PAKET MODUL 2
Praktik Pembelajaran yang Berpihak pada Murid
MODUL 2.3.a.4
Coaching untuk Supervisi Akademik
EKSPLORASI KONSEP
Ringkasan Materi
Disusun oleh:
TUBAGUS RANGGA WIRA MAHENDRA, S.Pd.
Calon Guru Penggerak Angkatan 6 Reguler
Kelas 06.07 NDH. 201503071738 Kabupaten Lebak
Fasilitator : Putu Agus Eka Mastika Yasa, M.Pd.
Pengajar Praktik : Ferlly Frilliana Helthi, S.Pd.
Admin LMS : Ani Purwati, M.Pd.
Instruktur : Suhartono, M.Pd.
: Munajat, S.Pd., M.Pd.
Modul 1.1 & 1.3 : Murwati Widiani, M.Hum.
Modul 1.2 : Aris Riyadi, S.Pd., M.Pd.
Modul 1.4 : Isti Nugrahani Sudjiman, B.Sc., MBa.
Modul 2.1 : Sugiarti, S.Pd., M.Hum.
Modul 2.2
Modul 2.3
Kepala Sekolah Pendamping:
Bambang Sutrisna, S.Pd.I.
PENDIDIKAN GURU PENGGERAK
BALAI GURU PENGGERAK PROVINSI BANTEN
TAHUN 2022
Ringkasan Eksplorasi Konsep Modul 2.3 | Coaching untuk Supervisi Akademik | CGP A6 | 1
RINGKASAN EKSPLORASI KONESP
Setelah mengikuti pembelajaran pada alur Eksplorasi Konsep Modul 2.3, saya sebagai CGP merasa
sangan senang karena dapat memahami konsep coaching dalam konteks pendidikan, mengidentifikasi
perbedaan antara coaching dengan mentoring dan konseling dalam konteks pendidikan, menunjukkan
pemahaman tentang komunikasi yang memberdayakan sebagai keterampilan dasar coaching, membuat
pertanyaan-pertanyaan yang efektif dalam rangka coaching pada murid, mendemonstrasikan
pemahaman mengenai model coaching TIRTA, mengidentifikasi langkah-langkah dalam model coaching
TIRTA, mampu menganalisa setiap proses coaching dan mengeksplorasi teknik yang digunakan dalam
coaching.
Untuk ke depannya Saya dapat memahami konsep coaching dalam konteks pendidikan, mengidentifikasi
perbedaan antara coaching dengan mentoring dan konseling dalam konteks pendidikan, menunjukkan
pemahaman tentang Komunikasi yang memberdayakan sebagai keterampilan dasar coaching, membuat
pertanyaan-pertanyaan yang efektif dalam rangka coaching pada murid, mendemonstrasikan
pemahaman mengenai model coaching TIRTA, mengidentifikasi langkah-langkah dalam model coaching
TIRTA, mampu menganalisa setiap proses coaching dan mengeksplorasi teknik yang digunakan dalam
coaching.
Selanjutnya Pentingnya penerapan memahami konsep coaching dalam konteks pendidikan,
mengidentifikasi perbedaan antara coaching dengan mentoring dan konseling dalam konteks pendidikan,
menunjukkan pemahaman tentang Komunikasi yang memberdayakan sebagai keterampilan dasar
coaching, membuat pertanyaan-pertanyaan yang efektif dalam rangka coaching pada murid,
mendemonstrasikan pemahaman mengenai model coaching TIRTA, mengidentifikasi langkah-langkah
dalam model coaching TIRTA, mampu menganalisa setiap proses coaching dan mengeksplorasi teknik
yang digunakan dalam coaching., untuk diaplikasikan pada murid sehingga dapat terbentuk Profil Pelajar
Pancasila.
Coaching adalah sebuah kegiatan komunikasi pemberdayaan (empowerment) yang bertujuan
membantu para coachee dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya dalam mencari solusi dari
permasalahan yang dihadapi agar hidupnya menjadi lebih efektif. Kemampuan berkomunikasi menjadi
kunci dari proses coaching sebab pendekatan dan teknik yang dilakukan dalam coaching merupakan
proses mendorong dari belakang sehingga coachee dapat menemukan jawaban dari apa yang dia
temukan sendiri (Pramudianto, 2015), bukan dengan diarahkan atau digurui. Inilah yang menjadi
keunikan coaching.
Ringkasan Eksplorasi Konsep Modul 2.3 | Coaching untuk Supervisi Akademik | CGP A6 | 2
COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK
Pengertian Coaching
Coaching merupakan sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi masalah, berorientasi
pada hasil, dan sistematis. Coaching lebih kepada membantu seseorang untuk belajar daripada
mengajarinya.
Choaching dalam Konteks Sekolah
Keterampilan coaching sangat perlu dimiliki oleh seornag guru dalam rangka menuntun murid
semua potensi yang dimilikinya untuk mencapai keselamatan dan kebahagian seagai individu dan
anggota masyarakat. Dalam prosesnya, murid diberikan kebebasan, tetapi guru bertindak sebagai
seorang Pamong yang memberi tuntunan dan memberdayakan semua potensinya agar murid tidak
kehilangan arah dan membahayakan dirinya.
Tut Wuri Handayani menjadi kekuatan dalam pendekatan Coaching. Untuk itu, sebagai seoran
guru harus memahami dan menghayati cara berpikir (Mindset) Ki Hadjar Dewantara sebelum melakukan
pendampingan dengan pendekatan Coaching.
Ringkasan Eksplorasi Konsep Modul 2.3 | Coaching untuk Supervisi Akademik | CGP A6 | 3
ARTI
Pendekatan Coaching selaras dengan Sistem Among sebagai salah satu pendekatan yang memiliki
kekuatan untuk menuntun kekuatan kodrat anak (murid). Dalam penerapannya menciptakan ARTI
(Apresiasi, Rencana, Tulus, Inkuiri). ARTI harus dipegang erat oleh guru dalam melakukan pendampingan
terhadap murid.
Perbedaan Konseling, Mentoring, dan Coaching
Untuk memudahkan pemahaman kita, maka akan dijelaskan menggunakan analogi belajar
mengemudi mobil.
Ibu Fina Pernah mengalami kecelakaan, sehingga trauma untuk mengemudi mobil. Bapak Haris
menggali pengalaman Ibu Fina di masa lalu tentang kecelakaan mobil yang pernah dialaminya. Tindakan
ini dinamakan Konseling. Bapak Haris berbagi pengalaman cara-cara yang aman untuk mengemudi.
Tindakan ini dinamakan Mentoring. Bapak Haris mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk menggali
kemampuan Ibu Fina dalam mengemudi. Tindakan ini dinamakan Coaching.
Kata-kata kunci untuk membedakan Konselor, Mentor, dan Coach, yaitu:
1. Konselor akan membantu menyelesaikan masalah klien.
2. Mentor akan memberikan tips berdasarkan pengalamannya kepada mentee
3. Coach akan mendorong Coachee menyelesaikan masalahnya sendiri.
Ringkasan Eksplorasi Konsep Modul 2.3 | Coaching untuk Supervisi Akademik | CGP A6 | 4
Untuk lebih jelas memahami perbedaan antara konseling, mentoring, dan coaching, dapat melihat
tabel berikut!
No. Aspek Coaching Mentoring Konseling
1 Tujuan Menuntun coachee untuk Membagikan Membangung konslee
menemukan ide baru atau pengalamannya untuk dalam memecahkan
cara untuk mengatasi membantu mentee permasalahan yang
tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan dihadapinya dan
atau mencapai tujuan yang dirinya. memberikan solusi
dikehendakinya. terhadap masalah
tersebut.
2 Koneksi Membangun kemitraan yang Hubungan antara Hubungan antara seorang
setara dengan coachee seseorang yang ahli dan seseorang yang
sehingga dapat mengambil berpengalaman dan membutuhkan
keputusannya sendiri. yang kurang bantuannya. Konselor
berpengalaman. Mentor bisa langsung
langsung memberikan memberikan solusi.
tips bagaimana
menyelesaikan suatu
masalah atau mencapai
sesuatu.
Sebagai seorang guru, untuk menghadapi murid diharapkan dapat berperan sebagai konselor,
mentor, dan Coach berdasarkan situasi dan kondisi yang sesuai.
Komunikasi yang Memberdayakan
Komunikasi adalah tentang diri kita, berawal dari dalam kita dan melalui kita. 4 unsur utama
yang mendasari prinsip komunikasi yang memberdayakan, yaitu:
1. Hubungan saling mempercayai
2. Menggunakan data yang benar
3. Bertujuan untuk menuntun para pihak untuk optimalisasi potensinya
4. Rencana tindak lanjut atau aksi
Sementara ada 4 aspek berkomunikasi yang perlu kita pahami dan kita latih untuk mendukung
praktik Coaching, yaitu:
1. Komunikasi asertif
Memahami tipe komunikasi akan membantu kita membawa percakapan menjadi efektif
dan memberdayakan.
Terdapat tipe Komunikasi Agresif, yaitu orang yang dominan dan mau menang sendiri,
pendapatnya harus didengar dan ditanggapi serta mendominasi pembicaraan. Umumnya
komunikator agresif ditunjukkan oleh seorang pimpinan.
Ringkasan Eksplorasi Konsep Modul 2.3 | Coaching untuk Supervisi Akademik | CGP A6 | 5
Terdapat juga tipe komunikasi pasif, yaitu orang yang cenderung diam, kurang
berekspresi, dan tidak mau menyuarakan apa yang dirasakan. Mereka akan menerima keputusan
mayoritas.
Yang ketiga, tipe komunikator Asertif yaitu mampu memadukan gaya agresif dan pasif
secara tepat manfaat. Pada tipe ini ada kepercayaan diri dan melihat adanya kesamaan hak dalam
menyampaikan pendapat. Tipe komunikasi asertif kita dapat menyatakan apa yang menjadi
kebutuhan kita, tanpa merusak relasi dengan orang lain. Seorang guru sangat penting menjadi
seorang komunikator yang asertif.
Dalam usaha membangun keselarasan berkomunikasi, seorang coach juga perlu belajar
menyamakan posisi diri pada saat coaching berlangsung. Beberapa tips singkat yang dapat
seorang coach lakukan, yaitu:
a. Menyamakan kata kunci
b. Menyamakan bahasa tubuh
c. Menyelaraskan emosi
2. Pendengar aktif
Mendengarkan adalah bagian dari proses komunikasi yang akan membangun relasi kita
dengan orang lain. Untuk itu kita perlu fokus untuk mendengarkan lawan bicara kita, salah
satunya dengan tetap memandang wajah lawan bicara kita. Terdapat 5 teknik menjadi pendengar
aktif, yaitu: 1) Memberikan perhatian penuh pada lawan bicara kita dalam menyampaikan pesan;
2) Tunjukkan bahwa kita mendengarkan; 3) Menanggapi perasaan dengan tepat; 4) Parafrase;
dan 5) Bertanya.
Ringkasan Eksplorasi Konsep Modul 2.3 | Coaching untuk Supervisi Akademik | CGP A6 | 6
3. Bertanya efektif
Manfaat bertanya efektif, yaitu:
a. Membantu lawan bicara untuk menstimulasi pemikirannya;
b. Memberikan perspektif yang lebih luas;
c. Menghasilkan pemahaman yang mendalam;
d. Memberdayakan potensi lawan bicara dalam menganalisa topik yang ada; dan
e. Memotivasi diri dalam mengambil keputusan.
Terdapat 6 jenis pertanyaan yang akan membantu seorang coach dalam menggali Coachee, yaitu:
a. Pertanyaan terbuka, untuk mengeksplorasi pemikiran atau jawaban secara lebih luas.
contoh: Coba ceritakan hambatan yang kamu hadapi? Mengapa kamu berpikir demikian?
b. Pertanyaan berfokus pada tujuan, untuk mengarahkan coachee pada asil akhir diskusi
untuk mencapai solusi. Contoh: apa hasil akhir yang kamu harapkan? apa makna sebuah
kesuksesan bagimu?
c. Pertanyaan Reflektif, mengulang kembali sebagian dari bahan diskusi. Lawan bicara akan
merasa didengarkan. Contoh: Dari proses kerjasama dnegan teman-teman, apakah ada
hal-hal yang merupakan proses bersama? Bagaimana hasil analisa kelemahan dan
kekuatan rancangan program yang telah kamu buat?
d. Pertanyaan Eksplorasi, untuk menggali lebih lanjut untuk mengeluarkan potensi atau ide
Coachee. Contoh: Dari semua pilihan yang ada, apa yang berbeda dari sebelumnya? Masih
adakah yang belum kamu ungkapkan?
e. Pertanyaan yang mengukur pemahaman, bertujuan agar lawan bicara memahami situasi
yang dihadapi. Contoh: Apa yang sudah kamu pahami sejauh ini tentang hal tersebut?
Persepsimu tentang lingkungan kerjamu saat ini seperti apa?
f. Pertanyaan Aksi, mendorong Coachee untuk menentukan langkah maju yang sudah
ditunjukan dalam langkah nyata yang relevan. Contoh: Kriteria keberhasilan saat ini apa?
Komitmen untuk melakukan ini bagaimana?
Terdapat 2 bentuk pertanyaan yang perlu dihindari dalam proses Coaching, yaitu:
a. Pertanyaan tertutup, pertanyaan yang jawabannya ya atau tidak atau hanya 1 kata.
Contoh: Apakah kamu akan melanjutkan ke Universitas Negeri?
b. Pertanyaan yang mengarahkan, yaitu seperti menyiratkan jawaban dari Coachee kita.
Contoh: sepertinya kita perlu mendiskusikan jadwal pelaksanaan kegiatan sosial yang
telah kamu rancang.
4. Umpan balik positif
Umpan balik dalam Coaching bertujuan untuk membangun potensi coachee dan
menginspirasi mereka untuk berkarya.
Terdapat beberapa cara dalam menyampaikan umpan balik, yaitu:
Ringkasan Eksplorasi Konsep Modul 2.3 | Coaching untuk Supervisi Akademik | CGP A6 | 7
a. Langsung diberikan saat komunikasi;
b. spesifik-fokus pada apa yang dikatakan;
c. faktor emosi-mengikutsertakan emosi yang dirasakan; dan
d. Apresiasi-menyertakan motivasi positif.
Coaching merupakan sebuah kegiatan komunikasi pemberdayaan yang bertujuan untuk
membantu para coachee dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya untuk mencari solusi dari
permasalahan yang dihadapi agar hidupnya menjadi lebih efektif. Kemampuan berkomunikasi menjadi
kunci dari proses coaching karena pendekatan dan teknik yang dilakukan dalam coaching merupakan
proses mendorong dari belakang sehingga coachee dapat menemukan jawaban dari apa yang dia
temukan sendiri, bukan dengan diarahkan atau digurui.
TIRTA
TIRTA singkatan dari:
1. Tujuan
Tujuan umum merupakan tujuan yang disepakati oleh coach dan coachee sebelum coaching
dilakukan (idealnya tujuan ini datang dari coachee). Hal yang dapat ditanyakan coach:
a. Apa rencana pertemuan ini?
b. Apa tujuannya?
c. Apa tujuan dari pertemuan ini?
d. Apa definisi tujuan akhir yang diketahui?
e. Apakah ukuran keberhasilan pertemuan ini?
2. Identifikasi
Coach melakukan penggalian dan pemetaan situasi yang sedang dibicarakan, dan
menghubungkan dengan fakta-fakta yang ada pada sesi. Adapun hal-hal nyang dapat ditanyakan,
yaitu:
a. Kesempatan apa yang kamu miliki sekarang?
b. Dari skala 1 hingga 10, dimana kamu sekarang dalam pencapaian tujuan kamu?
c. Apa kekuatan kamu dalam mencapai tujuan
d. Peluang/kemungkinan apa yang bisa kamu ambil?
e. Apa hambatan atau gangguan yang dapat menghalangi kamu dalam meraih tujuan?
f. Apa solusinya?
3. Rencana Aksi
Pengembangan ide atau alternatif solusi yang akan dibuat. Coach dapat bertanya:
a. Apa rencana kamu dalam mencapai tujuan?
b. Adakah prioritas?
c. Apa strategi untuk itu?
Ringkasan Eksplorasi Konsep Modul 2.3 | Coaching untuk Supervisi Akademik | CGP A6 | 8
d. Bagaimana jangka waktunya?
e. Apa ukuran keberhasilan rencana aksi kamu?
f. Bagaimana cara kamu mengantisipasi gangguan?
4. Tanggung Jawab
Membuat komitmen atas hasil yang dicapai dan langkah selanjutnya. Hal yang dapat ditanyakan:
a. Apa komitmen kamu terhadap rencana aksi?
b. Siapa dan apa yang dapat membantu kamu dalam menjaga komitmen?
c. Bagaimana dengan tindak lanjut dari sesi coaching ini?
Dari segi bahasa, Tirta berarti air. Kita ibaratkan murid kita seperti air, yang bebas mengalir lepas
hingga ke hilir potensinya. Tugas guru adalah menjaga air agar tetap mengalir tanpa hambatan.
Ringkasan Eksplorasi Konsep Modul 2.3 | Coaching untuk Supervisi Akademik | CGP A6 | 9
Siklus Supervisi Akademik
Siklus dalam supervisi klinis pada umumnya meliputi 3 tahap yakni Pra-observasi, Observasi dan
Pasca-observasi. Pra-observasi Pertemuan pra-observasi ini merupakan percakapan yang membangun
hubungan antara guru dan supervisor sebagai mitra dalam pengembangan kompetensi diri Observasi
Aktivitas kunjungan kelas yang dilakukan oleh supervisor Pasca-observasi Percakapan supervisor dan
guru terkait hasil data observasi, menganalisis data, umpan balik dan rencana pengembangan
kompetensi. Proses percakapan bersifat reflektif dan bertujuan perbaikan ke depan.
Percakapan Pra-observasi
Ada alasan penting mengapa percakapan dengan guru sebelum kegiatan observasi kelas
dibutuhkan. Pertama, percakapan awal ini membangun kepercayaan dari guru kepada pimpinan sekolah
sebagai supervisor yang profesional karena merencanakan kegiatan ini dengan baik. Kedua, percakapan
awal memberikan perasaan tenang mengenai tujuan dari rangkaian supervisi klinis. Supervisor
menempatkan diri sebagai mitra atau rekan seperjalanan mereka dalam pengembangan diri. Ketiga,
kesepakatan yang dihasilkan pada tahap ini mengenai aspek-aspek pengembangan yang akan diobservasi
memberikan rasa percaya diri dan motivasi internal karena guru merasakan keterlibatan aktif dalam
proses. Guru diberikan kesempatan untuk menyampaikan rancangan pembelajaran dan apa yang menjadi
target pengembangan untuk diobservasi.
Percakapan pra-observasi ini biasanya berlangsung singkat sekitar 15 sampai 20 menit. Dengan
menggunakan percakapan coaching untuk perencanaan, supervisor dapat mencatat apa yang menjadi
sasaran pengembangan guru dan menginformasikan kepada guru prosedur supervisi klinis ini. 1.
Supervisor menyampaikan tujuan besar supervisi dan tujuan dari percakapan awal. 2. Guru
menyampaikan rancangan pelaksanaan pembelajaran dan menginformasikan aspek perkembangan yang
hendak diobservasi 3. Supervisor dan guru menyepakati sasaran observasi, waktu kunjungan kelas dan
waktu percakapan pasca-observasi 4. Supervisor menginformasikan bahwa ia akan mencatat kegiatan
pembelajaran yang dilakukan guru di kelas
Observasi
Observasi adalah aktivitas pengamatan oleh supervisor pada saat guru melaksanakan
pembelajaran di kelas. Tujuan utama tahap ini adalah mengambil data atau informasi secara obyektif
mengenai aspek pengembangan yang sudah disepakati. Motif pelaksanaan observasi kelas ini harus
berawal dari kebutuhan pembelajaran murid dan kebutuhan pengembangan potensi guru serta
pemahaman bahwa observasi ini dilakukan supervisor bersama-sama dengan guru.
Ringkasan Eksplorasi Konsep Modul 2.3 | Coaching untuk Supervisi Akademik | CGP A6 | 10
Percakapan Pasca-observasi
Dalam proses percakapan pasca-observasi ini, supervisor dan guru secara bersama memahami
tujuan percakapan dan saling percaya akan tahapan kegiatan yang berlangsung. Percakapan pasca-
observasi idealnya berisikan aktivitas sebagaimana berikut ini:
1. Tujuan percakapan: analisis hasil data observasi;
2. Percakapan umpan balik;
3. Percakapan perencanaan area pengembangan; dan
4. Rencana aksi pengembangan diri.
Tindak lanjut
Supervisi Kegiatan supervisi akademik tidaklah berhenti saat rangkaian supervisi klinis selesai.
Dengan prinsip berkesinambungan dan memberdayakan, seorang supervisor meneruskan hasil dari
tahapan pelaksanaan supervisi akademis dan klinis sebagai pijakan lanjutan bagi proses tindak lanjut
yang meliputi refleksi, perencanaan pengembangan diri dan pengembangan proses pembelajaran.
Kegiatan tindak lanjut dapat berupa kegiatan langsung atau tidak langsung seperti percakapan coaching,
kegiatan kelompok kerja guru di sekolah, fasilitasi dan diskusi, serta kegiatan lainnya dimana para guru
belajar dan memiliki ruang pengembangan diri lewat berbagai kegiatan. Semua kegiatan ini dapat
dilakukan secara berkala sesuai kebutuhan pengembangan diri untuk meningkatkan kompetensi.
Kepala Sekolah sebagai seorang Coach
Dalam menjalankan peran sebagai kepala sekolah dan supervisor dilema yang dialami Pak
Lukman sering kali terjadi. Dapatkah seorang pemimpin dapat menjadi seorang evaluator atau penilai
dan coach dalam menjalankan perannya? Jawabannya, Ya. Carl Glickman (1985) dari Universitas Georgia
menemukan jawaban dari dilema ini. Glickman mengatakan bahwa hal ini mungkin terjadi jika:
1. Adanya rasa percaya dalam hubungan supervisor dan guru serta dalam proses supervisi
akademik ini ;
2. Guru menyadari dan memahami peran yang sedang ditunjukkan oleh kepala sekolah; dan
3. Peran kepala sekolah tulus dan disesuaikan dengan kebutuhan yang ada. Ketika sedang
melakukan percakapan coaching, maka perilaku seorang coach-lah yang ditampilkan.
Umpan Balik Positif
Umpan balik dalam coaching bertujuan untuk membangun potensi yang ada pada coachee dan
menginspirasi mereka untuk berkarya. Coachee memaknai umpan balik yang disampaikan sebagai
refleksi dan pengembangan diri. Secara khusus diberikan pada coachee ketika dalam process coaching,
ada hal-hal yang tidak terduga muncul atau hasil dari coaching ini berbeda dari yang coachee pikirkan.
Dorongan positif diperlukan agar coachee meneruskan hasil coaching ini sampai pada tahap aksi. Bentuk
umpan balik dapat disampaikan dalam beberapa cara dengan aspek-aspek berikut (Pramudianto, 2015):
Ringkasan Eksplorasi Konsep Modul 2.3 | Coaching untuk Supervisi Akademik | CGP A6 | 11
1. Langsung diberikan saat komunikasi.
Contoh: “Wah bagus ucapanmu yang baru saja kamu sampaikan.”
2. Spesifik – fokus pada apa yang dikatakan
Contoh: “Hal ini sepertinya belum diungkapkan sebelumnya. Ayo kita coba bicarakan hal ini lebih
lagi. Ini dapat menjadi alternatif lain untukmu.”
3. Faktor emosi – mengikutsertakan emosi yang dirasakan
Contoh: “Ah.. saya ikut gembira mendengar pencapaian mu dalam kerja kelompok kemarin.”
“Situasimu terdengar sulit. Mari perlahan kita bicarakan agar kamu bisa mendapatkan alternatif
dari situasi ini.”
4. Apresiasi – menyertakan motivasi positif
Contoh: “Kamu bisa Nak. Kamu pasti bisa menjalankan komitmenmu. Kamu sudah berjalan sejauh
ini, dengan perencanaan yang lebih baik, kamu dapat menyelesaikan tantangan ini.”
Kontak Person/ Sosial Media:
1. Masukan, saran, dan kritik konstruktif sangat diharapkan untuk perbaikan di masa mendatang.
2. Penulis dengan senang hati menjalin tali persaudaraan. Membuka ruang selebar-lebarnya dalam
berdiskusi, berkolaborasi, berbagi pengalaman serta praktik baik dalam transformasi pendidikan
di Indonesia.
Ringkasan Eksplorasi Konsep Modul 2.3 | Coaching untuk Supervisi Akademik | CGP A6 | 12