The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

PPT Bab 9 Jual Beli, Hutang Piutang dan Riba (1)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by amirulhidayati82, 2024-05-30 01:27:33

PPT Bab 9 Jual Beli, Hutang Piutang dan Riba (1)

PPT Bab 9 Jual Beli, Hutang Piutang dan Riba (1)

Jual Beli, Hutang Piutang, & Riba ِم ْ ي رحِ َّ ٰ ِن ال ْح ْ ر َّ ِهللا ال ِم ْ ِس ب Rian Hidayat, S.Pd.I., M.Pd., Gr Ekonomi Islam


Kita Mulai Dengan Membaca


• Setelah mempelajari materi ini, kalian dapat: • 1. Mampu menjelaskan pengertian dan konsep jual beli, hutang piutang, dan riba menurut ketentuan fikih muamalah, serta menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari • 2. Mampu menyelesaikan masalah-masalah jual beli, hutang piutang, dan riba di era modern sesuai dengan ketentuan fikih muamalah, serta terbiasa bersikap jujur, bertanggung jawab, dan dapat dipercaya dalam bermuamalah • 3. Mampu menyajikan praktik jual beli dan hutang piutang yang sesuai dengan ketentuan fikih muamalah, serta terbiasa bertanggung jawab dalam menjalankan amanah • 4. Mampu menyajikan paparan tentang jual beli, hutang piutang, dan riba menurut ketentuan fikih muamalah, serta menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya


Pembahasan dalam PPT ini mencakup: 1. Konsep Islam tentang Jual Beli 2. Konsep Islam tentang Hutang Piutang 3. Konsep Islam tentang Riba 4. Jual Beli, Hutang Piutang, dan Riba di Era Modern 5. Kejujuran, Tanggung Jawab dan Kepercayaan. Kata Kunci: • Jual Beli • Hutang • Piutang • Riba • Muamalah • Halal • Haram • Ekonomi Islam • Debitur • Kreditur • Muamalah era Modern


Jual Beli Transaksi Jual Beli Menurut Islam dalil pengertian rukun


bahasa istilah PENGERTIAN JUAL-BELI tukar menukar ▪ tukar barang dengan uang ▪ melepaskan hak kepemilikan ▪ saling rela ▪ persetujuan saling mengikat antara penjual dan pembeli Hukum awal jual beli adalah mubah (boleh). Namun pada situasi tertentu hukum jual beli dapat berubah menjadi wajib, sunnah, dan haram. Jual beli bisa menjadi wajib apabila menjual merupakan suatu keharusan, seperti menjual untuk membayar hutang yang sudah jatuh tempo. Jual beli juga bisa menjadi sunah jika barang yang dijual sangat diperlukan oleh pembeli. Hukum jual beli pun bisa berubah menjadi haram apabila dilakukan dalam rangka kemaksiatan. Al-bayi’u Mengambil / Memberikan sesuatu


َ ب ِّ ه الر َ م َّ ر َ ح َ و َ ع ْ ي َ ب ْ ال هُ َ َّل اّلل ح أَ َ و Dan Allah telah menghalalkan jual-beli dan telah mengharamkan riba. (QS. Al-Baqarah : 275) ل َ ا َ ؟ ق ُ ب َ ي ْ ط ب أَ ِّ ْ ْ َكس ل َ ُّي ا : أَ ْ ي َ ُك ُّل ب َ و ِّ ه ِّ د َ ي ِّ ل ب ِّ ُ ج َّ لر َ ا ُ ل َ م َ ر ع وٍ ُ ْ ْب َ ع م ٍ Pekerjaan apakah yang paling baik?. Beliau bersabda: “Pekerjaan seseorang dengan tangannya dan setiap jual-beli yang bersih”. (HR Al-Bazzar) ُك َ ن ْ ي َ ب ْ َ ُكم ال َ و ْ م َ اا ا ْ و ُ ُكل ْ َ ََل َت ا ْ و ُ ن َ م ٓ ا َ ن ْ ي ِّ ذ َّ ا ال َ ه ُّ ي ٓاٰيَ ْ ن َ ع ً َ ار َ ِّ ِ ْ َ ْ َ ُكو َ ْ ْ َ َلا ا َّ ِّ ل ا ِّ ِّ اط َ ب ْ بل ِّ ْ م َ ر َ َ ْ ْ ُكم ن ِّ ه ٍ م ٍ ا “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan cara yang batil (tidak benar), kecuali berupa perniagaan atas dasar suka sama suka di antara kamu.” (QS. An-Nisa : 29) Dalil Jual Beli


pelaku akad barang bermanfaat suci dimiliki RUKUN JUAL-BELI pembeli penjual bisa diserahkan Terukur (wujud, bentuk, ukuran, dll) aqil baligh suatu perkataan antara ijab dan qabul dengan cara yang dibenarkan syara' yang menetapkan adanya akibat-akibat hukum pada obyeknya. 1. Aqil / berakal, jual belinya orang gila atau rusak akalnya dianggap tidak sah. 2. Baligh, jual beli seorang anak kecil yang belum baligh dianggap tidak sah. Namun apabila anak itu sudah mummayiz (mampu membedakan yang baik dan yang buruk, diperbolehkan untuk menjual barang yang murah. 3. Berhak menggunakan barangnya / dengan kehendak sendiri.


Sah dan Tidak Terlarang Yaitu jual beli yang terpenuhi rukunrukun dan syarat-syaratnya. Yaitu jual beli yang salah satu atau seluruh rukunnya tidak terpenuhi, atau memang pada dasarnya jual beli itu tidak sesuai dengan syariat Islam. MACAM-MACAM JUAL BELI Tidak Sah dan Terlarang Jual beli sesuatu yang najis Jual beli yang mengandung unsur penipuan Jual beli hewan yang masih dalam kandungan Jual beli air mani hewan ternak 2 3 Contoh Jual Beli Terlarang Jual beli buah yang masih berbentuk putik (ijon), dll


INSTRUMEN JUAL BELI DALAM PASAR Yaitu transaksi jual beli dimana penjual memberikan barang pada pembeli pada masa yang akan datang dengan pembayaran penuh terlebih dahulu. Akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan/ pembeli dan penjual/ pembuat. Yaitu transaksi menggunakan akad gadai. Menjual suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagai laba. Yaitu suatu kontrak sewa yang kemudian menjadi transaksi jual beli ketika penyewa menggenapkan pembayaran pada akhir kontrak.


Berlaku benar (lurus) Menepati amanah Jujur Khiyar SIKAP PENJUAL - PEMBELI Khiyar Majlis Khiyar Syarat Khiyar Aib (Cacat) Khiyar Tadlis Khiyar Ghobn Khiyar Takhbir Bitsaman Khiyar (memilih) dalam jual beli maknanya adalah memilih yang terbaik dari dua perkara untuk melangsungkan atau membatalkan akad jual beli. Dalil Khiyar, Sabda Rasulullah Saw: “Jika dua orang saling berjual beli, maka masing-masing punya hak untuk memilih selama belum berpisah dan keduanya ada di dalam majelis” (Shahih, dalam shahihul Jami : 422) Khiyar Bisababi Takhaluf Khiyar Ru’yah


(hak pilihan ketika di tempat jual beli); hak menentukan pilihan bagi kedua belah pihak, untuk melangsungkan jual beli atau membatalkannya selama masih di tempat (majlis) jual beli. Apabila keduanya telah berpisah dari majlis akad tersebut, maka hilanglah hak khiyar ini sehingga perubahan tidak dapat dilakukan lagi. kedua orang yang sedang melakukan transaksi jual beli mengadakan kesepakatan menentukan syarat, atau salah satu di antara keduanya menentukan hak khiyar sampai waktu tertentu, maka ini dibolehkan meskipun rentang waktu berlakunya hak khiyar tersebut cukup lama. Khiyar 'aib hak untuk membatalkan atau melangsungkan jual beli bagi kedua belah pihak yang berakad, apabila terdapat suatu cacat pada obyek yang diperjualbelikan, dan cacat itu tidak diketahui pemiliknya ketika akad berlangsung. Tadlis yaitu menampakan barang yang aib (cacat) dalam bentuk yang bagus seakan-akan tidak ada cacat. Kata tadlis diambil dari kata addalah dengan makna ad-dzulmah (gelap) yaitu seolah-olah penjual menunjukan barang kepada pembeli yang bagus di kegelapan sehingga barang tersebut tidak terlihat secara sempurna. MACAM-MACAM KHIYAR Khiyar Majlis (Lokasi) Khiyar Syarat (Garansi) Khiyar Aib (Garansi Cacat) Khiyar Tadlis Yaitu jika seorang tertipu dalam jual beli dengan penipuan yang keluar dari kebiasaan, maka seorang yang tertipu dia diberi pilihan apakah akan melangsungkan transaksinya atau membatalkannya. Dalilnya sabda rasul “Tidaklah halal harta seorang muslim kecuali dengan kelapangan darinya (dalam menjualnya)” (Irwaul Ghalil : 1761) . Khiyar Ghobn


Menjual barang dengan harga pembelian, kemudian dia mengkhabarkan kadar barang tersebut yang ternyata tidak sesuai dengan hakikat dari barang tersebut. seperti harga itu lebih banyak atau lebih sedikit dari yang dia sebutkan, atau dia berkata “Aku sertakan engkau dengan modalku di dalam barang ini” atau dia mengatakan “Aku jual kepadamu barang ini dengan laba sekian dari modalku” atau dia mengatakan “Aku jual barang ini kepadamu kurang sekian dari harga yang aku beli”. Khiyar yang terjadi apabila penjual dan pembeli berselisih dalam sebagian perkara, seperti berselisih dalam kadar harga atau dalam barang itu sendiri, atau ukurannya, atau berselisih dalam keadaan tidak ada kejelasan dari keduanya, maka ketika itu terjadi perselisihan. Ketika kedunya saling berbeda terhadap apa yang diinginkan maka keduanya boleh untuk membatalkan jika dia tidak ridha dengan perkataan yang lainnya MACAM-MACAM KHIYAR Khiyar Takhbir Bitsaman (Nett) Khiyar Bisababi Takhaluf (Nego) Khiyar bagi pembeli jika dia membeli sesuatu barang berdasarkan penglihatan sebelumnya, kemudian ternyata dia mendapati adanya perubahan sifat barang tersebut, maka ketika itu baginya berhak untuk memilih antara melanjutkan pembelian atau membatalkannya. Khiyar Ru’yah (Online/COD)


• Semua aktifitas investasi dan perdagangan atas barang dan jasa yang diharamkan Allah (jubel manusia, arak, narkoba, dsb) • Riba • Penipuan / kecurangan. • Perjudian • Transaksi yang mengandung ketidakpastian (Gharar) • Penimbunan Barang / Ihtikar • Monopoli • Rekayasa Permintaan (Bai’ An-Najsy) • Suap (Risywah) • Ta’alluq (penjual membeli kembali dengan syarat pengurangan harga) • Pembelian kembali oleh penjual dari pihak pembeli (bai’ al-Inah) • Talaqqi al-Rukban (mencegat petani/penghasil sblm sampai ke pusat penjualan tanpa tahu harga pasar) • Jual beli pada saat Shalat Jumat (QS. Al-Jumuah ayat 9) Transaksi Yang Dilarang


Hutang Piutang (Al-Qardh) Fikih Hutang Piutang Menurut Islam


Bahasa Arab utang piutang, dayn dan qardh. Qardh adalah bentuk masdar (kata kerja) yang berarti memutus. Dikatakan qaradhtu asy-syai’a bil-miqradh, aku memutus sesuatu dengan gunting. Al-Qardh adalah sesuatu yang diberikan oleh pemilik untuk dibayar. HUTANG PIUTANG Pengertian


Al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma Ulama Hukum qardh (hutang piutang) mengikuti hukum taklifi (perintah berbentuk pilihan): terkadang boleh (hukum asal), terkadang sunnah (membantu sesama), terkadang wajib (darurat, orang lain butuh), dan terkadang haram (digunakan untuk maksiat). Semua itu sesuai dengan cara mempraktekannya karena hukum wasilah itu mengikuti hukum tujuan Rukun qardh (hutang piutang) ada tiga, yaitu: (1) shighah (akad), (2) ‘aqidain (dua pihak yang melakukan transaksi), (3) harta / benda yang dihutangkan. Dalil Landasan Hukum Rukun Para ulama empat mazhab telah sepakat bahwa pengembalian barang pinjaman hendaknya di tempat dimana akad qardh itu dilaksanakan. Dan boleh juga di tempat mana saja, apabila tidak membutuhkan biaya kendaraan, bekal dan terdapat jaminan keamanan. Waktu & Tempat Pengembalian Para ulama sepakat bahwa wajib hukumnya bagi peminjam untuk mengembalikan harta serupa, apabila ia meminjam harta mitsli, dan mengembalikan harta semisal dengan bentuknya bila pinjamannya adalah harta qimiy, seperti mengembalikan kambing yang ciri-cirinya mirip dengan domba yang dipinjam. Harta yang Harus Dikembalikan HUTANG PIUTANG


Mitsli Harta mitsli dapat dijadikan sebagai jaminan atau tanggungan dalam melakukan muamalah, artinya ia bisa menjadi harga dalam suatu jual beli dengan cara menentukan sifat dan jenisnya harta qimi tidak bisa dijadikan sebagai jaminan atau tanggungan, sehingga ia tidak bisa menjadi harga dalam bermuamalah. MACAM-MACAM HARTA Qimi


RUKUN & SYARAT HUTANG PIUTANG RUKUN SYARAT Orang yang berhutang dan berpiutang Barang atau harta yang dihutangkan Akad ijab kabul Balig dan berakal Jelas jumlah, kadar, dan takarannya Tidak mempersyaratkan tambahan tertentu Ada beberapa anjuran yang diajarkan dalam Islam apabila terjadi transaksi hutang piutang. Anjuran ini terdapat dalam Q.S. al-Baqarah/2:282. Anjuran itu adalah menuliskan hutang piutang, menghadirkan saksi, dan memberikan jaminan. Dengan demikian pihak yang berhutang akan terikat dalam tanggung jawab untuk melunasi hutangnya.


1 Kewajiban dan Hak Prinsip utama adalah kejelasan tentang kewajiban dan hak dalam setiap transaksi keuangan. 2 Persetujuan dan Keterbukaan Persetujuan jelas dan transparansi dalam setiap perjanjian hutang piutang sangat ditekankan. 3 Responsibilitas Menepati Waktu Mematuhi kesepakatan waktu pembayaran demi menjaga keseimbangan keuangan antara pemberi dan penerima pinjaman. PRINSIP-PRINSIP BERHUTANG DAN BERPIUTANG


Hukum-Hukum Hutang Piutang dalam Islam 1 Halal vs. Haram Penegakan transaksi keuangan harus sesuai dengan prinsipprinsip hukum syariah. 2 Riba Melarang praktik riba dalam utang dan mengatur metode pembayaran yang adil dan tanpa bunga. 3 Transparansi dan Keterbukaan Memastikan segala perjanjian dijelaskan secara detail tanpa menyembunyikan informasi penting.


Jenis-Jenis Hutang Piutang dalam Islam Hutang Piutang Bisnis Transaksi antara bisnis dan perusahaan dalam mencapai tujuan keuangan secara adil dan transparan. Hutang Piutang Pribadi Transaksi pribadi dan keuangan antara individu dengan peraturan yang sesuai dengan ajaran Islam. Hutang Piutang Amanah Penitipan sejumlah harta atau keuangan dengan kepercayaan untuk dijalankan sesuai syariah. 1 2 3


Etika dalam Berhutang dan Berpiutang Keadilan dan Kesetaraan Tekun dan adil dalam menyelesaikan hutang serta memberikan keringanan kepada peminjam yang membutuhkan. Keterbukaan dan Kejujuran Transparansi dan kejujuran dalam segala aspek perjanjian hutang piutang. Kewajiban Kepada Keluarga Mendukung kebutuhan keluarga dan membantu sesama muslim yang berhutang dalam batas yang wajar.


Konsekuensi dari Tidak Mematuhi Prinsip Hutang Piutang Ketidakseimbangan Keuangan Bertambahnya hutang tanpa kejelasan pembayaran bisa mengakibatkan ketidakseimbangan keuangan. Ketidakpercayaan Penyalahgunaan prinsip-prinsip berujar dan berpiutang dapat merusak kepercayaan sesama muslim dan masyarakat umum. Dampak Hukum Berdampak pada hukum Islam dan negara, serta ketidakpatuhan terhadap prinsip-prinsip transaksi keuangan dalam agama.


Tips Mengelola Hutang Piutang Menurut Ajaran Islam 1 Rencanakan Anggaran Rencanakan pengeluaran dan pemasukan secara cermat sesuai dengan prinsip syariah. 2 Transparansi Jadilah transparan dalam segala transaksi keuangan untuk memastikan keadilan dan keterbukaan. 3 Pedoman Ajaran Mendidik diri mengenai prinsip-prinsip hutang piutang yang sesuai syariah. 4 Toleransi dan Kejujuran Melakukan tawakal dan tetap jujur dalam segala aspek dalam transaksi keuangan.


Hikmah Disyariatkannya al-Qardh 1 Kemudahan Memudahkan kepada manusia dalam kesulitan transaksi 2 Belas Kasih Belas kasih dan kasih sayang terhadap mereka Perbuatan yang membuka lebar-lebar (menguraikan) kesulitan yang mereka hadapi 3 Bawa Kebaikan Mendatangkan kemaslahatan bagi mereka yang berhutang


Riba Transaksi Ekonomi yang Haram dalil pengertian rukun


Pengertian Pengertian Riba Az-Ziyadah An-Nuwuw Tambahan Tambahan yang disyaratkan dalam transaksi bisnis atau utang piutang tanpa adanya padanan (’iwad) yang dibenarkan syari’ah atas penambahan tersebut. Larangan riba sebenarnya tidak hanya berlaku untuk agama Islam, melainkan juga diharamkan oleh seluruh agama samawi. (Yahudi dan Nasrani). Riba termasuk DOSA BESAR. Berkembang Al-Irtifa’ Al-’Uluw Meningkat Membesar


َ م ْ وا ُ ر َ ذ َ و هَ اّلل ْ وا ُ َّ ق اَ ْ وا ُ ن َ آم َ ين ِّ ذ َّ ا ال َ ه ُّ ي أَ َ ٰي َ ب ِّ ه الر َ ن ِّ م َ َ ِّ ق َ ا ب Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba. (QS Al-Baqarah 276) ه ت سِّ ٍ ْ ن ِّ د م ُّ َش أَ ُ م َ ل ْ ع َ ي َ و ُ ه َ و ُ ل ُ ج َّ الر ُ ه ُ ُكل ْ َ َي َ ِّرب ُ م َ ه ْ ر ِّ د ٍ َّ ي ِّ ي َ َن ن َ ْ ِّ ل ََ َ ل َ و Satu dirham uang riba yang dimakan oleh seseorang dalam keadaan sadar jauh lebih dahsyat dari pada 36 wanita pezina. (HR. Ahmad) DALIL LARANGAN RIBA


ْ ث ِّ ا م َ ه ُ ر َ س ْ ي أَ ب َ ْ ب َ و ُ ع ْ ب َ س َ و ٌ َ َل َ ل َ ب ِّ ه لر َ ا ُ ل ُ ج َّ لر َ ا َ َ ِّ ْك ن َ ْ ي ْ أَ ُ ُ ل مه َّ أُ Riba itu terdiri dari 73 pintu. Pintu yang paling ringan seperti seorang lakilaki menikahi ibunya sendiri. (HR. Ibnu Majah dan Al-hakim) ُ م َ و َ ب ِّ ه لر َ ا َ ل ِّ ِّ ص آك ََّّلل ل ا ُ و ُ س َ ر َ ن َ ع َ ل ْ ي َ د ِّ َشاه َ و ُ ه َ ب ِّ َكاَ َ و ُ ه َ ل ِّ وك ِّ ه Rasulullah SAW melaknat pemakan riba’ , yang memberi makan, kedua orang saksinya dan pencatatnya. (HR Muslim) DALIL LARANGAN RIBA


PEMBAGIAN RIBA Riba Ad-Duyun (Terjadi Karena Sebab Hutang Piutang) Riba Al-Buyu’ (Terjadi Karena Sebab Jual Beli) Riba Al-Qardh Riba Jahiliyah Riba Nasi’ah Riba Al-Fadhl Tukar menukar barang yang sejenis dengan disertai kelebihan atau tambahan pada salah satunya adanya tambahan dari pinjaman pokok yang diberikan oleh orang yAng memberikan hutang kepada orang yang berhutang karena tidak mampu membayar pada saat jatuh tempo Riba yang tambahannya disyaratkan oleh pemberi hutang dalam jual beli kepada orang yang hutang sebagai imbalan dari penundaan atau penangguhan bayaran praktik utang piutang dengan syarat ada keuntungan bagi yang memberi utang


Qardhi Jahiliyah Riba Sebab Utang Piutang Utang dibayar lebih dari pokoknya karena si peminjam tidak mampu membayar utangnya pada waktu yang ditetapkan. (Riba masyarakat Jahiliyah) Contoh: Ahmad meminjam uang kepada Sufyan sebesar 500.000 dan dalam waktu dua bulan Ahmad akan bayar, tiba waktunya ternyata Ahmad belum bisa bayar. Lalu Sufyan memberikan denda sebesar 50.000. Meminjamkan sesuatu dengan syarat ada keuntungan atau tambahan dari orang yang meminjami. Contoh: Ahmad ingin meminjam uang kepada Sufyan sebesar 500.000, Sufyan menyetujui dengan syarat ketika Ahmad akan mengembalikan, Ahmad harus membayar 550.000,-


fadhl nasi’ah Riba Sebab Jual-Beli pertukaran ▪ pinjam alat tukar : uang - emas ▪ dengan charge / tambahan ▪ apapun namanya emas perak gandum kurma terigu garam sejenis beda ukuran Bu Rini membeli beras 10 kg kepada Bu Siti. Harga 1 kg beras Rp. 7.500. Karena pada saat sedang tidak mempunyai uang, Bu Rini meminta penagguhan pembayaran kepada Bu Siti sampai bulan depan, sehingga Bu Runi berhutang kepada Bu Siti sejumlah Rp. 75.000,-. Sebulan kemudian, pada waktu Bu Rini mau membayar hutangnya, harga beras naik menjadi Rp.8000,- per kg. Bu Siti minta Bu Rini membayar hutangnya sebesar harga beras pada saat itu, yakni Rp.80.000,- Kelebihan Rp.5000,- rupiah sebagai akibat penundaan pembayaran ini disebut riba nasi’ah Pak Yanto memiliki 10 kg beras dengan kualitas baik. Sedangkan Pak Yadi memiliki 15 kg beras dengan kualitas jelek. Pak Yanto dan Pak Yadi saling menukar beras kepunyaan mereka itu. Pak Yanto membutuhkan beras kualitas jelek untuk makanan ternaknya, sedangkan Pak Yadi membutuhkan beras kualitas baik untuk dikonsumsi. Kelebihan 5 kg beras Pak Yadi disebut dengan riba faḍhl


Hukum Bunga Bank RIBA • Tambahan dihitung atas pokok • Ditentukan di awal secara pasti • Bersifat Dhulm • Ada denda bila telat bayar • Dapat berlipat ganda • Objeknya uang dan barang • Hukumnya haram BUNGA BANK • Biaya dihitung atas pokok • Ditetapkan dimuka secara fixed • Bersifat memaksa • Dikenai pinalty bila defaut • Objeknya uang • Hukumnya diqiyaskan dengan RIBA


Sejenis SYARAT JUAL BELI NON RIBA Beda Jenis Serupa timbangan dan banyaknya Timbang terima dalam akad (ijab qabul) sebelum meninggalkan majelis akad Tunai Timbang terima dalam akad (ijab qabul) sebelum meninggalkan majelis akad Tunai


riba riba SOLUSI RIBA riba riba ubah transaksi bagi hasil gadai Kredit langsung Hibah / pemberian cuma-cuma


Menghalangi orang untuk melakukan usaha karena pemilik dapat menambah hartanya dengan transaksi riba Peminjam jatuh miskin karena dieksploitasi 1 Dampak Negatif Riba Terputusnya hubungan baik antar masyarakat dalam bidang pinjam meminjam Bikin Miskin Bikin Malas Kerja Silaturahim Putus Memberikan jalan bagi orang kaya untuk menerima tambahan harta dari orang miskin yang lemah. 4 Pemerasan


Jual Beli – Utang Piutang - Riba Di Era Modern


Jual Beli Online Secara umum jual beli online merupakan aktivitas yang diperbolehkan. Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah agar transaksi jual beli online tidak mengandung unsur penipuan, judi, dan riba. Dalam hal ini nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kepercayaan menjadi faktor penting dalam jual beli online.


Jual Beli Kredit Secara Leasing Jual beli secara kredit (utang / cicil) adalah transaksi jual beli yang pembayarannya dilakukan setelah penyerahan barang dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Misalnya kredit mobil, motor, ponsel, perabotan rumah tangga dan lain-lain. Jual beli kredit seperti ini menjadi pilihan banyak orang karena dengan dana yang terbatas, dapat membawa pulang barang yang diinginkan. Meskipun demikian pembeli harus mengalokasikan dana lebih besar untuk mengangsur pembayarannya Secara umum, para ulama berpandangan bahwa jual beli kredit hukumnya boleh dan halal. Kebolehan jual beli kredit dikarenakan transaksi yang dilakukan berdasarkan akad jual beli, bukan hutang piutang. Transaksi ini memang melahirkan kewajiban/hutang di sisi pembeli yang menyebabkan adanya tambahan harga karena dibayarkan secara kredit. Namun bentuk hutangnya bukan qarḍ, melainkan dayn. Pada dasarnya akadnya tetap jual beli dan harga disepakati antara penjual dan pembeli. Meskipun demikian terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama apabila jual beli kredit melibatkan pihak ketiga. Pihak ketiga yang dimaksudkan adalah lembaga keuangan (finance). Praktik jual beli kredit seperti ini disebut dengan leasing. Dalam leasing, pihak penjual memindahkan penagihan pembayaran kepada lembaga keuangan. Pembeli tidak lagi berhutang kepada penjual melainkan kepada finance yang membayar pembelian barang ke pihak penjual.


HUKUM LEASING SAH DAN HALAL HARAM, TERMASUK RIBA Sebagian ulama, khususnya yang mengikuti mazhab Syafi’i berpandangan bahwa jual beli kredit melalui leasing sah dan halal. Pandangan ini didasarkan pada analisa bahwa transaksi yang digunakan dalam leasing adalah akad syuf’ah atau sistem akuisisi yang diperbolehkan dalam fikih muamalah. Dalam akad syuf’ah, barang yang dibeli menjadi milik bersama (māl musytarak) antara pembeli dengan finance. Jika angsuran dari pembeli sudah selesai, maka kepemilikan harta berpindah kepada pihak pembeli. Sebelum angsuran lunas, barang itu tetap menjadi milik bersama sesuai dengan kesepakatan Ada juga pendapat, yang menila leasing termasuk riba. Pendapat ini didasarkan pada penilaian bahwa transaksi yang terjadi antara pembeli dan pihak finance adalah akad hutang piutang qarḍ, yaitu pihak pembeli meminjam uang kepada pihak bank untuk membeli barang kepada pihak penjual. Pihak pembeli berkewajiban membayar uang yang dipinjam ke pihak finance dengan cara mengangsur sejumlah uang yang dipinjam ditambah dengan bunga pinjaman. Bunga pinjaman inilah yang dipahami sebagai kelebihan dalam akad hutang piutang sehingga bernilai riba dan hukumnya haram.


Bunga Bank Para ulama berbeda pandangan terhadap kehalalan bunga bank ini. Belum ada kesepakatan (ijmā’) di antara para ulama tentang bunga bank. Apakah termasuk riba yang diharamkan dalam fikih muamalah ataukah tidak. Perbedaan pandangan tentang bunga bank merata di seluruh dunia Islam. Perbedaan itu juga terjadi di antara ulama-ulama di Indonesia. RIBA HUKUM BUNGA BANK HASIL USAHA Pandangan ini menilai bunga bank merupakan tambahan yang bernilai riba nasi’ah. Sebab akad yang terjadi antara peminjam dan bank adalah akan hutang piutang. Sementara akad hutang piutang tidak membolehkan adanya kelebihan dalam pembayaran hutang. Kelebihan dalam mebayar hutang termasuk riba nasi’ah yang hukumnya haram. Di antara ulama yang menganggap bunga bank sebagai riba adalah Dr. Yusuf Qardawi (Mesir) dan Syaikh bin Baz (Arab Saudi). Meski pembagian hasil itu sudah ditentukan nilainya di awal, hal itu sah karena sudah melewati proses saling riḍa di antara kedua belah pihak. Dengan demikian bunga bank bukan termasuk riba yang diharamkan. Karenanya pandangan ini menyimpulkan bahwa bunga bank halal. Di antara ulama yang berpandangan seperti ini adalah Syeikh Mahmud Syaltut dan Dr. Ali Jum’ah dari Universitas Al-Azhar Mesir.


Perbedaan Pandangan ttg Bunga Bank Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bunga bank adalah masalah khilāfiyah. Ada ulama yang menyamakannya dengan riba sehingga hukumnya haram. Ada yang menganggapnya bukan riba sehingga halal. Terhadap perbedaan seperti ini, kita harus mengedepankan toleransi dan sikap saling menghargai. Soal pendapat mana yang dipilih dikembalikan kepada kemantapan hati masing-masing.


Nilai Kejujuran – Tanggung Jawab - Kepecercayaan Dalam Fikih Muamalah


Hal ini dikarenakan manusia memiliki potensi sifat tamak dan rakus. Jika tidak dibatasi, sifat tamak dan rakus ini bisa menyebabkan kerugian pihak lain. Sifat tamak dan rakus itu bisa menyebabkan manusia memakan makanan dengan cara batil. Misalnya dengan mempraktikkan riba, memakan yang bukan haknya, dan mendapatkan keuntungan jual beli dengan cara menipu. Praktik-praktik semacam ini jamak terjadi pada masa jahiliyah. Salah satunya adalah praktik riba yang cenderung menipu dan mengeksploitasi masyarakat miskin. Oleh karena itulah riba dilarang dalam Islam. Melalui fikih muamalah, Islam ingin menghadirkan praktik jual beli dan hutang piutang yang adil berdasarkan kejujuran, tanggung jawab, dan kepercayaan. Misalnya, dengan adanya akad yang harus ada dalam jual beli ataupun hutang piutang, dua belah pihak memiliki kesepakatan yang jelas dalam bertransaksi semenjak awal. Tidak ada pihak yang bisa menipu pihak yang lain. Mengapa Ekonomi Islam Perlu Diatur Mencari Harta Halal Nilai Baik dalam Fikih Ekonomi Adanya akad yang jelas dalam hutang piutang, ditambah anjuran untuk mencatat hutang, mengadakan saksi, dan memberikan jaminan, mendorong orang yang berhutang agar bertanggung jawab dalam membayar hutang. Sikap tanggung jawab itu juga bermakna menjaga kepercayaan orang yang memberi hutang. Sebab pada dasarnya orang akan bersedia memberikan hutang hanya jika ia percaya bahwa orang yang berhutang itu bisa melunasinya Tanggungjawab Kejujuran dan tanggung jawab dalam bermuamalah akan melahirkan kepercayaan. Seseorang yang dikenal jujur dan bertanggung jawab akan mendapat kepercayaan dari banyak pihak dalam melakukan kerjasama jual beli maupun hutang piutang. Peluang kerjasama ini bisa membuka keuntungan yang besar. Kepercayaan


Tentang Penulis • Rian Hidayat, S.Pd.I., M.Pd., Gr • GPAI SMP-SMA Semesta Semarang • Konselor MIBS Semarang • Pengurus MGMP PAI SMA Kota Semarang • Pengurus MGMP PAI SMA Jawa Tengah • FB: Rian Hidayat Abi • IG: @rianhidayatabi • Twitter: @rianhidayatabi • Youtube 1: Rian Hidayat Abi • Youtube 2: Pendidikan Agama Islam


Click to View FlipBook Version