PEMIKIRAN KALAM DI INDONESIA
Kelompok : 7 (Tujuh)
Kelas : 3 PAI E
Anggota Kelompok :
Alfa Sumah Nijabah (2017402204)
Huda Maulana Maghribi (2017402219)
Lailatul Hasanah (2017402221)
Whina Vurie Aryanti (2017402226)
A. PENDAHULUAN
Ilmu kalam merupakan salah satu bentuk ilmu keislaman kajian dalam ilmu kalam
terfokus pada aspek ketuhananketuhanan yang dapat diartikan bukan pembicaraan sehari-
hari namun pembicaraan yang bernalar dan logika. Kalam membicarakan bagaimana
menetapkan kepercayaan-kepercayaan keagamaan dengan bukti yang yakin. Ilmu kalam
adalah nama lain dari sebagian nama lain dari sebagian ilmu yang menjadi dasar
kepercayaan atau keimanan dalam Islam. Nama yang sering disebut adalah ilmu tauhid,
ilmu aqaid, ilmu ushuluddin, ilmu kalam dan teologi Islam. Semua ilmu itu membahas
tatacara yang dipakai untuk mengesakan Tuhan dan meningkatkan keyakinan kepada-Nya.
Namun antara setiap ilmu itu terdapat perbedaan corak karena perbedaan penekanan
objeknya. Ilmu tauhid melihat dari pentingnya keesaan Tuhan, ilmu aqidah melihat dari segi
keesaan Tuhan itu menjadi keyakinan umat Islam, ilmu kalam melihat dari segi teknis
analisisnya yang menggunakan logika atau mantiq. Adapun teologi Islam pada mulanya
diambil dari istilah asing yang sering dipakai dikalangan Kristen dalam keyakinan mereka,
sehingga istilah itu kurang sesuai untuk dipakai dalam Islam.Istilah-istilah ini tidak lahir
sejalan dengan kedatangan atau muncul Islam, tetapi lahir setelah berkembangnya ilmu
pengetahuan di dunia Islam, sejalan dengan perkembangan dan kemajuan lain yang dicapai
dunia Islam seperti yang dijumpai dalam sejarah. Dengan sejarah yang begitu panjang akan
pemikiran kalam ini, sampai lah ke negara-negara di dunia,salah satunya Indonesia. Seperti
yang diketahui, bahwa mayoritas agama masyarakat di negara ini ialah Islam. Tentu tidak
luput dari adanya pemikiran kalam yang dicetuskan oleh beberapa tokoh-tokoh atau
cendekiawan.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana definisi mengenai pemikiran kalam di Indonesia?
2. Siapa tokoh-tokoh yang terkait dengan pemikiran kalam di Indonesia?
3. Apa saja macam - macam pemikiran kalam di Indonesia?
C. PEMBAHASAN
Ilmu Kalam terdiri dari dua kata yaitu dari kata ilmu dan kalam. Ilmu merupakan
pengetahuan yang disusun dengan sistematis, sedangkan kalam memiliki arti ucapan atau
kata-kata. Dari sini, dapat diketahui pengertian ilmu kalam yaitu ilmu yang membahas
perkataan. Sementara jika dilihat dari sudut pandang tauhid, ilmu kalam yaitu ilmu yang
membahas masalah ketuhanan1. Perkataan disini mempunyai dua arti bisa berupa kalam
Allah maupun kalam manusia. Jika menyangkut kalam Allah, sudah pasti hal ini bisa
menimbulkan perbedaan diantara aliran-aliran yang ada. Ilmu kalam kaitannya dengan
kalam manusia harus menggunakan kata-kata yang penuh dengan argumentasi rasional2.
Secara umum ilmu kalam adalah ilmu yang membahas mengenai Tuhan dan sifat-sifatnya
mengandung argumen dan berpikir agamis dan rasional untuk menguatkan akidah keimanan
umat Islam. Adapun yang disepakati bahwa ilmu kalam dasarnya adalah Al-Quran dan
hadits. Menurut Harun Nasution, kemunculan persoalan kalam disebabkan oleh persoalan
politik, sehingga lahirnya tiga golongan teologi Islam diantaranya aliran Khawarij, Syiah
dan Mu’tazilah.
Tokoh-tokoh ilmu kalam diantaranya :
1. Al‐Muhakkimah al‐Ula
Al‐Muhakkimah al‐Ula merupakan barisan yang dipimpin oleh ‘Abd Allah bin
Kuwwa’, ‘Itab bin A’war, ‘Abd Allah bin Wahb al‐Rasibi, ‘Urwah bin Jarir, Yazid bin
Abi ‘Asim al‐Muharibi, Harqas bin Zuhair al‐Bajli, dua belas ribu orang dan disebut
sekelompok orang yang meninggalkan barisan Ali bin Abi Thalib3.
Pokok pemikiran Al Muhakkimah Al Ula :
1 Jamaluddin, Shabri Shaleh Anwar. 2020. “Ilmu Kalam Khazanah Intelektual Pemikiran dalam Islam”.
Indragiri Hilir PT. Indragiri Dot Com.
2 Yusuf,Yunan. 2014. “Alam Pikiran Islam Pemikiran Kalam dari Khawarij ke Buya Hamka hingga Hasan
Hanafi”. Prenadamedia Group.
3 Al-Shahrastani, Al-Milal wa al-Nihal, Abd al-‘Aziz Muhammad Wakil (ed.), (Beirut, Libanon:Dar al-Fikr,tth.)
a. Bidang politik : dalam memilih seorang pemimpin, bukan berasal dari orang Quraisy
tetapi boleh dari siapapun dengan ketentuan harus adil dan tidak sewenang wenang.
b. Mereka mengkafikan Ali bin Abi Thalib, sebab dia tidak menggunakan hukum Tuhan,
melainkan dengan hukum manusia. Hal ini jelas-jelas telah melanggar ketentuan dan
perintah Tuhan seperti dalam Quran surat Al Hujurat Ayat 49.
c. Mereka mengkafikan Utsman bin Affan dalam kepemimpinannya tujuh tahun terakhir.
Pada masa itu, Utsman mengambil kebijakan yang tidak sesuai dengan aspirasi rakyat.
d. Menganggap kafir bagi orang yang tidak sepaham dengannya, walaupun orang
tersebut muslim4.
e. Tidak Menganggap orang yang tidak mau pindah ke daerahnya sebagai orang kafir,
asalkan mereka sepaham dengannya.
2. Al‐Azariqah Mereka adalah pengikut Nafi’ bin Azraq al‐Hanafi yang mendapat
julukan Abi Rashid. Di antara pemikirannya ialah:
a. Mereka mengkafirkan dan menganggap mushrik orang yang:
1) tidak sepaham dengan ajaran mereka.
2) tidak berhijrah ke daerah mereka, walaupun sepaham
3) tidak mau keluar untuk memerangi musuh yakni ‘Ali bin Abi Talib karena
mereka dianggap setuju dengan al‐tahkim.
b. ‘Ali bin Abi Talib, ‘Uthman bin ‘Affan, Talhah bin Khuwailid, Zubair bin
‘Awwam, ‘A’ishah binti Abi Bakar al‐Siddiq, ‘Abd Allah bin al‐‘Abbas, dianggap
termasuk dalam kategori orang kafir, alasannya adalah:
1) Karena ‘Ali bin Abi Talib telah menerima al‐tahkim.
2) Karena ‘Uthman bin ‘Affan telah membuat kebijaksanaan‐kebijaksanaan
yang merugikan rakyat untuk menuruti ambisi keluarganya.
3) Karena Talhah bin Khuwailid, Zubair bin ‘Awwam, ‘A’ishah binti Abi Bakar
al‐ Siddiq dan ‘Abd Allah bin al‐‘Abbas telah keluar dari barisan ‘Ali bin Abi
Talib dan membelot kepada khalifah yang sah.
c. ‘Ali bin Abi Talib termasuk orang kafir, sebab dialah orang yang dimaksud oleh ayat
Al Baqarah ayat 204.
d. Menggugurkan hukuman bagi pezina muhsan5
4 Digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby
5 Muhsan ialah seorang lelaki atau wanita yang telah pernah kawin. Adapun pezina yang bukan muhsan
yaitu wanita atau pria yang belum pernah kawin, di dalam al-Quran telah disebutkan hukuman haddnya, yakni
dengan seratus cambukan
e. Menggugurkan hukuman hadd bagi istri Yang menuduh suaminya berzina
f. Memotong tangan pencuri
g. Orang yang masuk ke dalam golongan al‐Azariqah adalah berada di daerah dar al‐
Islam, sedangkan orang yang tidak masuk dalam golongan mereka, berada di daerah
dar al‐harb atau dar al‐kufr.
3. Al‐Najdah. Mereka adalah pengikut Najdah bin Amir al‐Hanafi.
Pemikiran‐pemikiran Al‐Najdah:
a. Mengkafirkan orang yang berpendapat bahwa orang yang berdiam diri dan tidak mau
memerangi musuh serta orang yang tidak meninggalkan daerahnya untuk bergabung
dengan al‐Azariqah (qa’id) adalah kafir.
b. Mengkafirkan orang yang menganggap Nafi’ bin Azraq sebagai pemimpin (imam). 3.
Membatalkan hukuman hadd bagi muslim yang melakukan dosa besar, seperti
mencuri, berzina, minum minuman keras dan lain‐lainnya, jika ia tidak melakukannya
terus‐menerus, karena ia tidak termasuk orang mushrik dan ia masih tetap menjadi
seorang muslim sejati.
c. Orang yang melakukan dosa besar dari kalangan golongan luar adalah kafir
dan tetap kekal di dalam neraka. b. Orang yang melakukan dosa besar dari kalangan
golongan sendiri, mungkin Tuhan akan menghukumnya, tetapi hukumannya tidak
dengan memasukkannya dalam neraka, kemudian mereka pada akhirnya dimasukkan
Tuhan ke surga.
d. Membolehkan menyembunyikan identitas diri (taqiyah)
e. Membolehkan orang yang tinggal dan berdiam diri di rumah dan tidak turut
berperang, tetapi sebenarnya jihad lebih utama ketimbang hanya berdiam diri
dan menyembunyikan diri dan tidak ikut berperang.
Aliran Ilmu Kalam serta Pengikutnya :
1. ALIRAN MU'TAZILAH
Abad ke-1 H, tokohnya meliputi6 :
a. Al-Ja‘d bin Dirham
b. Ghailan ad-Dimasyqi
c. Ma'bad al-Juhani
Abad ke-2 H, meliputi:
a. Wasil bin Atha'
6 Quraish Shihab (ed), Ensiklopedi Islam, Juz. III, Cet. III; (Jakarta: PT. Ikhtiar Baru Van Hove, 1994),h.293
b. 'Amru bin 'Ubaid
c. Dhirar bin 'Amru
d. Bisyr bin al-Mu'tamir
e. Jahm bin Shafwan
f. Abu Bakr al-Asham
g. Shafwan bin Shafwan
h. Hafs al-Fard
2. ALIRAN JABARIYAH
Aliran Jabariyah terbagi menjadi dua yaitu Jabariyah ekstrem, dan Jabariyah moderat.
Tokoh Jabariyah ekstrem, seperti7 :
a. Jahm bin Shofwan. Nama lengkapnya adalah Abu Mahrus Jaham bin Shafwan.
b. Ja’d bin Dirham. Al-Ja’d adalah seorang Maulana Bani Hakim, tinggal di Damaskus
Tokoh Jabariyah moderat yaitu8 :
a. An-Najjar Nama lengkapnya adalah Husain bin Muhmmad an-Najjar (wafat 230 H).
b. Adh-Dhirrar. Nama lengkapnya Dhirar bin Amr
3. ALIRAN QODARIYAH
Menurut Ahmad Amin, ada ahli Teologi yang mengatakan bahwa Qadariyah pertama
kali dimunculkan oleh Ma’bad al-Jauhani dan Ghailan ad-Dimasyqy. Menurut Ibnu
Nabatah dalam Syarh al-Uyun (Bulan bagi Mata-mata), orang yang mula-mula
mengembangkan faham Qadariyah adalah orang Irak yang semula beragama Nasrani,
kemudian masuk Islam, dan akhirnya menjadi Nasrani lagi. Dari orang inilah, Ma’bad
dan Ghailan ad-Dimasyqi mengambil faham ini. Orang Irak yang dimaksud,
sebagaimana dikatakan Muhammad Ibn al-Auzai, adalah Susan9.
4. ALIRAN SYIAH
Selain tokoh-tokoh populer seperti Ali bin Abi Thalib, Hasan bin Ali, dan Husein bin
Ali, terdapat dua tokoh ahlulbait lainnya yang mempunyai pengaruh dan andil yang
sangat besar dalam pengembangan faham Syi’ah, yaitu Zaid bin Ali bin Husein Zainal
Abidin dan Ja’far as-Sadiq.
5. ALIRAN AL-ASY'ARIYAH
Tokoh tokoh aliran Al Asy'ari yah
7 Rozak dalam Murtiningsih, “Pengaruh Pola Pikir Jabariyah dalam Kehidupan Sehari-hari,” 17,2, UIN Raden
Fatah Palembang (2016): h.194.
8 Murtiningsih, “Pengaruh Pola Pikir Jabariyah dalam Kehidupan Sehari-hari,” h.198-199.
9 66Harun Nasution,Ibid.H. 33.
a. Al-Baqillany (wafat 403 H / 1013 M) Nama lengkapnya adalah Muhammad bin
Thayyib bin Muhammad bin Ja'far bin al-Qasim, yang lebih dikenal dengan al-Qadhi
Abu Bakr al-Baqillani10
b. Al-Juwainy (419 – 478 H / 1028 – 1085 M). Al-Iman al-Juwaini yang juga dikenal
dengan nama Iman al-Haramaeni, mempunyai nama lengkap Abu al-Ma'aliy Abd al-
Malik bin Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf bin Abdullah bin Yusuf bin
Muhammad bin Hayyuyah al-Juwaini. Seorang ahli ushul dan fikih, beliau
bermazhab Syafi'iy.
c. Al-Ghazali (450 - 505 H)
Nama Iengkapnya ialah Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad bin Ahmad,
Imam besar Abu Hamid al-Ghazâli Hujjatul Islam. Dia digelar dengan gelaran
Zainuddin berkebangsaan Persia asli, lahir pada tahun 450 H/1058 M, di Thus (dekat
Meshed) sebuah kota kecil di Khurasan (sekarang Iran), di sini pula Al-Ghazali
wafat di Nazran tahun 505 H/1111 M.
d. Al-Sanusy ( 833-895 H / 1427 – 1490 M) Al-Sanusy ( 833-895 H / 1427-1490 M).
Nama lengkapnya yaitu Abu Abdillah Muhammad ibn Yusuf. Lahir di Tilimsan,
kota di al-Jazair.
6. ALIRAN MATURIDIYAH
Tokoh-tokoh :
Aliran Maturidiyah didirikan oleh Imam Abu Mansur Al-Maturidi, atau nama
lengkapnya adalah Abu Mansur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud Al-Maturidi
As-Samarqandi Al-Hanafi (wafat 333 H / 944 M)
a. Tokoh MATURIDIYAH di Samarkand11
Tokoh utama dalam aliran Maturidiyah Samarkand adalah Abu Mansur Muhammad
bin Muhammad bin Mahmud Al-Maturidi As-Samarqandi Al-Hanafi (w. 333 H /
944 M) sendiri.
b. Tokoh maturidiyah di Bukhara
Tokoh di Bukhara merupakan pengikut dari aliran maturidiyah itu sendiri.
7. ALIRAN AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH (ASWAJA)
Dalam bidang kalam, tokoh utamanya tentu adalah al-Asy‘ari dan al-Maturidi beserta
murid-muridnya. Adapun murid-murid terkenal dari Asy‘ari dalam bidang kalam
10 Abdullah Musthafa Al-Maraghi. Al-Fath al-Mubin fi Tabaqat al-Ushuliyyin. (Cairo : Abd al-Hamid
Hanafi,tth), Juz I, h.233
11 Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, jilid II, H. 37.
diantaranya adalah12: 1. Al-Baqillany (wafat 403H / 1013 M) 2. Al-Juwainy (419 – 478
H / 1028 – 1085 M) 3. Al-Ghazali (450 - 505 H) 4. Al-Sanusy ( 833-895 H / 1427 –
1490 M) Sementara itu, murid-murid terkenal dari al-Maturidi dalam bidang kalam
salah satunya adalah al-Bazdawi.
Macam-macam Pemikiran Kalam di Indonesia
Teologi islam atau pemikiran islam atau yang sering disebut dengan kalam memang
selalu menarik perhatian para cendikiawan dan pemikir muslim di Indonesia. Berikut adalah
macam - macam pemikiran kalam di Indonesia.
1. Ahmadiyyah
Ahmadiyyah merupkan jamaah muslim yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad pada
tahun 1889 di Qadiyan, Punjab, india. Mirza Ghulam ahmad mengaku sebagai mujaddid,
al-masih, dan al mahdi. Tujuan didirikan ahmadiyyah adalah menghidupkan islam dan
menegakkan syariat islam dan nilai-nilai Spiritual.
Seiring perkembangan Ahmadiyah, ada dua kelompok yang berbeda dalam pehaman
Ahmadiyah. Yaitu kelompok Ahmadiyah Qadiyan dan Ahmadiyah Lahore. Perpecahan
terjadi berawal dari fatwa yang dikeluarkan oleh Mirza Ghulam Ahmad bahwa: Pertama:
Mirza Ghulam Ahmad betul-betul seorang Nabi, Kedua: Mirza Ghulam Ahmad ialah
sosok Ahmad yang diramalkan dalam al-Quran surah al-Shaffat ayat 6. Ketiga: Semua
orang Islam yang tidak berbaiat kepadanya, sekalipun tidak pernah mendengar nama
Mirza Ghulam Ahmad hukumnya kafir dan keluar dari agama Islam.
• Ajaran Teologi Ahmadiyah
Mengenai Asma Allah, pada hakikatnya hanya milik Allah, selain dari Allah tidak
ada satu nama (ism) pun. Sebab tatkala suatu benda itu tercipta, maka timbullah nama,
akan tetapi setelah nama itu terbentuk, setiap perubahan yan terjadi menafikkan nama
tersebut, kecuali nama anugerah yang berkaiatan dengan Allah. Nama yang dikenal saat
ini terdiri dari dua macam, yaitu yama yang kosong dan tidak mengandung makna yaitu
merupakan nama yang jamid (statis).
Mengenai wahyu, Ahmadiyah Qadiyan dan Lahore berpendapat bahwa wahyu itu
ditutunkan oleh Allah dengan Lafadz Allah yang disampaikan kepada para
penerimanya bukan sebuah inspirasi yang kemudian diucapkan dengan kalimat sendiri
oleh para penerimanya.
12 Muhammad Idrus Ramli,Pengantar Sejarah Ahlussunnah Wal-Jamaah, h.72.
Aliran Ahmadiyah meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad menerima wahyu dari
Allah, namun wahyu yang diterima merupakan jalan untuk menginterpretasi al-Quran
dan bukan menyamai teks al-Quran, karena mereka meyakini bahwa Al-Quran
merupakan satu-satunya kitab suci yang dapat memperbaiki dan menertibkan
kerusakan-kerusakan yang terjadi.
2. Muhammadiyyah
Muhammadiyah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan di Kampung Kauman
Yogyakarta pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330/18 Nopember 1912. Dengan sebuah tujuan
memurnikan ajaran Islam yang dianggap banyak dipengaruhi oleh hal-hal mistik.
Dengan titik langkah antara lain: memperteguh iman, menggembirakan dan
memperkuat ibadah, mempertinggi akhlaq, mempergiat dan memperdalam
penyelidikan ilmu agama Islam, memajukan dan memperbaharui pendidikan,
menggiatkan dakwah islam, memelihara tempat ibadah (wakaf), membimbing para
pemuda agar menjadi orang islam yang berarti, membimbing pada arah kehidupan dan
penghidupan sesuai dengan ajaran islam, menumbuhkan rasa tolong-menolong,
menanam kesadaran agar tuntunan dan peraturan islam berlaku dalam masyarakat.
• Ajaran Teologi Muhammadiyah
Muhammadiyah memandang bahwa akidah yang benar adalah akidah yang dianut
oleh umat islam pada generasi Nabi Muhammad SAW dan para sahabat-sahabatnya,
yang sejalan dengan isyarat al-quran surah at-Taubah ayat 100 dengan pertimbangan
hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dengan derajat hadits Hasan Shahih. Hadits
tersebut adalah:
Artinya: “Dari Abdullah bin Amr, katanya, Rasulullah SAW bersabda: pasti akan
tiba saat ummatku seperti bani israil, ilustrasinya sama seperti dua sandal ini samapai
pada zaman kehancuran moral mereka (Bani Israil) ada seorang anak kandung
berbuat mesum dengan ibunya, demikian juga terjadi pada umatku. Bani Israil
terpecah menjadi 72 golongan dan umatku terpecah belah menjadi 73 golongan, hanya
satu yang selamat dan yang lainnya masuk neraka (perebutan ambisi). Para Sahabat
bertanya, Rasul, siapa yang selamat itu?. Rasulullah Saw menjawab, Mereka yang
mengikuti jejakku dan jejak sahabatku.”
Mengenai Rukun Iman, Muhammadiyah berpendapat bahwa: Pertama Iman
Kepada Allah itu adlah wajib hukumnya, dengan iman bahwa Allah mempunyai 13
sifat hal ini diadopsi dari paham Asy’ariyah. Kedua Iman Kepada Malaikat, yaitu
pecaya bahwa Allah mempunyai malaikat yang senantiasa mensucikan Allah, tidak
minum, tidak tidur yang masing-masing dari mereka mempunyai tugas dan kedudukan.
Tidak boleh menggambarkan malaikat kecuali dengan apa yang diterangkan oleh
Syara’. Ketiga Iman Kepada Kitab-kitab Allah. Kita wajib percaya bahwa Allah telah
menurunkan kitab-kitab kepada Rasul-Nya untuk memperbaiki manusia tentang urusan
dunia dan agama mereka. Al-Quran merupakan kitab terakhir yang diturunkan yang
memuat apa yang tidak termuat dalam kitab-kitab sebelumnya.
Mengenai ayat-ayat Mutasyabih golongan Muhammadiyah menyerahkan tafsir arti
yang sebenarnya kepada Allah atau dengan takwil yang berdasarkan alasaan-alasan
yang dapat diterima. Keempat Iman kepada Rasul. Dalam pandangan Muhammadiyah,
Rasul adalah manusia biasa yang memperoleh wahyu member petunjuk kepada
manusia mengenai jalan yang lurus, mereka merupakan orang-orang yang jujur,
terpercaya dan cerdas.
3. Nahdlatul Ulama
Nahdlatul Ulama (Kebangkita Ulama) juga dikenal dengan Kebangkitan
Cendekiawan Islam atau yang populer dengan singkatan NU. organisasi yang bergerak
dibidang Pendidikan, Sosial, dan Ekonomiberdiri pada 13 Januari 1926. pada 16 Rajab
1344 atau 13 Januari 1926 secara Resmi didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari (Rais
Akbar). NU juga mempunyai landasan berpikir, bertindak dalam bidang politik dan
sosisal dan keagamaan. Adalah kitab al-Qanun al-Asasi, dan kitab I’tiqad ahlussunnah
wal Jamaah sebagai pembentuk pola pikirnya. Dari sisnilah dapat dipahami bahwa
tujuan didirikannya NU adalah untuk menegakkan ajaran Islam menurut faham
Ahlussunnah wal Jamaah.
Mengenai faham keagamaan, NU menganut Ahlussunah waljamaah, sebuah pola
pikir yang mengambil jalane tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dan ekstrim naqli
(skripturalis). Maka dari itu dalam teologi NU menganut cara berpikir Abu Hasan Al-
Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi, sedangkan dalam Fiqih menganut empat
madzhab.
• Ajaran Teologi Nahdlatul Ulama
Mengenai masalah ketuhanan, NU berbeda pendapat dengan mu’tazilah, menurut
faham NU bahwa Tuhan mempunyai Sifat ada hal-hal yang menjadi sifat Tuhan.
Misalnya, mengenai (‘ilm) mustahil bagi tuhan merupakan pengetahuan, akan tetapi
Tuhan memiliki pengetahuan (‘Alim) Tuhan mengetahui dengan Pengetahuan yang
dimilikinya. Mengenai Sifat, NU berpandangan bahwa siat berada pada dzat, akan
tetapi sifat bukanlah dzat dan bukan pula lain dari dzat. Seperti halnya Mu’tazilah,
Asy’ari sejalan dalam pendapat bahwa Allah itu Maha adil, tetapi menolah faham
Mu’tazilah al-Shalah wa al-Ashlah. Dalam hal ini Asy’ari meninjau keadilan Tuhan
dari sudut kekuasaan dan kehendak Tuhan Mutlak.
Mengenai teori al-Kasb dalam pendapat ay’ari (kemudian menjadi pendapat NU)
yaitu bahwa untuk merealisasikan terwujudnya suatu perbuatan dalam perbuatan
manusia terdapat dua perbuatan, yaitu perbuatan Tuhan dan perbuatan manusia.
Perbuatan tuhan adalah hakiki dan perbuatan manusia adalah majazy, sebagaimana
dijelaskan oleh al-Baghdadi bahwa Tuhan dan Mnusia dalam suatu perbuatan adalah
seperti dua orang yang mengangkat batu besar; yang seorang mampu mengangkatnya
sendirian, sedangkan seorang lagi tidak mampu.
D. ANALISIS
Persoalan politik menjadi gerbang awal munculnya aliran-aliran kalam dimana antara
satu dengan yang lainnya mempunyai cara pandang tersendiri mengenai Tuhan beserta sifat-
sifatnya. Dan seiringnya waktu berjalan aliran-aliran tersebut terus bertambah dan
berpengaruh pada dunia keislaman, bahkan tokoh-tokoh serta pengikutnyapun semakin
banyak. Tidak heran jika aliran kalam tersebut yang awalnya hanya di Makkah kini sudah
merambah ke berbagai dunia, salah satunya Indonesia. Tokoh kalam di Indonesia contohnya
Harun Nasution dan KH. Hasyim Asy’ari. Dan aliran yang paling berpengaruh di Indonesia
saaat ini ada Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Kalam pada zaman dahulu memang
terkenal dengan sebuah konflik, tetapi seharusnya pada zaman modern ini kalam yang
merupakan suatu bidang keilmuan harusnya lebih terfokus pada masalah-masalah yang
terjadi pada saat ini dan memberikan pendapat serta solusinya.
E. KESIMPULAN
Dari pemaparan materi diatas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud ilmu kalam
yaitu ilmu yang membahas mengenai Tuhan dan sifat-sifatnya, mengandung argumen dan
berpikir agamis dan rasional untuk menguatkan akidah keimanan umat Islam. Diantara
tokoh ilmu kalam ada al-Muhakkim al-ula, al-azariqah, dan al-nadjah. Ada banyak aliran
yang berdiri dan mempunyai pemikiran tersendiri tentang teologi yaitu aliran Mu’tazilah,
aliran jabariyah, aliran jabariyah disini terbagi menjadi dua aliran jabariyah yang ekstrem
dan moderat. Aliran qodariyah, aliran syiah, aliran asy’ariyah, dan ahlussunnah wal jama’ah
dengan tokoh terkenalnya al-asy’ari dan al-maturidi. Di Indonesia sendiri yang paling
banyak pengikutnya dalah aliran ahlussunnah waljamaah. Ahmadiyah, Muhammadiyah,
dan Nahdlatul Ulama merupakan contoh aliran yang berdiri di Indonesia.
F. DAFTAR PUSTAKA
• Jamaluddin, Shabri Shaleh Anwar. 2020. “Ilmu Kalam Khazanah Intelektual Pemikiran
dalam Islam”. Indragiri Hilir. PT. Indragiri Dot Com.
• Yusuf, Yunan. 2014. “Alam Pikiran Islam Pemikiran Kalam dari Khawarij ke Buya
Hamka hingga Hasan Hanafi”. Jakarta. Prenadamedia Group.
• Kiswati, Tsuroya. 2014. “Ilmu Kalam Aliran Sekte, Tokoh Pemikiran, dan Analisa
Perbandingan Aliran Khawarij, murjiah, dan mu’tazilah”. Surabaya.
• Yudhi, Gus. 2015. Corak Pemikiran Kalam di Indnesia.
https://www.kompasiana.com/gusyudhi/corak-pemikiran-kalam-di-
indonesia_54f348be745513a02b6c6f40. Diakses pada 17 September 2020.
• Suntiah, Ratu. Dasar-dasar Ilmu Kalam. Banten.