INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR KELAS : 4B
PROSES
BELAJAR
MENGAJAR
DIAN ROHMANSAH (0142S1B020043)
PUTRI PATWA AULIA (0142S1B020057)
A. Pengertian Belajar Mengajar di Kelas
Ilustrasi KBM di sekolah./PIXABAY/Steveriot1
Robert M. Gagne memandang bahwa belajar adalah perubahan
yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara
terus-menerus yang bukan hanya disebabkan oleh proses
pertumbuhan saja.
Menurut Slameto (2015: 2) belajar adalah suatu proses usaha
yang dilakukan seseorang untuk memperoleh sesuatu
perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai
hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya.
Sedangkan, mengajar adalah segala upaya yang disengaja dalam
rangka memberi kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya
proses belajar sesuai tujuan yang dirumuskan (Muhammad
Ali,1992).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa belajar mengajar adalah suatu
kegiatan yang sengaja dilakukan guna memberikan ilmu atau
pengetahuan kepada siswa agar siswa mendapatkan perubahan
tentunya dalam hal yang positif. Dalam hal ini adanya satu
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan yaitu antara guru dan
siswa atau murid. Semua komponen pengajaran diperankan
secara optimal guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan
sebelum pengajaran dilaksanakan (Djamarah dan Zain, 2002)
B. Prinsip Mengajar
Karyailmu99.blogspot.com
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001: 896) kata prinsip berasal
dari bahasa latin yang berarti “asas (kebenaran yang menjadi pokok
dasar berfikir, bertindak, dan sebagainya)”. Prinsip merupakan pegangan
atau kepercayaan yang diterima untuk melaksanakan sesuatu atau
bertindak.
Menurut Surya (2010: 16) prinsip- prinsip mengajar adalah suatu aturan
yang berlaku bagi seorang guru dalam menyampaikan materi pelajaran.
Prinsip-prinsip tersebut haruslah diketahui dan dipahami oleh seorang
guru ataupun calon guru agar proses belajar mengajar dapat dilakukan
dengan baik dan berhasil sesuai dengan tujuannya karena prinsip
tersebut disebut dengan asas didaktik.
Menurut Ibrahim (2012: 182-187) ada 8 prinsip-prinsip mengajar guru
yaitu:
a) prinsip perhatian,
b) prinsip aktivitas,
c) prinsip keterlibatan langsung atau berpengalaman,
d) prinsip pengulangan,
e) prinsip tantangan,
f) prinsip balikan dan penguatan,
g) prinsip perbedaan individual,
h) prinsip motivasi.
Sedangkan menurut Sanjaya (2013: 224-228) ada 9 prinsip-prinsip
mengajar guru yaitu:
a) prinsip berorientasi pada tujuan,
b) prinsip keaktifan,
c) prinsip individualitas,
d) prinsip integritas,
e) prinsip interaktif,
f) prinsip inspiratif,
g) prinsip menyenangkan,
h) prinsip menantang,
i) prinsip motivasi.
Dari kedua pendapat di atas, dapat disimpulkan prinsip-prinsip mengajar
guru yaitu :
a) prinsip inspiratif,
b) prinsip motivasi,
c) prinsip keaktifan,
d) prinsip perhatian,
e) prinsip tantangan,
f) prinsip interaktif,
g) prinsip menyenangkan.
Prinsip inspiratif adalah proses yang inspiratif, yang memungkinkan
siswa untuk mencoba dan melakukan sesuatu (Sanjaya 2013: 226).
Guru harus membiarkan siswa melakukan berbagai hal dengan
inspirasinya sendiri, karena pada dasarnya pengetahuan bersifat
subjektif yang dimaknai oleh setiap subjek belajar.
Prinsip motivasi merupakan aspek yang paling penting untuk
membelajarkan siswa. Karena tanpa adanya motivasi tidak mungkin siswa
mempunyai kemauan untuk belajar. Motivasi merupakan dorongan siswa
untuk bertindak atau melakukan sesuatu. Oleh karena itu, tugas guru untuk
membangkitkan motivasi belajar siswa merupakan suatu hal yang sangat
penting.
Menurut Slameto (2015: 36) keaktifan merupakan proses belajar mengajar
guru perlu menimbulkan aktivitas siswa dalam berfikir dan berbuat.
Mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri merupakan keaktifan siswa
dalam kegiatan belajar mengajar.
Perhatian adalah memusatkan pikiran dan perasaan emosional secara
fisik dan psikis terhadap sesuatu yang menjadi pusat perhatiannya
(Ibrahim 2012: 182-187). Perhatian ini bisa terjadi secara spontan
ataupun direncanakan. Dalam proses pembelajaran perhatian ini akan
terjadi di dalam diri siswa terhadap materi atau mata pelajaran yang
diminati atau dianggap penting. Sedangkan, menurut menurut
Slameto (2010: 35) perhatian adalah kegiatan yang diberikan oleh guru
kepada peserta didik sehingga menimbulkan rangsangan yang datang
dari lingkungannya.
Prinsip tantangan adalah proses pembelajaran yang menantang siswa
untuk mengembangkan kemampuan berpikir, yakni merangsang kerja
otak secara maksimal (Sanjaya 2013: 227). Kemampuan ini dapat
ditumbuhkan dengan melakukan kegiatan mencoba-coba berpikir
secara intuitif atau bereksplorasi untuk mengembangkan rasa
keingintahuan siswa. Guru harus melakukan kegiatan yang dapat
merangsang agar siswa berfikir (learning how to learn) dan melakukan
(learning how to do).
Prinsip interaktif mengandung makna bahwa mengajar bukan hanya
sekedar menyampaikan pengetahuan dari guru ke siswa, akan tetapi
mengajar dianggap sebagai proses mengatur lingkungan yang dapat
merangsang siswa untuk belajar (Sanjaya 2013: 226). Proses
pembelajaran dalam prinsip ini merupakan proses interaksi antara
guru dan siswa, siswa dan siswa, maupun siswa dengan
lingkungannya. Maka melalui proses interaksi ini kemampuan siswa
dapat bertambah dan meningkat baik secara intelektual maupun
mental.
Menurut Sanjaya (2013: 227) prinsip menyenangkan adalah proses
pembelajaran yang dapat mengembangkan seluruh potensi siswa.
Potensi siswa dapat berkembang saat siswa terbebas dari rasa cemas,
rasa takut, dan menegangkan, maka dari itu proses pembelajaran
haruslah diciptakan dengan menyenangkan.
C. Berbagai Gaya Mengajar di Kelas
Proses belajar mengajar untuk aspek perkembangan siswa, Gaya
mengajar guru adalah proses belajar mengajar untuk aspek
perkembangan siswa, baik dalam kedudukannya sebagai pengajar,
pendidik pembimbingan, dimaksudkan sebagai perlakuan yang
diterapkan guru dalam menstimulus dan merespon kebutuhan belajar
siswa-siswanya.
Claife telah melakukan hasil penelitian (salam syah, 1995) dalam
mengelola proses belajar mengajar ada gaya penampilan dan mengajar
guru diantaranya yaitu :
1. Gaya mengajar guru otoriter
Dedi26.blogspot,com
Guru dengan gaya mengajar otoriter dalam proses belajar mengajar selalu
mengarahkan segala aktivitas siswa. Hanya sedikit kesempatan
memutuskan cara belajar yang didapatkan oleh siswa .Siswa sering
merasa kesal dan marah terhadap guru semacam ini, mereka merasa
kreativitasnya terhambat terutama siswa pria. Guru ini mencirikan
berwatak otoriter yaitu keras dan kaku dalam mengarahkan aktivitas
proses belajar mengajar dan menghambat kebebasan akademik siswa.
Slavin (19991) mengemukakan bahwa guru yang menerapkan disiplin
otoriter dalam mendidik anak cenderung tidak memberikan ruang gerak
yang kondusif bagi perkembangan kepribadian anak. bahkan disiplin
otoriter membuat anak gugup, bersikap bermusuhan dan antagonis.
2. Gaya mengajar guru laissez-faire
Dewanpendidikan.com
Biasanya gemar mengubah arah dan cara pengelolaan proses belajar
mengajar seenaknya. yang membuat siswa kesulitan dalam
mempersiapkan diri. profesinya sebagai pendidik sesungguhnya guru
tersebut tidak menyenanginya, meskipun memiliki kemampuan yang
memadai. Kelemahan lain adalah pertentangan kecil yang menjadi
kebiasaan rutin. Slavin (1991) menegaskan guru yang menegangkan
disiplin gaya Laissez-faire dalam mendidik anak, akan membuat anak
kurang bertanggung jawab, kurang menghargai aturan dan egosentris,
padahal cerminan sekap semacam ini kurang dapat mendukung
penciptaan sikap kompetitif.
3. Gaya mengajar demokratis
Guru yang memiliki sifat demokratis ini pada umumnya di senangi teman
seprofesinya maupun oleh siswa, karena dianggap baik dan ideal.
Alasannya, walaupun pekerjaan diselesaikan secara mandiri namun guru
demokratis ini lebih senang bekerjasama dengan teman seprofesinya.
Peluang akademik kepada siswa sering diberikan oleh guru yang
demokratis ini sehingga kesempatan untuk mengaktualisasikan dirinya
banyak didapatkan oleh siswa. Guru tipe ini setiap saat akan mengurangi
materi sesuai kebutuhan belajar siswa ataupun memperkaya
pengetahuan kepada siswa, mereka tidak menganggap materi adalah
barang jadi yang siap santap dan tidak boleh diotak-atik. Antara guru dan
siswa akan merasakan kebersamaan dan kepuasan pada waktu belajar
mengajar seperti ini.
Ilustrasi Pendidikan. Foto: Ist
Dari beberapa kajian mengenai gaya mengajar guru, maka gaya mengajar
demokratislah yang dianggap paling baik dan ideal. Hal ini dikarenakan
guru tipe ini selalu memikirkan perasaan dan selalu mempertimbangkan
kondisi anak-anak. Dalam mengajar mereka tidak hanya sekadar
menjalankan tugas yang bersifat akademik, namun mereka juga
menyentuh dan membahas terkait non-akademik, yaitu aspek sosial dan
emosi anak. Wimbarti (1997) mengemukakan bahwa guru tipe ini selalu
berusaha untuk menambah pengetahuan tentang perkembangan
psikologi siswa dalam aspek fisik, intelektual, emosi dan sosial, bahkan
mereka juga selalu mengantisipasi perubahan-perubahan yang mungkin
akan terjadi di masa depan.
Tugas guru ke depan sangat berat, dimana sistem pendidikan di sekolah
hendaknya mulai mengarahkan pengembangan potensi anak didik secara global.
Apabila seorang guru konsisten dalam menjalankan tugasnya dan
mengembangkan gaya mengajar demokratis kondisi fungsi otak kanan terutama
perkembangan emosi dan konasi anak dapat dikembangkan.
Dengan adanya guru dengan gaya mengajar demokratis diharapkan akan mampu
menciptakan kegiatan pembelajaran yang efektif dan kondusif sehingga sampai
pada tujuan pembelajaran. Usman (1995) mengemukakan ada lima faktor penentu
agar kondisi belajar mengajar yang efektif, yaitu : (a) melibatkan siswa secara aktif,
(b) menarik minat dan perhatian siswa, (c) disiplin guru di dalam lingkungan kelas,
(d) perlakuan andil terhadap semua siswa.
Gaya guru demokratis menentukan tinggi rendahnya motivasi belajar siswa.
Menurut Tilar (1999) tinggi rendahnya motivasi belajar siswa diakibatkan oleh : (a)
kurangnya waktu, kesempatan dan peluang bagi siswa untuk bermain-main dengan
gagasan atau konsep dan mencoba sesuatu yang baru, akibatnya mereka
kehilangan inisiatif dan dorongan keingintahuan tidak berkembang dengan baik. (b)
siswa tidak terbiasa dengan dorongan untuk menggunakan kecerdasan emosional
dan kecerdasan intelektual dalam bertindak khususnya dalam belajar. Ini
mengakibatkan mereka takut ketika membuat kesalahan dan takut kalah, daripada
mengenali dan memperbaiki kesalahan. (c) siswa tidak mampu mengenali potensi
diri. Mereka akan mengalami kesulitan dalam merencanakan dan mempersiapkan
kehidupan di masa yang akan datang jika mereka tidak mengenali nilai-nilai diri,
lingkungan, dan tujuan hidupnya sendiri.
D. Mengajar yang Efektif
Peranan guru dalam mengajar ialah menciptakan belajar yang efektif. Efektif
artinya tepat dan cepat. Tepat yaitu berkesan, membekas di dalam hati siswa,
setiap siswa memiliki dorongan untuk melakukan perubahan positif tanpa
adanya paksaan dari orang lain (keinginan pribadi). Cepat berarti rencana
pelajaran yang ditetapkan sesuai dengan tujuan pengajaran yang digariskan. Di
samping itu, mengkondusifkan situasi belajar mengajar dituntutkan kepada guru.
Untuk mewujudkan mengajar yang efektif, Jhon W. Santrock dalam salah satu
bukunya bahwa guru yang efektif memiliki kemampuan sebagai berikut:
1. Memiliki pengetahuan dan keahlian profesional
Menguasai materi pelajaran dan keahlian atau keterampilan mengajar
yang baik harus dikuasi oleh guru yang efektif. Guru yang efektif memiliki
strategi pengajaran yang didukung oleh metode rancangan, penetapan
tujuan, manajemen kelas dan pengajaran. Mereka harus mengetahui
bagaimana cara berkomunikasi, memotivasi, dan bagaimana
berhubungan yang baik dengan siswa dari berbagai macam kultural.
2. Penguasaan materi pelajaran
Berpengetahuan, flaksible, danmemahami materi, pengetahuan subjek
materi bukan hanya mencakup fakta, istilah dan konsep umum haruslah
dimiliki oleh jika ingin menjadi guru yang efektif. Hal inipun
membutuhkan pengetahuan tentang dasar-dasar pengorganisasian
materi, cara berfikir dan berargumen pola perubahan dalam suatu mata
pelajaran.
3. Penguasaan strategi pengajaran
Menurut pandangan konstruktivis, guru buka sekedar memberi formasi
kepikiran anak, akan tetapi guru harus mendorong anak untuk
mengeksplorasi dunia mereka, menemukan pengetahuan, merenung
dan berfikir secara kritis (Brooks&Brooks,2001). Konstruktivisme juga
menekankan pada kolaborasi-anak-anak saling bekerjasama untuk
mengetahui dan memahami pelajaran (Gauvain, 2001). Guru yang
menganut filosofi konstruktivisme akan memberikan peluang untuk
membangun pengetahuan dan pemahaman materi pelajaran bukan
hanya sekedar meminta anak menghafal informasi.
4. Penetapan tujuan dan keahlian perencanaan
intruksional
Guru yang efektif tidak hanya mengajar di kelas, entah menggunakan
perspektif tradisional atau konstruktivis. Pintrich&Schunk (2002)
mengatakan bahwa mereka harus menentukan tujuan pengajaran dan
menyusun rencana untuk mencapai tujuan itu. Juga harus menyusun
rencana internasional, agar murid meraih hasil maksimal dari kegiatan
belajarnya. Dalam menyusun rencana, agar pelajaran menantang
sekaligus menarik guru hendaknya memikirkan bagaimanapun caranya.
5. Keahlian manajeman kelas
Mampu menjaga kelas yang tetap aktif bersama dan mengorientasikan
kelas ke tugas-tugas merupakan aspek lain yang harus dimiliki untuk
menjadi guru yang efektif. Guru yang efektif akan membangun dan
mempertahankan lingkungan belajar yang kondusif.
6. Keahlian komunikasi
Keahlian berkomunikasi sangatlah penting, bukan hanya untuk
mengajar tetapi juga untuk berinteraksi dengan sesama guru ataupun
wali murid. Guru yang efektif akan menggunakan keahlian
berkomunikasi untuk berbicara dengan baik dan santun kepada murid,
wali murid ataupun sesama guru.
7. Keahlian motivasional
Memotivasi murid agar mau belajar guru harus memiliki strategi yang
baik. Menurut Brohy (1998) psikologi pendidikan percaya bahwa
motivasi ini paling baik didorong dengan memberi kesempatan murid
belajar di dunia nyata, agar setiap murid berkesempatan menemui
sesuatu yang baru dan sulit. Siswa bisa memilih untuk sesuatu yang
sesuai dengan minatnya, dan ciri guru yang efektif akan mengetahui
minat siswanya itu. Menurut Runco (1999) Guru yang baik akan
memberi kesempatan murid untuk berfikir kreatif dan mendalam
untuk proyek mereka sendiri.
8. Bekerja secara efektif dengan murid dari latar belakang kultural
yang lain
Guru yang efektif haruslah mengerti bahwa setiap siswa memiliki latar
belakang kultural yang berbeda-beda dan sensitif terhadap
kebutuhan masing-masing. Dan guru yang efektif haruslah berusaha
untuk mendorong siswa untuk saling menghargai perbedaan kultural
ini.
9. Keahlian teknologi
Dibutuhkan sayarat atau kondisi lain untuk mencipatakan lingkungan
belajar yang mendukung proses belajar murid (Earle, 2000). Kondisi
ini ialah visi dan dukungan dari tokoh pendidikan: penilaian efektivitas
teknologi untuk pembelajaran, guru yang menguasai teknologi untuk
pengajaran, standar isi kurikulum, dan memandang anak sebagai
pembelajar yang aktif dan konstruktif.
dinasauralive.fandom.com Amerika merupakan salah satu negara maju, di sana
teknologi sangat efektif untuk mengajar. Contohnya,
murid di sekolah Chicago sedang mengeksplorasi
hewan-hewan purba zaman es di Illionis. Dengan
menggunakan internet, mereka menjelajah Museum
Ilionis (berjarak sekitar 200 mil dari sekolah mereka)
dan kebun Binatang Brookfield (berjarak 10 mil dari
sekolah mereka) untuk mengumpulkan informasi
dan berbicara dengan beberap pakar melalui video
dua arah. Lalu mereka menyusun database
elektronik serta menyusun dan menganalisis temuan
mereka. Mereka melaporkan temuan mereka melalui
website yang diberi tajuk “Mastadons in Our Back
Yard”
E. Faktor yang Mempengaruhi Sistem Pembelajaran
Proses belajar mengajar dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu diantaranya :
guru, siswa, dan lingkungan
1. Faktor guru
Dalam implementasi suatu strategi pembelajaran
guru merupakan komponen yang paling penting.
Peran guru apalagi untuk siswa pada usia pendidikan
dasar tidak mungkin digantikan oleh perangkat lain
seperti televisi, radio, komputer dan lain sebagainya.
Sebab siswa adalah organisme yang sedang
berkembang yang memerlukan bimbingan dan bantuan dari orang dewasa (Wina
Sanjaya 201:198). Artinya, sebagus apapun strategi pembelajaran yang dapat
diaplikasikan tanpa guru maka tidak akan terwujud. Kepiawaian guru dalam
menggunakan metode, model, teknik dan media pembelajaran dapat menentukan
keberhasilan dari suatu strategi pembelajaran dalam implementasi pembelajaran.
Kemampuan dan cara pandang setiap guru berbeda-beda, ada yang menganggap
bahwa pemberian pengalaman baru agar pengetahuan siswa bertambah dapat
dilakukan pada saat mengajar, tetapi ada juga guru yang menganggap belajar
hanya sebatas penyampaian materi.
Menurut Dunkin (1974) kualitas proses pembelajaran dapat dilihat dari sejumlah
aspek dari faktor guru yaitu : "teacher formative experience, teacher training
experience and teacher proporties".
Teacher formative experience, latar belakang sosial guru dipengaruhi oleh jenis
kelamin dan pengalaman hidupnya. Yang termasuk kedalam aspek ini diantaranya :
tempat asal kelahiran guru, suku, adat istiadat atau latar belakang budaya, keadaan
keluarga, misalnya guru tersebut berasal dari keluarga yang harmonis atau tidak,
berada atau tidak.
Teacher training experience merupakan pengalaman yang berkaitan
dengan keaktifan pendidikan guru, misalnya pengalaman latihan
profesional, pengalaman jabatan, tingkat pendidikannya, dan lain-
lain.
Teacher proporties merupakan sesuatu yang berhubungan dengan
sifat, misalnya sikap guru terhadap siswa, sikap guru terhadap
profesinya, intelegensi guru atau kemampuan, motivasi. Hal yang
dapat mempengaruhi proses pembelajaran salah satunya yaitu
pandangan guru terhadap suatu mata pelajaran. Misalnya, guru
berpandangan bahwa pelajaran IPS merupakan pelajaran yang lebih
memperbanyak hafalan daripada pelajaran olahraga yang lebih
menekankan kepada fisik dan juga akan berbeda dengan pelajaran IPA
yang lebih memperbanyak ekplorasi dan meningkatkan kemampuan
berfikir siswa. Pada pandangan guru yang berbeda terhadap mata
pelajaran tersebut akan berpengaruh terhadap cara penyajian materi
pelajaran.
2. Faktor siswa
Selain guru, aspek siswa juga berpengaruh dalam proses pembelajaran. Aspek latar
belakang siswa menurut Dunkin (1974) disebut pupil formative experience serta
faktor yang dimiliki siswa (pupil properties).
Aspek latar belakang siswa (formative experience) yaitu jenis kelamin, tingkat
ekonomi sosial, tingkat ekonomi orang tua siswa, keluarga asal siswa, tempat
kelahiran dan tempat tinggal siswa.
Aspek sifat (pupil properties) yaitu meliputi kemampuan dasar, sikap dan pengetahuan.
Kemampuan yang dimiliki oleh siswa tentunya berbeda-beda, ada yang memiliki kemampuan
rendah, sedang dan tinggi. Kemampuan ini tergantung dari motivasi belajar yang dimiliki oleh
siswa, siswa yang memiliki kemampuan rendah cenderung malas untuk belajar atau
mengerjakan tugas. Sedangkan, siswa yang memiliki kemampuan tinggi, biasanya rajin dalam
belajar dan mengerjakan tugas. Dari perbedaan tersebut maka haruslah guru memberikan
perlakuan yang berbeda kepada siswa, dan membuat siswa yang memiliki kemampuan
rendah untuk lebih termotivasi dalam belajar. Juga tingkat pengetahuan dipengaruhi oleh
kemampuan dasar, sedangkan sikap sikap siswa saat belajar sangat berkaitan dengan
pengetahuan yang dimilikinya. Jadi, ketiga ini saling berkaitan.
3. Faktor lingkungan
Proses belajar siswa sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti keluarga(paling
utama orang tua siswa) dan lingkungan luar (teman dan masyarakat).
Keluarga merupakan faktor yang paling utama,
karena waktu siswa berada di rumah lebih banyak
daripada di sekolah. Keberhasilan siswa
ditentukan oleh orang tua. Namun, kebanyakan
orang tua menyerahkan prestasi anaknya kepada
guru di sekolah terutama yang berkaitan dengan
prestasi akademik. Maka sebaiknya orang tuapun
harus ikut andil dalam mengembangkan prestasi anak.
Orang tua bisa menanyakan beberapa hal kepada anak sebagai bentuk peduli
seperti tugas apa yang sudah diberikan oleh guru di sekolah, apa yang mereka
lakukan di sekolah, ada kejadian apa tadi di sekolah, apa kesulitan yang dihadapi,
jika orang tua sering mendampingi dan peduli terhadap anak, anak akan
semakin termotivasi dan giat untuk belajar. Hal tersebut juga dapat membentuk
karakter anak sehingga menjadi bertanggung jawab dan menjadi anak yang baik.
Faktor lingkungan luar salah satunya adalah teman.
Seorang anak adalah peniru terhebat, maka memilih
teman merupakan salah satu cara untuk
membentuk kepribadian anak. Memilih teman yang
pemalas, pembangkang, nakal, dapat mempengaruhi
karakter anak. Sebaliknya, ketika bersama teman yang
baik, soleh dan rajin juga dapat mempengaruhi anak
yang lain. Selain teman faktor masyarakat juga dapat
memperoleh kepribadian siswa, misalnya siswa yang berada di lingkungan
masyarakat yang suka bermain judi, mabuk-mabukan dapat membentuk pola pikir
siswa, dan berpikir bahwa kebiasaan tersebut merupakan kebiasaan yang baik dan
wajar untuk dilakukan.
Daftar Pustaka
Djuwariyah. (2002). Gaya mengajar guru dalam proses belajar
mengajar. Gaya mengajar, 28-31.
Hanafy, M. S. (2014). Konsep Belajar dan Pembelajaran. Lentera
Pendidikan, 17, 69-70.
Hidayatullah, S. P. (2018). Pengaruh penerapan prinsip-prinsip
mengajar guru terhadap hasil belajar siswa. Manajemen,
Kepemimpinan, dan Supervisi Pendidikan, 234-236.
Juniati, E. (2017). Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui
Metode Drill dan Diskusi Kelompok pada Siswa Kelas VI SD. Article
info, 284-285.
Kusumawati, N. d. (2019). Strategi Belajar Mengajar di Sekolah
Dasar. Magentan: CV. AE MEDIA GRAFIKA.
Rowikarim, A. (2013). Mengajar yang efektif menjadi penentu
kualitas seorang guru. Jurnal pendidikan universitas Garut, 07, 44-
47.