The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Modul Ke NU an kelas 12 Khusus MA Muallimin Parakan

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mnuparakan, 2025-03-17 23:38:04

Modul Ke NU an kelas 12

Modul Ke NU an kelas 12 Khusus MA Muallimin Parakan

2024 / 2025 MA MUALLIMIN PARAKAN Tahun Pelajaran MABADI’U KHAIRA UMMAH, PRILAKU WARGA NU, KHITTAH NAHDLIYAH & BANOM NU MODUL KE NU AN KELAS 12


MODUL Ke-NU-an Ahlussunah wal Jama’ah Kelas 12 (dua belas) Nama :............................................................ Kelas/Prog :............................................................ Alamat :............................................................ :............................................................


2 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) DAFTAR ISI DAFTAR ISI................................................................................. 2 BAB I MABADI’U KHAIRA UMMAH ........................................... 4 A. MABADI’U KHAIRA UMMAH............................................ 5 1. Latar Belakang & Pengertian.......................................... 5 2. Tujuan & Isi Mabadi’u Khoiro Ummah ............................ 6 B. URAIAN PRINSIP MABADI’U KHOIRA UMMAH.............. 7 C. STRATEGI PEMASYARAKATAN................................... 12 BAB II PRILAKU WARGA NU................................................... 16 A. DASAR-DASAR PAHAM KEAGAMAAN NU................... 17 B. KAIDAH FIKIYAH TRADISI & BUDAYA WARGA NU..... 18 C. PRILAKU KEMASYARAKATAN/KEAGAMAAN NU........ 20 BAB III KHITTAH NAHDLIYAH................................................. 23 A. PENGERTIAN KHITTAH NAHDLIYAH........................... 24 B. PERJALANAN KHITTAH NAHDLIYAH........................... 24 1. NU Menjadi Partai Politik.............................................. 24 2. Wacana Khittah Nahdliyah ........................................... 25 3. Kebijakan Fusi Partai ................................................... 26 4. Terbentuknya TIM 7 ..................................................... 26 5. Muktamar Situbon 1984 ............................................... 27 6. Dinamika Implementasi Khittah Nahdliyah ................... 28


3 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) C. Isi Khittah Nahdliyah....................................................... 30 1. Sikap dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara 30 2. Prilaku keagamaan dan sikap kemasyarakatan ........... 30 3. Fungsi Organisasi dan kepemimpinan Ulama .............. 31 4. NU dan kehidupan bernegara ...................................... 31 BAB II BANOM NU.................................................................... 33 A. PMII................................................................................ 34 1. Sejarah PMII ................................................................ 34 2. Penerimaan Anggota PMII ........................................... 35 3. Tingkat Kepengurusan PMII ......................................... 35 4. Tingkat Kepengurusan PMII ......................................... 36 B. GP ANSOR..................................................................... 37 1. Sejarah GP Ansor ........................................................ 37 2. Penerimaan Anggoata ANSOR .................................... 38 3. Tingkat Kepengurusan GP Ansor................................. 38 C. FATAYAT NU ................................................................. 39 1. Sejarah Fatayat NU...................................................... 39 2. Tingkat kepengurusan Fatayat NU ............................... 40 3. Penerimaan Anggota Fatayat NU................................. 41 D. PAGAR NUSA................................................................ 42 1. Sejarah PAGAR NUSA................................................. 42 2. Penerimaan Anggota Baru ........................................... 43


4 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) BAB I MABADI’U KHAIRA UMMAH Mabadiu Khaira Ummah Tujuan / Misi Etika Sosial Etika Ekonomi Prinsip - Prinsip al-Shidqu al-Amanah wa al wafa bi al-Ahdi al-'Adalah at-Ta'awun al-Istiqomah Strategi Pemasyarakatan Amar Ma'ruf Nahi Munkar


5 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) A. MABADI’U KHAIRA UMMAH 1. Latar Belakang & Pengertian Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi keagaaman terbesar di Indonesia, yang didirikan pada tanggal 31 Januari 1926 M bertepatan dengan 16 Rajab 1344 H oleh para Kiyai. Tujuan didirikannya NU diantaranya memelihara, melestarikan, mengembangkan dan mengamalkan ajaran Islam Ahlussunah wal Jama’ah. Ahlussunah wal Jama’ah memiliki prinsip, hakikat tujuan hidup adalah terciptanya keseimbangan kepentingan dunia dan akhirat, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Untuk mewujudkan dan mengamalkan ajaran itu, setiap anggota NU harus terpanggil untuk menjadikan dirinya sebagai pelaksana dan pelaku tugas pembawa dan penyebar misi organisasi sesuai dengan bidang dan tanggungjawabnya masing-masing. Amar ma’ruf nahi munkar merupakan dua sendi mencapai tujuan hidup, yaitu dunia dan akhirat. Kendala utama yang menghambat kemampuan umat melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar dan menegakan agama adalah karena kemiskinan dan kelemahan di bidang ekonomi. Kelemahan ekonomi ini bermula dari lemahnya Sumber Daya Manusia (SDM). Ada beberapa prinsip ajaran Islam yang perlu ditanamkan kepada warga NU agar bermental kuat dan berkarakter sebagai modal perbaikan sosial ekonomi yang disebut Mabadi’u Khairo Ummah. Mabadi’u Khoiro Ummah merupakan gerakan pembentukan watak, sikap dan prilaku warga NU.


6 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) 2. Tujuan & Isi Mabadi’u Khoiro Ummah Mabadi’u Khoiro Ummah merupakan gerakan untuk membangun etika sosial dan moral ekonomi. Dicetuskan kali pertama pada Muktamar NU tahun 1939 di Magelang oleh KH. Machfud Shiddiq (w. 1944 M/1364 H), yang dikenal dengan istilah Mabadi’u Khaira Ummah as-Salasah (trisila mabadi) yaitu; al-Shidqu, al-Amanah wa al-wafa bia al-ahdi, & atTa’awun. Istilah Khaira Ummah di ambil dari QS. Ali Imran ayat 110 yakni: ْ َن و ُ ن ُ ْؤمِ ت َ َكِر و ُ ْن م ْ ْ َن َعِن ال ْْنَو َ ت َ و ِف و ُ َ ْعر م ْ وَنِِبل ُ مر ُ ْ َّاِس تَأ لن ِ أ ْخِرَج ْت ل ُ مةٍ أَّ َخْْيَ ُ ُتْ ُ ْن كُ أ َ َ وَن و ُ ن ُ ْؤمِ م ْ ال ُ م ْْنُ ۚ مِ ْ م ُ ه َّ ََكَن َخْْيًا ل َ ت ِب ل ِكٰ ْ ُل ال أ ْه َ اَم َن َ ْ ء َو ل َ و َُث ِهللۗ ِِب َ كْ ْ َن قو ُ ف ِس ٰ ْ ال هر ۝١١٠ُ ُ Artinya: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang baik dan mencegah dari yang buruk, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab ber-iman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orangorang yang fasik (QS Ali Imron : 110) Menurut ayat tersebut berisi perintah kepada umat Islam agar ada diantaranya suatu golongan yang mengkhususkan diri untuk berdakwah. Menyuruh berbuat baik dan mencegah berbuat buruk, yaitu segala perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Allah dan Rasulnya, serta bertentangan pula dengan kemaslahatan umat manusia. Sesuai dengan perkembangan jaman dan kemajuan ekonomi, kemudian dalam Munas Alim Ulama dan Konbes NU


7 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) di Lampung tahun 1992, Mabadi’u Khaira Ummah as-Salasah dikembangkan menjadi Mabadi’u Khaira Ummah al-Khamsah dengan menambahkan ‘adalah dan istiqomah. Menurut KH. Achmad Shiddiq (w.1991 M / 1411 H) dalam negara yang berdasarkan Pancasila, maka mabadi ini digunakan sebagai saran mengembangkan masyarakat Pancasila, yaitu masyarakat sosialis yang religius yang dicitacitakan oleh NU dan oleh Negara. B. URAIAN PRINSIP MABADI’U KHOIRA UMMAH Kebangkitan prisip Mabadi’u Khaira Ummah didorong oleh kebutuhan-kebutuhan dan tantangan nyata yang dihadapi oleh NU khususnya dan bangsa Indonesia umumnya. Diantaranya adalah kemiskinan dan kelangkaan SDM, kemrosotan budaya, dan mencairnya solidaritas sosial. Nilai-nilai universal dari butirbutir Mabadi’u Khaira Ummah dapat dijadikan jawaban langsung bagi permasalahan sosial yang dihadapi bangsa ini. Berikut butir prinsip Mabadi’u Khaira Ummah al-Khamsah: 1. Al-Shidqu Sebagai salah satu sifat Nabi. Al-Shidqu berarti jujur, keterbukaan, tidak bohong dan satunya hati, kata & perbuatan. Warga NU dituntun jujur, semula pada diri sendiri dan kemudian kepada orang lain. Dalam bermuamalah dan berinteraksi harus berpegang teguh pada prinsip al-shidqu, sehingga pihak lain tidak khawatir tertipu. Itulah sikap yang dilakukan oleh Nabi saat menjalankan bisnis Siti Khadijah dan beliau memperoleh sukses besar. Dengan ini jelas sikap alshidqu merupakan bagian penting dari kunci sukses kehidupan. Berikut dalil-dalil yang berkaitan dengan prinsip as-shidqu:


8 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) a. Ayat Al-Qur’an Surat At-Taubah [9] : 119 وا ُ اَمن َ ْ َن ء ي َّلِ َّ ُّيَا ا َه ََٓـأ ي ْ و َكُ ْ َهللا و و ُ ِدقِ ْْيَ ن ـ ٰ ص َع ۝١١٩ ال ا َم Artinya: Hai orang orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah SWT, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (QS AtTaubah : 119) b. Sabda Rasulullah ن ال َّ ِ ا َك، فِ ُ ْب ِري َ ََل ي ِ ََل َما َك ا ُ ْب ِرب َ ة َد ْع َما ي ٌ َ ْب ِكْذ َب ِري ْ ال َ ة و ٌ يْنَ ِ ن ْ أ َ ُطم ُق صِ ْد )رواه الرتميذى( Artinya: Tinggalkanlah yang meragukanmu dan ambilah yang tidak meragukanmu, karena kejujuran itu menentramkan hatimu, dan kebohongan itu meragukannya. (HR. Turmudzi) 2. Al-Amanah wa al-wafa bi al ahdi Butir ini memuat dua isitlah yang saling berkaitan yaitu alamanah & al wafa bi al ahdi. Al-amanah meliputi semua beban yang harus dilaksanakan, baik ada perjanjian atau tidak. Sedangkan al-wafa bi al ahdi berkaitan dengan perjanjian. Kedua istilah ini digabungkan untuk memperoleh satu kesatuan pengertian yaitu meliputi; dapat dipercaya memegang tanggung jawab, setia dan menepati janji. Sebelum diangkat menjadi Rasul, Nabi Muhammad Saw mendapat gelar “al-Amin” dari masyarakat karena diakui sebagai orang yang dapat diserahi tanggung jawab. Sikap ini merupakan sikap profesional yang dapat menjadi kunci berhasil pada saat ini. Berikut beberapa dalil yang berkaitan dengan prinsip al-amanah wa al-wafa bi al-ahdi:


9 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) a. Ayat Al-Qur’an Surat An-Nisa [4] : 1 ن َّ ِ ْن ا َّاِس اَ ْْيَ الن َ ب ُتْ َحََْكُ ِا َذا َ و ۙ َها ِ ْهل ََٓل اَ ِ ن ِت ا ٰ م ٰ َ دوا اْلْ ه ُ َؤ أن ت َ ْ ـم ُكُ مر ُ ْ ـأ َ َهللا ي ِصْْيًا َ ْ ًعاب ن َهللا ََكَن َ َِسي َّ ِ ۗ ا َعِ ُظُ ُْك ِب ٖه ا ي َّ م عِ ِ ن َهللا ن َّ ِ َع ْدِلۗ ا ْ ا ِِبل ْ ََت ۝۵۸َُُ ْ كو Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apakah kamu mendapatkan hukum diantara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS An-Nisa : 58) b. QS Al-Maidah [5] : 1 (awal) ....... ۚ قودِ ُ ع ُ ْ وا ِِبل ُ ْوف أ وا َ ُ َمن ٰ ْ َن أ ي َّلِ َّ ي ۝١ هـهَـا ا َ يَٓـأ Artinya: Hai orang-orang yang beriman, penuhilah perjanjian-perjanjian itu. (QS Al-Maidah : 1) Dalam tafsir karangan Abu Mukhammad al-Baghowi disebutkan : “ayat yang berbunyi asas macam-macam perjanjian dalam Islam. Berisyarat bahwa setiap mukmin berkewajiban untuk menepati perkataan dan perbuatan yang dijanjikannya sebagaimana diperintahkan Allah”. c. Hadis Nabi ْن َخانَ َك..... )رواه ْن مِ ََل ََتُ َ َك و َ ن َ أتَم ْ ِ ََل َم ِن َمانََة ا اَلْ َ دِ ا الرتمذى( َ Artinya: Sampaikanlah amanat itu kepada orang yang memberi kepercayaan kepadamu, dan jangan mengkhianati orang yang berkhianat kepadamu. (HR. Turmudzi)


10 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) 3. At-Ta’awun At-Ta’awun berarti tolong menolong, atau sikap saling menolong diantara sesama, setia kawan, gotong royong dalam kebaikan dan taqwa. Prinsip ini memiliki arti timbal balik yaitu memberi dan menerima. Setiap warga NU harus menyadari posisinya ditengah sesama makhluk, harus bisa menempatkan diri, bersedia menolong dan butuh pertolongan. Sikap at-ta’awun mendorong setiap orang untuk bersikap kreatif agar daapt memiliki sesuatu yang dapat disumbangkan kepada orang lain dan untuk kepentingan bersama. Berikut firman Allah dan sabda Rasul yang berkaitan dengan perintah saling menolong. a. QS. Al-Maidah [5] : 2 ن َّ ِ قوا َهللاۖ ا َُّ ات َ و ۚ وِن ع ْدٰ ُ ْ ال َ ِ و ْثْ ِ ََل اَلْ وا عَ ُ ن َ َعاو ََل تَ َ و ۖ َ ٰى ْقو َّ الت َ ِ ِب و ْ ََل ال وا عَ ُ ن َ َعاو تَ َ و َقا ِب عِ ْ د ال ُ ْ َهللا ۝۲َ ش ِدي Artinya: Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (QS. Al-Maidah : 2) b. Sabda Rasulullah Saw )رواه مسمل( ْهِ ْ ِن اَ ِخب د ِ ِْف َعو ُ ْ َعب ِد َما ََكَن ال ْ َعب ْ ْ ِن ال َ َهللا ِ ِْف َعو و Artinya: Alah selalu menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya. (QS Muslim)


11 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) 4. Al-Adalah Memiliki arti adil, proporsional, objektif dan mengutamakan kebenaran. Prinsip ini mengharuskan orang berpegang kepada kebenaran objektif dan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, jauh dari pengaruh egoisme. Sikap ini tidak hanya bermanfaat kepada diri sendiri atau golongan, menebar kasih kepada semua makhluknya (rahmatan lil ‘alamin). Berikut salah satu ayat al-Qur’an yang menyuruh kita untuk selalu memegang prinsip keadilan: QS. An-Nahl [16] : 90 َكِر ُ ْن م ْ ال َ َف ْحَشأَٓءِ و ْ ٰى َعِن ال َنْـه ي َ ٰب و ٰ ْر ق ُ ْ ذِى ال ِ َْتأَٓي ي ِ ا َ س ِن و ٰ ْح ِ اَلْ َ َع ْدِلو ْ ِِبل ُ مر ُ ْ ـأ َ ن َهللا ي َّ ِ ا ُ ْوَن ر كَّ َ تَذ ْ ُكـم َّ َعل َ ل ْ َعِ ُظُكـم ي ۚ ْغِ َ ب ْ ال و ۝٩٠َ Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS An-Nahl : 90) 5. Al-Istiqomah Al-Istiqomah berarti teguh, jejeg ajeg dan konsisten. Tetap teguh dengan ketentuan Allah Swt dan Rasul-Nya. AlIstiqomah juga berarti berkesinambungan dan berkaitan antara satu periode dengan periode berikutnya. Berkelanjutan dalam proses maju yang tidak kenal henti untuk mencapai tujuan. Berikut dalil yang dapat menguatkan motivasi dan tekad untuk selalu bersikap al-Istiqomah:


12 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) a. QS. Fusshilat [41] : 30 َل ََتَا َّ أ َكُة َ ِ ـ ٰ ل َ م ْ ال ُ ـهِم ْ ي َ ُلعَل َتََنَّ ا تَ ْ و ُ قم ٰ ْ َت َّ اس ُ هنَـا ُهللا ْث ب َ وا ر ُ ْ َن قَال ي َّلِ َّ نا َّ ِ وا ُ ن ُ ََ ا ف ََل ََتْ َ وا و دوَن ْعَُ و ُ ت ْ تـم ُ ْن ِِت كُ َّ ال َّةِ َجن ْ وا ِِبل أبْ ِِشُ َ و ۝۳٠َ Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian ia meneguhkan pendirian mereka. Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih, dan gembiralah mereka dengan yang dijanjikan Allah kepadamu”. (QS Fusshilat : 30) b. Sabda Nabi ْن قَ َّل )رواه متفق عليه( ِ ا َ ه و ُ ُ ِحب َصا ْهِ ي َ َ َم عَل ِ ََل ِهللا َما َداو ِل ا َ َعم ْ ب ال ه َح اَ Artinya: Sebaik-baik amal menurut Allah adalah yang dilakukan oleh pemiliknya secara terus menerus walaupun sedikit. (HR. Mutafaqun ‘Alaih) C. STRATEGI PEMASYARAKATAN Mabadi’u Khaira Ummah adalah gerakan pembentukan identitas dan karakter warga NU, melalui penanaman nilai luhur yang digari dari paham keagamaan NU. Gerakan ini merupakan langkah awal dari pembentukan umat Terbaik. Amar Ma’ruf adalah mengajak dan mendorong perbuatan baik yang bermanfaat untuk kehidupan duniawi dan ukhrawi. Sedangkan Nahi Munkar adalah menolak dan mencegah segala hal yang dapat merugikan, merusak dan merendahkan nilai-nilai kehidupan.


13 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) Melaksanakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar termasuk salah satu ciri khas ajaran Islam yang dibawa Rasulullah Saw. Selanjutnya dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar menjadi kewajiban yang harus diwujudkan secara bersama. Penanaman Mabadi’u Khaira Ummah kepada warga NU harus dilakukan secara intensif, terencana dan berkelanjutan melalui berbagai jalur yang dimiliki oleh NU. CATATAN PRIBADI !


14 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) Kisah KH Mahfudz Siddiq KH Mahfudz Siddiq merupakan ulama NU asal Jember yang pernah diamanahi Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), dulu HBNO, di masa Hadratussyeikh KH M Hasyim Asy’ari menjabat sebagai Rais Akbar. Tokoh ini lahir di Jember 10 Mei 1907 M (27 Rabi’ul Awwal 1325 H), dari pasangan KH Muhammad Siddiq dan Ny Hj Maryam. KH Muhammad Siddiq adalah pendiri Pondok Pesantren ashSiddiqiyah Jember, yang terletak di jantung Kota Jember. Kini, pesantren tersebut lebih dikenal dengan nama Astra (ashSiddiqiyah putra) dan Astri (ash-Siddiqiyah putri). Dilansir dari NU Online, Kiai Mahfudz Siddiq adalah salah satu wakil NU di Majelis Islam a'la Indonesia (MIAI), sebuah federasi bagi ormas Islam yang dibentuk dari hasil pertemuan 18-21 September 1937. Ia tak lain tokoh yang melahirkan gagasan Mabadi Khaira Ummah (dasar-dasar membangun umat yang baik) di Nahdlatul Ulama. Dari 25 anak KH Muhammad Siddiq dengan 3 orang istrinya, Kiai Mahfudz Siddiq adalah anak pertama dari istrinya yang bernama Ny Hj Maryam. Ia adalah kakak dari KH Achmad Siddiq, Rais ‘Aam PBNU masa khidmat 1984-1989 dan 1989-1991. Perkenalannya dengan NU di awali ketika sang ayah (KH Muhammad Siidiq) sering didatangi karib dekatnya, Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari, Rais Akbar NU kala itu. Mahfudz kecil sering diminta untuk datang dan menyambut Mbah Hasyim. Setelah


15 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) menginjak dewasa, oleh ayahnya dia dikirim ke Tebuireng untuk mengaji kepada mahaguru terkenal itu. Keterlibatannya di NU, salah satunya dimulai ketika ia diminta untuk membantu penerbitan NO bernama Soeara NO pada awal tahun 1930-an, yang saat itu dipimpin KH Abdul Wahab Hasbullah. Buletin ini kemudian dikelola bersama KH Abdullah Ubaid, KH Thohir Bakri, dan beberapa nama lain. Keterlibatannya dalam dunia penerbitan itu menjadikannya banyak dikenal orang. Kiai Mahfudz Siddiq awal terpilih sebagai Ketua HBNO pada Muktamar ke-12 NU tahun 1937 di Malang saat itu beliau. Kemudian, secara berturut-turut terpilih lagi pada Muktamar NU di Menes Pandeglang (1938), di Magelang (1939), dan di Surabaya (1940). Kiai Mahfudz juga sosok pemimpin yang bersimpati kepada Palestina yang saat itu mulai dijajah Israel. Buktinya, ia membuat maklumat keputusan PBNU agar setiap Isra Mi'raj bulan Rajab, seluruh Ranting NU mengadakan iuran untuk diberikan kepada bangsa Palestina. Kiai Mahfudz juga dikenal sebagai pemberani. Saat Jepang datang ke Indonesia untuk menjajah dan memerintahkan supaya rakyat Indonesia meghormati matahari dengan cara membungkukkan badan, KH Hasyim Asy’ari dan Kiai Mahfudz terang-terangan melawan perintah itu. Akibatnya, kedua tokoh tersebut, dimasukan ke dalam penjara. Tak ayal, keduanya mendapat siksaan yang cukup parah di ruang yang pengap tersebut. Sampai-sampai tangan kanan KH Hasyim Asy’ari tidak bisa bergerak sesaat. Siksaan kepada Kiai Mahfudz yang masih muda lebih kejam dan berat. Saat keluar dari penjara, kondisi Kiai Mahfudz dalam keadaan sakit yang teramat parah. Dan itulah yang kemudian menyebabkannya meninggal dunia tahun 1944. Ketika itu usianya 37 tahun.


16 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) BAB II PRILAKU WARGA NU


17 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) A. DASAR-DASAR PAHAM KEAGAMAAN NU Paham Ahlussunah wal Jama’ah an Nahdliyah mencakup aspek Akidah, Fikih & Akhlak/Tasawuf. Ketiganya merupakan satu kesatuan ajaran yang mencakup seluruh aspek prinsip keagamaan Islam. NU mendasarkan paham keagamaannya kepada sumber ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an, As-Sunah, Ijma’ & Qiyas. Dalam memahami dan menafsirkan Islam dari sumbersumber diatas, NU mengikuti paham Ahlussunah wal Jama’ah dengan menggunakan jalan pendekatan atau bermadzhab. Dalam Bidang Akidah mengikuti pola pemikiran Imam Abu Hasan al-Asy’ari & Imam Abu Manshur al-Maturidi. Dalam bidang Fikih/Syariah mengikuti salah satu dari 4 madzhab yaitu; Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i & Imam Hambali. Dan di bidang Tasawuf/Akhlak mengikuti Imam al-Ghazali, Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam-imam lainnya yang satu syariat. Aswaja merupakan paham yang menekankan pada aktualisasi nilai-nilai ajaran Islam berupa keadilan, keseimbangan, moderat, toleransi dan perbaikan atau reformatif. Nilai-nilai ajaran Islam ini telah dirumuskan kemudian dijadikan Fikrah Nahdliyah, yaitu kerangka berfikir atau paradigma yang didasarkan pada paham Aswaja yang dijadikan landasan berfikir NU untuk menentukan arah perjuangan dalam kerangka perbaikan umat, dengan bercirikan: 1. Fikrah tawassuthiyah (pola pikir moderat), artinya NU senantiasa bersikap tawazun dan i’tidal dalam menyikapi berbagai persoalan. 2. Fikrah tasamuhiyah (pola pikir toleran), artinya NU dapat hidup berdampingan secara damai dengan pihak lain walaupun akidah, cara berpikir dan budayanya berbeda.


18 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) 3. Fikrah islahiyah (pola pikir reformatif), artinya NU senantiasa mengupayakan perbaikan kearah yang lebih baik. 4. Fikrah tathowwuriyah (pola pikir dinamis), artinya NU senantiasa melakukan kontekstualisasi dalam merespon berbagai persoalan. 5. Fikrah Manhajiyah (pola pikir metodologis), artinya NU senantiasa menggunakan kerangka berpikir yang mengacu kepada manhaj yang telah ditetapkan NU. B. KAIDAH FIKIYAH TRADISI & BUDAYA WARGA NU Sebagian kelompok masyarakat ada yang mempertentangkan antara agama dengan tradisi dan budaya, tidak dapat disamakan atau dipersatukan. Agama merupakan ajaran-ajaran yang berasal dari Tuhan yang sangat terjaga kesuciannya. Sedangkan Tradisi dan Budaya merupakan kreasi manusia untuk kebutuhan dan memperbaiki kualitas hidupnya. Kaidah fikiyah adalah prinsip keagamaan yang dirumuskan oleh para Ulama klasik. Sebagai dasar pembentukan prilaku etika moral kaum Nahdliyin. Kaidah fikiyah adalah jawaban dari bagaimana kita menyikapi suatu Tradisi & Budaya yang ada dalam suatu masyarakat, untuk mengembangkan atau menyebarkan pesan agama didalamnya. Berikut beberapa kaidah fikiyah yang menjadi dasar warga NU: 1. Al-Muhafadhoh ‘ala al-qodimi al-sholih wa al-akhdzu bijadidi al-ahslah Kedidupan tidak bisa dipisahkan dengan budaya, karena dikreasiakan oleh manusia, maka budaya juga bersifat beragam sebagaimana keberagaman manusia. Sebagai kreasi untuk meningkatkan kualitas hidup, tentu saja budaya


19 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) memiliki nilai-nilai positif yang dapat dipertahankan untuk kebaikan manusia, secara personal maupun sosial. Dalam hal ini berlaku kaidah fikiyah: ِح َ ْصل ِداَلْ َ ْ َجِدي ْ ذِِبل ُ ْخ اَلْ َ َ ِح و ِ صال َّ ال َق ِدْْيِ ْ ََل ال ُ َحافَ َظُة عَ م ْ ل اَ Artinya: Mempertahankan kebaikan warisan masa lalu dan mengkreasi hal baru yang lebih baik. Kaidah ini menuntun kita untuk memperlakukan fenomena kehidupan secara seimbang. Dengan menggunakan kaidah ini, warga NU memiliki pegangan dalam menyikapi tradisi & budaya, yang dilihat bukan tradisi dan budayanya, namun nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Budaya merupakan hasil dari prilaku baik orang-orang terdahulu, kita harus bersikap kreatif untuk menyempurnakan tradisi yang ada, atau mencipta tradisi baru yang lebih baik. 2. Al-‘adah muhakkamah ma lam tukhali i al-syar’a Aswaja tidak alergi terhadap tradisi, fiqih aswaja menjadikan tradisi sebagai salah satu yang harus dipertimbangkan dalam menetapkan suatu hukum. Jika sebuah budaya tidak bertentangan dengan ajaran pokok Islam, dalam arti mengandung kebaikan, maka bisa diterima. Bahkan bisa dipertahankan sebagai hal yang layak untuk diikuti. Sesuai dengan kaidah fikiyah: ِشْع ٍِف ال َّ َتَال ُ ْ م َ ة َمال ََّكٌَ م َح ةُ ُ َعاَد ْ ل اَ Artinya: Budaya atau tradisi yang baik bisa menjadi pertimbangan hukum selama tidak bertentangan dengan norma agama.


20 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) Kaidah ini menjadikan performa Islam menjadi sangat baik, sehingga menjadi agama uang dinamis dan membumi, selalu aktual ditengah-tengah masyarakat. Islampun menjadi agama yang mampu menjawab tantangan zaman dan tuntutan umat tanpa dibatasi ruang dan waktu. Sikap bijak tersebut memungkinkan kita melakukan dialog kreatif dengan budaya yang ada. Dengan dialog bisa saling memperkaya dan mengisi kelemahan masing-masing. 3. Ma la yudraku kulluhu la yudraku kulluh Sikap tidak apriori/alergi terhadap tradisi menjadikan warga NU bertindak selektif terhadap tradisi atau budaya. Sikap ini penting untuk menghindarkan diri dari sikap keberagaman yang desdruktif terhadap tradisi setempat. Sikap selektif ini mengacu pada kaidah fikiyah: ه ُ ُك ُُكه َ ْدر ُ ه ََلي ُ ُك ُُكه َ ْدر ُ ََل ي َما Artinya: Jika tidak dapat dicapai kebaikan semuanya, maka tidak harus ditinggal semuanya. Kaidah ini memungkinkan kita untuk bersikap arif nan bijak dalam menyikapi tradisi yang ada, dengan penyelarasan budaya tersebut. Tidak membuang semua budaya secara untuh melainkan memilah dan meneruskan budaya yang masih sejalan dengan misi kebajikan. C. PRILAKU KEMASYARAKATAN/KEAGAMAAN NU Aswaja mengamalkan 5 prinsip keagamaan dalam bermasyarakat dan menjadikan ciri prilaku warga NU. Yaitu sebagai berikut:


21 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) 1. Tawasuth (moderat) Artinya tengah-tengah, maksudnya mengambil jalan tengah. Tidak bersikap ekstrim baik kanan (berkedok agana), maupun ekstrim kiri (komunis). Karena Sebaik baiknya sesuatu yang sesuai standar atau mengambil jalan tengah. 2. I’tidal (berkeadilan) Artinya tidak condong ke kanan atau ke kiri, tegak lurus, sikap ini dipraktikan bersamaan dengan sifat tawasuth. Sikap yang mampu mengambil segala kebaikan den kebenaran dari berbagai kelompok. (bertindak lurus, bersifat membangun dan menghindari segala bentuk desdruktif). 3. Tawazun (seimbang) Artinya mengambil sikap seimbang atau menetapkan prinsip keseimbangan dalam segala sikap dan perbuatan, khususnya dalam beragama. Tapi secara umum, sikap ini bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti dalam makan dan minum, menurut ilmu kesehatan dan agama ada kesamaan, makanlah ketika lapat, berhenti sebelum kenyang. Minumlah ketika haus, berhenti minum setelah hilang hausnya. 4. Tasamuh (toleran) Secara istilah memiliki arti saling menghormati dan menghargai antara sesama manusia. Dalam pengertian yang lebih luar, tasamuh yaitu bersikap terpuji dalam pergaulan dimana terdapat rasa saling menghargai dan menghormati antara satu dengan yang lainnya, namun masih dalam batas-batas yang digariskan oleh ajaran agama Islam.


22 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) 5. Amar Ma’ruf Nahi Munkar (mengajak-ajak kepada kebaikan dan mencegah dalam menunkaran/kejahatan) Selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan baik, berguan dan bermanfaat untuk kehidupan bersama, serta menolak dan mencegah semua hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai kehidupan. CATATAN PRIBADI !


23 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) BAB III KHITTAH NAHDLIYAH


24 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) A. PENGERTIAN KHITTAH NAHDLIYAH Organisasi NU pada awal didirikannya bertujuan untuk mengurusi urusan sosial keagamaan. Akan tetapi dalam perkembangannya, pengurus-pengurus NU banyak yang terjun ke dunia politik praktis melalui partai Politik. Bahkan NU pernah menjadi partai politik pada tahun 1955. Keterlibatan dalam partai politik khususnya pada tahun 1970an justru menjadikan tujuan organisasi semakin jauh dari yang dirumuskan ketika awal didirikan oleh para kiyai pada tahun 1926. Dari realitas tersebut menjadikan sekelompok ulama dan intelektual merumuskan konsep khittah 1926 atau Khittah Nahdliyah yang bertujuan mengembalikan NU pada jalurnya sebagaimana awal didirikan. Khittah mempunyai arti “garis yang diikuti” atau “garis yang biasa ditempuh”. Istilah Khittah Nahdliyah dipakai untuk menegaskan garis pendirian, perjuangan dan kepribadian yang berhubungan dengan landasan berpikir, bersikap dan bertindak warga NU, baik secara individu mauoun organisasi. Khittah Nahdliyah ditetapkan pada Muktamar NU ke-27 di Situbondo, Jawa Timur. B. PERJALANAN KHITTAH NAHDLIYAH 1. NU Menjadi Partai Politik Dalam sejarahnya NU pernah menjadi partai politik. Tuntutan menjadi partai politik di era 1950-an menjadi sebuah keharusan mengingat Demokrasi Liberal yang dianut pemerintahan pada saat itu menghendaki kehadiran partai dan politik aliran yang begitu terasa. Ideologi-ideologi besar yang ada saat itu memiliki partai. Pada saat itu NU bergabung dengan partai Islam Masyumi.


25 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) Pada Muktamar ke-19 di kota Palembang NU memutuskan dalam peran aktif di politik praktis, tepatnya pada 26 April 1952 secara resmi NU memisahkan diri dari partai Masyumi dan menyatakan berdiri sendiri sebagai partai politik, Partai Nahdlatul Ulama (PNU). Berpisahnya NU dari Masyumi karena alasan ideologis, yakni tidak tertampungnya aspirasi paham Aswaja di Masyumi. Pada pemilu 1955 NU masuk 4 partai besar, bertengger bersama 3 partai dengan ideologinya masing-masing yakni; PNI, Masyumi, PNU & PKI. 2. Wacana Khittah Nahdliyah Wacana kembali ke Khittah 1926 pertama kali dikemukakan dalam Muktamar NU ke 22 di Jakarta pada Desember 1959. Pada saat itu jubir PCNU Mojokerto, KH Achyat Chalimi menyatakan bahwa peran politik Partai NU telah hilang dan beralih pada perseorangan. Ia mengusulkan agar NU kembali ke Khittah tahun 1926, saat pertama kali organisasi didirikan. Sayangnya usulan ini tidak ditanggapi secara positif. Wacana ini hanya didukung satu cabang saja. Muktamar NU ke-25 Surabaya 1971, wacana Khittah muncul dari Rais Aam PBNU KH. Wahab Chasbullah. Awalnya gagasan ini mendapatkan sambutan positif dari para peserta muktamar. Terbukti pembahasan ini menjadi perdebatan panjang, forum NU seputar kehendak NU untuk kembali pada garis perjuangannya tahun 1926. Rumusan yg dihasilkan NU mengurusi beberapa persoalan antara lain : Keagamaan, Pendidikan, dan sosial kemasyarakatan. Akan tetapi pada akhirnya gagasan tersebut kalah oleh arus besar keinginan untuk mempertahankan NU tetap berpolitik praktis.


26 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) 3. Kebijakan Fusi Partai Pada tahun 1973 presiden Soeharto melakukan kebijakan penyederhanaan atau fusi partai, partai yang ada hanya 3 yaitu: Golkar, PPP dan PDI. NU terpaksa harus bergabung dengan partai PPP sebagai perwakilan partai Islam. Pada saat itu mulai kembali digaungkan khittah 1926, namun masih mengalami kendala bagaimana merumuskan khittah nahdliyah, apa unsur dan komponen yang ada di dalam khittah. Hal itu karena setelah NU menjadi Partai dan bergabung dengan PPP, secara organisasi NU masih memerlukan pembenahan. 4. Terbentuknya TIM 7 Pada tahun 1974 generasi baru NU antara lain; Abdurrahman Wahid, Fahmi Saifuddin, Said Budairy, Rozi Munir, Abdullah Syarwani dan Slamet Efendi Yusuf. Tokohtokoh tersebut menyusun dan memantapkan konsep Khittah. Gagasan yang mereka ajukan, sebagaimana para ulama, namun gagasan mereka ditopang dengan pondasi dan rancang bangun yang lebih kokoh. Pada Muktamar NU di Semarang tahun 1979. Gagasan mereka mendapatkan sambutan yang positif. Dalam Program Dasar Pengembangan Lima Tahun sebagai hasil dari Muktamar diuraikan tujuan sebagai berikut : a. Mengahayati makna seruan kembali ke jiwa 1926 b. Memantapkan upaya intern untuk memenuhi seruan khittah 1926 c. Menetapkan cakupan partisipasi NU secara lebih nyata dan pembangunan bangsa


27 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) Pada tahun 1983 kelompok intelektual NU menyelenggarakan pertemuan yang dihadiri oleh 24 orang yang kemudian dikenal dengan “Majelis 24”. Tujuan diselenggarakannya Majelis ini adalah melakukan refleksi terhadap NU, dengan kesepakatan tebentukanya tim 7 untuk pemulihan Khittah NU 1926. Sesuai dengan namanya tim ini terdiri dari 7 anggota antara lain: KH. Abdurrahman Wahid (Ketua), H.M Zamroni (wakil ketua), Said Budairy (sekretaris), H. Mahbub Junaidi, Fahmi Saifuddin, Daniel Tanjung dan Ahmad Bagja (anggota). Tim ini merumuskan konsep pembenahan dan pengembangan NU sesuai Khittah 1926 serta menyusun pola kepemimpinan NU. Rumusan yang dihasilkan tim 7 kemudian dijadikan pembahasan pada Munas Alim Ulama tahun 1983 dan Muktamar NU ke-27 di Situbondo tahun 1984. 5. Muktamar Situbon 1984 Proses perumusan Khittah Nahdliyah yang demikian panjang melibatkan banyak pihak mulai generasi muda (majelis 24 & tim 7), Munas Alim Ulama, sampai pada Muktamar Situbondo, Jawa timur. Proses yang panjang ini menunjukan betapa pentingnya kedudukan Khittah bagi NU. Upaya kembali ke Khittah Nahdliyah semakin mantap dalam pelaksanaan Muktamar NU di Semarang tahun 1979, terdapat 2 isu utama yang mengemuka saat itu, yaitu kembali ke Khittah & penerimaan Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi. Isu ini terus bergulir sangat kuat sampai kemudian disepakati dalam Munas Alim Ulama 1983. Kesepakatan Munas itu mempertegas hubungan NU dengan Parpol. NU telah berpendirian teguh untuk keluar dari Partai


28 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) Persatuan Pembangunan (PPP) dan kembali ke Organisasi sosial keagamaan. Dalam Muktamar NU Situbondo berlangsung mulai tanggal 8-12 Desember 1984 NU memutuskan secara tegas dan menghasilkan beberapa keputusan penting, antara lain: a. Penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal atau landasan dasar NU b. Pemulihan kepemimpinan ulama dengan menegaskan supremasi Syuriyah dan Tanfidziyah dalam suatu Hukum. c. Penarikan diri dari politik praktis dengan cara melarang pengurus NU secara bersamaan memegang kepengurusan di dalam parpol. d. Pemilihan pengurus baru dengan usulan program baru yang lebih menekankan pada bidang-bidang non-politik. Dalam Muktamar Situbondo ini terdapat regenerasi kepemimpinan di PBNU, yaitu terpilihnya KH Achmad Shiddiq menjadi Rais ‘Aam & KH. Abdurrahman Wahid menggantikan KH Idham Chalid sebagai Tanfidziyah. Muktamar ini juga menegaskan Tujuan Khittah sebagai landasan berfikir, bersikap dan bertindak warga NU yang harus dicerminkan dalam tingkah laku perorangan maupun organisasi serta dalam setiap proses pengambilan keputusan. 6. Dinamika Implementasi Khittah Nahdliyah Keluarnya NU dari Parpol dan keputusan Khittah Nahdliyah pada Muktamar Situbondo memberikan dampak yang jelas terasa di tubuh NU. Setelah reformasi tepatnya tahun 1999 – 2004 terjadi perubahan besar berkaitan dengan penyikapan Khittah Nahdliyah. Pemicunya adalah hasil dari reformasi yang memberikan kesempatan bagi rakyat Indonesia untuk berperan lebih dalam politik praktis.


29 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) Pada situasi ini stabilitas Khittah Nahdliyah diuji dengan munculnya dualisme pemikiran dikalangan NU, yaitu mereka yang tetap teguh pada pendirian Khittah nahdliyah dan mereka yang menginginkan NU kembali berpartisipasi dalam Politik praktis. Dengan berbagai pertimbangan dan kondisi internal waktu itu maka didirikanlah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), sebagai wadah bagi kader NU untuk menyalurkan aspirasinya, hal ini bertujuan agar Organisasi NU tetap menjadi organisasi sosial kemasyarakatan dan tidak memberikan larangan bagi anggotanya untuk berpartisipasi di politik praktis, dengan memberikan wadah berupa partai politik. Upaya untuk mengembalikan NU ke khittah terus dilakukan, utamanya pada masa kepemimpinan KH. Hasyim Muzadi. Rangkap Jabatan tidak diperbolehkan dalam kepengurusan NU di semua tingkatan. Bagi mereka warga NU yang menjadi pengurus partai politik apapun, tidak diperbolehkan merangkap menjadi pengurus NU. Demikian pula bagi mereka yang ingin menjadi calon legislatif (DPR) tidak boleh membawa bendera NU untuk kepentingan politiknya. Pada rapat pleno PBNU di Ponpes al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta tahun 2011, Rais Aam PBNU KH. Sahal Mahfudz menegaskan kembali agar NU tetap komitmen dengan Khittahnya, untuk tidak berpolitik praktis. Oleh sebab itu di PBNU tidak ada lembaga, Lajnah Siyasah atau politik. Pada kurun waktu 2014 – 2019 implementasi Khittah Nahdliyah diuji, dengan adanya politik identitas, dimana terjadi kesalahpahaman tentang maksud dari khittah nahdliyah, bahkan mengubah konsep khittah Nahdliyah untuk kepentingan politik individu dan kelompok tertentu.


30 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) Pada pemilu tahun 2024 pun NU diuji dalam menjaga kestabilan Khittah Nahdliyah, hal ini berkaitan dengan Politik identitas yang sedang marak saat ini. NU sebagai organisasi besar jelas menjadi ladang yang sangat menarik bagi mereka yang memiliki kepentingan politik. Penegasan Khiitah Nahdliyah disampaikan oleh ketua PBNU bahwasanya NU tidak akan terlibat secara aktif dalam mendukung salah satu calon. C. Isi Khittah Nahdliyah 1. Sikap dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara a. Khittah adalah landasan berfikir, bersikap dan bertindak warga NU yang harus dicerminkan dalam tingkah laku perorangan maupun organisasi serta dalam setiap proses pengambilan keputusan. b. NU mengikuti pendirian bahwa Islam adalah agama yang fitri, yang bersifat menyempurnakan segala kebaikan yang sudah dimiliki manusia c. Sikap Tawasuth dan I’tidal (moderat & adil), menjunjung tinggi keharusan berlaku adil, bertindak lurus dan selalu bersifat membangun serta menghindari segala bentuk pendekatan yang bersifat ekstrim. d. Sikap Tasamuh (toleransi) terhadap perbedaan baik dalam masalah kegamaan, serta masalah kemasyarakatan dan kebudayaan. e. Sikap tawazun (seimbang) dalam berkhidmah. Menyertakan khidmah kepada Allah SWT, kepada sesama manusia serta lingkungan hidupnya. Menyelaraskan kepentingan masa lalu, masa kini dan masa mendatang. 2. Prilaku keagamaan dan sikap kemasyarakatan a. Menjunjung tinggi nilai-nilai maupun norma-norma ajaran Islam.


31 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) b. Mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi. c. Menjunjung tinggi sifat keikhlasan dan berkhidmah serta berjuang. d. Menjunjung tinggi ukhuwah, persatuan serta kasih mengasihi. e. Meluhurkan kemuliaan moral dan menjunjung tinggi kejujuran dalam berfikir, bersikap dan bertindak. f. Menjunjung tinggi kesetiaan kepada bangsa dan Negara. g. Menjunjung tinggi nilai amal, kerja dan prestasi sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT. h. Menjunjung tinggi ilmu-ilmu pengetahuan serta ahliahlinya. i. Selalu siap untuk menyesuaikan diri dengan setiap perubahan yang membawa kemaslahatan bagi manusia. j. Menjunjung tinggi kepeloporan dalam usaha mendorong, memacu dan mempercepat perkembangan masyarakatnya. k. Menjunjung tinggi kebersamaan ditengah kehidupan berbangsa dan bernegara. 3. Fungsi Organisasi dan kepemimpinan Ulama a. Menggunakan organisasi struktural untuk mencapai tujuan. b. Menempatkan ulama sebagai mata rantai pembawa faham aswaja pada kedudukan kepemimipan yang amat dominan. 4. NU dan kehidupan bernegara a. Dengan sadar mengambil posisi aktif, menyatukan diri dalam perjuangan nasional. b. Menjadi warga negara yang menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 1945.


32 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) c. Memegang teguh ukhuwah dan tasamuh. d. Menjadi warga negara yang sadar akan hak dan kewajiban, tidak terikat secara teroganisatoris dengan organisasi politik atau organisasi kemasyarakatan manapun. Warga NU tetap memiliki hak politik. e. Menggunakan hak politiknya secara bertanggungjawab, untuk menumbuhkan sikap demokratis, konstitusional, taat hukum dan mengembangkan mekanisme musyawarah. Berdasarkan nilai-nilai Khittah Nahdliyah diatas, ada dua ahl yang menjadi perhatian nasional saat itu; adalah sikap NU dalam bidang kenegaraan dan politik. a. Sikap kenegaraan, NU menerima Pancasila dan menjunjung tinggi UUD 1945. b. Dibidang politik, NU menyatakan sebagai organisasi yang tidak terikat dengan partai politik dan organisasi manapun. Namun, warga NU secara individu boleh aktif di partai politik. “Tatkala waktuku habis tanpa karya dan pengetahuan, lantas apa makna umurku ini?” KH. Hasyim Asy’ari


33 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) BAB II BANOM NU


34 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) A.PMII 1. Sejarah PMII PMII adalah singkatan dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, salah satu banom NU yang anggotanya adalah Mahasiswa di perguruan tinggi. Lahirnya PMII berawal pada kongres ke-3 IPNU pada 27-31 Desember 1958 dengan pembentukan Departemen Perguruan Tinggi IPNU. Mengingat banyak mahasiswa yang menjadi anggotanya, pada Kongres IPNU tanggal 14-16 Maret 1960 di Kaliurang, Yogyakarta. Diputuskan terbentuknya suatu wadah mahasiswa NU yang terpisah secara struktural dari IPNU IPPNU. Sebelumnya sudah muncul beberapa organisasi lokal yang mewadahi mahasiswa NU seperti IMANU (Ikatan Mahasiswa NU) di Jakarta tahun 1955, KMNU (Keluarga Mahasiswa NU) di Surakarta tahun 1955, Persatuan Mahasiswa NU (PMNU) dan di banyak tempat lainnya. Pada tanggal 14-16 April 1960 di Surabaya dilakukan musyawarah yang memutuskan pemberian nama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan penyusunan Peraturan Dasar PMII. Keputusan tersebut mulai berlaku pada 17 April, sehingga 17 April ditetapkan sebagai hari lahir PMII. PMII melakukan kongres pertama di Tawangmangu Surakarta dengan peserta sebanyak 13 cabang. Selanjutnya, pada kongres kedua tahun 1963, sudah mencapai 31 cabang, 18 cabang merupakan cabang baru. PMII secara tegas berkeinginan untuk menjaga dan memelihara ajaran Islam Ahlussunah wal Jama’ah. Ini mengingat aspirasi mahasiswa NU kurang terakomodasi dalam organisasi mahasiswa Islam yang sudah ada sebelumnya.


35 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) 2. Penerimaan Anggota PMII Setiap mahasiswa yang beragama Islam bisa menjadi anggota PMII dengan cara mendaftar dan kemudian mengikuti MAPABA (Masa Penerimaan Anggota Baru). Pada setiap penerimaan mahasiswa baru di kampus, pengurus PMII biasanya menyediakan stand dan menyebarkan formulir untuk menjadi anggota PMII dan mengikuti MAPABA. Setelah mendaftar, calon anggota PMII harus mengikuti MAPABA. Dalam MAPABA akan diberikan materi antara lain tentang keislaman, keorganisasian, kebangsaan, Nilai Dasar Pergerakan (NDP), dan lain-lain. Setelah mengikuti semua materi calon anggota akan dibai’at persetujuan dan dilantik menjadi anggota PMII. Setelah resmi menjadi anggota PMII, anggota dapat mengikuti kegiatan PMII yang meliputi berbagai bidang. Baik kegiatan formal maupun non formal. Untuk meningkatkan kualitas, anggota PMII bisa mengikuti jenjang pengkaderan formal selanjutnya, yaitu : 1) PKD (Pelatihan Kader Dasar) 2) PKL (Pelatihan Kader Lanjutan) 3) PKN (Pelatihan Kader Nasional) 3. Tingkat Kepengurusan PMII Kepengurusan PMII berada di level pusat sampai fakultas. Tingkatan kepengurusan PMII adalah sebagai berikut : 1) Pengurus Besar (PB) PMII, merupakan tingkatan tertinggi dan berkedudukan di Ibu Kota Negara (Jakarta) 2) Pengurus Koordinator Cabang (PKC), merupakan pengurus di tingkat provinsi, berkedudukan di ibu kota Provinsi. 3) Pengurus Cabang (PC), merupakan pengurusan di tingkat Kabupaten / Kota yang memiliki perguruan tinggi.


36 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) 4) Pengurus Komisariat (PK), merupakan pengurusan tingkat Kampus/Perguruan tinggi, berkedudukan di Kampus. 5) Pengurus Rayon (PR), merupakan kepengurusan di tingkat fakultas. 4. Tingkat Kepengurusan PMII KOPRI adalah singktan dari Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Putri. Merupakan Badan Semi Otonom yang ada di PMII. Lahirnya KOPRI berawal dari keinginan kaum perempuan di PMII untuk memiliki ruang sendiri dalam beraktifitas, sehingga mereka bebas mengeluarkan pendapat atau apapun. KOPRI dibentuk pada 25 November 1967 di Semarang, dengan status semi otonom dari PMII. Kondisi gerakan perempuan saat berdirinya KOPRI baru sebatas emansipasi perempuan dalam bidang sosial dan kemasyarakatan. Alasan berdirinya KOPRI adalah perlunya mengorganisir kekuatan perempuan PMII untuk bisa menopang organisasi yang menaunginya (PMII). Dengan adanya KOPRI, aspirasi kaum perempuan bisa lebih disuarakan. Hal ini penting karena perempuan adalah yang paling memahami permasalahan perempuan dan solusi atas permasalahan itu. Perempuan akan menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapinya. Dalam kegiatannya KOPRI memiliki kegiatan formal, non formal dan informal. Kegiatan formal seperti sekolah Kader KOPRI (SKK) dari SKK 1 – SKK 3. Kemudian di kegiatan lain KOPRI memiliki kajian yang bersifat penguatan ideologi kader.


37 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) B. GP ANSOR 1. Sejarah GP Ansor GP Ansor adalah singkatan dari Gerakan Pemuda Ansor, salah satu Banom NU yang anggotanya adalah pemuda NU yang berusia 20-40 tahun. Organisasi ini pada awalnya bernama Ansoru Nahdlatul Oelama (ANO), yang dalam AD/ART NU diubah menjadi Gerakan Pemuda Ansor Nahdlatul Ulama. GP Ansor didirikan pada 10 Muharam 1353 Hijriyah atau bertepatan dengan 24 April 1934 di Banyuwangi, Jawa Timur. GP Ansor memiliki badan semi otonom BANSER (Barisan Ansor Serbaguna) sebagi pasukan yang bertugas mengawal kiao dan tugas-tugas sosial kemasyarakatan lain. Selain itu GP Ansor juga memiliki badan semi otonom MDS (Majelis Dzikir dan Sholawat) yang tujuannya membumikan dan merawat amaliah-amaliah Aswaja. GP Ansor memilki watak sebagai organisasi kepemudaan, kemasyarakatan, kebangsaan dan keagamaan yang berwatak kerakyatan. Sepanjang sejarah perjalanan bangsa GP Ansor memiliki peran strategis dan signifikan dalam perkembangan masyarakat Indonesia. GP Ansor mampu mempertahankan eksistensi dirinya, mampu mendorong percepatan mobilitas sosial, politik dan kebudayaan bagi anggotanya, serta mampu menunjukan kualitas peran maupun kualitas keanggotaannya. GP Ansor tetap eksis dalam setiap perjalanan sejarah bangsa dan tetap menempati posisi dan peran yang strategis dalam setiap pergantian kepemimpinan nasional.


38 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) 2. Penerimaan Anggoata ANSOR GP Ansor adalah organisasi pengkaderan bagi generasi muda untuk berkiprah dan menjadi pemimpin masyarakat. Seorang yang ingin menjadi anggota GP Ansor, bisa mendaftarkan diri melalui Pimpinan Ranting atau Pimpinan Anak Cabang. Setelah itu calon anggota dapat mengikuti PKD (Pelatihan Kepemimpinan Dasar) disini kita akan mendpatkan materi tentang ke-NU-an, ke-Ansor-an, keislaman dll. Kemudian jenjang pengkaderan selanjutnya adalah PKL (Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan) dan PKN (Pelatihan Kepemimpinan Nasional). Pelatihan ini dilakukan secara berjenjang dan bertahap, yang bertujuan mencetak kader pemimpin ditiap tingkatan. Selain itu bagi anggota Ansor yang memilih untuk menjadi BANSER, jenjang pengkaderan yang diikuti pada awal tingkatan adalah DIKLATSAR (Pendidikan dan Pelatihan Dasar), kemudian di tingkat menengah ada SUSBALAN (Kursus Banser Lanjutan). Banser juga memiliki satuan khusus (SATSUS) yang merupakan unit khusus untuk BANSER yang memiliki keahlian khusus untuk melaksanakan tugas-tugas organisasi, seperti BANSER Protokoler, Tanggap Bencana, Penanggulangan Kebakaran, Lalu Lintas, Maritim, dan Husada. 3. Tingkat Kepengurusan GP Ansor GP Ansor mendirikan tingkat kepengurusan dari bawah (desa) sampai dengan pusat (nasional), sebagai berikut: a. Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor, berkedudukan di Ibu Kota Negara (Jakarta) b. Pimpinan Wilayah (PW) GP Ansor, berkedudukan di Ibu Kota Provinsi


39 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) c. Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor, berkedudukan di Kabupaten atau Kota d. Pimpinan Cabang Istimewa (PCI) GP ANSOR, berkeududkan di Luar Negeri e. Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor, berkedudukan di Kecamatan f. Pimpinan Ranting (PR) GP Ansor, berkedudukan di Desa / Kelurahan Sedangkan untuk tingkatan badan semi otonom Banser sebagai berikut : a. SATKORNAS (Satuan Koordinasi Nasional) ada di tingkat Pimpinan Pusat GP Ansor b. SATKORWIL (Satuan Koordinasi Wilayah) ada di tingkat Pimpinan Wilayah GP Ansor c. SATKORCAB (Satuan Koordinasi Cabang) ada di tingkat Pimpinan Cabang GP Ansor d. SATKORYON (Satuan Koordinasi Rayon) ada di tingkat Pimpinan Anak Cabang GP Ansor e. SATKORKEL (Satuan Koordinator Kelompok) ada di tingkat Pimpinan Ranting GP Ansor C. FATAYAT NU 1. Sejarah Fatayat NU Fatayat NU merupakan badan otonom dalam NU yang berdiri pada 24 April 1950 (7 Rajab 1369). Anggota Fatayat NU adalah warga perempuan maksimal usia 40 tahun. Tokoh pendiri Fatayat NU adalah Khuzaemah Mansur (Gresik), Aminah Mansur (Sidoarjo) dan Murtosijah Chamid (Surabaya). Ketiganya dikenal dengan sebutan “Tiga Serangkai”. Nama lain yang ikut berperan dalam berdirinya


40 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) Fatayat adalah Nihayah Bakri, Maryam Thoha dan Asnawiyah. Mereka berjuang meyakinkan NU tentang perlunya dibentuk wadah perempuan dalam organisasi ini. Mereka melakukan komunikasi dengan petinggi NU dan para kiai kharismatik NU untuk memohon restu. Kehadiran Fatayat mencerahkan kaum perempuan lapisan bawah yang berkultur santri. Prioritas programnya mendirikan lembaga-lembaga pendidikan, mulai dari tingkatan kanak-kanak hingga sekolah guru, pemberantasan buta huruf, kursus keterampilan, kursus bahasan Inggris. Bahkan pada masa revolusi, Fatayat juga mengikuti latihan militer sebagai bagian dari mendukung pemerintahan Presiden Soekarno. Kegiatan rutin yang sudah menjadi ciri khas perempuan NU adalah pengajian, Qur’anan, tahlil, maulid Nabi, dan belajar bersama kitab kuning. Kegiatan ini didukung penuh para kiyai. Pada tahun 1953, Syuriah NU menetapkan bahwa perempuan diperbolehkan memasuki Fakultas Syari’ah. Sebagai konsekuensi dari kebijakan tersebut, perempuan diperbolehkan menjadi hakim agama. Pada Kongres NU tahun 1957 ditetapkan bahwa perlu adanya perwakilan perempuan di legislatif (DPR/DPRD). Pada masa ini sejumlah perempuan NU dari Partai Politik NU menjadi anggota legislatif dari perwakilan daerahnya, seperti Maryam Junaidi dan Hadiniyah Hadi dari Jawa Timur, Mahmudah Mawardi dan Maryam Kartasumpena dari Jawa Tengah, dan Asmah Syahruni dari Kalimantan. 2. Tingkat kepengurusan Fatayat NU a. Pimpinan Pusat (PP) di tingkat Nasional


41 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) b. Pimpinan Wilayah (PW) di tingkat Provinsi c. Pimpinan Cabang (PC) di tingkat Kabupaten atau Kota d. Pimpinan Cabang Istimewa (PCI) di Luar Negeri e. Pimpinan Anak Cabang (PAC) di tingkat Kecamatan f. Pimpinan Ranting (PR) di tingkat Desa / Kelurahan g. Pimpinan Anak Ranting (PAR) yang berbasis di Pesantren, Masjid, Mushola, dan Majelis lain 3. Penerimaan Anggota Fatayat NU Anggota Fatayat NU adalah setiap Pemudi atau Perempuan muda Islam yang berhaluan Ahlussunah wal Jama’ah yang berusia minimal 20 tahun atau sudah menikah sampai berusia maksimal 45 tahun. Untuk menjadi anggota bisa dengan mengajukan diri kepada pimpinan ranting Fatayat. Setelah menjadi anggota, wajib mentaati PD/PRT dan Ketentuan organisasi Fatayat NU Sebagai organisasi pengkaderan, Fatayat NU melaksanakan program kaderisasi sebagai cara untuk menjamin keberlangsungan organisasi. Dalam kaderisasi ini materi yang disampaikan antara lain; berkaitan dengan keislaman, ke-NU-an, administrasi, dan materi lain yang sesuai visi, misi dan tujuan Fatayat NU. Kaderisasi formal Fatayat NU antara lain meliputi: a. Latihan Kader Dasar (LKD) dilaksanakan oleh PC Fatayat NU b. Latihan Kader Lanjutan (LKL) dilaksanakan oleh PW Fatayat NU c. Latihan Kader Tinggi Tingkat Nasional (LKTTN) dilaksanakan oleh PP Fatayat NU


42 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) D.PAGAR NUSA 1. Sejarah PAGAR NUSA Pagar Nusa merupakan Badan Otonom NU untuk pengembangan Seni Bela Diri. Nama resminya adalah PS NU Pagar Nusa, dibentuk pada 3 Januari 1986 di Ponpes Lirboyo, Kediri Jawa Timur dan disahkan pada 16 Juli 1986 (9 Dzulhijah 1406). Ketua Umum pertama adalah Gus Maksum Jauhari dari Lirboyo, yang memang terkenal sebagai pendekar dan ahli bela diri. Latar belakang berdirinya Pagar Nusa adalah keprihatinan Kiai NU terhadap surutnya ilmu beladiri di Pesantren. Pencak Silat merupakan kebanggaan yang menyatu dengan kehidupan dan kegiatan pesantren. Surutnya pencak silat antara lain ditandai dengan hilangnya peran pondok pesantren sebagai padepokan pencak silat. Kiai atau ulama pengasuh pondok pesantren selalu merangkap sebagai ahli pencak silat, khususnya aspek tenaga dalam atau hikmah yang dipadu dengan bela diri. Pada saat itu seorang kiai sekaligus juga pendekar pencak silat. Disisi lain tumbuh berbagai perguruan pencak silat dengan segala aspek keanekaragamannya berdasarkan segi agama, aqidah, maupun kepercayaannya. Perguruanperguruan itu kadang bersifat tertutup dan saling mengklaim sebagai yang terbaik serta terkuat. Musyawarah ini menyepakati susunan Pengurus Harian. Nama Pagar Nusa berasal dari KH Mujib Ridlwan (Surabaya) Putra dari KH. Ridlwan Abdullah pencipta Lambang NU. KH Suharlibillah mengusulkan lambang untuk Pagar Nusa, yaitu segilima yang berwarna dasar hijau dengan bola dunia didalamnya. Didepannya terdapat pita bertuliskan “Laa


43 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) Ghaliba Illa billah” yang artinya “tiada yang menang kecuali mendapat pertolongan dari Allah”. Munas II Pagar Nusa diadakan di padepokan IPSI Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, apda 22 Januari 2001. Acara ini diikuti perwakilan dari jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Riau, Bali, Kalimantan & Sulawesi. Acara yang dibuka oleh Presiden KH. Abdurrahman Wahid ini membahas agenda - agenda : 1) Organisasi : membahas Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT) IPS-NU Pagar Nusa. 2) Ke-Pasti-an : membahas masalah Pasti (Pasukan Inti) dan perangkat yang lain yang meliputi seragam dan atributnya, keanggotaan, dan kepelatihan. 3) Teknik dan jurus: membahas, menggali dan menyempurnakan jurus-jurus yang sudah dimiliki oleh IPSNU Pagar Nusa yang kemudian didokumentasikan dalam bentuk hard copy (buku) dan soft copy (kaset & VCD. 2. Penerimaan Anggota Baru Keanggotaan Pagar Nusa terdiri atas perseorangan dan kelembagaan. Keanggotaan perseorangan di Pagar Nusa tidak dibatasi usia dan jenis kelamin, semua warga NU bisa menjadi anggota Pagar Nusa. Kenaggotaan yang bersifat kelembagaan terdiri dari perguruan pencak silat dan kelompok-kelompok seni, tradisi, kebudayaan, ketabiban, seni bela diri di berbagai daerah sebagai aset NU dan wajib menguasai jurus baku Pagar NU. Jadi Pagar Nusa bukanlah sebuah perguruan silat, melainkan organisasi yang menampung berbagai perguruan dan lembaga-lembaga lainnya.


44 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) Calon anggota pagar Nusa dapat mendaftarkan diri menjadi anggota melalui Pimpinan Ranting dan disahkan oleh Pimpinan Cabang. Dengan menjadi anggota PN, wajib menaati peraturan organisasi yang tertuang dalam peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga Pagar Nusa. Kegiatan Pagar Nusa antara lain latihan rutin untuk meningkatkan kemampuan silat. Kegiatan tersebut bisa dilaksanakan di tingkat ranting dan sekolah, menjadi kegiatan ekstrakurikuler yang dapat dipilih oleh siswa. Pagar Nusa juga ikut andil dalam kejuaraan silat, dari tingkat lokal, Nasional, bahkan Internasional. Seleksi berjenjang dari tingkat bawah dilakukan untuk menemukan calon atlet Pencak Silat. Gus Maksum, Sang Pendekar Pagar Nusa Pondok Pesantren dulunya tidak hanya mengajarkan ilmu agama dalam pengertian formal-akademis seperti sekarang ini, semisal ilmu tafsir, fikih, tasawuf, nahwu-sharaf, sejarah Islam dan seterusnya. Pondok pesantren juga berfungsi sebagai padepokan, tempat para santri belajar ilmu kanuragan dan kebatinan agar kelak menjadi pendakwah yang tangguh, tegar dan tahan uji. Para kiainya tidak hanya alim tetapi juga sakti. Para kiai dulu adalah pendekar pilih tanding. Akan tetapi belakangan ada tanda-tanda surutnya ilmu bela diri di pesantren. Berkembangnya sistem klasikal dengan materi yang padat, ditambah eforia pembentukan standar pendidikan


45 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) nasional membuat definisi pesantren kian menyempit, melulu sebagai lembaga pendidikan formal. Para ulama-pendekar merasa gelisah. H Suharbillah, seorang pendekar dari Surabaya yang gemar berorganisasi menemui KH Ahmad Mustofa Bisri dari Rembang dan menceritakan kekhawatiran para pendekar. Mereka lalu bertemu dengan KH Agus Maksum Jauhari Lirboyo alias Gus Maksum yang memang sudah masyhur di bidang beladiri. Nama Gus Maksum memang selalu identik dengan “dunia persilatan”. Gus Maksum lahir di Kanigoro, Kras, Kediri, pada tanggal 8 Agustus 1944, salah seorang cucu pendiri Pondok Pesantren Lirboyo KH Manaf Abdul Karim. Semasa kecil ia belajar kepada orang tuanya KH Abdullah Jauhari di Kanigoro. Ia menempuh pendidikan di SD Kanigoro (1957) lalu melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Lirboyo, namun tidak sampai tamat. Selebihnya, ia lebih senang mengembara ke berbagai daerah untuk berguru ilmu silat, tenaga dalam, pengobatan dan kejadukan (Dalam “Antologi NU” terbitan LTN-Khalista Surabaya). Sebagai seorang kiai, Gus Maksum berprilaku nyeleneh menurut adat kebiasaan orang pesantren. Penampilannya nyentrik. Dia berambut gondrong, jenggot dan kumis lebat, kain sarungnya hampir mendekati lutut, selalu memakai bakiak. Lalu, seperti kebiasaan orang-orang “jadug” di pesantren, Gus Maksum tidak pernah makan nasi alias ngerowot. Uniknya lagi, dia suka memelihara binatang yang tidak umum. Hingga masa tuanya Gus Maksum memelihara beberapa jenis binatang seperti berbagai jenis ular dan unggas, buaya, kera, orangutan dan sejenisnya.


46 | M o d u l K e N U a n A s w a j a 1 2 ( d u a b e l a s ) Di kalangan masyarakat umum, Gus Maksum dikenal sakti mandaraguna. Rambutnya tak mempan dipotong (konon hanya ibundanya yang bisa mencukur rambut Gus Maksum), mulutnya bisa menyemburkan api, punya kekuatan tenaga dalam luar biasa dan mampu mengangkat beban seberat apapun, mampu menaklukkan jin, kebal senjata tajam, tak mempan disantet, dan seterusnya. Di setiap medan laga (dalam dunia persilatan juga dikenal istilah sabung) tak ada yang mungkin berani berhadapan dengan Gus Maksum, dan kehadirannya membuat para pendekar aliran hitam gelagapan. Kharisma Gus Maksum cukup untuk membangkitkan semangat pengembangan ilmu kanuragan di pesantren melalui Pagar Nusa. Sebagai jenderal utama “pagar NU dan pagar bangsa” Gus Maksum selalu sejalur dengan garis politik Nahdlatul Ulama, namun dia tak pernah terlibat politik praktis, tak kenal dualisme atau dwifungsi. Saat kondisi politik memaksa warga NU berkonfrontasi dengan PKI Gus Maksum menjadi komandan penumpasan PKI beserta antek-anteknya di wilayah Jawa Timur, terutama karesidenan Kediri. Ketika NU bergabung ke dalam PPP maupun ketika PBNU mendeklarasikan PKB, Gus Maksum selalu menjadi jurkam nasional yang menggetarkan podium. Namun dirinya tidak pernah mau menduduki jabatan legislatif ataupun eksekutif. Pendekar ya pendekar! Gus Maksum wafat di Kanigoro pada 21 Januari 2003 lalu dan dimakamkan di pemakaman keluarga Pesantren Lirboyo dengan meninggalkan semangat dan keberanian yang luar biasa. (A Khoirul Anam)


Referensi Ahmad Nurudin, M. Dalhar, Ke NU an Ahlussunah Wal Jama’ah Kelas XII, Semarang: LP Maarif PWNU Jateng, 2019 https://nusumbar.com/badan-otonom-banom-nahdlatul-ulama/, diakses pada 15 Januari 2024, pukul 13.05 WIB https://jatim.nu.or.id/tokoh/mengenang-kh-mahfudz-siddiq-ketuapbnu-di-masa-mbah-hasyim-J5OZE , diakses pada 22 Juli 2024, pukul 11.53 WIB https://www.nu.or.id/nasional/kh-mahfudz-shiddiq-ketua-pbnu-diusia-30-tahun-EHG11 , diakses pada 22 Juli 2024, pukul 11.55 WIB https://www.nu.or.id/tokoh/gus-maksum-sang-pendekar-pagarnusa-1vNxD , diakses pada 22 Juli 2024, pukul 12.28 WIB Aplikasi NU Online


KH. ACHMAD SIDDIQ KH Achmad Siddiq merupakan ulama progresif di zamannya. Ia lahir sebagai putra bungsu dari pasangan KH Muhammad Siddiq dengan Nyai Maryam. Kiai Achmad lahir di Talangsari, Jember, Jawa Timur pada 10 Rajab 1344 H/24 Januari 1926. Sejak kecil, ia telah mendalami pengetahuan agamanya di dalam pesantren yang diasuh orang tuanya. Selanjutnya beliau melanjutkan mengaji di Pondok Pesantren Tebuireng yang diasuh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Pada Muktamar Ke-27 NU di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Asembagus, Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur pada tahun 1984. Ia ditunjuk bersama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Ketua Umum PBNU oleh KH As'ad Syamsul Arifin selaku Ahlul Halli wal Aqdi. Dalam prestasinya beliau banyak membuat karya-karya yang sebagian besar menjadi pedoman bagi waraga NU untuk bermasyarakat, seperti Khittah Nahdliyah, Ukhuwah Nahdliyah, Islam Pancasila, dan lainnya. Beliau wafat di Rumah Sakit Dr Soetomo Surabaya pada 23 Januari 1991 dan dimakamkan di Kompleks Pemakaman Aulia di Desa Mojo, Kediri atas permintaan KH Hamim Tohari Djazuli Ploso Kediri saat masih hidupnya.


Click to View FlipBook Version