The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Tradisi Upacara Adat sebagai Warisan Budaya Leluhur

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by raissaputri2211, 2022-09-07 00:52:06

MARAS TAUN

Tradisi Upacara Adat sebagai Warisan Budaya Leluhur

Keywords: #ebookskebudayaan #ebookstradition #ebookstradisi

MAR AS TAUN

Tradisi
Upacara Adat

sebagai
Warisan
Budaya
Leluhur

BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN BAHASA
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN



Adat Barik Urang Belitong

Tradisi Maras Taun

Upacara Adat sebagai Warisan Budaya
Leluhur

Dirancang oleh :
Raissa Amanda Putri

MARAS TAUN

Penulis : Raissa Amanda Putri

Penyunting : Raissa Amanda Putri

Ilustrator dan penata letak : Raissa Amanda Putri

Diterbitkan tahun 2022 oleh
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Jalan Daksinapati Barat IV
Rawamangun
Jakarta Timur 13220
Telepon (021) 4706287, 4706288, 4896558, 4894546
Faksimile (021) 4750407
Pos-el badan.bahasa[at]kemdikbud.go.id

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Seluruh bagian buku ini, dilarang diperbanyak dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis penerbit,
kecuali pengutipan untuk keperluan penulisan artikel ataupun karangan ilmiah.

ISBN 022-110-0202-10-5 ; 25x25 cm

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Karena berkat limpahan karunia-Nya, perancangan
buku mengenai Tradisi Upacara Adat Maras Taun ini dapat terselesaikan.

Didalam penyusunan karya ini, perancang telah berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan
kemampuan demi penyelesaian buku mengenai Maras Taun ini. Perancang juga tak luput dari
kesalahan baik pada segi teknik penulisan ataupun tata bahasa itu sendiri. Banyak pelajaran yang
didapatkan dari membaca buku karya sastra ini, seperti pengetahuan mengenai tradisi yang ada di

Indonesia, salah satunya Maras Taun.
Dengan kerendahan hati, perancang menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak

yang terlibat dalam proses penyelesaian buku ini.

Semoga buku ini tidak hanya bermanfaat sebagai bahan bacaan bagi siswa ataupun masyarakat,
tetapi juga bermanfaat sebagai bahan pengayaan pengetahuan tentang tradisi yang dapat

dilaksanakan secara terus menerus di kehidupan masyarakat, baik di masa kini ataupun masa yang
akan datang.

Bandung, 20 Juli 2022
Raissa Amanda Putri

MARAS
TAUN

DAFTAR Bagian
ISI
1 Tentang Maras Taun
Apa itu Maras Taun?

Asal Mula Maras Taun

Daerah yang Melaksanakan Maras Taun di

Bagian Pulau Belitung

2 Prosesi & Kegiatan Upacara Adat
Maras Taun

Gawai Gede

Selamatan

Kegiatan Kesenian

Acara Puncak

Bagian

3 Nilai-nilai yang Terkandung dalam
Tradisi Maras Taun

Nilai Agama

Nilai Sosial

Nilai Seni

Tentang
Maras Taun

Apa Itu
Maras Taun ?

Maras Taun merupakan acara adat yang
dilaksanakan secara rutin oleh masyarakat yang
ada di Pulau Belitung selama satu tahun sekali.
Nama “Maras Taun” memiliki arti “Maras” yang
berarti memotong dan “Taun” berarti tahun, bisa
disimpulkan secara sederhana bahwa makna dari
nama Maras Taun artinya semua masyarakat
meninggalkan tahun yang lampau dengan rasa
syukur dan memohon untuk semua yang baik
dilimpahkan pada tahun selanjutnya dan terhindar
dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Maras taun dilakukan untuk merayakan masa panen raya, juga sebagai wujud rasa
syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas panen yang melimpah serta bertujuan
untuk mencari keselamatan kampung. Kegiatan ini biasanya dipimpin oleh tetua
adat atau dukun kampung bersama masyarakat setempat. Secara umum, maksud
dari Maras Taun dilakukan sebagai do’a bersama, berkumpul, memasak hasil
panen bersama, dan diakhiri dengan ritual-ritual zikir dan do’a sebagai tanda
rupa, serta biasanya terdapat kesenian- kesenian budaya Belitung dengan ciri khas
masing-masing daerah yang melaksanakan.

2

Asal Maras Taun bermula dari Seiring pekembangan, tradisi Maras
Mula masyarakat Desa Selat Nasik, Pulau Taun meluas dan tidak hanya dirayakan
Maras Mendanau, Kabupaten Belitung. oleh petani, namun seluruh profesi
Taun Tradisi ini merupakan peristiwa seperti nelayan dan profesi lainnya.
yang berkaitan dengan keseharian Tradisi Maras Taun juga meluas dengan
masyarakat yang berprofesi sebagai tidak hanya dirayakan oleh masyarakat
petani di ume (ladang). Hasil panen di Pulau Mendanau saja, tetapi
ini diperoleh setelah masa panen kemudian meluas pada masyarakat
selama 9 bulan, oleh karena itu seluruh Pulau Belitung. Mulai dari seja-
Maras Taun hanya dilakukan setiap rah inilah Maras Taun menjadi tradisi
satu tahun sekali. dan budaya masyarakat Pulau Belitung.

3

Daerah
yang
Melaksanakan Maras
Taun Di Pulau Belitung

• Desa Selat Nasik, Pulau Mendanau, Kabupaten Belitung.
• Kecamatan Membalong, Kabupaten Belitung.
• Desa Badau, Kabupaten Belitung.
• Desa Bantan, Kabupaten Belitung.
• Dusun Selamar, Desa Dendang, Belitung Timur.

Pada setiap daerah melaksanakan tradisi Maras Taun, di setiap daerah
pelaksanaanya dilakukan berbeda dan sesuai dengan ciri khas desa masing-
masing daerah atau sesuai putusan tetua adat. Ada yang melaksanakan secara
sederhana serta ada yang melaksanakan secara besar besaran.

4

Prosesi & Kegiatan
Upacara Adat Maras Taun

Gawai Gede

“Gawai Gede” yakni Serangkaian persiapan yang dilakukan oleh
masyarakat setempat untuk menyambut kegiatan Upacara Adat
Maras Taun yang dilakukan secara bersama bergotong royong dan
beramai-ramai. Persiapan dimulai dari pemilihan panitia,
pengambilan kayu untuk bangsal dapur (memasak), panggung dan
kayu bakar, selain itu dilakukan persiapan pembuatan kulit lepat
dan juga memasak bersama untuk hidangan makan bedulang.

6

Selamatan Acara selamatan mulai dilaksanakan sehari
sebelum acara puncak, kegiatan ini dipimpin oleh
tetua adat atau dukun kampung. Selamatan juga
dihadiri oleh masyarakat setempat serta panitia
pelaksana acara Maras Taun. Terdapat beberapa
rangkaian acara pada pelaksanaannya, mulai
dari pembukaan, pembacaan do’a, lalu
selamatan kampung.

7

Terdapat dua cara dalam selamatan kampung ini, yaitu
dengan ritual nyucor Air Sembilan dan menggunakan media
yang dibuat untuk menghubungkan dengan makhluk gaib
melalui batara guru dan 4 malaikat. Ritual selamatan
kampung dilakukan oleh tetua adat dengan nyucor Air Sembilan
atau mengucuri perbatasan desa/dusun dengan air tersebut,
kemudian media yang dibuat digunakan untuk menghubungkan
dengan makhluk gaib melalui batara guru dan 4 malaikat.
Kegiatan ini dilakukan sambil membacakan ritual dan
do’a. Hal ini bertujuan agar kampung bersih dan
aman sehingga masyarakat terhindar dari segala
gangguan makhluk gaib.

Media yang digunakan untuk menghubungkan
dengan makhluk gaib.

8

Kegiatan Kesenian

Sepanjang mulai berjalannya acara Maras Taun, sebelum acara puncak diadakan
beberapa pertunjukkan kesenian sebagai hiburan yang biasanya diadakan di rumah
tetua adat atau dukun kampung. Beberapa pertunjukkan tersebut adalah sebagai
berikut :

Beripat Beregong

Merupakan kesenian tradisional yang menunjukkan 7
kejantanan dari seorang lelaki dengan cara saling
memukul memakai senjata rotan. Kata "ripat" pada
kesenian ini artinya adalah memukul, pertunjukkan
diiringi dengan alat musik gong. Penilaian dalam
pertunjukkan dilakukan dengan cara melihat siapa
yang paling sedikit mendapatkan bekas pukulan,
maka dia lah pemenangnya. Tujuan awal dari
permainan ini adalah selain mempererat hubungan
antar kampung, juga untuk memupuk sportivitas
para pemainnya.

79

Dul Mulok

Merupakan seni pertunjukkan
tradisional Belitung yang berasal dari
Kecamatan Membalong. Dul Mulok
berupa drama tradisional yang
dibawakan menggunakan bahasa asli
Belitung dengan bercerita mengenai
cerita rakyat setempat dan diiringi
dengan musik tradisional.

10

Lesong Panjang

Lesong Panjang (Lesung Panjang) diambil dari nama dan alat permainan ini
sendiri. Kegiatan Lesong Panjang biasanya dilakukan selepas masa panen.
Kegiatan ini menjadi seni pertunjukkan permainan tradisional di Pulau Belitung
yang dibentuk menjadi tarian. Lesong Panjang yang ada di Pulau Belitung
memiliki ciri khas sendiri, alat utamanya adalah sebuah lesung terbuat dan kayu
pilihan yang bersuara keras dan jernih, sedangkan alat yang dipukul dinamakan
Alu. Lesung dibuat dalam berbagai model dan ukuran sesuai dengan selera
pemain. Beberapa orang yang sudah siap dengan lesung dan alunya berjejer
dan menumbuk Alu. Hal ini akan memunculkan bunyi yang saling bersahutan
sehingga menimbulkan irama yang sangat bervariasi dan menarik. Sebenarnya
ada makna dibaliknya, yaitu segala sesuatu yang dikerjakan bersama-sama
atau dengan bergotong royong akan membuahkan hasil yang baik.

11

Acara

Puncak Pada acara puncak ini, digelar beberapa kegiatan. Mulai dari sambutan tetua
adat dengan do’a kemudian dilakukan ritual, selain itu terdapat kegiatan
ngemping beras, pembagian lepat, dan ditutup dengan hamdalah serta makan
bersama yang disebut makan bedulang.

Ritual

Ritual dilakukan oleh dukun kampung dengan membacakan do’a dan
zikir serta menggunakan beberapa bahan seperti lepat kecil, irisan
daun neruse, daun ati-ati, tepung tawar dan air. Bahan tersebut
nantinya akan dibagikan kepada masyarakat di akhir acara Maras
Taun untuk dipercikan pada kendaraan, rumah ataupun kebun, hal ini
berguna sebagai penolak bala atau masyarakat setempat biasa
menyebutnya “kesalan”. Setelah itu, dukun kampung memberikan
beberapa nasihat. Adapun nasihat yang diberikan yakni:
1. Masyarakat desa dipersilahkan istirahat atau tidak ke hutan/
kebun/laut terlebih dahulu selama 1 hari.
2. Perbanyak ibadah
3. Masyarakat harus menjaga kedamaian di desa, seperti tidak
melakukan tindakan kriminal ataupun mengganggu warga lainnya.

12

Ngemping Beras

Kegiatan pembuatan Emping Beras ini biasanya dilakukan oleh dua
atau lebih orang, perempuan dewasa bertugas untuk menyangrai
beras baru, namun ada juga yang menampi ataupun menumbuk.
Kemudian laki-laki dewasa bertugas pada bagian menumbuk saja.
Sebelum masyarakat mulai membuat Emping Beras, dukun kampung
berperan sebagai yang pertama kali menumbuk padi yang ada di
lesung dengan menggunakan Alu.

Beras yang disangrai

13

Pemotongan Lepat

Pemotongan lepat dilakukan pada acara puncak, yakni dengan memotong
Lepat besar. Pemotongan ini dilakukan oleh pejabat pemerintah seperti
bupati dan wakil bupati daerah.

Lepat merupakan jajanan khas di Pulau Belitung yang selalu ada pada acara
Maras Taun, terbuat dari bahan padi ketan yang dibungkus dengan daun
pandan lalu diberikan santan kemudian dimasak. Bahan bakunya terbuat
dari padi ketan atau orang Belitung biasa menyebutnya beras baru yang
dihasilkan dari ladang petani lokal yang disebut Ume.

14

Setelah pemotongan lepat besar, kemudian lepat
yang kecil dibagikan kepada warga, biasanya
dilakukan dengan cara berebut, namun ada juga
yang hanya dibagikan biasa. Lepat-lepat ini
merupakan hasil dari panen masyarakat setempat
yang dikumpulkan menjadi satu, masyarakat
membawa beras yang akan dimasak dirumah
dukun kampung lalu dibuat menjadi lepat.

15

Makan Bedulang

Kegiatan di akhir acara berupa penutupan dengan makan
bersama yakni makan bedulang, merupakan tradisi turun
temurun makan bersama yang telah dilakukan sejak lama,
tujuan makan bedulang ini adalah untuk menjalin kebersamaan
dan merekatkan hubungan persaudaraan. Terdapat banyak
makna yang ada pada prosesi makan bedulang ini, karena
prosesi dilakukan menurut adat Belitung dengan tata cara dan
etika tertentu. Makan bedulang ini juga mencerminkan rasa
saling menghargai antar anggota masyarakat.

16

Bedulang, diambil dari kata dulang yang artinya nampan besar, maka Makanan penutup.
Makan Bedulang artinya makan bersama dalam satu nampan besar.
Prosesi ini dilakukan dengan cara 4 orang menghdap dulang yang isinya
berupa makanan tradisional khas Belitung. Makanan disajikan sebanyak
4 hingga 6 macam lauk, lengkap dengan nasi putih dan sambal. Selain
itu juga terdapat makanan penutup seperti lepat ataupun jajanan kue
khas Belitung lainnya. Saat disajikan, makanan dalam dulang tersebut
masih tertutup tudung saji. Saat berlangsung, terdapat etika dimana yang
paling tua membuka tudung saji dan yang paling muda melakukan
pembagian piring.

Isi lauk pauk yang disajikan pada Makan Bedulang. Terdapat ikan
kuah kuning (Gangan), Udang, Sambal Serai, Lalapan, dan
lain-lain.

Dulang yang masih ditutup tudung saji khas Belitung.

17

Nilai-nilai yang
Terkandung
dalam Tradisi
Maras Taun

Nilai Agama

Maras Taun sendiri merupakan bentuk rasa syukur masyarakat
pulau Belitung kepada Tuhan yang Maha Esa atas hasil panen
yang melimpah. Selain itu, dalam serangkaian acara, terdapat
pembacaan doa ayat suci Al-Qur’an dan shalawat nabi pada
saat ritual selamatan kampung.
Ritual-ritual yang dilakukan pun tidak jauh dan tidak menyalah-
kan hukum agama.

18

Nilai Sosial

Maras Taun dimaksudkan untuk
menjalin serta mempererat tali
silaturahmi dan persaudaraan antar
masyarakat. Seperti pada saat bahu membahu serta
gotong royong menyiapkan acara. Pada saat acara
dilaksanakan, banyak masyarakat yang ada di seluruh
pulau Belitung berdatangan, oleh karena itu dengan
adanya Maras Taun kebersamaan antar warga akan
terjalin.

19

Nilai Seni

Pada saat pelaksanaan tradisi Maras Taun, terdapat
banyak nilai-nilai seni karena dalam pelaksanaannya
diiringi dengan berbagai penampilan dan pertunjukan seni
tradisional khas Belitung yang dipersembahkan oleh
masyarakat setempat untuk meramaikan acara.

20

Harapan

Maras Taun merupakan salah satu kekayaan yang ada di
Indonesia yang harus tetap dilestarikan, karena di dalamnya
memiliki banyak makna yang memiliki nilai penting dalam
kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, diharapkan
Trasidi Upacara Adat Maras Taun ini dapat terus berjalan
dan lebih dikenal oleh masyarakat luas karena Maras Taun
ini menjadi ciri khas dan identitas Pulau Belitung itu sendiri,
terlebih tradisi ini dapat menjadi potensi untuk mengangkat
pariwisata di Pulau Belitung karena bisa dikunjungi oleh
masyarakat umum.

Daftar Pustaka

Wildan, AD. Dulkiah, M & Irwandi 2009, ‘Pemaknaan dan Nilai dalam
Upacara Adat Maras Taun di Kabupaten Belitung’, FISIP UIN Sunan Gunung Djati
Bandung. vol. 29. no. 1.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan 2015,
‘Maras Taun’, https://kebudayaan.kemdikbud.go.id , 10 Agustus 2022.

Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM RI, ‘Emping
Beras’, https://kikomunal-indonesia.dgip.go.id , 10 Agustus 2022.

Gunawan, AI 2020, ‘Lesong Panjang, Tradisi Masyarakat Belitung Setelah Panen’,
https://www.belitungisland.com/news/lesong-panjang-tra-
disi-masyarakat-belitung-setelah-panen/ , 12 Agustus 2022.

Redaksi 2017, ‘Makan Bedulang’, https://jaringansantri.com/makan-bedulang/ , 14
Agustus 2022.

Tentang Penulis

Raissa Amanda Putri seorang mahasiswa Universitas
Komputer Indonesia, lahir di Tanjungpandan, Belitung
pada november 2000. Sejak umur 13 tahun ia sudah
mulai berpartisipasi mengikuti kegiatan acara budaya
dan kesenian yang ada di Belitung. Hingga sekarang, ia
masih suka mengikuti kegiatan acara budaya di Pulau
Belitung.



MAR AS TAUN

Adat Barik Urang Belitong

Maras Taun merupakan acara adat yang dilaksanakan secara
rutin oleh masyarakat yang ada di Pulau Belitung selama satu
tahun sekali. Dapat disimpulkan secara sederhana bahwa
makna dari nama Maras Taun artinya semua masyarakat
meninggalkan tahun yang lampau dengan rasa syukur dan
memohon untuk semua yang baik dilimpahkan pada tahun
selanjutnya dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Anda bisa mengunjungi Tradisi Upacara Adat Maras Taun ini
secara langsung karena terdapat banyak prosesi dan kegiatan

yang menarik dengan berbagai makna di setiap kegiatannya.

BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN BAHASA
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Jalan Daksinapati Barat IV
Rawamangun
Jakarta Timur 13220
Telepon (021) 4706287, 4706288, 4896558, 4894546
Faksimile (021) 4750407
Pos-el badan.bahasa[at]kemdikbud.go.id


Click to View FlipBook Version