RESUME MATERI & HASIL DISKUSI
Dosen Pengampuh : Siti Choirul Dwi Astuti, M. Tr. Keb
Keterampilan Klinik Praktik Kebidanan
(Resusitasi & Langkah Resusitasi )
Nama : Ria Kamelia Olii
Nim : 751540120026
Prodi : D-III Kebidanan
Jurusan : Kebidanan
POLTEKKES KEMENKES GORONTALO
2021
MATERI KELOMPOK 3 (RESUSITASI)
A. SESI TANYA JAWAB
Pertanyaan Kelompok 3
Dari Kel. 1
1) Penanya : Falniyanti Hamzah (Kelompok 1)
Pertanyaan : Asuhan pasca resusitasi itu adalah pelayanan kesehatan
pasca resusitasi yang berupa pemantauan, asuhan BBL dan
konseling. Nah pertanyaan saya bagaimana tahap konseling
jika resusitasi belum/kurang berhasil pada bayi?
Penjawab : Melanda Sukmawati S. lihu
Jawaban :
a. Jelaskan kepada ibu dan keluarga, bahwa bayinya
memerlukan rujukan. Sebaiknya bayi dirujuk bersama
dengan ibunya dan didampingi oleh bidan. Jawab setiap
pertanyaan yang diajukan.
b. Minta keluarga untuk menyiapkan sarana transfortasi
secepatnya. Suami atau salah seorang anggota keluarga
perlu menemani selama rujukan.
c. Beritahu kepada tempat rujukan yang dituju (jika mungkin)
tentang keadaan bayi dan perkiraan waktu tiba beritahukan
juga bahwa ibu baru saja melahirkan.
d. Bawa alat resusitasi dan perlengkapan lain yang diperlukan.
Dari Kel. 2
2) Penanya : Eka Pratiwi Teha (Kelompok 2)
Pertanyaan : Apakah kondisi ibu juga beresiko menyebabkan masalah
pada bayi sehingga bayi memerlukan resusitasi?
Penjawab : Anisa Fajri Ibrahim
Jawaban : Iya. Kondisi ibu juga beresiko untuk menyebabkan masalah
pada bayi, diantaranya kondisi ibu yang memiliki infeksi dan
penyakit tertentu, usia ibu di atas 40 atau di bawah 16 tahun,
masalah plasenta, seperti solusi plasenta atau plasenta
previa, memiliki kehamilan beresiko sebelumnya,
mengalami perdarahan berat selama kehamilan, ketuban
pecah dini, diabetes gestasiona.
Dari Kel. 4
3) Penanya : Nurhikma Purnama Putri Tuhala (Kelompok 4)
Pertanyaan : Jelaskan faktor yang menyebabkan bayi baru lahir mungkin
memerlukan Resusitasi?
Penjawab : Defina Adelia Triputri
Jawaban : Bayi baru lahir akan perlu mendapatkan resusitasi jika bayi
tampak tidak menangis, lemas, kurang responsif, sesak
napas, atau bahkan tidak bernapas. Disamping itu, ada
beberapa faktor lain yang menyebabkan bayi baru lahir
mungkin memerlukan resusitasi, di antaranya :
a. Bayi yang kondisinya dipengaruhi oleh gangguan kehamilan,
seperti terlilit tali pusar dan solusio plasenta.
b. Bayi yang lahir prematur, yaitu lahir sebelum usia kehamilan 37
minggu
c. Bayi lahir sungsang
d. Bayi kembar
e. Bayi lahir dengan gangguan pernapasan, misalnya akibat
aspirasi mekonium.
Dari Kel. 5
4) Penanya : Anisa Dunggio (Kelompok 5)
Pertanyaan : Seperti apa pencacatan yang menyebabkan bayi baru lahir
pada resusitasi berhasil?
Penjawab : Ananda Sugiyanto
Jawaban : Melakukan Pencatatan dan pelaporan kasus sebagaimana
pada setiap persalinan, istilah potograf secara lengkap yang
mencakup identitas ibu, riwayat kehamilan, jalannya
persalinan, kondisi ibu, kondisi janin, dan kondisi BBL.
Penting sekali dicatat denyut jantung janin, oleh karena
seringkali asfiksa bermula dari keadaan gawat janin pada
persalinan. Apabila didapatkan gawat janin tuliskan apa
yang dilakukan. Usahakan agar mencatat secara lengkap dan
jelas:
1. Nama ibu, tempat, tanggal melahirkan dan waktunya.
2. Kondisi janin/bayi:
a. Apakah ada gawat janin sebelumnya?
b. Apakah air ketuban bercampur meconium?
c. Apakah bayi menangis spontan, bernafas teratur, megap-
megap atau tidak bernafas?
d. Apakah tonus otot baik?
3. Waktu mulai resusitasi
4. Langkah resusitasi
5. Hasil resusitasi
Dari Kel. 6
5) Penanya : Asriwindari Kadir (Kelompok 6)
Pertanyaan : Sebutkan pemantauan tanda-tanda bahaya pada bayi yang
dimaksud resusitasi berhasil?
Penjawab : Jean Puluhulawa
Jawaban :
a. Tidak dapat menyusui
b. Kejang
c. Mengantuk atau tidak sadar
d. Nafas cepat (>60 per menit)
e. Merintih
f. Retraksi dinding dada bawah (Retraksi)
g. Sianosis sentral
B. RESUSITASI
1) PENGERTIAN RESUSITASI
Resusitasi merupakan suatu usaha dalam memberikan ventilasi yang
adekuat, pemberian oksigen dan curah jantung yang cukup untuk
menyalurkan oksigen ke otak, jantung dan alat-alat vital lainnya.
2) PERSIAPAN KELUARGA RESUSITASI
Sebelum melakukan tindakan resusitasi, penolong harusmelakukan
informed consent kepada keluarga, jelaskan pula kemungkinan -
kemungkinan yang dapat terjadi.
3) PERSIAPAN TEMPAT RESUSITASI
a) Persiapan yang diperlukan meliputi ruang bersalin dan tempat resusitasi
1. Gunakan ruangan yang hangat dan terang
2. Tempat resusitasi hendaknya datar, rata, keras, bersih, kering dan
hangat misalnya meja, didepan atau diatas lantai beralas tikar.
Sebaiknya dekat pemancar panas dan tidak berangin (jendela atau
pintu yang terbuka).
b) Keterangan
1. Ruangan yang hangat akan mencegah bayi hipotermi
2. Tempat resusitasi yang rata diperlukan untuk kemudahan
pengaturan posisi kepala bayi
3. Untuk sumber pemancar panas gunakan lampu 60 wall atau lampu
petromak, nyalakan lampu menjelang persalinan.
4) PERSIAPAN ALAT RESUSITASI
Sebelum menolong persalinan,selain partus set dan persiapan lain yang
mendukung persalinan,penolong juga harus menyiapkan peralatan
resusitasi.antara lain:
1. 2 helai kain atau handuk
2. Bahan ganjal bahu bayi dengan tinggi 5 cm dan dapat di sesuaikan
untuk mengatur posisi bayi,dapat digunakan dengan handuk
kecil,kain,selendang
3. alat penghisap lender Deket atau bola karet
4. tabung dan sungkup
5. kotak alat resusitasi
6. jam atau pencatat waktu
7. Resusitasi dapat di lalukan jika bayi mengalami asfiksia
5) ASUHAN PASCA RESUSITASI
Asuhan pasca resusitasi adalah pelayanan kesehatan pasca resusitasi yang
diberikan baik kepada BBL atau pun ibu dan keluarga. Pelayanan
kesehatan yang diberikan berupa pemantauan, asuhan BBL dan konseling.
Bicaralah dengan ibu dan keluarga bayi tentang resusitasi yang telah
dilakukan. Jawab setiap pertanyaan yang diajukan. Asuhan pasca
resusitasi diberikan sesuai dengan keadaan BBL setelah menerima
tindakan resusitasi dan dilakuakan pada keadaan:
1. Resusitasi berhasil: bayi menangis dan bernafas normal sesudah
langkah awal atau sesudah ventilasi.
2. Resusitasi belum/kurang berhasil: bayi perlu rujukan yaitu sesudah
2 menit belum bernafas atau megap-megap atau pada pemantauan
lanjutan didapatkan kondisinya memburuk
3. Bila bayi tidak bernapas setelah resusitasi selama 10 menit dari
denyut jantung 0, pertimbangkan untuk menghentikan resusitasi.
Biasanya bayi tersebut tidak tertolong dan meninggal.
C. PERSIAPAN RESUSITASI PADA BAYI
Persiapan resusitasi pada bayi
1. Alat
a. billing berfungsi untuk menghisap lendir ketika bayi
b. lampu sorot berfungsi untuk memberikan kehangatan pada bayi
c. handuk berfungsi untuk menghangatkan bayi
d. Kain berfungsi untuk mengganjal bagian punggung bayi
e. Handuk berfungsi untuk mengeringkan bayi
f. Bak instrumen berfungsi untuk meletakkan alat-alat resusitasi
g. APD
2. Tempat Resusitasi
a. Tidak berangin
b. Tidak berada di dekat pintu dan jendela
c. Meja datar untuk mempermudah tindakan ketika kita melakukan
ventilasi dan kompresi pada bayi
d. Lampu sorot dan meja resusitasi jaraknya 60 cm
D. TINDAKAN MELAKUKAN RESUSITASI PADA BAYI
1. Bagaimana cara menghangatkan bayi :
1) Selimuti bayi dengan kain
2) Lakukan penilaian
3) lakukan dan berikan bayi pada dada ibu untuk menjaga
kehangatannya
4) Mengintruksikan ibu untuk menyusui bayi sambil dibelai
5) Memakai pakaian
6) Jaga suhu ruangan agar tetap hangat
2. Bagaimana cara mengatur posisi bayi :
1) Atur posisi kepala bayi dekat dengan penolong
2) Ganjal bahu menggunakan handuk setinggi 5 cm agar kepala
bayi ekstensi
3. Bagaimana cara menghisap lender :
1) Memasukkan ujung penghisap kedalam fulus bayi
2) Kemudian menghisap dan masukan 5 cm ke dalam mulut
3) Kemudian dihisap secara bersamaan
4) kemudian memasukkan ujung penghisap kedalam hidung
dengan sedalam 3 cm dan dilakukan dengan cara yang sama
dihisap secara bersamaan dengan ujung penghisap.
Mengapa kita memasukkan alat penghisap 5 cm di mulut dan 3 cm
di hidung karena kalau lebih dari 5 dan 3 cm itu akan menyebabkan
denyut jantung bayi melambat dan akan terjadinya henti napas pada
bayi.
4. Bagaimana cara mengeringkan bayi pada resusitasi :
1) Memulai mengeringkan bayi dari wajah kepala dan bagian
tubuh lainnya
2) kemudian ditekan secara perlahan-lahan atau sedikit demi
sedikit tujuannya agar dapat membuat pernapasan bayi lebih
baik.
3) Ambil handuk dan keringkan mulai dari wajah kepala dan
bagian tubuh lainnya.
4) Kemudian mengganti kain yang telah basah dengan kain yang
kering dan bersih.
5. Langkah-langkah resusitasi dewasa :
a) Stabilitas Awal
Pendekatan kepada pasien dengan perdarahan gastrointestinal
pendekatan kepada pasien perdarahan sama seperti perdarahan pada
umumnya,yakni meliputi pemeriksaan awal ,resusitasi, diagnosis
,terapi. Tujuan pokoknya adalah mempertahankan stabilitas
hemodinamik ,menghentikan perdarahan,dan mencegah perdarahan
ulang.
1) Perhatikan kondisi sekitar (Danger)
Saat melihat korban yang tidak sadarkan diri seperti korban
serangan jantung, tersambar petir, atau korban kecelakaan,
penting melihat kondisi sekitar untuk memastikan keamanan
dalam menolong korban. "Perhatikan apakah kondisi sekitar
aman bagi korban, si penolong, dan orang lain yang berada di
sekitar. Hal ini penting agar si penolong tidak terkena bahaya
seperti sisa arus listrik dan lainnya," ucap Vani dalam pelatihan
tersebut.
2) Cek respon (Response)
Cek respon atau kesadaran dilakukan saat penolong memastikan
bahwa kondisi sekitar aman. Penilaian tingkat kesadaran korban
dapat dilakukan dalam empat tahap. Pertama, cek apakah
korban sadar? Apakah korban merespon dengan panggilan
suara? Apakah korban merespon apabila ada pemberian rasa
sakit, seperti ditepuk pundaknya. Jika tidak memberikan respon,
mintalah seseorang untuk menghubungi ambulan, mengambil
P3k dan Defibrilator Eksternal Otomatis (AED), jika ada. Selain
itu, cek apakah korban bernapas atau tidak. Jika tidak, korban
baru bisa mendapatkan penanganan CPR. Pengecekan napas
bisa dilakukan dengan melihat pergerakan dada.
b) Ventilasi Tekanan Positif
Berlutut di samping korban. Letakkan dua telapak tangan dengan
posisi saling bertumpu di tengah dada korban. Posisikan siku tegak
lurus di atas dada korban dengan posisi bahu sejajar tangan. Mulai
kompresi dada (menekan dada korban) dengan kedalaman 5 cm
(dewasa) secara cepat, kira-kira 120 kali per menit.
1) Jalan napas (Airway)
Setelah memberikan 30 kali kompresi dada, buka jalan napas
dengan menggunakan cara meletakkan satu tangan di dahi
korban dan tengadahkan kepala korban. Kemudian letakkan
ujung jari di bawah dagu korban, kemudian angkat dagunya.
Posisi ini akan mempertahankan jalan napas tetap terbuka.
2) Berikan bantuan napas (Breathing)
Berikan bantuan napas sebanyak dua kali. Setiap tiupan
dilakukan selama 1 detik dan terlihat dada terangkat.
c) Kompres Dada
RJP atau CPR adalah kombinasi tindakan kompresi dada dan
bantuan napas. Ketika jantung tidak bisa berdetak, kompresi dada
diperlukan untuk sirkulasi darah yang membawa oksigen. Agar
kompresi dada efektif, maka korban harus dalam posisi terlentang
pada permukaan rata dan keras. Langkah melakukan kompresi
dada dewasa yaitu dengan memberikan penekanan pada dada
sebanyak 30 kali penekanan dengan kedalaman 5 sampai 6 cm.
Lokasi penekanan berada pada pertengahan dada yaitu di bawah
tulang sternum. Kompresi dada adalah penekanan yang bertenaga
dan ritmis pada setengah bawah tulang dada. Kompresi ini
menyebabkan Aliran darah dengan cara meningkatkan tekanan
intratorakal dan penekanan langsung pada jantung. Kompresi dada
yang efektif memerlukan penekanan dengan kecepatan 100-120
kali per menit. Kompresi dada untuk meningkatkan keefektifan
kompresi dada, posisikan korban pada permukaan yang datar,
keras, dan rata dengan posisi terlentang dan penolong mengambil
posisi di sebelah dada korban. Kompresi di atas matras di atas
tempat tidur pasien dapat menyebabkan kompresi dada tidak
maksimal.
MATERI KELOMPOK 4 (LANGKAH RESUSITASI)
E. TANYA JAWAB
HASIL DISKUSI
1) Penanya : Sri Zein Hunggialo (kelompok 1)
Pertanyaan : Apa saja pertolongan pertama yang harus kita lakukan
sebagai masyarakat awam apabila mendapati korban yang
terkena henti jantung mendadak??
Penjawab : Ria Kamelia Olii
Jawabannya : RJP adalah tindakan pertolongan pertama pada korban
henti jantung dan henti napas. Tindakan RJP dapat dilakukan
oleh orang awam ketika tidak ada tenaga medis di sekitarnya.
Langkah-langkah untuk melakukannya adalah sebagai
berikut:
1. Periksa kesadaran korban
2. Panggil bantuan
3. Atur posisi korban
4. Atur posisi kepala korban
5. Periksa nadi pasien
6. Lakukan pompa jantung Selama 20 menit dan teruslah lakukan
tindakan tersebut sampai bantuan tenaga medis datang.
2) Penanya : Nopi Fujiastuti R. Daud (kelompok 2)
Pertanyaan : Apa paparan anda tadi menjelaskan pada stabilitas awal
bagian posisi pasien dimana posisi pasien pada saat
melakukan Resusitasi jantung dilakukan dalam keadaan
posisi telentang. Pertanyaan saya mengapa pada saat
melakukan Resusitasi jantung harus dilakukan dalam
keadaan telentang?
Penjawab : Fitri Patricia Duengo
Jawabanya : Posisi terbaik pasien yang akan menerima resusitasi jantung
paru adalah posisi telentang pada permukaan yang keras. Hal
ini memungkinkan kompresi yang efektif ke area sternum.
Berbaring terlentang adalah cara terbaik untuk menjaga
tulang belakang Anda tetap lurus dan menghindari tekanan
pada punggung bagian bawah, pinggul dan lutut,”dan juga
dapat meningkatkan jumlah darah kembali ke jantung dan
paru dari ekstremitas inferior.
3) Penanya : Ananda Sugiyanto (kelompok 3)
Pertanyaan :Jelaskan bagaimana tahapan pemeriksaan ABC Resusitasi?
Penjawab : Masna Usman Djafar
Jawabanya : 1. Airways
Untuk membuka saluran napas, letakkan satu tangan di dahi
pasien, dan dua jari tangan di bawah dagunya bentuk tangan
seperti pistol. Dengan lembut dongakkan kepalanya dengan
menekan dahi sambil sedikit mendorong dagu pasien
2. Breathing
Memeriksa ada tidaknya napas, dengarkan bunyi napasnya
atau rasai dengan pipi anda sampai 10 detik. Bila tak ada
tanda bernafas, mulailah pernapasan buatan.
3. Circulation
Untuk memeriksa peredaran darah, raba denyut nadi dengan
dua jari selama 10 detik. Untuk bayi rabalah denyut brakhial
di bagian dalam lengan. Untuk orang dewasa atau anak-anak,
raba denyut karotid di leher di rongga antara trakhea(saluran
udara)dengan otot besar leher. Periksa tanda-tanda lain
peredaran darah, misalnya kewajaran warna kulitnya. Bila
tak ada tanda-tanda peredaran darah, segera lakukan CPR.
4) Penanya : Siti Uswatun Khasanah Nggilu (Kelompok 5)
Pertanyaan : Mengapa kita perlu mempelajari tehnik resusitasi jantung
paru?
Penjawab : Sri Wahyuni Hasan
Jawabnya : Pengetahuan Resusitasi Jantung Paru Harus Menjadi Bekal
Tiap Orang. Resusitasi jantung paru (RJP) merupakan
langkah pertolongan medis untuk mengembalikan fungsi
napas dan atau sirkulasi darah di dalam tubuh yang terhenti.
Resusitasi jantung paru bertujuan menjaga darah dan
oksigen tetap beredar ke seluruh tubuh. Berikut manfaat kita
sebagai masyarakat ataupun tenaga kesehatan dalam
mempelajari teknik dari resusitasi jantung paru tersebut.
1. Mungkin bisa menyelamatkan seseorang dari kerusakan otak
Salah satu keuntungan kita bisa melakukan RJP adalah mampu
mengurangi risiko korban mengalami kerusakan otak. Hal ini sangat
mungkin terjadi sebab tindakan pertolongan pertama dengan RJP
dapat menjaga oksigen dan darah tetap beredar di dalam tubuh
korban. Pada kondisi ketika tubuh tidak lagi dilalui suplai oksigen
dan darah, maka kemungkinan terjadinya kerusakan otak akan
sangat tinggi.
2. Bisa menyelamatkan nyawa seseorang
Makin cepat sebuah pertolongan diberikan, maka makin besar
kemungkinan seseorang yang mengalami kecelakaan atau serangan
jantung bisa diselamatkan. Jika seseorang mengalami serangan
jantung, maka fungsi jantung untuk memompa darah ke seluruh
tubuh akan terhenti. Jika RJP dilakukan segera setelah kejadian,
makin besar kemungkinan jantung bisa kembali bekerja
mengedarkan oksigen dan darah ke seluruh tubuh. Hal ini tentu saja
akan meningkatkan kemungkinan seseorang untuk terhindar dari
kematian.
3. Masih jarang orang yang bisa melakukan RJP
Jangan terkejut mendapati fakta bahwa lebih dari separuh pasien
yang terkena serangan jantung tidak mendapatkan pertolongan
pertama berupa resusitasi jantung paru. Alasan utamanya adalah
banyak orang-orang yang belum pernah mendapatkan pelatihan
melakukan RJP. Padahal, upaya penyelamatan dengan RJP mudah
untuk dipelajari sekaligus diaplikasikan secara nyata.
4. Banyak kejadian serangan jantung di rumah
Salah satu alasan penting lainnya kenapa kita perlu memiliki bekal
yang cukup untuk melakukan RJP adalah untuk mengantisipasi
orang di rumah mengalami kondisi yang memerlukan RJP.
Setidaknya 85 persen serangan jantung terjadi di rumah. Hal tersebut
bisa saja menimpa orang di sekitar kita termasuk anggota keluarga.
Dengan memiliki kemampuan melakukan resusitasi jantung dan
paru, kita bisa berperan dalam menyelamatkan nyawa orang-orang
yang kita cintai.
F. LANGKAH RESUSITASI
1. STABILITAS AWAL
Teknik resusitasi bayi dan anak saat awal adalah melakukan penilaian
kondisi anak secara cepat dengan menggunakan segitiga penilaian
pediatrik, atau pediatric assessment triangle/PAT. Dari PAT ini kita dapat
mengenali kondisi distress napas, gagal nafas, syok, henti napas dan henti
jantung, disfungsi otak dan abnormalitas sistemik lainnya. PAT terdiri atas
3 elemen, yaitu:
1. penampilan anak: tonus, interaksi anak dengan lingkungan,
kenyamanan, arah pandangan anak, suara/tangisan anak
2. upaya napas anak: suara napas abnormal, posisi tubuh abnormal,
retraksi, dan napas cuping hidung
3. kondisi sirkulasi: pucat, mottling, sianosis, perdarahan
2. VENTILASI TEKANAN POSITIF NON-INVASIF
Ventilasi non-invasif (NIV) merupakan pilihan terapi bermakna dalam
manajemen gagal napas akut dan kronis. Penerapan NIV mendahului
pengenalan laringoskopi di awal tahun 1990-an dan penggunaan ventilasi
mekanik dengan tekanan positif melalui pipa endotrakea di tahun 1950-an.
Keberhasilan penggunaan HIV pada gagal napas pertama kali
dipublikasikan pada tahun 1936. Semua modalitas NIV menggunakan
sirkuit tertutup atau semi tertutup dan dengan demikian mampu mengontrol
dan memberikan FiO₂ yang tinggi. Hal ini merupakan mekanisme penting
di mana NIV memperbaiki oksigenasi, terlepas dari beberpa mekanisme
lain-lain.
Ventilasi tekanan positif non-invasif (non-invasive positive pressure
ventilation, NPPV) menambah penggunaan ventilasi spontan yang
menggunakan masker hidung yang ketat atau masker oronasal tanpa
intubasi endotrakea. Teknik ini dapat digunakan dalam banyak kondisi jika
tidak ada kontraindikasi. Aplikasi dari ventilasi tekanan positif non-invasif
tidak seharusnya menunda intubasi endotrakea jika memiliki indikasi klinis.
3. KOMPRESI DADA
Untuk meningkatkan keefektifan kompresi dada, posisikan korban pada
permukaan yang datar, keras, dan rata dengan posisi terlentang dan
penolong mengambil posisi disebelah dada korban. Kompresi di atas
matras di atas tempat tidur pasien dapat menyebabkan kompresi dada tidak
maksimal. Backboard dapat dipakai selama resusitasi jantung paru
dilakukan dan menginterupsi kompresi dada. Penolong harus menekan
sternum dengan kedalaman 5-6 cm dan diberi kesempatan untuk
mengembang kembali setelah setiap kali penekanan. Pengembangan dada
kembali yang tidak adekuat, peningkatan tekanan intratorakal dan
pemburukan hemodinamik diantaranya penurunan perfusi koroner,
cardiac index, perfusi otot, jantung, dan perfusi ke otak.
4. CARA MENGOMPRES DADA
a. Memposisikan tangan untuk kompresi dada
1. Teknik kompresi dada merupakan tekanan serial dan ritmis pada
setengah bahwa tulang dada. Posisi tangan untuk kompresi dada
2. Raba tulang iga paling bawah dengan jari tengah sampai anda
menemukan batas bawah sternum (sterna notch)
3. Letakan jari telunjuk anda disebelah jari tengah anda Letakan bantalan
telapak tangan anda yang lain di sebelah jari telunjuk anda
b. Melakukan kompresi dada:
1. Kaitkan jari tangan anda yang diatas kejari tangan yang di bawah dan
angkat jari tangan anda yang di bawah dari dinding dada korban
2. Luruskan kedua siku anda dan pastikan mereka terkunci dalam
posisinya
3. posisikan bahu anda tepat tegak harus diatas dada korban
4. gunakan berat badan anda untuk menekan sternum sedalam 5-6 cm