MODUL 10
INTEGRASI IMAN DAN ILMU
A. Pendahuluan
Integrasi dapat
didefinisikan dengan
berbagai cara. Dalam
menangani pendidikan,
sains dan masalah-
masalah keimanan,
integrasi dapat
diartikan sebagai
menyatukan bidang-
bidang kajian ini
menjadi satu kesatuan
yang utuh di bawah
payung Alkitab. Karena studi tentang sains
dan asal-usul bersifat multidisiplin, proses
integrasi yang disarankan ini
memungkinkan tercampurnya ide-ide dari
banyak disiplin ilmu yang berbeda.
Hal ini mendorong pemikiran untuk
berkembang melampaui fokus sempit yang
ditemukan di banyak disiplin ilmu saat ini.
Karena Tuhan tidak menciptakan dunia
dengan cara yang terkotak-kotak,
seseorang harus memiliki setidaknya beberapa pengetahuan dalam
banyak disiplin ilmu untuk mensintesiskan gambaran besar dunia
(https://www.youtube.com/watch?v=6cvDF6_r6PA)
1. Deskripsi Materi
Mata Kuliah Pendidikan Agama Kristen di Perguruan Tinggi
penting bagi mahasiswa agar dapat mengintegrasikan ide, konsep,
dan prinsip dari pendidikan, sains dan keimanan. Misalnya, seorang
mahasiswa diajar dan dilatih menjadi guru Biologi, atau jurusan Ilmu
Hukum untuk menjadi Lawyer; atau Bidang Kedokteran untuk
menjadi seorang dokter. Maka penting bagi mahasiwa/I di Universitas
Kristen Indonesia untuk mengintegrasikan dan menerapkan
keilmuan dan keimanannya dalam praksis.
2. Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) Modul 10
1) Mahasiswa mengetahui tentang Worldview Iman Kristen
2) Mahasiswa mengetahui Hubungan Iman Kristen dan Ilmu
3) Mahasiswa mengetahui Model-model Hubungan Iman dan Ilmu
3. Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) Modul 10
1) Mahasiswa menguasai dan memahami Worldview Iman Kristen
2) Mahasiswa menguasai dan memahami Hubungan Iman Kristen
dan Ilmu
3) Mahasiswa memahami dan menganalisis Model-model
Hubungan Iman dan Ilmu.
4. Prasyarat Kompetensi: tidak ada (bisa dipertimbangkan oleh Tim
Editor buku BMP)
5. Kegunaan modul
Mahasiswa mengetahui tentang Worldview Iman Kristen, Hubungan
Iman Kristen dan Ilmu, Model-model Hubungan Iman dan Ilmu. Pada
akhirnya mahasiswa dapat menunjukkannya dalam konsep,
keyakinan, komitmen, dan tindakan.
6. Materi Pokok dan Materi Sub Pokok
1) Worldview Iman Kristen
2) Hubungan Iman Kristen dan Ilmu
3) Model-model Hubungan Iman dan Ilmu
B. Kegiatan Pembelajaran
1. Judul Kegiatan Pembelajaran Modul 10: Integrasi Iman dan Ilmu
2. Kemampuan Akhir (KA) dan Sub Kemampuan Akhir
1) Mahasiswa menguasai dan memahami Worldview Iman Kristen
2) Mahasiswa menguasai dan memahami Hubungan Iman Kristen
dan Ilmu
3) Mahasiswa menguasai dan memahami Model-model Hubungan
Iman dan Ilmu
3. Uraian, Contoh Ilustrasi
1) Uraian
(1) Manusia: Iman dan Akal (nya)
Allah dan Manusia merupakan dua entitas yang berbeda dalam
eksistensi. Allah – kekal, tak terbatas. Manusia – tidak kekal (tapi masuk
dalam kekekalan), terbatas. Keterbatasan manusia mengharuskannya
mengikatkan diri (religare) dengan Allah dan menyatu dengan Allah
(manunggaling).
Kedua entitas ini (Allah dan manusia) juga merupakan dua
paradoks, yang satu tak terbatas (Allah), dan yang lain terbatas
(manusia). Yang satu mutlak, yang lain tidak mutlak. Meskipun
demikian, keduanya tidak saling bertentangan (diversuskan), melainkan
saling mengandaikan. Yang terbatas tidak mungkin dipahami tanpa
yang tak terbatas. Demikian sebaliknya. Sebab, hanya satu makhluk
yang sadar tentang Allah, yakni manusia. Dan hanya ada satu pribadi
yang dapat menciptakan manusia, yaitu Allah. Kita tidak dapat
membuat pengandaian lagi sebab semua sudah dalam realitas (ada
dalam kenyataan) menjadi manusia dan finit dalam menjadi Allah.
Sebelum segala sesuatu tercipta, Ia telah finish dalam menjadi Allah.
Manusia? Sebagai Das Problema Des Menschen dan sebagai animal
rationale/ logos anthropos. Manusia, ada yang menyebutnya sebagai
makhluk yang bertanya. Mulai dari kehidupannya sendiri, hingga
pribadi yang Maha, tidak luput dari pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan
tersebut, tentu sebagai jalan bagi perolahan pengetahuan untuk
memenuhi keingintahuannya. Sebab manusia adalah makhluk rasional,
homo est animal rationale.
Manusia mempertanyakan tentang Tuhan, kehidupan, dan sesudah
kehidupan. Dalam lingkup manusia sebagai problem (kata Buber),
manusia kemudian merefleksi diri dan menemukan diri sebagai
makhluk yang bergantung pada ratio sui (peletak dasar) dan causa sui
(penyebab utama) atau Causa Prima (penyebab tunggal). Di dalam
merefleksi diri, manusia sadar akan diri dan eksistensinya tentang suatu
“situasi” yakni “kehidupan sesudah kematian”. Atau hal-hal apa saja
yang akan terjadi kelak.
Atribut rasio yang ada pada
manusia, merupakan bukti
MANUSIA rasionalitas manusia. Rasionalitas
ADALAH inilah yang memungkin kita untuk
berpikir tentang Tuhan. Dalam ilmu
SUBSTANSI filsafat, khususnya filsafat Ketuhanan,
yang juga merupakan ilmu. ”Melalui
INDIVIDUAL ilmu manusia memastikan, menata
DENGAN
KODRAT
RASIONAL
dan mengembangkan pengetahuannya secara objektif dan sistematik.
Filsafat Ketuhanan memikirkan apa yang berkaitan dengan ”Tuhan”
secara objektif dan sistematik.”1
Manusia, sedang berjalan menuju suatu kehidupan yang to apeiron (
Anaximadros) atau berjalan dalam kenyataan menuju kosmos noe’tos
(dunia yang tidak kelihatan) namun real ketika mengalami thanatos.
Manusia? Kehadiran manusia dalam dunia merupakan suatu
“modus ada”. Sehingga dengan memahami dan mengerti manusia
sebagai “modus ada” merupakan suatu langkah maju dalam
pemenuhan syarat bagi basis ontologi. Manusia merupakan suatu
realitas “ada” bahkan sebagai orientasi kepada metafisika. Selain
manusia sebagai “ada” maka di tengah-tengah manusia sebagai “ada”
maka ada “ada-ada” yang lain. Untuk membuka simpul “ada-ada”
tersebut atau untuk mendapatkan jawaban mengenai “ada-ada”
tersebut, manusia sebagai “ada” yang representatif dalam memberikan
jawaban. Bahkan “ada-ada” tersebut diberi predikat oleh manusia atau
diberi makna dan nilai oleh manusia.
Ernest Cassirer berkata manusia adalah animal simbolikum artinya
manusia ialah binatang yang mengenal imbol, misalnya adat-istiadat,
kepercayaan dan bahasa. Inilah kelebihan manusia jika dibandingkan
dengan makhluk lainnya. Itulah sebabnya manusia dapat
mengembangkan dirinya jauh lebih hebat daripada binatang yang hanya
1 Franz Magnis Suseno, Menalar Tuhan (Yogyakarta: Kanisius, 2007), 18.
Ada tiga jalan menuju ke mengenal tanda dan bukan simbol.
kepercayaan akan Allah: Sedangkan Aristoteles menyebut manusia
Akal, kebiasaan dan wahyu. sebagai animal rationale artinya manusia ialah
binatang yang mempunyai rasio, zoon
Blaise Pascal
politikon, dan ”makhluk hylemorfik”, artinya
makhluk yang terdiri dari materi dan
bentuk-bentuk. Dalam keberadaannya atau eksistensinya, manusia
sebagai modus ada menerima makna dari “Ada khusus” dan sebaliknya
manusialah yang bertanya tentang “Ada khusus” itu. Kecukupan
manusia sebagai “ada” memungkinkan untuk mengetahui,
menerangkan dan mendeskripsikan “ada yang lain” bahkan dirinya.
Karena itu, hanya ada satu makhluk rasional (rasionalitas menjadi ciri
mutlak dari manusia dan membedakannya dari binatang. Rasionalitas
hanya melekat pada manusia) yang sadar sepenuhnya tentang pribadi
yang Maha itu yakni manusia. Ke-sadar-an itu, menempatkan manusia
berada di atas ciptaan yang lain, sebagai yang unik dan berbeda. Keunikan
dan keberbedaan itu juga terletak pada kemampuan sadar, penarikan
distansi, dan pemberian makna kepada dunia infrahuman.
Kemampuan rasional juga yang memungkinkan manusia sadar
tentang pencipta-Nya. Semua itu, merupakan latar belakang dari
penempatan potensi-potensi ilahi (potensia dari kata Latin poten = dapat dan
esse = berada, ada. Potentia berarti memiliki daya atau kemampuan
menjalankan daya. Daya ini dipahami berkaitan dengan daya untuk
memerintah, membuat (ingat kemampuan manusia membuat barang-
barang hightech, dll) tatkala manusia diciptakan oleh Allah. Pikirkan dan
renungkan teks Mazmur 8:4-6 “Apakah manusia, sehingga Engkau
mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau
mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama
seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.
Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya
telah Kauletakkan di bawah kakinya:
Kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang
di padang; - ayat 7
Burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi
arus lautan – ayat 8).
Dalam kemahaan-Nya, Ia turun dan menjangkau manusia atau
menghampiri manusia. Manusia dalam keterbatasannya menerima dan
mengakui-Nya sebagai yang Mahakuasa, karena mengatasi kuasa-kuasa
dunia. Dalam tindakan penjangkauan Allah, Allah menginginkan
seluruh yang baik, yang dipunyainya diberikan kepada manusia.
Meskipun demikian, manusia dalam batas-batas cakrawalanya,
mengambil distansi atau jarak terhadap Allah sehingga manusia
menyadari diri lemah, tidak mampu, dan tak berdaya. Dalam kesadaran
ini juga, manusia membuat keputusan untuk mengikatkan diri.
Manusia adalah makhluk bertanya, apa pun yang berhadapan
dengannya dipertanyakannya. Mengapa ia bertanya? Karena manusia
butuh pengetahuan, dan dengan pengetahuannya manusia dapat
bertindak. Manusia itu terbatas, namun dalam cakrawalanya ia tak
terbatas. Pertanyaan yang diajukannya untuk memenuhi kebutuhan
tahunya dan selalu dalam bertanya agar mengetahui dengan lebih benar
lagi. Tak pelak, Tuhan pun masuk dalam hal yang dipertanyakan
manusia. Baik manusia bertuhan ataupun tak bertuhan hingga para
filsuf. Pertanyaan dan pemikiran filosofis tentang disebut Filsafat
Ketuhanan. Filsafat Ketuhanan memikirkan tentang Tuhan secara
objektif, sistematik, dan mendasar. Namun sekali lagi, dapatkah nalar
manusia mencapai tahu yang sepenuhnya tentang Tuhan?
Kalau di abad pertengahan, kajian filosofis tentang Tuhan menjadi
hal yang sangat penting. Namun sejak masa aufklarung (abad 17 dan 18),
filsafat semakin kritis terhadap agama, terutama oleh rasionalisme dan
positivisme. Filsafat Ketuhanan, bukan hanya disingkirkan dalam
kajian-kajian filsafati melainkan Tuhan pun tidak dipikirkan dengan
berbagai argumentasi. Kajian-kajian ketuhanan filosofis beralih menjadi
kajian antropologis. Mengapa?
➢ Karena filsafat tidak meminati lagi Tuhan. Tuhan bukan lagi menjadi
objek pengetahuan manusia. Imanuel Kant2 berkata bahwa hanya
ada tiga argumentasi tentang Tuhan: ontologism, kosmologis, dan
teleologis. Baginya ada persoalan dengan ketiga argumentasi itu.
Ontologis, Tuhan hanyalah sebuah definisi belaka. Sebab jika kita
2Critique of Pure Reason, dikutip kembali oleh Colin Brown dalam Filsafat dan Iman
Kristen (Surabaya: LRII, 2007), 135.
berkata Tuhan ada maka sama seperti definisi sebuah segitiga yang
mempunyai tiga sudut. Selanjutnya bahwa jika kita berbicara
mengenai Allah sebagai pribadi yang absolute kemudian mengklaim
keberadaanNya yang tercakup dalam definisi itu, maka Kant
mempertanyakan apakah kita sedang membuat pernyataan analitis
atau sisntetis. Kosmologis, jika sesuatu ada maka suatu pribadi yang
mutlak harus ada.
➢ Munculnya sikap fideisme dan fundamentalisme. Kaum fideis menolak
pemikiran rasional tentang Tuhan. Sebab kepercayaan kepada
Tuhan merupakan masalah iman. Bahkan iman melampaui nalar
karena nalar tidak mencapai Tuhan. Kebenaran metafisik, moral dan
religius tidak dapat dimasuki oleh rasio. Artinya akal harus tunduk
pada iman, fides procedit intellectum. Tentang fundamentalisme; ada
dua fundamentalisme, pertama fundamentalisme agama yang telah
mengkristal dalam New Age dengan visi baru, yakni “kembali ke
mistik Timur”.3 Kedua, fundamentalisme rasio dengan visi “kembali
ke masa aufklarung”.4 Visi fundamentalisme rasio dikarenakan
ketidakpuasannya terhadap sifat modernitas yang serba relatif.
Bila demikian, tertutupkah jalan pertanggungjawaban iman secara
rasional? Romo Magnis5 berkata iman dapat dipertanggungjawabkan
secara rasional dalam dua arti:
Pertama, secara teologis. Iman dapat di pertanggungjawabkan
apabila dapat ditunjuk bahwa apa yang diimani, serta kehidupan yang
dijalani berdasarkan iman itu.
Kedua, secara filosofis. Yang mau ditunjukkan dalam
pertanggungjawaban filosofis adalah rasionalitas iman itu, dan
dilakukan dengan memakai nalar. Nalar dapat memeriksa suatu
keyakinan atau ajaran agama dari beberapa sudut. Misalnya, dari:
Konsistensi logis. Apakah ada pertentangan antara ajaran-ajaran itu
dengan Pengetahuan dunia dan masyarakat. Apakah penciptaan dapat
dipertanggungjawabkan dari sudut pandang pengetahuan ilmu-ilmu
alam tentang alam raya.
3 Hipolitus K. Kewuel, Allah dalam Dunia Postmodern (Malang: Dioma, 2008), 91.
4 Ibid., 91.
5 Suseno, Menalar Tuhan, 21-24.
Lebih jauh Romo Magnis menjelaskan bahwa filsafat ketuhanan
sebagai filsafat tidak mendasarkan diri pada ajaran agama tertentu
melainkan bertanya apa yang secara nalar dapat dikatakan tentang iman
itu. Filsafat agama juga tidak membicarakan seluruh iman kepercayaan
suatu agama melainkan hanya inti keyakinan iman bahwa ada Tuhan.
Ruang lingkup filsafat ketuhanan hanyalah pada batas adanya Tuhan
dipertanggungjawabkan secara rasional.
(2) Integrasi Iman dan Ilmu
Membaca iman dan akal, berpikir dan merasa, sepertinya
menghadirkan nuansa yang sangat ’dikotomistik’, apalagi bila para
pembaca adalah, kaum awam yang masih terbatas dalam ’lingkup
bacaannya’ berkaitan dengan pokok dimaksud. Dugaan itu muncul
ketika menyebut atau menuliskan istilah ’iman’ berbarengan atau
bergandengan (maksudnya yang satu mendahului yang lain) dengan
akal; berpikir dan merasa. Bahwa tidak ada hubungan antara iman dan
akal, berpikir dan merasa; ’iman ya iman’, ’akal ya akal’ atau ’berpikir ya
berpikir’ atau ’merasa ya merasa’. Bahkan tidak hanya menyangkut
ketakberhubungan kedua istilah ini tetapi juga diversuskan atau
dipertentangkan sehingga bertentangan.
Ketakberhubungan ini bahkan pemversusan istilah iman dan akal
sering dipahami, kurang lebih seperti ini, pertama, iman selalu
dihubungkan dengan ’hal-hal yang di atas” atau ’yang adikodrati’
sedangkan akal dipertalikan dengan ’hal-hal yang di bawah” yang non-
adikodrati. Kedua, bahwa akal adalah ’pengganggu’ ’iman’. Sebab
’terlalu’ sering menggunakan akal dianggap tidak beriman atau afideistik
dan jatuh kepada paham rasionalisme. Memisahkan antara wilayah iman
dan wilayah akal.
Sikap-sikap seperti ini, sebenarnya tidak berdasar pada akal sehat
iman, atau iman yang tidak proporsional. Kedua istilah ini, seolah-olah
saling menutup ’diri’ dalam pemahaman. Iman tidak memasuki ranah
akal dan akal tidak memasuki ranah iman; masing-masing dalam
wilayah kekuasaannya. Tapi sayang, kedua istilah dan boleh kita sebut
unsur, ada dalam satu makhluk, manusia. Makhluk yang satu ini
(manusia) mempertentangkan apa yang sesungguhnya ada dalam
dirinya, yang notabene kedua-duanya merupakan ’pemberian Allah’
dan boleh juga kita sebut ’anugerah Allah’. Untuk sementara, ada
dugaan bahwa, cara pandang demikian terhadap ”iman dan akal”
menunjukkan adanya problem di sekitar doktrin antropologi (manusia)
dari cara pandang tersebut. Problem tersebut berkaitan dengan cara
pandang terhadap manusia yang ”partial”, sebagian-sebagian. Bila kita
’mengiyakan’ bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan, maka secara
totalitas, baik unsur material manusia maupun non-materialnya adalah
dari Allah, dan dalam keserupaan dengan penciptanya. Sehingga
potensialitas akal dan potensialitas iman merupakan rujukkan kepada
adanya gambar Allah dalam diri manusia. ”Rasionalitas manusia
menggambarkan rasionalitas Penciptanya”.6 Hal ini tentu sejalan dengan
kehendak Allah dalam Ulangan 6:4,5) yang ditegaskan kembali dalam
Injil Matius 22:37 ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu
dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Jika
demikian, apakah iman dapat disatukan dengan akal budi? Bukankah
iman adalah hubungan manusia dengan Tuhan, sedangkan akal budi
adalah alat yang dipakai manusia untuk melakukan pekerjaan di dunia?
Bukankah orang yang mengikuti imannya kadang harus mengorbankan
akal budinya? “Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat
barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan
tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa
mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepadamu” (Kis 17: 23).
Banyak pemikiran yang memisahkan antara akal budi dan iman.
Iman seringkali dipikirkan sebagai sesuatu yang supra natural, diluar
akal sehat. Sehingga iman dan akal sehat dianggap sulit untuk berjalan
berdampingan. Pemikiran seperti ini bertentangan dengan perkataan
Yesus karena Yesus sendiri memerintahkan kita untuk mengasihi Allah
dengan segenap akal budi. Bagaimana bisa kita pahami agar iman dan
akal budi bisa selaras? Mengutip tulisan John Stott: Iman yang sejati
pada dasarnya masuk akal karena iman itu bersandar pada karakter dan
janji Allah. Iman adalah kepercayaan yang punya alasan, yakni
kepercayaan yang memperhitungkan secara cermat dan penuh
keyakinan bahwa Allah layak dipercaya. Dengan demikian beriman
6 Rick Cornish, 5 Menit Apologetika (Jakarta: Pionir Jaya, 2007), 25.
kepada Allah bukanlah hanya berdasarkan sesuatu yang tidak kita
pahami melainkan dengan penuh kesadaran dan pemahaman kita
mengambil keputusan untuk menyembah Allah kita.
(3) Integrasi Kritis dari Perspektif Kristen
Pendekatan untuk mengintegrasikan iman Kristen dan ilmu harus
dicirikan oleh integritas intelektual dan semangat. Ini tidak menyiratkan
bahwa non-Kristen tidak memiliki kualitas yang sama. Di sini
dinyatakan bahwa orang Kristen harus menunjukkan kualitas-kualitas
ini sebagai pembeda dari iman non-Kristen. Arthur Holmes7
menjelaskan, orang Kristen percaya bahwa dalam semua yang dia
lakukan baik secara intelektual, sosial atau artistik-seni, maka ia
memahami bahwa ia sedang menangani ciptaan Tuhan dan itu sakral
. . . para sarjana mencintai kebenaran dan itu menjadi ekspresi akan
cinta Tuhan, seperti cinta warga negara akan keadilan dalam masyarakat
bisa menjadi ekspresi ‘kelaparan’ akan kebenaran, atau kecintaan artis
untuk yang kreatifitas, dan/atau keindahan mengungkapkan cinta untuk
Sang Pencipta.
Kita harus menyadari bahwa beberapa disiplin ilmu mungkin
kurang terbuka secara langsung untuk pendekatan Kristen, seperti
dalam matematika dan ilmu fisika. Meskipun demikian, sikap orang
Kristen haruslah terbuka terhadap kemungkinan integrasi.
Integrasi menuntut agar orang Kristen mempertahankan penilaian
etis yang konstan dari pembelajarannya dalam terang etika Alkitab.
Namun, integrasi Kristen antara iman dan ilmu harus melampaui kata-
kata hampa yang tidak dapat diuji atau diterapkan sebagai tindakan
pribadi dan kebijakan sosial tertentu. Dengan kata lain, integrasi iman
dan ilmu bukan hanya dikonsepsikan melainkan diimplementasikan
dalam pemikiran, sikap, tindakan, dan keputusan dari para sarjana
(mahasiswa UKI). Tantangan bagi integrasi Kristen adalah
menghasilkan teori-teori yang bermanfaat untuk dapat diraih dan
diimplementasikan. Secara khusus, integrasi Kristen harus
menyarankan "teorema tengah" (Robert Merton) dan "aksioma
menengah" (JH Oldham) dalam penelitian sosial. Yang terakhir
7 Arthur F. Holmes, Contours of A Worldview (Eermans Publishings, 1987), 48.
memandu perumusan strategi Kristen di bidang kehidupan sosial
seperti pertanyaan tentang tujuan dan kualitas kerja, kriteria keadilan,
dan pendidikan.
Ada lima cara untuk menghubungkan iman Kristen dan ilmu:
“konflik, otonom, dialog, integrasi, dan transformasi”8
(Bnd.Manninen9).
a. Model Konflik (conflict)
Dalam model konflik, logika dan pengamatan (senses data) merupakan
kriteria pengetahuan. Materialisme ilmiah dianggap bertentangan
dengan doktrin Kristiani tentang penciptaan berdasarkan pembacaan
literal dari Alkitab dan bahwa manusia adalah makhluk spiritual.
Protagonis dari kedua sisi perdebatan antara sains dan Kristen
mungkin mengklaim bahwa mereka memiliki otoritas yang lebih
besar daripada saingan mereka. Konflik mencegah interaksi yang
berarti antara iman Kristen dan ilmu. Ini terbukti dalam berbagai
perselisihan Kristen dan ilmu, seperti, misalnya antara Galileo dengan
Paus (kasus heliosentris), dan antara evolusi dan penciptaan.
b. Model Otonom (independence)
Dalam model otonom atau independence, iman Kristen dan ilmu
berdiri sendiri-sendiri. Kedua bidang ini secara otonom atau terpisah
karena masing-masing memiliki domain penyelidikan dan metode
yang berbeda dan bertolak belakang untuk membenarkan klaim
kebenaran dengan persyaratannya sendiri. Dengan demikian, tidak
ada interaksi yang berarti antara iman Kristen dan ilmu. Ian Barbour
menyimpulkan, Pemisahan ke dalam bagian-bagian yang terpisah
atau otonom, dimotivasi tidak hanya oleh keinginan untuk
menghindari konflik yang tidak perlu, tetapi juga oleh keinginan
untuk setia pada karakter khas dari setiap bidang kehidupan dan
pemikiran dari kedua bidang kajian ini.
8 Ian G. Barbour, Religion in an Age of Science (Scotland: HarperCollins, 1990). Lihat
Bagian I: Religion in the Methods of Science.
9 Tuomas W. Manninen, Turning Barbour’s Model Inside Out: On Using Popular
Culture to Teach About Science and Religion, dalam Science and Religion in Education
(Switzerland: Springers, 2019), 19-32.
c. Model Dialog (dialogue)
Dialog melibatkan interaksi tidak langsung yang mencakup
pertanyaan batasan atau pertanyaan ontologis yang diajukan oleh
sains tetapi tidak dijawab dengan metode sains. Metode dan isi iman
Kristen dan ilmu berbagi poin penting berkaitan dengan kontak dan
korelasi untuk dieksplorasi. Para filsuf ilmu mengakui bahwa ilmu
bukanlah objektivitas murni. Data ilmiah sarat teori, tidak bebas teori;
penelitian dipandu oleh model konseptual kreatif dari realitas yang
membantu kita membayangkan apa yang tidak dapat diamati secara
langsung. Demikian pula, data agama yang diambil dari pengalaman
dan tafsir Kristiani terhadap Kitab Suci juga sarat dengan tafsir
konseptual berdasarkan model dan metafora bahasa. Baik teolog
maupun ilmuwan menggunakan kriteria koherensi, kelengkapan dan
hasil penelitian dalam penyelidikan mereka. Akhirnya, Dialog
hendaknya mengeksplorasi kemungkinan peran epistemologi dan
etika Kristen dalam sains dan efek pengetahuan ilmiah terhadap
doktrin dan pengalaman Kristen. Sebaliknya, dalam ranah praksis,
iman Kristen menjadi fondasi berpikir, bertindak, dan membuat
keputusan, baik secara personal maupun kolektif yang teringrasi
secara utuh dalam diri manusia (akademisi, ilmuwan, politisi, dll).
d. Model Integrasi (integration)
Barbour mencatat bahwa ada tiga versi integrasi berbeda yang
diadopsi oleh para teolog: (1) Teologi natural mengklaim bahwa
keberadaan Tuhan dapat disimpulkan dari kosmologi big bang dan
dari bukti-bukti desain di alam, yang mana sains telah membuat kita
lebih sadar. (2) Teologi tentang alam, dimulai dengan pengalaman
dan wahyu religius dan dengan pengetahuan yang kita peroleh dari
sains dan kemudian berusaha untuk menyelaraskannya. Teori ilmiah
dapat memengaruhi reformulasi doktrin tertentu, terutama doktrin
penciptaan dan sifat manusia. (3) Sebuah sintesis sistematis, akan
berusaha untuk menggabungkan data yang paling dapat diandalkan
dari sains dan agama dimana agama Kristen memberikan kontribusi
pandangan dunia yang koheren diuraikan dalam metafisika
komprehensif (Thomistik atau Filsafat Proses). Jelasnya, integrasi
adalah proses yang berkelanjutan.
Teori integrasi berupaya untuk memasukkan temuan akademis
sejauh dipandang konsisten dengan ajaran Alkitab. Para sarjana ini
bertujuan untuk menjunjung tinggi kepercayaan iman Kristen dan
profesional. Meski demikian, ada godaan yang kuat untuk
mengabaikan integritas temuan akademik melalui metode pemilahan
(memilah-milah). Di sisi lain, kesalahpahaman subjektif dari Kitab
Suci (eisegesis) tidak jarang terjadi ketika ayat-ayat Alkitab dibelokkan
untuk mendukung klaim bahwa temuan modern memang demikian,
meskipun agak tidak langsung ditemukan dalam Kitab Suci.
e. Model Transformasi (Transfomation)10
Kirk Farnsworth, seorang peneliti psikologi, menyarankan bahwa
integrasi iman Kristen dan ilmu harus kritis dan transformatif.
Misalnya, integrasi kritis harus melibatkan "proses pemeriksaan dari
perspektif Kristen tentang teori psikologis, penelitian, dan praktik,
dan asumsi yang mendasarinya; dan b) memasukkan teori psikologis,
temuan penelitian, dan prosedur aplikasi yang lulus tes dapat
digunakan. Proses tersebut dapat diekspresikan kembali sebagai
“kritik (dan kemungkinan koreksi), perbandingan, dan komitmen.
Fakta-fakta psikologis dan teologis yang sesuai adalah a) kritik
metodologi-hermeneutis dan mungkin dikoreksi melalui regenerasi
dan / atau analisis ulang data, b) dibandingkan satu sama lain untuk
derajat kesamaan, dan c) berkomitmen sebagai kebenaran untuk
kehidupan sendiri (untuk diri sendiri-self implementation).
Empat model integrasi iman Kristen dan ilmu menuntut respons dan
keputusan. Keputusan untuk memilih model integrasi yang ada
menunjukkan keyakinan seseorang atas imannya sekaligus menunjukan
sikap dalam memosisikan iman dan ilmu.
10 Kirik Farnsworth, Wholehearted Integration: Harmonizing Psychology and
Christianity Through Word Deed (Englan: Baker Book House, 1985), 72, 94.
Gbr. 01. Model Hubungan Ilmu dan Iman 11
Integrasi Kristen yang sejati menuntut tanggapan etis
Kristen. Pengetahuan bagi orang Kristen melampaui deskripsi
(paparan/gambaran) ke preskripsi (ketentuan/petunjuk). Di sini apa
yang disebut sebagai (suatu) konsep, bergerak (dari konsep ke) atau
berpindah ke keyakinan dan dari keyakinan ke komitmen untuk
bertindak.
Konsep Keyakinan Komitmen Tindakan
Gbr. 02. Proses Integrasi Ilmu dan Iman
Proses dialektis dari transformasi timbal balik iman dan
pengetahuan menekankan bahwa integrasi adalah proses yang sadar,
aktif dan bertujuan. Pencarian seorang Kristen akan pengetahuan dan
pendidikan tidak boleh direduksi hanya menjadi perolehan informasi
dan keterampilan teknis. Kebenaran dipandang multidimensi dan
menuntut penilaian dan keputusan pribadi (Bnd. Polanyi12).
11 Project Definition: Science and
Faith.https://sites.google.com/site/astronomytext/home/project-definition. Diunduh, 23
Januari 2021.
12 Michael Polanyi, Personal Knowledge: Toward a Post-Critical Philosophy (London: y
Routledge & Kegan Paul Ltd, 1974), 268-269. Lihat poin 7: Towards an Epistemology of
Personal Knowledge (Menuju Epistemologi (dari) Pengetahuan). Misalnya, saya katakan
bahwa salju itu putih, itu benar. Ya, itu benar, jika saya yakin bahwa memang salju itu
putih. Artinya bahwa, harus ada keyakinan atas fakta bahwa memang begitu.
Pengetahuan melibatkan manusia sebagai makhluk rasional yang
tertarik pada akurasi fakta pengalaman dan hubungan yang benar antar
ide. Penilaian diperlukan karena keyakinan tidak dapat dipisahkan dari
nilai. Penilaian semacam itu menyiratkan transendensi atas sudut
pandang pribadi berdasarkan penilaian yang dibuat, maupun
berdasarkan tradisi atau komunitas keyakinan seseorang. Tindakan
diperlukan sebagai pengakuan atas kebutuhan manusia untuk bertindak
dalam kerangka yang memberikan kesatuan, arahan, dan akuntabilitas
dalam semua yang kita lakukan. Ini mengarah pada sumber dan tujuan
akhir dari pengetahuan, yaitu Sang Pencipta. Dalam hal ini, penilaian
dilakukan dengan mempostulatkan iman Kristen sebagai nilai dan dasar
penilaian untuk pengambilan putusan.
Nancy Murphy13 dalam bukunya Theology in the Age of Scientific
Reasoning menyarankan kriteria penilaian berikut: 1) persetujuan dengan
kesaksian rasuli, 2) menghasilkan karakter seperti Kristus pada mereka
yang terkena dampak, yang secara khusus berarti kebebasan dari dosa
dan manifestasi buah-buah Roh, dan 3) persatuan dalam komunitas
(persekutuan).
b. Contoh
Manusia dalam Pendidikan Agama Kristen14
Contoh hubungan iman dan ilmu, misalnya, antropologi dan
pendidikan agama Kristen. Antropologi15 dalam kajian pendidikan
agama Kristen adalah bahwa pendidikan adalah pendidikan yang
berawal dari manusia dan kepada manusia. Sebab, jika tidak ada
manusia maka tidak ada pendidikan namun tidak sebaliknya. Manusia
merupakan unsur penting dalam pendidikan sebab yang hendak dididik
13 Nancy Murphy, Theology in the Age of Scientific Reasoning (Ithaca dan London:
Cornell University Press, 1990), 151-152.
14 Poin pada bagian contoh disadur dari Monograf buku, Pengantar Pendidikan
Agama Kristen. Dalam Proses terbit.
15 Untuk argumentasi kedua ini, saya adaptasikan kembali dari artikel, Noh
Ibrahim Boiliu, Nilai Manusia dalam Perspektif Allah Berdasarkan Kejadian 1:26, 27 dan
Relevansinya dalam Kepemimpinan Masa Kini. Jurnal The Way Vol. 02. No. 02 Agustus
2013, 104-115.
adalah manusia. Ini berarti pendidikan juga berbicara tentang
hubungan, yakni manusia dengan manusia-guru dengan murid.
Hubungan guru-murid dalam proses pendidikan penting, bernilai
dan bermakna. Hubungan ini didasari prinsip, manusia bernilai-
berharga. Karena itu, ‘harus’dan ‘memungkinkan’ makna muncul dalam
hubungan. Nilai sebagai faktor penting dalam proses “memanusiakan
manusia” melalui pendidikan. Nilai16 manusia17 dalam praksis
pendidikan membawa asumsi pembaca ke dalam kasanah, (bagaimana)
nilai manusia dalam regulasi pendidikan. Dalam hal ini, ketika orang
lain berbuat atau bertindak dengan otoritas yang diberikan atau
diciptakan sendiri, apakah nilai manusia masih tetap terjaga ataukah
tergerus oleh sikap otoriter pendidik. Memosisikan manusia-murid
sebagai pribadi yang bernilai merupakan dasar menuju pendidikan
humanis. Sebab "pendidikan adalah upaya moral untuk membentuk
pembangunan manusia.
Nilai moral dipertaruhkan pada tingkat sistem pendidikan, sekolah,
dan guru.”18 Dengan kata lain, pendidikan harus humanistik. Menurut
16 Nilai adalah hal yang dituju oleh perasaan, yang mewujudkan apriori emosi.
Nilai bukan ide atau cita, melainkan sesuatu yang konkrit yang hanya dapat dialami
dengan jiwa yang bergetar, dengan emosi. Mengalami nilai tidak sama dengan
mengalami secaa umum, dalam mendengar, melihat, mencium dan lain-lainnya. Akal
tidak dapat melihat nilai sebab nilai tampil jikalau ada rasa yang diarahkan kepada
sesuatu.
17 Apa arti kata manusia? dan siapakah manusia? Manusia merupakan sebuah
misteri di samping Sang Misteri Agung. Studi tentang manusia disebut antropologi.
Istilah antropologi berasal dari bahasa Yunani yakni anthropos berarti manusia dan logos
berarti kata, percakapan dan ilmu. Jadi, yang dimaksud dengan antropologi adalah
percakapan atau pembicaraan mengenai manusia. Tetapi apakah arti kata “manusia”?.
Dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, kata manusia hanya diartikan sebagai
“makhluk Tuhan yang paling sempurna yang mempunyai akal dan budi”. Sedangkan
Oxford Advanced Learner’s Dictionary, kata benda man diartikan “orang dewasa”. Arti
kata ini tidak jelas, namun kata man dapat dihubungkan dengan dua kata Latin mens,
artinya “ada yang berpikir” dan kata homo yang berarti “orang yang dilahirkan di atas
bumi”. Sedangkan istilah Yunani anthropos pada umumnya diartikan sebagai manusia.
Dari studi etimologi di atas, dua kata Latin, mens dan homo memberi pengertian yang
cukup jelas.
18 W. Veugelers, “Linking Autonomy and Humanity,” in Education and Humanism
(Rotterdam: Sense Publishers, 2011), 1–7.
Veugelers,19,20 pendidikan dari perspektif humanistik berfokus pada
pengembangan rasionalitas, otonomi, pemberdayaan, kreativitas, kasih
sayang dan kepedulian terhadap kemanusiaan. Keprihatinan ini bagi
kemanusiaan mengungkapkan hubungan dengan orang lain. Komponen
sosial ini dapat berkisar dari empati untuk solidaritas, dan dari
masyarakat itu sendiri ke dunia global. Menghormati keragaman dan
demokrasi adalah cara hidup humanistik.
C. Penutup
1. Rangkuman
Kedua entitas ini (Allah dan manusia) juga merupakan dua
paradoks, yang satu tak terbatas (Allah), dan yang lain terbatas
(manusia). Yang satu mutlak, yang lain tidak mutlak. Meskipun
demikian, keduanya tidak saling bertentangan (diversuskan),
melainkan saling mengandaikan. Yang terbatas tidak mungkin
dipahami tanpa yang tak terbatas.
Kemampuan rasional juga yang memungkinkan manusia sadar
tentang pencipta-Nya. Semua itu, merupakan latar belakang dari
penempatan potensi-potensi ilahi (potensia dari kata Latin poten =
dapat dan esse = berada, ada. Potentia berarti memiliki daya atau
kemampuan menjalankan daya.
Atribut rasio yang ada pada manusia, merupakan bukti
rasionalitas manusia. Rasionalitas inilah yang memungkin kita
untuk berpikir tentang Tuhan. Dalam ilmu filsafat, khususnya
filsafat Ketuhanan, yang juga merupakan ilmu. ”Melalui ilmu
manusia memastikan, menata dan mengembangkan
pengetahuannya secara objektif dan sistematik.
Iman dapat dipertanggungjawabkan secara rasional dalam
dua arti: pertama, secara teologis. Iman dapat di
pertanggungjawabkan apabila dapat ditunjuk bahwa apa yang
diimani, serta kehidupan yang dijalani berdasarkan iman itu.
19 Ibid.
20 Noh Ibrahim Boiliu et al., “Pendidikan Humanis Sebagai Pendekatan
Pembelajaran Di Era Revolusi Industri 4.0,” in Sosial, Pendidikan Dan Agama Sebagai
Pondasi Dalam Mewujudkan “Maju Bersama Kita Berjaya” (Riau: Marpoyan Tujuh, 2020),
741–758.
Kedua, secara filosofis. Yang mau ditunjukkan dalam
pertanggungjawaban filosofis adalah rasionalitas iman itu, dan
dilakukan dengan memakai nalar. Nalar dapat memeriksa suatu
keyakinan atau ajaran agama dari beberapa sudut.
Ada lima cara untuk menghubungkan iman Kristen dan ilmu:
“konflik, otonom, dialog, integrasi, dan transformasi. Konflik
mencegah interaksi yang berarti antara iman Kristen dan ilmu. Ini
terbukti dalam berbagai perselisihan Kristen dan ilmu, seperti,
misalnya antara Galileo dengan Paus (kasus heliosentris), dan
antara evolusi dan penciptaan. "Pemisahan ke dalam bagian-bagian
yang terpisah atau otonom, dimotivasi tidak hanya oleh keinginan
untuk menghindari konflik yang tidak perlu, tetapi juga oleh
keinginan untuk setia pada karakter khas dari setiap bidang
kehidupan dan pemikiran dari kedua bidang kajian ini. Baik teolog
maupun ilmuwan menggunakan kriteria koherensi, kelengkapan
dan hasil penelitian dalam penyelidikan mereka. Akhirnya, Dialog
hendaknya mengeksplorasi kemungkinan peran epistemologi dan
etika Kristen dalam sains dan efek pengetahuan ilmiah terhadap
doktrin dan pengalaman Kristen. Sebaliknya, dalam ranah praksis,
iman Kristen menjadi fondasi berpikir, bertindak, dan membuat
keputusan, baik secara personal maupun kolektif yang teringrasi
secara utuh dalam diri manusia (akademisi, ilmuwan, politisi, dll).
Teori integrasi berupaya untuk memasukkan temuan akademis
sejauh dipandang konsisten dengan ajaran Alkitab. Model
transformasi menyarankan bahwa integrasi iman Kristen dan ilmu
harus kritis dan transformatif.
2. Latihan dan Lembar Kerja Praktik
Tugas Mandiri
1) Jelaskan dengan kata-kata Anda sendiri tentang worldview
Kristen.
2) Jelaskan dengan kata-kata Anda sendiri posisi rasio dalam
perspektif iman Kristen.
3) Jelaskan dengan kata-kata Anda sendiri hubungan iman dan
ilmu.
4) Jika Anda diminta untuk memilih salah satu model dari kelima
model hubungan iman dan ilmu, model hubungan manakah
yang Anda pilih? Jelaskan.
5) Bagaimana tanggapan Anda tentang digital dictatorship. Untuk
menjawab pertanyaan ini, Anda diharapkan membaca
pandangan Yuval Noah Harari dengan mengklik link ini: Read
Yuval Harari's blistering warning to Davos | World Economic Forum (weforum.org).
Catatan: Pertanyaan nomor 5 tentatif. Artinya, dapat dimasukkan ke
tugas mandiri atau tugas kelompok.
Tugas Kelompok
Mahasiswa membentuk kelompok diskusi, terdiri dari 3-4 orang.
Setelah membentuk kelompok, mahasiswa mendiskusikan tentang
“hubungan iman dan ilmu dalam perspektif keilmuannya dan
menjelaskan konsep, keyakinan, komitmen, dan tindakan
(misalnya: Prodi Biologi. Menjelaskan hubungan iman dan ilmu
dalam perspektif ilmu Biologi).
Petunjuk Pengerjaan Tugas
Tugas diketik rapi (margin top, left, bottom, right: 2,5 cm, 2,5, 2, 2).
Font, Times New Roman, 12 pt, 1,5 spasi. Jawaban atas setiap
pertanyaan, minimal 2 paragraf. Berlaku baik untuk tugas mandiri
maupun kelompok. Catatan: fokuslah pada bahan yang ada dalam
Modul 10.
3. Referensi
1) Barbour, Ian G., Religion in an Age of Science. Scotland: Harper
Collins, 1990.
2) Boiliu, Noh Ibrahim. Menjadi Manusia Otentik. Jakarta: Hegel
Pustaka, 2018.
3) Farnsworth, Kirik. Wholehearted Integration: Harmonizing
Psychology and Christianity Through Word Deed. Englan: Baker
Book House, 1985.
4) Suseno, Frans Magnis. Menalar Tuhan. Yogyakarta: Kanisius:
2006.