3 Robi Syafaringga Robi Syafaringga adalah seorang pria berusia 21 tahun berasal dari Sambas, Kalimantan Barat. Kini ia sedang menempuh Pendidikan S1 sebagai mahasiswa arsitektur di Universitas Gunadarma. Begitu juga kepada Nur Eliza yang merupakan seorang wanita berusia 24 tahun yang juga berasal dari Sambas, Kalimantan Barat. Ia lulusan S1 Pendidikan Fisika di Universitas Tanjungpura yang kini mengajar di salah satu sekolah menengah di Sambas. Minat kami terhadap pengetahuan dan sejarah lokal menjadi pendorong untuk melakukan berbagai penelitian dan menggali informasi terkait Sejarah Arsitektur suatu bangunan. Nur Eliza
Istana Alwatzikhoebillah Sambas Kesultanan Alwatzikhoebillah Sambas adalah Kesultanan yang eksis sejak tahun 1631-1950 dipimpin oleh 15 sultan yang mana sultan pertamanya digelar Sultan Muhammad Tsyafiuddin I. jika ditelusuri dari garis keturunan sebelah ayah adalah anak dari Baginda Sultan Ali Omar Shah yang dikenal Raden tengah sebagai Sultan Serawak dan cucu dari baginda Sultan Mohammad Hasan (Sultan ke-9 Kesultanan Brunei Darussalam). Adapun dari garis keturunan sebelah ibu adalah anak dari Ratu Surya Kesuma yang merupakan adik dari Panembahan Giri Mustika dari Kesultanan Matan. Robi Syafaringga & Nur Eliza – Sambas 3 Istana Alwatzikhoebillah Sambas/Robi Syafaringga & Nur Eliza 4 Gambar atas: Istana Era Sultan Ke-13 Gambar bawah: Petinggi Istana 1895 Gambar kanan: Istana Sambas Sekarang Sultan M. Tsyafiuddin I menikah dengan Mas Ayu Bungsu dari kerajaan Sambas Lama dan mendirikan Kesultanan Sambas pada Tahun 1630 dengan pusat pemerintahan yang sempat berpindah-pindah, Hingga pada masa Sultan Muhammad Tajuddin (Sultan Ke-2) pusat pemerintahan dipindahkan ke Muara Ulakan hingga sekarang. Istana Alwatzikhoebillah yang ada saat ini merupakan bangunan peninggalan dari Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Tsyafiuddin sebagai sultan terakhir yang sempat berkuasa dari tahun 1931- 1944 dan diturunkan sampai sekarang kepada pihak pewarisnya yaitu Y.M. Putra Mahkota Pangeran Ratu Raden Muhammad Tarhan. Istana ini merupakan bagian dari semua perjalanan panjang kesultanan sambas dalam merangkai kisah di tanah borneo yang hingga sekarang masih wujud bentuk nya yang mana sebagai bukti nyata keberadaan kesultanan sambas di zaman dahulu kala.
3 4 Secara administratif, Istana Alwatzikhoebillah Sambas berada di Jl. Istana, Desa Dalam Kaum, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, tepatnya di tepi persimpangan 3 anak sungai, yaitu sungai sambas kecil, sungai teberau, dan sungai subah atau yang dikenal Muare Ulakan. Luas komplek istana 16.781 m² yang dibatasi oleh pagar pemisah antara kawasan istana dengan pemukiman penduduk sekitar. Komplek istana juga bersebelahan dengan Jl. Istana di sebelah utara dan barat serta jalan gang kecil disebelah selatan menuju permukiman masyarakat sekitar. Di dalam komplek Istana, terdapat beberapa bangunan dengan fungsi nya yang berbeda-beda. Yang pertama ada Balai Peranginan, Alun-alun Istana, Masjid Agung Jami’, Paseban, Gerbang Penjaga, Istana Sultan, dan Kolam pemandian. Adapun diluar kompleks istana yaitu, Kalim Jamban, Steher/dermaga kapal masjid jami’, dan makam para Sultan Sambas yang berjarak sekitar 100 meter di belakang Kompleks Keraton. Jika ditelusuri rekam jejak Kesultanan Sambas, Istana ini merupakan istana ke tiga yang dibangun sejak berjalannya pemerintahan kesultanan. Istana pertama dibangun oleh Sultan Muhammad Tajuddin I (Sultan ke-2) di sebelah timur muare ulakan di saat yang sama pindahnya pusat pemerintahan dari lubuk madung ke muare ulakan. Istana ke dua dibina di sebelah utara muare ulakan atau sekarang disebut kampung tanjung rengas pada masa pemerintahan Sultan Umar Kamaluddin ( Sultan ke-12) dikarenakan terjadi sengketa di dalam kesultanan, dan akhirnya dirobohkan pada masa Sultan Muhammad Tsyafiuddin II (Sultan ke-13) karena dianggap sengketa telah berakhir. Istana ketiga ini dibangun oleh Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Tsyafiuddin (Sultan ke-15) dengan waktu pengerjaan dari tahun 1933-1935 dan memakan biaya 65.000 gulden yang diperoleh dari pinjaman kepada Kesultanan Kutai Kertanegara. Istana Alwatzikhoebillah Sambas/Robi Syafaringga & Nur Eliza Istana Alwatzikhoebillah Sambas
3 4 Gambar atas: T. Atas Area Depan Gambar bawah: Denah Majid Jami’ AREA DEPAN KOMPLEK ISTANA 4 3 5 2 Keterangan : 1. Balai Peranginan 2. Masjid Jami’ 3. Tiang Bendera 4. Paseban Kiri 5. Paseban Kanan S U TB 1 Area Depan Komplek Istana memuat beberapa bangunan seperti Balai Peranginan, Masjid Jami’, dan 2 Buah Paseban yang dimana keempat bangunan tersebut terpisah dengan fungsi bangunan yang berbeda. Di tengah area ini memuat halaman istana yang luas dengan bundaran di tengahnya sebagai tempat 4 buah meriam dan tiang bendera. Ditinjau dari segi pola ruang geometris, area ini diisi oleh 4 buah massa bangunan yang saling terpisah dan berbeda bentuk. Area ini didominasi oleh masjid jami’ disebelah selatan yang memiliki massa bangunan lebih besar dari yang lainnya, balai peranginan di sebelah barat, 2 buah paseban saling berhadapan di sebelah timur dan juga di tengah area ini terdapat halaman keraton yang terbilang luas dengan tiang bendera yang tinggi di tengahnya menghadirkan karakteristik area yang terpusat dan pola skyline yang menarik. Begitu juga dengan kehadiran taman pada tiap sisi dan sudut pada area ini memperlihatkan keseimbangan proporsi antara massa bangunan dengan ruang terbuka hijau di sekelilingnya dan juga letak pohon besar serta tinggi pada tiap sisi seakan memberikan gambaran akan hamparan ruang yang luas di tengah dengan view keluar yang ditutupi oleh bangunan serta pepohonan yang besar di sekelilingnya. Ditinjau dari segi pola ruang fungsional, area ini memuat 4 jenis kegiatan yang berlaku yaitu kegiatan keamanan pada balai peranginan, kegiatan keagamaan pada masjid jami’, kegiatan hiburan pada halaman istana, dan kegiatan istirahat pada bangunan paseban. Hiburan rakyat pada halaman istana dapat disaksikan dari paseban dan sekeliling halaman, penjagaan pada balai peranginan, dan kegiatan ibadah pada masjid membuat kesinambungan serta interaksi antar bangunan terbilang tinggi. Masjid Jami’ merupakan bangunan yang dominan di area ini oleh karena massa bangunan yang besar dan juga fungsional bangunan yang kompleksitas kegiatannya cukup tinggi. Di hari-hari biasa masyarakat menjadikan masjid ini sebagai masjid sentral di kawasan istana dan sekitarnya bahkan masyarakat di seberang sungai menggunakan sampan untuk melaksanakan sholat jumat di masjid ini karena mudah diakses melalui jalur sungai. Di dalam masjid memuat beberapa ruang yaitu serambi, ruang kantor, perpustakaan, dan ruang sholat serta mihrab imam. Pada zaman dahulu kantor dan perpustakaan digunakan sebagai tempat wudhu sultan menggunakan bejana dan sebagai tempat menyimpan kitab karena sempat digunakan sebagai Madrasah Al-Sulthaniyah di awalawal berdirinya Lembaga tersebut. Istana Alwatzikhoebillah Sambas/Robi Syafaringga & Nur Eliza
3 4 Gambar atas: Fasad 1 Gambar bawah: Fasad 2 MASJID JAMI’ SULTAN M. TSYAFIUDDIN II Istana Alwatzikhoebillah Sambas/Robi Syafaringga & Nur Eliza Masjid Agung Jami’ Sultan Muhammad Tsyafiuddin II adalah salah satu masjid tertua di Kalimantan barat, berada di selatan halaman istana yang menghadap ke persimpangan anak sungai Sambas dan terdapat akses dari tepi sungai. Masjid ini dibangun 10 Oktober 1885 oleh Sultan Muhammad Tsyafiuddin II (Sultan Ke-13) atas nazar ibundanya, ratu sabar untuk mendirikan masjid, meskipun sebelumnya pembangunan tempat ibadah sudah ada seperti surau. Sebelum masjid ini didirikan, pada awalnya berupa sebuah surau kecil bekas rumah Sultan Umar Aqamuddin I (Sultan Sambas ke-3) dan hingga akhirnya dibangun ulang menjadi Masjid yang sekarang ini. masjid ini dibangun dari material kayu ulin bekas istana lama sultan Umar Kamaluddin (Sultan Ke-12) di kampung tanjung rengas dan bahan kayu nya dibawa melalui sungai. Fungsi dari masjid ini pada zaman dahulu ialah tempat penyelesaian masalah hukum, pencatatan nikah, talak, rujuk, lembaga pengumpul zakat fitrah dan sedekah serta tempat pengajaran agama islam oleh para ulama, khatib, imam, dan mufti kesultanan sehingga penyebaran agama islam meluas diwilayah kesultanan sambas Masjid ini berdiri di atas lahan seluas 60 x 40 m bergaya khas arsitektur melayu dengan bentuk rumah panggung untuk menghindari banjir, mengingat letak masjid yang barhadapan dengan sungai. Secara Arsitektural, Masjid Jami’ Kesultanan Sambas berbentuk denah bujur sangkar, terdiri atas 2 lantai dengan akses pintu dan jendela yang terbilang banyak. Atap bertingkat 4 dengan kubah segi empat dan stupa mengerucut di atasnya, terdapat 2 buah Menara di kiri-kanan mihrab dengan atap yang sama. Material yang digunakan hampir 100% menggunakan kayu ulin, baik itu tiang, lantai, dinding, dan atapnya walaupun pada tahun 1975 dilakukan renovasi pada bagian tiang-tiang penyangga masjid yang dibungkus dengan beton akibat pelapukan. Semua dinding di cat berwarna kuning lalu atap sirap dan pagar kolong yang berwarna coklat kehitaman serta lis hijau pada kusen pintu/jendela. Arsitekturnya dipengaruhi oleh Gaya Arsitektur Thailand yang jika dilihat dari atapnya menyerupai pagoda, hal ini dibuktikan dengan ramainya pedagang dan ulama dari Pattani yang singgah di Kesultanan Sambas seperti Syeikh Abdul Jalil Al-Fatani dan Syeikh Daud Al-Fatani.
3 4 Gambar atas: T. Atas Area Belakang Gambar bawah: Denah Istana 4 3 5 6 7 21 Keterangan : 1. Gerbang Penjaga 2. Istana Sultan 3. Penampungan Air 4. Rumah Mandi 5. Rumah Mesin 6. Pendopo Belakang 7. Kolam Telaga S U TB AREA BELAKANG KOMPLEK ISTANA Area Belakang Komplek Istana memuat beberapa bangunan seperti Gerbang Penjaga, Istana Sultan, Penampungan Air, Rumah Mandi, Rumah Mesin, Pendopo Belakang & Kolam Telaga yang dimana semua bangunan tersebut terpisah dan dihubungkan oleh sirkulasi jalan kecil serta memiliki hierarki atas fungsi-fungsi bangunan yang berbeda. Pada area ini didominasi oleh bangunan istana sultan yang memang memiliki fungsi primer sebagai tempat tinggal sultan dan para petinggi istana. Ditinjau dari segi pola ruang geometris, area ini diisi oleh massa bangunan yang saling terpisah dengan ketinggian dan pola bentuk yang berbeda serta pohon/tanaman sebagai objek ukuran dan pelingkup ketinggian antar massa bangunan sehingga ruang bentuk yang tercipta pada area ini yaitu memanjang, tersebar, luas, sempit, rendah & tinggi suatu objek pengisi area. Ditinjau dari segi pola ruang fungsional, area ini memuat 4 jenis kegiatan yang berlaku yaitu kegiatan keamanan pada bangunan gerbang penjaga, kegiatan tempat tinggal pada bangunan istana sultan, kegiatan servis penunjang pada rumah mandi dan penampungan air serta rumah mesin, dan kegiatan bermain/bersantai pada bangunan pendopo belakang dan kolam telaga. Masing-masing kegiatan terjadi pada zona tertentu dan berlaku bagi penghuni tertentu seperti kegiatan penjagaan oleh prajurit istana, bangunan istana sebagai rumah sultan, rumah listrik dan bak air untuk utilitas penunjang, dan tempat bermain anak-anak sultan di area kolam & pendopo belakang. Bangunan Istana merupakan bangunan utama di area ini dengan beragam aktivitas yang terjadi didalamnya dan individu/penghuni yang terdiri atas keluarga & penjaga sultan. Bangunan ini terdiri atas 3 bangunan yang terpisah dan dihubungkan oleh jalan atau selasar dengan fungsi bangunan yang berbeda-beda. Bangunan tengah pada istana ada ruang balairung seri, kamar sultan, kamar permaisuri, kamar putra mahkota, 2 buah kamar putri, dan ruang tengah yang kesemuanya dihubungkan oleh koridor tengah. Bangunan ini hanya diisi oleh keluarga dekat sultan. Di bangunan kiri terdapat ruang kantor, ruang pavilium, dapur, kamar mandi dan ruang duduk belakang. Bangunan ini khusus sebagai tempat kerja sultan dan makan keluarga. Pada bangunan kanan terdapat ruang peninggalan benda pusaka, ruang pavilium yang dahulunya tempat para penjaga, kamar mandi, dan garasi. Bangunan ini dikhususkan sebagai tempat penyimpanan pusaka dan kendaraan sultan. Istana Alwatzikhoebillah Sambas/Robi Syafaringga & Nur Eliza
3 4 Gambar atas: Fasad 1 Gambar bawah: Fasad 2 ISTANA ALWATZIKHOEBILLAH SAMBAS Istana Alwatzikhoebillah adalah Istana Kesultanan Sambas, makna kata Alwatzikhoebillah berarti berpegang teguh pada tali agama Allah Swt. Dibagian atas atap serambi depan terdapat lambang kesultanan sambas yang memiliki makna filosofi, yaitu Bintang tiga belas dan di tengahnya terdapat tulisan angka 9 bermakna bahwa istana ini dibuat oleh sultan ke-13 dari garis pemerintahan dan sultan ke-9 dari garis keturunan. Selain itu, dua buah Elang laut yang bermakna kesultanan sambas pernah memiliki armada laut yang kuat dibawah pimpinan Pangeran Anom. Secara Arsitektural, istana ini terdiri atas 3 buah bangunan yaitu bangunan utama berada di tengah dan 2 buah bangunan pendamping di sebelah kiri-kanan bangunan utama. Pada bangunan utama, bentuknya memanjang jika dilihat dari denah, begitu juga bangunan pendamping sehingga pola lajur atap yang terdiri atas 2 tingkat atap terlihat jelas mengikuti bentuk denah. Atap pada ruang balairung seri bangunan utama berbentuk potong kawat dengan lobang angin di kiri-kanan atapnya, begitu juga pada atap bangunan pendamping. Bentuk atap ini identik sekali di wilayah kesultanan sambas bahkan di kawasan negeri melayu lainnya. Hal ini dimungkinkan dari pengaruh persebaran pedagang dan hubungan antar kerajaan yang tidak menutup kemungkinan terjadinya pertukaran budaya. Dari segi material pada bangunan yaitu menggunakan kayu ulin pada tiang, pagar, lantai, pintu/jendela, dan atapnya. Lain halnya dinding yang menggunakan beton. Disini pada bagian bawah bangunan ditutup dengan papan kayu, sama halnya dengan masjid jami yang juga menggunakan papan untuk menutup kolong bawah bangunan agar tidak mudah dimasuki hewan liar. Warna kuning pada dinding dan tiang istana melambangkan citra kegemilangan bangsa melayu pada zaman dahulu yang hanya boleh dipakai oleh sultan. Talangan air dialirkan dari atap ke penampungan air hujan di bawahnya yang biasa nya digunakan untuk cuci kaki sebelum menaiki istana. Ketiga bangunan ini dihubungkan oleh jalan kecil dengan atap diatasnya dan selasar belakang yang berlantai papan sehingga istana yang terlihat berbeda massa bangunan tetapi sebenarnya menyatu dengan fungsi bangunan yang saling menunjang dan terikat satu sama lain. Istana Alwatzikhoebillah Sambas/Robi Syafaringga & Nur Eliza
3 4 Ditengah halaman Istana terdapat bundaran sebagai tempat peletakan 4 buah Meriam peninggalan inggris yang pernah menyerang kesultanan sambas. Disitu juga terdapat tiang bendera yang dibangun pada tahun 1935 oleh Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Tsyafiuddin (Sultan Ke-15). Tiang bendera terbuat dari kayu resak padi yang merupakan kayu kelas dua di ambil dari pedalaman gunung senujuh. Disebelah utara halaman istana dekat paseban sebelah kiri terdapat 2 buah pohon kayu putih sebagai lambang perdamaian antara Sultan Sambas dengan Suku Dayak Sungkung di Serawak. Pohon ini merupakan tanaman endemik suku Dayak sungkung, ditanam oleh Panglima Daud dan Panglima Bahran atas perintah Sultan Muhammad Tsyafiuddin II pada Tahun 1883. Tiang utama ditopang oleh 4 buah tiang disebut Citre yang bermakna 4 orang petinggi bertugas membantu Wazir bergelar pangeran Laksamana, Pangeran Cakra Negara, Pangeran Paku Negara, dan Pangeran Amar Diraja. Diatasnya terdapat 2 buah tiang pengikat sebagai perlambangan 2 orang Wazir bergelar Pangeran Bendahara Sri Maharaja yang mengatur urusan perbendaharaan negeri dan Pangeran Temenggung Jaya Kesuma yang mengatur urusan dalam negeri. Istana Alwatzikhoebillah Sambas/Robi Syafaringga & Nur Eliza
3 4 Kolam Telaga belakang istana digunakan sebagai tempat mandi dan bermain putri sultan zaman dahulu. Sekarang kolam tersebut digunakan sebagai sumber air untuk keperluan sehari-hari bagi masyarakat sekitar istana. Konon ceritanya kolam ini terhubung dengan muare ulakan di depannya yang dapat dibuktikan dengan kesamaan ketinggian air dan pengaruh pasang-surut air sungai terhadap kolam . Paseban adalah 2 buah bangunan di sebelah kiri dan kanan sebelum gerbang dalam istana, berlantai satu dibatasi dengan pagar menyilang tanpa dinding luar serta bentuk atap yang menyerupai atap istana. Pada zaman dahulu, Paseban digunakan sebagai tempat istirahat tamu dan melihat pertunjukan seni budaya di halaman istana. Sekarang paseban kiri digunakan sebagai tempat berjualan makanan khas sambas dan paseban kanan sebagai tempat menyimpan bedug. Istana Alwatzikhoebillah Sambas/Robi Syafaringga & Nur Eliza
3 4 Kamar Sultan merupakan tempat pribadi sultan dan hanya terdapat dua akses pintu masuk, yaitu dari kamar permaisuri dan dari Lorong tengah. Di dalam kamar ini terdapat ranjang berkelambu kuning, beragam alat perhiasan dan barang peninggalan seperti pakaian Sultan, Pedang, Pakaian adat Sambas, dan Payung kuning. Kamar ini dipasang tirai berwarna kuning di sekeliling dinding kamar. Balairung Seri merupakan tempat bermufakat antara sultan dan para petinggi istana pada zaman dahulu untuk membincangkan suatu masalah. Sekarang balairung seri digunakan sebagai tempat menerima tamu, musyawarah kerabat istana dan tempat penyelenggaraan suatu acara. Ruang ini menyimpan berbagai peninggalan kesultanan seperti 4 buah cermin besar, Vase Keramik, Foto-foto Lama,dan Lambang Kesultanan pada era Sultan Ke-13 dan Sultan Ke-15, Istana Alwatzikhoebillah Sambas/Robi Syafaringga & Nur Eliza
3 4 Istana Alwatzikhoebillah sekarang digunakan sebagai tempat rekreasi dan wisata budaya, acara pernikahan, tausiyah keagamaan, dan pusat penyelenggaraan event kebudayaan di sambas seperti tandak sambas, zikir maulid, besaprah, sampan bidar dan lain-lain. Selain itu juga turut andil pemerintah daerah, kerabat kesultanan dan masyarakat dalam menjaga dan melestarikan keberadaan istana. Sekarang Pemerintah Daerah dan Kerabat Kesultanan Sambas sedang bersinergi dalam pembangunan Waterfront di depan komplek Istana guna memperindah kawasan Istana Alwatzikhoebillah dan menarik minat masyarakat luar daerah di sektor pariwisata serta memberikan citra positif terhadap Kota Sambas sebagai kota yang berbudaya. Istana Alwatzikhoebillah Sambas/Robi Syafaringga & Nur Eliza
References Fitriyanto, A. Wijono, D. Kurniawan, H. (2021). Arsitektur Ruang Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas Kalimantan Barat. Gewang, 3(1), 7–12. Murtadlo, M. (2014). Masjid Kraton Sambas dalam Konstelasi Pembaharuan Islam di Kalimantan Barat. Jurnal Lektur Keagamaan, 12(1), 207-234. Lamazi. (2015). KOSMOLOGI MELAYU: Studi Pada Arsitektur Masjid Kesultanan Sambas. Jurnal Khatulistiwa – Journal Of Islamic Studies, 5(1), 50-59. Kartika. Rusiadi. (2021). PERKAWINAN ELIT ISTANA DI SAMBAS DAN PERUBAHAN LAINNYA PADA ABAD XX. JURNAL SAMBAS (Studi Agama, Masyarakat, Budaya, Adat, Sejarah), 3(2), 157-171. Uray Fery Andi. Irwin. (2022). Tipologi Bentuk Arsitektur Masjid-Masjid Tradisional Di Pesisir Utara Kalimantan Barat. Langkau Betang: Jurnal Arsitektur, 9(1), 85-99 Fahreza, A. Sudaryono. (2018). Semiotic Study On The Elements Of Architectural Spaces In The Compound Of Istana Alwatzikhoebillah Sambas (Case Study: Istana Kesultanan Islam Sambas, Kalimantan Barat). ARCHITECTURAL RESEARCH AND DESIGN STUDIES (hlm.37-39). Department of Architecture and Planning, Faculty of Engineering,Gadjah Mada University. Kemendikbud Dirjen Kebudayaan. (2021). LAPORAN KAJIAN FASILITAS PEMANFAATAN CAGAR BUDAYA DIPELIHARA: Studi Kasus Kabupaten Mempawah dan Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Musa, P. (2003) Sejarah Kesultanan Sambas Kalimantan Barat: Kajian Naskah Asal Raja-Raja Sambas dan Silsilah kerajaan Sambas, Pontianak: STAIN Press Uray Riza Fahmi (2021) SELAYANG PANDANG KERAJAAN ISLAM SAMBAS. Sambas: Istana Alwatzikhoebillah Yusof H. (2020). Raudhatus Salatin: Sultan-Sultan Soleh Di Alam Melayu. PENERBIT ALAMI SDN BHD 3 4Istana Alwatzikhoebillah Sambas/Robi Syafaringga & Nur Eliza