Fanny Anggraini Jati Pertiwi, Lidia
April Sari, Yusia Manshurina Firdausi, Alya Nor Laela, Aisyah Isnaini, Dinda Nilam
Puspasari, Naswa Nafilah, Ainun najwa ilyas, dan Mufti Ramadhani. Learning disajikan
meliputi 4 bab yaitu pengertian belajar, belajar sebagai suatu proses,belajar sebagai suatu
system,dan teori-teori belajar.
Pada bab pertama, disikan uraian mengenai pengertian dari belajar. Disajikan uraian
menengai pengertian dari belajar. Pada bab ini, diuraikan juga pengertian belajar dari
berbagai para ahli seperti oelh Skinner, McGeoch, Morgan dkk, Hilgard. Bertitik tolak dari
hal-hal dapat dikemukakan beberapa hal mengenai belajar.
Pada bab kedua, penulis menguraikan Belajar sebagai suatu proses. Menurut para ahli pada
umumnya belajar itu sebagai suatu proses, proses yang tidak nampak,. Proses yang nampak
itu seperti hasil dari sebuah proses.
Pada bab ketiga, diuraikan bahwa Belajar sebagai siatu system. Pada bab ini juga
menguraikan bahwa banyak factor yang mempengaruhi proses belajar. Belajar sebagai siatu
system terdapat beberapa jenis masukan yaitu masukan mentah (raw input), masukan
instrument (instrumental input), dan masukan lingkungan (environmental input).
Pada bab terakhir yaitu bab ke empat, penulis menguraikan bahwa ada beberapa teori belajar.
Pada bab ini juga menguraikan bahwa teori belajar dikategorikan dalan beberapa kelompok
yaitu aliran behaviorisme dan aliran kognitif. Aliran behaviorisme dikenal dengan teorinya
kondisioning. Dalam teori kondioning dibedakan mejadi dua yaitu teori belajar asosiatif dan
teori belajar fungsionalistik. Teori belajar aliran behaviorisme pertama kali ditemukan oleh
Pavlov, sedangkan teori belajar fungsionalitik oleh Thorndike dan Skinner. Teori belajar
berorientasi aliran kognitif ada Kohler, Jean Piaget. Ada pula teori belajar dari Albert
Bandura yang suatu versi baru dalam aliran behaviorisme.

Fanny Anggraini Jati Pertiwi

iv

DAFTAR ISI

LEARNING ......................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR........................................................................................................... iii
PRAKATA......................................................................................................................... iv
DAFTAR ISI ....................................................................................................................... v
PENDAHULUAN ................................................................................................................ 1
BAB I ................................................................................................................................ 2
Pengertian Belajar ............................................................................................................ 2
2.1 . Pengertian Belajar..............................................................................................................2
BAB II ............................................................................................................................... 4
Belajar Sebagai Suatu Proses ............................................................................................ 4
2.2 Belajar sebagai suatu proses................................................................................................4
BAB III .............................................................................................................................. 5
Belajar Sebagai Suatu Sistem ............................................................................................ 5
2.3 Belajar sebagai suatu Sistem ...............................................................................................5
BAB IV.............................................................................................................................. 6
Teori Belajar..................................................................................................................... 6
2.4 Teori Belajar .........................................................................................................................6
PENUTUP ....................................................................................................................... 28
Kesimpulan .................................................................................................................... 28
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................... 29

v

PENDAHULUAN
Living is learning. Merupakan sepenggal kalimat yang dikemukakan oleh Havighurst
(1953). Dengan kalimat tersebut memberikan suatu gambaran bahwa belajar merupakan hal
yang sangat penting. Hampir semua pengetahuan, sikap, keterampilan, perilaku manusia
dibentuk, diubah dan berkembang melalui belajar.
Menurut beberapa ahli, proses belajar tidak bisa di pelajari secara langsung, hakikat
dari belajar hanya dapat di simpulkan dari perubahan perilaku. Menurut mereka belajar
adalah sesuatu yang terjadi sebagai hasil atau akibat dari pengalaman dan mendahului
perubahan perilaku. Untuk memberikan gambaran mengenai hal tersebut dapat dikemukakan
beberapa definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli sebagai berikut. Skinner (1958)
memberikan definisi belajar “learning is a process of progressive behavior adaptation”. Dari
definisi tersebut dapat dikemukakan bahwa belajar itu merupakan suatu proses adaptasi
perilaku yang bersifat progresif.
Dalam paper learning, kita akan membahas beberapa definisi dari belajar itu sendiri,
dan akan bisa mengetahui bahwa dengan belajar akan mengalami proses dari tidak tau
menjadi tau, dan akan memungkinkan untuk adanya perubahan perilaku bagi seseorang.
Disamping itu pula dengan belajar akan menjadi suatu sistem yang mana banyak faktor yang
mempengaruhi proses belajar. Dan hasil yang dicapai ketika seseorang melakukan proses
belajar tersebut. Belajar juga akan berkaitan dengan pembahasan teori-teori belajar. Yang
mana dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu teori belajar behaviorisme dan teori belajar
aliran kognitif. Aliran behaviorisme dikenal dengan teorinya kondisioning. Dalam teori
kondioning dibedakan mejadi dua yaitu teori belajar asosiatif dan teori belajar
fungsionalistik. Teori belajar aliran behaviorisme pertama kali ditemukan oleh Pavlov,
sedangkan teori belajar fungsionalitik oleh Thorndike dan Skinner. Teori belajar berorientasi
aliran kognitif ada Kohler, Jean Piaget. Ada pula teori belajar dari Albert Bandura yang suatu
versi baru dalam aliran behaviorisme.

1

BAB I

Pengertian Belajar

2.1 . Pengertian Belajar

Belajar merupakan istilah yang tidak asing lagi dalam kehidupan manusia sehari-hari.
Cukup banyak definisi mengenai belajar yang di kemukakan oleh para ahli. Seperti yang
dikemukakan oleh Skinner (1958) yang menyatakan bahwa “countless definition of learning
has been given”. Hal tersebut dikemukakan karena memang definisi mengenai belajar itu
cukup banyak.

Untuk memberikan gambaran mengenai hal tersebut dapat dikemukakan beberapa definisi
yang dikemukakan oleh beberapa ahli sebagai berikut. Skinner (1958) memberikan definisi
belajar “learning is a process of progressive behavior adaptation”. Dari definisi tersebut dapat
dikemukakan bahwa belajar itu merupakan suatu proses adaptasi perilaku yang bersifat
progresif.

McGeoch (lih. Bugelski, 1956) memberikan definisi mengenai belajar “learning is a change
in performance as a result of practice”. Ini berarti bahwa belajar membawa perubahan dalam
performance, dan perubahan itu sebagaI akibat dari latihan (practice).

Morgan dkk. (1984) memberikan definisi mengenai belajar “learning can be defined as any
relatively permanent change in behavior which occurs as result of practice or experience”.
Hal yang muncul dalam definisi ini ialah bahwa perubahan perilaku atau performance itu
relative permanen.

Di samping definisi-definisi tersebut di atas masih banyak definisi mengenai belajar yang
dapat diajukan, namun kiranya hal tersebut kurang perlu. Untu memberikan jawaban
mengenai hal tersebut, kiranya perlu diangkat apa yang di kemukakan oleh Hilgard (lih.
Bugelski, 1956 :6) sebagai berikut

“A precise definition of learning is not necessary, so long as we agree that the inference to
learning is made from changes in performance that are the result of training or experience,
as distinguished from changes such as growth or fatigue and from changes attributable to
temporary state of the learner”.

2

Bertitik tolak dari hal-hal tersebut di atas dapat dikemukakan beberapa hal mengenai belajar
sebagai berikut :

1. Belajar merupakan suatu proses, yang mengakibatkan adanya pembahan perilaku
(change in behavior or performance). Ini berarti sehabis belajar individu mengalami
perubahan dalam perilakunya.

2. Perubahaan perilaku itu dapat aktual, yaitu menampak, tetapi juga dapat bersifat
potensial, yang tidak menampak pada saat itu, tetapi akan nampak di lain kesempatan.

3. Perubahan yang disebabkan karena belajar itu bersifat relatife permanen, yang berarti
perubahan itu akan bertahan dalam waktu yang relative lama.

4. Perubahan perilaku- baik yang actual maupun yang potensial- yang merupakan hasil
belajar, merupakan pembahan yang melalui pengalaman atau latihan. Misalnya anak
yang belum dapat tengkurap lalu dapat tengkurap. Perubahan ini karena factor
kematangan, walaupun dalam perkembangan selanjutnya factor belajar berperan.

3

BAB II
Belajar Sebagai Suatu Proses

2.2 Belajar sebagai suatu proses

Dari bermacam-macam definisi yang telah di paparkan di depan dapat dikemukakan
bahwa pada umumnya para ahli melihat belajar itu sebagai suatu proses. Karena
merupakan suatu proses, maka akan didapati skema sebagai berikut.

Masukan proses hasil
(input) output)

Dar bagan tersebut dapat dikemukakan bahwa belajar merupakan sesuatu yang terjadi
dalam diri individu yang disebabkan karena latihan atau pengalaman. Ini berarti bahwa
proses belajar merupakan intevering variable yang merupakan penghubung atau pengkait
antara independent variable dengan dependent variable. Seperti yang digambarkan oleh
Hergenhahn dan olson (1997:3)

Independent intervening dependent
variables variable variables

Experience learning behavioral changes

Dengan demikian akan jelas bahwa proses belajar itu sendiri terdapat dalam diri individu
yang belajar, yang kemudian menghasikan perubahan dalam perilakunya.

4

BAB III

Belajar Sebagai Suatu Sistem

2.3 Belajar sebagai suatu Sistem

Banyak faktor yang mempengeruhi proses belajar, dan apabila dianalisis lebih lanjut,
akan didapati beberapa jenis masukan, yaitu: Masukan Mentah (Raw Input), Masukan
Instrumen (Instumental Input), dan Masukan Lingkungan (Environmental Input). Apabila
masukan instrumen terganggu, maka proses akan terganggu.

Masukan Mentah adalah individu atau organisme yang akan belajar, misalnya siswa,
mahasiswa atau anak yang akan belajar. Masukan instrumen adalah masukan yang berkaitan
dengan alat-alat atau instrumen yang digunakan dalam proses belajar, misalnya: Rumah,
Kamar, gedung, peraturan-peraturan. Masukan Lingkungan merupakan masukan dari yang
belajar, bisa juga disebut masukan lingkungan fisik maupun non fisik. Misalnya: tempat
belajar yang gaduh atau ramai merupakan hal yang kurang menguntungkan untuk proses
belajar.

Yang menjadi persoalan masalah belajar pada umumnya ialah bertitik tolak dari hasil
belajar, apabila hasil belajar baik maka pada umumnya tidak akan menimbulkan masalah.
Sedangkan apabila hasil belajar tidak memuaskan, persoalan akan timbul. Oleh karena itu
dalam belajar pada umumnya adalah Hasil belajar sebagai titik tolaknya sehingga orang akan
melihat terlabih dahulu. Setelah hasil belajar, orang akan melihat bagaimana prosesnya dan
kemudian bagaimana masukannya

5

BAB IV
Teori Belajar

2.4 Teori Belajar

Teori-teori tersebut dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok, yaitu teori
yang berorientasi pada teori aliran Behaviorisme dan aliran Kognitif. Aliran
Behaviorisme pada dasarnya teori belajar yang dikenal dengan kondisioning. Dalam
teori kondisioning ini dibedakan menjadi 2, yaitu:
a. Teori Belajar Asosiatif.
b. Teori Belajar Fungsionalistik.

Namun, teori yang berorientasi pada aliran Behaviorisme dan yang borientasi pada
aliran Kognitif, kiranya masih ada teori belajar yang merupakan teori atas dasar
orientasi gabungan antara keduanya.

1. Teori belajar yang berorientasi pada aliran Behaviorisme.
a) Teori belajar asosiatif

adalah teori belajar yang semula dibangun oleh Pavlov. Atas dasar
eksperimennya Pavlov menyimpulkan bahwa perilaku itu dapat dibentuk
melalui kondisioning atau kebiasaan. Disamping Pavlov ( Ivan Petrovich
Pavlov) yang termasuk teori belajar asosiasi juga Gutharie (Edwin ray
Gutharie) dan Estes (William Kaye Estes) (Hergenhahn dan Olson). Belajar
asosiatif mengacu pada berbagai pembelajaran di mana gagasan dan
pengalaman saling terhubung. Otak manusia diatur sedemikian rupa
sehingga mengingat sepotong informasi secara terpisah seringkali sulit. Ini
karena terhubung ke jenis informasi lain. Teori belajar asosiatif menyoroti
hubungan atau hubungan antara gagasan-gagasan ini. Menurut psikolog,
pembelajaran asosiatif terjadi ketika kita belajar sesuatu dengan bantuan
stimulus baru. Di sini teori pengondisian ikut berperan. Melalui
pengkondisian, para psikolog menekankan bagaimana perilaku manusia dapat
diubah atau bagaimana pola perilaku baru dapat dibuat pada individu. Proses
pembelajaran asosiatif berlangsung melalui dua jenis pengondisian. Mereka,

1. Pengkondisian klasik

6

2. Pengkondisian operan

Pengkondisian klasik adalah teknik yang diperkenalkan oleh Ivan Pavlov di
mana ia melakukan percobaan menggunakan anjing. Pada fase pertama
percobaan, ia menghadiahkan anjing dengan makanan dan memperhatikan
bagaimana ia mengeluarkan air liur. Lalu ia memperkenalkan lonceng tepat
saat makanan disajikan dan memperhatikan bagaimana anjing mengeluarkan
air liur. Ketiga ia membunyikan bel tanpa menyajikan makanan tetapi
memperhatikan bahwa anjing itu mengeluarkan air liur. Melalui ini, ia
menjelaskan bagaimana respons alami terhadap stimulus dapat dikondisikan di
mana respons terkondisi dapat dibuat dari stimulus terkondisi.

Di pengordinisasian operan, B. F Skinner menjelaskan bagaimana imbalan
dan hukuman dapat digunakan untuk melatih perilaku baru. Misalnya,
bayangkan seorang anak diberi sebatang cokelat setelah mendapat nilai bagus
pada ujian. Ini adalah contoh dari hadiah. Atau bayangkan seorang anak
dihukum karena melakukan kesalahan. Ini adalah contoh hukuman. Melalui
pembelajaran asosiatif, perilaku baru dipromosikan berdasarkan pada stimulus
baru. Pembelajaran asosiatif menghubungkan terjadi antara perilaku dan
stimulus baru.

Pengkondisian Klasik dan Operan dapat dianggap sebagai jenis pembelajaran
asosiatif. Namun demikian teori-teori tersebut dapat dikelompokkan menjadi
beberapa kelompok, yaitu teori yang berorientasi pada aliran Behaviorisme
dan aliran Kognitif. Aliran Behaviorisme pada dasarnya teori belajar yang
dikenal dengan kondisioning. Dalam teori kondisioning ini dibedakan teori
belajar asosiatif dan teori belajar fumgsionalistik (Hergenhahn dan Olson).
Namun demikian menurut hemat penulis di samping teori yang berorientasi
pada aliran Behaviorisme dan yang berorientasi pada aliran Kognitif, kiranya
masih ada teori belajar yang merupakan teori atas dasar orientasi gabungan
antara keduanya.

7

b) Teori belajar Fungsionalistik
• Thorndike

Seperti diketahui bahwa dalam aliran Behaviorisme ada yang asosiatif dan
fungsional. Yang asosiatif dipelopori oleh Pavlov, sedangkan yang fungsional
antara lain oleh Thorndike dan skinner. Teori belajar pertama dalam disertasi
Edward Lee Thorndike yang berjudul An Experimental Study Of The
Associate Process In Animals (1898) merupakan eksperimen tonggak sejarah.
Disertasi tersebut erupakan pelopor studi laborat dengan subyek binatang.
Menurut Thorndike tujuan pokok mempelajari fikiran binatang ialah untuk
menemukan perkembangan kehidupan mental dalam spesies spesies yang
berlainan, dan khususnya asal mula kecerdasan manusia. Penelitian Thorndike
merupakan analisa eksperimen pertama mengenai urutan situasi stimulus,
tingkah laku, dan konsekuensinya. Teori tersebut telah menyusun beberapa
hukum hukum pokok dan yang kurang utama dalam mengatur hal belajar yang
berlaku baik pada binatang maupun pada manusia. Maka dengan demikianlah
ditunjukkan bahwa penelitian perilaku dapat dilaksanakan untuk menghasilkan
hukum hukum tentang peristiwa alam fikiran. Penyusunan teori belajar
Thorndike ini merupakan salah satu dari banyak sumbangannya kepada
psikologi.

Landasan teori Thorndike

Teori Thorndike awalnya berlandaskan pada eksperimen yang dilakukan
dengan binatang. Penelitiannya dirancang untuk menentukan apakah binatang
mampu memecahkan permasalahan dengan berfikir atau dengan melalui suatu
proses yang lebih mendasar. Maka menurut Thorndike diperlukannya sebuah
penelitian karena keberadaan data objektif saja tidak cukup dan kurang
membantu untuk menghasilkan hasil yang akurat dari sebuah analisa
eksperimen. Dari hasil penelitian Thorndike menyimpulkan bahwa respon
binatang yang lepas dari kurungan, lambat laun diasosiasikan dengan situasi
stimulus dalam belajar coba coba, trial, and error. Respon benar, lambat laun
tertanam dan diperkuat melalui percobaan yang berulang ulang. Apabila
Respon tidak benar, maka akan dipermlemah atau tercabut. Gejala ini disebut
situasi respons. Teori itu juga dikenal dengan sebutan kondisioning

8

instrumental, karena pemilihan suatu respon merupakan alat atau instrument
untuk memperoleh ganjaran.

Karya Karya Thorndike.

Edward Lee Thorndike adalah tokoh psikologi Amerika yang selalu
melakukan hal hal produktif dan banyak menghasilkan karya karyanya sendiri.
Selain banyak melakukan penelitian dan percobaan percobaan, ia juga menulis
dalam rangka menjaga keutuhan percobaannya, sehingga temuan temuan itu
menjadi utuh dan bisa dimanfaatkan oleh generasi generasi selanjutnya.
Adapun beberapa karyanya yang dihasilkan disela sela penelitiannya, sebagai
berikut:

1. Educational Psychology (1903)
2. Introduction to the theory of mental and social measurements

(1904)
3. The Elements of psychology (1905)
4. Animal Intelligence (1911)
5. Education Psychology: briefer course, New York: Routledge

(1999)
6. The Teachers Word Book (1921)
7. The Psychology of Arithmetic (1922)
8. The Measurement of Intelligence (1927)
9. The Fundamentals of Learning (1932)
10. The psychology of Wants, Interests, and Attitudes (1935)

Konsep Utama Teori Belajar Edward Lee Thorndike.

Kekeliruan yang banyak dilakukan dalam proses belajar adalah
menganggap bahwa segala macam belajar dapat diterangkan dalam
satu teori tertentu. Setiap teori mempunyai dasar tertentu. Ada teori
belajar yang berdasarkan asosiasi, adapula yang berdasarkan atas
insight seperti prinsip yang tidak dapat dipadu padankan dengan yang
lain. Setiap teori mempunyai penjelasan tentang aspek belajar tertentu
dan tidak tentu sesuai dengan macam macam aspek belajar lainnya.
Dalam mempelajari arti kata asing digunakan teori asosiasi dan buka

9

problrm solving. Sebaliknya, apabila untuk memecahkan masalah,
teori asosiasi tidaklah ada faedahnya.

Teori belajar yang paling tua adalah teori asosiasi, yaitu
hubungan antara stimulus dan respons. Hubungan itu bertambah kuat
bila sering diulangi dan respons yang tepat diberi ganjaran atau
imbalan berupa pujian atau cara lain yang dapat memberikan rasa
senang maupun puas. Edward Lee Thorndike mempelajari masalah
belajar pada binatang dengan merintis cara yang baru, yakni dengan
eksperimen. Thorndike seringkali dikenal dengan teori “trial and
error”. Seekor kucing dapat keluar dari sangkarnya karena secara
kebetulan menekan suatu palang yang membuka pintu tersebut.
Ternyata apabila pada kesempatan berikutnya waktu yang diperlukan
untuk keluar berkurang, maka akhirnya ia dapat keluar dengan segera.
Keberhasilan kucing tersebut diberi hadiah berupa makanan yang
mampu memberikan motivasi bagi kucing yang lapar itu untuk keluar
kandang. Teori trial and error ini tidak dapat berlaku pada manusia.
Karena umumnya manusia berfikir dahulu apabila akan melakukan
sebuah aktivitas atau sesuatu. Manusia akan cenderung memikirkan
dahulu tentang akibat apa yang akan didapati dan mulai
mengesampingkan cara alternatif yang tidak akan memberikan hasil.
Dan bila telah menemukan cara alternatif yang mampu memberikan
hasil memuaskan sesuai yang sudah direncanakan, maka manusia akan
mengingat ingat dan akan melakukan cara yang sama apabila
menghadapi masalah yang sama lagi. Jadi bedanya, tidak diperlukan
adanya proses yang dilakukan secara berangsur angsur pada manusia
seperti halnya yang dilakukan pada hewan. Dengan begitu cara
memecahkan masalah yang digunakan pada hewan tidak selalu dapat
digunakan oleh manusia, begitupun sebaliknya.

Edward Lee Thorndike merupakan tokoh yang mempunyai
pengaruh besar terhadap pengajaran di sekolah, dengan menganut
aliran connectionisme yaitu hubungan antara dua hal yang dikenal
sebagai S-R bond. Dengan keproduktifannya, Thorndike melakukan
penelitian dan percobaan pada binatang dan karena penelitian yang

10

telah dilakukan sudah sangat banyak, hingga hasil penelitian dan
percobaan melebihi jumlah percobaan Pavlov, ia menemukan sejumlah
hukum belajar lainnya, antara lain sebagai berikut:

1. The Law of exercise or Repetition. Semakin sering S-R
dilatih maka akan semakin lama hubungan itu bertahan, jadi
latihan memperkuat S-R.

2. The Law of effect. Hubungan S-R dipererat bila disertai rasa
senang.

Dari Pihak penganut behaviorisme lainnya, temuan ini dikritik
karena rasa puas dan rasa senang bukan kelakuan yang “observable”
dan “measurable”. Menurut Pavlov hal ini disebut “classical
conditioning”, sedangkan menurut Thorndike disebut “ instrumental
conditioning” karena S-R yang berhasil disertai oleh pujian sebagai
upah atau reinforcement . memberikan respon yang tepat merupakan
instrumental untuk memperoleh pujian. Teori “reinforcement” telah
dikemukakan oleh thorndike dengan “Law of Effect” nya, yakni bahwa
belajar dibantu bila binatang percobaan memperoleh suatu kepuasan
dengan kegiatannya, seperti, memperoleh makanan atau bentuk hadiah
lainnya, lalu hadiah itu me reinforce hubungan antara stimulus dan
respon.

Dalam literatur lain disebutkan bahwa ada 3 hukum belajar yang
utama dan merupakan hasil dari penelitian. Antara lain yaitu, hukum
efek, hukum latihan, dan hukum kesiapan.

1. Hukum efek, menyebutkan bahwa keadaan memuaskan
menyusul respon untuk memperkuat pautan antara
stimulus dan tingkah laku, sedangkan keadaan
menjengkelkan dapat memperlemah pautan ini.

2. Hukum latihan,menjelaskan seperti bunyi pepatah
“Latihan menjadikan sempurna”. Atau dengan kata lain
pengalaman yang diulang ulang atu sesuatu yang
seringkali diulang dapat menimbulkan suatu respon yang
benar. Akan tetapi pengulangan yang tidak disertai

11

dengan keadaan atau hasil yang memuaskan tidak dapat
dikatakan sebagai menambah proses belajar.
3. Hukum kesiapan, disini melukiskan suatu syarat syarat
yang menentukan keadaan yang disebut “memuaskan”
atau “menjengkelkan”. Secara singkat, pelaksanaan
tindakan sebagai respon terhadap suatu impuls yang kuat
akan menimbulkan kepuasan. Sedangkan hal hal yang
menghalangi atau memaksa suatu tindakan disebut
dengan menjengkelkan.

Konsep Sekunder Teori Belajar Thorndike.

Edward Lee Thorndike dalam teori connectionism dari
Amerika Serikat, mengatakan bahwa dasar dari belajar merupakan
asosiasi antara kesan panca indera (sense impression) dan impuls untuk
bertindak (impuls to action) atau terjadinya hubungan antara stimulus
(S) dan response (R) disebut BOND, sehingga dikenal dengan teori S-
R Bond. Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara
stimulus yang mungkin bisa berupa pikiran, perasaan, atau gerakan dan
respon yang juga berupa pikiran, perasaan, atau gerakan. Konsep
konsep Thorndike dilengkapi dengan prinsip prinsipnya, sebagai
berikut:

1. Siswa harus mampu membuat berbagai jawaban terhadap
stimulus (Multiple Responses)

2. Belajar dibimbing atau diarahkan ke suatu tingkatan yang
penting melalui sikap siswa itu sendiri.

3. Suatu jawaban yang telah di pelajari dengan baik dapat
digunakan terhadap stimulus yang lain (bukan stimuli yang
semula), yang oleh Thorndike disebut dengan “perubahan
asosiatif” (associative shifting).

4. Jawaban jawaban terhadap situasi situasi baru dapat dibuat
apabila siswa melihat adanya analogi dengan situasi
terdahulu.

12

5. Siswa dapat mereaksi secara selektif terhadap faktor faktor
yang esensial didalam situasi (prepotent element)

• Skinner, termasuk teori belajar fungsionalistik.

Burrhus Frederic Skinner adalah seorang psikolog Amerika Serikat
yang terkenal dari aliran behaviorisme. Skinner lahir pada tanggal 20 Maret
1904 di Susquehanna, Pensylvania, Amerika Serikat. Belajar menurut B.F
Skinner (1958) adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku
yang berlangsung secara progresif. Skinner meraih gelar master pada tahun
1930 dan Ph.D pada 1931 dari Harvard Universitu. Gelar B.A diperoleh dari
Hamilton College, New York, dimana Skinner mengambil jurusan Sastra
Inggris. Tahun 1926 dan 1945, Skinner mengajar psikologi di University of
Minnerota dan mengambil salah satu bukunya yang berjudul, the Behavior of
Organisme. Menurut Skinner tujuan psikologi adalah meramal mengontrol
tingkah laku. Tingkah laku diperinci atas unit-unit kecil disebut respon.
Sedangkan, lingkungan juga diperinci atas unit0unit kecil disebut stimulus.
Menurut Hergenhahn dan Olson pada tahun 1997 di smaping Thorndike dan
Skinner measih terdapat ahli lain yang termasuk teori belajar fungsionalistik
yaitu Hull (Clark Leonard Hull).

Menurut skinner, dalam belajar ditemukan hal-hal:

1. Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon belajar
2. Responsi belajar
3. Konsekuensi penggunakaan respons tersebut

Prinsip belajar Skinner antara lain sebagai berikut:

1. Hasil belajar harus segera diberitahukan oeda siswa, jika ada asalah
maka harus dibetulkan dan jika benarr harus diberi penguat

2. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. Materi
pelajaran digunakan sebagai system modul

3. Didalam proses belajar pembelajran lebih dipentingkan aktivitas
sendiri, tidak digunakan hukuman. Untuk itu lingkungan perlu diubah
untuk menghindari adanya hukuman

13

4. Tingkah laku yang diingunkan pendidik diberi hadiah dan sebaliknya
hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable ratio reinforce
dalam pembelajaran digunakan shapping.

Dalam eksperimen Skinner terdapat sifat eksperimen Pavlov juga terdapat
sifat eksperimen Thorndike. Sifat dari eksperimen Thorndike pada siknner
yaitu hewan mencoba untuk mencapai tujuannya yaitu makanan maka ia harus
berbuat atau melakukan sesuatu. Sifat dari eksperimen Pavlov pada
eksperimen skinner yaitu adanya experimental estinction. Operant
conditioning adalah suatu metode pembelajaran menggunakan reward (hadiah)
dan punishment (hukuman) sebagai konsekuensi perilaku. Teori ini
dikembangangkan oleh skinner. Respondent conditioning (respondent
response) adalah respon yang diperoleh dari beberapa stimulus yang
teridentifikasi.Menurut Skinner unsur yang terpenting dalam belajar adalah
adanya penguatan (reinforcement) dan hukuman (punishment).

Skinner membedakan adanya dua macam respon, yaitu:

1.Respondent response (reflexive response), yaitu respom yang ditimbulkan
oleh suatu perangsang-perangsang tertentu. Misalnya, keluar air liur saat
melihat makanan tertentu.

2. Operant response (instrumental response), yaitu respon yang timbul dan
berkembangnya diikuti oleh perangsang-peerangsang tertentu. Contohnya,
ketika seorang anak belajar (telah melakukan perbuatan), lalu mendapat
hadiah, maka ia akan menjadi lebih giat belajar (intensif/ kuat).

Frekuensi terjadinya respond dipengaruhi oleh frekuensi stimulus yang
menimbulkannya. Respond jarang terjadi secara spontan atau tanpa adanya
stimulus yang menimbulkannya. Frekuensi terjadinya tingkah laku operant
ditentukan oleh akibat tingkah laku ini (kejadia di lingkungan yang mengikuti
tingkah laku ini).

Menurut skinner dalam operan conditioning ada 2 prinsip umum yaitu:

1. Setiap respons yang diikuti oleh reward (merupakan reinforcing
stimuli) yang akan cenderung diulangi

14

2. Reward yang merupakan reinforcing stimuli akan meningkatkan
kecepatan terjadinya respon

Menurut padangan Skinner, komponen-komponen penting dalam pengajaran
matematika sebagai berikut:

1. Terminology tingkah laku adalah tujuan yang dinyatakan
2. Tugas dibagi mejadi keterampilan-keterampilan pra syarat dan urutan

yang logis dari materi yang lain
3. Materi yang akan dipelajari merupakan penentuan hubungan anatara

keterampilan pra syarat dan urutan logis
4. Perencaan materi dan prosedur mengajar untuk setiap tugas bagian
5. Pemberian balikan kepada siswa dpat dilihat dari penampilan siswa

dimana siswa telah selesai melaksanakan tugas-tugas bagian yang
mendukung

Kelebihan dan kekurangan teori belajar B.F. Skinner

Kelebihan :

Pada teori ini, pendidik diarahkan untuk menghargai setiap anak didiknya. Hal
ini ditunjukan dengan dihilangkannya system hukuman. Dengan adanya hal ini
ada pembentukan lingkungan yang baik sehingga dimungkinkan akan
meminimalkan terjadinya kesalahan. Dengan adanya hukuman, membuat
siswa cepat memunculkan suatu respon atau perilaku. Karena siswa mungkin
tidak ingin mendapat hukuman, jadi siswa segera memunculkan perilaku itu.

Kekurangan :

Penggunaan hukuman sebagi salah satu cara untuk bisa mendisiplinkan anak.
Menurut Skinner hukuman yang baik adalah dengan cara anak merasakan
sendiri konsekuensi dari perbuarannya. Contohnya, anak perlu mengalami
sendiri kesalahan dan merasakan akibat dari kesalahannya. Hukuman verbal
maupun menggunakan fisik contohnya seperti kata-kata kasar, ejekan, cubita,
jerawatan justru mengakibatkan buruk pada siswa. Jika sistem hukuman
dihilangkan mungkin akan membuat anak kurang mengerti tentang
kedisiplinan. Membuat anak didik menjadi pasif, karena sebuah perilaku akan
muncul bila diberi penguat seperti hadiah, dan akan lemah jika diberi

15

hukuman. Selain itu, kesalahan dalam reinforcement positif juga terjadi
didalam situasi oendidikan seperti penggunaan rangkin juara di kelas yang
menjadikan anak harus menguasai semua mata pelajaran. Sebaliknya setiap
anak diberi penguatan sesuai dengan kemampuan yang diperlihatkan sehingga
satu kelas terdapat banyak pengahargaan sesuai dengan prestasi yang
ditunjukan siswa, contohnya pengahrgaan dibidang bahasa, matematika,
fisika, kimia, menyanyi menari bahkan olahraga.

2) Teori belajar yang berorientas pada aliran Kognitif.
a. Kohler.
Wolfgang Kohler, lahir di Reval, Estonia, Rusia, 21 Januari 1887. Ayahnya adalah
seorang kepala sekolah saudara-saudara perempuannya ada yang menjadi
pendidik dan ada pula yang menjadi perawat dan kakaknya adalah seorang
ilmuwan terkemuka. Dimasa kecilnya Kohler sangat tertarik pada sains, musik
klasik, dan piano. Kohler menempuh pendidikan di Tubingen (1905-1906), Bonn
(1906-1907), dan Berlin (1907-1909). Di Berlin inilah ia memperoleh gelar Ph.D.
dengan disertasinya tentang psiko-akustik.
Kohler memberikan kontribusi yang besar di bidang psikologi. Dia menulis secara
ekstensif pada penelitian hewan dan pada pemahaman persepsi manusia. Semasa
hidupnya Kohler mendapat beberapa penghargaan sebagai berikut. Kohler
meninggal pada tanggal 11 Juni 1967 di Enfield, New Hampshire, Amerika
Serikat.

Teori belajar yang berorientasi pada aliran kognitif dirinttis oelh Kohler, dalam
eksperimen Kohler dapat disimpulkan bahwa hewan dalam memecahkan masalah
adalah dengan Insight (Insightfull Learning). Walaupun demikian Kohler tidak
mengingkari adanya Trial and Error, menurut kohler dalam memecahkan masalah
yang penting adalah Insight. Dalam belajar Kohler membawa prinsip Gestalt,
Gestalt semula timbul dalam hal persepsi dan dapat dipandang sebagai pendahulu
dari aliran Kognitif.

Teori Gestalt dikembangkan oleh Kohler dan kawan-kawan. Teori ini berbeda
dengan teori – teori yang telah dijelakan terdahulu. Menurut teori Gestalt, belajar
addalah prose mengembangkan insight. Insight adalah pemahaman terhadap

16

hubungan antarbagian di dalam suatu situasi permasalahan. Berbeda dengan teori
behaviouritik yang menganggap belajar atau tingkah laku itu bersifat mekanistis
sehingga mengabaikan atau mengingkari peranan insight. Teori Gestalt justru
menganggap bahwa insight adalah inti dari pembentukan tingkah laku. Maka
belajar itu akan terjadi manakala dihadapkan kepada suatu persoalan yang harus
dipecahkan. Belajar bukanlah menghafal fakta. Melalui persoalan yang dihadapi
itu anak akan mendapat insight yang sangat berguna untuk menghadapi setiap
masalah. Timbulnya insight pada individu tergantung pada:

a. Kesanggupan.
b. Pengalaman.
c. Taraf kompleksitas dari suatu situasi.
d. Latihan.
e. Trial and Error.

Insight yang merupakan inti dari belajar menurut teori Gestalt, memiliki ciri-ciri
sebagai berikut:

a. Transisi dari presolution ke solution itu terjadi secara tiba-tiba (suddenly).
b. Pemecahan masalah yang diperoleh dengan insight akan tetap tinggal

untuk waktu yang lama.
c. Performance yang didasarkan atas insight biasanya smooth dan bebas.
d. Pemecahan atau prinsip yang diperoleh dengan insight akan mudah

dialihkan pada masalah yang lain. Hal ini ada kaitannya dengan
transposition.
e. Kemampuan insight seseorang tergantung kepada kemampuan dasar orang
tersebut, sedangkan kemampuan dasar itu tergantung kepada usia dan
posisi yang bersangkutan dalam kelompok (spesiesnya).
f. Insight dipengaruhi atau tergantung kepada pengalaman masa lalunya yang
relevan.
g. Insight tergantung kepada pengaturan dan penyediaan lingkungannya.

17

EKSPERIMEN KOHLER.

Untuk mendukung teorinya, Wolfgang Kohler melakukan eksperimen pada
simpanse. Eksperimen tersebut dilakukan di Pulau Canary pada tahun 1913-1920.
Dari eksperimen-eksperimen tersebut, Kohler menjelaskan bahwa simpanse yang
dipakai untuk percobaan harus dapat membentuk persepsi tentang situasi total dan
saling menghubungkan antara semua hal yang relavan dengan problem yang
dihadapinya sebelum muncul insight. Dari percobaan-percobaan tersebut
menunjukkan Simpanse dapat memecahkan problemnya dengan insightnya, dan ia
akan mentransfer insight tersebut untuk memecahkan problem lain yang
dihadapinya.

Melalui penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para tokoh gestalt, disusunlah
hukum-hukum gestalt yang berhubungan dengan pengamatan yaitu sebagai
berikut :

1. Hukum Pragnaz

Hukum ini menyatakan bahwa organisasi psikologis selalu cenderung untuk
bergerak kearah penuh arti (pragnaz). Menurut hukum ini, jika seseorang
mengamati sebuah atau sekelompok objek, maka orang tersebut akan cenderung
memberi arti terhadap objek yang diamatinya.

2. Hukum kesamaan (the law of similarity)

Hukum ini menyatakan bahwa hal-hal yang sama cenderung membentuk gestalt
atau kesatuan.

3. Hukum keterdekatan (the law of proximity)

Hukum ini menyatakan bahwa hal-hal yang saling berdekatan cenderung
membentuk kesatuan.

4. Hukum ketertutupan (the law of closure)

Prinsip hukum ketertutupan ini menyatakan bahwa hal-hal yang tertutup
cenderung membentuk gestalt.

5. Hukum kontinuitas

18

Hukum ini menyatakan bahwa hal-hal yang kontinu atau yang merupakan
kesinambungan (kontinuitas) yang baik akan mempunyai tendensi untuk
membentuk kesatuan atau gestalt.

IMPLIKASI TEORI KOHLER DALAM PROSES PEMBELAJARAN.

Teori yang di rumuskan oleh Kohler mempunyai implikasi dalam proses
pembelajaran, yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Pemahaman (insight) memegang peranan penting dalam prilaku. Oleh karena
itu dalam proses pembelajaran hendaknya peserta didik memiliki insight yang
kuat.

2. Untuk menunjang pembentukan insight, maka guru harus melaksanakan
pembelajaran yang bermakna (meaningful learning), hal itu bisa dilaksanakan
dengan menyusun strategi, memilih metode dan menggunakan media
pembelajaran yang tepat.

3. Setiap prilaku mempunyai tujuan (pusposive behavior). Prilaku bukan hanya
terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan tujuan
yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik
mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru mempunyai
tanggung jawab untuk membantu peserta didik memahami tujuan pembelajaran.

4. Setiap individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada (life
space). Oleh karena itu, guru dalam menyampaikan materi hendaknya dikaitkan
dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.

5. Menurut pandangan teori Gestalt, proses pembelajaran dikatakan berhasil
apabila peserta didik mampu menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu
persoalan dan menemukan generalisasi untuk dipergunakan memecahkan masalah
dalam situasi lain. Maka guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk
menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.

6. Education is social process of change in the behavior of living organisms.
(Kohler, 1926). Oleh karena itu, guru mempunyai tanggung jawab untuk
mendesain pembelajaran yang melibatkan beberapa komponen yaitu guru dengan

19

peserta didik, peserta didik dengan guru, peserta didik dengan peserta didik, dan
peserta didik dengan masyarakat.

b. Jean Piaget.
Salah satu pengertian yang dikemukakan oleh Piaget adalah asimilasi dan
akomodasi. Asimilasi adalah proses merespon individu terhadap lingkungan yang
sesuai dengan struktur kognitif individu, Asimilasi memiliki makna
menyelaraskan (Matching) antara struktur kognitif struktur kognitif dengan
lingkungan. Misalnya, apabila pada anak hanya ada skema menyusu, memegang,
marah, maka pengalaman-pengalamannya akan diasimilasikan dengan skema-
skema tersebut.
Skema yaitu merupakan potensi secara umum yang ada pada individu untuk
melakukan sekelompok perilaku tertentu. Skema merupakan struktur kognitif atau
elemen dari struktur kognitif, apabila sturktur kognitif anak berkembang atau
berubah hal ini akan memungkinkan anak mengasimilasikan bermacam-macam
aspek dari lingkungannya, dengan demikian bahwa apabila asimilasi merupakan
satu-satunya proses kognitif maka tidak akan didapati Intelectual Growth. Karena
itu adanya proses yang lain untuk pengembangan ini, yaitu akomodasi. Proses
akomodasi merupakan pengubahan struktur kognitif, karena tidak atau belum
adanya skema tertentu.
Oleh karena itu dalam pengalaman pada umumnya mengandung dua proses yang
penting, yaitu:
1) Recognition atau Knowing yang berhubungan dengan proses asimilasi,
2) Akomodasi yang menghasilkan perubahan dalam struktur kognitif, ini yang
disamakan dengan belajar. Contoh: Individu merespon terhadap lingkungan
berdasarkan pengalaman-pengalaman yang lalu (asimilasi), tetapi tiap pengalaman
mengandung aspek yang tidak seperti pengelaman yang lalu. Menurut Piaget
akomodasi merupakan wahana untuk Intelectual development. Dalam dua
mekanisme asimilasi dan akomodasi, yang mendorong Intelectual Growth.

Menurut Piaget akomodasi merupakan wahana untuk Iintelectual development .
dengan demikian dapat di kemukakan bahwa agar terjadi proses beajar , maka
informasi harus di berikan sedemikian rupa sehingga dapat terjadi asimilasi dan
sekaligus terjadi akomodasi. Dengan adanya akomodasi akan berubah struktur

20

kognitifnya apabila informasi tersebut tidak dapat di asimilasi, maka ini berarti
bahwa informasi tidak dapat di mengerti tetapi sebaliknya, apabila seluruhnya nya
dapat di mengerti secara tuntas , ini tidak di perlukan belajar sebab tidak ada
akomodasi.

Menurut Piaget pengalaman yang membawa atau menimbulkan challenge akan
menstimulasi perkembangan kognitif. Dala dua mekamisme asimilasi dan
akomondasi yang mendorong intectual growth.

Menurut Piaget juga perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetic,
yaitu suatu proses yang di dasarkan atas mekanisme biologis perkembangan
system syaraf. Dengan makin bertambahnya umur seseorang maka makin
komplekslah susunan sel syarafnya dan makin meningkat pula kemampuannya.

Jean Piaget membagi tahapan perkembangan kognitif anak usia dini dalam empat
tahap

1. Tahap sensorimotor ( 0-24 bulan )

Tahap paling awal perkembangan kognitif terjadi pada waktu bayi lahir sampai
sekitar berumur 2 tahun. Tahap ini disebut tahap sensorimotor oleh Piaget.

Pada tahap sensorimotor, intelegensi anak lebih didasarkan pada tindakan
inderawi anak terhadap lingkungannya, seperti melihat, meraba, menjamah,
mendengar, membau dan lain-lain.

Pada tahap sensorimotor, gagasan anak mengenai suatu benda berkembang dari
periode “belum mempunyai gagasan” menjadi “sudah mempunyai gagasan”.

Gagasan mengenai benda sangat berkaitan dengan konsep anak tentang ruang dan
waktu yang juga belum terakomodasi dengan baik. Struktur ruang dan waktu
belum jelas dan masih terpotong-potong, belum dapat disistematisir dan diurutkan
dengan logis.

Menurut Piaget, mekanisme perkembangan sensorimotor ini menggunakan proses
asimilasi dan akomodasi. Tahap-tahap perkembangan kognitif anak
dikembangkan dengan perlahan-lahan melalui proses asimilasi dan akomodasi
terhadap skema-skema anak karena adanya masukan, rangsangan, atau kontak
dengan pengalaman dan situasi yang baru.

21

2. Tahap praoperasional ( 2-7 tahun )
Istilah “operasi” di sini adalah suatu proses berfikir logis, dan merupakan aktivitas
lain. sensorimotor. Dalam tahap ini anak sangat egosentris, mereka sulit menerima
pendapat orang

Anak percaya bahwa apa yang mereka pikirkan dan alami juga menjadi pikiran
dan pengalaman orang lain. Mereka percaya bahwa benda yang tidak bernyawa
mempunyai sifat bernyawa.

Tahap pra operasional ini dapat dibedakan atas dua bagian.

Pertama, tahap pra konseptual (2-4 tahun), dimana representasi suatu objek
dinyatakan dengan bahasa, gambar dan permainan khayalan.

Kedua, tahap intuitif (4-7 tahun). Pada tahap ini representasi suatu objek
didasarkan pada persepsi pengalaman sendiri, tidak kepada penalaran.

Karakteristik anak pada tahap ini adalah sebagai berikut:

Anak dapat mengaitkan pengalaman yang ada di lingkungan bermainnya dengan
pengalaman pribadinya, dan karenanya ia menjadi egois. Anak tidak rela bila
barang miliknya dipegang oleh orang lain.

Anak belum memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah yang
membutuhkan pemikiran “yang dapat dibalik (reversible).” Pikiran mereka masih
bersifat irreversible.

Anak belum mampu melihat dua aspek dari satu objek atau situasi sekaligus, dan
belum mampu bernalar (reasoning) secara individu dan deduktif.

Anak bernalar secara transduktif (dari khusus ke khusus). Anak juga belum
mampu membedakan antara fakta dan fantasi. Kadang-kadang anak seperti
berbohong. Ini terjadi karena anak belum mampu memisahkan kejadian
sebenarnya dengan imajinasi mereka.

Anak belum memiliki konsep kekekalan (kuantitas, materi, luas, berat dan isi).

Menjelang akhir tahap ini, anak mampu memberi alasan mengenai apa yang
mereka percayai. Anak dapat mengklasifikasikan objek ke dalam kelompok yang

22

hanya mempunyai satu sifat tertentu dan telah mulai mengerti konsep yang
konkrit.

3. Tahap operasional konkret ( 7- 11 tahun )

Tahap operasi konkret (concrete operations) dicirikan dengan perkembangan
sistem pemikiran yang didasarkan pada aturan-aturan tertentu yang logis. Anak
sudah mengembangkan operasi-oprasi logis.

Operasi ini bersifat reversible, artinya dapat dimengerti dalam dua arah, yaitu
suatu pemikiran yang dapat dikembalikan kepada awalnya lagi. Tahap operasi
konkret dapat ditandai dengan adanya sistem operasi berdasarkan apa-apa yang
kelihatan nyata/konkret.

4. Tahap operasional formal ( mulai umur 11 tahun )

Tahap operasi formal (formal operations) merupakan tahap terakhir dalam
perkembangan kognitif menurut Piaget.

Pada tahap ini, seorang remaja sudah dapat berpikir logis, berpikir dengan
pemikiran teoritis formal berdasarkan proposisi-proposisi dan hipotesis, dan dapat
mengambil kesimpulan lepas dari apa yang dapat diamati saat itu. Cara berpikir
yang abstrak mulai dimengerti. Sifat pokok tahap operasi formal adalah pemikiran
deduktif hipotesis, induktif saintifik, dan abstrak reflektif.

3) Teori belajar Albert Bandura.
Bandura mengajukan suatu versi baru dalam Behaviorisme yang diberi nama a
sociobehavioristic approach yang kemudian disebut sebagai a social cognitive theory.
Teori ini kurang ekstrim apabila dibandingkan dengan behaviorisme Skinner, hal ini
terrefleksi pada pengaruh reinforcement dan interestnya pada faktor kognitif
(cognitive factor). Bandura dapat menerima apa yang dikemukakan oleh Skinner,
yaitu bahwa perilaku dapat berubah karena reinforcement, ia juga berpendapat bahwa
perilaku dapat berubah tanpa adanya reinforcement secara langsung, yaitu dengan
melalui observasi dari orang lain dan konsekuensi dari perilakunya dan Bandura
berpendapat disamping adanya reinforcement eksternsl, juga ada vicarious
reinforcement, reinforcement internal, dan sel reinforcement.

23

Menurut Bandura perilaku tidak otomatis dipicu oleh stimuli eksternal, tetapi
juga dapat merupakan self activated, yaitu perilaku dibentuk dan berubah melalui
situasi sosial, melalui interaksi sosial dengan orang lain. Menurut Bandura psikologi
tidak dapat mengharapkan hasil penelitian tanpa melibatkan manusia dalam interaksi
sosial, Teorinya dalam belajar disebut observational learning theory atau disebut
social learning theory, yaitut penggabungan antara pandangan yang behavioristik
dengan kognitif tidak menggunakan metode intropeksi.

Penjelasan Bandura Tentang Belajar Observasional

Poin ini kita menggunakan istilah imitasi dan belajar observasional dalam arti
yang serupa akan tetapi menurut Bandura harus dibedakan antara dua konsep tersebut.
Menurut Bandura, belajar observasional mungkin menggunakan imitasi atau mungkin
juga tidak. Misalnya, saat mengendarai mobil di jalan Anda mungkin melihat mobil di
depan Anda menabrak tiang, dan berdasarkan observasi ini mungkin Anda mungkin
akan berbelok untuk menghindarinya agar tidak ikut menabrak. Dalam kasus ini Anda
belajar dari observasi Anda, namun Anda tidak meniru apa yang telah Anda amati.
Apa yang Anda pelajari, kata Bandura, adalah informasi, yang diproses secara
kognitif dan Anda bertindak berdasar informasi ini demi kebaikan diri Anda. Jadi,
belajar observasional lebih kompleks ketimbang imitasi sederhana, yang biasanya
hanya berupa menirukan tindakan orang lain.

Observasi Empiris

Perbedaan belajar dan performa ditunjukkan oleh sebuah studi yang dilakukan
Bandura (1965). Dalam eksperimen ini, seorang anak melihat sebuah film yang
menampilkan seseorang sebagai model yang sedang memukul dan menendang boneka
besar. Dalam teori bandura, model adalah apa saja yang menyampaikan informasi,
seperti orang, film, televisi, pameran, gambar, atau instruksi. Dalam kasus ini, film itu
menunjukkan agresivitas seorang model dewasa. Satu kelompok anak melihat model
yang agresif itu diperkuat. Kelompok kedua melihat model yang agresif itu dihukum.
Kelompok ketiga melihat konsekuensi netral atas tindakan agresif si model itu; yakni
model tidak diperkuat dan tidak hukum. Kemudian, anak-anak dalam ketiga
kelompok itu dipertemukan dengan sebuah boneka besar, dan tingkat agresivitas
mereka terhadap boneka itu lalu diukur. Seperti yang diduga, anak yang melihat
model diperkuat setelah melakukan tindak agresif cenderung menjadi anak yang

24

paling agresif; anak yang melihat model dihukum cenderung paling tidak agresif;
sedangkan bagi anak yang mellihat koensekuensi netral dari model, tingkat
agresifitasnya berada di antara posisi dua kelompok lain itu. Studi ini menarik karena
ia menunjukkan bahwa perilaku mereka. Anak dalam kelompok pertama mengamati
vicarious reinforcement (penguatan pengganti atau tak langsung) dan ini
menambahkan agresivitas mereka; anak dalam kelompok kedua melihat vicarious
punishment (hukuman pengganti atau tak langsung) dan ia menghambat agresivitas
mereka.

KONSEP TEORETIS UTAMA

Mengatakan bahwa belajar observasional terjadi secara independent dari
penguatan adalah bukan berarti bahwa variabel lainnya tidak memengaruhinya.
Bandura (1986) menyebut empat proses yang memengaruhi belajar observasional, dan
ringkasannya adalah sebagai berikut.

Proses Atensional

Sebelum sesuatu dapat dipelajari dari model, model itu harus diperhatikan.
Bandura menganggap belajar adalah proses yang terus berlangsung, tetapi dia
menunjukkan bahwa hanya yang diamati sajalah yang dapat dipelajari.

Jadi, muncul pertanyaan, apa yang membuat sesuatu itu diperhatikan? Pertama,
kapasitas sensoris seseorang akan memengaruhi attentional process (proses
atensional/proses memerhatikan). Jelas stimuli modeling yang digunakan untuk
mengajari orang tunanetra atau tunarungu akan berbeda dengan yang digunakan untuk
mengajari orang yang normal penglihatan dan pendengarannya. Perhatian selektif
pengamat bisa dipengaruhi oleh penguatan di masa lalu. Misalnya, jika aktivitas yang
lalu yang dipelajari lewat observasi terbukti berguna untuk mendapatkan suatu
penguatan, maka perilaku yang sama akan diperhatikan pada situasi modeling
berikutnya. Dengan kata lain, penguatan sebelumnya dapat menciptakan tata-situasi
perseptual dalam diri pengamat yang akan memengaruhi observasi selanjutnya.

Proses Retensional

Agar informasi yang sudah diperoleh dari observasi bisa berguna, informasi
itu harus diingat atau disimpan. Bandura berpendapat bahwa ada retentional proses
(proses retensional) secara verbal. Simbol-simbol yang disimpan secara imajinatif

25

adalah gambaran tentang hal-hal terjadi. Di sini kita melihat kesepakatan lain antara
Bandura dan Tolman. Bandura mengatakan bahwa perilaku setidaknya sebagian
ditentukan oleh citra atau gambaran mental tentang pengalaman di masa lalu; tolman
mengatakan bahwa kebanyakan perilaku diatur oleh peta kognitif, yang berisi
representasi mental dari pengalaman yang lalu dalam situasi tertentu.

Proses Pembentukan Perilaku

Behavioral production process (proses pembentukan perilaku) menentukan
sejauh mana hal-hal yang telah dipelajari akan diterjemahkan ke dalam tindakan atau
performa. Seseorang mungkin sudah belajar, lewat pengamatan atas monyet, cara
melompat bergantungan dari satu pohon ke pohon lainnya dengan menggunakan ekor,
namun ia jelas tidak akan meniru perilaku si monyet itu karena orang tak punya ekor.
Dengan kata lain, seseorang mungkin mempelajari suatu secara kognitif namun dia
tak mampu menerjemahkan informasi it uke dalam perilaku karena ada keterbatasan;
misalnya, perangkat gerak otot yang dibutuhkan untuk respons tertentu tidak tersedia
atau karena orang belum dewasa, cedera, atau sakit parah.

Proses Motivasional

Dalam teori bandura, penguatan memiliki dua fungsi utama. Pertama, ia
menciptakan ekspetasi dalam diri pengamat bahwa jika mereka bertindak seperti
model yang dilihatnya diperkuat untuk aktivitas tertentu, maka mereka akan diperkuat
juga. Kedua, ia bertindak sebagai insentif untuk menerjemahkan belajar ke kinerja.
Seperti telah kita lihat di atas, apa yang dipelajari melalui observasi akan tetap
tersimpan sampai si pengamat itu punya alasan untuk menggunakan informasi itu.
Kedua fungsi penguatan itu adalah fungsi informasional. Satu fungsi menimbulkan
ekspetasi dalam diri pengamat bahwa jika mereka bertindak dengan cara tertentu
dalam situasi tertentu, mereka mungkin akan diperkuat. Fungsi lainnya, motivational
processes (proses motivasional) menyediakan motif untuk menggunakan apa-apa
yang telah dipelajari.

Ringkasnya, kita dapat mengatakan bahwa belajar observasional melibatkan
atensi (perhatian), retensi (pengingatan/penyimpanan), kemampuan behavioral, dan
insentif. Maka dari itu, jika belajar observasional tidak terjadi, itu bisa lantaran
pengamat tidak mengamati aktivitas model yang relevan, tidak mengingatnya, secara

26

tak bisa melakukannya, atau karena tidak punya insentif yang pas untuk
melakukannya.

27

PENUTUP

Kesimpulan
living is learning Merupakan sepenggal kalimat yang dikemukakan oleh

Havighurst . Dengan kalimat tersebut memberikan suatu gambaran bahwa belajar merupakan
hal yang sangat penting. pengertian belajar belajar merupakan istilah yang tidak asing lagi
dalam kehidupan manusia sehari-hari. Cukup banyak definisi mengenai belajar yang di
kemukakan oleh para ahli.

Seperti yang dikemukakan oleh Skinner yang menyatakan bahwa «countless
definition of learning has been given». Untuk memberikan gambaran mengenai hal tersebut
dapat dikemukakan beberapa definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli sebagai
berikut. Dari definisi tersebut dapat dikemukakan bahwa belajar itu merupakan suatu proses
adaptasi perilaku yang bersifat progresif. Hal yang muncul dalam definisi ini ialah bahwa
perubahan perilaku atau performance itu relative permanen.

Di samping definisi-definisi tersebut di atas masih banyak definisi mengenai belajar
yang dapat diajukan, namun kiranya hal tersebut kurang perlu.Dengan demikian akan jelas
bahwa proses belajar itu sendiri terdapat dalam diri individu yang belajar, yang kemudian
menghasikan perubahan dalam perilakunya. Belajar sebagai suatu Sistem. Seperti diketahui
bahwa dalam aliran Behaviorisme ada yang asosiatif dan fungsional. Yang asosiatif
dipelopori oleh Pavlov, sedangkan yang fungsional antara lain oleh Thorndike dan skinner.

Agar mencapai hasil yang baik harus ada kesiapan untuk belajar, tanpa adanya
kesiapan dapat diprediksikan hasilnya akan kurang memuaskan. Jika belajar mencapai hasil
yang baik harus dengan latihan, makin sering dilatih maka hasilnya akan baik apabila
dibandingkan dengan tanpa adanya latihan. Atas dasar kesiapan dan latihan akan diperoleh
efeknya, oleh karena itu dalam kondisioning operan tekanannya adalah pada respons atau
perilaku dan konsekuensinya. Skinner, termasuk teori belajar fungsionalistik.

28

DAFTAR PUSTAKA

Fudyartanto, Ki RBS. 2002. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Jogjakarta:
Global Pustaka Ilmu.
Hergenhahn, B.R & Matthew H. Olson. 2009. Theories Of Learning. Rawamangun – Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.

Jarvis, M. (2000). Theoretical approaches in psychology. Psychology Press.

Makki, A. (2019). Mengenal Sosok Edward Lee Thorndike Aliran Fungsionalisme Dalam
Teori Belajar. Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah As-Salafiyah Pamekasan. Diakses dari
http://ejournal.kopertais4.or.id/tapalkuda/index.php/pwahana/article/download/3353/2517/

Miftahridlo Blog. Gestalt Theory (Tatapan Sepintas terhadap Teori Gestalt Wolfgang
Kohler). Diakases pada 12 November 2021. Diakses dari
https://miftahridlo.wordpress.com/2010/01/04/gestalt-theory-tatapan-sepintas-terhadap-teori-
gestalt-wolfgang-kohler/

Morgan,C.T,King,R.A.,and Robinson,N.M. (1984)..Intriduction to Psychology. McGraw-
Hill, International Book Company: Tokyo.

Perbedaan Antara Pembelajaran Asosiatif dan Non-Asosiatif. Diakses dari
https://id.sawakinome.com/articles/education/difference-between-associative-and-non-
associative-learning-2.html

Rusli RK & Kholik MA. (2013). Teori Belajar Dalam Psikologi Pendidikan. (65-66).
Diakses dari https://ojs.unida.ac.id/JSH/article/view/468/pdf

Saleh, A. (2018). Pengantar Psikologi. Makassar: Aksara Timur.

Sanjaya, Wina. Strategi Pembelajaran. Kencana Prenada Media Group, Jakarta ; 2006. hlm
120 -122 diakses dari http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/03/teori-psikologi-gestalt/

Skinner,C.E. (1959).Educational psychology.Prentice Hall Inc.:New york.

Teori Belajar Skinner. Diakses dari https://inoerofik.files.wordpress.com/2014/11/teori-
skinner.pdf

Teori-teori tentang Belajar. Diakses dari https://www.initentangpsikologi.com/2019/06/teori-
teori-tentang-belajar.html?m=1

29

Walgito, B. (2012). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: CV. Andi Offset.
30


Click to View FlipBook Version