The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Perkembangan Tarekat di Indonesia bermula dengan adanya suatu ajaran Tasawuf yang dipadukan dengan sufistik India dan sufistik Pribumi yang kemudian banyak dianut oleh masyarakat di Indonesia.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by E BOOK 3 PAI E UIN SAIZU PURWOKERTO, 2021-09-22 11:55:37

PERKEMBANGAN PEMIKIRAN TASAWUF DAN TAREKAT DI INDONESIA

Perkembangan Tarekat di Indonesia bermula dengan adanya suatu ajaran Tasawuf yang dipadukan dengan sufistik India dan sufistik Pribumi yang kemudian banyak dianut oleh masyarakat di Indonesia.

Keywords: PERKEMBANGAN PEMIKIRAN TASAWUF DAN TAREKAT DI INDONESIA

PERKEMBANGAN PEMIKIRAN TASAWUF DAN TAREKAT DI
INDONESIA

Disusun Oleh:

Kelompok 8

1. Wilda Aulia Sabrina (2017402240)

2. Ratna Yanti (2017402238)

3. Rizki Nurul Aisya (2017402234)

4. M. Zidanudin Hidayat (2017402220)

A. Pendahuluan
Perkembangan Tarekat di Indonesia bermula dengan adanya suatu ajaran Tasawuf yang
dipadukan dengan sufistik India dan sufistik Pribumi yang kemudian banyak dianut oleh
masyarakat di Indonesia. Dengan adanya proses tersebut kemudian secara berangsur-angsur
tarekat juga mulai berkembang di Indonesia dari hal tersebut maka perkembangan tarekat tidaklah
terlepas dari ajaran Tasawuf. Tarekat berasal dari bahasa Arab yaitu tarekaq, jamak dari " tara'iq
". Secara etimologi tarekat berarti jalan, cara, metode, sistem, mahzab, aliran sedangkan menurut
istilah tarekat berarti perjalanan seorang saleh ( pengikut tarekat ) menuju Tuhan dengan cara
menyucikan diri atau perjalanan yang harus di tempuh agar seseorang tersebut bisa lebih dekat
dengan Tuhan-Nya . Sedangkan Tasawuf sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu " tashowaffa-
yatashowwafu-tashowwuf " yang bermakna menjadi berbulu yang banyak yakni menjadi seorang
sufi yang memiliki ciri khas menggunakan pakaian berbulu domba/wol. Namun pengertian lain
menyebutkan bahwa tasawuf merupakan suatu kata yang lazim di gunakan untuk memperoleh
hubungan langsung dengan Tuhan, kedua pengertian tersbut membuat penulis ingin mengkaji
lebih dalam tentang tarekat dan tasawuf dan penerapannya dalam era modern seperti sekarang ini,
untuk itu penulis merumuskan beberapa masalah yang berkaitan dengan tarekat dan tasawuf yang
akan terkaji lebih dalam melalui makalah ini.

B. Rumusan Masalah

1

1. Bagaimana sejarah masuknya pemikiran Tasawuf dan Tarekat di Indonesia?
2. Bagaimana perkembangan pemikiran Tasawuf dan Tarekat di Indonesia?
3. Apa saja ragam pemikiran Tasawuf dan Tarekat di Indonesia?
4. Bagaimana pemikiran Tasawuf dan Tarekat di Indonesia?

C. Pembahasan
1. Masuknya Pemikiran Tasawuf dan Tarekat di Indonesia

a. Masuknya Pemikiran Tarekat di Indonesia

Pada hakikatnta tarekat bukanlah sesuatu yang terpisah dari syari'at karena tarekat adalah
penjabaran dari syari'at itu sendiri. Banyak orang yang mengatakan bahwa " Syariat tanpa tarekat
adalah kosong, sedangkan tarekat tanpa syari'at adalah bohong. Hal ini serupa dengan buku
Pengantar Tarekat yang ditulis oleh Abu Bakar Atjeh, dimana dengan tegas menyatakan bahwa
tarekat merupakan bagian terpenting dari pelaksanaan tasawuf. Munculnya tarekat di Indonesua
tidak terlepas dari sejarah masuknya islam ke Nusantara. Para sejarawan Barat meyakini islam
bercorak sufiddtik membuat penduduk Nusantara yang semula beragama Hindhu dan Budha
menjadi tertarik dan lebih mudah beradaptasi dengan tarikat yang di bawa oleh para wali. Proses
islamisasi di Nusantara secara besar-besaran terjadi pada penghujung abad 14 atau awal abad 15
bersamaan dengan masa keemasan perkembangan tasawuf akhlaki yang ditandai dengan
munculn6a aliran-aliran tarikat di Timur Tengah.

Tarikat-tarikat ini kemudian menyebar ke Nusantara dan mencapai puncaknya pada abad 17-18
bersamaan dengan orang-orang jawa yang naik haji. Sampai saat ini tak kurang dari 44 tarekat
telah ada dan tersebar di seluruh Indonesia.

Masuknya tarekat pada hakikatnya di bagi menjadi dua fase

1. Fase Pertama

Fase pertama adalah era wali songo dimana sejarawan barat yang meyakini masuknya islam
sufistik membuat penduduk nusantara yang beragama Hindu Budha dengan tradisi metafisik dan
spritualitas yang di rasa lebih dekat dan memudahkan penduduk nusantara beradaptasi dengan

2

tarikat yang di bawa oleh para wali pada saat itu. Keterkaitan wali songo dengan tarikat dapat
terlihat dari Serat Banten Rante-rante, sejarah banten kuno, dan lain sebagainya.

2. Fase kedua

Fase kedua adalah pada abad 17-18 dimana tarikat yang terkenal masuk pertama kali ke Nusantara
pada masa ini adalah Tarekat Qodiriyyah, Syaththariyyah dan Rifa'iyyah yang diketahui masuk ke
Nusantara melalui Pulau Sumatera secara susul menyusul. Meskipun ketiga tarikat tersebut
memiliki perbedaan satu sama lain namun kecenderungan kesamaan ketiganya dapat terlihat
melalui faham Wahdatul wujud. Selain ketiga tarikat tersebut juga terdapat tarikat lain yang
berkembang di Nusantara melalui kerajaan-kerajaan yang ada.

3. Fase ketiga

Fase ketiga adalah era modern dimana tarikat di yakini sebagai suatu jalan untuk mencapai ridho
Allah. Namun seorang ahli tarekat menerangkan bahwa tarekat tidak terbatas banyaknya karena
tarekat atau jalan kepada Allah itu senayak jiwa manusia. Dalam masa ini dapat di ketahui bahwa
kekeluargaan tarekat meliputi syaeh, mursyid, ribath (tempat latihan), kitab-kitab, bai'at, metode
ajaran, dan silsilah.

b. Masuknya Pemikiran Tasawuf di Nusantara

Masuknya Tasawuf di Nusantara di monotori oleh 2 tokoh sufi yang berasal dari Andalas pada
abad ke 17 yaitu Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani. Namun pada abad ke 15 telah
terjadi peristiwa tragis berupa eksekusi mati terhadap Syaeh Siti Jenar terhadap fatwa dari wali
songo karena ajarannya di pandang menganut doktrin sufistik yang bersifat bid'ah. Namun
peristiwa tersebut belum dapat diketahui secara pasti kebenarannya karena terlalu sedikit literatur
yang menjelaskan sosok syaeh siti jenar di Nusantara. Menurut Alwi Shihab, kehadiran Syekh Siti
Jenar dengan ajaran dan syahadat-nya yang dipandang sesat, dapat dijadikan sebagai tahap pertama
perkembangan tasawuf falsafi di Indonesia. Alwi menamakannya sebagai tahap perkenalan.
Setelah wafatnya syaeh Siti Jenar munculah Hamzah dan Syamsuddin di Sumatera. Kedua tokoh
ini membawa ajaran yang saling melengkapi dan bagaimanapun juga telah mengajarkan dan secara
sempurna tentang tasawuf falsafi yang kemudian diikuti oleh banyak pengikutnya di Nusantara
dan Indonesia.

3

Berdasarkan hal tersebut maka masuknya pemikiran Tasawud di Indonesia terbagi menjadi tiga
tahap yaitu :

1. Tahap Pertama

Tahap ketika tasawuf masih sederhana dimana guru dan murid hidup secara sederhana
sebagaimana orang biasa hingga kemudian muncul fenomena pemondokan sufi yang di sebut
Khankah

2. Tahap Kedua

Tahap ketika pengajaran tasawuf mulai berkesinambungan yang sudah dapat membentuk istilah
tariqah. Tahap kedua ini di perkirakan berlangsung sekitar abad ke6/12 hingga penghujung abad
ke-8/14.

3. Tahap Ketiga

Tahap ketiga berlangsung sejak abad ke-9/15 dimana ketika tasawuf sudah terorganisasi menjadi
gerakan masal yang membentuk aliran-aliran dan sub-sub kelompok.

2. Perkembangan Pemikiran Tasawuf Dan Tarekat di Indonesia
Sebagian orang masih banyak yang mengatakan bahwa tasawuf tidak ada dalam Al-Qur’an dan

Sunnah, oleh karena itu tasawuf dianggap bid’ah. Memang benar, kita tidak akan menemukan
satupun kata tashawwuf dalam Al-Qur’an dan demikian juga halnya dalam hadits. “Karena istilah
tasawuf baru muncul kira-kira 50-60 tahun setelah Rasulullah Saw. wafat”. Berbeda dengan Kang
Jalal, R.A. Nicholson berpendapat bahwa terma tasawuf baru dikenal pada akhir abad kedua
hijriyah. Pada saat itu pengertiannya sudah mengacu pada suatu ajaran mengenai cara-cara untuk
mendekatkan diri kepada Tuhan sedekat mungkin.

Asal-usul kata tasawuf sampai sekarang masih banyak diperdebatkan orang. Ada yang
mengatakan bahwa tashawwuf berasal dari kata shuf, yang berarti bulu domba. Ada juga yang
berpendapat bahwa kata tashawwuf berasal dari kata ahlash-shuffah, yakni kelompok sahabat
sangat miskin yang hijrah ke Madinah. Mereka tidak punyai tempat tinggal. Oleh karenanya
Rasulullah menempatkan mereka di beranda masjid. Kaum orientalis berpendapat bahwa istilah
tashawwuf berasal dari bahasa mereka, yakni teosofos (teosophia), Teo berarti Tuhan dan sophia
berarti kebijaksanaan. Jadi tasawuf berarti kebijaksanaan yang dihubungkan dengan Tuhan (al-

4

hikmah al-ilahiyah) Kemudian para ulama Islam mengambil kata itu dan menyesuaikannya dengan
lidah Arab sehingga menjadi tashawwuf tasawu.

Secara aplikatif tasawuf terbagi kepada dua bagian yaitu tasawuf falsafi dan tasawuf akhlaki.
Pertama; tasawuf falsafi adalah permasalahan tasawuf yang sangat rumit dan ditekuni oleh orang-
orang khawas saja. Dalam tasawuf falsafi ditemukan berbagai istilah yang rumit seperti wihdatul
wujud, hulul, ittihad, fana, baqa, syathat, dan sebagainya. Tasawuf falsafi memasukkan ke dalam
ajaran- ajarannya unsur-unsur filosofis dari luar Islam dan mengungkapkan ajaran-ajarannya
dengan memakai istilah-istilah filosofis dan simbol- simbol khusus yang sulit dipahami oleh orang
banyak. Tasawuf tipe trakhir ini disebut “Tasawuf filosofis” (al-tashawwuf al-falsafi) atau
“tasawuf semi-filosofis” (al- tashawuf syibh al-falsafi), dan kadang kala disebut “tasawuf teosofis”
(al-tashawwuf al-tiyushufi).

Wacana tasawuf khususnya tasawuf falsafi di Nusantara dimotori oleh Hamzah Fansuri dan
Syamsuddin Sumatrani, dua tokoh sufi yang datang dari pulau Andalas (Sumatera) pada abad ke
17 M. Sekalipun pada abad ke 15 sebelumnya telah terjadi peristiwa tragis berupa eksekusi mati
terhadap Syekh Siti Jenar atas fatwa dari Wali Songo, karena ajarannya dipandang menganut
doktrin sufistik yang bersifat bid’ah berupa pengakuan akan kesatuan wujud manusia dengan
wujud Tuhan, Zat Yang Maha Mutlak.

Masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia terkait erat dengan tasawuf. Peranan para sufi
dalam dakwah Islam di Indonesia telah menyita secara kumulaatif menegaskan signifikansi
peranan tersebut. Bukti paling sederhana dari signifikansi ini adalah kenyataan bahwa hampir
semua ulama terkemuka periode awal Islam di Indonesia – Hamzah Fansuri, Syams al-Din al-
Sumatrani, Nuruddin al- Raniri, ‘Abd al-Ra’-f al- Sinkili, Muhammad Yusuf aal- Maqassari, dan
lain-lain adalah para sufi. Konsekuensinya, tasawuf menjadi salah satu tradisi intelektuaal yang
berkembang pesat di Indonesia sejak masa awal. Masih pada penghujung abad ke-16 dan paroh
pertama abad ke-17, Hamzah Fansuri (w. sekitar 1590) dan Al-Sumatrani (w. 1630) telah
mengembangkan pemikiran tasawuf falsafi berkembang terus dan membentuk tarekat-tarekat yang
memungkinkannya berperan lebih mengakar, massal dan terorganisasi.

Ajaran tarekat adalah salah satu pokok ajaran yamg ada dalam tasawuf. Ilmu tarekat sama sekali
tidak dapat dipisahkan dengan ilmu tasawuf dan tidak mungkin dipisahkan dari kehidupan orang-

5

orang sufi. Orang sufi adalah orang yang menerapkan ajaran tasawuf. Dan tarekat itu sendiri adalah
tingkatan ajaran pokok dari tasawuf itu. Sejarah Perkembangan Tarekat terbagi menjadi empat
periode, yaitu sebagai berikut :

a. Periode Pertama (abad ke-1 dan ke-2 H)
Gerakan tasawuf pada masa ini timbul sebagai bentuk kekahawatiran terhadap perubahan

mental masyarakat di masa itu. Kondisi masyarakat pada masa abad pertama Hijriyah pasca nabi
SAW dan para sahabat mengalami perubahan besar dari aspek sosial dan ekonomi. Kondisi ini
ditandai dengan berkembangnya budaya hedonism di tengah-tengah masyarakat.

b. Periode Kedua (abad ke-3 dan ke-4 H)
Pada periode ini ajaran tasauf memasuki babak baru. Ajaran tasawuf pada periode ini tidak

hanya terbatas pada pembinaan moral, sebagaimana yang diajarkan para Zahid di masa periode
pertama. Menurut pandangan Hamka, pada masa abad ke 3 dan ke-4, ilmu tasawuf telah
berkembang dan telah memperlihatkan isinya yang dapat dibagikan kepada tiga bagian, yaitu ilmu
jiwa, ilmu akhlak dan ilmu ghaib (metafisika).

c. Periode ketiga (abad ke-5 H)
Memasuki abad ke 5, kedua bentuk ajaran tasawuf yakni tasawuf sunni dan tasawuf falsafi

yang berkembang pada periode kedua, maka pada periode ketiga ini terjadi pembaharuan di
dalamnya. Karena ternyata tasawuf sunni makin berkembang, sementara tasawuf falsafi mulai
tenggelam dan baru muncul kembali di saat lahirnya para sufi yang sekaligus seorang filosof
(Asmaran As, 1994: 253). Akan tetapi, kaitannya dengan tarekat, pada abad kelima hijriah ini
tarekat dalam pengertian kelompok zikir, baru muncul yang menjadi kelanjutan kaum sufi
sebelumnya. Hal itu ditandai dengan setiap silsilah tarekat selalu dihubungkan dengan nama
pendiri atau tokoh sufi yang lahir pada masa itu.

d. Periode keempat (abad ke-6 H. dan seterusnya)
Pada periode ini adalah munculnya kembali ajaran tasauf falsafi secara sempurna, dimana

pada periode sebelumnya (abad ke V) ajaran ini tenggelam. Ajaran tasawuf falsafi pada periode
abad ke VI mengalami perkembangan yang sempurna dimana ajaran tqasauwuf ini sudah cukup
detail dan mendalam dalam segi praktek, pengajaran dan ide.

Sejarah tarekat di Indonesia diyakini sama dengan sejarah masuknya Islam ke Nusantara
itu sendiri. Para sejarawan Barat menyakini, Islam bercorak Sufidtik itulah yang membuat

6

penduduk nusantara yang semula beragama Hindu dan Budha menjadi sangat tertarik. Tradisi dua
agama asal India yang kaya dengan dimensi metafisik dan spiritualitas itu dianggap lebih dekat
dan lebih mudah beradaptasi dengan tradisi tarikat yang dibawa para wali. Sehingga perubahan
besar itu pun berlangsung nyaris tanpa meneteskan darah sedikitpun. Ini berbeda dengan proses
Islamisasi di india yang dilakukan secara besar-besaran melalui penaklukan dan tekanan, bahkan
konon sedikit pemaksaan dengan senjata. Oleh para raja Muslim seperti Sultan Mahmud Ghadzna,
Auranzeb, Haidar Aly, Tipu Sultan, dan sebagainya. Namun hingga saat ini India terlebih setelah
terbagi tiga dengan Pakistan dengan Banglades dan muslim, Islam tetap tidak berhasil secara
massip menggeser Hindu sebagai Agama mayoritas masyarakat.

Proses islamisasi nusantara secara besar-besaran baru terjadi pada penghujung abad 14 atau
awal abad 15, bersamaan dengan masa keemasan perkembangan tasawuf akhalaki yang ditandai
dengan munculnya aliran-aliran tarekat di Timur Tengah. Fase itu sendiri telah dimulai sejak Imam
Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali (wafat 1111 M) merumuskan konsep tasawuf moderat yang
memadukan keseimbangan unsur Ahklak, syariat, dan filsafat. Konsep itu diterima sacara terbuka
oleh kaum fukaha yang sebelumnya menentang habis- habisan ajaran tasawuf falsafi yang
kontroversial. Tarekat-tarekat ini kemudian menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke Nusantara,
melalui para penyebar agama Islam. Mencapai puncaknya pada abad 17- 18, bersamaan dengan
orang-orang Jawa yang naik haji. Hingga saat ini tak kurang dari 44 tarekat yang telah ada dan
tersebar di seluruh Indonesia.

Pada Era Wali Songo, Para sejarawan Barat menyakini, Islam bercorak sufistik itulah yang
membuat penduduk nusantara yang semula beragama Hindu dan Budha menjadi sangat tertarik.
Tradisi dua agama asal India yang kaya dengan dimensi metafisik dan spritualitas itu dianggap
lebihdekat dan lebih mudah beradaptasi dengan tradisi tarikat yang dibawa oleh para wali. Sayang
nya dokumen sejarah Islam sebelum abad 17 cukup sulit dilacak. Salah satu referensi keterkaitan
para wali dengan dunia tarekat adalah Serat Banten Rante-rante, sejarah Banten kuno, dalam karya
sastra yang ditulis diawal berdirinya kesultaanan Banten itu disebutkan, pada fase belajarnya
Sunan Gunung Jati pernah melakukan perjalanan ke tanah Suci dan berjumpa dengan Syehk
Najmuddin Kubra dan Syekh Abu Hasan Asyadzili.

Pada Abad 17-18, Tarekat lain yang tercatat masuk ke Nusantara pada periode awal adalah
Tarekat Qodiriyyah, Syaththariyyah dan Rifa‟iyyah. Ketiga tarekat tersebut masuk ke Sumatra

7

sepanjang abad 16 dan 17 secara susul menyusul.Tarekat Qadiriyyah yang di bawa oleh Hamzah
Fansuri, ulama dan sastrawan sufi kontroversial dari Aceh. Meski banyak meninggalkan karya
tulis, namun sang sufi yang sempat berkelana kenegeri-negeri di Asia selatan dan tenggara itu
diyakini tidak menyebarkan tarekat nya kepada khalayak umat Islam. Meskipun berbeda tarekat,
guru dan murid itu mempunyai kesamaan kecenderungan, yakni mengajarkan faham Wahdatul
wujud, yang kemudian memicu konflik tajam dengan Sufi lain yang menjadi mufti kerajaan Aceh,
yakni Syekh Nuruddin Al-Raniri.

3. Ragam Perkembanagan Pemikiran Tasawuf dan Tarekat di Indonesia

1. Pemikiran Hamzah Fansuri (1016 H/1607 M)
Hamzah Fansuri di Nusantara merupakan tokoh sufi yang sepaham dengan Al Hallaj, beliau di
diakui sebagai seorang pujangga islam yang terkenal di zamannya. Beliau adalah ulama dan sufi
pertama yang menghasilkan karya tulis ke Tasawufan dan keilmuan dalam bahasa Melayu tinggi
atau baku.

Ajaran-ajaran Tasawuf Hamzah Fansuri sebagai berikut :

a. Tentang Allah
Allah adalah dzat yang mutlak dan Qadim sebab dia adalah yang pertama dan pencipta alam
semesta. Allah lebih dekat daripada leher manusia sendiri, dan bahwa Allah tidak bertempat,
sekalipun sering dikatakan bahwa ia ada dimana-mana.

b. Tentang hakikat wujud dan penciptaan
Menurutnya wujud itu hanyalah satu walaupun kelihatannya bnayak. Ia menggambarkan wujud
Tuhan bagaikan lautan dalam yang tak bergerak, sedangkan alam semesta merupakan gelombang
lautan wujud Tuhan.

c. Manusia
Manusia ialah tingkat yang paling penting dan merupakan penjelmaan yang penuh dan sempurna.

d. Kelepasan
Manusia adalah penjelmaan makhluk yang sempurna dan berpotensi menjadi insan yang
sempurna, namun karena ia lalai dan pandangannya kabur terhadap dunia, bahwa dunia ini palsu
dan sementara.

8

2. Pemikiran Nurrudin Ar-Raniri (1658 M)
Ar Raniri merupakan tokoh pembaharuan di Aceh, ia mulai melakukan pembaharuan Islam di
Aceh setelah mendapat pijakan yang kuat di istana Aceh. Pembaharuan utamanya adalah
memberantas aliran wujudiyyah yang dianggap sebagai aliran sesat.
Ajaran-ajaran Tasawuf Ar-Raniri sebagai berikut :

a. Tentang Tuhan
Ar Raniri dalam pemikirannya masalah ketuhanan bersifat kompromis, berusaha menyatukan
paham Mutakallimin dengan faham Sufi. Ia berpendapat bahwa ungkapan “ wujud Allah dan Alam
Esa” yang berarti Alam ini merupakan sisi lahiriyah dari hakikatnya yang batin yaitu Allah. Namun
pada hakikatnya adalah bahwa alam semesta ini tak ada yang ada hanyalah Allah wujud Allah
yang Maha Esa.

b. Tentang Alam
Ar Raniri berpendapat bahwa alam ini diciptakan melalui tajjali. Alam dan falak menurutnya
merupakan wadah tajjali asma dan sifat Allah dalam bentuk yang konkret.

c. Tentang manusia
Menurutnya manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna di dunia ini, sebab manusia
adalah khalifah Allah di bumi.

d. Tentang wujudiyyah
Inti ajaran wujudiyyah menurut Ar Raniri berpusat pada wahdat Al-wujud. Yang disalah artikan
oleh kaum wujudiyyah. Menurutnya,Ar Raniri berpandangan bahwa jika benar Allah dan makhluk
hakikatnya satu, dapat dikatakan bahwa manusia adalah Tuhan dan Tuhan adalah manusia maka
jadilah seluruh makhluk itu adalah Tuhan.

e. Tentang hubungan syariat dan hakikat
Pemisahan antara syariat dan hakikat, menurut Ar Raniri merupakan sesuatu yang tidak benar.

3. Pemikiran Syekh Abdur Rauf As-Sankili (1024-1105 H)
Abdur Rauf As-Sinkili adalah seorang ulama dan mufti besar kerajaan Aceh pada abad ke-17
(1606-1637 M). Ia adalah seorang khalifah Mursyid dari Tarekat Syathriyah, yang berarti pula dia
boleh membaiat orang lain.

Ajaran-ajaran tasawuf Syekh Abdur Rauf sebagai berikut :

a. Kesesatan ajaran tasawuf Wujudiyyah

9

Sebelum As-Sankili membawa ajaran tasawufnya terlebih dahulu sudah berkembang ajaran
Tasawuf Wujudiyyah, yang dianggap Ar Raniri sebagai ajaran tasawuf yang sesat dan
penganutnya dianggap murtad, oleh As-Sankili pendapat Ar-Raniri tersebut dianggap sebagai
perbuatan yang terlalu emosional.

b. Rekonsiliasi antara Tasawuf dan Syariat

As-Sankili berusaha merekonsiliasikan Tasawuf dengan Syariat. Ajaran tasawufnya sama dengan
Syamsudin dan Nuruddin yang menganut paham satu-satunya wujud hakiki yaitu Allah.

c. Dzikir

Dzikir dalam pandangan As-Sankili adalah salah satu upaya untuk menghindarkan diri dari sifat
lalai dan lupa pada sang pencipta.

d. Martabat perwujudan Tuhan

Menurutnya ada 3 martabat perwujudan Tuhan yaitu Martabat Ahadiyyah, Martabat Wahdah, dan
Martabat Wahdiyyah.

4. Pemikiran Abd Shamad Al-Palimbani (1783 M)
Abd Shamad Al-Palimbani adalah seorang ulama Sufi kelahiran Palembang pada permulaan abad
ke-18, kira-kira 3 tahun atau 4 tahun setelah 1700 M dan meninggal kira-kira tidak lama setelah
tahun 1203 H/1788 M.

Ajaran-ajaran Tasawuf Al-Palimbani sebagai berikut :
a. Tentang Nafsu

Al-Palimbani berpendapat bahwa ajarab Al-Ghazali tentang 3 tingkatan jiwa (nafs) manusia itu
dirasa masih kurang. Maka dari itu ia memilih 7 tingkatan jiwa yaitu Ammarah, lawammah,
mulhammah, muth’mainah, radhiyyah, mardhiyah dan kamilah).

b. Tentang Martabat Tujuh

Tingkatan martabatnya yaitu Martabat ahadiyyatul ahadiyah, martabat al-wahidah, al-wahidiyah,
martabat alam arwah, alam mitsal, dan martabat alam al-jami’ah.

10

c. Tentang Syariat

Al Palimbani berpendapat sama seperti tokoh sufi lainnya, yaitu berpandangan bahwa Tuhan
hanya dapat didekati melalui keyakinan yang benar pada Keesaan Tuhan yang mutlak dan patuh
pada ajaran-ajaran syariat.

d. Tentang Makrifat

Ia mengakui pendapat Al-Ghazali tentang pandangan bahwa tingkat makrifat tertinggi yang harus
dicapai seorang sufi adalah memandang Allah secara langsung dengan mata hati yang bersih,
namun menurutnya belum tercapai dalam pengasingan diri dari segala kesibukan kehidupan
kemasyarakatan, beruzlah, dan berzikir mengingat Allah saja, melainkan juga ikut aktif dalam arus
kehidupan dunia nyata ini dan memancarkan asma Allah yang mulia melalui amal perbuatan nyata.

Selain tokoh-tokoh pengembang pemikiran tasawuf di atas ada beberapa pengembang pemikiran
tasawuf di Indonesia yaitu diantaranya Syekh Yusuf Al-Makassari, Nawawi Al-Bantani, Dan
Hamka.

Perkembangan Pemikiran Tarekat

a. Tarekat Qidariyah

Tarekat ini diambil dari nama pendirinya yaitu Saikh Abdul Qadir Al-Jailani, nama lengkap
beliau adalah al-Imam Muhyiddin Abu Muhammad Abu Shalih Abdul Qadir bin Abi Shalih
Musa Jangki Dausat al-Jilani, lahir di Busytiru kota Jilan 470 H./1077 M. Dan wafat 561
H./1166 H. di kota Baghdad. Tarekat ini berkembang di Indonesia dibawah oleh syekh Hamza
Fansuri, kemudian menyebar di daerah jawa, terutama di daerah Cirebon dan Banten.
a. Tarekat Rifa‟iyyah
Tarekat ini di nisbatkan pada pendirinya syekh Ahmad Al-Rifa‟i (w. 578). Perkembangannya di
Indonesia tarekat ini dibawa oleh syekh Nuruddin al-Raniri, dan tarekat ini banyak berkembang
di Aceh dan Minangkabau.

b. Tarekat Syadiliyah

11

Tarekat ini tidak bisa dipisahkan hubungan dengan pendirinya, yakni Abu al-Hasan al-Syadzili.
Kemudian nama terakat ini dinisbatkan atas nama pendirinya Syadziliyah.

c. Tarekat Naqsyabandiyah

Tarekat ini diambilkan dari nama Baha‟ Al-din Naqsyaband (717-791 H./ 1318-1389 M.) yaitu
pendiri dari tarekat tersebut. Ulama sufi Indonesia yang menyebut pertama kali tarekat ini adalah
syekh Yusuf al-Makassari. Beliau mempelajari tarekat ini di Nuhita, Yaman melalui syekh Abd
al-Baqi‟ al-Majazi al-Yamani. Di Madinah berbaiat tarekat Naqsyabandiyah kepada syekh
Ibrahim al-Kurani.

d. Tarekat Tijaniyah

Tarekat yang dinisbatkan kepada wali besar Sayyid Ahmad al-Tijani dengan julukan Ibnu Umar
atau Abu Abbas Ahmad. Ahmad Al-Tijani dilahirkan (1150 H./1737 M.) di Ain Madhi masuk
wilayah Tilimsan selatan Aljazair. Meninggal dunia dan di makamkan di kota Fes Maroko.
Dalam perkembangannya di Indonesia, tarekat ini tidak diketahui secara jelas.

e. Tarekat Qodiyah wa Naqsyabandiyah

Tarekat ini merupakan gabungan dari tarekat Qodiyah dan Naqsyabandiyah. Didirikan oleh
syekh Khatib al-Sambasi (1802-1872 M.). Perkembangan di Indonesia Tarekat Qadiriyah wa
Naqsyabandiyah diperkirakan sejak pertengahan abad 19, tepatnya pada tahun 1853, sejak
kembalinya murid-murid syekh Khathib al-Sambas dari Makkah ke tanah air.

Perkembangan di Kalimantan Barat, tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah disebarkan dua orang
muridnya, yakni syekh Nuruddin dan syekh Muhammad Sa‟ad, sedangkan di pulau Jawa,
penyebarnya merupakan para kiai dan haji yang pada umumnya mereka mempunyai lembaga-
lembaga pendidikan pesantren, rubath (lembaga pendidikan rohani) dll.

4. Tasawuf dan Tarekat di Indonesia Era Modern

Sayyed Husein Nasser memberi gambaran kenyataan bahwa masyarakat modern dewasa ini berada
pada nestapa kehancuran moral dan spiritualitas, disebabkan oleh modernisasi serta temuan
teknologi canggih (sains). Kenestapaan masyarakat modern tidak mau dan tidak mampu menerima
nilai-nilai moral yang ditawarkan oleh ajaran agama. Oleh karena itulah, mengapa ada konspirasi

12

universal pada akhir abad ini yang menekankan perlunya memberi tempat pada mistik dan
spiritualitas dalam kehidupan sosial manusia untuk mengatasi krisiskrisis sosial dalam kehidupan,
terutama dalam kehidupan masyarakat Barat.

Kemajuan dalam teknologi mewujudkan kecendrungan memicu keinginan untuk memenuhi
materi yang merupakan ciri utama kehidupan manusia zaman modern. Ternyata harus ditebus
dengan ongkos yang mahal, yaitu hilangnya kesadaran akan makna hidup yang lebih mendalam.

Berdasarkan pendapat di atas kesadaran spiritual sangat penting bagi manusia bukan hanya yang
hidup di era modern, tetapi seluruh manusia yang hidup di semua masa dan zaman, di semua situasi
dan kondisi, kapan saja dan di mana saja. Tasawuf merupakan sarana untuk meningkatkan spiritual
yang pemunculan dalam kontrol syari„ah. Karena tasawuf mampu menangkal sekular dan
material.

Di tengah derasnya arus modernisasi dengan peralatan teknologi modern, hidup menjadi semakin
mudah, tasawuf semakin dicari dan dibutuhkan oleh masyarakat. Fenomena ini menggugat
anggapan bahwa tasawuf menjadi faktor penghambat kemajuan dan perkembangan masyarakat.
Dulu di Indonesia tasawuf lahir dan menjamur hanya terbatas di kalangan masyarakat pedesaan,
seperti di pesantren tradisional. Sedangkan tarekat sebagai salah satu pengamalan tasawuf, lebih
banyak mewarnai masyarakat lapisan bawah, tapi kini tasawuf telah terangkat sebagai kebutuhan
hidup masyarakat modern. Ternyata tasawuf yang asalnya oleh kalangan Islam modernis maupun
reformis ingin disingkirkan dari kehidupan umat Islam, belakangan ini justru dicari-cari dan
dikejar-kejar oleh masyarakat modern atau masyarakat perkotaan karena tasawuf menyimpan
resep ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan yang mereka butuhkan.

Nilai tasawuf zaman sekarang telah dikemas sedemikian rupa dengan mengintegrasikan filsafat,
pemikiran, ilmu pengetahuan dan disiplin kerohaniantertentu berdasarkan ajaran Islam.
Kandungan yang digali dari al Quran dan al Hadist serta dari pengalaman keagamaan telah
dikembangkan oleh para sufi. Pelaksanaan nilai tasawuf di zaman modern hendaknya diposisikan
secara porposional, dalam arti tidak menutup kemungkinan adanya salik atau pengembara sufi
yang mengaplikasikan sufistik melalui maqam-maqam mulai dari awal sampai puncaknya
sehingga ia akan menjauhi hidup yang dipenuhi materi keduniaan, akan tetapi orientasi kesufian
hendaknya diarahkan dapat berkembang seiring dengan lajunya arus modernisasi.

13

Ajaran tasawuf di zaman modern menjadikan orang yang mampu menghadirkan ke dalam dirinya
nilai-nilai Ilahiyah yang memancar dalam perilaku sehari-hari yang baik dan menyinari kehidupan
sesama manusia dengan amal shaleh. Hal ini tentunya berdasarkan hadits Rasulullah SAW, yang
mengarahkan manusia menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama manusia.

Dalam masyarakat Indonesia selama dua puluh tahun ini mengalami perubahan drastis yaitu,
sufisme yang selama ini hanya dikenal oleh masyarakat pedesaan sekarang merambah dunia
perkotaan sebagai aktifitas rutin mereka. Hal ini terjadi karena dua hal diantaranya; perpindahan
penduduk desa yang mengamalkan tasawuf ke kota dan usaha penduduk kota yang bermasalah
dengan motif mencari ketenangan ke desa. Menurut Jalaluddin Rahmat bahwa sufisme banyak
diminati masyarakat kota karena bisa menjadi alternatif terhadap bentuk-bentuk keagamaan yang
kaku.

Sufisme masyarakat kota dipetakan menjadi dua model utama; sufisme kontemporer yang
menekankan pada aktifitas sufi yang memudahkan siapapun masuk dan berkecimpung secara
langsung dalam ritualnya, seperti yang sering dilakukan dalam pengajian eksekutif Paramadina,
Tazkia Sejati, Pengajian Pesantren al Rifa’ie Gondanglegi Malang dan di berbagai kelompok
lainnya. Dan yang kedua; sufisme konvensional yang berbentuk tarekat seperti yang disebutkan di
atas dan beberapa diantaranya mengharuskan dibaiat terlebih dahulu untuk diregister menjadi salah
satu murid atau anggota, serta ada juga yang non tarekat seperti banyak dianut kalangan
Muhammadiyah yang merujuk pada Buya Hamka dan Syaikh Khatib al Minangkabawi sebagai
guru spiritual mereka.

Namun dalam kenyataannya, model tarekat lebih bisa diterima masyarakat menengah ke bawah
ketimbang model non tarekat yang lebih banyak dipilih oleh kalangan masyarakat menengah ke
atas karena tidak perlu harus diadakan berbagai riyadhoh sebagai sarana pembinaan mental.

D. Analisis
Perkembangan teknologi yang semakin pesat seperti sekarang ini membawa dampak baik maupun
buruk bagi kehidupan terutama dalam lapisan masyarakat dimana kebebasan untuk menggunakan
teknologi dan kebebasan lain yang kian memunculkan berbagai pandangan masyarakat terhadap
agama terutama mengenai tarekat dan tasawuf. Adanya tarekat dan tasawuf dikehidupan

14

bermasyarakat tentunya tidak semua masyarakat bisa menerimanya karena adanya berbagai
keberagaman perbedaan pandangan dalam menyikapi tarekat dan tasawuf tersebut, ada yang
beranggapan bahwa tasawuf merupakan bid'ah tetapi juga ada yang mempercayai bahwa tasawuf
merupakan jalan terbaik untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Dari persoalan tersebut di
perlukanlah pemahaman yang lebih mendalam pada masyarakat tentang pentingnya bertarekat
dan bertasawuf sebagai sarana pembersihan diri dan pendekatan kepada Allah, cara pendekatan
bisa dilakukan melalui pendidikan maupun dengan cara yang lain. Tarekat dan tasawuf sebenarnya
dua hal yang saling berkaitan dan tidak dapat di pisahkan oleh karena itu kesatuan dari dua hal
tersebut diharapkan dapat menjadikan seseorang lebih bisa memahami akan pentingnya
mendekatkan diri kepada Allah.

E. Kesimpulan
Tarekat berasal dari bahasa Arab yaitu tarekaq, jamak dari " tara'iq ". Secara etimologi tarekat

berarti jalan, cara, metode, sistem, mahzab, aliran sedangkan menurut istilah tarekat berarti
perjalanan seorang saleh ( pengikut tarekat ) menuju Tuhan dengan cara menyucikan diri atau
perjalanan yang harus di tempuh agar seseorang tersebut bisa lebih dekat dengan Tuhan-Nya.
Tasawuf merupakan suatu kata yang lazim di gunakan untuk memperoleh hubungan langsung
dengan Tuhan.

Tasawuf terbagi menjadi beberapa bagian diantaranya tasawuf falsafi, tasawuf falsafi adalah
permasalahan tasawuf yang sangat rumit dan ditekuni oleh orang-orang khawas saja. Dalam
tasawuf falsafi ditemukan berbagai istilah yang rumit seperti wihdatul wujud, hulul, ittihad, fana,
baqa, syathat, dan sebagainya. Tasawuf falsafi memasukkan ke dalam ajaran- ajarannya unsur-
unsur filosofis dari luar Islam dan mengungkapkan ajaran-ajarannya dengan memakai istilah-
istilah filosofis dan simbol- simbol khusus yang sulit dipahami oleh orang banyak. Tasawuf tipe
trakhir ini disebut “Tasawuf filosofis” (al-tashawwuf al-falsafi) atau “tasawuf semi-filosofis” (al-
tashawuf syibh al-falsafi), dan kadang kala disebut “tasawuf teosofis” (al-tashawwuf al-tiyushufi).

15

DAFTAR PUSTAKA
Qomar, Mujamil. “Ragam Pengembangan Pemikiran Tasawuf Di Indonesia”. IAIN
Tulungagung, 2014.
Farida, Mutia. “Perkembangan Pemikiran Tasawuf dan Implementasinya di Era Modern”.
Banda Aceh : Kopelma Darusallam, 2011.
Dr. Suherman. “Perkembangan Tasawuf dan Kontribusinya di Indonesia”. Jurnal ilmiah
research sains : Politeknik Negeri Medan, 2019.
Awaludin. “Sejarah Perkembangan Tarekat di Nusantara”. El Afkhar : IAIN Bengkulu, 2016.
http://orgawan, Wordpress, com/200805 tareqah-mutabarah-di-indonesia
Abubakar Aceh, Pengantar Ilmu Tarekat (Kajian Historis Tentang Mistik), (Solo: Ramadani,
1996).
Sri Mukyani, Tarekat-tarekat Mu‟tabarah di Indonesia, (Jakarta:PrenadaMedia, 2005).
Simuh. Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam. Jakarta. RajaGrafindo Persada. 1997. cet.
II.
Anwar, Rosihon, M. Solihin. (2008) Ilmu Tasawuf. Bandung : CV. Pustaka Setia.

16


Click to View FlipBook Version