The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Buku Digital, 2023-06-08 05:09:26

bbs_MQPHCSDG_1568917063

bbs_MQPHCSDG_1568917063

(dalam olah raga, dsb.)’. Ini pasti merupakan pinjaman dari MB (atau retensi dari MP *r?). 6.7.4.4 SWI Hanya ditemukan dua bentuk yang sepadan dengari MB p@r- -an dsb.: bay ’induk’ p@xbayan, p@rbayan ’seperindukan, sarang’ kayu ’kayu’ p@kayuan ’kayu-kayu dalam jumlah yang banyak’ 6.7.4.S IBN Tidak ada afiks yang sepadan 6.7.4.6 JKT JKT mempunyai sirkumfiks p@r- -an yang membentuk nomina dengan VID (termasuk "semitransitif", lihat 6.0) dan VT. Menurut Muhadjir, nomina-nomina ini mengacu kepada tempat, alat, atau pelaku, atau membentuk nomina abstrak. Bentuk ini tidak sering muncul. Kebanyakan bentuk p@r-_-an yang terdapat dalam Muhadjir juga muncul dalam MB, dan mungkin kelompok turunan ini secara keseluruhan dipinjam dari MB. Misalnya: b@ranak ’melahirkan’ p@ranakan, pranakan ’rahim, turunan’ b@judi ’berjudi’ p@rjudian ’tempat berjudi’ b@lari ’berlari’ p@larian ’l.pelarian;2. buronan’ jalan ’berjalan, pergi’ p@rjalanan ’perjalanan’ 6.1.4.1 Pembahasan materi MB p@r- -an dan MIN pa-_-an sama-sama muncul dengan dasar VID yang mendapat prefiks b@r-/ba-t dengan dasar VT yang mendapat prefiks p@r-/pa- (penanda VT), dan dengan dasar nomina. Bentuk ini juga mempunyai makna yang sama, yaitu membentuk nomina abstrak (khususnya dalam MB) atau nomina yang mengacu kepada tempat (khususnya dalam MIN), sasaran, hasil, atau alat. BH pa-_-an muncul dengan VID yang membentuk nomina dan mengacu kepada tempat (dan, dalam satu contoh, yang membentuk nomina abstrak), serta muncul dengan nomina yang membentuk nomina dengan arti ’tempat ditemukannya (nomina)’. SWI hanya mempunyai dua contoh p@x-_-an: kedua-duanya mempunyai dasar nomina; yang satu mengacu kepada tempat ditemukannya (nomina) dan yang lain kepada kolektivitas (nomina). IBN tidak mempunyai afiks yang sepadan. 285


JKT mempunyai jumlah terbatas untuk bentuk p@ r- -an: bentuk ini adalah nomina abstrak atau nomina yang mengacu kepada pelaku, tempat, atau alat. Bentuk JKT p@ r- -an mungkin semuanya merupakan kata pinjaman. Disebabkan materi di atas, dan hubungan paradigmatis p@ r- -an dan sebagainya dengan b@r- dan sebagainya, p@ r- (nominal) dan sebagainya, dan p@ r- (verbal transitif) dan sebagainya di satu pihak, dan dengan p@ N - -an di lain pihak, bentuk moyang MP harus direkonstruksi untuk p@ r- -an dan sebagainya yang muncul dengan dasar VID yang mendapat prefiks *(mb)Ar~, VT yang mendapat imbuhan *pAr- (bandingkan 6.1.2), dan nomina. Mungkin bentuk *pAr-[nomina]-an tidak diturunkan dari nomina secara benar, tetapi dari bentuk *(mb)Ar- dengan dasar nomina (sehingga *pAr-[(mb)Ar-nomina] -an + hilangnya *(mb)Ar-). Dengan dasar VID dan VT, moyang ini setidak-tidaknya membentuk nomina abstrak dan nomina yang mengacu kepada tempat dilakukannya tindakan atau kejadian. 6.7.5 Rekonstruksi MP *pAN~, *pAr-, *pAN- -an, dan *pAr- -an MP *pAN- direkonstruksi dengan dasar MB, SWI, IBN, JKT p@ N -, MIN, BH paN-. Prefiks ini muncul dengan VIS, dengan VID yang tidak mendapat imbuhan *(mb)Ar-, dan dengan VT yang tidak mendapat imbuhan *pAr-. MP *pAr- direkonstruksi dengan dasar MB p@r~, MIN pa-. Prefiks ini muncul dengan VID yang mendapat prefiks *(mb)Ar-, dan dengan VT yang mendapat prefiks verbal transitif *pAr-. *pAN- dan *pAr- membentuk nomina deverbal yang digunakan secara atributif, predikatif, dan dalam frase preposisi, dan VID yang mempunyai nominal sebagai induk atau subyek. Kedua prefiks ini menyatakan tujuan atau alat apabila ditambahkan pada VID dan VT. Selain itu, *pAN- menyatakan kecenderungan atau ciri apabila ditambahkan pada VIS. MP *pAN- -an direkonstruksi dengan dasar MB, JKT p@ N - -an, (secara sporadis) SWI p@ N- -an, dan MIN, BH paN- -an. Prefiks ini muncul dengan kata dasar VT yang tidak diturunkan, dan dengan VID yang mendapat prefiks *mAN(2)~. MP *pAr- -an direkonstruksi dengan dasar MB (dan JKT?) p@ r- -an, MIN, BH pa-_-an, dan, secara sporadis, SWI p@x-_-an. *pAr- -an muncul dengan VID yang mendapat prefiks *(mb)Ar~, dan dengan VT yang mendapat prefiks penanda VT *pAr~. *pAN- -an dan *pAr- -an membentuk nomina abstrak dan nomina yang mengacu pada tempat terjadinya tindakan atau kejadian. Kedua sirkumfiks ini bisa juga membentuk nomina 286


yang mengacu kepada sasaran, hasil, atau alat, tetapi peran-peran ini tidak terbukti dalam isolek-isolek Melayik. 6.8 Bukti dari afiks mati Sejumlah afiks MPP telah mati dalam isolek Melayik. Bukti untuk afiks-afiks ini tidak lengkap, di masing-masing isolek, dan tidak cukup untuk merekonstruksi afiks MP yang masih hidup. Jika seperangkat afiks seasal muncul dalam bentuk yang sudah mati dalam masing-masing anggota kelompok bahasa, perbandingan afiks-afiks itu hanya akan menghasilkan rekonstruksi afiks purba jika kehadirannya dalam daftar leksem yang panjang dalam satu isolek bertentangan dengan ketidakhadirannya dalam daftar sepadan dalam isolek lain. Jelas ini tidak demikian halnya dalam isolek-isolek Melayik. Bentuk turunan MP yang mungkin dari MPP *ma- (penanda VIS) dan MPP *-in- (penanda pengorientasian pada obyek) terbatas pada sedikit sekali perangkat kata seasal, yang setiap anggotanya memperlihatkan bentuk turunan yang bersangkutan; bandingkan MB ma/buk, ma/kan (3.6.14.5), m/erah (3.1.2.5), b/in/ata (yang tidak mungkin diwariskan), m/@n/antu (3.1.3.1) dan padanannya. Dalam keadaan demikian, tidak mungkin afiks yang bersangkutan belum mati dalam bahasa purba tersebut. (Alomorf yang berprefiks dari MPP *-in- mungkin diwariskan sebagai MP (*w-), bandingkan 6.3.7 n.b. terakhir). Bentuk turunan MP dari penanda VID MPP *-um-/*(u)m- lebih banyak jumlahnya. Namun, buktinya masih sangat tidak lengkap untuk memberikan dasar merekonstruksi afiks yang masih hidup pada peringkat MP. Mungkin MP masih mempunyai afiks hidup yang mencerminkan MPP *-um-/*(u)m~, tetapi masih tidak pasti, dan sama mungkinnya bahwa MP mempunyai afiks sepadan yang telah mati, atau setidak-tidaknya yang sangat tidak produktif. Perangkat kata seasal berikut mempunyai anggota yang beberapa di antaranya atau semuanya mencerminkan MPP *-um -/*(u)m -; anggota-anggotanya adalah VID kecuali tali-t/@m/ali dsb., tipis dsb. dan (mungkin) turun-t/@m/urun dan sebagainya. Semua isolek mencerminkan MPP *-um-/*(u)m~: *m/asak ’masak, matang’ (5.7 lema 39) ( < MPP *m/asak ’masak, matang’ dan *tasak ’masak, matang, selesai’, bandingkan Toba tasak ’selesai’, Jawa Kuno tasak ’matang, masak; selesai’); *ma/ti ’mati’ (5.7 lema 75) ( < MPP *matey ’id.’, yang diturunkan dari 287


*um- + *patey, dengan hilangnya konsonan labial awal secara teratur); *m/andi ’mandi’ (3.5.2) ( < MPP *anDuy ’id.’); *m/@ntah/*m/atah ’mentah’ (3.6.2) ( < MPP *m-a(n)taq/*m-@(n)taq); *m/u(n)tah ’muntah’ ( < MPP *u(n)taq ’id.’). Isolek-isolek ini selalu mencerminkan MPP *-um-/*(u)m-, tetapi beberapa di antaranya juga mempunyai bentuk kembar tanpa afiks ini: */t/um/buh ’tumbuh’ ( < MPP *C-um-ubuq ’id.’) dan *tubuh ’tubuh’ (4.6; 5.6.4) ( < MPP *Cubuq)\ *m/impi/*impi ’bermimpi’ > s.i. mimpi ’mimpi (v,n)’ dan MB, JKT impi ’mimpi, memimpikan’ (4.3.1; 5.7 lema 5.0)’; *turun ’turun’ > SWI tuxun, i.l. turun (3.4.1.2, dan MB turun-t/@ m/urun ’turan-temurun (untuk hujan atau keluarga)’, MIN turun-t/um/urun, BH turun-t/am/urun (dengan a yang tidak diharapkan), SWI tuxun-t/@m/uxun ’turun-temurun dari generasi ke generasi’; *tali ’tali’ (3.4.2.6) dan MB, SWI tali-t/@m/ali, MIN tali-t/um/ali ’tali-temali’; *muda? ’muda, belum matang’ > IBN muda ’id.’, MB muda, MIN, SWI mudo ’muda, belum matang; muda (untuk wama)’ dan MB uda (seperti dalam ma? uda ’adik perempuan ibu’), MIN udo ’kakak laki-laki’; *m/ampus/*ampus ’mampus’ > MB, BH, JKT m/ampus, MIN m/ampuyh ’mampus’, dan MB (h)ampus ’id.’, MIN ampuyh ’mampus’ (4.3) bandingkan juga DK dan MB ampus ’pergi’; *nipis/*mipis ’tipis’ > MB, SWI tipis, nipis, MIN, IBN nipih, BH nipis, JKT tipis, dan MIN mipih, IBN mipis, mipaw, mipih (5.7 lema 156); *udi/k ’ke hulu, daerah hulu’ (5.2) dan *m/udi/k ’pergi ke hulu, melawan arus’ (3.5.2); kedua etimon tersebut diturunkan dari MP *udi ’(bagian) belakang’, yang masih dicerminkan dalam MB k/@m /udi/an ’kemudian, sesudah itu’, MB k@m/udi ’kemudi; pusar-pusarbulu (pada kuda)’, IBN udi ’sesudah, nanti, sesudah itu’, bandingkan juga DS d-udi-e ’sesudah itu’. Isolek-isolek ini tidak sepadan dalam mencerminkan afiks yang bersangkutan: *m/inum/*inum ’minum’ > MB, SWI, JKT m/inum, MIN m/inun, BH k/inum (5.7 lema 40). Dari antara perangkat di atas, *m/asak, *m/ati, *m/andi, m/@ntah (*matah), dan *m/untah tidak memberikan bukti untuk penanda DIV MP *um-/*(u)m- yang masih hidup: oleh karena tidak satu pun isolek ini yang 288


mempunyai bentuk kembar tanpa bentuk turunan dari afiks ini, perangkat tersebut mungkin juga telah merupakan bentuk yang dileksikalisasi dalam MP. Hal yang sama berlaku untuk *t/um/buh: ada bentuk-bentuk yang bertalian tanpa afiks, tetapi bentuk-bentuk ini mencerminkan MP *tubuh yang muncul bersama dengan *t/um/buh. Mungkin *t/um/buh dan *tubuh tidak dirasakan lagi termasuk paradigma morfologis teratur yang sama—keadaan yang mungkin distimulasi oleh sinkope *u dalam *t/um/buh (bandingkan 4.6). Dalam MB m/inum, BH k/inum dsb., isolek-isolek ini tidak sepadan dalam memperlihatkan m/-. Andaikata BH k/inum tidak disebabkan peminjaman atau pembentukan balik (bandingkan 5.7 lema 40), perangkat ini merupakan bukti yang kuat untuk afiks hidup MP *um-/*(u)m~. Perangkat yang lain memperlihatkan bahwa ada afiks, tetapi, seperti yang telah disebutkan di atas, perangkat ini tidak memberikan bukti yang tak ambigu untuk afiks hidup pada tahap MP. MP mungkin sudah mempunyai bentuk kembar yang diwakilkan dalam perangkat ini. C atatan 'Konsep VIS dan VID, selain definisi VIS, VID, VT, dan nomina, dan deskripsi beberapa afiks MB yang disajikan di sini diambil dari Prentice (1987 dan tidak diterbitkan). Gagasan untuk membedakan VIS dan VID dengan menguji valensinya dengan verba m@njadi ’menjadi’ adalah dari Hein Steinhauer. Kriteria Prentice dan Steinhauer masih belum pasti, dan belum diuji secara sistematis. 2Defmisi mengenai prakategorial berbeda-beda untuk tiappenulis. Misalnya, definisi Muhadjir mencakup morfem akar dengan keanggotaan kelas ganda, komponen reduplikasi (sebagian atau seluruhnya) yang tidak muncul dalam lingkungan lain (misalnya kure, grak, dan cddot merupakan akar prakategorial dalam kata kurekuri ’kura-kura’, grakgrikgruk ’bunyi orang batuk atau masuk angin’, dan c@coddt ’kelelawar’), leksem yang menyatakan satuan mata uang seperti pirak ’rupiah’ dan bahkan kata pinjaman yang berasal dari frase preposisi dalam bahasa asalnya (bandingkan alakadar ’alakadar’ < AR ala qadr ’sesuai dengan’). Saya lebih suka membatasi definisi tentang prakategorial pada akar yang tidak muncul secara terpisah, yaitu akar yang hanya muncul dalam turunan dan dalam kata majemuk. Lebih lanjut, saya merasa tidak perlu membuat pembagian lebih lanjut untuk kata pinjaman yang berasal dari bentuk yang kompleks secara morfologis, kata majemuk, atau frase preposisi dalam bahasa asal, setidak-tidaknya tidak jika kata pinjaman itu dileksikalisasi sepenuhnya dalam bahasa peminjam, seperti halnya dengan AR ala qadr > MB, JKT alakadar. 289


3Afiks lain yang sudah mati adalah MB -@r-, dan dan padanannya. Walaupun patut diakui bahwa afiks ini juga perlu mendapat perhatian dalam mempelajari isolek Melayik Purba, saya tidak akan membahasnya di sini. 4Meskipun ada bentuk tuninan IBN, saya tidak merekonstruksi hambat glotal akhir untuk sufiks purba ini karena kata seasal Formosa -il-i tidak memperlihatkan -s, -h, atau -? yang sepadan, begitu pula kata seasal Filipina tidak memperlihatkan -h atau -? yang sepadan (Adelaar 1984a:419). Isolek Murut mempunyai sufiks fokus-referen -i? (yang digunakan dalam frase dengan aspek atemporal; Prentice 1971). Hambat glotal akhir sesudah vokal diperlihatkan dalam banyak bahasa Kalimantan, dan mungkin sekali ini adalah ciri kedaerahan (yang, sebagai altematif penjelasan untuk IBN ?, mempengaruhi IBN juga). sBandingkan Hapip; bahurup juga berarti ’membeli’, bandingkan 5.7 (91). 6hati diteijemahkan dengan ’hati’ dalam konteks ini, bukan ’lever’, karena hati dianggap sebagai pusat emosi dalam kebudayaan Melayu. 7Dengan dasar VT yang terdiri dari VIS, VID, dan nomina + kombinasi penanda VT -i + -akan, ta- dapat juga mengungkapkan permintaan, misalnya: diam ’diam, tinggal’ diami ’mendiami’ tadiamiakan ’minta 0 tetap tinggal; kurafj ’kurang’ kuratji ’kurangi’ takuraijiakan ’minta 0 sedikit dikurangi banu ’air’ bafUti ’beri air’ tabanuiakan ’minta 0 diberi air (disirami)’; hatap ’atap’ hatapi ’memasang atap pada’ haiapiakan ’membuatkan atap untuk O’, tahatapiakan ’minta mengatapi (sst) untuk O’. (Dalam data Asfandi tidak ditemukan bentuk tengahan +diamiakan, +kuraqiakan, atau •bbanuiakari). 8Menurut Ikranagara (1980:137) tidak ada kata seasal untuk MB t@r- dalam JK T> ’Wouk (1980:84) menekankan aspek ketidaksengajaan untuk t@r- dalam MB Indonesia: "Implikasi dari keadaan dan pengaruh luar yang tak terungkapkan menyebabkan konstruksi ini-dan dengan perluasan t@r- pada umumnya-ditautkan dengan konsep stativitas dan pasivitas, yang mengakibatkan kerancuan tentang signifikansi dasamya". l0Dalam MB Indonesia, 0- muncul apabila pelakunya bukan nama jenis (common noun) (artinya 0- bisa juga muncul dengan pronomina persona ketiga dengan peran pelaku). “ Dalam MB Indonesia, di- bisa juga muncul apabila pelakunya adalah pronomina persona pertama atau kedua yang didahului "oleh". 290


l2Dalam MB, -lah juga sering dipostklitisisasi kepada verba dalam modus imperatif, tetapi bukan penanda modus imperatif, seperti yang ditunjukkan oleh Aliana et al. untuk SWI -la(h). ns-eko ("s-eko" dalam Ina Anak Kalom dan Hudson) diturunkan dari eko?, kata DS untuk ’ekor’. Penggolong jumlah untuk menghitung orang dengan dasar kata untuk "ekor" tampaknya tidak lazim, tetapi ini juga teradapat dalam DK (bandingkan Dunselman) dan dalam bahasa-bahasa lain di Kalimantan. Kata ini mungkin mewakili generalisasi dari penggolong sebelumnya untuk binatang sampai pada semua makhluk hidup. MBentuk turunan dari AP *-a dengan makna yang berbeda-beda dalam bahasa Malagasi dan dalam bahasa-bahasa di Formosa, Filipina, Sulawesi, dan Kalimantan. Wolff merekonstruksi makna subjungtifnya dengan kata dasar bentuk turunan JW dan Atayal yang bermakna sama (kedua-duanya penanda subjungtif). Beliau merekonstruksi AP *-a ( > JW (n)e, Atayal -a) dan AP *-ay ( > JW -(n)e, Atayal -ay) sebagai penanda subjungtif yang masing-masing aktif dan pasif lokal. Bentuk turunan dari AP *-a dan *-ay dengan makna yang berbeda ialah, misalnya, Timugon Murut -o ( < AP *-a) dan -i ( < AP *-ay) masing-masing ditambahkan pada verba yang berorientasi pada obyek dan berorientasi pada referen dalam aspek atemporal (yang digunakan dengan bentuk imperatif, modus naratif, dan verba serial; fokus referennya mencakup pengorientasian pada penerima~dan lokasi-dalam Timugon Murut; Prentice 1971:218). lsDe Casparis (1956:347) menerjemahkan turunan ini dengan making impotent (’membuat tidak bertenaga’) disebabkan JKT l@tjit ’malas (dengan pikiran untuk mendapatkan uang secara licik tanpa bekerja’, tetapi saya lebih suka ’membuat hilang’ disebabkan Jawa Kuno l@t]it ’kelihatan samar-samar dari jauh, menghilang dari pandangan’ dan DS aijit, DK latjit, SUN liijit ’hilang’, dan saya merekonstruksi PM *l®i)it ’hilang’ berdasarkan bukti itu. “Dalam Asfandi, -an(l) dideskripsikan sebagai sufiks yang muncul dengan VID dan menyatakan jamak pelaku, tetapi dari contoh-contoh yang disajikan di sini (beberapa di antaranya diambil dari Hapip), temyata -an(l) mempunyai penerapan yang lebih luas. 17Asfandi tidak merinci apakah -an(2) ditambahkan hanya pada VT atau juga pada VID. l8Dalam Aliana et al. tidak ditemukan contoh dengan fonem awal selain b. l9Chaer memberikan pand? sedangkan Muhadjir memberikan pano, tanpa konsonan hambat glotal (Muhadjir tidak membedakan d dan 6, bandingkan 2.6.1). “ Tanpa perbedaan makna: lihat Muhadjir 1981:49—50. 2lDalam deskripsi Moussay ka- -an(2) tidak muncul dengan nomina, yang mungkin disebabkan pengaruh MB dalam MIN yang Beliau deskripsikan (Moussay 1981:118). 291


“ Menurut Muhadjir (1981:65-6, 6.10.2-3) sirkumflks ini juga membentuk nomina abstrak dari VID ("verba intransitir) dan verba "semitransitif" (6.0), tetapi keempat contoh yang Beliau berikan (yaitu jahat, jail, p@lit, dan ribut) semuanya dinamakan adjektiva dalam daftar kata Beliau. 23Walaupun ada perkecualian, yang kesemuanya merupakan kata pinjaman, kebanyakan dari JW, yaitu k@d@m@nan ’kesenangan, kecintaan’, k@ddyanan ’kesukaan’, k@mac@tan ’kemacetan’, (dengan dasar d@m@n ’senang, cinta (v)’, ddyatt ’suka (v)’, mac@t ’macet’, semuanya dari JW), dan k@tdma?an ’ketamakan’ (dengan dasar tbma ’tamak’, dari AR tammd ’tamak, ingin’). MPada him. 105 dan 108 dalam Muhadjir, aji dan diri diacu sebagai prakategorial, tetapi pada him. 113 dan 94 tjaji (dengan bunyi nasal) dan diri diberikan sebagai VID. “ Menurut Moussay (1981:120) bentuk pa-[nomina]-an menyatakan kolektivitas. 76+babuka ’buka puasa’ akan diharapkan bersama dengan pabukaan, bandingkan juga MB b@rbuka (puasa) ’buka puasa’. 27Saya meragukan validitas contoh Muhadjir yang hanya satu untuk bentuk p@r- -an yang mengacu kepada alat untuk melakukan tindakan: p@ritjatan ’kenangan’. Bandingkan kalimat berikut: ni gue kasi tandh math buat p@rit)atan ’Ini saya beri tanda mata untuk kenangan.’ 292


BAB VII Perubahan dari MPP ke MP Dalam bab ini kita akan menguraikan pelbagai perubahan yang terjadi dalam evolusi dari MPP ke MP. Para ahli bahasa Austronesia telah memperoleh cukup banyak pengertian tentang proses perubahan bunyi antara MPP dan bahasa-bahasa AN sekarang. Pada tataran leksikal tersedia cukup banyak materi yang direkonstruksi untuk menelusuri perkembangan dari MPP ke MP sehubungan dengan istilah untuk waktu dalam sehari, arah, bilangan, istilah kekera batan, pronomina, dan anggota tubuh, dan untuk menyusun daftar 200 kata yang pokok oleh Swadesh untuk MPP (sebagaimana yang dilakukan oleh Blust, lihat Blust yang akan datang) yang dapat dikontraskan dengan daftar yang sama untuk MP. Akan tetapi, rekonstruksi morfologi AP/MPP hanya diusahakan baru-baru ini, dan belum mencapai kesepakatan yang sama di antara ahli-ahli seperti kesepakatan yang dicapai untuk rekonstruksi fonologi dan leksikon AP/MPP. Selain itu, usaha untuk merekonstruksi morfologi AP/MPP sejauh ini pada umumnya berkenaan dengan sistem verbal, dan lebih khususnya, dengan sistem-fokus verbal. Sistem-fokus ini, walaupun dicerminkan dengan cukup baik dalam bahasa-bahasa di Formosa, Filipina, Sulawesi Utara, Kalimantan Timur Laut, dan Madagaskar telah mengalami beberapa perubahan radikal dalam bahasa-bahasa di Indonesia Barat. Saya membatasi diri di sini pada perbandingan antara fonologi MPP dan MP (termasuk struktur kata) dan leksikon. 7.1 Perkembangan fonemis Perubahan bunyi dari MPP ke MP adalah sebagai berikut. MPP : MP a. a : a d. p : p e : e,a | — *h t : t i : i c : c u : u k : k f. m : m n : n n : n o • n 293


b -ay : -ay -ey e. b : b, -p d g. r : r R -uy : -i 1 : 1 -iw j : d, -t D : d, -r -ew : -u z : j -aw : -aw h. s : s Z g : g, -k 1. q : q ? : 0, -? c. y : y h : h-/0-, w : 0-, -w- -0-, -?-0 Contoh: a. MPP *waRi ’hari; matahari’ > *hari (3.1.1.1); MPP *baRah ’bara’ > *bara? (3.1.1.1); MPP *tenu?un ’tenun’ > *t@nun (3.1.1.2); MPP *seqet ’sengat’ > *s@rj@t (3.1.1.2); MPP HiqeR ’leher’ > *lih@r (3.1.2.1); MPP *DaReq ’darah’ > *darah (3.7.3); MPP *quluh ’kepala’ > *hulu(?) (3.4.2.5). b. MPP *suqay ’sungai’ > *suijay (3.2.1); MPP *baqkay ’bangkai’ > *baijkay (3.2.1); MPP *qatey ’hati’ > *hati (3.2.3(1)); MPP *pajey ’padi’ > *padi > MB, MIN, SWI, IBN, JKTpadi ’id.’; MPP *babuy ’babi’ > *babi > s.i. babi (tetapi bandingkan juga IBN babuy, yang mungkin merupakan pinjaman); MPP *hapuy ’api’ > *api (5.7 (143)); MPP *laRiw ’lari’ > *lari > MB, BH lari, MIN, IBN lari, rari, SWI laxi, lari, JKT la r i, rari ’id.’; MPP *baRiw ’rusak’ > *bari > MB, BH bari/bari ’lalat buah’, SWI padi b@/bari/an ’beras yang telah disimpan lebih dari dua tahun’ (be/baxi ’ngengat burung hantu’: juga kata seasal?), IBN bari ’apak, pengap’, b@ /bari ’lalat buah’; MPP *buRew ’kejar, melarikan diri burn’ > *buru (5.7 (69)); MPP *pulaw ’pulau’ > *pulaw > JKTpulo i.l. pulaw ’id.’; MPP *panaw ’panau’ > *panaw (3.2.2). 294


n.b.: Dalam dua contoh, MP memperlihatkan *-? yang tidak diharapkan di belakang *i yang mencerminkan diftong akhir MPP: MPP *beRey ’beri’ > *beri?, dan MPP *anDuy ’mandi’ > *m/andi? (3.5.2). c. MPP *qayam ’jinak; main’ > *hayam ’binatang piaraan, mainan’ (3.3.1); MPP *bayaD ’bayar’ > *bayar (3.3.1); MPP *sawah ’ular sawah’ > *sawa? (3.3.2); MPP *hawa ’nyawa’ > *fiawa (3.3.2); MPP *wakaD ’akar, tanaman merambat’ > *akar (3.1.1.3); MPP *waDa? ’(tidak) ada’ > *ada(?) (3.4.2.5). n.b.: Dalam satu contoh MP mencenninkan *h untuk MPP *w awal: MPP *waRi ’matahari; hari’ > *hari (3.1.1.1). Kesepadanan MPP *waRi > MB hari menyebabkan Dempwolff mengajukan hukum bunyi MPP *w- > MB h, meskipun dalam leksem lain MB mempunyai 0 untuk MPP w-. Nothofer merekonstruksi dua fonem MJP buat menjelaskan bentuk turunan MB untuk AP *w~: MJP *wr > MB h, dan MJP *w2- > MB 0 . MJP *WjoRi ( > MB hari) adalah satu-satunya fonem purba yang berisi *w,_ (kecuali MPP *w}aiR ’air’ > *air, yang mungkin salah cetak untuk *w-fliR, lihat Nothofer him. 165). Alih-alih menganggap MB h- sebagai bentuk turunan teratur dari MPP *w- (dan MJP *w(})-), saya beranggapan bahwa MPP *w- menjadi 0 dalam MP (dan MB), dan bahwa dalam beberapa isolek, -h- epentetis dimulai di antara vokal-vokal yang sama dalam kata majemuk *mata + *hari. Dari catatan lapangan Blust tentang SAR, temyata isolek ini mempunyai ari ’hari’, tetapi matahari ’matahari’. Perkembangan yang yang sama tampak dalam bahasa Dairi; di sini MPP *w- hilang dalam ari ’hari’, tetapi dipertahankan (antara vokal-vokal yang sama) dalam matawari ’matahari’ (Adelaar 1981:13). d. MPP *puluq ’puluh’ > *puluh (3.4.1.1); MPP *qatep ’atap’ > *hat@p (3.4.1.2); MPP *taliqa ’telinga’ > *tAliqa(?) (5.7 lema 43); MPP *matey ’mati’ > *mati (5.7 (75)); 295


MPP *hepat ’empat’ > *@mpat (3.4.1.1); MPP *kutu ’kutu kepala’ > *kutu (3.4.1.4); MPP *pucuk ’puncak’ > *pucuk (3.4.1.3); MPP *cukup ’cukup’ > *cu(r])kup (3.4.1.3); MPP *aku ’aku’ > *aku (3.4.2.6). e. MPP *beRey ’bed’ > *b@ri (3.5.1; *-? tak dapat dijelaskan, lihat butir b di atas); MPP *tebuh ’tebu’ > *t@bu (3.4.2.6); MPP *kaban ’kawan’ > MP *kaban ’kawan, pengikut; kawanan, kelompok’ (3.5.1); MPP *DuRi ’duri’ > *duri? (3.5.2); MPP *(iu)juhut] ’hidung’ > *hiduq (3.5.2; *h- tak dapat dijelaskan); MPP *anDuy > *mandi? (3.4.2b, 3.5.2, 7.1b n.b.); MPP *tazem ’tajam’ > *taj@m (3.5.3); MPP *Zual ’jual’ > *jual (3.5.3); MPP *zaqet ’jahat’ > *jah@t (3.1.1.5 KTt.); MPP *pajey ’padi’ > *padi (lihat butir b di atas); MPP *derjeR ’dengar’ > *d@rj@r (5.7 lema 44); MPP *kunij ’kunyit1 > *kunit ’kunyit; kuning’ (3.6.1.2; lihat 3.4.2.2 untuk MPP *-j > JKT r dalam lal@r, pus@r, dan ul@r, dan JKT d /t dalam anud/anut); MPP *bayaD ’bayar’ > *bayar (3.3.1); MPP *ivakaD ’akar, tanaman merambat’ > *akar (3.1.1.3); MPP *tuhed ’lutut’ > *tu<f>@t (3.10); MPP *lebleb ’membenamkan, membanjiri’ > *l@l@p ’menyelam, menghilang’ > MB l@lap ’hilang; lelap, nyenyak’, MIN lalo ’tidur’, JKT l@ l@ p ’tenggelam,’; MPP *zegzeg ’berdiri kokoh’ > *j@j@k ’injak; jejak kaki’ > MB j@ jak, MIN jaja, BH jajak, SWI j@ ja , (JKT j@ jak ’jejak kaki’ pasti merupakan pinjaman; *j@j@k mungkin berkaitan dengan * s@j@k, bandingkan 4.3.2) f. MPP *kami ’kami’ > *kami (3.6.1.1); MPP *mata ’mata’ > *mata (3.4.1.2); MPP *tazem ’tajam’ > *taj@m (3.5.3); MPP *naneq ’nanah’ > *nanah (3.6.1.2); 296


MPP *namuk ’nyamuk’ > *hamuk (3.6.1.3); MPP *afiam ’anyam’ > *afiam (3.6.1.3); MPP *r)ai)a ’nganga (mulut)’ > * a a ( ) ’nganga’ (3.6.1.4); MPP *laqit ’langit’ > *laqit (3.6.1.4); MPP *tanem ’tanam’ > *tan@m (3.6.3.1); MPP *bulan ’bulan’ > *bulan (3.6.3.2); MPP *DiijDir) ’dinding’ > *dindirj (3.1.2.1). g. MPP *limah ’lima; tangan’ > *lima? ’lima’ (3.7.1); MPP *tuqela(n) ’tulang’ > *tularj (3.7.1); MPP *Rumaq ’rumah’ > *rumah (3.1.1.3); MPP *beReqat ’penting, berat’ > *b@rat (3.7.3); MPP *rantaw ’teluk; pergi ke pesisir’ > *rantaw ’pesisir, teluk, negeri asing’ (3.2.2); MPP *ukur ’ukur’ > *ukur ’ukur, uji; meramalkan’ > MB, BH, JKT ukur, SWI ukur ’ukur’, MIN uku?'ukuran, IBN ukur ’kemujuran, kesempatan’, dan rj-ukur ’uji (kemujuran seseorang), meramalkan’. h. MPP *salaq ’kesalahan’ > *salah ’bersalah’ (3.1.1.1); MPP *tasik ’laut’ > *tasik ’laut’ (3.4.2.3); MPP *a ta?as ’atas’ > *atas (3.8.2). i. MPP *qihu ’hiu’ > *hiu? (3.9.1); MPP *taqun ’tahun’ > *tahun (3.4.1.2); MPP *suqsaq ’kesusahan, kekhawatiran’ (Dump. memberikan MPP *susaq, tetapi bandingkan Karo suhsah ’sulit, susah’) > *susah ’sulit, sudah’ (3.9.3); MPP *daqan ’dahan’ > *dahan (5.7 lema 113); MPP *haliq ’pergi, pindah’ > *alih ’pindah, tukar’ > MB, BH alih, MIN alieh, SWI alie(h) ’id.’, IBN alih ’membalik’; MPP *hepat ’empat’ > *@mpat (3.4.1.1); MPP *tuhed ’lutut’ > *tue@t (3.10); MPP *Duha ’dua’ > *dua (3.1.1.3); MPP *lahud ’ke laut’ > *laut ’id.’ (5.7 (124)); MPP *tebuh ’tebu’ > *t@bu (3.4.2.6); MPP *qumah ’huma’ > *huma(?) (3.2.3, 3.4.2.5); MPP *kitah ’kita’ > *kita? (3.2.3; 3.4.2.4); 297 J:


MPP *paRih ’ikan pari’ > *pari? (3.4.2.4); MPP *ha(n)teD ’mengantarkan’ > *hant@(rt) > MB hantar, SWI ant at, antar, JKT ant r; MPP *hiRup ’hirup’ > *hirup (3.9.1); MPP *?enem ’enam’ > *@n@m (3.1.1.5); MPP *a ta?as ’atas’ > *atas (3.8.2); MPP *be(n)ti is ’beds’ > *b@tis ’bagian kaki antara lutut dan pergelangan kaki’ (5.6.5); MPP *Datu ’kepala, ketua’ > *datu ’kepala adat’ (3.4.2.4); (bandingkan juga MPP *mata<f> ’mata’ > *mata (3.4.1.2); MPP *kutu<t> ’kutu kepala’ > *kutu (3.4.1.4)). 7.2 Perkembangan fonotaktis 7.2.1 Dalam MP tidak ada konsonan hambat bersuara akhir atau palatal bersuara akhir: MPP *-b, *-d, dan *-g menjadi awasuara, MPP *-D menjadi *r, dan MPP *-j menjadi *t (7.1.e) 7.2.2 Gugus konsonan MPP disingkat a. Gugus konsonan disingkat menjadi komponen kedua, kecuali jika komponen pertamanya adalah nasal; misalnya: MPP *zegzege > *j@j@k (7.1e); MPP *bejbej ’melilit’ > *b@b@t ’membalut’ > MB b@bat, BH babat ’setagen; membalut’, MIN babe? ’ikat pinggang’, SWI b@ bat ’membalut; ikat pinggang’; MPP *buRbuR ’bubur’ > *bubur (3.1.2.4); MPP *suqsaq ’kesusahan, kekhawatiran’ > *susah ’sulit, susah’ (3.9.3); MPP *tektek ’memotong’ > *t@t@k ’memotong-motong’ (3.4.2.3). b. Nasal heterorgan menjadi homorgan dengan konsonan hambat yang mengikutinya; misalnya: MPP *DemDem ’pikir, diam’ > *d@nd@m ’dendam; rindu’ > MB d@ndam, SWI d@ndam, d@mdam (m tengah tak dapat dijelaskan), MIN, BH dandam, JKT d@nd@m ’id.’, IBN d@ndam ’permusuhan’; MPP *Ditjdif} ’dinding’ > *dindi (3.1.2.1); MPP *gemgem ’genggam’ > *g@tjg@m ’genggam, kepalan’ (bandingkan 7.3.7, him. 301); 298


MPP *parjuDan ’pandan’ > *pandan (4.6); MPP *n(iu)pi ’impian’ > *impi ’bermimpi’ (3.4.1.1). 7.2.3 Penyingkatan silabel terdapat dalam leksem yang mengandung lebih dari dua silabel (ini adalah proses yang berlangsung terus-menerus dari MPP sampai pada isolek-isolek sekarang). Ada tiga cara terjadinya penyingkatan silabel: a. kontraksi vokal dalam leksem yang mengandung lebih dari dua silabel: lihat 4.5; b. sinkope vokal kedua dari akhir dalam leksem bersuku tiga: lihat 4.6; c. hilangnya MPP *(h/q/?/0)a awal: lihat 3.1.3.3. 7.2.4 MPP *a dan *e berpadu dalam MP *a di depan *-h; misalnya: MPP *salaq ’kesalahan’ > *salah ’bersalah’ (3.1.1.1); MPP *suqsaq > *susah (lihat butir 7.2.2 a); MPP *Dareq ’darah’> *darah (3.7.3); MPP *naneq ’nanah’ > *nanah (3.6.1.2); MPP *taneq ’tanah’ > *tanah > JKT tane, SWI tana(h), i.l. tanah. 7.2.5 MP tidak mempunyai deretan *(h)@ - awal + konsonan hambat (4.2 dan Cat. 1). Sepadan dengan deretan awal MPP yang terdiri dari (laringal +) *e(N)~ + hambat, MP selalu mempunyai *(h)@N- + konsonan hambat. Misalnya: MPP *hepat ’empat’ > *@mpat (3.4.1.1); MPP *e(N)bun ’embun’ > *@mbun (3.1.2.4); MPP *e(N)taq ’mentah’ > *m/@ntah (3.6.2); MPP *qe(N)tut ’kentut’ > *k/@ntut > MB, SWI, JKT k@ntut, MIN kantuy?, BH kantut ’id.’, IBN k@ntut ’berkentut*. 7.2.6 Semivokal awal MPP hilang. Di antara vokal, MPP *y dipertahankan dalam posisi *(a,u)__(*a,u), dan MPP *w dipertahankan pada posisi *a__*a. Pada akhir leksem, semivokal MPP muncul sebagai bagian dari diftong (lihat butir 7.1b). 299


7.3 Penggantian leksikal Perkembangan dalam perubahan leksikal yang terjadi antara MPP dan MP akan diselidiki menurut bidang semantis dari leksem terkait. 7.3.1 Dua istilah MPP yang mengacu kepada waktu dalam sehari telah direkonstruksi berdasarkan perangkat kata seasal yang tersebar luas: MPP *Rabii ’petang’ dan MPP *beRrji ’malam’. MPP *Rabii dan *beRrji masing-masing digantikan oleh MP k@-l@(h0)@m *hari dan *ma-l@(h0)@m. Belum ada rekonstruksi MPP yang meyakinkan yang telah diajukan untuk ’pagi’ atau ’sore’. 7.3.2 Blust (1980c:220) mengajukan empat istilah arah MPP; dua diantaranya sebetulnya nama angin: MPP *lahud ’ke laut’ > *laut ’id.’ (5.2.2; 5.7 (124)) MPP *habaRat ’monsun barat laut’ > *barat ’id.’ ( > MB barat ’barat’) MPP *timuR ’monsun tenggara’ > *timur ’id.’ ( > MB timur ’timur’) MPP *Daya ’ke pedalaman’ > *daya? ’id.’ (5.2.2) MP *barat dan *timur masih merupakan nama angin monsun: MB barat dan timur tidak mempunyai kata seasal yang dapat dipercaya dalam isolek-isolek lain, yang tidak memungkinkan kita menetapkan makna ’barat’ dan ’timur’ untuk bentuk MPnya (lihat 5.2.2). 7.3.3 Dalam sistem bilangan, MP menggantikan istilah MPP yang asli untuk ’tujuh’, ’delapan’, dan ’sembilan’. Bandingkan: MPP *pitu ’tujuh’ vs. *tujuh MPP *walu ’delapan’ *dua(?)-alap-art MPP *siwa ’sembilan’ * (@)sa ?-ambil-an, *(@)sa ?-alapan Untuk yang lainnya, bilangan MPP dan sistem bilangannya diturunkan secara teratur dari MPP (5.3.1--2). 7.3.4 Istilah kekerabatan berikut adalah khas MP dan tidak diturunkan dari bentuk MPP dengan bentuk turunan yang tersebar luas: MPP — vs. *(@m)pu - hiarj ’nenek moyang’ MPP *e(q)pu ’istilah resiprokal untuk kakek/nenek dan cucu’ *nini? ’kakek/nenek’ 300


MPP *ama, *t-ama ’ayah’ *apa(?) MPP *ina, *t-ina ’ibu’ *(@)ma(?) MPP *mak(a,e,i,u)mpu ’cucu’ *cucu 7.3.5 Tidak terjadi penggantian leksikal dalam sistem pronomina persona, walaupun penanda persona MPP (*i dan *si) sebagian telah hilang, bandingkan: MPP *(i)aku ’(pers. pertama t.)’ > MPP *(i)kita ’(pers. pertama j. inkl.)’ MPP *(i)kami ’(pers, pertama j. ekskl.)’ MPP *(i)kahu ’(pers. kedua t.) MPP *(i)kamu ’(pers, kedua j.)’ MPP *(si)ia ’(pers, ketiga t.) MPP *(si)iDa ’(pers. ketiga j.) (Blust 1977a: 11) *aku, *ku-/*-ku *kita? *kami *kau *kamu(?); *-mu(?) (t. dan j.) *ia, -*ha *sida? MP mempertahankan demonstrativa MPP: MPP *qi-ini ’ini *(i)ni(?) MPP *qi-tu ’itu (dekat pendengar)’ *(i)tu(?) MPP *qi-na ’itu (jatuh)’ *(i)na(n)*(a)na(?) Hilangnya MPP *q dalam bentuk turunan MP tak dapat dijelaskan. Pronomina lokatif juga pada dasamya merupakan turunan kata lokatif MPP, walaupun keduanya tidak mempunyai makna yang sama untuk persona kedua dan tidak sepadan dalam persona ketiga. Dalam beberapa hal, kata lokatif IBN lebih sepadan dengan kata lokatif MPP daripada kata lokatif yang direkonstruksi untuk MP (banding kan IBN ditu? ’sini’, dia? ’situ’, dan diin ’nun’). Bandingkan: MPP *di-ni ’sini’ > MPP *di-tu ’sini’ MPP *di-a ’situ’(Blust 1970) *(?)ini(?) ’sini’ *(?)(i)tu(?) ’situ’ *(?)(i)na(n)/ *(?)-(a)na(?) ’nun’ (5.5.2.2) 301


Dari lima pronomina interogatif yang direkonstruksi, dua diantaranya adalah inovasi, dan yang satu tidak mempunyai rekonstruksi MPP yang sepadan: MPP *mana ’bagaimana?’ > *mana(?) ’mana?’ MPP *i-riu ’di mana?’ vs. *-mana(?) MPP *apa ’apa?’ > *apa MPP *(i)sai ’siapa?’ vs. *si-apa *sai 7.3.6 Dalam bidang anggota tubuh, rekonstruksi MP berikut bukan bentuk turunan dari istilah MPP dengan makna yang sama: (anggota tubuh bagian dalam) vs. *p@rut (*tian ’uterus’) *p@rut *janturj MPP *tian ’perat’ MPP *t-in-aqi ’usus’ MPP *pusuq ’jantung’ (kepala) MPP *baSaq-baSaq ’mulut’ MPP *(l,n,t],q)ipen, *(q)isi ’gigi’ MPP *buS(ue)k ’rambut kepala’ *mulut ’bibir; mulut’ *gigi *rambut/*bu0(ue)k (tubuh) MPP *likuD ’punggung’ *bAlakaq MPP *lambuq ’rusuk’ *rusuk (tungkai dan lengan) MPP *qaqay/*waqay ’kaki’ *kaki MPP *(qa-)lima/*kamay ’tangan’ *taqan (anggota tubuh binatang) MPP *panij ’sayap’ *sayap MPP *surjut ’jungur’ *jurjur n.b. 1. Pergeseran makna teijadi dalam MPP *tian ’perut’ > *tian ’uterus’ 2. Dempwolff merekonstruksi MPP *p@liR hanya berdasarkan dua padanan, 302


MB p@lir dan JWp@li, kedua-duanya dinamakannya ’penis’. Sebetulnya hanyap@li yang mempunyai makna ini: MB p@lir berarti ’buah zakar’ dan mencerminkan *p@lir ’id.’ (3.1.2.3). 3. Untuk dua konsep telah dibuat rekonstruksi MP, tetapi tidak ada kesepadanan MPP yang mantap: *pu0 (u2)t ’vagina’, dan *dagu? ’dagu’. 7.3.7 Dalam daftar 200 kata pokok Swadesh untuk MP (5.7) terjadi penggantian leksikal berikut: Indonesia MPP MP (1) tangan *(qa-)lima/*kamay ♦tarjan (4) kaki *qaqay/*waqay ♦kalci (5) beijalan, *laka(dt)/*lakaw/ pergi *panaw/*lampa(q?) *(mb)Ar-jalan (8) belok *bilhj/*ilef]/ *li(u)liu ♦biluk (9) renang *laquy/*nar)uy *(mb)A-rabat] (tapi bandingkan 5.7, penjelasan untuk lema 9) (10) kotor *cemeD/*daki/*ma-ilaq *kamah/*kumuh (13) perut ♦tian *p@rut (16) usus *t-in-aqi *p@rut (30) mulut ♦bahaq-bahaq ♦mulut (31) gigi *(l,n,i),q)ipen, *(q)isi ♦gigi (41) gigit *kaRat/*katkat/ *ketket/*kitkit/ *kutkut/*kete(b,p) ♦gigit (46) lihat ♦kita ♦lihat (51) duduk *untud/*tubai] ♦duduk (53) orang *tau/*tau-mataq ♦uraq (tapi bandingkan 5.7, penjelasan untuk lema 53) (57) suami *qasawa/*bam ♦laki 303


(58) istri (59) ibu (60) ayah (69) berburuh (70) memanah (73) curi (77) garuk (82) tumpul (87) bengkak (89) genggam (94) lempar (97) burung (100) sayap (101) terbang (102) tikus (104) lemak (107) ulat, cacing (118) rumput (121) pasir (130) bintang (131) awan (134) guntur, guruh (140) kering (145) asap (151) hijau (152) kecil (155) panjang (159) lebar (161) malu (164) baik (167) malam (179) dekat (181) di mana (190) lain (191) semua (195) tidak ♦qasawa *(t-)inah *(t-)amah ♦qanup ♦panaq ♦takaw ♦kaRaw, *garut *pu(n)dul/*dumpel ♦baReq *gemgem ♦tudaq ♦manuk ♦panij ♦Rebek *labaw *met]ak/*minakh *kalati/*(qali-)wati ♦baliji *qenay/*benaqi *bi(n)tuqen ♦Rabun *kuDug/*ru(T3)guq ♦(ma-)Rarjaw *anus/*qasu/*ebel ♦(ma-)iselem *Dikiq/*keDi/*keDik *anaduq/*adaduq ♦(ma-)lawa ♦(ma-)hiaq *(ma-)pia/*dia ♦beRf^i-n ♦azani *i-nu ♦duma ♦amin *diaq/*qazi ♦bini *(@)ma(?)/*indu?(*ina) *apa(?) ♦bum *timbak/*panah ♦mali ♦garu /*garut/*garuk ♦tumpul *b@qkak *P@gat) ♦limpar ♦burui] ♦sayap *tAr(@)bar] ♦tikus *l@m@k *hul@t/*caciq ♦rumput ♦pasir ♦bintaq *a(bw)an ♦guntur/*guruh *k@riq *as@p ♦hijaw *k@cil/*k@cik ♦panjaq ♦libar ♦malu ♦baik *ma-l@(h</>)@m *d@k@t/*(h)ampiq *-mana(?) ♦buk n ♦habis *-da? 304


Dalam dua belas leksem, dua konstruksi muncul dalam daftar MP, yang satu tidak mencerminkan rekonstruksi MPP yang sepadan dalam daftar Swadesh: Indonesia MPP MP (26) rambut kepala *buh(ue)k *rambut/*bu<£(u@)k (38) kunyah ♦mamaq *mamah/*kunah (39) memasak *nasuk/*tanek/ ♦Zakan *masak/*tan@k (71) tusuk,tikam *suksuk *tusuk/*tik@m (72) pukul ♦palu *pukul/*palu? (78) potong, bacok *tektek/*taRaq *t@t@k/*putuTj (93) tumbuk *TukTuk/*bayu *tumbuk/*tutuk (95) jatuh *ka-nabuq/ *ma-nabuq *jatuh/*labuh (103) daging *hesi/*isi *isi?/*dagii] (144) bakar *tunu *bakar/*tunu (153) besar, raya *(ma-)Raya *b@sar/*raya (189) siapa *(i)sai *si-apa/*sai n.b. 1. *t- dalam MP *tusuk tak dapat dijelaskan (disebabkan disimilasi regresif?) 2. Beberapa leksem purba dasar dalam MPP mempunyai bentuk turunan MP, tetapi leksem ini mungkin bukan bagian dari kosakata dasar MP: (7) MPP *maRi ’kemari’ > *mari(?) ’kemari; ke sini’ > MB marl ’mari sini! ’ MB, JKT k@/mari, MIN, BH ka/mari ’ke sini’ (mungkin berhubungan dengan MB dfari (d- < *di-?), SWI g/axi (g- tak dapat dijelaskan), IBN ari ’dari’); (10) MPP *cemeD ’kotor’ > *c@m@r > MB c@mar, MIN cama; MPP *daki ’daki’ > *daki (3.4.2.4); (11) MPP *abuk ’abu’ > *abuk > MB, IBN abuk, SWI abue?; (44) MPP *diqa ’dengar’ > *ditja > IBN dirja; (88) MPP *peRes ’peras’ > *p@r@s > JKT p@r@s; (89) MPP *gemgem ’genggam’ > *g@qg@m ’genggam; kepalan’ > MB g@ijgam, MIN garjgam, JKT g@qg@m ’(genggam) kepalan’, MIN garjgam, SWI g@rjgam ’kepalan’, IBN g@fjgam ’1. lebar kepalan; 2. segenggam’; 305


(112) MPP *buRuk ’busuk’ > *buruk ’busuk’ (5.7 lema 122); (148) MPP *burak ’putih’ (Blust 1971) > *burak > IBN burak; (168) MPP *qalejaw ’hari’ > *andaw ’hari, siang’ (5.1.2); 3. Beberapa leksem purba dasar dalam MPP mempunyai bentuk turunan yang mengalami pergeseran makna: (14) MPP *tian ’perut’ > *tian ’uterus’ (7.3.6); (21) MPP *DemDem ’pikir, diam’ > *d@nd@m ’dendam’ (7.2.2b); (54) MPP *(ma-)Ruanay ’pria’ > *mA(r)(w)anay ’saudara laki-laki (wanita berbicara)’ (5.4.5); (55) MPP *b-in-ahi ’wanita’ > *bini ’bini, istri’ (5.7 lema 55); (70) MPP *panaq ’memanah’ > *panah ’panah’ (5.7 lema 70; JKTpani, i.l. panah’; (87) MPP *baReq ’bengkak’ > *barah ’abses’ > MB, MIN barah, SWI baxa(h); (97) MPP *manuk ’burung’ > *manuk ’unggas piaraan’ > BH, IBN manuk; (104) MPP */ninak ’lemak’ > *minak ’1. minyak; 2. lemak’; (123) MPP *aluR ’alir’ > *alur ’alur atau arus (?) di sungai’ > MB alur, MIN alue, SWI alur/an ’alur’, BH alur 'lekuk memanjang', IBN alur ’arus di sungai’; (194) MPP *mana ’bagaimana’ > *mana(?) ’mana’ (5.5.2.2-4-6). 4. Hilangnya batas morfem dan perubahan bentuk lainnya muncul dalam leksem MP berikut: (2) MPP *kiwa ’kiri’ > *kiba? (dengan *-b- yang tak diduga); (35) MPP *(m-)utaq ’muntah’ > *m/untah (5.7(35); (36) MPP *luZaq ’meludah’ > *ludah (dengan *d untuk *j yang diduga, 5.7(36)); (37) MPP *ka?en ’makan’ > *ma/kan (atau *m/akan?) (3.6.1.1); (50) MPP *(mi-)hepi, *nipi, *nupi ’bermimpi’ > *impi (3.4.1.1); (76) *(ma-)quDip ’hidup’ > *hidup (4.4 dan 5.7 lema 76); (137) *hiup ’tiup’ > *t/iup (5.7 137). 306


BAB v m Kesimpulan 8.1 Hasil-hasil Dalam bab-bab sebelumnya saya berusaha merekonstruksi MP. Saya bisa menunjukkan bahwa beberapa isolek Melayik masih memperlihatkan retensi yang hilang dalam MB. Di antaranya, bunyi pepet silabel akhir dalam JKT diperlihatkan sebagai retensi dan MPP, dan bunyi pepet yang sepadan direkonstruksi untuk MP. Konsekuensi lebih lanjut dari kenyataan bahwa bunyi pepet JKT adalah retensi (alih-alih fonem pinjaman) ialah bahwa jika leksem dalam isolek-isolek Melayik mempunyai bentuk yang sepadan dengan bunyi pepet silabel akhir dalam bahasa Jawa, bentuk ini mungkin dipinjam dari JKT ke dalam bahasa Jawa. Bagaimanapun juga tidak ada dasar untuk otomatis menganggap bahwa kesepadanan bahasa Jawa pasti diwariskan disebabkan bunyi pepet silabel akhir. Mungkin padanan itu adalah leksem Melayik asli yang masuk ke dalam bahasa Jawa melalui JKT, atau melalui isolek Melayik lain yang mempertahankan bunyi pepet pada tahap terdahulu. Ini mungkin pada akhimya memberikan penjelasan mengenai saling pengaruh antara isolek-isolek Melayik dan bahasa Jawa. Kami memperlihatkan juga bahwa, walaupun ada perbedaan r/x dalam SWI, ini tidak mencerminkan perbedaan MPP *r/*R yang diandaikan dan bahwa SWI r adalah inovasi. Penyelidikan tentang struktur kata MP telah menghasilkan beberapa pengertian yang saya harap akan terbukti berguna sebagai ujian terhadap pewarisan unsur-unsur leksikal. Misalnya, ada kecenderungan yang kuat terhadap harmoni jenis artikulasi untuk konsonan-konsonan homorgan pada awal silabel dalam leksem (bersuku dua). Lagi pula, mungkin leksem MP dengan deretan *-im atau *-ip akhir tidak muncul. Ini akan menjelaskan metatesis dalam *hidup ( < MPP *quDip) yang diusulkan sebagai kriteria untuk mengelompokkan isolek-isolek Melayik bersama dengan beberapa bahasa yang lain (Blust 1981:463). Pada tataran morfologi, di antaranya, tampaknya (selain sebuah sufiks transitif *-l) MP mungkin mempunyai penanda subjungtif *-a. Prefiks yang berorientasi pada pasien yang menurunkan di- pada setiap isolek tidak muncul. 307 j


Rekonstruksi leksikal yang telah saya buat dimaksudkan untuk memperlihatkan kesepadanan bunyi di antara isolek-isolek Melayik, dan untuk menyajikan cukup banyak korpus kosakata dasar dalam MP. Dalam sejumlah leksem, saya telah membuat koreksi terhadap rekonstruksi leksikal (MPP) pada peringkat yang lebih tinggi. 8.2 Subklasifikasi Sulit untuk membuat subklasifikasi yang rinci tentang isolek-isolek Melayik berdasarkan kajian ini. Perbedaan utama antara isolek-isolek ini bisa merupakan retensi, atau inovasi yang tidak terpisah dari kelompok isolek tertentu. Perbedaan demikian tidak bisa memberikan bukti untuk membuat argumen mengenai pengelompokan. Ini terutama jelas dari perbedaan fonologis isolek-isolek ini. Beberapa ciri (misalnya, JKT @ |_K#, IBN b | a_a, MIN dan BH Hu dalam silabel ketiga dari akhir) adalah retensi dari MP dan MPP. Ciri-ciri lain adalah inovasi idiosinkratis (misalnya SWI r vs x, diftongisasi IBN untuk silabel akhir), atau inovasi yang cukup baru yang tampaknya sama tetapi, setelah diteliti dengan cermat, temyata tidak berkaitan (misalnya, diftongisasi vokal dalam silabel akhir, yang dalam MIN dan SWI berlawanan, dan yang tidak terdapat dalam semua subdialek MIN, atau tidak dalam bentuk yang sama). Perbandingan pada tataran leksikon dan morfologi menghasilkan gambaran yang agak berbeda: IBN dipilih sebagai isolek yang mengalami perkembangan yang agak berbeda dari isolek-isolek lain. Akan tetapi, sebagai isolek Kalimantan yang asli pedalaman, IBN, dari keenam isolek ini, paling sedikit mendapat pengaruh yang telah lama ada dan beragam (Sanskerta, Jawa, Arab, Portugis) yang mempunyai efek yang begitu bersatu pada isolek-isolek Melayik pada umumnya.1 Dalam IBN, interferensi dari MB mulai memainkan peranan penting hanya pada satu setengah abad terakhir ini. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau IBN memperlihatkan beberapa perbedaan morfologis, dan kalau isolek ini mempunyai persentase kata seasal yang rendah terhadap isolek-isolek Melayik yang lain. Dan, sebaliknya tidak mengherankan juga bahwa SWI dan JKT tampaknya jauh lebih dekat dengan MB daripada BH atau IBN. Untuk penutur SWI dan JKT, MB jauh lebih merupakan dialek normatif daripada bagi penutur IBN, MIN, dan BH. Mungkin isolek-isolek Dayak Melayik membentuk cabang tersendiri di dalam kelompok bahasa Melayik, dan bahwa SWI dan JKT lebih berkaitan erat kepada MB daripada isolek-isolek lain. Akan tetapi, dengan mempertimbangkan efek yang menyimpang yang diperlihatkan isolek-isolek 308


lain secara bersama-sama, dan dengan meringkas pertimbangan-pertimbangan di atas, tampaknya terlalu pagi untuk membuat klasifikasi internal isolek-isolek Melayik. 8.3 Tanah air MP Kita tidak tahu persis mengenai tanah air asli penutur Melayik Purba. Kern (1917:119—20) menyebutkan Semenanjung Malaya sebagai tanah air yang paling mungkin untuk orang-orang Melayik Purba ("orang-orang Melayu" dalam karangannya), tidak termasuk Sumatera karena adanya kata MB s@lat/an (yang berarti ’selat’ sekaligus ’selatan’, bandingkan 5.2.1). Beliau menganggap migrasi sebelumnya dari Kalimantan ke Semenanjung Malaya sebagai hal yang tidak mungkin, terutama karena orang akan bertanya mengapa bangsa yang tinggal di satu bagian di Kalimantan bersusah-susah untuk bermigrasi ke negeri asing sebelum mereka mendiami sisa pulau yang belum padat penduduknya dan yang subur. Sebaliknya, orang akan memperkirakan adanya tekanan dari luar untuk penyebaran demikian ke negeri asing, dan Kern beranggapan bahwa tekanan ini terdapat di daratan Asia Tenggara. Bangsa-bangsa yang tinggal di situ telah mendesak ke luar keturunan Austronesia sebelumnya. Bahwa keturunan Austronesia ini pemah tinggal di situ masih bisa dibuktikan oleh sejumlah kata pinjaman dari isolek Austronesia dalam bahasa Kamboja, Annamite, dan Thai, "jauh lebih banyak daripada yang dapat dijelaskan dari keadaan sekarang dalam bahasa-bahasa di Melayu Polinesia [baca Austronesia]" daratan (halaman 120). Dengan kata lain, Kern percaya bahwa bangsa-bangsa Austronesia pada mulanya tinggal di daratan Asia Tenggara, dan didesak ke luar dari situ oleh bangsa-bangsa yang sekarang tinggal di situ. Beberapa di antaranya, nenek moyang penutur isolekisolek Melayik sekarang, pergi ke Semenanjung Malaya, dan dari situ beberapa di antaranya migrasi ke daerah-daerah lain seperti Sumatera dan Kalimantan. Ada beberapa alasan untuk tidak menerima teori migrasi Kern. Sehubungan dengan asumsinya bahwa tanah air Austronesia berada di daratan Asia Tenggara, saya mengacu kepada studi yang lebih barn tentang masalah ini (Dyen 1965; Dahl 1976). Cukup dikatakan bahwa ahli-ahli bahasa Austronesia sekarang pada umumnya percaya bahwa orang-orang Austronesia purba menyebar dari Taiwan ke bagian-bagian lain kawasan Austronesia, dan bukan dari daratan Asia Tenggara ke Asia Tenggara dan Oceania. Argumen 309


yang menentang asumsi Kern bahwa Semenanjung Malaya adalah tanah air Melayik yang asli sebelum terjadi migrasi ke Sumatra dan Kalimantan adalah sebagai berikut. Istilah s@lat/an menggantikan istilah arah sebelumnya *daya?, yang sebetulnya mempunyai makna yang sangatberlawanandan, jika benar, menunjukkan tanah air Melayik yang pedalamannya terletak di sebelah Selatan, dan laut di sebelah Utara (bandingkan 5..2.2). Lagi pula, cara kebanyakan bangsa Melayu Polinesia bermigrasi atau memperluas daerah mereka adalah lewat laut dan bukan lewat darat. Penutur isolek-isolek Melayik mungkin tak terkendali, dinilai dari tradisi berlayar di laut dari banyak di antara mereka. Tidak ada alasan mengapa orang-orang Melayik Purba yang tinggal di bagian Kalimantan akan lebih suka perluasan daerah di pedalaman Kalimantan yang hampir tak terjangkau daripada perluasan maritim. Semenanjung Malaya memperlihatkan pola demografis yang khas dari orangorang pesisir (orang-orang Melayu) yang maju secara teknis dalam proses mendesak keturunan Austronesia (Orang Asli, beberapa di antaranya masih merupakan penutur bahasa-bahasa Austro-Asiatika) yang kurang maju teknologinya ke pedalaman yang lebih dalam. Di Kalimantan, perpindahan penduduk yang sama dapat diamati, walaupun di sini orang-orang Melayu dan Cina belum menembus pedalaman itu yang begitu dalam. Akan tetapi, perbedaan penting antara Semenanjung Malaya dan Kalimantan adalah bahwa beberapa suku Dayak asli di pedalaman juga penutur isolek Melayik, yaitu penutur Dayak Melayik. (Orang Dayak Iban dengan perluasan mereka akhir-akhir ini ke pesisir agak merupakan perkecualian dalam hal ini). Jadi, sementara dalam dua kasus orang Melayu (dan Cina) telah mendiami pesisir dan perlahan-lahan memperluas ke pedalaman, beberapa orang pedalaman yang tertekan di Kalimantan Barat itu sendiri adalah penutur isolek Melayik. Isolek-isolek Melayik ini adalah asli, dan bukan merupakan hasil pergeseran bahasa seperti halnya beberapa isolek Melayik yang dipakai di Indonesia Timur. Keaslian isolek-isolek Melayik ini dibuktikan oleh budaya Kalimantan yang khas pedalaman dan oleh bahasabahasa mereka. Ini memperlihatkan banyak variasi di antara isolek-isolek itu sendiri, dan hampir tidak mengalami pengaruh Sanskerta atau Arab, yang berkontradiksi dengan isolek-isolek Melayik yang lain. Kenyataan di atas memperlihatkan bahwa Kalimantan perlu dipertimbangkan secara serius sebagai kemungkinan tanah air Melayik Purba.2 Prentice (1978:19) percaya bahwa inti bahasa Melayu terletak di daerah di sekitar dua sisi Selat Malaka, dan Beliau menganggap isolek-isolek Melayu pesisir di Kalimantan sebagai 310


cabang yang barn. Ini tidak berkontradiksi dengan kemungkinan Kalimantan sebagai tanah air Melayik Purba, karena pemakaian istilah "Melayu" oleh Prentice tidak mencakup isolek-isolek Dayak Melayik. Mungkin beberapa isolek Melayu pesisir di Kalimantan adalah hasil dari migrasi balik, dan bahwa isolek-isolek tersebut diperkenalkan dari Semenanjung Malaya.3 8.4 Saran-saran untuk penelitlan lebih lanjut Diperlukan lebih banyak materi untuk membuat studi historis-komparatif yang lebih akurat tentang isolek-isolek Melayik. Jarang ada isolek Melayik yang tidak memerlukan deskripsi gramatikal dan leksikal yang lengkap, dan tugas yang besar menunggu mereka yang tertarik pada deskripsi, klasifikasi, atau perbandingan isolek-isolek Melayik di Semenanjung Malaya, pesisir Sumatera, Kalimantan, atau Jawa, atau Indonesia Timur. Namun, walaupun begitu, jelas isolek-isolek seperti Dayak Melayik atau Bacan memperlihatkan lebih banyak retensi daripada yang lainnya. Isolek-isolek ini tidak mendapat pengaruh aliran kebudayaan yang menentukan bentuk kebanyakan isolek Melayik, dan karena itu bisa mempertahankan ciri-ciri MP yang sudah hilang dalam isolek lain. Isolek-isolek Dayak Melayik lebih menarik karena, selain perkembangannya yang terpisah dari isolek-isolek Melayik yang lain, juga sangat berbeda satu sama lain. Cara lain untuk menjelaskan gambaran historis isolek-isolek Melayik ialah mengambil data dari teks, buku gramatika, dan kamus kuno ke dalam perbandingan. Ada banyak jebakan dalam materi semacam ini, tetapi dengan pendekatan yang kritis terhadap kekurangan pada kesalahan teks atau kekurangan linguistis dan leksikografis sebelumnya, orang bisa mendapat manfaat besar dari materi itu. Pemahaman tentang sejarah isolek-isolek Melayik juga sangat tergantung pada studi historis-komparatif bahasa Jawa. Bahasa Jawa dan isolek-isolek Melayik saling mempengaruhi selama kurang lebih seribu tahun, dan dengan mempelajari sejarah isolek-isolek Melayik tanpa sekaligus mempelajari sejarah isolek-isolek Jawa (atau, sebetulnya mempelajari sejarah isolek-isolek Jawa tanpa sekaligus mempertimbangkan sejarah isolek-isolek Melayik), orang akan mempuyai bagian-bagian yang berantakan. Lagi pula, pemahaman yang lebih baik tentang saling pengaruh ini sangat penting untuk rekonstruksi pada peringkat yang lebih tinggi. Dengan adanya saling pengaruh yang besar antara bahasa Jawa dan isolek-isolek Melayik, dan dengan adanya pengaruh intensif dari isolek-isolek Melayik pada bahasa-bahasa lain di 311


Indonesia dan Filipina, mungkin studi tentang saling pengaruh antara bahasa Jawa dan isolek-isolek Melayik ini akan terbukti menghasilkan beberapa pandangan korektif sehubungan dengan (untuk memperbaiki) kosakata MPP (terutama bagian yang direkonstruksi oleh Dempwolff). Terakhir, afinitas MP dengan bahasa-bahasa lain hams diuji untuk membuat klasifikasi lebih lanjut tentang MP di dalam cabang bahasa-bahasa Melayu Polinesia Barat. Isolek-isolek Melayik memperlihatkan sangat banyak kemiripan perubahan bunyi dan leksikon dengan bahasa Aceh dan Camik.4 Hubungan erat yang perlu diperhatikan ialah antara isolek Melayik dan bahasa Bali. Catalan ’Akan tetapi, pada batas tertentu isolek-isolek Dayak Melayik pun memperlihatkan pengaruh ini. Mungkin sebagian besar pengaruh barat (termasuk SKT dan AR) lebih dulu mencapai MB, dan mempengaruhi isolek-isolek lain melalui MB. Ini mungkin juga terjadi dengan pengaruh bahasa Jawa, walaupun jelas sekali BH, SWI, dan JKT juga langsung dipengaruhi oleh JW. 2Gagasan bahwa Kalimantan adalah tanah air MP yang asli pertama kali diusulkan kepada saya oleh Robert Blust. 3Bandingkan juga dengan Ballwood (dalam penerbitan). Bukti yang jelas bahwa isolek Melayu pesisir ini diperkenalkan dari Semenanjung Malaya ialah bahasa Melayu yang dipakai di dan sekitar Pontianak (Kalimantan Barat) (Fokker 1895). Jack Prentice memberitahukan saya bahwa penutur Melayu Brunei aslinya penutur bahasa Bisayan (masih dipakai di Brunei dan daerah-daerah sekitamya). 4Bandingkan juga bentuk turunan isolek-isolek ini dari konsonan-konsonan MPP, sistem bilangannya, dan kosakatanya untuk anggota tubuh. Banyak kemiripan ini tidak dimiliki JW, SUN, dan Madura, yang, bersama dengan MB, merupakan subkelompok Melayu Jawa yang menjadi dasar untuk merekonstruksi MJP (Nothofer 1975). 312


Lampiran 1 Lampiran ini berisi daftar leksem bersuku dua yang tidak sesuai dengan kecenderungan pada harmoni konsonan. Leksem-leksem ini dikelompokkan per isolek, dan dibagi lagi menurut pola leksem-leksem tersebut (bandingkan 4.3.1). Apabila mungkin (dan dengan penekanan pada leksem MB), leksem tersebut disertai informasi historis. Daftar berikut ini sudah tuntas, kecuali untuk contoh-contoh yang memperlihatkan kombinasi d, t, dan n: contoh-contoh ini semuanya diwariskan dari MPP dan bertujuan memperlihatkan kombinasi demikian apabila diperbolehkan dalam sejarah isolek-isolek Melayik. M B n.b.: Tanda derajat (°) di sudut kiri atas leksem menyatakan bahwa leksem ini tidak terdapat dalam Iskandar, dan bahwa statusnya dalam MB diragukan. Leksem-leksem berikut terdapat dalam Iskandar dan tidak terdapat dalam Wilk.: bowel ’bawel’ ( < JW), bemp@r ’bumper’ ( < BLD), kagok I ’kagok’ ( < JKT), kagok II ’berbeda dari pelafalan umum’ ( < JW), m@mpan ’mempan’, mepet ’mepet’ ( < JKT), mopit ’mopit, pensil-kuas untuk menulis huruf Cina’ ( < Cl). Pola I: bVpV(K): bapa, bapa/r), bapa/k ’bapak, ayah’ bepaq, biparj, bepa, dalam kueh —’(sejenis) kue (mungkin < Cl, menurut Wilk.)’; bopeij ’bopeng’, < Cl (Leo 1975:8); pVbV(K): °pabu, dalam main -- ’akrobat Cina’ < Cl; °p@bin ’sejenis gasing yang ditulisi huruf di keempat sisinya dan digunakan sebagai dadu dalam perjudian’ < Cl; °pobien (dua silabel?) ’dermaga’ < Cl; 313


jVcV(K): jicuy ’j icing, abu (jelaga) dari candu’ (jicirj dalam Iskandar) < Cl; cVjV(K):-------- gVkV(K): ge?kok, go?kek ’tokek’, onomatope dari JW; kVgV(K): kaga ’tidak’, dari JKT (dan pasti kaga?, bandingkan Chaer); kaget ’kaget’, leksem JKT yang dipinjam dari JW; kagum ’kagum’, leksem JKT yang dipinjam dari JW; kugah '(sejenis semak-semak)’; P ola II: bVmpV(K): bimpaw, birripo ’sapu tangan, handuk’ < Cl; pVmbV(K): °pombak ’merpati’ < POR; jVncV(K): °jincef] ’berterima kasih’ < Cl; cVryV(K):-------- gVi)kV(K):-------- kVijgV(K):-------- P ola III: bVmV(K): bami (ba?mi) ’bakmi’ < Cl; °beman, dalam kabur --’pajak untuk dukungan terhadap anggota band kerajaan dalam Old Perak’, mungkin < ING bandsman ’pemain band’; bima ’(nama diri)’ < SKT; bomo, bomoh, bomor ’tukang sihir’; 314


bum ’bumi’ < SKT; pVmV(K): °pama ’pengadu kepada polisi’, mungkin < ING informer; pa?ma (dengan gugus tengah) ’pakma, tanaman Rafflesia hasseltii’ < JW; pamah ’tanah yang rendah’; paman ’paman’ < JW; pamer ’pamer, sombong* < JW; pamit ’pamit’ < JW; pamor, pamur ’besi campuran’ < JW; °pomar) ’pohon kayu’, mungkin pinjaman dari isolek Jakun (bandingkan Adelaar 1983); jV V(K): ja m ’ujar, pikir’ < MIN (mungkin sekali < + (u)jar + -Ha); cV V(K): °curia ’sejenis perahu’ (= JKT, < Cl); gV V(K): °gifjin ’sejenis herba’; kV V(K): °katja, dalam damar -- ’sejenis pohon’; kaijar, larj — ’buning elang yang besar’; kar)@n ’kangen, rindu’ (JKT, dipinjam dari JW); korjek ’(kepunyaan) umum (JKT, dipinjam dari Cl). Pola IV: mVbV(K): °mabaw 'roh penyakit yang mendatangkan penyakit’; °mabay ’sejenis pohon’; mabir, tabir — ’berbagai macam tabir’ (turunan dari tabir); mabuk ’mabuk’; mabub ’(nama diri)’ < AR; mabur ’terbang’ < JW; 315


mobil ’mobil’ < BLD; mubal ’melonjak’ < JW; °mubeij ’putar’ < JW; °mubyar (dengan gugus konsonan; ditulis "mubiar" dalam Wilkinson) ’mencolok’ < JW; mVmbV(K): mambary I ’makhluk halus yang menurut kepercayaan tertentu dapat membinasakan manusia’ II ikatt — ’sejenis ikan’, diturunkan dari bambary, III ’(gelar yang kadang-kadang diberikan kepada kepala kampung bangsa Negrito.)’; mambu I s@mambu ’rotan Malaka yang biasanya dibuat tongkat’ II lihat mabaw; III ’mencium, membaui’ < JW; mambul ’sejenis tanaman merambat’; mimbar ’mimbar’ < AR; mumbaty ’putik buah kelapa yang sudah agak besar’; mumbul ’sejenis tanaman merambat, Milletia sericea’; mVpV(K): mapag, mapak ’jemput’ (JKT, dipinjam dari JW atau SUN); °mapar, gaty -- ’perkakas berujung datar yang dipakai tukang kuningan’, diturunkan dari papar; °mapat ’sejenis pohon’; °mapuk ’sejenis herba’; °m@pas, m@mpas ’memancing dengan lalat’; meper, mipir ’menyimpang dari arahnya’ diturunkan dari peper; mipis ’tipis, lemah’, varian dari nipis dan tipis; °mopety lihat bopety; °mupar, ular t@dury — ’kobra hitam’, diturunkan dari upar; °mupuh, mupus ’sejenis pohon’; mVmpV(K): mampat I ’mampat, padat’; II ’sejenis pohon’; mampir ’mampir’ < JW (istilah yang lazim dalam MB adalah siiygah); 316


mampu(h) ’mampu’, leksem JKT ( < SUN); mampufj ’mampung, ringan dan berongga-rongga’ (dari (h)ampurj(?)); mampus ’mampus’ (dari (h)ampus); °m@mpas I lihat m@pas; II — jantan ’sejenis pohon’; m@mpat ’sejenis pohon’; memp@r ’memper, menyerupai’ < JW; °m@mpo ’sejenis pohon’; mimpi ’mimpi’ (diturunkan dari impi); °mompoTj ’habis (nipah, pandan, dsb. yang daunnya telah diambil)’; °mumpun ’tumpul’ < MIN; nVjV(K):-------- nViy*V(K);-------- nVcV(K):-------- nVncY(K):-------- nVgV(K):-------- nVTjgV(K):-------- VkV(K): °Qakak ’berbunyi "kak, kak" seperti itik, ayam’ dari kakak, onomatope JW; fj@kek ’terkekeh-kekeh’, diturunkan dari kek ( kek, kekek, kekek-kekek, m@tjg@lekek i)Vf)kV(K):-------- Pola V: (bVwV(K)): bawa, bawa?, bawak ’membawa’ < MPP *baba; bawab ’penjaga pintu, portir’ < AR; bawah ’bawah’ < MPP *baba? (MP *bah); bawal, ikan -- ’ikan bawal’ ( < TAM? Wilk.); °bawan ’kawan’ (mungkin < +bau + +an, bandingkan s@-baw ’sama’); bawai] ’bawang’; °bawar I ’tanda peringatan berupa tali dsb.’ (—gawar); II ’baur’ (~baur); 317


bawat I payutj — ’payung kebesaran’; II ’tergantung ke bawah’; III tali — ’tali yang diikatkan pada palang layar untuk menggerakkan layar supaya mendapat angin’; °bewah ’mengadakan selamatan untuk memperingati orang yang telah meninggal’ (Kedah) ( < +b@r-arwah menurut Wilk.); °bewak (Kedah dan Pattani) ’biawak’ (-biawak); pVwV(K): pa?wa ’paman tertua’ (dengan gugus konsonan, < +bapak + tua); pawah I pawahkan ’menyewa atau meminjamkan dengan sistem, debitor dan kreditur sama-sama memperoleh hasil, atau pendapatan’; II r@mpah~’sega\2L macam bahan untuk memasak kare’; °pawan I ’gelar atau sebutan untuk orang India yang berbahasa Melayu’; II sejenis tanaman’; pawatj ’pawang’ ( < *@mpu + a(bw)ar)); °pawas ’sejenis ikan air tawar’ < MIN; °pawat, payut) - - ’payung kebesaran’ (-bawat); paway ’lencana yang dipakai pangeran; pemakai lencana’; °pawon ’dapur’ < JW; mVwV(K): °mawa ’wawa, ungka, kera yang panjang tangannya tetapi tidak berekor’ (~wa?wa?); mawar I ’air mawar’ < AR; II tawar — ’tak berbahaya, ditiadakan’ (diturunkan dari tawar); mawas ’orang hutan’ (-m ayas (di Kalimantan)); maway ’sejenis semak’; mawin, dalam kawin — ’berbagai urusan pesta perkawinan’, (diturunkan dari kawin); mewah ’mewah’; mewek ’mewek, mencebik’; leksem JKT menurut Iskandar, dan pada akhimya dari JW menurut Kahler; °mewer ’sedu sedan’ < JW; jVyV(K): jaya ’jaya’ < SKT; 318


jayefj ’menang atas’ < JW ( < jaya + it)); cVyV(K): caya ’kilauan, cahaya, kecemerlangan’ < SKT; °cayah ’tak acuh’ (~cuay) < MIN; cayar ’ditambahi air, berair, encer’ (tentang sesuatu yang kental) (~ cair, < MJP *caiR,u Nothofer 1975:165); °cayu ’tikarduduk’ (~siu); VyV(K): °haya ’ketidakadilan’ (-aniaya < SKT); °fieyag ’gigitan yang mendadak (dari anjing)’, (JKT, pada akhimya < SUN) Kombinasi yang diwariskan d,t, dan n: Pola I: datatj ’datang’ < *dat@fj; datar ’datar’ < MPP *DataR; datu, datu , datuk, daturj ’kepala adat, orang yang tertua dalam keluarga; kakek, nenek moyang’ < *datu; d@tik ’tiruan bunyi arloji dsb.’ < MPP *detik (Blust 1970); t@duh ’reda, tenang (angin)’ < MPP *te(n)duq; tidur ’tidur’ < MPP *tiDuR; tudirj ’miring arah ke bawah ’ < MPP *tudirj ’menunjuk’; tuduh ’tuduh’ < MPP *tuduh ’menunjuk’; Pola D: tanda ’tanda’ < MPP *ta(n)da; tandas ’menandaskan’ < MPP *(CtT)a(n)dDj)es (Blust 1970); tandiij ’membagi rata, membandingkan’ < MPP *(Ct)anDiq ’sama dengan, membandingkan’ (Blust 1970); tandu ’tandu’ < MPP *tandu; tindas ’meremukkan, menghancurkan’ < MPP *tiDes (Blust 1970); tindih ’tindih’ < MPP *ti(n)diq; tunda ’tarik, seret’ < MPP *tunDa; 319


tunduk ’tunduk’ < MPP *tu(n)Duk; tondoq ’mengusir’ < MJP *tundui); Pola III: danaw ’danau’ < MPP *Danaw; tanah ’tanah’ < MPP *taneq; tanak ’tanak’ < MPP *tanek; tanam ’tanam’ < MPP *tanem; t@nar ’tenar’ < MPP *teneR ’suara’ (Blust 1970); t@nun ’tenun’ < MPP *tenu?un; t@nuf} ’menatap, mendiagnosis penyakit, meramalkan’ < MPP *(Ct)e(nN)uq ’menemukan dengan ramalan’ (Blust 1970); tuna ’belut’ < MPP *tuna tunas ’tunas’ < MPP *tunas; tunay ’tunai’ < MPP *tu(nN)ay; tunu(n) ’menyala, berkobar’ < MPP *tunu ’bakar, goreng’; Pola IV :-------- MIN Pola I: bVpV(K): bapo, bapa? ’ayah, bapak’; Pola n : -------- Pola HI: bVmV(K): bumi ’bumi’ < SKT; ja/no (~jalno) ’katanya’ (=ja + -no)-, 320


Pola IV: mVbV(K): mabaw, si- ’sejenis roh jahat’; mabue? ’mabuk’; mVmbV(K): mambarj ’hantu’; mambu, si- ’sejenis rotan’; mirriba ’mimbar’ < AR; mumbarj ’kelapa muda’; mVpV(V):-------- mVmpV(K): mampe? ’beres, bagus, bagus sekali’; mampuyh ’mampus’; mimpi ’mimpi’; mumpun ’tumpul’. Pola V: bVwV(K): bawa I ’bawal’; II ’membungkus pangkal perkakas pahat, cangkul atau tongkat untuk melindunginya dari retak atau patah’; bawah ’bawah’ bawarj ’bawang’; pVwV(K): pawa ’memamah biak’; pawai) ’pawang’; paweh ’sejenis ikan tawar’; mVwV(K): maweh ’orang hutan’; 321


cVyV(K): coy ah ’pelupa, tak acuh’; cayo ’kilauan, gemerlapan’ < SKT; Kombinasi d,t, dan n: Pola I: data ’datar’; data? ’bunyi detak’; dataij ’datang’; dateh ’menjadi lemah dan lamban (misalnya bemapas)’; datie? ’bunyi detik arloji atau jam’; dato? ’jelas’; datu I ’orang yang pandai tentang obat-obatan; dukun’; II ’rajah tangan’; datue? I ’penghulu di Minangkabau’; II ’kakek (dalam Simabur)’; Pak, Tuan (dalam Payakumbuh)’; datuy? —kan jari ’memukulkan jari untuk menimbulkan bunyi’; datuyh I ’bunyi meletus, atau mematahkan/membunyikan (jari)’; II ati ba— ’mempunyai keraguan’; deta ’destar, ikat kepala, kain kepala’ < Parsi; doto ’dokter’ < BLD; tadah I ’piring alas cangkir’; II ’tampak, jelas’; tadi ’tadi’; tadie ’dinding bilah yang dianyam’; tadin (dalam Bonjol) lihat tadi; tado ’pukul’; tadueh ’tenang’; taduerj ’sejenis ular’; tida? ’tidak’; tido ’tidak ada’; tidue? ’tidur’; toda? ’ikan gergaji, ikan laut yang moncongnya panjang seperti tombak’ todatj ’hilang’; tudi, basi — ’berlaku menjengkelkan, menyentuh apa saja’; 322


tudueh ’tuduhan’; tudurj ’tudung’; Pola II: dantam ’dentam, dentum (seperti bunyi meriam)’; dantai) ’dor’; danter) ’bunyi (lebih lemah daripada dantaij) dander) ’bunyi dentang (lebih lemah daripada danter]) danto ’gading’; dantuer] ’bunyi detak jantung’; tandah ’geladak (kapal, dsb.)’; tanday I ’jamban, kakus’; II ’tanda’; tandan ’tandan’; tanda)] ’berkunjung, melawat’; tandeh ’habis’; tandie, — majaie ’anggota istana yang membawa cermin raja’; tandier) ’tanding; pasangan, lawan’; tando ’tanda’; tandu ’tandu’; tandue? ’tanduk’; tenda ’tenda’ < POR; tenda?, ba— ’mengadakan pertandingan’; tende? ’tambahan’; tendoh lihat tundi?; tindat) ba— ’hilang’; tindeh ’melumat, menekan’; tindieh ’tindih, tindas’; tindie? ’tindik (telinga)’; tindin I man— jo taijan ’sering menggunakan kepalan’; II ’nada rendah yang terdengar di antara nada-nada tinggi (seperti dalam gamelan)’; tindo (Koto Tuo) ’buah-buahan terakhir (biasanya kecil); bungsu’; tondi?, tundi? I ’(tentang pasangan yang sudah menikah) pergi bersama-sama’; tundi? I lihat tondi?; 323


tundi? II ’membor, tusuk ke atas dengan benda runcing’; tundo ’dorong ke depan’; tundue? ’tunduk’; tunduj) ’leher’; P ola III: dana? I, dena? ’kerdil’; dana? II ’terdekat dengan target dalam permainan lempar’; danaw ’danau’; dano ’hasil’; dam? ba—an darah idueij-no ’hidung berdarah, mimisan’; denay (den, deyen) ’saya’; dena? lihat dana I; dunie ’dunia’ < AR; tanah ’tanah’; tanay ’menatang, menating, membawa di atas telapak tangan; tana? ’tanak’; tanam ’tanam’; tanai] ’tenang’; tanaw ’burung serindit yang rupanya seperti burung bayan kecil’; tane? I tani? ’berputar-putar seperti gasing’; tane? II tarje? ’menghalangi, menghambat’; tanue ’tapir’; tamer] ’tenung’; tanun ’tenun’; gano? ’senyap’; teno? ’membidik’; tenot] ’sejenis keranjang’; tino (singkatan dari ati-no); tone? ’mencoba menyenangkan, berusaha tidak menyakiti atau menyusahkan orang’; tanuei) ’putus asa, bingung’; P ola IV : nata ’titik’ < AR; 324


nanta? (dalam Suliki) ’tampak’; nanti, nanti? ’segera, nanti’; nantun ’itu’ (dari naN + tu(n)). BH Pola I: bVpV(K): bapa ’bapak’; pVbV(K):-------- pabrik ’pabrik’ < BLD; (JVcV(K)):-------- (cVjV(K)):-------- (gVkV(K)):-------- (kVgV(K)): kagum ’kagum’ < JW; Pola n : -------- Pola ID: bVmV(K): bima ’(nama tokoh dalam pewayangan, Bima)’ < SKT; butni ’bumi’ < SKT; pVmV(K): paman ’paman’ < JW; (BK pamor ’tuah, keberuntungan; kekuatan gaib’); pamuij ’pamong; pengurus, pendukung, pengasuh, guru’ < JW; jVnV(K): jana ’katanya’ (dari +ja + + a)\


cVnV(K):-------- gVt]V(K): gaqan ’gulai’; (kVf]V(K)): kutjris ’kongres’ < BLD; Pola IV: mVbV(K): mabuk ’asyik, tergila-gila’; mVmbV(K): mambu ’1. sok’; 2. ’memangnya’ mVpV(K): mapa ’bagaimana’; mVmpV(K): mampan ’mempan’; mampu ’kaya, berada’; mampus ’mampus’; mimpi ’impian’; nVjV(K):-------- nViyV(K):-------- nVcV(K):-------- nVncV(K):-------- tjVgVCK):-------- tjVqgVdQ:-------- 7]VkV(K):-------- fjVijkV(K):-------- Pola V: bVwV(K): 326


bawa ’bawa’; bawah ’bawah’; bawaij ’bawang’; pVwV(K): pawa ’lowongan, tempat’; mVwV(K): mawah ’khawatir, was-was’; mawar ’air mawar’; Kombinasi d,t, dan n: Pola I: datar} ’datang’; datar ’1. datar; 2. sama’; datik ’bunyi detik’; datu ’ketua, kepala; kakek, nenek moyang’; tada ’berbisa, ampuh’; tadah ’waduk, tangki’; tadas ’mempan’; tadi ’tadi’; tadih lihat tadi; taduh ’tenang, berhenti (tentang hujan)’; tadut) ’sejenis ular (besar)’; tuduh, man-i ’menasihati, membimbing, memberi petunjuk’; tudurj ’tutup’; Pola Q: dintu ’begitu’; duntu ’teh’; tanda ’tanda’; tandak ’endapan’; tandar ’pindah, geser, gosok, parut’; tandik, ba— ’melompat-lompat, berjingkrak-jingkrak’;


tanditj ’banding, tanding; lawan, pasangan’; tandu ’tandu’; tinda ’tenda’ < POR; tindas ’tindas’; tindih ’tindih’; tindik ’tindik’; tunda ’tarik, seret, tunda’; tunduk ’tunduk’; tundun ’setandan pisang’; Pola III: darn ’dana’ < SKT danak ’gemuk pendek’; danaw ’danau’; dinar ’dinar’ < AR; dinas ’dinas’ < BLD; dini ’ini’; dini/han ’dini hari, subuh’; tanah ’tanah’; tanay ’tadah, tampung’; tanak ’tanak’; tanam ’tanam’; tanaq ’tenang’; -tani ’(tani)’ < SKT; tanis, ba— ’lembab, berair’; tanun ’tenun’; Pola IV: nadar ’nazar, janji kepada Allah’ < AR; natal ’Natal’ < POR; natu (~na/itu) ’yang itu’; nitral (dengan gugus konsonan) ’netral’ < BLD; nitu (~na/itu) ’yang itu’. 328


SWY Pola I: bVpV(K): bapa?, bapaq, bapo ’ayah’; p V bV (K ):--------- cV jV (K ):--------- jV cV (K ):--------- gV kV (K ):--------- kVgV(K): (BSM kagul ’bingung’); Pola II: bV m pV (K ):--------- pV m bV (K ):--------- jV n cV (K ):--------- cV fyV (K ):--------- gV f)kV (K ):--------- Pola m : bVmV(K): bumi ’bumi’ < SKT; pVmV(K): pama(h) ’rawa-rawa’; pamur ’besi campuran’; jV n V (K ):--------- cV nV (K ):--------- kV f)kV (K ):--------- gVi 3gV (K ):--------- 329


Pol a IV: mVbV(K): mabue? ’mabuk’; mibar ’berputar, mengipas-ngipaskan sayap (misalnya kelelawar)’; mVmbV(K): mumbaTj ’sangat muda, tentang buah-buahan’; putik buah kelapa yang sudah agak besar’; mumbo 'sejenis tanaman yang dapat dimakan’; mVpV(K): mupur ’menggerak-gerakkan bulu-bulunya dalam posisi melindungi (seperti induk ayam)’; mVmpV(K): mampus ’boros, sia-sia’; mimpi ’impian’; nVjV(K):-------- iiVnjV(K):-------- nVcV(K):-------- nVncV(K):-------- t3VgV(K): iijiguS? ’berjalan seperti bebek’ Pola V: bVwV(K): bawa(h) ’bawah’; bawarj ’bawang’; bawa? ’kulit’; ba wo ’bawa’; Kombinasi d,t, dan n: 3 3 0


Pola I: datarj ’datang’; datax ’datar’; d@ta?, b@ — ’memukul dengan palu’; d@tas ’detas, suara kertas atau daun digunting’; tada(h) I ’menadah, menampung’; II ’menembus dengan paksa (misalnya angin)’; tadi ’tadi’; t@do ’minta (gaya sastra)’; t@due(h) ’tenang (angin, gelombang)’; tidue? ’tidur’; pengerasan (tentang minyak)’; tudue(h), b@ — ’berada di nama pertama’; tuduT) ’tudung’; Pola II: d@ntam ’bunyi tumbang seperti pohon’; d@ntai] ’onomatope untuk bunyi gong teriakan (gong yang dibunyikan oieh orang yang berjalan di jalan-jalan meneriakkan berita, peringatan dan sebagainya’; d@ntum ’gedebuk, seperti pohon tumbang’; tandan I ’tandan’; II ’tali untuk mengikat ternak bertanduk’; tanda ’bertandang’; landi ’sesuatu yang diletakkan bersebelahan dengan sesuatu yang lain untuk perbandingan’; tando ’tanda’; tandu ’tandu’; tandue? ’tanduk’; tindie(h) ’tindih’; tinda (sic) ’sejenis tirai katun’ ( < POR); tindan/an ’tempat bertengger burung beo’; tindi? ’terobos’; tunday ’ikut’; tundo ’memperlihatkan atau mempertunjukkan sesuatu’; tunduij ’mengerahkan, memberikan, meninggalkan, pergi’; 331


tundue? ’tunduk’; Pola III: danaw ’danau’; d@naq ’renang’ < * (mb)A-r@nay; tana(h) ’tanah’; tana? ’tanak’; t@naij ’tenang (air)’; t@nun ’tenun’; t@nutj ’tenung’; tuna? ’tinggal bersama’; tunaq, n - gadis ’(tentang pria kepada wanita yang ingin ia ajak tunangan) memberikan lima dolar sebagai jaminan dan tanda’; tunas ’tunas’; tunay ’tunai’; tunu, n~ ’membakar’; tuniin lihat tunu; Pola IV: n@das ’membuat bunyi bunyi letusan kecil-kecil’; nantu ’menantu’ < MPP *b/in/antu. IBN Pola I: (bVpV(K)): bapa? ’sebutan untuk mertua laki-laki’; pVbV(K):-------- jVcV(K):-------- cVjV(K):-------- gVkV(K):-------- 3 3 2


kVgV(K): kigal ’melambungkan’; Pola II: bVmp(K):-------- pVmbV(K): pambam ’permainan petak limpet’; pambar I ’hancur’; II ’bubar, hancur’; pambu ’buah yang busuk di dalamnya; (dalam lagu) mati’; pambur ’meledak’; pambus ’bocor’; jV nc(K ):-------- cVnj(K):-------- gV ^k(K ):-------- kVT)gV(K): katjgan ’kain katun hitam’; (k@pgay ’mengeluh, enggan untuk’ < K-@i}gay, bandingkan 3.1.1); Pola III: b-umay ’bertani’, diturunkan dari umay; bumi ’bumi’ < SKT; pama ’bagus’; pama? ’sejenis kodok’; pamur ’keruh’; p@mai? I ’warisan’; II ’cacat’; III ’pilihan, keputusan’; p-umay, di— (bentuk b-umay yang berorientasi pada obyek); kaijaw, qaqaw ’panggil, teriak’; 333


Pola IV: mVbV(K): mabuk ’mabuk’; mabuq, t@kuyur) — ’siput telah meninggalkan rumahnya (mati)’; rnabu? ’dangkal’; mVmbV(K): mambam ’mendung’; mambuf} ’sejenis tanaman, yang dibakar untuk mengusir serangga’ mumban ’sejenis tanaman air’; mVpV(K): mapap ’bodoh, ngawur’; mVmp(K): rttimpi ’mimpi (n,v)’: nVjV(K):-------- nVnjV(K):-------- fiVcV(K):-------- nVncV(K):-------- iVgV(K): qagay ’ke’, yang diturunkan dari gagay; qigal ’melambungkan’, yang diturunkan dari kigal; i]igaw ’berjalan atau meraba-raba di waktu tidur’; i]Vi]gV(K):-------- i]VkV(K): ij@kal ’hembusan napas dalam tangisan yang tiba-tiba meledak’; i)@kuk ’membuat bunyi... ’; Tjikil ’terkikih-kikih’; t]Vi]kV(K): rjuijkat ’kambuh’; 3 3 4


Click to View FlipBook Version