The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

L A P O R A N 2
DESAIN PEMBELAJARAN INOVATIF
By Diana Kusmawati

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Diana Kusmawati., S.Pd., 2023-06-26 13:49:59

Diana Kusmawati _LAPORAN 2 DESAIN PEMBELAJARAN INOVATIF

L A P O R A N 2
DESAIN PEMBELAJARAN INOVATIF
By Diana Kusmawati

Keywords: LAPORAN 2 PPG

L A P O R A N 2 DESAIN PEMBELAJARAN INOVATIF DIANA KUSMAWATI 2019 0109 2016 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI GURU UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA ( UPI ) BANDUNG 2023


KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahhirobbil’alamin, Tiada kata yang mewakili perasaan saya saat ini kecuali rasa puji dan syukur kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan karuniyaaN, shalawat serta syukur kepada nabi besar Muhammad SAW, yang telah memberikan syafaat kepada kita semua sebagai umatnya, sehingga tugas “Laporan 2 Desain Pembelajaran Inovatif” ini dapat tersusun sedemikian rupa, untuk memenuhi tugas yang diberikan dalam Pendidikan Profesi Guru (PPG) tahun 2023 ini. Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat. Saya ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang tak lelah menerima ajakan diskusi. Selain itu saya sangat berterima kasih kepada orang tua, sahabat, dan teman-teman. Mereka telah memberikan dukungan serta doa sehingga saya memiliki kekuatan lebih untuk mengumpulkan data dan melakukan analisis. Laporan 2 Desain Pembelajaran Inovatif ini sangat berkesan untuk saya secara personal. Sebagai guru penggerak mendapatkan pengalaman belajar dan memperoleh wawasan serta ilmu terkait pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran social emosional, coaching, pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dan kepemimpinan pengembangan sumber daya. Saya menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan. Sebagai penulis, saya berharap pembaca bisa memberikan kritik agar tulisan selanjutnya jauh lebih baik. Di sisi lain, saya berharap pembaca menemukan pengetahuan baru dari laporan ini. Walaupun tulisan ini tidak sepenuhnya bagus, saya berharap ada manfaat yang bisa diperoleh oleh pembaca. Demikian sepatah kata dari saya. Ngamprah, Juni 2023 Penyusun Diana Kusmawati i


DAFTAR ISI KATA PENGANTAR …………………………………………..….. i DAFTAR ISI ……………..…………………………………..….. ii DAFTAR GAMBAR ……………..……………………………..….. iii RINGKASAN ……………..…………………………………..….. iv BAB I. PENDAHULUAN ………………………………………..… 1 A. Latar Belakang ………………………………………..…… 1 B. Tujuan Kegiatan ………………………………………..…… 2 C. Manfaat Kegiatan ………………………………………..…… 2 BAB II. PEMBAHASAN ……………………………..…………… 4 A. Pembelajaran Berdiferensiasi ………………………………. 4 B. Pembelajaran Sosial dan Emosional ………………………….. 6 C. Coaching ……………………………………………………... 7 D. Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran …… 9 E. Kepemimpinan dalam Pengembangan Sumber Daya ………… 10 BAB III. PENUTUP ………………………………………………… 13 A. Refleksi ……………………………………………………… 13 B. Tindak Lanjut ………………………………………………… 14 DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………… 16 LAMPIRAN …………………………………………………...…… 17 ii


DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1. Chanel Youtube Aksi Nyata Pembelajaran Berdiferensisasi Gambar 2.2. Chanel Youtube Aksi Nyata Pembelajaran Sosial Dan Emosional (PSE) Gambar 2.3. Chanel Youtube Aksi Nyata Coaching Gambar 2.4. Aksi Nyata Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran Gambar 2.5. Chanel Youtube Pemetaan Tujuh Kelompok Aset Sumber Daya Sekolah iii


RINGKASAN Dalam mempelajari pembelajaran untuk Modul “Pembelajaran Berdiferensiasi” penulis berharap mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mulai menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas dan mendapatkan kepercayaan diri serta keyakinan bahwa penulis sebagai pendidik mampu melakukannya. Pembelajaran sosial dan emosional diawali dengan kesadaran penuh bahwa tidaklah cukup apabila peserta didik hanya mengembangkan kemampuan akademiknya saja. Peserta didik juga perlu mengembangkan aspek sosial dan emosionalnya. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi sosialemosional berperan penting dalam keberhasilan akademik maupun kehidupan seseorang. Sebagai pendidik yang berinteraksi dengan murid dan orang dewasa di lingkungan sekolah, Adapun tujuan dari mempelajari pembelajaran sosial dan emosional diharapkan mampu mengelola aspek sosial dan emosional dalam berperan sebagai pendidik, mampu enerapkan pembelajaran sosial dan emosional dalam lingkup kelas, lingkungan sekolah, dan komunitas. Coaching diperlukan karena murid kita adalah sosok merdeka. Sosok yang dapat menentukan arah dan tujuan pembelajarannya, serta meningkatkan potensinya sendiri. Mereka hanya memerlukan dorongan dan arahan dari guru sebagai pemimpin pembelajaran untuk melejitkan potensi mereka. Dengan keterampilan coaching, harapannya anak didik kita menjadi lebih terarah dan dapat menyelesaikan masalahnya sendiri yang pada akhirnya dapat meningkatkan potensi mereka. Pengambilan keputusan yang tepat dan bijak sebagai pemimpin pembelajaran akan sangat mempengaruhi kehidupan atau masa depan muridmuridnya. Seorang guru ketika mengambil sebuah keputusan akan menjadi pembelajaran bagi setiap muridnya. Keputusan-keputusan itu akan menjadi teladan serta memotivasi dan mendukung potensi murid. Dan pada akhirnya membawa pengalaman yang sedikit banyak mempengaruhi cara berfikir mereka kelak. Setiap iv


keputusan yang dibuat seorang guru dalam pembelajaran akan memaksimalkan potensi setiap anak atau sebaliknya. Sehingga keberhasilan seorang guru bukan hanya mengajarkan kecerdasan kognitif melainkan kecerdasan social- emosional serta spiritual secara menyeluruh. Mempelajari modul pemimpin dalam pengelolaan sumber daya sangat bermanfaat bagi penulis, banyak wawasan dan ilmu yang di dapatkan untuk memperbaiki komunitas di sekolah dan memperbaiki rencana selanjutnya agar lebih maksimal lagi dalam memanfaatkan sumber daya yang di miliki sekolah, penulis merasa sebagai guru harus mampu memimpin dalam mengelolah sumber daya melalui pendekatan berbasis aset kekuatan bukan mengembangkan pendekatan asset berbasis kekurangan. v


BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Program Guru Penggerak bertujuan untuk menyiapkan para pemimpin pendidikan Indonesia masa depan, yang mampu mendorong tumbuh kembang murid secara holistik; aktif dan proaktif dalam mengembangkan guru di sekitarnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid; serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil Pelajar Pancasila. Untuk mendukung tercapainya tujuan tersebut, Program Pendidikan Guru Penggerak dijalankan dengan menekankan pada kompetensi kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership) yang mencakup komunitas praktik, pembelajaran sosial dan emosional, pembelajaran berdiferensiasi yang sesuai perkembangan murid, dan kompetensi lain dalam pengembangan diri dan sekolah. Sebagai pendidik penulis meyakini dan mempercayai bahwa anak lahir dengan keunikannya masing-masing. Sebagai pendidik, memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa setiap anak mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dengan cara terbaik yang sesuai untuk mereka. Melalui praktek pembelajaran berdiferensiasi, murid tidak hanya dapat memaksimalkan potensi mereka, tapi mereka juga dapat belajar tentang berbagai nilai-nilai kehidupan yang penting. Nilai-nilai tentang indahnya perbedaan, menghargai, makna baru dari kesuksesan, kekuatan diri, kesempatan yang setara, kemerdekaan belajar, dan berbagai nilai penting lainnya yang akan berkontribusi terhadap perkembangan diri mereka secara lebih holistik/utuh. Oleh karena itu, penting untuk para pendidik mengetahui bagaimana proses pembelajaran berdiferensiasi ini dapat dilakukan, dengan cara-cara yang memungkinkan guru untuk dapat mengelolanya secara efektif. 1


B. Tujuan Kegiatan Aksi nyata yang penulis laksanakan selama dalam masa proses program guru penggerak mendapatkan pengalaman belajar dan memperoleh wawasan serta ilmu terkait pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran social emosional, coaching, pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dan kepemimpinan pengembangan sumber daya. Sehingga pada akhirnya penulis berharap penerapan desain pembelajaran inovatif yang sudah dilakukan penulis selama menjalankan program pendidikan guru penggerak ini adalah terciptanya pembelajaran melalui inovasi-inovasi baru yang aman, nyaman dan menyenangkan sehingga terciptanya profil pelajar Pancasila dalam kehidupan sehari hari pada sekolah penulis khususnya. Sedangkan tujuan dari kegiatan laporan desain pembelajaran inovatif ini adalah untuk membantu dan memberikan gambaran dan deskripsi secara sederhana dalam penerapan pembelajaran inovatif yang sudah dilakukan penulis selama mengikuti program guru penggerak di SD Negeri Babakan Cianjur. C. Manfaat Kegiatan Pencapaian pembelajaran inovatif diharapkan dapat berdampak bagi semua warga sekolah, khususnya di lingkungan SD Negeri Babakan Cianjur, dimana penulis sebagai guru harus terus berinovasi dalam menciptakan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan filosofis Ki Hadjar Dewantara yang berpusat pada murid melalui penerapan-penerapan hasil belajar pada modul selama mengikuti program guru penggerak. Adapun manfaat kegiatan yang didapatkan selama melakukan aksi nyata pembelajaran inovatif tersebut adalah sebagai berikut : 1) Bagi Penulis Manfaat yang didapatkan penulis antara lain mampu menggerakkan komunitas belajar di sekolah, menjadi pengajar praktik bagi guru lain, mendorong guru melakukan coaching dengan rekan sejawat maupun dengan murid, mengambil keputusan dalam pembelajaran, membuka ruang diskusi 2


positif dan ruang kolaborasi antara guru dan menjadi pemimpin pembelajaran yang mendorong ekosistem pendidikan di SD Negeri Babakan Cianjur. 2) Bagi Siswa Bagi siswa sendiri manfaat yang didapat dalam pembelajaran inovatif adalah terciptanya suasana pembelajaran yang menyenangkan lebih bermakna dan mencoba hal-hal baru yang sebelunya belum pernah mereka dapatkan sehingga murid lebih semangat dan termotivasi dalam pembelajaran yang sesuai dan berpusat pada murid. 3) Bagi Rekan Guru Pembelajaran inovatif menciptakan tantangan yang sangat besar bagi rekan guru lainnya, sehingga mereka antusias ikut mempelajari pembelajaran inovatif yang dilaksanakan penulis dalam melakukan aksi nyata tersebut. Mereka dapat menerapkan inovasi pembelajaran yang baru dan menciptakan pembelajaran yang menyenangkan di kelas masing-masing. 4) Bagi Sekolah Pemanfaatkan sumber daya yang ada dengan maksimal dan desain pembelajaran inovatif mempengaruhi pandangan masyarakat sekitar tentang perkembangan sekolah melalui penerapan aksi nyata sehingga masyarakat tidak lagi berpandangan negatif pada pembelajaran yang ada pada saat ini. Melalui pembelajaran inovatif diharapkan baik sekolah, guru, murid serta orang tua sepenuhnya mendukung pembelajaran terseut hingga terciptanya suasana pembelajaran yang sesusai dengan tujuan pembelajaran pada saat ini. 3


BAB II PEMBAHASAN A. Pembelajaran Berdiferensiasi Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan: 1) Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya. 2) Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran,namun juga muridnya. 3) Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan. 4) Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu 5) Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif. Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek. Ketiga aspek tersebut adalah Kesiapan belajar (readiness) murid, Minat murid dan Profil belajar murid . 4


Sebagai guru, kita semua tentu tahu bahwa murid akan menunjukkan kinerja yang lebih baik jika tugas-tugas yang diberikan sesuai dengan keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya (kesiapan belajar). Lalu jika tugastugas tersebut memicu keingintahuan atau hasrat dalam diri seorang murid (minat), dan jika tugas itu memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan cara yang mereka sukai (profil belajar). Dalam mempelajari pembelajaran untuk Modul “Pembelajaran Berdiferensiasi” penulis berharap mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mulai menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas dan mendapatkan kepercayaan diri serta keyakinan bahwa penulis sebagai pendidik mampu melakukannya. Aksi nyata yang penulis lakukan pada pembelajaran Berdiferensiasi adalah dengan menyiapkan RPP terlebih dahulu kemudian menerapkan pembelajaran di kelas dengan menggunakan metode dan strategi sesuai dengan tuntunan pada modul, kemudian penulis mencoba mengeksplorasi pembejaran tersebut di kelas dengan harapan menjadikan salah satu pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan bagi murid di kelas tersebut. Gambar 2.1. Chanel Youtube Aksi Nyata Pembelajaran Berdiferensisasi Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=_wJ74dCvyQg 5


B. Pembelajaran Sosial dan Emosional Pembelajaran Sosial dan Emosional adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional. Pembelajaran sosial dan emosional bertujuan untuk : 1) memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi 2) menetapkan dan mencapai tujuan positif 3) merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain 4) membangun dan mempertahankan hubungan yang positif serta 5) membuat keputusan yang bertanggung jawab. Pembelajaran sosial dan emosional dapat diberikan dalam tiga ruang lingkup: 1) Rutin: pada saat kondisi yang sudah ditentukan di luar waktu belajar akademik, misalnya kegiatan lingkaran pagi (circle time), kegiatan membaca setelah jam makan siang 2) Terintegrasi dalam mata pelajaran: misalnya melakukan refleksi setelah menyelesaikan sebuah topik pembelajaran, membuat diskusi kasus atau kerja kelompok untuk memecahkan masalah, dll. 3) Protokol: menjadi budaya atau aturan sekolah yang sudah menjadi kesepakatan bersama dan diterapkan secara mandiri oleh murid atau sebagai kebijakan sekolah untuk merespon situasi atau kejadian tertentu. Misalnya, menyelesaikan konflik yang terjadi dengan membicarakannya tanpa kekerasan, mendengarkan orang lain yang sedang berbicara, dll. Pada pembelajaran sosial dan emosional diawali dengan kesadaran penuh bahwa tidaklah cukup apabila peserta didik hanya mengembangkan kemampuan akademiknya saja. Peserta didik juga perlu mengembangkan aspek sosial dan emosionalnya. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi sosial-emosional berperan penting dalam keberhasilan akademik 6


maupun kehidupan seseorang. Sebagai pendidik yang berinteraksi dengan murid dan orang dewasa di lingkungan sekolah, Adapun tujuan dari mempelajari pembelajaran sosial dan emosional diharapkan mampu mengelola aspek sosial dan emosional dalam berperan sebagai pendidik, mampu menerapkan pembelajaran sosial dan emosional dalam lingkup kelas, lingkungan sekolah, dan komunitas. Gambar 2.2. Chanel Youtube Aksi Nyata Pembelajaran Sosial Dan Emosional (PSE) Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=8O-EdRy68N4&t=2s C. Coaching Menurut International Coach Federation (ICF) mendefinisikan coaching sebagai bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif. Dari definisi ini, Pramudianto (2020) menyampaikan tiga makna yaitu: 1) Kemitraan. Hubungan coach dan coachee adalah hubungan kemitraan yang setara. Untuk membantu coachee mencapai tujuannya, seorang coach mendukung secara maksimal tanpa memperlihatkan otoritas yang lebih tinggi dari coachee. Murid kita di sekolah tentunya memiliki potensi yang berbeda-beda dan menunggu untuk dikembangkan. Pengembangan potensi inilah yang menjadi 7


tugas seorang guru. Apakah pengembangan diri anak ini cepat, perlahanlahan atau bahkan berhenti adalah tanggung jawab seorang guru. Pengembangan diri anak dapat dimaksimalkan dengan proses coaching. 2) Memberdayakan. Proses inilah yang membedakan coaching dengan proses lainnya. Dalam hal ini, dengan sesi coaching yang ditekankan pada bertanya reflektif dan mendalam, seorang coach menginspirasi coachee untuk menemukan jawaban-jawaban sendiri atas permasalahannya. 3) Optimalisasi. Selain menemukan jawaban sendiri, seorang coach akan berupaya memastikan jawaban yang didapat oleh coachee diterapkan dalam aksi nyata sehingga potensi coachee berkembang. Coaching diperlukan karena murid kita adalah sosok merdeka. Sosok yang dapat menentukan arah dan tujuan pembelajarannya, serta meningkatkan potensinya sendiri. Mereka hanya memerlukan dorongan dan arahan dari guru sebagai pemimpin pembelajaran untuk melejitkan potensi mereka. Tentunya ini bukan hal yang mudah karena sebagai pemimpin pembelajaran terkadang kita tergoda untuk berupaya membantu permasalahanmurid secara langsung dengan memberikan solusi dan nasehat. Dengan keterampilan coaching, harapannya anak didik kita menjadi lebih terarah dan dapat menyelesaikan masalahnya sendiri yang pada akhirnya dapat meningkatkan potensi mereka. Mengingat pentingnya proses coaching ini sebagai alat untuk memaksimalkan potensi murid, guru hendaknya memiliki keterampilan coaching. Keterampilan coaching ini sangat erat kaitannya dengan keterampilan berkomunikasi. Selain keterampilan berkomunikasi, beberapa keterampilan dasar perlu dimiliki oleh seorang coach. International Coach Federation (ICF) memberikan acuan mengenai empat kelompok kompetensi dasar bagi seorang coach yaitu keterampilan membangun dasar proses coaching, keterampilan membangun hubungan baik, keterampilan berkomunikasi dan keterampilan memfasilitasi pembelajaran. Empat keterampilan dasar seorang coach seharusnya dapat dimiliki oleh guru ketika memerankan diri sebagai coach. 8


Pada saat aksi nyata coaching penulis mengambil aksi kepada seorang siswa yang menghadapi permasalahan dalam pembelajaran dan masalah pribadinya. Sebagai pendidik dalam perannya mencadi coach, penulis berusaha menggali potensi dan kemampuan siswa dalam memecahkan masalahnya sendiri dengan penuh rasa tanggung jawab, penulis mengarahkan dan mendampingi siswa tersebut hingga dapat menyelesaikan permasalahnnya sendiri. Gambar 2.3. Chanel Youtube Aksi Nyata Coaching Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=UfcAxN5HPYU&t=25s D. Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran Pengambilan keputusan memiliki arti penting bagi maju atau mundurnya suatu organisasi/sekolah. Pengambilan keputusan yang tepat akan menghasilkan suatu perubahan terhadap organisasi/sekolah ke arah yang lebih baik, terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. namun sebaliknya pengambilan keputusan yang salah akan berdampak buruk pada roda organisasi/sekolah itu sendiri. Pengambilan keputusan yang tepat dan bijak sebagai pemimpin pembelajaran akan sangat mempengaruhi kehidupan atau masa depan muridmuridnya. Seorang guru ketika mengambil sebuah keputusan akan menjadi pembelajaran bagi setiap muridnya. Keputusan-keputusan itu akan menjadi teladan serta memotivasi dan mendukung potensi murid. Dan pada akhirnya membawa pengalaman yang sedikit banyak mempengaruhi cara 9


berfikir mereka kelak. Setiap keputusan yang dibuat seorang guru dalam pembelajaran akan memaksimalkan potensi setiap anak atau sebaliknya. Sehingga keberhasilan seorang guru bukan hanya mengajarkan kecerdasan kognitif melainkan kecerdasan social-emosional serta spiritual secara menyeluruh. Hal ini sesuai dengan filososi Ki Hajar Dewantara bahwasanya maksud pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia, maupun anggota masyarakat. Dalam menerapkan aksi nyata Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran penulis mencoba menerapkan pembelajaran inovatif dengan tujuan siswa mampu menjalin komunikasi, kolaborasi, mandiri dan belajar percaya diri demi mewujudkan visi misi penulis sebagai guru penggerak menuju merdeka belajar dan mewujudkan siswa yang berkarakter dan memiliki jiwa yang sesuai dengan profil pelajar pancasila. Gambar 2.4. Aksi Nyata Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran Sumber : https://anyflip.com/lksnu/ikyb/ E. Kepemimpinan dalam Pengembangan Sumber Daya Mempelajari modul pemimpin dalam pengelolaan sumber daya sangat bermanfaat bagi penulis, banyak wawasan dan ilmu yang di dapatkan untuk memperbaiki komunitas di sekolah dan memperbaiki rencana selanjutnya agar 10


lebih maksimal lagi dalam memanfaatkan sumber daya yang di miliki sekolah, penulis merasa sangat senang ternyata mudah dan bisa diterapkan di seluruh jenjang pendidikan untuk mempraktekan di sekolah, hal yang paling menarik dalam mempelajari modul modul di dalam program pendidikan guru penggerak ini adalah penulis mampu mengajak kepala sekolah, rekan-rekan sejawat baik yang berada di sekolah maupun diluar sekolah, serta komite dan orang tua siswa dengan mudah untuk bekerja sama memberdayakan aset berbasis kekuatan dan membuka pikiran, membuka mindset kita lebih positif , dengan demikian dapat di simpulkan bahwa sebagai guru harus mampu memimpin dalam mengelolah sumber daya melalui pendekatan berbasis aset kekuatan bukan mengembangkan pendekatan asset berbasis kekurangan. Gambar 2.5. Chanel Youtube Pemetaan Tujuh Kelompok Aset Sumber Daya Sekolah Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=2xoUuivXar0&t=8s Adapun ke 7 aset/modal utama sumber daya yang ada di sekolah penulis tepatnya di SD Negeri babakan Cianjur diantaranya : Modal Manusia, Modal Sosial, Modal Fisik, Modal lingkungan/Alam, Modal Finansial, Modal Politik, dan Modal Agama dan Budaya. Dari ke 7 aset tersebut yang paling menonjol dan mempunyai kekuatan yang lebih adalah Modal Manusia dan Modal alam. Berangkat dari odal tersebut penulis mengembangkannya dengan berkolaborasi dengan dinas terkait dan 11


merangkul warga sekolah mulai dari pengawas, komite sekolah, korlas serta murid-murid yang mendukung program sekolah sehingga terwujud program sekolah Adiwiyata sebagai program yang berdampak pada murid dan mewujudkan profil pelajar pancasila melalui pembelajaran yang berbasis lingkungan. 12


BAB III PENUTUP A. Refleksi Setelah mempelajari dan mendalami serta mencoba menerapkan pembelajaran terkait pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran sosial emosional, coaching, pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dan kepemimpinan pengembangan sumber daya. Penulis melakukan refleksi proses pembelajaran dengan tujuan untuk mengetahui keberhasilan program yang dilaksanakan sebagai aksi nyata dalam program pendidikan guru penggerak di SD Negeri Babakan Cianjur. Melalui pembelajaran yang berdampak pada murid dalam mewujudkan profil pelajar pancasila melalui pembelajaran yang berbasis lingkungan melalui program sekolah Adiwiyata. Beberapa reflesi yang dicapai diantaranya : 1) Pada pembelajaran diferensiasi yang penulis mencoba menerapkan di kelas, diawali dengan memetakan kebutuhan belajar siswa dengan melihat potensi bakat dan minat siswa sesuai dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila, sehingga hasil akhir yang di harapkan siswa dapat terpenuhi kebutuhan belajarnya dengan kondisi dan situasi pembelajaran yang menyenangkan. 2) Pembelajaran Sosial Emosional (PSE), penulis menerapkan pembelajaran dikelas dengan memahami strategi penerapan pembelajaran sosial emosional berdasarkan kerangka CASEL (Collaborative for Academic, Sosial and Emotional Learning ), dan berbasis kesadaran penuh (Mindfulness). 3) Pada penerapan Coaching pada proses pembelajaran dan menjalin komunikasi antara siswa, rekan sejawat dan warga sekolah lainnya diharapkan mampu memecahkan permasalahan yang ada dengan memahami strategi coaching, dan memahami langkah-langkah pemberian umpan balik yang positif terhadap permasalahan tersebut. 4) Dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran sebagai guru penggerak yang telah dibekali beberapa pengetajian tentang berbagai 13


paradigma, prinsip, pengambilan dan pengujian keputusan pada konteks di SD Negeri Babakan Cianjur dengan cara merancang tindakan untuk mentranfer dan menerapkan pengetahuan yang penulis dapatkan di program guru penggerak di lingkungan sekolah penulis bertugas. 5) Sebagai Guru Penggerak di lingkungan SDN Babakan Cianjur, Kepemimpinan dalam Pengembangan Sumber Daya, yang penulis lakukam dimulai dengan menganalisis aset dan kekuatan dalam pengelolaan sumber daya yang efektif dan efisien, kemudian merancang pemetaan potensi yang dimiliki sekolah, merancng program kecil dalam hal ini sebagai Sekolah Adiwiyata Tingkat Kabupaten bandung Barat sebagai peran aktif penulis dalam mengembangkan upaya pengelollan sumber daya yang ada. Dari beberapa uraian diatas, selama melaksanakan program sangat perlu adanya dukungan dari pengawas, kepala sekolah, rekan sejawat, murid, dan orang tua dengan tujuan untuk mendapatkan respon, masukan saran dan kritik demi kebaikan dan keberhasilan dalam pelaksanaan program sekolah berikutnya. B. Tindak Lanjut Beberapa rencana tindak lanjut yang penulis akan perbaiki dan lakukan setelah melakukan aksi nyata dalam pembelajaran inovatif diantarnya adalah 1) Perlu strategi khusus dalam Pemetaan kebutuhan belajar siswa dengan melihat potensi bakat dan minat siswa agar siswa terpenuhi kebutuhan belajarnya sesuai dengan potensi bakat dan inat siswa. 2) Perlu dorongan dan arahan yang lebih kuat dari guru sebagai pemimpin pembelajaran untuk memaksimalkan potensi dari murid kita. 3) Dalam pemenuhan pembelajaran sosial dan emosional diharapkan mampu mengelola aspek sosial dan emosional dalam berperan sebagai pendidik, mampu menerapkan pembelajaran sosial dan emosional dalam lingkup kelas, lingkungan sekolah, dan komunitas. 4) Setiap permasalahan yang dihadapi antar induvidu itu biasanya berbeda-beda, sehingga perlu pemahaman yang lebih dalam memahami masalah yang 14


dialami sehingga pengambilan keputusan yang tepat dapat berdampak positif bagi semua pihak. 5) Kolaborasi yang tepat serta komunikasi yang menjadi kunci utama dalam pemenuhan dan keberhasilan program sekolah. 15


DAFTAR PUSTAKA Ika Caesilia., dkk,. Paket Modul 3 Pemimpin Pembelajaran dalam Pengembangan Sekolah. Modul 3.2 Pemimpin dalan Pengelolaan Sumber Daya.. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Program Pendidikan Guru Penggerak. Tahun 2020. Kusmawati Diana, Channel Youtube@dianakusmawati5059. Aksi Nyata Pembelajaran Berdiferensisasi. Diakses 19 Juni 2023 dari https://youtu.be/_wJ74dCvyQg dipublikasikan pada 6 April 2022 Kusmawati Diana, Channel Youtube@dianakusmawati5059. Aksi Nyata Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE). Diakses 19 Juni 2023 dari https://youtu.be/8O-EdRy68N4 dipublikasikan pada 14 April 2022 Kusmawati Diana, Channel Youtube@dianakusmawati5059. Aksi Nyata Coaching. Diakses 20 Juni 2023 dari https://youtu.be/UfcAxN5HPYU dipublikasikan pada 11 April 2022 Kusmawati Diana., S.Pd. Anyflip. Aksi Nyata Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran. Diakses 20 Juni 2023 dari https://anyflip.com/lksnu/ikyb/ dipublikasikan pada 6 juni 2022 Kusmawati Diana, Channel Youtube@dianakusmawati5059. Demontrasi Kontekstual Modul 3.2.a.7 Pemetaan aset Sekolah Diakses 20 Juni 2023 dari https://youtu.be/2xoUuivXar0 dipublikasikan pada 17 April 2022 Kusuma Dewi Oscarina dkk,. Modul Paket 2. Modul 2.1 Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensisasi. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Program Pendidikan Guru Penggerak. Tahun 2020. Wijayanti Ayu Murti., dkk,. Modul Paket 2. Modul 2.3 Coaching. .Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Program Pendidikan Guru Penggerak. Tahun 2020. Nurcahyani Andri., dkk,. Paket Modul 3 Pemimpin Pembelajaran dalam Pengembangan Sekolah. Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Program Pendidikan Guru Penggerak. Tahun 2020. Suharsih Siti., dkk,. Paket Modul 3 Pemimpin Pembelajaran dalam Pengembangan Sekolah. Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Program Pendidikan Guru Penggerak. Tahun 2020. 16


LAMPIRAN https://youtu.be/F6tq1UQgOxk https://youtu.be/AQ1jEqRTXnQ https://youtu.be/gr9y33NvfU0 17


https://youtu.be/i7JlZ4mE1iQ https://youtu.be/s2zWc4pkyy4 https://youtu.be/_KZ9yy0Rx1I 18


https://youtu.be/hf9Z79q7e14 https://youtu.be/4TOVpPWAJD4 https://youtu.be/6VHqZiivNm4 19


20


21


22


Click to View FlipBook Version