The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by AL EL BAPER (Almari Elektronik Badan Perencanaan), 2026-02-01 21:26:46

RANCANG BANGUN MODEL SUMUR AIR BERSIH DI KABUPATEN BLORA

Laporan Akhir Penyediaan Air Bersih Sumur 2025

43Prinsip Hidrogeologi adalah Radius Pengaruh dan Interferensi Sumur. Dalam sistem air tanah, setiap sumur memiliki radius pengaruh (radius of influence), yaitu zona di mana muka air tanah terpengaruh oleh aktivitas aliran masuk atau keluar dari sumur. Apabila beberapa sumur ditempatkan terlalu berdekatan, maka zona pengaruh tersebut akan saling tumpang tindih, menimbulkan fenomena interferensi antar sumur (well interference). Interferensisendiri menyebabkan Penurunan efisiensi imbuhan per sumur, Aliran air menjadi tidak optimal, Debit efektif yang diterima sumur utama tidak sebanding dengan jumlah sumur pendukung. Dari Kajian hidrogeologi menunjukkan bahwa jarak yang terlalu dekat (<2 meter) pada sumur berdiameter besar (≥80 cm) berpotensi memperbesar interferensi, karenalintasan aliran lateral air dalam tanah menjadi sangat pendek dan belum sempat mengalami distribusi merata di akuifer. Oleh karena itu, jarak minimal 2 meter dibutuhkan untuk memberi ruang terbentuknya zona aliran yang stabil di sekitar masing-masing sumur pendukung.Salah satu fungsi penting sumur pendukung adalah memberikan lintasan filtrasi alamisebelum air mencapai sumur utama. Tanah berperan sebagai media penyaring partikel,pereduksi bakteri, penstabil kualitas air. Jika jarak sumur terlalu dekat (<2 meter), maka lintasan filtrasi menjadi sangat pendek dan berisiko terjadi short-circuit flow, yaitu air mengalir terlalu cepat dari sumur pendukung ke sumur utama tanpa proses penyaringan alami yang memadai. Berbagai pedoman teknis konservasi air tanah menyebutkan bahwalintasan horizontal beberapa meter dibutuhkan agar proses filtrasi alami berlangsung efektif. Pada jarak 2–3 meter, air masih memiliki cukup ruang untuk berinteraksi dengan matriks tanah sebelum masuk ke sumur utama.Dari sudut pandang teknik sipil, penempatan sumur dengan diameter besar secara terlalu rapat dapat melemahkan daya dukung tanah di antaranya, meningkatkan risiko runtuhan


44dinding galian, dan Menyulitkan pekerjaan konstruksi dan pemeliharaan. Dengan diameter sumur utama ±100 cm dan sumur imbuhan ±80 cm, jarak pusat ke pusat sebesar 2–3 metermenghasilkan jarak bersih antar dinding sumur yang masih aman untuk menjaga stabilitas tanah, menghindari keruntuhan, memberi ruang kerja konstruksi yang layak. Jarak ini dianggap sebagai zona aman konstruktif, terutama pada tanah lempung, aluvial, atau sedimen kapur seperti yang banyak dijumpai di Kabupaten Blora.Pada sistem sumur pendukung yang terhubung dengan sumur utama yang memanfaatkan aliran gravitasi, efisiensi tidak hanya ditentukan oleh jarak, tetapi juga oleh perbedaan elevasi muka air,panjang pipa, kehilangan energi (head loss). Jarak 2–3 meter masih tergolong jarak pendek secara hidraulik, sehingga kehilangan energi aliran sangat kecil, aliran gravitasi tetap efektif, tidak diperlukan pompa tambahan. Sebaliknya, jarak yang terlalu jauh (>5 meter) akan meningkatkan panjang pipa, biaya konstruksi, dan potensi sedimentasi di dalam pipa, tanpa peningkatan manfaat imbuhan yang signifikan.


45BAB V KESIMPULAN DAN SARAN4.1. KesimpulanPerancangan sumur gali dengan modifikasi sumur pendukung ini sebagai usaha untuk menambah volume cadangan air didalam tanah, sehingga dapat menampung air untuk dapat digunakan sebagai sumber air baku air bersih masyarakat.1. Sumur utama dibangun diameter dalam sumur 80 cm dengan kedalaman muka air 2 m dari dasar sumur, perkiraan volume air yang dapat diambil adalah 1,0048 m3atau sekitar 1.004 liter.2. Sumur Pendukung dibangun dengan diameter dalam 80 cm dengan kedalaman 1m meter kurang dari sumur utama dengan maksud agar air dari sumur pendukung dapat mengalir secara gravitasi ke sumur utama. Sumur pendukung dibuat mengelilngi sumur utama dengan kedalaman muka air 1 meter dari dasar sumur, perkiraan volume yang dapat diambil untuk satu sumur pendukung adalah 0,5024 m3atau 502,4 liter. Jumlah sumur pendukung rencana 8 buah sehingga volme sumur pendukung total adalah 8 x adalah 0,5024 m3 = 4,0192 m3 atau sama dengan 4.019 liter. 3. Total volume sumur yaitu sumur utama sebesar 1,0048 m3atau 1.004 liter ditambah sumur pendukung 4,0192 m3 atau 4.019 liter menjadi 5.024 m3atau 5.024 liter. Setelah diketahui volume air yang ada di sumur dapat diperkirakan kapasitas pelayanan sumur yaitu mampu melayani 83 orang atau 20 Keluarga. Dengan asumsi perkiraan kebutuhan air bersih 60 liter/orang/hari.4. Berdasarkan prinsip Hidrogeologi (radius pengaruh & interferensi), Filtrasi alami tanah,Stabilitas konstruksi, Efisiensi aliran gravitasi, maka jarak 2–3 meter antara sumur pendukung dan sumur utama dapat dinyatakan sebagai jarak optimum secara teoritis dan praktis. Dikarenakan Jarak tersebut cukup dekat untuk menjaga koneksi hidraulik


46yang kuat, cukup jauh untuk mencegah interferensi dan short-circuit, aman secara konstruksi, efisien secara biaya dan operasional.5. Sistem sumur utama yang dihubungkan dengan sumur pendukung merupakan solusi teknis yang efektif untuk meningkatkan ketersediaan air bersih, khususnya di wilayah yang selama ini bergantung pada sumur dangkal dengan debit tidak stabil.6. Konfigurasi satu sumur utama dengan delapan sumur pendukung terbukti secara teknis mampu memperluas area resapan, mempercepat pengisian akuifer dangkal, dan meningkatkan kontinuitas debit air pada sumur utama.4.2. Saran1. Perencanaan rancang bangun model sumur air bersih yang dimodifikasi ini harus tetap memperhatikan kondisi lingkungan sekitar sumur, sehingga akan diperoleh sumur yang aman dan terlindungi dari kontaminasi pencemar.2. Kapasitas sumur sumber air sangat tergantung dari muka ait tanah yang ada, kedalaman muka air tanah diusahakan 3 meter dari dasar sumur untuk mendapat air yang cukup untuk melayani air bersih penduduk.3. Sumur pendukung perlu dilengkapi dengan lapisan dasar berpori (kerikil/pasir),perforasi dinding yang terkontrol, dan sistem penyaring awal untuk menjaga kualitas air. Serta Perlu dibangun sumur pantau untuk memantau fluktuasi muka air tanah dan mengevaluasi kinerja sistem secara berkala.4. Pengelolaan sistem sumur utama dan imbuhan disarankan melibatkan pemerintah desa,kelompok pengelola air (KPSPAMS/KSM), serta pendamping teknis dari OPD terkait.5. Diperlukan standar operasional pemeliharaan (SOP), meliputi pemeriksaan sumur dan pipa konektor, pengendalian sedimentasi, serta monitoring kualitas air.


476. Pemerintah Kabupaten Blora disarankan menjadikan model sumur utama dan pendukung sebagai alternatif teknis penguatan Pamsimas, atau solusi air bersih desa rawan kekeringan.7. Model ini dapat dikembangkan sebagai pilot project inovasi daerah, yang selanjutnya direplikasi pada desa-desa lain dengan karakteristik permasalahan air bersih yang serupa.8. Diperlukan integrasi program ini dengan perencanaan pembangunan daerah (RPJMD),program ketahanan air dan adaptasi perubahan iklim, serta kolaborasi riset dengan perguruan tinggi/BRIN.


48Daftar PustakaAdi, H. P. (2011). Kondisi dan Konsep Penanggulangan Kekeringan di Jawa Tengah. Semarang: UNISSULA.bpbd.jatengprov.go.id. (2023). Dipetik 9 2, 2025, dari https://bpbd.jatengprov.go.id/: https://bpbd.jatengprov.go.id/main/droping-air-menyelamatkan-masyarakat-di-tengahkekeringan-di-kabupaten-blora/BPS Blora. (2025). Kabupaten Blora Dalam Angka. Blora: BPS Kabupaten Blora.Departemen Pekerjaan Umum. (2007). Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 18/PRT/M/2007 Tentang Penyelenggaraan Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum.Jakarta: Departemen Pekerjaan Umum.DINRUMKIMHUB. (2021). Review Dokumen Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RISPAM} KABUPATEN BLORA 2014-2028. BLORA: DINRUMKOMHUB.Effendi, H. (2003). Telaah Kualitas Air. Yogyakarta: Kanisius.Hendayana, H. (1994). Metode Resistivity Untuk Eksplorasi Air Tanah. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.Hendratta, L. A., & Tangkudung, H. (2021). Rekayasa Sumber Daya Air. BANDUNG: CV. PATRA MEDIA GRAFINDO.Joko, T. (2010). Unit Air Baku dalam Sistem Penyediaan Air Minum. Yogyakarta: Graha Ilmu.Kemendagri. (2020). Permendagri Nomor 21 tahun 2020. Jakarta: Kemendagri.Kemenkes. (1990). Peraturan Menteri Kesehatan No 416 Tahun 1990 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air. Jakarta: Kemenkes.Kementerian PUPR. (2022). SE DJCK NO.45/SE/DC/2022 Tentang PETUNJUK TEKNIS KEBIJAKAN, PERENCANAAN DAN PERNCANGAN PENYELENGGARAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM. JAKARTA: Kementerian PUPR.Kementerin PUPR. (2016). Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI Nomor 27/PRT/M/2016 Tentang Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum. Jakarta: Kementerian PUPR.PP No. 16. (2005). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum. Jakarta: Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia.PP No. 30. (2024). Peraturan Pemerintah No. 30 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air. Jakarta: Pemerintah RI.Prastistho, B., Pratiknyo, P., & Rondhi, A. (2018). Hubungan Struktur Geologi dan Sistem Air Tanah. Yogyakarta: LPM UPN \"VETERAN\" PRESS.Riza Oktavianus. (2024). RENCANA TEKNOKRATIK PETA JALAN INDUK Air Minum Aman Indonesia. Jakarta: Bappenas.


49Setiawan, C., Adiputra, A., A\"Rachman, F. R., & Hardi., O. S. (2023). AIR TANAH Sebagai Aspek Penting Bagi Kelangsungan Hidup. Jakarta: UNJ Press.SNI 19-6728.1. (2002). SNI 19-6728.1-2002 Tentang Penyusunan neraca sumber daya- Bagian 1: Sumber daya air spasial. Bandung: Badan Standarisasi Nasional.Sutrisno, T. (2002). Penyediaan Air Bersih. Yogyakarta: Rineka Cipta.


50Lampiran


51


52


53


54


55


56


Click to View FlipBook Version