Mengenal K ons ep Pendidikan Paulo Freire dan Ivan Illich
KELOMPOK 6: DEA RAHMADANI (22113006) DIANA MARLINA (2113001) NOFTA ELVA SUCI (22113005) MELYA OKTAVIA (2211307) DOSEN PENGAMPU: YUSMANILA, M. Pd.
BIOGRAFI PAULO FREIRE KONSEP PENDIDIKAN PAULO FREIRE PERBANDINGAN PENDEKATAN PAULO FREIRE DENGAN IVAN ILLICH ANALISIS JURNAL II III IV V VI I BIOGRAFI IVAN ILLICH KONSEP PENDIDIKAN IVAN ILLICH TIMELINE
BIOGRAFI PAULO FREIRE Freire dilahirkan dalam keluarga kelas menengah di Recife, Brasil, 19 September 1921. Namun ia langsung mengalami kemiskinan dan kelaparan pada masa Depresi Besar 1929. Freire mulai belajar di Universitas Freire pada 1943, sebagai seorang mahasiswa hukum, tetapi ia juga belajar filsafat dan psikologi bahasa. Meskipun ia lulus sebagai ahli hukum, ia tidak pernah benar-benar berpraktik dalam bidang tersebut. Sebaliknya, ia bekerja sebagai seorang guru di sekolah-sekolah menengah, mengajar bahasa Portugis. Pada 1944, ia menikah dengan Elza Maia Costa de Oliveira, seorang rekan gurunya. Pada 1946, Freire diangkat menjadi Direktur Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dari Dinas Sosial di Negara bagian Pernambuco (yang ibu kotanya adalah Recife). Selama bekerja disana, terutama ketika bekerja diantara orang-orang miskin yang buta huruf, Freire mulai merangkul bentuk pengajaran yang nonortodoks yang belakangan dianggap sebagai teologi pembebasan. Perlu dicatat bahwa Brasil pada saat itu, melek huruf merupakan syarat untuk ikut memilih dalam pemilu. Pada 1961, ia diangkat menjadi Direktur dari Departemen Perluasan Budaya dari Universitas Racife, dan pada 1962 ia mendapatkan kesempatan pertama untuk menerapkan secara luas teori-teorinya, ketika 300 orang buruh kebun tebu diajar untuk membaca dan menulis hanya dalam 45 hari. Sebagai tanggapan terhadap eksperimen ini, pemerintah brasil menyetujui dibentuknya ribuan lingkaran budaya diseluruh negeri. Pada 1964, sebuah kudeta militer mengakhiri upaya tersebut dan menyebabkan Freire dipenjara selama 70 hari atas tuduhan menjadi pengkhianat. Setelah mengasingkan diri untuk waktu yang singkat di Bolivia, Freire bekerja di Chili selama lima tahun untuk Gerakan Pembaharuan Agraria Demokratis Kristen. Pada 1967, Freire menerbitkan buku pertamanya, Pendidikan Sebagai Praktik Pembebasan. Buku ini disambut dengan baik dan Freire ditawari jabatan sebagai profesor tamu di Harvard pada 1969. Tahun sebelumnya, ia menulis bukunya yang paling terkenal, Pendidikan Kaum Tertindas (Pedagogy Of The Oppressed), yang diterbitkan dalam bahasa Spanyol dan Inggris pada 1970. Setelah setahun di Cambridge, Freire pindah ke Jenewa, Swiss, untuk bekerja sebagai penasehat pendidikan khusus di dewan gereja- gereja sedunia. Pada masa itu, Freire bertindak sebagai penasehat untuk pembaharuan, pendidikan dibekas- bekas koloni Portugis di Afrika, khususnya Guinnea Bissau dan Mozambik. Pada 1979, ia dapat kembali ke Brasil dan pindah kembali kesana setelah 1980. Freire bergabung dengan Partai Buruh Brasil (PT) di kota Sao Poulo dan bertindak sebagai penyelia untuk proyek melek huruf dewasa dari 1980 hingga 1986. Ketika PT menang dalam pemilu-pemilu munisipal pada 1986, Freire diangkat menjadi Sekretaris Pendidikan untuk Sao Paulo. Pada 1986, istrinya, Elza, meninggal dunia dan Freire menikahi Maria Arauje Freire, yang melanjutkan dengan pekerjaan pendidikannya sendiri yang radikal. Pada 1991, didirikanlah Institut Paulo Freire di Sao Paulo untuk memperluas dan menguraikan teoriteorinya tentang pendidikan rakyat. Institut ini menyimpan semua arsif Freire. Freire meninggal dunia di Sao Paulo, Brasil, 2 Mei 1997 karena serangan jantung.
1. Filsafat Pendidikan Paulo Freire merupakan suatu usaha untuk menganalisis secara filosofis terhadap konsep pendidikan Paulo Freire yang berangkat dari asumsi bahwa pendidikan adalah proses pembebasan dari sistem yang menindas. Konsekuensinya, pendidikan tidak pernah terbebas dari kepentingan politik pihak yang berkuasa dalam sebuah rezim. Pendidikan merupakan suatu sarana untuk memproduksi kesadaran dalam rangka mengembalikan sifat kemanusiaan setelah terjadinya proses dehumanisasi. 2. Menurut Paulo Freire “education as the practice of freedom” pendidikan pembebasan adalah membuat mereka yang tertindas (istilah yang digunakan Freire) atau terbelenggu suatu keadaan menjadi suatu kemerdekaan, kemandirian, tak terikat atau terjerat dalam keadaan yang mendominasi dirinya. 3. Freire mengecam metode belajar-mengajar yang sering dijumpainya di dalam kelas-kelas yang ia sebut sebagai “banking concept of education” (BCE). BCE inilah yang menurutnya telah menjadi alat untuk “menindas” kesadaran akan realitas yang sejati dan menyebabkan seseorang menjadi pasif dan menerima begitu sajakeberadaannya. 4. Paulo Freire menawarkan pendidikan pembebasan dengan cara merevisi pendidikan gaya bank diganti dengan pendidikan yang dialogis secara aksi-refleksi secara berkelanjutan. 5. Pendidikan dilakukan dengan cara hadap-masalah. Sebagai lawan dari BCE, Freire memperkenalkan apa yang disebutnya “Problem Posing Method” (PPM), yaitu metode pendidikan yang tidak “menindas” dan bertujuan untuk membangkitkan kesadaran akan realitas. 6. Hakikat tujuan dasar proses pendidikan adalah melakukan proses penyadaran terhadap individu. Penyadaran mengenai realitas yang ada di sekitarnya. Individu, melalui proses penyadaran ini akan mampu berpikiran secara kritis mengenai permasalahan yang dihadapinya. Kesadaran siswa perlu digeser dari kesadaran magis, dan kesadaran naïf diganti menjadi kesadaran kritis dan kesadaran transformatif. 7. Desain pembelajaran model Paulo Freire menginspirasi model pendidikan andragogi yaitu pendidikan orang dewasa, secara dialogis, guru berposisi sebagai fasilitator. KONSEP PENDIDIKAN MENURUT PAULO FREIRE
BIOGRAFI IVAN ILLICH Ivan Illich lahir di Wina sebuah kota yang menjadi ibu kota negara Austria pada tahun 1926. Setelah lulus dari sekolah tingkat pertama, kemudian Ivan Illich melanjutkan pendidikannya di Universitas Gregoriana, Roma, Italia. Di universitas itu Ivan Illich belajar tentang teologi. Setelah mendapatkan gelar sarjananya di Universitas Gregoriana, Roma, Italia, kemudian ia memutuskan untuk sekolah lagi di Universitas Salzburg. Di Universitas tersebut ia mendapatkan gelar doktor di bidang ilmu sejarah, dan tidak lama kemudian ia diangkat atau ditahbiskan sebagai imam gereja katolik Roma. Pada tahun 1951 ia telah mendarat di kota New York, Amerika Serikat. Karena waktu itu kota New York telah dipenuhi oleh imigran-imigran dari negara Irlandia dan Puerto Rico maka sehari-hariannya hidupnya ia habiskan dengan memberikan bimbingan baik bimbingan pendidikan maupun bimbingan keagamaan dan ia juga berkarya di tengah-tengah imigran tersebut. Kemudian ia pergi ke Mexico, dan pada tahun 1956-1969 ia menjadi salah satu pendiri Centre For Intercultural Documentation (CIDOC) di Cuernavara, Mexico, dan sejak tahun 1964-1976 ia mendapatkan suatu penghormatan untuk memimpin seminar-seminar penelitian tentang Institusional Alternative In a Technological Society dengan memfokuskan studi-studi tentang Amerika Latin. Komitmennya pada humanisme radikal menjadikan ia salah seorang hero bagi kaum katolik kiri. Akibat sepak terjangnya banyak tidak dimengerti oleh hirarki gereja dan lembaga-lembaga konvensional serta ide-ide yang berlaku tentang apa itu keutamaan sosial. Sejak tahun 1981, Ivan Illich menjadi profesor tamu di Gottingen dan berlin di Jerman. Dan akhir tahun 1982 ia mengajar di Berkeley, California, Amerika Serikat. Ivan Illich meninggal pada tanggal 2 Desember 2002. Adapun buku-buku yang pernah dikarang oleh Ivan Illich yaitu: 1. Celebration of Awareness (diterbitkan oleh Ikon Teralitera pada tahun 2002 dengan judul Perayaan Kesadaran). 2. Medical Nemesis (diterbitkan oleh Yayasan Obor Nasional pada tahun 1995 dengan judul Batas-batas Pengobatan). 3. Deschooling Society (diterbitkan oleh Obor Nasional pada tahun 2000 dengan judul Bebaskan Masyarakat dari Belenggu Sekolah). 4. Vernacular Gender (diterbitkan oleh Pustaka Pelajar pada tahun 1998 dengan judul Matinya Gender).
1. Sekolah formal perlu dibubarkan karena menjadi monopoli pendidikan,dan menafikan pendidikan dengan cara lainnya, seperti pendidikan informal dan pendidikan non-formal. Illich menyerukan penghapusan sekolah dan pembebasan masyarakat dari sekolah. 2. Sekolah terjebak menjadi gudang mitos yang mendiskreditkan tumbuh kembang siswa. Untuk pembebasan masyarakat dari sekolah, Illich menyerang wajib belajar sebagai “membosankan, berlarut-larut, destruktif, dan mahal” 3. Sekolah dibubarkan, pendidikan dilaksanakan dalam jaringan pembelajaran. Meskipun Illich menekankan pelatihan keterampilan sebagai salah satu jenis belajar, “pendidikan liberal” membutuhkan jenis lain pengaturan pengajaran. 4. Seperti yang ditunjukkan sebelumnya, rencana Illich untuk pembebasan masyarakat dari sekolah bukan semata-mata masalah pedagogis tetapi melibatkan menciptakan tatanan sosial terdeinstitusionalisasi. Masyarakat baru ini akan dipimpin oleh minoritas elit epimethean yang muncul dan berkembang. 5. Penolakan Illich terhadap sekolah juga termasuk kritik terhadap kurikulum sekolah. Di dunia konsumen, pendidik telah membangun kurikulum di mana materi pelajaran dianggap menjadi pengetahuan, direncanakan dan dikemas seperti produk lainnya. 6. Kompetensi teknis dalam pembelajaran dapat diajarkan secara drill. Dalam mendukung mengajar drill untuk belajar keterampilan tertentu, Illich mengklaim bahwa siswa termotivasi kuat untuk belajar keterampilan yang kompleks akan mendapatkan keuntungan dari disiplin yang dibutuhkan untuk tugas belajar KONSEP PENDIDIKAN MENURUT IVAN ILLICH
PERBANDINGAN PENDEKATAN PAULO FREIRE DENGAN IVAN ILLICH • Freire: Fokus pada pemberdayaan peserta didik dan pendidikan kritis. • Illich: Mendorong pembelajaran mandiri dan ketergantungan terhadap sumber daya yang ada di masyarakat. Perbedaan: 1. Ambil langkah awal di luar sistem pendidikan yang ada. 2. Ajarkan keterampilan praktis yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Kesamaan:
ANALIS IS J URNAL Studi Perbandingan Pemikiran Paulo Freire dan Ivan Illich tentang Pendidikan Pembebasan
Paulo Freire dan Ivan Illich adalah pemikir pendidikan kontemporer yang mendobrak kemapanan sistem pendidikan. Paulo Freire menawarkan diakhirinya pendidikan gaya bank, diganti dengan pendidikan andragogi, yang menempatkan guru dan siswa secara egaliter. Pendidikan perlu dilakukan dengan cara hadap-masalah. Pendidikan juga harus dapat menggeser kesadaran naïf, kesadaran magis diganti menjadi kesadaran kritis dan kesadaran transformatif. Berbeda dengan Paulo Freire, Ivan Illich menawarkan pembebasan masyarakat dari sekolah formal. Pendidikan dilakukan dalam jaringan pembelajaran yang bersifat terbuka. Keterampilan teknis bisa diajarkan dengan cara drill, dan perubahan transformasi sosial dapat melibatkan manusia pilihan. ABSTRAK
1. Pemikiran Pendidikan Paulo Freire Filsafat pendidikan Paulo Freire merupakan suatu usaha untuk menganalisis secara filosofis terhadap konsep pendidikan Paulo Freire yang berangkat dari asumsi bahwa pendidikan adalah proses pembebasan dari sistem yang menindas. Konsekuensinya, pendidikan tidak pernah terbebas dari kepentingan politik pihak yang berkuasa dalam sebuah rezim. Pendidikan merupakan suatu sarana untuk memproduksi kesadaran dalam rangka mengembalikan sifat kemanusiaan setelah terjadinya proses dehumanisasi. Dalam kerangka pembebasan, pendidikan harus memiliki kepekaan terhadap persoalan ketidakadilan sosial dan harus mendudukkan peserta didik sebagai subjek dari segala kegiatan pendidikan. Oleh karena itu, kesadaran kritis sangat diperlukan wujudnya pada kepribadian peserta didik 2. Pemikiran Pendidikan Ivan Illich •Sekolah formal perlu dibubarkan karena menjadi monopoli pendidikan, dan menafikan pendidikan dengan cara lainnya, seperti pendidikan informal dan pendidikan non-formal. •Sekolah terjebak menjadi gudang mitos yang mendiskreditkan tumbuh kembang siswa •Sekolah dibubarkan, pendidikan dilaksanakan dalam jaringan pembelajaran •rencana Illich untuk pembebasan dari sekolah bukan semata-mata masalah pedagogis tetapi melibatkan menciptakan tatanan sosial terdeinstitusionalisasi. •Penolakan Illich terhadap sekolah juga termasuk kritik terhadap kurikulum sekolah •Kompetensi teknis dalam pembelajaran dapat diajarkan secara drill. PEMBAHASAN
1. Paulo Freire menawarkan pendidikan pembebasan dengan cara merevisi pendidikan gaya bank diganti dengan pendidikan yang dialogis secara aksi-refleksi secara berkelanjutan. Pendidikan dilakukan dengan cara hadap-masalah. Freire memperkenalkan “Problem Posing Method” (PPM), yaitu metode pendidikan yang tidak “menindas” dan bertujuan untuk membangkitkan kesadaran akan realitas. Desain pembelajaran model Paulo Freire menginspirasi model pendidikan andragogi yaitu pendidikan orang dewasa, secara dialogis, guru berposisi sebagai fasilitator. 2. Ivan Illich melihat pembebasan masyarakat dari sekolah sebagai dorongan awal dalam menciptakan tatanan sosial baru. Illich juga mendorong terciptanya kesetaraan kesempatan untuk belajar dan mengajar. Selain itu, termasuk Illich mengkritik kurikulum sekolah dikemas agar menarik bagi konsumen semata. KESIMPULAN
ANALIS IS J URNAL Gagasan Pendidikan Ivan Illich (Sebuah Analisis Kritis)
Pendidikan yang selama ini dianggap sebagai pahlawan dalam menegakkan kebenaran, pahlawan dalam membangun bangsa. Ternyata hanyalah sebuah topeng untuk mengelabui para konsumennya. Dengan segala semboyan atas nama pembangunan dan perkembangan anak didik, mereka para praktisi pendidikan mulai melebarkan sayapnya, terbukti dengan semakin menjamurnya persekolahan dimana-mana, dan sekolah, kini dianggap sebagai jalan hidup bagi manusia modern. Mereka yang tidak sekolah berarti mereka terbelakang. Padahal memperoleh ilmu pengetahuan tidak mesti melalui sekolah. Sehingga tidak heran jika model pendidikan seperti ini menuai kritikan dari berbagai kalangan, diantaranya adalah Ivan Illich. Gagasannya untuk menggulingkan sekolah dan menyadarkan masyarakat akan kebohongan ini, perlu kiranya diberi dukungan dari berbagai pihak. Walaupun beberapa gagasannya tersebut perlu juga di telaah secara kritis dari sudut pandang Islam. Karena ternyata Ivan Illich seakan mengesampingkan etika dalam tujuan pendidikan, yang berakibat pada kebebasan tak terbelenggu dan liar. Sehingga muncul ungkapan “ karena kebebasanlah siswa berpikir”. Disamping itu, penilaian Ivan Illich terhadap masyarakat hanya sampai pada sisi materialnya saja. Padahal di dalam Islam, materi bukanlah ukuran kebaikan seorang. ABSTRAK
1. Tujuan Pendidikan a. Pendidikan harus memberi kesempatan kepada semua orang untuk bebas dan mudah memperoleh sumber belajar pada setiap saat. b. Pendidikan harus mengizinkan semua orang yang ingin memberikan pengetahuan mereka kepada orang lain dengan mudah, demikian pula bagi orang yang ingin mendapatkannya. c. Menjamin tersedianya masukan umum yang berkenaan dengan pendidikan. 2. Kebebasan dalam Pendidikan Illich mencoba membebaskan masyarakat dari anggapannya tentang sekolah sebagai sarana satusatunya untuk memperoleh pendidikan. Ilmu pengetahuan bagi Illich, tidak hanya dapat diperoleh dari sekolah, akan tetapi dapat diperoleh dari luar sekolah seperti lingkungan sekitar dan alam. Pada akhirnya, seorang siswa hanya bisa menuruti apa yang telah dijajakan oleh sekolah berupa ilmu pengetahuan, tanpa harus tahu dari mana dan bagimana ilmu pengetahuan tersebut. 3. Demokrasi Pendidikan Karena mahalnya biaya sekolah, Ivan Illich berharap adanya sebuah demokrasi dalam memperoleh pendidikan, dimana pendidikan dapat dirasakan oleh semua kalangan, baik kaya ataupun miskin. Jadi bangunan pendidikan dapat dikatakan demokratis apalabila: Demokrasi dalam memperoleh pendidikan, Demokrasi dalam sistem pembelajaran, dan Demokrasi dalam pengembangan kurikulum. PEMBAHASAN
1. Tujuan pendidikan bagi Ivan Illich adalah kebebasan dalam berfikir, sehingga menimbulkan daya kreatifitas anak, akan tetapi sayangnya Ivan Illich tidak memberikan batasan-batasan kebebasan tersebut. Dan kebebasan ini sangat berbeda dengan kebebasan yang dimaksud dalam Islam. Disamping itu tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang ber-etika dan ber-akhlak serta berbudi pekerti luhur, dan Ivan Illich seakan mengesampingkan etika dalam pendidikan, padahal keduanya merupakan kesatuan yang tak dapat terpisahkan. 2. Gagasan pendidikan demokrasinya hanya terbatas pada demokrasi dalam memperoleh pendidikan, sedangkan pendidikan dalam suatu negara dapat dianggap demokratis jika memiliki tiga cakupan (Demokrasi dalam memperoleh pendidikan, demokrasi dalam sistem pembelajaran. dan demokrasi dalam pengembangan kurikulum) 3. Gagasannya untuk mendekonstruksi persekolahan bagi sebagian kalangan adalah sebuah hal yang Utopis, karena semakin menjamurnya sekolah saat ini dan saat ini sekolah menjadi jalan hidup bagi masyarakt post-modern. 4. Gagasannya untuk membangun alternatif persekolahan agak sedikit kabur dalam hal konsep. Karena seakan-akan ia membangun bangunan yang sama setelah sebelumnya ia hancurkan. Walaupun demikian, gagasan Ivan Illich untuk membebaskan masyarakat dari belenggu sekolah paling tidak bisa membuat masyarakat sadar, bahwa ilmu tidak hanya dapat diperoleh dari sekolah saja, dan sekolah bukanlah sarana satu-satunya dalam mencari ilmu pengetahuan KESIMPULAN
THANK YOU