The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kearifan lokal mdapat dimanfaatkan sebagai salah satu upaya dalam mengservasi lingkungan. Seperti halnya kearifan lokal yang ada di daerah Kampung Adat Kampung Naga yang masih memegang teguh kearifan lokalnya yang dapat menjaga kelestarian mataair yang ada disana.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by rikibangkitpriadi123, 2022-05-27 21:39:20

Pemodelan Konservasi Air Berbasis Kearifan Lokal di Kampung Naga

Kearifan lokal mdapat dimanfaatkan sebagai salah satu upaya dalam mengservasi lingkungan. Seperti halnya kearifan lokal yang ada di daerah Kampung Adat Kampung Naga yang masih memegang teguh kearifan lokalnya yang dapat menjaga kelestarian mataair yang ada disana.

Keywords: Pemodelan,Konservasi Air,Kearifan Lokal,Kampung Naga

PEMODELAN KONSERVASI AIR BERBASIS KEARIFAN
LOKAL PADA MASYARAKAT KAMPUNG NAGA
KABUPATEN TASIKMALAYA

KARYA TULIS ILMIAH
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Pemilihan Mahasiswa Berprestasi

Oleh,
RIKI BANGKIT PRIADI

NPM 172170009

JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SILIWANGI
TASIKMALAYA
2020

KATA PENGANTAR
Puji serta syukur penulis panjatkan kepada kehadirat Allah SWT, karena atas
berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini. Karya tulis
ilmiah ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat pemilihan mahasiswa berprestasi
di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Karya tulis ilmiah ini berjudul “Pemodelan Konservasi Air Berbasis Kearifan
Lokal pada Masyarakat Kampung Naga Kabupaten Tasikmalaya”. Penelitian yang
dilakukan yaitu melihat pola aktivitas masyarakat Kampung Naga Desa Neglasari
yang berkaitan dengan konservasi air.
Penulis ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
setiap proses penyusunan karya tulis ini, terkhusus kepada dosen pembimbing yang
telah membimbing dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini yaitu Ibu Erni Mulyanie,
S.Pd, M.Pd. dan Bapak Ruli As’ari, S.Pd, M.Pd. Penulis menyadari dalam melakukan
penyusunan karya tulis ilmiah ini masih terdapat kesalahan dan kekurangan, oleh
karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan untuk kemajuan
dan kebaikan di masa yang akan datang. Semoga karya tulis ilmiah ini dapat
bermanfaat bagi penulis dan juga pembaca pada umumnya.

Tasikmalaya, 16 Maret 2020

Penulis,

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL.......................................................................................i
KATA PENGANTAR .......................................................................................ii
DAFTAR ISI.....................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................iv
BAB I (PENDAHULUAN)

A. Latar Belakang........................................................................................... 5
B. Rumusan Masalah...................................................................................... 6
C. Tujuan........................................................................................................ 7
D. Kegunaan ................................................................................................... 7
BAB II (LANDASAN TEORITIS)
A. Konsep Sumber Daya Air..........................................................................8
B. Konservasi Air ......................................................................................... 11
C. Kearifan Lokal......................................................................................... 13
BAB III (METODE PENELITIAN)
BAB IV (HASIL PENELITIAN)
A. Deskripsi Daerah Penelitian Kampung Naga ..........................................15
B. Nilai Kearifan Lokal Pada Masyarakat Kampung Naga

Dalam Pengelolaan Sumberdaya Air....................................................... 16
C. Pemodelan Konservasi Air Berbasis Kearifan Lokal

di Kampung Naga.................................................................................... 20
BAB V (SIMPULAN DAN SARAN)

A. Simpulan ............................................................................................... 23
B. Saran......................................................................................................23
DAFTAR PUSTAKA

iii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 4.1 Kondisi Ruang Kampung Naga................................................... 15
Gambar 4.2 Sungai Ciwulan dan Hutang Larangan ........................................17
Gambar 4.3 Persawahan di Kampung Naga .................................................... 18
Gambar 4.4 Permukiman di Kampung Naga................................................... 19
Gambar 4.5 Kolam Ikan di Kampung Naga .................................................... 20
Gambar 4.6 Penggunaan Lahan untuk Permukiman di Kampung Naga.........20
Gambar 4.7 Penggunaan Lahan pada Bidang Pertanian di Kampung Naga ...21
Gambar 4.8 Pemodelan Konservasi dan Pengelolaan Air di Kampung Naga.22

iv

v

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Air merupakan salah satu kebutuhan makhluk hidup yang sangat penting.

Banyak aktivitas manusia yang membutuhkan air. Bahkan 60-70% bagian tubuh
manusia terdiri dari air. Tidak hanya manusia, air juga diperlukan untuk
keberlangsungan hidup hewan dan tumbuhan sebagai habitat dan syarat
metabolismenya. Sebagian besar (97%) air di dunia ini ditemukan dalam bentuk
air asin yang berasal dari lautan (Asdak, 2010:9). Air tawar yang dapat
dimanfaatkan oleh manusia hanya terdapat 1% dari total keseluruhan air di muka
Bumi.

Saat ini ketersediaan air menjadi berkurang dari segi kualitasnya karena
adanya polutan yang masuk menyebabkan pencemaran air. Banyaknya
pembangunan-pembangunan yang tidak ramah lingkungan mempengaruhi
keberadaan daerah resapan air. Semakin berkurangnya daerah resapan air
mengakibatkan menurunnya tingkat ketersediaan air di wilayah tertentu. Maka
perlu adanya upaya menjaga dan melestarikan daerah resapan air sebagai tempat
terjadinya infiltrasi air hujan.

Pentingnya konservasi air ini dijadikan sebagai salah satu acuan dalam
merumuskan Sustainable Development Goals atau disingkat SDGs. SDGs adalah
tujuan-tujuan yang terukur hasil kesepakatan PBB untuk kemaslahatan manusia
dan lingkungan. Di dalamnya terdapat beberapa poin yang mengarahkan pada
tujuan ketersediaan air untuk memenuhi kebutuhan manusia dan menyeimbangkan
ekosistem.

Sebelumnya ketersediaan air di permukaan bumi sangat melimpah. Selain
karena keadaan lingkungan yang masih terjaga bisa saja hal tersebut terjadi karena
pola aktivitas dan pola pikir masyarakat yang masih tradisional. Kebiasaan-
kebiasaan orang zaman dulu terpola menjadi sebuah adat istiadat yang di

6

dalamnya terkandung sebuah nilai. Nilai tersebut pada akhirnya menjadi sebuah
budaya atau kearifan lokal yang tertanam pada suatu masyarakat dan bersifat turun
temurun terhadap generasi-generasi mendatang. Namun akibat kemajuan zaman,
nilai-nilai kearifan lokal secara perlahan mulai menghilang. Cara berfikir
masyarakat yang modern menganggap bahwa nilai-nilai kearifan lokal tidak
masuk akal. Tetapi sebenarnya dibalik ketidaklogisan nilai tersebut terdapat tujuan
tersembunyi yang mungkin saja dapat diterapkan pada masa sekarang ini.

Di tengah kemajuan tekonologi yang semakin modern ini, ternyata masih
terdapat masyarakat yang mempertahankan budaya kearifan lokalnya. Salah
satunya berada pada masyarakat Kampung Naga di Kabupaten Tasikmalaya.
Masyarakat Kampung Naga memegang teguh nilai kearifan lokal tanpa
menginginkan sentuhan teknologi yang lebih modern. Kelestarian lingkungan di
Kampung Naga sampai saat ini masih terjaga. Ketika beberapa wilayah mengalami
krisis air, kebutuhan air di Kampung Naga tetap terpenuhi.

Maka dari itu, peneliti tertarik melakukan penilitian bagaimana masyarakat
Kampung Naga dapat menjaga ketersediaan air, yang akan menghasilkan output
pemodelan konservasi air pada masyarakat Kampung Naga. Dengan harapan
pemodelan yang dihasilkan dapat diterapkan di daerah lain sebagai upaya
konservasi air.

B. Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang di atas, yang menjadi rumusan masalah

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah nilai-nilai kearifan lokal terkait konservasi air pada masyarakat

Kampung Naga di Kabupaten Tasikmalaya?
2. Bagaimanakah pemodelan konservasi air berbasis kearifan lokal pada

masyarakat Kampung Naga di Kabupaten Tasikmalaya?

7

C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui nilai-nilai kearifan lokal terkait konservasi air pada masyarakat
Kampung Naga di Kabupaten Tasikmalaya.

2. Mengetahui pemodelan konservasi air berbasis kearifan lokal pada masyarakat
Kampung Naga di Kabupaten Tasikmalaya.

D. Kegunaan Penelitian
1. Kegunaan Teoritis
Secara teoritis penelitian ini berguna sebagai informasi mengenai
pemodelan konservasi air berbasis kearifan lokal. Dan sebagai ilmu
pengetahuan pada bidang kebudayaan dan kearifan lokal dalam pengelolaan
sumber daya air.
2. Kegunaan Praktis
Dapat dijadikan percontohan atau pun pertimbangan dalam penentuan
kebijakan untuk menjaga kelestarian sumber daya air. Mengingatkan
pentingnya menjaga dan melestarikan sumber daya air untuk keberlanjutan
kehidupan.

8

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Konsep Sumber Daya Air
Air merupakan kebutuhan yang penting bagi kehidupan manusia.

Sebagaimana Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Daya
Air, mendefinisikan mengenai sumberdaya air adalah air, sumber air, dan daya air
yang terkandung di dalamnya. Kepadatan dan penyebaran sumberdaya air di
Indonesia tidak merata. Salah satu penyebab menurunnya daya serap dan daya
tampung air yaitu karena meluasnya lahan kritis dan kurang sesuainya penerapan
tata guna lahan. Kualitas air cenderung menurun karena pencemaran air oleh
limbah dari permukiman, industri, pertambangan, intensifikasi pertanian,
pariwisata, pelayaran dan sebagainya.
1. Siklus Hidrologi

Siklus hidrologi adalah pergerakan dan perubahan air di dalam hidrosfer
(Indarto, 2014). Air yang jatuh ke bumi dalam bentuk hujan, salju, dan embun
akan mengalami berbagai peristiwa, kemudian akan menguap ke udara menjadi
awan dan dalam bentuk hujan, salju, dan embun jatuh kembali ke bumi.
Peristiwa yang terus berulang dan merupakan siklus tertutup ini dinamai siklus
air (Arsyad, 2010).

Siklus hidrologi berawal dari penyinaran matahari yang menyebabkan
terjadinya penguapan air di muka bumi. Penguapan yang terjadi pada perairan
terbuka disebut evaporasi. Proses penguapan tidak hanya terjadi pada perairan
terbuka saja tetapi proses respirasi pada makhluk hidup mengalami penguapan
yang disebut transpirasi. Penguapan yang berlangsung pada perairan terbuka
dan makhluk hidup secara bersama disebut evapotranspirasi.

Uap air yang mengalami kenaikan setelah mengalami pendinginan akan
mengalami kondensasi atau pengkristalan uap-uap air menjadi padat atau sering
disebut sebagai awan. Awan di atas permukaan bumi mengalami pergerakan

9

oleh angin sehingga awan terdistribusi di permukaan bumi. Kumpulan kristal
air akan mengalami titik jenuh ditambah dengan tarikan gaya gravitasi yang
menyebabkan turunnya hujan (presivitasi). Presipitasi dapat terjadi dalam
beberapa bentuk seperti salju, hujan air dan hujan es.

Tidak semua air yang jatuh ke bumi dapat meresap ke dalam tanah
(infiltrasi), tetapi sebagian ada yang tertahan dan terserap oleh tumbuhan yang
disebut sebagai intersepsi. Sisanya mengalir di atas permukaan tanah yang akan
terus mengalir menuju tempat yang lebih rendah yang disebut dengan run off.
Air yang meresap ke dalam tanah akan tertampung di dalam tanah sebagai air
tanah, ada juga yang mengalami pergerakan di dalam tanah yang disebut
sebagai perkolasi. Air yang mengalir dipermukaan akan terkumpul pada sebuah
cekungan sepert lembah sungai, danau bahkan mengalir ke lautan dan sebagian
mengalami penguapan kembali.
2. Air Bawah Permukaan

Air bawah permukaan tanah semua bentuk air hujan yang mengalir di
bawah permukaan tanah sebagai akibat struktur pelapisan geologi, beda potensi
kelembapan tanah dan gaya gravitas bumi. Mempertimbangkan bahwa air
bawah permukaan menelaah persoalan yang berkaitan dengan keberadaan air di
dalam tanah (Asdak, 2010).

Ifiltrasi adalah proses aliran air (umumnya berasal dari curah hujan)
masuk ke dalam tanah. Proses infiltrasi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara
lain, tekstur dan struktur tanah, persediaan air awal (kelembapan awal),
kegiatan biologi dan unsur organik, jenis dan kedalaman seresah, dan tumbuhan
bawah atau tajuk penutup tanah lainnya. Tanah remah akan memberikan
kapasitas infiltrasi lebih besar daripada tanah liat. Tanah dengan pori-pori jenuh
air mempunyai kapasitas lebih kecil dibandingkan tanah dalam keadaan kering.
Keadaan tajuk penutup yang rapat akan mengurangi tingkat air hujan yang
sampai ke permukaan tanah dengan demikian berpengaruh terhadap
infiltrasinya. Sementara sistem perakaran vegetasi dan sereah membantu

10

menaikan permeabilitas tanah yang dapat meningkatkan laju infiltrasi. Laju
infiltrasi ditentukan oleh:
a) Jumlah air yang tersedia di permukaan tanah
b) Sifat permukaan tanah
c) Kemampuan tanah untuk mengosongkan air di atas permukaan tanah

. Sumber air di bumi dapat ditemui di berbagai tempat dalam bentuk
yang berbeda. Namun sumber air yang relatif dapat dikelola untuk
dimanfaatkan sebagai pemenuhan kebutuhan mahluk hidup dan keperluan
manusia adalah sebagai berikut:
1) Air Permukaan

Effendi (2003:30), air permukaan (surface water) adalah air yang
berada di sungai, danau, waduk, rawa, dan badan air lain, yang tidak
mengalami infiltrasi ke tanah. Noor (2006:69), air permukaan adalah air yang
mengalir di daratan permukaan bumi. Jumlah air permukaan di daratan pada
umumnya dipengaruhi oleh curah hujan tahunan, intensitas curah hujan,
kecepatan evapotranspirasi, kedalaman muka air tanah, permeabilitas batuan,
tutupan lahan, kecuraman lereng, karakteristik sungai, dan aktifitas manusia.
Indarto (2014:9), air di permukaan (surface water) terdistribsikan ke berbagai
tempat, seperti waduk, danau, sungai, tambak, dan embung. Jumlah
keseluruhannya tidak lebih dari 0,01% dari air di bumi. Air permukaan dibagi
menjadi golongan dua, yaitu badan air tergenang (standing waters) meliputi
danau, kolam, waduk, rawa, dan sebagainya, dan badan air mengalir (flowing
waters) seperti air yang berada di sungai (Effendi, 2003:31).
2) Air Laut

Air di lautan jumlahnya mencapai 97,2%, dan merupakan tempat
konsentrasi utama air di permukaan bumi (Noor, 2006:64). Indarto (2014:8),
air laut mengandung sekitar 0,035 (35 gr/liter) padatan terlarut yang
kebanyakan adalah garam (sodium cloride). Berbeda dengan air yang berada
di sungai dan danau yang mengandung padatan terlarut kurang dari 1 gr/liter

11

atau yang biasa disebut dengan air tawar. Daerah tempat bertemunysa air laut
dengan air tawar disebut esturi (payau, muara, dan daerah pasang surut).
3) Air Tanah

Effendi (2003:44) air tanah (groundwater) adalah air yang berada di
permukaan tanah yang tersimpa di akuifer, pergerakan kecepatannya sangat
dipengaruhi oleh porositas dan permeabilitas lapisan tanah dan daerah
penyerapan (recharge area). Akumulasi air di bawah tanah akibat infiltrasi
dari air hujan, air sungai, air danau, dan reservoir. Pada kedalaman tertentu
dari bagian bawah tanah berada dalam kondisi jenuh (saturated) atau biasa
disebut dengan air bawah tanah. Dan pada berbagai tempat tidak sama,
tergantung pada iklim dan kondisi batuan di daerah tersebut (Noor, 2006:71).
B. Konservasi Tanah dan Air

Konservasi tanah dan air dalam arti luas adalah penempatan setiap bidang
tanah pada cara pengunaa yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan
memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi
kerusakan tanah. Dalam arti sempit konservasi tanah diartikan sebagai upaya
untuk mencegah kerusakan tanah oleh dan memperbaiki tanah yang rusak oleh
erosi. Upaya konservasi tanah ditujukan untuk mencegah erosi, memperbaiki tanah
yang rusak dan memelihara serta meningkatkan produktivitas tanah agar dapat
digunakan secara berkelanjutan (lestari) (Arsyad, 2010). Konservasi tanah bukan
berarti tidak memanfaatkan tanah, tetapi menyesuaikan macam dan cara
pemanfaatan tanah dengan kemampuan tanah agar tidak rusak dan dapat berfungsi
secara berkelanjutan.
1. Metode Konservasi Tanah dan Air

Metode konservasi tanah dan air digolongkan menjadi tiga golongan
utama yaitu:
a. Metode Vegetatif

Metode vegetatif adalah menggunaan tanaman dan tumbuhan, atau
bagian-bagian tumbuhan atau sisa-sisany untuk mengurangi daya tumbuk

12

butir air hujan yang jatuh, mengurangi jumlah dan kecepatan aliran
permukaan yang pada akhirnya mengurangi erosi tanah (Arsyad, 2010).
Metode vegetatif ini memiliki beberapa fungsi yaitu melindungi tanah dari
butir air hujan yang jatuh, melindungi erosi dari air hujan yang mengalir di
permukaan tanah dan menambah daya serap tanah terhadap air hujan.
b. Metode Mekanik

Metode mekanik adalah semua perlakuan fisik mekanis yang diberikan
terhadap tanah dan pembuatan bangunan untuk mengurangi aliran
permukaan dan erosi, dan meningkatkan kemampuan penggunaan tanah
(Arsyad, 2010). Usaha pengendalian erosi dengan cara mekanis menurut
Kartasapoetra (2010: 155) dapat dilakukan dengan cara:
1) Pembuatan jalur-jalur bagi pengaliran air dari tempat-tempat tertentu ke

tempat-tempat permbuangan (water ways).
2) Pembuatan teras-teras atau sengkedan-sengkedan agar aliran air dapat

terhambat sehingga daya angkut atau hanyutnya berkurang.
3) Pembuatan selokan dan parit ataupun rorak-rorak pada tempat tertentu.
4) Melakukan pengolahan tanah sedemikian rupa yang sejajar dengan garis

kontur.
c. Metode Kimia

Metode kimia adalah penggunaan preparat kimia baik berupa
senyawa sintetik maupun beruoa bahan alami yang telah diolah, dalam
jumlah yang relatif sedikit, untuk meningkatkan stabilitas agregat tanah dan
mencegah erosi (Arsyad, 2010). Metode kimia dalam konservasi tanah dan
air yaitu dengan pemanfaatn soil conditioner atau bahan-bahan pemantap
tanah dalam hal memperbaiki struktur tanah sehingga tanah akan tetap
resisten terhadap erosi. Metode ini digunakan untuk memperbaiki kandungan
unsur kimia yang terdapat dalam suatu tanah. Biasanya metode ini
digunakan apabila terdapat suatu lahan yang akan dijadikan sebagai lahan
pertanian.

13

2. Konservasi Air
Konservasi air pada prinsipnya adalah penggunaan air hujan yang jatuh

ke tanah untuk pertanian seefisien mungkin, dan mengatur waktu aliran agar
tidak terjadi banjir yang merusak dan terdapat cukup air pada waktu musim
kemarau (Arsyad, 2010). Konservasi air dan tanah memiliki keterkaitan satu
sama lain. Perlakuan terhadap tanah akan mempengaruhi pada kondisi air di
suatu wilayah. Dalam proses konservasi air terdapat beberapa hal yang harus
dilakukan seperti pengelolaan air permukaan tanah, pengelolaan air tanah, dan
meningkatkan efisiensi pemakaian air tanaman. Jadi pada tahap ini konservasi
air ini lebih menekankan pada kesesuaian penggunaan air di muka bumi sesuai
dengan kualitas air yang ada.

C. Kearifan Lokal
Kearifan lokal merupakan nilai-nilai yang diakui oleh masyarakat adat di

suatu wilayah. Masyarakat yang memegang teguh kearifan lokal biasanya
merupakan penduduk pribumi. Selain menjadi nilai budaya ternyata kearifan lokal
dapat berperan dalam konservasi lingkungan. Kearifan lokal harus dipatuhi oleh
seluruh masyarakat adat, apabila ada orang yang melanggar dipercaya akan
berdampak tidak baik bagi orang yang melanggar atau pun menimpa seluruh
masyarakat adat dalam satu kawasan. Menurut Marfai (2013), salah satu fungsi
adanya kearifan lokal adalah untuk upaya konservasi dan pelestarian sumber daya
alam. Dalam kearifan lokal seringkali terdapat peraturan yang membatasi
pengambilan sumber daya alam sehingga manusia tidak bersifat eksploitatif.

Namun karena perkembangan zaman, kini keberadaan kearifan lokal mulai
memudar. Nilai-nilai kearifan lokal tergeser keberadaannya oleh perkembangan
teknologi yang sangat pesat. Tetapi sampai saat ini, masyarakat yang memegang
teguh kearifan lokal masih dapat ditemui di beberapa daerah, misalnya di
Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya.

14

BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk
mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu (Sugiyono, 2018:2).
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif
kualitatif, karena peneliti bermaksud menggambarkan atau mendeskripsikan
keadaan yang ditemui di lapangan. Metode penelitian kualitatif adalah metode
penelitian yang berlandaskan filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti
pada kondisi objek yang alamiah. Metode ini digunakan untuk mendapatkan data
penelitian yang mendalam. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian adalah studi literature, wawancara, observasi lapangan dan
dokumentasi.

15

BAB IV
HASIL PENELITIAN

A. Deskripi Daerah Penelitian Kampung Naga
Secara administratif Kampung Naga termasuk wilayah desa Neglasari,

kecamatan Salawu, kabupaten Tasikmalaya. Berdasarkan letak geografis,
Kampung Naga berada diantara dua bukit dan dilalui oleh sungai Ciwulan yang
menjadikan daerahnya subur. Kondisi tersebut mempengaruhi aktivitas dan gaya
hidup orang-orang di Kampung Naga. Masyarakat Kampung Naga merupakan
salah satu penduduk pribumi di Indonesia yang sangat memelihara nilai-nilai
kearifan lokal. Kearifan lokal masyarakat Kampung Naga yang bersifat menjaga
lingkungan mengakibatkan terjaganya kelestarian lingkungan.

Gambar 4.1 Kondisi Ruang Kampung Naga
Kampung Naga yang berlokasi di lembah bukit ini memiki luas area 1,5 ha.
Wilayahnya memiliki jenis tanah yang sangat subur, karena berdekatan dengan
sungai Ciwulan sebagai sumber air yang berhulu dari Gunung Cikuray di Garut.
Rata-rata ketinggian Kampung Naga adalah 600 meter di atas permukaan laut,
dengan titik terendah yaitu 546 meter di atas permukaan air laut (mdpl), dan titik
tertinggi 728 meter di atas permukaan air laut (mdpl). Kampung Naga terletak
pada koordinat 7º21’49”LS dan 107º59’40” BT, posisi tersebut menyebabkan
wilayah ini beriklim tropis.

16

B. Nilai Kearifan Lokal Pada Masyarakat Kampung Naga Dalam Pengelolaan
Sumberdaya Air
Masyarakat Kampung Naga mengatur aktivitas kehidupannya dengan
aturan yang berasal dari nilai-nilai luhur yang diwariskan. Mereka sangat
mematuhi peraturan yang tidak tertulis seperti pantangan-pantangan atau sering
disebut sebagai pamali. Adapun aturan-aturan yang berpengaruh terhadap
kondisi sumberdaya air di Kampung Naga:
1. Pembagian peruntukan sumber air
Pembagian peruntukan sumber air di Kampung Naga adalah upaya
agar pemanfaatan air menjadi lebih efektif, sehingga air tidak tercemar. Air
didistribusikan untuk keperluan pengairan sawah, keperluan domestik dan
kolam ikan. Terdapat sumber air yang dikhususkan untuk air minum.
2. Air tidak boleh disalurkan ke wilayah tempat tinggal
Air tidak boleh dialirkan ke setiap permukiman warga sehingga tidak
boleh ada yang membangun kamar mandi di rumah penduduk lokal.
Ketetapan tidak boleh dibangun kamar mandi merupakan bentuk dalam
menjaga kualitas air dari pencemaran air.
3. Aturan di kawasan lindung
Kawasan lindung yang dimaksud dengan hutan keramat dan hutan
larangan merupakan daerah resapan air di Kampung Naga. Kawasan ini
merupakan kawasan yang tidak boleh tersentuh oleh tangan manusia. Namun
masyarakat Kampung Naga tetap dapat memanfaatkan hutan ini dengan
syarat mengambil hasil hutan tanpa memasuki wilayah kawasan lindung.
Secara langsung dampak dari adanya hutan lindung ini dapat dirasakan oleh
penduduk lokal karena sumber air di Kampung Naga tidak pernah
mengalami kekeringan.
4. Lahan tempat tinggal tidak boleh diperluas
Aturan ini bertujuan agar tidak terjadinya alih fungsi lahan berlebihan
di daerah Kampung Naga. Apabila terjadi pembangunan, hal tersebut akan

17

terus mendorong pembangunan lainnya yang akan mengubah tatanan
lingkungan yang bersifat merusak alam.
5. Tidak boleh menggunakan semen dalam wilayah tempat tinggal

Pembangunan dengan menggunakan semen akan mengurangi daerah
resapan air, yang tentunya mengurangi proses penyerapan air hujan oleh
tanah.

Penggunaan ruang di Kampung Naga dibagi menjadi dua kegunaan utama
yaitu kawasan lindung dan kawasan budidaya. Kawasan lindung merupakan
kawasan yang difungsikan untuk melindungi dan menjaga kelestarian sumber daya
alam. Kawasan lindung dibagi ke dalam beberapa penggunaan diantaranya hutan
lindung, hutan keramat, petilasan pasembayangan, petilasan sandang pangan dan
bumi ageung. Penggunaan ruang yang berkaitan dengan konservasi air yaitu hutan
larangan dan hutan keramat.
1. Hutan Larangan

Gambar 4.2 Sungai Ciwulan dan Hutang Larangan
Hutan larangan berada di sebelah Timur dari Kampung Naga, tepatnya
diseberang sungai Ciwulan. Hutan larangan berfungsi melindungi vegetasi yang
berperan dalam konservasi tanah dan air. Adanya hutan larangan menyebabkan
kondisi tanah tetap terjaga sebagai media dalam proses penyerapan air hujan.
Selain itu hutan ini juga berfungsi sebagai kawasan pelestarian dan
penyeimbang ekosistem.

18

Masyarakat lokal disana mematuhi bahwa tidak ada yang boleh masuk
ke dalam hutan larangan tersebut apalagi sampai mengeksploitasi sumber daya
alamnya. Hutan larangan adalah hutan yang belum pernah terjamah oleh
manusia, sehingga perubahan yang terjadi berlangsung tanpa adanya campur
tangan manusia.
2. Hutan Keramat

Hutan keramat terletak di sebelah barat dari permukiman masyarakat
Kampung Naga. Hutan ini menjadi batas kawasan permukiman. Sama halnya
dengan hutan larangan, hutan keramat juga menjadi area yang sangat dijaga dan
dilindungi. Orang-orang tidap dapat sembarangan untuk masuk ke hutan ini,
terdapat ketentuan-ketentuan seperti pada saat-saat tertentu dan harus
didampingi oleh ketua adat atau paling tidak mendapatkan izin dari ketua adat.
Apabila dilanggar masyarakat percaya akan terjadi sesuatu hal yang tidak
diinginkan.

Kegunaan ruang yang kedua adalah sebagai kawasan budidaya.
Kawasan budidaya dimanfaatkan untuk areal persawahan, permukiman dan
kolam ikan.
1. Persawahan

Gambar 4.3 Persawahan di Kampung Naga
Sawah merupakan areal utama di Kampung Naga sebagai lahan
produksi untuk menanam tanaman padi. Dalam satu tahun masyarakat
Kampung Naga dapat melakukan dua kali proses panen. Hasil produksi
pertanian di Kampung Naga bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pangan

19

masyarakat di sana. Hasil panen sebagian akan disimpan di lumbung padi
untuk cadangan makanan.
2. Permukiman

Gambar 4.4 Permukiman di Kampung Naga
Di Kampung Naga terdapat 110 bangunan tempat tinggal, 1 balai
adat, 1 mesjid, 1 bumi ageung, dan 1 lumbung padi. Semua lahan
permukiman yang ada disana merupakan hak milik adat sepenuhnya,
sehingga masyarakat hanya mendapatkan hak guna pakai. Terdapat
peraturan adat yang mengatur tentang permukiman di Kampung Naga yaitu:
a. Lahan tidak boleh diperluas.
b. Tidak boleh dilakukan pembangunan kamar mandi disetiap rumah.
c. Bangunan tidak boleh menggunakan semen.
d. Bangunan harus bermaterial kayu.
e. Posisi rumah harus saling berhadapan atau saling membelakangi.
3. Kolam Ikan
Areal kolam ikan merupakan area dengan kolam-kolam yang
dijadikan sebagai tempat budidaya ikan air tawar. Berbeda dengan tempat
tinggal, lahan kolam ikan ini dimiliki oleh pribadi. Hasil ternak ikan ini
dimanfaat oleh masyarakat sebagai tambahan untuk memenuhi kebutuhan
pangannya. Hasil budidaya baik itu beras, ikan atau pun hasil produksi
ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat itu sendiri, terkecuali jika
sudah terpenuhi masyarakat akan menjualnya.

20

Gambar 4.5 Kolam Ikan di Kampung Naga
Di atas kolam ikan terdapat bangunan kamar mandi, sehingga kolam
ikan ini memiliki dua fungsi yaitu sebagai tempat budidaya ikan dan tempat
pembuangan. Kamar mandi yang dibangun di atas kolam dapat digunakan
untuk kepentingan umum. Selain itu, terdapat bangunan saung lesung yang
berfungsi untuk menumbuk padi.

C. Pemodelan Konservasi Air Berbasis Kearifan Lokal di Kampung Naga
Pembangunan areal permukiman dilakukan diantara hutan dan sungai. Hal

ini karena berkaitan dengan elevasi atau kemiringan lereng pada wilayah tersebut.
Pada bagian tengah lahan relatif datar sehingga cocok digunakan untuk dibangun
permukiman. Pembangunan permukiman yang menganut nilai adat secara tidak
langsung pembangunan tersebut memerhatikan kondisi lingkungan yang akan
menjaga keseimbangan ekosistem di wilayah Kampung Naga.

Forest Settlemen Forest

River
Gambar 4.6 Penggunaan Lahan untuk Permukiman di Kampung Naga
Dalam sistem pertanian di Kampung Naga, persawahan diposisikan di
antara hutan dan juga sungai. Posisi ini merupakan kawasan dataran banjir yang

21

memiliki tingkat kesuburan sangat tinggi. Kesuburan tanah disebabkan karena
tersedimentasinya tanah aluvial yang berasal dari sungai. Saat air sungai meluap,
sebagian material akan terendap pada kawasan dataran banjir karena terhalang
oleh tanggul alami yang dapat dijadikan sebagai area persawahan.

Forest Forest

Wet Rice Field

River

Gambar 4.7 Penggunaan Lahan pada Bidang Pertanian di Kampung Naga
Dalam pengelolaan sumber daya air, apabila dilihat dari cara penggunaannya
dapat dikatakan bahwa masyarakat Kampung Naga merupakan masyarakat yang
sangat memperhatikan lingkungan. Tanpa disadari penduduk disana telah melakukan
konsep ekoefisiensi. Penggunaan air dimanfaatkan secara sistematis dengan
memperhatikan kualitas air sesuai dengan peruntukannya.

Pada mulanya air ditampung dalam sebuah bak penyaringan sebelum pada
akhirnya didistribusikan melalui pipa-pipa menuju lokasi yang dibutuhkan. Pada
gambar 4.8 lokasi yang dimaksud adalah lahan persawahan. Kemudian air akan
mengalir lagi dan digunakan sebagai sumber air pada permukiman, seperti untuk
keperluan MCK. Tidak hanya untuk irigasi lahan pertanian saja, air yang telah
tertampung pada bak penyaringan juga didistribusikan untuk keperluan pengairan
kolam ikan. Air dalam keadaan sudah terpakai akan kembali lagi menuju sungai.
Pengelolaan air di Kampung Naga bersifat kontinu sehingga tidak ada penggenangan
air karena air terus mengalami pergerakan dan pembaharuan setiap saatnya.

22

Forest

Clean Water

Surface Water

Rice Field Filtering Tub

Forest Dirty Water Toilet

Ciwulan River

Gambar 4.8 Pemodelan Konservasi dan Pengelolaan Air di Kampung Naga
Kelestarian hutan di Kampung Naga menyebabkan ketersediaan daerah
resapan air yang masih baik. Hal tersebut berpengaruh terhadap ketersediaan sumber
air di wilayah tersebut yang tidak pernah habis. Banyaknya vegetasi yang menutupi
lahan hutan menyebabkan saat terjadi hujan, air dengan mudah mengalami infiltrasi
ke dalam permukaan tanah.

Nilai kearifan lokal yang berlaku pada masyarakat Kampung Naga dilihat dari
maksud dan tujuannya sudah dapat mengarahkan wilayah ini sebagai wilayah
ecovillage. Aturan dalam pembangunan permukiman maupun fasilias umum bersifat
ramah lingkungan. Walaupun maksud dan tujuan tersebut tidak tersurat tetapi sudah
jelas dan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat tujuan dari menjaga kearifan
lokal tersebut sebagai upaya mengkonservasi tanah dan air. Dalam hal ini
membuktikan bahwa penduduk tradisional yang sederhana bukan berarti mengalami
ketertinggalan dan keterisolasian tetapi mereka sudah dapat mempertimbangkan dan
memikirkan dampak keberlanjutan yang akan terjadi masa yang akan datang.

23

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Kearifan lokal tidak hanya berisikan hukum-hukum adat yang berada di

luar nalar manusia. Setiap nilai yang terkandung dalam kearifan lokal memiliki arti
dan makna tersendiri yang berarti bagi kehidupan masyarakat dalam suatu
wilayah. Terdapat beberapa makna tersembunyi yang logis dalam setiap nilai yang
terkandung pada kearifan lokal. Salah satu makna yang terkandung berkaitan
dengan konservasi keanekaragaman sumber daya alam. Dengan demikian, kearifan
lokal dapat dijadikan sebagai salah satu upaya dalam konservasi air.

Konservasi air merupakan upaya yang dilakukan untuk menjaga kelestarian
dan keberadaan sumber air. Untuk menjaga kualitas da kuantitas sumber daya air
harus memperhatikan kodisi lingkungan terutama dari ketersediaanya lahan
sebagai daerah resapan air. Untuk menjaga daerah resapan air yang cukup sangat
sulit dilakukan karena pemenuhan kebutuhan manusia yang seringkali tidak
memerhatikan lingkungan.

Kearifan lokal yang terdapat di Kampung Naga, Desa Singasari memiliki
makna dan tujuan sebagai upaya konservasi air melalui perlindungan daerah
resapan air dan pengelolaan penggunaan air. Upaya konservasi yang dilakukan
oleh masyarakat adat tersebut dapat dibuat pemodelan sebagai contoh yang dapat
diaplikasikan di wilayah lain.
B. Saran

Pemodelan konservasi air yang terdapat di Kampung Naga diharapkan
dapat dijadikan sebuah strategi yang efektif untuk menjaga kelestarian sumber
daya air di wilayah lainnya. Pengaplikasian model konservasi air ini tidak
bermaksud untuk membawa ke arah yang lebih terbelakang, tetapi justru
pemodelan ini dijadikan acuan dalam konservasi air secara modern di era revolusi
industry 4.0 ini. Kemajuan teknologi bukan berarti menghilangkan rasa kepedulian
kita kepada lingkungan, tetapi melihat kondisi lingkungan yang memburuk
mengaharuskan manusia lebih peduli terhadap lingkungan di sekitarnya.

24

DAFTAR PUSTAKA
Indarto. 2014. Hidrologi Dasar Teori dan Contoh Aplikasi Model Hidrologi. Jakarta:

PT Bumi Aksara.
Arsyad, Sitanala. 2010. Konservasi Tanah dan Air. Bogor: Penerbit IPB Press.
Kartasapoetra dan Mul Mulyani Sutejo. 2010. Teknologi Konservasi Tanah dan Air.

Jakarta: Rineka Cipta
Marfai, Muh Aris. 2013. Pengantar Etika Lingkungan dan Kearifan Lokal.

Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Asdak, Chay. 2010. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta:

Gadjah Mada University Press.
Sugiyono. 2018. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:

Penerbit Alfabeta.

25


Click to View FlipBook Version