LARUTAN ELEKTROLIT DAN KONSEP REDOKS
MELANI DWI SAPUTRI
UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
ii
PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Swt. atas limpahan rahmat, hidayah serta karunianya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan bahan ajar LARUTAN ELEKTROLIT DAN REDOKS
sebagai materi pembelajaran kimia untuk kelas X.
Bahan ajar ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah MULTIMEDIA
PEMBELAJARAN dimana di dalam bahan ajar ini akan membahas mengenai LARUTAN
ELEKTROLIT DAN KONSEP REDOKS. Dari bahan ajar ini pembaca dapat mengetahui
lebih banyak.
Dalam penyusunan bahan ajar ini penulis menyadari terdapat banyak
kekurangan, untuk itu kritik dan saran yang membangun dangat diperlukan.
Demikian semoga bahan ajar ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Tanjungpinang, 27 April 2020
Melani Dwi Saputri
iii
DAFTAR ISI
PENGANTAR .........................................................................................................................iii
DAFTAR ISI............................................................................................................................iv
LARUTAN ELEKTROLIT DAN NONELEKTROLIK ..................................................... 1
A. Konduktor Dan Isolator.................................................................................................... 1
B. Pengertian Larutan ........................................................................................................... 1
C. Pengertian Larutan Elektrolit Dan Nonelektrolit ............................................................. 2
D. Jenis – Jenis Larutan Elektrolit Dan Nonelektrolit .......................................................... 2
E. Teori Ion Svante Arrhenius .............................................................................................. 4
F. Elektrolit Senyawa Ion Dan Senyawa Kovalen Polar ...................................................... 6
KONSEP REDOKS ................................................................................................................. 8
A. Pengertian Redoks............................................................................................................ 8
B. Perkembangan Konsep Bilangan Oksidasi ...................................................................... 9
C. Konsep Bilangan Oksidasi ............................................................................................. 10
D. Macam – Macam Reaksi Redoks ................................................................................... 12
KESIMPULAN ...................................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................. 16
iv
LARUTAN ELEKTROLIT DAN NONELEKTROLIT
A. Konduktor Dan Isolator
Sebelum kita membahasa larutan elektrolit dan nonelektrolit, kita bahasa dulu
apa yang dimaksud dengan aliran listrik . listrik adalah aliran elektron (elektron
adalah partikel subatom yang bermuatan negatife). Arah aliran elektrolit dalam
rangkaian di atas ditunjukan seperti gambar 1.1. elektrolit meningkatkan kutub
negatife baterai menuju lamu pijar, kemudian batang grafit dan akhirnya kembali ke
baterai melalui kutub positif Gambar 1.1 Rangkaian listrik
Lampu pijar ada gambar 6.1 akan mati
jika rangkaian diputus atau dihubungkan
dengan bahan yang tidak menghantarkan
listrik. Bahan yang tidak menghantarkan
listrik disebut nonkonduktor atau insulator.
B. Pengertian Larutan
Larutan adalah campuran homogen antara zat terlarut dan pelarut. Zat terlarut
adalah zat yang terdispersi ( tersebar secara merata ) dalam zat pelarut.Zat terlarut
mempunyai jumlah yang lebih sedikit dalam campuran. Ini biasa di sebut dengan
solute. Sedangkan zat pelarut adalah zat yang mendispersi atau ( fase pendispersi )
komponen - komponen zat terlarut. Zat pelarut mempunyai jumlah yang lebih
banyak dalam campuran. Zat pelarut di sebut solvent.
Sebelum masuk ke larutan elektrolit dan nonelektrolit, tontonlah video dibawah
ini untuk memahami secara umum apa itu larutan elektrolit dan nonelektrolit.
1
C. Pengertian Larutan Elektrolit Dan Larutan Nonelektrolit
Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik dengan
memberikan gejala berupa menyalanya lampu pada alat uji atau timbulnya
gelmbung gas dalam larutan .Larutan yang menunjukan gejala – gejala tersebut pada
pengujian tergolong ke dalam larutan elektrolit.
Larutan nonelektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan arus
listrik dengan memberikan gejala berupa tidak ada gelembung dalam larutan atau
lampu tidak menyala pada alat uji. Larutan yang menunjukan gejala – gejala tersebut
pada pengujian tergolong ke dalam larutan nonelektrolit.
Daya hantar listrik dapat diuji dengan cara
seperti gambar 1.2 di samping, yaitu dengan
alat pengujielektrolit. Hantaran listrik
mrlalui larutan ditujukan oleh menyala
lampu pijar pada rangkaian tersebut da
nada tidaknya suatu perubahan (misalnya,
timbul gelembng) pada salah satu atau
kedua elektrodenya.
Gambar 1.2 Alat daya hantar
larutan elektrolit
D. Jenis – Jenis Larutan Berdasarkan Daya Hantar Listrik
1. Larutan elektrolit kuat
Laruta elektrolit kuat adalah larutan yang semua molekulnya terurai menjadi
ion-ion (terionisasi sempurna) oleh karena banyaknya ion–ion penghantar listrik
yang terbentuk, maka daya hantarnya juga kuat. Umumnya larutan elektrolit
kuat adalah larutan garam.
Ciri-ciri larutan elektrolit kuat
Daya hantar listrik kuat atau baik
Terionisasi dengan sempurna
Tetapan atau deraja ionisasi α = 1
Jumlah ion dalam larutan banyak
Jika diuji, larutan elektrolit kuat memiliki nyala lampu yang terang dan
muncul gelembung gas yang banyak
2
Contoh elektrolit kuat
Garam (NaCl, KCl, CuSO4, dan KNO3)
Asam Kuat (HCl, HI, HBr)
Basa Kuat (NaOH, Ca(OH)2, Mg(OH2), dan KOH)
2. Larutan elektrolit lemah
Larutan elektrolit lemah adalah larutan yang tidak semua molekulnya
terionisasi (ionisasi tidak sempurna), sehingga hanya sedikit ion-ion yang dapat
menghantarkan listrik.
Ciri-Ciri Larutan Elektrolit Lemah
Daya hantar listrik kurang baik atau lemah
Terionisasi sebagian
Tetapan atau derajat ionisasi 0< α <1
Jumlah ion dalam larutan sedikit
Jika diuji, larutan elektrolit lemah nyala lampunya lemah dan muncul
gelembung gas yang sedikit.
Contoh Larutan Elektrolit Lemah
Asam Lemah (HCN, H3PO4, CH3COOH, dan C2O3)
Basa Lemah (NH4OH, Al(OH3), Fe(OH)3
3. Larutan non elektrolit
Larutan non-elektrolit merupakan larutan yang tidak bisa menghantarkan
arus listrik. Larutan-larutan non-elektrolit terdiri atas zat-zat yang terlarut
dalam air namun tidak terurai menjadi ion (tidak terionisasi). Dalam larutan, zat
not-elektrolit tetap seperti molekul yang tidak bermuatan listrik. Itulah mengapa
larutan ini tidak dapat menghantarkan arus listrik.
Ciri-Ciri Larutan Non Elektrolit
Daya hantar listrik tidak ada
Tidak dapat terionisasi
Tetapan atau derajat ionisasi α = 0
Jumlah ion dalam larutan tidak ada
Jika diuji, Larutan Non Elektrolit, tidak menyala dan tidak muncul
gelembung gas.
3
Contoh Larutan Non Elektrolit
Urea = CO(NH2)2
Glukosa = C6H12O6
Sukrosa = C12H22O11
Etanol = C2H2OH
Tebel perbedaan antara elektrolit kuat, elektolit lemah, dan nonelektrolit
dapat di simplakn sebagai berikut.
No Perbedaan Elektrolit Kuat Elektrolit Lemah Non Elektrolit
1 Derajat ionisasi α = 1 0<α<1 α=0
(Tidak
(Terionisasi (Terionisasi terionisasi)
Tidak ada
sempurna) sebagian)
Tidak ada
2 Jumlah ion dalam Banyak Sedikit
Lampu mati,
larutan tidak ada
gelembung gas
3 Daya hantar Kuat Lemah
listrik
4 Pengujian pada Lqmpu menyala Lampu menyala
larutan elektolit terang, banyak redup, sedikit
gelembung gas gelembung gas
E. Teori Ion Svante Arrhenius
Menurut Arrhenius, larutan dapat menghantarkan arus listrik karena mengandung ion-
ion yang data bergerak bebas. Ion-ion itulah yang menghantarkan
4
arus listrik melalui larutan. Seperti NaCl, HCl, NaOH, dan CH3COOH yang
tergolong larutan elektrolit. Zat-zat ini dalam air terurai menjadi ion-ion sebagai
berikut
NaCl(s) Na+(aq) + Cl-(aq)
HCl(g) H+(aq) +Cl-(aq)
NaOH(s) Na+(aq) + OH-(aq)
CH3COOH(l) CH3COO-(aq) + H+(aq)
Adapun zat nonelektrolit dalam larutan tidak terurai menjadi ion-ion tetapi
tetap berupa molekul. Seperti etanol, urea,
C2H5OH(l) C2H5OH(aq)
CO(NH2)2(s) CO(NH2)2(aq)
Hantaran listrik melalui larutan elektrolit terjadi sebagai berikut. Baterau
sebagai sumber arus searah memberi muatan yang berbeda pada kedua electrode.
Katode (electrode yang dihubungkan dengan kutub negatrif) bermuatan negative,
sedangkan anode (electrode yang sihubungkan dengan kutub positif) bermuatan
positif. Spesies (ion, molekul, atau atom) tertentu dalam larutan akan mengambil
elektron dari katode, sementara spesi lainya akan mengambil elktron ke anode.
Selanjutnya elektron akan dialirkan ke katode melalui batrai. Dalam hal ini batrai
dapat dipandang sebagai pompa elektron.
Hantaran melalui listrik melalui larutan HCl, sebagai contoh, terjadi sebagai
berikut. Dalam larutan, molekul HCl terurau menjadi ion H+ ion Cl- menurut reaksu
ionisasi berikut ini:
HCl(g) H+(aq) +Cl-(aq)
Ion-ion H+ akan bergerak menuju katode,
mengambil elektron dan berubah
menjadi
gas klorida.
2H+(aq) + 2e- H2(g)
Sementara itu, ion-ion Cl- bergerak
menuju anode, melepas elektron dan
berubah menjadi gas klori: Gambar 1.3 hantaran listrik melalui
larutan HCl
2Cl-(aq) Cl2(g) + 2e-
5
Jadi, arus listrik mengurai HCl menjadi H2 dan Cl2. Reaksi penguraian ini disebut
elektrolisis (electro = listrik dan lysis = penguraian). Reaksi elektrolisis larutan HCl
dapat ditulis sebagai berikut:
2H+(aq) + 2Cl(g) H2(g) + Cl2(g).
Pada sebagian larutan elektrolit, reaksi elektrolisis juga melibatkan air (pelarut)
atau elektrodenya.
F. ELEKTROLIT SENYAWA ION DAN SENYAWA KOVALEN POLAR
1. Senyawa ion
Senyawa ion terdiri atas ion-ion, misalnya NaCl dan NaOH. NaCl terdiri atas
ion-ion Na+ dan Cl-, sedangkan NaOH terdiri atas ion Na+ dan OH-. Dalam Kristal
(padatan), ion-ion itu tidak dapat bergerak bebas, melainkan diam pada
tempatnya. Oleh karena itu, padatan senyawa ion dilelehkan atau dilarutkan,
maka ion-ionnya dapat bergeak bebas, sehingga lelehan dan larutan senyawa ion
dapat menghantarkan listrik.
Gambar 1.4 Susunan ion-ion dalam (a) kristal, (b) lelehan, dan (c) larutan.
2. Senyawa kovalen polar
Senyawa kovalen, misalnya air (H2O), asam klorida (HCl), asam cuka
(CH3COOH), dan metana (CH4), terdiri atas molekul-molekul. Molekul bersifat
netral dan tidak dapat menghantarkan listrik. Beberapa molekul bersifat polar,
misalnya molekul air (H2O), asam klorida (HCl), asam cuka (CH3COOH),
sedangkan sebagianya lagi bersifat non polar, misalnya metana (CH4). Oleh
Karena itu air besifat polar, maka air disebut sebagai pelaut polar.
Berbagai zat dengan molekul polar, seperti HCL dan CH3COOH, jika dilarutkan da;am air,
dapat mengalami ionisasi sehingga larutanya dapat menghantarkan listril. Hal itu
terjadi karena antarmolekul polar tersebut
6
terdapat suatu gaya tarik-menarik yang dapat memutuskan ikatan-ikatan
tertentu dalam molekul tersebut. Ionisasi HCl dan CH3COOH adalah sebagai
berikut:
HCl(g) H+(aq) + Cl-(aq)
CH3COOH CH3COO-(aq) + H+(aq)
Meskipun demikian, tidak semua molekul polar dapat mengalami ionisasi
dalam air. Molekul nonpolar, sebagaimana dapat diduga tidak ada yang bersifat
elektrolit.
(a) (b) (c)
Gambar 1.1, (a) elektrolit lemah, (b) nonelektroli, (c) elektrolit kuat
Tebel perbedaan antara senyawa ion dengan senyawa kovalen polar
dapat di simplakn sebagai berikut.
Daya Hantar Padatan Lelehan Larutan
Jenis Elektrolit
Senyawa Ion Nonelektrolit Konduktor Konduktor
Senyawa Kovalen Nonelektrolit Nonelektrolit Konduktor
7
KONSEP REDOKS
Sebelum masuk ke konsep redoks, tontonlah video dibawah ini untuk memahami
secara umum apa itu redoks.
A. Pengertian Redoks
Reaksi kimia dapat digolongkan kedalam reaksi redoks dan reaksi bukan redoks.
Istilah redoks berkaitan dengan pristiwa reduksi dan oksidasi. Pengertian reduksi
dan oksidasi itu sendiri telah mengalami perkembangan. Pada awalnya, peristiwa
reduksi oksidasi dikaitkan dengan pelepasan dan pengikatan oksigen : oksida
sebagai pengikatan oksigen, dengan kan reduksi sebagai pelepasan oksigen. Pada
perkembanan selanjutnyam oksidasi dan reudksi dikaitkan dengan penangkapan
atau pelepasan elektron, dan kemudian dengan perubahan bilangan oksidasi. Hal itu
dimaksudkan untuk memberikan cakupan yang lebih luas bagi jenis reaksi tersebut.
Reaksi redoks banyak terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Beberapa
contoh dapat kita sebutkan, yaitu perkaratan besi, reaksi-reaksi pembakaran
oksidasi makanan dalam kehidupan sel, fotosintesis dan peleburan biji logam. Aki,
baterai, dan berbagai elektrolisis seperti penyepuhan, juga berjalan berdasarkan
reaksi redoks.terdapat zat-zat yang bertindak sebagai pereduksi (reduktor) dan
pengoksidasi (oksidator). Pereduksi atau reduktor adalah zat yag di dalam reaksi
redoks menyebabkan zat yang lain mengalami reduksi. Dalam halini, zat pereduksi
mengalami oksidasi. Pengoksidasi atau oksidator adalah zat yang di dalam reaksi
redoks menyebabkan zat lain mengalami oksidadi. Dalam hal ini, zat pengoksidasi
mengalami reduksi.
8
Reaksi oksidasi dan reduksi yang berlangsung serentak biasa disingkat dengan
reaksi redoks. Di dalam reaksi redoks
B. Perkembangan Konsep Bilangan Redoks
1. Pengertian konsep reaksi reduksi oksidasi telah mengalami tiga tahap
perkemangan sebagai berikut:
a. Reduksi adalah reaksi pelepasan oksigen dari sutu senyawa.
Reduktor adalah :
1) Zat yang menarik oksigen pada reaksi reduksi
2) Zat yang mengalami reaksi oksidasi
Contoh:
1) Reduksi Fe2O3 oleh CO
Fe2O3 + 3CO → 2Fe + 3CO2
2) Reduksi Cr2O3 oleh Al
Cr2O3 + 2Al → 2Cr + Al2O3
b. Oksidasi adalah reaksi pengikatan (penggabungan oksigen oleh suatu zat)
Oksidasi adalah:
1) Sumber oksigen pada reaksi oksidasi
2) Zat yang mengalam reduksi
Contoh:
1) Oksidasi Fe oleh O2
4Fe + 3O2 → 2ZnO + 2SO2
2) Pemanggangan ZnS
2ZnS + 3O2 → 2ZnO + 2SO2
2. Berdasarkan pengikatan dan pelepasan elektron
a. Reduksi adalah reaksi pengikatan elektron.
Reduktor adalah:
1) Zat yangmelepaskan elektron
2) Zat yanag mengalami oksidasi
Contoh:
1) Cl2 + 2e- → 2Cl-
Ca2+ + 2e- → Ca
9
b. Oksidator adalah reaksi pelepasan elektron
Oksidator adalah:
1) Zat yang mengikat elektron
2) Zat yang mengalami reduksi
Contoh:
1) K → K+ + e-
2) Cu → Cu2+ + 2e-
3. Berdasarkan pertambhan dan penurunan bilangan oksidasi
a. Reduksi adalah reaksi penurunanbilangan oksidasi
Reduktor adalah:
1) Zat yang mereduksi zat lain dalam reaksi redoks
2) Zat yang mengalami oksidasi
Contoh:
1) 2CO2 → 2CO2 + O2
Bilangan oksidasi S dalam SO3 adalah +6 sedangkan pada SO2 adalah
+4. Karena unsur S mengalami penurunan bilangan oksidasi, yaitu
dari +6 menjadi +4, maka SO3 mengalami reaksi reduksi. Oksidatornya
adalah SO3 dan zat hasil reduksi adalah SO2.
C. Konsep Bilangan Oksidasi
1. Pengertian bilangan oksdiasi
Bilangan oksidasi atau tingkat oksidasi suau unsur merupakan nilangan bulat
positif atau negative yang diberikan kepada suatu unsur dalam membentuk
senyawa. Bilangan oksidasi suatu unsur ditentukan dengan memperhatikan ikatan
dan struktur zat. Bilanga oksidasi pada senyawa ion merupakan muatan riil dari ion-
ion dalamn senyawa tersebut
Bilangan oksidasi dalam senyawa kovalen didasrkan pada nilai skla
keelektoregatifan dari masing-masing atom penyusunnya. Atomatom unsur yang
mempunyai nilai sklkama keelektronegatifan lebih tinggi mrnunjukan bahwa daya
tarik terhadap pasangan elektron ikatan lebih kuat, sehingga bilangan oksidasinya
diberi angka negative, sengkan atomatom uang nilai keelktronegatifannya lebih
rendah diberi bilanagn oksidasi positif.
10
a. Aturan menentukan bilangan oksidasi
Dengan mempertimbangkan keelektronegatifan unsur, dapat disimpulakn
suatu aturan untuk menentukan bilangan oksidasi
1) Unsur bebas mempunyai bilnagan oksidasi = 0
Conrohnya
Bialangan oksidasi atom Na, O, S, H, N, dan Fe = 0
2) Unsur logam dalam senyawa mempunyai bilangan oksidasi (+) dari
nomer golongannya
Contohnya :
Golongan IA (logam alkali : Li, Na, K, Rb, Cs) = +1
Golongan IIA (logam alkali tanah : Be, Mg, Ca, Sr, Ba) = +2
3) Bilangan oksidasi H umumnya = +1, kecuali dalam senyawa dengan logam
maka bilangan oksdiasi H = -1
Contohnya:
Bilangan oksidasi H dalam HCl, H2O, NH3 = +1
Bilangan oksidasi H dalam NaCl, BaH2 = -1
4) Bilangan oksidasi O umumnya = -2
Contoh
Bilangan oksidasi dalam H2O, MgO = -2
Kecuali
Dalam Fe2O, bilangan oksidasi O =+2
Dalam peroksida seperti H2O bilangan oksidasi O = -1
Dalam superoksida seperti KO2 bilangan oksidasi O = -
5) Jumlah bilangan oksidasi atom-atom dalam senyawa netral adalah 0
Contohnya:
Dalam H2SO4 : (2x biloks H) + (1x biloks S) + (4x biloks O) = 0
6) Jumlah bilangan oksidasi unsur-unsur dalam suatu ion poliatom =
muatanya
Contohnya :
Dalam S2O32- : (2x biloks S) + (3x biloks O) = -2
Dengan adanya ketentuan-ketentuan tersebut, maka akan memudahkan dalam
menentukan bilangan oksidasi suatu unsur dalam membentuk senyawa
11
Contoh soal
1. Tentukan bilangan oksdiasi atom belerang pada H2S
Jawab:
Jumlah bilangan oksidasi 2x biloks H + 2x biloks S = 0
2x (+1) + 2x biloks S = 0
+2 + biloks S = 0
Bilangan oksidasi S = -2
2. Tentukan bilangan oksidasi atom S pada ion SO42-
Jawab:
Jumlah bilangan oksidasi S + (3x biloks O) = 0
S + (3x -2) = 0
S–6 =0
S = +6
D. Macam-Macam Reaksi Redoks
1. Reaksi penggabungan unsur untuk membentuk senyawa kimia. Dalam hal ini,
oksidasi dan reduksi terjadi bersamaan.
Contoh reaksi penggabungan:
2H2 + O2 → 2H2O
Dalam persamaan di atas H2 dan O2 adalah bentuk model dari unsur masing-
masing dan oleh karena itu bilangan oksdasi mereka adlah 0. Produknya:
bilangan oksidasi oksigen adalah -2 dan untuk hidrogenya adalah +1
2. Reaksi Penguraian
Reaksi penguraian adalah kebalikan dari reaksi penggabungan, yang berarti
menguraian senyawa kimia menjadi unsur-unsur penyusunnya.
Contoh reaksi penguraian:
2H2O → 2H2 + O2
Dalam persamaan di atas, air “diuraikan” menjadi hidrogen dan oksigen,
keduanya netral. Sama halnya dengan contoh sebelumnya, 2H2O
memiliki bilangan oksidasi total 0, dengan masing-masing H memiliki satu
bilangan oksidasi +1 dan bilangan oksidasi O = -2; Dengan demikian, reaksi
penguraian tersebut mengoksidasi oksigen dari -2 menjadi 0 dan mereduksi
hidrogen dari +1 menjadi 0.
12
3. Reaksi Substitusi
Reaksi substitusi , juga dikenal sebagai reaksi penggantian, yang melibatkan
senyawa dan “penggantian” unsur. Reaksi perpindahan dibagi menjadi dua yaitu
reaksi perpindahan tunggal dan reaksi perpindahan ganda.
Reaksi perpindahan tunggal yaitu menggantikan unsur dalam reaktan dengan
unsur lain dalam produk.
Contoh reaksi perpindahan tunggal:
Cl2 ++ 2NaBr → 2NaCl + Br2
Dalam persamaan tersebut, Cl mengalami reduksi dan menggantikan Br,
sedangkan Br mengalami oksidasi.
Reaksi perpindahan ganda tidak jauh berbeda dengan reaksi penggantian
tunggal, namun melibatkan “perpindahan” dua unsur dalam reaktan dengan
dua produk. Contoh reaksi perpindahan ganda:
Fe2O3 + 6HCl → 2FeCl3 + 3H2O
Dalam persamaan tersebut, Fe dan O mengalami reduksi sedangkan H dan Cl
mengalami oksidasi
4. Reaksi Pembakaran
Reaksi pembakaran adalah reaksi yang selalu melibatkan oksigen dan bahan
bakar organik. Perhatikan reaksi pembakaran gas metana berikut:
CH4 + 2O2 → CO2 + 2H2O
Dari reaksi tersebut, dapat kita lihat produk dari pembakaran gas metana
menghasilkan karbon dioksida dan air.
5. Reaksi autoredoks
Terdapat dua jenis reaksi autoredoks, yaitu reaksi disproporsinal dan reaksi
komproprosinasi:
Reaksi disproporsionasi adalah reaksi redoks dimana oksidator dan
reduktornya merupakan zat yang sama. Jadi, sebagian dari zat tersebut
mengalami oksidasi dan sebagian lagi mengalami reduksi.
Reaksi konproprosinasi adalah reaksi redoks dimana hasil reduksi dan
oksidasinya merupakan zat yang sama.
13
Contoh soal menentukan jenis reaksi redoks atau non redoks
1. 2KMnO4 + 14HCl → 2MnCl2 + 2KCl + 5Cl2 + 7H2O
+1 +7 -8 +1 -1 +2 -2 +1 -1 0 +2 -2
Oksidasi = KMnO4
Reduktor = HCl (REDOKS)
Hasil reduksi = MnCl2
Hasil oksidasi =Cl 2
2. CaCO3 + 2HCl → CaCl2 + CO2 + H2O
+2 +4 -6 +1 -1 +2 -2 +4 -4 +2 -2
(NON REDOKOKS)
14
KESIMPULAN
Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik dengan
memberikan gejala berupa menyalanya lampu pada alat uji atau timbulnya gelmbung
gas dalam larutan. Larutan nonelektrolit adalah larutan yang tidak dapat
menghantarkan arus listrik dengan memberikan gejala berupa tidak ada gelembung
dalam larutan atau lampu tidak menyala pada alat uji.
Pada awalnya, peristiwa reduksi oksidasi dikaitkan dengan pelepasan dan
pengikatan oksigen : oksida sebagai pengikatan oksigen, dengan kan reduksi sebagai
pelepasan oksigen. Pada perkembanan selanjutnyam oksidasi dan reudksi dikaitkan
dengan penangkapan atau pelepasan elektron, dan kemudian dengan perubahan
bilangan oksidasi.
15
DAFTAR PUSTAKA
Johari, J.M.C. & Rachmawati, M. 2009. Kimia SMA dan MA untuk Kelas X Jilid 1. Jakarta:
Esis
Purba, Michael. 2002. Kimia Untuk SMA Kelas X. Supriyana, editor. Jakarta: Erlangga
Ratna, ika stri, dan Sukrismo. 2017. Erlangga X-PRESS UN SMA/MA 2018 KIMIA
PROGRAM IPA. Jakarta : Erlangga
Retnowati, Priscilla. 2004. SeribuPena Kimia SMA Kelas X Jilid 1. Jakarta: Erlangga
Sudarmo, Unggul. 2013. KIMIA 1 UNTUK SMA/MA KELAS X. Surakarta: Erlangga
16