The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E book ini adalah sikap seorang pelajar dalam menghadapi pandemi covid-19

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Queenbacooot, 2021-06-16 23:45:20

Sikap pelajar dalam mengahadapi pandemi

E book ini adalah sikap seorang pelajar dalam menghadapi pandemi covid-19

4 Cara Mengajarkan Sikap Positif dan
Empati pada Siswa Selama Pandemi
Covid-19

--
Banyaknya informasi yang beredar mengenai penyebaran wabah Covid-19 bisa saja
mempengaruhi kesehatan mental. Masyarakat menjadi panik, khawatir, dan takut
tertular atau kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Terlebih lagi, pembatasan
aktivitas di luar rumah menyebabkan interaksi menjadi berkurang, muncul rasa bosan,
dan stres.
Menjaga sikap posistif dan empati merupakan kunci agar kita tidak terlalu larut dalam
nuansa negatif yang timbul akibat pandemi ini. Sikap positif dapat membantu menjaga
kesehatan mental kita dan orang-orang di sekitar. Sementara itu, sikap empati dapat
membuat kita mampu merasakan emosi orang lain. Kita dapat membayangkan apa
yang orang lain pikirkan dan rasakan.
Sebagai guru, penting untuk terus mengajarkan perilaku positif dan empati kepada
siswa, terutama di masa-masa sulit seperti ini. UNICEF telah merangkum beberapa hal

yang perlu diperhatikan Bapak/Ibu guru saat mengajarkan dan mempraktikkan sikap
positif dan empati kepada siswa, di antaranya sebagai berikut.

1. Beri apresiasi di setiap pencapaian siswa

(Sumber: shutterstock.com)
Selama belajar di rumah, Bapak/Ibu guru tentu tidak lupa untuk selalu memberi tugas
guna menambah pemahaman siswa terhadap materi. Selalu berikan apresiasi pada siswa
Anda ketika mereka berhasil mengerjakan tugasnya dengan baik. Misalnya dengan
memberi nilai, pujian, atau kata-kata penyemangat. Dengan begitu, mereka akan merasa
usahanya dihargai dan jadi lebih semangat untuk mengikuti pembelajaran di rumah.
Perlu Bapak/Ibu guru ketahui, siswa yang sering menerima apresiasi dari gurunya akan
tumbuh dengan banyak energi positif. Rasa percaya dirinya akan meningkat, jiwa
kreatifitas dan inovatifnya juga akan berkembang dengan maksimal. Selain itu, karena
terbiasa diperhatikan, siswa juga akan memiliki kebiasaan tersebut dan cenderung lebih
peduli dengan lingkungan di sekitarnya.

2. Ajarkan cara penyampaian yang baik dan benar

(Sumber: fluentu.com)
Ketika Bapak/Ibu guru meminta atau melarang siswa untuk melakukan sesuatu, hindari
penggunaan kata-kata yang bersifat negatif, seperti “jangan” atau “tidak boleh”.
Gunakanlah kalimat yang positif sebagai penggantinya. Misalnya, Anda dapat
mengganti kalimat, “Jangan menyontek!” dengan, “Kerjakan tugasnya secara mandiri
agar kamu lebih cepat menguasai materi.” Selain itu, sampaikan juga dengan cara yang
baik agar tidak menyakiti hati siswa. Cara penyampaian yang baik bisa lebih mudah
diterima dan dipatuhi oleh siswa. Secara tidak langsung, Anda akan mengajarkan
bagaimana cara menjaga dan menghargai perasaan orang lain kepada siswa.

3. Terapkan disiplin positif pada siswa

(Sumber: careeraddict.com)
Disiplin positif merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk membangun nilai
kedisiplinan pada siswa tanpa kekerasan dan ancaman. Siswa diajarkan untuk
bertanggung jawab dan memahami konsekuensi (akibat) dari setiap perbuatan yang
mereka lakukan. Dengan begitu, siswa akan belajar untuk membuat keputusan yang
baik sebelum bertindak.
Selama pandemi, Bapak/Ibu guru bisa mengajarkan sikap disiplin untuk menjaga
kebersihan diri dan lingkungan. Beri siswa penjelasan mengenai bahaya penyebaran
Covid-19. Lalu, ajak siswa untuk sama-sama melakukan upaya pencegahan penyebaran
virus dengan rajin cuci tangan serta patuh pada peraturan pemerintah untuk
melaksanakan social distancing.

4. Bangun sikap saling tolong menolong

(Sumber: palmpartners.com)
Sikap saling tolong menolong tidak dapat muncul begitu saja, melainkan harus
dibangun dengan cara mengajarkan dan mempraktekkannya di lingkungan sekitar. Oleh
karena itu, penting bagi Bapak/Ibu guru untuk mengajarkannya pada setiap siswa.
Banyak cara yang bisa Anda lakukan, misalnya dengan gotong royong membersihkan
kelas atau lingkungan sekolah.
Di situasi sekarang ini, Anda juga bisa mengajak para siswa untuk melakukan donasi
yang ditujukan bagi masyarakat kurang mampu yang terdampak Covid-19. Selain itu,
disiplin melakukan physical distancing juga dapat membantu melindungi diri sendiri dan
orang-orang sekitar dari bahaya terinfeksi virus. Sikap tolong menolong yang diajarkan
sejak dini dapat membuat siswa menjadi lebih peduli terhadap lingkungan sekitar dan
memiliki rasa empati yang tinggi.
Itulah empat cara yang bisa Bapak/Ibu guru terapkan dalam mengajarkan sikap positif
dan empati pada siswa selama pandemi Covid-19. Semoga musibah ini dapat segera
berakhir dan kita semua dapat segera beraktivitas kembali secara normal. Tetap
semangat dan jaga kesehatan.

Perubahan sikap lebih berorientasi pada kebutuhan siswa sebenarnya sudah lama
diharapkan. Dengan adanya wabah ini mempercepat harapan tersebut. “Situasi yang
dihadapi siswa di masa pandemi Covid-19 itu berbeda-beda. Dan semuanya butuh jawaban,
tapi tidak mungkin bisa dijawab pada saat ini. Sehingga memaksa kita terutama bagi
pendidik untuk bagaimana bisa menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Inilah yang bisa
membentuk sikap yang orientasi lebih berpusat pada murid yang sudah kita harapkan sejak
lama,” ujar Dirjen GTK Kemendikbud Iwan Syahril dalam webinar yang diselenggarakan oleh
Universitas Yarsi bertema “Tantangan Pemakaian Gadget di Era Covid-19”, Kamis (4/6/2020).

Selain itu, Iwan mengatakan dengan adanya pandemi Covid-19 juga telah menurunkan
kecemasan para pendidik dalam menggunakan teknologi. Sebab, para pendidik dipaksa
untuk untuk memanfaatkan teknologi dalam kegiatan pembelajaran. Dia mengatakan meski
ini belum sepenuhnya efektif, minimal tantangan secara psikologis telah terlampaui.

“Sebelum adanya Covid-19, Kemendikbud melakukan riset kecil-kecilan soal penggunaan
teknologi. Salah satu halangan terbesar adalah kecemasan yang tinggi dari para pendidik
kita dalam menggunakan teknologi. Bukan karena mereka tidak bisa. Yang menarik saat
menggunakan HP mereka tidak cemas, tapi uniknya saat menggunakan teknologi yang lain
seperti laptop mereka sangat cemas,” jelasnya.

Iwan mengatakan berdasarkan para ahli penurunan kecemasan terhadap teknologi ini akan
terjadi pada beberapa tahun ke depan. Tapi dengan adanya Covid-19 ini mempercepat
prediksi tersebut. “Ada ahli yang mengatakan penurunan kecemasan dalam menggunakan
teknologi diprediksi akan terjadi beberapa tahun ke depan. Ini merupakan percepatan
penurunan kecemasan dalam penggunaan teknologi sangat luar biasa. Dan ini harus
dimanfaatkan sebesar-besarnya,” ujarnya.

Lebih lanjut Iwan mengatakan kondisi saat ini telah mengalami perubahan yang sangat luar
biasa. Dulu kita mengalami “Kemarau Informasi”, tapi saat ini kita mengalami “Banjir
Informasi”. Maka itu, dia meminta agar kita lebih bijak dalam menghadapi situasi saat ini,
yakni mampu memilih informasi yang bisa membawa nilai lebih bagi kehidupan kita.

“Dulu kita sulit mendapat informasi. Dengan kemajuan teknologi informasi kita tidak
mengumpulkan informasi, tapi kita memilih mana yang relevan atau tidak. Dan informasi
mana yang akan memberikan nilai lebih bagi kita,” ujarnya.

Proses pembelajaran di sekolah merupakan upaya peningkatan pengetahuan dan skill.2
Sebagian besar siswa menganggap sekolah adalah kegiatan yang menyenangkan, mereka
bisa berinteraksi satu sama lain. Sekolah dapat meningkatkan keterampilan sosial dan
kesadaran kelas sosial siswa. Sekolah secara keseluruhan adalah media interaksi antar siswa
dan guru untuk meningkatkan kemampuan integensi, skill dan rasa kasih sayang diantara
mereka. Tetapi sekarang kegiatan yang bernama sekolah berhenti dengan tiba-tiba karena
gangguan Covid-19. Sekolah memberikan solusi dengan pembelajaran daring.

Pembelajaran daring

Daring merupakan singkatan dari “dalam jaringan― sebagai pengganti kata online
yang sering kita gunakan dalam kaitannya dengan teknologi internet. Daring adalah
terjemahan dari istilah online yang bermakna tersambung ke dalam jaringan internet.

Pembelajaran daring artinya adalah pembelajaran yang dilakukan secara online,
menggunakan aplikasi pembelajaran maupun jejaring sosial.Pembelajaran daring
merupakan pembelajaran yang dilakukan tanpa melakukan tatap muka, tetapi melalui
platform yang telah tersedia.Segala bentuk materi pelajaran didistribusikan secara online,
komunikasi juga dilakukan secara online, dan tes juga dilaksanakan secara online.

Permasalahan Pembelajaran Daring

Keterbatasan Penguasaan Teknologi Informasi oleh Guru dan Siswa. Kondisi guru di
Indonesia pada umumnya dan di Kabupaten Magelang pada khususnya tidak seluruhnya
paham penggunaan teknologi, terutama guru guru yang menjelang pensiun. Begitu juga
dengan siswa, terutama yang dipelosok desa kurang menguasai teknologi untuk
pembelajaran. Sarana dan Prasarana yang Kurang Memadai. Perangkat pendukung
teknologi mahal.

Kesejahteraan guru (terutama GTT) maupun murid yang membatasi mereka dari serba
terbatas dalam menikmati sarana dan prasarana teknologi informasi yang sangat diperlukan
dengan musibah Covid-19 ini. Banyak hand phone hanya dimiliki orang tua, sehingga siswa
hanya bisa mengerjakan tugas kalau orang tuanya sudah pulang kerja. Bilamana
pembelajaran dan pengerjaan tugas dibatasi waktu otomatis tidak bisa mengikuti
pembelajaran.

Tidak jarang juga siswa tidak bisa mengerjakan tugas karena tidak mampu membeli kuota
paket data. Akses Internet yang terbatas. Tidak semua lembaga pendidikan baik sekolah
dasar maupun sekolah menengah dapat menikmati internet dengan baik. Apalagi dipelosok
pedesaan yang terkadang sinyal internet tidak ada.

Kurang siapnya penyediaan Anggaran. Aspek kesejahteraan guru (terutama GTT) dan murid
masih jauh dari harapan. Ketika mereka menggunakan kuota internet untuk memenuhi
kebutuhan media daring, akan terasa sangat berat.Keuangan negara belum mampu
memenuhi secara keseluruhan.

Menyikapi pembelajaran pada masa pandemi dan new normal

Pemerintah.Pemerintah memiliki peran yang sangat penting dan fundamental. Pemerintah
sebagai penyandang dana utama Pendidikan melalui APBN. Dalam Inpres No. 4 Tahun
2020 dinyatakan diperlukan Langkah langkah cepat, tepat, focus, terpadu, dan sinergi antar
kementerian/lembaga dan pemerintah daerah untuk melakukan kegiatan refokusing
kegiatan, realokasi anggaran serta pengadaan barang dan jasa dalam rangka percepatan
penanganan COVID 19, termasuk didalamnya di bidang Pendidikan.

Sekolah. Sekolah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan harus bersiaga memfasilitasi
perubahan apapun menyangkut pendidikan siswanya. Pendidikan tingkah laku harus
menjadi pijakan kuat ditengah perkembangan teknologi dan arus percepatan informasi.
Program-program pendidikan yang dilakukan sekolah harus benar-benar disampaikan
kepada murid, terlebih dengan media daring tetap saja pihak sekolah harus benar-benar
memperhatikan etika sebagai lembaga pendidikan. Penekanan belajar dirumah kepada
murid harus benar-benar mendapat kawalan agar guru-guru yang mengajar melalui media
daring tetap halus dan cerdas dalam menyampaikan pelajaran-pelajaran yang wajib
dipahami oleh murid.

Sekolah yang memiliki dana cukup bisa juga dengan memfasilitasi siswa dengan
membelikan paket data untuk mendukung pembelajaran daring. Dalam kondisi yang sangat

terpaksa sekolah juga bisa membuat kebijakan dengan penugasan maupun tes secara
luring, namun tetap memperhatian protokol Kesehatan.

Kemendikbud telah mengeluarkan protocol Kesehatan di sekolah untuk panduan
penyelenggaraan pembelajaran pada tahun ajaran 2020/2021. Diantaranya wajib
menggunakan masker (Setiap sekolah yang sudah membuka proses pembelajaran di
sekolah wajib mempersiapkan sarana cuci tangan dengan air mengalir atau cairan
pembersih tangan serta desinfektan), cek suhu( Setiap orang yang memasuki sekolah dicek
suhunya dengan menggunakan thermogun),Waktu Kegiatan Belajar Mengajar masa
transisi:(SMA, SMK, MA, MAK, SMP, MTs, paling cepat Juli 2020. SD, MI, dan SLB, paling
cepat September 2020 ) masa new normal.(SMA, SMK, MA, MAK, SMP, MTs, paling cepat
September 2020. SD, MI, dan SLB, paling cepat November 2020).Pendidikan dasar dan
menengah haruslah jaga jarak minimal 1,5 meter dan maksimal 18 peserta didik per kelas
(standar 28-36 peserta didik per kelas). Pada masa new normal kantin boleh beroperasi
dengan tetap menjaga protokol kesehatan di sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler
diiperbolehkan, kecuali kegiatan dengan adanya penggunaan alat/fasilitas yang harus
dipegang oleh banyak orang secara bergantian dalam waktu yang singkat dan/atau tidak
memungkinkan penerapan jaga jarak minimal 1,5 meter, misalnya: basket dan voli.Kegiatan
di luar KBM diperbolihkan dengan tetap menjaga protocol kesehatan.

Guru.

Guru memegang peran penting untuk mensukseskan pembelajaran daring. Seorang guru
dituntut untuk meningkatkan kemampuan menggunakan teknologi terutama dalam
kegiatan pembelajaran. Peningkatan penggunaan teknologi bisa dilakukan dengan belajar

secara on line maupun melalui diklat. Untuk Kabupaten Magelang, Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan Kabupaten Magelang telah mengadakan kegiatan Diklat daring Office 365
secara serentak pada tanggal 29 Juni sampai dengan 2 Juli 2020.

Disamping itu Langkah pembelajaran daring harus seefektif mungkin. Guru bukan
membebani murid dalam tugas-tugas yang dihantarkan dalam belajar di rumah. Guru bukan
hanya memposisikan sebagai pentransfer ilmu, tetapi tetap saja mengutamakan ing ngarso
sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Orang Tua, Peran orang tua dalam pembelajaran daring juga sangat penting. Orang tua bisa
mendukung kegiatan daring dengan mendampingi siswa belajar, berbagi hand phone,
memastikan kelancaran jaringan internet. Tidak kalah pentingnya juga memberikan motivasi
kepada anak agar terus mau mengikuti pembelajaran. Orang tua harus membuka cakrawala
dan tanggungjwab orang tua bahwa pendidikan anaknya harus dikembalikan pada upaya
orang tua dalam mendidikan mental, sikap dan pengetahuan anak-anaknya.

Kerjasaman antara orang tua, guru dan siswa juga sangat penting.. Dalam situasi sekarang
ini kondisi belajar membutuhkan adanya kerja sama kolaborasi antara guru, orang tua dan
siswa. Proses belajar sekarang adalah kombinasi antara guru, murid dan orang tua. Orang
tua pertama kalinya mengalami anak melaksanakan proses belajar di rumah karena adanya
wabah. Hal ini membuat orangtua semakin sadar betapa sulitnya mendidik anak. Demikian
juga di sisi guru juga semakin menyadari pentingnya peran orang tua dalam pendidikan.
Dengan kesadaran pentingnya kolaborasi guru, orang tua dan siswa maka akan
menciptakan kerja sama yang baik untuk mencapai kesuksesan dalam pendidikan. Kerja
sama, saling melengkapi dan memberikan kontribusi sesuai dengan kapasitas, batasan dan

ranah masing-masing.

COVID-19 atau yang lebih dikenal dengan virus corona sedang melanda Indonesia.
coronavirus mulai terdeteksi Desember 2019. Virus yang berasal dari Wuhan, China ini
mampu menembus dan memakan banyak korban di Indonesia. Jumlah korban virus korona
sampai saat ini tembus 1,6 juta jiwa. Virus mematikan ini gejalanya seperti flu biasa, namun
ada sesak napas diakhir pekan pertama gejala.

Dalam mengantisipasi penularannya, pemerintah mengeluarkan kebijakan, seluruh
pekerjaan digiatkan dari rumah. Sebagian masyarakat tidak menghiraukan himbauan
pemerintah, mereka melaksanakan aktivitasnya seperti biasa, sehingga membuat COVID-19
semakin merajalela dan terus menyebar di pelosok negeri. Pemerintah pun melakukan
upaya agar masyarakat dapat melaksanakan himbauan tersebut. Selain itu, masyarakat juga
diwajibkan memakai masker dan cuci tangan sebelum atau sesudah beraktivitas.

Pola hidup yang sehat sebagai upaya pencegahan COVID-19. Virus Corona masih menjadi
bahaya terbesar di dunia, tetap tinggal di rumah menjadi pilihan yang lebih baik. Pentingnya
tinggal di rumah saat kondisi bahaya ternyata telah diingatkan Allah SWT dalam firmanNya
dalam surat An-Naml ayat 18.

‫ٱٱ ٱ‬ ‫ۥ‬

Artinya: Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai
semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman
dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.

Merujuk pada berbagai komentar, terutama di media sosial. Isu virus corona dikaitkan
dengan Islam sudah berkembang terlalu jauh. Menyikapi epidemi global ini, sebagai
seorang muslim hendaklah kita kembali kepada ajaran agama. Kita perlu ketahui seorang
hamba akan tetap hidup bilamana memang ajalnya belum datang, bahkan bila virus corona
ataupun virus lainnya yang lebih ganas daripada itu menjangkitinya, namun bila memang
sudah ajalnya, jangankan virus corona atau yang lebih dari itu, bahkan digigit semut pun
seseorang bisa mati jikalau memang ajalnya telah tiba.

Sejumlah pelajar menghadapi tantangan yang tak mudah dalam kegiatan belajar mengajar
(KBM) saat pandemi virus corona. Tantangan yang dihadapi mulai, dari komunikasi instansi
terkait tidak lancar hingga kesulitan dalam pengumpulan data. Sebagian juga kesulitan
melakukan uts secara online. Tantangan lain yaitu komunikasi dengan guru dilakukan via
teknologi komunikasi, seperti surat elektronik dan pesan WhatsApp. Tetapi dengan adanya
itu, bukan berarti pelajar harus pasrah dan tidak berperan dalam melawan Corona.

Disinilah peran pelajar sebagai kaum terpelajar dengan tidak mudah tergiring opini yang
beredar di media sosial. Tidak mudah percaya pada informasi yang sedang diperbincangkan
di masyarakat. Pelajar memiliki sikap kritis dalam melihat setiap persoalan yang terjadi di
sekelilingnya. Tidak boleh apatis atau menerima apa adanya tanpa menganalisa, menelaah
terlebih dahulu setiap berita yang dikonsumsinya. Sudah menjadi kewajiban besar pelajar
dalam membawa masyarakat menuju perubahan kearah yang lebih baik.

Dalam menjaga kenyamanan masyarakat terkait maraknya hoax virus tersebut ada beberapa
hal yang perlu pelajar lakukan. Disinilah pelajar sebagai agen perubahan dan sebagai agen
control sosial masyarakat dapat memberikan suasana disiplin, aman, tentram ditengah
maraknya hoax corona. Demi membantu mewujudkan Indonesia yang lebih baik lagi.


Click to View FlipBook Version