The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku Pegangan Pengajar Katekisasi revisi 040821

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by daniel.agustinus81, 2021-08-23 02:39:03

Buku Pegangan Pengajar Katekisasi revisi 040821

Buku Pegangan Pengajar Katekisasi revisi 040821

b. Kita harus mengingat panggilan dan keselamatan yang diberikan oleh Tuhan. Kita perlu
mengingat pengorbanan Kristus di kayu salib untuk menebus dosa kita setiap kali kita turut serta
dalam perjamuan kudus dan melakukannya dengan taat dan penuh kasih.
c. Kita harus mengikuti perjamuan kudus dengan hati yang suci.
Sebelum menerima roti dan cawan perjamuan kudus, kita perlu menguji/mengintrospeksi hati dan
pikiran kita, memohon pengampunan Tuhan atas dosa yang kita sadari maupun tidak kita sadari.
d. Kita harus mengikuti perjamuan kudus dengan sikap hormat dan hikmat.
Kita mengakui bahwa roti dan anggur yang diterima adalah simbol dari tubuh dan darah Kristus [1
Kor 11:27-29], yang dengan penderitaan telah dikorbankan di atas kayu salib bagi penebusan dosa
kita. Jika kita tidak mengakui pengorbanan Kristus dalam hati dan pikiran kita ketika mengambil
bagian dalam perjamuan kudus, maka berarti kita tidak menghargai pengorbanan Tuhan yang
mulia.
e. Kita perlu mengintrospeksi diri kita dalam hal hubungan kita dengan Tuhan dan sesama.
Kita perlu memiliki hati yang terbuka di hadapan Tuhan, agar melalui perjamuan kudus dan
pemberitaan firman Tuhan, kita diberi kekuatan rohani yang baru untuk menjalani hidup dengan
takut akan Tuhan.
Mengingat tujuan dari masing-masing sakramen ini, maka Sakramen Baptisan dilakukan hanya
satu kali seumur hidup sedangkan Sakramen Perjamuan Kudus dilakukan secara berulangkali
sampai akhir hidup kita.

• Bagaimana baptisan dan perjamuan kudus dapat mengingatkan Anda akan kasih Kristus?
• Apakah Anda setuju bahwa baptisan dan perjamuan kudus dapat menyelamatkan Anda dari kuasa dosa atau

dari hidup yang miskin, tidak sukses dan malapetaka di dunia? Mengapa?
• Sebutkan hakikat dari Sakramen Perjamuan Kudus dan sebutkan sikap-sikap yang benar dalam mengikuti

Sakramen Perjamuan Kudus ini!

LOOK

Siapkan satu lembar untuk masing-masing peserta yang berisi:

51 | Buku Pegangan Katekisasi Baptisan

Kata “Sakramen” (sacramentum) berarti:
1._____________________________________________________________
2._____________________________________________________________
Ada dua bentuk sakramen:
______________________________________________________________ dan
_________________________________________________
Keduanya harus dilakukan untuk:
1.______________________________________________________________
2.______________________________________________________________

TOOK

Ketika seorang gadis yang bernama Frances Ridley Havergal melihat sebuah gambar Yesus tersalib
dengan kata-kata dibawahnya: “Aku melakukan hal ini untukmu, apa yang kau perbuat bagi-Ku?”
Maka segera ia menulis sebuah sajak. Tetapi ia tidak puas dengan sajaknya dan dilemparkan di
dalam perapian. Ternyata kertas sajak itu tidak terbakar! Kemudian atas anjuran ayahnya, ia
menerbitkan sajak itu dan menyanyikannya. Lagu buku Kidung Puji-Pujian Kristen 399, I Gave My
Live for Thee, syairnya sebagai berikut:
“Nyawaku Ku dibrikan, darah-Ku tercurah,
Kau dapat tebusan, dari mati bangkitlah.
Nyawa Ku dibrikan bagimu, apa kau bri padaKu?”
Renungkan kembali bagaimana Kristus menyelamatkan Anda dari kuasa dosa dengan
mengorbankan Diri-Nya demi keselamatan kekal Anda. Sebagai respon, ambilah komitmen untuk
sungguh-sungguh hidup bagi Dia! Tuliskan komitmen konkrit tersebut dalam kotak kosong berikut
ini (sambil diiringi lagu tersebut dalam versi instrumental):

52 | Buku Pegangan Katekisasi Baptisan

BAB 9

IBADAH KRISTIANI

Mengajarkan tentang pemahaman yang benar dari ibadah Kristiani, khususnya yang berkaitan
dengan kebaktian minggu dan persembahan.

HOOK

Tayangkan beberapa cuplikan tentang pelaksanaan kebaktian hari Minggu dari 2 sampai 4 model
ibadah (salah satunya GII). Tanyakan kepada tiap peserta, model ibadah mana yang paling pas
dengan pribadi Anda? (1 atau 2 atau 3 atau 4). Tanyakan, menurut Anda apakah model ibadah
lebih penting daripada esensinya? Jelaskanlah!

BOOK

A. PENGERTIAN TENTANG IBADAH KRISTIANI
Ibadah Kristiani (ibadah yang dilakukan umat Kristiani) sebenarnya tidak hanya mencakup
kebaktian pada hari Minggu di gereja. Dalam pengertian yang luas, ibadah Kristiani mencakup
kebaktian, pelayanan, persembahan dan kehidupan sehari-hari. Sesungguhnya kekristenan tidak
dapat dipisahkan dari ibadah. Dalam kekristenan, tanpa ibadah setiap orang Kristen akan
kehilangan jati diri atau hakikatnya, karena panggilan gereja [umat Kristiani] pada hakikatnya
adalah untuk beribadah kepada Allah.
Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan ibadah Kristiani itu? Ibadah berkaitan dengan relasi
antara Allah dengan umat-Nya. Relasi ini dimulai dengan Allah yang berinisiatif untuk menyatakan
diri kepada umat-Nya, kemudian umat-Nya merespon. Ibadah adalah respon manusia terhadap
penyataan Allah. Di dalam Alkitab, pola penyataan dan respon ini merupakan karakteristik relasi
antara Allah dan manusia [contoh: Kej 12:1-8, Kel 19:3-8, Maz 95:1-7, 2 Kor 1:20, Ibr 2:11-12]. Prinsip ini
terjadi di dalam ibadah secara pribadi, maupun ibadah secara komunal atau bersama dengan
orang-orang percaya lainnya.
Ibadah Kristiani mencakup semua aktivitas, perbuatan/tindakan dan ekspresi hidup yang
memuliakan Allah, yang mengungkapkan kasih dan hormat kepadaNya, serta yang memperkenan
hati-Nya. Jadi, ibadah Kristiani mencakup seluruh aspek dalam kehidupan kita, dimana totalitas
kehidupan kita adalah bagi kemuliaan Allah.
B. KEBAKTIAN MINGGU
Kebaktian Minggu merupakan ibadah komunal yang diselenggarakan pada hari Minggu oleh suatu
gereja bagi jemaatnya pada khususnya dan bagi umat Kristiani pada umumnya. Kebaktian Minggu
merupakan penyataan Allah kepada umat-Nya melalui pembacaan dan pemberitaan Firman Tuhan
(khotbah) dan respon pujian, hormat dan syukur umat Allah secara komunal di dalam bentuk

53 | Buku Pegangan Katekisasi Baptisan

nyanyian, doa, dan persembahan. Ini semua dilakukan secara tertib dan formal (menurut liturgi
kebaktian).

•Mengapa hari Minggu?
Hampir semua gereja dan umat Kristiani (secara universal)—termasuk GII—melaksanakan
kebaktian pada hari Minggu. Alasannya ialah karena para Rasul dan gereja mula-mula
melaksanakan kebaktian pada hari Minggu (hari pertama, tidak seperti Gereja Advent Hari
Ketujuh, yang melaksanakan kebaktian pada hari Sabtu, sebagai hari Sabat/hari ketujuh), sebagai
hari kebangkitan Kristus dan hari kemenangan-Nya [1 Kor 16:2].

•Mengapa kita berbakti?
Karena kebaktian adalah ibadah secara komunal, maka kebaktian merupakan keharusan (kecuali
berhalangan berat) bagi setiap orang Kristen. Tidak ada alasan bagi kita (kecuali berhalangan berat)
untuk tidak kebaktian, baik alasan suasana/warna kebaktian atau khotbahnya, maupun alasan
kesibukan. Allah memberi kita satu hari 24 jam, 12 jam anggap saja kita pakai untuk tidur/istirahat.
Ini berarti bahwa waktu efektif yang kita gunakan untuk aktivitas kita (kerja, makan, bepergian,
nonton televisi, dll.) adalah 12 x 7 = 84 jam. Adalah tidak logis dan tidak wajar, jika kita tidak dapat
memprioritaskan waktu 2 jam dari 84 jam untuk Tuhan dalam wujud berbakti kepadaNya di gereja.
Dari 84 jam, 2 jam (kebaktian + perjalanan pergi dan pulang) secara perbandingan berarti 1
banding 42; secara prosentase berarti hanya 2,3 %.

Di samping itu, kebaktian juga harus dilihat sebagai persekutuan kita dengan Tuhan dan saudara-
saudara seiman kita. Melalui persekutuan ini kita mendekatkan diri kepada Tuhan dan saudara-
saudara seiman, agar kita memperoleh kekuatan rohani. Tanpa kekuatan rohani, kita tidak
mungkin kuat dalam menghadapi segala pengaruh kehidupan dunia dan bujukan Iblis, yang
senantiasa ingin menghancurkan kita sebagai anak-anak Allah.

•Mengapa kita memberi persembahan?
Persembahan dalam kebaktian Minggu merupakan bagian dari ibadah yang kita lakukan.
Persembahan merupakan respon ungkapan syukur kita kepada Allah, yang telah memenuhi segala
kebutuhan kita, bahkan telah memberi kita berkat yang berkelimpahan. Karena itu, persembahan
yang kita berikan haruslah berdasarkan atau disertai rasa syukur kepada Tuhan.

•Mengapa kita bernyanyi?
Bernyanyi dalam kebaktian merupakan ekspresi respon kita untuk memuliakan Allah melalui puji-
pujian. Puji-pujian yang kita nyanyikan bisa menyatakan syukur dan mengagungkan Allah
Tritunggal atas anugerah-Nya, karya-Nya atau bisa juga untuk memohon pertolongan, kekuatan
dan penghiburan-Nya. Puji-pujian dalam kebaktian harus dinyanyikan dengan segenap hati dan
penuh penghayatan.

•Mengapa kita harus mendengar khotbah?
Khotbah dalam kebaktian merupakan pemberitaan tentang kebenaran firman Tuhan yang
dipersiapkan dengan pertolongan dan pimpinan Tuhan oleh seorang hamba Allah untuk
disampaikan dan dijelaskan kepada jemaat. Tujuan khotbah adalah agar jemaat memahami dan

54 | Buku Pegangan Katekisasi Baptisan

memperoleh berkat dari kebenaran firman Tuhan, serta membawa jemaat semakin kuat dan
dewasa secara rohani. Dengan khotbah, jemaat diperkaya dengan kebenaran firman Tuhan dan
prinsip-prinsip rohani. Isi khotbah dapat berupa kesaksian tentang kebesaran Allah dan anugerah-
Nya, kehendak dan rencana-Nya, teguran/nasihat atau penghiburan/kekuatan, prinsip-prinsip
moral/etis Kristiani, atau juga tentang keselamatan dalam Yesus Kristus.

•Mengapa kita harus mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli?
Pengucapan Pengakuan Iman Rasuli bertujuan untuk mengajak jemaat mengingat akan iman dan
pengharapan yang agung dan mulia. Dengan mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli, jemaat juga
diajak melihat bahwa mereka adalah bagian dari Gereja Tuhan dari seluruh abad dan tempat, yang
memiliki keyakinan iman yang sama.

•Mengapa kita berdoa syafaat?
Doa syafaat merupakan doa perantara. Karena kebaktian juga merupakan persekutuan orang-
orang percaya, maka dalam kebersamaan dan kesehatian dengan saudara-saudara seiman jemaat
berdoa syafaat. Dalam doa syafaat jemaat yang hadir dalam kebaktian menjadi juru doa bagi
kepentingan orang lain atau pihak lain, seperti bangsa/negara/pemerintah, anggota keluarga,
saudara-saudara seiman, dll. Dalam kebaktian, jemaat sebagai umat Kristiani diajak untuk
memperdulikan orang lain dalam doa. Jadi, doa syafaat merupakan wujud kasih dan harapan kita
bagi kebaikan orang atau pihak lain.

C. PERSEMBAHAN
Persembahan pada hakikatnya merupakan pemberian sesuatu yang mulia (umumnya berwujud
uang) kepada Allah. Persembahan yang kita berikan tentu saja tidak diberikan langsung kepada
Allah, tetapi diberikan melalui gereja dan dikelola oleh gereja atau orang-orang yang bertanggung
jawab kepada Allah. Hal ini tidak berarti bahwa persembahan itu semata-mata hanya diberikan
kepada gereja/lembaga manusia. Persembahan adalah perbuatan rohani (yaitu ibadah), sehingga
persembahan harus dinilai dan dilakukan (dengan motivasi) secara rohani (1 Pet 2:5). Secara
rohani, uang tersebut sebenarnya dipersembahkan kepada Allah dan bagi kemuliaan Allah.
Dengan memberikan sesuatu atau uang persembahan, berarti kita mengungkapkan syukur kepada
Allah dan kasih kepada saudara-saudara seiman atau orang lain yang membutuhkan bantuan. Ada
beberapa macam persembahan yang perlu kita pahami.

1. Persembahan Persepuluhan.
Persembahan persepuluhan merupakan persembahan yang kita berikan kepada Allah dari setiap
penghasilan yang kita dapatkan, baik berupa honorarium/gaji atau keuntungan dari usaha kita.

a. Mengapa kita memberi persepuluhan?
Dalam PB persembahan persepuluhan memang tidak ditegaskan dengan jelas. Lalu, bagaimanakah
sepatutnya kita melihat persembahan persepuluhan ini? Persembahan persepuluhan patut dilihat
sebagai keharusan (obligation) bagi setiap orang Kristen, karena persepuluhan merupakan prinsip
persepuluhan yang sudah ada dan sudah dipraktikkan sebelum hukum Taurat diberikan melalui
Musa. Misalnya, Abraham dan Yakub, bapak leluhur umat Israel sudah mengenal dan menjalankan
prinsip ini [Kej 14:20; Ibr 7:4,6; 28:20-22]. Hal ini menunjukkan bahwa persepuluhan bukan hanya

55 | Buku Pegangan Katekisasi Baptisan

sekedar peraturan PL (Taurat) yang hanya berlaku bagi umat Israel, sebab sebelum peraturan PL
(Taurat) ada, prinsip/praktek persepuluhan sudah menjadi kebiasaan yang berlaku. Dari manakah
bapak leluhur umat Israel seperti Abraham dan Yakub, mengenal prinsip persepuluhan ini?
Kemungkinan prinsip yang mereka tetapkan berasal dari wahyu Allah kepada Adam.
Jika prinsip/praktik persepuluhan sudah ada sebelum peraturan PL (Taurat) dan bangsa Israel ada,
maka ini berarti bahwa ada atau tidak adanya atau berlaku dan tidaknya prinsip persepuluhan
tidak ditentukan oleh masih berlaku atau tidaknya hukum Taurat (peraturan-peraturan PL). Jadi,
persepuluhan tidak bersifat kondisional (tergantung pada berlakunya hukum PL) dan sementara,
tetapi bersifat tidak kondisional dan permanen. Prinsip/peraturan persepuluhan adalah keharusan
dan tanggung jawab moral (obligation) kepada Allah yang masih berlaku hingga sekarang.
b. Apakah makna dan tujuan persepuluhan?
Suatu prinsip atau peraturan moral yang Allah kehendaki berlaku dalam kehidupan kita, pasti
mempunyai makna dan tujuannya. Demikian juga halnya dengan prinsip/peraturan persepuluhan.
(1). Perlu kita sadari bahwa persepuluhan bukanlah persembahan sukarela kepada Allah. Kalau
dikatakan persembahan sukarela, maka persepuluhan boleh dijalankan dan boleh juga tidak.
Persepuluhan pada hakikatnya adalah hak dan kepunyaan Allah atas apa yang kita peroleh dari
usaha dan pekerjaan kita. Jika memperhatikan dan berpikir secara akal sehat (common sense), kita
dapat hidup karena karunia Allah. Hidup dan pekerjaan kita di atas bumi/alam ini adalah
kepunyaan Allah. Maka dari itu, adalah tanggung jawab moral kita (memberi persepuluhan)
kepada Sang Pemberi karunia kehidupan, Yang Empunya dan Pencipta bumi/alam ini.
Persepuluhan pada hakikatnya adalah hak (“pajak”) dan kepunyaan Allah. Itu sebabnya, Allah
menyebut sikap bangsa Israel yang tidak memberi persepuluhan sebagai menipu Allah [Mal 3:8-9].
(2). Persepuluhan merupakan persembahan yang mencerminkan relasi kita yang konkret dengan
Allah. Selain itu, kita juga mengakui Dia sebagai Tuhan (Tuan) yang berotoritas atas totalitas diri
kita dan segala yang kita miliki.
(3). Karena hidup yang kita miliki adalah karunia Tuhan dan kita hidup dalam alam ciptaan-Nya,
bahkan kita telah menikmati hidup dalam anugerah-Nya, maka persepuluhan yang kita sisihkan
untuk Tuhan merupakan bagian yang proporsional. Allah tidak menetapkan seperlima atau
seperduapuluh, tapi sepersepuluh, karena sepersepuluh adalah suatu bagian yang proporsional
dan wajar bagi Tuhan.
(4). Tujuan atau motivasi kita dalam memberikan persepuluhan bukan (dan tidak boleh) untuk
mengharapkan berkat dari Allah. Sekalipun Allah berkata: “Bawalah seluruh persembahan
persepuluhan,. . .ujilah Aku,. . ., apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan
mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan” [Mal 3:10]. Allah adalah Allah yang murah
hati (penuh kebaikan), tetapi Ia juga adalah Allah yang memiliki kedaulatan, sehingga Ia berdaulat
untuk mencurahkan berkat dan juga berdaulat untuk tidak mencurahkan berkat.

56 | Buku Pegangan Katekisasi Baptisan

2. Persembahan Diakonia
Sesuai dengan arti diakonia, yaitu “pelayanan,” persembahan diakonia merupakan persembahan
yang ditujukan bagi saudara-saudara seiman yang kekurangan atau membutuhkan bantuan.

a. Mengapa kita memberi persembahan diakonia?
Persembahan diakonia pada hakikatnya merupakan wujud kepedulian sosial kita (gereja) kepada
saudara-saudara seiman (anggota gereja) yang kekurangan atau membutuhkan bantuan finansial.
Kita perlu menyadari bahwa dari sekian banyak anggota gereja, ada di antara mereka yang sudah
tua dan tidak mempunyai sanak-keluarga yang dapat menunjang kehidupan mereka; ada juga yang
sudah janda, yang harus menunjang kebutuhan anak-anaknya; ada juga yang sakit berat tetapi
penghasilan dan kemampuan finansial tidak mencukupi, dll. Sebagai saudara-saudara seiman, kita
harus membantu mereka yang berada dalam kondisi yang demikian. Semua persembahan
diakonia yang diberikan jemaat disalurkan oleh gereja (Unit Pelayanan Diakonia Filadelfia) kepada
saudara-saudara seiman yang membutuhkannya.

b. Apakah makna dan tujuan dari persembahan diakonia?
Persembahan diakonia tidak hanya sekedar wujud kepedulian dan tanggung jawab sosial, secara
rohani persembahan diakonia juga adalah wujud kasih dan pelayanan kita kepada orang-orang
kudus. Oleh sebab itu, persembahan diakonia dapat juga disebut pelayanan kasih. Lebih dari
sekedar kerelaan, partisipasi kita dalam pelayanan ini merupakan suatu hak istimewa/kharis [2 Kor

8:4].

3. Persembahan Iman
Persembahaan iman adalah persembahan yang berdasarkan iman dan tekad/komitmen kita
kepada Tuhan. Dengan iman kita yakin bahwa komitmen kita (yang menjadi tekad kita) pasti akan
terwujud atau terpenuhi sesuai dengan rencana, meskipun untuk sekarang ini belum ada atau
belum terpenuhi seluruhnya. Kita percaya bahwa Tuhan akan mencukupi dan menyediakan apa
yang ingin kita persembahkan kepadaNya dengan tulus hati.

Di gereja kita, jemaat setiap tahun diajak untuk bertekad/berkomitmen dalam memberikan
persembahan iman bagi pekerjaan Tuhan dalam rangka misi penginjilan. Misi penginjilan
merupakan tugas gereja dan tugas kita bersama. Karena itu, kita sebagai anggota jemaat patut
mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan ini. Dengan persembahan iman dalam misi penginjilan
ini, kita beriman dan bertekad/berkomitmen untuk mempersembahkan uang atau sesuatu kepada
Tuhan bagi pekerjaan-Nya dalam rangka misi penginjilan yang dilakukan oleh gereja.

4. Persembahan Syukur
Orang Kristiani senantiasa melihat bahwa kemurahan, berkat dan pemeliharaan Allah senantiasa
ada. Seperti yang dikatakan dalam Kitab Ratapan: “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-
habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaanMu” [3:22]. Rasa syukur kita kepada
Allah atas segala hal dalam kehidupan kita adalah sikap rohani yang sangat mulia [bdk. 1 Tes 5:18].
Kita bersyukur atas segala sesuatu yang biasa/lazim dan yang istimewa, atas berkat yang besar dan
yang kecil. Rasa syukur kita kepada Allah dapat kita nyatakan melalui persembahan syukur kita

57 | Buku Pegangan Katekisasi Baptisan

kepadaNya. Kita memberi persembahan syukur karena kita ingin meresponi secara konkrit atas
berkat, kemurahan dan pemeliharaan Tuhan atas hidup kita.

• Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan ibadah Kristiani itu? Diskusikanlah!
• Mengapa orang Kristen harus mengikuti kebaktian hari Minggu?
• Bahaslah tentang hakekat persembahan secara umum!

LOOK

Tegaskan bahwa ibadah Kristiani mencakup totalitas hidup sebagai persembahan yang sejati
(ibadah yang holistik). Browsing di google tentang holistic worship. Laporkan temuan mereka
dalam forum kelas.

TOOK

Ibadah tidak hanya dibatasi sekadar di hari Minggu dalam sebuah kebaktian (ibadah korporat).
Pada hakikatnya ibadah mencakup seluruh kehidupan kita seutuh dan seluruhnya, yaitu 7 x 24 jam
[Rm 12:1]. Dengan demikian, hidup yang seharusnya ditampilkan oleh setiap orang percaya adalah
sebuah ibadah atau penyembahan kepada Allah. Apakah hidup Anda sudah mengekspresikan
sebagai sebuah ibadah kepada Allah? Silahkan Anda mengeceknya dengan men-ceklist ciri-ciri
hidup yang mengekspresikan penyembahan kepada Allah sbb:

o Hidup yang mengejar kekudusan dengan menghidupi firman Allah [1 Ptr 1:15; Yoh 14:15]
o Hidup yang mengutamakan kehendak Allah dalam mengambil setiap keputusan [Mat 6:33]
o Hidup yang dipenuhi dengan syukur dalam segala situasi [1 Tes 5:18; Ef 5:20]
o Hidup yang bergairah untuk kemuliaan Allah dalam melakukan segala sesuatu [Kol 3:23; Flp 1:22]
o Hidup yang memiliki dampak dan menjadi berkat bagi orang lain [Mat 5:13-16; 2 Kor 2:15]

58 | Buku Pegangan Katekisasi Baptisan

BAB 10

PERTUMBUHAN IMAN KRISTIANI

Mengajarkan bahwa kehidupan orang Kristen yang sejati haruslah ditandai dengan terjadinya
pertumbuhan iman yang nyata dan progresif.

HOOK

Sediakan minuman susu murni dengan gelas-gelas kecil untuk siap diminum. Susu murni dapat
divariasikan dengan berbagai rasa untuk menolong mereka yang kurang suka. Sesudah itu
tanyakan kepada peserta “susu murni” adalah simbol apa bagi orang Kristen? Mintalah mereka
sebutkan ayat-ayat pendukung. Dalam hal ini boleh browsing di google!

BOOK

A. HAKIKAT PERTUMBUHAN IMAN
Orang Kristen adalah orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Kepercayaan ini merupakan suatu bentuk tindakan seseorang yang mempercayakan diri
sepenuhnya kepada seorang pribadi yang dipercayai, dalam hal ini adalah Allah dalam diri Yesus
Kristus. Itulah makna utama dari iman. Seorang yang beriman kepada Kristus sesuai dengan janji-
Nya, akan beroleh hidup yang kekal [Yoh 3: 15-16]. Kehidupan kekal adalah hidup baru yang
merupakan sesuatu yang membedakan antara orang Kristen dan non-Kristen.
Kehidupan yang ada dalam diri orang Kristen adalah kehidupan Allah sendiri, karena Roh Allah
tinggal di dalam diri-Nya [1 Kor 3: 16]. Itulah yang disebut iman sebagai kehidupan. Iman seperti ini
pada hakikatnya mengandung potensi pertumbuhan, karena adanya benih kehidupan. Rasul
Petrus dalam suratnya kepada orang-orang Kristen di perantauan mengatakan, “Karena kamu
telah dilahirkan kembali bukan dari kasih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman
Allah yang hidup dan yang kekal” [1 Pet 1: 23]. Orang Kristen yang beriman kepada Kristus memiliki
potensi dan seharusnya bertumbuh. Pertumbuhan merupakan sesuatu yang wajar dan normal.
Setiap benih mengandung kehidupan dan pasti akan bertumbuh seiring dengan berjalannya
waktu.
B. ANALOGI PERTUMBUHAN IMAN: BERAKAR, BERTUMBUH DAN BERBUAH
Pertumbuhan iman orang Kristen digambarkan sebagai suatu pertumbuhan tanaman, dimana
benih kehidupan akan membuat suatu benih tanaman menjadi berakar, bertumbuh dan berbuah.
a. Berakar
Paulus menyerukan: “Hendaklah kamu berakar di dalam Dia” kepada jemaat Kolose, yang
notabene telah menerima Tuhan Yesus Kristus [Kol 2: 6,7]. Dalam seruannya itu, tersirat suatu

59 | Buku Pegangan Katekisasi Baptisan

himbauan agar setiap orang Kristen yang sudah lahir baru pun bertumbuh makin kuat dengan
kedalaman pengenalan akan Yesus dan pemahaman akan segala pengajaran-Nya.

Ibarat tanaman cepat menjadi kering karena tidak berakar secara mendalam, demikian pula halnya
dengan iman Kristiani. Ia akan cepat menjadi layu bahkan terancam mati, kalau tidak dipelihara
dalam persekutuan dengan Kristus sendiri. Agar iman kita tetap tegak, kita harus berdiri di atas
dasar kebenaran firman Tuhan dan pengenalan akan Dia. Dengan demikian iman memperoleh
vitalitas hidup spiritual yang berakar pada Sang Firman itu sendiri.

b. Bertumbuh
Berakar saja tidaklah cukup. Benih yang baik akan menumbuhkan akar ke bawah tanah dan
menumbuhkan tunas ke atas dalam bentuk batang dan daun. Dalam hal ini, jelaslah bahwa orang
Kristen harus bertumbuh, karena Firman Tuhan berkata, ”Tetapi bertumbuhlah dalam kasih
karunia dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus ..." [2 Pet 3:18]. Ayat ini
menyatakan pentingnya orang percaya menuntut diri agar mengalami kemajuan dalam
pengenalan akan Kristus.

Apabila ada orang Kristen yang tidak bertumbuh imannya, mereka tidak akan menjadi orang
Kristen yang beranjak dewasa seperti yang seharusnya [Ef 4:13]. Orang yang belum dewasa dalam
Kristus akan tetap menjadi bayi atau anak-anak yang mudah dipengaruhi oleh pengajaran yang
sesat atau menyimpang, dan menunjukkan ciri-ciri manusia duniawi, seperti iri hati, suka
berselisih, dan suka memihak [Ef 4:14; 1Kor 3:1-9].

c. Berbuah
Tuhan Yesus pernah mengatakan: “Dalam hal inilah BapaKu dipermuliakan, yaitu jika kamu
berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-muridKu.” [Yoh 15:8]. Kalimat ini
menandaskan kerinduan Tuhan agar para pengikut-Nya hidup berbuah bagi kemuliaan Bapa. Allah
menghendaki agar setiap orang percaya tidak sekadar diselamatkan, titik. Dia berharap agar orang
Kristen hidup menghasilkan buah-buah iman yang berlipat ganda secara maksimal [Mat 13:23; Gal
5:22-23]. Bukankah iman tanpa perbuatan adalah mati? Demikian juga hidup Kristen tanpa buah
Roh pada hakikatnya iman tak berarti apa-apa.

Kehidupan yang berbuah bagi Tuhan merupakan hasil atau konsekuensi dari hidup yang berakar
dan terus bertumbuh di dalam Kristus dan kasih karunia-Nya. Dasar dan syarat utama bagi
pertumbuhan iman adalah menyatu dalam persekutuan dan tetap tinggal teguh di dalam Kristus.
Apabila carang tidak melekat pada pokoknya, ia tidak dapat berbuat apa-apa, apalagi
menghasilkan buah [Yoh 15:5].

Tujuan akhir daripada pertumbuhan rohani adalah kedewasaan rohani yang ditandai dengan
kehidupan yang berbuah lebat [Ef 4:13]. Perubahan hidup semakin serupa dengan Kristus menjadi
ciri yang tampak dari kehidupannya [Rm 8:29; 1 Yoh 2:6; Ef 4:12-13].

C. ASPEK-ASPEK PERTUMBUHAN IMAN
a. Aspek personal

60 | Buku Pegangan Katekisasi Baptisan

Pertumbuhan iman orang Kristen secara pribadi haruslah bersifat kontinu. Pertumbuhan pribadi
merupakan keinginan yang terus menerus, karena keinginan yang pudar akan berakibat pada
terhentinya pertumbuhan. Rasul Petrus memerintahkan orang Kristen demikian: “Dan jadilah
sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani,
supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan“ [1Pet 2:2]

Pertumbuhan iman orang Kristen secara terus menerus ini sangat penting, karena orang Kristen
harus bertumbuh tambah kuat, tambah teguh dan tambah taat. Mengapa harus demikian? Karena
orang Kristen sekalipun sudah beroleh hidup kekal, namun masih hidup di dunia yang penuh
dengan segala kejahatan, segala tipu muslihat, segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah.
Dengan pertumbuhan iman, orang Kristen dapat membuang segala hal ini [1 Pet 2:1].

b. Aspek doktrinal
Pertumbuhan iman orang Kristen bertumpu pada pengajaran yang benar yaitu pengajaran para
nabi dan para rasul. Rasul Paulus sangat menekankan pentingnya doktrin yang benar atau
pengajaran yang sehat yang berdasarkan Injil dari Allah [1 Tim 1:10-11]. Sebagai orang yang dipercaya
oleh Allah, Ia menyuruh Timotius untuk menasehati orang-orang yang mengajarkan ajaran yang
salah atau menyesatkan [1 Tim 1:3]. Baik kepada Timotius dan Titus—anak-anak rohani Paulus—
Rasul Paulus memerintahkan mereka untuk mengajarkan ajaran yang benar/sehat seiring dengan
kehidupan yang benar pula [1 Tim 4:16; Tit. 2:1].

Pertumbuhan iman orang Kristen yang bertumpu pada pengajaran yang benar akan menghasilkan
pengetahuan akan kebenaran yang semakin bertambah dalam wujud ibadah atau kesalehan hidup
[Tit. 1:1]. Jika tidak demikian, orang yang tidak bertumbuh secara doktrinal akan dengan mudah
diombang-ambingkan, dikacaukan, dibingungkan oleh rupa-rupa pengajaran dan oleh permainan
palsu manusia dengan kelicikannya yang menyesatkan [Ef 4:14]. Orang seperti ini tidak mempunyai
kemampuan untuk membedakan atau menilai mana yang benar dan mana yang tidak.

Sebab itu, baik Rasul Petrus maupun Rasul Paulus menasihatkan agar orang Kristen bertumbuh
pengetahuannya akan Allah dan akan Kristus [1Pet 3: 18; Kol 1: 10]. Rasul Paulus memerintahkan
jemaat Kolose demikian, “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara
kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan
sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur
kepada Allah di dalam hatimu” [Kol 3: 16].

c. Aspek ministerial
Aspek ministerial adalah aspek pelayanan dari setiap orang Kristen. Aspek ini bersifat hakiki
mengingat statusnya di hadapan Tuhan sebagai imamat. 1 Pet 2:9 berbunyi demikian, “Tetapi
kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah
sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah
memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.“ Ayat ini menunjukkan
bahwa umat pilihan Tuhan terdiri dari imam-imam, bukan dalam pengertian imam Perjanjian Lama
yang dipilih dan diangkat dari keturunan suku Lewi dan secara khusus bertugas melayani umat
Allah di bait suci-Nya. Dalam Perjanjian Baru pun keimaman seperti ini memang masih

61 | Buku Pegangan Katekisasi Baptisan

berlangsung, namun pemahamannya telah mengalami perubahan yang radikal dalam terang Injil.
Sejak Injil diberitakan yaitu Injil Keselamatan Yesus Kristus sebagai Imam Besar Agung, maka peran
imam merupakan peran setiap orang percaya untuk melayani di dunia agar dunia dimenangkan
bagi Dia.

Pelayanan berkaitan erat dengan pertumbuhan iman. Seorang Kristen yang bertumbuh adalah
seorang yang karena imannya telah menghasilkan buah-buah ketaatan dan pelayanan [2 Kor 8:1-15;
1 Tes 1:2-10]. Jadi, setiap orang yang beriman kepada Yesus Kristus patut melayani karena Kristus
telah terlebih dahulu melayani dan memberikan teladan [Mrk 10:45; Yoh 13:15].

d. Aspek disiplinal
Aspek disiplinal merupakan satu aspek yang sangat penting bagi orang percaya yang disebut murid
Kristus. Mengapa demikian? Kata “murid” dalam bahasa Inggris ialah disciple yang mempunyai
akar kata yang sama dengan kata dicipline. Di sini tersirat bahwa seorang murid Kristus adalah
seorang pengikut Kristus yang berdisiplin. Seorang murid wajib memahami pengajaran gurunya
dan meneladani hidup serta karakter gurunya. Pemahaman dan peneladanan tidak akan terwujud
tanpa disiplin yang sungguh-sungguh serius. Disiplin terdiri dari dua macam: disiplin pribadi dan
disiplin secara bersama-sama dengan jemaat Tuhan. Disiplin rohani dapat berbentuk saat teduh,
doa, puasa, berdiam diri, dll.

Ironisnya, ternyata zaman sekarang banyak orang tidak atau kurang mengenal lagi istilah disiplin.
Bahkan ada yang mengatakan bahwa disiplin sudah hilang tidak berbekas. Dalam aspek rohani
pun, ternyata disiplin juga sudah merupakan sesuatu yang asing di telinga atau di dalam kehidupan
generasi yang jarang sekali membaca Alkitab apalagi merenungkannya siang dan malam.

D. WADAH DAN SARANA PERTUMBUHAN IMAN
a. Wadah keluarga
Keluarga merupakan unit kecil dari gereja yang amat efektif bagi penginjilan dimana pertobatan
satu orang telah membawa pertobatan semua anggota keluarga. Contohnya, Kornelius [Kis 10:1-
48], Lidia [Kis 16:13-15], kepala penjara di Filipi [Kis 16:19-34], Krispus [Kis 18:8] dan Stefanus [1 Kor 1:16].
Iman seseorang yang bertumbuh akan membawa buah kesaksian yang hidup bagi sanak keluarga
yang lain. Dalam keluarga Kristen, iman bertumbuh karena adanya hubungan yang saling
menguatkan dan membangun. Timotius adalah seseorang yang beriman sejak kecil dan terus
bertumbuh karena nenek dan ibunya yang saleh [2 Tim 3:14-15].

b. Wadah gereja
Pada saat seseorang bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat,
ia juga menerima baptisan Roh ke dalam satu tubuh yaitu tubuh Kristus, dimana Kristus menjadi
Kepala dan setiap orang percaya menjadi anggotanya. Setiap anggota tubuh Kristus mempunyai
karunia yang berbeda satu dengan yang lainnya, namun saling membutuhkan dan melengkapi,
sehingga kehadiran yang satu mempunyai keterikaitan yang erat dengan yang lain. Hubungan yang
dinamis antar anggota akan berdampak pada pertumbuhan tubuh Kristus/gereja.

62 | Buku Pegangan Katekisasi Baptisan

Masing-masing anggota adalah penting dan bernilai. Sekalipun mungkin ada anggota yang paling
kecil dan lemah, tetap mempunyai sesuatu kontribusi yang berarti dalam partisipasi pembangunan
tubuh. Jadi, dalam hal ini tidak boleh ada anggota yang dianggap sepele/tidak berarti oleh yang
lain atau pun oleh dirinya, sebagai alasan untuk tidak aktif dalam hal saling melayani antar orang
percaya.

Gaya hidup yang diajarkan Tuhan Yesus kepada para murid-Nya ialah gaya hidup komunitas yang
saling melayani. Ia sendiri telah meninggalkan teladan dengan cara membasuh kaki para murid-
Nya. Ia berbuat demikian agar para murid-Nya pun berbuat hal yang sama [Yoh 13: 1-17].

Setelah Kristus naik ke surga, gaya hidup inilah yang diwujudkan di antara para rasul dan yang
mereka ajarkan kepada jemaat:

12:5 Saling memiliki
Roma 12:10 Saling mendahului dalam memberi hormat

Galatia 15:7 Saling menerima
Efesus 5:13 Layanilah seorang akan yang lain karena kasih

Filipi 4:25 Berkata benar seorang dengan yang lain
Kolose 4:32 Ramah seorang terhadap yang lain
4:32 Rendahkan dirimu seorang kepada yang lain
1 Tesalonika 5:21 Saling mengampuni
2:4 Saling memperhatikan
Ibrani
Yakobus 3:13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain
1 Petrus 3:16 Mengajar seorang akan yang lain
1 Yohanes 3:16 Menegur seorang akan yang lain
2 Yohanes 4: 18 Saling menghibur satu dengan yang lain
1 Korintus 5:11 Saling menasihatkan
Galatia 5:11 Saling membangun
5:15 Berbuat baik satu dengan yang lain
Kolose 10:24 Saling mendorong
Yakobus
5:16 Saling mengaku dosa
5:16 Saling mendoakan
4:9 Berilah tumpangan satu terhadap yang lain

1:7 Milikilah persekutuan seorang dengan yang lain
5 Mengasihi satu dengan lain

4:6 Jangan menyombongkan diri satu dengan lain

5:15 Jangan saling menghancurkan / menyingkirkan
5: 26 Jangan saling iri hati/mendengki
5: 26 Jangan saling menantang
3:9 Jangan saling berbohong/berdusta
5:9 Jangan saling bersungut-sungut dan mempersalahkan

Apabila setiap anggota berfungsi menurut karunianya, maka pelayanannya akan memberi andil
bagi pertumbuhan tubuh secara individual dan komunal. Rasul Paulus menasihatkan agar “dengan
teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah

63 | Buku Pegangan Katekisasi Baptisan

Dia, Kristus yang adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, - yang rapi tersusun dan diikat
menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota
menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih” [Ef 4:15-16].

Dalam konteks komunitas yang lebih sempit, Care Group (Sebutan unik kelompok kecil yang
berlaku di GII Hok Im Tong) menjadi wadah yang sangat menunjang bagi terciptanya pertumbuhan
rohani. Setiap anggota memiliki komitmen yang sama untuk menempuh perjalanan rohani yang
sama, yaitu masuk dalam proses menjadi murid Kristus. Dalam Care Group terjadi kesalingan yang
membangun, yaitu melalui saling melayani, menguatkan, mengenal, memperhatikan, mendoakan,
mengasihi, satu dengan yang lain dalam jalinan relasi yang intim dan penuh keterbukaan. Hal ini
ditunjang pula dan menjadi yang utama, dimana setiap anggota belajar untuk menaati firman
Tuhan. Sebagaimana murid Kristus dipanggil Tuhan untuk belajar mengerti dan melakukan segala
sesuatu yang Tuhan ajarkan (bukan sekadar mengetahui) secara riil di dalam kehidupan sehari-
hari [Mat 28: 20].
c. Wadah masyarakat luas (dunia).
Sebatang besi tidak akan menjadi tajam jika tidak ditempa, sebatang pohon tidak akan berakar
kuat jika tidak diterpa angin, demikian pula seorang Kristen tidak akan bertumbuh tanpa
mengalami didikan, disiplin, dan dinamika hidup yang riil. Sekalipun orang percaya sudah dipanggil
keluar dari kegelapan dunia ini, namun tetap hidup dalam dunia. Yesus berkata bahwa murid-
murid-Nya tidak berasal dari dunia, namun diutus ke dalam dunia untuk memberikan kesaksian
hidup yang nyata agar dunia dimenangkan [lihat Yoh 17:18; Kis 1:8; Mat 28:19-20]. Dengan mengalami
banyak pencobaan, godaan, dan penderitaan di dunia [1 Kor 10:13; Yak 1:2-3; 1Pet 1:6], kita teruji dalam
iman dan bertumbuh, bahkan Tuhan sendiri akan mendisiplin kita supaya kita kudus, sama seperti
Allah Bapa yang adalah kudus adanya [1Pet 1:7; Yak 1:4; Ibr 12:10; 1Pet 1:15-16].

Dunia dengan segala tantangannya seharusnya membuat orang Kristen selalu bersikap optimis—
selalu berpengharapan kepada Tuhan, dan bukan sebaliknya. Dunia akan menjadi cermin agar kita
jangan menjadi semakin serupanya, tetapi semakin berbeda [Rm 12:2]. Dunia ini seharusnya
menjadi tempat dimana kita berfungsi sebagai garam dan terang [Mat 5:13-16].

d. Sarana belajar
Pertumbuhan iman tidak terjadi begitu saja dalam waktu satu malam. Banyak orang Kristen setia
pergi ke gereja hari Minggu untuk beribadah dan mendengar firman Tuhan, tetapi hidupnya tetap
tidak berubah. Di antara banyak sebabnya ialah karena mereka tidak melakukan salah satu cara
utama yang dipakai Tuhan untuk mengubah kita, yaitu belajar.

Apa yang diartikan dengan belajar sebenarnya? Belajar dalam rangka pertumbuhan iman dapat
didefinisikan sebagai proses pemahaman akan kebenaran Tuhan secara mendalam dan ketaatan
berdasarkan pemahaman tersebut. Belajar berarti melibatkan aspek pikiran, emosi dan perilaku.
Belajar firman Tuhan tidak sekadar menguasai isi/materinya, tapi juga sikap dan tindakan. Natur
dari belajar adalah berubah, berubah dari gaya hidup lama yaitu hidup dalam dosa menjadi gaya
hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan dalam kebenaran dan kekudusan [Ef 4:20-24].

64 | Buku Pegangan Katekisasi Baptisan

Sesungguhnya, memang ada hubungan yang erat antara belajar dan pertumbuhan iman orang
Kristen. Semakin belajar, semakin banyak pengetahuan akan kebenaran dan semakin taat,
sehingga semakin bertumbuhlah iman seseorang. Proses pertumbuhan ini bukanlah suatu proses
yang pasif melainkan aktif. Artinya, seseorang yang mau bertumbuh imannya harus menuntut diri
secara aktif untuk belajar dan bertekun. Orang-orang Kristen/jemaat mula-mula yang bertekun
dalam pengajaran para rasul sungguh telah menjadi suatu teladan yang nyata [Kis 2:42]. Barangkali
ada orang percaya bertanya sampai taraf mana seorang Kristen harus bertumbuh dalam
pengetahuan/pemahaman imannya? Jawabnya ialah sampai taraf penuh atau maksimal, dimana
ia mengetahui kehendak Allah dalam hidupnya dan menyenangkan Allah dalam setiap aspek
kehidupannya [Ef 4:13; Kol 1:9-10].
Penulis surat Ibrani menyerukan: “Sebab itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran
tentang Kristus dan beralih kepada perkembangannya yang penuh. Janganlah kita meletakan lagi
dasar pertobatan dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, dan dasar kepercayaan kepada Allah,
yaitu ajaran tentang pelbagai pembaptisan, penumpangan tangan, kebangkitan orang- orang
mati dan hukuman kekal” [Ibr 6:1-2]. Di sini, penulis menghimbau orang-orang Kristen yang berlatar
belakang agama Yahudi untuk bertumbuh ke arah kedewasaan. Caranya adalah memacu diri untuk
belajar kebenaran tentang ajaran yang lebih sulit dan lebih mendalam. Mereka tidak boleh puas
atau terus berpegang pada pengajaran dasar yang kurang mendalam atau dangkal.

• Mungkinkah ada orang Kristen yang tidak mengalami pertumbuhan iman? Mengapa hal demikian dapat terjadi?
• Dari keempat aspek pertumbuhan iman Kristen, aspek manakah yang paling sulit dikembangkan? Sebutkan

alasannya!
• Gereja merupakan salah satu wadah penting yang dapat menunjang untuk pertumbuhan iman. Apakah gereja

dimana Anda menjadi bagian di dalamnya telah menjadi wadah yang subur bagi pertumbuhan iman Anda?

LOOK

Mintalah setiap peserta untuk menunjukkan pohon yang sudah ditugaskan sebelumnya (Bisa
berbentuk powerpoint yang sudah didesain sendiri). Pohon ini bebas asalkan dapat digantungkan
berbagai label yang sudah disiapkan oleh pengajar.

TOOK

Lakukan pre-test bagi peserta untuk mengetahui tingkat kerohanian sebelum dibaptis dengan
menggunakan instrumen SMI-Spiritual Maturity Index atau Indeks Kedewasaan Rohani. Data harus
dianalisa secara statistik. Hasil analisa per-pribadi ini penting bagi peserta dan juga pengajar untuk
melakukan post-test satu tahun kemudian, apakah yang bersangkutan sebagai anggota GII
mengalami pertumbuhan rohani.

65 | Buku Pegangan Katekisasi Baptisan


Click to View FlipBook Version