The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by panitia e katalog, 2023-10-13 22:37:34

e KATALOG HARI SANTRI 2023 MAHROJAN

e KATALOG HARI SANTRI 2023 MAHROJAN

1


1


2


3


penasehat: Prof. Dr. Muhammad Ali Ramdhani Pembina: Prof. Dr. Waryono Abdul Ghofur Penanggungjawab: Firdiansyah Kurator : Dr. Suwarno Wisetratomo, M.Sn. Layouter: Rakryan Anindya Kunnarayudha Nur Yusril Muhammad Isnain Fotografer: Muhammad Syeifi Arjun


DAFTAR ISI SAMBUTAN.............................................6 PUISI.....................................................12 KARYA SENIMAN...................................17 PROFIL SENIMAN...................................42


7 Matra Ganda Mahrojan Budaya Santri Suwarno Wisetrotomo | Kurator Seni Rupa Setiap potensi, apalagi yang menginspirasi dan menggerakkan banyak pihak, penting untuk disuarakan, bahkan diamplifikasi agar sampai kepada khalayak ramai. Banyak cara menyuarakan inspirasi agar menarik, menyentuh, atau jika perlu memiliki daya gedor. Salah satu cara moderat yang dapat dipilih adalah mahrojan atau festival (meski kata mahrojan juga dapat berarti melawak atau olok-olok). Jika pun harus mengolokolok misalnya, sejauh dengan kegembiraan dan hati, maka akan sangat berguna untuk bersikap reflektif. Hampir tidak ada kota atau negara yang tidak memiliki tradisi festival. Di Indonesia terdapat sejumlah kota yang termemori dengan baik oleh orang banyak karena agenda festivalnya, misalnya Festival Kebudayaan Yogyakarta, Jogja Fashion Carnival, ArtJog, Jogja Java Carnival, Solo Batik Carnival, Jember Fashion Carnival, Banyuwangi Ethno Carnival, Festival Gandrung Sewu Banyuwangi, Festival Danau Toba, dan lain-lain. Kotakota yang memiliki festival, apalagi diselenggarakan secara regular, maka warganya memiliki tantangan yang regular pula untuk dapat menjadi bagian di dalamnya. Lalu tumbuh kreativitas disegala bidang. Demikianlah, karena festival memiliki spirit menggerakkan berbagai elemen penyangganya. Melibatkan banyak pihak. Peristiwa festival, disamping sebagai aktualisasi individu, komunitas, masyarakat, atau institusi, berpeluang pula memiliki efek ekonomi. Itulah yang disebut sebagai kondisi sejahtera; memeroleh aktualisasi, berekspresi, menyuarakan pesan, memiliki artifak, bergembira, dan meraih (potensi) ekonomi. Karena itulah mahrojan bermatra ganda, karena segenap potensi diberdayakan untuk menjemput penonton dan pencintanya.


8 Kali ini, dalam rangka Gebyar Budaya Santri 2023, digelar mahrojan di Kawasan Kota Lama Semarang (Bahasa Belanda: Semarang Oude Stad atau disebut pula sebagai Little Netherland). Kawasan ini pada awal abad 19- 20 menjadi pusat perdagangan, karena dekat dengan pelabuhan, tempat bertemunya banyak pihak dan kepentingan. Seperti kota pesisir pada umumnya, berwatak lebih dinamis dan beraroma industri/perdagangan. Perayaan ini ditandai dengan pameran seni rupa di Semarang Gallery. Peristiwa ini mengisyaratkan bertemunya praktik budaya santri, praktik wacana dan praktik seni rupa, dengan negara serta publiknya. SANTRI DAN BUDAYANYA Pesantren adalah institusi pendidikan. Muridnya disebut santri. Gurugurunya adalah para Kyai atau Ulama yang memiliki pengetahuan agama secara mumpuni. Para santri menjalani praktik kehidupan sehari-hari secara islami. Dengan tata kelola, kurikulum, dan metodenya sendiri, para guru mendidik para santri agar memiliki ilmu agama yang mumpuni, yang kelak mampu memerankan diri di tengah kehidupan sosial-ekonomi yang inspiratif dan menggerakkan. Agama (Islam) menjadi basis utama menjalani kehidupan secara seimbang, rasional, sosial, sekaligus spiritual. Dari proses pendidikan pesantren, diharapkan lahir sosok-sosok yang memiliki kualitas tinggi ikhwal kesalehan sosial-spiritual untuk melipatgandakan belarasa (compassion) terhadap penderitaan dan kemanusiaan. Pesantren adalah institusi pendidikan. Muridnya disebut santri. Gurugurunya adalah para Kyai atau Ulama yang memiliki pengetahuan agama secara mumpuni. Para santri menjalani praktik kehidupan sehari-hari secara islami. Dengan tata kelola, kurikulum, dan metodenya sendiri, para guru mendidik para santri agar memiliki ilmu agama yang mumpuni, yang kelak mampu memerankan diri di tengah kehidupan sosial-ekonomi yang inspiratif dan menggerakkan. Agama (Islam) menjadi basis utama menjalani kehidupan secara seimbang, rasional, sosial, sekaligus spiritual. Dari proses pendidikan pesantren, diharapkan lahir sosoksosok yang memiliki kualitas tinggi ikhwal kesalehan sosial-spiritual untuk melipatgandakan belarasa (compassion) terhadap penderitaan dan kemanusiaan. betapa kayanya ragam metode pembelajaran, pengalaman, dalam memaknai kehidupan, persatuan, kewargaan, dan keindonesiaan. Para santri melakukan praktik berkebudayaan melalui kehidupan keseharian, hingga kelak setelah mereka lepas dari institusi pondok pesantren. SANTRI DAN BUDAYANYA Seperti sudah disebutkan, Mahrojan Gebyar Budaya Santri 2023 dilengkapi dengan pameran seni rupa. Menampilkan karya-karya para perupa lintas usia/ generasi, lintas iman, etnis, dan suku. Keputusan ini bertolak dari keyakinan; Pertama, para seniman atau perupa khususnya, pada dasarnya adalah para pemeluk dan peneguh keberagaman. Mereka selalu kukuh dengan pilihannya, bahkan berupaya keras menghadirkan kebedaan (distingsi) dari karya-karya yang sudah/pernah ada, berupaya menunjukkan otentisitasnya, dan karena itu justru menghindari kesamaan, apalagi keseragaman. Lanskap karya seni menjadi berbeda-beda. Spiritualitas merupakan bagian tersembunyi yang mengiringi olah kreatif mereka. Karena itu sangat mungkin menemukan nilainilai islami dalam karya-karya mereka, apapun keyakinan imannya. Kedua, keragaman latar belakang para perupa ini juga sebuah peneguhan bahwa keragaman merupakan keniscayaan dalam keindonesiaan. Tidak ada makna tunggal (apalagi absolut) dalam karya seni rupa (juga karya seni apapun).


9 Karena itu melalui seni, siapa pun tengah berada dalam atmosfir berdemokrasi, karena berpegang pada sikap respek terhadap perbedaan. Dalam suasana berbeda, sesungguhnya yang dipertaruhkan adalah kekokohan argumentasi untuk meyakinkan pilihan masing-masing, disertai sikap respek pada pilihan orang lain. Pada ranah itulah pameran seni rupa ini menemukan pertautan dan maknanya. Mahrojan hadir dalam spirit keragaman ekspresi, bentuk, media, teknik, juga tema. Sejumlah nama berasal dari kultur pesantren, antara lain, K.H. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Didin Sirojudin, Al Makin, Abdullah Ibnu Thalhah, Ilham Khoiri, Muhammad As-Sirry, dan sejumlah nama lainnya. Perupa lain seperti Butet Kartaredjasa, Ida Bagus Putu Purwa, Klowor Waldiyono, Putu Sutawijaya, atau Sigit Santoso, dan lainnya, adalah mereka yang kuyup dengan pergulatan menyuarakan kesetaraan dan kedamaian melalui karya seni rupa. Yang belum tersentuh dalam peristiwa pameran ini adalah upaya melihat dari dekat praktik seni (apapun jenisnya) yang dilakukan oleh para santri diberbagai institusi pondok pesantren. Suara mereka melalui karya seni pantas dilihat dan didengar. Matra ganda peristiwa mahrojan pada waktu mendatang harus terus dilipatgandakan. "Peristiwa festival, disamping sebagai aktualisasi individu, komunitas, masyarakat, atau institusi, berpeluang pula memiliki efek ekonomi. Itulah yang disebut sebagai kondisi sejahtera; memeroleh aktualisasi, berekspresi, menyuarakan pesan, memiliki artifak, bergembira, dan meraih (potensi) ekonomi. Karena itulah mahrojan bermatra ganda, karena segenap potensi diberdayakan untuk menjemput penonton dan pencintanya."


10 Mahrajan Budaya Nusantara KH. AHMAD MUSTHOFA BISHRI | Ulama' Tak ada perhelatan-perhelatan kesenian yang lahir dari ruang kosong. Selalu saja ada konteks atau hal-hal tak terhindarkan yang melahirkan pertunjukan-pertunjukan kesenian itu. Selalu saja masyarakat melahirkan aneka kegiatan kesenian untuk merespons kehendak atau keinginan zaman. Dulu di Makkah pada zaman jahiliah, di Pasar Ukadz setiap setiap tahun diadakan semacam mahrajan kesenian untuk memamerkan karya-karya sastra. Di Pasar Ukadz segala tradisi Arab digelar. Di tempat itu warga memamerkan kelebihan-kelebihan, mempertunjukkan budaya, bahasa, menggelar prestasi-prestasi di bidang militer, dan yang terpenting, ada pameran puisi-puisi penyair Arab terbaik yang kemudian belakangan dikenal sebagai Al Mualaqot. Puisi-puisi terpilih itu selanjutnya ditulis dengan tinta emas dan digantungkan di Kakbah. Jadi, kesenian, sejak dulu memeng dipresentasikan untuk merespons denyut nadi kehidupan. Juga untuk melakukan kritik sosial. Lalu pada 1971 Kementerian Kebudayaan Irak menyelenggarakan kegiatan tahunan serupa dengan yang diadakan di Pasar Ukadz. Acara itu dilakukan di bekas Pasar Hewan Mirbid bertajuk Mahrajan Puisi Mirbid. Upaya menghidupkan puisi di Irak itu tentu untuk merespons hasrat berpuisi publik. Kita tahu salah satu cara menyatakan penghargaan terhadap kemartabatan kemanusiaan bisa melalui puisi. Sesungguhnya tradisi menghidupkan puisi dan kesenian lain pernah dilakukan dalam aneka festival. Salah satu yang menarik adalah


11 Festival Istiqlal. Dalam festival berbasis keislaman ini terlibat para perupa, pemusik, penari, teaterawan, sastrawan, arsitek, dan pakar kaligrafi. Juga ada 10 ilmuwan terkemuka baik dari Indonesia maupun dari luar negeri, ikut meramaikan. Festival yang berlangsung pada 2017 ini sangat beragam. Ini berbeda dari yang yang diadakan pada 1991. Tentu diperlukan festival-festival atau mahrajan kesenian lagi untuk menghidupkan kebudayaan bangsa ini. Pameran Seni Rupa Mahrojan, Gebyar Seni Budaya Santri 2023 barangkali bisa dijadikan sebagai langkah awal. Pelibatan perupa dan sastrawan dalam acara yang diselenggarakn di Kota Lama Semarang, dalam rangka Hari Santri, ini bukan tak mungkin jadi motivasi untuk memunculkan aneka kelebihan-kelebihan kesenian kekinian dan masa depan. Hanya, mengapa acara ini tak dinamakan Mahrajan Budaya Nusantara? Bukankah acara ini potensial untuk menunjukkan kesenian-kesenian dan budaya utama Nusantara? Pertanyaan ini perlu kita jawab dengan tindakan nyata. "Tak ada perhelatan- perhelatan kesenian yang lahir dari ruang kosong"


12


- Puisi


15 siapa yang mengawal kanjeng sunan giri menghadang gempuran mataram yang cemburu pada cahaya tuhan siapa yang mengawal bonjol sang imam bersama para padri menentang kaum adat yang diprovokasi kompeni siapa yang mengawal diponegoro menegakkan perang sabil melawan belanda di tanah jawa siapa yang mengawal hadratussyekh dan para kiai mengobarkan resolusi jihad merumat kemerdekaan sebagai hijrah kebebasan lepas dari belenggu penjajahan siapa yang mengawal bung tomo menggemakan allaahu akbar! menangkis ledakan inggris dan nica berperisai keyakinan serta nyawa pada 10 november di surabaya siapa? nyatanya kamu yang berpeci butut itu sarung lusuh, wajah kumuh, namun tak pernah rapuh menjaga kampung dan desa juga tlatah tak terpeta dalam perang gerilya tanpa bintang jasa kamu yang berbakiak kayu, sajadah, dan kitab berdebu tak mempan peradaban palsu merawat negeri dengan patrol dan puja-puji sahaja luput dari sejarah agung para nama kamu yang gatal-gatal kulitmu eksim, kadas, panu serta kudisan di sekujurmu adalah garda utama bhinneka tunggal ika di tengah bangsa yang sakit jiwa karena rakus harta, gila kuasa, dan sakaw agama! ya, kamulah penjaga itu putra-putri sejati ibu pertiwi santri nusantara! solo, 3 oktober 2017 SOSIAWAN LEAK SANTRI NUSANTARA


16 Setelah Proklamasi itu, kita bangsa Indonesia Memang mulai bisa bernapas lega Meskipun tugas mengisi kemerdekaan luas tak terbatas Sedangkan penjajah Belanda tidak rela bumi Indonesia jadi Tanah Merdeka Bumi Indonesia harus tetap berada dalam cengkeraman Belanda si angkara murka Rakyat Indonesia tak boleh menikmati kebebasan Sungai panjang yang mengalir ke laut, gunung-gunung yang membiru, serta daun-daun pohonan harus menyanyi sanjungan kepada penjajah Niat busuk Belanda terus direkayasa Dan Surabaya kota kita tercinta jadi sasaran utama Maka dengan membonceng tentara Sekutu Belanda datang ke Indonesia, ke Surabaya Mereka mulai menembakkan senjata, menakut-nakuti penduduk Surabaya Sebagai preman kolonial yang bengis dan tak tahu aturan Dan Surabaya mulai dicengkeram kekhawatiran Rakyat jelata belum tahu mereka harus berbuat apa Tapi semangat Merdeka masih terus menyala Indonesia sudah Merdeka dan harus tetap Merdeka Saat itulah seorang kiai sepuh, Kiai Hasyim Asy’ari namanya yang melihat umat dengan kacamata rahmat merasakan dengan jiwa yang dalam terasa berat baginya penderitaan umat Lalu beliau mengumpulkan para kiai ulama se-Jawa dan Madura D ZAWAWI IMRON MANAKIB HARI SANTRI


untuk menyelesaikan umat, masalah bangsa dan masalah NKRI yang baru saja merdeka Dari kejernihan jiwa beliau yang taqorrub kepada Allah yang didukung oleh akal sehat kolektif serta hasil istikhoroh para ulama tercetuslah fatwa Resolusi Jihad - Bahwa setiap muslim wajib berjuang membela tanah air Indonesia - Mereka yang gugur di medan perang melawan penjajah sebagai Kusuma Bangsa adalah mati syahid di jalan Allah. Fatwa yang cerdas dan penuh tanggung jawab itu beredar ke seluruh tanah Jawa Fatwa itu dicatat sebagai mustika jiwa oleh seorang anak muda Surabaya bernama Bung Tomo, pemuda cerdas berumur 25 tahun Kemudian anak-annak santri untuk sementara menutup dan menyimpan kitabnya Para petani lalu meninggalkan sawahnya dan mengasah parangnya Yang lain menyiapkan bambu runcing sebagai senjata Untuk menyambut kedatangan musuh dengan iman kepada Allah dan keberanian yang sempurna Amboi, jangan lupakan peristiwa itu 10 November 1945 tanggalnya Tentara sekutu dan Belanda datang lagi dengan niat memporakporandakan Surabaya dan serta hendak menghancurleburkan semangat kemerdekaan Bung Tomo berteriak Allahu Akbar Teriakan takbir Bung Tomo mengangkasa di langit Surabaya Arek-arek Suroboyo, para santri, tentara, pedagang kecil, buruh, serta para pemberani terjun ke medan perang membela kemerdekaan Allahu Akbar, Allahu Akbar Surabaya menjadi lautan api


Allahu akbar Surabaya banjir darah Jasad para pahlawan yang ditembus senjata musuh bergelimpangan di jalan-jalan raya Luka-lukanya yang merah mekar laksana bunga mawar bersanding dengan keikhlasan jiwa mereka yang putih laksana melati Mawar dan melati Allahu akbar Merah dan putih Allahu Akbar Bendera tanah airku Dengan Allahu akbar, bom dan tank-tank raksasa musuh dianggap kecil Bom-bom yang berdentuman menjadi kecil Mitraliur yang melesat ganas jadi kecil Bahkan maut pun dianggap kecil Allahu akbar Allahu akbar Jadilah 10 November menjadi Hari Pahlawan KH Hasyim Asy’ari menjadi pahlawan KH Wahab Hasbullah menjadi pahlawan Bung Tomo yang meneriakkan takbir itu menjadi pahlawan Dan semua yang gugur membela bangsa dan tanah air adalah pahlawan Nama mereka harum dalam kenangan Nanti sampai ke perkampungan sorga Saat ini, mari kita ambil apinya sejarah Agar kita menjadi manusia yang cinta kepada bangsa dan tanah air


- Karya Seniman


21 Abdullah Ibnu Thalhah | Kala Cinta | Cat Aclrilik di atas Kanvas, 50 cm X 60 cm


22 Ahmad Musthofa Bishri | Kangen | Cat Aclrilik di atas Kanvas, 600 cm X 60 cm


23 Al Makin | Toleransi | 100 cm X 100 cm


24 Ammar Abdillah | Kresnayana | Cat Aclrilik di atas Kanvas, 135 cm X 135 cm


25 Arief Hadinata | LITTLE WOLF | Mix media on MDF board 2023, Mix media on MDF board 2023 36 x 52 cm


26 Aryo Sunaryo Kebhinekaan Wayang Cat Air di atas Kanvas, 80 cm X 60 cm


27 Astuti Kusuma Jayakan Negeri Cat Akrilik di atas Kanvas, 1,4 m X 1 m


28 Bambang Heras Pendoa Cat Akrilik di atas Kanvas, 150 cm X 120 cm


29 Butet Kartaredjasa Super Santri Cat Akrilik di atas Kanvas, 120 cm X 90 cm


30 Diah Yulianti | Perjalanan Batin | Cat Minyak di atas Kanvas, 140 cm X 160 cm


31 DR. H. Didin Sirojuddin | Yasin | Cat Minyak di atas Kanvas, 50 cm X 60 cm


32 Didung Putra Pamungkas | Harmoni | Cat Akrilik di atas Kanvas


33 Dyan Anggraini | Lupa Berbisik | Cat Minyak, pensil di atas Kanvas, 150 cm X 15


34 Deddy PAW THE BEST OFFERINGS Cat Minyak & AKrilik di atas Kanvas, 160 cm X 130 cm


35 Djoko Susilo | Manunggaling Nu - NKRI | Watercolor on canvas, varnish coated, 100 cm X 150 cm


36 Susilo Dwi Murwant Hari Santri Nasional Animasi


37 Edi Sunaryo GUNUNGAN Cat Minyak di atas Kanvas 110 cm X 80 cm


38 Endang Lestari | Nature's Allure Series, 2023 keramik, cat minyak, colase drawing diatas plat aluminium, 50 x 50 x 40 cm ( keramik instalasi) Akrilik di atas canvas, 43cm x 38 cm ( 4 panel)


39 Eny Retno Yaqut Unnamed ---


40 Erica Hestu Wahyuni | Qurrota A'yun | acrylic on canvas and teakwood carved, 58 cm X 58 m


41 Errik Irwan (Gump n Hell) Salib Santri Pena di atas Kertas dan Pewarnaan Digital, 110 cm X 80 cm


42 Faisal Kamandobat | Ngaji Ilmu Bumi | Cat Akrilik, Tinta di atas Kanvas, 120 m X 150 m


43 Hartono CAHAYA OOC. 144 cm X 180 cm


44 Ida Bagus Putu Purwa | Cerita Negeri Pesisir | Charcoal, oil on canvas


45 Ilham Khoiri | Doa Untuk Bangsa | Cat Akrilik di atas Kanvas, 180 cm X 130 cm


46 Jitet Koestana | Merawat Kehidupan | -


47 Jumaldi Alfi Oleh-Oleh Dari Masa Lalu Cat Akrilik, Permanent Marker di atas Kanvas, 110 cm X 80 cm


48 Klowor Waldiyono | Dialog Asmara #1 | Cat Akrilik di atas Kanvas, 100 cm X 120 cm


49 Kaji Habib | SIMURGH | Cat Akrilik di atas Kanvas, 100 cm X 100 cm


Click to View FlipBook Version