Kelompok 2
Nama Anggota :
1. Hartini (2017402212)
2. Qori Sahara (2017402241)
3. Abdul Kholiq Nurmajid (2017402248)
HISTORIOGRAFI PERKEMBANGAN ISLAM DI
INDONESIA
A. Pendahuluan
Dalam sejarah, agama Islam tersebar ke seluruh dunia termasuk
Indonesia. Islam pertama kali masuk ke Indonesia sekitar abad ke-13 Masehi.
Namun, ada pula sejarahwan yang berpendapat bahwa Islam datang ke
Nusantara dibawah oleh pedagang Arab sekitar abad ke 7 Masehi atau pada
abad pertama Hijriyah berdasarkan penemuan batu nisan seorang perempuan
Muslimah yang bernama Fatimah binti Maimun, di Lera dekat
Surabaya.Ilmuwan yang mempercayai teori masuknya Islam ke Indonesia
pada abad ke 7 ini diantaranya adalah J.C. Van Leur, Hamka, Abdullah bin
Nuh, D. Shahab, dan T.W Arnold.1
Penyebaran Islam ke Nusantara dilakukan secara damai kepada golongan
bangsawan dan rakyat pada umumnya. Ada beberapa teori yang menyatakan
asal mula Islam datang ke Indonesia, diantaranya: Teori Arab, menyatakan
bahwa Islam datang langsung dari Arab ke Indonesia sekitar abad ke 7-8
Masehi; Teori Gujarat, menyatakan bahwa asal Islam di Nusantara itu
berasal dari anak benua India, yaitu Gujarat dan Malabar; Teori Persia,
menurut teori ini Islam datang dari Persia karena ditemukan pengaruh Persia
dalam kehidupan masyarakat pada abad ke-11; Teori Cina, menurut teori ini
awal mula Islam datang ke Indonesia dibawa oleh para pedagang muslim
Cina yang melalui jalur perdagangan pada abad 7-8 Masehi; Teori Turki,
Teori perkembangan ini diajukan oleh Martin van Bruinessan, menurutnya
1Syafri Gunawan, ”Perkembangan Islam di Indonesia”. Yurisprudentia. Vol. 4 No. 2, Desember
2018, hal. 13-14.
selain orang Arab dan Cina, orang Indonesia juga menerima Islam dari orang-
orang Kurdi dari Turki.2
Kemudian seiring berjalannya waktu, Islam di Indonesia mulai
berkembang ke beberapa wilayah Nusantara. Penyebarannya dilakukan
melalui beberapa saluran, ada enam saluran Islamisasi yang berkembang,
yaitu: 1. Saluran Perdagangan; 2. Saluran Pernikahan; 3. Saluran Tasawuf; 4.
Saluran Pendidikan; 5. Saluran Kesenian; 6. Saluran Politik.3
Untuk fase perkembangan Islam di Indonesia dibagi menjadi tiga,
menurut Hasan Mu’arif Ambary, diantaranya yaitu fase pertama,
perdagangan oleh pedagang muslim yang datang ke Indonesia; fase kedua,
fase terbentuknya kerajaan Islam; fase ketiga, fase pelembagaan Islam. Dalam
fase-fase perkembangan Islam ada faktor pendukung dan faktor penghambat,
tiga faktor pendukung meliputi faktor agama, faktor politik, dan faktor
ekonomi, sedangkan dua faktor penghambat meliputi penjajahan dan umat
Islam terbagi dalam aneka ragam kelompok.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana perkembangan Islam di Indonesia fase pertama?
2. Bagaimana perkembangan Islam di Indonesia fase kedua?
3. Bagaimana perkembangan Islam di Indonesia fase ketiga?
4. Apa saja faktor pendukung dan faktor penghambat dalam perkembangan
Islam di Indonesia?
C. Pembahasan
Islam dipercaya sudah menyebar di wilayah Indonesia pada abad ke 13 M,
dengan penyebarannya dilakukan oleh kelompok sosial. Pada abad ini,
penyebaran Islam dilakukan oleh para pedagang dari pantai Gujarat.
Sedangkan sejak pada abad ke 7 M, penyebaran Islam dilakukan secara
individual melalui kontak budaya.
2 Fauziah Nasution, “Kedatangan dan Perkembangan Islam di Indonesia”. Jurnal Dakwah dan
Pengembangan Sosial Kemanusiaan. Vol. 1 No. 1, 2020, hal. 32-36.
3Binuko Amarseto, Ensiklopedia Kerajaan Islam di Indonesia, Istana Media, Yogyakarta, 2015,
hlm. 5-9.
Islam Nusantara pada mulanya diyakini menyebar di wilayah pesisir
pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan wilayah-wilayah pesisir lainnya di
kepulauan Nusantara. Secara garis besar, masuknya Islam ke Nusantara
dikelompokkan menjadi 3 periode waktu, yaitu:
a) Periode pertama, terjadi pada kisaran akhir abad ke 1 H/7 M. Rombongan
pada masa ini berasal dari Basrah (kota pelabuhan di Irak). Hal ini terjadi
pada jaman kaum Syi’ah yang dikejar-kejar oleh Bani Umayyah. Menurut
catatan sejarah, ada 100 orang pendakwah di bawah pimpinan Nahkoda
Khalifah tiba di Perlak, Aceh.
b) Periode kedua, terjadi pada kisaran abad ke 6 H/13 M. Rombongan pada
masa ini di bawah pimpinan Sayid Jamaluddin al-Akbar al-Huseini yang
anggotanya adalah anak cucu beliau berjumlah 17 orang dan tiba di
Gresik. Kemudian disusul keluarganya yang lain berasal dari Campa dan
Filiphina Selatan yang merupakan keturunan dari Sayidina Ahmad al-
Mujahid bin Isa yang berasal dari Hadramaut.
c) Periode ketiga, terjadi pada kisaran abad ke 9 H/16 M. Rombongan pada
masa ini terdiri dari 45 orang ulama yang merupakan keturunan dari
Muhammad Shahib Mirbath yang berasal dari Tarim, Hadramaut. Mereka
tiba, menetap dan mengajar di beberapa wilayah dari ujung Sumatera,
Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, kepulauan Nusa Tenggara dan lain-
lain.4.
Menurut Hasan Mu’arif Ambary, menyatakan bahwa perkembangan Islam
di Indonesia terbagi dalam tiga fase yaitu:
Perkembangan Islam di Indonesia Fase Pertama
Fase pertama dalam perkembangan Islam di Indonesia adalah
perdagangan oleh pedagang Muslim yang datang ke Indonesia. Dalam
fase kehadiran para pedagang Muslim di Indonesia, Ambary tidak
memberikan kejelasan tentang permulaan Islam datang ke Indonesia. Namun
4Suwardi, “Ragam Pustaka Periode Awal Perkembangan Islam Nusantara”. Buletin Perpustakaan
Universitas Indonesia. Vol. 1(1), 2018. hal. 6.
diduga bahwa fase tersebut terjadi pada sebelum abad ke-13 M, yaitu abad
ke-1 sampai ke-5 Hijriah, atau abad ke-7 sampai ke-11 Masehi.
Ada pula pendapat dari Lathiful Khuluq, yang menyatakan bahwa fase
pertama penyebaran Islam terhadap masyarakat Indonesia untuk fase yang
pertama adalah dilakukan oleh para pedagang Muslim dari India dan Arabia
kepada komunitasmasyarakat biasa di pesisir pantai.5
Para pedagang Muslim yang berlayar dan singgah di negeri ini, mereka
merupakan para pedagang Muslim yang berasal dari Arab, Melayu, Persia,
serta India. Namun, dapat dipahami bahwa pedagang Arablah yang pertama
kali membawa Islam ke Indonesia, dimana dalam perjalanannya yang sangat
jauh telah pula singgah di pelabuhan-pelabuhan India karena beberapa sebab;
baik karena faktor ekonomi maupun karena alasan subsidi bahan bakar dan
air bersih, baru kemudian melanjutkan perjalanan ke Indonesia.
Para ahli tafsir baik klasik, seperti al-Thabari, Ibn Katsir, Zamakhsyari,
maupun kontemporer seperti, al-Maraghi, az-Zuhaily, dan Sayyid Qutb,
sepakat bahwa perjalanan dagang musim dingin dilakukan ke utara seperti
Syria, Turki, Bulgaria, Yunani, dan sebagian Eropa Timur. Sementara
perjalanan musim panas dilakukan ke selatan seputar Yaman, Oman, atau
bekerja sama dengan para pedagang Cina dan India yang singgah di
pelabuhan internasional Aden.
Perkembangan Islam yang dilakukan oleh para pedagang Muslim yaitu
dengan selain menjual barang dagangan yang mereka bawa, mereka juga
berupaya menyebarkan agamanya baik melalui dakwah atau seperti yang
dilakukan oleh para saudagar/pedagang kaya yang menikah dengan keluarga-
keluarga dari berbagai macam penguasa, sehingga mereka dapat memperoleh
kekuasaan politik didalamnya yang kemudian membawa mereka kepada
agama Islam. Dan para pedagang inilah yang merupakan salah satu faktor
yang menyebabkan Islam cepat berkembang di Indonesia. Karena itu pula,
pedagang Indonesia juga memiliki peranan di dalamnya, yaitu para pedagang
Indonesia yang pertama menerima ajaran Islam dari pedagang Muslim dari
5 Husaini Husada, “Islamisasi Nusantara”. Adabiya. Vol. 18 No. 35, Agustus 2016, hal. 23.
luar, setelah benar-benar memahami ajarannya mereka juga bisa ikut
menyebarkan kepada keluarga dan masyarakat lainnya.
Perkembangan Islam di Indonesia Fase Kedua
1. Kerajaan Islam Malaka
Geografis
Berdiri abad XIV(1396 M), letaknya di Malaka sebagai pusat
perdagangan dan pelayaran .
Politik
Raja –raja yang berkuasa:
a Iskandar Syah(1396-1414 M) nama kecilnya Paramisoro
b Pangeran kerajaan Majapahit yang lari dari Blambangan ke
Tumasik (Singapura). Pada saat perang Paregreg, Paramisora masuk
Islam dan bergelar Iskandar Syah.
c Muhamad Iskandar Syah (1414-1424 M)
d Ekspansi ke Semanjung Malaka dengan menguasai jalur ekspansi
Selat Malaka sehingga berhasil menjadi negara maritim .
e Mudzafar Syah (1424-1458 M) eskpansi ke Pahang, Indra Giri ,
Kempar dan sekitarnya .
f Sultan Mansyur Syah (1458-1477 M) mecapai zaman kejayaan dan
menjadi pusat menyebaran islam .
g Sultan Alaudin Syah (1477-1488 M) raja kurang cakap sehingga
Malaka mengalami kemunduran .
h Sultan Muhammad Syah (1488-1511 M) Malaka semakin lemah dan
berhasil dikuasai oleh Portugis dibawah Alfonso d’Al Bequerque.
Ekonomi
Malaka sebagai penguasa jalur perdagangngan Asia mendapat upeti dan
bea cukai dari para pedadang yang singgah dan telah menetapkan UU
Pelayaran untuk mengatur para pedagang yang berlayar.
Sosial Budaya
Masyarakat hidup dari dunia maritim , agamis, dan perdagangan
cenderung hidup secara individualias . Hasil budaya berupa sastra
yang menceritakan tentang kepahlawanan yakni; Hang Tuah, Hang
Lekir, dan Hang Jebat.
2. Kerajaan Samudera Pasai
Geografis
Berdiri abad XII (1128 M) letak di Pasai dekat Selat Malaka dan sangat
strategis dilewati jalur perdagangan, disinggahi para pedagang.
Politik
Raja-raja yang pernah berkuasa
a. Nazamuddin Al Kamil(1128 M) seorang laksamana laut Mesir yang
berhasil merebut Gujarat.
b. Sultan Malikul Saleh(1207 M) berhasil mengalahkan dinasti Fatimah
dan datang ke Pasai.
c. Sultan Malikul Thahir(1297 M) Pasai mendapat serangan dari kerajaan
Malaka.
Ekonomi
Pasai merupakan urat nadi pelayaran dan perdagangan internasional
sehinggga Pasai mendapat bea cukai kapal-kapal pedagang dan
menyediakan barang-barang hasil bumi.
Sosial Budaya
Pasai sering disebut Serambi Mekah dengan adat istiadat yang mirip
dengan adat Mekkah dengan budaya yang terkenal berupa batu nisan,
masjid, kaligrafi, dan lain lain.
3. Kerajaan Aceh
Geografis
Berdiri abad XVII (1637 M) letak di Aceh yang strategis jalur
persimpangan jalan perdagangan dunia.
Sistem Birokrasi
Sultan sebagai penguasa tertinggi. Wilayah kesultanan Aceh dibagi
menjadi:
a. Tiga wilayah sagi yang diperintah seorang Panglima Sagi disebut
Hulubalang Besar
b. Wilayah pusat atau distrik yang memiliki otonomi daerah dipimpin
Hulubalang(Uleebalang)
Politik
Raja-raja yang pernah berkuasa antara lain:
a. Sultan Ali Mughayat Syah (1514 – 1529 M) melakukan ekspansi ke
Sumatera Utara
b. Sultan Salahudin (1529 – 1537 M) Aceh mengalami kemunduran
karena raja tidak memperhatikan dan kesejahtaraan masyarakat
c. Sultan Alaudin Riayat Syah Al Kahar (1537 – 1568 M) mengadakan
reformasi politik ,dan ekspansi .
d. Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636 M) mengalami zaman kejayaan dan
banyak para pedagang yang singgah.
e. Sultan Iskandar Tani (1636 – 1341 M) diganti oleh permaisuri nya.
Ekonomi
Sebagai penghasilan rempah –rempah yang dibutuhkan oleh pedagang
dari luar sehingga mendapatkan devisa yang cukup tinggi.
Sosial Budaya
Kehidupan masyarakat terdapat dua kelompok yakni:
a. Teuku ; bangsawan Islam.
b. Tengku ; orang yang ahli tentang ajaran Islam.
Peninggalan budaya seni bangunan masjid yaitu baiturrahman dibangun
pada masa Sultan Iskandar Muda .
Penyebab keruntuhan:
a. Tidak ada sultan yang kuat untuk mengendali Aceh .
b. Munculnya pertikaian yang terus menerus antara teuku dan tengku .
c. Daerah kekuasaannya saling melepaskan diri .
4. Kerajaan Islam Demak
Geografis
Letak pantai utara pulau Jawa Tengah sebelumnya sebelumnya
bernama Bintoro (kabupaten)
Politik
`Raja yang berkuasa:
a. Raden Patah (Sultan Alam Akbar Al Fattah) 1500-1518 M dari
keturunan Brawijaya V yang melepaskan diri dari Majapahit tahun
1500 M.
b. Patiunus(Pangeran Sabrang Lor) 1518-1521 M.
c. Sultan Trenggana 1521-1546 jaman kejayaan Demak. Sepeninggal
Trenggana terjadi perang saudara antara Arya Penangsang(uteran
Pangeran Sekar Seda Lepen) melawan keturunan Sultan
Trenggana(Pangeran Prawoto) yang dibantu Hadiwijaya .
Ekonomi
Demak menguasai wilayah pedalaman agraris dan wilayah pesisir yang
merupakan pelabuhan dagang yang ramai .
Sosial Budaya
Masyarakat hidup bertani, berdagang, kalangan bangsawan hidup secara
feodal. Untuk mengatur kehidupan bernegara dibuat undang-undang
dan hukum yang berdasarkan Islam. Peranan ulama sangat besar
dalam pemerintahan Kerajaan Demak perdagangan pelayaran
berkembang pesat.
5. Kerajaan Islam Pajang
Geografis
Di pantai utara Pulau Jawa wilayahnya meliputi wilayah Demak,
dikurangi Banten dan sebagai wilayah pesisir Jawa Timur .
Politik
Raja-raja yang pernah berkuasa:
a. Hadiwija(Mas Karebet ,Jaka Tingkir) 1568-1582 ia mengahkan Arya
Penangsang kemudian memindahkan pusat pemerintahan di
Pajang.
b. Pangeran Benowo(Putera Hadiwijaya) 1582.
Masa ini terjadi perebutan tahta dengan puteran P. Prawoto
(Demak) dengan bantuan Sutawijaya, Demak dapat dikalahkan oleh
Pajang kemudian kekuasaan diserahkan kepada Sutawijaya.
Sosial Budaya
Masyarakatnya petani, pedagang, dan pelaut, agama Islam menjadi agama
mayoritas, peranan ulama sangat besar dalam pemerintahan Pajang.
6. Kerajaan Mataram Islam
Geografis
Letak di sekitar Kotagede Yogyakarta Mataram adalah daerah perdikan
yang dihadiahkan oleh Hadiwijaya kepada Ki Ageng pemanahan. Setelah
Ki Ageng Pemanahan wafat pemerintahan di Mataram dipegang oleh
Sutawijaya(puteranya)
Politik
Raja-raja yang pernah berkuasa:
a. Sutawijaya(Panembahan Senopati ing Alogo Sayidin Panotogomo)
1585 – 1601 M
b. Mas Jolang(Panembahan Seda Krapyak) 1601 – 1613 M
c. Mas Rangsang (Sultan Agung Hanyokrokusumo) 1613 – 1645 M
d. Amangkurat I (Pangeran Tegal Arum) 1645 – 1677 M
e. Amangkurat II (Adipati Anom) 1679 – 1704 M
f. Amangkurat III (Sunan Mas) 1704 tidak mendapat dukungan VOC
g. PAku Buwono I (pangeran Puger) 1719 M
h. Amangkurat IV (Sunan Prabu) 1719 – 1727 M
i. Paku Buwono II
j. Paku Buwono III Mataram Surakarta Hamengkubowono I (Mataram
Yogyakarta)
k. Paku Buwono III Mangkunegoro I (Mangkunegoro)
Ekonomi
Masyarakat hidup agraris dan perdagangan.
Sosial Budaya
Lapisan masyarakat terdiri dari golongan bangsawan(feudal)dan rakyat,
hasil budaya Jawa berkembang sejalan dengan perkembangan
Islam(kejawen)
Sistem Birokrasi
Kekuasaan tertinggi dipegang sultan (raja) yang dibantu oleh pejabat
kerajaan dengan tugas-tugas tertentu. Jabatan yang dibawah raja dibagi
menjadi sebagai berikut:
a Pemerintahan Lebet, yaitu pemerintahan di dalam istana.
Pemerintaha Lebet dijabat oleh pejabat tinggi kerajaan yang bergelar
Patih Lebet(patih dalam). Dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh
wedana dengan tugas masing-masing. Tahun 1755 patih lebet dihapus
dan diganti Tumenggung.
b Pemerintahan Jawi, yaitu pemerinthan yang di luar istana.
Diperintah oleh Wedana Jawi, pemerintahan manca negara dikepalai
oleh seorang Bupati/Adipati sebagai kepala daerah dan
bertanggungjawab kepada raja.
7. Kerajaan Islam Banten
Geografis
Letak di ujung barat Pantai Utara Jawa, jalur Selat Sunda.
Politik
Raja-raja yang pernah berkuasa:
a. Hasanuddin (1550-1570 M)
b. Panembahan Yusuf (1570-1579 M)
c. Maulana Muhammad (1579-1596 M)
d. Abu Mufakir (1596-1651 M)
e. Sultan Ageng Tirtayasa (1651 – 1692 M)
f. Sultan Haji (1671 M)
8. Kerajaan Goa Tallo
Geografis
Kerajaan Goa dan Tallo adalah dua kerajaan yang berintegrasi menjadi
kerajaan Makassar dengan wilayah meliputi Bone, Wajo, Sopeng dan
Luwu.
Politik
Raja yang pernah berkuasa :
Raja Goa : Daeng Manrabia bergelar Sultan Alaudin yang diangkat
menjadi Raja Makassar.
Raja Tallo : Karaeng Matoaya bergelar Sultan Abdullah sebagai
Mangkubumi di Makassar.
a. Alaudin (1571-1638), mulai menata kehidupan berbangsa dan
bernegara.
b. Sultan Hasanuddin (1638-1667) ekspansi ke Sumbawa, Flores dengan
keberaniannya Hasanuddin dijuluki “Ayam Jantan dari Timur”.
Hasanuddin selalu mengusir Belanda meminta bantuan Raja Bone.
Akhirnya Makassar bisa ditekan dan menandatangani perjanjian
Bongaya 1667 M, dengan isi :
VOC memiliki hak monopoli dagang di Makassar.
Makassar melepaskan Bone.
Makassar menyerahkan benteng kepada VOC.
Arupalaka sebagai Raja Bone.
c. Mapasomba 1667 M, dipercaya untuk mengendalikan Makassar
namun sifatnya lebih keras dari ayahnya maka Belanda
menghancurkannya dan nasibnya tidak diketahui.
Ekonomi
Makassar menjadi tempat persinggahan para pedagang internasional
dengan pelabuhannya Somba Opu. Untuk mengatur pelayayaran dibuatkan
UU Pelayaran dan Perniagaan yang disusun berdasarkan keislaman karya,
Ammana Gapa berupa “Ade Loping Blacaranna Pabbahi’e”.
Sosial Budaya
Raja sangat memperhatikan kehidupan masyarakat dengan berpegang
bahwa lautan semua ciptaan Tuhan untuk kita semua, maka harus dikelola
dan dimanfaatkan. Budaya yang sangat terkenal adalah pembuatan
perahupinsi yang tersiar sampai ke manca negara.
Sistem Birokrasi
a. Kekuasaan tertinggi dipegang oleh raja. Sebutan untuk raja dapat
ditemukan dari beberapa suku tradisional yang bersifat kronik yang
memuat silsilah raja. Kitab tersebut antara lain:
Lontara, memuat silsilah raja-raja Toraja
Lagaligo, memuat silsilah raja-raja Bugis
Raja Goa bergelar Sombayari Goa (disembah)
Raja Lawu bergelar Pajungeri Luwu (berpayung atau yang dipayungi)
Raja Bone bergelar Mangkau’e (tahta)
b. Pabbicarabutta yang dibantu oleh:
Tumailalang Matoa bertugas menyampaikan perintah raja kepada
majelis
Tumailalang Malolo bertugas mengurus Istana
c. Panglima perang bergelar Aurong Guru Lompona
Tumakajannanganang.
9. Kerajaan Ternate dan Tidore
Geografis
Berdiri 1521 M, letak di Maluku dan merupakan dua kerajaan Islam yang
besar.
Politik
a Ternate memimpin Uli Lima (lima persekutuan / lima saudara) yang
terdiri dari Seram, Obi, Bacan, Ambon dan Ternate, sedangkan Tidore
memimpin Uli Siwa (9 persekutuan / sembilan saudara)
b Sultan Hairun (1550-1570 M) menentang politik monopoli Portugis,
setelah Portugis mendirikan Benteng Santo Paolo dalam peresmiannya
mengundang Sultan Hairun namun di tengah perjalanan dibunuh
Portugis.
c Sultan Baabullah (1570- 1583) diberi julukan tuan 72 pulau, Baabullah
berhasil mengusir Portugis dari Ternate dan pada tahun 1640 M ke
Timor Timur setelah diusir VOC.
Ekonomi
Wilayah Maluku sebagai penghasil cengkeh untuk obat-obatan, bumbu
masak, pertanian menghasilkan beras, kacang dan rempah-rempah.
Sosial Budaya
Masyarakat menganut dua agama yaitu Islam dan Kristen sehingga mudah
dipecah belah dan diadu domba. Contoh hasil budaya fisik berupa Masjid
Ternate, Istana Kerajaan.
10. Kerajaan Bima, Nusa Tenggara Barat
Latar Belakang
Agama Islam baru masuk ke Bima ketika di kerajaan Bima muncul
kemelut akibat perebutan kekuasaan antara putera Msa Tua Asi Suwo
dengan pamannya. Raja Gowa mengirimkan para muballigh ke Bima yang
terdiri dan orang-orang Tab, Bone, Luwu dan Gowa sendiri. Ini terjadi
kira-kira pada tahun 1028 H bertepatan dengan 1617 Masehi. Akhirnya
pada tahun 1620 M, empat keturunan kerajaan Bima masuk Islam dengan
mengucapkan kredo kalimat syahadat disaksikan oleh para utusan Raja
Gowa. Kemudian keempat putera raja Bima tersebut mengganti namanya
dengan nama Islam. Masing-masing adalah sebagai berikut :
a. Putera La Kai berganti nama dengan Abdul Kahir
b. La Mbila berganti nama dengan nama Jalaluddin.
c. Bumi Jaara Sape berganti nama dengan Awaluddin.
d. Manuru Bata berganti nama dengan Sirajuddin.6
Setelah berkali-kali kerajaan Gowa mengirimkan bantuan militer kepada
keempat putera raja Bima tersebut, akhirnya konflik internal perebutan
kekuasaan bisa dimenangkan oleh para putera raja tersebut, sementara
sang paman, Salisi melarikan diri di Mata. Pada saat itu pula maka Abdul
Kahir dinobatkan sebagai raja Islam Bima.
6H. Tajb Abdullah Sejarah Bima…Ibid, hlm. 111
Politik
Di bawah ini dicantumkan daftar raja-raja yang memerintah kerajaan Islam
Bima menurut prnuturan Henry Chambert Loir, sebagai berikut :
a. Abdul Kahir, Mabata Edu (1620 – 1640)
b. Abdul Kahir, Mantau Uma Jati (1649 – 1682)
c. Nuruddin Abu Bakar Ali Syah Sultan Nuruddin, Muawa Paju (1682 –
1587)
d. Jamaluddin Ali Syah, Muwa’a Romo (1687 – 1696).
e. Hasanuddin Muhammad Syah, Mabata Bo’u ((1696 – 1731)
f. Alauddin Muhammad Syah, Manuru Daha (1731 – 1748)
g. Kemala Ratu Syah, Makalosa Weki Dnai ((1748 – 1751)
h. Abdul kadim Muhammad Syah, Mawa’a Taho ((1751 – 1773)
i. Abdul Hamd Muhammad Syah, Mantau Asi Saninu (1773- 1817)
j. Ismail Muhammad Syah, Mantau Dana Sigi ((1818 – 1854)
k. Abdullah, Mawa’a Adil (1854 – 1868)
l. Abdul Aziz, Mawa’a Sampela (1868 – 1881)
m. Ibrahim, Ma Taho Parange (1881 – 1915)
n. Muhammad Salahuddin (1915 – 1951)7
Sistem Birokrasi
Sultan Nusiruddin cukup berjasa memantapkan agama Islam dengan
ajaran-ajarannya, mendasari budaya masyarakat Bima. Ia telah
memberlakukan syareat Islam dan menetapkan para pejabat keagamaan
dilengkapi dengan jabatan Qodli dan Khatib sebagai law enforcement bagi
perundang-undangan Bima. Di dalam istana ada petugas keagamaan yang
kedudukannya sama dengan mufti. Ia juga menempatkan beberapa pejabat
negara di beberapa daerah sekaligus sebagai juru dakwah.
7Henri Chambert Loir, Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah, (Jakarta: Kepustakaan
Populer Gramedia, Ecole francise d’Extreme-Orient, 2004). hlm. 138)
Tercatat dalam sejarah bahwa walaupun kesultanan Bima berdasarkan
Adat dan hukum Islam, ternyata tidak mempersoalkan adanya Sultan
(Sulthanah) perempuan. Hal ini terjadi karena Sultan Alauddin
Muhammad Syah tidak memiliki keturunan (putera mahkota) laki-laki.
Hanya saja pengangkatan Sulthanah ini dianggap oleh Belanda sebagai
tindakan pembangkangan, sebab berdasar atas perjanjian Rotterdam II,
pengangkatan sultan di Bima harus mendapat persetujuan dari Gubernur
Jendral.
Perkembangan Islam di Indonesia Fase Ketiga
Pelembagaan adalah proses berlangsung dan terujinya sebuah kebiasaan dalam
warga mejadi instusi atau lembaga yang akhirnya harus menjadi paduan dalam
kehidupan bersama. Pelembagaan Islam dimulai pada abad ke 13 sampai 17, pada
fase ini sosialisasi dan dakwah Islam semakin tak terbendung dan berhasil masuk
ke pusat-pusat kekuasaan, merambah hampir ke seluruh wilayah. Hal ini tidak
bisa dilepaskan dari peranan para penyebar dan pengajar Islam. Mereka
menduduki berbagai jabatan dalam struktur birokrasi kerajaan, dan banyak
diantara mereka menikah dengan penduduk pribumi.
Pelembagaan Islam merupakan proses terbentuknya Institusi Sosio Politik
Islam dalam bentuk negara atau kerajaan Islam, Melalui peran para wali, proses
pelembagaan Islam dimulai. Proses itu, yaitu :
a. Pertama melalui pendirian masjid, suatu tempat ibadah yang juga
berfungsi sebagai tempat penyebaran dan pendidikan Islam. Pada masa
awal, masjid menjadi tempat strategis untuk pengembangan komunitas
Islam berlangsung. Di dalamnya dilakukan penyusunan strategi,
perencanaan, dan aksi dalam rangka penyebaran Islam di tengah
kehidupan masyarakat. Selain menjadi tempat penyusunan strategi dalam
penyusunan penyebaran Islam, masjid juga menjadi tempat penyusunan
strategi perang melawan Imperialis Barat yang datang menjajah Islam.
b. Proses pelembagaan Islam kedua yang dilakukan oleh para wali yakni
melalui pesantren. Pada abad 14 hingga 16 sudah bermunculan pusat-pusat
keilmuan Islam. Pada awalnya, Wali Songo merupakan saudagar karena
mencontoh Rasulullah Shallahu 'alaihi wa sallam. Selain itu, Wali Songo
bukan hanya Ulama yang berperan aktif dalam berhubungan dengan Allah
Swt, akan tetapi juga berjuang keras dalam melawan musuh-musuh Allah.
Salah satu contohnya yaitu Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah,
menjadi pemimpin perlawanan bersenjata melawan Imperialis Kerajaan
Katolik Portugis untuk merebut kembali Pelabuhan Niaga Jayakarta pada
22 juni 1527 Masehi.8
Lembaga-lembaga pesantren itulah yang paling menentukan watak keislaman
dari kerajaan-kerajaan Islam, dan yang memegang peranan paling penting bagi
dakwah Islam sampai pelosok-pelosok. Pesantren telah menjadi oven tempat
pembakaran ruh jihadi yang menggelora bagi setiap pemuda, melahirkan kader-
kader pejuang Islam yang terus menerus sehingga tidak ada lost generation bagi
keberlangsungan dakwah.
Puncak pelembagaan Islam adalah dengan berhasil mendirikannya kerajaan
Islam sebagai institusi sosio politik Islam yang menjadi basis bagi dominasi
Islam.Berdirinya kerajaan-kerajaan di Indonesia adanya hasil dari proses
pelembagaan membuat kerajaan menjadi institusi berdominasi islam.
Pembentukan kerajaan menandai awal terntegrasinya nilai-nilai islam secara lebih
instensif ke dalam sistem sosial dan politik di nusantara dan selanjutnya kerajaan
menjadi basis dilakukanya upaya penerapan ajaran-ajaran islam di kalangan
masyrakat. Dengan berdirinya kerajaan-kerajaan maka tampilnya islam sebagai
kekuatan politik dan budaya berlangsung dan kerajaan islam juga memperrooleh
kekuatan pada politiknya sehingga semakin efektif dan tercapainya tingkat
pengaruh lebih besar di masyarakat.9
Kerajaan islam itu antara lain :
a. Samudera Pasai dan Malaka (dua Kerajaan Islam pertama di Nusantara)
b. Kerajaan Aceh (Sumatra)
c. Kerajaan Demak, Banten, Mataram, (Jawa)
d. Kerajaan Ternate, Tidore (Maluku)
e. Kerajaan Gowa-Tallo (Sulawesi)
8IzzurRozabi. PercikanApi Sejarah. Malang: UB Press, Cetakan 1. Maret 2013, hlm. 249
9 Jajat Buhanudin. Islam Dalam Arus Sejarah Indonesia. Jakarta: Kencana, Cetakan 1, Maret 2017,
hlm. 11
f. Kerajaan Bima (Nusa Tenggara Barat)
Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat Perkembangan Islam Indonesia
Dalam waktu yang relatif cepat, agama Islam dapat diterima dengan baik oleh
sebagian besar lapisan masyarakat Indonesia, mulai dari rakyat jelata hingga raja-
raja. Sehingga penganut agama ini pada akhir abad ke-6 H (abad ke- 12 M), dan
tahun-tahun selanjutnya, berhasil menjadi suatu kekuatan muslim Indonesia yang
di takuti dan diperhitungkan.
Ada tiga faktor yang pendukung Islam cepat berkembang di Indonesia, yaitu
sebagai berikut:
a. Faktor Agama
Faktor agama, yaitu akidah Islam itu sendiri dan dasar-dasarnya yang
memerintahkan menjunjung tinggi kepribadian dan meningkatkan harkat dan
martabatnya, menghapuskan kekuasaan kelas rohaniwan seperti Brahmana
dalam system kasta yang diajarkan hindu. Masyarakat diyakinkan bahwa
Islam semua lapisan masyarakat sama kedudukannya, tidak ada yang lebih
utama dalam pandangan Allah SWT, kecuali karena taqwanya.mereka juga
sama dalam hukum,tidak ada yang diistimewakan meskipun ia keturunan
bangsawan. Semua lapisan masyarakat dapat saling hidup rukun, bersaudara,
bergotong royong, saling menghargai, saling mengasihi, bersikap adil,
sehingga toleransi Islam merupakan ciri utama bangsa ini yang di kenal dunia
hingga dewasa ini.
b. Faktor Politik
Faktor politik ini diwarnai oleh pertarungan dalam negeri antara Negara-negara
dan penguasa Indonesia, serta oleh pertarungan Negara-negara bagian itu
dengan pemerintah pusat yang beragama Hindu. Hal tersebut mendorong para
penguasa, para bangsawan dan para pejabat di Negara-negara bagian tersebut
untuk menganut agama Islam, yang dipandang mereka sebagai senjata ampuh
untuk melawan dan menumbangkan kekuatan Hindu, agar mendapat dukungan
kuat dari seluruh lapisan masyarakat.
c. Faktor Ekonomi
Yang pertama yaitu diperankan oleh pedagang yang menggunakan jalan laut,
baik antar kepulauan Indonesia sendiri, maupun yang melampaui perairan
Indonesia ke Cina, India, dan Teluk Arab/Parsi yang merupakan pendukung
utamanya, karena telah memberikan keuntungan yang tidak sedikit sekaligus
mendatangkan bea masuk yang besar bagi pelabuhan-pelabuhan yang
disinggahinya, baik menyangkut barang-barang yang masuk maupun yang
keluar.
Terdapat para penguasa-penguasa bagian, pejabat-pejabat Negara dan kaum
bangsawan. Karena perdagangan melalui lautan Indonesia dan india hampir
seluruhnya dikuasai para pedagang Indonesia yang terdiri dari pejabat dan
bangsawan itu, yang bertindak sebagai agen-agen barang Indonesia yang akan
dikirim keluar dan sebagai penyalur barang-barang yang masuk ke Indonesia,
banyak berhubungan dengan para pedagang muslim Arab yang sekaligus
mengajak mereka kepada agama baru itu.
Faktor penghambat dakwah Islam di Indonesia antara lain :
a. Penjajahan menghentikan dakwah
Begitu kaum penjajah masuk ke tanah air kita, pemimpin-pemimpin Islam
terpusat perhatiannya menghadapi penjajahan, terbukti sejak awal sampai akhir
perlawanan bangsa kepada kaum penjajah semua dipelopori pemimpin-
pemimpin Islam. Sejak dari masa Teuku Umar sampai Diponegoro dan ratusan
pemimpin-pemimpin perlawanan terhadap kaum penjajah sebagian besar lahir
atas aspirasi Islam. Karena itu penyebaran Islam terhenti seluruhnya kita hanya
melihat umat yang telah ada.
b. Umat Islam Terbagi dalam Aneka Ragam Kelompok
Penjajah berhasil mengelompokkan umat Islam menjadi beberapa
kelompokdengan pengelompokan silang karena perbedaan motivasi :
Pertama, timbul kelompok karena pendidikan, sehingga ada yang disebut
kaum muslimin pesantrenan dan kaum muslimin sekolahan. Kaum pesantren
rata-rata mengisi kehidupan pedesaan sedangkan kaum terpelajar sekolah
mengisi masyarakat perkotaan, berkumpul sekitar kauman. Akibat
pengelompokan ini timbullah kekuatan politik yang beradaptasi kepada
penguasa dengan mempergunakan segala fasilitasnya dan kaum yang sama
sekali tidak mau bergaul dengan kaum penjajah, sehingga timbul hukum Islam
yang dipergunakan untuk memberi warna anti penjajah atau anti kaum kafir.
Kedua, pengelompokan berdasarkan paham keagamaan, timbul
masalah madzhab, taqlid dan arruju ilal quran wassunah (kembali pada hukum
yang ditetapkan Quran dan sunnah). Dalam paham keagamaan bukan hanya
terdiri dari dua kelompok karena masalah-masalah fiqih, tetapi timbul juga
perbedaan karena masalah akidah, diantara mereka yang anti tahayul
dan khufarat dengan yang sebaliknya. Sekali-sekali umat Islam bersatu, kalau
kepentingan bersama atau menyangkut masalah bersama yang sepaham
terganggu.10
D. Analisis
Dari masa ke masa Islam semakin mengalami perkembangan, khususnya
di Indonesia sendiri. Sejarah perkembangan Islam di Indonesia merupakan
cerita dari kejadian masa lalu sebagai bukti dari proses berkembangnya agama
Islam ke daerah-daerah di Indonesia, khususnya di daerah pesisir yang sebagai
titik awal proses penyebaran melalui jalur laut.Hal ini bisa dibuktikan dengan
banyaknya atau mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam, dengan
jumlah penganutnya kurang lebih 270 juta orang. Perkembangan Islam hingga
saat ini bukanlah hal yang mudah dan instan begitu saja, karena mengingat
proses masuknya Islam di Indonesia yang bisa dibilang lumayan sulit
dikarenakan masyarakat Indonesia pada saat itu masih belum mengenal Tuhan
dan beberapa diantaranya ada yang menganut kepercayaan Hindu Budha.
Setelah mengalami perkembangan yang begitu pesat, justru di era modern
sekarang ini umat Islam memiliki banyak tantangan seperti, adanya pengaruh
dari Barat yang ajarannya tidak sesuai dengan syariat Islam sehingga
menyebabkan jauh dari kebenaran, menurunnya sikap dan perilaku yang
disebabkan faktor pergaulan bebas, dan semakin sedikit minat untuk masuk ke
pesantren ataupun belajar ilmu agama. Kemudian selain itu, perkembangan
10Gadjahnata, dkk. Masuk dan Berkembangnya Islam di Sumatera
Selatan. (Jakarta : UI Press. 1986). hlm.3-4.
Islam yang didampingi dengan perkembangan media, dunia intertain, dan
kemajuan teknologi juga membawa pengaruh kepada generasi muda saat ini.
Melalui media yang mendukung gemerlapnya dunia hiburan, menjadikan
generasi muda terlena olehnya. Tercatat hampir 90% tayangan yang ada kurang
memiliki kebermanfaatan dan kurang mendidik dalam membangun generasi
Islami yang cerdas serta membahayakan perkembangan pola pikir anak.
Serperti yang kita ketahui saat ini, para generasi muda lebih mudah dalam
menghafal lagu-lagu orang dewasa akan tetapi sukar dalam menghafal Al-
Qur’an. Selanjutnya adalah kemajuan teknologi yang disalahgunakan, misalnya
penggunaan teknologi sebagai ajang penipuan dan juga memfitnah orang.
Sudah jelas bahwa tindakan tersebut bukan merupakan ajaran dari agama Islam
dan bahkan jauh dari kebenaran.
Dengan begitu, melalui proses perkembangan Islam saat ini seharusnya
kita bisa mematahkan atau mengatasi segala persoalan masalah yang ada
tersebut, dengan meningkatkan kemauan pada setiap individu untuk
mengembangkan belajar ilmu agamanya, contohnya : dengan meninggalkan
hal-hal yang tidak penting dan mementingkan peribadahan, belajar ilmu agama
secara aktif dalam kajian Islam, menempa diri di pondok pesantren yang benar
ajarannya, dan adanya pantauan dari orang tua.Sebagai upaya mengatasinya
adanya perkembangan Islam yang melemah, harus adanya keberlangsungan
(tindakan) dalam proses perkembangan Islam yang semakin banyaknya
populasi manusia. Bertambahnya pertumbuhan manusia, bertambah juga
perkembangan Islam, maka dari itu umat islam jangan sampai kendor dan tetap
dalam ranah Islam yang kaffah. Tidak hanya itu, generasi muda haruslah ikut
berpatisipasi dalam proses perkembangan Islam di era yang akan datang
sehingga Islam di Indonesia dapat berkembang dengan lebih baik.
E. Simpulan
Dari penjelasan materi di atas dapat di simpulkan bahwa perkembangan
islam di indonesia melewati tiga periode atau fase. Fase yang pertama dimulai
pada periode perkembangan islam dengan perdagangan oleh pedagang
muslim ke negara indonesia yang terjadi pada abad ke 7 M, fase yang kedua
dimulai pada peiode kerajaan islam di indonesia yang terjadi pada abad ke 13,
dan fase ke tiga dimulai dengan proses pelembagaan islam di indonesia yang
terjadi pada abad ke 16 M.
Ketiga fase perkembangan islam di indonesia erat kaitannya, ketiganya
saling berhubungan kejadiannya. Fase pertama masuknya islam lewat
perdagangan dari pedagang muslim dari India dan Arab kepada masyarakat di
indonesia, selain perdagannga perkembangan islam salah satunya adanya
pernikahan dengan orang terkemuka di daerahnya yang menyebabkan masuk
ke dalam sistem kerajaan. Kemudian agama islam itu mengalamai
perkembangan yang membentuk komunitas atau kelompok sehingga
menciptakan kerajaan islam yang didirikan oleh orang-orang muslim di
indonesia seperti kerajaan Malaka, kerajaan Samudera Pasai, kerajaan Aceh,
kerajaan Demak, kerajaan Pajang, kerajaan Mataram, kerajaan Makassar,
kerajaan Ternate, dan kerajaan Bima (NTT). Setelah terjadinya sistem
kerajaan munculah proses pelembagaan yang di lakukan oleh pada tokoh
Islam seperti ulama yang posesnya diawali dengan pembuatan bangunan
masjid dan pondok pesantren sebagai tempat menimba ilmu dan belajar
agama islam, puncak pelembagaan islam dengan berhasilnya mendirikan
kerajaan islam sebagai institusi sosio politik islam yang menjadi basis bagi
dominasi islam.
Adapun faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam proses
perkembangan islam di indonesia. Proses perkembangannya meliputi faktor
agama, politik dan ekonomi, sedangkan faktor penghambatnya adanya
penjajahan yang menyebabkan hentinya dakwah dan umat Islam yang terbagi
dalam aneka ragam kelompok.
F. Saran
Perkembangan Islam di Indonesia selayaknya dapat menciptakan kondisi
yang lebih baik ke ranah Islam yang benar bagi umat muslim, dan dapat
menciptakan muslim yang berahlakul karimah serta memberikan kedamaian.
Demikianlah makalah yang kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi para
pembacanya. Menyadari bahwa kepenulisan ini masih jauh dari kata
sempurna, oleh karenanya kritik dan saran yang membangun sangat
diharapkan agar kepenulisan pembuatan makalah dapat disusun lebih baik
dan bisa memudahkan pembaca untuk memahaminya di kesempatan yang
akan datang.
Daftar Pustaka
Amarseto,Binuko. 2015 .Ensiklopedia Kerajaan Islam di Indonesia, Istana Media,
Yogyakarta, hlm. 5-9.
Buhanudin, Jajat. 2017 . Islam DalamArus Sejarah Indonesia. Jakarta: Kencana,
Cetakan 1, hlm. 11.
Farid, Samsul. 2013. Sejarah Indonesia Untuk SMA-MA/SMK Kelas X.
Bandung: YramaWidya.
Gadjahnata, dkk. 1986 .Masuk dan Berkembangnya Islam di Sumatera
Selatan.Jakarta : UI Press.hlm.3-4.
Gunawan, Safri.2018 .”Perkembangan Islam di Indonesia”. Yurisprudentia. Vol.
4 No. 2, hlm. 13-14.
Hapsari, Ratna. 2013. Sejarah Indonesia Untuk SMA/MA Kelas X.
Jakarta:Erlangga.
Husada,Husaini.2016 .“Islamisasi Nusantara”. Adabiya. Vol. 18 No. 35, hlm. 23.
Loir, Henri Chambert.2004. Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah.Jakarta:
Kepustakaan Populer Gramedia, Ecole francise d’Extreme-Orient. hlm.
138.
M. Habib Mustopo, dkk. 2013. Sejarah Indonesia:ProgramWajib 1.
Jakarta:Yudhistira.
Nasution,Fauziah.2020 .“Kedatangan dan Perkembangan Islam di Indonesia”.
Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan. Vol. 1 No. 1, hal.
32-36.
Rozabi, Izzur. 2013 .PercikanApi Sejarah. Malang: UB Press, Cetakan 1. Maret
2013, hlm. 249.
Suwardi. 2018 .“Ragam Pustaka Periode Awal Perkembangan Islam Nusantara”.
Buletin Perpustakaan Universitas Indonesia. Vol. 1(1), hlm. 6.