The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Buku Digital, 2023-06-13 03:42:17

Penanggungan_II

Penanggungan_II

Da ar F o to d an G a m b a r Sampul Muka. Replika Mahameru dari Jolotundo dan Gunung Penanggungan. Foto: Nurman Sahid dan Tim Ekspedisi Penanggungan- Ubaya. Sampul Dalam. Gunung Penanggungan. Foto: NurmanSahid. Halaman2-3. Candi Lurah. Foto: NurmanSahid. Halaman4. BukitBekel, diambil dari Candi Carik. Foto: NurmanSahid. Halaman6-7. Candi Yudha . Foto: TimEkspedisi PenanggunganU B AYA . Halaman8. Gunung Penanggungandanbukit-bukitnya. Foto: TimEkspedisi PenanggunganU B AYA . Halaman9. LingkunganalamGunung Penanggungan. Foto: TimEkspedisi PenanggunganU B AYA . Halaman10. Candi Guru. Foto: TimEkspedisi PenanggunganU B AYA . Halaman11. AltarpuncakCandi Triluk o. Foto: TimEkspedisi PenanggunganU B AYA . Halaman 12. Peta Persebaran Kepurbakalaan Situs Gunung Penanggungan. Sumber: Tim Ekspedisi Penanggungan - U B AYA . Halaman 13. Candi Sinta. Foto: TimEkspedisi PenanggunganU B AYA . Halaman 14-15. Gunung Penanggungan. Foto: Tim Ekspedisi Penanggungan - U B AYA; Ilustrasi kosmologi. Olah gambar: NurmanSahid. Sumber fot o (jagat r aya): w w w. google.com. Halaman16. Prasasti Cunggrang. Foto: TimEkspedisi PenanggunganU B AYA . Halaman 17. BukitGajahmungkur. Foto: TimEkspedisi PenanggunganU B AYA . Halaman18-19. Altarpuncak Kepurbakalaan I I. Sumber: Oudheidkundige Dienst, 1939. Halaman20. Pemandian Kuno Jolotundo. Foto: NurmanSahid. Halaman 21. Replika Mahameru. Foto: Tim Ekspedisi Penanggungan - U B AYA; Salah satu relief ceritadi Pemandian Jolotundo. Foto: Tim Ekspedisi Penanggungan - U B AYA; Pancuran kolam tengah Pemandian Jolotundo. Foto: NurmanSahid. Halaman 22-23. Pemandian Kuno Belahan. Foto: Tim Ekspedisi Penanggungan - U B AYA; Arca Wisnu dan Garuda. Sumber: Oudheidkundige Dienst, 1904; Gapur aBelahan. Foto: TimEkspedisi PenanggunganU B AYA . Halaman24. Gapur a Jedong. Foto: TimEkspedisi PenanggunganU B AYA . Halaman 25. Prasasti Kambang Śri. Foto: Tim Ekspedisi Penanggungan - U B AYA; Kepala Kala di ambang pintu masuk Gapur a Jedong. Foto: NurmanSahid. Halaman26. Struktur UmumBangunanBerundak SitusGunung Penanggungan. Gambar: NurmanSahid. Halaman 27. Candi Kendalisodo. Foto: TimEkspedisi PenanggunganU B AYA . Halaman 28-29. Gua pertapaan Candi Kendalisodo. Foto: Tim Ekspedisi Penanggungan - U B AYA; Gua Rant e ( K A M A I V). Foto: TimEkspedisi PenanggunganU B AYA . Halaman30. Jalurkunodi Gunung Penanggungan. Foto: TimEkspedisi PenanggunganU B AYA . Halaman 31. Tanggul penguatjalurkuno. Foto: TimEkspedisi PenanggunganU B AYA . Halaman32. Relief ceritaArjunawiwahaCandi Kendalisodo. Sumber: Oudheidkundige Dienst, 1936. Halaman32-33. Relief ceritaDewaruci (Bimasuci) Candi Kendalisodo. Sumber: Oudheidkundige Dienst, 1936. Halaman 33. Relief Cerita Panji Candi Kendalisodo. Sumber: Bernet Kempers, 1936. Halaman34. TemuanArca-arcadari Gunung Penanggungan. Sumber: Clair e Holt, 1936. Halaman 35. Arca Panji dari Candi Selokelir. Sumber: Clair e Holt, 1936; ArcaBima. Sumber: Clair e Holt, 1936. Halaman36. Candi Gajah, BukitGajahmungkur. Foto: TimEkspedisi PenanggunganU B AYA . Halaman 37. Kepurbakalaan L X V I I I. Foto: TimEkspedisi PenanggunganU B AYA . G U N U N G PENANGGUNGAN B U K U P E N G AYA A N


PENANGGUNGJAWAB I Made Geria EDITOR Bambang Budi Utomo TEKS dan GRAFIS Nurman Sahid DATA dan MATERI Hadi Sidomulyo Kusworo Rahadyan


06 07 S itus Gunung Penanggungan menempati posisi yang terbilang istimew a dalam sejarah kebudayaan Indonesia. Di gunung yang di masa lalu dianggap suci ini, banyak dijumpai bangunan purbakala dalam berbagai bentuk dan jenisnya. I a akhirny a menjadi gunung terkay a yang pernah dimiliki dunia ar keologi Indonesia. Kepurbakalaan yang ada seolah mengisi kekosongan catatan sejarah di masa peralihan, antar a masa Majapahit Akhir hingga mulai ber kembangny a pengaruh Islam di Nusantara. Bukti-bukti ar keologis itu tentuny a tetap harus terjaga keber-adaanny a sebagai sumber kajian dalam upay apengembanganpengetahuansejarah-buday apadamasa-masa yang diwakilinya. Namunsayangnya, untuk Situs Gunung Penanggungan ini, masalahny a justru terletak pada hal tersebut di atas. Pertama, data ar keologis yang terbilang banyak itu ternyata tak seimbang dengan kegiatan penelitian yang telahdilakukan --kuantitas penelitian Situs Gunung Penanggungan masih bisadihitung dengan jari. Dan kedua, kondisi bukti-bukti ar keologis yang ada seperti berpacu dengan waktu. Ancaman terhadap kelestariann y a selalu ada dari waktu k e waktu. Di sinilah kemudian terlihat pentingny a Situs Gunung Penanggungan disasar dalam program Rumah Peradaban. Dengan itu diharapkan, kegiatan untuk menepis kabut kesejarahan Sang P awitr a atau Gunung Penanggungan, menjadi semakinmenggeliat. Pengungkapan kesejarahan i t u t e n t u h a r us d i s e r t a i d e n g a n u paya u n t u k m e n g g a l i n i l a i - n i l ai kearifannya, untuk kemudian disampaikan kepada masyarakat. Ini dimaksudkan agar keberadaan Situs Gunung Penanggungan dapat dimaknai --dan memiliki makna tertentu-- dalam kehidupan di masa sekarang. Semua itu, bukan tidak mungkin, meniscayakan tumbuhkembangny a rasa cinta masyarakat terhadap bukti-bukti sejarah mereka sendiri. Dan pada gilirannya, mereka akan terlibat aktif dalam upay apelestariannya. Informasi yang disampaikan dalam buku ini masih sama seperti Buku Pengayaan Rumah Peradaban Situs Gunung Penanggungan 2017. Boleh dibilang, Buku Pengayaan Rumah Peradaban Situs Gunung Penanggungan 2018 ini adalah sebuah edisi cetak ulang, mengingat materi yang disajikan sebelumny a sudah mencakup keseluruhan. Tambahan lagi, saat ini memang belum diperoleh lagi data-data baru hasil penelitian mengenai Situs Gunung Penanggungan. Dan, mengingat pula bahw a pada kegiatan sosialisasi tahun 2017 lalu banyak masyarakatdan par a pemangku kepentingan berhalangan hadir, buku ini kirany amasihlayakuntukdicetakdandibagikan. P e nga nta r I Made Geria Pusat Penelitian Ar keologi Nasional


Da ar Isi Pengantar 5 Da ar isi 6 Gunung Penanggungan 8 Situs Gunung Penanggungan 10 Riwayat Penemuan dan Penelitian 11 Persebaran Kepurbakalaan 13 Kosmologi 14 Mitologi 15 Catatan Sejarah 16 Teori dan Pendapat 19 Pemandian Jalatunda 20 Pemandian dan Gapura Belahan 22 Gapura Jedong 24 Punden Berundak 26 Candi Kendalisada 27 Gua Pertapaan 29 Jalur Kuno 30 Relief Cerita 32 Arca-arca 34 Pelestarian 36 Da ar Kepurbakalaan 38 Kepustakaan 39 Da ar Foto dan Gambar 40


8 9 G U N U N G P E N A N G G U N G A N K awas an Gunung S e m b i l an Punc a k G unung Penanggungan terletak sekitar 40 km di sebelah barat day a Kota Surabaya. Secar a administratif ia berada dalam wilayah dua kabupaten di Pr ovinsi J aw a Timur. Sebagian besarnya, bagian barat, terletak di Kabupaten Mojokert o. Dan sebagian lagi, bagian timurnya, di Kabupaten Pasuruan. Gunung ini adalah sebuah kesatuan kawasan dataran tinggi dengan sembilan puncak ketinggian yang berbeda-beda. Puncak tertinggi, 1.653 m dari permukaan laut, adalah puncak Gunung Penanggungan itu sendiri. Empat puncak lain di bawahny a diwakili oleh bukit-bukit yang mengeliling Gunung Penanggungan, yaitu Gajahmungkur (1.087 m), Bekel (1.238 m), Kemuncup (1.227 m) dan Sarahklopo (1.2 75 m). Sementar a sisanya, adalah empat puncak yang lebih rendah lagi dari bukit-bukit Semodo(7 19 m), Wangi (987 m), Bende (9 27) dan Jambe (747 m).


10 11 SITUS GUNUNG PENANGGUNGAN Terkaya dan Sangat Istimewa Dibandingkandengangunung-gunung laindi dekatnya, yaitu Gunung Welirang (3.156 m), Gunung Anjasmoro (3.339 m) dan Gunung Arjuno (2.277 m), Gunung Penanggungan memang gunung yang memiliki ketinggian puncak paling rendah. Namun, dari aspek sejarah-budaya, ia adalah gunung yang terkaya. Gunung yang sangat istimewa dalam catatan sejarah kebudayaan Nusantara. Di kawasan Gunung Penanggungan sampai saat ini tercatat ada sekitar 130-an bangunan purbakala dalam bentuk punden berundak, gua pertapaan, gapura, serta pemandian dan jalan kuno. Jumlah tersebut belum termasuk ratusan atau bahkan ribuan artefak berupa pecahan benda-benda yang terbuat dari tanah liat bakar, mata uang logam, atau berbagai arca yang pernah ditemukan dan dilaporkan tertulis oleh orangorang Belanda dulu. Sebagian dari tinggalan budaya Situs Gunung Penanggungan yang dulu pernah ditemukan, kini dapatdilihat sebagai koleksi di beberapamuseum. RIWAYAT PENEMUANdan PENELITIAN Setiap Didata, Semakin Bertambah B erita tentang keberadaanbangunan-bangunankunodi lereng Gunung Penanggunganpertamakali muncul pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, tahun 1900. Saat itu temuan sejumlah arca dan batu berpahat angka tahun juga berhasil diselamatkan oleh bupati Mojokerto, R.A.A. Kromodjojo Adinegoro --kini tersimpan di kantor Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur, Trowulan. Menyusul berita penemuan tersebut, survey lapangan dilakukan secara intensif dari tahun 1935 sampai 1940, diprakarsai oleh ahli purbakala Belanda A. Gall dan W.F. Stutterheim. Dan hasilnya, tercatat ada 81 kepurbakalaan di Gunung Penanggungan. Hasil survey ini sayangnya tidak pernah diterbitkan sehingga dalam pendataan ulang yang dilakukan oleh Dinas Purbakala RI, pada tahun 1951, tidak semuanyadapat ditemukan lagi. Tahun-tahun berikutnya terhitung ada beberapa kegiatan pendataan dan penelitian yang dilakukanoleh instansi pemerintahatau lembaga akademis. Setiappendataanselalu mendapatkan hasil yang berbeda, atau bertambah jumlahnya. Dalam pendataan terakhir yang dilakukan tim UBAYA PenanggunganCenter, misalnya, tercatatadasekitar131 kepurbakalaan.


12 13 PERSEBARAN KEPURBAKALAAN Di Seluruh Area Gunung dan Bukit B angunan purbakala Situs Gunung Penanggungan ditemukan mulai dari kaki hingga puncaknya. Tersebar di seluruh area Gunung Penanggungan itu sendiri, dan di bukit-bukit yang mengelilinginya. Hingga saatini, persebaran kepurbakalaan Gunung Penanggungan masih tercatatterkonsentrasi di sisi barat. Kebanyakan berupa bangunan berundak yang terbuat dari susunan batuan andesit. Ada yang dari balok-balok batu, namun ada juga bagiannya yang tersusun dari bongkahan batu-batu alam yang belumdikerjakan. Ada yang berhiasdanadapulayang polos. Hiasan bangunan biasanya berupapahatan relief cerita, tumbuh-tumbuhan, hewan, hiasan geometris, atau berbagai bentuk ornamen lainnya. Berdasarkan pahatan angka tahun --dalam aksara dan bahasa Jawa Kuno-- yang terdapat pada beberapa bangunan di sana, dapat diketahui, kepurbakalaan di seluruh Situs Gunung Penanggungan berasal dari rentang masaantaraabad ke-10 sampai 16 Masehi. Peta Persebaran Kepurbakalaan Situs Gunung Penanggungan Gunung Penanggungan Bukit Kemuncup Bukit Wangi Bukit Bende Bukit Sarahklopo Bukit Bekel Bukit Gajahmungkur Bukit Semodo Bukit Jambe


14 15 MITOLOGI Mitologi Gunung Penanggungan sebagai Mahameru Suci tertulis dalam Tantu Panggelaran, sebuah kitab s u c i H i n d u y a n g s a l i n a n n a s k a h n y a d i b u a t p a d a a b a d k e - 1 7 M a s e h i. Dikisahkan, Pulau J aw a saat itu masih d a l a m k e a d a a n l a b i l . Ta n a h nya s e r i ng berguncang dan ber getar. Bhatar a Guru kemudian memerintahkan semua dew a d a n m a k h l u k k a h y a n g a n p e r g i k e J a m b u d w i p a , u n t u k m e m i n d a h k a n gunung suci Mahameru k e Pulau J awa. Untuk memaku Tanah J aw a agar menjadi stabil danberhenti ber g o yang. Puncak Mahameru yang setinggi langit, l a n t a s d i p o t o n g . D i a n g k u t b e r a m a i - r a m a i k e P u l a u J a w a . D a l a m p r o s e s p e m i n d a h a n i t u , b a n y a k b a g i a n d a ri potongan gunung yang jatu h ter cecer, m e n j a d i G u n u n g L a w u , W i l is, K e l u d, Kawi, Arjuno dan Welirang. Bagian yang tersisa kemudian diletakkan di daerah L u m a j a n g , m e n j a d i G u n u n g S e m e r u sekarang. Sedangkan bagian puncakny a y a n g t e r t i n g g i , m e l e p a s d a n b e r d i ri s e n d i r i . D i b e r i n a m a P a w i t r a , y a ng berarti suci atau keramat. P awitr a inilah yang kemudian sekarang dikenal sebagai Gunung Penanggungan. K O S M O L O G I Pus at S emesta, P o ros P e n g h u bun g B entuk unik Gunung Penanggungan dengan delapan buah bukit yang mengelilinginy a --pada delapan penjuru arah mata angin-- mungkin telah menarik perhatian masyarakat masa lalu. Mereka lantas beranggapan, Gunung Penanggungan adalah Gunung Mahameru yang terdapat di Jambudwipa (India). Menurut kosmologi Hindu-Buddha, Mahameru adalah Gunung Suci. Pusat dari alam semesta. Sekaligus, porospenghubung mikrokosmos (buana alit) danmakrokosmos (buana ageng). Puncak Mahameru diyakini sebagai tempat persemayaman Sang Jagatnatha. Pengatur jagat. Pada delapan penjuru di arah mata anginnya, tinggal dewa-dew a tertentu yang menjaganya. Karena bentuk unikny a dipersamakan dengan Mahameru, Gunung Penanggungan akhirny a jugadianggapsebagai gunung suci. Tak heran bila kemudiandi Gunung Penanggungan banyak ditemukan bangunan suci yang diduga terkaitfungsiny adengan keagamaan. U n t uk M ema ku Pu l au J awa


16 17 CATATAN SEJARAH Dalam Prasasti dan Naskah Kuno Nama “Pawitra” yang mengacu pada Gunung Penanggungan ternyata sudah dikenal sejak abad k e-10 Masehi. Tertulis pada Prasasti Cunggrang yang ditemukan di Desa Sukci, Gempol, Pasuruan, di kaki sebelah timur Gunung Penanggungan. Prasasti Cunggrang dikeluarkan oleh raja Mataram Kuno, Mpu Sindok, pada tahun 9 29 Masehi. Prasasti itu menyebutkan tentang keberadaan sebuah pertapaan dan sumber air di P awitra. Sumber air dimaksud kemungkinan adalah pethirtaan (pemandian) Belahan saat ini, sekitar 4 kilometer dari Desa Sukci. Mengenai pertapaan yang disebutkan dalam Prasasti Cunggrang, ternyata juga dikenal pada masa Majapahit. Kitab Nagarakertagama, kar y a Mpu Prapanca, yang selesai ditulis pada tahun 1365 menceritakan, penduduk desa setempat m e n y a m b u t k e d a t a n g a n r a j a M a j a p a h i t , H a y a m W u r u k , k e t i k a b e l i a u mengunjungi pertapaan tersebut. Dari Tanah Sunda, sebuah naskah yang ditulis pada tahun 1500 Masehi menyebutkan pula soal Gunung P a w i t r a . N a s k a h k u n o t e r s e b u t m e n g i s a h k a n tentang seorang pangeran dari Kerajaan Pakuan, b e r n a m a B u j a n g g a M a n i k . I a m e n i n g g a l k a n keluargany a untuk menuntut ilmu di J awa. Dalam p e r j a l a n a n n ya ke a r a h t i m u r , ia m e l e w a t i k o t a Majapahit. Mendaki Gunung P awitra, dan sekaligus berkunjung k e Gunung Gajahmungkur yang suci. Nama Gajahmungkur ini menggiring dugaan pada salah satu dari delapan bukit yang mengelilingi Gunung Penanggungan: Bukit Gajahmungkur. Selain kisah Bujangga Manik tersebut, nama Gunung Penanggungan disinggung pula dalam naskah Babad Sangkala atau “Daftar Tahun Peristiw a J aw a ”, dari masa kerajaan Mataram Islam. Babad Sangkala menyebutkan, tahun 1543 Masehi adalah tahun “kejatuhan” gunung keramat Penanggungan di bawahpengaruh kekuasaan KesultananDemak.


18 19 TEORI dan PENDAPAT Kepada Leluhur, Kepada Dewa B entuk arsitektur bangunan purbakala di Gunung Penanggungan mengingatkan pada punden-punden berundak yang berasal dari zaman prasejarah, khususny a pada masa megalitikum (batu besar). Dalam sistem kepercayaan animisme -dinamisme masyarakat megalitik di Nusantara, pendirian bangunan punden berundak itu dimaksudkan untuk memuja arwah leluhur, yang diyakini memiliki kekuatan dan pengaruh tertentu bagi kehidupan manusia di bumi. Arwah leluhur dipuja agar manusia yang masih hidup mendapatkan perlindungan dan berkahnya. Berdasarkan hal ini maka ada pendapat yang mengatakan, banyakny a bangunan berundak di Gunung Penanggungan menunjuk - k a n fe n o m e n a m e n g u a t n y a ke m b a l i ke p e r cay a a n a s l i m a s y ara k a t Nusantara, yaitu pemujaanarwah leluhur. Hany a saja, kepercayaan lama itu sudah bersinkretisasi atau bercampur-padu dengan ajaran Hindu. Pendirian bangunan suci di atas gunung dimaksudkan agar para bhakta (pemuja) dapat lebih mendekatkan diri lagi kepada yang dipujanya: arwah leluhur dan dewa. Yang dianggap bersemayam di tempat-tempat tinggi. Tempat yang suci. Berdasarkan pahatan angka tahun yang ada, kepurbakalaan Gunung Penanggungan, terutama yang berada di atas lereng gunung, sebagian besar berasal dari periode abad k e-15 sampai 16 Masehi. Ini berarti dari masa-masa berakhirny a Kerajaan Majapahit. Atas dasar peristiw a yang terjadi di masa itu, ada pendapat yang mengatakan bahw a situs Gunung Penanggungan memperlihatkan fenomena millenarisme --tentang aksi pengunduran diri dengan keyakinan akan datangny a Ratu Adil yang dapat membaw a kembali pada masa lampau penuh bahagia. Sejarah m e n c a t a t , ke t i k a I s l am m u l a i m a s u k ke Ta n ah Jaw a , m a s y ara k a t penganut Hindu-Buddha memang mulai terdesak. Mereka akhirny a banyak yang mengundurkan diri. Di antarany a k e gunung-gunung. Di g u n u n g , m e r e k a m e n d i r i k a n b a n g u n a n - b a n g u n a n p e m u j a a n. Melakukan ibadah, menyatukan raga dan sukma dengan par a dewa. Berharap hadirny a Ratu Adil yang akan mengembalikan pada masamasakeemasanMajapahit.


20 21 Pada dinding belakang sebelah kiri Pemandian Jolotundo terdapat pahatan tulisan dalam bahasa Jawa Kuno yang berbunyi “gempeng” --hingga kini belum diketahui arti dari kata tersebut. Sementar a p a da d i n d i n g b e l a k a n g s e b e l a h k a n a n , t e r d a p a t pahatan angka tahun 899 Saka (977 Masehi). Ini k e m u ngk i n a n a d a l a h t a h u n p e n d i r i a n b a n g u n a n. Atau paling tidak, Pemandian Jolotundo sudah ada pada abad k e-10 Masehi itu. Ada anggapan bahw a Pemandian Jolotundo diperuntukan bagi pemujaan kepada Dew a Wisnu, sebagai dew a penguasa amerta (air suci). Ada juga pendapat, selain ditujukan bagi D e w a W i s n u , P e m a n d i a n J o l o t u n d o s e k a l i g u s menjadi salah satu tempat perabuan Udayana --ayah raja Airlangga --selain di Banu weka, Bali. Pendapat i n i d i d a s a r i a t a s a d a n y a p a h a t a n t u l i s a n k a t a “Udayana” dan relief cerita penculikan Mrgay awati, ibunda raja Udayana, olehGaruda. P E M A N D I A N J O L O T U N D O U n t uk P e m ujaan S e k aligus P e r a b u an? P emandian atau pethirtaan Jolotundo merupakan kepurbakalaan tertua di kawasan Situs Gunung Penanggungan. Letakny a di Desa Seloliman, di kaki lereng barat Bukit Bekel. Pemandian Jolotundo berbentuk kolam dengan dinding belakang yang menempel pada lereng gunung. Bangunanny a tersusundari batuanandesit, danberdenahsegi empatdenganukuran16 x 13 meter. Terdapat 3 buah teras kolam dengan pancuran-pancuran air yang terbuat dari batubatu berelief. Teras kolam yang tengah adalah teras utamanya. Di atasnya dulu dijumpai replika Mahameru --dengan delapan bukit di sekelilingnya-- yang dililit naga. Replika Mahameru itu kini tersimpan di kantor Balai Pelestarian Cagar Buday a J aw a Timur, Tr owulan. Teras-teras kolam itu adalah tempat penampungan air pertama yang mengalir dari sumbernya, di dinding belakang bangunan. Sumber air yang dianggap suci tersebut tak pernah kering sekalipun musim kemaraupanjang. Dari kolam teras, air kemudiandisalurkanlagi k e kolamdi bawahnya.


22 23 PEMANDIANdan GAPURA BELAHAN Sebuah Kompleks Dikelilingi Tembok B angunan yang berupapemandian kunodijumpai puladi kaki lereng timurGunung Penanggungan, di Desa Wonosuny o, yaitu Situs Belahan. Pemandian ini berdenah segi empat, berukuran 6 x 4 meter. Dinding belakangnya, setinggi sekitar 6 meter, tersusun dari bata-bata merah. Sementar a dasar kolamnya, dari susunan balok batuan andesit. Pada dinding belakang itu terdapat dua arca dewi dari batuan andesit yang mengisi relung-relung pada bidang tembok belakang. P ayudar a salah satu arca dewi, yang kanan, berfungsi sebagai pancuran air --karenany a Pemandian Belahan juga dikenal masyarakat sebagai Candi Sumber Tetek. Kedua arca dewi itu berdiri mengapit sebuah balok batu andesit besar. Seperti altar. Atau bahkan, lapik arca, karena di bagian belakangny a juga terlihat relung dengan kedalaman yang lebih rendah. Pada relung tengah kemungkinan duluny a memang ditempatkan sebuah arca. Namun kini, telah hilang. Belum diketahui arca apa yang pernah berada di sana. Banyak yang menduga bahw a arca Wisnu naik Garuda, koleksi Museum Majapahit, Tr owulan, adalah a r c a d a r i Pe m a n d i a n B e l a h a n i n i . S e b a g a i m a n a Pe m a n d i a n Jolotundo, Pemandian Belahan juga dianggap sebagai bangunan pemujaan yang ditujukan kepada Dew a Wisnu. Dew a penguasa air suci kehidupan. Dengan demikian, kedua arca dewi tadi adalah penggambaran Dewi Sri dan Dewi Laksmi, sakti (pasangan) Dew a Wisnu dalam mitologi Hindu. Dugaan bahw a arca Wisnu naik G a r u d a d i r e l u n g t e n g a h P e m a n d i a n B e l a h a n t a m p a k n y a menimbulkan banyak keraguan. Pasalnya, lapik arca yang ada u k u r a n n y a t e r l a l u k e c i l u n t u k t e m p a t b e r d i r i n y a a r c a y a ng dimaksud. Sekitar 500 meter dari Pemandian Belahan, pada ketinggian berbeda yang lebih rendah, dijumpai pula ke p u r b a k a l a a n l a i n b e r u pa d u a b u ah g a p u r a , s i s a s t r u k t u r p o n - dasi, serta sisa struktur tembok. Semuany a tersusun dari bata-bata m e r a h . S e l a i n i t u , a d a p u l a t e m u a n - t e m u a n l e p a s s e p e r ti umpak atau lumpang batu. Kenyataan ini menimbulkan dugaan bahwa Situs Belahan dulunya adalah kumpulan bangunan da- lam sebuah kompleks yang dikelilingi tembok. Sebagaimana i s i P r a s a s t i C u n g g r a n g y a ng m e n y e b u t k a n t e n t a n g a d a n y a p e r t a p a a n d a n s u m b e r a i r di Pa w i tra , k o m p l e k s b a n g u n an di S i t u s B e l a h a n i n i p a l i n g t i d a k diperkirakan sudah ada sejak abad ke-10 Masehi.


24 25 GAPURA JEDONG Pada Masa yang Sama S itus Jedong terletak di kaki lereng utar a Gunung Penanggungan. Tepatny a di Desa Wotanmas Jedong, Kecamatan N goro, Kabupaten Mojokert o. Di situs ini terdapat dua buah bangunan gapur a kuno tipe paduraksa --gapur a yang memiliki atap di atas pintu masuknya. Gapur a yang satu, di selatan, memiliki ukuran lebih besar. Kedua gapur a tersebut membujur utara-selatan, tersusun dari batu-batu andesit. Tembok sayap di kiri kanannya, dibuat dari susunan bata merah. Kedua gapur a dihubungkan oleh tembok bata yang dibangun saat dilakukan pemugaran. Pintu masuk kedua gapur a Jedong dihias pahatan kepala Kala (Banaspati), makhluk mitos penjaga hutan. Pada ambang pintu gapur a yang lebih besar terdapat pahatan angka tahun 1308 Saka atau 1386 Masehi. Dulu pernah ditemukan pula sebuah batu lepas berukir angka tahun 1 3 78 Saka (14 56 Masehi). Pahatan angka tahun tidak dijumpai pada gapur a yang lebih kecil. Namun dari kemiripan gay a arsitekturnya, kedua gapur a itu mungkin dibangun padamasa yang sama. Di Jedong, pada awal abad k e-10 Masehi, rupany a sudah ada pemukiman. Ini dibuktikan dari penemuan sebuah prasasti batu besar, beraksar adanberbahasa J aw a Kuno, di Desa Jedong itu sendiri. Permukaan depan batu prasasti tersebut --sekarang menjadi koleksi Museum Majapahit, Tr o w u l a n - - s e k a l i g u s m e m u a t P r a s a s t i J e d o n g I I (Kambang Śri I), Prasasti Jedong I I I (Kambang Śri I I), dan satu prasasti lagi yang tidak bisa dibaca karena tulisanny a sudahaus. Sekalipundemikian, satu dari tiga angka tahun yang ada, dari Prasasti Jedong II, dapat terbaca sebagai 848 Saka atau 926 Masehi. Prasasti Jedong I I diterbitkan pada masa pemerintahan raja Dyah Tulodong (920-928 Masehi), dari kerajaan Mataram Kuno. Isiny a menceritakan tentang sebuah pemukiman di derah Jedong yang ditetapkan sebagai sima atau daerah bebas pajak (perdikan).Yang menarik, isi prasasti itu juga menyebut nama tempat yang bernama Kambang Sri. Tempat itu ke m u n g k i n a n a d a l a h D e sa Ke m b a n g s r i s e k a r a n g , di Kecamatan N gor o. Limakilometerdi utar a Jedong .


26 27 BANGUNAN BERUNDAK Sesuai Kondisi Lingkungan K epurbakalaan di kawasan Situs Gunung Penanggungan sebagian besar berupa bangunan berundak. Tersebar di seluruh area, di lereng-lereng atas. Sesuai kondisi lingkungannya, bentuk berundak bangunan diperoleh dengan cara menempelkan bagian belakang teras-teras bangunan pada kemiringan tanah lereng gunung. Dansecaraumum, bangunan berundak Gunung Penanggungandapat dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, bagian paling bawah, yaitu tanggul penguat. Berbentuk teras-teras yang disusun dari batu-batu alam yang belum dikerjakan; Kedua, bagian tubuh. Terdiri dari teras-teras bangunan yang tersusun dari balok-balok batu. Bidang-bidang teras yang menghadap ke depan, ada yang polos dan ada yang dihias dengan relief cerita; Dan ketiga, bagian puncak yang diwakili oleh 3 buah altar. Altar tengah, yang memiliki sandaran di belakangnya, adalah altar utama. Selain bangunan yang tersusun dari balok-balok batu, dijumpai pula bangunan yang dibuat dari bongkahan batu besar yang utuh (monolit), yaitu Candi Wayang dan Candi Gajah, di area Bukit Gajahmungkur. Bentuk berundak danaltarnyadibuatdengancaramemahatbongkahanbatutersebut. CANDI KENDALISODO Mahakarya di Tebing Batu K epurbakalaan Gunung Penanggungan terindah, bisa dibilang, adalah Candi Kendalisodo. Candi ini terdapat di lereng utara Bukit Bekel, pada ketinggian 1.053 meter. Candi Kendalisodo didirikan menempel pada tebing batu tegak lurus, namun tetap hadir dengan bentuk teras-teras yang berundak. Halaman candi ini terbilang sempit dan langsung berhadapan dengan jurang. Balok-balok batu penyusun bangunan mungkin diperoleh dengan cara memapras tebing batu di belakangnya. Keindahan Candi Kendalisodo sebagai mahakarya kepurbakalaan Gunung Penanggungan, dapat terlihat dari banyaknyapahatanornamen bangunan, juga beberapa relief ceritapadadinding-dinding terasnya, yaitu relief cerita Panji. Di samping bangunanutama terdapat sebuahguapertapaan. Dinding mukadanpintu masuknya tersusundari balok-balok batu. Sementara ruangandi dalamnya, memanfaatkancerukandari tebing batu di belakangnya. Pada dinding gua ini dulu pernah terlihat panel-panel relief yang menggambarkan cerita Arjunawiwaha dan Dewaruci. Hanya sayangnya, beberapa panel relief tersebut kini sudahhilang dicuri dandirusak.


28 29 GUA PERTAPAAN Menyiasati Ceruk Tebing S elain bangunan berundak, beberapa kepurbakalaan y a n g b e r u pa g ua j u ga d i j u m p a i d i S i t us G u n u ng Penanggungan. Diperkirakan duluny a berfungsi sebagai tempat pertapaan. Gua-gua itu ada yang berdiri sendiri, seperti Gua Buyung atau Gua Rant e (Kama I V); dan ada p u l a y a n g b e r a d a d a l a m s a t u l i n g k u n g a n b a n g u n a n berundak, seperti gua pertapaan di Candi Kendalisodo. Ruang dalam gua umumny a menyiasati ceruk - ceruk alami pada tebing cadas. Gua Botol yang terletak pada ketinggian 1.508 meter, misalnya, adalah sebuah cerukan alami dari batuan cadas yang ada. Meski demikian, ada beberapa gua yang dibangun dengan menambahkan susunan balok batu untukdinding maupun pintu masuknya, seperti GuaRant e --selain gua pertapaan di Candi Kendalisodo. Pada altar Gua Buyung terlihat adany apahatanangka tahun 1326 Saka (1404 Masehi). Mungkinmerupakantahunpendiriannya.


30 31 JALUR KUNO Pendakian Niscaya Tak Melelahkan S etiap musim kemarau, di Gunung Penanggungan hampir selalu terjadi kebakaran hutan. Setelah itu selalu saja ada kepurbakalaan --yang tidak ditemukan sebelumnya-- muncul terlihat di antara pepohonan dan semak yang hangus terbakar. Konon, begitulah cara Sang Pawitra, Gunung Suci, membuka dirinya. Dan, setelah terjadi kebakaran tahun 2015 lalu, Tim Ekspedisi Ubaya menjumpai sebuah jalur pendakian yang digunakan masyarakat masa lalu dalam melakukan aktivitasnya terkait keberadaan bangunan-bangunan kuno di sana --mungkin sebagai jalur kuda atau kereta kuda. Jalur tersebut dibuat melingkar mengelilingi gunung. Ada pula jalur menanjak berbentuk zigzag, yang langsung menujupuncakgunung. Sangat menakjubkan. Dengan bentuk jalur seperti itu, perjalanan mendaki Gunung Penanggungan niscaya tak terlalu melelahkan meski jarak tempuhnya bertambah panjang. Jalur selebar 1,5 sampai 3 metertersebut, jelas, jalurpendakian kuno. Terlihat adanya tanggul-tanggul penguatdari susunan batubatu alam di sepanjang sisi luarnya yang berhadapan langsung dengan kecuraman lereng. Tanggul penguat itu terlihat relatif masih utuh. Yang menarik, posisi jalur kuno itu ternyata sesuai dengan peta konturyang dibuatolehorang-orang Belanda zamandulu. Hanya saja keberadaannyadi lapangan, baru terkuak belumlama ini.


32 33 RELIEF CERITA Gambaran Kisah, Dasar Dugaan T idak semua bangunan berundak Gunung Penanggungan dihias dengan relief cerita. Kalaupun sebenarny a banyak, belum tentu pula diketahui ceritany a karena sebagian besar bangunan ditemukan d a l am k e a d a an ya n g b era n t a k an - - d an m e m a n g b e l um p e r n a h dilakukan rekonstruksi. Namun beberapa bangunan berundak sudah dapat dipastikan memiliki relief cerita, seperti Candi Wayang, Candi Gajah, Candi Kerajaan, Candi Yudha, atau Candi Kendalisodo. Reliefrelief cerita yang ada biasanya menggambarkan kisah-kisah yang bersumberdari Mahabharata atau Cerita Panji. Pada gua pertapaan di C a n d i Ke n d a l i s o do, m i s a l n y a , r e l i e f ce r i t a n ya m e n g g a m b a r k a n adegan Mintaraga, yaitu tentang Arjuna saat bertapa di Gunung Indrakila; serta adegan Dewaruci, yaitu Bima yang turun k e dasar samuder auntukmencari amert a (airsuci). Relief cerita lain pada bangunan berundak Gunung Penanggungan banyak yang menggambarkan Cerita Panji. Ini dilihat dari bentuk penutup kepala tokoh-tokohny a yang khas --disebut t e kes-- dan jalinan rambut yang disebut supit urang. Cerita Panji memiliki tema t e n t a n g h i l a n g n y a s e o r a n g p u t e r i r a j a . P u t e r i i t u k e m u d i a n d i t e m u k a n k e m b a l i o l e h s e o r a n g p a n g e r a n , s e t e l a h i a b erh a s il mengalahkan musuh-musuh dari ayah sang puteri. Kidung Harsa Wijay a, yang mengisahkan perjalanan hidup Raden Wijaya, pendiri kerajaan Majapahit, diidentifikasikan sebagai cerita yang bertema Panji. Cerita Panji yang romantis ini sangat populer dan sering digunakandalamberbagai pertunjukan w ayang. Relief cerita Arjunawiwaha, Bimasuci, atau Panji, dianggap sebagai bukti pendukung teori adany a gerakan millenarisme di Gunung Penanggungan. Arjuna mengundurkan diri, bertapa di Gunung Indrakila, untuk dapat mengalahkan raksasa Niwatakawaca. Bima, t oko h i n i t e l a h l a ma d ike n a l s e b a g a i t oko h m e s i a n i k . D a l a m pengembaraanny a mencari amerta, ia telah meru wat widyadhar a Sarasambadha dan Harsanadi, serta Dew a Indr a dan Dew a Bayu. Adapun Panji, ia mengundurkan diri dulu sebelum mengalahkan musuh-musuhnya, danmembebaskancalonistrinya.


34 35 ARCA-ARCA Yang Langka, yang Dominan Dari dokumentasi yang pernah dibuat orang-orang Belanda, diketahui, di Gunung Penanggungan dulu banyak ditemukan arca. Menggambarkan figur-figurdewa, dewi, atau tokoh-tokoh tertentu. Namun kini, tak satu pun arca yang terlihat di gunung itu. Sebagian besar hilang, dicuri atau rusak. Sebagian kecil lagi berhasil diselamatkan, tersimpan di beberapa museum. Arca dari Gunung Penanggungan yang paling indah, dan terbilang langka dalam sejarah kebudayaan Indonesia, adalah sebuaharcayang menggambarkantokohdalamCeritaPanji. Arca tokoh Cerita Panji yang dulu berasal dari Candi Selokelir, di sisi barat daya Gunung Penanggungan, itusekarang beradadi kampus InstitutTeknologi Bandung (ITB). Beradadi sana karenadibawaolehV.R. van Romondt. Bersama J. Oey-Blom dan Ichwani, van Romondt pernah menerbitkan buku tentang kepurbakalaan Gunung Penanggungan. Diterbitkan oleh Dinas Purbakala Republik Indonesia, tahun 1951. Bukuituberjudul Peninggalan-peninggalanPurbakaladi Gunung Penanggungan. Dari sejumlah temuan arca di Gunung Penanggungan, yang menarik adalah banyaknya arca yang menggambarkan tokoh Bima. Keberadaannya terbilang dominan. Figur Bima dapat dikenali dari bentuk posisi jari tangannya --ibu jari diapit oleh telunjuk dan jari tengah. Keberadaan arcaarca Bima ini telah menimbulkan dugaan tentang adanya pengkultusan terhadap Bima sebagai tokoh sakti gagah perkasa. Kenyataan itulah yang kemudian mendasari anggapan munculnya fenomena millenarisme di Gunung Penanggungan. Dalam kisah-kisah pewayangan yang bersumberdari Kitab Mahabharata, Bima memang dikenal sebagai tokohmesianik. Sang JuruSelamat.


36 37 PELESTARIAN Lewat Upaya Edukatif T erletak di ketinggian lereng-lereng gunung, sebenarny a merupakan suatu keuntungan bagi Situs Gunung Penanggungan. Kepurbakalaan yang ada relatif amandari dampak pembangunan modern yang dapat mengancam kelestariannya. Namun di sisi lain, medan yang sulit dijangkau dan wilayah cakupan situs yang sedemikian luas, membuat pengawasan terhadap situs ini juga menjadi sangat sulit dilakukan. Tak terbilang kasuspencurian yang telah terjadi. Tak terbilang lagi berapa artefak yang hilang dan bangunan yang telah dirusak. Tercatat, periode antar a tahun 1988 sampai 1991 adalah periode di mana terjadi penjarahan besar-besaran terhadap Situs Gunung Penanggungan. Banyak bangunan yang dibongkar. Banyak relief yang dicuri. Candi Gajah menjadi contoh betapa nestapany a kepurbakalaan Gunung Penanggungan karena ulah manusia. Dinding teras dari bangunan monolit itu habis dipapras untukdiambil relief-reliefnya. Untuk melindungi kepurbakalaan yang ada, Balai Pelestarian Cagar Buday a J aw a Timur, sebagai pihak yang berwenang, ki n i t e l a h m e n a m b a h j u m l a h pe r son il jurupelihar adanpengawas Situs Gunung Penanggungan --jauh lebih banyak dari sebelumnya. Lebih penting lagi, pelindungan itu juga harus dibarengi dengan upaya-upaya yang bersifat edukatif. Utamanya untuk memberikan pemahaman dalam menumbuh-kembangkan sikap kepedulian dan apresiasi masyarakat terhadap warisan sejarah-budaya. Ini dapat dilakukan dengan lebih mempergiat pelaksanaan penelitian dan menyampaikan hasil-hasil kajiannya kepada masyarakat. Tak kalah pentingnya, upaya untuk menggali nilai-nilai terkandung yang ada, sehingga warisan- warisan sejarah-budaya Situs Gunung Penanggungan dapat dimaknai dan bermanfaatdalam kehidupansaatini.


38 39 Kepustakaan Atmodjo, J.S. Punden berundak di Gunung Penanggungan (skripsi). 1983. Jakarta. Fakultas SastraUniversitas Indonesia. BernetKempers, A.J. Ancient Indonesian Art. 1959. Amsterdam. VanderPeet. Ibrahim, M. dkk. Laporan Kegiatan Penentuan Batas Wilayah Cagar Budaya dalam Rangka Penyelamatan Situs Gunung Penanggungan dan sekitarnya. 1991/1992. Jakarta, BAKOSURTANAL, DITLINBINJARAH, LIPI. KromodjojoAdinegoro, R.A.A. Oudjavaansche Alphabet. 1922. Munandar, A.A. Kegiatan Keagamaandi Pawitra, Gunung Suci di JawaTimur Abad XIV-XVMasehi. 1990. Jakarta. Fakultas SastraUniversitas Indonesia. Munandar, A.A., Djulianto, Ghautama, Gatot., Eriawati, Y. Laporan Hasil Survei Kepurbakalaan Gunung Penanggungandan sekitarnyadi JawaTimur. 1983. Jakarta, Keluarga Mahasiswa Arkeologi (KAMA) Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Resink, Th. A. “Belahan or a myth dispelled”, Indonesia 6. 1968. Cornell University Press. Romondt, V.R. van, Oey-Blom, J., Ichwani. Peninggalan-peninggalan Purbakala di Gunung Penanggungan. 1951. Jakarta. Dinas Purbakala Republik Indonesia. Stutterheim, W.F. “Verloping Bericht Omtrent Enkele Vondsten op den Penanggoengan in 1935”, MajalahDjawa. 1936. Tanudirjo, Daud Aris. “Gejala Millenarisme Pada Kepurbakalaan Gunung Penanggungan”. 1986. UniversitasGajahMada. Universitas Surabaya, Tim Ekspedisi Penanggungan. Mengenal Situs Purbakala di Gunung Penanggungan. 2013. Surabaya. UBAYAPress. Da ar Sebagian Kepurbakalaan Situs Gunung Penanggungan Sumber: Mengenal Situs Purbakala di Gunung Penanggungan. Tim Ekspedisi Penanggungan ‐ UBAYA, 2013. No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kelompok Bukit Bekel No. 1 2 3 4 5 6 7 NAMA KETINGGIAN Candi KAMA II 968 m Candi Kendali (LXIV) 1.053 m Candi Kendalisodo (LXV) 1.137 m Candi Sadel (LXVI) 1.152 m Candi KAMA III 1.069 m Gua Buyung (LXIII) 1.021 m Candi/Gua Kursi 923 m Kelompok Genting No. 1 2 3 4 5 NAMA KETINGGIAN Candi Penanggungan 1.011 m Candi Merak (LXVII) 1.023 m Candi Lemari (LIX) 1.064 m Candi Yudha (LX) 1.084 m Candi Pandawa (LVIII) 1.086 m Kelompok Bukit Gajahmungkur No. 1 2 3 4 5 6 7 8 NAMA KETINGGIAN Candi Wayang (VIII) 1.007 m Gua Rante (KAMA IV/LXIX) 1.024 m Candi Griya (XX) 1.053 m Mbah Lipah 1.050 m Watu Jolang 1.076 m Candi Kerajaan (III) 1.045 m Candi Dharmawangsa (XIX) 1.096 m Candi Gajah (XXII) 1.074 m Kelompok Kedungudi A No. 1 2 3 4 NAMA KETINGGIAN Candi Sinta/Gentong (XVII) 1.173 m Candi Pura (LVII) 1.127 m Candi Putri (LVI) 1.090 m Candi Bayi (XV?) 916 m Kelompok Kedungudi B NAMA KETINGGIAN Gua Botol (X) 1.508 m Candi KAMA I (XLV) 1.368 m Candi Wisnu (IL) 1.312 m Candi Guru (L) 1.249 m Candi Siwa (LI) 1.206 m Candi Lurah (LII) 1.173 m Candi Triluko (LIII) 1.172 m Candi Carik (I) 1.137 m Candi Naga (XVI) 1.112 m


Click to View FlipBook Version