The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

majalah digital tentang kegiatan live in sanur 25 selamat membaca!

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Rara Andini, 2024-05-11 10:31:53

Majalah digital kelompok 5 - 83 - joanna/marsha/rara/vinny

majalah digital tentang kegiatan live in sanur 25 selamat membaca!

Keywords: live in sanur 25

desa ngargo mulyo live in sanur’25


redaksi Kami darikelompok 5 beranggotakan Joanna, Marsha,Rara dan Vinny. pada tanggal 18 sampai 23 maret kami pergi ke daerah Magelang Desa Ngargomulyo dalam rangka livein. Disini kami belajar banyak hal loh! banyak hal menarik yang ada di sana dan kali ini kami akan menceritakan pengalaman kami di majalahini semoga majalahini bisa bermanfaatuntukkalianjadi... staytune Marsha-83-25 Joanna-83-22 Rara-83-34 Vinny-83-36


kondisi geografis NGARGOMULYO, MAGELANG Desa ngargomulyo adalah desa yang terletak di daerah dataran tinggi, memiliki tanah yang cenderung subur karena sangat dekat dengan gunung merapi yang sangat aktif dan merupakan salah satu gunung yang paling aktif di dunia. Udara disana cukup dingin karena daerahnya memang lebih tinggi dari yang lain. Desa ini kebanyakan masih alam, masih natural dan banyak sekali pepohonan dan sungai yang cukup bersih, mereka juga memiliki pertanian/sawah,serta peternakan yang luas sehingga kebutuhan ekonomi mereka terpenuhi. Desa Ngargomulyo terletak di daerah dataran tinggi dan terletak di beberapa gunung sehingga cuaca disana dingin tetapi memiliki udara yang segar, walaupun cuacanya dingin udaranya segar tetapi desa tersebut akan tetap sering hujan. Desa Ngargomulyo berada di dataran tinggi walaupun mereka di dataran tinggi mereka masih ada musim kemarau yaitu dari bulan April sampai bulan September sedangkan musim hujan dari bulan Oktober sampai bulan Maret. Ada juga cuaca harian maksudnya adalah pada malam hari mungkin udaranya lebih sejuk dibanding pagi hari atau siang hari, lalu di siangnya bisa saja sangat panas. Bisa juga ada hujan singkat atau badai petir juga bisa terutama selama musim hujan.


Desa Ngargomulyo memiliki tanah yang subur karena terletak dekat gunung merapi dan di dataran tinggi desa ngargomulyo juga memiliki sumber air yang langsung dari mata air gunungnya sendiri sehingga kondisi tersebut mempengaruhi mata pencahariannya desa tersebut. Karena pertanian merupakan mata pencaharian utama pada desa ngargomulyo maka kondisi geografis tersebut mempengaruhinya lebih banyak ke pertanian, mereka mempunyai tanah yang subur mereka menanam banyak padi atau tumbuhan yang lainnya, pertanian mereka juga tumbuh dengan subur karena mereka ditanam dengan tanah yang subur, memiliki sumber air yang mengalir terus dari gunung dan matahari yang terang sehingga menyinari tumbuhannya. Dampak positif dari kondisi geografis desa Ngargomulyo adalah kesuburan tanahnya untuk pertanian dan ketersediaan air untuk irigasi, dampak positif lainnya adalah adanya pemandangan yang indah pada desa Ngargomulyo disertai dengan udaranya yang segar dan dingin, dampak negatifnya adalah bisa saja terkena bencana alam karena desa Ngargomulyo dekat gunung merapi bisa saja tiba-tiba gunung tersebut aktif dan desa Ngargomulyo tersebut bisa saja terkena, mereka juga tergantung pada pertanian untuk kebutuhan ekonomi mereka. Sehingga petani harus lebih bekerja keras supaya bisa memenuhi kebutuhan ekonomi. Pada Desa Ngargomulyo mata pencaharian yang mendominasi di desa Ngargomulyo adalah petani karena mereka memiliki banyak sawah-sawahan serta tanah disana sangat subur, sehingga kebanyakan pekerjaan mereka menjadi petani, mereka menanam padi, jagung, palawija, dan yang lain-lainnya. Selain petani, desa Ngargomulyo juga memiliki mata pencaharian yang lain seperti guru, peternak, pedagang, dan buruh. Mata pencaharian desa Ngargomulyo Mata pencaharian desa Ngargomulyo


Dampak covid-19 pada desa ngargomulyo dan dampak jika erupsi Dampak covid-19 pada desa ngargomulyo dan dampak jika erupsi Selama pandemi covid-19 berlangsung, orang-orang di desa tersebut masih aktif bekerja, covid-19 tidak begitu berpengaruh di desa mereka namun semua orang tahu akan keberadaan covid tersebut. Maka mereka bekerja di ladang agar masih sehat karena mendapatkan sinar matahari, mereka bekerja di ladang sambil memakai kain, atau pelindung muka (Faceshield). Mereka bekerja di ladang sambil melaksanakan social distancing, agar kemungkinan terkena covid masih rendah. Desa Ngargomulyo terletak di wilayah gunung merapi tetapi tidak sampai dekat banget tetapi berada di wilayah gunung merapi. Maka dari itu jika suatu saat gunung merapi erupsi yang terjadi pada desa tersebut adalah mereka terkadang harus menjalankan evakuasi dari desa tersebut untuk menghindari asap yang berbahaya dari erupsi. Namun setelah itu, mereka bisa memanfaatkan tanah yang subur setelah erupsi gunung merapi karena tanahnya menjadi subur.


BIOGRAFI AGAMA


BIOGRAFI AGAMA Selama live in rumah yang saya tempati adalah rumah bapak Alex dan Ibu Riyanti. ibu berumur 33 tahun dan bapak 40tahun. Selama disana mereka juga memiliki 3 anak, yang pertama kuliah, yang kedua bernama Dismas dia sekolah kelas 9 smp, yang ketiga bernama iwarih kelas 3 sd dan yang terakhir bernama ola. Selama disana aku satu rumah dengan Raina. Bapak alex merupakan seorang petani dan ibu riyanti ibu rumah tangga. Menurut saya mereka adalah orang yang pekerja keras, selama disana bapak alex pergi pagi-pagi untuk ke ladang kemudian balik ke rumah untuk istirahat dan sorenya ia pergi lagi ke ladang. Ibu riyanti juga membantu mengerjakan pekerjaan rumah dan menjaga anak-anak. Mereka merupakan keluarga yang harmonis dan bahagia walaupun memiliki uang yang tidak banyak. Mereka juga seorang katolik yang taat, mas dismas merupakan misdinar di gereja. Dari keluarga ini saya merasakan banyak kebahagian,kehangatan dan bersyukur mereka menganggap saya sebagai keluarga mereka juga.


BIOGRAFI AGAMA Selama kegiatan live-in berlangsung, saya tinggal di rumah bu Yustina Panira (Bu Wati) dan pak Mateus Jumari (Pak Jumari). Mereka berdua bekerja sebagai buruh. Mereka memiliki 2 anak, yang perempuan sudah menikah dan tinggal bersama suaminya sementara anak yang laki-laki sedang bekerja di desa itu. Bu Wati dulu tinggal di dusun yang lain, namun sekarang ia tinggal bersama pak Jumardi di dusun Braman. Mereka adalah keluarga yang beragama katolik dari dulu, dan anak-anak mereka juga beragama katolik. Mereka biasanya bekerja disekitar komunitas desa seperti membantu ketika ada acara ataupun ikut bekerja sama ketika desa memiliki kegiatan sesuatu.


BIOGRAFI AGAMA Selama kegiatan live-in Saya dan Marsha menempati rumah bapak Gimar dan ibu Warsini, mereka berdua bekerja sebaga petani dan mereka mempunyai 4 anak ada beberapa yang masih sekolah dan ada juga beberapa yang sudah bekerja, salah satu anak dari orang tua asuh saya namanya Mas Kris ia menjadi Ketua RT di dusun Braman tersebut, ia juga menjadi pembimbing kita pada saat live-in tersebut, ia juga sudah menikah dan tinggal di sebelah rumah Pak Gimar. Mereka berdua adalah orang katolik tetapi ada hal yang menarik dari Ibu Warsini sendiri ternyata Ibu warsini dulunya Islam setelah itu ia mengikuti Pak Gimar dan berganti menjadi katolik. Menurut saya mereka adalah keluarga yang sangat harmonis, mereka selalu melakukan kegiatan bersama, dan mereka juga sering makan bersama. Mereka sangat baik kepada saya dan Marsha, mereka selalu memberi kita makanan, mempastikan kita nyaman disana,dan saya sangat bersyukur serta senang karena bisa dianggap sebagai anak sendiri disana. Saya juga bersyukur karena bisa berkegiatan bersama keluarga Pak Gimar.


BIOGRAFI AGAMA Selama kami melakukan kegiatan live-in di desa Ngargomulyo, saya (Marsha) dan Joanna bertempat di rumah Bapak Gimar dan Ibu Warsini. Orang tua asuh kami telah menikah selama 32 tahun dan dikarunia oleh 4 anak mereka. Anak yang tertua adalah Mas Khris yang merupakan ketua lingkungan di dusun Braman yang juga menjadi salah satu panitia pada . Lalu anak yang kedua adalah Kak Khrisna yang bekerja sebagai guru. Anak ketiga adalah Kak Noni yang sedang melanjutkan pendidikan di kuliah. Lalu anak yang terkecil adalah Windah yang masih bersekolah di SD. Orang tua asuh kami bekerja sebagai petani dimana Pak Gimar bekerja di lahan untuk mendapatkan padi yang juga digunakan sebagai pakan hewan-hewan. Bu Warsini sedikit berbeda karena beliau bekerja di sebuah sawah kecil dimana beliau menanam berbagai tumbuhan nya sendiri seperti tomat, selada, cabai, dll. Menurut saya ada hal yang menarik dari pernikahan Pak Gimar dan Bu Warsini. Sebelum mereka menikah, Ibu Warsini dahulunya merupakan umat Muslim yang berpindah agamanya ke agama Kristen Katolik. Tidak hanya itu pula, keluarga Pak Gimar dan Bu Warsini juga sering melakukan kegiatan di gereja. Walaupun Pak Gimar dan Bu Warsini hanya sebagai umat gereja yang pergi setiap hari Minggu. Anak mereka kak Khrisna & Windah melakukan kegiatan koor di gereja. Saya sangat berterima kasih kepada keluarga Pak Gimar dan Bu Warsini karena mereka telah menganggap kami sebagai anaknya sendiri dan telah berbuat sangat baik kepada saya dan Joanna selama masa kami yang cukup singkat di desa Ngargomulyo. Keluarga ini sangatlah harmonis dan tidak ada perselisihan yang sangat besar karena dapat mengatasinya.


CARILAH 5 PERBEDAAN!


group The social service happened on the second day of the trip. The sub-village we were in was housing 10 people the names being ; Ellie, Cleo, Chloe, Casey, Kayla, Felice, Tasha, Marsha, Joanna and VInny. We all decided to do some things for the little kids in the village. Some of us taught English while some taught how to make origami, some also made some tea for the kids. In the evening, we gathered up 3 kids named Lauren, Niko , and Clara. We went to Tasha and Felice’s house to do this activity. We sat in a mattress and continued on with our things. We taught them some basic English such as 5W and 1H (What, Why, Who, When, Where, and How). The kids were quite shy so it was a bit hard to talk to them but we managed. Some of us went ahead to teach the kids english which is quite challenging in my opinion, since its our first time teaching english to the kids that haven’t even learned the basics of the English language. But it was quite fun, since we can have new experiences of teaching other people and making an impact. Some of us also went ahead to teach the kids how to do some origami papers. What we think about this social service : From this social service activity, I feel closer to the villagers. This activity also creates a lot of warmth and happiness for us students and villagers. I can learn to communicate with people I have just met. Over all I feel this activity is useful. -rara/83/34


group For me, this social service activity i get to feel more closer to the villagers and to the kids, i also feel that this activity can make the kids be better at their english, have a creative mindset and being able to enjoy learning new things. -Joanna/83/22 For me, the social service activity we did was truly an amazing experience. I get to teach the kids something they could use for the rest of their life, and I could help the villagers back for how welcoming they are when we were there. I’m glad I could be a part of their village community. -Vinny/83/36 for me, I felt happy to be able to teach the kids something even if it's something small. I feel like it's a ay for us to help the village who has treated us with such kindness. I also feel like it taught me how to be more patient because the kids were very shy. Overall I think it was an eye opening experience and that it was really enjoyable especially because I could do it with my friends. -marsha 83/25


social service 19 March 2024, I arrived in Ngargomulyo for the first time. My experience in this village has been one of the best days in my life. We were welcomed delightfully by the locals. I have had a very good feeling about the village since then. I went to the same house as my friend, and we talked briefly about how we should do our social services. Should we combine our teams? Should we talk to the others about it? But it was just our first day there, and we have been enduring the 12 hour bus ride just before this. So we didn’t think about it that much and just went through the day to make ourselves at home both in the village and in the house. We helped the people around us because there was someone who passed away a day before we arrived at the village, and we helped prepare the food for the prayer event that night. Because it was a community prayer, we ended up seeing our friends and other people from the village gathering there to pray together. We ended up bringing the social service and discussing how we should do it before it's time to pray, since there are still not a lot of people who gather there. We prayed together with the people there, but unfortunately I didn’t really understand most of the things they were saying because the text is written using formal javanese. After that, we said goodbye and went back into our houses. “The social service project we did taught me some important lessons. Like how teamwork is very important for success, and how communication and the effort we all made as a group can help us go a long way. We are more than happy to be able to teach those kids some important facts and have fun with them too.” We decided to do one of our friend’s idea to teach the kids English, since we all got better knowledge of the language than the people in that village. We think that it's best to do the social service together tomorrow in one of my friend’s house. Since they know some kids from the village that want to learn English. Personally, I was pretty excited to do the social service since we can actually help some people from the village we stayed in. Honestly it feels nice to be a part of a community there, I was starting to feel like a local in that village. I had been doing all of the stuff the kids in the village did after all. I helped around the rice fields, it was very close to Mount Merapi which is one of the most active volcanoes in the world. So despite the risk of living near there as farmers, they actually have an advantage because the volcano made the soil very fertile. After cooking the stuff we got from the fields, we started to hang out together after that and have a lot of fun. We have been informing all of our friends about our social service back when we were gathering together, and our plan was pretty much complete and the only thing left to do is to start doing the social service tomorrow. The day after that, amidst all the activities planned for us we started to discuss the social service plan more seriously. We agreed that we’ll just gather our friends who live in the same sub-village area like us and do the social service together. -


So this is the day we are going to do our social service in the afternoon at one of our friend’s house. But before that, we’re pretty busy with all of our activities today. I think exploring the forests and the fields are really fun, but it was very exhausting. I was actually pretty confused about how we are supposed to do the social service when we are this tired after all of that. I mean we pretty much have been crossing through rivers and fields, and after all that we still have to practice for the dance tonight. We took a break first after all that, if I’m not wrong we took a break for like 1-2 hours before we started our activities again. I don’t think it's enough to be honest, I’m still very tired after all that. But we do have to do our social service. We went to our friend’s house and teached 2 kids there, we combined our groups so me and my group teached the kids english. While the other group taught them how to make stuff from origami, it was a huge success I think. We all got our reports and all we need to do now is only our dance performance for the night.


CARING & PROTECT OUR ENVIRONMENT AND COMMUNITY WELFARE #care4eachother Hello everyone my name is Rara and today i want to share my live in experience. So in this integrated learning project I got told to do a social service for live in. At first I tried to find the purpose from the social service, then I thought it had to be useful not only for the villagers but also for students (us) and the environment. I had been planning this social service since september. My first social service is making an art and craft from reused plastic bottles. Why did I choose that social service? Because I think the amount of trash, especially plastic bottles, in Indonesia is huge and I had made it before I did this social service. That is why I had decided to make some art and craft making the plastic bottles into a flower pot/stationary. My second social service is cleaning the environment. In this activity we’re going to pick up the trash, sweep the ground, and just make the environment more tidy and clean. That was the social service that I made for the live in project. But when I was there in the village I got separated from my group so I couldn't do the social service. I stayed in Ngargomulyo village in Muntilan, Magelang. I had never been to Ngargomulyo before this live in project. Because i hadn’t been preparing much so i do social service with my friends who are in the same village as me, which are Celine,Jane,Febi, Louisa, Viola, Ursula and Raina.The first things we do is collecting childerns around the village, and we collected 5 children who are Iwarih, Sesil, Amel, Kaelani, Nesya. We had been singing, playing games(domino), coloring, and at the end of the activities we took a picture. I personally feel so happy and bonding with the children and villagers, I know more about them. rara-83-34


CARING & PROTECT OUR ENVIRONMENT AND COMMUNITY WELFARE #care4eachother The only problem I think is communication. I know that they may find it difficult to get along with new people, so do i. For example they felt awkward And the children only spoke a little of bahasa, they usually talked using the local language. But there’s mba kasih who helped us communicate and translated. My overall experience is I feel very grateful and happy because the villagers welcomed us. I really want to go back there to Ngargomulyo. I think this live in project has given me a lot of benefits and moments.


SOCIAL SERVICE Marsha 83/25 On the second day of our live-in experience, we did something special for the village kids. Despite 3 of my teammates being in the same sub-village, we chose not to do our original plan, which had been to help clean up the scattered trash around the village. Instead, we improvise and decided to teach them English. We already prepared a bit, and I had helped Tasha in folding the comics we were going to use later. However we were confused on where to do the social service. Initially, we wanted to use the school, so we tried to find Mas Khris, the sub-village chief. Unfortunately, we found out that it wasn't possible, so we chose to use Ellie and Chloe's or Felice and Tasha's houses.


We finally decided to use Tasha and Felices house as the kids gathered there. The kids we decided to teach were still quite young, and there were three of them named Lauren, Nico, and Clara. We taught them a bit of basic English which is 5W and 1H. Initially, they had been feeling very shy, so they had been being a bit challenging to teach. But after they warmed up to us, it was much easier. After teaching them a bit of English, they started coloring the comics Tasha brought which we had prepared. After that, it was Ellie, Chloe, Kayla, and Casey's turn to take over. They decided to teach the kids how to make origamis while also serving tea for all of us. After a while I suddenly realized that there was no one available to take documentation of our social service. I tried getting the teachers (Pak Dimas and Pak Sony) but they weren’t at their house. So I went on a search throughout the place. I had been looking for the teachers in every corner of the sub-village and even the neighboring areas. Despite my efforts, I couldn't find them anywhere. Disappointed, I returned to the social service. Fortunately, Tasha and Felice's father finally arrived, so we can finally document our social services. After it was 5.30 we decided to stop the social service and we went back to our respective houses. After the social service ended, I found it really enjoyable and believed it had taught us valuable lessons in patience and the importance of thorough planning beforehand. The opportunity to teach the kids, albeit something small, left me with a sense of happiness. It felt like a meaningful way to pay back the kindness shown to us by the villagers.


PLAYLIST LIVE IN! PLAYLIST LIVE IN!


Desa Ngargomulyo terletak di kaki gunung merapi di muntilan, Magelang. Udara disana sangat bersih dan asri, setiap pagi masyarakat terbangun karena suara ayam berkokok dan sinaran matahari disana juga cuacanya sejuk. Berbeda dengan kondisi udara cuaca di Jakarta, polusi, macet, kebisingan dan lainnya. Masyarakat disana rata-rata bekerja sebagai seorang petani atau peternak. Setiap hari mereka pergi ke ladang dengan berjalan kaki walaupun panas mereka masih bisa bertahan dan akan pulang saat waktu makan siang dan jika suasana sudah mulai gelap. Keseharian mereka yang produktif membuat mereka memiliki pola hidup yang sehat. Bukan hanya orang tua saja namun anak-anak mudanya pun hidup sehat dengan setiap pagi jalan ke sekolah mereka, dan tidak sering menggunakan handphone mereka. Saat covid kondisi desa mereka begitu berbeda. Karena adanya himbauan dari pemerintah tentang virus covid-19 ini, mereka harus berdiam di rumah untuk beberapa hari. Selama itu juga mereka melaksanakan protokol kesehatan dengan tidak sering keluar rumah, menjaga jarak, memakai masker, dan tidak ada kegiatan live in di desa. Narasumber yaitu bapak alex yang adalah salah satu warga desa disana bercerita tentang kondisi saat salah satu keluarga terdampak/terkena virus covid “Semua warga langsung melakukan kegiatan masing-masing awalnya kita semua berdiam di rumah dan tidak melakukan kegiatan apa-apa namun karena butuh pendapatkan(uang) jadi harus ke ladangkan”. Pak alex juga memberi tau bahwa semua warga saling membantu sama lain jika ada yang sakit dan membutuhkan makanan atau vitamin. Dari sini bisa kita lihat walaupun mereka tidak memiliki banyak uang namun mereka masih ikhlas membantu sesama mereka dan peduli kepada kesehatan warga lain, menurut mereka rasa sedihnya sama jika ada seorang warga yang meninggal dari pada tidak memiliki uang dan makanan. Kesehatan masyrakat


Masa covid-19 membuat mereka harus kehilangan banyak hal. Namun mereka masih patuhi aturan pemerintah, bahkan waktu itu pernah ada himbauan semacam warning bahwa semua masyarakat yang tinggal di kaki gunung… harus segera turun karena akan ada erupsi. Semua warga desa pun turun ke titik yang sudah diberitahukan, semua warga khawatir karena pada saat itu sedang ada virus covid sedangkan mereka beramairamai di sana. Setelah beberapa hari tidak ada tanda-tanda akhirnya mereka naik kembali kerumah. Selama covid juga mereka mendapatkan vaksin 3 kali, mereka juga minum vitamin. Makanan yang mereka konsumsi adalah makanan yang bahanya merek olah sendiri dari hasil panen mereka misalnya dari sayur, cabai dan padi. Sayangnya di sana untuk ke rumah sakit perlu menempuh jarak yang jauh. Sehingga mereka hanya bisa pergi ke puskesmas. Walaupun tinggal di desa namun kesehatan mereka lebih baik daripada orang-orang di kota hal ini dipengaruhi oleh aktivitas, makanan yang dikonsumsi, cuaca alam, dan lainnya. Disana seorang wanita berumur 60 tahun di pekerjakan sebagai seorang pembawa pupuk yang bekerja dari pagi hingga jam 3 sore, ia digaji 60 ribu/hari. Ini bisa terjadi karena kondisi tubuhnya yang masih sehat dan kuat ia selalu menjaga kesehatannya. Jadi banyak orang-orang kota yang ingin menghabiskan masa tuanya di desa. kesehatan masyrakat


Jimpitan adalah tradisi iuran sukarela atau wajib sesuai kesepakatan dalam rapat atau pertemuan warga dalam masyarakat jawa seperti Desa Ngargomulyo mereka sering melakukan adat tradisi jimpitan tersebut. Jimpitan berasal dari kata bahasa Jawa jimpit yang artinya mengambil dengan ujung-ujung jari. Dalam kamus Jawa, jimpitan umumnya diartikan pengumpulan beras saja. Akan tetapi, karena perkembangan zaman dan perekonomian tidak seburuk masa lalu, jimpitan pada masa kini lebih lazim menggunakan uang receh.Hal ini juga dilatarbelakangi susahnya menjual beras hasil jimpitan, selain berasnya memiliki mutu yang berbeda-beda, beras juga sering mengalami kerusakan (seperti berjamur dan berbau apek) sebelum terkumpul cukup banyak untuk layak dijual. Uang jimpitan per rumah biasanya berkisar Rp 200 hingga Rp1000. Tradisi tersebut memberikan uang atau beras kepada warga, tentunya diberikan sesuai kesepakatan yang dikumpulkan melalui petugas yang ditunjuk warga. Iuran jimpitan biasanya diletakkan dalam wadah kecil di depan rumah yang nantinya akan diambil oleh petugas yang berkeliling. Pemungutan jimpitan ini umumnya pada malam hari bersamaan dengan kegiatan ronda malam. Wilayah jimpitan biasanya dibagi berdasarkan rukun tetangga Jimpitan umumnya digunakan untuk membantu warga yang kesusahan atau untuk kemajuan warga maupun kampung. Desa ngargomulyo sudah sering melakukan tradisi tersebut, karena tradisi tersebut desa ngargomulyo masih memiliki rasa rukun dan masih menjalankan tradisi ini sampai sekarang. Tradisi Jimpitan Sebenarnya jimpitan mempunyai dua jenis yaitu : Jimpitan beras: Jimpitan ini diselenggarakan dengan mengumpulkan satu gelas beras dari setiap rumah untuk kemudian dibagikan. Jimpitan uang : Jimpitan ini diselenggarakan dengan mengumpulkan uang receh dari setiap rumah untuk kemudian Dengan diadakannya tradisi jimpitan, diperoleh beberapa manfaat, yaitu terbantunya warga yang memiliki kekurangan ekonomi, adanya perbaikan fasilitas umum misalnya perbaikan pos ronda, lampu jalan dll, warga menjadi berpengalaman dalam mengelola keuangan hasil jimpitan dan yang utama yaitu sikap gotong royong warga Joanna 83/22


Di desa tempat kita menetap, tentunya tradisi masih termasuk bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat setempat di sana. Sesuatu yang telah menjadi bagian dari kehidupan mereka adalah budaya kebersamaan mereka, dimana mereka selalu membantu satu sama lain ketika ada yang butuh pertolongan ataupun ada suatu acara yang harus disiapkan bersama. Salah satu contoh dari ini adalah ketika kita ikut serta membantu warga untuk mendoakan orang yang meninggal. Biasanya, orang di desa itu banyak melakukan sembahyang bersama biasanya setidaknya 1 bulan sekali. Toleransi masih sangat kuat di desa tersebut, orang muslim dan orang kristen/katolik dapat hidup berdampingan dan saling membantu Budaya kebersamaan mereka ini juga dapat kita lihat dalam tradisi jimpitan yang merupakan sesuatu yang sering mereka lakukan di desa ngargomulyo itu untuk mendapatkan dana untuk kepentingan desa mereka bersama. Uang yang diberikan per-rumah untuk jimpitan ini biasanya berupa uang 1000 atau 2000 dan ditaruh di depan rumah mereka. Tradisi sangat berguna untuk memperkuat rasa solidaritas warga desa di sana dan juga untuk kepentingan ekonomi bersama desa tersebut. Tradisi dan kearifan lokal desa ngargomulyo Vinny 36-83 Tradisi dan kearifan lokal desa ngargomulyo Vinny 36-83


Tradisi & Budaya rara-83-34


Tradisi & Budaya rara-83-34


GENDUREN T R A D I S I Genduren adalah tradisi yang dilakukan oleh Masyarakat di Desa Ngargomulyo. Genduren adalah sebuah tradisi yang merupakan sebuah peringatan kepada orang yang telah meninggal. Tradisi ini dilakukan pada hari ke 7, 40, 100, 1000 dan pada tahun ke 2 setelah orang tersebut meninggal. Tradisi ini memiliki sebuah peran yang sangat penting bagi masyarakat setempat. Orang yang meninggal akan didoakan dan dikenang oleh para warga sekitar. Mereka akan didoakan selama 7 hari dan 7 malam setelah meninggal. Dalam jenjang waktu ini, para warga berkumpul bersama untuk memasak makanan untuk disantap bersama saat para warga berkumpul bersama untuk mendoakan yang telah meninggal MARSHA 83/25


Tradisi ini sangatlah penting karena menghargai dan menghormati mereka yang telah pergi. Tidak hanya itu, tradisi ini menanamkan rasa solidaritas akan para warga. Hal ini terlihat ketika para warga pada bekerja sama untuk memasak saat siang ataupun sore hari agar dapat menyajikan makanan untuk disantap bersama pada malamnya. Walaupun pendoaan dilakukan secara kristen katolik, para warga yang menganut agama lain juga ikut untuk melakukan genduran. Hal ini dapat mencerminkan toleransi pada masyarakat di desa. GENDUREN T R A D I S I


Click to View FlipBook Version