The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by 100 Nabila Luthfiah Azzahra, 2022-04-02 01:22:27

KELOMPOK 14 PENGGETAR SUARA ORANG TULI

ENTOMOLOGI

ENTOMOLOGI

PENGGETAR
SUARA ORANG
TULI

TONGGERET

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FKIP UNPAS

MAKALAH ENTOMOLOGI
PENGGETAR SUARA ORANG TULI

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Entomologi

Dosen Pengampu:
Dr. H. Uus Toharudin, M. Pd.
Ida Yayu Nurul Hizqiyah, S.Pd., M.Si.
Saiman Rosamsi, S.Pd., M.Pd.

Oleh : 185040059
Hesti Fitria Dewi 185040100
Nabila Luthfiah Azzahra

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG
2022

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan rahmat dan hidayah-
Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Entomologi
dengan judul “Penggetar Suara Orang Tuli”.
Penyusun sangat berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan
dan pengalaman bagi pembaca. Bahkan kami berharap lebih jauh lagi agar makalah
ini bisa pembaca praktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Penyusun menyadari bahwa dalam menyelesaikan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan dan banyak kekurangan, untuk itu diharapkan adanya kritik dan
saran yang membangun untuk lebih menyempurnakan makalah ini.

Bandung, Maret 2022
Penulis

i

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................ i
DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................... 1

A. Latar Belakang ........................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah...................................................................................... 2
C. Tujuan ......................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................... 3
A. Pengertian Tonggeret................................................................................. 3
B. Kelompok Famili Tonggeret ..................................................................... 4
C. Morfologi Tonggeret .................................................................................. 4
D. Siklus Hidup Tonggeret............................................................................. 7
E. Habitat dan Zoogeografi Tonggeret ......................................................... 8
F. Pengaplikasian Teori dengan Artikel Keunikan Bunyi Pada Tonggeret

9
BAB III PENUTUP ............................................................................................. 11

A. Kesimpulan ............................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 12

ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tonggeret adalah salah satu serangga anggota sub ordo Cicadomorpha, ordo

Hemiptera. Tonggeret ini memiliki banyak anggota tubuh yang dapat mengeluarkan
suara keras. Selain nama tonggeret, ada juga sebutan lain yang berhubungan dengan
suara yang dikeluarkannya, seperti garengpung dan uir-uir oleh orang Jawa, dan
cengreret oleh orang Sunda. Tonggeret disebut juga kinjeng tangis, karena suaranya
yang terdengar seperti orang yang sedang menangis. Banyak nama untuk
Tonggeret, di negara jepang disebut Semi, di Perancis disebut Cigale, di Spanyol
disebut Cigarre, di Sunda disebut Cengreret, di Jawa disebut Garengpung.

Di seluruh dunia ada hingga sekitar 3.000 spesies tonggeret. Tonggeret lebih
dekat hubungan taksonominya dengan wereng dan kutu loncat. Tonggeret ini
dikelompokkan dalam dua familia, yaitu Tettigarctidae dan Cicadidae. Ada dua
spesies Tettigarctidae yang telah punah, yaitu yang satu di Australia selatan, dan
yang satu lainnya di Tasmania. Familia Cicadidae dibagi lebih jauh ke dalam sub
familia Tettigadinae, Cicadinae dan Cicadettinae.

Tonggeret mempunyai sepasang mata faset yang letaknya terpisah jauh di
kepalanya, juga memiliki sayap yang tembus pandang. Bentuknya seperti lalat yang
besar, meskipun ada tonggeret yang berukuran kecil. Tonggeret hidup di daerah
beriklim sedang hingga tropis dan sangat mudah dikenali di antara serangga
lainnya, terutama karena tubuhnya yang besar dan akustik luar biasa yang
dihasilkan dari alat penghasil suara di bawah sayapnya.

Tonggeret merupakan serangga yang siklus hidup nya dianggap tidak
sempurna. Terdapat empat fase metamorfosis tonggeret, yaitu fase larva atau telur,
nimfa, muda dan tonggeret dewasa. Meskipun tidak semua tonggeret jantan dewasa
yang dapat mengeluarkan suara nyaring, namun hanya sedikit tonggeret betina yang
dapat melakukannya. Setiap spesies memiliki nyanyian yang berbeda agar tidak
terjadi kesalahan kawin dengan spesies lain.

Biasanya, tonggeret hidup di wilayah yang iklimnya sedang atau tropis,
terdapat di semua benua kecuali Antartika. Ketika musim penghujan, suaranya akan

1

lebih nyaring. Terlebih jika sudah pada tahap dewasa, mereka akan keluar dari
bawah tanah untuk melakukan perkawinan.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini yaitu:
1. Apa pengertian dari tonggeret?
2. Bagaimanakah morfologi tongeeret?
3. Bagaimanakah siklus hidup tonggeret?
4. Seperti apakah habitat dan zoogeografi tonggeret?
5. Bagaimana pengaplikasian keunikan bunyi pada tonggeret?
C. Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini yaitu:
1. Untuk mengetahui pengertian dari hewan tonggeret
2. Untuk mengetahui morfologi tonggeret
3. Untuk mengetahui siklus hidup tonggeret
4. Untuk mengetahui habitat dan zoogeografi tonggeret
5. Untuk mengetahui pengaplikasian keunikan bunyi pada tonggeret

2

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Tonggeret
Tonggeret adalah salah satu serangga anggota sub ordo Cicadomorpha, ordo

Hemiptera. Tonggeret ini memiliki banyak anggota tubuh yang dapat mengeluarkan
suara keras. Selain nama tonggeret, ada juga sebutan lain yang berhubungan dengan
suara yang dikeluarkannya, seperti garengpung dan uir-uir oleh orang Jawa, dan
cengreret oleh orang Sunda. Tonggeret disebut juga kinjeng tangis, karena suaranya
yang terdengar seperti orang yang sedang menangis. Banyak nama untuk
Tonggeret, di negara jepang disebut Semi, di Perancis disebut Cigale, di Spanyol
disebut Cigarre, di Sunda disebut Cengreret, di Jawa disebut Garengpung.

Di seluruh dunia ada hingga sekitar 3.000 spesies tonggeret. Tonggeret lebih
dekat hubungan taksonominya dengan wereng dan kutu loncat. Tonggeret ini
dikelompokkan dalam dua familia, yaitu Tettigarctidae dan Cicadidae. Ada dua
spesies Tettigarctidae yang telah punah, yaitu yang satu di Australia selatan, dan
yang satu lainnya di Tasmania. Familia Cicadidae dibagi lebih jauh ke dalam sub
familia Tettigadinae, Cicadinae dan Cicadettinae.

Menurut Dr Sih Kahono, ahli serangga dari Pusat Penelitian Biologi LIPI,
Cibinong, Jawa Barat, cicada – tonggeret dalam bahasa Inggris – memang sering
terdengar saat cuaca mulai panas dan curah hujan sedikit. Tonggeret menyukai
temperatur hangat antara 24 – 30°C, untuk tumbuh optimal. ‘Pada kondisi itu, nimfa
– tonggoret yang alat reproduksinya belum berkembang sempurna dan belum
bersayap – tumbuh menjadi dewasa. Hal tersebut ditandai dengan tumbuh nya
sayap dan alat reproduksi yang telah sempurna,’ ungkap doktor ekologi serangga
alumnus Kanazawa University, Jepang itu.

Di Indonesia, suara tonggeret yang nyaring akan muncul di akhir musim
penghujan, saat serangga ini mencapai tahap dewasa, keluar dari bawah permukaan
tanah untuk melakukan ritual musim kimpoi. Seusai kimpoi, betina meletakkan
telur di tanah, serangga ini mati.

Beberapa saat setelah tumbuh dewasa, tonggeret terbang dan hinggap di dahan
pepohonan. Saat itulah ia mulai bersuara. Suara hanya dihasilkan oleh tonggeret
jantan. Mereka mengeluarkan suara yang nyaring untuk menarik perhatian

3

tonggeret betina. Selain itu suara nyaring garengpung – sebutan lain – juga
berfungsi sebagai senjata menghadapi musuh.

Tonggeret adalah serangga yang memiliki suara paling keras di antara jenis-
jenis serangga lainnya. Selain untuk mencari pasangan, suara itu juga berguna
menakut-nakuti burung yang akan memangsanya, kata Purnama Hidayat PhD, ahli
serangga di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
Bogor, Jawa Barat. Setiap spesies tonggeret memiliki suara yang unik dan berbeda
satu sama lain. ‘Suara unik itu menunjukkan identitas masing-masing spesies
sehingga memudahkan tonggeret dalam mencari pasangannya,’ ungkap doktor
entomologi alumnus University of Wisconsin, Amerika Serikat itu. Di Kebun Raya
Cibodas, misalnya, dari hasil penelitian Purnama menunjukkan terdapat beberapa
jenis suara tonggeret. Setelah diidentifikasi, diketahui suara itu berasal dari
Dundubia mannifera, Pomponia lactea, Puranoides sp, dan Huechys incarnata.
B. Kelompok Famili Tonggeret
Tonggeret dikelompokkan dalam dua familia:
1. Tettigarctidae. Ada dua spesies Tettigarctidae yang telah punah, satu di

Australia selatan, dan yang lainnya di Tasmania.
2. Cicadidae. Familia Cicadidae dibagi lebih jauh ke dalam subfamilia

Tettigadinae, Cicadinae dan Cicadettinae. Mereka terdapat di semua benua
kecuali Antartika.
C. Morfologi Tonggeret

4

Tonggeret mempunyai sepasang mata faset yang letaknya terpisah jauh di
kepalanya, juga memiliki sayap yang tembus pandang. Bentuknya seperti lalat yang
besar, meskipun ada tonggeret yang berukuran kecil. Tonggeret hidup di daerah
beriklim sedang hingga tropis dan sangat mudah dikenali di antara serangga
lainnya, terutama karena tubuhnya yang besar dan akustik luar biasa yang
dihasilkan dari alat penghasil suara di bawah sayapnya.

Suara nyaring dari tonggeret dihasilkan lantaran memiliki tymbal yang terdapat
dalam perutnya. Organ itu berupa membran yang dilengkapi oleh otot-otot
penggerak. Ketika otot-otot itu digerakkan, membran akan ikut bergetar. Getaran
itulah yang dapat menghasilkan suara. Suara itu bisa semakin keras karena perut
tonggeret memiliki rongga udara yang berfungsi seperti amplifier. Rongga itu
memperkuat suara yang dihasilkan oleh getaran tymbal.

Kinjeng tangis/tonggeret wujudnya mirip dengan lalat, ukuran tubuhnya
sekitar 7 kali lipat lalat dewasa. Bulu kinjeng tangis juga mirip dengan bulu lalat
yang transparan atau tembus pandang. Serangga ini mulai bisa terbang setelah
berusia 17 tahun lebih 3 hari, setelah selama tepat 17 (tujuh belas) tahun mereka
hidup sebagai larva di dalam tanah. Kinjeng tangis menghabiskan waktunya selama
17 (tujuh belas tahun) di dalam tanah dengan tetap mengandalkan lemak-lemak dan
protein di dalam tubuhnya. Hanya dalam waktu 3 (tiga) hari setelah mereka keluar
dari tanah, mereka berubah menjadi serangga sempurna dengan bulu-bulu yang
kokoh.

Setelah menjadi serangga, kineng tangis atau tonggeret yang bernama asli
Cicada ini akan memiliki mata yang kecil dan jauh dari permukaan kepalanya.
Bulunya berwarna transparan dengan corak guratan khusus dan sedikit berbeda
antara bulu tonggeret jantan dan betina. Corak bulu ini yang kemudian akan
membedakan bunyi nyanyian mereka. Ketika tonggeret jantan “bernyanyi”
bunyinya sangat khas dan keras.

Baik tempo maupun volume bunyi yang dihasilkan tonggeret jantan akan
tergantung pada suhu udara di sekitarnya, semakin panas maka temponya semakin
cepat serta volumenya juga semakin kencang.
Frekuensi suara tonggeret ini memang sangat khas, sehingga pada saat tertentu bisa

5

mencapai getaran frekuensi 125 desible (suara yang mampu di dengar oleh
penderita tuli pada umumnya).

Suara tonggeret jantan terutama bertujuan untuk memancing perhatian
tonggeret betina, dan mengusir tonggeret jantan lainnya. Bunyi yang dihasilkan
tonggeret betina lebih menyerupai petikan jari tangan, namun itu cukup bagi
tonggeret jantan untuk mengikuti arah suaranya. Setelah masa ritual
perkimpoiannya, tonggeret betina segera bertelor, dan meletakkan telor-telor
mereka di bawah tanah, setelah itu mereka akan segera mati. Tonggeret mempunyai
hubungan dekat secara taksonomi dengan wereng dan spittlebugs.
Apapun nama mereka, yang telah melewati sejarah hidup membujang selama
belasan tahun untuk hanya menikmati masa perkimpoian mereka selama beberapa
minggu saja sebelum kemudian mati tertelan bumi.

Hal yang paling terkenal dari tonggeret tentunya adalah kebiasaannya
mengeluarkan suara bising pada musim panas di siang hari. Hanya tonggeret jantan
yang bisa mengeluarkan suara macam itu di mana suara tersebut dihasilkan dengan
cara menggetarkan organ bernama "timbal" (tymbal) yang terletak di dekat pangkal
sayapnya. Alasan utama mengapa tonggeret jantan mengeluarkan suara bising
adalah untuk bernyanyi & memikat betina agar mau kawin dengannya. Masing-
masing spesies tonggeret memiliki bunyi nyanyian khasnya masing-masing untuk
menghindari terjadinya kasus perkawinan beda spesies.

Tonggeret jantan & betina memiliki penampilan yang serupa, namun keduanya
tetap bisa dibedakan. Perbedaan pertama sudah disinggung di paragraf sebelumnya.
Jika tonggeret jantan memiliki organ timbal, betina tidak memilikinya. Perbedaan
kedua, tonggeret jantan memiliki struktur pipih bernama operkula / operkulum di
bagian bawah tubuhnya, sementara betina tidak. Dan terakhir, tonggeret betina
memiliki ujung abdomen yang lebih meruncing dengan garis hitam panjang di
bagian bawahnya. Bagian menyerupai garis hitam tersebut adalah ovipositor,
saluran yang digunakan betina untuk mengeluarkan telur-telurnya.

6

D. Siklus Hidup Tonggeret

Tonggeret merupakan serangga yang siklus hidup nya dianggap tidak
sempurna. Terdapat empat fase metamorfosis tonggeret, yaitu fase larva atau telur,
nimfa, muda dan tonggeret dewasa. Meskipun tidak semua tonggeret jantan dewasa
yang dapat mengeluarkan suara nyaring, namun hanya sedikit tonggeret betina yang
dapat melakukannya. Setiap spesies memiliki nyanyian yang berbeda agar tidak
terjadi kesalahan kawin dengan spesies lain.

Setelah musim kawin, tonggeret betina akan bertelur dengan membuat celah
pada batang pohon dan meletakkan telur-telur nya melalui organ ovipositor di
bagian belakang tubuhnya. Larva kemudian menetas menjadi nimfa dengan
memakan cairan yang ada pada pohon. Bentuknya seperti rayap atau semut kecil
berwarna putih susu. Setelah siap dengan bekalnya, nimfa akan jatuh ke tanah untuk
memasuki fase perubahan menjadi tonggeret muda. Nimfa akan membuat lubang-
lubang kecil dalam tanah dan mengubur dirinya hingga bertahun-tahun lamanya
untuk kemudian merayap keluar menjadi tonggeret muda yang masih berwarna
putih pucat dengan ukuran sayap yang relatif kecil.

Terdapat tiga jenis tonggeret, yaitu jenis tonggeret tahunan, dimana siklus
hidupnya terjadi dalam waktu setahun. Jenis kedua adalah tipe periodik atau
berkala, dimana fase nimfa nya bisa bertahan 8 hingga 17 tahun terkubur didalam
tanah sebelum menjadi tonggeret muda. Jenis ketiga adalah Proto-periodik, yang

7

bisa saja muncul tiap tahun dan beberapa tahun kemudian juga akan muncul, namun
dalam jumlah yang besar secara sekaligus.

Tonggeret dewasa hidup di pepohonan hanya selama 2 – 4 pekan. Beberapa
hari setelah kawin mereka mati. Bahkan beberapa spesies hanya dapat bertahan 3 –
4 hari. Saat bertelur, tonggeret betina menempelkan telur-telurnya di cabang atau
batang pohon dan rerumputan. Dan ketika menetas, nimfanya akan jatuh ke tanah.
Mereka kemudian menggali lubang sedalam 30 – 50 cm, dan hidup dalam tanah,
siklus kehidupan selama 17 tahunpun dimulai.

Ketika didalam tanah, makanan dari nimfa adalah berupa juveniles atau cairan
dari akar-akaran yang mengandung nutrisi yang rendah, sehingga nimfa
berkembang sangat lamban. Setelah selama nimfa didalam tanah, ia akan merayap
ke permukaan dan tinggal didekat pohon atau semak-semak untuk memulai
pergantian ketahap dewasa. Tonggeret dewasa muncul dari pelindung yang berupa
cangkang, kemudian tonggeret jantan dewasa mulai memanggil tonggeret betina
dengan suaranya yang sangat nyaring. Seletah kawin, tonggeret betina dewasa
meletakkan telur-telurnya di dahan pepohonan atau semak, kemudian setelah telur-
telur menetas, kembali ke awal lingkaran kehidupannya.
E. Habitat dan Zoogeografi Tonggeret

Biasanya, tonggeret hidup di wilayah yang iklimnya sedang atau tropis,
terdapat di semua benua kecuali Antartika. Ketika musim penghujan, suaranya akan
lebih nyaring. Terlebih jika sudah pada tahap dewasa, mereka akan keluar dari
bawah tanah untuk melakukan perkawinan. Setalah melakukan kawin, uir-uir betina
ini akan mati setelah meletakkan telurnya di tanah. Mayoritas serangga ini hidup
menyendiri untuk mendapatkan ketenangan dengan menggali tanah sebagai tempat
tinggalnya. Ketika waktunya tiba dan hari gelap maka mereka akan keluar dari
tempat persembunyiannya untuk mencari pasangan. Namun, yang menakjubkan
adalah dengan siklus hidup yang membuat mereka terhindar dari predator yang
akan memangsanya. Tonggeret memiliki siklus hidup yang tidak singkron dengan
musuhnya, yaitu masa 17 tahun dalam larva, sedangkan musuh mereka memiiliki 2
atau tiga tahun dalam siklus hidup mereka.

8

F. Pengaplikasian Teori dengan Artikel Keunikan Bunyi Pada Tonggeret
1. Komunikasi insekta/serangga dengan gelombang bunyi

Setiap orang pernah mendengar bunyi jangkrik,atau tonggeret sadar bahwa
insekta relatif begitu kecil dapat mengeluarkan bunyi yang cukup keras. Suatu
sinyal bunyi adalah suatu gelombang tekanan yang di gerakkan oleh adanya
getaran. Insekta mempunyai sinyal efektif dalam memancarkan bunyi dengan
frekuensi yang lebih tinggi lagi. Akan tetapi otot-otot insekta tidak mampu
bergeser lebih cepat daripada 1 kHz, oleh sebab itu frekuensi pergerseran otot-otot
itu harus dilipatkan agar dapat menghasilkan sinyal.

Unsur terakhir suatu generator bunyi kerap kali berupa sejenis pemandu
bunyi, yaitu suatu struktur anatomi (atau lingkungan) untuk mengarahkan dan
menguatkan bunyi. Pemandu bunyi semacam itu mirip dengan kotak tertutup
(jangkrik), keping (belalang), atau terompet (gangsir), tongeret (apabila suaranya
terputus hampir sama dengan jangkrik). Rentang transimisi sinyal yang dapat di
dengar itu tergantung suhu, kelembapan udara, dan frekuensi sinyal. Jika suhu dan
kelembapan udara di pertahankan konstan maka makin tinggi frekuensi sinyal,
makin besar penyerapannya di udara.

Pada akhirnya, penerimaan sinyal bunyi sudah tentu membutuhkan telinga
insekta. Hanya ada satu jenis mata insekta atau telinga mamalia, tetapi ada beberapa
macam jenis telinga insekta. Ada dua bentuk telinga insekta yang paling lazim,
yang keduanya dikaitkan dengan struktur telinga manusia yaitu reseptor rambut
yang dilekatkan secara lentur dapat bergerak oleh pengaruh setiap getaran bunyi,
terutama untuk mengukur gerakan dan organ timpani menggunakan selaput untuk
mencatat tekanan dan gradien tekanan. Apabila bunyi diterima dan ditafsirkan,
insekta dapat menghasilkan bermacam-macam tanggapan yang meliputi ; daya tarik
seks, pertahanan wilayah dan perubahan lintasan terbang untuk mempertahankan
kelompoknya.
2. Rentang frekuensi gelombang bunyi pada insekta/serangga

Dibandingkan perbedaan frekuensi yang dimiliki manusia dengan binatang,
manusia memiliki rentang kepekaan akustik yang lebih pendek dan batas frekuensi
atas yang relatif rendah yaitu sekitar 20kHz. Dengan menggunakan skala logaritma,

9

kita akan menggunakan istilah ultrasonik untuk menyatakan radiasi bunyi pada
frekuensi di atas 20kHz.

Gambar : Ketergantungan frekuensi pendengaran untuk bermacam-macam
binatang
Keterangan : Pita gelap menunjukkan rentang kepekaan terbesar. Garis vertikal
dekat 20kHz menunjukkan batas frekuensi tinggi bagi manusia. Skala frekuensi
adalah skala logaritma.

Skala logaritma dari frekuensi di tunjukkan seperti gambar diatas
Dari gambar tersebut menunjukkan bahwa insekta khususnya belalang mempunyai
kepekaan di daerah rentang ultrasonik.
Penggunaan sinyal-sinyal oleh insekta ini sebenarnya hanya dapat direkam dengan
menggunakan rangkaian listrik dengan memakai sistem piranti elektronik.

10

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah ditulis diatas, didapatkan kesimpulan sebagai
berikut:

1. Tonggeret adalah salah satu serangga anggota sub ordo Cicadomorpha, ordo
Hemiptera. Tonggeret ini memiliki banyak anggota tubuh yang dapat
mengeluarkan suara keras.

2. Tonggeret mempunyai sepasang mata faset yang letaknya terpisah jauh di
kepalanya, juga memiliki sayap yang tembus pandang. Bentuknya seperti lalat
yang besar, meskipun ada tonggeret yang berukuran kecil.

3. Tonggeret merupakan serangga yang siklus hidup nya dianggap tidak sempurna.
Terdapat empat fase metamorfosis tonggeret, yaitu fase larva atau telur, nimfa,
muda dan tonggeret dewasa.

4. Biasanya, tonggeret hidup di wilayah yang iklimnya sedang atau tropis, terdapat
di semua benua kecuali Antartika.

5. Tonggeret memiliki peranan seperti halnya merusak tanaman, dan bisa sebagai
mangsa dari predatornya misalnya burung, dan lain sebagainya. Peranan lainnya
yaitu dari suaranya yang nyaring dapat menjadi pertanda bahwa akan
berakhirnya musim hujan dan akan datangnya musim kemarau, dan sebagai
penambah keindahan keanekaragaman makhluk hidup di dunia.

6. Tonggeret saat ini mengalami panurunan populasi yang sangat drastis. Saat ini
penggunaan nyanyian tonggeret sebagai pertanda musim kemarau tiba pun mulai
pudar lantaran populasinya langka. Ketika pepohonan banyak ditebangi dan
kondisi tanah kering-kerontang, populasi tonggeret pun anjlok karena sulit
bertahan hidup.

11

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2015. Tonggeret, Vampir Pohon yang Gemar Bernyanyi. www.re-

tawon.com/2015/03/tonggeret-vampir-pohon-yang-gemar.html
Anonym. 2015. Fungsi Ciri Khusus Hewan Kinjeng Tangis/Tonggeret/Garengpung.

www.ilmupengetahuanalam.com/2015/08/fungsi-ciri-khusus-hewan-kinjeng-
tangis-tonggeret-dan-video-suaranya.html5
Aris. 2015. Tonggeret, Serangga Unik yang Bangun Sekali dalam 17 Tahun.
www.kumpulanmisteri.com/2015/12/tonggeret-serangga-unik-yang-
bangun.html5
Chaidir, Ari. 2010. Senandung Tonggeret www.trubus-online.co.id/senandung-tonggeret 8
Fivien. 2015. Tonggeret, Serangga ‘Vampir’ Bernyanyi Setelah Belasan TahunTertidur.
Jatinangor.itb.ac.id/tonggeret

12


Click to View FlipBook Version
Previous Book
BUKU PROGRAM MAJLIS GRADUASI KALI KE 11
Next Book
Apakah Kita Menyembah Satu Allah atau Tiga Allah?