MATERI PAI BAB 10 (kelas VIII)
“ Menghiasi Pribadi Dengan Berbaik Sangka dan Beramal
Shaleh “
Dosen pembimbing : Wiwin Fachrudin Yusuf, S.Ag., MA
Oleh : Fatimah Sampini
Nim : 201986010017
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS YUDHARTA PASURUAN
2021
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kehidupan di dunia adalah sifat yang sementara, berbeda dengan kehidupan akhirat,
karena itu bersifat kekal. Allah Swt memberikan kesempatan kepada manusia untuk
mempersiapkan bekal hidup di akhirat. Kehidupan di dunia adalah ladang untuk kehidupan
akhirat. Sungguh sangat disayangkan jika kesempatan hidup di dunia tidak digunakan dengan
baik. Suatu saat nanti pasti akan datang penyesalan yang sangat besar karena tidak
menggunakan kesempatan hidup di dunia dengan baik dan memperbanyak amal shaleh. Allah
SWT tidak membutuhkan amal shaleh kita, tapi malah sebaliknya kita yang
membutuhkannya.
Wahai generasi muslim yang cerdas, setiap amal shaleh yang kalian lakukan akan
mendapat balasan berupa pahala dari Allah SWT. Skecil apapun amal kalian Allah SWT akan
membalas dengan seadil-adilnya. Janganlah kalian mermhkan amal shaleh yang kelihatannya
kecil dan sangat sederhana sperti tersnyum saat bertemu teman disekolah. Sebab nilai amal
terletak pada keikhlasannya bukan banyak sedikitnya. Sedangkan yang mengatur kadar
kikhlasannya hanyalah Allah SWT.
Tanamkanlah dalam diri kalian semangat untuk beramal shaleh. Jadikanlah diri kalian
sebagai pribadi yang berakhlaq mulia. Berbaik sangka kepada Allah SWT bahwa Allah SWT
akan selalu melindungi hamba-hambanya yang shaleh.
Rumusan Masalah
1. Memahami Pengertian Berbaik Sangka
2. Memahami Pengertian Amal Shalih
3. Memahami Dalil Naqli Tentang Berbaik Sangka dan Amal Shalih
4. Bagaimana Cara Menerapkan Sikap Berbaik Sangka Kepada Seseorang
5. Bagaimana Cara menerapkan Beramal Shaleh
Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah ini agar siswa mampu menerapkan materi tersebut dalam
kehidupan sehari-hari, dengan adanya penjelasan yang lebih merinci dalam makalah ini,
maka siswa lebih mudah memahami apa isi dan tujuan materi tersebut di pelajari dan apa
manfaatnya untuk kehidupan sehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Berbaik Sangka
Secara bahasa kata Husnudzon berasal dari bahasa Arab "husnu" yang berarti baik
dan az.-dzan yang berarti prasangka. Dari kedua kata ini Husnudzon dapat diartikan sebagai
baik sangka atau berprasangka baik. Secara istilah Husnudzon memiliki maksud sikap mental
dan cara pandang yang menyebabkan seseorang melihat sesuatu secara positif atau melihat
dari sisi positif. Kata Husnudzon berlawanan dengan kata Suudzon yang brarti brburuk
sangka atau berprasangka buruk. Maksud yang terkandung dalam sikap suudzonpun
berkebalikan dari sikap husnudzon. Suudzon adalah sikap mental atau cara pandang yang
memandang ssuatu dari sisi negatif, jelek, dan pandangan tidak indah lainnya. Dengan
keadaan seperti ini, sikap suudzon mengantarkan pemiliknya pada sikap waswas, penuh
curiga, dan tidak jarang memvonis meskipun belum jelas kebenaran atau kesalahannya.
Hal ini berbeda dengan sikap Husnudzon. Sikap Husnudzon memandang sesuatu
dengan pandangan positif, ramah, tidak menghakimi, dan memberi sambutan hangat. Sikap
ini merupakan sikap terpuji dalam ajaran Islam. Setiap muslim dianjurkan untuk
mengedepankan sikap Husnudzon dalam menghadapi sesuatu. Dengan begitu, setiap muslim
akan menampilkan wajah ramahnya terhadap sesuatu yang datang kepadanya. Meskipun
demikian, Islam juga menekankan sikap hati-hati dalam melihat sesuatu yang belum jelas
kebenarannya. Sikap positif yang melandasi pandangan kita selaku seorang muslim tidak
boleh mengabaikan sikap hati-hati agar tidak terjerumus pada suatu kesalahan.1
Berbaik sangka atau Husnudzon merupakan perilaku terpuji yang harus dimiliki
seorang muslim. Lawan dari husnudzon adalah su’udzon atau buruk sangka. Berburuk sangka
merupakan perilaku tercela yang akan mendatangkan mudarat, baik bagi pelakunya maupun
orang lain. Huznudzon adalah berbaik sangka secara istilah. Namun huznudzon ini juga
dapat diartikan ke dalam bahasa yakni berpikir atau menduga sesuatu yang baik kepada
1 Purnama artikel tentang husnuzhon dan macam-macamnya (November 2017). Hlm.3
sesama umat manusia dan juga Allah SWT. Sebagai umat Islam yang baik, berbaik sangka
memang sangat dianjurkan Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang berkata :
"Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku terhadap-Ku, Aku akan bersamanya jika ia berdoa
kepada-Ku,".
Maka, berbaik sangka kepada sesama umat manusia sangat dianjurkan dalam Islam. Dengan
berbaik sangka, maka Anda akan mendapatkan manfaat hingga hikmah dari Allah SWT.2
Sebagaimana firmannya dalam Q.S. al-Hujurat/49: 12 :
ْْ َٰيٰٓاَيُّ َها الَّ ِذ ْي َن ٰا َمنُوا ا ْجتَنِبُ ْوا َكثِ ْي ًرا ِم َن ال َّظ ِِّۖن ِا َّن بَ ْع َض ال َّظ ِن اِثْ ٌم َّو ََل تَ َج َّس ُس ْوا َو ََل يَْ ْغت
ٌ بَّ ْع ُض ُك ْم َب ْع ًض ۗا اَيُ ِح ُّْ اَ َحدُ ُك ْم اَ ْن يَّأْ ُك َل َل ْح َم اَ ِخ ْي ِه َم ْيتًا فَ َك ِر ْهتُ ُم ْو ۗهُ َواتَّقُوا ّٰلهلاَ ۗاِ َّن ّٰلهلاَ تَ َّوا
َّر ِح ْي ٌم
Yaa ayyuhalladziina aamanujtanibuu katsiiram minadh-dhanni inna ba'dadh-dhanni itsmuw
wa laa tajassasuu wa laa yaghtab ba'dzukum ba'dzaa, a yuhibbu ahadukum ay ya'kula lahma
akhiihi maitan fa karihtumuuh, wattaqullaah, innallaaha tawwaabur rahiim
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka
(kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari
keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara
kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa
jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat
lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat: 12).
Penafsiran Dari ayat di atas, Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zilalil Quran menerangkan
bahwa suatu hal yang mengiringi dugaan merupakan awal mula seseorang untuk
membongkar aib dan mengetahui keburukan saudaranya sendiri. Perilaku buruk ini
berdasarkan ayat di atas jelas sangat dilarang dan harus kita jauhi.
Sementara itu Ibnu Katsir dalam Tafsir Al Qur’anil ‘Adhim juga menjabarkan ayat di atas.
Menurutnya, dengan tegas Allah melarang seluruh hamba-Nya yang beriman agar menjauhi
prasangka buruk (suuzan).3
Rasulullah saw juga melarang berburuk sangka, sebagaimana hadits berikut :
عن أبى هريرة رضي الله عنه ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إياكم والظن فإن الظن أكذ
.الحديث
2 Adhitya billy artikel berbaik sangka merdeka.com (16 desember 2020). Hlm.6
Sayyid Qutb tafsir fi zilalil Qur’an. Hlm 406.
Suudzon seperti ini malah diperbolehkan dalam ajaran agama Islam. Hanya saja
konteksnya berprasangka buruk dengan menilai bahwa diri kita sendiri belum baik,
masih penuh dengan dosa sehingga jangan sombong dan menganggap sebagai
manusia yang paling suci dari dosa.
Namun, perlu dipahami bahwa suudzon ini jangan terlalu diterapkan dengan cara
yang ekstren atau berlebihan. Hal ini lantaran apabila terlalu berburuk sangka
terhadap diri sendiri dalam berbagai hal, maka akan termasuk ke dalam golongan
manusia yang pesimis.
10Bahaya Suudzon
Selain itu sifat yang satu ini juga bisa mendatangkan bahaya atau dampak buruk bagi para
pelakunya jika mereka belum bertobat. Berikut ini adalah bahayanya:
1. Dapat mengganggu kesehatan jiwa.
2. Mendapatkan Dosa dari Allah Subhanahu wa ta’ala.
3. Dapat menjadikan hidup kurang bahagia.
4. Dapat memutuskan tali silaturahmi antar sesama.
5. Dapat merusak diri sendiri.
Ciri-Ciri Suudzon
Agar kamu bisa lebih mengenali sifat yang tercela ini, berikut ini adalah ciri suudzon yang
bisa kamu ketahui.
1. Suka mengabaikan suatu kebenaran.
2. Suka melontarkan tuduhan yang belum pasti benar kepada orang lain.
3. Merasa dirinya lebih baik ketimbang orang lain.
4. Suka mengingat keburukan-keburukan orang lain.
Cara Menghindari Suudzon
Berburuk sangka merupakan sifat yang sangat tercela. Oleh karena itu kita sebagai seorang
muslim wajib untuk menghindarinya. Berikut ini adalah tips agar kita bisa menghindari sifat
ini.
1. Bertemanlah dengan orang-orang yang baik.
2. Berhentilah untuk mencari-cari kesalahan atau keburukan orang lain.
3. Jangan menuduh orang lain tanpa mempunyai bukti yang kuat.
4. Selalu berfikir positif kepada orang lain.
5. Berdoalah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala agar dihindarkan dari sifat tercela ini.
B. Pengertian Amal Shaleh
10 Teguh Prawiro, Akidah Akhlak, (Jakarta: Yudhistira, 2011), hlm.105
11kata amal saleh berasal dari kata “amilus” yaitu segala perbuatan yang bermanfaat
bagi dirinya atau orang lain, dan sesuai dengan akal dan rasional al-qur’an serta as-sunnah.
Antara iman dan amal saleh merupakan satu kesatuan dan tidak dapat dipisahkan. Sesorang
yang beriman tanpa diikuti amal saleh, maka keimanannya tidak ada artinya. Sebaliknya amal
shaleh tanpa disadari imam yang benar maka amalnya tidak ada nilainya di hadapan Allah
swt. Keimanan harus dibuktikan dengan amal shaleh dan amal shaleh harus dilandasi dengan
keimanan yang benar.
Kebalikan dari amal saleh adalah amal sayyi’ah, yaitu amal yang mendatangkan
mudarat baik bagi pelakunya maupun orang lain. Sungguh rugi seseorang yang berbuat buruk
di dunia ini, padahal dunia ini adalah ladang amal untuk kehidupan akhirat.setiap amal baik
atupun buruk meskipun sangat kecil tetap akan mendapat balasan yang adil dari Allah swt.hal
ini sesuai dengan firman Allah swt dalam surat Al-Zalzalah 99:7-8:
)٨( )يََره َوَم ْن يَعْ َم ْل ِمثْقَا َل ذَ َّرةٍ َش ًّرا يََره٧( فَ َم ْن يَعْ َم ْل ِمثْقَا َل ذَ َّرةٍ َخْْيًا
Artinya : “maka siapa yang mengerjakan kebaikan secerat zarrah (biji sawi) niscaya dia
akan melihat (balasannya) (7). Dan siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah (biji
sawi), dia akan melihat (balasan)nya” (Q.S. al-Zalzalah 99:7-8.).
Tafsir surat al-Zalzalah ayat 7 :
12Maka barangsiapa berbuat kebaikan dan pengabdian seberat semut kecil, maka dia akan
melihatnya di depannya. (Tafsir al-Mukhtashar)
Pada hari itu, manusia keluar dari kuburnya menuju tempat penghitungan (amal) secara
terpisah untuk diperlihatkan oleh Allah kepada balasan perbuatan mereka yaitu surga atau
neraka. Jadi barangsiapa melakukan suatu kebaikan di dunia seberat dzarrah (semut kecil),
maka dia akan mengetahui balasannya di akhirat. Imam Bukhari dan Imam Muslim
mengatakan dari Abu Hurairah bahwa sesungguhnya Rasulallah SAW menamai ayat ini
sebagai ayat yang sangat dahsyat secara keseluruhannya. (Tafsir al-Wajiz)
( َف َمن َي ْع َم ْلBarangsiapa yang mengerjakan) Ketika di dunia. ُ( ِمثْ َقا َل ذَ َّرةٍ َخ ْي ًرا يَ َرۥهkebaikan seberat
dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya) Yakni dia akan melihatnya di hari kiamat
11 Kemendikbud menghiasi pribadi dengan berbaik sangka dan beramal saleh bukupakrt.com. hlm 180.
12 Terjemahan Al-Mukhtaṣar fī at-Tafsīr ke bahasa Persia. Diterbitkan oleh Markaz Tafsīr Li Ad-Dirasāt Al-
Qur`āniyyah. Hlm. 599
dalam kitab catatan amalnya, sehingga ia merasa bahagia. Atau dia akan melihatnya
terpampang baginya. (Zubdatut Tafsir).
Tafsir surat al-Zalzalah ayat 8 :
Barangsiapa yang melakukan kebaikan seberat semut kecil, dia akan melihat pahalanya di
akhirat. Dan barangsiapa melakukan keburukan seberat semut kecil, dia akan melihat
balasannya di akhirat. (Tafsir al-Muyassar)
Dan barangsiapa berbuat kejahatan seberat semut kecil pula, maka ia pun akan melihatnya.
(Tafsir al-Mukhtashar)
Dan barangsiapa melakukan keburukan di dunia seberat dzarrah, maka dia akan mengetahui
balasannya di akhirat. Ibnu Abu Hatim dari Sa’id bin Jubair berkata: “Saat ayat ini turun {wa
yuth’imuunath tha’aama ‘ala hubbihi …} orang-orang muslim beranggapan bahwa mereka
tidak menerima pahala atas sesuatu yang sedikit bila memberikannya (kepada orang lain),
sedangkan yang lain beranggapan bahwa mereka tidak akan disalahkan atas dosa yang remeh,
yaitu berbohong, mengintip, mengumpat dan dosa-dosa lain yang serupa, sesungguhnya
Allah hanya menjanjikan neraka bagi orang-orang yang berdosa besar, maka Allah
menurunkan dua ayat ini [ayat 7 dan 8]” (Tafsir al-Wajiz)
( َو َمن َي ْع َم ْلDan barangsiapa yang mengerjakan) Ketika di dunia. ُ( ِمثْقَا َل ذَ َّر ٍة َش ًّرا َي َرهۥkejahatan
sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula) Yakni dia akan melihatnya
di hari kiamat, sehingga dia akan merasa sedih; dan bisa jadi Allah akan mengampuninya.
Makna ( )الذرyakni debu yang beterbangan yang terlihat saat terkena sinar matahari. (Zubdatut
Tafsir).
13Pengertian Amal Saleh Amal saleh berasal dari bahasa Arab: ‘amal yang berarti
pekerjaan atau perbuatan, dan shalih {(jamak: shalih) yang bisa berarti membawa kebaikan
atau sesuai dengan petunjuk dan contoh Rasul-Nya. ‘Amal dalam bentuk masdar berarti
perbuatan yang ditimbulkan oleh aktivitas berbuat yakni ‘amila. Pengertian seperti ini dapat
dipahami, misalnya dari QS al Furqon ayat 70 di bawah ini:
ۗۗ إََِّل َم ْن تَا َ َو آ َم َن َوعَ ِم َل عَ َم ًل َصالِ ًح ا فَأ ُو ٰلَئِ َك يُبَدِ ُل ّٰل َّلا ُ سَيِئَاتِ ِه ْم َحسَنَا ٍت
َوكَا َن ّٰل َّلا ُ غَفُو ًر ا َر ِح ي ًم ا
ru agung Dkk MODEL PENDIDIKAN KEMANDIRIAN PRIBADI SANTRI MELALUI KONSEP AMAL
SHALEH. (jombang). Hlm.381
Artinya: Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu
kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.
Tafsir surat al-Furqon ayat 79 :
Dan juga orang-orang yang mengesakan Allah, dan tidak menyeru dan tidak menyembah
sesembahan selainNya, dan mereka tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah untuk
dibunuh kecuali dengan alasan yang membolehkan jiwa dibunuh, seperti kafir setelah
beriman, atau berzina setelah menikah, atau membunuh jiwa secara zhalim. Dan mereka juga
tidak berzina, dan bisa menjaga kemaluan mereka kecuali terhadap istri-istri mereka atau
budak perempuan yang mereka miliki. Barangsiapa melakukan sebagian dari dosa-dosa besar
ini, niscaya akan menjumpai siksaan di akhirat kelak, siksaan dilipat gandakan baginya di
akhirat, dan ia akan kekal di dalamnya dalam keadaan hina lagi rendah. (Ancaman kekal ini
adalah bagi orang yang melakukan semuanya, atau bagi orang yang melakukan kesyirikan
kepada Allah). Akan tetapi, orang yang bertaubat dari dosa-dosa tersebut dengan taubat
nasuha (yang sesungguhnya), beriman dengan keimanan yang teguh lagi disertai dengan amal
shalih, maka orang-orang itulah yang Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan mereka
dan menggantikannya dengan kebaikan-kebaikan, lantaran taubat dan penyesalan mereka.
Dan Allah itu Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, Maha Pemurah terhadap hamba-
hambaNya, karena Allah menyeru mereka untuk bertaubat setelah menentangnya dengan
maksiat yang paling besar. Dan barangsiapa bertaubat dari dosa-dosa yang telah diperbuatnya
dan beramal shalih, sesungguhnya dengan itu, ia telah kembali kepada Allah dengan cara
yang benar, maka Allah menerima taubatnya dan mengugurkan dosa-dosanya.
Kata amal saleh ini disebut berulang-ulang dalam Al-Quran. Menurut pendapat kalangan para
ulama, kalimat yang disebut berulang-ulang dalam Al-Quran menunjukkan hal itu sangat
penting untuk diperhatikan, direnungkan, dan dikerjakan oleh manusia dalam kehidupannya
sehari-hari. Pada hampir semua ayat yang disitu Allah menyebut orang-orang mukmin,
sebutan itu selalu dihubungkan dengan amal saleh, misalnya QS al Maryam ayat 19 berikut
ini:
قَا َل إَِّنَا أَََن َرسول َربِ ِك ِِلَ َه َب لَ ِك غََلمًا َزكِ ًّي
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang
Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.”
Tafsir surat al-Maryam ayat 19 :
14Malaikat berkata kepadanya, ”sesungguhnya aku hanyalah seorang utusan tuhanmu, Dia
mengutusku kepadamu untuk memberimu seorang anak lelaki yang suci dari dosa-dosa.
Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia 19. Jibril -'alaihissalām- berkata,
"Aku bukanlah manusia, namun aku adalah seorang utusan Tuhanmu. Dia mengutusku untuk
menyampaikan anugerah padamu berupa anak laki-laki yang baik lagi suci."
Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin
Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram) 19. (قَا َل ِإ َّن َمآ أَنَ ۠ا َر ُسو ُل َربِ ِكIa (jibril) berkata:
“Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu) Yakni aku bukan hendak berlaku
buruk padamu, namun aku utusan Tuhanmu yang bkearmbuuatmibnutraui kp.erliاnّ ِك ًيd َزunًماgٰلa ُغn itu, serta aku
bukanlah orang yang mencurigakan yang ingin ( ِِلَ َه َْ لَ ِكuntuk
memberimu seorang anak laki-laki yang suci”.) Makna ( )الزكيyakni anak yang bersih dari
dosa-dosa, yang tumbuh dalam kesucian dan kehormatan.
Ayat ini menjelaskan bahwa akidah atau iman bukanlah sekedar keyakinan dalam
kalbu, tetapi harus disertai amal, yakni melaksanakan kewajiban-kewajiban agama dan
menjauhi larangan-larangan. Sebab, amal itulah yang menjadi bukti bagi iman.
Kata amal seperti yang dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti amal
dengan perbuatan (baik atau buruk). Akan tetapi ditempat yang sama, di dalam kamus ini
juga menjelaskan dengan perbuatan baik yang mendatangkan pahala (menurut ketentuan
agama Islam). Pengertian yang disebutkan kemudian ini, tampaknya, diambil dari pengertian
amal saleh dalam konsep Islam. Dengan pengertian seperti ini kita dapat menarik kesimpulan
bahwa amal saleh adalah perbuatan yang membawa kemaslahatan bagi sesama, yang
dilakukan sesuai dengan petunjuk Allah dan contoh Rasul-Nya. Sedang amal yang tidak
demikian, dapat disebut dengan amal yang buruk. Karena itu, salah satu tanda bahwa suatu
amal bisa disebut saleh ialah jika amal tersebut membawa kemaslahatan bagi manusia dan
sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Jadi jika memperbanyak amal saleh berarti
memperbanyak jalan untuk mencapai hal yang halal.
Macam amal saleh Amal saleh macamnya tidak terkira, sebagian merupakan a’malul qulub
(perbuatan hati), seperti; Iman yang merupakan amal paling utama, sebagaimana yang
dijelaskan hadist:
14 Tafsir Al muyassar hlm.382
bila ia tidak memiliki ilmunya. Sebagaimana Islam mengecam ilmu tanpa amal, Islam juga
mengecam beramal tanpa ilmu.
E. Mempunyai manfaat sosial.
Amal saleh bertingkat-tingkat. Membaca Al-Qur’an secara terus menerus adalah
amal saleh, tetapi membacakan Al-Qur’an kepada orang lain lebih saleh lagi.
Makin banyak orang memperoleh manfaat dari suatu perbuatan, makin tinggi
nilai amal salehnya. Ibn Qayyim menyebut empat macam amal saleh yang paling
utama. Salah satu di antaranya ialah pekerjaan yang memberikan manfaat sosial.
Ia membedakan antara ahli ibadah dan ahli manfaat. Yang pertama hanya
memberikan manfaat kepada dirinya saja. Yang kedua memberikan manfaat
kepada orang lain. Karena itu, orang berilmu lebih tinggi derajatnya dari orang
yang beribadah saja.
19Suatu amal saleh akan sah jika memenuhi syarat berikut :
a. Amal saleh dilakukan dengan mengetahui ilmunya
b. Amal saleh itu dikerjakan dengan niat ikhlas karena Allah swt.
c. Amal saleh itu hendaknya dilakukan sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan Hadits.
Janganlah kalian meremehkan atau menghina seseorang karena sedikit amalnya.
Sebab nilai sebuah amal tidak semata-mata tergantung banyak atau sedikitnya, tapi juga
terletak pada keikhlasannya. Sedangkan nilai keikhlasan amal seseorang hanya Allah swt
yang mengetahui. Allah swt mencintai seorang hamba yang beramal secara terus-menerus
meskipun sedikit. Memang yang paling baik adalah beramal banyak serta ikhlas dan
dilakukan terus-menerus.
Macam-macam Amal Saleh
a) Amal saleh terhadap Allah swt. Yaitu menjalankan perintah Allah swt dan
meninggalkan larangannya. Contohnya shalat, zakat, puasa, membaca al-Qur’an dan
ibadah lainnya.
b) Amal saleh terhadap manusia, yaitu m,enjalankan hak dan kewajiban terhadap sesama
manusia. Contohnya adalah memberikan senyuman, bersikap ramah, bertutur kata
yang santun dan menolong kaum dhuafa’.
19 Kemendikbud menghiasi pribadi dengan berbaik sangka dan beramal saleh bukupakrt.com. hlm 181.
c) Amal saleh terhadap lingkungan alam, yaitu menjaga kelestarian alam. Contohnya
membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan, mendaur ulang sampah dan
melakukan penghijauan.
Di samping tiga amal saleh tersebut ada suatu amal kebajikan yang disebut amal jariyah.
Amal jariyah yaitu perbuatan kebajikan yang dilakukan secara ikhlas dengan mengharapkan
ridha allah swt dan mendatangkan pahala bagi pelakunya meskipun ia telah meninggal.
Pahala amal jariyah ini akan terus mengalir selama orang yang masih hidup dapat
memanfatkan hasil kebaikan yang ia tinggalkan di dunia.
Keuntungan Beramal Shaleh
1) 20Memiliki Rasa Kasih dan Sayang.
Kasih sayang merupakan salah satu sifat penting yang harus dimiliki manusia.
Adanya rasa kasih sayang terhadap sesama membuat manusia tidak hanya
mementingkan dirinya sendiri atau tidak bersifat individual. Rasa kasih sayang yang
dimiliki seorang mu’min membuat dia siap membantu mengatasi persoalan orang
lain..
Rasa kasih dan sayang juga membuat seorang mu’min merasa memiliki tanggung
jawab perbaikan terhadap mu’min lainnya, karenanya wujud dari sikap ini adalah adanya rasa
tanggung jawab untuk menunaikan tugas da’wah guna memperbaiki sikap dan kepribadian
seorang muslim.
Dalil yang menyebutkan anugerah Allah terhadap orang yang bermal shaleh berupa
rasa kasih sayang disebutkan dalam surat al Maryam ayat 96, firman Allah SWT:
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, kelak Allah Yang
Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.”
2) Kehidupan Yang Baik.
Kehidupan yang baik merupakan dambaan bagi setiap orang. Hidup yang baik adalah
kehidupan yang dijalani tanpa mengabaikan ketentuan Allah dan Rasul-Nya, sehingga
kehidupannya menjadi berkah, bermanfaat besar bagi diri, keluarga dan masyarakatnya.
20 , Hani Adi Wijono PENDIDIKAN KEMANDIRIAN PRIBADI SANTRI (mojokerto) hlm.377
Anugerah kehidupan yang baik diberikan Allah SWT kepada orang- orang yang beramal
shaleh dengan landasan iman kepada-Nya. QS An Nahl: 97 Allah SWTberfirman:
مَ ْن عَ ِملَ صَاِِلًا ِم ْن ذَ َكرٍ أَْو أنْثَى َوه َو م ْؤِم ٌن فَلَن ْحيِيَ َنّه َحيَاةً طَيِبَةً ۖ َولَنَ ْجزِيَنَّه ْم
َ أَ ْج َره ْم ِِبَ ْح َس ِن مَا َكانوا يَعْ َملو
Artinya : Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan
dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang
baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih
baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
Tafsir surat an nahl ayat 97 :
Barangsiapa mengerjakan amal shalih, baik lelaki maupun perempuan, sedang ia beriman
kepada Allah dan rasulNya, maka Kami akan beri dia kehidupan bahagia dan tentram di
dunia, walaupun dia tidak banyak memiliki harta, dan kami benar-benar akan memberikan
balasan pahala bagi mereka di akhirat dengan balasan yang lebih baik dari apa yang mereka
perbuat di dunia.
Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia 97. Barangsiapa beramal saleh sesuai
dengan syariat, laki-laki atau wanita, dia beriman kepada Allah, niscaya Kami akan
menghidupkannya di dunia dengan kehidupan yang baik, dengan (membuatnya) rida terhadap
ketetapan Allah, kanaah dan bimbingan menuju ketaatan. Kami pasti akan membalas mereka
di Akhirat dengan pahala yang lebih baik daripada ketaatan yang telah mereka lakukan di
dunia.
Dengan demikian, kehidupan yang baik bagi seorang mu’min adalah kehidupan yang
berdaya guna tinggi, sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh orang lain. Agar kehidupan
manusia dapat berjalan dengan baik dan berdaya guna tinggi, maka Allah Swt menurunkan
sejumlah peraturan, meskipun peraturan itu ada kalanya kurang menyenangkan manusia.
Peraturan itu diturunkan oleh Allah Swt, karena Dialah yang lebih tahu tentang manusia;
sehingga Dia lebih tahu tentang peraturan apa yang lebih tepat untuk manusia, sekaligus tidak
memiliki kepentingan apa-apa terhadap mereka. Karenanya agama merupakan peraturan
Allah yang mengantarkan manusia pada kebaikan hidup di dunia maupun di akhirat.
3) Pahala Yang Besar.
Di dalam ayat di atas (QS An Nahl: 97), orang yang beramal shaleh dengan landasan
iman kepada Allah Swt juga akan diberi balasan pahala yang lebih besar dari amal yang
mereka lakukan sendiri. Ini merupakan keistimewaan tersendiri bagi mu’min yang beramal
shaleh. Allah SWT memang akan melipatgandakan balasan pahala dari amal shaleh
seseorang. Di dalam Surat Al An’an ayat160 Allah SWT berfirman:
Artinya : Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat
amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi
pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak
dianiaya (dirugikan) .
Bahkan adakalanya amal shaleh seorang mu’min itu akan terus mengalir pahalanya meskipun
dia sudah meninggal dunia, inilah yang sering disebut dengan amal jariyah, seperti waqaf,
ilmu yang diajarkan kepada orang lain sehingga orang itu mengamalkannya untuk kebaikan,
meninggalkan anak yang shaleh sehingga anak itu beramal dan berdo’a, dan sebagainya.
Surat At-Tiin ayat 4-6, Allah SWT berfirman:
إَِّل )٥( َسافِلِ َي َأَ ْسفَل ه َردَ ْدََن َُّث )٤(تَ ْق ِو ٍي اِِِلفَا أَِت ْحفَلََسهِنْم َ ا آَخمَلَنْقوناَا َو اعَِْمِللنْواَس لََق ْد
)٦ ( ٍَ و
أَ ْج ٌر غَْْي ََمْن ّال َص اَلّذِي َن
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka bagi mereka pahala yang
tiada putus-putusnya.
Dengan imbalan pahala yang besar itu, seorang mu’min akan terus memperbanyak
amal shalehnya, karena memang semakin banyak pahala amal shaleh, akan semakin bahagia
dalam kehidupannya di dunia dan akhirat. Imbalan pahala yang besar tidak membuat seorang
mu’min tidak bergairah dalam beramal shaleh karena sudah merasa memiliki pahala yang
banyak. Bagi mu’min yang sejati, semakin banyak pahala, semakin baik, karena hal itu
menjadi bekal baginya untuk bisa berjumpa dengan Allah SWT, Surat Al-Kahf ayat 110
Allah SWT berfirman:
Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal
yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada-Nya.
Dengan demikian, semakin jelas bagi kita bahwa sebagai mu’min, keimanan kita itu
memang harus kita buktikan dengan amal yang shaleh, apalagi banyak keutamaannya dalam
kehidupan kita di dunia maupun di akhirat.
KESIMPULAN
Husnudzon dapat diartikan sebagai baik sangka atau berprasangka baik. Secara istilah
Husnudzon memiliki maksud sikap mental dan cara pandang yang menyebabkan seseorang
melihat sesuatu secara positif atau melihat dari sisi positif. Kata Husnudzon berlawanan
dengan kata Suudzon yang brarti brburuk sangka atau berprasangka buruk. Maksud yang
terkandung dalam sikap suudzonpun berkebalikan dari sikap husnudzon. Suudzon adalah
sikap mental atau cara pandang yang memandang ssuatu dari sisi negatif, jelek, dan
pandangan tidak indah lainnya. Dengan keadaan seperti ini, sikap suudzon mengantarkan
pemiliknya pada sikap waswas, penuh curiga, dan tidak jarang memvonis meskipun belum
jelas kebenaran atau kesalahannya.
Amal shaleh yaiut segala perbuatan yang bermanfaat bagi dirinya atau orang lain dan dengan
akal rasional, Al-Qur’an serta as-sunnah. Antara iman dan aamal shaleh merupakan satu
kesatuan dan tidak dapat dipisahkan. Seseorang yang beriman tanpa diikuti amal shaleh,
keimanannya tidak ada artinya. Sebaliknya amal shaleh tanpa disadari iman yang benar,
amalnya tidak ada nilainya dihadapan Allah swt.
Amal shaleh ada 3 macam : 1) amal shaleh terhadap allah swt. 2) amal shaleh terhadap manusia 3.)
amal shaleh terhadap lingkungan alam. Sedangkan berbaik sangka juga ada tiga macam yaitu : 1)
berbaik sangka kepada Allah swt. 2) berbaik sangka kepada diri sendiri. 3.) berbaik sangka kepada
orang lain.
Amal jariyah yaitu perbuatan kebajikan yang dilakukan secara ikhlas dengan mengharapkan ridha
Allah swt dan mendatangkan pahala bagi pelakunya meskipun ia telah meninggal. Amal shaleh dan
baik sangka akan mendatangkan banyak manfaat bagi orang lain dan pelakunya.
DAFTAR PUSTAKA
Purnama artikl tentang husnuzhon dan macam-macamnya (November 2017).
Adhitya billy artikel berbaik sangka merdeka.com (16 desember 2020).
Budi mulyono artikel dakwah islam melalui bermusik akurat.co (22 juni 2020).
Sunnahpedia.com (September 2018).
Kemdikbud menghiasi pribadi dengan berbaik sangka dan beramal shaleh.
Bayu Blogislami.my.id (agustus 2020).
Seputar islam tentang pengertian dan macam suudzon tribunnews.com.
Suwandaru agung Dkk MODEL PENDIDIKAN KEMANDIRIAN PRIBADI SANTRI
MELALUI KONSEP AMAL SHALEH. (jombang).
Hani Adi Wijono PENDIDIKAN KEMANDIRIAN PRIBADI SANTRI (mojokerto).
Sya’roni Hasan pengertian dan kriteria beramal shaleh (mojokerto).
https://tafsirweb.com/4640-quran-surat-al-isra-ayat-36.html.