46 Pesona Budaya Sumba 3. Kadu uma = Tanduk rumah ini adalah simbol martabat pemilik rumah 4. Kawuku = Bubungan 5. Karambua Uma = Konstruksi yang menopang menara rumah 6. Tolaku = Tunjuk langit 7. Lala tolaku = Tempat berdirinya tunjuk langit Gambar 21. Diagram tiang pada rumah adat Sumba Timur
Pesona Budaya Sumba 47 8. Hindi = Para-para atau loteng tempat menyimpan Marapu (simbol-simbol sembahan) 9. Patiangangu Hindi = Balok loteng 10. Kamundu manu = Usuk di bagian jiku 11. Baina = Induk rumah(bagian panjang) 12. Anana = Bagian lebar 13. Bairina = Usuk tengah yang biasa diberi tali rotan sepanjang usuk ini dari atas ke bawah (usuk induk). 14. Pitaku witu = Penahan ujung alang 15. Tewaru = Alas, alang pertama 16. Kambaniru = Tiang (ada 36 batang) 17. Buamangu = kolong rumah ( dibawah balai-balai) 18. Kambaniru = tiang agung (tiang turus ), 4 batang Tata ruang rumah di bagi dalam beberapa segmen antara lain secara vertikal sebagai berikut : Bagian Menara adalah untuk ruang Marapu; Bagian tengah (badan rumah) adalah untuk manusia; Bagian bawah adalah untuk hewan-hewan ternak. Pembagian ruangan pada bagian badan rumah yang diatur secara horizontal. Bangga Bakul adalah balai besar untuk menerima tamu, bangga kudu, adalah balai kecil tempat menempatkan air dan kayu api, hanamba adalah balai khusus untuk menyimpan beras, periuk dan perangkat lainnya untuk keperluan ritus Marapu. Hanamba kudu ialah tempat meletakan air disaat melakukan ritus merapu. Loteng (hindi), terdiri dari beberapa para diantaranya loteng kecil yang terletak di ujung bagian atas balai besar. Tempat ini merupakan tempat khusus untuk menyimpan persembahan Marapu berupa mas perak (kawadak) dan sirih pinang (pahapa) serta tombak kecil sebagai turun naiknya Marapu pada saat upacara berlangsung. Loteng besar (hindi bakul), ialah bagian loteng paling atas. Secara simbolis mempunyai arti sebagai jembatan untuk sampai ke Marapu yang disembah. Selain itu ada komponen
48 Pesona Budaya Sumba bangunan pokok yang mempunyai arti penting dalam bangunan rumah adat sumba yaitu keberadaan empat tiang yang dikenal juga dengan istilah pinggi rungu. Keempat tiang utama ini ada yang diukir, dan salah satu tiangnya merupakan tempat untuk menancapkan tombak sebagai sarana/ tangga turun naiknya merapu. Bangunan rumah adat sumba umumnya menggunakan bahan alam yang diperoleh dari alam di sekitarnya. Material yang dipergunakan ini tidak begitu saja diambil dari alam namun ada ritual tertentu yang harus dilaksanakan sebagai wujud bakti dan permohonan ijin kepada penguasa alam. Kegiatan ritual ini dimasing daerah mempunyai kekhasan masing-masing namun mempunyai makna yang sama. Penggunaan kayu tertentu serta adanya tebang pilih dan pelaksanaan pada hari tertentu itu suatu indikasi bahwa ada aturan dalam penggunaan sumber alam sehingga tidak menganggu daur ekosistem alam. Hutan tidak gundul tetapi masyarakat masih dapat menggunakan material tersebut berkelanjutan. Sistem pengerjaan konstruksi tradisional dalam menopang kekuatan konstruksi lebih banyak diadakan dengan sistem ikat dan penggunaaan pasak kayu maupun bambu. Ukuran bangunan yang dibuat disesuaikan dengan pemiliknya maka dimensi ukuran yang digunakan ukuran komponen tubuh seperti tangan dan kaki. Ragam hias yang ada di sejumlah rumah adat disamping memaknai estetika juga sebagai simbul status sosial. Umumnya Pada rumah adat yang dimiliki tokoh masyarakat atau dari kalangan Raja, dihias dengan relief atau ukiran pada tiang utama. Jenis hiasan berupa pahatan pada tiang utama rumah dengan motip binatang maupun hewan seperti kuda (anjara) merupakan simbol kekuatan, kegagahan kepahlawanan dan status sosial yang tinggi. Ayam (manu) simbol kesetiaan semangat cinta kasih dan rusa (ruba) simbol kekayaan dan kekuasaan. Ikan dan udang (iangu,kurangu) simbol kehidupan di alam baka.
Pesona Budaya Sumba 49 Penggambaran binatang maupun hewan merupakan simbol keadaan ekosistem yang harus dijaga keseimbangannya. Sedangkan perlambang kebesaran dan kepahlawanan ditandai dengan adanya tanduk kerbau yang dipasang pada depan pintu rumah (pintu utama). Benang merah keberadaan arsitektur dan pola pemukiman Sumba adalah harmonisasi (equilibrium) menjaga keseimbangan antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusianya dan harmonisasi manusia dengan lingkungannya. Ritual yang diadakan dalam proses pelaksanaan pembangunan dari mulai sampai penyelesaian merupakan simbol keberadaan manusia dalam menjaga keharmonisan lingkungan alamnya. Pemujaan dengan menggunakan media katoda, menunjukkan masyarakat sumba mempercayai bahwa alam perlu dijaga keseimbangannya. Pemujaan katoda ada di beberapa tempat, seperti di kebun, sungai dan di depan rumah. Katoda kawindu, ada di tiap rumah, katoda paraingu di depan pintu rumah, katoda padua, di tengah ladang dan sawah, sementara di muara disebut katoda mananga. (Tunggul, 2004). Menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan sesamanya tercermin dalam tradisi yang dilaksanakan didalam rumah adat. Secara simbolis tiang utama pada rumah adat yang jumlahnya 4, tiang pertama merupakan tempat pelaksanaan hubungan vertikal manusia antara manusia dengan Tuhannya dalam kegiatan upacara merapu. Tiang utama sebagai soko guru hubungan manusia dengan Tuhannya yang disebut dengan Kambaniuuratu ini merupakan simbul hubungan vertikal antara manusia dengan Dewa (merapu) sebagai perantara dengan Tuhan. Tiga tiang lainnya sebagai simbolis hubungan horizontal manusia dengan sesamanya dan hubungan manusia dengan lingkungan. Jadi konsep tradisional semacam itu merupakan kearifan peradaban yang sangat tinggi nilainya dalam menjaga
50 Pesona Budaya Sumba keharmonisan dan keseimbangan jagat raya. Konsep semacam ini diduga berlaku universal karena di tiap perkampungan tradisional dikenal hal yang demikian hanya saja terminologinya disesuaikan dengan kearifan lokal seperti di Bali dikenal dengan Tri Hita Kerana yakni tiga hal yang menyebabkan terjadinya keharmonisan didunia ini apabila terjadi keselarasan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan lingkungannya. Tata letak rumah tradisional Sumba baik itu yang berpola sirkular, linier maupun natar senantiasa berasosiasi dengan kubur-kubur batu yang terletak di tengah pemukimannya, sehingga keberadaan sebuah rumah atau perkampungan tradisional tidak bisa dipisahkan dengan kubur-kubur batu. Konsep yang mendasari tata letak rumah tradisional Sumba dengan bangunan megalitik tidak bisa dilepaskan dari kepercayaan marapu, dimana kubur keluarga atau nenek moyang harus selalu berada di dekat pemukiman sebagai tanda penghormatan pada roh. Orang Sumba percaya kubur di depan rumah menjaga kedekatan mereka dengan anggota keluarga yang telah meninggal, sehingga roh leluhur akan senantiasa melindungi dan mendoakan keturunannya yang masih hidup. Gambar 22. Masyarakat Sumba saat menghadiri upacara adat
Pesona Budaya Sumba 51 Bangunan rumah adat tidak terpisah dengan reti (Kuburan batu) karena ada anggapan bahwa manusia dalam kehidupan dilindungi oleh leluhur karena dengan pemujaan leluhur yang disucikan sebagai media menjembatani hubungan manusia dengan Tuhannya. Demikian juga katoda, simbol pemujaan ini untuk mengormati keberadaan jagat alam yang dilindungi dewa penjaganya, baik di lingkungan kampung, di sawah dan di ladang ini sebagai simbul hubungan harmonisasi manusia dengan lingkungan. Pandangan ideal ini tercermin pula secara mikro dalam rumah adat. Seperti keberadaan tiang 4 batang pada bagian tengah rumah mempunyai makna khusus; satu tiang sebagai soko guru yang menunjukan hubungan vertikal manusia dengan Tuhannya dalam upacara Marapu. Tiga tiang lainnya mempunyai fungsi hubungan secara horizontal manusia dengan sesamanya. Landasan ideal inilah mendasari pemikiran masyarakat sumba dalam mewujudkan lingkungan kampung (pariangu) yang harmonis dan menyatu dengan lingkungannya. Tata letak rumah adat (lewata moriata) terhadap pola perkampungan, juga mencirikan orientasi chtonis, yaitu berorientasi pada kekuatan supra-natural, pegunungan, misalnya. Di lain pihak, kubur-kubur batu juga menempati posisi yang sangat istimewa. Sebagian besar pemukiman di sini menunjukkan pola berjajar linier utara-selatan, saling berhadapan, menghadap ke kubur-kubur batu dan tempat-tempat pemujaan (marapuano). Ada pula pemukiman melingkar, yang berkiblat ke kubur-kubur batu yang terletak di tengahnya. Inilah dedikasi orang Sumba kepada arwah leluhur. Sebuah local genius yang tetap mereka pertahankan, di antara kuatnya dominasi Kristen-Protestan. Agama dan tradisi, berdampingan secara harmonis dalam keseharian orang Sumba.
52 Pesona Budaya Sumba 6. SUMBA : MASA LAMPAU UNTUK MASA DEPAN Nilai dan segala proses yang terjadi dalam hubungan kekerabatan mengalami perubahan seiring perkembangan masyarakat. Berubahnya masyarakat ke arah industrialisasi bahkan ke era informasi akan membuat pola organisasi sosial, seketika berubah dan mengalami bentuk baru. (Koentjaraningrat, 1958). Sebagaimana kita tahu, sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial. Sistem kekerabatan suatu masyarakat dapat dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan (Fortes, 2005). Struktur-struktur kekerabatan mencakup kekeluargaan dan bentuk kelompok yang merupakan perluasan keluarga seperti suku atau klan. Ikatan diantara orang yang bukan kerabat melahirkan banyak macam bentuk pengelompokan mulai dari “persaudaraan sedarah” sampai persahabatan semacam “perkumpulan”. Umur dan ikatan yang terbentuk karena keinginan sendiri termasuk kedalam kategori bukan kerabat. Pengertian bahwa seseorang dinyatakan sebagai kerabat bila ia memiliki pertalian atau ikatan darah dengan seseorang lainnya. Melalui beberapa ritual seperti tengi watu, sistem organisasi sosial terutama kekerabatan masyarakat Sumba bisa terus terjaga. Para leluhur memastikan bahwa sepeninggal mereka kekerabatan di Sumba harus tetap berjalan. Di balik tujuan penghormatan kepada leluhur sesungguhnya, melalui ritual-ritual adat, masyarakat Sumba menitipkan pada generasi mendatang untuk menjamin masa depan mereka melalui aspek kekerabatan yang terus dijaga. Apa yang terjadi pada masa kini tidak bisa dipisahkan dari masa lalu. Melalui ajaran leluhur inilah mereka ingin menguatkan eksistensi demi kesejahteraan masyarakat Sumba.
Pesona Budaya Sumba 53 Di tengah modernisasi yang melanda semua sektor, masyarakat Sumba tetap teguh menjaga warisan leluhur tidak hanya untuk menghormati leluhur melainkan juga untuk persatuan dab kesejahteraan mereka. Dikaitkan dengan kepariwisataan, sudah selayaknya Sumba yang memiliki kekayaan tradisi dan keindahan alam yang luar biasa ini semakin aktif berbenah. Sumba harus bergerak agar pariwisata wilayah ini bisa bangkit, salah satu syaratnya adalah infrastruktur dan fasilitas yang memadai. Untuk mengejar ketertinggalan dari daerah lain, Sumba bisa mengandalkan pariwisata sebagai penghasil devisa. Yang harus dilakukan sekarang adalah bagaimana mengemas dan menggiatkan usaha pendukung agar turis-turis mancanegara maupun nusantara tertarik mengunjungi Sumba dan tinggal lebih lama sehingga mendatangkan pemasukan bagi pemerintah maupun masyarakat Sumba. Beberapa hal yang bisa dijadikan masukan adalah pembenahan trasportasi udara dari Denpasar, Kupang, atau kota lain menuju Sumba, sehingga turis memiliki keleluasaan dalam menentukan waktu kunjungan. Pembangunan infrastruktur menuju perkampungan tradisional seperti di Kalenda Mondala dan Wainyapu yang selama ini masih berupa tanah berbatu agar diaspal sehingga jarak tempuh dari Waikabubak dapat dipersingkat. Hal lain yang perlu dipikirkan adalah pembuatan paketpaket perjalanan wisata yang harus secara proaktif “dijual keluar” berupa berbagai ragam budaya Sumba seperti wollu podu dan pasola, upacara-upacara adat, kekayaan satwa endemik dan kampung tradisional dengan tinggalan megalitiknya. Obsesi untuk menjadikan Sumba sebagai Daerah Tujuan Wisata memang memerlukan kerja keras dari semua pihak, agar pariwisata Sumba dapat berkembang sekaligus dapat ikut meningkatkan kesejahteraan rakyat Sumba. Satu hal yang tetap
54 Pesona Budaya Sumba harus dijaga adalah bahwa pembangunan pariwisata Sumba harus tetap merangkul, melibatkan dan menghormati kearifan masyarakat tradisional.
Pesona Budaya Sumba 55 Referensi : Dwelle, F. 2004. Injil dan Marapu : Suatu studi historis teologis tentang perjumpaan Injil dengan masyarakat Sumba pada periode 1876-1990. Jakarta. BPK Gunung Mulia. Geria, I. Made. 2014. “Kearifan Ekologis Kampung Megalitik Rindi Praiyawang Sumba Timur”. Forum Arkeologi no 2. Denpasar. Balai Arkeologi denpasar. Gunawan, Istutiah. 2000. Hierarchy and Balance: A Study of Wanokaka Social Organization. Canberra. Australia Department of Anthropology. Handini, Retno. 2006. “Menhir in the Exoticism of Toraja, South Sulawesi: a Living Megalithic Tradition”. From Homo Erectus to The Living Traditions. Bougon, France. EurASEAA 2006. p. 273-278. Handini, Retno. 2008. “Upacara Tarik Batu di Tana Toraja dan Sumba Barat: Refleksi Status Sosial dalam Tradisi Megalitik”. Pertemuan Ilmiah Arkeologi XI. Jakarta. Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.hal.437-445. Handini, Retno. 2009. “Pulling Stone Ceremony During Megalithic Stone Grave Construction in West Sumba”. Sharing Our Archaeological Heritage. Johor Bahru, Malaysia. Yayasan Warisan Johor. p.182-193. Handini, Retno. 2011. “Pola Pemukiman Tradisonal Ende Dalam Konteks Tradisi Megalitik”, Forum Arkeologi. Denpasar. Balai Arkeologi Denpasar.
56 Pesona Budaya Sumba Handini, Retno. 2015. “Kubur Batu dan Upacara Penguburan Raja-Raja Pau: Dedikasi Orang Sumba Timur pada Leluhur”. Eksotisme Megalitik Nusantara. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press. Kapita, Oe, H. 1976. Sumba dengan adat Istiadatnya. Jakarta. BPK Gunung Mulia. Koentjaraningrat, 1958. Beberapa Metode Anthropologi Dalam Penyelidikan-Penyelidikan Masyarakat dan Kebudayaan di Indonesia (sebuah ikhtisar). Jakarta. Penerbitan Universitas. Kusumawati, Ayu. 1993. “Konsepsi dalam Penguburan Penganut Marapu di Sumba” dalam Forum Arkeologi No I/1992- 1993. Denpasar: Balai Arkeologi Denpasar. Maria, Siti. Julianus Limbong. 2007. Marapu di Pulau Sumba. Jakarta. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata,Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film, Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Maschdijar, Lili Kusumawati. 2007. Jejak Megalitik Arsitektur Sumba. Jakarta. Graha Ilmu. Meyer, Fortes. 2005. Kinship and the Social Order. Somerset. Transaction Publisher. Sanderson, Stephen K. 2014. Makro Sosiologi Sebuah Pendekatan Terhadap Realtisa Sosial. Jakarta. Rajawali Pers. Seran, Sixtus Tey, Moenandjar Widiatmika, Nelci M. Mouwlaka, 2006. Sumba Barat dalam Kancah Perjuangan
Pesona Budaya Sumba 57 Melawan Kolonialis. Unit Pelaksana Teknis Dinas Arkeologi Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Prov. NTT. Kupang. CV. Harapan Jaya. Soejono, R.P. (ed) 1984. Sejarah Nasional Indonesia I, Jakarta. Balai Pustaka. Sukendar, Haris. 1996. Masyarakat Sumba dengan Budaya Megalitiknya. Jakarta. Proyek Pengembangan Media Kebudayaan. Dirjen Kebudayaan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Tunggul, Nggodu. 2004. Etika dan Moralitas dalam Budaya Sumba. Jakarta. Pro Mellenio Center. Turner, Victor. 1966. The Ritual Process. Structure and AntiStructure. New York. Cornell Paperbacks Cornell University Press. Vel, Jacqueline A.C. 2008. Uma Politics An Ethnography of Democratization in West Sumba, Indonesia, 1986-2006. Leiden. KITLV Press. Wellem, FD. 2004. Injil dan Marapu, Suatu studi historis, teologis tentang perjumpaan Injil dengan masyarakat Sumba pada periode 1876-1990. Jakarta. BPK Gunung Mulia. Woha, Umbu Pora, 2007. Sejarah, Musyawarah dan Adat Istiadat Sumba Timur. Kupang. Cipta Sarana Jaya. Woha, Umbu Pora, 2008. Sejarah Pemerintahan di Pulau Sumba.Kupang. Undana Press.
58 Pesona Budaya Sumba Yuniawati, Dwi Yani. 1992. “Tinjauan Mengenai Kubur Dolmen di Sumba Barat”. Skripsi. Denpasar. Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Udayana. Tidak diterbitkan.
Pesona Budaya Sumba 59 DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Peta Pulau Sumba Gambar 2 Kampung Wainyapu Gambar 3 Kuda, binatang ternak utama di Sumba Gambar 4 Kuda binatang ternak utama di Sumba Gambar 5 Perempuan Sumba sedang menganyam tas Gambar 6 Peti kubur jenis kabang Gambar 7 Watu pawesi dan kaduwatu Gambar 8 Pola hias pada kaduwatu Gambar 9 Kubur dari batu mengapit kubur dari semen Gambar 10 Kubur batu (reti) di Pau Gambar 11 Kubur batu yang hampir selalu diletakkan di depan rumah Gambar 12 Upacara tarik batu (tengi watu) di Sumba Gambar 13 Kubur batu yang akan ditarik dipayuni dengan kain tenun Gambar 14 Paaung watu memimpin upacara tarik batu di atas kubur batu yang ditarik Gambar 15 Pemberian sirih pinang untuk si mati Gambar 16 Penyembelihan binatang korban Gambar 17 Rumah Adat di Kampung Pau Gambar 18 Rumah adat Sumba dengan menaranya yang menjulang Gambar 19 Atap rumah dengan dua tiang kecil Gambar 20 Rumah adat di Sumba Timur Gambar 21 Diagram tiang pada rumah adat Sumba Timur Gambar 22 Masyarakat Sumba saat menghadiri upacara adat