Universitas tadulako Program studi pendidikan biologi UPAYA KONSERVASI BIODIVERSITY Biodiversity Konservasi eksitu dan insitu
1 UPAYA KONSERVASI BIODIVERSITY (Konservasi Eksitu dan Insitu) Anggota Kelompok 12: A22120056 Ika Saputri A22120111 Aswan A Darise A22120115 Tri Susanti A22120157 Vina PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS TADULAKO
2 DAFTAR ISI Halaman Sampul.............................................................. 1 Daftar Isi.......................................................................... 2 CPMK.............................................................................. 3 Indikator........................................................................... 3 Rangkuman...................................................................... 9 Daftar Pustaka.................................................................. 11
3 CPMK “Mahasiswa Memahami Upaya Konservasi Biodiversity” INDIKATOR 1. Menjelaskan upaya-upaya penerapan konservasi secara exsitu 2. Menjelaskan upaya-upaya penerapan konservasi secara insitu Konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. (UU No. 5 Tahun 1990) Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Berhasilnya upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, erat kaitannya dengan tercapainya 3 (tiga) sasaran pokok konservasi atau yang disebut dengan strategi konservasi (Dirjen PHPA Departemen Kehutanan RI, 1990), yaitu: 1. Perlindungan sistem penyangga kehidupan, yaitu menjamin terpeliharanya proses ekologi yang menunjang sistem penyangga kehidupan bagi kelangsungan pembangunan dan kesejahteraan manusia. 2. Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, yaitu dengan menjamin terpeliharanya keanekaragaman sumber genetik dan tipe-tipe ekosistemnya, sehingga
4 mampu menunjang pembangunan, ilmu pengetahuan, dan teknologi memungkinkan kebutuhan manusia yang menggunakan sumber daya alam hayati bagi kesejahteraan. 3. Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati, yaitu merupakan suatu usaha pembatasan/pengendalian dalam pemanfaatan sumber daya alam hayati sehingga pemanfaatan tersebut dapat dilakukan secara terus menerus di masa mendatang dengan tetap menjaga keseimbangan ekosistemnya. Adapun fokus pelestarian keanekaragaman hayati adalah mengelola kekayaan hayati Indonesia secara berkelanjutan yang meliputi ekosistem darat dan laut, kawasan agroekosistem dan kawasan produksi, serta konservasi ex-situ. Upaya pelestarian ini harus disertai dengan pemeliharaan sistem pengetahuan tradisional dan pengembangan sistem pemanfaatan keanekaragaman hayati yang dilandasi oleh pembagian keuntungan yang adil. Strategi konservasi keanekaragaman hayati ini dalam agenda 21 Indonesia (1997) dibagi sebagai berikut: 1. Meningkatkan pembentukan sistem kawasan lindung berikut pengelolaanya secara efektif. 2. Melestarikan keanekaragaman hayati pada kawasan agroekosistem dan kawasan non-lindung/produksi. 3. Pelestarian keanekaragaman hayati secara ex-situ. 4. Melindungi sistem pengetahuan masyarakat tradisional serta meningkatkan seluruh sistem pengetahuan yang ada tentang konservasi dan keanekaragaman hayati.
5 5. Mengembangkan dan mempertahankan sistem pengelolaan keanekaragaman hayati berkelanjutan, termasuk pembagian keuntungan yang adil. Potensi kekayaan flora dan fauna dapat dimanfaatkan sejauh tidak merugikan kelestarian, dengan penurunan jumlah dan kualitas kehidupan flora dan fauna yang diatur melalui kegiatan konservasi, baik itu didalam (insitu) maupun diluar (eksitu) habitat aslinya. Konservasi insitu mencakup perlindungan populasi dan komunitas alami, sementara konservasi eksitu melibatkan pengambilan dan pemeliharaan fauna di lokasi khusus yang dijaga keamanannya dan kesesuaian ekologinya. Upaya konservasi eksitu dilakukan untuk mengelola jenis satwa yang memerlukan perlindungan dan pelestarian. Selain menyelamatkan spesies dari kepunahan, tujuan utama dari perlindungan dan pelestarian alam adalah memastikan keanekaragaman hayati dan keseimbangan ekosistem yang terganggu oleh aktivitas manusia, terutama dalam meningkatkan luas hutan alam. Kawasan konservasi eksitu memiliki peran yang sama pentingnya dengan kawasan konservasi insitu, dan keduanya saling melengkapi. 1) Konservasi In-Situ Konservasi in-situ adalah pendekatan pelestarian yang dilakukan didalam habitat asli suatu organisme atau ekosistem. Pendekatan ini bertujuan untuk menjaga keanekaragaman hayati, ekosistem alami dan populasi spesies dilingkungannya yang sebenarnya. Konservasi in-situ memberikan prioritas pada pelestaran organisme dan ekosistem tanpa mengambil mereka dari habitat alaminya. Beberapa contoh kawasan
6 konservasi in-situ meliputi cagar alam, taman nasional, dan rezim perlindungan di dalam hutan atau lahan basah. Gambar 1. Pelestarian Komodo di Taman Nasional Komodo Tujuan konservasi in-situ melibatkan: a. Pemeliharaan habitat asli Tujuan ini untuk mempertahankan kondisi lingkungan alam yang mendukung kehidupan organisme yang ingin dilestarikan. b. Pelestarian keanekaragaman hayati Tujuan ini untuk menjaga variasi genetik dan keberagaman spesies yang merupakan bagian integral dari ekosistem tersebut. c. Rehabilitasi ekosistem Tujuan ini untuk mengembalikan atau meningkatkan kualitas dan keberlanjutan ekosistem yang mungkin telah terdegradasi. d. Pemberdayaan komunitas lokal Tujuan ini untuk melibatkan masyarakat lokal dalam upaya pelestarian untuk mencapai keberlanjutan jangka panjang.
7 Contoh konservasi in-situ melibatkan pendirian dan pengelolaan taman nasional atau cagar alam, dimana lingkungan alam dan spesies di dalamnya dilindungi dan dikelola dengan cermat. Pendekatan ini mencoba untuk mencapai keseimbangan antara kebutuhan pelestarian dan interaksi manusia dengan lingkungan tersebut. 2) Konservasi Ek-Situ Konservasi ek-situ adalah strategi pelestarian yang melibatkan pemeliharaan dan pelestarian spesies di luar habitat aslinya. Ini mencakup pengambilan individu atau populasi spesies tertentu dari alam liar dan pemeliharaannya di fasilitas terkontrol, seperti kebun binatang, kebun raya, atau pusat konservasi. Konservasi ek-situ dapat menjadi langkah yang penting untuk melindungi spesies yang terancam punah atau untuk mempertahankan keanekaragaman genetik. Tujuan utama konservasi ek-situ adalah untuk melindungi spesies yang terancam punah, mempertahankan keanekaragaman genetik, dan memberikan kesempatan untuk penelitian serta pendidikan. Contoh konservasi ek-situ termasuk: 1. Kebun Binatang Tempat di mana hewan-hewan dari berbagai spesies dipelihara dan ditampilkan untuk pendidikan dan pelestarian. 2. Kebun Raya Fasilitas yang menampung dan memelihara koleksi tanaman dari berbagai jenis dan daerah geografis. 3. Bank Gen Semen
8 Penyimpanan dan pemeliharaan sampel-sampel genetik tanaman atau hewan untuk tujuan konservasi dan pemuliaan. 4. Pusat Penelitian Konservasi Fasilitas peneliatian yang fokus pada pemeliharaan dan pelestarian spesies tertentu di luar habitat alaminya. 5. Rehabilitasi Hewan Tempat di mana hewan yang terluka atau terancam dapat dipulihkan sebelum dilepaskan kembali ke habitat aslinya. Gambar 2. Penangkapan Burung Maleo di Penangkaran Dongi Konservasi ek-situ memberikan kesempatan untuk mengamati dan merwat spesies yang sulit diakses di alam liar serta dapat berperan dalam program pemuliaan untuk meningkatkan populasi spesies yang terancam.
9 RANGKUMAN 1. Konservasi ek-situ, yang berarti “di luar tempatnya”, adalah upaya pelestarian spesies di luar habitat alaminya. Hal ini dilakukan dengan cara: membangun kebun binatang: kebun binatang memelihara spesies hewan di penangkaran untuk tujuan penelitian, pendidikan dan rekreasi. Mendirikan kebun raya: kebun raya memelihara spesies tumbuhan dari berbagai belahan dunia untuk tujuan penelitian, pendidikan dan konservasi. Menyimpan benih di bank benih: bank benih menyimpan benih dari berbagai spesies tumbuhan untuk melestarikan keragaman genetik dan mencegah kepunahan. 2. Melakukan kultur jaringan: kultur jaringan adalah teknik untuk menumbuhkan tanaman dari sel tunggal, yang memungkinkan untuk melestarikan spesies tumbuhan yang langka atau terancam punah. Pelestarian spesies di habitat alaminya. Hal ini dilakukan dengan cara: mendirikan kawasan lindung: kawasan lindung, seperti taman nasional dan cagar alam, dilindungi dari aktivitas manusia dan didedikasikan untuk melestarikan spesies dan habitat alaminya. Melakukan pengelolaan habitat: pengelolaan habitat melibatkan kegiatan untuk menjaga atau meningkatkan kualitas habitat alami, seperti penanaman kembali pohon, pengendalian gulma, dan pemberantasan hama. Menegakkan hukum lingkungan: penegakkan hukum lingkungan membantu melindungi spesies dan habitat dari eksploitasi berlebihan, perburuan liar, dan perdagangan ilegal. Meningkatkan kesadaran masyarakat: meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya keanekaragaman hayati dan ancaman yang dihadapinya dapat mendorong tindakan untuk melindungi spesies dan habitat di alam liar.
10 DAFTAR PUSTAKA Achmadi, Hablana Rizka, and E Rusdiana. 2014. “Penanggulangan Perburuan Satwa Yang Dilindungi Oleh Masyarakat Adat Di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.” Novum 2(3): 1-8. https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/novum/article/view/1520 9. Kusumastuti, Ayu Candra, Lala M. Kolopaking, and Baba Barus. 2018. “Faktor Yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan Pertanian Pangan Di Kabupaten Pandeglang.” Jurnal Sosiologi Pedesaan 6(2): 130-136. Rifal, M. 1994. A Discourse on Biodeversity Utilization in Indonesia. In: Tropical Biodivesity, IFABS, Jakarta. Sulistyowati Endah, dkk. 2013. Biologi SMA/MA Kelas X. Kelaten: Intan Pariwara. Werung, Astria Retrisna, Johny S. Tasirin, and Martina A. Langi. 2020. “Perburuan Satwa Liar Di Desa Sinsingon Kecamatan Passi Timur.” 12(1).