Pemikiran KHD di Implementasikan
dalam Konteks Lokal Sosial budaya
-MODUL 1.1 A5
Dipresentasikan Oleh
Kelompok B2
Calon Guru Penggerak Kab. Bombana Angkatan 7
Fasilitator
UDDING, S.Pd.,M.Pd
Pengajar Praktik
DAHLIMA,S.Pd.,M.Pd
CALON GURU PENGGERAK KAB. BOMBANA ANGKATAN 7
Kelompok B2
Arnawati, S.Pd Rostina,S.PdI
Rahyan, S.Si Syamsiah, S. Pd
Inti pemikiran
Ki Hadjar Dewantara
Pendidikan adalah Individu itu Unik Pendidikan layaknya
Menuntun
Setiap anak membawa menanam
Menuntun segala kodrat kodrat sejak lahir dan
yang ada pada anak berbeda satu sama lain Petani tahu mana bibit yang
baik, memilih tanah yang
cocok menyiapkan pupuk
dan perairan yang cukup
untuk kualitas tanaman
yang baik
Berpihak pada Memperhatikan kodrat
alam dan zaman
Anak
Alam dan zaman menjadi salah satu
Bahwa sejatinya sebagai pendidik kita penentu berhasilnya pendidikan,
menghamba kepada anak, bermain dengan melihat potensi alam dan
adalah kebutuhan anak jadi anak perkembangan zaman
sebenarnya bisa belajar dari bermain dan
permainan
Taicombo sebagai ciri kekuatan konteks
sosiokultural yang sejalan
dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara
Mengangkat “Taicombo” sebagai pakaian adat Moronene yang dipakai
perempuan Moronene sebagai warisan leluhur dapat menggambarkan
keunikan dari Masyarakat Kabaena secara khusus. Pakaian sebagai
identitas diri, sebagai cerminan laku hidup masyarakat kabaena, Model
baju berupa tunik dengan potongan bagian bawah yang menyerupai
ekor burung memberikan kesan bahwa Taicombo memiliki ciri khas
sendiri. Taicombo memiliki model lengan panjang tertutup yang mampu
menggambarkan perempuan yang terjaga dan berwibawa yang
dipadankan dengan bawahan berupa sarung yang membuat
pemakainya mudah dan luwes dalam bergerak. Pakaian ini hanya
dipakai pada waktu-waktu tertentu saja untuk menjaga keluhuran
warisan budaya dengan pilihan empat warna utama yaitu putih (Mopila),
molori (hitam), motaha (merah), mokuni (kuning). Namun demikian,
karena perkembangan jaman pemilihan warna untuk Taicombo
semakin bervariasi.
Kekuatan Lokal
Ada beberapa kekuatan lokal sosio-kultural yang ada pada
pakaian adat Taicombo yang sejalan dengan pemikiran KHD
yaitu:
Unik (menghargai keunikan diri sendiri dan keberagaman)
Mampu mempertahankan ciri khas pakaian yang berwibawa
(Tetap memiliki budi pekerti, mendahulukan adab sebelum
ilmu)
Memberikan kebebasan pemakainya untuk bergerak bahkan
melompat-lompat seperti halnya dalam tarian Lumense.
(merdeka untuk mempelajari hal-hal yang menarik dan sesuai
dengan minat bakat)
Relasi antara manusia dan budaya sebagai perwujudan budi
pekerti yang selaras dengan Trilogi pendidikan yaitu Ing Ngarso
Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani
Nilai-nilai Budaya
Nilai Moral
Nilai Moral bahwa budi pekerti, menghargai warisan
budaya positif leluhur dan menjaganya dengan baik
Nilai Pendidikan
Nilai Pendidikan meneladani sikap orang tua masayarakat
kabaena yang terus berupaya mendidik anak-anak dengan baik,
mengupayakan sekolah lanjutan yang lebih tinggi, bersungguh-
sungguh dengan tujuan meningkatkan keterampilan dan
kualitas diri yang dapat bermanfaat bagi diri dan masyarakat.
Nilai Estetika
Pakaian adat Kabaena merupakan salah satu sarana mengekspesikan
kemampuan berkesenian, kombinasi warna (hitam, merah dan
kuning) pakaian yang ditampilkan menjadi salah satu daya tarik pada
pakaian baju adat lumense
Satu kekuatan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang dipilih
adalah
Pendidikan yang berorientasi pada siswa
yang diwujudkan dalam Merdeka Belajar
Siswa di beri kesempatan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki dengan
menyiapkan lingkungan pertumbuhan yang memadai, menciptakan suasana belajar
menyenangkan layaknya bermain dengan memanfaatkan kearifan lokal, alam dan
mengikuti perkembangan zaman namun tetap menjiwai nilai luhur budaya bangsa.
Terimakasih
Salam Merdeka dan Bahagia