The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by cheguridhwan81, 2020-09-15 11:46:20

Adnin armas 1

Adnin armas 1

Kajian Awal Terhadap Perlunya Epistemologi Islam
Oleh: Adnin Armas, M.A.
(Disampaikan pada Pekan Kajian Islam di FIB UI pada 22 Feb 2007)

Pendahuluan

Peradaban Barat telah menjadikan ilmu sebagai problematis. Ilmu dalam Peradaban Barat telah
mengangkat keraguan dan dugaan ke tahap metodologi ‘ilmiah.’ Westernisasi ilmu telah
menjadikan keraguan sebagai alat epistemologi yang sah dalam keilmuan, menolak Wahyu dan
kepercayaan agama dalam ruang lingkup keilmuan dan menjadikan spekulasi filosofis yang
terkait dengan kehidupan sekular yang memusatkan manusia sebagai makhluk rasional sebagai
basis keilmuan. Akibatnya, peradaban Barat telah menghasilkan ilmu pengetahuan dan nilai-
nilai etika dan moral, yang diatur oleh rasio manusia, terus menerus berubah.Syed Muhammad
Naquib al-Attas menyimpulkan ilmu pengetahuan modern yang dibangun di atas visi intelektual
dan psikologis budaya dan peradaban Barat dijiwai oleh 5 faktor: (1) akal diandalkan untuk
membimbing kehidupan manusia; (2) bersikap dualistik terhadap realitas dan kebenaran; (3)
menegaskan aspek eksistensi yang memproyeksikan pandangan hidup sekular; (4) membela
doktrin humanisme; (5) menjadikan drama dan tragedi sebagai unsur-unsur yang dominant
dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan.
Sumber Ilmu dalam Islam

Dalam pandangan Islam, ilmu adalah mungkin. Jadi, pemikiran skeptisisme, relatifisme,
agnotisisme tidaklah tepat. Selain itu, ilmu dalam Islam tidak terlepas dari Wahyu. Ini
disebabkan ilmu pengetahuan berasal dari Tuhan, dan diraih melalui saluran-saluran sebagai
berikut:

I. Panca indera (hawass):

(i) Panca indera eksternal: sentuhan (touch), penciuman (smell), rasa (taste), penglihatan (sight)
dan pendengaran (hearing)

(ii) Panca indera internal: akal sehat (common sense), representasi (representation), estimasi
(estimation), retention (retensi), rekoleksi (recollection) dan khayalan (imagination).

II. Riwayat benar (khabar sadiq) berdasar kepada otoritas (naql):

(i) otoritas mutlak (absolute authority)

(a) otoritas Tuhan (divine authority) seperti al-Qur’an

(b) otoritas kenabian (prophetic authority), yaitu Nabi

(ii) otoritas relatif

(a) ijma para ulama (tawatur)

(b) riwayat orang-orang yang amanah secara umum

III. Intelek (aql)

(i) akal sehat (ratio)

(ii) intuisi (hads, wijdan).

Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan modern yang saat ini dihasilkan oleh peradaban Barat tidak serta-merta
harus diterapkan di dunia Muslim. Sebabnya, ilmu bukan bebas-nilai (value-free), tetapi sarat
nilai (value laden). Ilmu bisa dijadikan alat yang sangat halus dan tajam bagi menyebarluaskan
cara dan pandangan hidup sesuatu kebudayaan.

Syed Muhammad Naquib al-Attas menyadari terdapatnya persamaan antara Islam dengan
filsafat dan sains modern menyangkut sumber dan metode ilmu, kesatuan cara mengetahui
secara nalar dan empiris, kombinasi realisme, idealisme dan pragmatisme sebagai fondasi
kognitif bagi filsafat sains; proses dan filsafat sains. Bagaimanapun, ia menegaskan terdapat
juga sejumlah perbedaan mendasar dalam pandangan hidup (divergent worldviews) mengenai
Realitas akhir. Baginya, dalam Islam, Wahyu merupakan sumber ilmu tentang realitas dan
kebenaran akhir berkenaan dengan makhluk ciptaan dan Pencipta.

Wahyu merupakan dasar kepada kerangka metafisis untuk mengupas filsafat sains sebagai
sebuah sistem yang menggambarkan realitas dan kebenaran dari sudat pandang rasionalisme
dan empirisesme. Tanpa Wahyu, ilmu sains dianggap satu-satunya pengetahuan yang otentik
(science is the sole authentic knowledge). Tanpa Wahyu, ilmu pengetahuan ini hanya terkait
dengan fenomena. Akibatnya, kesimpulan kepada fenomena akan selalu berubah sesuai
dengan perkembangan zaman.

Tanpa Wahyu, realitas yang dipahami hanya terbatas kepada alam nyata ini yang dianggap satu-
satunya realitas. Islam adalah agama sekaligus peradaban. Islam adalah agama yang mengatasi
dan melintasi waktu karena sistem nilai yang dikandungnya adalah mutlak. Kebenaran nilai
Islam bukan hanya untuk masa dahulu, namun juga sekarang dan akan datang. Nilai-nilai yang
ada dalam Islam adalah sepanjang masa. Jadi, Islam memiliki pandangan-hidup mutlaknya
sendiri, merangkumi persoalan ketuhanan, kenabian, kebenaran, alam semesta dll. Islam
memiliki penafsiran ontologis, kosmologis dan psikologis tersendiri terhadap hakikat. Islam
menolak ide dekonsekrasi nilai karena merelatifkan semua sistem akhlak.

Mendiagnosa virus yang terkandung dalam Westernisasi ilmu, Syed Muhammad Naquib al-
Attas mengobatinya dengan Islamisasi ilmu. Alasannya, tantangan terbesar yang dihadapi kaum
Muslimin adalah ilmu pengetahuan modern yang tidak netral dan telah diinfus ke dalam
praduga-praduga agama, budaya dan filosofis, yang sebenarnya berasal dari refleksi kesadaran
dan pengalaman manusia Barat. Jadi, ilmu pengetahuan modern harus diislamkan.

Mengislamkan ilmu bukanlah pekerjaan mudah seperti labelisasi. Selain itu, tidak semua dari
Barat berarti ditolak. Sebabnya, terdapat sejumlah persamaan antara Islam dan filsafat dan
sains Barat. Oleh sebab itu, seseorang yang mengislamkan ilmu, ia perlu memenuhi pra-syarat,
yaitu ia harus mampu mengidentifikasi pandangan-hidup Islam (the Islamic worldview)
sekaligus mampu memahami budaya dan peradaban Barat. Pandangan-hidup dalam Islam
adalah visi mengenai realitas dan kebenaran (the vision of reality and truth). Realitas dan
kebenaran dalam Islam bukanlah semata-mata fikiran tentang alam fisik dan keterlibatan
manusia dalam sejarah, sosial, politik dan budaya sebagaimana yang ada di dalam konsep Barat
sekular mengenai dunia, yang dibatasi kepada dunia yang dapat dilihat. Realitas dan kebenaran
dimaknai berdasarkan kajian kepada metafisika terhadap dunia yang nampak dan tidak
nampak.

Jadi, pandangan-hidup Islam mencakup dunia dan akhirat, yang mana aspek dunia harus
dihubungkan dengan cara yang sangat mendalam kepada aspek akhirat, dan aspek akhirat
memiliki signifikansi yang terakhir dan final. Pandangan–hidup Islam tidak berdasarkan kepada
metode dikotomis seperti obyektif dan subyektif, historis dan normatif. Namun, realitas dan
kebenaran dipahami dengan metode yang menyatukan (tawhid). Pandangan-hidup Islam
bersumber kepada wahyu yang didukung oleh akal dan intuisi. Substansi agama seperti: nama,
keimanan dan pengamalannya, ibadahnya, doktrinya serta sistem teologinya telah ada dalam
wahyu dan dijelaskan oleh Nabi. Islam telah lengkap, sempurna dan otentik. Tidak memerlukan
progresifitas, perkembangan dan perubahan dalam hal-hal yang sudah sangat jelas (al-ma'lum
min al-din bi al-darurah). Pandangan-hidup Islam terdiri dari berbagai konsep yang saling terkait
seperti konsep Tuhan, wahyu, pencipatan, psikologi manusia, ilmu, agama, kebebasan, nilai dan
kebaikan serta kebahagiaan. Konsep-konsep tersebut yang menentukan bentuk perubahan,
perkembangan dan kemajuan. Pandangan-hidup Islam dibangun atas konsep Tuhan yang unik,
yang tidak ada pada tradisi filsafat, budaya, peradaban dan agama lain.

Setelah mengetahui secara mendalam mengenai pandangan-hidup Islam dan Barat, maka
proses Islamisasi baru bisa dilakukan. Sebabnya, Islamisasi ilmu pengetahuan saat ini (the
Islamization of present-day knowledge), melibatkan dua proses yang saling terkait:

i) mengisoliir unsur-unsur dan konsep-konsep kunci yang membentuk budaya dan peradaban
Barat (5 unsur yang telah disebutkan sebelumnya), dari setiap bidang ilmu pengetahuan
modern saat ini, khususnya dalam ilmu pengetahuan humaniora. Bagaimanapun, ilmu-ilmu
alam, fisika dan aplikasi harus diislamkan juga khususnya dalam penafsiran-penafsiran akan
fakta-fakta dan dalam formulasi teori-teori.

Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, jika tidak sesuai dengan pandangan-hidup Islam,
maka fakta menjadi tidak benar. Selain itu, ilmu-ilmu modern harus diperiksa dengan teliti. Ini
mencakup metode, konsep, praduga, simbol, dari ilmu modern; beserta aspek-aspek empiris
dan rasional, dan yang berdampak kepada nilai dan etika; penafsiran historisitas ilmu tersebut,
bangunan teori ilmunya, praduganya berkaitan dengan dunia, dan rasionalitas proses-proses
ilmiah, teori ilmu tersebut tentang alam semesta, klasifikasinya, batasannya, hubung kaitnya
dengan ilmu-ilmu lainnya serta hubungannya dengan sosial harus diperiksa dengan teliti.

ii) memasukkan unsur-unsur Islam beserta konsep-konsep kunci dalam setiap bidang dari ilmu
pengetahuan saat ini yang relevant.

Jika kedua proses tersebut selesai dilakukan, maka Islamisasi akan membebaskan manusia dari
magik, mitologi, animisme, tradisi budaya nasional yang bertentangan dengan Islam, dan
kemudian dari kontrol sekular kepada akal dan bahasanya. Islamisasi akan membebaskan akal
manusia dari keraguan (shakk), dugaan (Ðann) dan argumentasi kosong (mirÉ’) menuju
keyakinan akan kebenaran mengenai realitas spiritual, intelligible dan materi. Islamisasi akan
mengeluarkan penafsiran-penafsiran ilmu pengetahuan kontemporer dari ideologi, makna dan
ungkapan sekular.

Sebagai kesimpulan, “revolusi epistemologis” diperlukan sebagai jawaban terhadap krisis
epistemologis yang melanda konsep ilmu dalam budaya dan peradaban Barat.

RUJUKAN

Lihat definisi Syed Muhammad Naquib al-Attas mengenai ‘peradaban Barat’ dalam karyanya
Islam and Secularism (Kuala Lumpur: ISTAC, edisi kedua, 1993), 133-35, selanjutnya diringkas
Islam and Secularism.
Ibid., 137.
Lihat kritikannya terhadap sekularisasi dalam karyanya Islam and Secularism, 38-43.
Lihat kritikannya di dalam karyanya Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An Exposition of
the Fundamental Elements of the Worldview of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 88; 99-108,
selanjutnya disingkat Prolegomena.
Dikutip dari Adi Setia, “Special Feature of The Philosophy of Science of Syed Muhammad
Naquib al-Attas,” dalam Islam & Science 1 (2003), No. 2, 189.
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, 134.
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin (Kuala Lumpur: ISTAC, 2001),
49. Sekalipun Risalah diterbitkan pada tahun 2001, namun sebenarnya naskah tersebut sudah
ada sejak tahun 1973. Gagasan yang ada di dalam naskah tersebut dikembangkan menjadi
beberapa karya monograf.
Sumber dan Metode Ilmu pengetahuan menurut Naquib al-Attas adalah (I) Panca-indera yang
meliputi 5 indera eksternal seperti sentuh, bau, rasa, lihat, dan dengar, serta 5 indera internal
seperti represntasi, estimasi, retensi (retention), mengimbas kembali (recollection) dan

khayalan. (II) Khabar yang benar didasarkan kepada otoritas (naql): yaitu otoritas absolut yaitu
otoritas ketuhanan (al-Qur’an) dan otoritas kenabian (rasul) dan otoritas relatif, yaitu
konsensus para ulama (tawatur) dan khabar dari orang-orang yang terpecaya secara umum dan
(III) Akal yang sehat dan intuisi. Lihat skema struktur epistemologi Naquib al-Attas dalam Adi
Setia, “Philosophy of Science of Syed Muhammad Naquib al-Attas,” Islam & Science 1 (2003),
No. 2., 189.
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and the Philosophy of Science (Kuala Lumpur: ISTAC,
1989), 9.
Ibid., 4.
Ibid., 5.
Wan Mohd Nor Wan Daud , The Educational Philosophy, 298.
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, 30-32.
Syed Muhammad Naquib al-Attas telah membahas isu-isu Islamisasi dan Westernisasi pada
akhir tahun 60-an dan awal tahun 70-an. Lihat Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational
Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas - An Exposition of the Original
Concept of Islamization (Kuala Lumpur: ISTAC, 1998), 237, selanjutnya diringkas The
Educational Philosophy.
Ibid., 291.
Ibid., 313-14.
Lihat uraian komprehensif Syed Muhammad Naquib al-Attas mengenai pandangan-hidup Islam
dalam Prolegomena, 1-39.
Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy, 313.
Ibid., 313.
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena, 114.
Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy, 313.
Al-Attas menyatakan: “Islamization is the liberation of man first from magical, mythological,
animistic, national-cultural tradition opposed to Islam, and then from secular control over his
reason and his language.” Lihat Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, 44.
Wan Mohd Nor Wan Daud , The Educational Philosophy, 312.
Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam, 43.
Fazlur Rahman, Muhsin Mahdi, Abdul Karim Sorush dan Bassam Tibi menolak gagasan Islamisasi
Ilmu Pengetahuan. Pemaparan lebih mendalam mengenai kritikan dan jawaban atas kritikan
tersebut lihat karya Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy.

Mendudukkan Orientalis
Hamid Fahmi Zakarsyi

Tulisan Adnin Armas (Orientalisme dan Teori Pengaruh' Terhadap Islam; Republika, Kamis, 6
Mei 2004) dan tulisan Pradana Boy ZTF (Bersikap Adil Terhadap Peradaban; Republika, Selasa,
11 Mei 2004) pada intinya sama: mengajak kaum Muslim untuk bersikap kritis terhadap
orientalis, Barat, dan tidak bersikap apriori dalam menyikapi pemikiran asing.

Sebenarnya, saya yakin, Adnin Armas tidak mempunyai sikap apriori terhadap Barat seperti
yang tersirat dalam tanggapan Pradana. Sebab Adnin Armas lulus program master di ISTAC-
IIUM, di bawah bimbingan seorang orientalis, Prof Paul Letink, pakar fisika nuklir dan
filsafat/sains Islam. Ia juga sempat belajar bahasa Latin dan Greek beberapa tahun. Guru Letink,
Hans Deiber, pakar sejarah filsafat Islam, juga pernah mengajar Adnin di ISTAC. Meskipun
dikenal sebagai profesor yang otoritatif di bidang sejarah filsafat Islam, Deiber misalnya, tetap
juga berpegang pada pendapatnya, bahwa al-Quran ditulis oleh Muhammad. Namun di ISTAC
para orientalis tidak hanya diminta mengajar bidangnya tapi juga diminta meluruskan
pemikirannya tentang Islam yang salah.

Pendiri ISTAC, Prof Naquib al-Attas, pernah menegur Deiber, bahwa di ISTAC dia tidak mengajar
Islam, ia hanya diminta mengajar sejarah filsafat Islam dalam kaitannya dengan kebangkitan
Barat. Demikian pula Paul Letink. Sebab, kata al-Attas, pakar-pakar Muslim lebih tahu tentang
Islam. Jadi, sikap tidak apriori terhadap Barat justru diajarkan di ISTAC, tapi sekaligus diajarkan
sikap kritisnya.

Dalam kajian berbagai bidang keilmuan, termasuk bidang Islamic Studies, harus diakui,
Barat/orientalis telah mencapai tahap perkembangan besar dengan segala motifnya, baik motif
keilmuan, keagamaan, atau pun motif politik-ekonomi. Karena itulah, sikap kritis sangat
diperlukan. Masalahnya adalah bagaimana dapat bersikap kritis? Apa metodologi dan bekal
untuk bersikap kritis? Tanpa penguasaan yang baik terhadap kedua khazanah: Islam dan Barat,
maka sulit diharapkan, akan muncul sikap kritis yang benar. Bisa-bisa yang terjadi sebaliknya:
menyangka telah bersikap kritis, tetapi justru yang terjadi adalah mengkritisi Islam dengan cara
pandang non-Muslim.

Al-Attas bahkan menyatakan bahwa sekarang ini kita tidak akan dapat mengetahui masalah
yang dihadapi umat Islam jika tidak mengetahui perbedaan Islam dan Barat. Namun ia tidak
berbicara Barat dalam pengertian politik. Apa yang ia tekankan adalah dalam aspek pemikiran
atau secara umum aspek pandangan hidup. Terdapat perbedaan bahkan pertentangan
permanen antara pandangan hidup Islam dan Barat. Oleh Sebab itu jika kita mempelajari
pemikiran orang Barat, khususnya orientalis, kita perlu mengkaji pula pandangan hidup yang
menjadi asumsi dasar pemikiran tersebut. Pandangan hidup yang dimaksud terdiri dari konsep
Tuhan, konsep manusia, konsep kehidupan, konsep kenabian, konsep alam, dan lain-lain.

Pada dasarnya, tidak ada perubahan yang signifikan dan substansial antara orientalis dulu dan
sekarang. Malah, Shireen T Hunter, dalam satu tulisannya berjudul The Rise of Islamist

Movements and The Western Rresponse: Clash of Civilizations or Clash of Interests? menyebut,
ilmuwan kontemporer seperti Bernard Lewis, termasuk tokoh aliran "neo-orientalis" yang
berbeda dengan aliran neo-third-world. Pola pikir "neo-orientalis" Lewis itulah yang mewarnai
isi buku barunya, The Crisis of Islam, yang begitu banyak membela politik neo-konservatif AS.
Singkatnya, kajian-kajian keislaman para orientalis bagaimana pun ilmiahnya, ia tetap berpijak
pada pre-supposisi Barat, dan terkadang Kristen. Prinsip dasar bahwa Nabi Muhammad adalah
utusan Allah, dan al-Quran adalah firman Allah tidak menjadi asas bagi kajian mereka. Ini bisa
dipahami, sebab dengan mengakui kerasulan Nabi Muhammad berarti mereka mengakui Islam
sebagai agama terakhir. Mereka tidak mungkin pula mengakui al-Quran sebagai firman Allah.
Sebab al-Quran memuat banyak kecaman terhadap doktrin-doktrin agama Yahudi dan Nasrani,
seperti: "Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata sesungguhnya Allah ialah al-
Masih putera Maryam"(al-Maidah 5: 17; dan juga 5: 72); "Sesungguhnya kafirlah orang-orang
yang mengatakan bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga" (al-Maidah (5: 73); "Dan karena
ucapan mereka sesungguhnya kami telah membunuh Isa al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul
Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi orang yang
diserupakan dengan Isa bagi mereka (al-Nisa 4: 157); dan berbagai ayat lainnya.

Kandungan al-Quran yang mengecam ajaran Yahudi dan Kristen seperti itu jelas akan menuai
reaksi balik sepanjang masa. Seorang Kaisar Bizantin, Leo III (717-741 M), misalnya, telah
menuduh al-Hajjaj ibn Yusuf al-Tsaqafi, seorang gubernur di zaman kekhalifahan Abdul Malik
ibn Marwan (684-704 M) telah mengubah al-Quran (Arthur Jeffery, "Ghevond's Text of the
Correspondence between Umar II and Leo III, Harvard Theological Review, 269-332).

Peter, pendeta di Maimuma, pada tahun 743 menyebut Rasululllah SAW sebagai nabi palsu.
Yahya al-Dimasyqi atau dikenal juga sebagai John of Damascus (m. 750) juga menulis dalam
bahasa Yunani kuno kepada kalangan Kristen ortodoks bahwa Islam mengajarkan anti-Kristus.
John of Damascus berpendapat bahwa Muhammad adalah seorang penipu kepada orang Arab
yang bodoh. Dengan liciknya, katanya, Muhammad bisa mengawini Khadijah sehingga
mendapat kekayaan dan kesenangan. Dengan cerdasnya, Muhammad menyembunyikan
penyakit epilepsinya ketika menerima wahyu dari Jibril. Muhammad memiliki hobi perang
karena nafsu seksnya tidak tersalurkan. (Daniel J Sahas, John of Damascus on Islam: "The
Heresy of the Ishmaelites", Leiden: E. J. Brill, 1972, hlm. 67-95).

Seirama dengan John of Damascus, Pastor Bede dari Inggris yang hidup pada tahun 673-735 M
berpendapat bahwa Muhammad adalah seorang manusia padang pasir yang liar (a wild man of
desert). Bede menggambarkan Muhammad sebagai kasar, cinta perang dan biadab, buta huruf,
status sosial yang rendah, bodoh tentang dogma Kristen, dan tamak kuasa, sehingga ia menjadi
penguasa dan mengklaim sebagai seorang nabi.

Sikap menghina Rasulullah SAW berlanjut pada zaman pertengahan Barat. Pada saat itu,
Rasulullah SAW disebut sebagai Mahound, atau juga Mahoun, Mahun, Mahomet, di dalam
bahasa Prancis Mahon, di dalam bahasa Jerman Machmet, yang sinonim dengan setan, berhala.
Jadi, Muhammad bukan sebagai seorang nabi palsu. Lebih dari itu, ia merupakan seorang
penyembah berhala yang disembah oleh orang Arab yang bodoh.

Pada zaman kelahiran kembali (Renaissance) Barat dan zaman Reformasi (Reformation) Barat,
image buruk terus berlanjut. Marlowes Tamburlaine menuduh al-Quran sebagai karya setan.
Martin Luther menganggap Muhammad sebagai orang jahat dan mengutuknya sebagai anak
setan. Pada zaman Pencerahan Barat, Voltaire menganggap Muhammad sebagai fanatik,
ekstremis, dan pendusta yang paling canggih. Biografi Rasulullah SAW beserta al-Quran terus
menjadi target. Snouck Hurgronje mengatakan: "Pada zaman skeptik kita ini, sangat sedikit
sekali yang di atas kritik, dan suatu hari nanti kita mungkin mengharapkan untuk mendengar
bahwa Muhammad tidak pernah ada (in our skeptical times there is very little that is above
criticism, and one day or other we may expect to hear that Muhammad never existed).

Harapan Hurgronje ini selanjutnya terealisasikan dalam pemikiran Klimovich, yang menulis
sebuah artikel diterbitkan pada tahun 1930 dengan berjudul "Did Muhammad Exist?" Dalam
artikel tersebut, Klimovich menyimpulkan bahwa semua sumber informasi tentang kehidupan
Muhammad adalah buat-buatan. Muhammad adalah fiksi yang wajib karena selalu adanya
asumsi bahwa setiap agama harus mepunyai pendiri. Sikap para orientalis seperti itu tidak bisa
disederhanakan kategorisasinya menjadi orientalis klasik yang berbeda dengan orientalis
kontemporer.

Orientalis kontemporer tetap mengusung gagasan orientalis klasik sekalipun dengan kadar,
level, cara dan strategi yang berbeda. Intinya sama saja yaitu mengingkari kenabian
Muhammad dan kebenaran al-Quran. Penolakan seperti itu adalah loci communes (common
places) dalam pemikiran para orientalis. Ini bisa dimengerti karena eksistensi agama mereka
tergugat dengan munculnya Islam. Karena hal ini juga, wajar jika kajian mereka kepada
Rasulullah SAW dan al-Quran tidak dibangun dari keimanan, sebagaimana sikap seorang
Muslim.

Para orientalis yang mengkaji bidang teologi dan filsafat Islam sejak DB MacDonald, Alfred
Gullimaune, Montgomery Watt, atau sebelumnya hingga Majid Fakhry, Henry Corbin, Michael
Frank, Richard J McCarthy, Harry A Wolfson, Shlomo Pines, dan lain-lain mempunyai framework
yang hampir sama. Di antara asumsi yang umum mereka pegang erat-erat adalah bahwa
filsafat, sains, dan hal-hal yang rasional tidak ada akarnya dalam Islam. Islam hanyalah "carbon
copy" dari pemikiran Yunani. Padahal diskursus filsafat di Ionia tidak ada apa-apanya
dibandingkan wacana yang bersifat metafisis pada awal tradisi pemikiran Islam yang
berkembang di zaman Nabi dan sahabat. Artinya para orientalis tidak mau mengakui bahwa
pandangan hidup Islam adalah unsur utama berkembangnya peradaban Islam.

Sikap simpatik para orientalis terhadap Islam tidak serta merta menjadikan pemikiran mereka
menjadi benar. Sebab, asumsi dan juga konsekuensi dari framework di atas adalah
pengingkaran terhadap tradisi intelektual Islam yang berbasis pada wahyu. Transmisi ilmu
pengetahuan melalui sumber yang disebut kabar mutawatir tidak diakui oleh mereka sebagai
valid.

Jadi, sekalipun pengetahuan mereka tentang sejarah pemikiran keislaman mendalam, namun
kajian mereka tetap fragmentatif. Mereka tidak menghubungkan kajian mereka tentang Islam

yang spesifik dengan prinsip yang umum dan universal. Kajian mereka tentang hal-hal yang
spesifik seperti tentang sejarah al-Quran, etika dalam Islam, politik dalam Islam, dan lain-lain
tidak dikaitkan dengan makna Islam sebagai suatu agama dan pandangan hidup yang memiliki
prinsip dan tradisinya sendiri. Prinsip bahwa ilmu mendorong kepada iman, misalnya, tidak
tecermin dalam tulisan-tulisan mereka. Ilmu-ilmu keislaman yang mereka miliki tidak
mendorong pembacanya untuk beriman kepada Allah SWT. Tidak juga membuat mereka sendiri
yakin dengan kebenaran Islam. Dan yang jelas mereka tidak bisa disebut sebagai ulama.

Sebagai penutup perlu dicatat bahwa Islam adalah agama dan pandangan hidup yang telah
melahirkan peradaban yang gemilang. Untuk mempertahankan dan mengembangan peradaban
Islam tidak berarti menolak mentah-mentah masuknya unsur-unsur peradaban asing.
Sebaliknya untuk bersikap adil terhadap peradaban lain tidak berarti bersikap permisif terhadap
masuknya segala macam unsur dari peradaban lain tanpa proses adaptasi.
Dosen ISID Pondok Modern Gontor Ponorogo
www.republika.co.id

Adnin Armas: Post-Modernisme itu Filsafat Tanpa Batas
Senin, 17 November 2014 - 14:08 WIB

Hidayatullah.com–“Metafisika ialah ilmu yang membahas tentang prinsip dasar dan sebab-
sebab wujud. Istilah metafsika ini digunakan pertama kali oleh penyunting tulisan Aristoteles,
sehingga karya tulis itu dinamai itu dinamai dengan Metafisika Aristoteles,” Demikian
disampaikan ungkap Adnin Armas, MA. ketika membuka perkuliahan kesepuluh Sekolah
Pemikiran Islam (SPI) #IndonesiaTanpaJIL, pada hari Kamis (13/11/2014).

Perkuliahan yang dihadiri oleh beberapa aktivis dari lembaga dakwah berbasis kampus serta
beberapa chapter #IndonesiaTanpaJIL sekitar Jabodetabek ini diadakan di Aula Aula Institute
for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan.
Tema yang diangkat kali ini adalah “Pengantar Filsafat”.

Di awal perkuliahannya, Adnin Armas menjelaskan beberapa aspek pemikiran Aristoteles pada
jaman sebelum Nabi Isa as yang membahas keterkaitan seseorang yang berbentuk wujud
kepada yang menciptakan wujud tersebut.

“Filsafat Aristoteles ada beberapa yang mengarah pada ketuhanan, tentang adanya keterkaitan
kita sebagai manusia di sini, bisa melakukan ini-itu, mendengar, dan lain-lain, dengan sang
pengatur alam semesta yang ada di sana, ditempat yang tidak bisa kita jangkau. Sehingga kita
ini ada, karena kehendak-Nya. Jika Dia tidak berkehendak maka kita tidak akan ada di sini,” jelas
Adnin yang juga menjabat sebagai Pimpinan Redaksi Majalah Gontor.

“Ada beberapa pendapat Aristoteles yang keliru mengenai konsep wujud. Sehingga dibutuhkan
koreksi mengenai pemikiran konsep wujud tersebut,” ujar Adnin.

Dalam perkuliahannya kali ini, Adnin Armas juga menyebutkan beberapa tokoh filsuf yang
terkenal lainnya seperti Plato dan Socrates yang telah mewarnai perkembangan ilmu di Barat
sebelum era Katolik menghegemoni di Barat, sehingga meleburkan semua hasil pemikiran
mereka.

“Pada saat Katolik berada pada jaman keemasannya, pemikirannya berlawanan dengan
pemikiran filsafat yang dikembangkan oleh para filsuf sebelum hegemoni Katolik, sehingga
Katolik pun akhirnya dipaksa mengikuti filsafat-filsafat modern yang kemudian berkembang
menjadi ide meliberalkan agamanya sendiri,” ungkap Adnin.

Sebagai akibat dari perkembangan secara liberal ilmu filsafat di Barat, beberapa pemuda
Muslim yang tidak mempunyai modal ilmu agama mendalam menjadi tergiur untuk
menerapkannya dalam Islam.

Adnin kemudian mengkritisi produk filsafat saat ini yang dominan dipelajari oleh mahasiswa-
mahasiswa universitas Islam seperti hermeneutika dan semacamnya, yang bagi Islam sangat
bertentangan.

“Tragisnya, dosen-dosen tidak menepisnya, justru semakin menggiring mahasiswanya untuk
menelan mentah-mentah filsafat semacam itu,” kata Direktur Eksekutif INSISTS ini.

Di akhir pembahasannya, Adnin Armas kembali menegaskan bahwa ilmu filsafat yang banyak
dikembangkan sekarang ini tidak membuat seseorang menjadi lebih dekat kepada Tuhan-nya,
namun justru membuat orang semakin membantah keberadaan Tuhan-nya.

“Mempelajari Islam adalah lebih utama, karena ketika pemahaman agama itu telah kita miliki
dengan kuat, maka kita akan dapat menyaring pemikiran-pemikiran filsafat post-modern yang
tanpa batas,” pungkasnya.*/Adif Widhianto Fauzi

Kiblat Studi Islam Jangan Lagi Ke Barat
Selasa, 11 November 2014 - 06:39 WIB

Hidayatullah.com–Kiblat studi Islam di kalangan Perguruan Tinggi Islam selama ini dianggap
telah mengalami misorientasi (salah tujuan) dan disorientasi (tak tentu arah). Perguruan Tinggi
Islam realitasnya lebih berkiblat ke negara-negara Barat dalam wacana studi Islam ketimbang
ke negara-negara Islam sehingga menyebabkan terjadinya dekonstruksi (kerusakan) studi Islam.

Hal ini disampaikan Dr Syamsuddin Arief, Profesor Madya di Pusat Pengajian Lanjutan Islam,
Sains dan Tamadun (CASIS), Universiti Teknologi Malaysia di hadapan ratusan mahasiswa UIN
Ar-Raniry di Gedung B Fakultas Tarbiyah, Ahad (09/11/2014) kemarin.

Menurut Syamsuddin Arief, reorientasi studi Islam harus diarahkan ke Timur Tengah sehingga
perguruan Tinggi bisa menyusun Worldview (cara pandang Islam) dalam melihat berbagai
persoalan berdasarkan ajaran Islam, bukan dalam perspektif orientalis.

Dosen CASIS yang menguasai banyak bahasa dunia ini mengatakan bahwa orientalisme dan
diabolisme adalah kelanjutan dari penjajahan atau imperilisme Barat terhadap dunia islam yang
telah dimulai semenjak abad ke 15 Masehi.

Oleh karena itu setiap umat Islam khususnya mahasiswa sebagai calon intelektual ke depan
harus lebih paham akan hal ini, agar kemudian umat Islam bisa bangkit dari penjajahan masa
kini.

Pasalnya, paham orientalisme telah menjadi faktor utama pemicu keragu-raguan umat Islam
terhadap ajaran Islam sehingga melahirkan berbagai produk pemikiran yang menyimpang.

Kuliah umum bertema “Orientalisme dan Diabolisme Intelektual” ini dimoderatori oleh Yusran
Hadi, Lc, MA. Ketua Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesiaa (MIUMI) Aceh.

Acara ini diselenggarakan oleh Dewan Mahasiswa Fakultas Tarbiyah UIN Ar-Raniry bekerja sama
dengan Gerakan Indonesia Tanpa JIL dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)
Aceh dan berlangsung di Aula Gedung B Fakultas Tarbiyah UIN Ar-Araniry.

Sementara itu, Pembantu Dekan III Fakultas Tarbiyah UIN Ar-Raniry, Dr. M. Syahbuddin Gade,
MA, saat membuka acara menyampaikan pentingnya para mahasiswa untuk memahami studi
orientalisme dalam Islam. Karena orang-orang Barat melakukan penghancuran umat Islam tidak
lagi dengan perang akan tetapi serangan terhadap pendidikan dengan melakukan disorientasi
pengetahuan. Misalnya banyak studi tentang hadits pada akhir abad ini dibuat oleh orang-
orang Barat dengan pemahaman Barat, bukan Islam.

“Padahal itu jauh berbeda dengan tujuan dan pandangan Islam”, ujar Syahbuddin.*/ kiriman TK
Zulkhairi (Aceh)

Adnin Armas, MA: Sekularisme Nurcholis Madjid Jiplak Ide Harvey Cox

Direktur Eksekutif Institute for The Study Islamic Thought and Islamization (INSISTS) Adnin
Armas, MA menilai gagasan sekularisasi almarhum Nurcholis Madjid menjiplak gagasan tokoh
sekularis Barat Harvey Cox.

"Sebenarnya gagasan Nurcholih tentang sekular itu mengadopsi pemikiran Harvey Cox dalam
The Secular City, " ujar Adnin.

Menurutnya, tudingan para pendukung sekularisme Nurcholis yang sering menuduh para
pengkritik Nurcholish salam-paham terhadap gagasan sekularisme Nurcholish, tak berdasar.

"Padahal, sumber utama kesalah-pahaman gagasan sekularisasi disebabkan oleh pemikiran
Nurcholis Madjid yang ambigu, " tegas kandidat doktor Universitas Antarbangsa Malaysia
bidang Kajian Peradaban.

Dijelaskannya, Nurcholish menyampaikan gagasannya tentang sekularisasi dalam makalah yang
berjudul "Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat", pada tanggal 2
Januari 1970.

Dalam tulisan yang sangat ringkas itu, Nurcholish memaparkan perlunya sekularisasi dan
perbedaan antara sekularisasi dan sekularisme. "Sayangnya, hingga beliau sudah tak ada,
Nurcholis tetap tidak menyebutkan sumber dari pemikirannya dalam artikel itu, " imbuh Adnin.

Ia menambahkan, kritik atas sekularisme Nurcholis juga disampaikan Ahmad Wahib, yang juga
teman Nurcholis. Wahib menyadari kekeliruan gagasan sekularisasi Nurcholis yang simplistik
itu.

Adnin menunjukkan buku "Catatan Harian Ahmad Wahib" yang menulis, "Adalah kurang terus
terang bila Nurcholis mengartikan secular semata-mata dengan dunia atau masa kini dan
sekedar mengatakan bahwa semua yang ada kini dan di sini adalah hal-hal secular: nilai sekular,
masyarakat sekular, orang sekular dan lain-lain. " (Ahmad Wahib, 1981: 83).

Selain mengadopsi ide dan pendapat Harvey Cox dalam makna teologis, Nurcholis juga
mengembangkan sekularisasi dengan makna sosiologis.

Padahal, menurut Adnin, terdapat keterkaitan yang kuat antara makna sosiologis dan teologis.
Teologi sekular tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial masyarakat modern. "Evolusi gagasan
sekular dalam pemikiran Nurcholish sayangnya masih diabaikan oleh para pengikutnya, " imbuh
dia. (dina)


Click to View FlipBook Version