The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Pendidikan merupakan bagian yang inhern dalam kehidupan manusia. Dan, manusia hanya dapat dimanusiakan melalui proses pendidikan. Karena hal itulah, maka pendidikan merupakan sebuah proses yang sangat vital dalam kelangsungan hidup manusia.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by E BOOK 3 PAI E UIN SAIZU PURWOKERTO, 2021-09-21 12:24:41

PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA KLASIK DAN MODERN

Pendidikan merupakan bagian yang inhern dalam kehidupan manusia. Dan, manusia hanya dapat dimanusiakan melalui proses pendidikan. Karena hal itulah, maka pendidikan merupakan sebuah proses yang sangat vital dalam kelangsungan hidup manusia.

Keywords: PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA KLASIK DAN MODERN

PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
KLASIK DAN MODERN

Kelompok 5

Anggota :

1. Aisyah Lailiana Firdausi (2017402200)

2. Handika Bayu Prasetya (2017402201)

3. Imas Siti Masitoh (2017402227)

4. Silvi Rahma Putri (2017402233)

A. Pendahuluan

Pendidikan merupakan bagian yang inhern dalam kehidupan manusia. Dan,
manusia hanya dapat dimanusiakan melalui proses pendidikan. Karena hal itulah, maka
pendidikan merupakan sebuah proses yang sangat vital dalam kelangsungan hidup
manusia. Tak terkecuali pendidikan Islam, yang dalam sejarah perjalanannya memiliki
berbagai dinamika. Eksistensi pendidikan Islam senyatanya telah membuat kita
terperangah dengan berbagai dinamika dan perubahan yang ada.

Berbagai perubahan dan perkembangan dalam pendidikan Islam itu sepatutnya
membuat kita senantiasa terpacu untuk mengkaji dan meningkatkan lagi kualitas diri,
demi peningkatan kualitas dan kuantitas pendidikan Islam di Indonesia. Telah lazim

1

diketahui, keberadaan pendidikan Islam di Indonesia banyak diwarnai perubahan,
sejalan dengan perkembangan zaman serta ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada.
Sejak dari awal pendidikan Islam, yang masih berupa pesantren tradisional hingga
modern, sejak madrasah hingga sekolah Islam bonafide, mulai Sekolah Tinggi Islam
sampai Universitas Islam, semua tak luput dari dinamika dan perubahan demi mencapai
perkembangan dan kemajuan yang maksimal. Pertanyaannya kemudian adalah
sudahkah kita mencermati dan memahami bagaimana kemunculan dan perkembangan
pendidikan Islam di Indonesia, untuk kemudian dapat bersama-sama meningkatkan
kualitasnya, demi tercipta pendidikan Islam yang humanis, dinamis, berkarakter
sekaligus juga tetap dalam koridor Alqur’an dan Assunah.

Pendidikan Islam itu bahkan menjadi tolok ukur, bagaimana Islam dan umatnya
telah memainkan peranannya dalam berbagai aspek sosial, politik maupun budaya.
Namun perkembangan pendidikan Islam di Indonesia sempat jatuh bangun, maksudnya
sering terganggu dengan adanya kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh
pemerintah. Terlebih lagi pendidikan Islam pada masa Belanda, banyak mengalami
hambatan. Hal itu karena pemerintah kolonial Belanda banyak mengeluarkan kebijakan
yang menghambat pendidikan Islam.

Menjadi hal yang perlu diketahui bahwa Jepang mulai masuk di Indonesia yaitu
pada tahun 1942. Walaupun sebenarnya proses pendidikan telah berlangsung sepanjang
sejarah dan berkembang sejalan dengan perkembangan sosial budaya manusia di
permukaan bumi, menjadi sangat kurang jika sebagai warga negara Indonesia tidak
mengetahui sejarah pendidikan islam yang berlangsunng pada zaman penjajahan
Jepang.

2

Penyebaran Islam ke nusantara tidak merata,di awali di ujung pulau Sumatera,
kemudian menyebar ke wilayah melayu serantau dan Pulau Jawa. Hal ini karena wilayah
nusantara terdiri banyak pulau1

Pada abad 15 para saudagar muslim telah mencapai kemajuan pesat dalam usaha
bisnis dan dakwah hingga mereka memiliki jaringan di kota-kota bisnis di sepanjang pantai
Utara. Komunitas ini dipelopori oleh Walisongo yang membangun masjid pertama di tanah
Jawa, Masjid Demak yang menjadi pusat agama yang mempunyai peran besar dalam
menuntaskan Islamisasi di seluruh Jawa. Walisongo berasal dari keturunan syeikh ahmad
bin isa muhajir dari hadramaut. Beliau dikenal sebagai tempat pelarian bagi para keturunan
nabi dari arab saudi dan daerah arab lain yang tidak menganut syiah.

B. Rumusan Masalah
Pertama,Bagaimana awal masuknya pendidikan Islam di Indonesia?

Dalam rumusan masalah ini, penulis berupaya untuk menjelaskan mengenai
awal masuknya pendidikan Islam di Indonesia

Kedua,Bagaimana sistem pengajaran pendidikan Islam di Indonesia era
klasik dan modern?
Dalam rumusan masalah ini, penulis berupaya untuk menjelaskan mengenai
sistem pengajaran pendidikan Islam di Indonesia era klasik dan modern.

Ketiga,Bagaimana pendidikan Islam di Indonesia pada masa Belanda dan
Jepang?

Dalam rumusan masalah ini, penulis berupaya untuk menjelaskan mengenai
pendidikan Islam di Indonesia pada masa Belanda dan Jepang

Keempat,Bagaimana peran walisongo dalam mengembangkan pendidikan Islam
di Indonesia?

1 Jarir, Khairiah, Meneliti Situs-Situs Awal Peradaban di Pulau Bengkalis, Akademia, Vol 14, 2 Desember 2018. Hlm. 85-
97. Jarir Amrun, Khairiah, Sejarah Nusantara: Perpsektif Geologis, Zoologis dan Etnografis, Nusantara: Journal for
Southeast Islamic Studies, Volume I4. Desember 2018. Hlm. 126-135.

3

Dalam rumusan masalah ini, penulis berupaya untuk menjelaskan mengenai
peran walisongo dalam mengembangkan pendidikan Islam di Indonesia

C. Pembahasan
1. Awal Masuknya Pendidikan Islam di Indonesia
Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia telah dimulai sejak masuknya
Islam ke Nusantara, para pedagang yang merangkap sebagai mubaligh dan
pendidik; ketika itu telah memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat
pribumi. Pendidikan awal itu belum memiliki sarana dan fasilitas, belum ada
jadwal dan materi tertentu, lebih banyak dalam bentuk pergaulan antara
mubaligh/pendidik dan masyarakat sekitar. Setelah masyarakat Muslim
terbentuk, mulailah dibangun masjid sebagai tempat ibadah dan pendidikan.
Dengan demikian, tumbuhlah lembaga pendidikan awal yakni masjid. Di masjid
dilaksanakan aktivitas ibadah shalat dan juga pendidikan Islam,
memperkenalkan akidah dan ibadah serta belajar membaca Al-Qur’an.
Oleh karena semakin banyaknya peserta didik, sesuai arus dinamika
perkembangan Islam, mulailah dibutuhkan lembaga pendidikan di luar masjid.
Maka, tumbuhlah lembaga pendidikan pesantren, menasah, rangkang, dayah,
dan surau. Lembaga pendidikan ini berkembang karena dukungan masyarakat
dan kerajaan Islam kala itu.
Masuknya ide-ide pembaruan pemikiran ke Indonesia pada awal abad
ke-20 yang dibawa oleh para pelajar Islam Indonesia yang pulang dari Timur
Tengah, maka mulailah era baru dalam pendidikan Islam, yakni timbulnya
dinamika dan perubahan pada lembaga pendidikan Islam. Pada masa itu
muncullah madrasah sebagai institusi yang memadukan antara sistem pesantren
dan sekolah, serta sistem pembelajarannya pun telah berubah dari sistem
tradisional menjuju sistem modern. Lembaga pendidikan pesantren pun
mengalami dinamika pula dengan munculnya beberapa pesantren modern.

4

Setelah kemerdekaan Indonesia, tumbuhlah berbagai lembaga
pendidikan Islam yang disemangati oleh spirit pembaruan. Pesantren telah
mengalami dinamika sehingga tumbuhlah pola pesantren yang berakar pada
pola pesantren salafi yang kuat berpegang pada tradisi awal mengkaji dan
mendalami kitab-kitab klasik. Adapun pola pesantren modern telah
mengombinasikan pengetahuan agama dan umum (sains) dalam kurikulumnya
serta sistem pembelajarannya telah mengikuti sistem pembelajaran modern.

Lembaga pendidikan (sekolah) yang telah tumbuh sejak zaman kolonial
Belanda, setelah kemerdekaan Indonesia dimasukkan mata pelajaran agama
sebagai mata pelajaran yang wajib diajarkan di sekolah. Pendidikan agama ini
pun mengalami dinamika pula. Pada mulanya pendidikan agama bersifat
optional (pilihan), kemudian berkembang menjadi pelajaran wajib dan menjadi
hak peserta didik. Buku ini menyajikan perjalanan panjang pendidikan Islam di
Indonesia dari perspektif historis dan eksistensinya.

2. Sistem Pengajaran Pendidikan Islam Di Indonesia Era Klasik Dan Modern
Pada masa lalu, pengajaran kitab-kitab Islam klasik terutama karangan-

karangan ulama yang menganut paham Syafiiyah merupakan satu-satunya
pengajaran formal yang diberikan dalam lingkungan pesantren. Tujuan utama
pengajaran ini adalah untuk mendidik calon-calon ulama. Para santri yang
tinggal di pesantren untuk jangka waktu pendek (misalnya kurang dari satu
tahun) dan tidak bercita cita menjadi ulama, mempunyai tujuan untuk mencari
pengalaman dalam hal pendalaman perasaan keagamaan.

Para santri yang bercita-cita ingin menjadi ulama, mengembangkan
keahliannya dalam bahasa Arab melalui sistem sorogan dalam pengajian
sebelum mereka pergi ke pesantren untuk mengikuti sistem bandongan. Dalam
struktur pendidikan Islam tradisional di Jawa, sebagaimana telah digambarkan
sebelumnya, pengajaran pembacaan Al-Qur'an diberikan dalam pengajian dan
merupakan dasar dari pendidikan awal.

5

Adapun yang dimaksud dengan pengajaran kitab adalah kitab-kitab
Islam klasik (kitab kuning). Di kalangan pesantren disebut juga dengan istilah
kitab gundul. Selain sebagai pedoman bagi tata cara keberagamaan, kitab kuning
juga difungsikan oleh kalangan pesantren sebagai referensi (marji') nilai
universal dalam menyikapi segala tantangan kehidupan.Tujuan utama dari
pengajian kitab-kitab kuning adalah untuk mendidik calon-calon ulama. Adapun
bagi para santri yang hanya dalam waktu singkat tinggal di pesantren, mereka
tidak bercita-cita menjadi ulama, akan tetapi bertujuan untuk mencari
pengalaman dalam hal pendalaman keagamaan. Keseluruhan kitab-kitab kuning
yang diajarkan sebagai materi pembelajaran di pesantren secara sederhana dapat
dikelom pokkan ke dalam sembilan kelompok, yaitu: tajwid, tafsir, ilmu tafsir,
Hadis, aqidah, akhlaq/tasawuf, fiqh, ushul fiqh, nahu (syntax) dan saraf
(morfologi), manthiq dan balaghah, dan tarikh Islam.

Adapun madrasah sebagai sistem pendidikan Islam dengan format
pendidikan modern, yang disamping mengajarkan agama secara klassikal dan
tergradasi secara kurikuler, juga memberikan pendidikan umum, dan diajarkan
oleh ustadz-ustadz (guru madrasah), mungkin kyai atau bukan-kyai. Sedangkan
pendidikan Islam dalam sistem sekolah, hanya berupa materi pelajaran yang
ditambahkan ke dalam sistem kurikulum pendidikan umum, dan diajarkan oleh
guru agama. Ia juga meramalkan bahwa "sistem pendidikan Islam seperti
terlihat sekarang ini, lama kelamaan akan menyesuaikan diri dan masuk ke
dalam sistem pendidikan umum” (Steenbrink, 1994: 7).

Islam di Pesantren, yang merupakan percampuran antara sistem
pendidikan Islam tradisional dan sistem pendidikan modern. Adapun pesantren
yang mempertahankan bentuk tradisionalnya (yang menekankan pada
pengajaran kitab Islam klasik berbahasa Arab) disebut sebagai pesantren salafi
(artinya bertahan pada ilmu-ilmu warisan ulama terdahulu). Mata pelajaran ini
dalam bentuk tradisionalnya menggunakan kitab-kitab Islam klasik berbahasa
Arab, yang di kalangan pesantren dikenal dengan istilah Kitab Kuning.

6

Pesantren dengan tradisi penggunaan kitab kuning ini disebut dengan pesantren
salafiyyah.

Sementara itu di Pondok Pesantren Modern sendiri, kitab-kitab klasik
tersebut tidak lagi merupakan rujukan utama sebagai sumber pembelajaran
materi keagamaannya. Bersamaan dengan itu, dalam kurikulumnya diberikan
juga pendidikan umum, baik matematika, pengetahan alam maupun
pengetahuan sosial. Ketrampilan bahasa, baik bahasa Arab maupun bahasa
Inggris dijadikan sebagai keunggulan khasnya (Syamsu Rizal, 2011).

3. Pendidikan Islam di Indonesia Pada Masa Kolonial Belanda dan Jepang
Pendidikan islam di indonesia sudah masuk bersamaan dengan

masuknya agama islam ke indonesia. Setalah terbentuknya masyarakat muslim
maka hala yang paling diperhatikan oleh ulama atau mubaligh adalah
mendirikan rumah ibadah yang didirikan tidak hanya digunakan untuk
melaksanakan ibadah sholat dan ibadah lainnya, tetapi juga untuk dijadikan
tempat menimba ilmu dan proses pendidikan lainnya. Sebagaimana seperti yang
sudah dicontohkan oleh Rosululloh SAW.

Pada awalnya pendidikan islam yang berlangsung di tempat tampat
ibadah sperti mesjid, surau dan mushola mushola berjalan seperti semul, namun
setelah bangsa belanda masuk ke indonesia pada tahun sejak awal tahun 1595 M
dan mengeluarkan edaran tentang akan mendirikan sekolah sekolah umum oleh
belanda untuk pribumi, pendidikan islam yang bisa dilakukan di mesjid dan
tempat ibadah lainnya dianggap tidak ada gunanya oleh belanda.

Hal ini dikerenakan menurut belanda pendidikan islam tidak ada
kaitannya dan hubungannya dengan kemjuan pembangunan, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Dan bahkan belanda menganggap bahwa

7

agama islam itu sebagai faktor penghambat dan penghalang bagi kemajuan dan
kepentingan bangsa belanda.

Selain itu bangsa belanda juga mengelaurkan beberapa peraturan yang
menyulitkan pendidikan islam diantaranya setiap guru agama harus memiliki
izin khusus terlebih dahulu dari pemrintah setempat sebelum mengajar, setiap
madrasah dan pesantren harus memiliki izin dari bupati atau pejabat pemrintah
belanda dan lain sebagainya. Namun keputusan itu tidak bertahan lama karena
melalui kongres Al-islam semua keputusan itu dihapuskan, dimana peristiwa itu
terkenal dengan sebutan ordonansi guru.

Sedangkan pada masa pemerintahan jepang pendidikan islam di
indonesia mengalami kemajuan dan perubahan, karena ada pendidikan agama
pada sekolah sekolah umum yang sudah di dirikan. Hal ini dilakukan oleh
jepang karena mereka tahu bahwa sebagian besar penduduk indonesia ini
beragama islam, maka untuk menarik simpati umat islam jepang menunjukan
perhatian terhadap uamt islam melalui pendidikan dan dalam bidang yang
lainnya seperti mendirikan masyumi dan pembentukan hizbulloh yang dimana
semua itu hanya lah kedok semata untuk kepentiangan jepang menghadapi
perang dunia ke II.

Selain dalam dunia pendidikan islam, dalam dunia pendidikan juga
terjadi kemajuan yang istimewa pada saat dibawah pemerintahan jepang yaitu
semua sekolah diselenggarakan dan dinegrikan meskipun yang pada awalnya
sekolah itu masih sekolah swasta seperti muhammadiyah, taman siswa dan lain
sebagainya.

Di sumatera organisasi organisasi islam bersatu menjadi majelis tinggi
islam. Yang kemudian majelis islam itu mengusulkan kepada jepang bahwa agar
setiap sekolah diberikan pendidikan pendidikan agama sejak tiga tahun sekolah
rakyat. Usulan itu disetujui oleh jepang, walaupun usulan itu hanya bisa
dijalankan di daerah sumtera saja dan dengan syarat tidak diberikan anggaran
biaya untuk para guru agama. Dan sebagi gantinya di sekolah sekolah

8

pemerintah diluar sumtera hanya diberikan pendidikan budi pekerti yang
bersumber dari ajaran agama .

4. Peran Wali Songo dalam Mengembangkan Pendidikan Islam di Jawa
1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)
Maulana Malik Ibrahim umumnya dianggap sebagai wali pertama
yang mendakwahkan Islam di Jawa, dianggap sebagai ayah dari walisongo.
Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan
cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan
harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri
untuk mengobati masyarakat secara gratis.
2. Sunan Ampel (Raden Rahmad)
Sunan Ampel adalah anak dari Maulana Malik Ibrahim yang tertua,
ia membangun mengembangkan pondok pesantren di daerah Ampel Denta
yang berawa-rawa. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada
pertengahan Abad 15 M, pesantren tersebut menjadi sentral pendidikan yang
sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara
para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut
kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan
Madura.
Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi, namun pada para
santrinya, beliau hanya memberikan pengajaran sederhana yang
menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan
istilah “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh
madon). Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum-minuman keras,
tidak mencuri, tidak menggunakan narkotika, dan tidak berzina”.
3. Sunan bonang (Raden Maulana Makhdum Ibrahim)
Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel
Denta. Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang

9

memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia
menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur.
Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai
mencari sumber air di tempat-tempat gersang. Ajaran Sunan Bonang
berintikan pada filsafat ‘cinta’. Sangat mirip dengan kecenderungan
Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan
intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin.
Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang
disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan
murid utamanya, Sunan Kalijaga.

Sunan Bonang menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan
estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator
gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang.
Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan
pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang “Tombo Ati” adalah
salah satu karya Sunan Bonang. Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang
adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah
menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam.
4. Sunan Drajat (Raden Qasim)

Beliau menekankan kedermawanan, kerja keras, dan peningkatan
kemakmuran masyarakat, sebagai pengamalan dari agama Islam. Beliau
mendirikan pesantren yang bertempat di Desa Drajat, Kecamatan Paciran,
Lamongan. Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil
cara langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Tembang macapat
Pangkur disebutkan sebagai ciptaannya. Ia menggubah sejumlah suluk, di
antaranya adalah suluk petuah “berilah tongkat pada si buta, beri makan
pada yang lapar, beri pakaian pada yang telanjang”.Gamelan Singomengkok
adalah salah satu peninggalannya yang terdapat di Musium daerah Sunan
Drajat, Lamongan.

10

5. Sunan Kudus (Ja’far Shadiq)
Beliau memiliki keahlian khusus dalam bidang agama, terutama

dalam ilmu fikih, tauhid, hadits, tafsir serta logika. Karena itulah di antara
walisongo hanya ia yang mendapat julukan wali al-‘ilm (wali yang luas
ilmunya), dank arena keluasan ilmunya ia didatangi oleh banyak penuntut
ilmu dari berbagai daerah di Nusantara. Cara berdakwahnya pun meniru
pendekatan gurunya Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat.
Cara penyampaiannya bahkan lebih halus.
6. Sunan Giri (Ainul Yaqi Atau Raden Paku)

Beliau mendirikan pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti,
Selatan Gresik. Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat
pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan
masyarakat. Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas
dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul
Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti
Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan
Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung yang bernuansa Jawa
namun syarat dengan ajaran Islam.
7. Sunan Kalijaga (Raden Mas Syahid)

Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus
sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Ia memilih kesenian dan kebudayaan
sebagai sarana untuk berdakwah penyebaran Islam, antara lain dengan
wayang, sastra dan berbagai kesenian lainnya. Pendekatan jalur kesenian
dilakukan oleh para penyebar Islam seperti Walisongo untuk menarik
perhatian di kalangan mereka, sehingga dengan tanpa terasa mereka telah
tertarik pada ajaran-ajaran Islam sekalipun, karena pada awalnya mereka
tertarik dikarenakan media kesenian itu. Misalnya, Sunan Kalijaga adalah
tokoh seniman wayang. Ia itdak pernah meminta para penonton untuk
mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian wayang masih

11

dipetik dari cerita Mahabarata dan Ramayana, tetapi di dalam cerita itu
disispkan ajaran agama dan nama-nama pahlawan Islam.
8. Sunan Muria (Raden Umar Said)

Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan
Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal
di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan
agama Islam. Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan
keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah
kesukaannya. Sunan Muria dikenal sebagai pribadi yang mampu
memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi
pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru.
Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan
Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.
9. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)

Sunan Gunung Jati sebelum meletakkan dasar agama Islam dan bagi
perdagangan orang Islam, terlebih dahulu telah menunaikan rukun ke-5 naik
haji ke Mekkah sebelum tiba di Kerajaan Sultan Demak. sebagai haji yang
shaleh dan sebagai mufasir yang mengenal percaturan dunia ia mendapat
sambutan hangat di kerajaan itu. Kemudian setelahitu pindah ke Banten, dan
ia berhasil menggaantikan bupati Pasundan di situ, dan mengambil alih
pemerintahan atas kota pelabuhan tersebut. Dengan awal langkah inilah ia
memenfaatkan tahtanya untuk menyebarkan agama Islam, terutama
mengislamkan Jawa Barat.

12

D. Analisis
Perlu kita ketahui bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui

perdagangan,seni budaya,perkawinan dan lain lain.Pendapat para ahli
kebanyakan menyatakan Islam masuk ke Indonesia melalui perdagangan
karna letak Indonesia yang strategis dan sebagai jalur perdagangan dunia
Islam masuk dengan berbagai macam ciri khas yang dibawanya terutama
adalah pendidikan,karena Islam yang mudah diterima oleh masyarakat
Indonesia disebabkan pengajarannya yang mudah diterima oleh mayoritas
masyarakat Indonesia.

Berbicara mengenai Pendidikan yang dibawa oleh pelajar Islam
Indonesia pada abad ke 20 yang memberikan pengaruh besar terhadap
generasi penerus khususnya para pelajar semenjak itu muncullah sekolah
sekolah atau madrasah berbasis Islam ada juga pendirian pondok pesantren
hampir di setiap daerah di Indonesia hal ini menjadikan berubahnya system
pendidikan dari tradisional ke sisitem pendidikan modern.

Pengajaran pendidikan Islam di masa klasik yaitu dengan
mempelajari kitab kitab kuning atau kitab gundulan di pondok pesantren
sedangkan di masa modern,orang islam tidak hanya mempelajari ilmu islami
saja tetapi ditambahi dengan ilmu pengetahuan umum seperti
matematika,IPA,IPS dan lain sebagainya.Pondok pesantren juga banyak
disebarluaskan oleh para wali songo dalam berdakwahnya di pulau
Jawa,disini wali songo sangat berpengaruh dalam penyebaran pendidikan
islam bukan hanya dengan berdakwah atau berceramah kesana kemari tetapi
juga dengan berbagai kesenian dan kebudayaan.

Dari sedikit ulasan permasalahan di atas kami dapat menganalisis
bahwa di era klasik dan modern ada perbedaan dalam pengajaran pendidikan
islam,yaitu ketika di era klasik yang paling banyak adalah pendidikan
dipondok pesantren salafiyah atau hanya fokus dipondok dan tidak dibarengi
dengan pendidikan sekolah sedangkan di era modern banyak orang islam

13

yang memilih untuk menyekolahkan anak di sekolah umum daripada di
pondok pesantren.

Hal ini sangat berkaitan dengan kehidupan saat ini bahwa banyak
orang tua yang lebih memilih menyekolahkan anak disekolah umum
dibanding untuk memondokkan di pesantren,hal ini dikarenakan berkurang
nya orang islam yang mengajak atau berdakwah dengan cara yang
menyenangkan dan secara lembut seperti yang diajarkan Nabi Muhammad
SAW beserta para keluarga dan sahabatnya serta walisongo khususnya
dipulau jawa,berbicara tentang walisongo,dalam penyebaran pendidikan
islam di jawa yang berhasil membawa masyarakat jawa memeluk agama
islam dan banyaknya pondok pesantren yang bediri karena cara dakwah
walisongo yang menggunakan kesenian,kebudayaan,tidak memaksakan
orang tetapi secara tidak langsung mengajak mereka.

Intinya dalam analisis ini kami mengangkat permasalahan perbedaan
pendidikan islam di era klasik dan modern yaitu yang dulunya banyak anak
yang masuk ke pondok pesantren dan mempelajari kitab kitab kuning atau
salaffiyah tetapi sekarang di era modern ini banyak anak yang di sekolahkan
di sekolah umum atau pondok pesantren tetapi yang moden dan juga terkait
cara dakwah para walisongo yang mampu menyebarkan pendidikan islam
dengan baik.

14

E. Penutup
a.Kesimpulan
Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia telah dimulai sejak masuknya Islam ke

Nusantara, para pedagang yang merangkap sebagai mubaligh dan pendidik; ketika itu
telah memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat pribumi. Pendidikan awal itu
belum memiliki sarana dan fasilitas, belum ada jadwal dan materi tertentu, lebih banyak
dalam bentuk pergaulan antara mubaligh/pendidik dan masyarakat sekitar.

Pada masa lalu, pengajaran kitab-kitab Islam klasik terutama karangan-karangan
ulama yang menganut paham Syafiiyah merupakan satu-satunya pengajaran formal
yang diberikan dalam lingkungan pesantren. Tujuan utama pengajaran ini adalah untuk
mendidik calon-calon ulama sementara itu di Pondok Pesantren Modern sendiri, kitab-
kitab klasik tersebut tidak lagi merupakan rujukan utama.
Selain itu bangsa belanda juga mengelaurkan beberapa peraturan yang menyulitkan
pendidikan islam diantaranya setiap guru agama harus memiliki izin khusus terlebih
dahulu dari pemrintah setempat sebelum mengajar.Walisongo,dalam penyebaran
pendidikan islam di jawa yang berhasil membawa masyarakat jawa memeluk agama
islam dan banyaknya pondok pesantren yang bediri karena cara dakwah walisongo yang
menggunakan kesenian,kebudayaan.

Maka dari itu,perubahan pengajaran pendidikan islam dari klasik ke moden terdapat
pada materi yang disampaikan dan metodenya,di era klasik banyak masuk pondok
pesantren dan belajar kitab kitab kuning sedangkan diera modern materinya banyak
berupa ilmu pengetahuan umum dan di sekolah umum atau pondok pesantren modern.

b. Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan

terdapat banyak kesalahan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat
diharapkan agar makalah ini dapat disusun menjadi lebih baik dimasa yang akan datang.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk para pembaca.

15

DAFTAR PUSTAKA
Daulay, Haidar Putra. 2019.Pendidikan Islam di Indonesia: Historis dan
Eksistensinya. Jakarta: Prenada Media.
Nizar, Samsul. 2013. Sejarah Sosial dan Dinamika Intelektual Pendidikan Islam di
Nusantara. Kencana.
Rizal, Ahmad Syamsu. “Transformasi Corak Edukasi Dalam Sistem Pendidikan
Pesantren dari Pola Tradisi ke Pola Modern”. Jurnal Pendidikan Agama Islam, vol.
9, no. 2, 2011. Akses 16 Sep.2021
Ebook Dr. Zaini Dahlan M.Pd.I, sejarah pendidikan Islam.
Haidar Putra Daulay, sejarah pertumbuhan dan pembahruan pendidikan Islam di
indonesia, Jakarta : kencana.
Zuhairi DKK, sejarah pendidikan Islam. Jakarta : PT. Bumi Akasara, 2011.
(materi3)
Zuhairini, dkk. Sejarah Pendidikan Islam. h.141-142
https://www.academia.edu/41361199/PERAN_WALISONGO_DALAM_PENYEBAR
AN_AGAMA_ISLAM

16


Click to View FlipBook Version