The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

MATERI PERAN UMAT ISLAM PASCA KEMERDEKAAN

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Oky Dwi Ningsih, 2024-04-04 12:57:51

E-MAGAZINE SKI KELAS XI

MATERI PERAN UMAT ISLAM PASCA KEMERDEKAAN

E-MAGAZINE SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM PERAN UMAT ISLAM PASCA KEMERDEKAAN PROF. DR. H. ABDUL MALIK KARIM AMRULLAH MOHAMMAD NATSIR RAHMAH EL-YUNUSIYAH K.H. ABDURRAHMAN WAHID PROF. DR. ING. H. BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE PENYUSUN OKY DWI NINGSIH


Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmatNya sehingga penyusun dapat menyelesaikan bahan ajar emagazine pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam materi Peran Umat Islam Pasca Kemerdekaan tepat pada waktunya. Pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada Bapak/Ibu Dosen yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan sehingga e-magazine ini dapat selesai tepat pada waktunya. Harapan penyusun semoga dengan adanya emagazine ini dapat membantu menambah pemahaman, pengetahuan, dan pengalaman bagi pembaca. E-magazine ini merupakan bahan ajar non cetak yang tidak lagi dicetak printout, melainkan berbentuk link majalah yang dapat memudahkan siswa dalam mengakses bahan ajar tersebut sesuai dengan perkembangan zaman yang semakin maju dan juga siswa akan bisa belajar dirumah masing-masing secara mandiri. Harapan besar penyusun agar bahan ajar e-magazine yang disajikan ini dapat menjadi kontribusi positif bagi pengembangan wawasan pembaca. Penyusun menyadari dalam penulisan bahan ajar e-magazine ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati saya menerima kritik dan saran agar penyusunan selanjutnya menjadi lebih baik. Semoga bahan ajar e-magazine ini dapat memberi manfaat bagi pembaca. KATA PENGANTAR Bojonegoro, 24 Maret 2024 Penyusun, OKY DWI NINGSIH NIM. 20015134 ii E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI


Daftar Isi DAFTAR ISI Kata Pengatar Peran Umat Islam Pasca Kemerdekaan Masa Orde Lama Masa Orde Baru Masa Reformasi Peran Umat Islam Paling Signifikan Pada Masa Pasca Kemerdekaan Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) Mohammad Natsir Rahma El-Yunusiyah K.H. Abdurrahman Wahid Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI iii ii iii 1 1 13 20 22 22 29 34 40 45


Peran umat Islam di Indonesia tidak hanya pada masa penjajahan dan kemerdekaan. Namun, peran tersebut terus berlanjut sampai pasca kemerdekaan. Pada masa pasca kemerdekaan peran umat Islam dibagi menjadi tiga orde yaitu pada masa orde lama, masa orde baru, dan masa reformasi. Masa Orde Lama Perdebatan yang cukup panas antara kelompok Islam, nasionalis dan sosialis setelah kemerdekaaan menjadikan hubungan antara elit nasional di Indonesia semakin renggang. Masing-masing kelompok terlibat perebutan kekuasaan dan pengaruh di awal pembentukan bangsa ini. Kelompok Islam sendiri terpecah antara kelompok modernis, tradisionalis dan fundamentalis. 1 PERAN UMAT ISLAM PASCA KEMERDEKAAN AYO MEMBACA E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI


Di awal pemerintahannya Sukarno mulai membuka kebebasan kepada segenap rakyat Indonesia untuk mendirikan partai-partai politik. Umat Islam diwakili oleh Masyumi, PSII dan Perti. Pada tahun 1952 NU keluar dari Masyumi dan membentuk partai sendiri. Walaupun umat Islam merupakan kelompok mayoritas di Indonesia, tetapi dalam politik tidak selalu demikian. Pada masa Orde Lama menunjukkan bahwa keterwakilan pemimpin-pemimpin umat Islam dalam KNIP maupun kabinet pemerintah masih sangat minim dibandingkan dengan kelompok nasionalis. PSII E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI 2 PERTI MASYUMI


Dalam sistem presidensil di bawah pemerintahan Sukarno, kelompok Islam hanya di wakili oleh dua menteri yaitu Abikusno Tjokroaminoto dan Wahid Hasjim. Sutan Sjahrir (Sosialis) mengusulkan kepada KNIP dan Presiden Sukarno untuk menerapkan istem parlementer. Usulan itu disetujui dan diumumkanlah kabinet baru di bawah Sjahrir sejak 14 November 1945. Dalam kabinet ini hanya ada satu wakil Islam yaitu HM Rasyidi dan pada tanggal 3 Januari 1946 Mohammad Natsir diangkat menjadi menteri penerangan. Masyumi melalui Natsir terus menyuarakan ketidaksetujuannya terhadap perubahan menjadi sistem parlementer karena dianggap melanggar Undang-Undang Dasar Abikusno Tjokroaminoto Wahid Hasjim 3 E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI


Terhadap kabinet Sjahrir pihak Masyumi menuntut agar dilakukan perombakan dengan mendasarkan pada koalisi di antara partai-partai yang ada. Usulan Masyumi ini disetujui oleh anggota KNIP yang lain dan didukung oleh partai-partai yang ada. Sukarno pun menanggapinya dengan membubarkan kabinet Sjahrir dan membentuk kabinet baru. Dalam kabinet baru ini Sjahrir ditunjuk kembali sebagai formatir untuk menyusun kabinet. Pada tanggal 12 Maret 1946 Sjahrir mengumumkan formasi kabinet II dengan memasukkan nama-nama dari partai-partai yang ada. Empat kader Masyumi yaitu M. Natsir, Arudji Kartawinata, Sjafruddin Prawiranegara dan HM Rasyidi. Namun penunjukkan nama-nama yang mewakili Masyumi di kabinet dianggap tidak sepenuhnya mewakili partai karena kabinet yang dibentuk hanya kabinet nasional dan bukan kabinet koalisi. M. Natsir Arudji Kartawinata Sjafruddin Prawiranegara HM Rasyidi E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI 4


E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI Masyumi bersama-sama Persatuan Perjuangan terus melakukan kritik terhadap kabinet Sjahrir dan menuntut perubahan kabinet. Sjahrir yang berasal dari kelompok Sosialis ternyata menunjukkan sikapnya yang lunak terhadap Belanda. Sukarno melakukan tindakan tegas dengan melakukan penangkapan sejumlah pemimpin Persatuan Perjuangan, termasuk dua tokoh dari Masyumi. Tindakan pemerintah ini telah menghancurkan eksistensi Persatuan Perjuangan yang mengakibatkan organisasi ini pada tanggal 5 Mei 1946 membentuk badan baru yang diberi nama Konsentrasi Nasional di mana wakil dari Masyumi menjabat sebagai wakil ketua. 5 SUTAN SYAHRIR


Keadaan yang tidak stabil dan buruknya hubungan antara pemerintah dengan para pemimpin oposisi yang menyebabkan keadaan darurat memaksa Sukarno untuk membubarkan Kabinet Sjahrir. Sukarno berusaha memulihkan keamanan dengan mengambil tindakan terhadap unsur-unsur yang terlibat dalam usaha percobaan perebutan kekuasaan. Setelah keamanan kembali normal pada tanggal 2 Oktober 1946 Sukarno kembali memberikan mandat kepada Sjahrir untuk menyusun kabinet baru. Dalam kabinet ini enam orang unsur Masyumi ditunjuk sebagai menteri yaitu Mohamad Roem, Jusuf Wibisono, M. Natsir, Sjafrudin Prawiranegara, Fathurahman dan Wahid Hasjim. E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI 6


Ketika Sjahrir berhasil mengadakan perundingan dengan pihak Belanda dalam perundingan Linggarjati pada tanggal 15 November 1946, partai-partai yang ada menolak hasil perundingan itu. Penolakan dari partai-partai yang ada termasuk Masyumi terhadap hasil perundingan Linggarjati menyebabkan Sjahrir menyerahkan mandatnya kepada Sukarno tanggal 27 Juni 1947. PERUNDINGAN LINGGARJATI PADA TANGGAL 15 NOVEMBER 1946 7 E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI


Kabinet baru dibentuk di bawah pimpinan Amir Sjarifuddin (Sosialis) dengan mengajak koalisi dengan partai-partai yang ada. Ketika terjadi perombakan kabinet Amir Sjarifuddin tanggal 13 November 1947, Masyumi bersedia masuk dalam kabinet koalisi dan menempatkan kader-kadernya (Samsudin, M. Roem, KH. Masjkur dan Kasman Singodimejo) duduk dalam kabinet. Namun pada tanggal 16 Januari 1948 Masyumi menarik kader-kadernya karena penolakannya terhadap perundingan Renville yang banyak menguntungkan pihak Belanda. PNI dan golongan Sjahrir juga menolak kebijakan Amir Sjarifuddin sehingga menyebabkan kabinet ini dibubarkan. PERUNDINGAN RENVILLE E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI 8


Pada tanggal 29 Januari 1948 dibentuklah kabinet baru yang dipimpin oleh M. Hatta. Hatta mengajak Masyumi dan PNI untuk berkoalisi membangun kabinet yang kuat sehingga kabinet Hatta ini termasuk kabinet yang relatif lama bertahan pada masa revolusi (1949). Kabinet Hatta ini menghadapi beberapa pemberontakan lokal yaitu pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 dan pemberontakan Darul Islam di Jawa Barat. Masyumi berperan aktif dalam melakukan negosiasi guna memadamkan pemberontakan pemberontakan itu. Ketika agresi militer Belanda dilancarkan pada tanggal 19 Desember 1948 semua kota penting di Jawa dan Sumatera dikuasai Belanda, Sukarno, M. Hatta dan M. Natsir pun ditangkap. 9 E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI


E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI Perjalanan berikutnya dari tahun 1950-1957 ditandai dengan jatuh bangunnya kabinet karena banyaknya partai yang masingmasing tidak berkuasa secara mayoritas. Partai yang dominan adalah PNI, Masyumi dan PKI. Ketika NU keluar dari Masyumi pada tahun 1952 kekuatan Masyumi mulai berkurang. 10 MASYUMI PKI PNI


Dukungan kepada kabinet yang terbentuk setelah tahun 1950 terus diberikan oleh Masyumi ditandai dengan bergabungnya dalam kabinet Hatta (1950- 1951). Pada tahun 1951-1952 kabinet dipegang oleh M. Natsir dan kemudian digantikan oleh Sukiman. Pada kabinet berikutnya kabinet dipegang oleh PNI di bawah pimpinan Wilopo (1952-1953) dan dilanjutkan oleh Ali Sastroamidjojo juga dari PNI (1953-1955). Setelah pemilu 1955 Masyumi kembali menguasai kabinet dengan menjadikan Boerhanudin Harahap (1955-1956) sebagai perdana menteri. Kabinet Boerhanudin Harahap juga tidak betahan lama, sehingga mandat diserahkan kembali dan terpilih kembali Ali Sastroamidjojo sebagai perdana menteri (1956-1957). MOHAMMAD HATTA M. NATSIR SUKIMAN WILOPO ALI SASTROAMIDJOJO BOERHANUDIN HARAHAP 11 E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI


Tidak efektifnya sistem parlementer yang sedang berjalan dan munculnya pemberontakan di daerah maka setelah Ali Sastroamidjojo menyerahkan mandatnya, Sukarno mengeluarkan Undang-Undang Darurat Perang yang memberikan kekuasaan pada militer dan menjadi awal terbentuknya Demokrasi Terpimpin pada tahun 1957. Ketika perdebatan dalam konstituante pada tahun 1959 untuk menentukan dasar negara Indonesia mengalami kebuntuan, Sukarno mengambil alih wacana dasar negara dengan mengeluarkan Dekrit Presiden 1959. Dekrit ini berimplikasi pada pembubaran konstituente dan memaksa kembali pada UUD 1945. Keterlibatan komunis dalam pemerintahan menyebabkan militer dan kelompok Islam kurang nyaman dengan Sukarno. Sebuah kudeta yang direncanakan oleh PKI dengan menyingkirkan petinggi angkatan darat melalui penculikan dan pembunuhan. Upaya kudeta itu berhasil dicegah oleh Mayor Jenderal Soeharto dibantu oleh organisasi-organisasi Islam. Rencana kudeta yang kemudian dikenal dengan Gerakan 30 September. E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI 12


Masa Orde Baru Secara umum, kejatuhan Sukarno dan berdirinya pemerintahan baru di bawah Soeharto telah disambut oleh kalangan Islam. Mereka berharap rezim baru akan mengakomodasi kelompok Islam karena jasajasanya dalam menumpas pemberontakan komunis. Pada bulan Agustus 1968, ribuan massa umat Islam berkumpul Masjid Al-Azhar menyambut kedatangan mantan tokoh-tokoh Masyumi yang baru dilepaskan dari penjara. Para pemimpin Masyumi itu adalah Hamka, Isa Anshary dan Burhanudin Harahap. Beberapa tokoh seperti M. Natsir, Syafruddin Prawiranegara, Prawoto Mangkusasmito, M. Roem dan Kasman Singodimejo juga hadir dan memberikan orasi dalam tabligh akbar itu. Walaupun telah berjasa bersama-sama dengan militer menyelamatkan negara dari kudeta komunis tuntutan mereka ternyata tidak dipenuhi oleh rezim Orde Baru. 13 E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI


Pada tahun 1967 para mantan aktifis masyumi kemudian mempersiapkan pendirian partai politik baru yang bernama Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), karena masih adanya mantan pemimpin Masyumi yang ditunjuk sebagai ketua Parmusi, pemerintah menolak pendirian partai baru itu. Mintaredja, orang dekat Soeharto kemudian ditunjuk menjadi ketua Parmusi. IDEOLOGI NEGARA INDONESIA Untuk dapat memonopoli wacana politik di Indonesia, rezim Orde Baru juga melakukan penyederhanaan partai politik hanya menjadi tiga kelompok besar, Islam, nasionalis, dan sekuler. Pemerintah berusaha untuk melakukan kebijakankebijakan agar perkembangan partai Islam tidak menguat. Pemerintah kemudian merancang kebijakan penerapan azas tunggal dengan menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya ideologi di Indonesia, namun kebijakan tersebut banyak mendapatkan penentangan dari umat Islam. Beberapa peristiwa bentrokan antara organisasi Islam dan militer sempat menimbulkan korban jiwa. E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI 14


E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI Peristiwa Priok pada tahun 1984 merupakan peristiwa paling tragis di mana ribuan umat Islam dibantai oleh militer karena dianggap menentang kebijakan pemerintah yang digerakkan oleh imam masjid di Priok, Amir Biki. Perlawanan-perlawanan kecil dan kekerasankekerasan fisik mewarnai aksi penyeragaman azas berorganisasi. Namun demikian sejak tahun 1985 pemerintah secara resmi berhasil menyeragamkan ideologi partai dan organisasi di Indonesia dengan menggunakan Pancasila sebagai satu-satunya azas. IDEOLOGI NEGARA INDONESIA Peristiwa Priok Pada Tahun 1948 15


E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI Secara umum kekecewaan kelompok Masyumi kepada rezim Soeharto ini dan tekanan-tekanan yang mereka rasakan membuat M. Natsir mulai merubah perjuangan politiknya melalui jalur dakwah. Untuk tetap mempertahankan semangat dan perjuangan politik Islam, para mantan aktifis Masyumi pada tangal 9 Mei 1967 mendirikan yang bernama Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). M. Natsir dan Anwar Haryono kemudian terlibat aktif mengembangkan organisasi dakwah yang bermarkas di Kramat Raya Jakarta ini. Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Imaduddin Abdurahim 16 Sejak berdiri, terutama pada dekade 1970-an dan 1980-an, DDII terus melakukan kritik kepada pemerintah dan sambil membangun basis dakwah di masyarakat. Gerakan dakwah yang dimotori oleh DDII ini pada akhirnya mempengaruhi perkembangan dakwah di kampus-kampus umum sejak pertengahan tahun 1980-an. Seorang aktifis muda DDII yang juga ketua bidang dakwah PB HMI, Imaduddin Abdurahim, membangun basis dakwah di kampus dan mendirikan Lembaga Mujahid Dakwah (LDK). Sejak itu gelombang dakwah di kampus-kampus terus mengalami perkembangan pesat.


E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI Mintaredja menjelaskan hubungan antara Islam dan Pancasila bisa dipahami karena dalam sejarah Nabi Muhammad tidak pernah dikenal istilah negara Islam. Kewajiban umat Islam menurutnya adalah berjuang menciptakan masyarakat Islam yang benar, dan itu berbeda dengan perjuangan mendirikan negara Islam. Suatu masyarakat Islam itu bisa terwujud tanpa menimbulkan disintegritas negara bangsa, karena masalah politik adalah persoalan duniawi maka menurut Mintaredja maka pendekatan politik dalam Islam harus didudukkan pada hakekatnya yang bersifat duniawi itu. MINTAREDJA 17


Dalam merespon kebijakan rezim Orde Baru yang cenderung represif terhadap kelompok Islam ini generasi baru Islam melahirkan sebuah strategi baru yaitu Islam politik di Indonesia. Strategi baru ini telah mampu membangun hubungan yang lebih baik antara Islam dan negara. Secara politik, partai-partai Islam mengalami kemunduran tetapi justru aspirasi Islam dapat diterima secara meluas di level kekuasaan politik dan birokrasi. Proses Islamisasi Melalui Kesenian E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI 18 Uniknya di era di mana partai politik Islam mengalami penurunan, terutama di tahun 1990-an, proses Islamisasi Indonesia berjalan secara sempurna. Di level grassroot dan masyarakat, Islamisasi dilakukan oleh para aktifis Islam yang fokus dalam dakwah Islam, sementara di level politik proses Islamisasi tidak hanya terjadi dalam birokrasi pemerintahan tetapi juga terjadi pada partai-partai yang sebelumnya dianggap partai sekuler.


Perkembangan mengembirakan tentang peran Islam di level politik adalah disahkannya beberapa undang-undang yang berpihak kepada kepentingan umat Islam. Undangundang itu adalah Undang-Undang pendidikan nasional yang mewajibkan semua tingkat sekolah memberikan pelajaran agama sesuai dengan agama yang dianut oleh para murid (1988), undang-undang peradilan hukum Islam, undang-undang Kompilasi Hukum Islam (1991), pengaturan administrasi Zakat melalui Bazis (1991), pencabutan larangan memakai jilbab bagi para siswa di sekolah umum (1991) dan berbagai kebijakan pemerintah yang mengadopsi aspirasi umat Islam. Proses Islamisasi Melalui Pendidikan 19 E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI


Masa Reformasi Perkembangan pasca reformasi menunjukkan peran yang lebih signifikan dari kelompok Islam. Kejatuhan Soeharto pada tahun 1998 disambut antusias oleh umat Islam terutama bagi mereka yang merasakan penindasan politik di masa Orde Baru dengan semangat mendirikan partai-partai Islam. Beberapa partai Islam yang berdiri di Era Reformasi adalah PKS, PNU, PKU, PPP dan PBB. Sementara beberapa partai yang memiliki basis umat Islam tetapi berazaskan Pancasila adalah PKB PAN dan PDU. Strategi baru yang ditempuh oleh para aktifis Islam yang menyebar di berbagai partai politik utama di Indonesia pada hakekatnya merupakan strategi post Islamism. Upaya untuk menjadikan perjuangan Islam selaras dengan perubahan sosial, politik dan budaya masyarakat. Akibatnya saat ini kita jumpai bahwa Islam tidak hanya menjadi monopoli partai politik Islam tetapi juga menjadi agenda partai-partai nasionalis. Disinilah kemudian perkembangan Islam politik di Indonesia pada akhirnya sejalan dengan demokrasi itu sendiri. Islam menjadi salah satu penopang penting tegaknya demokrasi di Indonesia E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI 20


E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI AYO MENONTON Buatlah grafik peristiwa penting yang melibatkan umat Islam pada masa pasca kemerdekaan 1. Temukan peran umat Islam pada masa pasca kemerdekaan bersama kelompok masing-masing. 2. AYO BERLATIH SILAHKAN KLIK ICON YOUTUBE UNTUK MENONTON 21


Nama Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) Tempat Tanggal Lahir Kampung Molek, Maninjau, Sumatra Barat, 17 Februari 1908 Wafat 24 Juli 1981 Nama Ayah Syekh Abdul Karim bin Amrullah lebih dikenal sebagai Haji Rasul, pelopor gerakan tajdid di Minangkabau, setelah kembali dari Makkah tahun 1906. AYO MEMBACA PERAN UMAT ISLAM PALING SIGNIFIKAN PADA MASA PASCA KEMERDEKAAN PROF. DR. H. ABDUL MALIK KARIM AMRULLAH (HAMKA) IDENTITAS : Kampung Molek, Maninjau, Sumatra Barat, 17 Februari 1908 : 24 Juli 1981 : Syekh Abdul Karim bin Amrullah lebih dikenal sebagai Haji Rasul, pelopor gerakan tajdid di Minangkabau, setelah kembali dari Makkah tahun 1906. E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI 22


15 PENDIDIKAN Hamka mendapat pendidikan pertama di Sekolah Dasar Maninjau. Ketika berusia 10 tahun, ayahnya mendirikan lembaga pendidikan agama bernama Sumatra Thawalib di Padang Panjang. Di lembaga tersebut ia mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di mushola dan masjid yang diberikan beberapa ulama terkenal, seperti Syekh Ibrahim Musa, Syekh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, Raden Mas Surjapranata, dan Ki Bagus Hadikusuma. 23 E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI


TAHUN PROFESI 1927 Guru agama di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan. 1929 Guru agama di Padang Panjang. 1957- 1958 Dilantik sebagai dosen di Universitas Islam Jakarta dan Universitas Muhammadiyah Padang Panjang. Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam Jakarta dan meraih gelar professor di Universitas Mustopo Jakarta. 1951- 1960 Menjabat sebagai pegawai negeri di Kementrian Agama. Akan tetapi ia meletakkan jabatan tersebut setelah Ir. Soekarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik bersama Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi). PROFESI Universitas Islam Jakarta Universitas Muhammadiyah Padang Panjang Universitas Mustopo Jakarta Kantor Masyumi E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI 24


Tahun 1925 Mengikuti pendirian Muhammadiyah untuk melawan khurafat, bid’ah, tarekat, dan ilmu kebatinan sesat di Padang Panjang Tahun 1946 Terpilih menjadi Ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatra Barat dalam konferensi Muhammadiyah, menggantikan Sutan Mangkuto. Tahun 1953 Terpilih sebagai penasehat pimpinan pusat Muhammadiyah Tanggal 26 Juli 1977 Sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia untuk pertama kali yang dilantik oleh Prof. Dr. Mukti Ali. E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI Peran Prof. Dr. H. Abdul Malik Amrullah dalam Bidang Keagamaan Politik dan Pers Peran di Bidang Keagamaan dan Politik 25


Tahun 1920 Menjadi wartawan di beberapa majalah seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan Seruan Muhammadiyah. Tahun 1928 Menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat Tahun 1932 Menjadi editor dan menerbitkan majalah alMahdi di Makassar. Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, dan Gema Islam. Peran Prof. Dr. H. Abdul Malik Amrullah dalam Bidang Keagamaan Politik dan Pers Peran di Bidang Pers E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI 26


KARYA ILMIAH ISLAM DAN SASTRA PROF. DR. H. ABDUL MALIK KARIM AMRULLAH 1.Novel maupun cerpen 2.Tafsir al Azhar (lima jilid) 3.Novel yang melambungkan namanya hingga ke Malaysia dan Singapura yaitu: a. Tenggelamnya Kapal van Der Wijck b. Di Bawah Lindungan Kakbah c. Merantau ke Dell Tenggelamnya Kapal van Der Wijck 27 E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI Di Bawah Lindungan Kakbah Merantau ke Dell


TAHUN ANUGRAH, GELAR, DAN PENGHARGAAN 1958 Doctor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar, Kairo dan Universitas Kebangsaan, Malaysia. 1958 Gelar Datuk Indono dan Pangeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia 1993 Mendapat penghargaan Bintang Mahaputera Utama, atas jasanya pada negara E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI INFO TAMBAHAN BEBERAPA ANUGERAH, GELAR DAN PENGHARGAAN PROF. DR. H. ABDUL MALIK KARIM AMRULLAH 28 SILAHKAN KLIK ICON YOUTUBE UNTUK MENDAPATKAN REFERENSI BAHASAN MATERI DARI SUMBER LAIN.


Nama Mohammad Natsir. Tempat Tanggal Lahir Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Solok, Sumatera Barat pada tanggal 17 Juli 1908. Wafat 6 Februari 1993, di Jakarta Nama ayah Mohammad Idris Sutan Saripado. Pekerjaan Ayah Sebagai juru tulis di kantor pengawas di Maninjau, namun pada tahun 1918 ia bekerja sebagai sipir di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan. Nama Ibu Khadijah. E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI MOHAMMAD NATSIR IDENTITAS 29


PENDIDIKAN MOHAMMAD NATSIR Tahun 1923 Natsir melanjutkan studi di Mesir Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Di MULO Natsir mulai aktif dalam perhimpunan atau organisasi pemuda. Di antaranya Jong Islamieten Bond (JIB) dan Pandu Nationale Islametische. Lulus dari MULO, Natsir merantau ke Bandung untuk belajar di Algemeene Middelbare School (AMS) dan lulus tahun 1930. Ketika pindah ke Bandung, Natsir tetap melanjutkan kiprahnya di JIB wilayah Bandung hingga dilantik menjadi ketua pada periode 1928-1932. Natsir memulai pendidikan di Sekolah Rakyat Maninjau selama dua tahun. Berikutnya dia pindah ke Hollandsche-Inlandsche School (HIS) atau sekolah Belanda untuk pribumi di Adabiyah, Padang. Akan tetapi, Natsir harus pindah ke Solok dan dititipkan kepada seorang saudagar bernama Haji Musa. Layaknya anak-anak Minangkabau, Natsir bersekolah di HIS Solok pada pagi hari dan malam harinya mengaji di Madrasah Diniyah. Selama di Bandung Natsir juga mendirikan Lembaga Pendidikan Islam (Pendis). Pendis merupakan bentuk pendidikan modern yang mengombinasikan kurikulum pendidikan umum pengan pendidikan pesantren. Dalam waktu sepuluh tahun lembaga tersebut berkembang pesat dan memiliki sekolah dari jenjang TK hingga sekolah dasar. E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI 30


Tahun 1938 Natsir mulai aktif berpolitik dengan bergabung dalam Partai Islam Indonesia (PII) Tahun 1940- 1942 Dilantik menjadi ketua PII Bandung Pada masa pemerintahan Jepang Aktif di Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI) yang dibentuk pada 5 September 1942. MIAI ini dikemudian hari berganti nama menjadi Majlis Syura Muslimin Indonesia atau Masyumi Tahun 1942- 1945 Menjadi Kepala Bagian Pendidikan Kotamadya Bandung 25 November 1945 Menjadi ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BPKNIP) 3 Januari 1946 Ditunjuk menjadi Menteri Penerangan Indonesia pertama dan menjabat hingga tahun 1949 Tahun 1950 Natsir mengumumkan Mosi Integral Natsir yang berhasil menyatukan kembali Republik Indonesia menjadi negara kesatuan, yang sebelumnya sempat berbentuk federal. Tahun 1950- 1951 Presiden Soekarno menunjuk Natsir menjadi Perdana Menteri. Saat itu Natsir juga sedang memimpin partai politik terbesar di Indonesia, yakni Masyumi. Tahun 1966 Natsir dibebaskan dari penjara pada saat Orde Baru berkuasa Peran Mohammad Natsir dalam Bidang Politik 31 E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI


Tahun 1957 Menerima bintang Nichan Istikhar (Grand Gordon) dari Raja Tunisia, Lamine Bey karena jasanya menolong perjuangan kemerdekaan rakyat Afrika Utara Tahun 1980 Dianugerahi penghargaan Faisal Award dari Raja Fahd Arab Saudi lewat Yayasan Raja Faisal di Riyadh Tahun 1967 Memperoleh gelar doktor kehormatan dalam bidang politik Islam dari Kampus Islam Lebanon. Natsir juga memperoleh gelar kehormatan untuk bidang sastra dari Universitas Kebangsaan Malaysia. Pada masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie Mendapat penghargaan berupa Bintang Republik Indonesia Adipradana. Penghargaan Mohammad Natsir E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI 32


E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI INFO TAMBAHAN 33 SILAHKAN KLIK ICON YOUTUBE UNTUK MENDAPATKAN REFERENSI BAHASAN MATERI DARI SUMBER LAIN.


Nama Rahma El-Yunusiyah Tempat Tanggal Lahir Bukit Surungan, Padang Panjang, 20 Desember 1900 Wafat 26 Februari 1969 dalam usia 68 tahun di Padang Panjang dan dimakamkan di sebelah barat Asrama Perguruan Diniyah Puteri sekolah yang ia dirikan. Nama ayah Syekh Muhammad Yunus Nama Ibu Rafi’ah Saudara Puri bungsu dari lima bersaudara. Kakakkakaknya bernama Zainuddin Labay, Mariah, Muhammad Rasyad, dan Rihanah. E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI RAHMAH EL-YUNUSIYAH 34


Diniyah School di masa itu merupakan sekolah dengan sistem ko-edukasi, yaitu sistem belajar secara bersamaan dalam satu kelas tanpa membedakan jenis kelamin. Kendati demikian, para siswi kesulitan mengemukakan pendapat dan pemikirannya saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Ini karena minimnya komposisi siswi dan guru perempuan di kelas tersebut sehingga diskusi yang berlangsung lebih banyak dipengaruhi laki-laki. Hal itulah yang membuat Rahmah menjadi kurang leluasa belajar di sana. PENDIDIKAN RAHMA EL-YUNUSIYAH Berangkat dari hal tersebut, Rahmah bersama tiga sahabatnya, Rasuna Said, Nanisah, dan Upik Japang memutuskan membuat kelompok belajar agar bisa berdiskusi dengan bebas dan memperdalam ilmu dengan belajar di luar Diniyah School. Empat sekawan yang haus ilmu itu aktif menuntut ilmu di masjid-masjid terdekat. Mereka aktif mengikuti berbagai kegiatan pengajian dan berguru kepada ulama-ulama ternama, seperti Syekh Muhammad Jamil Jambek, Syekh Abdul Latif Rasyidi, dan Syekh Daud Rasyidi Syekh Muhammad Jamil Jambek Asrama Diniyah Putri Padang Panjang 35 E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI


PERAN RAHMA EL-YUNUSIYAH DALAM BIDANG PENDIDIKAN 1 November 1923 Saat berusia 23 tahun, semangat dan keinginan Rahmah untuk memajukan pendidikan bagi kaum perempuan begitu besar. Berkat dukungan kakak dan teman-temannya, Rahmah berhasil mendirikan Diniyah School Putri dengan nama Madrasah Diniyah lil Banat yang bertempat di Masjid Pasar Usang. Murid angkatan pertama Diniyah School Putri berjumlah 71 orang yang merupakan ibu-ibu muda. E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI 36 Tahun 1925 Didirikan Sekolah Menyesal yang tak lain bagian dari Diniyah School Putri yang fokus pada pengajaran membaca dan menulis. Sekolah Menyesal diselenggarakan untuk memberantas buta aksara bagi perempuanperempuan Minang. Sayangnya sekolah ini hanya beroperasi selama tujuh tahun, yakni sampai tahun 1932.


PERAN RAHMA EL-YUNUSIYAH DALAM BIDANG PENDIDIKAN Orientasi dan pemikiran dasar dari sekolah yang didirikan Rahmah tertuang dalam tujuan pendirian sekolah yang berbunyi: "Perguruan Diniyah Putri melaksanakan pendidikan dan pengajaran berdasarkan atas ajaran Islam dengan tujuan membentuk putri yang berjiwa Islam dan ibu pendidik yang cakap dan aktif serta bertanggungjawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air dalam pengabdian kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala." 37 E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI Selaras dengan tujuan tersebut, Rahmah membangun Diniyah School Putri menjadi sekolah yang bebas dalam artian tidak terbelenggu dengan kepentingan politik apa pun. Rahmah selalu menolak bantuan dalam bentuk apa pun dari pemerintah HindiȧBelanda, partai politik, hingga organisasi agama.


Pada masa penjajahan Jepang Perguruan yang didirikan Rahma mendapat tantangan berat. Saat itu, hak-hak perempuan di Sumatra terancam. Tidak hanya akses belajar yang terbatas, namun hak-hak perempuan sebagai manusia pun tidak dihormati. Dibangunnya "rumah kuning" di seluruh kota membuat Rahmah tak tinggal diam. Dengan terpaksa, Rahmah terjun ke dunia politik agar memperoleh kuasa lebih untuk menghentikan perbudakan dan pelecehan perempuan di Sumatra, la pun mengikuti berbagai organisasi, seperti Anggota Daerah Ibu dan Gyugun Ko En Kal. Demi membela hak asasi manusia perempuanperempuan Sumatra, Rahmah berjuang melalui semua cara yang mampu ditempuhnya. Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang Pada masa pasca kemerdekaan Rahmah masih teguh memperjuangkan hak-hak kaum perempuan, la dikenal sebagai "Ibu Pasukan Ekstremis" dan "Pelopor Sabil Muslimat” yang berjuang pada masa agresi Belanda. Sampai akhir hayat, Rahmah terus memperjuangkan hak-hak kaum perempuan terutama dalam bidang pendidikan. Hingga saat ini hasil perjuangan Rahman el-Yunusiyah masih dapat dirasakan. Diniyah School Putri yang kini dikenal dengan Pondok Pesantren Diniyah Puteri masih beroperasi dan turut memajukan pendidikan serta mencetak pemimpin-pemimpin bangsa yang cemerlang. Terlahir pada masa penjajahan yang sulit dan tanpa kebebasan, tidak membuat Rahmah menyerah dan menerima keadaan begitu saja. Semangat dan tekad yang kuat untuk memperjuangkan hak-hak perempuan, khususnya di bidang pendidikan membuat ia berani mengambil risiko. Hingga pada akhirnya berhasil meningkatkan derajat pendidikan nasional dan perempuan di Sumatra dan Indonesia. E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI 38


Bintang Mahaputra Adipradana Jasanya dalam dunia pendidikan, terutama pendidikan Islam bagi perempuan. Rahmah pelopor yang tidak hanya memperjuangkan hak perempuan atas pendidikan, namun juga ikut meningkatkan derajat perempuan di Sumatra pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. "Syekhah" dari Universitas Al-Azhar Pemikiran dan pembaruan yang ia lakukan itu menjadi dasar atau kiblat terbentuknya fakultas khusus perempuan di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI INFO TAMBAHAN BEBERAPA GELAR RAHMA EL-YUNUSIYAH 39 SILAHKAN KLIK ICON YOUTUBE UNTUK MENDAPATKAN REFERENSI BAHASAN MATERI DARI SUMBER LAIN.


Nama Abdurrahman Wahid. lahir dengan nama Abdurrahman ad-Dakhil atau "Sang Penakluk” yang lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur Tempat Tanggal Lahir Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 Wafat Rabu, 30 Desember 2009 dan dimakamkan di pemakaman keluarga Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Nama ayah K.H. Wahid Hasyim Pekerjaan Ayah Terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama pada tahun 1949. Nama Ibu Hj. Solichah Nama Kakek 1. K.H. Hasyim Asyari, merupakan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) 2. Kakek dari pihak ibu, K.H. Bisri Syansuri, pengajar pesantren IDENTITAS K.H. ABDURRAHMAN WAHID E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI 40


Setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia Gus Dur kembali ke Jombang dan tetap berada disana selama perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda. Akhir tahun 1949 Pindah ke Jakarta setelah ayahnya ditunjuk sebagai Menteri Agama. Gus Dur belajar di Jakarta, masuk ke SD KRIS sebelum pindah ke SD Matraman Perwari. April tahun 1953 Sang ayah wafat akibat kecelakan. Ibunya lalu mengirim Gus Dur ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikan. Tahun 1957 Setelah lulus SMP, dia pindah ke Magelang untuk belajar di Pesantren Tegalrejo. PERAN K.H. ABDURRAHMAN WAHID DALAM BIDANG PENDIDIKAN PESANTREN TEGALREJO MAGELANG 41 E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI


Tahun 1959 Gus Dur pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang dan mendapatkan pekerjaan pertama sebagai guru dan kepala madrasah. Gus Dur juga menjadi wartawan Horizon dan majalah Budaya Jaya. Tahun 1963 Gus Dur menerima beasiswa dari Kementrian Agama untuk belajar di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. Gus Dur melanjutkan pendidikan di Universitas Bagdad hingga tahun 1970. la kemudian pergi ke Belanda untuk meneruskan pendidikan di Universitas Leiden, tetapi kecewa karena pendidikan di Bagdad tidak diakui. Gus Dur lalu pergi ke Jerman dan Prancis sebelum kembali ke Indonesia pada 1971 untuk bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial(LP3ES). PERAN K.H. ABDURRAHMAN WAHID DALAM BIDANG PENDIDIKAN E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI 42 Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir


Tahun 1974 Gus Dur mendapat pekerjaan tambahan di Jombang sebagai guru di Pesantren Tambakberas. Tahun 1977 Dia memutuskan bergabung dengan Universitas Hasyim Asy'ari sebagai Dekan Fakultas Praktik dan Kepercayaan Islam dengan mengajar subjek tambahan, seperti pedagogi. syariat Islam, dan misiologi. Gus Dur lalu diminta berperan aktif menjalankan NU atas permintaan kakek dari sang ibu, K.H. Bisri Syansuri, karena mengambil pekerjaan ini, Gus Dur memilih pindah dari Jombang ke Jakarta. Tahun 1998 Setelah masa reformasi, atas permintaan komunitas NU, Gus Dur membentuk partai politik baru, yakni Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 7 Februari 1999 PKB resmi menyatakan Gus Dur sebagai kandidat presiden. 20 Oktober 1999 MPR kemudian memilih presiden baru pada sidang istimewa, dan Abdurrahman Wahid terpilih sebagai Presiden Indonesia ke-4, sedangkan Megawati terpilih sebagai Wakil Presiden. Kabinet yang dipimpin Gus Dur dinamakan Kabinet Persatuan Nasional. PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM TAMBAKBERAS JOMBANG 43 E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI


Tahun 1993 Gus Dur menerima Ramon Magsaysay Award, penghargaan cukup prestisius untuk kategori kepemimpinan sosial. Pada 10 Maret 2004 Ditasbihkan sebagai Bapak Tionghoa oleh beberapa tokoh Tionghoa Semarang di Klenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok. Penghargaan dari Simon Wiethemthal Center, sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan HAM. Selain itu, Gus Dur memperoleh penghargaan dari Mebal Valor karena dinilai memiliki keberanian membela kaum minoritas. E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI SILAHKAN KLIK ICON YOUTUBE UNTUK MENDAPATKAN REFERENSI BAHASAN MATERI DARI SUMBER LAIN. INFO TAMBAHAN BEBERAPA PENGHARGAAN K.H. ABDURRAHMAN WAHID 44


Nama Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie Tempat Tanggal Lahir Pare-Pare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 Hobbi Menunggang kuda dan membaca Wafat 11 September 2019 setelah dirawat intensif di RSPAD Gatot Subroto. la dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata bersebelahan dengan makam sang istri. Nama ayah Alwi Abdul Jalil Habibie Wafat 3 September 1950. Nama Ibu Raden Ayu Tuti Manni Puspowardojo Saudara Anak keempat dari delapan bersaudara E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI PROF. DR. ING. H. BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE IDENTITAS 45


Setelah lulus tahun 1954 Habibie masuk di Universitas Indonesia Bandung yang kini menjadi ITB (Institut Teknologi Bandung). Setahun di ITB Habibie memilih untuk kuliah ke Jerman setelah memperoleh beasiswa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tepatnya di Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule (RWTH) dengan memilih jurusan Teknik Penerbangan. Habibie menghabiskan waktu cukup lama saat menempuh pendidikan di Jerman. Kurang lebih selama sepuluh tahun dijalani Habibie meraih diploma dan doktoral di Jerman. Di tengah-tengah masa kuliah tersebut, tepatnya pada 12 Mei 1962, Habibie memutuskan untuk menikahi Hasri Ainun Besari. Mereka dikaruniai dua orang putra bernama Ilham Akbar dan Thareq Kemal. Tahun 1960 Habibie lulus dengan predikat cumlaude dan memperoleh gelar Diploma Teknik. Tahun 1965 Habibie mendapat gelar Doktor Teknik dengan predikat summa cumlaude. E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI Habibie menuntut ilmu di Gouvemments Middlebare School (SMAK Dago). PENDIDIKAN PROF. DR. ING. H. BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE 46


Setelah menyelesaikan pendidikan Habible memutuskan untuk tetap tinggal di Jerman. Dia pernah bekerja cukup lama di sebuah perusahaan kedirgantaraan bernama MesserschmittBölkowBlohm. Tahun 1973 Beliau memutuskan untuk kembali ke Indonesia Tahun 1976 Pertama kali beliau ditugaskan untuk bekerja di Pertamina. Habibie diberi mandat menjadi pimpinan pertama dari PT Dirgantara Indonesia. Tahun 1978 Habibie memperoleh jabatan baru sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi. Jabatan ini pun bertahan lama hampir sekitar dua puluh tahun. 11 Maret 1998 Habibie mendampingi Soeharto sebagai pasangan Presiden dan Wakil Presiden RI. Jabatan Habibie pun beralih menjadi Presiden RI setelah Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998. Akan tetapi, jabatan tersebut hanya bertahan selama 1 tahun 5 bulan. Ini membuat Habibie sebagai pemilik gelar Wakil Presiden dan Presiden RI dengan durasi jabatan terpendek. Meski menjabat dalam waktu singkat, ada beberapa kebijakan strategis yang dilakukan Habibie, antara lain ketika berhasil menekan angka tukar rupiah terhadap dolar Amerika. E-Magazine Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI PERAN PROF. DR. ING. H. BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE 47


Click to View FlipBook Version