OBAT
TRADISIONAL
SEKOLAH TINGGI ILMU
FARMASI RIAU
2021
OBAT TRADISIONAL
Obat Tradisional adalah
bahan atau ramuan bahan
yang berupa bahan
tumbuhan, bahan hewan,
bahan mineral, sediaan sarian
(galenik) atau campuran dari
bahan tersebut yang secara
turun temurun telah
digunakan untuk pengobatan
berdasarkan pengalaman
(BPOM, 2014). Obat
tradisional sendiri tidak
terdiri dari campuran bahan
kimia obat.
BENTUK SEDIAAN OBAT
TRADISIONAL
Bentuk obat tradisional yang banyak
dijual dipasar dalam bentuk sebagai
berikut:
kapsul,
serbuk,
syrup,
tablet
JENIS OBAT TRADISIONAL
YANG BEREDAR
Obat Bahan Alam Indonesia
dikelompokkan secara
berjenjang menjadi 3
kelompok yaitu :
Jamu;
Obat Herbal Terstandar;
Fitofarmaka.
JAMU OHT FITOFARMAKA
JAMU
Jamu adalah obat tradisional Indonesia
yang tidak memerlukan pembuktian
ilmiah sampai dengan klinis, tetapi cukup
dengan pembuktian empiris atau turun
temurun. Jamu adalah obat tradisional
yang disediakan secara tradisional,
misalnya dalam bentuk serbuk seduhan
atau cairan yang berisi seluruh bahan
tanaman yang menjadi penyusun jamu
tersebut serta digunakan secara
tradisional. Jamu harus memenuhi
beberapa kriteria,
yaitu:
· Aman
· Klaim khasiat berdasarkan pengalaman
· Memenuhi persyaratan mutu yang
berlaku
CONTOH SEDIAAN JAMU
OBAT HERBAL
TERSTANDAR (OHT)
Obat Herbal Terstandar (OHT) adalah
obat tradisional yang berasal dari
ekstrak bahan tumbuhan, hewan
maupun mineral. Perlu dilakukan uji
pra-klinik untuk pembuktian ilmiah
mengenai standar kandungan bahan
yang berkhasiat, standar pembuatan
ekstrak tanaman obat, standar
pembuatan obat yang
higienis dan uji untuk mendeteksi efek
racun atau toksik suatu obat maupun
kronis.
(lOGO SEDIAAN OHT)
CONTOH OBAT HERBAL
TERSTANDAR (OHT)
FITOFARMAKA
Fitofarmaka adalah sediaan obat
bahan alam yang telah dibuktikan
keamanan dan khasiatnya secara
ilmiah dengan uji praklinik dan uji
klinik, bahan baku dan produk
jadinya telah di standarisasi. Pada
dasarnya sediaan fitofarmaka mirip
dengan sediaan jamu-jamuan karena
juga berasal dari bahan-bahan alami,
meskipun demikian jenis sediaan obat
ini masih belum begitu populer di
kalangan masyarakat, dibandingkan
jamu-jamuan dan herbal terstandar.
(lOGO SEDIAAN FITOFARMAKA)
CONTOH SEDIAAN
FITOFARMAKA
Penandaan obat
tradisional yang baik
Setiap obat tradisional wajib
mencantumkan penandaan/label yang
benar, meliputi:
Nama Produk.
Nama dan alamat
produsen/importir.
Nomor pendaftaran/nomor izin
edar.
Nomor Bets/kode produksi.
Tanggal Kedaluwarsa.
Netto.
Komposisi.
Peringatan/Perhatian.
Cara Penyimpanan.
Kegunaan dan cara penggunaan
dalam Bahasa Indonesia
No. Regristrasi Obat Tradisional
Nomor registrasi obat herbal atau
nomor pendaftaran obat jadi adalah
nomor identitas yang dikeluarkan oleh
Badan POM setelah proses registrasi
obat jadi tersebut disetujui. Nomor
registrasi ini wajib dicantumkan pada
kemasan, baik pada kemasan primer
maupun kemasan sekunder. Tujuannya
adalah untuk membedakan antara obat
yang telah teregistrasi dengan yang
belum teregistrasi. Penulisan nomor
registrasi ini diatur oleh Badan POM.
Contoh No. Regristrasi
Obat Tradisional
POM TR. 133 670 741
Minyak Kayu Putih
Keterangan:
TR : obat tradisional lokal
angka ke 1 dan 2 : tahun mulai didaftarkan pada
Depkes RI, berarti tahun 2013
angka ke 3 : menunjukkan bahwa sediaan
tersebut dibuat oleh perusahaan jamu
angka ke 4-8 : menunjukkan nomor urut jenis
produk yang terdaftar
angka ke 9 : menunujukkan jenis atau macam
kemasan (volume), angka 1 menunjukkan bahwa
sediaan memiliki volume 15 ml
KELEBIHAN OBAT TRADISIONAL
Bebas racun
Mudah diproduksi
Murah
Multikhasiat
Menghilangkan akar
penyebab penyakit
KEKURANGAN
OBAT TRADISIONAL
Bahan baku belum standar.
Bersifat menyerap air
Belum semua obat herbal dilakukan
uji klinik.
Mudah tercemar berbagai jenis virus,
bakteri maupun parasit
Membutuhkan waktu lebih lama
untuk mendapatkan khasiat obat
sehingga harus dikonsumsi secara
rutin.
CARA MEMILIH OBAT
HERBAL YANG BAIK
Perhatikan pada label, keterangan
berikut:
nomor izin edar BPOM
nama serta alamat produsen
tanggal kadaluarsa
komposisi dan aturan pakai
khasiat dan kegunaan
perhatian dan keterangan lain
Sumber:
Badan Pengawas Obat dan
Makanan (BPOM) RI