The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by cheguridhwan81, 2020-08-23 01:58:17

adian husaini 12

adian husaini 12

GHAZWUL FIKRI

ADIAN HUSAINI

ARKIB KOLEKSI CHEGU RIDHWAN
mahasiswamenggugat.blogspot.com

Kecerobohan Intelektual

Filed under: Adian Husaini,MA — iaaj @ 8:16 am

Munculnya intelektual yang pendapat-pendapatnya disebarluaskan ke public yang menyesatkan bila
dibiarkan akan melahirkan para intelektual yang jahil. Baca CAP ke-56 Adian Husaini, MA

Dunia intelektual Indonesia, sejak beberapa waktu lalu, dikenalkan dengan munculnya sebuah kelompok
bernama ?Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah?, disingkat JIMM. Adalah sesuatu yang
menggembirakan, bahwa di kalangan organisasi Islam, muncul semangat ilmiah, semangat untuk
mengkaji ilmu dan menyebarkan ilmu ke tengah masyarakat. Termasuk di lingkungan Muhammadiyah.
Sebab, kita tahu, masalah ilmu sangatlah mendasar dalam pandangan Islam. Banyak ayat al-Quran dan
hadith Nabi Muhammad saw yang menekankan pentingnya peran ilmu dalam kehidupan manusia.
Karena itu, kaum Muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu sepanjang hayat. Orang-orang yang berilmu,
yang disebut ulama, sangat dihormati posisinya. Ulama bukan hanya orang yang pintar tetapi yang juga
bertaqwa kepada Allah. (QS 35:28). Ulama-ulama yang jahat (ulamaa? al-suu?), sangatlah berbahaya
bagi masyarakat. Baik ulama yang ilmunya salah, maupun ulama yang perilakunya jahat.

Sebab itu, orang yang ingin menyebut atau disebut dirinya ulama, cendekiawan, intelektual, dan
sebagainya, yang ingin pendapat-pendapatnya didengar dan dituruti masyarakat, perlu sangat berhati-
hati, senantiasa bersikap cermat, teliti, dan tidak mudah menyebarkan pendapatnya kepada
masyarakat. Apalagi, ada hadits Nabi SAW yang diriwayatkan Imam Ad Darimy, yang menyatakan
“Orang yang terlalu mudah berfatwa (ceroboh) dalam berfatwa diantara kamu, akan masuk neraka.?
(Lihat al-Faidhul Qadir, Jld 1, hadith no.183).

Diceritakan dalam buku Biografi Empat Imam Mazhab, karya Munawar Khalil, bawa Imam Malik — guru
Imam Syafii — dikenal sangat berhati-hati dalam berpendapat dan bahkan lebih banyak menjawab “saya
belum tahu” ketika ditanya pendapatnya tentang berbagai hal. Imam Syafii menceritakan, “Sungguh aku
telah menyaksikan pada Imam Malik, bahwa beliau pernah ditanya masalah-masalah sebanyak 48
masalah. Beliau menjawab 32 masalah dengan perkataan, “Saya belum tahu”.

Imam Abu Mash’ab juga menceritakan, “Aku belum pernah memberi fatwa tentang satu masalah,
sehingga aku mengambil saksi dengan 70 orang ulama, bahwa aku memang ahli dalam soal yang
demikian itu.” Imam Abu Musa juga menceritakan, bahwa ketika berkunjung ke Iraq, Imam Malik
ditanya 40 masalah, dan hanya 5 yang dijawabnya. “Tidak ada perkara yang lebih berat atas diriku, selain

daripada ditanya tentang hukum-hukum halal dan haram,” kata Imam Malik. Terkadang, untuk
menemukan jawaban atas sesuatu, Imam Malik sampai tidak dapat makan dan tidur pulas. Kehati-hatian
para imam besar itu, sangat perlu menjadi pelajaran. Sebab, jika seseorang salah dalam menyebarkan
pendapat, maka ia akan bertanggungjawab terhadap kesalahan yang timbul akibat perbuatannya.

Karena itu, pada satu sisi kita gembira dengan bersemangatnya kaum muda muslim melakukan kajian-
kajian keislaman. Namun, pada sisi lain, kita juga perlu prihatin jika kajian-kajian itu dilakukan dengan
tidak serius dan sepintas tanpa mendalami akar persoalannya. Sebagai contoh, adalah tulisan yang
dibuat oleh Ketua Program Kajian Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), pada 21 Mei 2004,
di Republika, yang berjudul ?Menghindari Kejumudan Penafsiran Islam?.

Kita bisa menyimak berbagai kecerobohan dan kekeliruan fakta dan pendapat yang cukup fatal dalam
tulisan tersebut:

1. Ditulis: ?Banyak yang mengganggap dan mempercayai, bahwa Islam yang otentik dan paling benar
adalah Islam yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad semasa hidup.?

Kita bertanya: ?Apakah ada orang lain, termasuk di lingkungan Muhammadiyah, yang memahami dan
mempraktikkan Islam lebih baik dari apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw? Bukankah kuam
Muslim pasti meyakini, bahwa Nabi saw adalah uswatun hasanah; contoh yang baik??

Kita sungguh sulit memahami, jika ada yang menyebut dirinya intelektual Muslim, tetapi berani
melakukan gugatan terhadap keislaman Nabi Muhammad saw, dengan alasan apa pun, termasuk
dengan menyatakan, bahwa ?pemahaman dan pelaksanaan Islam di masa Nabi SAW itu, hanya cocok
untuk zaman dan tempatnya saja. ?Nabi hidup di zaman onta, kita hidup di zaman pesawat terbang,”
katanya.

Simaklah sebuah tulisan karya seorang dosen pemikiran Islam di Universitas Paramadina Mulya, di
website islam liberal, 17 Mei 2004, yang menyatakan sebagai berikut: ?Beranikah kita, misalnya,
menggunakan pemahaman kita sendiri terhadap persoalan-persoalan keagamaan yang kita hadapai
sekarang? Beranikah kita menggunakan hasil pemahaman kita sendiri berhadapan dengan pandangan-
pandangan di luar kita? Misalnya berhadapan dengan Sayyid Qutb, al-Banna, Qardawi, Nabhani, Rashid
Ridha, Muhammad bin Abd al-Wahab, Ibn Taymiyyah, al-Ghazali, Imam Syafii, al-Bukhari, para sahabat,
dan bahkan bisa juga Nabi Muhammad sendiri.?

Begitulah kata-kata calon doktor yang merupakan alumnus pesantren terkenal di Bekasi. Bayangkan, ada
dosen pemikiran Islam, yang tetap mengaku Muslim, yang berani mengkategorikan, pemikiran-
pemikiran Ibn Taimiyah, al-Ghazali, Imam al-Syafii, para sahabat, bahkan pemikiran Nabi Muhammad
SAW, dan mengajak kita untuk berani mengkritik mereka. Sementara, di tulisan yang sama, dia
mengutip pendapat seorang Immanuel Kant, tanpa kritik apa pun!

Sebagai Muslim kita wajib beriman bahwa Nabi Muhammad adalah ma?shum, terjaga dari kesalahan.
Jika ada meragukan akan hal ini, konsekuensinya, jelas akan meragukan al-Quran dan hadits Nabi
sebagai sumber kebenaran. Jika hal itu terjadi, maka apakah lagi yang tersisa dari Islam? Padahal, Allah
SWT berfirman: ?Dan dia (Muhammad SAW) tidak menyampaikan sesuatu, kecuali (dari) wahyu yang
diwahyukan kepadanya.? (QS, Al-Najm: 3).

Nabi Muhammad SAW memang seorang manusia biasa, tetapi beliau berbeda dengan manusia lainnya,
karena beliau menerima al-wahyu. (QS Fushilat:6). Bahkan, dalam surat al-Haaqqah ayat 44-46, Allah
memberikan ancaman kepada Nabi Muhammad SAW: ?Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan
sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya Kami pegang dia pada tangan kanannya, kemudian benar-
benar Kami potong urat tali jantungnya.?

Jadi, Nabi Muhammad SAW adalah penerima wahyu, dan beliau adalah yang paling memahami makna
yang terkandung dalam wahyu tersebut. Kita sungguh sulit memahami, jika ada manusia yang merasa
lebih pandai dari Nabi SAW dalam menafsirkan al-Quran.

2. Ditulis: ?Bila kita lihat ke belakang, hal itu berawal dari intensnya persentuhan umat Islam dengan
politik dan perebutan kekuasaan pada masa dan pasca dinasti Abbasiyah dan Umayyah. Secara simbolik,
mungkin saat itu bisa dikatakan Islam mencapai zaman keagungan. Namun, perkembangan Islam secara
substansial sebetulnya menjadi stagnan. Terlebih lagi, setelah daerah kekuasaan Islam banyak yang
jatuh ke tangan bangsa kolonial lewat Perang Salib ataupun perang saudara. Sebab, saat itu para ulama
menyerukan agar ijtihad dihentikan. Alasannya, jika perbedaaan pemahaman keagamaan dibiarkan
terus berlanjut, umat Islam semakin terpuruk karena terjadi perang saudara.

Pada akhirnya, fikih boleh berkembang dibatasi hanya pada 4 (empat) mazhab; Hambali, Maliki, Hanafi,
dan Syafii. Sedangkan kalam (teologi) yang banyak dianut adalah teologi Asy’ariah. Dan tasawuf serta

filsafat yang dijadikan rujukan adalah paham yang dibawa oleh Al-Ghazali.? Begitulah kutipan dari
penulis artikel tersebut.

Kita sebenarnya sulit memahami logika penulis dari kelompok intelektual yang mengusung nama
Muhammadiyah ini. Sejak berdirinya daulah Madinah, dengan Konstitusi Madinah-nya, yang sangat
terkenal dan diakui sebagai ?Konstitusi tertulis pertama di dunia?, maka sejak itu pula umat Islam sudah
intens dengan politik. Nabi Muhammad SAW adalah kepala negara. Begitu juga para khulafaurrasyidin.
Jadi, apa yang aneh dengan persentuhan yang intens antara umat Islam dengan politik? Apakah karena
itu, kemudian terjadi penyimpangan dalam penafsiran ajaran Islam? Logika ini hanya muncul, jika kata
?politik? dipahami dalam kerangka pikir Machiavelis.

Kita bertanya kepada penulis artikel itu: ?Siapakah ulama yang menyerukan ijtihad dihentikan? Ketika
Perang Salib bermula, tahun 1095, dan mulai menduduki sebagian wilayah Suria, tahun 1097, umat
Islam masih mengalami zaman kegemilangan secara peradaban, termasuk dalam bidang intelektual.
Hanya sebagian kecil wilayah Islam yang jatuh ke tangan pasukan Salib. Literatur tentang masalah ini
melimpah ruah.

Pada saat-saat itu pula, al-Ghazali menulis karya besarnya, Ihya? Ulum al-Diin. Berabad-abad kemudian,
masih bermunculan ulama-ulama besar, seperti Ibn Taimiyah, Imam Fakhruddin al-Razi, dan sebagainya,
dengan karya-karya agung mereka, yang hingga kini masih dijadikan bahan kajian para intelektual ?-
muslim dan non-muslim-? di berbagai dunia. Pintu Ijtihad tidak pernah tertutup. Tidak ada yang bisa
menutup pintu ijtihad itu. Hanya saja, seseorang mestilah ?berkaca diri?, apakah dirinya memang layak
mengaku mujtahid, padahal belum memahami al-Quran, hadith, serta berbagai perangkat ijtihad
lainnya. Imam dan pemikir besar seperti al-Ghazali, al-Bukhari, dan sebagainya, tetaplah mengakui
mengikuti Imam al-Syafii dalam bidang ushul fiqih. Jika Imam al-Bukhari saja mau mengakui keagungan
Imam al-Syafii, apakah ada intelektual dari Muhammadiyah yang bisa menyusun hadith sendiri, tanpa
mengikuti koleksi hadith al-Bukhari? Bahkan, tokoh Mu?tazilah, Qadhi Abdul Jabbar pun juga bermazhab
al-Syafii. Imam Ibn Taimiyah yang telah menulis ratusan Kitab juga mengikuti mazhab Imam Ahmad bin
Hanbal.

Imam al-Ghazali, meskipun beliau menulis kitab Ushul Fiqih, tetapi beliau pun tetap mengakui otoritas
al-Syafii. Itulah sikap para ilmuwan Muslim, tahu adab, tahu diri, tawadhu?, mengakui otoritas ilmuwan
lain, yang diakuinya lebih hebat dari dirinya.

Jika penulis artikel dari intelektual Muhammadiyah itu lebih mau bersikap cermat, maka akan paham,
bahwa mazhab fiqih dalam Islam tidak hanya empat itu saja. Ada mazhab Ja?fary, Dawud al-Dhahiry,
dan sebagainya. Sudah banyak kajian, mengapa empat mazhab itu yang kemudian lebih berkembang di
dunia Islam. Tidak ada yang membatasi bahwa mazhab fiqih yang boleh berkembang hanya empat
mazhab itu saja.

3. Ditulis juga: ?Pembakuan penafsiran dan corak keber-Islam-an itu, sebetulnya justru malah membuat
umat Islam tidak kreatif, apologetis, serta senantiasa memuja masa lalu. Mereka seringkali tidak
berusaha untuk mencari makna agama dengan berpikir mandiri dan kritis, soalnya semua urusan
senantiasa dikembalikan ke otoritas teks dan masa lalu. Padahal, menurut Nasr Hamid Abu Zaid (2003),
antara Islam dan pemahaman Islam haruslah dibedakan. Artinya, Islam sebagai wahyu Tuhan adalah
bersifat universal dan berlaku sepanjang masa. Akan tetapi, untuk mewujudkan wahyu Islam yang
universal itu dalam tatanan kehidupan yang nyata, membutuhkan sebuah pemahaman. Dan
pemahaman itu, tentu sangat berkaitan dengan situasi geografis dan perkembangan zaman yang
terjadi.?

Mencermati tulisan intelelektual muda Muhammadiyah ini, kita patut prihatin, karena pada akhirnya, ia
pun merujuk dan memuja masa lalu, dengan menokohkan Nasr Hamid Abu Zaid, yang banyak memuji
aliran Mu?tazilah. Padahal, jika kita telaah buku Mafhum al-Nash, dan karya-karya Nasr Hamid yang lain,
banyak masalah yang bisa kita kritisi. Dr. Anis Malik Toha, dosen di Universitas Islam Internasional
Malaysia, dalam kajiannya terhadap buku Nasr Hamid yang berjudul ?Naqd al-Khitab al-Diiniy?,
membuktikan, bahwa adanya dominasi pola pikir sekulerisme dalam diri Nasr Hamid. Karena itu,
sebelum seseorang menolak dan membuang karya-karya besar ulama Islam terdahulu, dan mengadopsi
pemikir modern seperti Nasr Hamid, mestinya dilakukan kajian yang serius dulu. Jika tidak, maka yang
akan terjadi adalah berbagai berbagai ironi.

Bisa-bisa muncul apa yang disebut sebagai ?mujtahidun jahilun?, mujtahid bodoh, yang ingin disebut
mujtahid, tetapi sejatinya tidak tahu apa-apa.

Jika kita melakukan kajian peradaban dengan serius, maka kita akan menjumpai, bahwa Umat Islam
mencapai kegemilangan selama ratusan tahun, dengan menggunakan pola pendekatan yang
dicontohkan Rasulullah, para sahabat, tabi?in, para ulama besar, seperti Maliki, al-Syafii, al-Asy?ari, al-
Ghazali, dan sebagainya. Contoh yang jelas, adalah bagaimana keberhasilan Shalahuddin al-Ayyubi
dalam mengembalikan kejayaan Islam dan mengalahkan Pasukan Salib, serta merebut Jerusalem pada
tahun 1187. Buku yang ditulis Carole Hillenbrand, berjudul ?The Crusades: Islamic Perspectives? (
Edinburgh University Press, 1999), menggambarkan bagaimana pengaruh pemikiran Islam mazhab

Asy?ari, Syafii, dan peran para ulama Ahlus Sunnah lainnya, dalam kebangkitan para pemimpin Muslim
ketika itu, termasuk dalam diri Shalahuddin al-Ayyubi.

Tentang masalah geografi dan waktu, sebenarnya juga hal yang sangat jelas dalam Islam. Kita bisa
melihat, bahwa dalam banyak aspek, ajaran Islam bersifat universal, tidak melihat tempat dan waktu.
Kapanpun, di mana pun, kaum Muslim akan sholat dalam bahasa Arab, Azan dalam bahasa Arab,
meskipun masyarakat tidak mengerti makna azan itu. Tidak boleh diubah. Apakah terpikir, jika di
kalangan JIMM ada yang tidak mengerti bahasa Arab lalu mengubah azan dalam bahasa Jawa, agar Islam
cocok untuk setiap tempat? Tentu tidak, sampai kapan pun!

Sebab itu, kita sebenarnya sangat prihatin, jika pikiran-pikiran yang sebenarnya tidak cermat, ceroboh,
keliru, dan tidak mendalam, disebarkan ke tengah masyarakat dengan mengatasnamakan ?intelektual?
dari organisasi Islam tertentu. Masalah kekeliruan pemikiran ini sangat penting, tidak kalah pentingnya
dengan pemilihan Presiden. Sebab, jika Presiden yang kita pilih berpikir salah tentang Islam atau
dikelilingi oleh orang-orang yang berpikir salah, maka dampaknya akan sangat besar buat Islam, umat
Islam, dan bangsa Indonesia. Wallahu a?lam. (KL, 26 Mei 2004).

Teror Kata Berkedok “Kasih”
Teror kata berkedok ‘kasih’ terbukti ampuh menaklukkan kekuatan Islam dibanding teror fisik
berkekuatan ‘cluster bomb’
oleh : Adian Husaini *

“Aku datang untuk menemui ummat Islam, tidak dengan senjata tapi dengan kata-kata, tidak dengan
kekuatan tapi dengan logika, tidak dalam benci tapi dalam cinta.”

Henry Martyn, missionaris

Perang Salib telah gagal, begitu kata Henry Martyn. Karena itu, untuk “menaklukkan” dunia Islam perlu
resep lain: gunakan “kata, logika, dan kasih”. Bukan kekuatan senjata atau kekerasan.

Hal senada dikatakan misionaris lain, Raymond Lull, “Saya melihat banyak ksatria pergi ke Tanah Suci,
dan berpikir bahwa mereka dapat menguasainya dengan kekuatan senjata, tetapi pada akhirnya semua
hancur sebelum mereka mencapai apa yang mereka pikir bisa diperoleh.”

Lull mengeluarkan resep: Islam tidak dapat ditaklukkan dengan darah dan air mata, tetapi dengan cinta
kasih dan doa. Menurut Eugene Stock, mantan sekretaris redaksi Church Missionary Society, tidak ada
figur yang lebih heroik dalam sejarah Kristen dibandingkan Raymond Lull. Lull adalah misionaris pertama
dan mungkin terbesar yang menghadapi para pengikut Muhammad.

Ungkapan Lull dan Martyn itu ditulis oleh Samuel M Zwemmer, misionaris Kristen terkenal di Timur
Tengah, dalam buku Islam: A Challenge to Faith (1907). Buku yang berisi resep untuk “menaklukkan”
dunia Islam itu disebut Zwemmer sebagai “beberapa kajian tentang kebutuhan dan kesempatan di dunia
para pengikut Muhammad dari sudut pandang missi Kristen”.

Bagi para missionaris, mengkristenkan kaum Muslim adalah keharusan. Dalam laporan tentang
Konferensi Seabad Misi-misi Protestan Dunia (Centenary Conference on the Protestant Missions of the
World) di London (1888), tercatat ucapan Dr George F Post, “Kita harus menghadapi Pan-Islamisme
dengan Pan-Evangelisme. Ini merupakan pertarungan hidup dan mati.” Selanjutnya, dia berpidato, “…
kita harus masuk ke dalam Arabia; kita harus masuk ke Sudan; kita harus masuk ke Asia Tengah; dan kita
harus mengkristenkan orang-orang ini atau mereka akan berbaris mengarungi gurun-gurun, dan mereka
akan menyapu laksana api melahap kekristenan kita dan melahapnya.”

Kasus Turki Utsmani

Kekuatan “kata” dan “kasih” model Henry Martyn perlu dicatat secara serius. Perang pemikiran ini
biasanya dijalankan dengan sangat halus, berwajah manis (seperti penampilan Paul Wolfowitz yang
murah senyum). Tetapi cara ini justru lebih manjur, tanpa disadari si Korban.

Ahmad Wahib, yang kini dibangkit-bangkitkan lagi oleh sejumlah kalangan, bisa jadi merupakan “korban
teror” sehingga dia jadi ragu tentang kebenaran Islam. Banyak cendekiawan Muslim yang jadi korban
setelah menerima pemikiran dan berbagai fasilitas. Anehnya, mereka merasa “tercerahkan” sehingga
bersemangat mengadopsi dan menyebarkan “pemikiran yang dianggap baru” kepada kaum Muslimin.
Padahal Allah telah memperingatkan dalam Al-Quran Surat Al-Hijr ayat 39:

“Iblis berkata: Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan
menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan
menyesatkan mereka semuanya.”

Kaum Yahudi juga sangat mafhum akan kekuatan teror “kata” dan “kasih”. Begitu dahsyat sehingga
mampu menghancurkan imperium besar (Utsmani) yang telah berusia hampir 700 tahun. Bagi Zionis,
Turki Utsmani adalah penghalang utama mewujudkan negara Yahudi di Palestina.

Bagi Kristen-Eropa, Turki Utsmani adalah ancaman serius. Pendiri Kristen-Protestan, Martin Luther,
menyatakan, “Kekuatan anti-Kristus adalah Paus dan Turki sekaligus”. Bernard Lewis menggambarkan,
begitu takutnya sampai ada doa agar Tuhan menyelamatkan mereka dari kejahatan Paus dan Turki
(Islam and the West, 1993).

Turki Ustmani sulit digulung dengan kekuatan senjata, tapi bisa ditekuk dari dalam oleh kelompok Turki
Muda (The Young Turk) dengan “kata-kata”. Setelah 1908, praktis kekuasaan di Ustmani sudah dipegang
oleh kelompok ini, melalui organisasi Committee anda Union Progress (CUP) yang beranggotakan para
cendekiawan Turki yang telah ter-Barat-kan (westernized). Tiga Presiden Tukri modern (sampai tahun
1960) adalah aktivis SUP.

Bagi mereka, Barat (Eropa) adalah “kiblat” untuk mencapai kemajuan. Abdullah Cevdet, seorang pendiri
CUP, mengatakan, “Yang ada hanya satu peradaban, dan itu adalah peradaban Eropa. Karena itu, kita
harus meminjam peradaban Barat, baik bunga mawar maupun durinya sekaligus.”

Dalam buku The Young Turk in Position yang diterbitkan Oxford Univeristy Press (1955), cendekiawan
Turki M. Sukru Hanioglu mencatat bahwa kelompok ini berideologi positivesme, materialisme, dan
nasionalisme. Hebatnya CUP juga memiliki kader-kader di tentara Ustmani, yang kemudian memegang
kekuasaan Turki Modern. Salah satunya adalah Musthafa Kemal Ataturk.

Menurut Prof. Halil Inalcik, “Revolusi Kemal Atatturk” mengambil konsep sosial Darwinsm. Karena itu,
setelah berkuasa, Ataturk mem-Barat-kan Turki sepenuhnya, sampai soal-soal pakaian dan bahasa. Soal
khilafah, Atatturk berpendapat, “Gagasan satu kekhalifahan, yang menjalankan otoritas religius bagi
seluruh umat Islam, adalah gagasan yang diambil dari khayalan, bukan dai kenyataan.”

Gerakan SUP di akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20 sangat penting dicermati, karena mereka mampu
menggunakan “kata-kata” untuk melumpuhkan :”kekuasaan” Sultan Utsmani. Terutama, dengan
kolaborasi dengan gerakan Zionis, setelah Kongfres Zionis Pertama (1897). Cevdet dan sejumlah aktivis
CUP memang simpatisan Yahudi dan gerakan Zionis.

Freedom and Liberation

Tokoh-tokoh CUP juga berkolaborasi dengan Freemansonry di Turki. Menurut Dr. Sukru Hanioglu, dosen
Universitas Islambul, saat itu aktivis Freemansonry memiliki hubungan erat dengan kelompok The
Ottoman Freedom Society (Osmanli Hurriet Cemiyati) yang dibentuk tahun 1906. Tokoh Freemanson,
Celanthi Scalieri, adalah pendiri loji The Lights of the East (Envar-I Sarkiye) yang beranggotakan sejumlah
politisi, jurnalis, dan agamawan terkemuka (seperti Ali Sefkati, pemimpin redaksi Koran Istiqlal, dan
Pangeran Muhammad Ali Halim, pemimpin Freemansonry Mesir).

Di sinilah nucleus faksi Turki Muda lahir. Gagasan utamanya mengelaborasikan kata Freedom
(kemerdekaan/kebebasan) dan Liberation (pembebasan). Gerakan Scalieri mendapat dukungan
sejumlah negara kuat, terutama Inggris. Itu bias dipahami, karena sejak ratusan tahun, Utsmani
dianggap sebagai ancaman bagi Kristen Barat. Pengaruh Freemansonry terhadap gerakan liberal dan
kebebasan Turki sangat kuat, sehingga Sukltan pun tidak berdaya.

Gerakan pembebasan di Turki ini mendapat inspirasi kuat dari dua peristiwa besar, yaitu Revolusi
Prancis dan kemerdekaan Amerika Serikat. A New Encyclopedia of Fremansonry (1996) mencatat bahwa
George Washington, Thomas Jefferson, John Hancoc, dan Benjamin Franklin adalah aktivis
Freemansonry. Begitu juga tokoh gerakan pembebasan Amerika Latin, Simon Bolivar, dan Jose Rizal di
Filipina.

Ide pokok Freemansonry adalah ,Liberty, Egality and Fraternity?. Di bawah jargon inilah, jutaan orang
“tertarik” untuk melakukan apa yang disebut sebagai “kemerdekaan sejati bagi seluruh rakyat dari tirani
politik maupun tirani sistem kerohanian”.

Tampaknya waktu itu Sultan Abdul Hamid II diposisikan sebagai “kekuatan tiran”. Dalam konteks
gerakan pembebasan pemikiran, yang diposisikan sebagai tirani sistem kerohanian adalah ?teks-teks Al-

Quran dan Sunnah?, juga khazanah-khazanah Islam klasik karya ulama Islam terkemuka. Masih ditelusuri
lebih jauh, seberapa jauh hubungan antara gerakan liberal dalam konteks pemikiran Islam dengan
gerakan Freemasonry. Yang jelas, Rene Guenon, guru Frithjof Schuon (pelopor gagasan pluralisme)
misalnya, adalah aktivis Freemasonry.

Juga masih diselidiki, adakah misalnya pengaruh aktivitas Jamaluddin Al-Afghani di Freemasonry dengan
pemikiran Muhammad Abduh atau tafsir al-Manar-nya Rasyid Ridla Yang jelas, jargon-jargon
pembebasan dari ?teks?, dan dekonstruksi tafsir Quran (lalu menggantinya dengan metode
hermeneutika yang banyak digunakan dalam tradisi Bibel), cukup sering terungkap.

Bahkan, bagi Mohamed Arkoun misalnya, Mushaf Utsmani diposisikan sebagai “tiran” yang perlu
dipersoalkan. Kata Arkoun, “persoalannya, berkaitan dengan proses historis pengumpulan Al-Quran
menjadi mushaf resmi kian lama kian tidak masuk akal di bawah tekanan resmi khalifah, karena Al-
Quran telah digunakan sejak permulaan negara Islam untuk melegitimasi kekuasaan dan menyatukan
ummat.”

Kekuatan ,kata dan ‘kasih” terbukti ampuh dalam menaklukkan kekuatan-kekuatan Islam, yang biasanya
disimbolkan dengan ungkapan tidak simpatik seperti “ortodoks”, “beku”, “berorientasi masa lalu”, dan
“emosional”. Kolaborasi cendekiawan Turki, Kristen-Eropa, dan Zionis-Yahudi berhasil menggulung Turki
Utsmani. Ironisnya, dua dari empat orang yang menyerahkan surat pemecatan Sultan Abdul Hamid II
(1909) adalah non-Muslim. Salah satunya, Emmanuel Karasu (tokoh Yahudi).

Teror fisik seperti cluster bomb-nya Amerika dalam invasi di Iraq, mudah memancing reaksi besar.
Ratusan ribu aktivis Islam turun ke jalan, menentang serangan AS ke Irak. Namun kalau menghadapi
teror “kata” berselubung “kasih”, kaum Muslimin biasanya terlambat sadar. Dampaknya pun biasanya
memakan waktu lama. Ummat Islam akan tenang-tenang saja meskipun setiap detik diteror dengan
kata-kata indah itu. Bisa melalui media massa, atau ucapan tokoh-tokoh ummat sendiri. Apakah sejarah
masih akan berulang untuk kaum Muslim Indonesia? Wallahu a?lam.*

Penulis adalah doktor di International Institute for Islamic Thought and Civilization-International Islamic
University (ISTAC-IIU), Kuala Lumpur

Upaya Menetapi Shirathal Mustaqim
Oleh: Adian Husaini
Sudah sangat jelas haq dan yang bathil. Ini berbeda dengan kaum pembaru Islam yang menggunakan
logika asal-asalan.

Sebagai Muslim, kita diwajibkan membaca doa dalam shalat, minimal 17 kali sehari: ”Ihdinash shirathal
mustaqim” (Ya Allah, Tunjukkanlah kami jalan yang lurus). Shirathal Mustaqim adalah jalannya orang-
orang yang diberi kenikmatan oleh Allah atas mereka (para nabi, para syuhada, dan shalihin), dan
bukannya jalan orang-orang yang dimurkai Allah (al-maghdhub) dan bukan pula jalan orang-orang yang
tersesat

Orang-orang yang dimurkai Allah (al-maghdhub) adalah mereka yang sudah tahu kebenaran, tetapi
enggan menerima kebenaran.

Bahkan, mereka kemudian menyembunyikan kebenaran, atau berusaha mengaburkan kebenaran,
dengan berbagai cara, sehingga yang haq dilihat sebagai bathil dan yang bathil dilihat sebagai haq. Kaum
al-maghdhub ini juga bukannya tidak tahu tentang Al-Quran. Bahkan, bisa jadi mereka sangat pandai
berhujjah dengan Al-Quran.

Sayyidina Umar bin Khathab pernah menyatakan, bahwa yang paling beliau khawatirkan akan menimpa
umat Islam adalah’tergelincirnya’ orang-orang yang ’alim dan ketika orang-orang munafik sudah ber
hujjah dengan Al-Quran. Rasulullah saw juga pernah menyampaikan, bahwa yang paling beliau
khawatirkan menimpa umat Islam adalah munculnya orang-orang munafik yang pandai berhujjah (kullu
munaafiqin ’alimil lisan).

Jadi, golongan al-maghdhub adalah siapa saja yang sudah mengetahui kebenaran, tetapi enggan
mengikuti kebenaran dan bahkan mengubah-ubah dan menyembunyikan kebenaran. Karena itulah, kita
diperintahkan untuk berdoa, agar jangan sekali-kali kita termasuk ke dalam golongan seperti ini.

Begitu juga kita berdoa semoga tidak termasuk ke dalam golongan ’al-dhalliin’, golongan yang tersesat.
Mereka tersesat karena tidak tahu dan tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Karena ketidaktahuan atau kebodohan inilah, golongan ini akan menyangka yang benar sebagai bathil
dan yang bathil mereka sangka benar.

Mereka adalah korban-korban dari tindakan golongan al-maghdhub yang telah terlebih dahulu
mengubah-ubah kebenaran. Bacalah berulang-ulang QS al-Baqarah mulai ayat 40-120.
Kita akan memahami, bagaimana besarnya kemurkaan Allah SWT terhadap kaum Yahudi yang telah
menolak dan mengubah-ubah kebenaran yang disampaikan kepada mereka oleh para nabi.

Merekalah yang menceritakan akan datangnya Nabi terakhir, tetapi ketika Nabi terakhir itu datang, dan
ternyata bukan dari golongan mereka, maka kaum Yahudi pun menjadi kaum yang pertama ingkar
kepada kenabian Muhammad saw.

Karena itu, kita juga diperintahkan senantiasa berdoa, agar jangan sampai termasuk ke dalam golongan
yang tersesat ini. Salah satu doa yang biasanya dibaca oleh kaum Muslimin adalah ”Ya Allah
tunjukkanlah yang benar itu benar, dan berikanlah kemampuan kepada kami untuk mengikutinya. Dan
tunjukkanlah yang bathil itu bathil dan berikanlah kemampuan kepada kami untuk menjauhinya.”

Suatu ketika, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Rasulullah saw menggambar sebuah
garis lurus. Lalu, beliau menggambar sejumlah garis yang mengarah ke kanan dan ke kiri dari garis lurus
tersebut. Rasul saw mengatakan: ”Ini adalah garis-garis yang bermacam-macam.

Pada setiap garis ini ada setan yang menyeru kepadanya.” Kemudian beliau membaca ayat Al-Quran:
“wa anna hadza shirathiy mustaqiiman fattabi’uuhu wa laa tattabi’u as-subula fatafarraqa bikum ‘an
sabiilihi.” (Katakanlah, ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan yang lurus itu, dan jangan kalian
mengikuti jalan-jalan yang bermacam-macam itu, sehingga kalian akan tercarai-berai dari jalan yang
lurus).

Allah SWT dalam QS Ali Imran: 101 juga mengingatkan kita semua agar bersungguh-sungguh dalam
bertaqwa kepada-Nya dan jangan sekali-kali mati kecuali dalam keadaan Islam.

Karena itu, kita juga senantiasa berdoa, agar pada ujung kehidupan kita nanti, kita tetap dalam kondisi
iman dan Islam, tidak syirik, tidak murtad, dan tidak kafir. Itulah yang disebut sebagai ‘husnul khatimah’,
akhir kehidupan yang baik. Diantara manusia, hanya diri kita sendiri yang tahu persis isi hati kita, apakah
kita masih dalam iman yang benar atau tidak.

Tetapi, tentu saja, untuk mengetahui mana yang iman dan mana yang kufur, mana yang haq dan mana
yang bathil, tidak cukup dengan berdoa saja. Hal itu harus disertai dengan ilmu. Karena itu, kita
diwajibkan untuk senantiasa mencari ilmu, sepanjang hidup. Dan ilmu yang terpenting adalah ilmu
untuk memahami mana yang haq dan mana yang bathil.

llmu untuk membedakan mana yang haq dan mana yang bathil itu sudah diturunkan oleh Allah SWT
melalui Rasul-Nya. Di zaman modern saat ini, dimana berbagai gagasan yang merusak Islam sudah
begitu menyebar bagai virus ganas, umat Islam justru dihadapkan pada tantangan yang sangat berat
dalam masalah keilmuan. Khususnya, ilmu untuk membedakan yang haq dan yang bathil. Sebab, pada
zaman seperti ini, yang memperjuangkan kebathilan pun tidak jarang berhujjah dengan ayat-ayat Al-
Quran dan hadits nabi. Tetapi, cara pemahaman mereka terhadap Al-Quran sudah tidak sesuai dengan
yang dirumuskan oleh Rasulullah dan pewaris beliau, para ulama yang shalih.

Bagi kita, umat Islam, Al-Quran yang merupakan wahyu Allah SWT adalah pedoman hidup yang utama.
Cara memahami Al-Quran (metodologi tafsir) pun sudah diajarkan oleh Rasulullah saw dan para sahabat
Nabi yang mulia. Para ulama pewaris nabi kemudian merumuskan metodologi tafsir dengan sangat
cermat dan teliti. Karena Al-Quran adalah kitab yang terjaga lafaz dan maknanya, maka menurut Prof.
Naquib al-Attas, ilmu tafsir adalah ilmu pasti. Tafsir, bukan ilmu spekulasi. Termasuk ketika menafsirkan
ayat-ayat tertentu dalam Al-Quran yang memungkinkan terjadinya perbedaan pandangan (zhanniy).
Perbedaan pendapat itu pun ada landasannya. Tidak asal beda.

Berangkat dari kepastian sumber, kepastian metodologi, dan kepastian makna itulah, selama ratusan
tahun umat Islam berjaya mengarungi kehidupan di dunia untuk menjadi khalifah di muka bumi. Umat
Islam memiliki pedoman yang pasti, yaitu teks Al-Quran dan Sunnah Nabi. Ini berbeda dengan
peradaban Barat yang tidak memiliki teks wahyu sebagai pedoman hidup mereka. Karena itu, mereka
tidak membangun peradaban di atas dasar Bibel. Mereka membuat sistem politik, ekonomi, sosial,
hukum dan sebagainya, bukan berdasarkan pada Bibel, tetapi kepada spekulasi akal semata.

Peradaban Barat tidak mempercayai Bibel sebagai teks dasar untuk mengatur seluruh aspek kehidupan
mereka. Karena kondisi teks Bibel itu sendiri, dan karena pengalaman sejarah mereka, maka mereka
memandang agama adalah urusan pribadi; agama adalah pengalaman rohani dan terkait dengan proses
sejarah. Sehingga, bagi mereka, tidak ada yang tetap dalam agama. Apa saja bisa diubah. Yang dulunya
dipandang salah dan sesat, beberapa abad kemudian diterima sebagai kebenaran. Yang dulunya haram
bisa jadi halal, atau sebaliknya. Itu semua bisa terjadi karena tidak ada otentisitas dan finalitas teks dan
makna Kitab Suci.

Orang Yahudi, misalnya, mengakui, bahwa Kitabnya sudah tidak bisa lagi dikenali, mana bagian yang asli
dan mana yang tambahan. Th.C. Vriezen dalam bukunya, Agama Israel Kuno (2001), menulis: ”Ada
beberapa kesulitan yang harus kita hadapi jika hendak membahas bahan sejarah Perjanjian Lama secara
bertanggung jawab. Sebab yang utama ialah bahwa proses sejarah ada banyak sumber kuno yang
diterbitkan ulang atau diredaksi (diolah kembali oleh penyadur). Proses penyaduran turun-temurun itu
ada untung ruginya. Salah satu keuntungannya ialah bahwa sumber-sumber kuno itu dipertahankan dan
tidak hilang atau terlupakan. Namun, ada kerugiannya yaitu adanya banyak penambahan dan
perubahan yang secara bertahap dimasukkan ke dalam naskah, sehingga sekarang sulit sekali untuk
menentukan bagian mana dalam naskah historis itu yang orisinal (asli) dan bagian mana yang
merupakan sisipan.”

Kitab ini kemudian dipakai oleh kaum Kristen sebagai Bibel mereka, ditambahkan dengan Perjanjian
Baru. Karena teks dan maknanya tidak terjaga, maka agama Yahudi dan Kristen selalu mengalami
perubahan dari waktu ke waktu, mengikuti perkembangan zaman. Ketika menghadapi hegemoni Barat
modern, mereka pun tidak segan-segan mengubah ajaran-ajaran yang sangat mendasar pada agama
mereka.

Perilaku kaum Yahudi dan Kristen dalam mengubah-ubah agama mereka inilah yang kemudian diikuti
oleh sebagian kalangan umat Islam dengan berbagai nama. Ada yang menamakan pembaruan Islam, ada
yang menamakan liberalisasi Islam, ada yang namanya sekularisasi Islam, dan sebagainya. Jika kita
cermati, perilaku para pembaru Islam akhir-akhir ini, sangat memprihatinkan. Mereka bukan sedang
melakukan upaya ’tajdid’ yang sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran (shirathal mustaqim) dalam
Islam. Banyak yang menggunakan logika asal-asalan dan kurang bertanggung jawab.

Jika ditunjukkan kekeliruan berfikir dan hujjah mereka, mereka juga tidak mau tahu, dan tidak mau
mengkoreksi pendapatnya. Tetapi, mereka selalu menyatakan,”Kami menginginkan perbaikan”.
Sangatlah berbeda sikap, pandangan, dan perilaku mereka dengan mujaddid Islam sejati, seperti Imam
Syafii.

Betapa prihatinnya kita masih saja menemukan adanya kampanye terbuka di media massa tentang
paham Pluralisme Agama, yang dalam pandangan Islam, jelas-jelas merupakan paham syirik, karena
membenarkan semua agama, yang beberapa diantaranya sudah dikoreksi oleh Al-Quran.

Para ulama Islam pun sepanjang sejarah, tidak pernah mengembangkan paham ”kebenaran semua
agama” ini. Karena memang paham ini adalah paham yang aneh, sangat fatal, dan merusak. Begitu juga
dalam implementasi fiqih, misalnya.

Sebagai contoh, hasil Keputusan Bahtsul Masail Muktamar NU ke-30 di PP Lirboyo Kediri, tahun 1999,
dengan tegas menyatakan, bahwa doa bersama antar umat beragama adalah tidak boleh, kecuali cara
dan isinya tidak bertentangan dengan syariat Islam. Dalam keputusan ini dikutip isi ”Hasyiyah Jamal ’ala
Fathil Wahab II:119”, yang melarang mengaminkan doa orang kafir. Dalam Muktamar NU itu juga
ditegaskan, bahwa ”Orang Islam tidak boleh menguasakan urusan kenegaraan kepada orang non-
Muslim kecuali dalam keadaan darurat.”

Hasil keputusan Muktamar NU ke-30 itu jelas sangat berbeda dengan isi buku ”Fiqih Lintas Agama”,
misalnya, yang menghapus sekat-sekat perbedaan agama dalam fiqih, sehingga perkawinan antar agama
pun sudah dihalalkan.

Bahkan, sejumlah pendukung paham relarivisme dan pluralisme agama kemudian menjadi penghulu
swasta untuk perkawinan antar-agama di berbagai tempat. Sudah banyak muslimah yang menjadi
korban kekeliruan kelompok ini, sehingga rela dikawini oleh laki-laki non-Muslim.

Karena ketidaktahuan atau hawa nafsu, banyak yang memandang penghulu-penghulu swasta itu juga
orang yang alim, karena bergelar doktor dan juga dosen di universitas-universitas Islam terkemuka. Di
kampusnya, para penghulu swasta ini juga sangat berkuasa terhadap mahasiswanya, dan leluasa
melampiaskan pikirannya, dengan mengarahkan isi skripsi, tesis, atau disertasi mahasiswa, sesuai
dengan pikiran dan selera mereka.

Padahal, buku ”Fiqih Lintas Agama” dan sejenisnya ini jelas-jelas sangat merusak agama, dan para
penulisnya sangat tidak pantas diberi gelar ’mujaddid’ atau ’pembaru Islam’.

Sejatinya, mereka telah dengan sangat jelas merusak ilmu-ilmu Islam. Anehnya, tindakan mereka itu
dibiarkan saja oleh para penguasa kampus, dan ada yang kemudian dianugerahi gelar ”guru besar dalam
pemikiran Islam”.

Ketika merombak hukum-hukum Islam tentang hubungan antar-agama, orang-orang yang mengaku
melakukan pembaruan Islam ini sama sekali tidak merumuskan metodologi ushul fiqihnya. Tetapi,
bahkan memulainya dengan mencerca Imam Syafii. Kita sudah beberapa kali menunjukkan kekeliruan
pandangan Pluralisme Agama dan paham relativisme agama.

Tetapi, anehnya, ada saja yang menulis di media massa, bahwa apa yang dilakukan oleh pendukung
paham syirik adalah mulia dan dalam rangka memperbaiki Islam, sebagaimana dilakukan oleh para
ulama Islam sebelumnya. Tentu saja, pandangan seperti ini sangat keliru dan fitnah besar terhadap para
ulama Islam terdahulu.

Tugas kita tentu saja, hanya melakukan amar ma’ruf nahi munkar, meskipun kita sadar benar, banyak
yang tidak rela jika kemunkaran dalam ilmu ini kita coba untuk diluruskan.

Itu bukan urusan kita lagi. Siapa pun juga yang ikhlas dan sungguh-sungguh dalam mencari kebenaran,
pasti akan ditunjukkan kebenaran itu oleh Allah SWT. Sekali lagi, di tengah kemelut pemikiran yang tidak
menentu saat ini, kita hanya berdoa kepada Allah, semoga kita tetap berada di jalan yang lurus (ash-
shirat al-mustaqim). Di zaman ini, menetapi jalan lurus bukanlah hal yang mudah, karena sebagaimana
disabdakan oleh Rasulullah saw, di kiri kanan kita senantiasa terbentang jalan-jalan yang menyimpang
yang seringkali dipoles dengan sangat indah dan menawan. Pada tiap jalan yang menyimpang itu, kata
Rasul saw, ada setan yang mengajak manusia untuk mengikuti jalannya. Jadi, pilihan bagi orang-orang
yang berilmu sudah sangat jelas: ikut shirath al-mustaqim, ikut jalan oran-orang yang dimurkai Allah (al-
maghdhub), atau ikut jalannya orang-orang yang sesat (al-dhaalliin).

Sungguh telah jelas, mana yang haq dan mana yang bathil, tentu bagi yang mau memahami. [Jakarta, 26
Januari 2007/hidayatullah].

Sikap Fanatik dalam Beragama

Adian Husaini

Presiden Megawati Soekarnoputri meminta Departemen Agama agar memperhatikan “Sikap Fanatik
Dalam Beragama”. Itu disampaikan ketika membuka Rapat Kerja Departemen Agama di Istana Negara
(17 Mei 2004). Sikap fanatik itu, kata Presiden, disertai perilaku yang progresif dan militan yang
diperlihatkan dengan meminggirkan paham yang berbeda dan kalau perlu dimusnahkan. “Mereka
menganggap tugas itu merupakan tugas suci yang mutlak harus dipenuhi,” kata presiden. Presiden

menilai, penyiaran agama telah melahirkan insan yang cenderung memandang ajarannya yang paling
benar. Hal itu telah melahirkan sikap memusuhi yang kurang menguntungkan bagi kehidupan toleransi.

Peringatan Presiden itu perlu dicermati. Apakah benar, bahwa dalam beragama seseorang tidak boleh
bersikap fanatik? Sayangnya, Presiden tidak memberikan penjelasan yang memadai, tentang arti kata
“fanatik”. Ia hanya menyebutkan beberapa hal yang menjadi indikator sikap fanatik, yaitu: “perilaku
progresif”, “militan”, dan “memandang ajarannya yang paling benar”. Benarkah kata-kata Presiden itu?

Kata “fanatik” sebenarnya berasal dari bahasa Latin “fanaticus”, yang dalam bahasa Inggris diartikan:
frantic atau frenzied. Artinya, gila-gilaan, kalut, mabuk, atau hingar-bingar. That music drives him frantic,
artinya: music itu membuat dia kegila-gilaan. Dari asal kata ini, tampaknya kata fanatik bisa diartikan
dengan sikap seseorang yang melakukan atau mencintai sesuatu secara serius dan sungguh-sungguh.

Sehingga kata ini dikontraskan dengan kata “toleransi”. Itulah, yang dikatakan Presiden, bahwa indikasi
dari fanatik adalah progresif, militan, dan merasa ajaran agamanya yang paling benar.

Pidato Presiden ini sebenarnya hal yang sengat serius, yang harusnya didiskusikan oleh para ulama dan
cendekiawan Muslim di Indonesia. Benarkah orang Islam tidak boleh fanatik dalam beragama, dalam
arti: tidak boleh progresif, militan, dan merasa ajarannya yang paling benar? Jika dicermati dengan akal
sehat dan jernih, jelas sekali pidato Presiden itu tidak benar.

Dalam aspek keimanan, orang Islam tidak ada tawar-menawar. Iman haruslah merupakah keyakinan
yang pasti. Tidak ada keraguan di dalamnya, laa rayba fiihi. Iman harus sampai ke tahap “yaqin”. Bahwa
Allah SWT adalah Esa, Ahad, itu tidak boleh ada tawar-menawar. Seorang Muslim tidak akan ragu bahwa
sorga dan neraka adalah wujud. Malaikat adalah wujud.

Dan juga bahwa Nabi Muhammad saw adalah Rasul Utusan Allah yang makshum, terjaga dari kesalahan.
Tidak ada yang ragu akan hal itu, siapa pun orang mukmin sejati. br>
Kita percaya, bahwa Presiden Megawati tentunya yakin, bahwa Taufik Kiemas adalah seorang laki-laki.
Tidak ada keraguan sama sekali. Begitu juga Taufik Kiemas tentu yakin, bahwa Megawati adalah seorang
wanita. Tidak ada kompromi dalam hal itu. Tentu Bung Taufik Kiemas akan sangat marah jika ada yang
menyatakan, bahwa istrinya diragukan kewanitaannya. Atau, sebaliknya. Begitu juga dalam hal haq dan

bathil. Tidak ada kompromi. Yang haq tetaplah haq, dan yang bathil harus dikatakan sebagai bathil.
Bahwa minuman keras, zina, judi adalah haram, sudah merupakan hal yang pasti.

Seorang mukmin tidak akan pernah menyatakan bahwa shalat lima waktu adalah tindakan tercela.
Dalam hal-hal seperti itu, sebagai seorang pemeluk Islam, Presiden Megawati pun akan bersikap fanatik
untuk meyakini bahwa Tidak Ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Antara haq
dan bathil tidak bisa dicampur, tidak ada kompromi. Jika seorang dikatakan pasti laki-laki, maka tidak
ada peluang untuk menyatakan, kemungkinan bahwa dia adalah perempuan. Jika seorang Muslim
menyatakan, bahwa Allah adalah Esa, Satu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, maka kaum Muslim
akan meyakini bahwa kepercayaan lain yang menyatakan Allah itu punya anak dan anaknya itu pernah
dikorbankan untuk menebus dosa manusia, adalah kepercayaan yang bathil. Al-Quran (QS. 5:72-75) pun
menegaskan, bahwa kepercayaan seperti itu adalah bathil, dan orang yang mempercayainya disebut
“kafir”. Kaum kafir akan dijebloskan ke dalam neraka. Apakah dengan sikapnya yang tegas seperti itu,
lalu al-Quran dikatakan bersikap fanatik?

Nabi Muhammad saw memberi contoh, bagaimana beliau begitu bersemangat untuk menyebarkan
Islam. Beliau mengirim surat kepada para tokoh dan raja-raja, mengajak mereka masuk Islam, beriman
kepada Allah dan Kerasulan beliau saw. “Masuk Islamlah anda, maka anda akan selamat”. Begitu antara
lain bunyi surat Nabi saw itu. Tentu, Nabi saw yakin, bahwa hanya Islam-lah agama yang benar dan jalan
keselamatan. Karena keyakinan seperti itulah, maka para wali songo dulu bersemangat menyebarkan
Islam ke Indonesia, sehingga Soekarno pun menjadi Muslim, dan begitu juga Megawati Soekarnoputri.
Apakah Nabi Muhammad saw akan dituduh bersikap fanatik dan mengajarkan umatnya untuk bersikap
fanatik, karena meyakini “hanya Islam yang benar”?

Jadi, sudah sepatutnya umat beragama memang fanatik dalam memegang agamanya. Umat Islam harus
fanatik, yakin dengan agamanya. Tidak ragu-ragu akan kebenaran agamanya. Dan serius dalam
memperjuangkan agamanya. Juga bersifat progresif untuk mengejar kemajuan.

Harusnya, Presiden Megawati menganjurkan agar jajaran Departemen Agama bersikap fanatik dalam
menjalankan agamanya, agar mereka tidak korupsi, tidak menelantarkan dan menindas jamaah haji,
tidak bermain-main dengan agamanya; tidak bersikap munafik, bicara agama tetapi perilakunya tidak
sesuai dengan ajaran agamanya. Harusnya, Presiden meminta agar Menteri Agama tidak setengah-
setengah dalam menjalankan jajaran Islam, sehingga tidak perlu percaya kepada mimpi tentang “harta
karun”.

Jadi, untuk hal-hal yang prinsip, sudah selayaknya orang beragama, bersikap fanatik. Orang Islam pun
sudah paham, untuk hal-hal yang bersifat khilafiah, maka tidak perlu ada sikap fanatik, seperti soal doa
qunut, cadar, dan sebagainya. Kaum Muslimin sudah mafhum akan hal itu. Dalam hal seperti inilah ada
toleransi. Boleh qunut boleh tidak. Boleh pakai cadar untuk wanita, boleh tidak. Tidak perlu fanatik.
Tapi, kalau soal keimanan dan hal-hal yang “qath’iy”, maka tidak ada kompromi dalam pendapat.

Jadi, mestinya, Presiden menjelaskan, kapan umat beragama boleh bersikap fanatik dan kapan tidak
sepatutnya bersikap fanatik. Ini sangat diperlukan, untuk mendidik rakyat, memahami makna kata-kata
dengan jelas, dan ilmiah. Bukan dengan kata-kata yang bersifat politis dan peyoratif.

Sebagai contoh, bisa dilihat juga dalam penggunaan kata “militan”. Karena kita mengikuti arus opini
internasional, maka kata ini sudah dipahami oleh banyak orang sebagai kata yang “buruk”. Karena
dikaitkan dengan terorisme. Ketika membunuh sekitar 40 orang sipil Irak dalam pesta perkawinan pada
19 Mei 2004, komandan pasukan AS mengatakan, bahwa mereka telah membunuh kaum militan.
Padahal, yang mereka bunuh adalah orang-orang sipil yang sedang mengawakan kenduri perkawinan,
termasuk wanita dan anak-anak.

Padahal, makna kata “militan” sendiri sebenarnya dapat bermakna baik, yaitu bersemangat dalam
mengerjakan sesuatu. Bisa dikatakan, para calon Presiden RI 2004-2009 bersikap militan dalam
mengejar cita-citanya. Artinya, mereka sangat serius dan bersungguh-sungguh, serta bersemangat.
Sampai-sampai ratusan milyar dikorbankan untuk itu. Hamzah Haz saja menganggarkan biaya kampanye
sebesar Rp 500 milyar.

Namun, media massa terus-menerus memborbardir kata “militan” dan identik dengan teroris. Harian
Kompas (3/8/2002) menulis sebuah berita berjudul “Perjanjian Antiteroris”. Tertulis dalam berita itu:
“Malaysia dan Australia hari Jumat (2/8), menandatangani Perjanjian Antiterorisme yang memungkinkan
kedua negara bekerjasama memerangi tersangka militan.”

Kamis (1/8/2002) lalu, rancangan perjanjian antiterorisme ASEAN-AS — yang diberi nama “ASEAN-AS
Joint Declaration for Cooperation to Combat International Terrorism” — ditandatangani. Menlu AS Colin
Powell langsung hadir dalam peristiwa penting di Brunei Darusslam. Disebutkan, “Pakta itu juga menolak
anggapan bahwa Islam militan adalah satu-satunya pihak yang didefinisikan sebagai teroris”. (Koran
Tempo, 30/7/ 2002)

Kata lain yang banyak dicitrakan dengan makna negatif adalah kata “radikal”. Para pejabat dan pemuka
agama sering mengutuk kaum radikal dan mengaku “moderat”. Usai bertemu dengan Colin Powell, di
Jakarta, Jumat (2 Agustus 2002), Menlu Hassan Wirajuda menepis kekhawatiran meluasnya gerakan
Islam radikal di Indonesia. Mayoritas muslim Indonesia, kata Wirajuda, cenderung moderat dan gerakan
radikal tak memiliki banyak pendukung. “Pemberlakuan syariat Islam sudah dibicarakan sejak 1945,
hanya sedikit yang mendukung,” ujarnya seperti dikutip Koran Tempo (3/8/2002).

Apa yang dimaksud dengan “radikalisme”? Horace M. Kallen (1972) mencatat tiga ciri radikalisme, yaitu
(1) radikalisme merupakan respon terhadap kondisi yang sedang berlangsung. Respon ini dapat berupa
evaluasi, penolakan, atau perlawanan, (2) radikalisme biasanya bukan sekedar penolakan, tetapi
berlanjut pada upaya mengganti tatanan yang ada dengan tatanan lain. Jadi, sesuai arti kata “radic”,
sikap radikal mengandung keinginan untuk mengubah keadaan secara mendasar, (3) radikalisme juga
ditandai dengan kuatnya keyakinan kaum radikalis terhadap program atau ideology yang mereka bawa,
dan sekaligus penafian kebenaran system lain yang akan diganti. (Effendy & Prasetyo, 1998). Maka,
berpijak pada definisi Kallen tersebut, “radikalisme” bukanlah sesuatu yang pasti buruk. Pidato Soekarno
di depan Sidang Umum PBB ke-15, 30 September 1960, yang bertajuk “Membangun Dunia Baru”, bisa
dikatakan sebagai sebuah pandangan dan sikap radikal, karena berupaya mengganti tatanan dunia yang
tidak adil dan menindas. Juga, perjuangan Nabi Muhammad saw yang menentang, merombak, dan
mengganti tatanan jahiliyah dengan tatanan Islam merupakan sikap dan perjuangan yang sangat radikal.

Bahkan, jika ditelusuri dalam sejarah, berbagai perubahan besar di dunia ini dimotori oleh gerakan-
gerakan radikal yang berupaya merombak tatanan yang ada dan menggantinya dengan tatanan dan nilai
baru. Banyak tokoh yang namanya harum dalam sejarah dan diberi julukan sebagai “radikal”. Salah
satunya adalah tokoh NU, Subchan ZE. Dalam tulisannya di edisi khusus 20 tahun Majalah Prisma, Arief
Mudatsir mencatat Subchan sebagai politisi yang “keras” dan “radikal” serta memiliki kepribadian yang
teguh dalam pendirian politik.

Para pejuang kemerdekaan RI, dulu, juga bangga disebut sebagai kaum radikal. Pada 1918 dibentuklah
apa yang disebut dengan “Radicale Concentratie” yang terdiri atas Budi Utomo, Sarekat Islam, Insulinde,
Indische Sociaal Democratische Vereniging yang bertujuan membentuk Majelis Nasional sebagai
“praparlemen” untuk menyusun rancangan UUD Sementara bagi Indonesia. Radicale Concentratie ini
kemudian menuntut dibentuknya parlemen yang terdiri atas wakil-wakil yang dipilih dari kalangan
rakyat, dan pertanggungjawaban pemerintahan kepada parlemen ini. (Nasution, 1995).

Kamus Umum Belanda-Indonesia yang dikarang S. Wojowasito mendefinisikan “radicaal” sebagai (1)
mendalam hingga ke akarnya, (2) ekstrim, (3) berpendirian amat jauh. Tampaknya, para pejuang

kemerdekaan RI dulu bangga pula disebut sebagai “ekstrim” – oleh Belanda. Padahal, mereka adalah
kaum radikal yang memiliki pandangan amat jauh dan berupaya menumbangkan kekuasaan kolonial.

Dalam kamus politik AS saat ini, Islam radikal, Islam militan, Islam fundamentalis, memang masuk daftar
musuh Barat yang utama yang wajib diberantas. Dan ini memang hasil penggodokan para ilmuwan garis
keras AS. Fawaz A Gerges, dalam bukunya America and Political Islam: Clash of Cultures or Clash of
Interests, 1999, mengungkapkan, beberapa ilmuwan AS (seperti Indyk, Kirkpatrick dan Miller), membuat
sejumlah kesimpulan tentang Islam. Diantaranya, pembentukan rezim otoriter adalah pilihan lebih baik
dari pilihan jelek dari “dua setan” (the least of two evils). Karena itu AS mesti terus menyokong regim
yang otoriter itu, meskipun mengorbankan demokrasi. “Jadi meskipun banyak kaum konfrontasionis
merasa pemerintahan Timteng memperlakukan rakyatnya secara buruk, tapi regim-regim itu telah
membantu AS untuk menetralisir Islam radikal-Islam politik — dan juga melindungi kepentingan AS,”
kata Gerges.

Seyogyanya, Presiden dan para pejabat Indonesia, lebih berhati-hati dalam menggunakan istilah, dan
tidak hanya percaya kepada para pembuat naskah pidatonya.

Jika kita menyimak sejumlah Pidato Soekarno tahun 1960-an, kita akan melihat, bagaimana fanatik,
militan, dan radikalnya Soekarno dalam memegang ideologinya. Dalam pidatonya di MU-PBB, 30
September 1960, Soekarno meyatakan: “Imperialisme dan kolonialisme adalah buah dari sistem negara
Barat itu… saya benci imperialisme, saya jijik pada kolonialisme.”

Untuk melawan Barat, pada 7 Januari 1965, Soekarno memutuskan RI keluar dari PBB. Menurut
Soekarno, dengan keluar dari PBB, Indonesia akan menjadi negara yang bebas dan berdikari. Saat
berpidato di Gelora Bung Karno, 7 Januari 1965, ia katakan: “Bukan lagi satu bangsa yang selalu minta
aid, please, please give us aid, pleas give us aid. Beberapa waktu yang lalu saya sudah berkata, go to hell
with your aid. Kita tidak memerlukan aid.” Itulah pidato Soekarno, ayah Presiden Megawati
Soekarnoputri yang kini akan berpasangan dengan Hasyim Muzadi, untuk merebut kursi RI , lagi! (KL, 20-
5-2004) Hidayatullah

Hermeneutika dan Fenomena Taklid Baru

Oleh : Adian Husaini

Hermeneutika kini telah menjadi begitu populer di Indonesia dan diajukan oleh berbagai pihak sebagai
alternatif pengganti metode tafsir ‘klasik’ dalam memahami Al-Quran.

Sejumlah nama pemikir modernis, neo-modernis, atau post-modernis –seperti Fazlur Rahman,
Mohammed Arkoen, al-Jabiri, Hassan Hanafi, Nasr Hamid Abu Zeid, Farid Essac, dan lainnya– kini
menjadi idola baru dalam memahami al-Quran dan Sunnah Rasul. Mereka begitu populer dan dikagumi
di berbagai institusi pendidikan dan ormas Islam, menggantikan tokoh-tokoh pemikir besar Islam,
seperti Syafii, Maliki, Hanafi, Ahmad bin Hanbal, al-Ghazali, Ibn Taimiyah, Muhammad Abduh, Rasyid
Ridha, dan yang lainnya. Kaum Muslimin Indonesia kini digerojok dengan ratusan –mungkin ribuan–
buku, makalah, dan artikel tentang hermeneutika, dengan satu pesan yang sama: “Tinggalkan (paling
tidak, kritisi!) tafsir lama.

Jangan percaya begitu saja pada penafsirnya, bahwa mereka adalah tulus dan tidak punya maksud apa-
apa. Mereka juga manusia, mereka punya kepentingan, punya wawasan yang terpengaruh oleh faktor
sosial budaya ketika itu”.

Prof Amin Abdullah, misal­nya, menulis dalam satu buku hermeneutika: “Metode penaf­siran Al-Quran
selama ini senantiasa hanya memper-hatikan hubungan penafsir dan teks Al-Quran tanpa pernah
meng-eksplisit-kan kepenti-ngan audiens terhadap teks. Hal ini mungkin dapat dimaklumi, sebab para
mufasir klasik lebih menganggap tafsir Al-Quran sebagai hasil kerja-kerja kesalehan, yang dengan
demikian harus bersih dari kepentingan mufasirnya.

Atau barangkali juga karena trauma mereka pada penafsiran-penafsiran teologis yang pernah
melahirkan pertaru-ngan politik yang maha dahsyat pada masa-masa awal Islam. Terlepas dari alasan-
alasan tersebut, tafsir-tafsir klasik Al-Quran tidak lagi memberi makna dan fungsi yang jelas dalam
kehidupan umat Islam.”

Dalam buku yang sama juga disebutkan bahwa, Hassan Hanafi menawarkan cara baru dalam membaca
al-Quran. Metode Hassan Hanafi, seperti juga Arkoen, dikatakan telah menghindarkan diri dari
penafsiran yang subjektif dan menjadikan teks sebagai sekedar justifikasi dan dalih bagi kepentingan
penafsir. Kini sudah saatnya ada panduan metodologis yang dapat menjadi “pencerahan” bagi mufasir-
mufasir muda Muslim dalam menjembatani antara al-Quran dan kemanusiaan.

Ditulis juga dalam buku ini: “Apalagi sebagian besar tafsir dan ilmu penafsiran yang diwarisi umat Islam
selama ini, sadar atau tidak, telah turut melanggengkan status quo dan kemerosotan umat Islam secara

moral, politik, dan budaya. ” (Lihat, Ilham B. Saenong, Hermeneutika Pembe­basan, 2002, hal. xxv-xxvi,
10).

Umat Islam tentu tidak boleh apriori dengan satu informasi. (QS Al-Hujurat:6). Jika dikatakan kaum
Muslim perlu menggunakan herme-neutika sebagai pengganti tafsir klasik, karena sebagian besar tafsir
klasik dianggap melanggengkan status quo, menyebabkan kemunduran, dan sebagainya, maka perlu
dipertanyakan, tafsir yang mana? dan “sebagian besar” itu berapa banyak? Sekarang ada ribuan tafsir
Al-Qur`an. Yang mana yang sudah dibaca para pengritik tafsir lama itu?

Tafsir al-Azhar ditulis Hamka dalam penjara. Begitu juga Tafsir Fii Zhilal al-Quran. Bahkan penulis-nya,
Sayyid Quthub, akhirnya meninggal digantung penguasa. Selama ratusan tahun, dunia Islam
menge-nyam kemajuan dan perkem-bangan di berbagai bidang ilmu pengetahuan, padahal tidak
menggunakan metode herme-neutika yang gencar dipromo-si-kan belakangan ini. Imam Ahmad, Ibn
Taymiyah, dan lainnya adalah para penentang penguasa, dan telah menunjuk-kan diri sebagai ilmuwan
besar dalam sejarah Islam.

Fenomena Taqlid baru

Sebenarnya praktek “belah bambu” semacam ini meru­pakan gejala yang mempri­hatinkan dalam dunia
ilmiah dan akademis. Klaim bahwa Hassan Hanafi, Fazlur Rahman, Arkoen, Nasr Hamid, dan sebagainya
“bebas dari kepentingan” dibandingkan dengan mufassir klasik, sangatlah tidak ilmiah. Tanpa bersikap
apriori, pemikiran Hassan Hanafi dan lain-lain itu perlu dikaji dengan kritis. Namun, seyogyanya, tidak
disertai dengan memberikan prasangka kepada pemikir-pemikir Muslim besar lain sebelumnya, sebelum
mem-baca karya mereka sendiri.

Malah, yang lebih mempri-hatinkan, analisis-analisis Jabiri, Nasr Hamid ter-hadap pemikiran al-Syafii, al-
Ghazali, dan sebagai-nya, terkadang diimani begitu saja, bahkan dijadikan rujukan tanpa mengecek dan
membaca kitab-kitab para imam itu secara langsung. Padahal, kitab-kitab para imam besar itu berjumlah
ratusan. Tapi kemudian dirumuskan dan disimpulkan dalam satu atau dua kalimat oleh analis. Sikap
seperti ini adalah sebuah bentuk taklid buta.

Jadi, ketika mereka menolak taklid kepada para imam besar, di saat yang sama mereka justru melakukan
taklid kepada pemikir modernis atau post-modernis, Muslim atau non-Muslim.

Dalam hal hermeneutika juga demikian. Berbagai buku tentang hermeneutika dan aplikasinya dalam
pemikiran Islam, menunjukkan adanya fenomena rujukan (taklid) pada pemikiran Scleiermacher dan
Dilthey, untuk hermeneutika teoritis; taklid kepada orang seperti Gadamer untuk herme-neutika
filosofis; atau taklid kepada Jurgen Habermas untuk metode hermeneutika kritis. Metode-metode tafsir
mereka itulah yang dianggap lebih tepat untuk menafsirkan al-Quran, ketimbang metode para ulama
tafsir.

Sebenarnya para ulama Islam sejak dulu telah mengem-bangkan sikap kritis, tidak apriori terhadap
pemikiran-pemikiran asing. Namun, mereka tidak menempatkan dan memahami Islam dalam kerangka
dan sistem episte-mo-logis yang berbeda dengan Islam. Sebab, Islam bukan hanya al-Quran dan Sunnah,
tetapi juga cara memahami (epistemologis) kedua sumber utama Islam itu.

“Cara memahami” adalah hal yang sangat vital. Di sinilah perlunya masalah herme­neutika didudukkan
dengan serius. Sebab, istilah dan metodologi ini bukan berasal dari tradisi Islam. Sebagai contoh,
hermeneutika teoritis menekankan faktor “kecuri­gaan” terhadap penafsir awal, sedangkan
hermeneutika kritis justru menekankan kecuriga-an terhadap teks itu sendiri.

Tafsir nyeleneh ala Hermeneutika
Sebagian perumus teori hermeneutika, mengajukan gagasan “pemisahan teks dari pengarangnya”
sebagai upaya untuk memahami teks dengan lebih baik. Bahkan, orang seperti Scleiermacher
meng-aju-kan gagasan tentang kemungkinan penafsir dapat memahami lebih baik dari pengarangnya.
Jika gagasan ini diterapkan untuk al-Quran, siapakah yang mampu mema-hami Al-Quran lebih baik dari
Allah SWT atau Rasul-Nya?

Inilah yang disesalkan banyak cendekiawan Muslim terhadap gagasan Nasr Hamid Abu Zaid yang
menyatakan bahwa al-Quran adalah “produk budaya” (muntaj tsaqafy).

Dengan menganggap Al-Quran semata-mata adalah produk budaya, karya sastra biasa, atau sekedar
teks linguistik seperti teks-teks lainnya, maka itu berarti telah memisahkan al-Quran dari
“Pengarangnya”, yaitu Allah SWT.

Padahal, sebagai kalam Allah, Al-Quran adalah tanzil. Redaksinya pun berasal dari Allah SWT. Dia
memang bahasa Arab, tetapi bukan bahasa Arab biasa. Dia adalah wahyu. Karena wahyu, maka manusia

yang paling mema-hami maknanya adalah Rasul-Nya dan orang-orang yang sezaman dengannya (para
sahabat).

Jika teks Al-Qur`an dice-rabut dari penjelasan Rasu-lullah SAW dan diletakkan dalam konteks paradigma
“Marxis”, maka maknanya tentu bisa berubah secara mendasar. Jika Allah meng­haramkan babi, lalu
dianalisis secara sosial-budaya ketika itu, maka akan bisa disimpul-kan secara hermeneutis, bahwa babi
haram karena dagingnya enak dan tidak ada di Arab.

Sekedar interupsi, Hamka pernah bercerita, pada tahun 1963 seorang pelajar SMP di Semarang
mengirim surat kepadanya. Si pelajar bercerita bahwa gurunya, seorang pemeluk setia agama Katolik,
menerangkan dalam kelas tentang sebab diharamkannya daging babi. Kata guru itu, Nabi Muhammad
sangat suka makan daging babi, sebab terlalu enak. Pada suatu hari pelayan beliau mencuri perse-diaan
daging babi yang akan beliau makan.

Ketika datang waktu makan, beliau minta persediaan daging yang sangat enak itu. Si pelayan mengaku
salah, telah mencuri dan memakan daging babi itu. Mendengar itu, Nabi Muham-mad sangatlah marah
karena dagingnya dicuri. Saking marah­nya, mulai hari itu dijatuhkanlah hukuman: “Haram atas umatku
makan daging babi”. Lihat, Hamka, Studi Islam, 1985:245-246);

Selain itu, hukum potong tangan akan dikatakan sebagai hukum yang hanya cocok untuk masyarakat
baduy gurun di Arab; alasan muslimah haram kawin dengan laki-laki non-muslim karena
masya-rakat-nya didominasi laki-laki; jilbab hanya wajib untuk daerah Arab karena iklimnya panas dan
berdebu; khamr haram hanya di daerah panas; homoseksual haram karena ketika itu belum ada HAM;
dan sebagainya.

Berbagai pemahaman nyeleneh seperti di atas, akan terus bermunculan apabila hermeneutika
digunakan dalam menginterpretasikan Al-Qur’an.

Perang Salib dan Kebangkitan Islam

Adian Husaini

Peradaban Barat sudah sampai pada penghujung senja usianya. Kini, peradaban Islam siap
menggantikannya.

Saat Presiden George W. Bush menggelorakan Perang Salib (Crusade) melawan teroris, pasca Tragedi 11
September 2001, sejatinya Bush tidak sedang terpeleset lidah. Bush sedang mengungkap alam sadarnya,
bahwa semangat Crusade kini diperlukan menggalang kekuatan Barat. Berakhirnya Perang Dingin yang
ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet, telah mengubah peta dunia. Barat, dengan serangkaian
ideologinya, tidak lagi legitimate untuk eksis. Padahal, menurut penasihat kawakan politik luar negeri
AS, Samuel P. Huntington (1996), untuk self-definition dan membangun motivasi, manusia perlu rival
dan musuh. Maka, konsekuensinya, Barat perlu musuh dan semangat baru, selepas komunisme.
Semangat Crusade itulah yang ingin digelorakan oleh Bush.

Namun, tidak terlalu sukses. Citra AS di Eropa justru jeblok. Dalam jajak pendapat di Eropa, awal
November 2003, AS menduduki posisi keenam sebagai negara yang mengancam perdamaian dunia,
setelah sekutu utamanya, Israel.

Eksistensi Barat memang sedang banyak dipertanyakan, apalagi selepas serangan AS ke Irak. Apakah
Barat telah berakhir? Thomas L. Friedman, menulis satu kolom di International Herald Tribune (3
November 2003), berjudul “Is this the end of the West?” Barat memang telah pecah. AS dan Eropa,
khususnya Jerman dan Perancis, telah berbeda dalam banyak hal prinsip. Carld Bildt, mantan PM
Swedia, menyatakan, bahwa selama satu generasi, Amerika dan Eropa bersepakat dalam hal (tahun
1945): Aliansi Atlantik Utara membangun komitmen bersama untuk menciptakan pemerintahan
demokratis, pasar bebas, dan menangkal pengaruh komunisme Uni Soviet. Kesepakatan ini berjalan
hingga 10 tahun.

Namun kini, semua itu sudah berubah. Bagi Eropa, tahun penting adalah 1989 (keruntuhan Soviet),
sedang bagi AS adalah 2001 (Tragedi WTC). Eropa dan AS juga gagal untuk membangun visi bersama
dalam menghadapi isu-isu global. “We have also failed to develop a common vision for where we want
to go on global issues confronting us,” kata Bildt.

Maka, dalam situasi seperti itu, Barat membutuhkan ‘faktor pemersatu’ (uniting factor). Dan orang
seperti Bush berpikir, Crusade adalah jawabannya. Bush berpikir logis, dan tidak kalap. Perang Salib

telah menorehkan bekas yang sangat mendalam pada Barat dan Islam, hingga kini. Buku Karen
Armstrong, Holy War: The Crusades and Their Impact on Today’s World,(1991), memberikan gambaran
jelas, bagaimana pengaruh Perang Salib terhadap dunia, kini.

Di tengah merosotnya pengaruh Gereja dan konflik antar kekuatan Kristen, pada 25 November 1095,
Paus Urbanus II, menyerukan Perang Salib. Para ksatria Kristen diminta menghentikan konflik antar
mereka dan bersatu padu menghadapi musuh Tuhan, yang mereka sebut “Turks”. “The Turks adalah
bangsa terkutuk, dan membunuh monster seperti mereka adalah suci. Maka, wajib bagi kaum Kristen
memusnahkan mereka,” kata Paus

Seruan Paus Urbanus mendapat sambutan luar biasa. Ratusan ribu pasukan Kristen bergabung, dengan
semangat tinggi merebut Jerusalem. Dalam buku klasiknya, Islam and the West (terbit pertama tahun
1960), Norman Daniel menyebut ‘semangat Crusade adalah melakukan pembantaian demi Kasih Tuhan’.
Maka, tidak heran, jika tentara Salib kemudian melakukan pembantaian yang luar biasa sadisnya
terhadap Muslim, Yahudi, dan berbagai kelompok masyarakat lain.

Tahun 1099, saat menaklukkan Jerusalem, mereka membantai sekitar 30.000 warganya. Puluhan ribu
kaum Muslim yang mengungsi di atap al-Aqsa dibantai dengan sadis, tanpa pandang bulu, wanita, anak-
anak, atau orang tua. Setahun sebelumnya, 1098, pasukan Salib (Franks/Crusaders) membantai ratusan
ribu kaum Muslim di Marra’t un-Noman, Syria. Paus menjanjikan pengampunan dosa bagi siapa pun
yang bergabung dalam pasukan Salib dan jaminan surga bagi yang mati dalam perang suci itu.

Karena itu, menurut Armstrong, Crusade adalah proyek kerjasama besar-besaran Eropa di masa
kegelapan mereka. Mereka dicengkeram dengan semangat Kristen yang tinggi. Jelas, Crusade
merupakan jawaban terhadap kebutuhan Kristen Eropa ketika itu.

Dunia Islam ketika itu ‘superior’ dalam peradaban dibanding semua peradaban yang ada. Islam sedang
di puncak keemasan. Sementara Eropa berada dalam kegelapan. Islam, sebagai entitas politik, masih
eksis. Khilafah masih tegak, meskipun terbagi menjadi tiga kekuatan besar (Mesir, Andalusia, dan
Baghdad). Fragmentasi politik cukup parah. Pada medio abad 11 M, Syria dan Palestina menjadi ajang
rebutan antara Fathimiyah dan Abbasiyah. Fathimi mendominasi Jerusalem antara 869-1073. Sedangkan
Abbasiyah menguasai Jerusalem antara 1073-1098.

Di tengah kehebatan peradaban Islam dan eksistensi entitas politik Islam itulah, justru pasukan Salib
berhasil merebut Jerusalem. Upaya penguasa Fathimiyah, Afdal bin Badr al-Jamali, untuk negosiasi dan
berdamai dengan Salib ditolak. Semangat pasukan Salib sedang begitu tinggi untuk merebut Jerusalem.
Mereka sangat percaya diri, meskipun lebih rendah tingkat peradabannya (hal yang sama terjadi saat
Baghdad diduduki pasukan Mongol).

Friksi politik di kalangan Muslim menjadi salah satu faktor utama kekalahan Islam pada tahap awal
Perang Salib. Respons Muslim sangat tidak memadai. Dalam buku The Crusades: Islamic Perspective
(1999), Carole Hillenbrand, menggambarkan repons kaum Muslim yang didominasi sikap apatis, terbelit
problem internal, dan kompromistis.

Penguasa Muslim di Syria, bukannya melakukan perlawanan terhadap pasukan Salib, tetapi malah
berkompromi dengan musuh. Sebaliknya, The Franks justru menunjukkan semangat tinggi, fanatik, dan
memiliki motivasi tinggi untuk mencapai tujuannya. Pada situasi seperti itulah, tampil Syekh Ali al-Sulami
(1039-1106), seorang ulama bermazhab Syafii. Ia menulis kitab berjudul Kitab al-Jihad. Tampaknya,
banyak ulama dan cendekiawan Muslim belum mengkaji Kitab ini. Yusuf al-Qaradhawi, dalam bukunya,
Al-Imam al-Ghazali Bayna Madihihi wa Naqidihi, sama sekali tidak merujuk karya al-Sulami, saat
membahas posisi al-Ghazali dalam Perang Salib. Padahal, kitab ini sangat penting untuk memahami
kisah sukses kaum Muslim dalam merebut kembali Jerusalem dari tangan Pasukan Salib– termasuk
peran al-Ghazali di dalamnya.

Ali al-Sulami melihat, kelemahan Muslim bukan hanya di bidang politik, tetapi menyangkut soal sikap
keagamaan. Melihat kondisi Muslim yang parah, al-Sulami merumuskan strategi jihad dalam dua tahap:
(1) Melakukan perbaikan moral untuk mengakhiri kemunduran spiritual kaum Muslim. Ia melihat,
kekalahan Muslim adalah pelajaran dan hukuman dari Allah, sebab mereka meninggalkan kewajiban
kepada Allah dan mengabaikan kewajiban jihad. (2) Melakukan penggalangan potensi kekuatan umat
melawan Crusaders.

Dalam tahap perbaikan moral itulah, al-Sulami banyak mengutip pendapat al-Ghazali, termasuk dalam
soal jihad. Tampaknya, al-Sulami bertemu al-Ghazali di Masjid Ummayah Damascus, saat al-Ghazali
melakukan perenungan di Masjid ini pada periode awal Perang Salib. Saat-saat itulah al-Ghazali menulis
karya monumentalnya, Ihya’ Ulumuddin. Dalam kitabnya, al-Sulami mendeskripsikan secara jelas
kondisi, situasi dan strategi mengalahkan pasukan Salib. Jihad ke dalam, memerangi hawa nafsu, dan
jihad ke luar memerangi musuh, dipadukan menjadi satu kekuatan yang dahsyat.

Selama puluhan tahun, dakwah al-Sulami tidak mendapat sambutan berarti. Titik terang mulai muncul
saat pasukan Muslim di bawah pimpinan Imamuddin Zengi, merebut Edessa pada 1144. Sukses
Imamuddin dilanjutkan putranya, Nuruddin Zengi, yang mengalahkan pasukan Salib pada 1149. Para
penulis menggambarkan Nuruddin merupakan sosok religius dan pahlawan jihad.

Sepeninggal Nuruddin (1174), tampil keponakannya, Shalahuddin al-Ayyubi sebagai komandan pasukan
Muslim. Tokoh inilah yang berhasil membebaskan Jerusalem dari pasukan Salib pada 1187.

Refleksi dalam berbagai hal, kondisi kaum Muslim kini, serupa dengan kondisi saat Perang Salib
berlangsung. Perang ini sendiri memakan waktu yang panjang (1096-1204). Pasukan Salib hanya berhasil
menduduki Jerusalem sekitar 87 tahun (1099-1187). Kelemahan akidah, moral, dan politik umat Islam
dipandang sebagai satu problem. Solusi al-Sulami yang melihat problem umat secara komprehensif dan
mengajukan solusi secara integral, perlu dipelajari. Problem politik, ekonomi, dan militer umat, tidak
dipisahkan dari problem pendidikan dan dakwah. Bahkan, ia menempatkan aspek ini pada tahap awal,
sebelum menyelesaikan problem politik dan militer.

Namun, kondisi kaum Muslim kini tentu jauh lebih rumit. Ibarat penyakit, saat Perang Salib, umat Islam
hanya terserang semacam “infeksi batu ginjal”. Kini, umat Islam terserang penyakit kompleks, sejenis
kanker ganas yang menghancurkan sel-sel tubuh. Bukan hanya secara ekonomi, politik, dan militer
(untuk kawasan tertentu, seperti Palestina), kaum Muslim terhegemoni.

Tapi, secara moral, konsep keilmuan, dan semangat pun, banyak yang tidak percaya diri pada konsep
Islam. Bahkan, lebih jauh, tak sedikit cendekiawan, ulama, dan tokoh Islam sendiri, yang meyakini bahwa
peradaban Barat – dengan nilai-nilai sekular dan liberalnya – adalah jalan kebangkitan umat Islam.
Mereka menyerang habis-habisan pandangan tentang “keunikan Islam”. Bahwa, Islam dan juga al-
Qur’an sama saja dengan agama dan kitab lain. Konsep inna al-diina ‘indallahi al-islam dan al-islaamu
ya’luu wa yu’laa ‘alaihi diputar balik dan ditentang jauh-jauh. Padahal, Barat masih percaya dan
memaksakan konsep sekuler-liberalnya sebagai pandangan hidup dunia. Pada saat yang sama, justru
langka ulama-ulama yang mumpuni dalam konsep keilmuan Islam dan sekaligus mumpuni mengkounter
konsep destruktif terhadap Islam.

Jalan kebangkitan adalah satu sunnatullah. Al-Qur’an banyak menjelaskan tentang jatuh bangunnya satu
kaum atau peradaban (Mis. QS 6:44, 17:16). Jika umat Islam gagal belajar dari sejarah – sebagaimana
diperintahkan al-Quran – dan gagal merumuskan masalahnya secara komprehensif, serta hanya melihat
dan menangani masalahnya secara parsial dan superfisial, sulit dibayangkan, kebangkitan Islam akan

terjadi dalam waktu dekat. Jangan-jangan, kebangkitan nanti menunggu munculnya generasi baru yang
dijanjikan Allah (QS 5:54). Sebab, generasi yang ada didominasi oleh pangabaian terhadap problem
keilmuan, akidah, syariah, ukhuwah, dan terlalu sibuk untuk mengejar kepentingan dan kemenangan
komunal, parsial, dan sesaat. (Sabili)

Wallahu a’lam.n
Kuala Lumpur, 7 Februari 2004

Juga Perlu Diberantas, Korupsi aqidah, iman, etika, hukum Islam dan konsep al-Quran
Adian Husaini,MA

Jika korupsi harta dijadikan masalah besa sekarang inir, maka seyogyanya, korupsi aqidah, korupsi iman,
korupsi konsep al-Quran, korupsi konsep etika dan hukum Islam, seharusnya juga menjadi agenda
serius. Upaya sebagian kalangan untuk melepaskan etika dari agama dan membangun “ethic without
religion” adalah upaya yang salah dan rapuh. Etika tanpa agama akan berakhir dengan kekacauan.

Ketika itulah akan muncul anggapan umum, bahwa korupsi bahaya buat masyarakat, tetapi zina – dan
semua yang mendorong ke arah perzinaan, seperti pornografi – dianggap bukan hal yang bahaya.

Wartawan, Farid Gaban, pernah menulis di Harian Republika berjudul “Negeri Vampire” untuk korupsi
dalam semua sektor kehidupan di Indonesia.

Kamis, (15 Januari 2004), dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu NU dan Muhammadiyah
mendeklarasikan Gerakan Nasional Anti-korupsi. Menurut Din Syamsuddin, wakil ketua PP
Muhammadiyah, gerakan tersebut merupakan gerakan moral untuk memberikan rasa berani kepada
masyarakat dan penegak hukum supaya berani mengungkapkan dan menangani kasus-kasus korupsi.
Dalam jangka panjang, gerakan itu bertujuan menguatkan basis budaya dan pendidikan antikorupsi
dengan memberdayakan masyarakat. Peristiwa ini sungguh hal yang menggembirakan dalam
perkembangan sosial-politik di Indonesia di awal tahun 2004.

Menjelang pemilu 2004, gerakan antikorupsi semakin meningkat. Komisi Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi (KPTPK), yang memiliki kewenangan besar dalam upaya pemberantasan kasus korupsi, pun
sudah dibentuk.

Sepertinya, seluruh bangsa Indonesia sudah sepakat, bahwa korupsi memang harus diberantas.
Keterlibatan organisasi dan tokoh-tokoh agama semakin menambah kuatnya gaung gerakan antikorupsi.
Banyak konglomerat dan juga mantan pejabat yang sudah dijebloskan ke penjara, gara-gara kasus
korupsi. Namun, mungkin, lebih banyak lagi yang belum disentuh hukum. Bahkan ada yang mungkin tak
tersentuh hukum atau kebal hukum.

Yang hebat lagi, jika ada yang melakukan korupsi sambil terus berkampanye melawan korupsi dan rajin
berceramah tentang perlunya menegakkan hukum. Semua orang Indonesia tahu, korupsi sudah menjadi
bagian dan gaya hidup kita. Kata Ketua Muhammadiyah, M. Syafii Maarif, korupsi sudah menggerogoti
sendi-sendi kehidupan bangsa. Di sekolah, universitas, kantor pemerintah, pelabuhan, dan sebagainya,
ada korupsi. Datanglah ke bandara Soekarno Hatta untuk bepergian ke luar negeri. Biasanya, tak lama,
akan ada yang datang menawarkan jasa untuk mengurus fiskal senilai Rp 800.000. Hemat Rp 200.000
dari tarif resmi.

“Kita juga tidak tahu Pak, uang itu larinya kemana?” kata seorang petugas, mempertanyakan kemana
larinya uang fiskal yang Rp 1 jt. Di mana-mana! Sekolah dikatakan gratis, tidak ada pungutan. Itu
omongan pejabat. “Tanya saja ke Pak Menteri,” kata seorang guru sekolah dasar ketika dikonfirmasi,
bahwa tidak ada uang pungutan untuk siswa baru. Mau mengurus dokumen jalur cepat, ada tarifnya
sendiri. Mau agak lambat, ada tarifnya. Belum lama, saya mengurus satu dokumen. Biasanya selesai 5-6
hari. Orang yang antri di depan saya minta selesai hari itu juga. Petugas dengan cepat menyetujui, tapi
bayarnya naik hampir dua kali lipat. Begitu mau masuk kantor pemerintah itu, sejumlah orang sudah
mendekati saya, dan menawarkan jasa, kalau dokumen mau selesai hari ini, bisa dia uruskan. Padahal, di
beberapa bagian dinding di kantor itu banyak ditempeli pengumuman yang melarang berurusan dengan
calo. Di berbagai kantor itu pun sudah disediakan berbagai keperluan pengunjung, yang harganya bisa
dua, tiga, atau empat kali harga di toko-toko umum. Tidak ada pilihan, harus beli.

Seorang wartawan, Farid Gaban, pernah menulis sebuah essay indah di Harian Republika berjudul
“Negeri Vampire”. Di negara itu, semua elemen terlibat proses saling menghisap dan saling melukai. Jika
dia di peras dalam satu sektor kehidupan, maka dia akan membalas memeras pada sektor yang dia
kuasai. Dari bawah ke atas. Dari atas ke bawah, terjadi lingkaran vampire, saling menghisap dan
menindas.

Korupsi di Indonesia memang mengerikan. Namun, karena sudah menjadi bagian dan gaya hidup,
banyak yang merasa biasa-biasa saja. Tengoklah prestasi korupsi negara kita. Meskipun laporan
Transparansi Internasional tidak dapat dibenarkan 100 persen, tetapi inilah yang diekspose di dunia
internasional.

Tahun 1996 Indonesia masuk peringkat keenam negara terkorup dari 85 negara yang disurvei, setelah
Nigeria, Tanzania, Honduras, Paraguay, dan Kamerun. Kemudian tahun 1999 Indonesia naik ke peringkat
tiga dari 99 negara yang disurvei setelah Nigeria dan Kamerun. Tahun 2000 Indonesia menempati
peringkat kelima sebagai negera terkorup dari 90 negara yang disurvei, setelah Azebaijan, Ukraina,
Yugoslavia, dan Nigeria. Tahun 2001 peringkat Indonesia naik ke posisi keempat dari 96 negara yang
disurvei. Juga tahun 2002 Indonesia tetap bertahan di peringkat keempat negara terkorupsi dari 102
negara yang disurvei, setelah Bangladesh, Negeria, dan Paraguay.

Begitu dahsyatnya korupsi, sehingga turun tangannya NU-Muhammadiyah, tentu diharapkan dapat
mengurangi kadarnya yang terlalu tinggi. Dari mana mulainya? Ya sebaiknya dari tubuh NU dan
Muhammadiyah sendiri. Setelah itu dari para ulama dan tokoh-tokoh agama, lalu para pejabat tinggi,
mulai Presiden, menteri, dan seterusnya. Ibda’ binafsika. Mulai dari diri sendiri.

Tokoh-tokoh organisasi keagamaan yang terindikasi korupsi, segera dinonaktifkan, dan jika terbukti,
tidak diakui sebagai warga organisasi tersebut. Begitulah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw
dalam membangun satu masyarakat Islam teladan. Beliau saw sudah mengingatkan, bahwa hancurnya
satu bangsa akan terjadi jika bangsa itu memberikan kelonggaran kepada para elite-nya untuk
melakukan pelanggaran hukum, sementara rakyat jelata, diberikan sanksi hukum yang tegas jika
melanggar.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya hancurlah orang-orang sebelum kamu. Sebab, jika ada orang-
orang besar (elite) mencuri, maka mereka dibiarkan saja. Tetapi jika yang mencuri adalah kaum yang
lemah (rakyat jelata), maka dijatuhi hukuman potong tangan. Demi Allah, yang jiwaku berada di tangan-
Nya, andaikan Fatimah binti Muhammad (SAW) mencuri, maka pasti akan aku potong tangannya.” (HR
Ahmad, Muslim, dan Nasai).

Sumpah semacam itu perlu dibudayakan oleh para elite negara. Almarhum Hartono Mardjono pernah
mengajukan gagasan “sumpah laknat” untuk para hakim, sebelum memutuskan perkara, yang bunyinya
kira-kira: “Demi Allah, jika saya bersikap tidak adil dalam memutuskan perkara ini, maka Ya Allah,
kutuklah aku!” Para calon Presiden, seyogyanya diminta bersumpah semacam itu, “Demi Allah, kalau

aku korupsi, maka Ya Allah kutuklah aku dan keluargaku.” Jika para tokoh NU dan Muhammadiyah
bersumpah: “Demi Allah, jika ada warga Muhammadiyah yang korupsi, maka akan kami keluarkan dari
organisasi, lalu disambung doa: Ya Allah, kutuklah, laknatlah, para pimpinan dan warga organisasi kami
yang korupsi!” maka pengaruhnya Insyaallah akan sangat hebat untuk pemberantasan korupsi.

Sebenarnya, ada banyak jenis korupsi yang perlu diberantas. Bukan hanya korupsi harta. Kata korupsi,
berasal dari bahasa Latin “corruptus–corrumpere”, yang diartikan dengan “break to pieces, destroy”.
Jadi, dari kata asalnya, semua yang menimbulkan kehancuran, bisa disebut dengan istilah “korupsi”.
Secara maknawi, istilah in kemudian berkembang dan memiliki makna khusus, terutama yang berkaitan
dengan istilah hukum. Hal in sudah banyak dimaklumi.

Ada satu jenis korupsi yang jarang disinggung dan diungkapkan, yaitu korupsi ilmu, atau korupsi
kebenaran. Prof. Syed Muhammad Nuquib al-Attas dalam karya monumentalnya, berjudul
“Prolegomena to The Metaphysics of Islam”, menggunakan istilah “curruption of knowledge” untuk
korupsi jenis ini. Ia menulis, bahwa “Our real challenge is the problem of the corruption of knowledge”.
Tantangan utama kita adalah problem korupsi ilmu pengetahuan. Problema ini datang dari kerancuan
dari dalam maupun yang datang dari pengaruh filsafat, sains, dan ideologi budaya dan peradaban Barat
modern. Alatas menekankan faktor penyebaran sekularisasi sebagai penyebab penting kerancuan yang
ujungnya adalah krisis kebenaran dan krisis identitas.

Kerancuan ilmu memang jauh lebih serius dampaknya dibandingkan “kejahilan”. Ulama atau
cendekiawan yang menyebarkan ilmu yang salah akan berdampak buruk kepada masyarakat. Besarnya
pengaruh budaya dan peradaban Barat – termasuk dalam tradisi keilmuan–telah menyeret dunia ke
jurang kehancuran yang luar biasa seriusnya. Secara ekonomi, politik, budaya, lingkungan, pertahanan-
keamanan, dunia sekarang berada di jurang kehancuran. Semua in berawal dari kerancuan ilmu. Barat
yang mewarisi tradisi Yunani, Kristen, dan juga peradaban Islam, telah melakukan proses sekularisasi
dalam seluruh apek kehidupan, memisahkan ilmu pengetahuan dari Tuhan. Ini akibat trauma yang
mendalam mereka terhadap warisan sejarah mereka sendiri, terutama ketika agama Kristen
mendominasi kehidupan dan berlaku sewenang-wenang. Sampai-sampai pada abad ke-18, di Eropa
muncul fenomena yang dinamakan “anticlericalism” (anti-pendeta).

Trauma terhadap agama begitu mendalam. Terutama dengan alat kekuasaan (institusi) Gereja yang
bernama Inquisisi. Sampai-sampai mantan biarawati, bernama Karen Armstrong menulis, bahwa salah
satu institusi Kristen yang paling jahat adalah Inquisisi. (Most of us would agree that one of the most evil
of all Christian institutions was the Inquisition, which was an instrument of terror in the Catholic Church
until the end of seventeenth century. Its methods were also used by Protestants to persecute and

control the Catholics in their countries. (Lihat, Karen Armstrong, Holy War: The Crusades and Their
Impact on Today’s World, (London: McMillan London Limited, 1991).

Owen Chadwick, dalam bukunya, The Secularization of the European Mind in the Nineteenth Century,
(New York: Cambridge University Press, 1975), mengungkap sebuah ungkapan populer ketika itu, yang
menunjukkan fenomena anti-clericalism di kalangan masyarakat Eropa: “Beware of a women if you are
in front of her, a mule if you are behind it, and a priest wether you are in front or behind.” (Hati-hatilah
terhadap wanita, jika berada di depannya; hati-hatilah terhadap bagal jika berada dibelakangnya; dan
hati-hatilah terhadap pendeta baik kamu di depan atau di belakangnya).

Peter de Rosa, dalam bukunya, Vicars of Christ: The dark Side of the Papacy, membuka bukunya itu
dengan petikan surat Lord Acton, tahun 1887, yang ditujukan kepada seorang penguasa Gereja, Bishop
Mandell Creighton. Isinya antara lain: “All power tends to corrupt; absolute power corrupts absolutely.”
Robert Held, dalam bukunya, “Inquisition”, memuat foto-foto dan lukisan-lukisan yang sangat
mengerikan tentang kejahatan Inquisisi yang dilakukan tokoh-tokoh Gereja ketika itu. Dia paparkan lebih
dari 50 jenis dan model alat-alat siksaan yang sangat brutal, seperti pembakaran hidup-hidup,
pencungkilan mata, gergaji pembelah tubuh manusia, pemotongan lidah, alat penghancur kepala, dan
berbagai alat dan model siksaan lain yang sangat brutal. Ironisnya lagi, sekitar 85 persen korban
penyiksaan dan pembunuhan adalah wanita.

Antara tahun 1450-1800, diperkirakan antara dua-empat juta wanita dibakar hidup-hidup di dataran
Katolik maupun Protestan Eropa. Fenomena Barat modern inilah yang memunculkan orang-orang yang
terang-terangan anti-Kristen. Jika sebelumnya, para cendekiawan yang dipandang mengancam Gereja,
maka pada abad-abad ke-19 dan seterusnya, bermunculan cendekiawan yang sekuler, agnostik, atau
atheis. Ide liberalisasi, yang arti asalnya, adalah bebas dari segala batasan (free from restraint),
mendominasi Eropa abad ke-19. Sampai-sampai mereka benar-benar tidak ingin melibatkan agama
dalam kehidupan mereka sehari-hari, selain Sebago masalah individual. Dalam dunia sains pun
diusahakan sekuat mungkin terlepas dari unsur-unsur agama. Sampai-sampai Teori Darwin, yang
sebenarnya bukan teori ilmiah, terus dipertahankan sebagai mitos dalam dunia ilmiah dan diajarkan di
sekolah-sekolah melalui mata ajaran Biologi, termasuk di negeri-negeri Muslim.

Korupsi besar-besaran dalam dunia ilmu pengetahuan, melalui proses sekularisasi inilah yang kemudian
ditularkan dan diajarkan kepada kaum Muslim. Dalam sejarah peradaban Islam, fenomena seperti in
tidak ditemukan. Para ulama dan cendekiawan Muslim di masa lalu adalah orang-orang yang tidak
memisahkan berbagai jenis ilmu pengetahuan. Meskipun al-Ghazali membagi ilmu pengetahuan,
menjadi ilmu dunia dan ilmu-ilmu syariat, tetapi beliau menekankan aspek fardhu ain dan fardhu kifayah

dalam penelaahan ilmu. Seorang Muslim wajib menguasai ilmu-ilmu fardhu ain dan sekaligus bagi
orang-orang tertentu yang dikaruniai Allah kemampuan akal yang tinggi, berkewajiban mengembangkan
jenis-jenis ilmu pengetahuan lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat. Maka, tidak heran, jika para
ilmuwan Muslim terdahulu, yang memiliki kepakaran tinggi di bidang sains, adalah para ulama yang
mendalam pemahaman mereka tentang al-Quran, hadith, fiqih, dan sebagainya. Tradisi Islam tidak
menginginkan manusia terkotak-kotak menjadi “spesialis” yang hanya tahu bidangnya saja, dan tidak
tahu ilmu-ilmu lainnya. Prof. Dr. Wan Moh Nor Wan Daud, guru besar di ISTAC-IIUM, menulis buku yang
komporehensif berjudul “Budaya Ilmu”, yang isinya antara lain membandingkan perbedaan konsep
budaya ilmu antar berbagai peradaban, seperti budaya ilmu dalam masyarakat Yunani, Cina, India,
Yahudi, Barat, dan Islam. Dalam tradisi Yunani, misalnya, seperti dikatakan Robert M. Huchins, bekas
Presiden dan conselor University of Chicago, bahwa di Athens: “pendidikan merupakan matlamat
(tujuan.pen.) utama masyarakat. Kota raya me ndidik manusia. Manusia di Athens dididik oleh budaya,
oleh paideia.” Namun, meskipun berbudaya ilmu, masyarakat Yunani mengabaikan akhlak – satu ciri
budaya ilmu yang berbeda dengan budaya llmu dalam Islam.

Demonsthenes, seorang filosof Yunani, mengungkap pandangan kaum cerdik pandai tetapi pintar
menjustifikasi amalan tidak berakhlak: “Kami mempunyai institusi pelacuran kelas tinggi (courtesans)
untuk keseronokan (keindahan. Pen.), gundik untuk kesihatan harian tubuh badan, dan istri untuk
melahirkan zuriat halal dan untuk menjadi penjaga rumah yang dipercayai.”

Satu konsep menarik yang diajukan penulis buku in adalah konsep “integratif” – disamping konsep
“Islamisasi”. Penulis mengkritik keras konsep “spesialisasi sempit” yang membutakan ilmuwan dari
khazanah keilmuan bidang-bidang lain. Ia menekankan perlunya menjelmakan sifat keilmuan yang multi-
disciplinary dan inter-disciplinary. Spesialiasi yang membutakan terhadap bidang lain, menurut Jose
Ortega Y, filosof Spanyol yang berpengaruh besar selepas Nietszche, telah melahirkan “manusia biadab
baru” (a new barbarian). Tradisi keilmuan yang menghasilkan “manusia barbar” inilah yang tidak dikenal
dalam tradisi Islam.

Inilah jenis korupsi yang sangat serius dan perlu juga diberi perhatian besar oleh para tokoh dan
organisasi keagamaan. Kerancuan, kekacauan, dan kekeliruan dalam memahami ilmu, menjadi pangkal
kerancuan dan kehancuran satu peradaban. Jika korupsi harta dijadikan masalah besar, maka
seyogyanya, korupsi aqidah, korupsi iman, korupsi konsep al-Quran, korupsi konsep etika dan hukum
Islam, seharusnya juga menjadi agenda serius. Upaya sebagian kalangan untuk melepaskan etika dari
agama dan membangun “ethic without religion” adalah upaya yang salah dan rapuh.

Etika tanpa agama akan berakhir dengan kekacauan. Ketika itulah akan muncul anggapan umum, bahwa
korupsi bahaya buat masyarakat, tetapi zina – dan semua yang mendorong ke arah perzinaan, seperti
pornografi – dianggap bukan hal yang bahaya. Malah dikatakan, bahwa zina adalah “hak hiduk dan hak
untuk bekerja”, karena tidak merugikan orang lain. Inilah tradisi keilmuan Yunani yang diwarisi Barat
sekuler dan kemudian ditularkan ke dunia Islam. Bahkan, dalam legenda Yunani, para Dewa pun
berseingkuh dengan manusia. Cupid, anak Dewa Venus, terpikat oleh kecantikan seorang gadis bernama
Psyche dan akhirnya memboyongnya ke istana dewa. (Hidayatullah)

Kita berikan dukungan besar kepada NU dan Muhammadiyah untuk melakukan pemberantasan korupsi.
Tahniah. Semoga sukses. (KL, 16 Januari 2004).

Mengapa Minder terhadap Barat? (2)
Adian Husaini,MA

Kebanyakan hujatan terhadap Islam belakanganini terjadi akibat kebodohan, kesilauan rasa minder
terhadap peradaban Barat.

(Eksposisi Tesis Islam-Barat Prof. Naquib al-Attas) oleh DR.Adian Husaini,MA

Menurut Prof. Naquib al-Attas, bukan hanya dari segi ajaran, Islam membongkar dasar-dasar
kepercayaan agama Kristen, tetapi kemunculan Islam pada awal abad ke-7 M, juga memberikan
tantangan hebat terhadap eksistensi politik, ekonomi, dan geografi Kristen. Fajar Islam kemudian
mengubah peta sejarah, khususnya di kawasan Timur Tengah. Islam menggantikan posisi Kristen sebagai
agama dominan saat itu. Secara panjang lebar hal ini dikatakan oleh al-Attas dalam bukunya

“Risalah untuk Kaum Muslimin” sebagai berikut:

“Pada waktu fajar Islam mulai menyingsing maka agama Kristian itu sudahpun menguasai kawasan yang
luasnya melingkungi Eropah Barat hingga ke Timur, termasuk Asia Barat dan Afrika Utara… akan tetapi
impian agung dan idam-idaman yang tentu giat membujuk hasrat dan ghairah penganjur serta
penganut-penganut agama Kristian Barat itu tiba-tiba getar gugur hancur akibat terbitnya Islam.

Islamlah agama yang mula-mula menda’wahkan peranannya sebagai agama yang bersifat menyeluruh
bagi anutan segenap masyarakat insani; agama yang merupakan fitrah atau mengandung bawaan asal
sifat insani; yang mula-mula menda’wa bagi membetul dan melengkapkan agama-agama lampau,
khususnya agama Yahudi dan Kristian; yang mula-mula menggugat dan melaberak dasar-dasar akidah
agama Kristian…

Kemudian gugatan serta laberakan batin terhadap agama Kristian itu disusuli segera dengan cabaran
(tantangan.pen.) zahir yang merupakan perkobaran Islam, dalam masa sejarah yang sesingkat lebih
kurang lima puluh tahun sahaja, laksana api yang merebak menjalar keluar dari tanah Arab ke Mesir; ke
Afrika Utara (al-Maghrib); ke Spanyol; ke Iraq; ke Syria; ke Farsi; ke India dan China sehingga sampai juga
ke Kepulauan Melayu-Indonesia ini! Dalam masa hampir dua ratus tahun sesudah Hijratu’l-Nabiy
(shallallaahu ‘alaihi wa sallam), maka jajahan dan kawasan Islam itu luasnya lebih jauh besar dari jajahan
dan kawasan agama dan imperaturia manapun dalam dunia, dan melingkungi kawasan-kawasan Eropah
Barat dan Timur termasuk negeri Turki. Orang-orang Islamlah yang pertama mena’lukkan orang Barat;
yang pertama memainkan peranan besar dalam menyanjung tinggi pelita ilmu pengetahuan ke Eropah
dan dengan demikian menerangi suasana gelap gulita yang menyelubungi dunia Barat dewasa itu; yang
pertama melangsungkan pembicaraan akliah menerusi ilmu kalam dengan para failasuf dan ahli teologi
agama Kristian Barat… Pukulan zahir batin yang mahahebat yang telah dikenakan oleh Islam kepada
agama Kristian dan Kebudayaan Barat itu tentulah terasa oleh hati sanubarinya bagai sebatan cemeti
yang terlalu amat pedih menggeleparkan, hingga lalu memaksa meragut keluar dari dalam kunhi jiwanya
satu laungan mahadahshat yang ngilunya masih dirasai olehnya kini! “Shahadan, maka sesungguhnya
tiada hairan bagi kita jikalau agama Kristen Barat dan orang Barat yang menjelmakan Kebudayaan Barat
itu, dalam serangbalasnya terhadap agama dan orang Islam, akan senantiasa menganggap Islam sebagai
bandingnya, sebagai tandingnya, sebagai taranya dan seterunya yang tunggal dalam usaha mereka
untuk mencapai kedaulatan duniawi.

Dan kita pun tahu bahawa tiadalah dapat Islam itu bertolak-ansur dalam menghadapi serangan
Kebudayaan Barat, justru sehingga Kebudayaan Barat itu tentulah menganggap Islam sebagai seterunya
yang mutlak; dan kesejahteraannya hanya akan dapat terjamin dengan kemenangannya dalam
pertandingan mati-matian dengan Islam, sebab selagi Islam belum dapat ditewaskan olehnya maka akan
terus ada tanding dan seteru yang tiada akan berganjak daripada mencabar dan menggugat

kedaulatan serta faham dasar-dasar hidup yang dida’yahkan olehnya itu.”

Al-Attas mengimbau agar kaum Muslimin tidak alpa dan lena dalam mengemban tugasnya sebagai umat
Islam. Umat Islam tidak seharusnya secara bulat-bulat menerima dan mengharapkan harapan yang sia-
sia bantuan dan kerjasama serta persahabatan yang ikhlas dari yang lain. Ia mengajak umat Islam
merenungkan makna firman Allah dalam surat al-Baqarah 120:

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama
mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk “. Dan sesungguhnya jika kamu
mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi
pelindung dan penolong bagimu.”

Diingatkan oleh al-Attas dengan bahasa yang lugas:

“Bukankah di zaman kita ini pun jelas bahawa orang-orang Yahudi dan Kristian – yang keduanya
menjelmakan sifat asasi Kebudayaan Barat – memang tiada rela menerima baik seruan Islam dan kaum
Muslimin, melainkan kita jua yang dikehendaki mereka mengikut cara agamanya? – menganuti sikap
hidup yang berdasarkan semata-mata keutamaan kebendaan, kenegaraan dan keduniaan belaka.

Dan agama dijadikannya hanya sebagai alat bagi melayani hawa nafsu. Bukankah Ilmu yang sebenarnya
sudah sampai kepada kita?. Maka mengapa pula kita membiarkan sahaja nasib Umat kita dipimpin oleh
pemimpin-pemimpin politik, kebudayaan dan ilmu pengetahuan dan juga para ulama yang lemah dan
palsu yang sebenarnya tiada sedar bahawa mereka sedang mengekori hawa nafsu Kebudayaan Barat!
Mereka membayangi Kebudayaan Barat dalam cara berfikir, dalam sikap beragama, dalam memahami
nilai-nilai kebudayaan dan mengelirukan faham serta tujuan ilmu. Kepada Kebudayaan Baratkah akan
kita berlindung, akan kita memohon pertolongan, yang akan dapat mencegah tindak balasan Allah
kelak? Waspadalah saudaraku Muslimin sekalian!”

Berbeda dengan Samuel P. Huntington yang sejak tahun 1960-an sudah menjadi penasehat politik
Amerika Serikat (AS), dan menulis bukunya, Clash of Civilizations and the Remaking of World Order,
untuk bahan merumuskan kebijakan politik negaranya, sosok al-Attas adalah sosok seorang ilmuwan
dan akademisi yang sangat peduli dan berkecimpung dalam hampir seluruh hidupnya dalam dunia
pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Al-Attas sama sekali bukan sosok politisi. Ia tipe
ilmuwan murni, ulama, yang meyakini bahwa problema mendasar yang dihadapi umat Islam dan dunia
internasional adalah masalah keilmuan (knowledge). Ia seperti mengikut jejak ulama-ulama Islam
terdahulu, seperti al-Shafii, al-Ghazali, Imam Ahmad, dan sebagainya, yang bergiat dalam ilmu dan
menjaga kemandirian dan sikap kritis terhadap penguasa. Sebagai ulama yang memiliki tanggung jawab

keilmuan dan penjagaan aqidah dan eksistensi umat Islam, Naquib al-Attas menyerukan agar kaum
Muslim – disamping memahami Islam dengan baik – juga memahami secara mendalam realita
peradaban Barat. Ia mencatat bahwa, “Kebanyakan orang Islam belum lagi mengetahui dan mengenali
apa dia sebenarnya Kebudayaan Barat itu. Sebelum dapat kita mengukuhkan diri terhadap serangan
yang ditujukan kepada kita oleh Kebudayaan Barat maka perlulah bagi kita mengenali sifat-sifat asasi
kebudayaan itu.”

Teori al-Attas tentang sifat-sifat asasi peradaban Barat dan Islam telah menarik banyak perhatian dunia
internasional. Buku-bukunya diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Ia memiliki pendirian yang kokoh
dan tajam, meskipun harus memberikan kritik langsung terhadap peradaban Barat di depan para
cendekiawan Barat itu sendiri. Sebagai contoh, perhatian terhadap teori al-Attas adalah apa yang
dilakukan oleh sebuah Foundation di Australia “The Cranlana Program” yang menerbitkan dua volume
buku berjudul Powerful Ideas: Perspectives on the Good Society (2002). Buku ini menghimpun gagasan
pemikir-pemikir besar dalam sejarah umat manusia. Gagasan al-Attas yang diambil adalah pemikirannya
yang tertuang dalam sebuah tulisan berjudul “Dewesternization of Knowledge”.

Secara lebih sederhana, hakikat peradaban Barat dijelaskan al-Attas dalam buku

Risalah untuk Kaum Muslimin:

“Biasanya yang disebutkan orang sebagai Kebudayaan Barat itu adalah hasil warisan yang telah dipupuk
oleh bangsa-bangsa Eropah dari Kebudayaan Yunani Kuno yang kemudian diadun pula dengan
campuran Kebudayaan Rumawi dan unsure-unsur lain dari hasil cita-rasa dan gerak-daya bangsa-bangsa
Eropah sendiri, khususnya dari suku-suku bangsa Jerman, Inggris dna Perancis. Dari Kebudayaan Yunani
Kuno mereka telah meletakkan dasar-dasar falsafah kenegaraan serta pendidikan dan ilmu pengatahuan
dan kesenian; dari Kebudayaan Rumawi Purbakala mereka telah merumuskan dasar-dasar undang-
undang dan hokum serta ketatanegaraan. Agama Kristian, sungguhpun berjaya memasuki benua
Eropah, namun tiada juga meresap ke dalam kalbu Eropah. Justru sesungguhnya agama yang berasal
dari Asia Barat dan merupakan, pada tafsiran aslinya, bukan agama baharu tetapi suatu terusan dari
agama Yahudi itu, telah diambil- alih dan dirobah-ganti oleh Kebudayaan Barat demi melayani ajaran-
ajaran dan kepercayaan yang telah lama dianutnya sebelum kedatangan ‘agama Kristian’. Mereka telah
mencampuradukkan ajaran-ajaran yang kemudian menjelma sebagai agama Kristian dengan
kepercayaan-kepercayaan kuno Yunani dan Rumawi, dan Mesir dan Farsi dan juga anutan-anutan
golongan Kaum Biadab.”

Dengan sifat dan posisi agama Kristen, sebagai agama mayoritas bangsa Barat, semacam itu, maka
Kebudayaan Barat sejatinya bukanlah berdasarkan pada agama, tetapi pada falsafah. Dalam hal ini,
pandangan al-Attas sejalan dengan pandangan Iqbal, Ali an-Nadwi, Muhammad Asad, dan banyak
cendekiawan Muslim lainnya. Namun, pandangan al-Attas tentang peradaban Barat ini tampak lebih
mendalam dan sistematis, ketika ia berhasil meramu unsur-unsur pembentuk peradaban Barat itu
dengan proporsional, terutama ketika mendudukkan posisi warisan Yunani Kuno, Romawi, dan Kristen
dalam peradaban Barat. Dengan mengesampingkan agama dan menjadikan falsafah sebagai asas
berpikirnya, maka tiada tempat dalam jiwa pengalaman mereka itu beragama sesuatu ketetapan
mengenai keyakinan. Mereka hanya menegaskan dasar ‘teori’, yaitu ilmu pengetahuan atau hasil akal-
nazari yang berlandaskan dugaan dan sangkaan-sangkaan dan pencapaian akal jasmani yang mungkin
benar dan mungkin tidak benar. Maka dari itu, dasar ‘ilmu’ yang demikian dan sikap hidup yang menjadi
akibatnya, tiadalah akan dapat membawa kepada keyakinan. Sifat agama Kristen itu sendiri, yang
problematis dalam asas-asas kepercayaannya, menurut al-Attas, juga turut membentuk sikap peradaban
Barat.

Secara singkat, al-Attas menyimpulkan sifat-sifat asasi Kebudayaan Barat, yaitu (1) berdasarkan falsafah
dan bukan agama, (2) falsafah yang menjelmakan sifatnya sebagai humanisme, mengikrarkan faham
penduaan (dualisme) yang mutlak dan bukan kesatuan sebagai nilai serta kebenaran hakikat semesta,
dan (3) Kebudayaan Barat juga berdasarkan pandangan hidup yang tragic. Yakni, mereka menerima
pengalaman ‘kesengsaraan hidup’ sebagai suatu kepercayaan yang mutlak yang mempengaruhi peranan
manusia dalam dunia.

Dengan memahami hakikat peradaban Barat yang tidak berdasarkan agama dan hanya berdasarkan
spekulasi semacam itu, Al-Attas sampai pada kesimpulan bahwa problem terberat yang dihadapi
manusia dewasa ini adalah hegemoni dan dominasi keilmuan Barat yang mengarah pada kehancuran
umat manusia. Satu fenomena yang belum pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Al-Attas
memulai tulisannya dalam ‘Dewesternization of Knowledge’ dengan ungkapan, bahwa sepanjang
sejarahnya, manusia telah menghadapi banyak tantangan dan kekacauan. Tetapi, belum pernah, mereka
menghadapi tantangan yang lebih serius daripada yang ditimbulkan oleh peradaban Barat saat ini.

Kritik-kritik al-Attas terhadap karakteristik keilmuan Barat modern, misalnya, juga disampaikan saat
Konferensi Internasional para Filosof pada Januari 2000, di University of Hawai. Konferensi ini diikuti
oleh sekitar 160 cendekiawan dari 30 negara dan berlangsung selama dua minggu. Tema yang dibahas
ialah “Technology and Cultural Values on the Edge of the Third Millennium”. Dalam editorialnya
terhadap buku kompilasi hasil konferensi itu, tiga ilmuwan terkenal, yaitu Pater D. Hershock, Marietta
Stepaniants, dan Roger T. Ames, mencatat bahwa paparan al-Attas yang menyorot kesesuain dan
ketidaksesuaian antara tradisi Barat dalam sains dan teknologi dengan sistem epistemologi dan

metafisika Islam, merupakan paparan yang artikulatif, cermat, dan sistematis, tentang basis revisi Islami
terhadap tujuan dan premis-premis moral dalam sains dan teknologi.

Dalam uraiannya ini, al-Attas banyak menjelaskan berbagai perbedaan fundamental antara konsep
sekular Barat dan Islam dalam berbagai persoalan. Dalam soal konsep kebahagiaan (happiness),
misalnya, al-Attas menjelaskan sikap Muslim yang menolak konsep Aristotelian tentang kebahagiaan
yang hanya menyentuh aspek duniawi, dan hingga kini diikuti oleh konsep modern. Ia menegaskan
tentang sikap pandangan hidup (worldview) Islam yang tidak memisahkan aspek duniawi dengan
akhirat. Konsepsi modern tentang kebahagiaan, (sa’adah) menurut al-Attas, esensinya sama dengan
konsepsi manusia di masa lalu, di era paganisme. Sedangkan konsep kebahagiaan dalam Islam, akan
dialami dan disadari oleh orang-orang yang benar-benar tunduk dan patuh kepada Allah dan mengikuti
bimbingan-Nya. Puncak kebaikan dalam hidup adalah Cinta kepada Allah.

Dalam berbagai tulisan dan ceramahnya, al-Attas tampak berusaha keras memberikan keyakinan kepada
kaum Muslimin, terutama para cendekiawannya, tentang keagungan konsep peradaban Islam,
dibandingkan konsep peradaban lainnya. Ia sangat menekankan perlunya kaum Muslimin mengkaji dan
memahami khazanah keilmuan yang telah dicapai para ulama Muslim yang agung di masa lalu. Ia
menanamkan jiwa optimisme, meskipun Islam menghadapi serangan hebat dari berbagai penjuru.
Tahun 1959, jauh sebelum menempuh jenjang pendidikan tinggi di Barat, al-Attas sudah mengamati
kondisi kaum Muslimin yang memilukan. Ketika itu, ia menulis sebuah puisi:

Muslim tergenggam belenggu kafir,

Akhirat luput, dunia tercicir,

Budaya jahil luas membanjir,

Banyak yang karam tiada tertaksir.

Sebab utama yang melilit kondisi kaum Muslimin, kata al-Attas, adalah kejahilan masyarakat Islam
terhadap Islam, sebagai agama yang sebenarnya dan peradaban yang luhur dan agung yang telah
menghasilkan ilmu-ilmu Islamiyah yang mampu mewujudkan pandangan hidup (worldview) tersendiri
yang unik.

Paparan al-Attas tentang peradaban Barat perlu dikaji secara cermat. Sebab, apa yang disampaikannya
berpuluh tahun lalu kini banyak menjadi kenyataan. Kaum Muslim – khususnya di Indonesia – kini
disuguhi satu tragedi intelektual yang memilukan. Begitu banyak sarjana Muslim yang terpesona dan
mengagungkan pandangan hidup Barat dan teori-teori para ilmuwan Barat, meskipun harus
mengorbankan keyakinan Islam. Al-Attas mengajak kaum Muslimin untuk memahami Barat secara
mendalam, bukan bersikap anti-Barat. Banyak hal yang dapat diambil dan dipelajari dari Barat, tetapi
bukan menjiplak pandangan hidup Barat yang mengebiri dan membunuh agama sendiri, semisal paham
sekularisme dan pluralisme agama.

Jika Barat maju secara fisik dengan membuang dan mengebiri agamanya, kaum Muslimin tidak perlu
mencontoh mereka. Sebab, Islam memang berbeda dengan Kristen. Dengan mengkaji Barat dengan
baik, dan juga Islam dengan baik, menurut al-Attas, maka kaum Muslim tidak akan mengalami sikap
rendah diri. Sebab mereka memiliki ajaran agama dan Kitab Suci yang agung. Wallahu a’lam. (KL, 4
November 2004).

Mengapa Minder terhadap Barat?

Adian Husaini,MA

Kebanyakan sikap sinis dan hujatan terhadap Islam belakangan ini terjadi akibat kebodohan, kesilauan
rasa minder terhadap peradaban Barat.

(Eksposisi Tesis Prof. Naquib al-Attas tentang Islam dan Barat)

Pada tanggal 23-26 Oktober 2004, saya bersama beberapa peneliti INSISTS menyampaikan presentasi
dalam sejumlah workshop tentang pemikiran Islam dan Barat di Solo dan Yogya. Ada sejumlah
fenomena dan cerita menarik yang perlu kita telaah. Ada berita, bahwa seorang dosen wanita di satu
perguruan Islam, menjadi imam salat bagi suami dan anak-anaknya, karena ia lebih baik bacaan
Qur’annya, dibandingkan suaminya. Ini adalah pengaruh dari paham gender equality. Ada dosen yang
berbicara di depan kelas, bahwa kita perlu al-Quran baru. Menurut mereka, metode Hermeneutika
sudah menjadi harga mati untuk diterapkan dalam penafsiran al-Quran, sehigga tidak perlu digugat lagi.
Kucuran dana dari Amerika Serikat untuk proyek liberalisasi Islam sungguh luar biasa. Ada seorang
hakim agama bercerita bahwa training-training tentang kesetaraan gender terus-menerus diadakan

untuk mengubah pemikiran mereka. Selain dilakukan di hotel-hotel berbintang, peserta pun dibayar.
Fenomena westernisasi dalam pemikiran dan studi Islam begitu kental dan menggejala serta ngetrend.

Disamping dampak serius dari penggunaan metode liberal dalam studi Islam, yang juga memprihatinkan
adalah kualitas ilmiah dari penyebaran-penyebaran paham itu. Paham ini disebarkan dalam bentuk
dogma, tidak diikuti sikap kritis yang memadai ketika mengadopsi teori-teori Barat. Sebaliknya, sikap
kritis dan hujatan sering ditujukan kepada ilmuwan-ilmuwan besar Islam, seperti Imam Syafii, al-Ghazali,
dan sebagainya. Kebanyakan, sikap sinis dan hujatan terhadap ilmuwan-ilmuwan muslim, terjadi akibat
kebodohan, ketidaktahuan, dan kesilauan terhadap kemajuan material yang dicapai peradaban Barat
sekarang ini.

Soal kemajuan Barat dalam bidang sains dan teknologi serta perlunya kaum Muslim belajar tentang hal
itu, tidaklah diragukan. Sejak awal-awal kelahirannya, Islam sudah bersentuhan dengan peradaban besar
ketika itu, yaitu Romawi dan Persia. Tetapi, peradaban Islam tumbuh sebagai satu peradaban yang khas
yang berbeda dengan peradaban besar sebelumnya. Islam menyerap dan mengadopsi sebagian unsur
peradaban asing, namun sekaligus melakukan seleksi, filterisasi, dan adapsi terhadap nilai dan unsure
asing itu. Jika kita cermati sejarah perjalanan Islam, maka tampak, bahwa kaum Muslim ketika itu
memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan tidak minder dalam menghadapi peradaban lain.

Apa yang terjadi saat ini sungguh memprihatinkan. Hegemoni Barat bukan hanya menonjol dalam
bidang politik, ekonomi, dan social, tetapi juga dalam pemahaman keagamaan. Metode kajian Islam
diubah mengikuti tradisi Yahudi dan Kristen. Jejak kaum Yahudi-Kristen yang meliberalkan agamanya
diikuti oleh para sarjana dari kalangan umat Muslim. Anehnya, semua itu tampak dilakukan dengan
semangat dan kurang kritis. Misalnya, satu organisasi Islam mengadopsi metode tafsir al-Jabiri, tetapi
tidak melakukan kajian kritis terhadap teori itu sendiri. Padahal, puluhan buku telah terbit di Timur
Tengah yang mengkritik metode al-Jabiri.

Ironisnya lagi, jika kita kritik, dan kita ingatkan, bahwa metode yang diterapkan adalah metode asing
yang digunakan kaum Yahudi dan Kristen terhadap agama mereka, maka tidak jarang kita dituduh anti-
Barat dan fundamentalis, sehingga seolah-olah kita adalah makhluk yang pantas dimusnahkan dari muka
bumi, karena tidak mengikuti jejak mereka. Semua itu sebenarnya bermula dari cara pandang yang
keliru terhadap Islam dan Barat. Tidak sedikit juga yang tergiur dengan iming-iming duniawi yang
menggiurkan jika mau memeluk paham dan pandangan hidup Barat, seperti sekularisme, dengan
konsekuensi meninggalkan pandangan hidup Islam.

Oleh sebab itu, dalam beberapa kesempatan Catatan Akhir Pekan, kita akan menampilkan dengan lebih
jelas, pandangan cendekiawan Muslim Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas tentang Islam dan
Barat. Naquib al-Attas saat ini merupakan satu diantara ilmuwan terbesar di dunia Islam yang
pendapatnya tentang Barat menjadi kajian ilmiah di dunia internasional. Hal itu bisa dilihat dari karya-
karya ilmiah dan perjalanan intelektualnya.

Prof. Naquib Al-Attas lahir di Bogor, Jawa Barat, tahun 1931, dan menjalani pendidikan dasar di
Sukabumi dan Johor Baru. Lalu, menempuh pendidikan di The Royal Military Academy, Sandhurst,
England, lalu ke University of Malaya, Singapura. Gelar master diraihnya di McGill University, Montreal,
Canada, dan PhD di University of London, London, Inggris, dengan konsentrasi bidang ‘Islamic
philosophy’, ‘theology’ dan ‘metaphysics’.

Berbagai jabatan penting dalam dunia pendidikan yang dialaminya, antara lain: ketua Department of
Malay Language and Literature, Dekan the Faculty of Arts, dan pemegang pertama ‘the Chair of Malay
Language and Literature’, dan Direktur pertama The Institute of Malay Language, Literature and Culture,
yang ia dirikan tahun 1973. Ia juga mengetuai The Division of Literature di Department of Malay Studies,
University of Malaya, Kuala Lumpur. Juga, ia pernah memegang posisi UNESCO expert on Islamics;
Visiting Scholar and Professor of Islamics at Temple University and Ohio University, distinguished
Professor of Islamic Studies and the first holder of the Tun Abdul Razak Distinguished Chair of Southeast
Asian Studies at the American University, Washington, Ibn Khaldun Chair of Islamic Studies (1986), dan
Life Holder Distinguished Al-Ghazali Chair of Islamic Thought, International Institute of Islamic Thought
and Civilization (ISTAC), 1993.

Professor al-Attas telah memberikan kuliah di berbagai belahan dunia dan menulis lebih dari 30 buku
dan berbagai artikel tentang Islam, menyangkut masalah filsafat Islam, teologi, metafisika, sejarah,
sastra, agama, dan peradaban. Beberapa bukunya yang ditulis dalam bahasa Melayu dan Inggris telah
diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Persia, Turki, Urdu, Jerman, Italia, Rusia, Bosnia, Albania, Jepang,
Korea, India, dan Indonesia. Atas jasanya yang besar dalam pengembangan bidang comparative
philosophy, ‘The Empress of Iran’ mengangkatnya sebagai Fellow di Imperial Iranian Academy of
Philosophy tahun 1975. Presiden Pakistan memberikan penghargaan ‘Iqbal Medal’ tahun 1979. Sejak
tahun 1974, Marquis Who’s Who in the World telah memasukkan Al-Attas ke dalam daftar nama orang-
orang yang menunjukkan prestasi istimewa dalam bidangnya.

Al-Attas dikenal sebagai pelopor konseptualisasi Universitas Islam, yang ia formulasikan pertama kalinya
pada saat acara ‘First World Conference on Muslim Education’, di Makkah (1977). Tahun 1987, ia
mewujudkan gagasannya dengan mendirikan The International Institute of Islamic Thought and

Civilization (ISTAC). Ia merancang dan membuat arsitektur sendiri bangunan ISTAC, merancang
kurikulum, dan membangun perpustakaan ISTAC yang kini tercatat salah satu perpustakaan terbaik di
dunia dalam Islamic Studies. Raja Hussein mengangkatnya sebagai ‘Member of the Royal Academy of
Jordan (1994). The University of Khartoum menganugerahinya ‘Degree of Honorary Doctorate of Arts
(D.Litt.), 1995. The Organization of Islamic Conference (OIC), atas nama dunia Islam, melalui ‘The
Research Centre for Islamic History, Art and Culture (IRCICA) menganugerahi Al-Attas ‘The IRCICA
Award’ atas kontribusi besarnya terhadap peradaban Islam (2000); The Russian Academy of Science
memberikan kehormatan kepada al-Attas untuk memberikan ‘Special Presentation’ kepada para
akademisi di Moskow (2001). Pemerintah Iran, melalui lembaganya, ‘Society for the Appreciation of
Cultural Works and Dignitaries’, memberikan penghargaan kepada al-Attas ‘a special Award of
Recognition’ (2002).

Disamping itu, Prof. al-Attas juga anggota ‘The Advisory Board of Al-Hikma Islamic Translation Series,
Institute of Global Cultural Studies, Binghamton University, SUNY, Brigham Young University; anggota
‘The Advisory Board of the Royal Academy for Islamic Civilization Research, Encyclopaedia of Arab
Islamic Civilization, Amman, Jordan; dan anggota ‘The Assembly of the Parliament of Cultures,
International Cultures Foundation’, Turki.

Tentang sifat asasi dan perjalanan sejarah peradaban Islam dan Barat, al-Attas mengungkapkan bahwa
antara peradaban Barat dan peradaban Islam akan terjadi apa yang ia sebut sebagai satu “permanent
confrontation” (konfrontasi permanen), atau konflik abadi. Al-Attas mengungkap teorinya itu sejak awal
dekade 1970-an, jauh dari hingar-bingar politik internasional, ketika Perang Dingin masih berlangsung,
dan secara politis-militer, Barat masih menjadikan komunis sebagai musuh utamanya. Setelah
menyelam jauh ke dalam lubuk peradaban Barat, selepas meraih gelar PhD dari University of London,
pada awal tahun 1970-an, Al-Attas mulai aktif menulis dan berceramah tentang tantangan dan ancaman
peradaban Barat terhadap kaum Muslim dan dunia Islam, khususnya dalam bidang keilmuan dan
kebudayaan. Ia kemudian dikenal luas sebagai cendekiawan yang sangat kritis dalam menyorot masalah
sekularisme dan menulis satu buku yang sangat terkenal di dunia internasional yaitu buku “Islam and
Secularism”.

Tentang konflik abadi Islam-Barat ini, Naquib al-Attas mencatat dalam buku ‘klasik’-nya, Islam and
Secularism, bahwa konfrontasi antara peradaban Barat dengan Islam telah bergerak dari level sejarah
keagamaan dan militer ke level intelektual; dan bahwasanya, konfrontasi itu secara histories bersifat
permanent. Islam dipandang Barat sebagai tantangan terhadap prinsip yang paling asasi dari pandangan
hidup Barat. Islam bukan hanya tantangan bagi Kekristenan Barat tetapi juga prinsip-prinsip
Aristotellianisme dan epistemologi serta dasar-dasar filosofi yang diwarisi dari pemikiran Greek-Romawi.
Unsur-unsur itulah yang membentuk komponen dominan yang mengintegrasikan elemen-elemen kunci
dalam berbagai dimensi pandangan hidup Barat.

(The confrontation between Western culture and civilization and Islam, from the historical religious and
military levels, has now moved on to the intellectual level; and we must realize, then, that this
confrontation is by nature a historically permanent one. Islam is seen by the West as posing a challenge
to its very way of life; a challenge not only to Western Christianity, but also to Aristotelianism and the
epistemological and philosophical principles deriving from Graeco-Roman thought which forms the
dominant component integrating the key elements in dimensions of the Western worldview).”

Untuk menyadarkan kaum Muslim akan tantangan besar yang mereka hadapi, khususnya dari
peradaban Barat, al-Attas memberikan banyak ceramah dan menulis berbagai buku dan risalah. Salah
satu kumpulan ceramahnya pada tahun 1973 kemudian dibukukan dalam sebuah buku berjudul “Risalah
untuk Kaum Muslimin”. Ia menyeru kaum Muslimin agar benar-benar mengenal peradaban Barat, sebab
peradaban inilah yang kini sedang menguasai dan tidak henti-hentinya melakukan serangan terhadap
Islam.

“Seperti juga dalam ilmu peperangan kau harus mengenali siapakah dia seterumu itu; di manakah
letaknya kekuatan dan kelemahan tenaganya; apakah helah dan tipu muslihatnya bagi mengalahkanmu;
bagaimanakah cara dia menyerang dan apakah yang akan diserangnya; dari jurusan manakah akan
serangan itu didatangkan; siapakah yang membantunya, baik dengan secara disedari mahupun tiada
disedari – dan sebagainya ini, maka begitulah kau akan lebih insaf lagi memahami nasib serta kedudukan
Islam dank au sendiri dewasa ini apabila penjelasan mengenai seterumu itu dapat dipaparkan terlebih
dahulu.”

Dalam pandangan Al-Attas, kedatangan Islam, sejak awal memang telah memberikan tantangan yang
sangat fundamental terhadap sendi-sendi utama agama Kristen yang merupakan suatu unsur penting
bagi peradaban Barat. Islam menjelaskan bahwa agama Kristen yang dikenal sekarang bukanlah agama
yang ditanzilkan oleh Allah SWT, dan bukan agama yang mendapat pengesahan daripada-Nya. Nabi Isa
a.s. adalah utusan Allah yang diperintahkan membetulkan semula penyelewenangan agama Yahudi dan
menyampaikan khabar baik tentang kedatangan Nabi Muhammad saw. Jadi, Nabi Isa a.s. tidaklah diutus
untuk membawa agama baru yang kemudian dikenal dengan nama Kristen. Allah berfirman:

“Wahai Bani Israel, aku ini adalah utusan Allah yang diutus kepadamu bagi mengesahkan semula Taurat
yang telah datang sebelumku dan untuk menyampaikan kabar baik tentang seorang Rasul yang akan
datang sesudahku bernama Ahmad.” (QS al-Shaff: 6).

Karena itu, dalam memandang agama Kristen sekarang, al-Attas mempunyai pandangan yang jelas:

“Maka agama Kristian, agama Barat –sebagaimana juga agama-agama lain yang bukan Islam– adalah
agama kebudayaan, agama ‘buatan’ manusia yang terbina dari pengalaman sejarah, yang terkandung
oleh sejarah, yang dilahirkan serta dibela dan diasuh dan dibesarkan oleh sejarah.”

Tragedi Adopsi Peradaban Barat
Adian Husaini,MA

Adopsi peradaban dan kebudayaan Barat adalah sesuatu yang lumrah. Faktanya, ilmuwan banyak
terkooptasi oleh peradaban Barat. Bahkan memaksakannya sebagai pandangan hidup

suatu hal lumrah jika kebudayaan yang mundur akan belajar dari kebudayaan yang maju. Dan adalah
alami jika suatu kebudayaan yang terbelakang mengadopsi konsep-konsep kebudayaan yang lebih maju.
Tidak ada kebudayaan di dunia ini yang berkembang tanpa proses interaksi dengan kebudayaan asing.
Ketika peradaban Islam unggul dibanding peradaban Eropa, misalnya, mereka telah meminjam konsep-
konsep penting dalam Islam.

Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua kebudayaan dapat mengambil semua konsep dari kebudayaan
lain. Setiap kebudayaan memiliki identitas, nilai, konsep dan ideologinya sendiri-sendiri yang disebut
dengan worldview (pandangan hidup).

Suatu kebudayaan dapat meminjam konsep-konsep kebudayaan lain karena memiliki pandangan hidup.
Namun suatu kebudayaan tidak dapat meminjam sepenuhnya (mengadopsi) konsep-konsep
kebudayaan lain, sebab dengan begitu ia akan kehilangan identitasnya.

Peminjaman konsep dari suatu kebudayaan mengharuskan adanya proses integrasi dan internalisasi
konseptual. Namun dalam proses itu, unsur-unsur pokoknya berperan sebagai filter yang menentukan
diterima tidaknya suatu konsep. Hal ini berlaku dalam sejarah pemikiran dan peradaban Islam, yaitu
ketika Islam meminjam khazanah pemikiran Yunani, India, Persia, dan lain-lain. Pelajaran yang penting
dicatat dalam hal ini bahwa ketika para ulama meminjam konsep-konsep asing, mereka berusaha
mengintegrasikan konsep-konsep asing ke dalam pandangan hidup Islam dengan asas pandangan hidup

Islam. Memang, proses ini tidak bisa berlangsung sekali jadi. Perlu proses koreksi-mengoreksi dan itu
berlangsung dari generasi ke generasi.

Di era modern dan post-modern sekarang ini, pemikiran dan kebudayaan Barat mengungguli
kebudayaan-kebudayaan lain, termasuk peradaban Islam. Namun tradisi pinjam-meminjam yang terjadi
telah bergeser menjadi proses “adopsi”, yakni mengambil penuh konsep-konsep asing, khususnya Barat,
tanpa proses adaptasi atau integrasi. Apa yang dimaksud dengan konsep di sini bukan dalam kaitannya
dengan sains dan teknologi yang bersifat eksak, tetapi lebih berkaitan dengan konsep keilmuan,
kebudayaan, sosial, dan bahkan keagamaan.

Dalam konteks pembangunan peradaban Islam sekarang ini, proses adaptasi pemikiran merupakan
sesuatu yang tidak dapat dielakkan. Namun sebelum melakukan hal itu diperlukan suatu kemampuan
untuk menguasai pandangan hidup Islam dan sekaligus Barat, esensi peradaban Islam dan kebudayaan
Barat. Dengan demikian, seorang cendekiawan dapat berlaku adil terhadap keduanya.

Adil, artinya meletakkan sesuatu pada tempatnya atau dalam hal ini didahului dengan mengambil
sesuatu dari tempat asalnya. Jika ini didasarkan pada asumsi bahwa konsep-konsep dalam peradaban
asing (baca: Barat) adalah hikmah Islam yang hilang, maka seseorang pemikir Muslim harus terlebih
dahulu mempelajari tempat asal hikmah tersebut dan tempat dimana hikmah itu hilang, sebelum
mengambilnya kembali.

Esensi Kebudayaan Barat

Kebudayaan Barat (Western Civilization) berkembang mewarisi unsur-unsur kebudayaan Yunani Kuno,
Romawi, dan unsur-unsur lain dari budaya bangsa-bangsa Eropa, khususnya Jerman, Inggris, dan Prancis.
Sebagian penulis, seperti Samuel Huntington, memasukkan agama (religion)–dalam hal ini Kristen–
sebagai unsur penting yang membentuk kebudayaan Barat. Demikian ditulis dalam buku populernya The
Clash of Civilizations and Remaking of World Order (1996).

Mungkin itulah di antara sebabnya mengapa Huntington yang dalam bukunya itu lebih banyak
menguraikan soal kebudayaan dalam dimensi politis, mencoba menyeret konflik antara Islam dengan
Kristen. Namun, kesimpulan Huntington itu patut diragukan. Kristen di Barat, faktanya, lebih banyak
terkooptasi oleh peradaban Barat (westernized). Berbagai konsep teologi dan upacara ritual Kristen
bahkan sudah menjadi “Barat”. Pusat agama ini pun bukan lagi di tempat kelahirannya (Palestina), tetapi

sudah berpindah ke Barat. Di Barat sendiri kalangan agamawan Kristen juga suka dengan asumsi “Barat
itu Kristen”.

Barat dengan filsafat dan kebudayaannya memiliki karakternya tersendiri. Menurut Profesor Naquib al-
Attas, peradaban Barat memiliki sejumlah ciri. Pertama, berdasarkan filsafat dan bukan agama. Kedua,
filsafat itu menjelma menjadi humanisme yang meneriakkan dengan lantang prinsip dikotomi sebagai
nilai dan kebenaran. Ketiga, berdasarkan pandangan hidup yang tragis. Artinya, manusia adalah tokoh
dalam drama kehidupan di dunia. Pahlawannya adalah tokoh-tokoh yang bernasib tragis.

Prinsip tragedi ini disebabkan oleh kekosongan kepercayaan (iman) dan karenanya mereka memandang
kehidupan secara dikotomis. Konsep ini berujung pada keresahan jiwa, selalu mencari sesuatu yang
tiada akhir, mencari suatu kebenaran tanpa asas kebenaran atau prinsip kebenaran mutlak. (al-Attas,
Risalah untuk Kaum Muslimin, ISTAC, 2001).

Itulah Barat yang filsafat, sainstek, dan ekonominya sedang merajai pentas sejarah dunia. Budayanya
menyebar bagai gelombang melalui berbagai gerakan kultural; filsafatnya dipahami secara luas melalui
pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia; sains dan teknologinya dikagumi dan ditiru bagi
pembangunan sarana dan prasarana kehidupan manusia.

Gelombang kebudayaan Barat yang disebut dengan modernisme itu pada mulanya mencerminkan gaya
hidup elitis, tapi kini disebut dengan postmodernisme yang bersifat populis. Secara konseptual
dampaknya dahsyat. Ia tidak saja mampu mengubah konsep sejarah secara agressif, tapi juga mengubah
sikap orang terhadap agama menjadi skeptis. Agama dan kitabnya diposisikan hanya sebagai suatu
bentuk “narasi besar” (grand narrative) yang kering, profan, dan dapat dipermainkan melalui bahasa dan
imajinasi liar yang mencampuradukkan realitas dan fantasi. Postmodernisme sebenarnya tidak lain dari
sekularisme yang tampil dengan wajah baru yang “pusat gravitasinya” adalah pandangan hidup Barat
(Western worldview).*

Cengkeraman Orientalis

Dalam bidang pemikiran Islam, pengaruh p andangan hidup Barat dapat ditelusuri melalui sejarah
panjang orientalisme yang sebenarnya tidak lepas dari misi kolonialisme dan kristenisasi. Bahkan
awalnya dapat ditelusuri dari proses transmisi khazanah pemikiran Islam ke Barat melalui penerjemahan


Click to View FlipBook Version