The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Buku Digital, 2023-06-14 03:48:08

Butta Toa

Butta Toa

182 M. Irfan Mahmud, Epilog: Memetik Hikmah dari Kisah ‘Butta Toa’ ataupun hasil hutan. Temuan ini menarik untuk menelusuri sumber dan hubungan ekonomi regional yang pernah dipraktekkan Bantaeng di masa lalu. Apakah toponim besi di Situs Onto (Takka Bassia dan Tai Bassia) dan toponim emas (Bonto Bulaeng=Bukit Emas) di Situs Sinowa berhubungan dengan petunjuk yang diungkap oleh Bougas? Dari mana sumber bahan baku pengolahan besi di Onto? Apakah ada daerah pemasok potensial terdekat? Disini bisa terlihat hubungan dinamika perniagaan Bantaeng dengan kemajuan peradaban dalam periode logam. Sampai sekarang, banyak segi dunia masa lalu Bantaeng masih hidup bersama penduduknya, terutama meneruskan praktek tradisi di situs megalitik. Banyak diantara penduduk masih mengikat bathin kebudayaan pada monumen leluhur dengan ritual sakral. Ritual sakral pada situs monumen leluhur menjadikan ikatan sosial sarat emosi dan menjadikan satu sama lainnya saling kenal secara dekat, sekaligus membatasi. Situasi ini membedakan mereka yang masih terikat tradisi masa lalu, dengan kita yang sudah terkena pengaruh westernisasi: ikatan rasional, cenderung individualis, dan hubungan longgar. Dalam periode logam tersebut, Bantaeng memang terkesan antagonis. Ketika wilayah lain di Sulawesi gelap bukti artefak logamnya, dalam rentang abad ke-7 dan 8 Masehi, Bantaeng justru memberi bayang-bayang cahaya kecil. Anehnya, ketika logam kemudian menjadi lazim di daerah Sulawesi lainnya dalam periode abad ke-10 hingga awal abad ke-13, Bantaeng seakan-akan kehilangan kontribusi bukti temuan artefak. Bantaeng baru memberi kontribusi bukti logam setelah kampung tua di tiga aliran sungai bersatu membentuk kerajaan di pesisir bagian selatan Sulawesi, sekitar tahun 1200-1600 Masehi. Salah satu bukti berupa temuan sisa kerak dan fragmen besi dari penggali liar di Lembang Gantarangkeke, salah satu situs megalitik (Hasanuddin, 2009: 40 dan 47). Meskipun sekarang dunia sudah sangat terbuka, masih banyak penduduk Bantaeng melaksanakan tradisi dan memelihara ritus di “pusat bumi” (pocci butta). Di Bantaeng ada setidaknya tiga “pusat bumi” (pocci butta): (i) Situs Onto (Desa Onto, Kecamatan Bantaeng) berbentuk bongkahan batu ditengah temu gelang dan berpagar; (ii) Situs Gantarangkeke, terletak di lingkungan Dampang, Kelurahan


Butta Toa: Jejak Arkeologi Budaya Toala, Logam, dan Tradisi Berlanjut di Bantaeng 183 Gantarangkeke, Kecamatan Gantarangkeke, berbentuk susunan batu melingkar (batu temu gelang); (iii) Situs Lembang Gantarangkeke, terletak di Kecamatan Tompobulu, berbentuk bongkahan batu. “Pusat bumi” (pocci butta) tampak berperan penting sebagai sumbu tradisi. “Pusat bumi” memiliki nilai penting bagi manusia, karena dipandang dari situlah awal kehidupan atau segala sesuatu yang menggerakkan totalitas kebudayaan dimulai. Saya memandang bahwa penciptaan pusat bumi (pocci butta) merupakan strategi mendaur ulang energi integrasi sosial yang setiap saat bisa tergerus. Mereka mengkonsolidasi energi sosial lewat ritus agar dunia kehidupan tetap terkendali dan harmonis; tetap lebih bersatu, lebih kuat, dan menegaskan secara simbolik harapan eksistensi perkauman lebih abadi dari apapun di muka bumi. Eksistensi pocci butta dan totalitas tradisi di dalamnya seolah-olah akan menjamin siapapun yang terlibat akan tetap memiliki modal sosial cukup untuk yakin bertahan hidup. Pocci Butta menjadi monumen konservasi nilai gotong-royong, kebersamaan, dan kepedulian. Di masa lalu, selain pocci butta, modal sosial juga dipelihara dan dibangun dengan menciptakan ruang bersama mengolah pangan, diantaranya pa’lamang (tempat mengolah bahan makanan) dan pammaluang (tempat mengolah sagu) di Situs Lembang Gantarangkeke. Ini beda masyarakat masa lampau dengan kita sekarang; dulu mereka meletakkan modal sosial sebagai kekayaan utama dan pilar ketahanan hidup, sedangkan sekarang kekayaan materi cenderung menjadi orientasi masyarakat modern. Satu lagi strategi masyarakat masa silam yang bisa dipetik dari temuan arkeologis di Bantaeng adalah mereka menciptakan bingkai ruang mikrokosmosnya. Mereka di masa lalu membatasi atmosfir dunianya pada lingkar pengaruhnya semata, dalam batasan jangkauan fisik, cenderung kongkrit dan terkendali. Ini berbeda dengan masyarakat modern,melihat dirinya dalam satu dunia dan memiliki wawasan kepedulian seluas pengetahuannya, sering terjebak melampaui lingkar pengaruhnya, cenderung maya dan kadang-kadang mudah terperangkap jadi liar. Berdasarkan data-data arkeologis, saya yakin kita bisa menemukan “cermin” dalam dua ekstrim kondisi zaman. Masa lalu yang sederhana, panggung terbatas, perubahan lambat, serta orang-orang cenderung bertindak


184 M. Irfan Mahmud, Epilog: Memetik Hikmah dari Kisah ‘Butta Toa’ kongkrit dan terkendali; sebaliknya masa kini yang canggih, terbuka dan sangat cepat berubah,dengan orang-orang cenderung maya dan pencitraan, bahkan dalam kondisi tertentu bisa menjadi sulit untuk dikendalikan. Bukti-bukti arkeologis buku ini telah menggambarkan bahwa sejak sekitar 4700 tahun silam hingga abad ke 15-Masehi di tempat yang sama hadir berbagai warna kehidupan dan sikap religius sebagai hasil percobaan terus-menerus penduduk ‘Butta Toa’, Bantaeng. Sajian data-data arkeologis tentang kisah kebudayaan prasejarah ‘Butta Toa’ diharapkan menyegarkan kembali pandangan tentang cara hidup, inovasi, kepercayaan dan agama, strategi diet, keselarasan alam, gotong-royong, hidup integritas, komitmen, toleransi, kebersamaan, serta pentingnya meneguhkan identitas bangsa. Semoga semua jejak arkeologis yang disajikan buku ini dapat memberi hikmah bagi kita sekarang, sekaligus menjadi salah satu kaca benggala bagi masa depan kehidupan berbangsa. Daftar Pustaka Aubert, Maxim, et.al. 2014. “Pleistocene Cave Art from Sulawesi, Indonesia”, dalam Nature, Vol. 514. London: Macmilan Publishers Limited. Bougas, W.A.. 1998. “Bantayan: An Early Makassarese Kingdom 1200-1600 AD”, Archipel 55: 83-123. Bougas, W.A. & M. Nur. 1996. “Three Locally Made Bronzes from South Sulawesi: Possible Evidence of Cultural Transfer from Java about AD 1000? ”Review of Indonesian and Malaysian Affairs 39 (1): 17 –27. Haryono, Timbul. 1999. “Dinamika Kebudayaan Logam di Asia Tenggara pada Masa Paleometalik: Tinjauan Arkeometalurgis”, Humaniora, No. 10, Januari – April 1999: 25-31. Heekeren, H.R. van. 1972. The Stone Age of Indonesia. The Hague: Martinus Nijhoff. Klokke, M.J. dan P.L. Scheurleer. 1988. Ancient Indonesian Bronzes: A Catalogue of the Exhibition in the Rijksmuseum Amsterdam with a General Introduction. Leiden: Rijksmuseum. Hasanuddin. 2009. “Pemukiman di Sepanjang Daerah Aliran Sungai Biangkeke dan Calendu Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan”, Walennae, volume 11, No. 1. Februari 2009: 33-50.


Butta Toa: Jejak Arkeologi Budaya Toala, Logam, dan Tradisi Berlanjut 185 INDEKS A Afrika 12, 82, 109 Afrika Selatan 82 Andaya 14, 135 Anggraeni 90, 126 Annam 118, 134, 155 Ara 133 Argentina 82 Asia Selatan 120 Asia Tenggara 4, 20, 40, 87, 88, 113, 118, 120, 129, 179, 192 Asmat 114 Aubert 9, 75, 76, 178 Aurignacian 81 Australia 76, 82, 193, 194 Australomelanesid 2, 102 Austronesia 1, 2, 10, 12, 13, 17, 21, 31, 44, 88, 93, 102, 113, 117, 118, 158, 171, 175, 180, 193, 194 Azis 58 B Baal 171 Babilonia 115 Baebunta 128 Bahn dan Ventut 79 Balai Arkeologi Sulawesi Selatan 22, 49, 61, 76, 79, 83, 94, 95, 97, 99, 111, 176, 191, 192, 193, 194, 195 Balang Sari 22 Bali 70 Balla Lompoa Lantebung 14, 135 Bandung 93 Bantaeng 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 23, 24, 29, 49, 50, 53, 59, 61, 63, 64, 72, 76, 81, 82, 89, 93, 97, 99, 106, 107, 110, 111, 113, 115, 118, 119, 120, 121, 122, 125, 126, 127, 128, 130, 132, 133, 134, 135, 136, 137, 143, 144, 146, 147, 148, 150, 152, 153, 154, 155, 156, 158, 159, 160, 167, 170, 171, 172, 175, 176, 177, 178, 179, 180, 181, 182, 183, 184, 193, 194, 195 Banyorang 150 Batu Ejaya 2, 3, 4, 5, 6, 9, 10, 11, 13, 17, 21, 23, 24, 27, 29, 30, 31, 34, 41, 44, 49, 50, 53, 58, 59, 61, 71, 72, 79, 80, 81, 82, 83, 87, 89, 97, 99, 101, 107, 110, 117, 118, 119, 122, 128, 143, 175, 176, 178, 179 Batu Rape 26 Batu Rape-Cindoko 26 Bellwood 4, 10, 20, 21, 102, 118, 158, 179 Belwood 91 Benua Australia 12 Berg 58 Bibu 136 Binford 164 Bissampole 133, 134, 155 Bissappu 2, 24 Bone 22, 76, 101 Bone-Bone 22 Bonto Bulaeng 133, 156, 182 Bontocani 22, 76 Bontojaya 2, 24 Bonto Ramba Tua 22 Bonto Sunggu 22 Borong Kapala 135, 136 Borong Toa 15, 152, 160, 170, 171 Bougas 13, 15, 129, 132, 133, 134, 135, 143, 144, 153, 155, 156, 168, 169, 172, 181, 182


186 Indeks Bougas dan M. Nur 13 Brock 56 Brumm 19, 81, 105, 110 Bugis 20, 50, 129, 172, 192 Bukit Bikulung 22 Bukit Maras 120 Bukit Tengkorak 93 Bulbeck 2, 5, 14, 21, 22, 29, 30, 50, 62, 83, 91, 94, 117, 118, 125, 126, 127, 128, 129, 155, 177 Bulukumba 120, 135, 153, 193 Bulu Saraung 27, 32 Bustamin Nyios 136 Butta Toa 1, 8, 15, 16, 143, 144, 175, 176, 177, 179, 184 C Caldwell 125, 126, 128 Calendu 154, 155, 156, 193 Callenfels 21, 29, 30, 50, 91, 94, 118, 132, 176, 177 Camba 26 Chapman 5, 30, 94 Chazine 79 China 134 C.H.M. Heeren 75 Cina 88, 129, 134, 155 Clason 51, 52, 57, 58, 59 D Danau Matano 126, 128 David Bulbeck 82 Dehua Yuan 155 Diamond 10, 12 Di Lello 21, 22 DI Yogyakarta 70 Dongson 1 E Endang Sri Hardiati 144 Enrekang 76, 193 Eropa 76, 82, 107, 178 F Fadillah 144 Fakhri 125, 126, 128 Filipina 40, 113, 118, 126 Flores 41 Forestier 21 Francis 106, 107, 111, 112, 117, 119, 120 Fritz Sarasin 2 G 149, 150, 155, 156, 159, 160, 167, 168, 169, 170, 171, 182, 183, 195 Garassi 129, 130 Gardner 87 Gentung 22 Glover 19, 20, 21, 22, 91, 104, 119, 132 Gowa 22, 129, 135, 143 Griffith University 76 Groves 58, 59 Gua Andomo 76 Gua Batti 76 Gua Batu Ejaya 50, 79, 126, 132 Gua Chauvet-Pont d’Arc 82 Gua Codong 128 Gua Cosquer 82 Gua Elcastillo 81 Gua Harimau 75 Gua Lascaux 82 Gua Panganreang Tudea 127, 128 Gua Rouffignac 82 Gua Timpuseng 76, 77, 82, 178 Gua Ulu Leang 128 Gunung Lompobattang 145, 154, 156 Galesong 129 Gantarangkeke 15, 16, 134, 135, 148,


Butta Toa: Jejak Arkeologi Budaya Toala, Logam, dan Tradisi Berlanjut 187 H Haji Dodding 136 Haji Mandasing 136 Hakim 21, 30, 31, 95, 104 Hasanuddin 129, 143, 160, 182, 191, 192, 193, 194, 195 Hiscock 31, 41 Hooijer 58, 119 I Ian Caldwell 13, 14, 125, 126 India 120, 132, 133, 181 Indonesia ii, 49, 69, 70, 75, 76, 77, 82, 88, 89, 105, 106, 110, 116, 118, 127, 134, 143, 144, 178, 179, 181, 191, 192, 193, 194, 195 J Jacobs 114 Jawa 126, 128 Jawa Barat 106, 112 Jawa Tengah 70, 106 Jawa Timur 70, 153 Jeneponto 24, 129, 135, 194 Jepang 87, 88 Jomon 87 K Kalimantan 113, 118 Kalimantan Selatan 70 Kalimantan Timur 75 Kal Muller 12 Kalumpang 11, 90, 91, 93, 102, 125, 126, 128 Karaeng Ahmadi 136 Karaeng Diang 135 Karaeng Loe 1, 16, 133, 148, 160, 168, 169, 176 Karaeng Nini 136 Keates 2, 119 Kempers 127 Kepulauan Maluku 75 Kepulauan Melanesia 12, 13, 17, 176 Kerajaan Gowa-Tallo 172 Klang Thorn 120 Klokke dan Scheurleer 132, 181 Koentjaraningrat 163, 171 Kurung Batu 168 Kutai Kartanegara 75 L 149, 150, 151, 159, 170, 171, 182, 183 Leroi-Gourhan 79 Luwu 13, 14, 76, 125, 126, 128, 133, 134 M Magetsari 164 Majapahit 134, 176 Makassar 22, 27, 46, 58, 85, 103, 127, 128, 129, 130, 131, 132, 140, 141, 161, 172, 192, 194 Malaysia 88, 93, 120, 192, 194 Maluku 75, 82, 106 Mantai 120 Maros 4, 9, 22, 59, 75, 76, 77, 82, 83, 91, 101, 102, 105, 110, 126, 178, 179, 193 Maros-Pangkep 4, 9, 22, 75, 83, 101, 178, 179, 193 Lagaligo 134 Lamoncong 2, 20 Lampobattang 24, 26, 31 Latenri Ruwa 136 Lavita 93 Leang Bulu Bettue 19 Leang Burung 19 Leang Timpuseng 9 Leang Tomatoa Kacicang 58 Lembah Baliem 117 Lembah Sông Hõng 118 Lembang Cina 15, 134, 155, 160 Lembang Gantarangkeke 16, 135,


188 Indeks Marwick 19 Mattoganging 129 Melanesia 12, 13, 17, 93, 176, 181, 194 Melanesoid 2 Mentawai 40 Minanga Sipakko 90, 93 Ming 129, 155 M. Nur 13, 128 Moncong-Moncong Baru 22 Moore 41, 79 Morowali 75 Morwood 19 Mpu Prapanca 15 Muangthai 88 Muljana 15 Mulvaney 5, 29, 30, 54, 94, 98, 104, 117, 177 Mulvaney dan Soejono 5, 29, 30, 54, 94, 117 Mulvenay 82 Munawir 136 Mundardjito 164 Museum Balla Lompoa 14, 135, 136 Museum Balla Lompoa Lantebung 14 Museum Nasional Jakarta 50, 127 Museum Situs Makam Raja Latenri Rua 136 Musser 59 N Nayati 134, 135, 144 Neandertal 81 O Oc-eo 120 Oktaviana 81 Orang Agta 40 Orang Austronesia 1, 9, 10, 11, 12, 180 Orang Komoro 114 Orang Toala 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 17, 102, 106, 107, 110, 114, 119, 121, 122, 144, 175, 176, 177, 178, 179, 180, 181 P Paenre 27 Pajjukukang 149, 154, 168, 195 Pakka Mukang 22 Paleolitik 76, 81 Panganreang Tudea 9, 21, 27, 29, 30, 32, 50, 58, 79, 80, 94, 107 Pangkep 9, 75, 76, 101, 193 Pangnganikang 3, 27, 32, 59, 62, 122 Paniai 117 Papanlohea 127 Papua 12, 13, 17, 75, 82, 106, 114, 117, 119, 176, 181, 194 Pasqua 21, 22 Pattallassang 136 Pattenungang 27, 30, 32 Paul 2 Pegunungan Tompobulu 169 Pelras 156, 172 Perancis 81, 82, 107, 143 Permana 9, 79, 81, 82 Peter Francis 106 Piper 56, 59 Poesponegoro 75, 88, 93, 104, 106 Prasetyo 68, 70, 167 Pulau Luzon 40 Pulau Siberut 40 Pulau Sulawesi 125 Pusat Penelitian Arkeologi Nasional 76, 194


Butta Toa: Jejak Arkeologi Budaya Toala, Logam, dan Tradisi Berlanjut 189 R Renfrew 164 Renfrew dan Bahn 164, 167 Roder 79 Rouse 163 R.P. Soejono 70 Rustan 21 S Sabbang Loang 126 Salekowa Tua 22 Sarasin 2 Sarawak 120 Saukang Boe 22, 129 SD Inpres Lembang 150 Selayar 127, 128, 129, 135, 193, 194 Sélayar 129 Semenanjung Sulawesi 49 Sharer dan Ashmore 9 Shepard 88, 104 Simanjuntak 31, 71, 93, 104, 171 Simbang 22 Sinha dan Glover 19 Sinowa 14, 15, 133, 134, 135, 159, 170 Situs Ballang Metti 22 Situs Balla Tujua 145 Situs Batu Ejaya 9, 21, 27, 29, 30, 31, 32, 49, 53, 54, 62, 79, 80, 82, 83, 93, 94, 99, 101, 102, 107, 116, 117, 118, 119, 120, 178 182 Situs Gua Babi 70 Situs Gua Batu Ejaya 3, 4, 13, 49, 80, 94, 127, 132, 143, 179, 181 Situs Gua Braholo 70 Situs Gua Lawa 70 Situs Gua Lawang 70 Situs Gua Panganreang Tudea 4, 143, 179 Situs Gua Selonding 70 Situs Gua Timpuseng 76 Situs inti 133 Situs Leang Batti 101 Situs Leang BettuE 110 Situs Leang Burung 19, 91 Situs Leang Codong 70, 126 Situs Liang Bua 41 Situs Mallawa 31, 102 Situs Ngandong 70 Situs Onto 14, 15, 133, 144, 145, 146, 156, 157, 159, 182 Situs Pamangkulang Batua 22 Situs Panganreang Tudea 9, 30, 79, 83, 107, 119, 120, 122 Situs Pangnganikang 3, 29, 32, 52, 53, 54, 56, 57, 58, 59, 60, 61, 62, 63, 64, 65, 66, 68, 69, 70, 71, 72, 107, 111, 113, 115 Situs Panningge 22 Situs Pappanaungang 101, 102 Situs Pattenungang 30, 43 Situs Pontanoa Bangka 126 Situs Sakkara 126, 128 Situs Sinowa 15, 182 Situs Soerabaja 153 Situs Song Keplek 70 Situs Tallasa 22, 102 Situs Tile-Tile 129 Situs Ulu Leang 21, 59, 83, 91, 126 Siwa 133 Soegondho 87, 88, 89, 104 Soejono 5, 29, 30, 54, 70, 82, 94, Situs Batu Tuda 5, 29, 30 Situs Bonto Bulaeng 156, 157 Situs Borong Toa 139, 152 Situs Bukit Kamassi 91, 93 Situs Dongsong 118 Situs Gantarangkeke 148, 156, 157, 102, 117, 177 Song 70, 129 Soppeng 126, 191, 192, 193, 194 Spanyol 81, 82 Speelman 135 Srilangka 132, 181 Stain van Callenfels 29, 93 Sukendar 160


190 Indeks Suku Asmat 117 Suku Dani 117 Suku Komoro 114 Suku Mee 117 Suku Mori 128 Sulawesi Barat 90, 91, 93, 102, 125, 191 Sulawesi Selatan 1, 4, 22, 31, 70, 75, 76, 80, 81, 82, 83, 95, 96, 101, 102, 118, 126, 127, 128, 129, 133, 143, 144, 156, 158, 160, 171, 172, 178, 191, 192, 193, 194, 195 Sulawesi Tengah 75 Sulawesi Tenggara 75, 191, 193 Sumatera 75 Sumatra Barat 40 Sung 133, 134, 155 Sungai Biangkeke 134, 148, 150, 154, 156, 158, 193 Sungai Bonehau 128 Sungai Calendu 155, 156, 158 Sungai Jeneberang 22 Sungai Patte 148, 150, 156 Sungai Rongkong 126 Sungai Walannae 23, 50 Suryatman 30, 95, 167, 168 Swiss 20 T Taiwan 1, 88, 93, 113, 118 Takalar 22, 129, 135 Tanh Hoa 118 Tanudirjo 88, 91, 93, 104 Tanurdirjo 91 Tasikmalaya 112, 117 Thailand 120, 129 Thailand Selatan 120 Tichelman 79 Tinggia 27 Toala 2, 9, 91 Toalian 20, 21, 24, 34, 41, 44, 83 Truman Simanjuntak 90, 93 Turki 82 U Ulu Leang 83, 91 Universitas Hasanuddin 129, 191, 192, 193, 194, 195 V van Heekeren 50, 93, 119 van Stein Callenfels 13, 49, 91, 126, 132, 143 Vietnam 1, 93, 118, 120, 127, 129, 134 W Wallacea 19, 58 Wayne A. Bougas 128 Wibowo 58 Widianto 62 Willcox 79 Wollonggong University 76 Y Yuan 118, 129, 133, 155 Z Zaim 77, 78


191 TENTANG EDITOR DAN PENULIS Bernadeta Apriatuti Kuswarini Wardaninggar Lahir di Salatiga, Jawa Tengah. Menamatkan Pendidikan Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Atas di Tana Toraja. Pendidikan jenjang Strata satu (S1) di Jurusan Arkeologi Universitas Hasanuddin (Unhas) diselesaikan tahun 1992. Melanjutkan pendidikan Strata dua (S2) di Program Studi Antropologi, Universitas Hasanuddin tahun 2014 dengan tesis berjudul: “Pola Permukiman Tradisional Masyarakat Toraja Sebagai Adaptasi Sosial, Budaya dan Lingkungan”. Diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil tahun 1994 di Balai Arkeologi Sulawesi Selatan. Sejak 1994 hingga sekarang menjadi Peneliti Arkeologi pengkhususan Prasejarah di Balai Arkeologi Sulawesi Selatan, Barat, dan Tenggara. Selama menduduki jabatan fungsional di Balai Arkeologi, telah menghasilkan sejumlah karya tulis ilmiah, diantaranya: Bentuk-bentuk Wadah Penguburan dalam Sistem Kepercayaan Masyarakat Mamasa, Sulawesi Barat (Jurnal Walennae 2009); Tradisi Megalitik dalam Ranah Pemahaman Sakral dan Profan di Situs Lawo, Soppeng (Jurnal Walennae 2010); Sistem Penguburan di Gua dan Ceruk di Kolaka Utara Sulawesi Tenggara (Jurnal Walennae 2010); Bentuk Aktivitas Manusia Penghuni Gua Di Muna, Sulawesi Tenggara Berdasarkan Data Gambar Tenggara (Jurnal Walennae 2011). Selain sebagai peneliti, juga aktif sebagai Sekretaris Redaksi Jurnal Walennae Balai Arkeologi Sulawesi Selatan hingga 2012. Budianto Hakim Lahir di Parepare 15 Oktober 1964 dan alumni S1 Arkeologi Universitas Hasanuddin tahun 1990. Selama bekerja di Balai Arkeologi Sulawesi Selatan telah menghasilkan sejumlah karya ilmiah, di antaranya: Pleistocen cave art from Sulawesi, Indonesia (Jurnal Nature, 2014); Black Drawings at the site of Gua Pondowa, Southeast Sulawesi: Interpretation of their


192 Tentang Editor dan Penulis Meaning and Motifs (Sulawesi Symposium, The Archaeology of SulawesiAn Update, 2016); The Sites of gua pasaung (Rammang-Rammang) and Mallawa: Indicators of Cultural Contact between the Toalian and neolithic complexes in South Sulawesi (IPPA Bulletin, 2009); Stone Tools Technology and Occupation Phases at Batu Ejayya, South Sulawesi (Jurnal Review of Indonesian Malaysian Affairs, 2013); Exploration of Prehitoric Sites in the Karama Watershed, West Sulawesi, Indonesia: from Early Occupation until the Metal Age (Journal of Indo-Pacific Archaeology, 2015); Hand Stencils With and Without Narrowed Fingers at two New Rock Art Sites in Sulawesi, Indonesia (Jurnal Rock Art Research, 2016). Fakhri, S. S. Lahir di Ujung Pandang, 5 April 1981. Menyelesaikan pendidikan Strata satu (S1) pada Jurusan Arkeologi Universitas Hasanuddin (1999). Sejak 2011 menjadi peneliti di Balai Arkeologi Sulawesi Selatan dengan spesialisasi kajian Arkeologi Prasejarah (Paleometalurgi dan Arkeofauna). Aktif dalam berbagai penelitian, baik yang dilaksanakan oleh Balai Arkeologi maupun penelitian kerjasama nasional dan internasional. Telah menghasilkan beberapa publikasi ilmiah di jurnal-jurnal nasional maupun internasional. Alamat kontak email: [email protected] Hasanuddin Dilahirkan dari ayah berdarah Bugis Sidrap dengan Ibu berasal dari Soppeng. Menamatkan pendidikan Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Atas di Ujung Pandang (kini bernama Makassar). Menyelesaikan pendidikan pada jenjang Strata satu (S1) di Jurusan Arkeologi Universitas Hasanuddin (Unhas) tahun 1989. Melanjutkan pendidikan Strata dua (S2) di Program Studi Arkeologi Universitas Indonesia, Jakarta tahun 2000. Selanjutnya tahun 2015 menyelesaikan program doktor bidang Arkeologi di Pusat Penyelidikan Arkeologi Global, Universiti Sains Malaysia (USM) dengan disertasi berjudul “Kebudayaan Megalitik di Sulawesi Selatan dan Hubungannya dengan Asia Tenggara”. Diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil tahun 1991 di Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Aceh dan Sumatra Utara hingga awal tahun 2001. Sejak 2001 hingga sekarang menjadi Peneliti Arkeologi pengkhususan Prasejarah dan Etnoarkeologi


Butta Toa. Jejak Arkeologi Budaya Toala, Logam, dan Tradisi Berlanjut 193 di Balai Arkeologi Sulawesi Selatan, Barat, dan Tenggara. Disamping aktif sebagai peneliti juga menjadi dosen luar biasa di Jurusan Arkeologi Unhas. Hasliana Lahir di Rea Timur, 15 Juli 1988. Menempuh pendidikan Arkeologi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin dari tahun 2006. Pada tahun 2013 memperoleh gelar sarjana arkeologi dari Universitas Hasanuddin dengan judul skripsi “Studi Pemukiman Semi Mikro pada Situs Bulo-Bulo di Kabupaten Sinjai”. Setelah menyelesaikan studi arkeologi ia langsung bergabung dengan Balai Arkeologi Sulawesi Selatan. Sejak bergabung di Balai Arkeologi Sulawesi Selatan tahun 2014 telah mengikuti penelitian kerjasama Australia dan Indonesia dengan tema: Dispersal and evolution of Hominids and early modern human in the Maros-Pangkep Karst of South Sulawesi, Indonesia tahun 2014—2015. Tahun 2017 ini terlibat dalam penelitian kerjasama Indonesia—Australian di Leang Buttue, Maros. Selama menduduki jabatan fungsional sebagai peneliti arkeologi, telah mengikuti berbagai seminar baik skala nasional maupun internasional. Karya-karya ilmiah yang telah dihasilkan, diantaranya: Editor buku Toraja Dulu dan Kini (2003); Penulis buku Spektrum Sejarah Budaya dan Tradisi Bulukumba Jilid I dan II (2005 dan 2006); “Peninggalan Megalitik di Situssitus Nias Selatan: Kajian Bentuk dan Fungsi” Tesis Magister Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Jakarta; “Analisis Fungsional Situs Sewo, Soppeng” (Jurnal Walennae 2001); “Permukiman di Sepanjang Daerah Aliran Sungai Biangkeke dan Calendu Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan” (Jurnal Walennae 2009); “Indikasi Permukiman Situs–Situs Berciri Austronesia di Pantai Timur dan Selatan Pulau Selayar” (Jurnal Walennae 2009); “Eksistensi Benteng Wabula Sebagai Bentuk Pertahanan Berlapis Kerajaan Buton, Sulawesi Tenggara” (Jurnal Walennae 2010); “Megalithic Sites in The District of Sinjai, South Sulawesi, Indonesia” dalam Bulletin of Indo-Pacific Prehistory Association, Vol. 31, hlm. 76-84. Autralian National University (2011); “Megalitik dan Hubungannya dengan Sistem Pertanian di Sulawesi Selatan”, dalam buku Pernik-Pernik Megalitik Nusantara (2015); Neolithic Sites in Enrekang County, South Sulawesi (Sulawesi Symposium, The Archaeology of Sulawesi-An Update, 2016).


194 Tentang Editor dan Penulis Sebagai staf, selama ini aktif terlibat dalam penelitian Balai Arkeologi Sulawesi Selatan. Kontak email: [email protected] M. Irfan Mahmud Memperoleh gelar sarjana arkeologi dari Universitas Hasanuddin (1993). Program Magister bidang Antropologi di Universitas Indonesia, Depok (2005). Karya yang telah terbit, di antaranya: Kota Kuno Palopo (2004); Bantaeng dari Masa Prasejarah ke Masa Islam (2007); Dato ri Tiro (2010); Austronesia dan Melanesia di Nusantara (2010). Tahun 1997-1999 bekerja di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Selanjutnya menjadi peneliti di Balai Arkeologi Makassar, 1998-2007. Terlibat dalam berbagai penelitian, di antaranya 2005—2006 ikut di dalam tim penelitian Austronesia di Sulawesi. 2008—2015 mendapat amanah sebagai Kepala Balai Arkeologi Papua. Terakhir, sejak Januari 2016 hingga sekarang menjadi Kepala Balai Arkeologi Sulawesi Selatan. M. Nur Lahir di Parepare pada 11 September 1970. Bekerja sebagai dosen pada Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin. Spesifikasi keilmuan yang digeluti adalah arkeologi prasejarah dan manajemen sumberdaya arkeologi. Lulus S1 pada jurusan Arkeologi Universitas Hasanuddin (1995) dan S2 pada Program Studi Arkeologi Universitas Gadjah Mada (2009). Sekarang dalam tahap penyelesaian studi Doktoral pada Pusat Penyelidikan Arkeologi Global Universiti Sains Malaysia. Beberapa karya tulis ilmiah yang telah dipublikasikan diantaranya: “Nilai Penting Kawasan Depresi Walennae, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan” (Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur, 2015); “Dari Hand Stencil ke Hand Print, Bukti Kontak BudayaToala dengan Pendatang Austronesia” (Jurnal Walannae, Balar Sulsel 2011); The Sites of Gua Pasaung (Rammang-rammang) and Mallawa: Indicators of Cultural Contact Between the Toalian and Neolithic Complexes in South Sulawesi (Jurnal Indo-Pacific Prehistory Association, 2009); Two Bronze Statue From Selayar South Sulawesi (Journal RIMA Australia, 2005). Selain itu, juga pernah menulis buku Jejak Sejarah Jeneponto (Masagena Press, 2008); Bantaeng dari Masa Prasejarah ke Masa Islam (Masagena Press, 2007) dan; Toraja Dulu dan Kini (Pustaka Refleksi, 2003).


Butta Toa. Jejak Arkeologi Budaya Toala, Logam, dan Tradisi Berlanjut 195 Suryatman Lahir Ujung Pandang, 21 Oktober 1986. Menyelesaikan pendidikan Strata satu (S1) pada Jurusan Arkeologi Universitas Hasanuddin 2010. Sebagai Pengelola Data di Balai Arkeologi Sulawesi Selatan. Publikasi ilmiah yang dihasilkan, di antaranya: “Pengelolaan Sumberdaya Budaya di Gantarangkeke, Kabupaten Bantaeng: Studi Kasus Pesta Adat Pajjukukang” (Jurnal Walennae, 2011); “Stone Tools Technology and Occupation Phases at Batu Ejayya, South Sulawesi” (Jurnal Review of Indonesian Malaysian Affairs, 2013); “Exploration of Prehitoric Sites in the Karama Watershed, West Sulawesi, Indonesia: from Early Occupation until the Metal Age” (Jurnal of Indo-Pacific Archaeology, 2015); “The Sakkara Site: New Data on Prehistoric Occupation from the Metal Phase (2000 BP) along the Karama River Drainage, Western Sulawesi, Indonesia” (Sulawesi Symposium, The Archaeology of Sulawesi-An Update, 2016); “Hand Stencils With and Without Narrowed Fingers at two New Rock Art Sites in Sulawesi, Indonesia” (Jurnal Rock Art Research, 2016).


Click to View FlipBook Version