LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah
201800344271_Heril Hidayat
Masalah yang Hasil eksplorasi Analisis eksplorasi penyebab masalah
No. telah penyebab masalah
diidentifikasi 1. Kurangnya aktifitas Hasil Eksplorasi Masalah Berdasarkan
1. Pedagogik,
dan yang mampu membuat Literatur:
literasi, siswa lebih aktif dan 1. Pepi, Hermansyah Amir, Rina Elvia.
numerasi. dalam
a. Motivasi dan antusias
minat belajar pembelajaran Perbandingan Hasil Belajar Kimia Siswa
siswa terhadap 2. Metode dan model Menggunakan Model Pembelajaran
mata pelajaran pembelajaran yang Jigsaw dan Think Pair Share (Tps)
Kimia masih digunakan tdak dapat Dengan Pendekatan Scientific Pada
menjangkau semua Kelas X IPA di SMAN 3 Kota Bengkulu
kurang Tahun Ajaran 2018/2019”. 2019. Minat
jenis gaya belajar siswa memiliki pengaruh yang besar terhadap
3. Guru lebih banyak hasil belajar. Minat merupakan faktor
menjelaskan (ceramah) utama yang menentukan keaktifan siswa
daripada memfasilitasi dalam belajar, dimana apabila bahan
siswa dalam pelajaran yang dipelajari oleh siswa tidak
menemukan sendiri sesuai dengan minat siswa maka siswa
konsep materi yang tidak akan belajar. Maka dari itu perlu
dipelajari diupayakan kondisi belajar yang dapat
meningkatkan minat belajar siswa dengan
cara menerapkan berbagai model
pembelajaran. Pada saat proses
pembelajaran guru harus selalu siap
dalam memberikan arahan agar langkah-
langkah pembelajaran yang dilakukan
siswa tidak salah.
2. I Putu Budiariawan dalam Jurnalnya
yang berjudul “Hubungan Motivasi
Belajar dengan Hasil Belajar pada Mata
Pelajaran Kimia”. 2019. Siswa
memperoleh hasil belajar yang kurang
maksimal disebabkan karena:
a. Kurang latihan dalam mencari dan
memecahkan masalah soal- soal
terutama dalam menjawab soal-soal
latihan pada LKS, mudah terpengaruh
dengan jawaban teman dan tidak
ragu- ragu dalam mengikuti pendapat
ataupun jawaban dari teman
meskipun jawaban atau pendapat
temannya belum tentu benar
b. Siswa kurang memiliki rasa percaya
diri terhadap jawaban yang dibuat dan
lebih bergantung terhadap jawaban
dari orang lain.
3. Dina Rustiningsih. “Upaya Peningkatan
Motivasi Belajar Kimia pada Materi
Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit
melalui Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe Group Investigation”. 2021. Salah
satu faktor penentu keberhasilan
seseorang dalam proses belajar adalah
faktor intrinsik pribadi pembelajar
tersebut, yaitu motivasi belajar. Dengan
adanya motivasi belajar yang tinggi akan
sangat mendukung peningkatan proses
penemuan dan penyusunan struktur
pengetahuan baru dalam diri seorang
pembelajar. Sehingga peningkatan
motivasi belajar sangat penting dilakukan
agar tujuan pembelajaran dapat tercapai
dengan optimal.
Hasil Eksplorasi Masalah Berdasarkan
Wawancara:
1. Dr. Abd. Gani, M.Pd ( Pengawas Disdik
Prov Sul-Sel)
a. Kurangnya fasilitas sarana dan
prasarana yang mendukung
khususnya dalam mata pelajaran
kimia yang terdiri dari teori dan
praktek.
b. Kurangnya kemampuan Guru
menyiapkan pembelajaran yang
berbasis menyenangkan
c. Kesibukan siswa menggunakan Hp
d. Sebagian besar belum maksimal
melakukan penilaian pengetahuan,
sikap dan keterampilan.
2. Abdul Hakim,S.Pd.,M.Pd (Wakasek
Kesiswaan dan Guru Biologi) Rendahnya
minat dan motivasi belajar siswa
dikarenakan:
a. Cara mengajar Guru yang monoton
b. Media pembelajaran kurang menarik
c. Kurangnya perhatian orang tua
d. Guru memberi tugas tambahan
3. Asnawati,S.Pd. (Guru Bahasa Indonesia)
Rendahnya minat belajar dan motivasi
siswa disebabkan oleh:
a. Perkembangan teknologi dan zaman
yang menjadikan siswa berpikir
bahwa sekolah bukanlah hal yang
penting
b. Guru belum mampu menerapkan
metode dan model pembelajaran
yang inovatif
c. Media pembelajaran yang kurang
menarik
1.Kebanyakan siswa Kesimpulan:
a. Guru membangkitkan motivasi siswa dan
menjelaskan pentingnya menuntut ilmu
dan manfaat mereka belajar
b. Guru harus mengganti model, metode dan
media pembelajaran menjadi lebih
bermakna dan menyenangkan seperti
PAIKEM.
Literasi: tidak tertarik membaca Hasil Eksplorasi Masalah Berdasarkan
b. Lemahnya
istilah yang tidak kajian Literatur:
kajian
literatur dan familiar dan sulit 1. Wirna Eliza dan Eka Yusmaita.
minat baca
siswa pada dipahami ”pengembangan butir soal literasi kimia
materi Kimia
khususnya 2.Gerakan Literasi pada materis sistem koloid kelas XI IPA
sekolah yang tidak SMA/MA. 2021. Peserta didik mengalami
kesulitan dalam memahami materi sistem
koloid terutama aplikasi sistem koloid
materi yang berjalan sesuai dengan dalam kehidupan sehari-hari dikarenakan
banyak berisi apa yang diharapkan. peserta didik cenderung menghafalkonsep
istilah-istilah 3.Tidak dan teori tanpa pemahaman yang
baru seperti dimanfaatkannya mendalam serta kurangnya keterlibatan
pada materi Perpustakaan sebagai lingkungan secara langsung sehingga
ikatan kimia, sarana penunjang peserta didik tidak terlatih memahmi
persamaan pembelajaran secara fenomena sains dan mencari solusinya.
reaksi, redoks, maksimal
laju reaksi, 2. Abdul Rachman Tiro, dkk. dalam
kimia polimer,
senyawa Jurnalnya yang berjudul ” Analisis
hidrokarbon,
turunan Pemahaman Konsep Literasi Sains Pada
alkana dsb.
Mahasiswa Pendidikan IPA FKIP
UNIMUDA Sorong”. 2020. yang
menyebabkan sebagian besar Guru tidak
memahami faktor-faktor yang
mempengaruhi rendahnya keterampilan
literasi sains bagi siswa Indonesia adalah:
a. Kurangnya alternatif kemampuan
Guru mencari cara yang tepat untuk
untuk melaksanakan pembelajaran
yang tepat dalam proses
pembelajaran.
b. Belum memahami bagaimana
mengidentifikasi masalah terhadap
kasus atau problem yang diberikan
dalam pembelajaran.
c. Proses literasi sains yang belum secara
utuh melibatkan siswa kepada hakikat
ilmu IPA secara utuh pula.
d. Belum memahami tujuan literasi
dengan baik.
Hasil Eksplorasi Masalah Berdasarkan
Wawancara:
1. Asnawati,S.Pd. (Guru Bahasa Indonesia)
kurangnya kemampuan literasi dan minat
baca siswa disebabkan oleh
kurangnyapemanfaatan perpustakaan
dan pojok baca yang ada di kelas.
2. Hasriani,S.I.P. (Koordinator
Perpustakaan) sudah
a. Meskipun perpustakaan
dikatakan memadai namun, karena
kebanyakan siswa hanya fokus pada
gadget maka perhatian siswa terhadap
sekelilingnya kurang.
b. Kebanyakan siswa yang berkunjung ke
perpustakaan hanya untuk bersantai
dan mendinginkan diri.
Kesimpulan:
a. Perlu adanya penanaman nilai sikap
ilmiah dalam proses kegiatan literasi
Sains. Sehingga akan menghasilkan
produk perserta didik yang secara utuh
pula dari aspek pengetahuan, sikap, dan
keterampilan
b. Pendidik juga dituntut memiliki
kemampuan literasi sains yang baik dan
sangat penting guna menunjang supaya
dapat mengembangkan kemampuan
literasi sains peserta didiknya
c. Pendidik dalam bidang sains mestinya
juga harus memberikan perhatian penuh
dalam upaya untuk meningkatkan dan
mengembangkan kemelekan sains
1. Rendahnya (science literacy) pada peserta didik
Numerasi: Hasil Eksplorasi Masalah Berdasarkan
c. Lemahnya penguasaan konsep- Literatur:
konsep konsep dan 1. Pasar Maulim Silitonga dan Rudnia
berhitung perhitungan kimia
siswa dan dalam proses Yanita Sitepu. ”Hubungan Kemampuan
belum mampu pembelajaran yang Matematika dan Kemampuan Fisika
menghubungk dimiliki oleh siswa. terhadap Hasil Belajar Siswa pada
Materi Termokimia”. 2022. Rendahnya
an konsep 2. Siswa lebih hasil belajar siswa disebabkan karena:
matematika menghandalkan alat a. Umumnya siswa mengalami kesulitan
dan kimia elektronik berupa HP dalam menyelesaikan permasalahan
dalam materi sebagai alat bantu yang menyangkut perhitungan kimia
stoikiometri, hitung b. Minat siswa berkurang untuk
PH larutan, memahami materi kimia.
kesetimbanga
n kimia, 2. Desy Rosmalinda. “Kemampuan Kimia
termokimia, dan Matematika Siswa MAN 2 Kota
penyetaraan Jambi: Relasi dalam Fakta”. 2020.
redoks, Banyak hal yang bisa menyebabkan
elektrolisis rendahnya kemampuan kimia siswa
seperti:
dan sel volta, a. Kurang menariknya metode mengajar
ksp dsb. guru
b. Konsep kimia yang sulit
c. Ketidakpahaman memadukan antara
konsep dan perhitungan matematis,
yang semuanya menyebabkan minat
siswa mempelajari kimia berkurang.
d. Masih banyak faktor lain yang perlu
dipelajari lagi relasinya terhadap
kemampuan kimia yang dimiliki
siswa, misalkan jenis kelamin siswa,
usia, dan dukungan keluarga.
3. Muhammad Shohibul Ihsan dan Siti
Wardatul Jannah. “Analisis
Kemampuan Literasi Sains Peserta
Didik dalam Pembelajaran Kimia
menggunakan Multimedia Interaktif
berbasis Blended Learning. 2021. Faktor
penyebab rendahnya penguasaan peserta
didik dalam melakukan kegiatan
penyelidikan ilmiah yaitu:
a. Peserta didik jarang melakukan
kegiatan praktikum karena minimnya
fasilitas laboratorium sekolah;
b. Peserta didik tidak memahami istilah
dalam beberapa kegiatan penyelidikan
ilmiah;
c. Peserta didik menghabiskan lebih
banyak waktu dengan ilmu
pengetahuan yang sifatnya hafalan
dan konsep
d. Peserta didik belum pernah dilatih
untuk mengerjakan soal literasi sains
sebelumnya yang berkaitan dengan
pembelajaran kimia.
e. Peserta didik lebih cendrung
mempelajari dan memahami materi
yang bersifat hafalan, sehingga
peserta didik kurang memahami dan
mengaplikasikan materi tersebut
dalam kehidupan sehari-hari.
f. Kurangnya minat membaca peserta
didik dan tidak terbiasanya peserta
didik menjawab soal dalam bentuk
wacana, grafik, dan gambar
Hasil Eksplorasi Masalah Berdasarkan
Wawancara:
1. Wahyuddin Haris, S.Pd.,M.Pd. (Guru
Matematika) kemampuan numerasi atau
matematis siswa masih rendah
disebabkan kemampuan dasar siswa
mulai awal mengenyam pendidikan masih
lemah sehingga siswa belum siap untuk
memulai pembelajaran berikutnya.
2. Rahmawati, S.Pd. ( Guru Fisika)
Kurangnya pembiasaan dari Guru untuk
menyelesaikan masalah yang berkaitan
dengan soal Numerasi.
3. Mutmainnah Arifin,S.Pd. (Guru Kimia)
Kesimpulan: Dari kajian literatur dan
wawancara ini didapat beberapa fakta
menarik:
a. Siswa yang memiliki kemampuan kimia
rendah ternyata tidak selalu memiliki
kemampuan matematika yang lemah.
b. Kendala yang dihadapi banyak siswa
dalam mempelajari kimia yaitu sulitnya
memahami konsep.
c. Metode mengajar guru juga menentukan
tingkat ketertarikan siswa untuk
mempelajari kimia yang pada akhirnya
juga berpengaruh terhadap kemampuan
kimia siswa.
d. Minat siswa untuk mempelajari kimia
menjadi faktor internal siswa untuk dapat
meningkatkan kemampuan kimianya.
e. Rajin berlatih mengerjakan soal kimia
1. Orang merupakan salah satu cara mengasah
kemampuan kimia
2. Kurangnya tua Hasil Eksplorasi Masalah Berdasarkan
partisipasi orang menyerahkan
tua siswa Literatur:
anaknya sepenuhnya 1. Mega Sentya Saputri, dkk. “Hubungan
terhadap kepada sekolah untuk
pendidikan anak Antara Pola Asuh Orang Tua dengan
dididik Disiplin Belajar Siswa “. 2019. Pola asuh
serta hubungan 2. Komunikasi yang orangtua sangat berhubungan erat
antara siswa dan kurang maksimal dengan disiplin belajar. Orang tua
guru belum antara orang tua, wali mempunyai peranan penting dalam
terikat secara kelas, Guru BK dan membimbing serta mengarahkan disiplin
emosional Guru mapel terkait anak, yaitu dengan cara orang tua
perkembangan hasil mendidik sikap anak dan nilai,
belajar siswa. memberikan informasi, memahami minat
serta bakat anak serta tidak memaksakan
kehendak kepada anak sehingga anak
tidak melakukan hal-hal yang melanggar
disiplin baik diluar sekolah atau diskolah
2. Muhammad Saleh. Pola Hubungan Guru
dan Orangtua dalam Pendidikan pada
Madrasaah Aliyah Negeri Di Aceh
Tamiang. 2019. Peran dan fungsi guru
dan orangtua dengan melakukan
bimbingan, mengarahkan, mengawasi,
pendampingan serta melatih. Guru dan
orangtua sebagai mitra harus saling
mengisi dan bekerjasama, di sekolah guru
melakukan tugasnya dengan memberikan
berbagai bimbingan, pengarahan dan
pelatihan. Kemudian ketika anak didik
sudah kembali ke rumah, maka tugas
orangtua yang melanjutkan
pembimbingan, pengarahan dan
pengawasan terhadap anak didik.
3. Mursalim, Jusmin & Nur Wulandari.
Pola Asuh Orang Tua terhadap
Kemampuan Bersosialisasi pada Siswa
Kelas IV di SD Inpres 102 Malanu Kota
Sorong. 2020. Pola asuh permisif yang
diberikan orang tua sangatlah berdampak
terhadap kemampuan bersosialisasi pada
siswa. Dimana anak cenderung agresif dan
juga suka mengganggu teman sehingga
anak tidak dapat bersosialisasi dengan
baik. Adapun kendala yang dihadapi oleh
guru dalam memberikan pengasuhan di
sekolah ialah adanya sikap acuh tak acuh
dari orang tua siswa. kebanyakan orang
tua hanya melepas anak di sekolah tanpa
diberikan bimbingan di rumah. Apabila
orang tua tidak dapat bekerja sama
dengan pihak sekolah maka akan sulit
dalam memberikan pengertian terhadap
anak, Maka diharapkan orang tua sebagai
orang yang paling mengerti keadaan anak,
tetap memberikan dukungan kepada anak
khususnya dalam hal kemampuan
bersosialisasi yang nantinya akan sangat
berguna untuk masa depan dan
lingkungannya, sehingga diharapkan
semua anak dapat mempunyai
kemampuan bersosialisasi yang baik dan
yang sesuai dengan norma yang berlaku
dalam kehidupan bermasyarakat.
Hasil Eksplorasi Masalah Berdasarkan
Wawancara:
1. Muchlas A. S.Pd.,Gr. (Guru Sejarah)
penyebab orang tua jarang terlibat dalam
program peningkatan mutu
pembelajaran sekolah yaitu:
a. Kesibukan waktu kerja orang tua
b. Kesadaran peran orang tua tentang
keterlibatan dalam pendidikan masih
rendah
2. Wahyuddin Haris, S.Pd.,M.Pd. (Guru
Matematika) penyebab orang tua jarang
terlibat dalam program sekolah
dikarenakan :
a. Kurangnya sosialisasi langsung
pihak sekolah kepada orang tua
b. Orang tua memberikan tanggung
jawab sepenuhnya pendidikan anak
kepada sekolah
Kesimpulan:
a. Kepada siswa diharapkan dapat
membentuk disiplin belajar siswa yang
baik. Sehingga dapat meningkatkan hasil
belajar yang baik
b. Hendaknya siswa dalam belajar harus
memiliki motivasi belajar yang tinggi,
dengan lebih berani untuk bertanya
kepada guru apabila ada materi pelajaran
yang belum jelas.
c. Untuk para guru, karena guru
merupakan pendidik setelah orang tua
hendaklah memperhatikan
perkembangan siswa terutama yang
mempunyai prestasi rendah atau
mempunyai kesulitan dalam belajar.
d. Kepada guru BK diharapkan dapat
meningkatkan interaksi kepada orang tua
siswa yang baik untuk mengontrol hasil
belajar siswa dan untuk mengetahui
tingkat disiplin anak dirumah
e. Kepada orangtua diharapkan orangtua
dapat menerapkan pola asuh yang tepat
dan memotivasi anaknya agar
membentuk disiplin belajar siswa yang
baik. Sehingga anak dapat meningkatkan
3. Siswa kesulitan 1. Siswa hasil belajar dan disiplin belajarnya.
takut Hasil Eksplorasi Masalah Berdasarkan
mengomunikasi menyampaikan
Literatur:
kan pendapatnya jika 1. Adjeng Prathiwi, Lisa Utami. “Analisis
pemahamannya salah
dalam belajar 2. Siswa tidak dapat Kemampuan Berfikir Kritis Siswa
terlebih pada mengaitkan konsep Menengah Atas Menggunakan Model
Inquiry Pictorial Riddle”. 2019. Ada
materi yang materi sebelumnya beberapa siswa belum mampu
dianggap abstrak dengan materi yang memberikan argumen atau asumsinya
sedang dipelajari. mengenai suatu permasalahan yang
3. Siswa lebih senang diberikan. Dikarenakan kurangnya
memahami isi soal, masih sulit untuk
menerima pelajaran
secara langsung dari menganalisis dan mengevaluasi informasi
penjelasan Guru dan masih ada beberapa siswa yang
daripada menemukan terbiasa belajar dengan hanya menerima
sendiri informasi dari guru, sehingga ketika
mereka dihadapkan untuk memberi
argumen atau asumsinya terhadap suatu
permasalahan sebagian siswa mengalami
kesulitan
2. Kholida Ismatulloh, Eni Kurniawati
Baroroh. “Pengaruh Metode
Pembelajaran Diskusi Kelompok
Terhadap Prestasi Belajar IPA di Kelas
XI IPA SMAN 1 Pringgasela”. 2022.
Penggunaan metode diskusi kelompok
sangatlah membantu dalam proses
pembelajaran IPA pada umumnya,
khususnya kimia yang mana pada
pembelajaran kimia seperti diketahui
bahwa penyelesaiannya mengharuskan
peserta didik fokus dalam sebuah
percobaan ilmiah dan perhitungan-
perhitungan matematis dengan
menggunakan rumus yang menyebabkan
peserta didik mudah bosan bahkan jenuh
karena kesulitan, namun dengan
keberadaan metode diskusi kelompok
dapat membantu meringankan berfikir
para peserta didik karena disini peserta
didik diminta berfikir secara berkelompok
dan berdiskusi untuk memecahkan
masalah yang ditimbulkan dalam
percobaan. Hal inilah yang
mengakibatkan minat sekaligus motivasi
belajar peserta didik meningkat diiringi
dengan hasil belajar pula mengalami
peningktan
3. Lukmanul Hakim, Yayuk Andayani,
Jeckson Siahaan. “Hubungan Antara
Prestasi Belajar Kimia dengan
Keterampilan Komunikasi Lisan
berdasarkan Persepsi Siswa”. 2021.
Keterampilan komunikasi lisan memiliki
banyak faktor. Faktor-faktor tersebut
dapat dikategorikan dalam dua
kelompok, yakni faktor yang
menghambat dan faktor yang
mendukung. Faktor yang menghambat
keterampilan berkomunikasi lisan dalam
proses pembelajaran yakni berupa
lingkungan kelas yang kurang
mendukung keaktifan siswa sebagai
bentuk keterampilan berkomunikasi
lisan dalam proses pembelajaran di kelas
seperti guru yang tidak memberikan
kesempatan untuk aktif dan kurang
menghargai keterampilan siswa serta
teman-teman kelas cenderung mengejek
temannya yang aktif pada saat proses
pembelajaran. Faktor yang mendukung
tingginya komunikasi lisan siswa di kelas
antara lain sikap respek guru terhadap
siswa dan lingkungan kelas yang
mendukung (Goss, Sonnemann, &
Griffiths, 2017).
Hasil Eksplorasi Masalah Berdasarkan
Wawancara:
1. Muchlas A.,S.Pd.,Gr. (Guru Sejarah)
Kendala yang menjadi penyebab siswa
malu berbicara di depan temannya saat
diskusi kelompok adalah kepercayaan
diri siswa yang tidak maksimal,
ketakutan jika jawaban/pernyataan yang
disampaikan salah serta kurangnya
perbendaharaan kata yang dimiliki
siswa.
2. Rahmawati, S.Pd. (Guru Fisika) sulitnya
siswa menyampaikan pendapat saat
diskusi kelompok disebabkan oleh:
a. Sifat bawaan siswa yang pendiam
b. Berpikir tentang akibat yang akan
terjadi jika berpendapat
c. Kurangnya pemberian stimulus
d. Kurangny aadaptasi dengan teman
3. Andi Ibrahim, S.Kom (Wakasek
Kurikulum/Guru PKWU), penyebab
siswa kesulitan dalam menyampaikan
pendapat dikarenakan:
a. Siswa tidak terbiasa menyampaikan
ide dan pendapat di depan orang lain
b. Ide dan gagasan yang disampaikan
kadang tidak mendapat apresiasi
c. Siswa memilki rasa percaya diri yang
masih rendah atau kurang
Kesimpulan: Guru disarankan mampu
meningkatkan motivasi siswa agar lebih
senang dalam mencari dan berlatih soal- soal
serta meningkatkan rasa percaya diri yang
dimiliki siswa, dengan memberikan tugas-
tugas pembelajaran kimia yang dekat atau
berkaitan dengan kehidupan siswa yang
mampu memicu keingintahuan siswa,
sehingga mau menyelesaikannya dan
memberi kesempatan kepada siswa untuk
terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar
serta memberikan apresiasi kepada siswa
setelah selesai menjawab pertanyaan yang
diberikan dan tidak menjatuhkan siswa
secara langsung ketika salah dalam
menjawab ataupun memberikan tanggapan
di depan kelas
4. Penerapan 1. Siswa kesulitan Hasil Eksplorasi Masalah Berdasarkan
praktik inovatif menerima
Literatur:
yang pasif atau pembelajaran dengan 1. Sugeng
kurang model yang berpusat Triwahyudi, Sutrisno,
maksimal dalam pada siswa Yusnaidar. “Pengembangan perangkat
pembelajaran berbasis TPACK pada
pembelajaran 2. Guru masih mengacu materi kimia SMA”. 2021. Siswa
dikarenakan pada model menyatakan mengalami kesulitan saat
minimnya pembelajaran memahami pembelajaran, kesulitan dalam
pengetahuan konvensional sebab memahami konsep dan kesulitan dalam
Guru tentang menjelaskan materi mengerjakan soal pada materi kimia yang
karakteristik secara langsung jauh diberikan. Hal ini disebabkan oleh
model lebih mudah kurangnya inovasi guru dalam proses
pembelajaran pembelajaran. Inovasi ini sangat penting
inovatif untuk dilakukan agar proses
pembelajaran lebih menarik dan
menyenangkan bagi siswa
2. I Pande Putu Alit Antara. “Model
Problem Based Learning untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Kimia Pada
Pokok Bahasan Termokimia”. 2022.
Siswa yang menggunakan model PBL yang
memiliki hasil belajar yang lebih baik dari
pada siswa yang menggunakan model
konvensional. Model pembelajaran
berbasis masalah memberikan
kesempatan kepada semua siswa untuk
aktif dalam proses pembelajaran. Terlebih
lagi untuk menyelesaikan permasalahan
yang disedikan dalam proses
pembelajaran dengan cara melakukan
eksperimen dan diskusi sehingga siswa
dapat membuktikan sendiri dengan
melakukan sendiri proses percobaan
untuk membuktikan serta melakukan
diskusi untuk menyelesaikan
permasalahan yang telah disediakan
3. Liska Ariani, Sudarmin, dan Sri
Nurhayati. “Analisis Berpikir Kreatif
pada Penerapan Problem Based Learning
berpendekatan Science, Technology,
Engineering, and Mathematics”. 2019.
Selain tingkat ketercapaian kemampuan
berpikir kreatif yang baik, masih terdapat
ketercapaian yang cukup. Hal ini dapat
dikarenakan peserta didik tersebut belum
terbiasa dengan pembelajaran yang
dilakukan dan belum terbiasa
menghadapi soal-soal yang berbeda dari
biasanya. Kesulitan peserta didik terletak
pada soal yang memuat konsep
perhitungan angka karena peserta didik
kurang latihan dalam menyelesaikan soal-
soal. Jika peserta didik tidak dapat
memecahkan masalah pada materi kimia
yang melibatkan perhitungan dengan
langkah yang baik dan benar, maka
peserta didik akan mengalami kesulitan
dalam pengerjaan soal pada materi
tersebut dan selanjutnya.
Hasil Eksplorasi Masalah Berdasarkan
Wawancara:
1. Hasnah, S.Si.,S.Pd.,Gr. (Wakasek
Sarpras/ Guru Matematika) Sebab guru
belum menerapkan model pembelajaran
inovatif adalah :
a. Sarana sekolah kurang memadai
b. Terbatasnya waktu dan tenaga untuk
menyiapkan media yang dapat
mendukung penggunaan model
pembelajaran inovatif
c. Kurangnya waktu untuk
mengembangkan materi.
2. Muchlas A., S.Pd.,Gr (Guru Sejarah)
Terdapat dua sebab Guru merasa sulit
menerapkan model pembelajaran inovatif
yaitu:
a. Kesadaran Guru yang masih rendah
tentang manfaat besar dari
pembelajaran inovatif
b. Guru yang tidak ingin merepotkan diri
menghasilkan model dan metode baru
dalam pembelajaran
Kesimpulan: Model problem based learning
menggunakan metode eksperimen dan STEM
dapat mendukung proses berlangsungnya
pembelajaran dengan baik dan dapat
mempermudah peserta didik serta guru
dalam berinteraksi. Selaian itu, model
problem based learning mampu
meningkatkan hasil belajar kimia pada pokok
bahasan termokimia seperti peserta didik
mampu berpikir kritis, lebih aktif, kreatif, dan
mampu memecahkan masalah
5. Materi terkait 1. Guru lebih suka Hasil Eksplorasi Masalah Berdasarkan
Literasi menerapkan
numerasi, Literatur:
pembelajaran berbasis 1. Sri Yamntinah, dkk. Pendampingan
Advanced LOTS daripada Penyusunan Instrumen Asesmen
material, membiasakan siswa Kompetensi Minimum (Akm) sebagai
miskonsepsi, mengerjakan soal Upaya Penguatan Kemampuan Guru.
HOTS. HOTS
2021.
2. Siswa mengalami a. Guru-guru belum mempunyai
miskonsepsi dalam pengalaman menyusun soal soal
pembelajaran karena dengan tipe seperti Asesmen
konsep yang dipelajari Kompetensi Minimum (AKM). Bahkan
terlalu banyak yang sebagian guru seringkali tidak
saling berhubungan menyusun sendiri soal-soal yang
seperti pada materi diujikan kepada peserta didik tetapi
stoikiomteri, dsb. mengambil soal-soal yang ada pada
LKS ataupun buku-buku. Sehingga
keterampilan menyusun soal masih
bisa dikatakan kurang
b. Pemerintah menyadari bahwa baik
buruknya pencapaian peserta didik
dipengaruhi oleh faktor pengajaran
(proses di sekolah) maupun faktor-
faktor di luar sekolah, seperti
lingkungan rumah dan gaya
pengasuhan orang tua.
2. Iis Alviah, Endang Susilowati, dan
Mohammad Masykuri. “Pengaruh
Kemampuan Literasi Kimia terhadap
Capaian Higher Order Thinking Skills
(HOTS) Siswa SMA Negeri 1 Sukoharjo
pada Materi Larutan Penyangga dengan
Pemodelan Rasch”. 2020. Faktor
rendahnya ketercapaian indikator HOTS
menunjukkan bahwa kapasitas HOTS
memang masih rendah diaplikasikan.
Capaian HOTS dapat ditingkatkan
melalui model pembelajaran yang dapat
memberdayakan keterampilan berpikir
tingkat tinggi, serta penggunaan soal
capaian HOTS dalam proses penilaian di
sekolah. Pembelajaran berbasis
pendekatan inkuiri lebih baik
dibandingkan pendekatan konvensional
untuk meningkatkan keterampilan
berpikir tingkat tinggi, hal ini lebih efektif
jika terintegrasi dengan pembelajaran
berbasis masalah.
3. Raudha Isminiarti Izza, Nurhamidah,
Elvinawati. “Analisis Miskonsepsi
Siswa Menggunakan Tes Diagnostik
Esai berbantuan Cri (Certainty Of
Response Index) pada Pokok Bahasan
Asam Basa”. 2021. Miskonsepsi yang
terjadi pada siswa disebabkan oleh faktor
internal dan eksternal. Faktor internal
merupakan faktor yang berasal dari siswa
seperti Prakonsepsi atau konsep awal
yang salah ,pemikiran asosiatif siswa,
aperesepsi, dan intuisi siswa yang salah,
kemampuan siswa yang kurang,
rendahnya motivasi dan minat belajar
siswa selama proses pembelajaran dan
cara belajar siswa. Selain itu terdapat
faktor eksternal penyebab miskonsepsi
yang berasal dari guru, seperti metode
dan kurangnya penekanan konsep, dan
sumber belajar yang digunakan terbatas
hanya pada jam pelajaran saja, sehingga
mereka tidak memiliki pegangan
4. Listia Fauziyyah Ahmad. “Studi
Literatur: Analisis Permasalahan
Pembelajaran Kimia SMA Pada Materi
Stoikiometri”. 2022. Kurangnya
pemahaman terhadap sejumlah konsep
mempengaruhi kemampuan untuk
menyelesaikan masalah stoikiometri,
diantaranya pemahaman konseptual
hukum dasar kimia, konsep stoikiometri
dasar seperti konsep mol, menyetarakan
persamaan kimia, mengidentifikasi
pereaksi pembatas. Maka dari itu,
pendidik kimia harus memastikan bahwa
siswa perlu memahami konsep-konsep
ini sebelum dapat memecahkan masalah
numerik kuantitatif. Model pembelajaran
yang digunakan oleh guru pada saat
menyampaikan materi, termasuk salah
satu faktor yang memengaruhi kesulitan
belajar siswa, maka dari itu kompetensi
pedagogik guru dalam pengelolaan
pembelajaran sangat diperlukan.
Pendidik kimia harus menerapkan teknik
pedagogis pemecahan masalah (problem
solving) sebagai sarana untuk mengatasi
kesulitan siswa dalam stoikiometri,
mengkondisikan siswa untuk
menemukan (to discover) konsep-konsep
serta memberikan kesempatan dalam
pembelajaran untuk berdiskusi antar
teman (peer-discussion) mengenai
makna-makna konsep masing-masing
siswa, sehingga mampu bertukar fikiran.
Hasil Eksplorasi Masalah Berdasarkan
Wawancara:
1. Abdul Hakim, S.Pd.,M.Pd. (Wakasek
Kesiswaan/Guru Biologi) Pembelajaran
berbasis HOTS masih sulit diterapkan
sebab Guru belum punya kemampuan
dalam membuat soal berbasis HOTS dan
tidak terbiasa memberikan stimulus
kepada siswa dalam menyelesaikan soal
HOTS.
2. Muh. Ashar. S.Pd. (Guru Fisika) sulitnya
menerapkan pembelajaran berbasis HOTS
dikarenakan lemahnya kemampuan siswa
dalam menyelesaikan soal HOTS dan
Guru yang lebih senang menggunakan
soal yang sudah tersedia di buku.
Kesimpulan:
a. Perlu dilakukan penyuluhan, pelatihan
dan pendampingan kepada calon guru
dan guru untuk mengembangkan dan
menggunakan instrumen AKM pada
proses pembelajaran dan penilaian
b. Guru hendaknya mempertimbangkan
model pembelajaran sebagai salah satu
alternatif dalam pembelajaran kimia
sehingga peserta didik dapat mencapai
hasil belajar yang optimal sesuai dengan
tujuan pembelajaran
c. Guru dapat melakukan apersepsi yang
berkaitan dengan konsep pembelajaran
pada saat awal pembelajaran sehingga
mendapatkan konsep awal yang benar
untuk mempelajari konsep-konsep
selanjutnya, selain itu hendaknya guru
memperbaiki miskonsepsi tersebut
dengan cara menjelaskan konsep yang
benar kepada siswa.
6. Pemanfaatan TIK 1. Guru jarang Hasil Eksplorasi Masalah Berdasarkan
dan inovasi menggunakan aplikasi Literatur:
pembelajaran TIK dalam 1. Laily Syaadah, S.Pd. Peningkatan Hasil
yang masih pembelajaran
Belajar Siswa pada Materi Kimia Unsur
kurang 2. Buku/LKS masih Kelas XII IPA 1 dengan Menggunakan
diterapkan menjadi sumber ajar Model Pembelajaran Mind Mapping
utama dalam Berbantuan Mind Maple Lite”. 2021.
pembelajaran Selama ini guru sering menggunakan
3. Guru memerlukan metode ceramah, guru kurang kreatif
waktu lebih banyak dalam menggunakan model-model
untuk membuat pembelajaran sehingga membosankan bagi
media pembelajaran siswa. Pembelajaran yang menoton hanya
seiring dengan satu arah (teacher centered). Kurang
banyaknya materi menantang bagi sisiwa sehingga siswa
yang harus diajarkan tidak mengekpolorasi diri lebih dalam.
Apalagi materi kimia unsur ini merupakan
materi pemahaman berupa konsep yang
dikonstruk dari materi sifat-sifat periodik.
Hafalan tentang keberadaan dialam, sifat
periodik- periodik golongan dan periode
baik golongan utama maupun transisi,
cara memperoleh dan kegunaannya.
Materinya sangat luas dan dangat diyakini
bahwa materinya yang komplek dalam
waktu beberapa kali pertemuan tentunya
siswa akan mudah untuk lupa jika tidak
memahami garis-garis besarnya.
2. Ratna Kumala Dewi. “Analisis
Kebutuhan Media Pembelajaran Berbasis
E-learning pada Mata Pelajaran Kimia di
SMA Negeri 8 Semarang”. 2022. Guru
sudah mampu membuat dan
mempersentasikan dengan media
pembelajaran berupa powerpoint, namun
apabila membuat aplikasi baru seperti
web, flash, dan e-modul guru belum bisa.
Guna meningkatkan keterampilan
pendidikan abad ke-21 guru dapat bekerja
sama dengan pembuat aplikasi untuk
membuat media pembelajaran interaktif
berbasis e-learning. Siswa sudah mampu
menggunakan IT seperti pembelajaran
dengan teknologi internet atau web, social
media, dan smartphone
3. Ramlan Silaban, Melhyada Veronika
Panggabean. “Pengembangan Media
Pembelajaran Berbasis Android pada
Materi Kesetimbangan Kimia”. 2022.
Karakteristik dari pada peserta didik
SMA/MA dalam menangkap materi kimia
berbeda-beda terlebih terkait materi kimia
yang bersifat abstrak dan mikroskopis,
sehingga diperlukan penyesuaian terhadap
cara penyampaian materi untuk
mempermudah peserta didik
memahaminya. Salah satu komponen
penting yang berperan dalam peningkatan
hasil belajar siswa yaitu sumber belajar
siswa dengan dipermudahnya
penyampaian materi. Media android yang
dikembangkan dapat digunakan oleh
siswa kapanpun dan dimanapun tanpa
adanya batasan ruang dan waktu, lebih
praktis digunakan, dapat digunakan
kembali, mudah dibawa, dan interaktif.
4. Eka Junaidi, dkk. “Meningkatkan
Motivasi Belajar Kimia Melalui
Implementasi Konsep Kimia dalam
Bentuk Permainan Sederhana di SMAN 4
Praya”.2021. Faktor pendorong yang
menyebabkan pentingnya kegiatan ini
untuk dilaksanakan yaitu masih
minimnya pemanfaatan laboratorium
sebagai media dalam proses belajar
mengajar ilmu kimia (ranah Kognitif),
sikap-sikap yang harus dilakukan dalam
mengelola laboratorium (ranah Afektif)
serta langkah-langkah yang harus
diperhatikan/dilakukan pada saat
demostrasi kimia (ranah Psikomotorik).
Hal ini sangat penting diketahui siswa oleh
karena laboratorium adalah suatu media
yang dapat menjembatani teori yang
diajarkan guru di dalam kelas untuk
dipraktekkan di laboratorium, atau
menggunakan media lain seperti video
praktikum sederhana (demonstrasi kimia)
yang disesuaikan dengan kondisi sekolah.
tingkat pengetahuan yang berbedabeda
tentang alat dan bahan kimia termasuk
teoriteori yang sudah diperoleh dari guru
hal ini menyebabkan penjelasan yang
diberikan harus dengan analogi-analogi
sederhana yang dekat dengan kehidupan
mereka sehari-hari guna menjembatani
adanya perbedaan pengetahuan yang
dimiliki setiap siswa tanpa mengurangi
makna/prinsip dasar dari teori-teori dalam
ilmu kimia.
Hasil Eksplorasi Masalah Berdasarkan
Wawancara:
1. Fachruddin Aziz, S.Pd.,M.Pd. (Guru
Biologi)
Guru kurang menggunakan dan
memanfaatkan teknologi dalam
pembelajaran dikarenakan terjebak
dengan praktik mengajar lama.
2. Asnawati, S.Pd. (Guru Bahasa Indonesia)
Guru menganggap bahwa metode ceramah
masih lebih baik dibandingkan
menggunakan teknologi dalam
pembelajaran.
3. Hasnah, S.Si.,S.Pd.,Gr ( Wakasek
Sarpras/Guru Matematika), sarana yang
ada di sekolah kurang memadai dan
kurangnya pelatihan pemanfaatan
teknologi dalam pembelajaran menjadi
penyebab guru belum maksimal dalam
menggunakan dan memanfaatkan
teknologi dalam pembeljaran.
Kesimpulan:
1. Agar kegiatan pembelajaran dapat berhasil
dengan baik seorang guru hendaknya
selalu melibatkan peserta didik secara
aktif dan memberikan kesempatan yang
merata guna meningkatkan keaktifan
peserta didik secara individu dan
kelompok.
2. Guru harus selalu mengupdate
pengetahuan dan dan selalu belajar
mengenai perkembangan teknologi dalam
belajar.
3. Materi pelajaran kimia yang berupa konsep
pemahamanan lebih baik diajarkan
dengan menggunakan model pembelajaran
Mind mapping. Karena siswa mempunyai
persiapan di awal dalam pembelajaran dan
membuat siswa menjadi lebih paham
karena harus membaca banyak buku
sumber untuk membuat mind map yang
membutuhkan pemahaman yang
menyeluruh. Selain itu, dengan
menggunakan model pembelajaran Mind
Mapping dapat memacu keberanian siswa
dalam mengemukakan ide dan
memberikan tanggapan dalam proses
pembelajaran.
Sebelum melakukan proses wawancara dengan narasumber pada kegiatan wawancara Guru
senior, rekan sejawat dan pakar terdapat beberapa hal yang perlu disiapkan. Berikut adalah
langkah-langkah persiapan yang saya lakukan :
3. Menentukan narasumber yang akan diwawancarai Adapun narasumber yang dihubungi pada
kegiatan wawancara ini adalah :
Wawancara Guru Senior :
Drs. Deppasau.,S.H.,M.Si. selaku Kepala Sekolah SMAS Kartika XX-1 Makassar
Hasnah, S.Pd., Gr selaku Wakasek Sarpras/Guru Matematika
Raimul,S.S. selaku Wakasek Humas/Guru B. Jepang
Andi Ibrahim, S.Kom. selaku Wakasek Kurikulum/ Guru PKWU
Abdul Hakim, S.Pd.,M.Pd. selaku Wakasek Kesiswaan/ Guru Biologi
Asnawati, S.Pd selaku Guru Bahasa Indonesia
Wawancara Rekan Sejawat:
Muchlas. A.,S.Pd.,Gr selaku Guru Sejarah
Fachruddin Aziz, S.Pd.,M.Pd. selaku Guru Biologi
Wahyudin Haris, S.Pd.,M.Pd., selaku Guru Matematika
Muh. Ashar, S.Pd. selaku Guru Fisika
Rahmawati, S.Pd. selaku Guru Fisika
Hasriani, S.I.P selaku Koordinator Perpustakaan
Wawancara Pakar
Dr. Abd. Gani, M.Pd. selaku Pengawas Dinas Pendidikan Provinsi Sul-Sel
4. Menyusun daftar pertanyaan yang akan diajukan saat wawancara
5. Menyampaikan maksud dan tujuan melakukan wawancara kepada narasumber
6. Meminta kesediaan narasumber dan menentukan waktu dan teknik wawancara, dalam hal
ini wawancara kepada rekan sejawat saya lakukan wawancara secara langsung dan juga
melalui kuesioner sedangkan Bapak Dr. Abd. Gani, M.Pd. saya lakukan melalui sambungan
telepon.
7. Menggunakan bahasa yang baik dan sopan dalam melakukan proses wawancara mengenai
eksplorasi penyebab masalah serta solusi penanganannya
8. Mencatat jawaban narasumber
9. Menyampaikan ucapan terima kasih atas kesediaan narasumber
PEDOMAN WAWANCARA SASARAN
NO DAFTAR PERTANYAAN
1. Pedagogik, Literasi Numerasi
Rendahnya motivasi dan minat Pengawas
belajar siswa Kepala sekolah
Wakasek
Guru senior
Teman sejawat
Masih rendahnya kemampuan Pengawas
literasi dan minat baca siswa Kepala sekolah
Wakasek
Guru senior
Teman sejawat
Koordinator Perpustakaan
Kemampuan Numerasi atau Pengawas
kemampuan Kepala sekolah
aritmetika/matematis siswa Wakasek
masih kurang Guru senior
Teman sejawat
2. Kesulitan belajar siswa termasuk siswa berkebutuhan khusus dan masalah
pembelajaran (berdiferensiasi) di kelas
Pembelajaran berdeferensiasi Pengawas
masih dirasa sulit untuk Kepala sekolah
diterapkan Wakasek
Guru senior
Teman sejawat
Rendahnya rasa percaya diri
siswa saat mengemukakan
pendapat baik secara individu
maupun diskusi kelompok?
Membangun relasi/hubungan dengan siswa dan orang tua siswa.
3.
Orang Tua siswa tidak terlibat Kepala sekolah
dalam beberapa program Wakasek
sekolah khususnya yang Guru senior
menyangkut peningkatan Teman sejawat
kualitas pembelajaran
Beberapa siswa merasa kurang
mendapat perhatian dari orang
tuanya yang berhubungan
dengan perkembangan
belajarnya
4. Pemahaman/ pemanfaatan model-model pembelajaran inovatif berdasarkan
karakteristik materi dan siswa.
Guru belum menerapkan Pengawas
model, metode dan pendekatan Kepala sekolah
pembelajaran yang inovatif
Wakasek
Guru senior
Teman sejawat
5. Materi terkait Literasi numerasi, Advanced material, miskonsepsi, HOTS.
Guru belum menerapkan model Pengawas
pembelajaran berbasis HOTS Kepala sekolah
Wakasek
Guru senior
Teman sejawat
Kelemahan konsep belajar yang
dimiliki siswa yang menyebabkan
terjadinya miskonsepsi dalam
pembeljaran
6. Pemanfaatan teknologi/inovasi dalam pembelajaran.
Guru masih kurang maksimal Pengawas
menggunakan teknologi dan Kepala sekolah
memanfaatkan dalam
pembelajaran Wakasek
Guru senior
Teman sejawat
RUBRIK WAWANCARA
NO DAFTAR PERTANYAAN JAWABAN
1. Pedagogik, Literasi Numerasi
Rendahnya motivasi dan minat Materi yang daiajarkan sulit
belajar siswa Siswa merasa dirinya kurang pintar
Masalah personal/keluarga siswa
Metode mengajar guru
Media mengajar guru
Masih rendahnya kemampuan Kecendrungan siswa menggunakan HP untuk bermain
literasi dan minat baca siswa sosmed daripada dijadikan alat mencari bacaan
Kurangnya sarana dan prasarana pendukung minat baca
Kurangnya fasilitas perpustakaan
Membaca bukanlah suatu keharusan
Membaca belum menjadi budaya sekolah
Kemampuan Numerasi atau Konsep dasar siswa yang masih lemah
kemampuan Kurang terbiasa melatih diri dengan menjawab soal-soal
aritmetika/matematis siswa matematis
masih kurang Lebih mengutamakan menggunakan alat bantu hitung
Kesulitan siswa memahami uraian materi
2. Kesulitan belajar siswa termasuk siswa berkebutuhan khusus dan masalah
pembelajaran (berdiferensiasi) di kelas
Pembelajaran berdeferensiasi Kurangnya pemahaman Guru terkait model pembelaran
masih dirasa sulit untuk berdiferensiasi
diterapkan Guru memerlukan waktu lebih banyak untuk menyusun
media dan model pembelajaran yang disesuaikan dengan
profil belajar siswa
Rendahnya rasa percaya diri Siswa kurang percaya diri mengemukakan pendapanya
siswa saat mengemukakan Siswa meras takut salah menyampaikan pendapat
pendapat baik secara individu Kurangnya perbendaharaan kata yang dimiliki siswa
maupun diskusi kelompok? Pendapat yang disampaikan tidak mendapat apresiasi
Membangun relasi/hubungan dengan siswa dan orang tua siswa.
3.
Orang Tua siswa tidak terlibat Orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak
dalam beberapa program kepada sekolah
sekolah khususnya yang Kurangnya sosialisasi pihak sekolah kepada orang tua siswa
menyangkut peningkatan Kesibukan kerja orang tua
kualitas pembelajaran Pola asuh orang tua
Beberapa siswa merasa kurang
mendapat perhatian dari orang
tuanya yang berhubungan
dengan perkembangan
belajarnya
4. Pemahaman/ pemanfaatan model-model pembelajaran inovatif berdasarkan
karakteristik materi dan siswa.
Guru belum menerapkan Sarana sekolah yang belum memadai
model, metode dan pendekatan Guru sudah merasa nyaman dengan model dan metode
pembelajaran yang inovatif konvensional
Beban administrasi Guru yang banyak sehingga waktu untuk
mengembangkan potensi diri sedikit
Kurangnya pemahaman Guru tentang model pembelajaran
inovatif
Kurangnya pelatihan penerapan model pemebelajaran
inovatif
5. Materi terkait Literasi numerasi, Advanced material, miskonsepsi, HOTS.
Guru belum menerapkan model Lemahnya konsep yang dimiliki siswa pada pembelajaran
pembelajaran berbasis HOTS Kurangnya kemampuan menalar siswa
Kurangnya pemberian stimulus pada proses pembelajaran
Kurangnya pemahaman Guru tentang pembeljaran berbasis
HOTS
Siswa belum terbiasa menyelesaikan soal-soal HOTS
Guru belum mampu menyusun soal HOTS
Guru lebih suka menggunakan soal yang sudah tersedia di
Kelemahan konsep belajar yang buku
dimiliki siswa yang menyebabkan
terjadinya miskonsepsi dalam
pembeljaran
6. Pemanfaatan teknologi/inovasi dalam pembelajaran.
Guru masih kurang maksimal Sarana sekolah yang belum memadai
menggunakan dan Kurangnya pelatihan pemanfaatan teknologi dalam
Guru
memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran
pembelajaran Kurangnya pengetahuan dan kemampuan
menggunakan IT
Guru sudah nyaman dengan media yang telah ada
DAFTAR PERTANYAAN
TUGAS WAWANCARA MAHASISWA PPG DALAM JABATAN KATEGORI II
UNIVERSITAS MUSAMUS MERAUKE
NAMA :
JABATAN :
UNIT KERJA :
NO DAFTAR PERTANYAAN JAWABAN
Pedagogik, Literasi Numerasi
1. Mengapa kebanyakan siswa
memiliki minat dan motivasi dan
belajar sangat rendah ketika belajar
?
Mengapa kemampuan literasi dan
minat baca siswa kurang pada
materi seperti SPU, Stoikiometri,
larutan, Senyawa ?
Mengapa kemampuan Numerasi
atau kemampuan aritmetika siswa
masih rendah pada materi
Stoikimetri dan hukum-hukum
dasar ?
2. Kesulitan belajar siswa termasuk siswa berkebutuhan khusus dan masalah pembelajaran
(berdiferensiasi) di kelas
Mengapa guru sulit menerapkan
pembelajaran berdeferensiasi pada
siswa yang memiliki gaya belajar
yang berbeda-beda, khususnya
mata pelajaran ?
Mengapa masih terdapat siswa yang
malu berbicara di depan teman
temannya ketika sesi diskusi
kelompok pada mata pelajaran ?
3. Membangun relasi/hubungan dengan siswa dan orang tua siswa.
Mengapa orang tua siswa jarang
terlibat dalam program peningkatan
mutu pembelajaran di sekolah?
Mengapa siswa sering merasakan
kurang mendapat perhatian dari
orang tuanya yang berhubungan
dengan perkembangan belajarnya?
4. Pemahaman/ pemanfaatan model-model pembelajaran inovatif berdasarkan
karakteristik materi dan siswa.
Mengapa Guru sulit menerapkan
model pembelajaran inovatif
khususnya dalam mengajar ?
Model Pembelajaran apa yang
dapat diterapkan untuk
meningkatkan aktivitas dan hasil
belajar siswa pada mata pelajaran ?
5. Materi terkait Literasi numerasi, Advanced material, miskonsepsi, HOTS.
Mengapa sulit membelajarkan siswa
soal soal yang berbasis HOTS pada
materi ?
Mengapa siswa masih kurang
mampu menghubungkan antara satu
konsep dengan konsep lain pada
setiap materi yang telah dipelajari?
Pernahkah ketika mengajar,
Bapak/Ibu menemukan siswa yang
mengalami miskonsepsi pada
materi yang diajarkan?
Penyebabnya apa?
6. Pemanfaatan teknologi/inovasi dalam pembelajaran.
Mengapa Guru masih kurang
menggunakan dan memanfaatkan
teknologi dalam pembelajaran ?
…………………….……………………September 2022
Nama Narasumber
(…………………………………………………………..)
DOKUMENTASI WAWANCARA