The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by chendolizabeth, 2021-12-07 07:00:15

Rumah Jl Aria Jipang

Anugrah Cagar Budaya

Rumah Jl. Aria Jipang No.7

Permukiman modern di kawasan sebelah barat dan
masih berdekatan dengan Gedung Sate mulai banyak
dibangun setelah rampungnya pembangunanGedung Sate
pada tahun 1924. Kawasan ini termasuk suatu daerah
yang disebut Kampung Baru pada sekitar tahun 1910.5
Batas-batas Kampung Baru ini kira-kira Jl. Riau di sebelah
selatan, Jl. Banda di sebelah timur, Jl. Trunojoyo di
sebelah barat,dan Jl. Cikapayang (timur) di sebelah utara.
Pembangunan setelah tahun 1920-an menunjukkan ada
perbedaan perkembangan antara kawasan Gempol yang
bersifat tradisional dan lingkungan sekitarnya yang lebih
modern.

Karena letaknya tidak jauh dari Gedung Sate, masih
dalam radius 1 kilometer,maka kawasan ini termasuk yang
terkena Peraturan Bangunan Khusus yang mewajibkan
rumah-rumahnya memiliki atap sirap dan tidak
mempunyai pagar pembatas dengan lingkungan
sekitarnya.6

Dengan begitu, maka hampir seluruh rumah atau

bangunan yang berada di kawasan ini sebenarnya telah
mengalami berbagai perubahan sesuai dengan
perkembangan perkotaan di Bandung. Umumnya rumah-
rumah sudah tidak beratap sirap, dan hampir seluruhnya
juga sudah memiliki pagar pembatas. Begitu juga dengan
rumah tinggal di Jl. Aria Jipang No.7.

5 Peta “Bandoeng en Omstreken.” Topografische Inrichting, Batavia, 1910.
6 “Balai Agung di Kota Bandung.” Haryoto Kunto, Granesia, Bandung, 1996. Hal 113.

Bangunan ini terlihat sangat menarik dari jalan. Posisi
kavling yang menyudut menjadikan bangunan ini sangat
mudah dilihat dari berbagai arah. Kondisi bangunan sangat
terawat dan masih mempertahankan berbagai ornamen,
detail dan material asli. Bangunan ini memiliki kualitas
konstruksi yang sangat baik dan ditunjang oleh pemilik yang
sangat menikmati dan menghargai bangunan tersebut.
Pemilik melakukan beberapa modifikasi yang disesuaikan
kebutuhan, antara lain teras depan menjadi ruang tamu dan
area service yang diuabh menjadi kos-kosan 2 lantai.
Bangunan pernah digunakan menjadi kantor konsultan.
Namun demikian berbagai pernyesuaian terhadap kebutuhan
kekinian yang dilakukan oleh pemilik, masih dapat dinilai
dalam taraf yang wajar. Beberapa penyesuaian
dinding,seperti merubah teras menjadi ruang tamu indoor
dilakukan dengan kesadarn dan menghargai desain asli
bangunan tersebut.

Rumah ini dimiliki oleh keluarga Herman Sujono
sejak dibeli dari pemilik sebelumnya pada tahun 1976.
Herman Sujono dan istrinya, Sri Sudaryati, masih tinggal
di daerah Bukit Dago sampai tahun 1980 dan rumah yang
mereka beli sempat disewakan kepada ekspatriat yang
menggunakannya sebagai kantor. Ketika mulai
menempati rumah ini pada tahun 1980, Pak Herman
Sujono juga membeli paviliun yang saat ini disewakan
sebagai ruang kantor.7

Beberapa perubahan yang terdapat di rumah ini di
antaranya:

1. Genting sudah diganti dengan yang baru dan di
beberapa bagian dipasang genting kaca agar ruang
di dalam rumah lebih terang.

2. Teras depan diubah menjadi ruang tamu. Pintu
depan dicopot dan disimpan. Pintu dapur
dipindahkan jadi pintu ruang tamu. Tegel lantai
ruang tamu dan teras belakang diganti
menggunakan tegel yang dipesan dari pabrik tegel
diJl. Jakarta.

3. Ruang kerja kini difungsikan sebagai dapur.
4. Bangunan belakang diubah menjadi dua lantai

yang disewakan sebagaiindekos.
5. Karena ruangan dalam dirasakan panas dan

pengap disiasati dengan meninggikan eternit
sehingga lubang angin (ventilasi) menjadi berada
di bawah eternit.

7 Wawancara di lokasi dengan Ibu Sri Sudaryati yang ditemani putranya,
Rony, tanggal 18 November 2021.


Click to View FlipBook Version