The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Di Indonesia mayoritas terbesar penduduk yang beragama Islam, dimana umat Muslim selalu memperhatikan nilai-nilai keislaman. Masuknya Islam di Indonesia memeiliki banyak teori, karena belum diketahui secara pasti, kapan Islam masuk ke Nusantara. Menurut Hamka Islam masuk ke Indonesia melalui pedagang-pedagang yang berasal dari Gujarat, India.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by E BOOK 3 PAI E UIN SAIZU PURWOKERTO, 2021-09-24 00:02:55

PEMBAHARUAN PEMIKIRAN ISLAM DI INDONESIA

Di Indonesia mayoritas terbesar penduduk yang beragama Islam, dimana umat Muslim selalu memperhatikan nilai-nilai keislaman. Masuknya Islam di Indonesia memeiliki banyak teori, karena belum diketahui secara pasti, kapan Islam masuk ke Nusantara. Menurut Hamka Islam masuk ke Indonesia melalui pedagang-pedagang yang berasal dari Gujarat, India.

Keywords: PEMBAHARUAN PEMIKIRAN ISLAM DI INDONESIA

PEMBAHARUAN PEMIKIRAN ISLAM DI INDONESIA

Kelompok 11
Nama Anggota :

1. Alif Rizki Rahmawati
2. Isnaeni Prabandari
3. Nisfi Hami Saefudin
4. Reva Anisatul Mubaroka

PENDAHULUAN

Di Indonesia mayoritas terbesar penduduk yang beragama Islam, dimana umat Muslim
selalu memperhatikan nilai-nilai keislaman. Masuknya Islam di Indonesia memeiliki banyak
teori, karena belum diketahui secara pasti, kapan Islam masuk ke Nusantara. Menurut Hamka
Islam masuk ke Indonesia melalui pedagang-pedagang yang berasal dari Gujarat, India. Dalam
proses perkembangan Islam di Indonesia sendiri tidak dilakukan dengan kekerasan atau
kekuatan militer, melainkan penyebaran Islam yang dilakukan secara damai dan melalui
berbagai jalur yaitu, jalur perdagangan, perkawinan, pendidikan, saluran tasawuf, dan seni.

Adapun pemabaharuan pemikiran Islam di Indonesia sangat pesat. Dimana kemajuan
umat Islam di Indonesia tidak lepas dari tokoh-tokoh ulama dan organisasi keislaman yang
meliputi bidang organisasi, bidang pendidikan, bidang kemasyaraktan, ekonomi dan politik.
Dalam munculnya tokoh ulama tersebut merupakan pendorong perubahan sosial dan budaya
yang penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Sedangkan dalam organisasi keislaman
merupakan pendorong dalam kehidupan bemasyarakat.

Di Indonesia, terdapat tiga arus gelombang pembaharuan pemikiran Islam, yaitu
kelompok tradisionalis, kelompok modernis, dan kelompok neomodernis. Dalam kelompok
tradisionalis yaitu Nahdlatul Ulama, dimana Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu
wadah terbesar kelompok muslim tradisionalis. Kelompok NU ini berupaya mempertahankan
nilai-nilai dari tradisi nenek moyang dan bisa dipadukan dengan agama. Kemudian kelompok
modernis, kelompok ini muncul sebagai kritikan terhadap kelompok tradisionalis, dimana
kelompok ini memiliki pandangan bahwa akibat dari proses historis, maka nilai-nilai yang
terdapat dalam agama Islam telah banyak bergeser akibat dari nilai-nilai yang ada pada tradisi
nenek moyang. Karena perdebatan-perdebatan yang terjadi antara kaum tradisionalis dan
modernis inilah yang melatar belakangi munculnya kelompok-kelompok muslin. Adapaun
kelompok neomodernis menganggap bahwa perdebatan yang terjadi antara dua kelompok ini
mengakibatkan umat Islam tidak melakukan sesuatu yang dapat mengusung nilai tambah bagi
kemajuan Islam ke depan.

RUMUSAN MASALAH

1. Apa yang dimaksud dengan pembaharuan?
2. Apa latar belakang dari pembaharuan Islam?
A. Apa saja Organisasi-organisasi Islam di Indonesia?

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pembaharuan
Istilah “pembaruan” secara etimologis berasal dari kata baru yang artinya belum

pernah ada (dilihat) sebelumnya. Mendapat tambahan awalan “pe” dan akhiran “an”
menjadi kata baku “pembaruan” yang artinya proses, cara, dan perbuatan membarui.
Dalam tradisi khajanah intelektual Islam, istilah pembaruan (dalam konteks ini,
pembaruan Islam) dianggap sebagai terjemahan dari kata Arab tajdid, dan juga
modernism dalam terminologi Barat.

Menyadari atas kandungan makna negatif, sudah barang tentu di samping
kandungan makna positifnya, dalam istilah modernisme, kemudian Harun Nasution
memberikan saran terutama kepada umat Islam (Indonesia) sebaiknya agar
menggunakan istilah “pembaruan” saja untuk menunjuk pembaruan dalam Islam,
termasuk di Indonesia.1

Dengan ungkapan lain, kata “pembaruan” dianggap lebih tepat dipergunakan
oleh umat Islam untuk menunjuk pembaruan dalam Islam ketimbang kata modernisme.
Hal demikian itu kemudian direpresentasikan oleh Harun Nasution melalui sebuah
judul bukunya Pembaharuan dalam Islam.2

Di samping term tajdid, terkait dengan pembaruan keagamaan dalam Islam,
sebenarnya dikenal pula istilah ishlah dengan makna perubahan (dalam konteks
perbaikan), yang pada level operasional di lapangan lebih menampakkan dalam bentuk
gerakan purifikasi atau pemurnian Islam. Berpangkal pada pemaknaan ontologis
terhadap dua term ini, tajdid dan ishlah, kemudian di kalangan pemikir Islam terjadi
perbedaan dalam memberikan arti konsepstual terhadap istilah pembaruan Islam itu: di
satu pihak ada sebagian yang melakukan pemilahan secara ketat antara konsep
pembaruan (tajdid) dengan ishlah (perubahan, perbaikan dalam makna pemurnian),
tetapi ada pula sebagian lainnya yang mengiklusikan makna perbaikan-pemurnian
(ishlah) ke dalam konsepsi pembaruan Islam.

1 Nasution, Pembaruan dalam Islam, 12.
2 Harun Nasution, Pembaruan dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 2001).

B. Latar Belakang Pembaharuan Islam
Pada awal abad ke-20, ide-ide pembaharuan terlihat telah turut mewarnai arus

pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Memilik latar belakang kehidupan sebagian
tokoh-tokohnya, sangat mungkin diasumsikan bahwa perkembangan baru Islam di
Indonesia sedikit banyak dipengaruhi oleh ide-ide yang berasal dari luar Indonesia.
Seperti misalnya Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), K.H. Hasyim Asy’ari (Nahdlatul
Ulama) Ahmad Surkati (Al Irshad), Zamzam (Persis). Mereka sempat menimba ilmu
di Mekkah dan melalui media publikasi dan korespondensi mereka berkesempatan
untuk dapat berinteraksi dengan arus pemikiran baru Islam . Tokoh lainnya seperti
Tjokroaminoto (Sarekat Islam) juga dikenal menggali inspirasi gerakannya dari ide-ide
pembaharuan Islam di anak benua India.

Ada beberapa jalur masuknya ide-ide pembaruan dari luar ke Indonesia, di
antaranya yaitu sebagai berikut :

a. Jalur haji dan mukim, yakni tradisi tokoh tokoh umat Islam Indonesia yang
menunaikan ibadah haji ketika itu bermukim untuk sementara waktu guna
menimba dan memperdalam ilmu keagamaan atau pengetahuan lainnya. Sehingga
ketika mereka kembali ke Tanah Air, kualitas keilmuan dan pengamalan
keagamaan mereka umumnya semakin meningkat. Ide-ide baru yang mereka
peroleh tak jarang kemudian juga mempengaruhi orientasi pemikiran dan dakwah
mereka di Tanah Air.

b. Jalur publikasi, yakni berupa jurnal atau majalah-majalah yang memuat ideide
pembaharuan Islam baik dari terbitan Mesir maupun Beirut. Wacana yang
disuarakan media tersebut kemudian menarik Muslim nusantara untuk
menterjamahkannya ke dalam bahasa Indonesia bahkan lokal, seperti pernah
muncul jurnal al-Imam, Neracha dan Tunas Melayu di Singapura, di Sumatera
Barat juga terbit al-Munir.

c. Peran mahasiswa yang sempat menimba ilmu di Timur-Tengah. Menurut Achmad
Jainuri, para pemimpin gerakan pembaharuan Islam awal di Indonesia hampir
merata adalah alumni pendidikan Mekah. Peran besar mahasiswa-mahasiswa
alumni Timur Tengah sampai sekarang masih berjalan. Bisa dikatakan bahwa
alumni-alumni dari Timur Tengah masih mendapatkan tempat khusus di kalangan
masyarakat, khususnya kalangan akademik.3

3 Sugiono dkk, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Kementrian Agama Republik Indonesia, 2015), hal 90

Secara umum kelahiran dan perkembangan pembaharuan Islam di Indonesia
merupakan wujud respon terhadap kemunduran Islam sebagai agama karena praktek-
praktek penyimpangan, keterbelakangan para pemeluknya dan adanya invansi politik,
kultural dan intelektual dari dunia Barat.

Gerakan pembaharuan Islam di Indonesia tidaklah muncul dalam satu pola dan
bentuk yang sama, melainkan memiliki karakter dan orientasi yang beragam. Disini
penting dipahami bahwa gerakan nasionalisme Indonesia yang bangkit sekitar awal
abad ke-20 diusung sebagiannya oleh tokoh-tokoh modernis muslim tidak hanya
melalui kendaraan gerakan yang berdasar atau berafiliasi ideologis pada Islam.

Sejarah menunjukkan bahwa Islam ternyata hanya menjadi salah satu alternatif
yang mungkin bagi tokoh-tokoh modernis muslim di Indonesia sebagai sumber rujukan
teoritis dan instrumental gerakan pembaharuan dan nasionalismenya. Sekalipun
demikian, hal ini tidak mengecilkan pengertian adanya keterkaitan antara dimensi
penghayatan religius dan artikulasi perjuangan sosial-politik di masyarakat. Dengan
kata lain, kesadaran nasional sebagai anak bangsa yang terjajah oleh penguasa asing
tampaknya memikat mereka untuk bersama-sama menempatkan prioritas nasional
sebagai wujud kepeduliannya.
C. Organisasi-organisasi Islam di Indonesia

Organisasi Islam di Indonesia adalah organisasi Islam di Indonesia yang
bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan ekonomi. Keberadaaan
organisasi-organisasi Islam di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peranannya pada
zaman perjuangan kemerdekaan. Peranan para ulama Islam yang tergabung dalam
berbagai organisasi akan perjuangan mencapai kemerdekaan sangat besar dan tidak bisa
diabaikan.

Berikut ini adalah organisasi-organisasi Islam yang dibentuk pada masa
sebelum kemerdekaan:

1. Jam’iyatul Khair (1905 M)
Didirikan pada 17 Juli 1905 di Jakarta, organisasi ini awalnya beraktivitas di

bidang pendidikan dasar dan mengirim para pelajar ke Turki dan merupakan
satusatunya organisasi pendidikan modern di Indonesia. Guru-gurunya
didatangkan dari Tunisia, Sudan, Maroko, Mesir dan Arab. Korespondensi mereka
dengan tokohtokoh pergerakan dan juga surat kabar di luar negeri turut
menyebarkan kabar mengenai kekejaman pemerintah Belanda. Guru yang terkenal
dari sini adalah Syekh Ahmad Surkati dari Sudan, yang menekankan bahwa tidak

ada perbedaan di antara sesama umat muslim yang berkedudukan sama. Para tokoh
ulama Indonesia kebanyakan lahir dari organisasi ini seperti KH. Ahmad Dahlan,
H.O.S. Tjokroaminoto, H. Samanhudi, dan H. Agus Salim.
2. Syarekat Islam (1905 M)

Syarikat Islam Indonesia (SI-Indonesia) adalah organisasi massa tertua yang
berdiri sejak era kolonialisme, didirikan Oleh Haji Samanhudi pada tanggal 16
Oktober 1905, awal berdirinya SI-Indonesia benama Sarekat Dagang Islam (SDI),
organisasi yang didirikan sebagai wadah perkumpulan dan pergerakan bagi para
pedagang muslim pribumi guna menandingi monopoli pedagang Tionghoa masa
itu, sikap imprialisme pemerintah kolonial Hindia Belanda terhadap pedagang
pribumi memembuat Haji Samanhudi yang juga berprofesi sebagai seorang
saudagar bergerak dengan cepat menyebarkan berita berdirinya SDI, salah satunya
melalui buletin Taman Pewarta (1902-1915).

Konggres Sarekat Islam yang Pertama di Surabaya pada tanggal 10
November 1912. Namun setahun sebelumnya Sarekat Dagang Islam SDI berganti
nama menjadi Sarekat Islam, pergantian nama juga merubah ruang pergerakan
Sarekat Islam dalam arti luas, mencakup berbagai aspek sosial, politik, ekonomi,
pendidikan dan keagamaan. Pergantian nama di tubuh Sarekat Islam di bahas
dalam Kongres Sarekat Islam yang pertama di Surabaya pada tanggal 20 Januari
1913.
3. Persatuan Umat Islam (1911 M)

Persatuan Umat Islam (PUI) didirikan oleh KH. Abdul Halim, yang merupakan
seorang ulama pengasuh di Pondok Pesantren Majalengka, Jawa Barat pada tahun
1911. PUI adalah gabungan dari dua organisasi Islam yang ada di Jawa Barat yaitu
Persyarikatan Umat Islam dan organisasi Al-Ittihad Al-Islamiyah pimpinan KH.
Ahmad Sanusi di Sukabumi. PUI kemudian mendirikan banyak sekolah serta
pondok pesantren di Jawa Barat.
4. Muhammadiyah (1912 M)

Organisasi Muhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan di Kampung
Kauman Yogyakarta pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H atau 18 November 1912.
Kelahiran dan keberadaan Muhammadiyah pada awal berdirinya tidak lepas dan
merupakan menifestasi dari gagasan pemikiran dan amal perjuangan Kyai Haji
Ahmad Dahlan (Muhammad Darwis) yang menjadi pendirinya. Setelah
menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci dan bermukim yang kedua kalinya pada

tahun 1903, Kyai Dahlan mulai menyemaikan benih pembaruan di Tanah Air.
Gagasan pembaruan itu diperoleh Kyai Dahlan setelah berguru kepada ulama-
ulama Indonesia yang bermukim di Mekkah seperti Syeikh Ahmad Khatib dari
Minangkabau, Kyai Nawawi dari Banten, Kyai Mas Abdullah dari Surabaya, dan
Kyai Fakih dari Maskumambang; juga setelah membaca pemikiran-pemikiran para
pembaru Islam seperti Ibn Taimiyah, Muhammad bin Abdil Wahhab, Jamaluddin
Al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha.4
5. Al- Irsyad Al- Islamiyyah

Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah (Jam’iyat al-Islah wal Irsyad al-
Islamiyyah) berdiri pada 15 Syawwal 1332 H/6 September 1914.Tokoh sentral
pendirian Al-Irsyad adalah Al-’Alamah Syekh Ahmad Surkati Al-Anshori, seorang
ulama besar Mekkah yang berasal dari Sudan.Al-Irsyad Al-Islamiyyah bertujuan
memurnikan tauhid, ibadah dan amaliyah Islam. Bergerak di bidang pendidikan
dan dakwah. Tiga tokoh utama organisasi ini: Ahmad Surkati, Ahmad Dahlan, dan
Ahmad Hasan. Menurut organisasi Al Irsyad ini pembaharuan Islam yang di
lakukan seperti:

a. Pembacaan talqin pada mayat yang telah dikubur merupakan perbuatan yang
tidak memiliki dasar dalam al-Quran maupun Hadis serta tidak pernah
ditunjukkan oleh para sahabat.

b. Dalam pembacaan kisah Nabi Muhammad atau albarzanji merupakan
perbuatan bid’ah.

c. Tradisi Tahlil pada orang yang sedang mendapatkan musibah (kematian)
adalah perbuatan bid’ah karena membabani keluarga yang di tinggalkan
sedang mendapat musibah.5

6. Persatuan Islam
Persis didirikan pada 12 September 1923 di Bandung oleh sekelompok Islam

yang berminat dalam pendidikan dan aktivitas keagamaan yang dipimpin oleh Haji
Zamzam dan Haji Muhammad Yunus. Persis didirikan dengan tujuan untuk
memberikan pemahaman Islam yang sesuai dengan aslinya yang dibawa oleh
Rasulullah Saw dan memberikan pandangan berbeda dari pemahaman Islam
tradisional yang dianggap sudah tidak orisinil karena bercampur dengan budaya

4 Moh. Sulaiman, Sejarah Kebudayaan Islam, ( Jakarta: Direktorat KSKK Madrasah, 2020), hal 136

5 Kastolani, Ph.D, ISLAM DAN MODERNITAS: Sejarah Gerakan Pembaharuan Islam di Indonesia (DIY:
TRUSSMEDIA GRAFIK, 2019)

lokal, sikap taklid buta, sikap tidak kritis, dan tidak mau menggali Islam lebih
dalam dengan membuka Kitab-kitab Hadis yang shahih.
7. Nahdatul Ulama

Nahdatul ulama Organisasi ini berdiri pada 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926
dan bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan ekonomi. Nahdatul
ulama mengikuti ajaran Ahlussunah Wal Jama’ah, dimana dalam cara berpikirnya
ditengah antara ekstrim aqli dengan ekstrim naqli. NU tampil sebagai organisasi
yang moderat dan mampu menerima tradisi tradisi lokal dan beradaptasi dengan
perubahan jaman. NU juga memiliki prinsip tawasut (moderat), tasamuh (toleran)
serta tawazun (proporsional) dalam menyikapi berbagai persoalan, baik sosial,
politik maupun keagamaan.
8. Majelis Islam A’la Indonesia (1937 M)

Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) merupakan wadah bagi ormas-ormas
Islam di Indonesia pada zaman sebelum kemerdekaan. MIAI didirikan pada Selasa
Wage, 15 Rajab 1356 atau 21 September 1937 atas prakarsa KH. Hasyim Asy’ari.
Pada awalnya MIAI hanya menjadi koordinator (mediator) untuk berbagai
kegiatan, kemudian dikembangkan sebagai wadah untuk mempersatukan para
umat Islam tanah air untuk menghadapi politik Belanda yang memecah belah para
ulama dan partai Islam. Pada periode 1939-1945 para ulama bergabung bersama
dalam satu majelis. Namun pada tahun 1943 organisasi ini telah di bubarkan.

D. Analisis

Pengertian Pembaharuan

Pembaharuan ini memiliki arti tersendiri yaitu perubahan. Awal mula
pembaharuan ini dimulai sejak tahun 1800M sampe sekarang. Permbaharuan ini terjadi
karena adanya kesadaran umat islam akan lemahnya kemajuan dalam berbagai bidang
ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Hal ini di buktikan dengan banyaknya tokoh- tokoh
islam yang berhasil menemukan ilmu pengetahuan seperti ilmu kedokteran yang
ditemukan oleh Ibnu Sina, kemudian konsep al-jabar, algoritma dan bilangan nol yang
dipelopori oleh Al-Khawarizmi, Fatima al Fihri sebagai pendiri universitas di dunia dan
masih banyak lagi.

Latar Belakang Pembaharuan Islam

Dalam hal ini negara Indonesia merasa tertinggal jauh dengan dengan negara –
negara luar karena hal tersebut munculah jalur ide-ide pembaharuan Islam dari luar ke
Indonesia. Jalur pertama dalam ide pembaharuan islam ini yaitu melalui jalur haji dan
mukim. Banyaknya orang Indonesia yang melakukan haji menjadikan mereka
bermukim di negara luar. Hal ini menjadikan orang Indonesia berinteraksi dan bertukar
pikiran dengan orang-orang luar tersebut yang memunculkan ide-ide pembaharuan
islam di Indonesia. Selain itu dapat juga melalui jalur publikasi dimana semua orang
dapat membaca tentang ide-ide pembaharuan dari luar melalui majalah atau media
lainya. Dan yang terakhir yaitu dapat menggunakan jalur mahasiswa. Hal ini dapat
terjadi karena adanya pertukaran pelajar dan mahasiswa ke luar.

Organisasi-organisasi pembaharuan islam
Pembaharuan islam di Indonesia dimulai dengan pendidikan yang muncul

melalui oranisasi-organisasi islam. Seperti halnya pendidikan dan organisaasi di
Indonesia ini mengikuti perkembangan zaman.

E. Kesimpulan
Istilah “pembaruan” secara etimologis berasal dari kata baru yang artinya belum

pernah ada (dilihat) sebelumnya. Mendapat tambahan awalan “pe” dan akhiran “an”
menjadi kata baku “pembaruan” yang artinya proses, cara, dan perbuatan membarui.
Dalam tradisi khajanah intelektual Islam, istilah pembaruan (dalam konteks ini,
pembaruan Islam) dianggap sebagai terjemahan dari kata Arab tajdid, dan juga
modernism dalam terminologi Barat.

Pada awal abad ke-20, ide-ide pembaharuan terlihat telah turut mewarnai arus
pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Memilik latar belakang kehidupan sebagian
tokoh-tokohnya, sangat mungkin diasumsikan bahwa perkembangan baru Islam di
Indonesia sedikit banyak dipengaruhi oleh ide-ide yang berasal dari luar Indonesia. Ada
beberapa jalur masuknya Ide-ide dari luar ke Indonesia diantaranya yaitu jalur haji dan
mukim, jalur publikasi, dan peran mahasiswa yang pernah sempat menimba ilmu di
timur tengah.

Organisasi Islam di Indonesia adalah organisasi Islam di Indonesia yang
bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan ekonomi. Berikut ini adalah
organisasi-organisasi Islam yang dibentuk pada masa sebelum kemerdekaan
diantaranya yaitu sebagai berkut :

1. Jam’iyatul Khair
2. Syarekat Islam
3. Persatuan Umat Islam
4. Muhammadiyah
5. Al- Irsyad Al- Islamiyah
6. Persatuan islam
7. Nahdatul Ulama
8. Majelis Islam A’ala Indonesia

DAFTAR PUSTAKA

Kastolani, & d, P. (2019). ISLAM DAN MODERNITAS: Sejarah Gerakan Pembaharuan
Islam di Indonesia. Yogyakarta: Tussmedia Grafil.

Nasution . (n.d.). Pembaruan dalam Islam.
Nasution, H. (2001). Pembaruan dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 2001). Jakarta: Bulan

Bintang.
Sugiono. (2015). Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Kementrian Agama Republik

Indonesia, 2015), hal 90. Jakarta: Kementrian Agama Repblupik Indonesia.
Sulaiman, M. (2010). Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Direktorat KSKK Madrasah.


Click to View FlipBook Version