STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) menghadapi bencana BUKU PEDOMAN KEBAKARAN kelompok 3 Kelas C Full E-Book
I KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan berkat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan modul yang berjudul “Standart Operasional Prosedur Menghadapi Bencana Kebakaran” tepat pada waktunya. Kami tentu menyadari bahwa modul ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan di dalamnya. Untuk itu, kami mengharapkan kritik juga saran kami membangun dari pembaca modul ini, agar dalam penyusunan makalah selanjutnya dapat menjadi modul yang lebih baik lagi. Demikian, apabila terdapat banyak kesalahan pada modul ini kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Demikian, semoga modul ini dapat bermanfaat. Terima kasih. Penulis Gorontalo, 17 November 2023
II Penyusun : 1. Abdul Rahman Ahmad 841420071 2. Mirza Setiyawan Ino 841420087 3. Sinta Is. Gagulu 841420118 4. Vika Duma 841420127 5. Indri Hapsa Pakaya 841420169 6. Marshanda Raina Pramono 841420141 7. Sitti Mutia Hasanah Abdullah 841420112 8. Siti Muzdhalifah Abdullah 841420130 9. Ismivanti Mahmud 841420133 10. Devita Anggraini Lukmana 841420167 11. Yunita Angriani Koday 841420125 12. Karmila Maarusa 841420122 13. Mersilan Juna 841420047 14. Saleha Yulia Abdi 841420135 15. Putri Magfira Yusuf 841420168
III DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ............................................................................................................... I DAFTAR ISI............................................................................................................................III BAB I.........................................................................................................................................4 PANDUAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN............................................................4 A. Latar Belakang..............................................................................................................4 B. Maksud dan Tujuan .....................................................................................................4 C. Mitigasi dan Evakuasi Kebakaran..............................................................................5 D. Standar Operasional Prosedur (SOP) Penanganan Bencana Kebakaran.............12 1. Standar Operasional Prosedur (SOP) Alur Komunikasi............................................12 2. Standar Operasional Prosedur SOP Alur Penanggulangan Kebakaran, Prosedur Penyelamatan Diri dan Evakuasi, dan Penyelamatan Dokumen......................................14 E. Unit Penanggulangan Kebakaran .............................................................................17 F. Penerapan Metode Pemulihan Trauma (Trauma Healing) Terhadap Korban Kebakaran ..............................................................................................................................19 DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................25
4 BAB I PANDUAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN A. Latar Belakang Kebakaran adalah salah satu risiko utama di berbagai jenis industri dan tempat kerja. Dampak dari kebakaran tidak hanya dapat merugikan dari segi material, tetapi juga dapat membahayakan nyawa manusia, merusak fasilitas, dan mempengaruhi produktivitas. Dalam berbagai industri dan tempat kerja, kebakaran tidak hanya menimbulkan kerugian material, tetapi juga dapat membahayakan nyawa pekerja dan merusak fasilitas. Dengan demikian, pengembangan SOP kebakaran menjadi suatu kebutuhan mendesak untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman. Keselamatan pekerja menjadi prioritas utama, dan modul ini membantu dalam identifikasi risiko, perencanaan pencegahan, pelatihan pekerja, pemeliharaan peralatan pemadam kebakaran, serta menetapkan prosedur tindakan darurat. Selain itu, adanya SOP kebakaran juga diarahkan untuk memenuhi kewajiban hukum terkait keselamatan dan kesehatan kerja, serta melibatkan tanggung jawab sosial perusahaan dalam melindungi kesejahteraan pekerja, masyarakat, dan lingkungan sekitar. Dengan adanya SOP kebakaran, diharapkan organisasi dapat meningkatkan kesiapan dan respons terhadap keadaan darurat kebakaran, melindungi aset, dan menjaga keberlanjutan operasional secara efektif. Gambar 1. Kebakaran di Rumah Sakit B. Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan dari pembuatan Standar Operasional Prosedur (SOP) kebakaran adalah untuk mengidentifikasi, mengelola, dan mengurangi risiko kebakaran di lingkungan kerja. SOP kebakaran dirancang untuk menciptakan suatu kerangka kerja yang terstruktur dan terkoordinasi dalam pencegahan, pengendalian, dan respons terhadap keadaan darurat kebakaran. Melalui SOP ini, organisasi dapat memprioritaskan keselamatan pekerja dengan
5 memberikan pedoman yang jelas terkait identifikasi risiko, perencanaan pencegahan, dan pelatihan pekerja dalam menghadapi potensi risiko kebakaran. Adapun tujuan SOP kebakaran mencakup aspek-aspek kunci. Pertama, SOP bertujuan untuk memastikan keselamatan pekerja dengan menyediakan langkah-langkah preventif yang terinci, seperti pemeliharaan peralatan pemadam kebakaran dan pelatihan evakuasi. Kedua, SOP memiliki tujuan untuk melindungi aset dan fasilitas organisasi dengan memberikan prosedur penggunaan peralatan pemadam kebakaran dan tindakan respons yang cepat dan efektif. Ketiga, SOP kebakaran diarahkan untuk memenuhi kewajiban hukum terkait keselamatan dan kesehatan kerja, sehingga organisasi dapat mematuhi regulasi yang berlaku. Selain itu, SOP kebakaran bertujuan untuk meningkatkan kesiapan dan respons terhadap situasi darurat. Dengan menyediakan panduan yang terinci, organisasi dapat merespons kebakaran dengan lebih efektif, meminimalkan potensi kerugian, dan melindungi kesejahteraan pekerja. Terakhir, SOP kebakaran berperan dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan berkelanjutan, mencerminkan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap pekerja, masyarakat, dan lingkungan sekitar. Dengan demikian, SOP kebakaran menjadi instrumen yang integral dalam mencapai keselamatan dan kesehatan kerja yang optimal di berbagai tempat kerja. Gambar 2. Siimulasi Evakuasi Bencana Kebakaran C. Mitigasi dan Evakuasi Kebakaran 1. Tindakan Mitigasi Pra Bencana Kebakaran • Mengadakan Penyuluhan dan Pelatihan a. Menyelenggarakan program penyuluhan dan pelatihan berkala tentang tindakan pencegahan kebakaran, penggunaan peralatan pemadam kebakaran, dan evakuasi darurat kepada seluruh anggota organisasi.
6 b. Melibatkan tim penanggulangan kebakaran dalam pelatihan reguler untuk meningkatkan keterampilan dan kesadaran mereka. • Pemeriksaan dan Pemeliharaan Peralatan Pemadam Kebakaran a. Melakukan pemeriksaan rutin dan pemeliharaan berkala terhadap semua peralatan pemadam kebakaran, termasuk sprinkler, alat pemadam api ringan (APAR), hydrant, dan sistem pendeteksi asap. b. Memastikan bahwa peralatan pemadam kebakaran berada dalam kondisi baik dan siap digunakan setiap saat. • Penetapan Jalur Evakuasi dan Tempat Berkumpul a. Menetapkan dan memasang tanda-tanda evakuasi yang jelas serta memastikan semua anggota organisasi mengetahui jalur evakuasi yang aman. b. Menetapkan tempat berkumpul setelah evakuasi untuk memastikan seluruh anggota dapat dihitung dan diberikan informasi lebih lanjut. • Penataan Ruang dan Desain Bangunan a. Mengatur ruang kerja dengan memastikan keluar-masuk yang jelas dan bebas dari barang-barang yang dapat memicu kebakaran. b. Mengintegrasikan desain bangunan yang mempertimbangkan standar keamanan kebakaran, seperti pemasangan sprinkler dan sistem alarm. Gambar 3. Fire Alarm System
7 Gambar 4. Cara Kerja Fire Alarm System • Pengelolaan Bahan Kimia dan Material Berbahaya a. Menyimpan bahan kimia dan material berbahaya sesuai dengan prosedur yang aman dan memastikan ketersediaan alat pemadam khusus untuk jenis bahan tertentu. b. Memberikan pelatihan khusus bagi pekerja yang berurusan dengan bahan berbahaya. • Penggunaan Peralatan Elektrik yang Aman a. Memastikan pemeliharaan dan instalasi listrik dilakukan sesuai standar untuk mencegah korsleting dan konservasi daya. b. Melarang penggunaan peralatan elektrik yang tidak aman atau merusak. • Audit Kesiapan Keamanan a. Melakukan audit rutin terhadap kesiapan keamanan organisasi terhadap kebakaran. b. Menilai dan mengidentifikasi potensi risiko kebakaran baru dan mengambil langkah-langkah untuk menguranginya. 2. Tindakan Saat Terjadi Bencana Kebakaran Tindakan saat terjadi bencana kebakaran secara menyeluruh : • Aktifasi Sistem Peringatan a. Aktifkan sistem peringatan kebakaran dan panggilan darurat untuk memberi tahu seluruh staf, pasien, dan pengunjung mengenai situasi darurat.
8 b. Informasikan kepada pihak-pihak terkait, seperti pemadam kebakaran dan otoritas penanggulangan bencana setempat. • Evakuasi Aman Pasien a. Secara cepat dan teratur evakuasi pasien sesuai dengan rencana evakuasi yang telah ditetapkan. b. Prioritaskan pasien dengan keterbatasan mobilitas atau yang memerlukan perawatan intensif. • Penggunaan Peralatan Pemadam Kebakaran a. Pahami penggunaan peralatan pemadam kebakaran dan bantuan evakuasi. b. Jika memungkinkan, coba untuk memadamkan api menggunakan alat pemadam yang sesuai tanpa membahayakan diri. • Komunikasi Efektif a. Jalin komunikasi yang efektif antara staf perawatan dan pihak-pihak terkait untuk memastikan informasi yang akurat dan terkini. b. Gunakan alat komunikasi yang tersedia untuk berkoordinasi dengan staf lainnya. • Perawatan Medis Darurat a. Berikan perawatan medis darurat kepada pasien yang memerlukan pertolongan langsung. b. Identifikasi dan tindaklanjuti terhadap pasien dengan luka bakar atau masalah pernapasan akibat paparan asap. • Pengaturan Tempat Evakuasi Medis a. Arahkan pasien yang dievakuasi ke tempat evakuasi medis yang telah ditetapkan. b. Koordinasikan dengan petugas kesehatan di tempat evakuasi untuk memberikan perawatan lanjutan. • Pemantauan Kesehatan a. Pemantauan kesehatan terhadap pasien yang dievakuasi untuk mendeteksi dini dampak kesehatan akibat kebakaran. b. Berikan perhatian khusus pada kelompok rentan, seperti anak-anak dan lansia. • Peringatan Kembali dan Evaluasi
9 a. Setelah evakuasi, lakukan peringatan kembali dan evaluasi terhadap pasien untuk memastikan bahwa semua telah dievakuasi dan menerima perawatan yang diperlukan. b. Pertimbangkan untuk memberikan dukungan psikologis kepada pasien dan staf yang mungkin terpengaruh secara emosional oleh kejadian. • Pelaporan dan Dokumentasi a. Laporkan kejadian kebakaran kepada otoritas terkait sesuai dengan protokol yang berlaku. b. Dokumentasikan semua tindakan yang diambil, evaluasi kondisi pasien, dan tindakan perawatan yang diberikan. Tindakan saat terjadi bencana kebakaran saat ada di dalam gedung : a. Aktifkan sistem peringatan kebakaran di dalam gedung dan segera panggil bantuan darurat. b. Peringatkan seluruh staf dan pasien menggunakan alarm atau pengumuman darurat. c. Mulai evakuasi pasien dengan segera sesuai dengan rencana evakuasi yang telah ditetapkan. d. Pastikan evakuasi berlangsung dengan tertib, memberi prioritas kepada pasien yang membutuhkan perawatan khusus dan orang-orang dengan mobilitas terbatas. e. Jika aman, gunakan alat pemadam kebakaran yang sesuai untuk memadamkan api atau membantu evakuasi. f. Berikan pelatihan pada staf mengenai penggunaan peralatan pemadam kebakaran dan alat evakuasi. g. Tetapkan dan tandai jalur evakuasi yang aman dengan tanda-tanda yang mudah dikenali. h. Berikan arahan dan bimbingan selama evakuasi untuk memastikan perjalanan yang aman. i. Lakukan evakuasi pasien kritis dengan peralatan dan perawatan yang diperlukan. j. Koordinasikan dengan petugas medis untuk memastikan pasien mendapatkan perawatan lanjutan setelah evakuasi Tindakan saat terjadi bencana kebakaran saat berada diluar gedung :
10 a. Pindahkan pasien ke lokasi yang lebih aman di luar gedung, menjauh dari sumber api dan asap. b. Hindari lokasi yang berisiko tinggi, seperti area yang rawan runtuhan atau daerah yang dapat terkena dampak lainnya. c. Berikan pertolongan pertama kepada pasien yang membutuhkan di tempat evakuasi sementara. d. Identifikasi pasien dengan luka bakar atau masalah pernapasan akibat asap dan berikan perawatan segera. e. Segera hubungi layanan pemadam kebakaran dan otoritas penanggulangan bencana setempat untuk bantuan tambahan. f. Laporkan jumlah pasien dan kebutuhan medis khusus kepada petugas layanan darurat. g. Siapkan evakuasi pasien yang memerlukan perawatan lanjutan ke fasilitas kesehatan lain yang aman. h. Koordinasikan dengan tim medis darurat untuk memastikan kelancaran evakuasi. i. Sampaikan informasi terkini kepada pasien, staf, dan pihak terkait mengenai situasi evakuasi dan tindakan selanjutnya. j. Jalin komunikasi dengan pihak eksternal untuk koordinasi yang lebih baik. 3. Tindakan setelah terjadi bencana (Pasca bencana) Kebakaran Tindakan saat berada di dalam gedung • Evaluasi Kerusakan a. Lakukan evaluasi menyeluruh terhadap kerusakan di dalam gedung dan fasilitas kesehatan. b. Identifikasi area yang aman dan area yang memerlukan perbaikan atau renovasi. Gambar 5. Mengidentifikasi Area Aman
11 • Peninjauan Kembali Evakuasi a. Tinjau kembali dan evaluasi efektivitas rencana evakuasi yang diterapkan selama bencana kebakaran. b. Identifikasi pelajaran yang dapat dipetik untuk perbaikan dan peningkatan ke depannya. • Pemulihan Layanan Kesehatan a. Kembalikan layanan kesehatan esensial sesuai dengan kemampuan dan keamanan fasilitas yang tersedia. b. Koordinasikan dengan tim medis untuk memulai perawatan dan rehabilitasi pasien. • Dukungan Psikososial a. Sediakan dukungan psikososial kepada pasien, staf, dan keluarga yang terdampak. b. Koordinasikan dengan ahli kesehatan mental untuk memberikan konseling dan dukungan emosional yang diperlukan. • Pemulihan Infrastruktur a. Koordinasikan upaya pemulihan infrastruktur dengan pihak-pihak terkait untuk memastikan perbaikan yang cepat dan aman. b. Prioritaskan perbaikan pada area yang kritis untuk operasional fasilitas kesehatan. Tindakan saat berada diluar gedung : • Evakuasi Pasien ke Fasilitas Kesehatan Lain a. Perhatikan pasien yang telah dievakuasi ke lokasi yang aman di luar gedung. b. Koordinasikan evakuasi pasien yang memerlukan perawatan lanjutan ke fasilitas kesehatan lain yang tersedia. • Pendataan Pasien dan Peralatan Medis a. Lakukan pendataan pasien yang dievakuasi, termasuk kondisi kesehatan dan pengobatan yang telah diberikan. b. Identifikasi dan catat keadaan peralatan medis yang mungkin perlu penggantian atau perbaikan. • Layanan Kesehatan Darurat
12 a. Terus memberikan layanan kesehatan darurat kepada pasien yang membutuhkan, baik di lokasi evakuasi maupun di fasilitas kesehatan sementara. b. Koordinasikan dengan tim medis dan penyedia layanan darurat lainnya. • Komunikasi dan Informasi a. Sampaikan informasi terkini kepada pasien, staf, dan keluarga mengenai pemulihan pasca bencana. b. Buat saluran komunikasi untuk memberikan informasi dan menjawab pertanyaan dari semua pihak terkait. • Pemulihan Fasilitas Kesehatan a. Bersama dengan pihak terkait, lakukan perbaikan dan pemulihan fasilitas kesehatan sesuai dengan kebutuhan dan prioritas. b. Koordinasikan dengan otoritas setempat untuk memastikan pemulihan yang efektif dan aman. D. Standar Operasional Prosedur (SOP) Penanganan Bencana Kebakaran 1. Standar Operasional Prosedur (SOP) Alur Komunikasi a. Pada saat terjadi bencana kebakaran orang yang pertama (karyawan rumah sakit, pasien atau pengunjung melaporkan kejadian kepada Area Commander atau penanggung jawab ruangan secara langsung atau melalui telepon di ext: 7777). b. Area commander lantai (kepala ruangan atau peraw (kepala ruangan atau perawat) segera bunyikan alarm terdekat, telpon IGD ext. 7777 atau menggunakan Handy Talky (HT) menyebutkan code red 3 kali (code red, code red, code red) telah terjadi kebakaran di (lantai, ruang, kamar dan dari (sebutkan nama pelapor) mohon bantuannya segera). c. Ambil helm komando d. Ambil helm komando di dalam safety box sesuai i dalam safety box sesuai dengan fungsi dan tugas dengan fungsi dan tugas masing-masing. e. Helm Merah Helm Merah Komando Kebakaran Komando Kebakaran / Pemadaman / Pemadaman Api. f. Helm Biru Helm Biru Area Command Area Commander / komunikas er / komunikasi keselamatan. i keselamatan.
13 g. Helm Kuning Komando Komando Evakuasi. Evakuasi. h. Helm Putih Komando Penyelamat Dokumen / barang berharga rumah sakit. i. Segera matikan breaker listrik dan Komando Kebakaran (Helm Merah) memadamkan api menggunakan APAR dan Hydrant dibantu sekuriti. Gambar 6. APAR Gambar 7. Hydrant j. Apabila api dapat dipadamkan selanjutnya dilakukan pembersihan dan kesiap siagaan di area. k. Apabila api tidak dapat dipadamkan Area Commander menugaskan operator untuk memberitahukan kejadian kepada Incident Commander (Paging). l. Area commander di lantai tempat kejadian menghubungi Koordinator Kewaspadaan Bencana dan Tim K3RS serta serta tim terkait yang bertugas pada saat kejadian, Tim K3RS membantu memadamkan api menggunakan hydrant.
14 m. Koordinator kewaspadaan Koordinator kewaspadaan bencana menghubungi : - Tim K3RS . - Ketua Tim Maintanance. - Ketua Tim Keamanan / Sekuriti. - Ketua Tim Medis / Dokter Jaga. - Ketua Tim Fire / K3RS. n. Koordinator Koordinator Kewaspadaan Kewaspadaan Bencana Bencana memonitoring memonitoring kejadian, kejadian, bila dianggap perlu meminta bantuan atau menghubungi pihak luar di ext: - Pemadam Kebakaran Kota Pekanbaru (0761.22 Pemadam Kebakaran Kota Pekanbaru (0761.223.82) dan 3.82) dan 0761 20113 0761 20113 - Poltabes Pekanbaru (076 Poltabes Pekanbaru (0761.337.67) 1.337.67) o. Koordinator Kewaspadaan Bencana melaporkan kondisi api ke Incident Commander. p. Incident Commander mengi Incident Commander menginformasikan untuk nformasikan untuk evakuasi atau sit evakuasi atau situasi telah uasi telah aman. 2. Standar Operasional Prosedur SOP Alur Penanggulangan Kebakaran, Prosedur Penyelamatan Diri dan Evakuasi, dan Penyelamatan Dokumen Alur Penanggulangan Kebakaran : a. Jika melihat Titik Api atau Asap b. Melakukan Penilaian Cepat / Quick Assesment c. Melakukan Tindakan Pemadaman Internal dengan Alat Pemadam Api Ringan dan alat pemadam lain yang direkomendasikan seperti Goni, Selimut yang dibasahi. d. Membunyikan Alarm tanda terjadi Kebakaran e. Mengevakuasi Seluruh Warga/Pekerja/Karyawan f. Mematikan aliran Listrik g. Menelpun Pemadam Kebakaran untuk Bantuan dan Penanganan lebih lanjut h. Melakukan Penyelamatan Penanganan Korban i. Melakukan Pendataan Warga/Pekerja/Karyawan j. Melakukan Pendataan Korban, Kerusakan dan Kerugian
15 k. Memberikan informasi kepada semua warga/Karyawan/Pekerja atas peristiwa kebakaran yang terjadi dan tindaklanjutnya. Prosedur Penyelamatan Diri dan Evakuasi : Jika mendengar alarm tanda kebakaran semua orang harus melakukan hal-hal sebagai berikut a. Jangan panik b. Memakai masker atau menutup alat pernapasan dengan kain atau sapu tangan ( escape hood ) c. Selamatkan diri dengan berjalan cepat dan bukan berlari. Tidak boleh saling mendahului. d. Jangan membawa barang-barang atau memakai barang-barang yang akan menyulitkan proses evakuasi. e. Dahulukan kelompok rentan ( Ibu Hamil, Balita, Orang Tua, Kelompok Disabilitas ) f. Jika perlu membuka pintu pastikan tidak ada api dibalik pintu dengan merasakan panas dengan meraba daun pintu. g. Berjalan mengikuti jalur evakuasi yang telah ditetapkan h. Menuruni tangga dengan berjajar sesuai dengan kapasitas tangga. i. Jika terpapar asap bernapaslah dengan pendekpendek melalui hidung dan bergerak dengan cara merangkak dan jika harus menerobos asap, lakukan dengan menahan napas. j. Menuju titik kumpul yang telah ditetapkan. Penyelamatan Dokumen : a. Selamatkan dokumen berdasarkan yang paling penting ( In Order of Importance ) b. Membawa dokumen sesuai dengan kemampuan yang bisa dibawa. c. Berjalan dengan cepat dan bukan berlari sesuai dengan arah jalur evakuasi. d. Kumpulkan dokumen yang bisa diselamatkan pada tempat yang aman dari ancaman utama (api ) dan ancaman yang lain, seperti angin, air, orang, kotoran dll.
16 SKEMA SOP PENANGGULANGAN KEBAKARAN TITIK API/ASAP PENILAIAN CEPAT TINDAKAN PEMADAMAN INTERNAL (SECURITY/PETUGAS K3/PETUGAS TERDEKAT) API BERHASIL DIPADAMKAN API TIDAK BERHASIL DIPADAMKAN TELFON PEMADAM KEBAKARAN/BPBD/ POLISI API TERPADAMKAN MENYEMBUNYIKAN ALARAM EVAKUASI KE TITIK KUMPUL PENDATAAN, ASSESMENT KORBAN, KERUSAKAN, KERUGIAN KONDISI AMAN/AKTIVITAS BERLANJUT/AKTIVITAS BERHENTI
17 E. Unit Penanggulangan Kebakaran • Penanggung Jawab Penanggulangan Bencana Gambar 8. Helm Merah 1. Sebagai coordinator penanggulangan kebakaran di setiap lantai bangunan 2. Memimpin penanggulangan kebakaran sebelum mendapat bantuan dari instansi yang berwenang 3. Menyusun program kerja dan kegiatan tentang cara penanggulangan kebakaran. 4. Mengusulkan anggaran, sarana dan fasilitas penanggulangan kebakaran. • Petugas Penanggung Jawab Pasien
18 Gambar 9. Helm Biru 1. Mengidentifikasi dan melaporkan tentang adanya faktor yang dapat menimbulkan adanya kebakaran. 2. Melakukan pemeliharaan sarana proteksi kebakaran. 3. Memberikan penyuluhan tentang penanggulangan kebakaran pada tahap awal. 4. Membantu menyusun buku rencana tanggap darurat penanggulangan kebakaran. 5. Memadamkan kebakaran. 6. Mengarahkan evakuasi orang 7. Mengadakan koordinasi dengan instansi terkait. 8. Memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan. 9. Mengamankan seluruh lokasi tempat kerja. 10.Melakukan koordinasi seluruh petugas peran kebakaran. • Petugas Penanggung Jawab Dokumen Penting Gambar 10. Helm Putih 1. Mengidentifikasi dan melaporkan tentang adanya faktor yang dapat menibmulkan bahaya kebakaran pada berkas dan dokumen
19 2. Memadamkan kebakaran pada tahap awal 3. Mengarahkan evakuasi berkas dan dokumen 4. Mengadakan koordinasi dengan pihak terkait 5. Mengamankan lokasi kebakaran 6. Melakukan penanggulangan pada lantai 1-3 bangunan • Petugas Penanggung Jawab Peralatan Penting Gambar 11. Helm Kuning 1. Mengidentifikasi dan melaporkan tentang adanya faktor yang dapat menibmulkan bahaya kebakaran pada peralatan penting 2. Memadamkan kebakaran pada tahap awal 3. Mengarahkan evakuasi peralatan penting 4. Mengadakan koordinasi dengan pihak terkait 5. Mengamankan lokasi kebakaran 6. Melakukan penanggulangan pada lantai 1-3 bangunan F. Penerapan Metode Pemulihan Trauma (Trauma Healing) Terhadap Korban Kebakaran Trauma adalah kondisi yang terjadi ketika seseorang mengalami pengalaman yang mengancam atau melukai kesejahteraan fisik dan emosionalnya. Trauma dapat bersifat fisik, seperti cedera atau luka bakar, atau bersifat psikologis, seperti kehilangan orang yang dicintai atau mengalami kejadian traumatis. Dampak kebakaran tidak hanya terbatas pada kerusakan fisik yang terlihat. Dalam banyak kasus, korban kebakaran mengalami
20 trauma psikologis yang mendalam akibat kehilangan properti, orang yang dicintai, atau bahkan kehilangan nyawa. Ketidakpastian selama kejadian kebakaran, proses evakuasi, dan upaya pemulihan juga dapat menciptakan rasa takut dan kecemasan yang berkepanjangan. Salah satu dampak paling nyata dari kebakaran adalah cedera fisik yang dialami oleh korban. Luka bakar menjadi cedera paling umum, dan tingkat keparahannya dapat bervariasi tergantung pada seberapa besar korban terpapar api dan panasnya. Selain luka bakar, asap yang dihirup selama kebakaran dapat menyebabkan masalah pernapasan dan cedera paru-paru. Trauma fisik ini tidak hanya membutuhkan perawatan medis segera, tetapi juga pemulihan yang berkelanjutan dan dukungan kesehatan jangka panjang. Kebakaran sering kali menyebabkan kerugian properti yang signifikan, termasuk kehancuran rumah, harta benda, dan barang berharga lainnya. Kehilangan ini tidak hanya bersifat materi, tetapi juga memiliki dampak psikologis yang mendalam. Kehilangan tempat tinggal dan harta benda berharga dapat menciptakan rasa kehilangan dan kesulitan untuk beradaptasi dengan perubahan kondisi hidup. Dalam banyak kasus, korban kebakaran mengalami trauma psikologis yang disebabkan oleh kehilangan ini. Perasaan sedih, kebingungan, dan kekhawatiran tentang masa depan dapat menghantui korban dalam jangka waktu yang lama. Dalam mengatasi dampak psikologis ini, penting untuk memberikan dukungan emosional dan konseling kepada korban kebakaran. Dampak kebakaran bukan hanya terbatas pada kerugian fisik yang terlihat, tetapi juga mencakup dampak yang mendalam pada kesehatan mental dan emosional korban. Pengertian trauma dalam konteks kebakaran mencakup pengalaman fisik dan psikologis yang melibatkan perasaan kehilangan, ketidakpastian, dan stres yang berkepanjangan. Penting untuk memberikan perhatian khusus pada pemulihan korban, tidak hanya dari segi fisik tetapi juga dalam mendukung kesehatan mental dan emosional mereka. Dukungan dari tenaga kesehatan, konselor, dan komunitas adalah kunci dalam membantu korban kebakaran melewati proses pemulihan yang panjang dan kompleks. 1. Trauma Healing Oleh Tenaha Kesehatan Keperawatan Pentingnya peran tenaga kesehatan, khususnya perawat, dalam mendukung pemulihan trauma korban kebakaran tidak dapat diabaikan. Perawat berperan sebagai garda terdepan dalam memberikan perawatan dan dukungan kepada korban kebakaran. Mereka tidak hanya berfokus pada perawatan medis fisik, tetapi
21 juga memahami bahwa aspek psikologis dan emosional memiliki peran penting dalam pemulihan. Perawat berada di posisi yang unik untuk membentuk hubungan percaya dengan korban, membantu mereka mengatasi trauma, dan memberikan dukungan yang berkelanjutan selama proses pemulihan. Dalam merawat korban kebakaran, perawat menerapkan pendekatan holistik yang memperhatikan aspek fisik, psikologis, dan sosial dari trauma. Evaluasi komprehensif dilakukan untuk memahami dampak trauma pada korban, termasuk tingkat keparahan, sumber dukungan sosial, dan kebutuhan psikologis yang mungkin muncul. Dengan pendekatan ini, perawat dapat merancang rencana perawatan yang sesuai dengan kebutuhan individual korban. Keterampilan komunikasi yang efektif menjadi kunci dalam mendukung korban kebakaran. Perawat perlu mendengarkan dengan empati, memberikan ruang untuk korban mengungkapkan perasaan mereka, dan memberikan informasi dengan jelas. Komunikasi yang baik dapat membantu membangun kepercayaan dan rasa aman pada korban, yang merupakan langkah awal penting dalam proses pemulihan. Melibatkan korban dalam terapi pemulihan trauma merupakan bagian integral dari peran perawat. Terapi bicara, terapi seni, atau metode pemulihan trauma lainnya dapat digunakan untuk membantu korban mengatasi dan mengelola perasaan mereka terkait kebakaran. Perawat, sebagai bagian dari tim perawatan, dapat memberikan dukungan yang kontinu selama proses terapi, membantu korban menjalani proses penyembuhan dengan cara yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensi mereka. Memberikan edukasi tentang proses penyembuhan dan memberikan konseling tentang cara mengatasi stres pasca trauma adalah langkah-langkah yang tidak boleh diabaikan oleh perawat. Edukasi membantu korban memahami bahwa pemulihan memerlukan waktu dan usaha, sementara konseling memberikan ruang untuk korban berbicara tentang pengalaman mereka, kekhawatiran, dan tantangan yang mereka hadapi. Perawat dapat memberikan dukungan yang terarah dan informasi yang relevan untuk membantu korban mengelola reaksi emosional mereka. Dalam menjalankan perannya, perawat juga harus memperhatikan keberagaman dan keunikan setiap korban. Setiap individu memiliki pengalaman trauma yang berbeda, dan pendekatan perawatan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi masing-masing. Pemahaman mendalam tentang latar belakang budaya, nilai-nilai, dan pengalaman
22 hidup korban membantu perawat memberikan perawatan yang lebih terfokus dan efektif. Selain itu, kolaborasi dengan tim multidisiplin menjadi kunci dalam memberikan perawatan yang holistik. Kerja sama dengan psikolog, pekerja sosial, dan profesional kesehatan mental lainnya memastikan bahwa korban mendapatkan dukungan dari berbagai aspek kehidupan mereka. Tim ini bekerja bersama untuk menciptakan rencana perawatan yang menyeluruh dan sesuai dengan kebutuhan korban. 2. Trauma Healing Oleh Tenaga Kesehatan Masyarakat Dalam upaya pemulihan trauma korban kebakaran, peran tenaga kesehatan masyarakat (TKM) menjadi krusial dalam membentuk dukungan komunitas, menyosialisasikan program kesehatan mental, melibatkan warga dalam pelatihan psikososial, dan menerapkan pendekatan kelompok. Tindakan ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pemulihan secara holistik dan mengurangi stigma terhadap kesehatan mental di tingkat komunitas. TKM memiliki peran strategis dalam membentuk dukungan komunitas yang melibatkan warga setempat. Melalui program-program komunitas, seperti kelompok dukungan atau forum diskusi, warga dapat berbagi pengalaman mereka terkait trauma kebakaran. Dalam lingkungan yang mendukung, korban dapat merasa lebih termotivasi untuk berbicara tentang pengalaman mereka dan mencari dukungan dari sesama warga. Pembentukan komunitas yang peduli juga dapat membantu mengurangi isolasi sosial yang seringkali dialami oleh korban trauma. Sosialisasi program kesehatan mental di tingkat komunitas adalah langkah penting dalam mengatasi stigma dan meningkatkan pemahaman tentang trauma. TKM dapat mengadakan acara-acara penyuluhan, seminar, atau kampanye di lingkungan lokal untuk memperkenalkan konsep kesehatan mental, dampak trauma, dan cara mendukung pemulihan. Melalui pendekatan ini, masyarakat dapat menjadi lebih teredukasi, lebih peka terhadap kebutuhan kesehatan mental, dan lebih menerima terhadap individu yang mengalami trauma. Melibatkan warga dalam pelatihan psikososial merupakan langkah proaktif untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam memberikan dukungan emosional kepada korban kebakaran. Pelatihan ini dapat mencakup keterampilan pendengaran aktif, pemahaman tanda-tanda trauma, dan cara memberikan dukungan awal. TKM dapat berkolaborasi dengan ahli kesehatan
23 mental untuk menyelenggarakan pelatihan ini dan memastikan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk merespon kebutuhan korban. Menerapkan pendekatan kelompok dalam pemulihan trauma memberikan warga kesempatan untuk berbagi pengalaman dan strategi pemulihan. Kelompok dukungan bisa menjadi forum yang aman dan mendukung di mana korban kebakaran dapat merasa didengar dan dipahami. TKM dapat memfasilitasi sesi kelompok, membimbing diskusi, dan menyediakan informasi yang relevan. Pendekatan ini juga mempromosikan solidaritas di antara anggota kelompok, membantu mereka merasa bahwa mereka tidak sendirian dalam perjalanan pemulihan mereka. Pentingnya melibatkan masyarakat secara aktif dalam proses pemulihan tidak hanya membantu korban kebakaran mendapatkan dukungan yang diperlukan tetapi juga menciptakan fondasi untuk komunitas yang lebih tangguh secara keseluruhan. Masyarakat yang teredukasi tentang kesehatan mental dan mampu memberikan dukungan satu sama lain memiliki potensi untuk menjadi agen perubahan positif dalam mengatasi dampak traumatis kebakaran. 3. Trauma Healing Oleh Tenaga Dokter Tenaga dokter memiliki peran krusial dalam memberikan penanganan medis, manajemen nyeri, evaluasi kesehatan mental, rehabilitasi fisik, dan kolaborasi dengan tim kesehatan lainnya. Tindakan ini bertujuan untuk memberikan perawatan yang holistik dan komprehensif kepada korban kebakaran, mengatasi tidak hanya aspek fisik tetapi juga dampak kesehatan mental yang mungkin timbul akibat pengalaman traumatis. Dalam fase awal pemulihan trauma, dokter memainkan peran penting dalam memberikan penanganan medis yang tepat, terutama terkait cedera fisik seperti luka bakar. Tindakan medis awal ini membantu menghentikan kerusakan lebih lanjut pada tubuh korban dan menciptakan dasar yang stabil untuk proses pemulihan. Dokter juga bertanggung jawab dalam merencanakan dan melaksanakan tindakan medis yang komprehensif, seperti pembersihan luka, perawatan infeksi, dan prosedur medis lain yang mungkin diperlukan. Dokter memiliki peran penting dalam manajemen nyeri untuk membantu korban mengatasi rasa sakit fisik yang mungkin dialami akibat luka bakar atau cedera lainnya. Mereka meresepkan obat-obatan yang sesuai dan memberikan informasi tentang penggunaannya. Manajemen nyeri yang efektif tidak hanya membantu dalam aspek
24 fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kesejahteraan emosional korban, menciptakan lingkungan yang lebih kondusif untuk pemulihan. Dokter juga terlibat dalam evaluasi kesehatan mental korban kebakaran. Mereka memiliki tanggung jawab untuk mengidentifikasi gejala-gejala trauma dan masalah kesehatan mental lainnya yang mungkin timbul akibat pengalaman traumatis. Evaluasi ini melibatkan wawancara mendalam, observasi, dan pemeriksaan fisik yang mendukung. Jika ditemukan indikasi masalah kesehatan mental, dokter dapat merujuk korban ke spesialis kesehatan mental atau psikiater untuk perawatan lebih lanjut. Dalam pemulihan jangka panjang, dokter memiliki peran dalam merencanakan program rehabilitasi fisik untuk membantu korban mengembalikan fungsionalitas fisik mereka setelah mengalami cedera. Program ini dapat mencakup sesi fisioterapi, latihan terapeutik, dan intervensi lainnya yang bertujuan untuk meningkatkan kekuatan, mobilitas, dan kemandirian korban. Dengan perencanaan yang tepat, rehabilitasi fisik dapat memberikan dampak positif yang signifikan pada kualitas hidup korban. Dokter bekerja secara kolaboratif dengan tim kesehatan lainnya, termasuk perawat, terapis, dan konselor, untuk menyediakan pendekatan yang komprehensif dalam pemulihan trauma. Kolaborasi ini melibatkan pertukaran informasi, perencanaan perawatan terintegrasi, dan dukungan tim untuk memastikan bahwa setiap aspek kesehatan korban diperhatikan dengan baik. Melalui koordinasi yang baik, tim kesehatan dapat memberikan perawatan yang lebih efektif dan menyeluruh kepada korban. Pentingnya koordinasi antarprofesional ini juga tercermin dalam pertemuan tim kesehatan, di mana dokter, perawat, terapis, dan konselor bersama-sama merancang rencana perawatan yang sesuai dengan kebutuhan dan responsif terhadap perubahan kondisi korban. Komunikasi terbuka dan kolaborasi adalah kunci dalam memastikan bahwa setiap aspek perawatan dikoordinasikan dengan baik dan tidak ada aspek yang terlewat.
25 DAFTAR PUSTAKA Adriansyah, H. J. (2017). Sinergitas Kodim 0402/OKI dengan Pemda Ogan Komering Ilir Dalam Penanganan Darurat Bencana Kebakaran Lahan Gambut dan Kabut Asap di Wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir Pada Tahun 2015. Peperangan Asimetris (PA), 3(3). Aramiko, W., Afifuddin, M., & Munir, A. (2021). Evaluasi Sistem Proteksi Bahaya Kebakaran Pada Gedung Badan Penanggulangan Bencana Aceh. Teras Jurnal: Jurnal Teknik Sipil, 11(2), 339-350. Putra, O. B. T. (2014). Penerapan Rca (Root Cause Analysis) Dan Ansi Z16. 1 Untuk Menyusun Sop (Standard Operating Procedure) Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Badan Penanggulangan Bencana Daerah Divisi Pemadam Kebakaran Kab. Inhil (Doctoral Dissertation, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau). Sanjaya, M., & Ulfa, M. (2015). Evaluasi Sarana dan Prasarana Rumah Sakit dalam Menghadapi Bencana Kebakaran (Studi Kasus di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II). JMMR (Jurnal Medicoeticolegal dan Manajemen Rumah Sakit), 4(2). Talakua, E. L. (2021). Pemeriksaan Periodik Pada Rangkaian Instalasi Listrik Bangunan Untuk Mencegah Bencana Kebakaran Melalui Penambahan Prosedur Pada SOP Penerbitan SLO Dari PLN. JATI EMAS (Jurnal Aplikasi Teknik dan Pengabdian Masyarakat), 5(1), 35-40.