Mereka mengejar. Yang satu orang memberi tembakan peringatan. Dor! Sedangkan
dua orang lainnya masih mengejarnya. Malam ini, benar-benar menjadi malam
terakhirnya menghirup udara bebas. Baba tertangkap setelah satu dari mereka
melepaskan tembakan ke arah betis, tepat saat dia hampir keluar gang menuju jalan
besar. Tubuhnya terjerembab masuk ke dalam selokan kecil di depan gang yang
penuh sesak rumah kontrakan.
Kardus itu pun lepas dari dekapannya, dan isinya menghambur ke mana-mana.
Seketika, ramailah gang padat penduduk itu.
***
Ternyata sepak terjangnya selama ini telah terendus polisi. Mereka tahu kalau Baba
telah menghabisi lima bocah, selain yang terakhir dia mutilasi tadi. Sebelum
penangkapan, laporan-laporan selalu didapatkan polisi. Banyak keluarga yang
mencari anak mereka yang hilang. Tak tahu ujung rimbanya. Ternyata, semua bocah-
bocah itu tewas di tangan Baba, dan jasadnya dibuang di beberapa sudut kota ini.
Pelariannya berakhir di kurungan ini. Degup jantung berdebar. Menanti kematian di
tangan para algojo. Pikirnya, apalah arti sebuah tobat jika nanti juga akan mati. Detik-
detik hukuman mati terus memburu ketakutannya. Tak ada yang tahu kapan dia akan
dipasrahkan di ujung pelatuk pistol algojo. Dalam benaknya, cuma ada satu
permintaan terakhir. Permintaan kepada Tuhan dalam do’a yang terbata-bata. Tak
pernah sekalipun sebelum ini, dia berdo’a. Apalagi menjalankan solat, mengaji alif-
ba-tha-tsa saja tak lancar. Dia cuma berdo’a dalam bahasa Indonesia:
“Oh...Tuhan, kiranya Engkau sudi menghilangkan rintihan-rintihan bocah-bocah yang
aku bunuh beberapa tahun silam. Rintihan-rintihan mereka sunggup mengganggu aku.
Hamba-Mu yang bergelimang dosa...” keluhnya di malam yang sunyi. Malam yang
menghadirkan suasana dingin yang menggigit
Jakarta, 30 Juni 2010
FANDY HUTARI, Lahir di Jakarta pada 17 Agustus 1984. Penulis buku, esai sejarah
dan seni, novel, cerpen, dan puisi. Esainya bisa ditemui di Kompas (Jawa Barat),
jakartapress.com, kabarindonesia.com, Kunci Cultural Studies Center, Galamedia,
majalah Gong, majalah Mata Jendela, majalah Tapian, Koran Lampung, majalah
Bhinneka, Lampung Post, indonesiaseni.com, indonesiaartnews.or.id, dan
situseni.com. Puisinya bisa dinikmati di kompas.com. Pernah menjadi ghostwriter
buku Membongkar Rahasia Sulap, 30 Ways to Say I Love You, Mengungkap Rahasia
di Balik Nomor Handphone, dan Cara Cerdas Berkebun Emas. Dua bukunya yang
sudah diterbitkan, yaitu Sandiwara dan Perang; Politisasi Terhadap Aktifitas
Sandiwara Modern Masa Jepang (Ombak, 2009), dan Ingatan Dodol (Insist Media
Utama, 2010). sedang menggarap novel pertamanya, berjudul Dunia Bumi. Alamat e-
mail: [email protected] Akun Facebook: Fandy Hutari.