MODUL PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran : Geografi
Kelas/Semester : XII / 1 (satu)
Kompetensi Dasar : 3.1 Memahami konsep wilayah dan perwilayahan dalam
perencanaan tata ruang wilayah nasional, propinsi dan kabupaten
Tujuan Pembelajaran :
1. Menjelaskan Konsep wilayah, perwilayahan dan tata ruang
2. Menjelaskan pola Pembangunan dan pertumbuhan wilayah
3. Pertumbuhan wilayah berkelanjutan dan Daya dukung wilayah
4. Menganalisis Perencanaan tata ruang nasional, propinsi dan kab/ kota
5. Menganalisis Permasalahan dalam penerapan tata ruang wilayah
I. Wilayah
A. Pengertian Wilayah
Wilayah merupakan suatu area yang punya karakteristik atau sifat khas tertentu
yang membedakannya dengan wilayah lainnya. Nah, kalau mau merujuk pada
Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997 Tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional, wilayah ialah ruang yang merupakan kesatuan dari geografis,
serta segenap unsur-unsur yang ada pada batas dan sistemnya ditentukan
berdasarkan administratif dan atau aspek fungsional.
Secara singkat, wilayah merupakan penampakan tertentu yang bersifat khas,.
Misalnya nih, wilayah kehutanan berbeda dengan wilayah pertanian. Atau wilayah
perkotaan tentu berbeda dengan wilayah pedesaan.
Nah, wilayah ini tentunya terdiri dari kesatuan ekosistem, baik komponen biotik dan
abiotik di dalamnya. Komponen biotik bisa berupa penduduk, vegetasi, dan hewan.
Sementara komponen abiotik bisa berupa iklim, jenis tanah, bentuk lahan, dan
lainnya.
B. Tipe Wilayah
Umumnya, wilayah terbagi ke dalam 2 tipe, yakni wilayah formal dan wilayah
fungsional. Apa saja sih, itu? Yuk, baca penjelasannya di bawah ini.
a. Wilayah Formal
Wilayah ini adalah wilayah yang punya kesamaan dalam kriteria tertentu, baik
kriteria fisik atau sosial. Misalnya, suatu wilayah punya kesamaan dalam
kegiatan bercocok tanam, maka wilayahnya disebut wilayah pertanian. Atau
suatu wilayah punya kesamaan bentuk lahan yang berbukit-bukit, maka wilayah
itu disebut wilayah perbukitan atau dataran tinggi.
Karakteristik tipe wilayah formal, yaitu:
1. Tipe homogenitas, disebut juga homogeneus region, formal region,
uniform region.
2. Bersifat statis.
3. Tidak aktif.
4. Terbentuk karena adanya keseragaman (kesamaan baik kriteria fisik atau
sosial).
5. Wilayah inti umumnya terdapat di bagian tengah.
Contoh tipe wilayah formal:
1. Wilayah dataran rendah, dataran tinggi, pegunungan, pedesaan
2. Wilayah kapur, gurun, karst
3. Wilayah tropis, subtropis, kutub
4. Wilayah perikanan, pertanian, perkebunan, peternakan
b. Wilayah Fungsional
Wilayah ini adalah wilayah banyak diatur oleh beberapa kegiatan dan saling
terkait, ditandai adanya interaksi dengan wilayah sekitarnya. Misalnya saja
sebuah industri yang didirikan pada suatu wilayah dan karyawan yang tinggal di
sekitarnya. Setiap pagi para karyawan ini bekerja menuju pabrik dan sore
kembali lagi ke rumah masing-masing.
Karakteristik tipe wilayah fungsional, yaitu:
1. Tipe hegeronitas, disebut juga functional region, organic region, nodus region.
2. Bersifat dinamis.
3. Aktif.
4. Terbentuk karena adanya kesamaan kenampakan.
5. Merupakan sebuah wilayah yang difungsikan.
Ciri-ciri wilayah fungsional:
1. Ada arus barang, gagasan, dan manusia.
2. Punya pusat kegiatan yang berhubungan dengan wilayah sekitar.
3. Pusat menjadi pusat pertemuan arus barang, gagasan, dan manusia secara
terorganisasi.
4. Ada jaringan jalan tempat berlangsungnya tukar-menukar.
Contoh tipe wilayah fungsional:
1. Wilayah kota
2. Wilayah industri
3. Wilayah perdagangan
4. Wilayah konservasi
II. Perwilayahan
A. Pengertian Perwilayahan
Perwilayahan (regionalisasi) merupakan proses penggolongan wilayah
berdasarkan ciri-ciri dan kriteria tertentu. Perwilayahan adalah upaya untuk
membagi-bagikan permukaan bumi ke dalam sebuah wilayah-wilayah untuk
tujuan tertentu.
B. Klasifikasi Perwilayahan
Umumnya, klasifikasi atau penggolongan perwilayahan dibagi menjadi 2, yaitu
perwilayahan formal dan perwilayahan fungsional. Di bawah ini penjelasan
lengkapnya, ya.
1. Perwilayahan Formal
Perwilayahan ini merupakan pengelompokan wilayah yang punya
karakteristik yang sama alias homogen. Biasanya perwilayahan ini
ditentukan berdasarkan kriteria tertentu, seperti administrasi, kondisi fisik,
kondisi sosial, atau kondisi ekonomi. Pembatasan wilayah formal biasanya
cukup sulit, tapi wilayah inti biasanya mudah dikenali karena punya
perbedaan yang mencolok dibandingkan wilayah lainnya.
Wilayah inti juga umumnya terletak di bagian tengah yang letaknya
strategis, misalnya seperti di daerah subur, persimpangan jalan, atau
lembah-lembah sungai. Karena letaknya yang strategis inilah, wilayah
tersebut jadi cepat berkembang jadi pusat aktivitas penduduk, baik aktivitas
ekonomi, sosial, budaya, politik, maupun administrasi.
Contoh perwilayahan formal adalah pembagian wilayah berdasarkan batas
administrasi yang menghasilkan beberapa provinsi.
2. Perwilayahan Fungsional
Perwilayahan ini merupakan pengelompokan wilayah yang punya
karakteristik berbeda atau heterogen dan biasanya ditentukan oleh
hubungan antara bagian-bagian wilayah dengan pusat wilayah. Meski
karakteristiknya heterogen, kita tetap bisa menemukan pola keragaman
dalam suatu wilayah.
Pusat wilayah (wilayah yang besar) dengan bagian wilayah (unit yang lebih
kecil) saling ketergantungan sehingga terdapat hubungan fungsional di
antara keduanya yang tetap diatur oleh pusat wilayah. Semua gerakan
interaksi (manusia, barang, dan jasa) mengarah pada pusat wilayah.
Contoh perwilayahan fungsional adalah kota Jakarta (provinsi) yang terdiri
dari beberapa unit (kotamadya, kecamatan, kelurahan). Kota Jakarta dan
unit-unitnya ini dihubungkan oleh jaringan jalan dan dikelilingi oleh jalan
lingkar luar yang menghubungkan unit-unit dengan pusat kota.
C. Metode Perwilayahan
Nah, ada 2 metode perwilayahan atau pembatasan nih yang bisa digunakan.
Apa saja, sih?
Metode Delineasi (Pembatasan) Wilayah Formal -> Pembatasan wilayah formal
dilakukan dengan “Nilai Bobot Indeks”, yang membatasi wilayah berdasarkan
lebih dari satu kriteria. Misalnya, pembatasan wilayah iklim (wilayah tropis,
subtropis, kutub) berdasarkan letak lintang dan temperatur rata-rata.
Metode Delineasi (Pembatasan) Wilayah Fungsional -> Pembatasan wilayah ini
menyangkut hubungan timbal balik antara pusat wilayah dengan beberapa
bagian wilayahnya (unit wilayah). Misalnya, pembatasan wilayah jalur angkutan
umum antara pusat wilayah dengan bagian wilayah.
III. Pusat Pertumbuhan
A. Pengertian Pusat Pertumbuhan
Pusat pertumbuhan merupakan wilayah yang punya pertumbuhan lebih cepat
dibanding wilayah lainnya. Biasanya wilayah ini menjadi sumber dari berbagai
kegiatan ekonomi dan sangat memengaruhi wilayah sekitarnya. Pusat
pertumbuhan ini juga selalu dijadikan acuan pembangunan supaya bisa
memengaruhi perkembangan wilayah di sekitarnya, guna terciptanya
pemerataan pembangunan.
B. Faktor yang Memengaruhi Perkembangan Pusat Pertumbuhan
Ada beberapa faktor yang bisa memengaruhi perkembangan dalam wilayah
pusat pertumbuhan, antara lain:
1. Lokasi
2. Sumber daya alam
3. Sumber daya manusia
4. Topografi
5. Fasilitas penunjang
6. Industri
7. Sosial budaya masyarakat
C. Wilayah Pusat Pertumbuhan Indonesia
Nah, biar kamu belajarnya bisa lebih mengerti lagi, Saya akan berikan contoh
nyata dari realisasi pembangunan pusat pertumbuhan. Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional (Bappenas) membagi wilayah Indonesia ke dalam 4
regional pembangunan utama dan sepuluh (X) wilayah pembangunan. Dengan
melihat tabel ini, mudah-mudahan kamu jadi lebih mengerti lagi apa itu wilayah
pusat pertumbuhan.
No Regional Pusat Wilayah Pembangunan
Pertumbuhan
Aceh dan Sumut
Utama I Pusatnya di Medan
1. A Medan Sumbar, Riau, dan Kep. Riau
II Pusatnya di Pekanbaru
2. B Jakarta
Jambi, Sumsel, Bengkulu, dan Ba-
3. C Surabaya Bel
III Pusatnya di Palembang
4. D Makassar
Lampung, Jakarta, Jabar, Jateng,
Banten, dan DI Yogyakarta
IV Pusatnya di Jakarta
Kalbar
VI Pusatnya di Pontianak
Jatim dan Bali
V Pusatnya di Surabaya
Kalteng, Kaltim, dan Kalsel
Pusatnya di Balikpapan dan
VII Samarinda
NTB, NTT, Sulsel, dan Sultra
VIII Pusatnya di Makassar
Sulteng, Sulut, dan Gorontalo
IX Pusatnya di Manado
Maluku, Maluku Utara, Papua (Irian
Jaya)
X Pusatnya di Sorong