The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by niaputri31, 2022-01-13 08:23:41

ALGRAFI

ALGRAFI

ALGRAFI

DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR

Dinikahkan saat umur 7 tahun? Hah, emangnya serial India?!
Apapun anggapan orang, itulah kenyataannya. Dua anak kecil yang lucu nan menggemaskan dinikahkan
saat usia masing-masing masih 7 dan 6 tahun. Bukan karena kepercayaan mistis, melainkan karena
'kesepakatan' antara dua keluarga yang sampai saat ini 'masih dirahasiakan'.
Algrafi Zayyan Danadyaksa, dialah anak laki-laki itu---yang mengucap kabul dalam akad nikahnya. Nama
gadis yang diucapkannya dalam akad adalah Nayanika Zaqueena Dya.
Dan lagi, mereka tidak tinggal bersama setelah menikah, bahkan untuk sekedar bertemu pun tidak. Katanya,
pasangan itu akan dipertemukan kembali setelah usia Algra sudah 18 tahun.
Lalu, bagaimana reaksi keduanya saat dipertemukan setelah sekian lama?
Dan apakah pernikahan mereka 'SAH'?
Temukan jawabannya hanya dengan membaca.
•••
Fiksi Remaja - Nikah Muda - Humor - Comedy
•••
Rate : Bisa bijak? Boleh baca. R17+
Hati-hati baper xixi ☁️☁️☁️☁️
BUKAN CERITA +++
Happy Reading.

i

Daftar Isi

Kata pengantar.........................................................................................................................................i
Algrafi prolog .........................................................................................................................................01
Algrafi 01.................................................................................................................................................05
Algrafi 02.................................................................................................................................................07
Algrafi 03.................................................................................................................................................11
Algrafi 04.................................................................................................................................................15

ii

ALGRAFI PROLOG

"Naya akan selalu jadi yang ketiga di hati Algra”

"Yang pertama Bunda dan yang kedua-"

...........

"Algra terima nikahnya-"

Seluruh orang di ruang bernuansa putih itu hampir melepas tawa, namun sebisa mungkin ditahan untuk
menghargai Rayyan---orang yang mempersiapkan semuanya.

Hari ini, hari Senin, 31 Desember, pernikahan itu dilangsungkan. Pernikahan tidak lazim, karena kedua
mempelai masih jauh di bawah umur. Si laki-laki 7 tahun dan perempuannya 6 tahun. Aneh.

Tentu ini semua tidak akan terjadi kalau tidak ada sesuatu. Udang dibalik batu mungkin?

"Algra, jawabannya bukan gitu ya, Nak. Yang benar itu pakai kata 'saya', oke?" kata lelaki dewasa yang
duduk di samping bocah 7 tahun itu.

Bocah bernama lengkap Algrafi Zayyan Danadyaksa itu mengangguk dan tersenyum.

"Baik, saya ulangi." Ayah bocah perempuan yang menjadi wali nikah mempererat jabat tangannya kembali.
"Saya nikahkan anak saya Nayanika Zaqueena Dya binti Muhammad Syafii dengan ananda Algrafi Zayyan
Danadyaksa bin Rayyan Danadyaksa dengan maskawin seperangkat alat sholat dan rumah seharga tujuh
ratus juta dibayar tunai!"

"Saya terima nikahnya Nayanika Zaqueena Dya binti Muhammad Syafii dengan maskawin tersebut dibayar
tunai!"

Akhirnya, bocah bernama Algra itu berhasil. mengucap kabul dengan lancar.

"Kamu namanya siapa?" Bocah laki-laki kecil mengajak jabat tangan pada satu bocah perempuan yang
sedari tadi duduk disampingnya.

Si bocah perempuan pun menoleh. "Tadi kamu kan udah sebut nama aku, masa sekarang udah lupa,"
katanya sambil nyengir kuda.

"Iya-ya, kok aku lupa, padahal masih bocil." Bocah lelaki yang diketahui bernama Algra itu terkekeh geli.

01

"Jadi, sekarang udah tau nama aku?"

Anggukan kecil dapat disaksikan pada lukisan sempurna di wajah bocah laki-laki itu. "Udah dong, nama
kamu Nikanaya, istri aku."

Satu bocah yang duduk di samping Algra itu menghembuskan napas sebal. "Nama aku kebalik tau!

"Gapapa namanya kebalik, yang penting cintanya enggak kebalik." Algra memajukan tangannya untuk
menoel pipi Naya, namun urung karena nyalinya belum begitu kuat. Ayah dan Bunda selalu mengajarkan
norma kesopanan pada semua anak-anaknya. Dan satu lagi, Algra sepertinya belum paham dengan arti
pernikahan.

Dua bocah yang didandani layaknya seorang pengantin itu tampak bahagia-seperti tidak ada beban
sedikitpun. Algra menggunakan jas hitam lengkap dengan kemeja putih serta dasi kupu kupu, sedangkan
Naya menggunakan gaun putih simpel yang sangat pas sekali ditubuh mungilnya. Dua-duanya kelihatan
ganteng dan cantik, juga menggemaskan.

Sekarang pasangan 'pengantin cilik' ini sedang duduk bersama di kursi pelaminan. Fyi, pernikahan mereka
hanya dihadiri oleh kerabat terdekat saja.

"Gla...."

"Iya? Naya manggil Algra?"

Bocah perempuan yang menjadi lawan bicara

Algra itu mengangguk. "Iya, Naya manggil Algla kalena mau nanya."
"Nanya apa?" respon Algra dengan usungan senyum manis.

"Algla sayang enggak sama Naya?"

Algra mengangguk mantap. "Iya, Algra sayang Naya, bahkan dari kedipan mata pertama."

"Algra janji akan jaga Naya selamanya. Algra juga janji akan buat Naya bahagia dan senyum terus. Kalau
ada orang yang jahat sama Naya, Algra akan buat orang itu menderita. Semuanya Algra lakuin karena Algra
sayang Naya," lanjutnya.

"Beneran?" Naya tersenyum antusias. Tangan mungilnya refleks menggenggam telapak tangan suaminya

Suaminya? Haha.....

02

"Iya beneran Naya." Algra membalas genggaman tangan Naya. "Kalau Naya sayang enggak sama Algra?
"Naya menggeleng. "Enggak."

Bibir mungil yang terlukis di wajah Algra berubah manyun mendengar jawaban Naya barusan.

"Kenapa?"

"Kalena Naya sayangnya campul cinta." Naya menyengir kuda. Algra yang tadinya tidak berani menoel pipi
Naya pun terlanjur gemas dan mengunyalnya menggunakan dua tangan.

"Kita udah jadi suami istri yang sakinah mawadah warahmah ya, Nay. Naya cinta Algra, Algra sayang
Naya," kata Algra dibalas senyum malu-malu dari Naya.

"Hooh... Semoga kita cepetan punya anak ya cepet jadi mama dan papa."

"Iya, harus itu, Nay. Algra mau 17 anak biar rumah kita nanti rame."

"Tapi, Naya maunya 30, Gla."

"Ya udah deh 30, Algra ngalah."

"Holeeee... Naya punya anak 30."

Lengang sejenak. Dua bocil itu bergandengan tangan sembari menyaksikan dengan seksama para tamu
undangan yang sibuk menyantap hidangan.

"Algla, kemalin Naya gak sengaja nonton sinetlon, telus cowoknya ucapin janji lomantis. Algla punya
enggak?" tanya Naya tiba-tiba. Walaupun sudah 6 tahun, bocah perempuan ini masih kesulitan melafalkan
huruf R. Bukan cadel, hanya saja butuh lebih banyak detik untuk menyempurnakan.

“Tadi kan udah Algra sebutin, “respon Algra mengingat janji yang ia ucapkan tadi.

“Gak punya yang lain? Cuma itu aja ya?”

Lengkungan sabit muncal dari si empunya nama Algra mengingat janji yang ia ucapkan tadi.
“Apa?”
“Naya akan selalu jadi yang ketiga di hati Algra”.
“Ketiga?”

03

“Yang pertama Bunda dan yang kedua-“
Kalimat Algra tergantung mengenaskan akibat ada panggilan – panggilan yang menginterupsi.
“NAYA, AYO KITA PULANG, NAK”.
“ALGRA JUGA....”

4

Chapter 1 : Umur Baru ALGRAFI 01
... ALGRAFI

11 tahun bukan waktu yang singkat. Kini Algrafi Zayyan Danadyaksa terbangun dari tidurnya dengan
perasaan yang sama. Kisah 11 tahun lalu saat usianya masih 7 tahun pun samar-samar menghilang. Bukan
amnesia, namun dia memang lupa dengan Nayanika Zaqueena Dya yang sempat punya momen pernikahan
dengannya dulu.

Bagaimana tidak lupa, bertemu sekali saja setelah momen pernikahan pun tidak pernah. Lewat virtual? Juga
tidak.

Bola mata hitam itu mengerjap berulang kali, menyesuaikan dengan cahaya matahari yang mulai masuk ke
kamarnya. Tubuh tegap miliknya berguling-guling di atas ranjang, berusaha meninggalkan selimut bulu
domba kesayangannya dan segera bangun untuk menjalani hari. Sebenarnya Algra masih enggan bangun di
jam segini. Tapi mau bagaimana lagi, daripada bunda datang dan menyiramnya dengan segayung air, lebih
baik Algra mengumpulkan niat untuk bangun.

"Welcome hari Senin, hari yang bawaannya minta di hujat!" Setelah tujuh menit, akhirnya Algra bangun,
mengucap salam pada hari Senin lalu beranjak dari ranjangnya.

Kata Bunda dan Ayah, Algra akan pindah sekolah hari ini. Bukan tanpa alasan, Algra pindah sekolah karena
satu hari lalu umurnya sudah 18 tahun. Itu artinya, ini adalah waktu untuk bertemu dengan 'istrinya'.

Setelah memakai seragam putih abu-abu yang merupakan seragam sekolah barunya, Algra turun ke lantai
bawah. Biasanya di jam segini keluarga Danadyaksa ada prosesi sarapan bareng.

"Pagi Bunda tersayang." Sun pagi dari anak tersayang baru saja melipir ke pipi Rahayu, bunda Algra.

"Too, sayang. Gimana udah siap pindah sekolah?" tanya Rahayu setelah membalas sun dari putra keduanya.

Keluarga Danadyaksa itu ramai. Iya, ramai. Algra tidak sendiri di rumah besar ini, dia punya tiga saudara
lagi-satu kakak laki-laki dan dua adik kembar perempuan. Kakak laki-lakinya bernama Alvireo Rayyan
Danadyaksa, sedangkan adik kembarnya bernama Alesha dan Azarein. Alvi usianya sudah 21 tahun,
sedangkan si kembar baru 4 tahun.

"Siap Bun," jawab Algra lesu.

"Gra, ayah nggak suka ya lihat kamu yang malas malasan begini. Semangat dong, sebentar lagi kamu
ketemu istri kamu loh," lontar Rayyan membuat Algra tersedak roti panggang yang baru saja ditelannya.

"Istri?" kagetnya. Sebelumnya, Ayah dan Bundanya tidak bilang kalau kepindahannya akan menyangkut
tentang ini.

Selain itu, maklum sih kalau dia lupa, karena selama 11 tahun lamanya tidak ada yang membicarakan
momen pernikahan itu. Semua memilih diam.

"Iya istri, kamu lupa akad nikah 11 tahun lalu, Gra?" tanggap Rayyan.

Algra menaruh roti panggangnya di piring, menempatkan tangan di pelipis seakan mengingat sesuatu yang
sudah lapuk di memori otaknya yang terbatas. Cowok itu tidak amnesia, tapi hanya lupa yang manusiawi.
Setelah beberapa menit mengingat, ia menemukan bayang-bayang yang valid dengan pembicaraan Rayyan

5

tadi. Bayang – bayang ketika dirinya dipakaikan jas oleh bunda dan juga bayang – bayang saat tangannya
berjabat tangan dengan satu orang dewasa bersuara berat.

"Ternyata keseringan ngupil bisa buat gue lupa kalo gue udah nikah, njir," lirih Algra yang hanya bisa
didengar oleh Alvi, Abangnya.
"Makanya rukiyah, jingan," sahut Alvi juga dengan lirihan. Mana mungkin dua anak laki-laki tertua itu
berani adu mulut di depan orang tua, apalagi dengan kata-kata mines akhlak.
"Diem lo, bangsat!" Algra membalas sahutan Alvi, tak lupa memberi jari tengah di bawah meja makan.
"Alvi, Algra! Ayah denger loh kalian ngomong apa. Jangan maen-maen bosque," kata Rayyan dengan pisau
roti yang diacungkan ke dua anak lelakinya. Lantas, hanya cengiran kuda yang tampak dari dua remaja itu.
Hening pun terjadi sampai sesi sarapan selesai. "Algra diantar Pak Eko, ya," ucap Rayyan kala Algra
mencium punggung tangannya.
"Motor aja, Yah. Algra kan-"
"Stttt, nggak ada penolakan ya, Gra!"
"Mengcapek emang," lirih remaja yang memakai seragam rapih sampai saat ini, entah kalau nanti.
"Ngomong apa, Gra? Ngomongin ayah?" tukas Rayyan membuat Algra menyajikan cengiran kudanya lagi.
"Kok tau," tuturnya sebelum berlari ngictrit ke halaman depan.
Ya begitulah Algra, cowok yang tingkat ketengilannya di atas rata-rata. Selain tengil dia juga absurd, receh
dan nyeleneh-membuat orang orang di sekeliling geleng-geleng kepala setiap kali menghadapi tingkahnya.
Di lain sisi, ada Nayanika, gadis 17 tahun yang baru saja diberi selembar foto oleh kedua orang tuanya.
Katanya sih foto itu adalah foto suaminya yang akan pindah ke sekolah yang sama dengannya hari ini. Kalau
Naya lihat-lihat orang di foto itu lumayan sih. Seorang gadis seperti Naya tidak menyangkal kalau sosok
dalam foto itu berwajah tampan.
11 tahun ke belakang, Naya menjalani hidupnya dengan baik bersama kedua orang tua yang baik. Tak ada
masalah berarti yang menimpa Naya dengan statusnya yang sudah menikah. Lagipula, surat serta dokumen
pernikahan belum diurus, bisa dibilang kalau pernikahan itu belum sah di mata negara, bahkan agama juga.
"Ini suamimu, Nay. Kamu masih ingat?" Susan, mama Naya menunjuk foto yang dipegang anaknya seraya
bertanya.
Susan berusaha menahan tawanya dalam hati. Supaya apa? Ya supaya perfect. Rencana yang dulu sudah
disusun tidak boleh gagal!
"Inget, Ma. Namanya Algrafi Zayyan Danadyaksa, lahirnya tanggal 13 September dan umurnya sekarang 18
tahun," jawab Naya gamblang.

06

Chapter 1 : Sekolah Baru ALGRAFI 02
... ALGRAFI

Seorang gadis dengan rok span abu-abu 5 cm di atas lutut terlihat sedang berjalan menyusuri koridor di
lantai 4 sekolah barunya. Kata guru yang ia sambangi saat pendaftaran kemarin, dia akan ditempatkan di
kelas XII IPS 5. Tapi sampai sekarang, plang bertuliskan XII IPS 5 pun belum ditemukan. Padahal gadis
yang kerap disapa Naya itu sudah menyusuri hampir seluruh bagian sekolah yang luasnya tak kurang dari 10
hektare.

"Capek sih, tapi namanya juga hidup, jalani aja lah," gumam Naya masih dengan senyum yang
mengembang. Iya, Naya memang sesantuy itu, seperti motonya yang berbunyi 'tetap santuyasal bahagia.

Naya mengeratkan pegangan pada tali tas punggungnya dan melanjutkan perjalanan. Tapi, belum tiga
langkah, ia kembali berhenti mengeluarkan foto Algra dari saku, lalu memandanginya.

"Kalo gue ketemu sama dia nanti, gue harus apa?" Gadis itu termenung, berjalan menyamping dan secara
tak sadar menyender di dinding. Fyi, Naya suka sekali termenung, ibarat kata itu adalah hobinya.

Namun termenungnya Naya kali ini tidak berlangsung lancar, karena ada orang berseragam PNS yang
menepuk pundaknya tiba-tiba. Kebetulan, orang itu adalah Bu Rayak, wali kelas XII IPS 5 di SMAN
Nusantara 01. SMA itu adalah SMA negeri terfavorit di Jakarta Selatan. Sedangkan untuk SMA swasta
terfavorit jatuh pada SMA Prada Maja, sekolah lamanya Algra.

"Kamu nyasar, ya?" tanya Bu Rayak pada Naya.

Gadis itu langsung tersenyum dan menjawab, "Iya, Bu, saya nyasar. Abisnya sekolah ini luas banget, hehe."

"Ya sudah, kalau begitu ikut saya sekarang."

Mengingat sekarang sudah jam 8 lewat 5, guru itu menuntun Naya menuju kelas yang dimaksud. Kebetulan
hari ini Bu Rayak juga mengajar di kelas yang ia handle. Saat sampai di kelas, Naya kembali memeriksa
foto yang sampai saat ini masih ia pegang, maniknya berpindah dari foto itu ke wajah para siswa yang ada
dalam kelas. Kata Mamanya, ia akan ditempatkan di kelas yang sama dengan sang 'suami'.

"Kok nggak ada," lirih Naya. Daripada memikirkannya terus-terusan, ia memilih duduk di bangku pojok
paling belakang yang kebetulan masih kosong. Sorakan kagum pun terdengar saat Naya berjalan diantara
meja yang ditempati para siswa.

BIDADARI SURGA

ISTRI IDAMAN GUE GASKAN JANGAN SAMPE LOLOS

"STTT... BISA DIAM TIDAK?" teriak guru yang ada di sana. Para siswa pun langsung terdiam, memangku
tangan di meja seperti anak SD.

"Assalamualaikum. Selamat pagi semuanya," sapa guru Bahasa Indonesia yang tak lain Bu Rayak setelah
siswa dan siswinya berdoa dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya..

"Waalaikumsalam, selamat pagi kembali, Bu," jawab seisi kelas.

"Ini yang lain pada kemana, kok sepi banget?" Kerutan baru muncul di kening guru berkacamata tebal itu.
Pasalnya kursi yang ada tidak terisi penuh, mayoritas satu meja hanya diisi satu orang,harusnya kan dua.

07

"Sebagian ada yang pingsan pas upacara, Bu. Dan sebagian lagi pada kesurupan, begitu, Bu." Satu cowok
yang bisa diyakini sebagai ketua kelas menjawab mewakili.

Naya sedikit bergidik saat mendengar jawaban kalau ada murid yang kesurupan. Selain suka ngelamun,
Naya juga penakut. Naya bisa dibilang tipe-tipe anak bermuka famous tapi aslinya. awkward abis.

"Iya, Bu, katanya penunggu SMA kita lagi ngamuk!" tambah siswa lainnya.

Sontak gadis itu kembali menelan ludah takut sembari mengingat ayat kursi dan membacanya lirih.

"Ya sudah, kalau begitu kita kenalan dengan siswi baru, terus kita lanjutkan saja materi kemarin." Bu Rayak
yang tadinya berdiri diantara papan tulis mulai berjalan menjauh dan duduk di kursinya.

Seluruh penghuni XII IPS 5 mulai belajar setelah Naya sempat memperkenalkan diri tadi, bahkan kini
mereka sudah mengerjakan tugas yang diberikan Bu Rayak setelah 10 menit membaca materi bab 3 tentang
Musikalisasi Puisi. Seiring bertambahnya waktu, Algra belum juga sampai ke kelas itu, padahal dia pergi
dari rumah sebelum jam 7 pagi, di antar Pak Eko pula, harusnya kan sudah sampai.

Tok Tok Tok

Suara ketukan pintu terdengar diiringi dengan suara serak-serak basah milik satu cowok yang kini
memasukkan kepalanya ke dalam ruang kelas. "Assalamualaikum ya ahli kubur."

Lantas, tak kurang dari tiga perempat isi kelas langsung memfokuskan perhatian pada cowok itu. Bukan
tanpa alasan, siapa yang keningnya tidak berkerut dengan salam yang dihaturkan cowok itu tadi.
Assalamualaikum ya ahli kubur, memang sih setiap manusia pasti akan jadi ahli kubur nantinya, tapi 'kan, ah
sudahlah."Jangan-jangan dia,"batin Naya yang tentunya juga ikut terkejut dengan salam yang diucapkan
cowok itu.

"Algrafi Zayyan Danadyaksa, siswa kelas XII pindahan dari SMA Prada Maja?" interogasi Bu Rayak seraya
berdiri dari kursinya.

Algra mengangguk cepat dan tersenyum lebar masih dengan posisi yang sama, kepala di dalam ruangan
serta kaki dan badan yang masih diluar. "Seratus buat Ibu." Saat mengatakannya, dua jempol pun ikut debut.
Sampai disini, sudah tau kan bagaimana sosok Algra?

BU Rayak mengangguk memaklumi, "Silakan masuk dan perkenalkan diri kamu," titahnya. Algra segera
menyanggupi.

Algra melenggang santai dengan gaya berjalan bak model papan atas, sesekali menyuguhkan senyum untuk
para siswi yang ditangkap oleh matanya.

PLIS MLEYOT GUE

GANTENG BANGET KAYAK OPPA KOREAH

ILOP SAK KRESEK

KARUNGIN GUE NGAB!

DUDUK SAMA AKU SINI

Entah Algra yang kelewat ganteng atau para cewek yang kelewat lebay sehingga keriuhan itu muncul saat
jelas-jelas masih ada guru di sana. Untung Bu Rayak bukan tipe-tipe guru killer yang suka memangsa murid.
Kalau killerkan bahaya.

"Hai, gue Algrafi Zayyan Danadyaksa. Bisa dipanggil Algra atau Grafi. Pindahan dari SMA Prada Maja
Jakarta Selatan."

08

"Bener kan, dia orangnya." Naya menatap nyalang cowok yang sedang berdiri di depan itu.

"Halo Algra, salken ya," ucap satu siswi berbaju ketat yang duduk di bangku paling depan..

"Salken too," jawab Algra singkat.

"Algra, sekarang kamu boleh pilih mau duduk dimana," kata Bu Rayak setelah sesi perkenalan usai.

Sebelumnya Algra sudah lihat foto istrinya, tapi jujuria belum ngeh kalau istrinya sudah ada di sana.

"Mana sih istri gue"Mata hitam milik Algra menggilir setiap siswi yang ada, namun tak kunjung
menemukan sosok yang sama seperti di foto.

Lantas, Algra kembali mengeluarkan foto Naya, berusaha fokus untuk menyamakan antara orang yang ada
di foto dengan siswi di dalam kelas. Salah satu sudut bibirnya terangkat ketika menemukan kesamaan antara
siswi yang duduk di pojok belakang dengan foto yang ia bawa. Cowok itu pun langsung mengekspedisikan
kakinya ke tempat si gadis duduk.

Algra menarik kursi mundur, sedikit memberi ruang agar dirinya bisa duduk. "Nayanika, kan?"
Menyuguhkan tangan untuk berkenalan ulang setelah 11 tahun tak bertemu.

"Gak usah tremor gitu, gue tau gue ganteng!" lontar Algra kala gadis yang ada disebelahnya memilih
menunduk daripada menatap dan. membalas jabat tangannya.

"Gini nih ciri-ciri orang yang ngantri paling depan pas pembagian rasa percaya diri," sarkas Naya.

Algra tersenyum tipis, mengarahkan wajah pada Naya dan berbisik, "Halah, gak usah muna, akui aja kalo
gue memang ganteng."

"Hm, terserah Anda!"

Kini waktu istirahat pertama sudah tiba, semua murid berhamburan keluar untuk mengisi perut atau sekedar
tebar pesona sana sini. Tapi kegiatan itu tidak dilakukan dua murid baru SMAN Nusantara 01 yang tak lain
Algra dan Naya. . Gadis berambut panjang itu memilih menaruh kepalanya di meja, berniat tidur sebentar.
Gadis berambut panjang itu memilih menaruh kepalanya. Sedangkan Algra tidak keluar karena masih
penasaran dengan gadis yang katanya istrinya.

"Nay..." "Hm."

"Simpen nomer wa gue, 08-"

"Mager," sela Naya.

"Gitu aja mager! Jangan-jangan badan lo terbuat dari tentakel Squidward!" tukas Algra yang sedari tadi
mendapati Naya yang lemas, lesu, dan tidak bersemangat. Tapi keseharian Naya ya emang begini, mageran.

Naya langsung menegakkan kepalanya mendengar itu. "Salah! Gue bukan terbuat dari tentakel Squidward,
tapi terbuat dari pori-pori Spongebob!" balas Naya.

Sampai detik ini Algra bisa menilai kalau Naya beda dari gadis-gadis jaim dan sok imut yang pernah ia
temul.

"Hm, sekarang gue minta nomor lo...."

"Nih liat sendiri!" Naya mengeluarkan ponsel dari saku dan menyerahkannya pada Algra.

Algra langsung mengambil. "Gak ada password nya, ngab?" bingungnya ketika ponsel itu terbuka dengan
mudahnya. Di zaman seperti ini, masih ada juga cewek yang tidak memakai pengaman sandi di ponselnya.

09

"Gue terlalu mager berurusan dengan password," jawab Naya santai. "Harusnya lo mikir, seandainya foto
tali BH lo diliat orang lain gimana?" ucap Algra sedikit menekankan kata 'tali BH',
"Ish, gue gak ada foto begituan!" "Masa?"
"Emang gak ada! Yang ada cuma foto belahan aja!
Algra tersentak, menelan ludah heran sekaligus bersyukur karena gadis itu lumayan se-server dengannya.
"Udah gue save nomor gue, namanya Sayang pake emot hati cenat-cenut warna merah berseri," ucap Algra
mengembalikan ponsel itu pada Naya. "Terserah lo, bambwang!" respon Naya santai.
Baginya itu tidak lebih penting dari uang koin 500 nya yang menggelinding di tangga lantai dua tadi pagi.

10

Chapter 1 : Rumah Baru ALGRAFI 03
... ALGRAFI

Waktu terus bergulir tanpa meminta ian pada satu manusia pur, membawa jam pulang sekolah begitu cepat
sekarang sudan pukul 13.45,baru saja bel pulang sekolah berbunyi. Moinen ini tentu disambut bahagia oleh
semua siswa, termasuk Algra yang sudah bosan dengan materi dan juga kaya yang sudah kangen berat
dengan kasurnya di rumah.

"Pulang ke rumah gue, ayo?" ajak Alg yang baru. saja mensejajarkan langkahnya cengan Naya.
"Gak,makasih! Gue masih punya sendiri rumah sendir!" balas Naya. Gadis itu menambah kecepatan
jalannya.

Melihat itu Agra menguatkan otot kaki, membuat dainya berhasil muncul tiba-tiba di depan Naya,"Nay, lo
gak sadar?"

"Sadar apar?”

"Kita udah nikahi!”

“Tau kok!”

"Kalo tau, kenapa nolak gue ajak pulang? Algra mengambil, tangan Naya dan menggenggamnya.

"Y-ya ka-“

Algra tidak menunggu jawaban dari Naya, ia langsung mengajak gadis itu berlari cepat menjauhi area
sekolah. Sebenarnya Naya masih takut dengan Algra yang kelihatan sangat agresif. Tapi rasa takut itu kalah
saing dengan rasa magernya untuk meronta dan lepas dari genggaman Algra. Alhasil, sekarang Naya ada di
dalam bus bersama cowok yang katanya suaminya itu.

"Ish lo mah pemaksa banget, ojek gue jadi dadah- dadah kan tu," protes Naya seraya melihat kang ojek
langganan yang melambai lambaikan tangan padanya. Tadi pagi, Naya sempat menghubung kang ojek itu
untuk menjemputnya di sekolah baru, makanya dia datang. Eh sekarang si kang ojek malah di-PHP-in
begitu. Kan kashan.

“Jadi lo lebih milih kang ojek daripada suami?” balas Algra yang tangannya mulai lancang.merangkul
pinggang si gadis.

"Heh, jauhin tangan lo atau gue teriak?! Naya memelototi Algra karena tidak suka dengan sikapnya yang
begitu. Walau katanya sudah menikah, Naya tetap saja kurang suka disentuh oleh orang lain.

Bukannya melepas, Algra malah mengeratkan rangkulannya. "Lo mau suami lo di gebukin orang?”.

"ishhh... Lo denger ya Gra, setelah gue searching di Gugel, pernikahan kita ini gak sah di mata negara
maupun agama! Jadi tolong jauh-jauh dari gue dan anggap aja orang tua kita khilaf di masa lalu ucap Naya
penuh penekanan. "Dan itu artinya kita belum sah dan gak ada ikatan i lanjutnya.

Aglra meloloskan satu napas, melepaskan tangannya dari pinggang si gadis, wajahnya berubah serius, sok
berpikir keras. Ya, ini memang harus dipikirkan dan menjadi perhatian serius. Karena, menurut agama,
pemikahan dianggap sah kalau kedua mempelai sudah baligh atau kalau tidak masing masing sudah berusia
15 tahun.

"Ya udah, leta nikah ulang aja kalo gitu," balas

11

Algra setelah memikirkan perkataan Naya yang ada benarnya.

"Jujur, lo ganteng sih Gra. Tapi gue nggak bisa nikah tanpa cinta kata Naya serius.

Lantas, Algra langsung menghadapkan tubuhnya ke Naya. "Cinta bisa datang kapan aja, Nay. Dan sekarang
cinta itu udah datang di gue”.

Glek... Naya sedikit kesulitan menelan judah mendengar perkataan cowok yang wajahnya tampak lebih baby
face darinya.

"La udah cinta sama gue!" tanya Naya poios.

Melihat respon Naya yang begitu, Algra berusaha keras menahan tawanya. Bagi Algra, sejauh ini tidak ada
satu pun wanita yang berhasil mengisi hatinya kecuali bunda dan satu perempuan lagi. Walaupun cowok itu
banyak pacar bahkan selingkuhan, tetap saja tidak ada rasa cinta yang turut serta.

PLAK!!!!

Naya mengeplak pundak Algra yang wajahnya sangat-sangat menyebalkan setelah lontaran pertanyaan lugu
darinya tadi.

"Akhhh sakit anjir," ucap Algra diringi tawa kecil.
"Bangsat banget sih jadi cowok!” umpat Naya. Wajahnya berubah merah karena marah bercampur malu
"Wajar kalo cowok bangsat. Kalo tukang ngambek ya baru cewek namanya, Nay.”

15 menit berselang, dua remaja itu baru sampai ke rumah yang Algra maksud. Rumah yang dimaksud
ternyata bukan rumah tinggal Algra bersama keluarga, melainkan rumah yang dijadikan mas kawin saat
akad nikah dulu. Rumah itu tidak terlalu besar, tapi mata siapapun tidak mengelak kalau gayanya mewah
walau minimals berlantai dua, berwarna dominan putih, ada balkon di depan dan di samping, ada kolam
renang juga kolam ikan, bahkan tanaman hidroponk yang tumbuh subur dalam pipa

Melihat rumah yang begitu terawat, Naya santai saja karena ia menganggap kalau itu adalah rumah sahabat
karib dari papanya.

"Ayo masuk." Algra menggandeng Naya. Membuka pintu dengan kunci yang sempat diberikan ayahnya
jauh hari.

Tanpa rasa curiga. Naya melangkahkan kakinya, membutnuti Algra yang jalan lebih dulu setelah pintu
terbuka.

Tapi tak lama berselang, gadis itu merasa ada yang aneh dengan ini semua.

"Kata mama, Algra tinggal bareng sama orang tua, Abang dan adeknya, terus kenapa buka pintu sendiri,
mana pake kunci lagi?" lirih Naya.

"Ngapain berhenti di situ!" tegur cowok yang baru saja melempar tasnya asal

"Ini rumah siapa, Gra" tanya Naya tak ingin penasaran lama-lama.
Algra sersenyum manis dan menjawab, "Rumah kita.”

"Ha?"
“Iya, ini rumah kita. Mas kawin dari gue buat lo dulu.”
Langkah Naya membawanya mundur otomatis. “J-jadi rumah ini nggak ada orangnya selain kita?"
Aglra mengangguk pelan dan melangkah maju mendekati Naya "Ayo ke kamar,” bisiknya setelah

12

berhasil mengunci posis Naya di tembok dengan dengan dua tangannya

"MINGGIR LO, SETAN ALAS!" Naya berusaha mendorong Algra, namun sayangnya gagal.
Melihat Naya yang panik bukan main, Algra tertawa sampal terbahak-bahak. Cowok itu melepaskan
kunciannya terhadap Naya dan melanjutkan tawanya setelah duduk selonjoran di lantai.

"Gemesin banget sih," ujar Algra 5 menit kemudian.
"Gue mau pulang! Bye" Naya membuka pintu yang syukurnya tidak dikunci, namun belum lima langkah, ia
kembali berhenti.
Gadis itu membaca ponselnya dan melihat saldo dompet digitalnya yang ternyata tinggal tersisa 11 ribu
karena sudah raib gara-gara racun Shopee. Setelahnya ia merogoh kantong dan melihat uang lusuh dua
ribuan yang mengenaskan. Tak sampai disitu, Naya tidak putus asa dan kembali mencari benda bernama
uang di dalam tasnya. Namun sial, uang ditasnya hanya ada seribu lima ratus rupiah.
"Anjir, gue nggak punya uang buat ongkos
"Nggak jadi?" ujar Agra yang tiba-tiba sudah ada dibelakang Naya.
Naya menghembuskan napas kasar. "Bagi duit buat ongkos pulang!" Menengadakan satu tangan pada
cowok itu, meninggalkan rasa gengsi daripada harus tinggal bersama Algra malam ini.
"Duit, mut... Kerja...

"Dih, dasar haji medit lo, Gra!” Naya kembali balik. badan namun langkahnya tidak mulus karena Algra
menahan tas gendongnya. Tinggal di rumah ini apa susahnya sih, Nay?" bicara Algra dengan nada super
rendah, memunculkan kesan serak serak basah yang kentara.
"Nggak mau!”
"Mau!"
“Nggak!”
Hampir dua menit remaja itu beradu mulut, sampai terpaksa harus berhenti saatt tiba-tiba petir besar
menggelegar diringi hujan yang sangat deras.
Naya refleks bejongkok dan menutup telinganya saat suara petir itu hampir membuat telinganya pecah

"Udah, ayo masuk. Samar-samar suara Algra terdengar oleh Naya saat cowok itu ikut berjongkok sebentar
dan mengajaknya berdiri.
Waktu berjalan sangat cepet. Tak terasa Naya sudah empat jam duduk diruang tengah rumah itu seraya
memakan pasta yang dimasai oleh Algra.
"Gra, gue mau pulang...”
“Terus?”
"Ya pinjem dulu dult lo Gra, besok langsung gue ganti pakek kapal pesiar!" kata Naya setelah sendokan
pasta terakhir mendarat di lambungnya.

13

Naya benar-benar tidak bisa pulang kecuali dengan bantuan cowok itu. Selain di luar masih hujan,
handphone Naya pun ikutan lowbat dan tidak bisa di charger gara-gara Algra enggan meminjamkan
charger-annya

"Gue nggak butuh kapal pesiar," ucap Algra yang kini sedang rebahan di salah satu sofa.
“Ya udah iya, besok gue gantinya pake uang cash tunai" tekan Naya dibalas ringisan dari Algra.
"Gue juga nggak butuh uang dari lo, gue butuhnya diri lo!” Algra berdiri dan pindah posisi duduk jadi
disebelah Naya.
“Jangan macem-macern ya lo, Gra!" Naya menepis tangan Algra yang sudah berada di pipinya.
"Bibirnya menggoda iman banget, astaghfirullah....”
"Jauh-jauh sana hushhh," usir Naya yang tubuhnya terlanjur kemas dan payah untuk beranjak
Dan, tanpa persetujuan dari Naya, Algra meraihnya.
Cup
Untuk pertama kalinya, Algra memberi lumatan lumayan lembut penuh perhatian pada gadis yang
jantungnya hampir pindah posisi karena ciuman pertamanya telah direnggut.
PLAK!!!!!
Naya langsung berdiri setelah menampar Algra sangat kuat. "Kurang ajar banget lo! Lo tuh harusnya hargai
gue sebagai perempuan!" tegasnya dengan amarah yang tersulut.
"Maaf, Nay. Abisnya lo menggoda iman gue!" tanggap Algra santai. Baginya, ciuman seperti itu sudah biasa
la lakukan dengan para gadis yang menyabet posisi sebagai pacarnya.
Dan untuk Naya, bukankah dia istrinya? Masa iya cium saja tidak boleh?
"Ngeselin banget sih lo, ALGRAFANTEKS!"

....

14

Chapter 1 : Rumah Baru ALGRAFI 04
... ALGRAFI

VAGHELAZ 09

Dhafi
Jyurixz ngajak gelut weh

Akalanka

?

Fannan

Cek grup sebelah @akalanka

Aksa

Ngakak, masalahnya cewe masa wkwk

Dhafi

@aksa bilang aja muka mereka pada burik makanya g dapet cwe

______

Algra melempar ponselnya asal setelah membaca perbincangan tak berfaedah dari rekan-rekan yang sampai
saat ini masih sekolah di SMA Prada Maja. Di Vaghelaz generasi 9, Algra menjabat sebagai ketua. Setahun
ke belakang, ia sudah merasakan pahit manisnya menjadi ketua geng yang lumayan sering bermasalah
dengan geng sebelah. Terkadang Algra capek karena masalah yang ada bisa dibilang masalah biasa bahkan
bisa dibilang tidak penting. Algra sedikit merasa kecewa dengan kepemimpinannya yang seakan tidak
menjalankan pesan dari senior-senior Vaghelaz terdahulu.

"Nay, pindah ke sekolah lama gue, mau?" tanya Algra. Sedikit banyak ia rindu dengan suasana Prada Maja
yang tiada tanding-gurunya yang asik, tim futsal terkenal, sampai pohon beringin di samping lapangan
tengah.

Sejak Algra menciumnya tadi, Naya belum meninggalkan wajah kusut untuk mengekspresikan kekesalan
yang ada. Walaupun hidup santuy, tetap saja Naya masih memegang teguh nilai-nilai agama.

"Nay," panggil cowok itu.

"Nggak mau!"

"Ya udah, kalo gitu masuk kamar gih," titah Algra menunjuk kamar utama yang ada di lantai dua dengan
dagunya.

"Dasar cowok gila! Bisa-bisanya dia bilang gitu ke gue, emangnya gue cewek apaan?!" batin Naya menelan
kasar saliva-nya seakan ingin memasukkan orang itu ke mulut, mengunyahnya lalu menelannya sampai
masuk ke septitenk.

15

"Gue tidur di kamar sebelah, tenang aja. Gue masih tau batasan kok," lontar Algra dibalas tatapan kosong
dari Naya.
Benar kata Algra barusan, dia tidak berbohong. Walaupun nakal dan sering sekali keluar malam, la belum
pernah merusak seorang gadis hanya untuk kepuasan semalam. Kenakalannya bersama Vaghelaz hanya
sampai minum amer, tawuran, balapan liar dan semacamnya.
"Tapi kalo lo nggak keberatan, boleh lah kita berkarya sekarang," goda Algra, wajahnya menerbitkan
senyum seperti emoticon bulan gosong.

21.03 WIB
Di kediaman keluarga Naya.
"Pa, Naya kemana ya kok nggak pulang-pulang dari tadi, handphone-nya juga nggak bisa dihubungi," panik
Susan yang sedari tadi berjalan mondar-mandir memikirkan keberadaan putri ketiganya.
Naya punya 2 Abang sebelum satu Abang tertuanya meninggal karena kecelakaan dua tahun lalu. Dengan
begitu, sekarang Naya hanya punya satu Abang yang sekarang sedang kuliah di luar kota.
"Papa juga bingung, Ma. Tapi Papa udah hubungi Pak Ray, katanya Algra juga nggak pulang."
Susan dan Syafii mengubah wajahnya kompak lalu berseru, "Jangan-jangan Naya pergi sama Algra!?"
"Pa, ini nggak bisa dibiarin, mereka kan belum benar-benar sah. Mama takut kalo-"
"lya, Ma, Papa tau. Sekarang kita ke rumah Ray," sela Syafii cepat.
Di jam 9 malam ini, akhirnya mereka memutuskan untuk menemui keluarga Algra demi menghindari hal-
hal yang tidak diinginkan. Tidak butuh waktu lama, akhirnya Syafii dan Susan sampai ke kediaman keluarga
Danadyaksa yang hanya berjarak 1 km dari rumah baru mereka..
"Kalau benar Algra sedang bersama Naya sekarang, kita nggak bisa tinggal diam," umum Rayyan pada
semua orang yang sedang ada di ruang tamu.
Syafii mengangguk sangat setuju. "Benar, Pak."
"Berhubung dengan itu, gimana kalau kita nikahkan ulang mereka segera," saran Rayyan langsung
diangguki Syafii.
"Iya, saya setuju juga," sahut Susan dan Rahayu serempak.
"Besok?" Rayyan menatap tiga orang itu bergilir dan mendapat respon positif dari anggukan mantap
ketiganya.
"Tapi yang penting sekarang si Naya, Pak, Bu," ucap Susan khawatir dengan anak perawannya. "Ibu tenang
saja, Algra itu anak saya, kalau dia berani berbuat yang tidak-tidak, saya pastikan burungnya tidak akan
selamat."
05.30 WIB
Atas terkaan dari Rayyan, sekarang kedua orang tua Algra dan Naya sudah ada di depan pintu rumah yang
dijadikan maswakin pernikahan masa kecil Algra Naya. Dengan kunci cadangan, mereka berempat berhasil
masuk tanpa harus menyibukkan orang yang ada di dalam rumah ataupun mencongkel pintu selayaknya
maling spesialis rumah kosong.

16

Niatnya empat orang itu akan berpencar mencari Naya dan Algra setelah melihat ada tanda-tanda kehidupan
di sana-toples di atas meja, gelas, dan beberapa bungkus snack yang dibiarkan berserakan. Tapi-

"Akhhh, sakit Gra, pelan-pelan!"
"Iya, Nay, ini juga udah pelan...."
"JANGAN DI REMESSSS SAKIT TAU!"
"Ya abisnya mau gimana lagi?"
"AHHHHH...!"
Rayyan, Syafii, Susan dan Rahayu langsung spontan saling menatap kala mendengar kalimat kalimat
ambigu yang asalnya dari anak mereka. Mereka berempat kompak bergeleng-geleng. Selanjutnya
memutuskan menyambangi sumber suara yang diyakini berasal dari kamar yang pintunya seperempat
terbuka.

Kreiiittt

Tanpa izin, para orang tua masuk begitu saja lewat pintu yang terbuka.
Melihat Rayyan yang matanya hampir copot karena melotot, Algra segera menjauh dari Naya dengan kedua
tangan terangkat seperti penjahat yang sedang dipergoki oleh polisi.
"KALIAN NGAPAIN, HA?" tanya Rayyan tak santai. Algra dan Naya kompak menggeleng-gelengkan
kepala. Sungguh, mereka tidak melakukan apa apa. Ini cuma salah paham. Seperti yang dibilang Algra
kemarin, dia masih punya batasan dan tidak mungkin merusak seorang gadis demi kepuasan semalam.
"Nggak ngapa-ngapain, Pa," jawab Algra terus terang.
"Terus kenapa sekamar pagi-pagi begini?" todong Syafii.
"Dan tadi kenapa ada suara-suara ambigu seperti orang yang sedang 'berbuat'?" tambah Rahayu diangguki
Susan.
"Bunda, Ayah, Om dan Tante liat aja si Naya sekarang." Algra menoleh melirik Naya yang kini sedang
berdiri mematung di depan pintu kamar mandi.
Ternyata rambut gadis itu tersangkut mengenaskan di engsel pintu. Bagaimana bisa?
Semua bermula dari tadi subuh ketika Naya berjalan malas menuju kamar mandi saat nyawanya belum
benar-benar terkumpul. Alhasil dia menabrak pintu dan sialnya saat ia ingin membuka pintu itu, eh rambut
kepalanya malah tersangkut. Gadis itu sudah berusaha keras untuk melepaskannya sendiri, tapi gagal. Maka
dari itu Naya meminta bantuan orang yang ada di sana, dan satu-satunya orang yang ada adalah Algra.
"Iya, Ma, Pa, Om, Tante, kita nggak ngapa-ngapain kok." Dari posisi mengenaskan dengan rambut yang
masih tersangkut, Naya berusaha menatap para orang tua, terlebih Mamanya..
Melihat kejujuran di mata anaknya, Susan langsung menghampirinya. "Pa, ini tolong bantuin anaknya."
Tanpa ba-bi-bu, Syafii langsung mendekat dan membantu melepaskan rambut yang tersangkut. Dan
Alhamdulillah-nya bisa.
"Algra, Naya, kami para orang tua sepakat akan menikahkan ulang kalian berdua besok!" papar Rayyan.
Sontak mata Naya langsung membesar, begitu juga dengan Algra.

17

TUNGGU KISAH SELANJUTNYA
TERIMA KASIH

SUDAH MEMBACA


Click to View FlipBook Version