The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by cheguridhwan81, 2020-08-23 01:55:59

ADIAN HUSAINI 11

ADIAN HUSAINI 11

Zaman seperti ini benar-benar zaman baru. Para tokoh dan organisasi-organisasi Islam seharusnya sadar
akan hal ini. Dan kemudian berusaha sekuat tenaga mencegah agar ‘penyakit’ ini tidak semakin meluas
dan memakan korban. Tanpa pemahaman yang benar dan memadai tentang “hakikat al-munkar”
dewasa ini, maka akan sulit umat Islam menerapkan konsep keadilan dalam menjalankan ‘amar ma’ruf
nahi munkar’. Wallahu a’lam. (Jkt, 20 Mei 005/Hidayatullah.com).

Sikap Adil untuk Nurcholish Madjid
Oleh: Adian Husaini
Sebagai Muslim, kita harus bersikap adil terhadap Nurcholish. Jika salah, kita katakan salah, jika
pendapatnya benar, harus kita katakan benar. Nurcholish Madjid, telah meninggal dunia. Semoga Allah
memberi balasan atas amalnya. Namun pikirannya, sampai kapanpun tetap terbuka untuk dikritik.

Nurcholish Madjid, yang biasa dipanggil sebagai “Cak Nur” telah meninggal dunia pada hari Senin, 29
Agustus 2005, pukul 14.05 WIB, di RS Pondok Indah Jakarta. Saat berita itu datang, saya sedang bertamu
di rumah Prof. Halim Mat Diah, guru besar di Universiti Malaya, Kuala Lumpur. Ketika berita itu saya
sampaikan kepada Prof. Halim, dia berucap singkat: “Jazallaahu hasba maa amila” (Semoga Allah
memberi balasan, setimpal dengan amal perbuatannya).

Prof. Halim mengenal cukup dekat sosok dan pemikiran Nurcholish Madjid. Ia menyelesaikan jenjang
pendidikannya dari S-1 sampai S-3 di IAIN Yogyakarta.

Sembilan tahun ia tinggal di Kota Gudeg itu dan sering berdiskusi dengan tokoh-tokoh Islam, termasuk
para pelopor sekularisasi dan liberalisasi Islam di Indonesia, yang ketika itu berkumpul di ‘Limited Group’
Yogyakarta.

Nurcholish Madjid kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Ini seolah-olah
memberikan isyarat, bahwa pemerintah Indonesia memandang sosok Nurcholish Madjid sebagai
seorang yang berjasa besar terhadap bangsa Indonesia.

Seperti biasa, dalam rangkaian upacara prosesi kematian seseorang, puji-pujian pun berhamburan. Para
penulis sibuk menggoreskan penanya dengan berbagai pujian dan sanjungan untuk Nurcholish.

Eep Saefulloh Fatah menulis kolom di Koran Tempo (30/8/2005), dengan judul “Cak Nur, Pemelihara
Ingatan”.

Ditulisnya, “Bintang paling cemerlang di langit intelektual Indonesia itu –Dr. Nurcholish Madjid alias Cak
Nur– redup sudah. Senin, 29 Agustus 2005, pukul 14.05, di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, Cak Nur
dipanggil Tuhan pulang. Bukan hanya kita di Indonesia yang berduka. Semua umat manusia pembela
pluralisme dan kebebasan berpikir selayaknya kehilangan.”

Tentu, puji-pujian seperti itu sudah biasa bagi Nurcholish. Sebelum meninggal pun, Nurcholish sudah
sering dipuji habis-habisan, yang kadang kala melewati batas kepatutan.

Saya pernah mengkritik sebuah draft naskah buku tentang Islam di Asia Tenggara yang digarap oleh
Australian National University yang menyebut Nurcholish dan Abdurrahman Wahid sebagai tokoh Islam
kultural. Padahal, ada nama lain yang lebih patut disebut, yaitu Dr. Mohammad Natsir, tokoh Masyumi
yang juga pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.

Sebenarnya, disamping puji-pujian, ada juga suara lain yang tidak terekam oleh media massa di
Indonesia. Ketika itu, HP saya dibanjiri dengan SMS yang isinya mensyukuri kepergian Nurcholish.

Ada juga SMS yang berisi pertanyaan, apakah dia harus dishalatkan dengan cara syariat Islam atau
dengan cara agama “sipilis” (sekularisme, pluralisme, dan liberalisme).

Malah ada yang mengirimkan SMS berbunyi: “Cak Nur dijemput Israil…Alhamdulillahilladzi nashara
‘abdahu wa a’azza diinahu.” Dan sebagainya.

Suara-suara umat yang berbeda dengan arus besar opini media massa seperti itu, tentu saja tidak
terekam dalam suasana kematian. Apalagi, berbagai cerita seputar tanda-tanda “husnul khatimah”
Nurcholish juga diungkapkan dalam pemberitaan.

Bahkan, ada sebuah iklan besar di media massa yang berbunyi:

“Semoga Allah SWT menerima segala amal sholih Almarhum serta memasukkan ke surga-Nya bersama
para Anbiya’, Shiddiqin, Syuhada’ dan Sholihin.”

Dengan iklan seperti itu, maka sempurnalah pujian buat Nurcholish Madjid, seolah-olah selama ini tidak
ada masalah yang serius tentang ide-ide dan pemikiran Islamnya. Padahal, banyak tokoh partai Islam itu
yang selama bertahun-bertahun aktif mengkritik pemikiran Nurcholish Madjid.

Bagi kita yang terbiasa mengikuti perkembangan pemikiran Islam di Indonesia, tentu paham benar
bagaimana dahsyatnya kontroversi pemikiran Nurcholish Madjid selama ini.

Pemikiran-pemikiran itu kini tersebar di berbagai buku dan media massa. Siapa saja bisa membacanya.
Sampai meninggalnya, Nurcholish tidak mencabut atau meralat pemikiran-pemikirannya.

Karena itu, sampai kapanpun, pikiran itu tetap terbuka untuk diikuti dan dikritik. Soal nasibnya sesudah
meninggal, kita serahkan kepada Allah, sebagaimana doa dari Prof. Halim Mat Diah tadi: “Semoga Allah
memberi balasan setimpal dengan amal perbuatannya.”

Tentang pemikirannya, kita tentu diwajibkan untuk tetap mengkritisinya. Selama ini, kritik terhadap
Nurcholish sudah begitu banyak.

Sayangnya, Nurcholish kurang menanggapinya. Apalagi banyak yang memuja Nurcholish secara
berlebihan, karena tidak memahami pemikiran Islam, atau bahkan karena tidak membaca buku-
bukunya.

Karena Nurcholish sudah dipandang sebagai orang hebat, maka dia diperlakukan sebagai “tidak mungkin
salah”.

Padahal, kenyataannya tidaklah demikian. Saya sudah menulis satu bab khusus dalam buku “Islam
Liberal” (Jakarta: GIP, 2003), yang mengkritik pemikiran-pemikiran Nurcholish dan membuktikan
berbagai kesalahan data dan fakta dalam tulisan-tulisannya.

Tetapi, para pemuja Nurcholish, seperti Eep Saefullah menulis: “Cak Nur adalah penganjur teguh
keharusan memahami keadaan–termasuk sosok-sosok di dalamnya—secara saksama dan cermat
berbasiskan kesahajaan fakta, kejujuran, dan obyektivitas. Maka bukan hanya ceramah agamanya yang
terasa sejuk, analisis dan kesaksian Cak Nur atas keadaan hampir selalu tepat dan mencerahkan.”

Sebagai Muslim, kita harus bersikap adil terhadap Nurcholish. Jika salah, kita katakan salah, jika
pendapatnya benar, harus kita katakan benar.

Tetapi, sayangnya, Nurcholish tidak menanggapi kritik-kritik terhadapnya, meskipun dia sudah
menerima koreksi atas data-data yang disajikannya.

Pendapatnya tentang definisi Ahlul Kitab, yang dia lebarkan definisinya mencakup agama-agama
nonYahudi dan Kristen, adalah pendapat yang sangat lemah.

Bahkan, penerbit Paramadina sendiri menerbitkan disertasi Dr. Muhammad Ghalib yang menolak
pendapat Nurcholish. Ketika hal itu saya ungkapkan dalam diskusi di Universitas Paramadina, dijawab
oleh seorang panelis lain, bahwa Paramadina kecolongan menerbitkan buku Dr. Ghalib.

Salah satu kesalahan fatal terakhir Nurcholish Madjid sebelum meninggalnya adalah keengganannya
menarik buku “Fiqih Lintas Agama” terbitan Paramadina dan The Asia Foundation.

Selain mengobrak-abrik syariat Islam, buku ini juga berisi caci maki terhadap ulama besar umat Islam,
yaitu Imam al-Syafii.”

Misalnya, ditulis dalam buku ini:

“Kaum Muslim lebih suka terbuai dengan kerangkeng dan belenggu pemikiran fiqih yang dibuat imam
Syafi’i. Kita lupa, imam Syafi’i memang arsitek ushul fiqih yang paling brilian, tapi juga karena Syafi’ilah
pemikiran-pemikiran fiqih tidak berkembang selama kurang lebih dua belas abad. Sejak Syafi’i
meletakkan kerangka ushul fiqihnya, para pemikir fiqih Muslim tidak mampu keluar dari jeratan
metodologinya.

Hingga kini, rumusan Syafi’i itu diposisikan begitu agung, sehingga bukan saja tak tersentuh kritik, tapi
juga lebih tinggi ketimbang nash-nash Syar’i (al-Quran dan hadits).

Buktinya, setiap bentuk penafsiran teks-teks selalu tunduk di bawah kerangka Syafi’i.” (Nurcholish
Madjid, dkk., Fiqih Lintas Agama: Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis, (Jakarta: Yayasan Wakaf
Paramadina, 2004), hal. 5.)

Jika sampai meninggalnya, Nurcholish tidak pernah mencabut pendapatnya, maka kita bisa
menyimpulkan, dia tetap berpegang pada pemikiran-pemikirannya selama ini.

Tuduhan terhadap Imam Syafii bukanlah hal yang ringan. Imam yang begitu besar jasanya bagi umat
Islam ini dinistakan begitu rupa oleh orang-orang yang kualitas keilmuannya masih diragukan.

Para pengikut Nurcholish tentu akan mencak-mencak jika dikatakan Nurcholish adalah perusak Islam
dan bangsa Indonesia.

Kabarnya, Nurcholish marah besar ketika pada tahun 1993, terbit sebuah buku berjudul: “Anatomi
Budak Kuffar dalam Perspektif Al Quran” karya Muhammad Yaqzhan yang diterbitkan Al Ghirah Press.

Disebutkan dalam buku ini, bahwa ceramah Nurcholish di TIM pada tanggal 21 Oktober 1992 adalah
merupakan “puncak gagasan Nurcholish Madjid dalam upaya menyeret manusia ke dalam comberan
atheisme baru yang intinya menggusur syariah, bahkan menuduhnya sebagai simbolisme yang
mengarah pada berhalaisme”.

Gagasan Nurcholish yang mendapat sambutan gegap gempita di Indonesia, menurut Yaqzhan,
merupakan prestasi puncak dari seorang anak didik orientalis dalam menyesatkan orang Islam.

Puncak gagasan ini sangat paralel dengan sikap iblis, cendekiawan syetan dari jenis jin. Dan sikap iblis ini
kemudian diwujudkan secara utuh oleh kamerad-kamerad syetan dari jenis manusia yang tergabung
dalam “Kelompok Pembaruan” yang mengorganisir aktivitasnya dalam satu wadah yang disebut

Paramadina, yang gerakannya kemudian dikenal dengan Gerakan Pembaruan Keagamaan. (Yaqzhan,
hal. 62-63).

Karena sudah menjadi bagian dari skenario besar, kemunculan dan kemasyhuran Nurcholish Madjid sulit
dihindarkan.

Sejumlah media massa besar tidak ingin melihat Nurcholish Madjid jatuh atau kalah dalam merebut
simpati masyarakat. Selain memang piawai dalam komunikasi, Nurcholish pun diuntungkan oleh peran
media massa ini.

Dr. Daud Rasyid, seorang tokoh PKS, menyebut bahwa “sihir Nurcholish” lebih canggih dan lebih
memukau daripada sihir Harun Nasution. (Daud Rasyid, Pembaruan Islam dan Orientalisme dalam
Sorotan, Jakarta, 1993)

Istilah “sihir Nurcholish” dari Daud Rasyid ini menarik untuk kita renungkan bersama. “Sihir” itulah yang
selama ini melanda banyak orang ketika melihat fenomena Nurcholish. Karena terkena “sihir” banyak
orang tidak mampu melihat realita dengan sebenarnya.

Karena terkena sihir, di masa Nabi Musa a.s. banyak orang yang tidak bida membedakan antara
“tongkat” dengan “ular”.

Karena terkena sihir, banyak yang tidak bisa membedakan, mana ilmuwan sejati dan mana ilmuwan
yang tidak sejati: Imam Syafii dicaci maki, Nurcholish Madjid dipuja-puji. Semoga kita tidak termasuk
yang terkena “sihir”. Wallahu a’lam. (Jakarta, 2 September 2005).

Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian Husaini merupakan kerjasama Radio Dakta 107 FM dan
http://www.hidayatullah.com/


Click to View FlipBook Version