The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Buku Digital, 2023-06-10 14:47:36

Dengar Laut Mengalun

Dengar Laut Mengalun

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa B3 Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur Buku nonteks pelajaran ini telah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor ...../...../...... Tanggal .... Desember 2022 tentang Buku Nonteks Pelajaran Pendidikan Anak Usia Dini, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan Sekolah Menengah Kejuruan yang Memenuhi Syarat Kelayakan dalam Mendukung Proses Pembelajaran Dengar Laut Mengalun Penulis: : Dwi Oktarina Ilustrasi: Alf Sukatmo Awang dan Tuk Bat adalah orang Laut yang tinggal di kampung Kudinpar, Bangka Belitung. Meski tinggal di dekat laut, Awang sering bertanya kepada Atuk tentang kehidupan orang suku Laut zaman dahulu. Apakah di laut ada gajah yang bisa berenang seperti cerita Atuk? Yuk, ikuti petualangan Awang bersama Atuk di Kampung Kudinpar, Bangka Belitung!


MILIK NEGARA TIDAK DIPERDAGANGKAN Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Dengar Laut Mengalun Penulis : Dwi Oktarina Ilustrator: Alf Sukatmo


Dengar Laut Mengalun Penulis : Dwi Oktarina Ilustrator : Alf Sukatmo Penyunting : Aminulatif Diterbitkan pada tahun 2022 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Jalan Daksinapati Barat IV Rawamangun Jakarta Timur Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Isi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya, dilarang diperbanyak dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit, kecuali dalam hal pengutipan untuk keperluan penulisan artikel atau karangan ilmiah. PB 398.209 598 OKT d Katalog Dalam Terbitan (KDT) Oktarina, Dwi Dengar Laut Mengalun/ Dwi Oktarina; Penyunting: Aminulatif; Ilustrator: Alf Sukatmo; Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2022. iv, 36 hlm.; 29,7 cm. ISBN 1. CERITA ANAK—INDONESIA 2. CERITA BERGAMBAR ii


Agustus 2022 KATA PENGANTAR MENTERI PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI BUKU LITERASI BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN BAHASA Literasi tidak dapat dipisahkan dari sejarah kelahiran serta perkembangan bangsa dan negara Indonesia. Perjuangan dalam menyusun teks Proklamasi Kemerdekaan sampai akhimya dibacakan oleh Bung Kamo merupakan bukti bahwa negara ini terlahir dari kata-kata. Bergerak menuju abad ke-21 saat ini, literasi menjadi kecakapan hidup yang harus dimiliki semua orang. Literasi bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, melainkan juga kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara cerdas. Sebagaimana kemampuan literasi telah menjadi faktor penentu kualitas hidup manusia dan pertumbuhan negara, upaya untuk meningkatkan kemampuan literasi masyarakat Indonesia harus terus digencarkan. Berkenaan dengan hal tersebut, pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menginisiasi sebuah gerakan yang ditujukan untuk meningkatkan budaya literasi di Indonesia, yakni Gerakan Literasi Nasional. Gerakan tersebut hadir untuk mendorong masyarakat Indonesia terus aktif meningkatkan kemampuan literasi guna mewujudkan cita-cita Merdeka Belajar, yakni terciptanya pendidikan yang memerdekakan dan mencerdaskan. Sebagai salah satu unit utama di lingkungan Kemendikbudristek, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa berperan aktif dalam upaya peningkatan kemampuan literasi dengan menyediakan bahan bacaan yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan pembaca. Bahan bacaan ini merupakan sumber pustaka pengayaan kegiatan literasi yang diharapkan akan menjadi daya tarik bagi masyarakat Indonesia untuk terus melatih dan mengembangkan keterampilan literasi. Mengingat pentingnya kehadiran buku ini, ucapan terima kasih dan apresiasi saya sampaikan kepada Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa serta para penulis bahan bacaan literasi ini. Saya berharap buku ini akan memberikan manfaat bagi anak-anak Indonesia, para penggerak literasi, pelaku perbukuan, serta masyarakat luas. Mari, bergotong royong mencerdaskan bangsa Indonesia dengan meningkatkan kemampuan literasi serta bergerak serentak mewujudkan Merdeka Belajar. iii


Sekapur Sirih Halo, Adik-Adik! Salam kenal dari Kak Dwi Okta. Kali ini, Kakak akan mengajak kalian bertualang bersama Awang, seorang anak suku Laut yang tinggal di Kampung Kudinpar. Kampung tersebut ada di Pulau Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Saat berkunjung ke rumah Atuk, Awang melihat Atuk tampak murung. Apa yang menyebabkan Atuk bersedih, ya? Apakah di laut ada gajah besar seperti cerita Atuk? Ayo, temukan jawabannya dalam kisah ini. Selamat membaca! Pangkalpinang, Juli 2022 Dwi Oktarina iv


Sudah tiga hari Awang tidak melihat Tuk Bat. Awang merasa khawatir. Jangan-jangan Atuk sakit. Sepulang sekolah, ia segera menuju rumah Atuk. Ia berjalan sambil bernyanyi kecil. 1


2


33


Awang melihat Atuk dan Tuk Jem. Keduanya asyik berbincang. Mereka memang sudah bersahabat sejak kecil. Awang tahu, Atuk tidak memiliki banyak teman seusia. Hanya Tuk Jem yang masih sering mengunjunginya. 4


Awang berjalan mendekat. Ia senang karena Atuk tidak sakit. Ia berusaha tidak mengganggu pembicaraan mereka. Tak lama kemudian, Tuk Jem berpamitan. Tuk Jem memeluk erat Atuk. Keduanya seperti enggan berpisah. 5


Setelah Tuk Jem pulang, Awang bertanya. “Kenapa Atuk sedih?” Atuk berkata, "Tuk Jem akan segera pindah ke kota." “Kenapa pindah?,” tanya Awang sekali lagi. Atuk tidak menjawab. 6


Karena hari sudah sore, Awang kembali ke rumahnya. Mungkin besok, Atuk mau menjawab pertanyaan itu. Awang merasa khawatir. Ia menyimpan banyak pertanyaan. 7


“Asalamualaikum, ” ucap Awang pelan. Tidak ada jawaban. Awang menunggu dengan sabar. Keesokan harinya, Awang kembali datang. Ia berharap, Atuk baik-baik saja. 8


Tak lama kemudian, Atuk membuka pintu. Atuk terlihat murung. Biasanya Atuk banyak bercerita pada Awang. 9


Awang melihat Atuk masih bersedih. Ia tidak tahu cara menghibur Atuk. 10


11


Atuk berkata,”Sebentar lagi Tuk Jem pindah ke kota ikut anaknya. Atuk tidak punya teman lagi. Saat kecil, Atuk punya banyak teman.” “Apa Atuk nakal ketika masih kecil? Apa Mak Atuk sering memarahi Atuk?” Awang bertanya ingin tahu. 12


“Ya, Atuk suka naik perahu tanpa izin Ayah dan Mak.” “Mengapa Atuk tidak meminta izin dulu?” Atuk tertawa kecil. “Awang, anak kecil boleh bekayuh sampan jika ikut Ayah dan Mak. Kalau pergi sendiri, tentu tidak diizinkan.” 13


“Untuk apa anak kecil bekayuh sampan di laut, Tuk?,” tanya Awang. “Anak kecil dilatih bekayuh sampan supaya pandai mencari ikan di laut menggunakan tombak. Apa Awang tahu bagaimana caranya?” Awang menggeleng. 14


Awang bertanya lagi, “Kalau menombak dari atas sampan, berarti kita harus bisa melihat ikan-ikan itu dengan jelas ‘kan, Tuk?” “Betul, laut juga harus tenang supaya sampan tidak bergoyang-goyang,” ucap Atuk menambahkan. 15


“Rumah Atuk jauh dari laut, ya?,” tanya Awang. “Rumah Atuk dulu berbeda dengan rumah Awang sekarang. Kami tinggal di atas sampan sepanjang waktu,” ucap Atuk pelan. Awang menyadari sesuatu. Kini, orang-orang di kampungnya tidak lagi tinggal di atas perahu. Semuanya berumah di daratan. 16


“Ketika baru lahir, Mak dan Ayah meneteskan air laut ke bibir kami,” jelas Atuk. “Mengapa harus meneteskan air laut, Tuk?” tanya Awang. Atuk tersenyum, “Supaya anak-anak Orang Laut mengenal lautan. Kita tumbuh besar dan mencari makan di laut.” 17


18 “Bagaimana kalau kita bekayuh sampan sekarang?” Atuk melontarkan ide. Mata Awang berbinar. Sudah lama ia tidak besampan bersama Atuk. Mereka ke pantai tempat sampan Atuk ditambatkan.


19


“Sebagai orang Laut, Atuk pandai membaca arah angin dan rasi bintang di malam hari.” Awang tak mau kalah, “Awang juga bisa melihat bintang di malam hari, Tuk.” Atuk tersenyum, “Bintang dan rasi bintang itu berbeda. Kalau bintang itu hanya satu. Kalau rasi bintang itu kumpulan bintang yang saling berdekatan.” 20


“Jadi, rasi bintang itu apa gunanya, Tuk?” tanya Awang. “Orang Laut melihat rasi bintang sebagai penunjuk arah saat berada di tengah laut. Dengan melihat rasi bintang, kita tidak akan tersesat.” jelas Atuk. 21


Mereka kini berada cukup jauh dari tepi pantai. Selama ini, Awang hanya bermain di sekitar rumah. Ia tidak pernah berenang atau bersampan terlalu jauh. Meski berada di tengah laut, Awang tidak merasa takut karena ada Atuk menemaninya. 22


Awang termenung. Ia melihat laut di sekelilingnya. Ia membayangkan bagaimana rasanya tinggal di atas perahu seperti Atuk dulu. Gelombang dan badai bisa menerjang kapan saja. 23


24


“Ketika masih kecil, Atuk pernah bermimpi. Atuk melihat gajah yang sangat besar di laut,” kata Atuk dengan semangat. “Gajah laut itu mendekati perahu Atuk. Atuk takut karena makhluk itu besar sekali.” 25


“Apa kau akan memakanku?,” kata Atuk dengan wajah pucat. “Tentu saja tidak. Ayo ikut denganku. Kita akan melihat indahnya lautan,” sahut gajah besar itu. 26


“Atuk menaiki punggung gajah. Lalu kami mengayun di atas gelombang.” Atuk bercerita. 27


“Tak lama setelah Atuk naik ke punggung gajah itu, Atuk terjatuh ke laut. Atuk tidak bisa bernapas di dalam air.” “Gajah itu kemudian bernyanyi. Nyanyian itu membuat Atuk tenang. Akhirnya, Atuk menghitung dalam hati. Satu, dua, tiga ...,” ucap Atuk pelan. 28


“Gelombang mengajarkan kita untuk mengikuti iramanya. Pelan-pelan Atuk bisa mencapai permukaan lautan. Tetapi, gajah itu menghilang.” 29


Awang masih memikirkan gajah di lautan. Ia belum pernah mendengar cerita Atuk tentang hal ini. “Atuk tidak pernah menceritakan mimpi ini kepada orang lain. Hanya Awang yang tahu,” ucap Atuk. 30


“Awang, laut adalah kehidupan bagi kita,” Atuk berkata sambil memandang kejauhan. “Awang mengerti, Tuk. Sebagai Orang Laut, Awang harus setia menjaga laut,” janji Awang pada Atuk. 31 Awang masih memikirkan gajah di lautan. Ia belum pernah mendengar cerita Atuk tentang hal ini.


“Lautan sebesar ini, bagaimana cara menjaganya, ya?” ucap Awang sambil berpikir. “Aha! Awang bisa mengajak teman-teman untuk membersihkan sampah di pantai.” Atuk tersenyum mendengar ide Awang. 32


“Apa pun yang Awang ingin lakukan, Atuk akan selalu membantu,” ucap Atuk. Awang menganggukkan kepalanya pelan, Ia sayang pada Atuk seperti ia sayang pada lautan. Ia ingin tetap menjaga lautan. 33


Sebelum terlalu sore, mereka kembali menuju rumah. Awang senang karena Atuk bercerita banyak hal kepadanya hari ini. 34


Biodata Penulis Dwi Oktarina adalah penulis dari kota Pangkalpinang. Karya-karya fiksinya antara lain Asal-Usul Tanjung Penyusuk: Cerita Rakyat dari Bangka Belitung (2016) dan Kue Keranjang Mei Lan (2021). Selain menulis fiksi, Dwi Okta juga menulis artikel ilmiah terkait sastra, tradisi, dan budaya yang diterbitkan di jurnal maupun opini media massa. Penulis dapat dihubungi melalui akun instagram @dw_oktarina_ atau posel [email protected]. Ilustrator Alf Sukatmo adalah seorang ilustrator yang lahir di kota Malang dan besar di Surabaya. Ia aktif bekerja sebagai ilustrator lepas untuk beberapa penerbit di Jakarta dan Bangka Belitung. Karya-karya ilustrasinya menghiasi buku Ensiklopedia-Mini Penulis Kepulauan Bangka Belitung (2020), Awal Mulo Tanjung Penyusuk (2021), buku cerita anak Keluarga (2019), dan beberapa antologi cerpen Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Karya-karya lain dapat dilihat di akun Instagram @__ alf_s__. Penyunting Aminulatif sudah berkecimpung di bidang kebahasaan dan kesastraan sejak tahun 2000. Pernah mengikuti pelatihan penyuluhan, penelitian, lokakarya kebahasaan dan kesastraan. Aktif sebagai pembina, penyuluh, analis wacana. Sekarang bertugas di Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaaan Bahasa. Berdomisili di Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur.


Tahukah Kamu Kamu bisa membaca buku literasi lainnya di laman buku digital Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, yaitu www.budi.kemdikbud.go.id. Mari, selangkah lebih dekat dengan buku melalui Budi! Baca buku bisa di mana saja dan kapan saja.


Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa B3 Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur Dengar Laut Mengalun Penulis: : Dwi Oktarina Ilustrasi: Alf Sukatmo Awang dan Tuk Bat adalah orang Laut yang tinggal di kampung Kudinpar, Bangka Belitung. Meski tinggal di dekat laut, Awang sering bertanya kepada Atuk tentang kehidupan orang suku Laut zaman dahulu. Apakah di laut ada gajah yang bisa berenang seperti cerita Atuk? Yuk, ikuti petualangan Awang bersama Atuk di Kampung Kudinpar, Bangka Belitung! Buku nonteks pelajaran ini telah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 061/H/P/2022 Tanggal 6 Desember 2022 tentang Buku Nonteks Pelajaran Pendidikan Anak Usia Dini, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan Sekolah Menengah Kejuruan yang Memenuhi Syarat Kelayakan dalam Mendukung Proses Pembelajaran


Click to View FlipBook Version