Tabel 4.2. HASIL OUTPUT TIME SERIES LAPANGAN USAHA YANG BERKORELASI DENGAN LAJU PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN BLORA 2013-2022 (10 TAHUN) Berdasarkan hasil analisis Tabel 4.2. diatas menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang paling besar keeratannya atau korelasinya yaitu pada Jasa Keuangan dan Asuransi dengan PDRB, dengan angka korelasi yang paling besar yaitu 0,9717. Koefisien korelasi tersebut bernilai positif, artinya peningkatan pada Jasa Keuangan dan Asuransi akan diikuti dengan peningkatan PDR. Temuan berikutnya adalah terdapat hubungan signifikan antara Jasa Keuangan dan Asuransi dengan PDRB, ditandai dengan nilai sig(2-tailed) sebesar 0,00000269. Mengacu pada Data Tabel 4.2. Produk Domestik Regional Bruto menurut
lapangan usaha dirinci menjadi 17 kategori sesuai dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2014. Pada bab ini akan diuraikan analisa time series masing-masing kategori lapangan usaha yang telah di rating dari tingkat korelasi tertinggi ke tingkat terendah yang disajikan pada diagram bar berikut. Diagram 4.1. 1. Jasa Keuangan dan Asuransi Kategori ini terdiri atas beberapa sub kategori yaitu jasa perantara keuangan; asuransi dan dana pension; jasa keuangan lainnya dan jasa penunjang keuangan. Kategori Jasa Keuangan dan Asuransi memberikan kontribusi dalam PDRB Kabupaten Blora sebanyak 892,85 miliar rupiah atau sebesar 2,88 persen pada tahun 2022. Kategori ini merupakan salah satu lapangan usaha yang mampu 75.61% 86.62% 87.95% 88.69% 89.15% 89.62% 91.05% 91.89% 91.99% 92.43% 95.13% 95.17% 95.48% 95.73% 95.91% 97.05% 97.18% 0.00% 20.00% 40.00% 60.00% 80.00%100.00%120.00% TRANSPORTASI DAN PERGUDANGAN INFORMASI DAN KOMUNIKASI PENGADAAN AIR, PENGELOLAAN SAMPAH, … PENGADAAN LISTRIK DAN GAS PENYEDIAAN AKOMODASI DAN MAKAN … INDUSTRI PENGOLAHAN PERTANIAN, KEHUTANAN, PERIKANAN PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN JASA KESEHATAN DAN KEGIATAN SOSIAL JASA PERUSAHAAN KONSTRUKSI JASA LAINNYA JASA PENDIDIKAN PERDAGANGAN BESAR DAN ECERAN REAL ESTATE ADMINISTRASI PEMERINTAHAN, … JASA KEUANGAN DAN ASURANSI PERSENTASE LAPANGAN USAHA TINGKAT KORELASI LAPANGAN USAHA TERHADAP PDRB KABUPATEN BLORA BERDASARKAN HASIL OUTPUT 2013-2022 (10 TAHUN)
bertahan menghadapi hantaman pandemi. Pada tahun 2022, laju pertumbuhan Jasa Keuangan dan Asuransi masih tetap bernilai positif meskipun mengalami perlambatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sektor ini memiliki tingkat keeratan atau korelasi sebesar 97,18% dengan rentang waktu 10 tahun. Koefisien korelasi tersebut bernilai positif, artinya peningkatan pada Jasa Keuangan dan Asuransi akan diikuti dengan peningkatan PDRB. Terdapat hubungan signifikan antara Jasa Keuangan dan Asuransi dengan PDRB, ditandai dengan nilai sig(2- tailed) sebesar 0,00000269 2. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Lapangan usaha ini meliputi kegiatan bersifat pemerintahan, yang umumnya dilakukan oleh administrasi pemerintahan termasuk juga perundang-undangan dan penterjemahan hukum yang berkaitan dengan pengadilan dan menurut peraturannya. Secara umum, kontribusi kategori ini relatif stabil dalam lima tahun terakhir dalam perekonomian Kabupaten Blora, berada dikisaran tiga persen. Nilai tambah lapangan usaha ini pada tahun 2022 sebesar 808,50 miliar rupiah, meningkat dibanding tahun sebelumnya, sebesar 770,00 miliar rupiah. Setelah kontraksi pada tahun 2020 (-1,38 persen) dan 2021 (-1,67 persen), lapangan usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib pada tahun 2022 mampu tumbuh sebesar 2,16 persen. Dengan meredanya pandemi Covid-19, memberi ruang untuk berjalannya normal kembali aktifitas di lapangan usaha ini. Perjalanan dinas sudah diperbolehkan, paket meeting dan kegiatan lainnya sudah seperti sebelum pandemi, blocking anggaran untuk penangan pandemi sudah berkurang sedikit banyak memberi ruang untuk meningkatnya aktifitas di lapangan usaha ini. Hubungan paling besar kedua yang
memiliki keeratan atau korelasi adalah Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib dengan PDRB, dilihat dari angka korelasi sebesar yaitu 0,970 atau 97,05%. Koefisien korelasi tersebut bernilai positif, artinya peningkatan pada Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial akan diikuti dengan peningkatan PDRB. Terdapat hubungan signifikan antara Jasa Keuangan dan Asuransi dengan PDRB, ditandai dengan nilai sig(2-tailed) sebesar 0,00000322. 3. Real Estat Real Estat memberikan kontribusi yang relatif tetap bagi PDRB Kabupaten Blora dengan peranan sekitar satu persen pada periode tahun 2018-2022. Kontribusi lapangan usaha ini di tahun 2022 sebesar 345,62 miliar rupiah atau sebesar 1,12 persen dari PDRB atas dasar harga berlaku Kabupaten Blora. Pada tahun 2022, laju pertumbuhan ekonomi lapangan usaha ini mampu tumbuh sebesar 4,49 persen. Secara umum, pertumbuhan real estat di Kabupaten Blora terdongkrak oleh meningkatnya penerimaan pajak bumi dan bangunan di Kabupaten Blora serta terjadinya peningkatan tarif rata-rata sewa dan kontrak rumah, serta meningkatnya permintaan terhadap rumah dan pembuatan ruko/tempat usaha di Kabupaten Blora. Hubungan paling besar ketiga yang memiliki keeratan atau korelasi adalah Real Estat dengan PDRB, dilihat dari angka korelasi sebesar yaitu 0,959 atau 95,91 %. Koefisien korelasi tersebut bernilai positif, artinya peningkatan pada Real Estat akan diikuti dengan peningkatan PDRB. Terdapat hubungan signifikan antara Real Estat dengan PDRB, ditandai dengan nilai sig(2-tailed) sebesar 0,0000116. 4. Perdagangan Besar dan Eceran;
BPS Kabupaten Blora mencatat Reparasi Mobil dan Sepeda Motor Selama lima tahun terakhir, lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor memberikan kontribusi yang cukup besar yaitu antara 14 sampai 16 persen bagi perekonomian Kabupaten Blora. Dalam komposisi PDRB atas dasar harga berlaku tahun 2022, kategori ini menjadi kontributor terbesar ketiga setelah kategori Pertanian, Kehutanan dan Perikanan dan kategori Pertambangan dan Penggalian. Pada tahun 2022, kontribusi kategori ini mencapai 4,51 triliun rupiah atau sebesar 14,57 persen. Meskipun proporsi kontribusi kategori ini mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, kategori ini mampu kembali tumbuh meski mengalami perlambatan di banding tahun lalu. Laju pertumbuhan kategori ini sebesar dari 4,92 persen di tahun 2021 menjadi 4,06 persen di tahun 2022. Pandemi Covid-19 di tahun 2020 kemudian disusul dengan isu resesi global masih sedikit banyak mengubah pola hidup masyarakat dalam pengelolaan keuangan untuk aktivitas jual beli. Masyarakat cenderung lebih memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari dibandingkan pengeluaran besar. Meskipun demikian, harapan pasar akan terkendalinya pandemi terutama sejak awal tahun 2021 dan berakhirnya perang Rusia Ukraina mendorong berbagai lapangan usaha, dominan di Kabupaten Blora menggeliat kembali sehingga otomatis mendorong naiknya aktivitas jual beli di masyarakat. Hal ini menempatkan sektor ini pada posisi korelasi keempat terhadap PDRB. Hubungan paling besar selanjutnya yang memiliki keeratan atau korelasi adalah Perdagangan Besar dan Eceran dengan PDRB, dilihat dari angka korelasi sebesar yaitu 0,957
atau 95,73%. Koefisien korelasi tersebut bernilai positif, artinya peningkatan pada Perdagangan Besar dan Eceran akan diikuti dengan peningkatan PDRB. Terdapat hubungan signifikan antara Perdagangan Besar dan Eceran dengan PDRB, ditandai dengan nilai sig(2-tailed) sebesar 0,0000138 5. Jasa Pendidikan Jasa Pendidikan meliputi kegiatan Pendidikan mulai dari jenjang PAUD, TK, SD hingga Perguruan Tinggi. Termasuk didalamnya kursus-kursus, pesantren dan Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ). Pada tahun 2022, Jasa Pendidikan menyumbang sebesar 5,50 persen terhadap total perekonomian Kabupaten Blora. Kontribusinya meningkat dari 1,64 triliun rupiah pada tahun 2021 menjadi 1,70 triliun rupiah pada tahun 2022. Pembelajaran jarak jauh yang diterapkan selama Pandemi Covid-19, secara perlahan mulai dikurangi dan kembali lagi menggunakan metode tatap muka. Kegiatan pembelajaran dan berbagai aktifitas di Jasa Pendidikan sudah kembali normal.Setelah mengalami kontraksi pada tahun 2020 (-0,24 persen) sebagai dampak pandemi Covid-19, lapangan usaha ini mulai menunjukkan aktifitas seperti sebelum pandemi. Berdasarkan Tabel 4.2. HASIL OUTPUT 2013-2022 (10 TAHUN) menunjukkan hubungan paling besar selanjutnya yang memiliki keeratan atau korelasi adalah Jasa Pendidikan dengan PDRB, dilihat dari angka korelasi sebesar yaitu 0,955 atau sebesar 95,48%. Koefisien korelasi tersebut bernilai positif, artinya peningkatan pada Jasa Pendidikan akan diikuti dengan peningkatan PDRB. Terdapat hubungan signifikan antara Jasa Pendidikan dengan PDRB, ditandai dengan nilai sig(2-tailed) sebesar 0,0000172.
6. Jasa Lainnya Kategori ini meliputi jasa kesenian, hiburan dan rekreasi swasta; jasa reparasi barang rumatangga dan pribadi lainnya; dan jasa swasta lainnya seperti salon, pangkas rambut, binatu, jasa kebugaran dan jasa perorangan lainnya. Kontribusi Jasa Lainnya terhadap perekonomian Kabupaten Blora tahun 2022 relatif kecil yaitu 607,01 miliar rupiah. Kontribusinya sejak 2018-2028 juga relatif stabil di kisaran 2 persen. Sedangkan laju pertumbuhannya mengalami pertumbuhan sebesar 9,62 persen di tahun 2022. Kembali dibukanya berbagai tempat rekreasi dan menggeliatnya berbagai kegiatan masyarakat seiring dengan sudah meredanya pandemi Covid-19, mendorong peningkatan pada kategori ini. Tabel 4.2. HASIL OUTPUT 2013-2022 (10 TAHUN) menunjukkan keeratan atau korelasi Jasa Lainnya dengan PDRB, dilihat dari angka korelasi sebesar yaitu 0,952 atau 95,17%. Koefisien korelasi tersebut bernilai positif, artinya peningkatan pada Jasa Lainnya akan diikuti dengan peningkatan PDRB. Terdapat hubungan signifikan antara Jasa Lainnya dengan PDRB, ditandai dengan nilai sig(2-tailed) sebesar 0,0000225. 7. Konstruksi Pada tahun 2022, kontribusi kategori Konstruksi mencapai 1,35 triliun rupiah atau sebesar 4,37 persen terhadap total perekonomian Kabupaten Blora. Lapangan usaha Konstruksi di Kabupaten Blora mampu tumbuh cepat di tahun 2022, dengan laju pertumbuhan sebesar 8,32 persen, sedikit melambat dari tahun sebelumnya yang sebesar 9,44 persen. Sejumlah proyek pembangunan skala besar dilaksanakan
di Kabupaten Blora seperti pembangunan jalan ruas Kunduran- Doplang, jalan ruas Jepon-Gayam-Sendangrejo, jalan Blora-Randublatung dan akses jalan menuju Bandara Ngloram. Selain itu juga ada peningkatan di belanja modal gedung, jalan dan irigasi yang memberikan pengaruh besar terhadap pertumbuhan lapangan usaha kontruksi di tahun 2022. Peningkatan harga sejumlah bahan bangunan turut mendorong peningkatan nilai kontrak sejumlah proyek pembangunan. Berdasarkan Tabel 4.2. Sektor ini memiliki keeratan atau korelasi sebesar 0,951. Koefisien korelasi tersebut bernilai positif, artinya peningkatan pada Konstruksi akan diikuti dengan peningkatan PDRB. Terdapat hubungan signifikan antara Konstruksi dengan PDRB, ditandai denga nilai sig (2-tailed) sebesar 0,0000231. 8. Jasa Perusahaan Kategori ini meliputi jasa hukum dan akuntansi, jasa ahli, teknis dan jasa bisnis lainnya, jasa persewaan dan jasa pendukung seperti jasa biro perjalanan, jasa penyediaan tenaga kerja, event organizer dan sejenisnya. Masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya, Jasa Perusahaan belum banyak memberi kontribusi terhadap perekonomian Kabupaten Blora. Aktifitas di lapangan usaha ini pada tahun 2022 sebesar 91,79 miliar rupiah atau hanya sebesar 0,30 persen dalam pembentukan PDRB Kabupaten Blora. Meski demikian, lapangan usaha ini dalam dua tahun terakhir mampu tumbuh sebesar 3,27 persen di tahun 2021 dan 6,21 persen pada tahun 2022. Berdasarkan Tabel 4.2. HASIL OUTPUT 2013-2022 (10 TAHUN) hubungan keeratan atau korelasi Jasa Perusahaan dengan PDRB, dilihat dari angka korelasi sebesar yaitu 0,924 atau 92,43%. Koefisien korelasi tersebut bernilai positif, artinya peningkatan pada Jasa Perusahaan akan diikuti dengan peningkatan PDRB.
Terdapat hubungan signifikan antara Jasa Perusahaan dengan PDRB, ditandai dengan nilai sig(2-tailed) sebesar 0,000131. 9. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Kategori ini mencakup kegiatan penyediaan jasa kesehatan dan kegiatan sosial yang cukup luas cakupannya. Pada tahun 2022, kontribusinya terhadap perekonomian Kabupaten Blora sebesar 0,87 persen dengan laju pertumbuhan sebesar 2,79 persen. Sisi lain dari pandemi Covid-19 yang sudah mereda, adalah meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap kesehatan. Sehingga secara tidak langsung, aktivitas jasa kesehatan tetap menunjukkan peningkatan. Berdasarkan Tabel 4.2. HASIL OUTPUT 2013-2022 (10 TAHUN) terlihat hubungan selanjutnya yang memiliki keeratan atau korelasi adalah Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial dengan PDRB, dilihat dari angka korelasi sebesar yaitu 0,920 atau 91,99%. Koefisien korelasi tersebut bernilai positif, artinya peningkatan pada Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial akan diikuti dengan peningkatan PDRB. Terdapat hubungan signifikan antara Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial dengan PDRB, ditandai dengan nilai sig(2-tailed) sebesar 0,000163. 10. Pertambangan dan Penggalian Salah satu peristiwa besar di tahun 2022 adalah adanya perang Rusia dan Ukraina, sedikit banyak memberi efek terhadap lapangan usaha ini. Pada tahun 2022, nilai tambah yang terbentuk dari lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian sebesar 8,49 triliun rupiah, kembali menjadi top contributor dengan kontribusi terhadap PDRB atas dasar harga berlaku tahun 2022 mencapai 8,49 triliun rupiah atau sebesar 27,41 persen. Kenaikan ini disebabkan melonjaknya
harga minyak dan gas bumi, dimana Indeks Harga Produsen (IHP) Minyak Bumi naik hingga 46,71 persen dan IHP gas bumi naik 32,26 persen. Meskipun kontribusi kategori ini mengalami kenaikan, namun dilihat dari sisi harga konstan, lapangan usaha ini merupakan satu-satunya lapangan usaha yang mengalami kontraksi pada tahun 2022, yaitu sebesar -7,86 persen, setelah sebelumnya mampu tumbuh sebesar 5,32 persen pada tahun 2021. Hal ini disebabkan karena adanya penurunan produksi migas di blok Cepu karena turunnya tekanan reservoir yang terjadi secara alamiah. Hal ini menempatkan Pertambangan dan Peggalian di posisi ke 10. yang memiliki keeratan atau korelasi PDRB sebesar 0,919 atau 91,81%. Koefisien korelasi tersebut bernilai positif, artinya peningkatan pada Pertambangan dan Penggalian akan diikuti dengan peningkatan PDRB. Terdapat hubungan signifikan antara Pertambangan dan Penggalian dengan PDRB, ditandai dengan nilai sig(2-tailed) sebesar 0,000171. 11. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan merupakan salah satu lapangan usaha andalan Kabupaten Blora . Andil lapangan usaha ini mencapai 20,83 persen dan masih menjadi harapan dan tumpuan dalam penyerapan hampir separuh tenaga kerja di Kabupaten Blora. Kontribusi Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan terhadap PDRB pada tahun 2022 atas dasar harga berlaku mencapai 6,45 triliun rupiah atau sebesar 20,83 persen. Lapangan usaha ini merupakan salah satu lapangan usaha yang mampu bertahan di masa pandemi Covid-19. Pada tahun 2020, lapangan usaha ini mampu tumbuh sebesar 1,87 persen, tumbuh sebesar 2,31 persen di tahun 2021 dan kembali tumbuh di tahun 2022 sebesar 2,66 persen.
Komoditas pertanian unggulan Blora adalah padi dan jagung. Tahun 2022, kondisi cuaca kurang mendukung untuk kedua komoditas ini, sehingga produksi kedua komoditas kurang maksimal. Meskipun demikian pada tahun 2022 ini produksi padi masih meningkat dibanding tahun sebelumnya meskipun hanya sedikit. Pada subkategori peternakan, sekitar bulan April-September 2022 terjadi wabah PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) yang menyerang ternak ruminansia. Wabah ini menyebar hampir di seluruh willayah Indonesia, tak terkecuali Blora. Sementara, Blora tercatat memiliki populasi sapi terbanyak di Jawa Tengah. Vaksinasi ternak sapi segera digalakkan untuk mengendalikan wabah ini. Meskipun demikian ada tahun 2022 ini produksi daging tercatat mengalami kenaikan tipis. Sementara itu, berbagai komoditas pertanian lainnya seperti jambu mete, tebu, jati, maupun perikanan mengalami kenaikan produksi. Kenaikan inilah yang mendorong pertumbuhan PDRB pada kategori ini hingga mencapai 2,66 persen. Diluar faktor cuaca, pemerintah harus menjaga ketersediaan pupuk dan penanggulangan OPT serta mengendalikan harga hasil panen untuk kelangsungan lapangan usaha ini mengingat semakin berkurangnya kontribusi lapangan usaha ini dalam pembentukan PDRB Kabupaten Blora tiap tahunnya. Berdasarkan Tabel 4.2. HASIL OUTPUT 2013-2022 (10 TAHUN) hubungan yang memiliki keeratan atau korelasi adalah Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan dengan PDRB, dilihat dari angka korelasi sebesar yaitu 0,910 atau 91,05%. Koefisien korelasi tersebut bernilai positif, artinya peningkatan pada Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan akan diikuti dengan peningkatan PDRB. Terdapat hubungan signifikan antara Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan dengan PDRB,
ditandai dengan nilai sig(2-tailed) sebesar 0,000252. 12. Industri Pengolahan Kontribusi Industri Pengolahan dalam PDRB atas dasar harga berlaku mengalami peningkatan dari 2,75 triliun di tahun 2021 menjadi 3,03 triliun di tahun 2022. Usai terkontraksi -1,85 persen di tahun 2020, Industri Pengolahan mampu bangkit dan tumbuh sebesar 3,03 persen di tahun 2021 dan kembali tumbuh sebesar 4,63 persen di tahun 2022. Meskipun demikian, kontribusi kategori ini terhadap PDRB atas dasar harga berlaku Kabupaten Blora justru mengalami penurunan yakni dari 10,23 persen di tahun 2021 menjadi sebesar 9,79 persen di tahun 2022. Sejumlah industri meningkat aktifitas ekonominya di tahun 2022, seperti industri pengolahan; industri tekstil dan pakaian jadi; industri kayu dan barang dari kayu sebagai dampak ikutan dari membaiknya konstruksi; industri kertas dan barang dari kertas sebagai akibat kegiatan di pemerintahan, pendidikan dan aktifitas lainnya yang sudah kembali normal; dan juga beberapa industri lain yang secara umum mulai bangkit menyusul naiknya aktivitas perekonomian pasca meredanya pandemi Covid-19. Berdasarkan Tabel 4.1. HASIL OUTPUT 2013-2022 (10 TAHUN) menempatkan hubungan Industri Pengolahan memiliki keeratan atau korelasi dengan PDRB dengan angka korelasi sebesar 0,896 atau 89,62%. Koefisien korelasi tersebut bernilai positif, artinya peningkatan pada Industri Pengolahan akan diikuti dengan peningkatan PDRB. Terdapat hubungan signifikan antara Industri Pengolahan dengan PDRB, ditandai dengan nilai sig(2-tailed) sebesar 0,000447.
13. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Pada tahun 2022, kategori Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum berkontribusi terhadap PDRB Kabupaten Blora sebesar 1.111,38 miliar rupiah atau 3,59 persen. Kategori ini mampu tumbuh sebesar 15,49 persen pada tahun 2022 setelah terkontraksi sebesar -3.00 persen di tahun 2020 dan tumbuh sebesar 6,65 persen di tahun 2021. Sudah membaiknya kondisi sosial ekonomi setelah terdampak pandemi Covid-19 menjadi sebab kembali tumbuhnya kategori ini. Tingkat okupansi hotel mengalami peningkatan signifikan sepanjang tahun 2022 menyusul sudah diperbolehkannya lagi sejumlah paket meeting oleh dinas dan instansi, even atau hajatan oleh masyarakat sudah marak di gelar kembali tanpa ada batasan jumlah pengunjung. Kegiatan masyarakat yang kembali hidup kembali berdampak pula terhadap usaha katering dan sejumlah rumah makan. Tidak adanya pembatasan buka tutup rumah makan/kafe di Kabupaten Blora serta semakin maraknya layanan take away atau pemesanan makanan online mampu membantu laju pertumbuhan kategori di tahun 2022. Berdasarkan Tabel 4.2. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum berkorelasi dengan PDRB sebesar yaitu 0,892. Koefisien korelasi tersebut bernilai positif, artinya peningkatan pada Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum akan diikuti dengan peningkatan PDRB. Terdapat hubungan signifikan antara Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum dengan PDRB, ditandai dengan nilai sig(2-tailed) sebesar 0,00053. 14. Pengadaan Listrik dan Gas Lapangan usaha ini terdiri dari dua sub kategori, yaitu Ketenagalistrikan dan sub
kategori Pengadaan Gas dan Produksi Es. Lapangan Usaha Pengadaan Listrik dan Gas berkontribusi sebesar 17,60 miliar rupiah atau 0,06 persen terhadap perekonomian Kabupaten Blora pada tahun 2022, relatif sama jika dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sebanyak 16,60 miliar rupiah atau 0,06 persen. Adapun laju pertumbuhan kategori ini di tahun 2022 lebih cepat dibandingkan tahun sebelumnya yakni bergerak dari 4,80 persen di tahun 2021 menjadi 5,22 persen di tahun 2022. Meredanya pandemi Covid-19 membangkitkan kembali semua sendi perekonomian. Penambahan jumlah pelanggan listrik, meningkatnya aktivitas industri, akomodasi dan penyediaan makan minum mendorong peningkatan konsumsi listrik pada tahun 2022. Peningkatan aktivitas pada kategori penyediaan makan minum juga mendorong naiknya produksi es. Hubungan di peringkat ke 14 yang memiliki keeratan atau korelasi adalah Pengadaan Listrik dan Gas dengan PDRB, dilihat dari angka korelasi sebesar yaitu 0,887 atau 88,69%. Koefisien korelasi tersebut bernilai positif, artinya peningkatan pada Pengadaan Listrik dan Gas akan diikuti dengan peningkatan PDRB. Terdapat hubungan signifikan antara Pengadaan Listrik dan Gas dengan PDRB, ditandai dengan nilai sig(2-tailed) sebesar 0,000624. 15. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang Lapangan usaha ini mencakup kegiatan ekonomi pengumpulan, pengolahan dan pendistribusian air melalui berbagai saluran pipa untuk kebutuhan rumah tangga dan industri. Termasuk juga kegiatan pengumpulan, penjernihan dan pengolahan air dan sungai, danau, mata air, hujan, dll. Tidak termasuk pengoperasian peralatan irigasi untuk keperluan pertanian. Kontribusi lapangan usaha ini terhadap
perekonomian di Kabupaten Blora selama tahun 2022 relatif kecil, hanya 10,27 miliar rupiah atau sebesar 0,03 persen. Lapangan usaha ini termasuk kategori yang mampu bertahan di masa pandemi. Pada tahun 2020 lalu, lapangan usaha ini masih mampu tumbuh sebesar 2,39 persen di kala sebagian besar lapangan usaha mengalami kontraksi. Adapun di tahun 2022, lapangan usaha ini mengalami percepatan dan mampu tumbuh sebesar 2,98 persen. Berdasarkan Tabel 4.1. HASIL OUTPUT 2013-2022 (10 TAHUN) Sektor Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang dengan PDRB menmpati urutan ke 15, dilihat dari angka korelasi sebesar yaitu 0,879 atau 87,95%. Koefisien korelasi tersebut bernilai positif, artinya peningkatan pada Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang akan diikuti dengan peningkatan PDRB. Terdapat hubungan signifikan antara Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang dengan PDRB, ditandai dengan nilai sig(2-tailed) sebesar 0,000796. 16. Informasi dan Komunikasi BPS mencatat, Informasi dan Komunikasi memiliki peranan sebagai penunjang aktivitas di setiap bidang ekonomi. Dalam era globalisasi, peranan lapangan usaha ini sangat vital dan menjadi indikator kemajuan suatu bangsa, terutama jasa telekomunikasi. Kontribusi lapangan usaha ini terhadap perekonomian di Kabupaten Blora kembali mengalami peningkatan dari 340,76 miliar rupiah di tahun 2021 menjadi 351,11 miliar rupiah di tahun 2022 dengan proporsi terhadap PDRB Kabupaten Blora atas dasar harga berlaku sebesar 1,13 persen. Meningkatnya pemakaian internet sebagai efek dari pandemi Covid-19 masih
berlanjut pada tahun 2022. Rapat virtual dengan menggunakan zoom masih dilakukan oleh beberapa pihak. Perekonomian digital yang terus meningkat mendorong lapangan usaha ini tumbuh hingga 2,78 persen. Hal ini menempatkan Sektor Informasi dan Komunikasi dengan korelasi terhadap PDRB, dengan angka korelasi sebesar 0,866. Koefisien korelasi tersebut bernilai positif, artinya peningkatan pada Informasi dan Komunikasi akan diikuti dengan peningkatan PDRB. Terdapat hubungan signifikan antara Informasi dan Komunikasi dengan PDRB, ditandai dengan nilai sig(2-tailed) sebesar 0,00119. 17. Transportasi dan Pergudangan Berdasarkan Tabel 4.1. HASIL OUTPUT 2013-2022 (10 TAHUN) Hubungan yang memiliki keeratan atau korelasi terendah adalah Transportasi dan Pergudangan dengan PDRB, dilihat dari angka korelasi sebesar yaitu 0,756 atau 75,61 %. Koefisien korelasi tersebut bernilai positif, artinya peningkatan pada Transportasi dan Pergudangan akan diikuti dengan peningkatan PDRB. Terdapat hubungan signifikan antara Transportasi dan Pergudangan dengan PDRB, ditandai dengan nilai sig(2-tailed) sebesar 0,01140. Kontribusi kategori Transportasi dan Pergudangan mencapai 918,82 miliar rupiah atau sekitar 2,97 persen terhadap PDRB Kabupaten Blora pada tahun 2022. Kontribusi tersebut meningkat jika dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 569,69 miliar rupiah. Transportasi dan Pergudangan merupakan kategori yang paling terdampak pandemi di Kabupaten Blora di tahun 2020. Di tahun tersebut, kategori ini mengalami kontraksi mencapai -21,08 persen atau yang
terendah di rentang lima tahun terakhir dibanding kategori lainnya. Berbagai kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat karena pandemi Covid-19 menjadi penyebab utama kontraksi kategori Transportasi dan Pergudangan di tahun tersebut. Di tahun 2022, Transportasi dan Pergudangan mampu kembali bangkit. Membaiknya keadaan sosial ekonomi pasca meredanya pandemi Covid19 memberi efek positif terhadap lapangan usaha ini. Diperbolehkannya mudik setelah dua tahun dibatasi dan kembali normalnya aktifitas masyarakat secara keseluruhan mendorong pertumbuhan pada aktifitas Transportasi dan Pergudangan sebesar 52,31 persen, dengan peningkatan PDRB atas dasar harga konstan 2010 dari 440,98 miliar rupiah di tahun 2021 menjadi 671,64 miliar rupiah di tahun 2022.Peningkatan pertumbuhan pada kategori ini juga didorong oleh dikuranginya porsi Work From Home (WFH) pada aktivitas perkantoran dan Pembelajaran Jarak Jauh di sekolah yang mulai digantikan dengan Pembelajaran Tatap Muka. 4.3. ANALISIS KORELASI TIME SERIES LAPANGAN USAHA YANG MEMPENGARUHI LAJU PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN BLORA TAHUN 10 TAHUN TERAKHIR TANPA ANOMALI MASA COVID 19 Untuk menyajikan data yang valid dan membandingkan keeratan hubungan Lapangan Usaha dengan Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Blora dengan atau tanpa masa anomali COVID, maka dilakukan Analisa Time Series serupa, dengan reduksi masa COVID 2 Tahun (2020-2022) untuk menunjukkan perbedaan dengan atau tanpa adanya periode anomali. Penyajian data dengan rentang waktu yang cukup panjang (10 tahun) selain untuk menunjukkan validitas data dan
konsistensi nilai output, juga dimaksudkan untuk mengetahui sustaianabilitas entitas atau sektor-sektor yang memiliki tingkat keberlanjutan yang tinggi dan teruji waktu meskipun mengalami situasi krisis seperti Pandemi COVID 19 maupun inflasi bahkan dapat membentuk konsep Green PDRB yang tidak hanya sekedar menghitung hasil yang diperoleh namun juga memperhitungkan dampak yang ditimbulkan untuk generasi mendatang. Konsep Green PDRB memberikan peluang kepada daerah yang memiliki sumber daya alam melimpah untuk terciptanya suatu tata kelola pemerintahan yang lebih adil dan bertanggungjawab, khususunya dalam hal keuangan dan pemanfaatan sumber daya alam. Dengan menerapkan konsep Green PDRB dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat, Pemerintah Pusat maupun Global.
Tabel 4.3. HASIL OUTPUT TIME SERIES LAPANGAN USAHA YANG BERKORELASI DENGAN LAJU PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN BLORA 2013-2022 REDUKSI 2 TAHUN MASA COVID TAHUN 2020-2022 (8 TAHUN)
Diagram 2 Berdasarkan hasil analisis Tabel 4.3. dan Diagram 2 diatas menunjukkan hasil yang hampir sama dengan tabel 4.2. dan Diagram 1 yaitu bahwa adanya hubungan yang paling besar keeratannya atau korelasinya adalah pada sektor Jasa Keuangan dan Asuransi dengan PDRB, dilihat dari angka korelasi yang paling besar yaitu 0,981. Koefisien korelasi tersebut bernilai positif, artinya peningkatan pada Jasa Keuangan dan Asuransi akan diikuti dengan peningkatan PDRB. Terdapat 87.20% 87.40% 87.40% 88.00% 88.20% 88.50% 90.00% 91.30% 92.20% 93.40% 94.50% 94.80% 95.40% 95.70% 95.70% 97.40% 98.10% 80.00%82.00%84.00%86.00%88.00%90.00%92.00%94.00%96.00%98.00%100.00% Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan… Informasi dan Komunikasi Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Pengadaan Listrik dan Gas Industri Pengolahan Transportasi dan Pergudangan Pertanian, Kehutanan, Perikanan Jasa Perusahaan Pertambangan dan Penggalian Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Jasa Lainnya Konstruksi Perdagangan Besar dan Eceran Jasa Pendidikan Real Estate Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jamsos Jasa Keuangan dan Asuransi PERSENTASE LAPANGAN USAHA TINGKAT KORELASI LAPANGAN USAHA TERHADAP PDRB KABUPATEN BLORA BERDASARKAN HASIL OUTPUT 2013-2022 DIKURANGI TAHUN COVID (8 TAHUN)
hubungan signifikan antara Jasa Keuangan dan Asuransi dengan PDRB, ditandai dengan nilai sig(2-tailed) sebesar 0,0000172. Namun ada beberapa sektor yang mengalami pergeseran rating dengan detail disajikan dalam bentuk diagram perbandingan sebagai berikut. Gambar. 5 Berdasarkan Gambar 4.1. diatas dapat terlihat perbandingan hubungan yang bergeser nilai keeratannya atau korelasinya adalah Perdagangan Besar dan Eceran dengan Jasa Pendidikan. Pada Output Tabel 4.2. Perdagangan Besar dan Eceran menempati peringkat ke empat dengan persentase 95,73% tapi Pada Tabel 4.3. Jasa Pendidikan menempati peringkat yang sama dengan persentase 95,7% jika dilihat berdasarkan data tanpa masa anomali. Perubahan serupa juga dialami sektor Jasa Lainnya, Konstruksi, Jasa Perusahaan, Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial, Pertambangan dan Penggalian, Jasa Perusahaan, Industri Pengolahan, Penyediaan
Akomodasi dan Makan Minum, Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang serta Transportasi dan Pergudangan. 4.4. KEBIJAKAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN BLORA DALAM PENGUATAN PEMBANGUNAN SEKTOR BASIS Mengacu Pada Hasil analisis Tabel 4.2. dan Tabel 4.3. menunjukkan terdapat lima sektor yang menjadi sektor unggulan di Kabupaten Blora, yaitu sektor Jasa Keuangan dan Asuransi, sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jamsos, Real Estate dan Perdagangan Besar dan Eceran serta Jasa Pendidikan (Pada Data Tabal 4.3 tanpa Tahun Anomali) . Berikut ini diidentifikasi seperti apa kebijakan pemerintah daerah Kabupaten Blora dalam membangun, mendorong, dan mengembangkan sektor – sektor basis diatas. Identifikasi ini merujuk pada dokumen RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Kabupaten Blora tahun 2021 – 2026. Gambar.6 Keselarasan Dokumen RPJMD Dengan RPJPD Kabupaten Blora
Sasaran pembangunan jangka menengah pada Tahun 2021-2026 adalah mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur melalui percepatan pembangunan di berbagai bidang dengan menekankan terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetitif di berbagai wilayah yang didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing. Memperhatikan arahan Presiden RI sebagaimana dijabarkan dalam Rancangan Akhir RPJMN 2020-2024, pembangunan nasional diarahkan pada 5 (lima) fokus yaitu : Pembangunan Sumber Daya Manusia, Pembangunan Infrastruktur, Penyederhanaan Regulasi, Penyederhanaan Birokrasi dan Transformasi Ekonomi. Fokus pembangunan tersebut diarahkan pada pencapaian Visi “Terwujudnya Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong-Royong”. Tujuan RPJMN IV tahun 2020 – 2024 juga telah
sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), dimana target-target dari 17 tujuan (goals) dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) beserta indikatornya telah ditampung dalam 7 agenda pembangunan yang juga merupakan arah kebijakan dan strategi pembangunan Tahun 2022 antara lain : 1. Memperkuat Ketahanan Ekonomi untuk Pertumbuhan yang Berkualitas dan Berkeadilan. 2. Mengembangkan Wilayah untuk Mengurangi Kesenjangan dan Menjamin Pemerataan Pengembangan Wilayah 3. Meningkatkan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas dan Berdaya Saing 4. Revolusi Mental dan Pembangunan Kebudayaan 5. Memperkuat Infrastruktur untuk Mendukung Pengembangan Ekonomi dan Pelayanan Dasar 6. Membangun Lingkungan Hidup, Meningkatkan Ketahanan Bencana dan Perubahan Iklim 7. Memperkuat Stabilitas Polhukhankam dan Transformasi Pelayanan Publik Perubahan RKPD Kabupaten Blora Tahun 2021 IV-5 Keseluruhan agenda tersebut adalah dalam rangka mencapai sasaran makro pembangunan nasional tahun 2021 yang mengalami perubahan akibat pendemi Covid-19 dari target RPJMN tahun 2021, yaitu : 1. Pertumbuhan Ekonomi sebesar 4,5-5,5% (dari target RPJMN sebesar 5,4-5,7%); 2. Persentase Penduduk Miskin 9,2-9,7% (dari target RPJMN sebesar 8,0- 8,5%); 3. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 7,5-8,2% (dari target RPJMN sebesar 4,8-5,0%); 4. Indeks Gini sebesar 0,377-0,379 (dari target RPJMN sebesar 0,375- 0,379);dan 5. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 72,78-72,79 (dari target RPJMN sebesar
73,26). Beberapa Major Project yang mendukung prioritas pembangunan sebagaimana tertuang dalam RPJMN 2020-2024 adalah sebagai berikut: 1. 10 (sepuluh) destinasi pariwisata prioritas. 2. 9 (sembilan) kawasan industri di luar Jawa dan 31 (tiga puluh satu) smelter. 3. Industri 4.0 di 5 (lima) sub sektor prioritas. 4. Pendidikan dan pelatihan vokasi untuk industri 4.0. 5. Jaringan pelabuhan utama terpadu. Merujuk pada dokumen RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Kabupaten Blora tahun 2020 – 2024 dan Sustainable Development Goals (SDGs), dimana target-target dari 17 tujuan (goals) dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) maka tema besar yang perlu direkomendasikan pada hasil penelitian ini adalah penerapan konsep Green Economic Development yang dimanifestasikan pada implementasi Green PDRB pada 5 Sektor Basis Jasa Keuangan dan Asuransi, sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jamsos, Real Estate dan Perdagangan Besar dan Eceran serta Jasa Pendidikan (Pada Data Tabal 4.3 tanpa Tahun Anomali). Konsep Pembangunan Ekonomi Hijau tidak hanya menghitung hasil yang akan diperoleh namun juga memperhitungkan dampak yang akan ditimbulkannya atau berapa biaya lingkungan yang harus ditanggung. Kebijakan pembangunan yang berwawasan lingkungan tidak hanya menyelamatkan generasi sekarang tetapi juga menyelamatkan generasi mendatang begitu juga pengelolaan sumberdaya alam yang bijaksana dengan memperhitungkan dampak yang akan ditimbulkan
dapat menyelamatkan generasi sekarang maupun generasi penerus bangsa. Pentingnya Pemerintah Daerah melakukan tranformasi ekonomi menunju struktur ekonomi yang ditunjang oleh sektor ekonomi berbasiskan sumberdaya alam terbarukan karena telah tertuang pada RPJMD berkomitmen untuk melakukan pembangunan yang menerapkan konsep Ekonomi Hijau, adalah tidak berlebihan bila Pemerintah Daerah dapat melakukan penghitungan laju pertumbuhan ekonomi dan PDRB tidak hanya menghitung output ekonomis dari sektor saja, namun harus juga menghitung atas biaya lingkungan yang diakibatkannya. Oleh karena itu kesiapan pengembangan industri berbasis unggulan masing masing sektor harus di percepat di dukung oleh infrastruktur yang berkualitas, disertai penyediaan Sumber Daya Manusia yang berkualitas adalah faktor kunci keberhasilan dalam memenangkan persaingan di level regional, nasional dan dunia. Pembangunan adalah proses perubahan ke arah kondisi yang lebih baik melalui upaya yang dilakukan secara terencana. Proses perencanaan yang baik dan komprehensif merupakan titik penting untuk berhasilnya pembangunan. Untuk dapat menghasilkan perencanaan yang ideal tersebut maka setiap proses harus senantiasa dilakukan dengan basis data dan informasi yang valid dan terukur. Data dan informasi yang dihimpun berhubungan dengan potensi dan kondisi daerah merupakan bagian penting demi hasil perencanaan yang baik dan komprehensif. Data dan informasi yang berkualitas harus dijadikan rujukan bagi pengambilan kebijakan dan program yang akan dilaksanakan oleh pemerintah
daerah. Penggunaan terpenting data dalam proses perencanaan adalah untuk menetapkan target-target pembangunan. Penggunaan data dan informasi paling jelas terlihat dalam penetapan indikator-indikator, seperti indikator pencapaian kinerja pembangunan. Indikator yang ada kemudian dijadikan capaian target yang bisa diukur. Sehingga, saat pembangunan sedang dan selesai dilaksanakan dapat dilakukan monitoring dan evaluasi dengan pengukuran yang jelas. Beberapa permasalahan penyediaan data dan informasi dalam proses perencanaan pembangunan selama ini adalah : 1. Setiap SKPD mengembangkan sistem data nya sendiri sendiri, sehingga terdapat basis data yang beragam. 2. Kurangnya koordinasi dan sinkronisasi data yang ada pada berbagai institusi, sehingga data-data yang seharusnya saling berhubungan banyak terpisah-pisah dan sulit untuk diakses. 3. Data tidak akurat dan berbeda (tidak konsisten) yang menimbulkan kebingungan dan keraguan akan validitas data tersebut sehingga menyulitkan didalam penyusunan rencana pembangunan. 4. Data dan informasi tidak diupdate secara teratur. 5. Masih kurangnya sumber daya manusia, tenaga ahli dalam pengelolaan data dan informasi. 6. Metodologi dan mekanisme pengumpulan data yang belum terstruktur dengan baik. 7. Sering tidak independen didalam mengumpulkan data dan analisisnya. 8. Validitas alat ukur sering diabaikan.
Data dan informasi yang akurat dan valid adalah keniscayaan yang harus tersedia demi perencanaan pembangunan yang berkualitas di daerah. Oleh karena itu ketersediaan basis data yang terpercaya, valid dan senantiasa diperbaharui adalah suatu keharusan. Ada beberapa solusi yang bisa dilaksanakan untuk meletakan data dan informasi sebagai basis utama perencanaan daerah. Pertama, perlunya kesamaan paradigma seluruh aparatur Pemerintah Daerah sebagai eksekutor pembangunan tentang pentingnya data dan informasi dalam proses perencanaan. Kedua, perlu adanya manajemen database yang terintegrasi antara institusi yang ada dan membentuk satu pangkalan data sebagai pusat data daerah. Kemudian setiap SKPD di daerah harus secara teratur men-suply data dan informasi teknis ke pangkalan data daerah; Ketiga, untuk dapat melaksanakan dua langkah diatas, perlu adanya dukungan regulasi dan sumber daya manusia sehingga dapat diimplementasikan di daerah. Untuk menjawab semua permasalahan dan kebutuhan akan pengelolaan data maka perlu diusulkan sistem One Data Mapping Tabel 4.4. MAPPING ISU STRATEGIS SEKTOR BASIS & REKOMENDASI KEBIJAKAN BERDASARKAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLORA NOMOR 7 TAHUN 2021 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN BLORA TAHUN 2021 - 2026 SEKTOR BASIS ISU STRATEGIS REKOMENDASI PROGRAM/KEBIJAKAN Jasa Keuangan dan Asuransi Monitoring Financial Reports dan Sustainable Report (Output Pengelolaan Dana, Sponsorship & Program CSR Lembaga Keuangan 1. Bridging Program CSR Bidang Pendidikan (Beasiswa Putra Daerah, Program Magang kerjasama dengan Career Development Center Sekolah)
dapat diintegrasikan dengan RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) 2021- 2026 2. Bridging Program CSR Bidang Lingkungan (Program Penyediaan Air Bersih, Sanitasi & 3R) 3. Bridging Program CSR Bidang Kewirausahaan (Pelatihan UMKM) baik dengan nasabah/non nasabah. Program CSR Pengelola Dana Pensiun untuk Program Kewirausahaan Menuju Purnabakti 4. Bridging CSR Bidang Ketenagakerjaan (Berpartisipasi aktif dalam Jobfair) Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jamsos 1. Setiap SKPD mengembangkan sistem data nya sendiri sendiri, sehingga terdapat basis data yang beragam. 2. Kurangnya koordinasi dan sinkronisasi data yang ada pada berbagai institusi, sehingga data-data yang seharusnya saling berhubungan banyak terpisah-pisah dan sulit untuk diakses. 3. Data tidak akurat dan berbeda (tidak konsisten) yang menimbulkan kebingungan dan keraguan akan validitas data tersebut sehingga menyulitkan didalam penyusunan rencana pembangunan. 4. Data dan informasi tidak diupdate secara teratur. 5. Masih kurangnya sumber daya manusia, tenaga ahli dalam pengelolaan data dan informasi. 6. Metodologi dan mekanisme pengumpulan data yang belum terstruktur dengan baik. 7. Sering tidak independen didalam mengumpulkan data dan analisisnya. 8. Validitas alat ukur sering diabaikan. 1. Perencanaan pembangunan yang berkualitas dan pengendalian pembangunan yang efektif, melalui pengelolaan data pembangunan Kabupaten Blora yang akurat, mutakhir, terintegrasi, lengkap, akuntabel, dinamis, handal, sahih, mudah diakses dan berkelanjutan. 2. Program satu basis data pembangunan yang akurat, terpusat dan terintegrasi; 3. Program analisis kebijakan pembangunan yang tepat, aktual, bermutu dan akuntabel bagi Pemda Blora dan pemangku kepentingan; 4. Program perencanaan pembangunan secara terukur dan komprehensif; 5. mewujudkan pengendalian, monitoring, evaluasi dan pelaporan pembangunan yang terpercaya. 6. Program One Map satu referensi peta dasar yang sama pada skala tertentu. 7. Program kelembagaan daerah dalam suatu sistem jaringan dengan basis data spasial yang terstruktur serta terintegrasi untuk mengurangi adanya duplikasi informasi maupun kegiatan sehingga terbentuk data yang seragam dan standar, serta terhindar dari keraguan dalam pemanfaatan data spasial. 8. Peningkatan kualitas program kegiatan sehingga efektif dalam optimalisasi pemanfaatan potensi sumberdaya alam dan pembangunan daerah
Real Estate a. Rendahnya kualitas jalan. Hal ini terlihat dari persentase jalan kondisi baik tahun 2020 sebesar 22,29%. b. Minimnya investor real estate yang berminat berinvestasi di Kabupaten Blora c. Kondisi drainase banyak yang rusak dan banyaknya sungai yang perlu penanganan untuk mengendalikan banjir, terlihat dari panjang saluran drainase dalam kondisi baik hanya 580 km. d. Belum optimalnya cakupan pelayanan air minum, terlihat dari persentase jumlah rumah tangga yang mendapatkan akses terhadap air minum melalui SPAM jaringan perpipaan dan bukan jaringan perpipaan terlindungi terhadap rumah tangga di seluruh kabupaten/kota 89% pada tahun 2020. e. Belum optimalnya cakupan pelayanan sanitasi, terlihat dari cakupan pelayanan sanitasi yang capaiannya baru mencapai 96% pada tahun 2020. f. Belum optimalnya perencanaan tata ruang, terlihat dari Perda RDTR belum ditetapkan karena baru ditetapkannya revisi RTRW pada tahun 2021. g. Belum optimalnya penyelenggaraan bangunan gedung, penataan bangunan dan lingkungannya. 1. Program Assessment & Approaching Investor untuk membuka Kawasan Wisata berskala besar didukung dengan optimalisasi dan revitalisasi infrastruktur Pendukung. 2. Meningkatkan kualitas infrastruktur jalan, jembatan, drainase, irigasi melalui pembangunan dan rehabilitasi, serta pengalihan status jalan 3. Penyediaan Akses Perumahan dan Permukiman Layak, Aman dan Terjangkau 4. Program Birokrasi dan Pelayanan Perizinan yang lebih praktis dan transparan
Perdagangan Besar dan Eceran Masih banyaknya Usaha Mikro dan Kecil belum berbadan hukum, terlihat dari persentase UMK yang telah berbadan hukum baru mencapai sebesar 32,54% pada 2020. Belum optimalnya realisasi investasi berskala nasional (PMA dan PMDN), terlihat dari nilai realisasi investasi 6,9 Trilyun rupiah pada tahun 2020 dan nilai realisasi investasi PMA 9 trilyun rupiah. Kurangnya promosi peluang penanaman modal, penyediaan informasi peluang usaha sektor/bidang usaha unggulan, dan fasilitasi pemerintah daerah dalam rangka kerjasama kemitraan. Hal ini terlihat dari terselenggaranya bimbingan pelaksanaan kegiatan penanaman modal kepada masyarakat dunia usaha pada tahun 2020 tingkat kabupaten 3 kali.Menurunnya nilai ekspor bersih, terlihat dari nilai ekspor bersih tahun 2020 sebesar 2.622.492US$ dari tahun 2018 sebesar 3.856.673 US$. Masih terbatasnya lokasi PKL yang tertata, terlihat dari persentase lokasi PKL yang tertata 54,54%% pada tahun 2020. 1) Mendampingi dan fasilitasi industri rumah tangga, UKM dan WUMKM 2) Pembangunan Sentra UKM dan UMKM 3) Membentuk lapak perdagangan online (market place) 4) Membentuk inkubasi bisnis dan start up ekonomi kreatif 5) Mendorong & mendukung Industri kreatif untuk melakukan pameran diberbagai daerah 6) Optimalkan Peranserta Dekranasda sebagai Agen Representatif Produk Kerajinan Daerah di kancah Nasional maupun Internasional Jasa Pendidikan APK PAUD masih cukup rendah bila dibandingkan dengan target SDGs yang harus mencapai 100% pada tahun 2030. APK PAUD usia 3-6 tahun 2020 sebesar 80,00%. b. APM SD/MI belum mencapai 100% sebagaimana diamanatkan dalam SDGs, APM SD/MI pada tahun 2020 sebesar 95,20%. c. APM SMP/MTs belum mencapai 100% sebagaimana diamanatkan dalam SDGs, APM SMP/MTs pada tahun 2020 sebesar 80,01%. d. Masih adanya anak putus sekolah pada jenjang SD/MI dan SMP/MTs. Pada tahun 2020 Angka Putus Sekolah untuk jenjang Pendidikan SD/MI sebesar 0,04% dan untuk SMP sebesar 0,09%. e. Belum semua guru pada jenjang Pendidikan PUAD, SD dan SMP memenuhi kualifikasi S1/D IV. Pada tahun 2020 Guru PAUD berkualifikasi S1/D IV sebesar 82% Meningkatkan partisipasi pendidikan dalam rangka pemenuhan SPM, dan meningkatkan kualitas pengelolaan pendidikan melalui: a. pengembangan pendidikan karakter dan peningkatan ekosistem Pendidikan; b. peningkatan motivasi belajar dan pemberian bantuan beasiswa bagi peserta didik agar tidak putus sekolah; c. pembangunan dan rehabilitasi sarana dan prasarana sekolah, pengadaan buku ajar, dan pengembangan kapasitas sekolah; d. peningkatan kesejahteraan, kualifikasi dan pemerataan guru sesuai dengan kebutuhan. e. Mendorong dan mendukung lahirnya perguruan tinggi di Blora yang berstatus institut atau universitas
Guru SD/MI sebesar 92% dan Guru SMP/MTs sebesar 98%. f. Sampai dengan tahun 2020 pemenuhan Standar Pelayanan Minimal bidang Pendidikan belum mencapai 100%. Hal ini terlihat dari Persentase Warga Negara Usia 5-6 Tahun yang berpartisipasi dalam pendidikan PAUD sebesar 56,24%; Persentase Warga Negara Usia 7- 15 Tahun yang berpartisipasi dalam pendidikan dasar (SD/MI, SMP/MTs) sebesar 91,71%; dan persentase Warga Negara Usia 7–18 Tahun yang belum menyelesaikan pendidikan dasar dan atau menengah yang berpartisipasi dalam pendidikan kesataraan sebesar 10,99%. Konsep PDRB Hijau memberikan peluang kepada daerah yang memiliki sumber daya alam melimpah untuk terciptanya suatu tata pengelolaan pemerintahan yang lebih adil, khususnya dalam hal hubungan keuangan dan pemanfaatan sumber daya alam, dengan pemerintah pusat maupun dengan daerah lainnya. Penerapan PDRB Hijau akan mendorong tata kelola pemerintahan daerah yang berpihak kepada prinsip-prinsip konservasi dan pembangunan berkelanjutan, yang dapat dilakukan oleh daerah yang memiliki potensi sumber daya alam yang besar namun pemanfaatannya secara ekonomis beresiko besar terhadap fungsi ekologis. Salah satu bentuk dalam penyajian indikator pembangunan yang sesuai dengan prinsip pembangunan berwawasan lingkungan adalah konsep Produk Domestik Regional Bruto Hijau (PDRB Hijau). Indikator lebih komprehensif terangkum dalam System Of Environmental Economic Accounting (SEEA), yang didalamnya juga termuat PDRB Hijau. Implementasi SEEA di Indonesia dalam bentuk Sistem Neraca Lingkungan. Dengan diterapkannya konsep PDRB Hijau diharapkan mampu mendorong adanya pembagian manfaat yang lebih berimbang antara pusat dan daerah serta dapat menggerakkan partisipasi aktif masyarakat
dalam pembangunan. Untuk Kalimantan Timur kita telah menetapkan konsep PDRB hijau dalam RPJMD 2014 -2018 melalui indikator intensitas emisi yang akan melihat berapa besar emisi CO2 (ton) per juta US$ PDRB yang dihasilkan.
BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN 5.1. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis Korelasi, terdapat lima sektor yang menjadi sektor basis di Kabupaten Blora, sektor Jasa Keuangan dan Asuransi, sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jamsos, Real Estate dan Perdagangan Besar dan Eceran serta Jasa Pendidikan. Sektor Jasa Keuangan dan Asuransi memiliki tingkat keeratan atau korelasi sebesar 97,18% dengan rentang waktu 10 tahun. Koefisien korelasi tersebut bernilai positif, artinya peningkatan pada Jasa Keuangan dan Asuransi akan diikuti dengan peningkatan PDRB. Terdapat hubungan signifikan antara Jasa Keuangan dan Asuransi dengan PDRB, ditandai dengan nilai sig(2- tailed) sebesar 0,00000269. Hubungan paling besar kedua yang memiliki keeratan atau korelasi adalah Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib dengan PDRB, dilihat dari angka korelasi sebesar yaitu 0,970 atau 97,05%. Koefisien korelasi tersebut bernilai positif, artinya peningkatan pada Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial akan diikuti dengan peningkatan PDRB. Terdapat hubungan signifikan antara Jasa Keuangan dan Asuransi dengan PDRB, ditandai dengan nilai sig(2-tailed) sebesar 0,00000322. Hubungan paling besar ketiga yang memiliki keeratan atau korelasi adalah Real Estat dengan PDRB, dilihat dari angka korelasi sebesar yaitu 0,959 atau 95,91 %. Koefisien korelasi tersebut bernilai positif, artinya peningkatan pada Real Estat akan diikuti dengan peningkatan PDRB. Terdapat hubungan signifikan antara Real Estat dengan PDRB, ditandai dengan nilai sig(2-tailed) sebesar 0,0000116. Hubungan paling besar selanjutnya yang memiliki keeratan atau korelasi adalah Perdagangan Besar
dan Eceran dengan PDRB, dilihat dari angka korelasi sebesar yaitu 0,957 atau 95,73%. Koefisien korelasi tersebut bernilai positif, artinya peningkatan pada Perdagangan Besar dan Eceran akan diikuti dengan peningkatan PDRB. Terdapat hubungan signifikan antara Perdagangan Besar dan Eceran dengan PDRB, ditandai dengan nilai sig(2-tailed) sebesar 0,0000138. Merujuk pada dokumen RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Kabupaten Blora tahun 2020 – 2024 dan Sustainable Development Goals (SDGs), dimana target-target dari 17 tujuan (goals) dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) maka tema besar yang perlu direkomendasikan pada hasil penelitian ini adalah penerapan konsep Green Economic Development yang dimanifestasikan pada implementasi Green PDRB pada 5 Sektor Basis Jasa Keuangan dan Asuransi, sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jamsos, Real Estate dan Perdagangan Besar dan Eceran serta Jasa Pendidikan (Pada Data Tabal 4.3 tanpa Tahun Anomali) yang dipaparkan pada Tabel 4.4.. Saran 1. Bagi pemerintah, dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pengoptimalan pembangunan wilayah pemerintah perlu merumuskan strategi yang terintegrasi dalam rangka pengoptimalan pembangunan sektoral dan regional dengan memperhatikan sektor basis dan potensial yang nantinya akan diperoleh kebijakan pembangunan sesuai kondisi dan potensi tiap sektor. 2. Diperlukan Factual Action Plan dari pemerintah daerah Kabupaten Blora agar pertumbuhan sektor basis dengan konsep Green Economic Development berdampak besar terhadap laju penyerapan tenaga kerja pada sektor tersebut,
antara lain melalui program approachment Investor, Bridging Program, Program peningkatan kualitas SDM angkatan kerja yang sesuai dengan permintaan pasar kerja, Pendampingan UMKM yang lebih terarah dan tepat guna, peningkatan daya tarik lapangan usaha bagi angkatan kerja dan Peningkatan mutu Pendidikan. 5.2. IMPLIKASI KEBIJAKAN • Berdasarkan hasil analisis Korelasi, terdapat lima sektor yang menjadi sektor basis yang sustainable di Kabupaten Blora yaitu; sektor Jasa Keuangan dan Asuransi, sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jamsos, Real Estate dan Perdagangan Besar dan Eceran serta Jasa Pendidikan sehingga Pemerintah Daerah dapat memfokuskan prioritas kebijakan Pada lima sektor tersebut dengan konsep Green Economic Development . • Berdasarkan Mapping isu strategis pada Tabel 4.4. (MAPPING ISU STRATEGIS SEKTOR BASIS & REKOMENDASI KEBIJAKAN BERDASARKAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLORA NOMOR 7 TAHUN 2021 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN BLORA TAHUN 2021 – 2026) dapat diformulasikan beberapa Implikasi Kebijakan sebagai pertimbangan untuk mengintervensi kemajuan lima sektor tersebut. • Sektor Jasa Keuangan dan Asuransi Mapping & Bridging Program CSR dengan Lembaga Keuangan terdata baik di Pusat maupun di Kabupaten Blora merujuk pada Financial Reports dan Sustainable Report (Output Pengelolaan Dana, Sponsorship & Program CSR Lembaga Keuangan yang dapat diintegrasikan dengan
RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) 2021- 2026 Kabupaten Blora. • Sektor Administrasi Pemerintahan Pertahanan dan Jamsos Evaluasi, Update dan optimalisasi Program Satu Data yang telah di launching serta sosialisasi aplikasi Program Satu Data kepada masyarakat dan stakeholders. • Sektor Real Estate Penyediaan Akses Jalan Aspal bagi Investor/Developer Perumahan yang ingin berinvestasi di Kabupaten Blora • Sektor Perdagangan Besar dan Eceran Optimalisasi Implementasi Digital Marketing & Peningkatan Peranserta Dekranasda sebagai Agen Representatif Produk Kerajinan Daerah Blora di kancah Nasional maupun Internasional dengan penguatan networking Bersama Gekraf, IKRA maupun aktif dalam event-event Pemasaran produk di tingkat regional, nasional maupun Internasional. • Sektor Jasa Pendidikan Mendorong dan mendukung lahirnya perguruan tinggi di Blora yang berstatus Institut atau Universitas
DAFTAR PUSTAKA Adisasmita, Rahardjo. 2005. Dasar-Dasar Ekonomi Wilayah. Yogyakarta: Graha Ilmu. Arsyad, Lincolin. 1999. Ekonomi Pembangunan. Edisi IV, BPFE Yogyakarta. Badan Pusat Statistik Kabupaten Blora. (2022). Kabupaten Blora Dalam Angka 2022. Blora: BPS Kab. Blora. Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah. (2022). PROVINSI JAWA TENGAH DALAM ANGKA 2022. Semarang: BPS Jawa Tengah. Dwiyanto, K., Priyanti, A., & Inounu, I. (2005). Prospek dan arah pengembangan komoditas peternakan: unggas, sapi, dan kambing- domba. JURNAL WARTAZOA, 05(01), 11-25. Firmanto, B. H. (2011). Sukses Bertanam Terung Secara Organik. Bandung: Angkasa. Handono, S. T., Hendarto, K., & Kamal, M. (2013). Pola Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Cabai Merah Keriting (Capsicum annuum L.) Akibat Aplikasi Kalium Nitrat Pada Daerah Dataran Rendah. Jurnal Agrotek Tropika, 140-146.
Harnowo, D., Antarliana, & Mahagyosuko, H. (1994). Pengolahan ubi jalar guna mendukung diversifikasi pangan dan agroindustri. Risalah Seminar Penerapan Teknologi Produksi dan Pascapanen Ubi Jalar Mendukung Agroindustri, 123- 129. Hastuti, D., Subantoro, R., & Ismail, M. (2018). Pengaruh Karakteristik Sosial Ekonomi dan Jumlah Pakan Terhadap Pendapatan Peternak Sapi Perah Rakyat . AGRONOMIKA, 12(2), 1-8. Johnson, L. A., White, P. J., & Galloway, R. (2008). Soybeans : chemistry, production, processing, and utilization (1 ed.). Urbana: AOCS Press. Kemal, N. N., Karim, A., & Asmawati,, S. (2012). Analisis Kandungan β- karoten dan Vitamin C dari berbagai Varietas Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.). Jurnal Indonesia Chimia Acta, 1-5. Kementerian Dalam Negeri. (2014). Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pengembangan Produk Unggulan Daerah. Jakarta: Kementerian Dalam Negeri. Makatita, J. (2021). Pengaruh Karakteristik Peternak Terhadap Perilaku Dalam Usaha Peternakan Sapi Potong di Kabupaten Buru. Jago Tolis : Jurnal Agrokompleks Tolis, 01(02), 51-54.
Mawardi, I. (1997). Daya Saing Indonesia Timur Indonesia dan Pengembangan Ekonomi Terpadu. Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial, Jakarta. Peraturan Daerah No.7 Tahun 2021 Tentang RPJMD Blora 2021-2026 Saragih, W. C. (2008). Respon Pertumbuhan Dan Produksi Tomat Terhadap Pemberian Pupuk Phospat Dan Bahan Organik. Jakarta: Universitas Jakarta Utara. Sirojuzilam. 2005. Beberapa Aspek Pembangunan Regional. Bandung: ISEI Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D (1 ed.).Bandung: Alfabeta. Tarigan, R. 2007. Ekonomi Regional: Teori dan Aplikasi. Edisi Revisi. Bumi Aksara, Jakarta. Wilastinova, R. F. (2012). Analisis Pengaruh Faktor-Faktor Produksi Usahatani Semangka (Citrullus Vulgaris) Pada Lahan Pasir Di Pantai Kabupaten Kulon Progo. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Munir, Riswan dan Fitanto, Bahtiar. 2005. Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif: Masalah, Kebijakan dan Panduan Pelaksanaan Kegiatan. Jakarta: Local Governance Support Program (LGSP). Todaro. (2003). Pembangunan Ekonomi, Edisi 8, alih bahasa Haris Munandar. Erlangga, Jakarta.