i
ii KATA PENGANTAR Puji dan syukur saya sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan nikmat, berkah dan rahmat-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas Ebook mata kuliah Teknologi Informasi dan Komunikasi. Pada kesempatan ini tidak lupa pula saya mengucapkan terimakasih kepada Bapak Dr. Winara S.Si.,M.Pd selaku dosen mata kuliah Teknologi Informasi dan Komunikasi yang telah membimbing saya sebagai mahasiswa nya. Saya menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari kata sempurna. Apabila dalam tugas ini terdapat banyak kekurangan dan kesalahan, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, karena keterbatasan ilmu dan pemahaman saya yang belum seberapa. Karena itu saya sangat menantikan saran dan kritik dari pembaca yang sifatnya membangun, guna menyempurnakan tugas ini. Saya berharap semoga tugas ini bermanfaat bagi pembaca khususnya. Atas perhatiannya saya mengucapkan terimakasih. Medan, 18 Maret 2023 Salsabilla Cahaya Putri
iii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR....................................................................................................... ii DAFTAR ISI...................................................................................................................... iii BAB I HAKIKAT PROFESI KEPENDIDIKAN........................................................... 1 A. Konsep Dasar Profesi Kependidikan .................................................................... 1 B. Pengertian Profesi dan Profesional....................................................................... 5 C. Guru Sebagai Jabatan Profesional ........................................................................ 6 D. Hakikat Profesional Guru ..................................................................................... 7 E. Kriteria dan Kompetensi Guru Profesional .......................................................... 10 F. Peranan dan Tantangan Guru Abad 21 Pada Revolusi Industri 4.0 ..................... 15 BAB II PROFESIONALISASI JABATAN GURU ....................................................... 18 A. Pengertian Profesionalisasi ..................................................................................... 18 B. Profesionalisasi Jabatan Guru................................................................................. 19 C. Pengembangan Kinerja Guru.................................................................................. 21 D. Kepemimpinan........................................................................................................ 25 E. Pengembangan Karier Guru.................................................................................... 26 BAB III PERANAN GURU DALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN....................... 28 A. Hakekat Manajemen Pendidikan............................................................................. 28 B. Pengertian Manajemen Pendidikan......................................................................... 28 C. Pengelolaan Bidang Kurikulum.............................................................................. 31 D. Kode Etik Guru ....................................................................................................... 31 DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................ 32
4 BAB I HAKIKAT PROFESI KEPENDIDIKAN Konsep Dasar Profesi Kependidikan Dalam lingkungan masyarakat, guru adalah salah satu pekerjaan yang sudah lama dikenal dan tetap akan dibutuhkan. Terutama masyarakat yang sudah semakin maju, yang ditandai dengan sifat rasional dalam berkarya mengutamakan efisiensi, menuntut disiplin sosial dan kemampuan kerjasama atau berorganisasi yang tinggi di antar warganya, serta menuntut warganya untuk menguasai ilmu dan teknologi untuk dapat meningkatkan hidupnya. Dengan demikian masyarakat modern semakin merasakan mutlaknya jasa guru dalam kondisi masyarakat modern jelas bahwa orang tua tidak mampu membimbing anak-anaknya dalam semua persiapan hidupnya mereka membutuhkan jasa orang lain untuk membantu persiapan itu di dalam masyarakat. Guru adalah sebagai pemberi inspirasi, penggerak, dan pelatih dalam penguasaan kecakapan tertentu bagi anak didik agar siap membangun hidup beserta lingkungan masyarakatnya. Lebih dari itu, guru dapat dilihat dari dua sisi seperti melihat koin mata uang. Sisi pertama sebagai bidang pekerjaan yang hanya dapat dikerjakan oleh orang yang profesional di bidang guru titik di sisi lain sebagai insan atau tenaga pendidik yang telah dinyatakan dan menyatakan diri memiliki kualifikasi sebagai guru yang profesional. Sisi ini tidak dapat dipisahkan, jika sisi pertama dinyatakan sebagai pekerjaan yang membuka peluang kepada siapa saja, tanpa memenuhi/memperhatikan ciri atau kriteria keprofesionalan maka itu sudah meniadakan hakikat guru sebagai jabatan profesional. Atau sebaliknya, sisi kedua dinyatakan bahwa tanpa harus memenuhi kriteria keprofesionalan, seseorang dapat menjadi guru, juga sudah meniadakan hakikat dari guru itu sendiri. Guru sebagai jabatan atau pekerjaan adalah jenis pekerjaan yang menuntut setiap orang yang ingin mengerjakannya memiliki keahlian, kecakapan, keterampilan, di bidang kependidikan dan pembelajaran yang diperoleh melalui proses pendidikan dan latihan dalam waktu yang relatif lama atau hingga tingkat perguruan tinggi untuk memberikan pelayanan yang profesional kepada warga/peserta belajar. Pekerjaan ini menuntut pengembannya menjadi pelayan bagi orang lain dengan mengandalkan ilmu pengetahuan, keterampilan, sikap,
5 kecakapan, kepemilikan ilmu pengetahuan. Keterampilan, sikap, kecakapan di bidang pendidikan dan pembelajaran tersebut dapat dibuktikan melalui ijazah, sertifikat kependidikan dan keguruan yang dikeluarkan oleh lembaga pendidikan tenaga kependidikan yang telah teruji keberadaannya dengan akreditasi unggul. Lirik lagu jabatan kesukaan yang sudah diakui sebagai profesi di negara kesatuan Republik Indonesia atau NKRI yang menyatakan secara tegas sehingga pada UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dan undang-undang Negara Republik Indonesia Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang mewajibkan setiap pengembannya harus memenuhi kriteria dan persyaratan-persyaratan tertentu karena diantaranya adalah: 1. Yang memiliki kualifikasi akademik, 2. Memiliki kompetensi, 3. Memiliki sertifikat pendidik, 4. Sehat jasmani dan rohani, 5. Memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Guru sebagai tenaga pendidik adalah insan atau personal yang sebenarnya atau idealnya sejak kecil sudah memiliki cita-cita untuk melayani orang lain diwujudkan dengan mengikuti proses pendidikan dan latihan di lembaga pendidikan tenaga kependidikan dalam waktu yang relatif lama hingga tingkat perguruan tinggi. Sehingga ia memiliki sejumlah ilmu pengetahuan, keahlian, keterampilan, kecakapan, kemampuan yang siap diartikan untuk melayani warga pendidikan. Oleh karena itu dalam bahasa lain, disebutkan bahwa guru adalah tenaga pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan, mengevaluasi peserta didik kepada Pendidikan Anak Usia Dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Pengertian Profesi dan Profesional Dalam kehidupan sehari-hari perkataan profesi seringkali diartikan sebagai suatu pekerjaan yang dikerjakan dengan terampil dan cakap. Seorang pekerja yang mengerjakan pekerjaannya dengan baik diberi predikat profesional, dengan demikian dapat disebutkan bahwa pekerjaan yang digeluti orang yang hidup dan berpengalaman baik menjalankan
6 aktivitasnya sebagai penarik becak sering disebut sebagai profesi, sehingga penarikan becak disebut sebagai seorang profesional. Benarkah demikian? Suatu pekerjaan dikatakan profesi apabila pekerjaan tersebut hanya dapat dikatakan oleh orang yang memenuhi persyaratan atau kriteria tertentu. Kriteria tersebut antara lain harus melalui pendidikan politik, melibatkan kegiatan ekonomi terutama menuntut keahlian, dan diikat oleh kode etik tertentu. Orang pengemban profesi dalam dirinya sendiri mengandung pengertian tentang adanya penyerahan dan pengertian penuh pada suatu jenis pekerjaan yang mengimplikasikan tanggung jawab pada diri sendiri. Seorang profesional bukan hanya bekerja sama melainkan ia tahu mengapa dan untuk apa yang bekerja serta tanggung jawab apa yang melekat dalam pekerjaannya. Dengan kata lain, seseorang yang profesional tidak boleh bekerja semaunya saja. Guru Sebagai Jabatan Profesional Undang-Undang No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Bab II Pasal 2 ditegaskan bahwa guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sebagai pendidik profesional, guru mempunyai tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada Pendidikan Anak Usia Dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Jauh sebelum ada kebijakan nasional, guru sebagai jabatan dituntut memiliki tiga kompetensi, yaitu: Kompetensi Personal, Kompetensi Sosial dan Kompetensi Profesional. 1. Kompetensi Personal yaitu: Kecakapan pribadi dalam mengadakan komunikasi antarpersonal, yang bersifat psikologis kepada siswa-siswa dan teman sejawatnya. Dengan kompetensi ini, dari seorang guru ditunjuk keutuhan dan integritas pribadi, dimana didalam komunikasinya dengan pribadi-pribadi lainnya sehingga tidak terombang-ambing di bawa arus, tetapi tetap mantap dengan sikap yang tegas yang sudah dibentuk dengan didasari nilai-nilai luhur yang diyakininya. 2. Kompetensi Sosial yaitu: Kemampuan berkomunikasi sosial baik dengan siswa, dengan sesama teman guru, kepala sekolah, maupun dengan masyarakat lugas. Kemampuan memberikan pelayanan sebaik-baiknya, berarti ia dapat mengutamakan nilai
7 kemanusiaan daripada nilai kebendaan atau material. Juga termasuk dalamnya kemampuan untuk diri dengan lingkungan sekitar pada waktu membawakan tugasnya sebagai guru. 3. Kemampuan Profesional yaitu: Kemampuan melaksanakan tugas dan mengenai batasbatas kemampuannya, serta kesiapan dan kemampuan menemukan sumber yang dapat membantu mengatakan mengatasi keterbatasan pelaksanaan tugas tersebut titik pada gilirannya kemampuan melaksanakan tugas itu dapat dirinci menjadi penguasaan terhadap bahan ajar serta sistem penyampaiannya di samping pemahaman mengenai rasional dari pelaksanaan tugas tersebut. Dengan perkataan lain, disamping mampu melaksanakan tugasnya dengan baik guru yang profesional juga memahami alasanalasan serta memperkirakan dampak jangka panjang tindakan yang diambilnya dalam rangka pelaksanaan tugasnya. Tanpa kesadaran penuh mengenai kelengkapan pelaksanaan tugas akan mensejajarkan pekerjaan guru sebagai pekerjaan dalam melaksanakan tugasnya sebatas mengikuti petunjuk pelaksanaan yang telah disiapkan pihak lain. Ketika dikatakan dengan kebijakan Nasional, pemerintah Republik Indonesia telah merumuskan 4 jenis kompetensi guru profesional. tempat kompetensi tersebut telah dicantumkan dalam Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang standar Pendidikan Nasional, dan Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen terlampir, yakni kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial. Dengan adanya peraturan pemerintah tersebut diharapkan guru di Indonesia dapat menjalankan tugas dan kewajibannya secara profesional. Hakikat Profesional Guru Guru sebagai suatu jabatan memiliki tanda khas atau ciri-ciri yang dapat membedakannya dengan profesi-profesi lain. Banyak pekerjaan yang dapat dikategorikan sebagai profesi, namun setiap jabatan tersebut memiliki ciri khas tersendiri. Jabatan dokter memiliki tanda-tanda khas tersendiri jika dibandingkan dengan jabatan guru atau jabatan pekerja sosial lainnya. Dengan tanda-tanda hal tersebut, profesi dokter dapat dibedakan dan diperlakukan berbeda dengan profesi guru atau profesi sosial lainnya. Dengan menyimak kepada syarat-syarat yang telah disebutkan terdahulu, di Indonesia dapat diamati bahwa pekerjaan yang selama ini menyebut diri sebagai suatu proses sesungguhnya belum secara
8 penuh dapat disebut demikian titik mungkin tingkatannya baru merupakan suatu pekerjaan atau “vocation”. Menyambutnya sebagai suatu profesi bisa jadi karena kelatahan atau karena ketidakjelasan kriteria yang digunakan titik dengan berpedoman kepada syarat-syarat suatu profesi, maka pekerjaan perburuan, keluar tawanan, dan banyak lagi masih merupakan pekerjaan yang berada pada taraf profesi yang sedang tumbuh dan belum mencapai suatu profesi yang dalam arti yang sesungguhnya. Bila diamati secara cermat ciri umum pekerjaan profesional juga tercermin dalam pekerjaan sebagai guru memerlukan kemampuan-kemampuan dengan ciri tertentu. Kemampuan profesional guru tersebut tentu saja sejajar dengan tuntutan tuntutan kebutuhan kemasyarakatan tugas-tugas guru. Dalam masyarakat yang mengalami perubahan tentu saja akan ada pergeseran mengenai persepsi tentang tugas guru. Artinya pada zaman tertentu persepsi tentang tugas guru berbeda-beda. Jika pada tahun 70-an, yakni dalam konferensi internasional tentang pendidikan sekolah yang diselenggarakan UNESCO pada tahun 1975, dilaporkan tentang adanya kecenderungan perubahan-perubahan peranan guru yang diperkirakan mempunyai dampak besar terhadap profesi guru, maka untuk abad 21 berbagai pihak pun memberikan argumentasi tentang ciri-ciri tersebut. Dengan berpedoman pada gejala penyakit gejala perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan sosial, ada pihak berpendapat bahwa ciri keprofesionalan guru terletak pada kemampuan: 1) Menguasai subjek (kandungan kurikulum). 2) Memiliki kemahiran dan keterampilan pedagogik (mengajar dan membelajarkannya). 3) Memahami perkembangan dan menyayangi peserta didik. 4) Memahami konseling pembelajaran. 5) Mahir menggunakan teknologi terkini. Sementara penulis lain mengemukakan bahwa ada 10 ciri guru profesional, yang meliputi: 1) Keikhlasan dalam mendidik, 2) Mengajarkan sesuatu yang bermanfaat, 3) Mendisiplinkan siswa dengan bentuk contoh, 4) Menjadi manajer kelas yang efektif, 5) Mempercayai bahwa siswanya memiliki peluang untuk menjadi seorang yang sukses, 6) Memiliki harapan bahwa siswanya bisa menjadi lebih baik daripada dirinya sendiri,
9 7) Berkomunikasi secara teratur dengan orang tua siswa, 8) Menguasai bahan dengan baik, 9) Menyesuaikan pengajarannya dengan kurikulum yang berlaku, 10) Memiliki hubungan yang harmonis dengan siswanya. Pada tahun 1980-an Depdikbud telah mengadopsi kompetensi guru, yang dihasilkan oleh pakar-pakar dalam proyek pengembangan pendidikan titik dengan dikeluarkannya rumusan tersebut oleh instansi yang berwenang, maka resmilah perangkat kompetensi yang tercakup di dalamnya menjadi salah satu kompetensi bagi profesi guru di Indonesia, yang memiliki meliputi: 1) Menguasai bahan ajar: Menguasai bahan bidang studi dan kurikulum sekolah, Menguasai bahan pedalaman/aplikasi bidang studi 2) Mengelola program belajar mengajar: Merumuskan tujuan instruksional, Mengenal dan dapat menggunakan metode mengajar, Memilih dan menyusun prosedur intruksi soal yang tepat, Melakukan program belajar mengajar, Mengenal kemampuan anak didik, Merencanakan dan melaksanakan pengajaran remedial. 3) Mengelola kelas: Mengatur tata ruang kelas untuk pengajaran, Menciptakan iklim belajar mengajar yang serasi. 4) Menggunakan media sumber: Mengenal, memiliki, dan menggunakan media, Membuat alat-alat bantu mengajar yang sederhana, Menggunakan dan mengelola laboratorium dengan dalam rangka proses belajar mengajar, Mengembangkan perpustakaan menggunakan laboratorium mikro dalam program pengalaman lapangan atau PPL menggunakan untuk pengajaran mikro dalam PPL. Menguasai landasan-landasan kependidikan. Mengelola interaksi belajar mengajar. Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran. 5) Mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan dan konseling:
10 Mengenal fungsi dan program layanan bimbingan dan konseling, Menyelenggarakan program layanan bimbingan di sekolah. Mengenal dan menyelenggarakan administrasi di sekolah. Memahami prinsip-prinsip penelitian dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran. Setelah mengalami perubahan-perubahan penerapan kurikulum di negara kesatuan Republik Indonesia, dan terakhir Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan Kependidikan (KTSP) dan terakhir Kurikulum 2013 yang masih ditunda penerapannya. Ke-10 kompetensi dasar di atas telah dikembangkan menjadi 13 kompetensi meliputi kemampuan: 1. Memahami standar nasional pendidikan, 2. Mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan, 3. Menguasai materi standar, 4. Mengelola program pembelajaran, 5. Mengelola kelas, 6. Menggunakan media dan sumber pembelajaran, 7. Menggunakan landasan pendidikan, 8. Memilih memahami dan melaksanakan pengembangan peserta didik, 9. Memahami dan melaksanakan administrasi sekolah, 10. Memahami penelitian pembelajaran tindakan kelas, 11. Menampilkan keteladanan dan kepemimpinan dalam pembelajaran, 12. Mengembangkan teori dan konsep dasar pendidikan, 13. Memahami dan melaksanakan konsep pembelajaran individual. Kriteria dan Kompetensi Guru Profesional Berdasarkan ciri-ciri guru profesional yang dikemukakan tersebut, maka untuk menjadi guru yang profesional harus memiliki ciri-ciri tersebut dan memenuhi sejumlah kriteria tertentu. Kriteria untuk menjadi guru yang profesional sangat beragam, namun kriteria utama meliputi tiga (Sahertian, 1994) yakni harus ahli (expert), bertanggungjawab (responsibility) baik tanggungjawab, intelektual, maupun moral, dan memiliki rasa kesejawatan.
11 Expert adalah guru yang mampu menampilkan penguasaan terhadap materi ajar yang diajarkannya, mampu menyajikan dan mengembangkannya sesuai dengan disiplin ilmu atau bidang studi yang digelutinya. Guru yang ahli di bidang bahasa Indonesia, umpamanya, adalah guru yang menguasai bahan ajarnya, mampu menanamkan konsep-konsep yang berkaitan dengan pengetahuan atau bahan yang diajarkan. Ini berarti expert berkaitan dengan penguasaan bahan dan kemampuan penyampaian bahan secara benar. Sehingga peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang dapat membantunya mencapai tujuan pendidikan. Dengan kata lain kata keahlian secara profesional harus dibedakan dari kata ahli secara teknis sehingga timbul perbedaan antara profesional dengan amatiran, tenaga ahli dengan tenaga teknis. Guru yang profesional adalah guru yang mampu menguasai bidang ilmunya dan mampu menyajikan dengan pendekatan atau, metode, teknik, dan kiat tertentu sesuai dengan prinsip-prinsip belajar dan pembelajaran adalah rasa tanggung jawab terhadap jabatan atau tugas yang diemban. Seorang guru yang profesional memiliki kemampuan untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaannya membelanjakan peserta didik tersebut. Persiapan secara lengkap secara tertulis berwujud dalam bentuk siapnya perangkat pembelajaran seperti silabus rencana pelaksanaan pembelajaran atau RPP, media pembelajaran dan sebagainya, mampu mengimplementasikan dan menggunakan perangkat pembelajaran dengan tinggi, dan mampu menerima apapun resiko dari tindakan fungsional selama dan setelah dilakukan evaluasi kinerja secara singkat dikatakan tanggung jawab adalah berani berbuat, berani menerima resiko apapun perbuatan tersebut. Guru yang bertanggung jawab adalah guru yang tidak mau mengajar di kelas jika belum ada persiapan mengajar atau RPP yang benar-benar matang, dan jika telah melakukan pembelajaran akan merasa tidak puas sebelum melakukan evaluasi proses dan hasil pembelajaran, serta siap menerima apapun resiko atau akibat positif maupun negatif dari hasil evaluasi pembelajaran yang dilakukan titik tanggung jawab guru yang profesional menyangkut berbagai dimensi mulai dari dimensi diri sendiri Contoh peserta didik kalau orang tua, lingkungan sekitarnya, masyarakat, bangsa dan negara, sesama manusia dan akhirnya yang terutama terhadap Tuhan Yang Maha Pencipta, membalik aspek intelektual, individual, sosial sama etis dan religius. Kesejawatan adalah rasa kebersamaan memiliki antara seluruh pelaksanaan profesi itu sendiri. Guru yang memiliki kesejahteraan kesejawatan tidak akan merasa sepi dan menyendiri dalam melaksanakan tugas pengabdiannya. Profesi guru menjadi milik bersama yang harus
12 dijaga bersama sama dibesarkan bersama, dan dijunjung tinggi bersama. Hal ini akan tersalurkan melalui kemampuan-kemampuan dan kemauan dan kemampuan guru menjadi anggota organisasi profesi guru yang terbentuk secara benar. Dengan adanya organisasi profesi ini, guru akan merasa nyaman karena nyaman, terlindungi, dan bebas mengapresiasi keberadaannya sebagai tenaga pendidik atau kependidikan sesuai dengan tuntutan keprofesionalannya. Bagi Ratna Dewi kriteria tersebut meliputi: (1) Mempunyai akhlak dan menjadi properti yang lumpur sehingga mampu memberikan contoh yang baik pada anak didik, (2) Mempunyai kemampuan untuk mendidik dan mengajar anak didik dengan baik, (3) Menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkan dalam interaksi belajar mengajar, (4) Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai bidang tugas, (5) Menguasai berbagai administrasi kependidikan, (RPP, Silabus, Kurikulum, KKM, dan sebagainya), (6) Mempunyai semangat dan motivasi yang tinggi untuk mengabdikan ilmu yang dimiliki para peserta didik, (7) Tidak pernah berhenti untuk belajar dan mengembangkan kemampuannya, (8) Meliputi diklat dan pelatihan untuk menambah wawasan dan pengalaman, (9) Aktif, kreatif, dan inovatif untuk mengembangkan pembelajaran dan selalu up to date terhadap informasi atau masalah yang terjadi disekitar, (10) Menguasai IPTEK (komputer, internet, blog, facebook, website, dsb), (11) Gemar membaca sebagai upaya untuk menggali dan menambah wawasan, (12) Tidak pernah berhenti untuk berkarya (membuat PTK, bahan ajar, artikel, dsb), (13) Mampu berinteraksi dan bersosialisasi dengan orangtua murid, teman sejawat, dan lingkungan sekitar dengan baik, (14) Aktif dalam kegitatan-kegiatan organisasi kependidikan (KKG, PGRI, Pramuka), dan (15) Mempunyai sikap cinta kasih, tulus, dan ikhlas dalam mengajar. Kriteria untuk menjadi guru menurut UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen diatur pada Bab IV bagian terakhir meliputi: (1) Memiliki kualifikasi pendidikan minimal (S1 dan Diploma IV), (2) Memiliki kompetensi (pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial), (3) Memiliki sertifikasi pendidik, (4) sehat jasmani dan rohani, (5) Memiliki kemampuan untuk mencapai tujuan nasional. Kompetensi mengandung arti sebagai seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki dan harus ditampilkan seseorang sebagai syarat untuk dinyatakan atau menyatakan diri mampu dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang keahliannya. Kompetensi guru yang profesional diartikan sebagai perangkat tindakan cerdas atau kemampuan yang dimiliki dan ditampilkan dalam melaksanakan seperangkat tugas dan kewajiban yang melekat
13 pada dirinya dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan. Kompetensi guru profesional NKRI, telah diciptakan dalam UU No.14 Tahun 2005 seperti dikemukakan secara rinci dibawah ini. Kompetensi Pedagogik Merupakan kemampuan guru mengelola proses pembelajaran atau interaksi belajar mengajar dengan peserta didik. Dengan kompetensi pedagogik ini guru harus memiliki kemampuan memahami peserta didik, memahami dan menguasai perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan mengembangkan peserta didik agar mampu mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Subkompetensi dalam kompetensi pedagogik adalah: a. Memahami peserta didik secara mendalam yang meliputi memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif, prinsip-prinsip kepribadian, dan mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik. b. Merancang pembelajaran, termasuk memahami landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran meliputi memahami landasan pendidikan, menerapkan teori belajar dan pembelajaran kolom menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai, dan materi ajar, serta menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih. c. Melaksanakan pembelajaran yang meliputi menata latar pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif. d. Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran yang meliputi perancang dan melaksanakan evaluasi proses dan hasil belajar secara berkesinambungan dengan berbagai metode, belajar secara berkesinambungan dengan berbagai metode menganalisis hasil evaluasi proses dan hasil belajar untuk menentukan tingkat tuntasan belajar, dan memanfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program pembelajaran secara umum. e. Mengembangkan peserta didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik, dan memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan berbagai potensi non akademik. Kompetensi Kepribadian Adalah kemampuan yang berkaitan dengan karakter personal. Kompetensi kepribadian seorang guru mencerminkan kepribadian guru yang mantap, stabil, dewasa, arif, berwibawa,
14 supel, sabar disiplin, jujur, rendah hati, mampu menjadi teladan bagi peserta didik yang berakhlak mulia, ikhlas, empati, bertindak sesuai norma sosial dan hukum. Subkompetensi dalam kompetensi kepribadian meliputi: a. Kepribadian yang mantap dan stabil meliputi pertidak sesuai dengan norma sosial, bangga menjadi guru, dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma. b. Kepribadian yang dewasa yaitu menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik dan memiliki etos kerja sebagai guru. c. Kepribadian yang arif adalah menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemanfaatan peserta didik sekolah dan masyarakat yang menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak. d. Kepribadian yang berwibawa meliputi memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik dan memiliki perilaku yang disegani. e. Berakhlak mulia dan dapat menjadi teladan meliputi dan tidak sesuai dengan norma religius agama ikhlas suka menolong dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik- guru yang profesional dengan kompetensi ini dituntut kemampuan guru menampilkan kepribadian yang dapat memotivasi orang lain peserta didik berbuat yang sama seperti perilaku dirinya. Guru harus tampil supel, sabar komen disiplin, jujur kalau berwibawa, rendah hati, ikhlas, bertindak sesuai norma sosial dan hukum. Kompetensi Sosial Adalah kemampuan guru berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan orang tua wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Kompetensi ini menggambarkan bagaimana guru harus bersikap dan berperilaku ketika berhubungan dengan orang atau masyarakat di sekitarnya. Kompetensi ini mengharuskan guru menampilkan sikap dan perilaku berikut: a. Bersifat bertindak objektif homo serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama komares kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial keluarga. b. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan orang tua dan masyarakat. c. Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keberagaman sosial budaya.
15 d. Berkomunikasi dengan lisan maupun tulisan. Peranan dan Tantangan Guru Abad 21 Pada Revolusi Industri 4.0 Abad 21 merupakan abad yang ditandai dengan bergantian tahun 2000 menuju 2001, yang merupakan milenium ketiga menurut kalender Gregorian. pada abad 21 ini sering disebut dengan abad globalisasi oleh para penganalisis dunia ekonomi dan sosial menggambarkannya sebagai abad yang kritis dalam kehidupan manusia mengingat semua upaya pemenuhan kebutuhan manusia dan segala bidang berbasis pengetahuan dan ekonomi, dimana semua transaksi dalam kehidupan dilakukan secara online investasi dan pasar modal dilakukan tanpa melihat gejolak kehidupan nyata, hanya melihat angka-angka di layar monitor yang setiap saat dari menit ke menit mengalami perubahan seiring dengan Gejolak yang terjadi dalam ekonomi perdagangan komponen politik kelompok sosial, bahkan dalam pernyataan-pernyataan tokoh dunia. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, informasi dan sosial yang luar biasa dan segala bidang kehidupan manusia, dunia terasa semakin sempit sehingga semaunya terkesan dekat, serba mudah dan serba gampang. namun dibalik keadaan tersebut, abad 21 ini menghadapkan manusia pada permasalahan kehidupan yang semakin rumit kalau seperti munculnya krisis ekonomi global peran pemanasan global, terorisme komarisisme, rendahnya kesadaran kebudayaan, termasuk kesenjangan mutu pendidikan antar wilayah di belahan dunia ini, dan sebagainya yang menunjukkan pemecahan secara bersama-sama. Manusia dituntut memiliki ketangguhan menghadapi tantangan atau permasalahan tersebut dengan mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten. Persiapan ini membutuhkan lembaga pendidikan yang didalamnya terdapat pendidik dan tenaga kependidikan dan profesional komputer utama guru. Guru sebagai pendidik adalah pilar utama dan terdepan dalam menghadapi tantangan globalisasi abad 21 ini. Melalui proses pendidikan dan pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan secara profesional guru dan pembantu atau mengantarkan peserta didiknya menjadi sumber daya manusia yang siap menghadapi tantangan globalisasi tersebut oleh karena itu harapan terhadap guru sangat tinggi dalam menghadapi abad 21 di era revolusi industri 4.0. harapan terhadap terbentuknya sumber daya manusia yang siap menghadapi permasalahan di daerah digital dan revolusi industri 4.0 telah membuat guru sejati ini mempersiapkan diri menghadapi tantangan guru abad 21 adalah guru yang seharusnya melaksanakan atau melakukan transformasi pembelajaran yang mampu menjadikan peserta didik sebagai titik pusat proses pendidikan dan pembelajaran guru berubah
16 peran dari penceramah dunia menjadi fasilitator, dan pembelajar bagi peserta didik titik peserta didik harus dilayani dan menjadikan sebagai varises problem software, perancang strategi, bukan pengingat pesan titik dalam hal inilah, melalui penerapan Kurikulum Nasional 2013 oleh guru dan mengimplementasikan pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran dengan tahap aktivitas yang harus dilalui oleh peserta didik kamu melalui observasi, bertanya, asosiasi kamu mencoba dan komunikasi. Kementerian pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal guru dan tenaga kependidikan harus melakukan pembinaan ke profesional guru dengan tujuan meningkatkan kompetensi guru sebagai agen pembaharuan yang telah mampu menjadi ujung tombak dalam menghadapi era globalisasi dengan menyelenggarakan secara sistematis dan berkesinambungan program perkembangan pengembangan profesional berkesinambungan atau PKB bagi guru melalui pendidikan dan pelatihan guru baik melalui modal tatap muka maupun modal. Melalui program ini guru terbentuk mempersiapkan diri menjadi tenaga pendidik yang profesional terutama dalam pemantapan dan penerapan tempat kompetensi profesi ke profesional guru dalam proses pendidikan dan pembelajaran titik PKB terus dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai upaya meningkatkan kompetensi guru 2018. Peningkatan kompetensi guru secara berkesinambungan akan membantu guru menempat dirinya sebagai tenaga pendidik yang benar-benar profesional yang siap menjawab setiap tantangan pada setiap era perubahan termasuk peralatan revolusi industri 4.0 titik oleh karena itu tidak berlebihan jika dikatakan bahwa guru yang profesional adalah guru yang terus belajar, belajar, dan belajar. profesional guru akan berhenti saat guru tidak belajar. Peranan dan tantangan guru pada abad 21 pada masa pandemi covid 19, guru dituntut memiliki keterampilan sebagaimana di uraikan sebelumnya. Guru tidak hanya harus beriman dan bertakwa, menguasai kompetensi pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian, tetapi juga harus terampil dalam hal literasi, penggunaan it, memiliki hubungan yang harmonis dan berkualitas dengan peserta didik. Mampu menjadi contoh dalam penerapan disiplin, mampu manajemen kelas yang efektif baik secara tatap muka maupun secara virtual dalam penyelenggaraan proses pembelajaran titik guru profesional di masa pandemik adalah guru yang memahami dan mampu menggunakan berbagai media atau aplikasi pembelajaran online atau dari untuk peserta didik di masa pandemik guru profesional kalau mau tidak mau harus mampu terampil dalam
17 menggunakan perangkat elektronik yang terhubung dengan internet sehingga bisa tetap melaksanakan kegiatan pembelajaran kapanpun dan dimanapun. Dalam kondisi seperti ini guru beserta peserta didik diharapkan pada sebuah dilemma, era baru dalam kenormalan ini mengharuskan guru dan peserta didik tetap beraktivitas secara efektif dalam proses pembelajaran meski tetap di rumah masing-masing atau home schooling. Home schooling ini mempersyaratkan guru dan peserta didik harus mahir menggunakan dengan mengoperasikan berbagai fasilitas dan fitur jaringan internet. Pada awal-awal pemberlakuan home schooling guru dan peserta didik menghadapi berbagai permasalahan, namun setelah menjadi keharusan, lama-lama masalah sedikit yang sedikit dapat diatasi dengan kemauan belajar dan berlatih yang terus menggelora dari dalam diri masing-masing. Dan akhirnya sampai hari ini guru dan peserta didik dapat terus berinteraksi secara virtual baik melalui WhatsApp, Google Classroom, Google Meet, dan sebagainya. Di sana sini masih terjadi keluhan keluhan, seperti kelancaran jaringan kecukupan kota, dan sebagainya. guru profesional sangat diharapkan mengatasi setiap permasalahan dengan menampilkan berbagai model kamar pendekatan komponen metode pembelajaran yang dapat mengakomodir setelah keberadaan dari komponen-komponen sistem pembelajaran terutama peserta didik.
18 BAB II PROFESIONALISASI JABATAN GURU Pengertian Profesionalisasi Kata profesionalisasi mengacu pada kata proses. Kata proses mengandung arti runtunan perubahan (peristiwa) dari perkembangan sesuatu, kemajuan sosial berjalan terus, rangkaian tindakan, pembuatan atau pengelolaan yang menghasilkan produk (KBBI, 1999) yang dapat diartikan sebagai pergerakan dari sesuatu yang bergerak terus menerus menurut aturan yang lazim atau harus dijalankan. Air tebu dapat menjadi butir gula karena air tebu tersebut mengalami serangkaian perjalanan (diawali dari penebangan batang tebu, pemerasan air tebu, mengolahan hingga menjadi kristal) yang terancang sedemikian rupa sehingga terus mengalami perubahan bentuk yang akhirnya menjadi gula. Perjalanan atau perubahan bentuk tersebut terus belangsung hingga menemui bentuk terakhir hingga saatnya tidak berfungsi sebagaimana seharusnya. Demikian pula proses menjadi guru. Seseorang yang ingin menjadi gunu tidak serta merta setelah ada niat dalam dirinya untuk menjadi guru langsung menjadi guru. Seseorang yang memiliki nat menjadi guru itu harus mengikuti atau mengalami sejumlah perjalanan yang terancang sedemikian rupa, dan dari setiap perjalanan tersebut ia akan mengalami perubahanperubahan tertentu yang pada akhirnya dirinya terbentuk menjadi sosok guru yang profesional (sesuai dengan harapan dirinya, masyarakatnya, bangsa dan negaranya, bahkan penciptanya). Untuk menjadi guru, seseorang harus memiliki tekat dan komitmen mengikuti seluruh perjalanan pembentukan kepribadian guru yang profesional yang diawali dari adanya keinginan atau niat yang tulus dari hati yang paling dalam untuk menjadi guru. Dari titik inilah seseorang tadi mencari, mencari, dan terus mencari hingga menemukan berbagai strategi, model, pendekatan, metode, teknik dan kiat untuk membekali dirinya sejumlah sikap, pengetahuan, keterampilan yang dipersyaratkan bagi seorang guru yang profesional melalui pendidikan formal, non-formal, dan informal sehingga dengan senang hati dan komitmen afektif yang tinggi memasuki lembaga pendidikan yang mampu membantu dirinya menjadi guru yang profesional.
19 Proses yang harus dialami atau dijalani seseorang yang memiliki niat menjadi guru sejak memiliki niat menjadi guru, lalu memasuki lembaga pendidikan (baik formal, nonformal, dan informal) untuk mengalami proses pendidikan dan latihan dalam kurun waktu tertentu, kemudian memperoleh pengakuan sebagai guru yang profesional (dapat ijazah. sertifikat sebagai guru), kemudian terus belajar-belajar, dan belajar sampai menemukan sosok guru yang benar-benar profesional, dan akhirnya kembali menyadari bahwa dirinya sudah tidak mampu menjadi guru lagi (karena sudah pensiun, sudah tamat riwat hidupnya) itulah yang dimaksud dengan profesionalisasi guru. Profesionalisasi Jabatan Guru Seseorang yang punya niat untuk menjadi guru (pendidik) tidak langsung dapat menjadi guru yang profesional jika tidak mengikuti proses pendidikan dan latihan dalam waktu yang relatif lama, mulai dari pendidikan tingkat dasar (Sekolah Dasar-SD/Pendidikan Anak Usia Dini-PAUD), lalu melanjut ke tingkat Pendidikan Menengah (Sekolah Menengah. PertamaSMP dan Sekolah Menengah Atas-SMA), lalu melanjut ke tingkat Perguruan Tinggi (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan-LPTK). Jika telah berhasil menamatkan pendidikan hingga perguruan tinggi hingga dinyatakan lulus dan diwisuda dengan memegang ijazah S1 kependidikan dan keguruan, tidak secara otomatis dinyatakan telah menjadi guru yang profesional. Lulusan LPTK yang sudah dinyatakan berhasil menyandang gelaratau predikat "tenaga pendidik profesional" tidak serta merta langsung menjadi guru di sekolah (lembaga pendidikan). Lulusan ini harusmenjalani berbagai uji kompetensi untuk membuktikan diri bahwamemang ia layak menjadi guru yang profesional. Berdasarkan hasil uji kompetensi tersebut, lulusan LPTK tersebut membuktikan dirinya sebagai guru yang profesional dengan melaksanakan tugas pelayanan berdasarkan kompetensi yang telah melekat pada dirinya (kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial) Sebaik lulusan LPTK dinyatakan layak dan diterima menjadi guru di lembaga pendidikan, bukan berarti proses profesionalisasi guru sudah berakhir. Surat keputusan yang menyatakan lulusan LPTK diterima menjadi guru merupakan "titik awal" lagi bagi guru untuk lebih mengintensifkan usahanya menjadi guru yang profesional. Guru kembali ditantang untuk terus belajar, belajar, dan belajar menambah, mengembangkan, memperbaiki, meningkakan,
20 memperkaya kuantitas dan kualitas kompetensi yang dimilikinya hingga mencapai kesempurnaannya. Mengingat kondisi guru di Indonesia yang belum sepenuhnya profesional, sudah barangtentu diperlukan usaha meningkatkannya. Peningkatan kualifikasi pendidikan dan pelatihan guru adalah penting yang dilakukan melalui pendidikan prajabatan maupun pendidikan/latihan dalam jabatan. Tetapi menurut berbagai hasil studi, itu saja tidak tidak cukup. Bahkan tidak begitu besar artinya jika tidak dilakukan usaha untuk terjadinya kolaborasi (kerjasama dengan kedudukan yang setara) antara guru sehingga terjadi berbagi pengalaman. Sesama guru harus melakukan kerjasama dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya. Guru yang pada suatu kondisi memiliki pengetahuan atau keterampilan yang lebih dari teman sejawatnya, misalnya dalam hal penggunaan alat atau media belajar, dapat diminta membantu melatih atau mentransfer ketrampilan tersebut kepada sejawat guru lain. Pengembangan keprofesian berkelanjutan adalah pengembangan kompetensi guru yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, bertahap dan berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalitasnya (Permenneg PAN & RB Nomor 16 Tahun 2009) Lebih lanjut dalam permenneg PAN & RB tersebut pasal 11 ayat e dijelaskan bahwa pengembangan keprofesian berkelanjutan ini terdiri dari 3 komponen, yaitu pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan karya inovatif. 1. Pengembangan Diri Pengembangan diri adalah upaya-upaya untuk meningkatkan profesionalisme diri agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan peraturan perundang- undangan agar mampu melaksanakan tugas pokok dan kewajibannya dalam pembelajaran atau pembimbingan termasuk pelaksanaan tugas-tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah. Kegiatan pengembangan diri terdiri dari: diklat fungsional dan kegiatan kolektif yaitu kegiatan guru dalam mengikuti pendidikan atau latihan yang bertujuan untuk mencapai standar kompetensi profesi yang ditetapkan dan/atau meningkatkan keprofesian untuk memiliki kompetensi di atas standar kompetensi profesi dalam kurun waktu tertentu. Kegiatan pengembangan diri ini harus mengutamakan kebutuhan guru untuk pencapaian standar dan/atau peningkatan kompetensi profesi khususnya berkaitan
21 dengan melaksanakan layanan pembelajaran, misalnya: kompetensi penyusunan RPP, penguasaan materi dan kurikulum, penguasaan metode mengajar, dan lain-lain. 2. Pelaksanaan Publikasi Ilmiah Publikasi ilmiah adalah karya tulis ilmiah yang telah dipublikasikan kepada masyarakat sebagai bentuk kontribusi guru terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah dan pengembangan dunia pendidikan secara umum. Publikasi ilmiah mencakup 3 kelompok kegiatan, yaitu: presentasi pada forum ilmiah, publikasi ilmiah hasil penelitian atau gagasan inovatif pada bidang pendidikan formal, serta publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan, dan lain-lain. 3. Pelaksanaan Karya Inovatif Karya inovatif adalah karya yang bersifat pengembangan, modifikasi atau penemuan baru sebagai bentuk kontribusi guru terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah dan pengembangan dunia pendidikan, sains/teknologi, dan seni. Karya inovatif ini mencakup: a. Penemuan teknologi tepat guna kategori kompleks dan/atausederhana b. Penemuan/peciptaan atau pengembangan karya seni kategori kompleks dan/atausederhana. c. Pembuatan/pemodifikasian alat pelajaran/peraga/ praktikum kategori kompleks dan/ atau sederhana, dan d. Penyusunan standar, pedoman, soal dan sejenisnya pada tingkat nasional maupun provinsi. Pengembangan keprofesian berkelanjutan ini sangat penting dilakukan baik guru itu sendiri maupun pihak lembaga sekolah maupun pemerintah, karena hal ini akan mendukung terhadap kinerja guru dalam melaksanakan tugas. Pengembangan Kinerja Guru Guru sebagai pelaksana utama aktivitas pendidikan dan pengajaran melakukan "aktivitas pembelajaran" sesuai dengan prosedur yang tepat secara profesional melalui tampilan-tampilan diri sebagai pendidik, pengajar, pelatih, pembimbing, motivator, pemimpin, dan fasilitator bagi peserta didik. Dalam tampilan diri inilah guru dituntut memiliki dan menampilkan kinerja yang sesuai dengan kriteria dan persyaratan bagiguru yang profesional. Dengan tampilan kinerja yang tepat diharapkan seluruh program yang direncanakan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien hingga tujuan pendidikan dan pembelajaran dapat
22 tercapai secara maksimal. Kinerja guru merupakan salah satu indikator penentu ketercapaian tujuan pendidikan dan pembelajaran baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Kinerja guru adalah hasil kerja yang dicapai guru dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan pada kecakapan, pengalaman, dan kesungguhannya dalam bekerja. Kinerjaguru menyangkut hasil kerja yang secara kuantitas dan kualitas dapat dicapai guru dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya sebagai guru. Kinerja guru digambarkan melalui kecakapannya dalam bekerja, pengalaman yang dimiliki, kesungguhan dalam bekerja. Kecakapan, pengalaman, kesungguhan dalam bekerja dapat diketahui melalui tampilan-tampilan guru dalam mengimplementasikan seluruh kompetensi yang dipersyaratkan oleh jabatan guru. Kompetensi adalah kemampuan yang seyogianya atau seharusnya ditampilan dalam berbuat atau dalam bekerja. Bagi guru yang profesional kompetensi tersebut diklasifikasikan atas empat bidang, yakni pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial. Keempat kompetensi tersebut mengandung segala hal-hal yang harus ditampilkan guru saat melaksanakan tugas keprofesionalnya dibidang pendidikan dan pembelajaran. Keempat kompetensi tersebut dapat melekat pada diri guru melalui proses pendidikan dan latihan dalam waktu yang relatif lama (hingga perguruan tinggi)-hal ini dasar Undang-undang tentang sistem pendidikan mensyaratkan guru harus berkualifikasi minimal S1 (sarjana). Setelah keempat kompetensi tersebut dimiliki oleh guru, maka tuntutan selanjutnya adalah mewujudnyatakannya dalam melaksanakan proses pendidikan dan pembelajaran bagi peserta didik. Proses dan hasil kerja yang dapat ditampilkan guru melalui keempat kompetensi tersebut dijadikan sebagai tolok ukur untuk menggambarkan tingkat dan/atau derajar kinerja guru. Faktor Penentuan dan Penilaian Kinerja Guru Hasil dari penilaian kinerja guru dapat menggambarkan sosok keprofesionalan yang dapat ditampilkan guru, secara nyata, selama melaksanakan tugas keguruannya dalam kehidupan nyata. Melalaui penilian kinerja guru dapat diketahui sejauhmana ciri-ciri guru yang profesional dapat ditampilkan seorang guru dalam melaksanakan tugasnya di lembaga (satuan) pendidikan. Satu per satu ciri guru yang profesional dapat diketahui sejauhmana guru telah dapat memenuhi dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sejumlah ciri-ciri guru
23 yang profesional daapat terungkap kembali yang dapat menyimpulkan sejauhmana keefektifan guru bekerja. Davis Thomas, 1997 menyatakan bahwa guru yang efektif mempunyai ciri- ciri yang meliputi: (1) memiliki kemampuan interpersonal, khususnya kemampuan untuk menunjukkan emphaty, penghargaan dan ketulusan kepada siswa, (2) memiliki hubungan baik dengan siswa, (3) mampumenerima, mengakui dan memperhataikan siswa secara tulus, (4) menunjukkan minat dan antosias yang tinggi dalam mengajar, (5) mampu menciptakan tumbuhnya kerjasama dan keharmonisan anggota kelompok, (6) mampu melibatkan siswa dalam mengorganisasikan dan merencana-kan kegiatan pembelajaran, (7) mampu mendengarkan dan memberi kesempatan kepada siswa untuk berbicara dan (8) mampu meminimalkan friksi-friksi di kelas. Dalam penjelasannya ahli menyatakan bahwa seorangguru. Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) ahli ini menjelaskanbahwa guru harus mempunyai pengetahuan yang terkait dengan iklim belajar di kelas yang mencakup kedelapan ciri di atas, dan memiliki kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen pembelajaran, yang mencakup (1) mempunyai kemampuan untuk menghadapi dan menanggapi peserta didik yang tidak mempunyai perhatian, suka menyela, mengalihkan perhatian, dan mampu memberikan transisi substansi bahan ajar dalam proses pembelajaran; (2) mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkatan berpikir yang berbeda untuk semua peserta didik, serta mempunyai kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik (feed back) dan penguatan (reinforcement), yang terdiri atas (1) mampu memberikan umpan balik yang positif terhadap respon peserta didik; (2) mampu memberikan respon yang bersifat membantu terhadap peserta didik yang lamban dalam belajar; (3) mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban peserta didik yang kurang memuaskan; (4) mampu memberikan bantuan profesional kepada peserta didik jika diperlukan. Keempat, mempunyai kemampuan yang terkait dengan peningkatan diri yang mencakup (1) mampu menerapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif; (2) mampu memperluas dan menambah pengetahuan mengenai metodemetode pembelajaran; (3) mampu memanfaatkan perencanaan guru secara berkelompok untuk menciptakan dan mengembangkan metode pembelajaran yang relevan. Kinerja guru adalah kemampuan dan usaha guru untukmelaksanakan tugas pembelajaran sebaik-baiknya dalam perencanaan program pengajaran, pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan evaluasi hasilpembelajaran. Kinerja guru yang dicapai harus berdasarkan
24 standar kemampuan profesional selama melaksanakan kewajiban sebagai guru di sekolah. Berkaitan dengan kinerja guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar, terdapat Tugas Keprofesionalan Guru menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 pasal 20 (a) Tentang Guru dan Dosen yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran. Kinerja Guru yang baik tentunya tergambar pada penampilan mereka baik dari penampilan kemampuan akademik maupun kemampuan profesi menjadi guru artinya mampu mengelola pengajaran di dalam kelas dan mendidik siswa di luar kelas dengan sebaik-baiknya. Unsur- unsur yang perlu diadakan penilaian dalam proses penilaian kinerja guru menurut Siswanto dalam Lamatenggo (2001) adalah sebagai berikut: 1. Kesetiaan Kesetiaan adalah tekad dan kesanggupan untuk menaati, melaksanakan dan mengamalkan sesuatu yang ditaati dengan penuh kesabaran dan tanggung jawab. 2. Prestasi Kerja Prestasi kerja adalah kinerja yang dicapai oleh seorang tenaga kerja dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan yang diberikan kepadanya. 3. Tanggung Jawab Tanggung jawab adalah kesanggupan seorang tenaga kerja dalam menyelesaikan tugas dan pekerjaan yang diserahkan kepadanya dengan sebaik-baiknya dan tepat waktu serta berani membuat risiko atas keputusan yang diambilnya. Tanggung jawab dapat merupakan keharusan pada seorang karyawan untuk melakukan secara layak apa yang telah diwajibkan padanya. Menurut Westra dalam Akadum (1999) untuk mengukur adanya tanggung jawab dapat dilihat dari: a). Kesanggupan dalam melaksanakan perintah dan kesanggupan kerja, b). Kemampuan menyelesaikan tugas dengan tepat dan benar. c). Melaksanakan tugas dan perintah yang diberikan sebaik-baiknya. 4. Ketaatan Ketaatan adalah kesanggupan seseorang untuk menaati segala ketetapan, peraturan yang berlaku dan menaati perintah yang diberikan atasan yang berwenang. 5. Kejujuran
25 Kejujuran adalah ketulusan hati seorang tenaga kerja dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan serta kemampuan untuk tidak menyalahgunakan wewenang yang telah diberikan kepadanya. 6. Kerja Sama Kerja sama adalah kemampuan tenaga kerja untuk bekerja bersama-sama dengan orang lain dalam menyelesaikan suatu tugas dan pekerjaan yang telah ditetapkan sehingga mencapai daya guna dan hasil guna yang sebesar-besarnya. Kriteria adanya kerjasama dalam organisasi adalah: a. Kesadaran karyawan bekerja dengan sejawat, atasan maupun bawahan. b. Adanya kemauan untuk membantu dalam melaksanakan tugas. c. Adanya kemauan untuk memberi dan menerima kritik dan saran. d. Tindakan seseorang bila mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugas. 7. Prakarsa Prakarsa adalah kemampuan seseorang tenaga kerja untuk mengambil keputusan langkah-langkah atau melaksanakan suatu tindakan yang diperlukan dalam melaksanakan tugas pokok tanpa menunggu perintah dan bimbingan dari atasan, Kepemimpinan Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk meyakinkan orang lain sehingga dapat dikerahkan secara maksimal untuk melaksanakan tugas pokok. Kepemimpinan yang dimaksud adalah kemampuan kepala sekolah dalam membina dan membimbing guru untuk melaksanakan KBM terutama kegiatan merencanakan, melaksanakan proses pembelajaran, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran mengarah pada tercapainya kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa terkait dengan pengetahuan, keterampilan dansikap serta nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.
26 Pengembangan Karier Guru Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2017, Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. Dalam peraturan baru tersebut beberapa hal teerkait dengan profesionalisasi guru diuraikan bahwa: 1. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevalusi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. 2. Guru tetap adalah guru yang diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian atau diangkat oleh pimpinan penyelenggaraan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat berdasarkan perjanjian kerja dan telah telah bertugas untuk jangka waktu palingkat 2 (dua) tahun secara terus menerus erta tercatat pada satuan administrasi pangkat di satuan pendidikan yang diselenggarakkan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, atau masyarakat. 3. Sertifikat pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru sebagai tenaga formal. Sertifikasi guru ini sah berlaku bagi guru untuk melaksanakan tugas setelah mendapat nomor registrasi guru. calon guru dapat memeroleh lebih dari satu sertifikasi pendidik, tetapi haanya diberi satu nomor registrasi guru 4. Beban kerja bagi guru profesional ditetapkan paling sedikit memenuhi 24 jam tatap muka atau paling banyak 40 jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu dengan kegiatan pokok (merencanakan pembelajaran atau pembimbingan, melaksanakan pembelajaran atau pembimbingan,menilai hasil pembelajaran atau pembimbingan, membimbing dan melatih peserta didik, dan melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada pelaksanaan kegiatan pokok sesuai dengn beban guru 5. Guru dapat diangkat oleh pemerintah pusat atau pemerintah daerah sebagai jabatan pimpinan tinggi, administrator, pengawas, atau jabatan fungsional lainnya yang membidangi pendidikan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku (telah bertugas sebagai guru paling sedikit 8 (delapan) tahun, kebutuhan guru telah terpenuhi, bersedia untuk tidak berhak menerima tunjangan profesi guru dan tunjangan khusus. 6. Guru dengan Tugas Tambahan 1) Guru dengan tugas tambahan sebagai Kepala Satuan Pendidikan wajib mengajar paling sedikit 6 jam tatap muka dalam satu minggu atau membimbing 40 orang peserta didik bagi kepala satuan pendidikan yang berasal dari
27 guru bimbingan dan konseling atau konselor 2) Guru dengan tugas tambahan sebagai Wakil kepala satuan pendidikan wajib mengajar paling sedikit 12 jam tatap muka per minggu atau membimbing paling sedikit 80 peserta didik bagi kepala satuan pendidikan yang berasal dari guru bimbingan dan konseling atau konselor. 3) Guru dengan tugas tambahan sebagai ketua program keahlian wajib mengajar paling sedikit 12 jam tatap muka per minggu. 4) Guru dengan tugas tambahan sebagai kepala perpustakaan satuan pendidikan wajib mengajar paling sedikit 12 jam tatap muka per minggu. 5) Guru dengan tugas tambahan sebagai kepala laboratorium, bengkel, atau unit produksi satuan pendidikan wajib mengajar paling sedikit 12 jam tatap muka per minggu. 6) Guru yang ditugaskan sebagai pengawas satuan pendidikan, pengawas mata pelajaran, atau pengawas kelompok mata pelajaran wajib melakukan tugas pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan pengawasan yang ekuivalen dengan paling sedikit 24 jam pembelajaran tatap muka per minggu. 7) Guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan wajib melaksanakan tugas sebagai pendidik, dengan ketentuan. berpengalaman sebagai guru sekurang-kurangnya 8 tahun atau kepala sekolah sekurang-kurangnya 4 tahun, memenuhipersyaratan akademik sebagai guru sesuai dengan peraturan perundang- undangan, memiliki sertifikasi pendidik, dan melakukan tugas pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan pengawasan.
28 BAB III PERANAN GURU DALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN Hakekat Manajemen Pendidikan Pengertian Manajemen Pendidikan Kata manajemen berasal dari bahasa Inggiris dengan istilah dan/atau kata dasar "manage" yang berarti kelola. Management berarti pengelolaan, yang berarti penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Sedangkan pengelolaan merupakan proses yang memberikan pengawasan terhadap semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan kebijaksanaan dan pencapaian tujuan. Dalam konteks pendidikan, memang masih ditemukan kontroversi dan inkonsistensi penggunaan istilah manajemen. Beberapa pihak cenderung menggunakan istilah manajemen, sehingga dikenal dengan istilah manajemen pendidikan, manajemen sekolah, manajemen kelas, dan sebagainya. Di lain pihak, tidak sedikit pula yang menggunakan istilah administrasi sehingga dikenal istilah administrasi pendidikan, administrasi sekolah, administrasi kelas. Dalam buku ini, istilah yang digunakan cenderung mengidentikkan keduanya, sehingga kedua istilah tersebut dapat digunakan dengan makna yang sama. Paparan berikut ini akan mengetengahkan beberapa pengertian umum tentang manajemen dan administrasi menurut pendapat beberapa ahli dibidang administrasi dan manajemen. Konsep lain yang tidak dapat dipisahkan dari istilah manajemen adalah administrasi dan kepemimpinan. Kedua istilah tersebut dalam prakteknya sering simpang siur penggunaannya. Manajemen dianggap sebagai penentu pelaksanaan proses dan pencapaian tujuan organisasi, sementara administrasi dan kepemimpinan hanya sekedar kegiatan tata laksana perkantoran yang menyangkut aktivitas pengumpulan data melalui pencatatan semua hal yang berkaitan dengan aktivitas organisasi. Anggapan tersebut sangat keliru dan menyesatkan sekali. Kekeliruan tersebut diakibatkan adanya pendapat umum bahwa administrasi adalah kegiatan surat menyurat yang dilakukan di setiap kantor oleh para pegawai administratif.
29 Pengertian administrasi secara luas dapat didalami melalui ilustrasi tentang bagaimana sekelompok orang memikirkan, mewujudkan apa yang dipikirkan, memperbaiki yang telah diwujudkan hingga akhirnya tercapai tujuan yang telah dipikirkan dan diputuskan bersama. Ilustrasinya sebagai berikut. Pada suatu saat sekelompok orang tengah bingung menghadapi kemacetan lalu lintas karena ada pohon besar tumbang di tengah jalan akibat angin dan hujan lebat. Para pengguna jalan pada berbisik dan mungkin ada yang berteriak dengan menyelutuk "aduhhhh macet...." melihat situasi tersebut, ada seseorang yang sangat peduli dan mengajak semua pengguna jalan untuk menyingkirkan pohon yang tumbang. Ajakan tersebut disambut dengan baik oleh banyak pengguna jalan, lalu merekapun mulai memikirkan apa saja yang harus dilakukan untuk menyingkirkan pohon sehingga jalan raya benar-benar bersih dan dapat dilalui dengan baik. Setelah mereka memikirkan apa yang harus dikerjakan masing-masing, maka merekapun bekerja sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing, hingga terlihat ada yang mengambil gergaji atau kampak memotong batang pohon,atau memanggil dinas pekerjaan umum supaya membawa mobil penggerek pohon, sampai ada yang memegang sapu lidi dan menyapu jalan yang penuh dengan sisa-sisa serbuk gergaji dan daun-daunan. Setelah masing-masing bekerja secara efektif dan efisien, jalanpun siap digunakan kembali, dan akhirnya mereka meneruskan perjalanan mereka mencapai tujuan masing- masing. Keberhasilan seseorang sebagai administrator yang sekaligus sebagai manajer ditentukan oleh kemampuan lain, yakni kepemimpinan. Kepemimpinan merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain agar mau bekerja secara sungguh-sungguh dalam upaya mencapai tujuan tertentu. Kepemimpinan adalah kata dengan kata dasar pimpin. Pimpin berarti bimbing, tuntun, arahkan. Dengan kata pimpin dapat diketahui orang yang memimpin berusaha membimbing, menuntun atau mengarahkan orang lain untuk berbuat sesuatu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kata memimpin dapat diartikan sebagai upaya orang tertentu membimbing. menuntun dan mengarahkan orang lain untuk berbuat sesuatu. Orang yang memimpin ini disebut pemimpin. Pemimpin adalah orang yang memiliki kemampuan memimpin orang lain. Kemampuan memimpin orang lain. inilah yang disebut dengan kepemimpinan. Pemahaman yang jelas tentang kepemimpinan dapat diketahui melalui analisis pendapat para ahli berikut. 1. Proses mempengaruhi atau memberi contoh dari pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi
30 2. Seni memengaruhi dan mengarahkan orang dengan cara kepatuhan, kepercayaan, kehormatan, dan kerjasa sama yang bersemangat dalam mencapai tujuan bersama. 3. Kemampuan untuk memengaruhi, memberi inspirasi dan mengarahkan tindakan seseorang atau kelompok untuk mencapai tujuan yang diharapkan. 4. Melibatkan tiga hal yaitu pemimpin, pengikut, dan situasi tertentu. Dengan penerapan konsep Manajemen Berbasis Sekolah diharapkan sekolah: 1. Lebih berinisiatif dan kreatif dalam meningkatkan mutu sekolah. 2. Lebih luwes dan lincah dalam mengadakan dan memanfaatkan sumberdaya sekolah secara optimal untuk meningkatkan mutu sekolah. 3. Lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi dirinya sehingga ia dapat mengoptimalkan pemberdayaan sumberdaya yang tersedia dalam memajukan sekolahnya. 4. Lebih mengetahui kebutuhan lembaganya, khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan peserta didik. 5. Dapat mengambil keputusan yang lebih cocok dengan pemenuhan kebutuhan sekolah. 6. Dapat memberdayakan sumberdaya pendidikan secara efektif dan efisien dengan kontrol dari warga sekolah dan masyarakat 7. Dapat menciptakan dan memelihara transpransi dan demekrasi yang sehat dalam melibatkan warga sekolah dan masyarakat untuk mengambil keputusan. 8. Dapat mempertanggung jawabkan kinerja layanan dan mutu pendidikan kepada pemerintah, orang tua peserta didik, dan masyarakat. 9. Dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya-upaya inovatif dengan dukungan orang tua, masyarakat, dan pemerintah setempat dimana sekolah itu berada, dan 10. Secara cepat dapat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan yang berubah dengan cepat.
31 Pengelolaan Bidang Kurikulum Pengelolaan kurikulum dibicarakan dalam manajemen pendidikan yang berkaitan dengan bagaimana mengorganisasikan sumber-sumber sekolah yang dapat diberdayakan dalam merealisasikan isi kurikulum oleh guru. Kegiatan operasional yang harus dikelola dalam bidang kurikulum ini meliputi (1) perencanaan dan pengembangan kurikulum. Struktur kurikulum sekolah yang lengkap terdiri dari kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, dan tujuan pembelajaran, (2) pengorganisasian kurikulum yang meliputi aktivitas penentuan siapa pelaksana (guru) dengan memperhatikan sumberdaya yang tersedia dan yang dapat disediakan, (3) penentuan prosedur dan skala kemajuan yang dapat dicapai dan diperoleh pada setiap tahap dan/waktu tertentu, (4) penentuan strategi, pendekatan dan metode yang akan diterapkan dalam melalui atau memonitoring keefektifan dan keefesienan pelaksanaan kurikulum sebagai dasar untuk pengembangan kurikulum berikutnya. KODE ETIK GURU Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan yang berpancasila. Guru memiliki kejujuran profesional dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing-masing. Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan. Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar mengajar. Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya untuk membina peran serta dan tanggung jawab bersama terhadap pendidikan. Guru secara pribadi dan secara bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya. Guru memelihara hubungan profesi semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan nasional. Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi profesi guru sebagai sarana perjuangan dan pengabdian. Guru melaksanakan segala kebijakan pemerintah di bidang pendidikan.
32 DAFTAR PUSTAKA Buku Pofesi Kependidikan
33
34
35
36