The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Buku Digital, 2023-06-05 01:58:07

Si Putih Candi Sirih - 2020

Si Putih Candi Sirih - 2020

Editor: Muhammad Chawari SUGENG RIYANTO


iii SI PUTIH CANDI SIRIH ISBN: 978-623-91488-8-1 Penanggung jawab Kepala Balai Arkeologi Provinsi Daerah lstimewa Yogyakarta Drs. Sugeng Riyanto, M.Hum Editor Muhammad Chawari Penulis Sugeng Riyanto Layout Jentera Intermedia Fotografer Sugeng Riyanto Hery Priswanto Fadhlan S. Intan Penerbit Balai Arkeologi Provinsi Daerah lstimewa Yogyakarta JI. Gedongkuning 174 Yogyakarta 55171 Telp/fax: 0274-377913 E-mail : [email protected] Laman : arkeologijawa.kemdikbud.go.id (Kantor) rpbalarjogja.kemdikbud.go.id (Rumah Peradaban) berkalaarkeologi.kemdikbud.go.id (Jurnal) perpusbalarjogja.kemdikbud.go.id (Perpustakaan) Sebagai lembaga penelitian, Balai Arkeologi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mengemban tugas melaksanakan penelitian dan pengembangan di wilayah kerja yang meliputi D.I. Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Aspek pengembangan salah satunya adalah kewajiban untuk menyebarluaskan hasil penelitian kepada masyarakat secara umum. Bentuk atau media publikasinya beragam, meliputi media cetak, visual, dan juga sosialisasi–pameran. Penerbitan buku berjudul Si Putih Candi Sirih ini termasuk salah satu bentuk usaha Balai Arkeologi Prov. DIY dalam rangka publikasi hasil penelitian yang dilaksanakan di Candi Sirih. Untuk itu, puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas terbitnya buku hasil penelitian di Candi Sirih. Secara khusus publikasi ini ditujukan untuk memperkaya khasanah pengetahuan dan informasi mengenai kebudayaan dan peradaban masa Hindu-Buddha, khususnya masa Kerajaan Mataram Kuno. Tidak lupa saya menyampaikan terima kasih kepada tim penerbitan atas dukungannya dalam proses penerbitan. Saya juga berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga salah satu buku yang ditunggu-tunggu oleh berbagai kalangan ini dapat terbit. Kepada para pembaca yang budiman, saya ucapkan selamat menyimak salah satu informasi hasil penelitian Balar Prov. DIY di Candi Sirih. Semoga informasi yang dimuat dapat bermanfaat dalam memperkaya pengetahuan tentang kebudayaan dan peradaban bangsa kita tercinta. Sugeng Riyanto SAMBUTAN KEPALA BALAI ARKEOLOGI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Cetakan Pertama, November 2020 © Balai Arkeologi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Tidak Untuk Diperjualbelikan Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Penerbit ii


iv v Kabupaten Sukoharjo merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang "dianggap" gersang, selain Kabupaten Gunungkidul, tetangganya. Keduanya terletak di kawasan Pegunungan Seribu. Kegersangan tersebut ternyata menyimpan tinggalan budaya masa lalu yang sangat menarik, yaitu Candi Sirih, selain tinggalan masa klasik lainnya seperti yoni, nandi, arca, dan struktur sisa bangunan kuna. Candi Sirih dibuat dari batu tufa atau batu putih, merupakan batu yang banyak dijumpai di kawasan Sukoharjo. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat pada waktu itu telah memiliki kemampuan dalam mengolah lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, salah satunya dalam membangun tempat ibadah mereka. Meskipun penggunaan batu putih dalam membangun sebuah candi "dianggap" tidak layak, tidak seperti Candi Prambanan yang menggunakan batu andesit. Dengan adanya Candi Sirih di Dukuh Kersan, Desa Karanganyar, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah menunjukkan adanya kebutuhan masyarakat yang berhubungan dengan spiritual. Sebab keberadaan bangunan suci (Candi Sirih) merupakan bagian integral dari sebuah permukiman. Terkait dengan hal tersebut disampaikan puji syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa dengan telah selesainya pembuatan buku berjudul "Si Putih Candi Sirih". Semoga buku ini menjadi titik tolak dalam mengungkap dan mengenali tinggalan-tinggalan masa lalu, khususnya yang ada di wilayah Kabupaten Sukoharjo. Selain itu, diharapkan buku ini menjadi pembelajaran bagi masyarakat, khususnya dunia pendidikan dalam mengenal sejarah daerah Sukoharjo. Selamat.... selamat......dan selamat. PENGANTAR EDITOR Penelitian arkeologi menghasilkan pengetahuan dan informasi mengenai manusia beserta peradaban dan kebudayaannya di masa lampau. Melalui data berupa tinggalan-tinggalan dan lingkungan kuno, arkeolog dapat menggambarkan berbagai aspek kehidupan masa lalu sesuai dengan data yang diperoleh. Di Indonesia, pengetahuan dan informasi tersebut sangat penting artinya sebagai cermin jati diri bangsa; karena masa kini mempunyai akar di masa lampau, dan masa depan harus dipersiapkan di masa kini. Tidak sedikit unsur peradaban dan kebudayaan Indonesia kuno yang sangat tinggi nilainya seperti: keberagaman, gotong royong, toleransi, kecerdasan lokal, dan kearifan lokal. Semua itu dapat dipelajari dan dapat digunakan sebagai materi pembelajaran di masa kini, termasuk untuk mendukung penguatan pendidikan karakter anak bangsa. Bangsa Indonesia tidak tiba-tiba muncul, tidak pula dibentuk oleh bangsa lain, tetapi hadir melalui pengalaman yang sangat panjang. Hasil penelitian mutakhir di Bumiayu, Jawa Tengah, menyimpulkan bahwa di Jawa telah hadir manusia setidaknya sejak 1,8 juta tahun yang lalu. Homo erectus Arkaik nama manusia itu, berevolusi menjadi Homo erectus Tipik dan kemudian menjadi Homo erectus Progresif. Homo erectus akhirnya punah, tidak berlanjut evolusinya, lalu digantikan oleh manusia lainnya yang disebut Homo sapiens atau manusia modern, sejak puluhan ribu tahun yang lalu. Manusia modern inilah yang berkembang terus secara fisik maupun kultural. Berbagai kepandaian semakin kompleks, mampu berinteraksi dengan berunsur-unsur budaya dari tempat lain seperti budaya India pada masa Hindu-Buddha, masa masuknya agama Islam, dan juga pada masa pengaruh Eropa. Candi Sirih adalah bagian dari pengalaman bangsa Indonesia yang sangat penjang itu, khususnya dari masa Hindu-Buddha. Tidak seperti candi-candi lainnya yang dibangun dengan bahan bata atau batu PENGANTAR PENULIS


vi vii .................. ...................................................................................................................... ................................................................................................................... .......................................................................................................................................... ................................................. ....................................................................................... ....................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................. ....................................................................................................................................... ................................................................... ........................................................................ ............................................................................. ................................................................................................................... DAFTAR ISI iii iv v vii 1 3 7 8 9 17 20 23 31 34 andesit, Candi Sirih justru menggunakan batu putih atau tufa. Agak janggal mendengarnya karena batu putih biasanya digunakan dalam pembangunan candi sebagai isian struktur atau pagar, bukan sebagai bahan utama. Tapi itulah kenyataannya, salah satu keunikan candi ini, selain lokasinya yang juga jarang ditemukan adanya candi, yaitu di Zona Pegunungan Selatan. Selain berbagai keunikan yang dimiliki oleh Candi Sirih, buku ini sesunguhnya mempresentasikan hasil penelitian di Candi Sirih tahun 2019 dalam narasi yang sederhana. Mengapa? Karena sasaran utamanya adalah dunia pendidikan, khususnya siswa, setidaknya tingkat SMP dan SMA. Oleh karena itu paparan yang disampaikan merupakan konversi dari hasil penelitian yang tadinya bersifat ilmiah menjadi narasi yang sederhana. Beberapa aspek yang dapat dipelajari dari hasil penelitian ini antara lain meliputi kesejarahan dan geografi. Aspek kesejarahan terkait dengan kebudayaan dan peradaban pada masa Kerajaan Mataram Kuno, sedangkan aspek geografi terkait dengan lingkungan Candi Sirih yang berada di zona Pegunungan Selatan. Di dalam aspek-aspek tersebut terdapat berbagai nilai yang dapat diserap dan dimaknai, seperti kecerdasan dan kearifan lokal. Tentu disadari adanya kekurangan dalam buku ini, khususnya dalam hal narasi yang barangkali masih belum sempurna dalam menerjemahkan bahasa ilmiah menjadi bahasa buku pengayaan. Namun begitu, materi yang disusun sudah melalui pertimbangan-pertimbangan sebelum dipaparkan sebagai naskah buku. Untuk itulah diperlukan masukanmasukan dari para pembaca yang akan ditampung untuk dijadikan sebagai bahan revisi buku pengayaan ini nantinya. Penulis Si Putih Candi Sirih Sambutan Kepala Balai Arkeologi Provinsi D.I. Yogyakarta Pengantar Editor Pengantar Penulis Daftar Isi PENDAHULUAN: Bagian dari Akar Peradaban MENUJU LOKASI CANDI SIRIH LEBIH DEKAT DENGAN CANDI SIRIH 1. Bahan 2. Bentuk 3. Religi 4. Kerangka Sejarah dan Peradaban LINGKUNGAN DAN PENGARUHNYA PENUTUP: Belajar dari Candi Sirih DAFTAR PUSTAKA


Apakah ada yang pernah melihat candi yang bahannya bukan bata atau batu andesit? Pernahkah mendengar ada candi yang masih terlihat bentuknya di Kabupaten Sukoharjo? Adakah yang belum tahu bahwa ada bangunan candi di kawasan Pegunungan Selatan? Itulah Candi Sirih dengan berbagai keunikan yang akan dijelaskan dalam buku ini. Buku berjudul Si Putih Candi Sirih merupakan presentasi hasil penelitian tahun 2019. Tujuannya adalah untuk memperkaya pengetahuan dan informasi yang terkait dengan peradaban Indonesia yang akarnya kuat dan dalam di masa lalu. Jejak peradaban dan kebudayaan Indonesia masa Hindu-Buddha yang terdapat di Jawa Tengah dan Yogyakarta tidak sekadar candicandi besar dan terkenal seperti Borobudur dan Prambanan; juga tidak hanya ada di wilayah yang padat tinggalan seperti Magelang dan Sleman yang subur. Ternyata, jejak peradaban itu juga ada di kawasan Pegunungan Selatan yang relatif kering. Unik, bukan? Oleh karena itulah informasi yang terkait dengan hasil penelitian di Candi Sirih perlu dikemas secara khusus sebagai bagian dari pengayaan materi pendidikan. Kehadiran Kerajaan Mataram Kuno sekitar abad VIII–X di Jawa menjadi salah satu akar peradaban bangsa Indonesia. Hingga kini bukti-bukti kejayaan peradabannya tersebar luas dan dapat kita saksikan, kita pelajari, dan kita gali makna luhurnya. Bukti-bukti itu 1 PENDAHULUAN: BAGIAN DARI AKAR PERADABAN 1


Secara adminstrasi Candi Sirih terletak di Jawa Tengah, tepatnya di Dukuh Kersan, Desa Karanganyar, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo. Dari Kota Sukoharjo bisa ditempuh dalam waktu kirakira 45 menit menggunakan kendaraan bermotor karena jaraknya hanya sekitar 25 kilometer. Pertama, arahkan kendaraan menuju Desa Karanganyar, Kecamatan Weru. Tidak jauh dari kantor desa ada jalan lebih kecil tetapi cukup untuk kendaraan roda empat. Jalan itu tidak beraspal tapi berbeton yang cukup kokoh, hanya sekitar 500-an meter melewati jalan ini maka akan sampai ke lokasi Candi Sirih, di tepi jalan. Mudah, bukan, menuju ke sana? tidak hanya berwujud bangunan saja, seperti candi, petirtaan, atau bangunan kuno lainnya, tetapi juga perkakas yang dipakai sehari-hari dan perlengkapan ibadah. Di beberapa situs bahkan ditemukan alat pertanian, persenjataan, alat transportasi, dan komoditi perdagangan. Peradaban luhur masa Kerajaan Mataram Kuno juga dijelaskan secara tertulis melalui data arkeologi yang disebut prasasti. Luasnya wilayah kerajaan dibuktikan dengan temuan data arkeologi yang juga luas, termasuk di zona Pegunungan Selatan. Di sanalah Candi Sirih berada dan menjadi bagian dari bukti peradaban luhur tersebut, bagian dari akar peradaban Bangsa Indonesia. Gambar 1. Suasana ekskavasi di Candi Sirih 2019. (Dok: Riyanto dkk, 2019) Gambar 2. Lokasi Candi Sirih dalam peta Jawa Tengah. (Sumber: Google Earth) 2 MENUJU LOKASI CANDI SIRIH 2 Si Putih Candi Sirih 3


Lebih mudah lagi jika menggunakan aplikasi peta di handphone; caranya, masukkan koordinat 07° 48' 01,2” LS dan 110° 46' 41,8” BT, atau arahkan tujuannya langsung ke lokasi Candi Sirih. Lokasi ini relatif dekat dekat dengan wilayah Kabupaten Wonogiri dan Kabupaten Gunungkidul (D.I. Yogyakarta). Daerahnya tergolong kering karena termasuk ke dalam zona Pegunungan Gambar 3. Candi Sirih berada di permukiman Dukuh Kersan, Desa Karanganyar, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo. (Sumber: Google Earth) Gambar 4. Candi Sirih dalam peta Kabupaten Sukoharjo, tidak jauh dengan wilayah Kabupaten Wonogiri dan Gunungkidul. (Dok: Riyanto dkk, 2019) Gambar 5. Bagian utara Candi Sirih sekarang menjadi kompleks bangunan milik Yayasan Sosial Kemanusiaan dan Keagamaan “Baitiy Makmur Sukoharjo”. (Dok: Riyanto dkk, 2019) 4 Si Putih Candi Sirih Menuju Lokasi Candi Sirih 5 Selatan yang didominasi oleh perbukitan karst. Sebagian lahannya berupa gamping dan tufa atau batu putih. Berada di lingkungan permukiman yang banyak ditanami pohon jati, lahan di sekitarnya berupa lereng bukit yang agak tinggi. Lahan tempat Candi Sirih berdiri adalah pekarangan milik Yayasan Sosial Kemanusiaan dan Keagamaan “Baitiy Makmur Sukoharjo”. Candi Sirih rupanya merupakan satu-satunya candi di Kabupaten Sukoharjo yang masih cukup lengkap, baik bangunan maupun batu-batunya. Di sana bahkan ada bangunan yang masih berdiri walaupun tinggal bagian kaki dan sebagian tubuh candinya, sementara bagian atapnya sudah tidak ada. Sebenarnya potensi tinggalan arkeologi di Kabupaten Sukoharjo tidaklah kecil, hal ini dapat dilihat dari banyaknya koleksi yang disimpan di Rumah Arca Sukoharjo. Tempat penyimpanan cagar budaya tersebut


merupakan laboratorium sejarah milik Universitas Veteran Bangun Nusantara (dulu IKIP) Sukoharjo, yang dikelola bersama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah. Dari katalog diketahui sedikitnya ada sekitar 112 koleksi tinggalan arkeologi yang meliputi arca, lingga, yoni, lumpang batu, batu candi, umpak, kemuncak, lapik arca, dan makara (Anonim, 2016/2017). Hasil survei juga menunjukkan hal yang sama, yaitu sebaran situs dan benda arkeologi dari masa Hindu-Buddha di Kabupaten Sukoharjo. Selain yoni, nandi, dan arca, juga ditemukan struktur sisa bangunan kuno berbahan bata atau batu andesit. Namun dari sekian banyak situs, hanya Candi Sirih yang masih berbentuk bangunan candi, meskipun tidak lengkap. Gambar 6. Sebaran tinggalan kerajaan Mataram Kuno di Kabupaten Sukoharjo. Tidak jauh di selatan Candi Sirih, terdapat Candi Risan dan situs Genjahan yang masuk di wilayah Kabupaten Gunungkidul, DIY. (Sumber: Google Earth) 3 LEBIH DEKAT DENGAN CANDI SIRIH 6 Si Putih Candi Sirih 7 Gambar 8. Candi Sirih sedang diteliti, salah satu lokasi ekskavasi di bagian depan candi. (Dok: Riyanto dkk, 2019)


karenanya bangunan kuno ini dapat dijuluki Si Putih Candi Sirih. Namun, karena proses pelapukan, warna pada permukaan batunya sebagian berubah menjadi gelap, menjadi abu-abu tua atau menghitam. 2. Bentuk Meskipun sebagian bangunan utamanya masih berdiri, namun pada dasarnya Candi Sirih sudah tidak utuh lagi. Apalagi jika dibandingkan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa situs ini sebenarnya bukan merupakan bangunan tunggal tetapi sebuah kompleks yang terdiri atas: a) satu bangunan utama atau candi induk, b) tiga bangunan pendamping atau candi perwara, dan c) sedikitnya terdapat satu pagar yang mengelilingi kompleks candi. Gambar 9. Contoh lainnya yang menunjukkan bahwa bahan utama Candi Sirih berwarna putih terdapat pada candi perwara. (Dok: Riyanto dkk, 2019) 8 Si Putih Candi Sirih Lebih Dekat dengan Candi Sirih 9 1. Bahan Umumnya candi-candi yang ditemukan di Indonesia, terutama di Jawa, dibangun dari batu andesit atau bata sebagai bahan utamanya. Kalaupun ada yang menggunakan bahan lain seperti batu tufa, biasanya digunakan sebagai pagar keliling atau sebagai material isian struktur bangunan. Candi Sirih adalah contoh yang “tidak umum”. Bangunan ini salah satu yang tergolong langka karena secara keseluruhan bahannya bukan batu andesit atau bata tetapi menggunakan batu tufa (tuff). Dalam kondisi segar, batuan ini berwana terang, cenderung putih atau abu-abu terang sehingga banyak yang menyebutnya “batu putih”. Tentu saja Candi Sirih menjadi berwarna terang atau putih karena keseluruhan bahan bangunannya dari batu tufa. Oleh Gambar 7. Batuan tufa yang menjadi bahan utama Candi Sirih masih berwarna putih karena tertimbun tanah dan tidak lapuk. Sementara yang mengalami pelapukan karena terekspos oleh matahari dan udara, bagian permukaannya berubah warnanya menjadi gelap. (Dok: Riyanto dkk, 2019)


Sebelum diteliti, yang tampak di situs ini hanya bangunan induk, itu pun hanya bagian kaki dan sebagian tubuhnya saja, bagian atap sama sekali sudah tidak ada. Kelengkapan lainnya seperti candi perwara dan pagar tidak diketahui pada awalnya. Sebagian warga bahkan tidak mengetahui bahwa bangunan ini adalah candi, mungkin karena wujudnya yang tidak jelas dan bahan bangunannya yang tidak umum, yaitu batu putih. Lalu, seperti apa bentuk Candi Sirih dulunya? Bentuk lengkap dan utuhnya memang sulit diketahui karena sudah banyak sekali mengalami kerusakan konstruksi. Bangunan ini juga sudah mengalami perubahan struktur dan kehilangan bahan bangunan yang tidak sedikit. Oleh karena itu ekskavasi dalam penelitian ditujukan untuk memperoleh bagian-bagian kunci yang ada di situs. Beberapa komponen penting yang berhasil ditampakkan antara lain: Gambar 10. Walaupun bahannya tidak umum dan berada di lokasi yang tidak biasa, tetapi hasil survei pada tahun 2018 membuktikan bahwa bangunan ini memang candi. Ini jelas terlihat dari banyaknya batu-batu yang memang dikerjakan sebagai bahan bangunan candi. (Dok: Riyanto dkk, 2019) 10 Si Putih Candi Sirih Lebih Dekat dengan Candi Sirih 11 Gambar 11. Lokasi-lokasi ekskavasi untuk mengungkap bentuk Candi Sirih. (Diolah dari Dok: Riyanto dkk, 2019)


12 Si Putih Candi Sirih Lebih Dekat dengan Candi Sirih 13 Gambar 13. Lokasi ekskavasi di bagian kaki candi perwara. (Dok: Riyanto dkk, 2019) Gambar 14. Lokasi ekskavasi di bagian talud sisi selatan. (Dok: Riyanto dkk, 2019) Gambar 12. Lokasi ekskavasi di bagian kaki candi induk sudut barat daya. (Dok: Riyanto dkk, 2019) 1) bagian kaki dan sudut barat daya candi induk, 2) bagian kaki candi perwara, 3) sebagian talud halaman candi sisi selatan dan barat (2 lokasi), 4) sebagian halaman candi di sebelah barat (2 lokasi), dan 5) tangga masuk ke halaman utama.


Berdasarkan data hasil ekskavasi itu bentuk Candi Sirih dapat digambarkan sebagai berikut: Ÿ Candi Sirih adalah sebuah kompleks candi yang dibangun dengan bahan batu tufa, Ÿ candi induk menghadap ke arah barat, Ÿ di hadapan candi induk terdapat tiga candi perwara menghadap ke timur atau berhadapan dengan candi induk, Ÿ denah candi induk berukuran 8 x 8 meter, Ÿ denah perwara tengah berukuran 3,8 x 3,2 meter, perwara selatan berukuran 3,7 x 3,5 meter. Jarak antara kedua candi perwara ini 1,5 m dan jarak dari candi induk ke candi perwara 7,9 m, sedangkan perwara utara sebagian berada di bawah bangunan baru sehingga tidak diketahui ukuran persisnya, Ÿ kompleks candi dikelilingi oleh pagar keliling berukuran 32 x 32 meter sehingga membentuk halaman candi yang disebut halaman I, dan Ÿ diduga dulunya ada pagar keliling yang lebih luas sehingga membentuk halaman II dan halaman III. 14 Si Putih Candi Sirih Lebih Dekat dengan Candi Sirih 15 Gambar 16. Lokasi ekskavasi di tangga masuk ke halaman utama. (Dok: Riyanto dkk, 2019) Gambar 17. Rekonstruksi denah Candi Sirih berdasarkan hasil penelitian. (Diolah dari Dok: Riyanto dkk, 2019) Gambar 15. Lokasi ekskavasi di halaman candi sebelah barat (belakang candi perwara). (Dok: Riyanto dkk, 2019)


Gambar 18. Gambar irisan (B-T) kompleks Candi Sirih, tidak ada yang lengkap bagian atasnya. (Diolah dari Dok: Riyanto dkk, 2019) Seperti apa kira-kira bagian atas Candi Sirih? Secara vertikal hanya candi induknya yang masih dapat diamati, sedangkan bangunan perwara dan pagar masih berada di bawah tanah sehingga tidak kelihatan bagian atasnya. Candi induk pun bagian atasnya tidak lengkap, banyak sekali batunya yang runtuh atau hilang. Bangunan ini hanya tersisa bagian kaki hingga sebagian tubuhnya saja. Sekarang tingginya tinggal 5,03 m, jauh dari tinggi aslinya. Gambar 19. Perkiraan bagian-bagian bangunan induk Candi Sirih: bagian kaki (bhurloka) relatif utuh, bagian tubuh (bhuvarloka) sebagian besar rusak, bagian atap (svarloka) tidak tersisa sama sekali. (Diolah dari Dok: Riyanto dkk, 2019) Candi adalah tempat suci atau bangunan yang dianggap sebagai tempat bersemayamnya para dewa, bukan makam. Tegas dinyatakan oleh Soekmono bahwa candi adalah kuil untuk pemujaan dan bukan sebagai makam (Soekmono, 1977). Di dalam bilik candi ditempatkan arca dewa sebagai benda terpenting karena menjadi objek pemujaan. Bangunan candi juga merupakan simbolisasi atau replika Gunung Mahameru yang dianggap menjadi tempat tinggal bagi pada dewa (Geldern, 1982). Sebagai gambaran alam semesta, bangunan candi terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kaki, tubuh, dan atap. Pembagian ke dalam tiga bagian itu sesuai dengan gambaran lingkungan alam 16 Si Putih Candi Sirih Lebih Dekat dengan Candi Sirih 17 semesta yang meliputi bhurloka, bhuvarloka, dan svarloka. Berdasarkan kepercayaan itu, bangunan candi terbagi atas: Ÿ kaki candi menggambarkan bhurloka, yaitu lingkungan para makhluk biasa, Ÿ tubuh candi mencerminkan bhuvarloka, adalah lingkungan manusia yang sudah disucikan, dan Ÿ bagian atap candi dianggap sebagai svarloka, merupakan lingkungan bagi para dewa (Soekmono, 1972).


Gambar 20. Lokasi temuan ekskavasi: 1) lingga patok (brahmastana), 2) lingga, 3) arca. (diolah dari Dok: Riyanto dkk, 2019) Gambar 21. Lingga patok merupakan titik pusat halaman candi yang disebut sebagai brahmastana. (Dok: Riyanto dkk, 2019) Gambar 22. Lingga merupakan lambang Dewa Syiwa, satu-satunya yang berbahan batu andesit di Candi Sirih. (Dok: Riyanto dkk, 2019) Gambar 23. Arca tokoh dewa dari bahan batu tufa; bagian wajahnya telah aus sehingga belum dapat dikenali. (Dok: Riyanto dkk, 2019) 18 Si Putih Candi Sirih Lebih Dekat dengan Candi Sirih 19 3. Religi Gunung Mahameru dan alam semesta (kosmos) adalah lingkungan yang suci, sehingga bangunan candi sebagai miniaturnya didirikan di lingkungan yang juga suci. Oleh karena itu lokasinya harus disucikan terlebih dahulu sebelum bangunan candi didirikan. Tempat yang telah disucikan itu selanjutnya diberi patok sebagai tanda. Tanda patok itu berjumlah sembilan; satu ditempatkan di pusat, empat di keempat sudutnya, dan empat lainnya di tengah dari keempat sisinya. Setelah pekerjaan itu selesai barulah bangunan candi didirikan. Selanjutnya halaman tempat pendirian candi itu diberi pagar keliling (Soekmono, 1977). Dengan demikian pagar keliling itu merupakan batas pemisah antara halaman candi yang merupakan lingkungan suci dengan lingkungan di luar kompleks yang sifatnya profan (Kempers, 1959). Lalu, apa latar belakang keagamaan Candi Sirih ? Dalam ekskavasi ditemukan data artefaktual yang merupakan kelengkapan kompleks bangunan suci. Dari temuan itu diketahui bahwa Candi Sirih berlatar belakang Hindu. Temuan artefaktual itu berupa: 1) lingga patok beserta landasannya, 2) lingga, dan 3) arca dewa.


4. Kerangka Sejarah Dan Peradaban Berdasarkan tata letaknya yang konsentris (Gambar 17), Candi Sirih diasumsikan didirikan pada masa Kerajaan Mataram Kuna yang berkuasa antara abad VIII–X Masehi. Hal ini merupakan analogi dengan candi-candi yang formasinya mirip dengan Candi Sirih dan berasal dari masa yang sama. Dalam kerangka sejarah, Kerajaan Mataram Kuno muncul pertama kali pada tahun 717 M, pada masa pemerintahan Raja Sanjaya yang bergelar Rakai Mataram. Kekuasaannya berlanjut hingga pemerintahan Dharmawangsa Tguh meskipun sudah berkedudukan di Jawa Timur (Boechari, 2012a). Pada masa itu, Mataram Kuna berkuasa di wilayah Jawa Tengah dan sebagian wilayah Jawa Timur. Pusat kekuasaannya diperkirakan berada di poros Kedu-Prambanan, yaitu di wilayah Kabupaten Magelang, di sekitar Candi Borobudur dan di wilayah Kabupaten Sleman di sekitar Candi Prambanan. Keberadaan kerajaan ini banyak dicatat dalam prasasti. Di Jawa Tengah, prasasti-prasasti yang berasal dari awal abad VIII M mencerminkan adanya persaingan antara para penguasa. Mereka berhasil mempersatukan dan menguasai sejumlah wanua atau komunitas setingkat desa. Mereka disebut raka atau rakryan yang pada akhirnya menjadi “atasan” para rama yang menjadi pembesar di tingkat wanua. Federasi regional beberapa wanua itu selanjutnya disebut watak yang namanya diberikan kepada para raka, seperti rakai Pikatan, sebagai contoh, berarti penguasa dari Pikatan. Para raka banyak membangun bangunan-bangunan suci dalam usahanya meningkatkan citra sebagai penguasa (Lombard, 1996). Pada masa-masa selanjutnya, para raka inilah yang banyak menghiasi isi prasasti, khususnya di Jawa Tengah, karena sebagian di antaranya menjadi raja, atau bahkan maharaja. Kedudukan maharaja ini seringkali diperoleh seorang raka melalui penaklukan terhadap raka-raka yang lain. Selain melalui penaklukan, perkawinan juga bisa digunakan untuk mencapai kedudukan sebagai maharaja. Oleh karena itu, kedudukan maharaja harus disahkan dengan upacara agama dan dituntut peneguhan terus-menerus (Nastiti, 1996). Selain mengeluarkan prasasti, raka juga banyak membangun bangunan suci, apalagi setelah menjadi raja. Itulah mengapa candi dan prasasti banyak digunakan untuk menelusuri perjalanan sejarah Indonesia, khususnya di Jawa Tengah. Dalam hal ini, Candi Sirih menjadi penting artinya sebagai bagian dari untaian sejarah kuno tersebut, khususnya di Kabupaten Sukoharjo dan Jawa Tengah. Candi Sirih adalah salah satu buah karya peradaban Kerajaan Mataram Kuno. Pada masa Hindu-Buddha, pengaruh kebudayaan India di Indonesia, khususnya di Jawa, telah menyentuh hampir seluruh aspek peradaban. Pengaruh itu dimulai dari pusat-pusat kekuasaan, lalu merambah ke lapisan masyarakat lainnya hingga ke pelosok-pelosok desa. Buah karya peradaban pada masa ini menunjukkan kualitas yang tinggi. Hal ini mencerminkan bahwa Jawa Tengah (dan Yogyakarta) merupakan pusat peradaban pada masa keemasan Kerajaan Mataram Kuno (Riyanto dkk, 2019). Tingginya peradaban pada waktu itu dikabarkan dalam berita Cina dari Dinasti T'ang. Dikabarkan bahwa kerajaan di Jawa pada abad IX M mempunyai 28 negara bawahan dengan empat orang menteri utama (Setiawan, 1995). Negara-negara bawahan tersebut adalah wilayah-wilayah kerakaian atau watak. Raja yang merupakan penguasa pusat dibantu oleh empat menteri utama sebagai penguasa wilayah di sekitar ibu kota kerajaan. Keempat menteri utama itu adalah mahamantri i hino, mahamantri i halu, mahamantri i sirikan, dan mahamantri i wka. Keempat pejabat 20 Si Putih Candi Sirih Lebih Dekat dengan Candi Sirih 21


tinggi kerajaan itu biasanya dijabat oleh anak atau kerabat raja. Sementara itu, para rakai adalah penguasa-penguasa di daerah yang merupakan raja-raja bawahan. Daerah watak yang dikuasai para rakai ini disebut wilayah kerakaian, merupakan daerah pinggiran. Berdasarkan lokasinya, Candi Sirih diasumsikan berada di salah satu wilayah ini, buah karya peradaban tingkat kerakaian pada masa Mataram Kuno. Gambar 24. Kompleks Candi Prambanan yang termasyhur merupakan salah satu buah karya peradaban Mataram Kuno. (Dok: Sugeng Riyanto – Balar Jogja) Candi Sirih berada di perbukitan yang termasuk dalam Zona Pegunungan Selatan. Candi ini dibangun dengan menggunakan batuan tufa (kasar, halus, dan berlapis). Untuk mengetahui keberadaan batuan tufa, telah dilakukan dengan cara menjelajahi wilayah di sekitar candi dan berhasil menentukan batas-batas batuan tufa di kawasan tersebut. Dengan demikian tampak adanya keterkaitan antara lingkungan dengan penggunaan batu tufa dalam pembangunan Candi Sirih. Batuan tufa dipergunakan karena memang bahannya tersedia melimpah di lingkungan sekitarnya (Riyanto dkk., 2019). Satuan batuan tufa di wilayah sekitar lokasi Candi Sirih meliputi tufa kasar, tufa halus, dan serpih. Begini penjelasannya. 4 LINGKUNGAN DAN PENGARUHNYA Gambar 25. Batas singkapan batuan tufa yang dimanfaatkan untuk pembangunan Candi Sirih dalam Peta Rupa Bumi Indonesia. (Dok: Riyanto dkk, 2019) 22 Si Putih Candi Sirih 23


Ÿ strukturnya berlapis tipis, Ÿ komposisi mineralnya meliputi kuarsa, feldspar, lempung, dan oksida besi, Ÿ berdasarkan genesanya batuan serpih termasuk pada batuan sedimen mekanik (epyclastic) (Huang, 1962). Ÿ satuan batuan tufa yang di wilayah sekitar lokasi Candi Sirih meliputi tufa kasar, 1) Tufa kasar termasuk batuan sedimen yang dalam kondisi segar berwarna putih kekuningan dan jika lapuk akan berwarna kuning kecoklatan. Ciri-ciri jenis ini: Ÿ bertekstur klastik-rudite, Ÿ strukturnya tidak berlapis (non stratified), Ÿ sortasi baik, Ÿ bentuk butirannya sub-rounded, Ÿ berukuran butir granule (2–4 mm), Ÿ komposisi mineral utama adalah kuarsa, feldspasd, glass vulkanik, Ÿ klasifikasi menurut genesanya termasuk pada batuan sedimen vulkanik (pyroclastic) (Huang, 1962). 2) Tufa halus termasuk batuan sedimen yang berwarna putih kekuningan dalam kondisi segar dan berwarna kuning kecoklatan jika lapuk. Ciri-ciri jenis ini antara lain: Ÿ bertekstur klastik-lutite dan berstruktur berlapis (stratified), Ÿ sortasi sedang, Ÿ bentuk butir sub-rounded, Ÿ berukuran butir coarse clay (1/256–1/16 mm), Ÿ komposisi mineralnya terutama adalah kuarsa, feldspasd, glass vulkanik, Ÿ klasifikasi menurut genesanya termasuk pada batuan sedimen vulkanik (pyroclastic) (Huang, 1962). 3) Serpih (shale) termasuk pada jenis batuan sedimen yang berwarna abu-abu dalam kondisi segar dan jika lapuk akan berwarna abu-abu kecoklatan. Jenis ini mempunyai ciri-ciri: Ÿ bertekstur klastik (lutite), Ÿ berukuran butir very fine silt (1/128–1/256 mm), Ÿ sortasi sedang, Ÿ bentuk butir rounded – subrounded, Gambar 26. Singkapan batuan tufa kasar di Sungai Kedungguling. (Dok: Riyanto dkk, 2019) 24 Si Putih Candi Sirih Lingkungan dan Pengaruhnya 25 Gambar 27. Singkapan batuan tufa halus di Sungai Kedungdowo. (Dok: Riyanto dkk, 2019)


tempat suci adalah suci karena potensinya sendiri. Dengan demikian sesungguhnya yang primer adalah tanahnya, sedangkan kuilnya hanyalah menduduki tempat nomor dua (Soekmono, 1977). Terkait dengan bahan dan lokasi Candi Sirih, hal ini menjadi sangat menarik karena ada beberapa ketentuan dalam pembangunan candi, termasuk kondisi lahan dan bahan bangunan yang digunakan. Apakah lokasi dan bahan Candi Sirih sesuai dengan persyaratan sebagaimana ketentuan dalam kitab MânasâraÇilpaçastra? Mungkin saja tidak, karena konsep dari India itu tidak seluruhnya diterapkan secara persis, ada improvisasi di sana sini, sehingga terdapat perbedaan. Improvisasi itu dilakukan karena adanya perbedaan lingkungan, bahan, pemahaman teknologi, dan local genius masyarakat Jawa waktu itu. Hal ini justru menjadi nilai penting bagi kemandirian budaya Indonesia yang tidak sertamerta mengikuti aturan kitab yang digunakan di India. Artinya, Gambar 28. Singkapan batuan tufa serpih (shale) di Dusun Kersan. (Dok: Riyanto dkk, 2019). 26 Si Putih Candi Sirih Lingkungan dan Pengaruhnya 27 Lokasi dan bahan untuk membangun suatu candi ternyata ada ketentuan dan persyaratannya. Mânasâra-Çilpaçastra adalah salah satu kitab yang berisi aturan-aturan pembangunan bangunan suci atau kuil di India. Di situ disebutkan bahwa sebelum suatu bangunan kuil didirikan, arsitek-pendeta (sthapaka) dan arsitek-perencana (sthapati) harus lebih dahulu menilai kondisi dan kemampuan lahan yang akan dijadikan tempat berdirinya bangunan suci tersebut (Acharya, 1993; Kramrisch, 1946; Mundardjito, 1993). Kitab tersebut juga menerangkan bahwa lahan yang akan dijadikan tempat berdirinya suatu kuil bernilai sangat tinggi, bahkan lebih penting dari bangunan suci itu sendiri (Mundardjito, 1993). Pentingnya lahan tempat pendirian bangunan kuil itu juga ditegaskan oleh Soekmono yang menyatakan bahwa suatu Gambar 29. Lingkungan Candi Sirih di zona Pegunungan Selatan. (Dok: Riyanto dkk, 2019)


situs Genjahan belum diketahui bentuknya karena belum diteliti dan masih berupa komponen-komponen bangunan saja. Candi atau kompleks percandian pasti dibangun karena dibutuhkan oleh masyarakat. Oleh karena itu dapat dipahami adanya manusia-manusia dengan segenap budaya dan peradabannya yang ada di balik bangunan candi. Sebagai buah karya peradaban, bangunan candi dapat dikaitkan dengan keberadaan permukiman kuno, karena candi adalah bagian dari permukiman masyarakat itu sendiri. Termasuk di antaranya adalah masyarakat Jawa Kuno, warga kerajaan Mataram Kuno (abad VIII–X) yang tinggal di zona Pegunungan Selatan dengan candinya yang berwarna putih, yaitu Si Putih Candi Sirih. kepribadian dan jati diri bangsa Indonesia sangat kokoh sehingga dalam menyerap anasir budaya asing tetap disesuaikan dengan kondisi lingkungan alam maupun budaya sendiri. Candi-candi di Jawa adalah karya arsitektur yang dipengaruhi oleh anasir budaya India yang terbawa dalam proses masuknya agama Hindu dan Buddha. Itulah mengapa arsitektur candi di Jawa memiliki kemiripan dengan kuil di India. Akan tetapi ternyata tidak satu pun candi yang sama persis dengan kuil di India. Rupanya para silpin (seniman-arsitek) Jawa Kuno memiliki kepandaian dalam meramu berbagai unsur kesenian dari India menjadi kreasi baru yang unik. Bahkan penempatan titik pusat candi (brahmasthana) tidak lagi ada di tengah tata ruang dan bangunan, tetapi digeser (Ramelan (Ed.), 2013). Contoh pergeseran seperti itu ada di kompleks Candi Prambanan yang titik pusatnya ada di sudut selatan pipi tangga sebelah timur, bukan di pusat candi induknya (Boechari, 2012b). Penempatan titik pusat seperti itu juga diterapkan di Candi Sirih. Lingga patok sebagai titik pusat yang disebut brahmastana ditemukan di sudut antara tangga naik dengan dinding candi induk (lihat Gambar 21). Artinya, pembangunan Candi Sirih cenderung mempertimbangkan ketersediaan bahan di lingkungan sekitarnya, selain kebutuhan masyarakat setempat terhadap bangunan suci. Tidak jauh dari lokasi Candi Sirih, masuk dalam wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, ada candi dan struktur yang juga dibangun dari bahan tufa, yaitu Candi Risan dan situs Genjahan (lihat Gambar 6). Candi Risan berbentuk sederhana, yaitu hanya berupa kaki atau batur. Diduga di bagian atasnya didirikan stupa karena latar belakang keagamaan Candi Risan adalah Buddha. Hal ini diketahui berdasarkan temuan arca Avalokitesvara. Sementara Gambar 30. Candi Risan yang komponen dan strukturnya tidak utuh lagi. (Dok: Riyanto dkk, 2019) 28 Si Putih Candi Sirih Lingkungan dan Pengaruhnya 29


Gambar 31. Batu-batu komponen bangunan candi di situs Genjahan. (Dok: Balar Prov. DIY 2019) 5 PENUTUP: BELAJAR DARI CANDI SIRIH 30 Si Putih Candi Sirih 31 Meskipun tidak semegah Candi Prambanan, namun Candi Sirih memiliki berbagai keunikan dan mengandung banyak hal yang dapat digunakan sebagai bahan pelajaran di masa kini dan di waktu nanti. Walaupun Candi Sirih terletak di zona Pegunungan Selatan yang sepi akan bangunan candi, tetapi justru hal itu menjadikannya bernilai tinggi karena tergolong langka. Hal ini sekaligus mengabarkan kepada kita bahwa di wilayah itu juga terdapat permukiman yang mapan dan maju pada masa kerajaan Mataram Kuno. Candi Sirih menjadi bukti untuk itu, dibangun karena dibutuhkan oleh warga, seperti halnya warga Mataram Kuno di tempat lain yang daerahnya lebih subur dan di lingkungannya tersedia batuan andesit untuk membangun candi. Dalam membangun candi, dulu para leluhur di sana tidak memaksakan diri untuk mencari batu andesit yang letaknya jauh. Batuan tufa yang tersedia melimpah di lingkungan sekitar menjadi pilihan cerdas dengan menjadikannya sebagai bahan utama. Barangkali hal itu dapat dianggap menyalahi ketentuan dan persyaratan sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab pedoman pembangunan candi di India; tetapi ini Jawa, masyarakatnya sudah memiliki kepribadian dalam berbudaya. Kepribadian dan kecerdasan lokal menolak untuk melakukan copy and paste dalam menyerap unsur-unsur dari luar, tetapi disesuaikan dengan ketersediaan bahan dalam membangun candi.


32 Si Putih Candi Sirih Penutup: Belajar dari Candi Sirih 33 Gambar 32. Warga Desa Karanganyar, para tokoh masyarakat, pejabat Pemerintah setempat, dan tim penelitian berfoto bersama setelah acara sosialisasi hasil penelitian Candi Sirih. (Dok: Balar Prov. DIY 2019) Secara tersirat akhirnya kita mengetahui bahwa kecerdasan lokal tidak hanya diterapkan dalam membangun candi saja tetapi juga pada aspek kehidupan lainnya. Keberadaan Candi Sirih mencerminkan adanya permukiman yang mapan dan maju di daerah itu. Permukiman tersebut juga mencerminkan adanya aspek lain yang menjamin keberlangsungan kehidupan dan peradaban di sana. Oleh karena itu boleh dibayangkan adanya hunian yang didukung oleh kegiatan seperti: Ÿ pertanian, Ÿ pertukangan, Ÿ kesenian, Ÿ perdagangan, dan sebagainya. Hebatnya, hal itu ada di zona Pegunungan Selatan, wilayah yang belum banyak dikenal sebagai bagian dari Kerajaan Mataram Kuno, abad VIII–X. Dari semua itu, kalimat kuncinya adalah: kebudayaan dan peradaban di sana mempu beradaptasi dengan sangat baik terhadap kondisi lingkungannya. Terbayang jelas bahwa kecerdasan lokal berjalan beriringan dengan kearifan lokal, bukti nyatanya adalah Si Putih Candi Sirih.


34 Si Putih Candi Sirih Daftar Pustaka 35 DAFTAR PUSTAKA Acharya, Prasanna Kumar. 1993. Archietecture of Manasara. London: Oxford University Press. Anonim. 2016/2017. “Katalog Rumah Arca Sukoharjo”. Tidak terbit. Boechari. 2012a. “Kerajaan Mataram Sebagaimana Terbayang dari Data Prasasti”. Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti, Kumpulan Tulisan Boechari. Jakarta: Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). Pp. 183–196 Boechari. 2012b. “Bahan Kajian Arkeologi untuk Pengajaran Sejarah”. Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti, Kumpulan Tulisan Boechari. Jakarta: Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). Pp. 47–61 Huang, Walter T. Phd. 1962. Petrology. New York and London: Mc Graw Hill Book Company Inc Kempers, A.J. 1959. Ancient Indonesian Art. Amsterdam: Harvard University Press. Kramrisch, Stella. 1946. The Hindu Temple. Calcuta: University of Calcuta. Lombard, Denys. 1996. Nusa Jawa: Silang Budaya, Sejarah Kajian Terpadu. Jilid III: Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Mundardjito. 1993. Pertimbangan Ekologi dalam Penempatan Situs Masa Hindu-Buda di Daerah Yogyakarta: Kajian Arkeologi Ruang Skala Makro. Disertasi, Universitas Indonesia, Jakarta. Nastiti, Titi Surti. 2003. Pasar pada Masa Mataram Kuna Abad IXXI Masehi. Jakarta: Pustaka Jaya. Ramelan, Wiwin Djuwta Sudjana (ed). 2013. Candi Indonesia Seri Jawa. Jakarta: Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman – Direktorat Jenderal Kebudayaan – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riyanto dkk., 2019. “Laporan Penelitian Arkeologi Karakter Arsitektur, Lingkungan, dan Sejarah Candi Sirih. Balai Arkeologi Provinsi D.I. Yogyakarta. Tidak terbit. Setiawan, I.G.N. Made Budiana. 1995. Pergeseran Kedudukan Pejabat Tinggi Kerajaan Mataram Kuna pada abad IX-X Masehi (Kajian terhadap Situasi Politik Pemerintahan), Skripsi Sarjana pada Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Soekmono, R. 1977. Candi Fungsi dan Pengertiannya. Semarang: IKIP Semarang Press.


Gambar 33. Poster sebagai salah satu media sosialisasi hasil penelitian Candi Sirih.(Dok: Balar Prov. DIY 2019) 36


Click to View FlipBook Version