Saudaraku, seluruh kaum Muslimin Indonesia, para politisi Muslim, dan pimpinan Patai Islam…. Kita
sangat mafhum, bahwa hidup di dunia ini sangatah singkat. Kuasa dan harta yang kita kejar sekuat
tenaga, tak akan membawa bahagia, bahkan bisa menjadi bencana, jika tidak kita niatkan untuk ibadah
kepada Allah SWT. Betapa banyak pemimpin dunia yang — di dunia pun — tak mengenyam bahagia,
selalu dirundung masalah demi masalah, dan di akhirat ia harus mempertanggungjawabkan
kepemimpinannya. Tanggung jawabnya sangatlah berat.
Saya paham, demi pertimbangan untuk meraih suara dalam Pemilu, jargon “menegakkan Tauhid”
mungkin kini dianggap tidak layak untuk dijual. Jargon pemberantasan korupsi dianggap lebih layak
dijual kepada rakyat untuk meraih dukungan mereka. Tapi, sebagai pelanjut perjuangan para Nabi dalam
penegakan misi kenabian, kita hanyalah satu mata rantai dari serangkaian derap langkah panjangnya
para Nabi utusan Yang Maha Kuasa.
Kita tatap dengan semangat dan penuh optimis masa depan perjuangan Islam di Indonesia. Kita arahkan
pandangan kita ke ufuk cakrawala yang jauh, tanpa mengabaikan realitas kondisi dan situasi yang
terjadi. Realitas penting untuk menjadi pertimbangan kita. Tetapi, misi abadi kenabian, penegakan
kalimah Tauhid dan menebar rahmat ke seluruh alam, tidak boleh tenggelam oleh kepentingan
pragmatis kekuasaan semata. “Dialah Allah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan ad-Din yang
Haq untuk dimenangkan atas berbagai agama lainnya, walaupun kaum musyrik membencinya.” (QS ash-
Shaf:9).
Nabi Ibrahim (a.s.) yang begitu mulia dan selalu kita panjatkan doa untuknya, memang diusir dan
dibakar oleh sang penguasa. Tapi, al-Quran lebih membela Ibrahim, dan sama sekali tidak bersimpati
kepada raja yang musyrik dan zalim, meskipun sang raja itu besar kuasanya. Meskipun Firaun jauh lebih
kuat dari Musa (a.s.), tapi al-Quran tidak pernah sedikit pun memberikan pujian untuk Fir’aun. Ketika
kecil dan ketika kuat, Daud a.s. tetap dipuji karena keteguhannya memperjuangkan kalimah Tauhid.
Jika tidak ingin dimusuhi kaumnya yang musyrik, logikanya, lebih aman dan nyaman, jika Nabi
Muhammad saw tidak mendahulukan seruan tauhidnya dan mengkritisi kemusyrikan yang telah menjadi
tradisi bangsanya. Meskipun ditentang keras, dimusuhi, diboikot, diancam dibunuh, dan sebagainya,
Nabi saw tetap mengajak kaumnya untuk meninggalkan agama mereka yang syirik dan memeluk Islam,
mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan mengakui Muhammad saw sebagai utusan-Nya yang
terakhir.
Mungkin, jika ingin dakwahnya diterima secara luas, tidak dimusuhi kaum dan keluarganya sendiri, dan
bisa hidup lebih nyaman, Nabi Muhammad saw hanya akan mengangkat isu-isu ekonomi dan
kesejahteraan, dengan – misalnya — membentuk semacam koperasi atau Perseroan Terbatas. Bangsa
Arab akan menerima ajakan itu, karena Rasulullah saw juga pedagang yang sukses dan manusia
terpercaya. Meski pun al-Quran memerintahkan kepedulian sosial yang tinggi sejak dakwah di periode
awal di Makkah, tetapi seruan untuk menegakkan Tauhid adalah isu utama dalam dakwah Nabi.
Hanya dengan Tauhid, iman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka manusia menjadi mulia, di dunia dan
akhirat. Kita camkan benar peringatan al-Quran: “Jangan merasa hina dan jangan berduka!
Sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kalian mukmin!” (QS 3:139).
Umat Islam adalah ummatur-risalah. Kita mendapatkan amanah dari Allah SWT. Kita kibarkan panji
Tauhid, panji jiad fi-sabilillah dalam berbagai lini kehidupan, meski banyak yang enggan melirik, bahkan
ada yang sinis dan mencibirnya. Sebab, hanya dengan IMAN kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad
fi-sabilillah, maka manusia akan selamat dari siksa neraka. (QS 61:10-11).
Mari kita pilih PEMIMPIN TERBAIK, berdasarkan kriteria IMAN dan TAQWA-nya, yang kita percayai
memiliki ilmu dan pribadi unggul, yang mampu memimpin dan membawa negeri ini kepada keberkahan
Ilahi; pemimpin yang cerdas, yang tawadhu’, tidak angkuh, tidak jumawa, tidak munafik, tidak rakus
dunia, tidak silau gemerlapnya dunia, yang bersedia memadukan panca indera dan akalnya dengan
wahyu Allah SWT.
Sekali lagi, jangan sampai kita salah pilih, karena Rasulullah saw sudah memperingatkan:
“Siapa yang mengangkat seseorang untuk mengelola urusan (memimpin) kaum Muslimin, lalu ia
mengangkatnya, sementara pada saat yang sama dia mengetahui ada orang yang lebih layak dan sesuai
(ashlah) daripada orang yang dipilihnya, maka dia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.”(HR Al-
Hakim).
Memilih pemimpin adalah urusan penting dalam agama kita. Sepatutnya kita bersikap hati-hati.
Semoga kita dan keluarga kita mendapatkan ridha dan rahmat dari Allah SWT. Amin. (***)
Pemimpin Kafir
Jum'at, 26 September 2014 - 22:27 WIB
Oleh: Dr. Adian Husaini
NAHDHATUL ULAMA (NU) dalam Muktamarnya ke-11, di Banjarmasin, 19 Rabi’ulawwal 1355 H (9 Juni
1936 M), membahas satu masalah bertajuk: “Apakah Negara Kita Indonesia Negara Islam?” Ditanyakan,
“Apakah nama negara kita menurut Syara’ agama Islam?” Jawabnya: “Sesungguhnya negara kita
Indonesia dinamakan “Negara Islam” karena telah pernah dikuasai sepenuhnya oleh orang Islam.
Walaupun pernah direbut oleh kaum penjajah kafir, tetapi nama Negara Islam tetap selamanya.”
Muktamar juga memutuskan, bahwa wilayah Betawi (Jakarta) adalah “dar-al-Islam”, begitu juga
sebagian besar wilayah Jawa.
Mengutip Kitab Bughyatul Mustarsyidin bab “Hudnah wal-Imamah” dijelaskan:
“Kullu mahalli qadara muslimun saakinun bihi… fii zamanin minal azmaani yashiiru daara Islaamin tajrii
‘alaihi ahkaamuhu fii dzaalika-az-zamaani wa-maa ba’dahu wa-in-qatha’a imtinaa’ul-musliiina bil-
istilaa’il-kuffaari ‘alaihim wa-man’ihim fii-dukhuulihi wa-ikhraajihim minhu wa-hiina’idzin fa-
tastamiituhu daara harbin shuuratan laa-hukman, fa-‘ulima anna ardha Bataawiy (Jakarta) bal wa-
ghaalibu ardhi Jaawaa daara Islamin li-istilaa’il-muslimiina ‘alaihaa qablal-kuffaari.”(“Semua tempat
dimana Muslim mampu untuk menempatinya pada suatu masa tertentu, maka ia menjadi daerah Islam
(Dar-al-Islam.pen.) yang ditandai berlakunya syariat Islam pada masa itu. Sedangkan pada masa
sesudahnya walaupun kekuasaan umat Islam telah terputus oleh penguasaan orang-orang kafir
terhadap mereka, dan larangan mereka untuk memasukinya kembali atau pengusiran terhadap mereka,
maka dalam kondisi semacam ini, penamaannya dengan “daerah perang” (dar-al-harb.pen.) hanya
merupakan bentuk formalnya dan tidak hukumnya. Dengan demikian diketahui bahwa Tanah Betawi
dan bahkan sebagian besar Tanah Jawa adalah “Daerah Islam” karena umat Islam pernah menguasainya
sebelum penguasaan oleh orang-orang kafir.”)(Lihat buku “Solusi Problematika Aktual Hukum Islam,
Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004), terbitan LTN-NU Jawa Timur,
cetakan ketiga, 2007, hlm.176-177).
Dalam Muktamarnya ke-30 di PP Lirboyo Kediri, 21-27 November 1999, NU membahas permasalahan:
“Bagaimana hukum orang Islam menguasakan urusan kenegaraan kepada orang non-Islam?”
Jawabnya: “Orang Islam tidak boleh menguasakan urusan kenegaraan kepada orang non-Islam, kecuali
dalam keadaan dharurat, yaitu: (a) Dalam bidang-bidang yang tidak bisa ditangani sendiri oleh orang
Islam secara langsung atau tidak langsung karena factor kemampuan, (b) Dalam bidang-bidang yang ada
orang Islam berkemampuan untuk menangani, tetapi terdapat indikasi kuat bahwa yang bersangkutan
khianat, (c) Sepanjang penguasaan urusan kenegaraan kepada non-Islam itu nyata membawa manfaat.
Catatan: Orang non-Islam yang dimaksud berasal dari kalangan ahlu dzimmah dan harus ada mekanisme
kontrol yang efektif.
Dasar pengambilan (hukum tersebut): al-Quranul Karim, At-Tuhfah li-Ibni Hajar al-Haitsamiy juz IX, hlm
72, al-Syarwani ‘alat-Tuhfah juz IX, hlm. 72-73, al-Mahalli ‘alal-Minhaj juz IV, hlm.172, al-Ahkam as-
Sulthaniyah li-Abil Hasan al-Mawardiy. Secara lebih terperinci, berikut ini hujjah-hujjah yang mendasari
para muktamirin mengambil keputusan tersebut (teks asli dalam bahasa Arab-nya tidak dikutip dalam
tulisan ini):
(1) “Dan Allah SWT sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang kafir untuk memusnahkan
orang-orang beriman.” (QS an-Nisa’:141).
(2) Dalam Kitab At-Tuhfah li-Ibni Hajar al-Haitsamiy juz IX, hlm 72, disebutkan:
“Orang Islam tidak boleh meminta bantuan kepada orang kafir dzimmi atau lainnya kecuali jika sudah
sangat terpaksa. Menurut dhahir pendapat mereka, bahwa meminta bantuan orang kafir tersebut tidak
diperbolehkan walaupun dalam keadaan dharurat. Namun dalam titimmah disebutkan tentang
kebolehan meminta bantuan tersebut jika memang darurat.”
(3) al-Syarwani ‘alat-Tuhfah juz IX, hlm. 72-73:
“Jika suatu kepentingan mengharuskan penyerahan sesuatu yang tidak bisa dilaksanakan oleh orang lain
dari kalangan umat Islam atau tampak adanya pengkhianatan pada si pelaksana dari kalangan umat
Islam dan aman berada di kafir dzimmi, maka boleh menyerahkannya karena dharurat. Namun
demikian, bagi pihak yang menyerahkan, harus ada pengawasan terhadap orang kafir tersebut dan
mampu mencegahnya dari adanya gangguan terhadap siapa pun dari kalangan umat Islam.”
(4) al-Mahalli ‘alal-Minhaj juz IV, hlm.172:
“Orang Islam tidak boleh meminta bantuan kepada orang kafir, karena haram menguasakan orang kafir
terhadap umat Islam kecuali karena dharurat.” (Lihat, Ibid, hlm. 551-552).
Dalam forum Bahtsul Masa’il al-Diniyah al-Waqiiyyah saat Muktamar NU ke-30 di PP Lirboyo Kediri
tersebut juga dibahas tentang masalah Doa Bersama antar Umat Beragama. Disebutkan, bahwa tidak
boleh berdoa bersama antar berbagai agama, kecuali cara dan isinya tidak bertentangan dengan syariat
Islam. Mengutip Kitab Hasyiyatul Jamal juz II, hlm. 119, dikatakan: “Dan tidak boleh mengamini doa
orang kafir karena doanya tidak diterima sesuai dengan firman Allah SWT: Dan doa (ibadah) orang-orang
kafir itu hanyalah sia-sia belaka. (al-Ra’du:14).”
Juga, dengan mengutip Kitab Mughniyul Muhtaj juz I, hlm. 232 disebutkan:
“Orang kafir dzimmi (yang keamanan dirinya dan hartanya dalam naungan jaminan pemerintahan Islam)
tidak dilarang untuk datang (ke tempat umat Islam) karena mereka berhak mencari rezeki. Sedangkan
rezeki Allah SWT itu sangat luas. Terkadang Allah SWT mengabulkan harapan mereka sebagai bentuk
istidraj dan ketamakan dunia. Kafir dzimmi tersebut dan orang kafir lainnya tidak diperbolehkan untuk
bercampur dengan kita di tempat peribadahan kita, demikian halnya ketika berkumpul. Percampuran
tersebut makruh, dan mereka harus berbeda dengan kita umat Islam ketika berada di suatu tempat. Hal
itu, karena mereka adalah musuh-musuh Allah SWT, yang suatu saat mereka akan ditimpa suatu azab
dengan kekufuran mereka itu, dan azab tersebut akan mengenai kita pula.” (Lihat, Ibid, hlm. 532-534).
*****
Berbeda dengan orang yang memiliki cara pandang sekuler, kaum Muslim memiliki cara pandang
(worldview) yang tauhidik; tidak memisahkan antara aspek dunia dan akhirat, antara aspek fisik dan
metafisik. Dunia ini, dalam pandangan Islam, adalah ladang akhirat. Setiap aspek materi yan terindera,
tidak terlepas dari aspek metafisika; aspek ruhaniah, atau aspek ketuhanan. Secara fisik, telinga, mata,
hidung, tangan, kemaluan, memiliki unsur materi yang sama. Tapi, secara ilahiah, organ-organ ini
memiliki makna dan kedudukan yang berbeda. Jangan beralasan bahwa sama-sama daging, mata pipi
dan pantat boleh dibuka dimana saja.
Fakta sama, tetapi cara pandang berbeda, akan menghasilkan pemahaman yang berbeda pula. Karena
itu, akan sangat susah bagi orang sekuler untuk memahami cara berpikir Islam yang tauhidik. Orang
yang tidak mengakui bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah SWT, pasti menganggap Nabi
Muhammad saw telah berdusta, mengaku-aku mendapat wahyu. Ketika al-Quran menampilkan cerita
yang berbeda dengan Bible tentang kisah Luth (yang di Bible disebut berzina dengan kedua putrinya,
Kej.19:30-38 ) maka dituduhlah Muhammad mengubah cerita dalam Bible.*/bersambung..Mungkinkah
orang Muslim atau orang Kristen pada saat yang sama juga menjadi orang sekuler?
Pemimpin Kafir
Jum'at, 26 September 2014 - 22:27 WIB
(Halaman 2 dari 2)
Kaum sekuler – meskipun secara formal memeluk agama tertentu — memandang, hidup di dunia ini
hanya memiliki aspek di sini (di dunia saja). Tidak ada urusan dengan Tuhan, dan tidak ada urusan
dengan akhirat. Pada CAP yang lalu, kita sudah mengutip pandangan Prof. Naquib al-Attas dalam buku
klasiknya, Islam and Secularism (terbit pertama tahun 1978). Prof. al-Attas menyebut tiga komponen
proses sekularisasi dalam pemikiran manusia, yaitu: (1) disenchantment of nature (pengosongan alam
dari semua makna spiritual); (2) desacralization of politics (desakralisasi politik); dan (3) deconsecration
of values (pengosongan nilai-nilai agama dari kehidupan).
Sementara itu, pemikir Kristen Harvey Cox, dalam buku terkenalnya, The Secular City, menyebutkan
definisi sekularisasi adalah: “pembebasan manusia dari asuhan agama dan metafisika, pengalihan
perhatiannya dari ‘dunia lain’ menuju dunia kini. (Secularization is the liberation of man from religious
and metaphysical tutelage, the turning of his attention away from other worlds and towards this one).
Kita garisbawahi pandangan Prof. al-Attas, bahwa salah satu proses sekulerisasi adalah “desakralisasi
politik”. Politik dibebaskan dari Tuhan; politik bebas dari agama. Politik hanya dilihat sebagai seni meraih
kuasa atau mempertahankan kekuasaan. Politisi dianggap hebat adalah yang berkuasa. Politisi yang
dianggap tidak bermutu adalah yang gagal meraih kuasa. Meskipun dia jujur. Yang menang dianggap
benar. Kekuasaan adalah kebenaran, might is right. Kaum sekuler biasa berkampanye: “agama jangan
dibawa-bawa dalam urusan politik atau kenegaraan.”
Mungkinkah orang Muslim atau orang Kristen pada saat yang sama juga menjadi orang sekuler? Ulama
terkenal, ketua MUI Pertama, Prof. Hamka, menolak kemungkinan itu.
Dalam ceramahnya di Sekolah Tinggi Theologi Kristen Jakarta, pada tanggal 21 April 1970, menyatakan,
baik Islam maupun Kristen, harusnya tidak dapat mengkhayalkan negara yang terpisah dari agama,
karena jika negara terpisah dari agama, hilanglah tempat dia ditegakkan.
Menurut Hamka, Islam memandang bahwa negara adalah penyelenggara atau pelayan atau khadam
dari manusia. Sedang manusia adalah kumpulan dari pribadi-pribadi. Maka tidaklah dapat tergambar
dalam pemikiran bahwa seorang pribadi, karena telah bernegara, dia pun terpisah dengan sendirinya
dengan agamanya.
Dikatakan oleh Buya Hamka di hadapan para tokoh dan aktivis Kristen saat itu:
“Payahlah memikirkan bahwa seorang yang memeluk suatu agama, sejak dia mengurus negara,
agamanya itu musti disimpannya. Anggota DPR kalau pergi ke sidang, agamanya tidak boleh dibawa-
bawa, musti ditinggalkannya di rumah. Kalau dia menjadi menteri, selama Sidang Kabinet, agamanya
musti diparkirnya bersama mobilnya di luar. Dan kalau dia menjadi Kepala Negara haruslah jangan
memperlihatkan diri sebagai Muslim atau Kristen selama berhadapan dengan umum. Simpan saja
agama itu dalam hati. Nanti sampai di rumah baru dipakai kembali. Saya percaya bahwa cara yang
demikian hanya akan terjadi pada orang-orang yang memang tidak beragama. Sebab memang tidak ada
pada mereka agama yang akan disimpan dirumah itu, atau diparkir di luar selama Sidang Kabinet”….
“Kalau dia seorang Muslim yang jujur atau seorang Kristen yang tulus, agama yang dipeluknya itulah
yang akan mempengaruhi sikap hidupnya, di luar atau di dalam parlemen, di rumah atau di Sidang
Kabinet, dalam hidup pribadi atau hidup bernegara. Dia akan berusaha melaksanakan segala tugasnya
bernegara, menurut yang diridhai oleh Tuhan yang dia percayai. Dan dia akan menolong agamanya
dengan kekuasaan yang diberikan negara kepadanya menurut kemungkinan-kemungkinan yang ada.
Begitulah dia, kalau dia Islam. Begitulah dia, kalau dia Kristen.”
Seorang Kristen yang setia pada kepercayaannya, dia akan berjuang menegakkan nilai-nilai agama yang
diyakininya. Ia akan memuja Yesus sebagai Tuhannya. Sebuah buku berjudul “Transformasi Indonesia:
Pemikiran dan Proses Perubahan yang Dikaitkan dengan Kesatuan Tubuh Kristus” (Jakarta: Metanoia,
2003), menggambarkan ambisi dan harapan besar kaum misionaris Kristen di Indonesia tersebut.
Kaum Kristen Indonesia, kata buku ini, tidak ingin menyia-nyaiakan lagi kesempatan yang pernah mereka
dapatkan untuk mengkristenkan Indonesia. Mereka siap melakukan transformasi Indonesia.
Kesempatan emas saat ini tidak boleh disia-siakan, karena batas waktunya bisa lewat, sebagaimana
pernah terjadi di masa Soeharto:”Tuhan memberikan kesempatan yang luar biasa kepada orang Kristen
dan China, karena pada waktu Suharto menjadi Presiden, ia begitu dekat dengan orang Kristen dan
China. Kesempatan demi kesempatan diberikan kepada orang China dan Kristen untuk melakukan bisnis
di berbagai bidang. Trio RMS (Radius, Mooy, Sumarlin) di bidang ekonomi beragama Kristen. Itu
kesempatan yang diberikan kepada orang Kristen supaya bangsa ini menjadi bangsa yang mengenal
Tuhan, tetapi orang Kristen dan gereja tidak siap, sehingga pada tahun 1990-an, waktu Suharto melirik
kelompok lain, kelompok tersebut menuding bahwa dua kelompok (Kristen dan China) adalah biang
keladi segala persoalan yang ada.” (hal. 45).
Dr. Bambang Widjaja, Gembala Sidang Gereja Kristen Perjanjian Baru, dalam tulisannya berjudul
”Indonesia Siap Mengalami Transformasi” yang dimuat dalam buku ini, menegaskan: ”Indonesia
merupakan sebuah ladang yang sedang menguning, yang besar tuaiannya! Ya, Indonesia siap mengalami
transformasi yang besar. Hal ini bukan suatu kerinduan yang hampa, namun suatu pernyataan iman
terhadap janji firman Tuhan. Ini juga bukan impian di siang bolong, tetapi suatu ekspresi keyakinan akan
kasih dan kuasa Tuhan. Dengan memeriksa firman Tuhan, kita akan sampai kepada kesimpulan bahwa
Indonesia memiliki prakondisi yang sangat cocok bagi tuaian besar yang Ia rencanakan.”
Kaum Muslim memandang, kekuasaan dan kepemimpinan punya makna yang fungsi duniawi dan
ukhrawi, aspek fisik dan metafisik. Pemimpin, dalam Islam, dipandang sebagai “junnatun” (perisai).
Sesuai tujuan dari maqashid-asy-syariah, tugas utama pemimpin dalam Islam adalah hifdzud-din
(menjaga agama). Sebab, bagi Muslim, agama-lah yang terpenting dalam hidup. Iman akan dibawa
sampai mati. Keselamatan iman adalah yang paling utama dalam kehidupan. Karena itu, perlu dipahami,
jika para pemikir Muslim senantiasa menempatkan urusan agama sebagai faktor terpenting. Inilah yang
tidak mudah dipahami oleh kaum sekuler yang menganggap agama sebagai urusan pribadi yang tidak
penting. Sebab, bagi mereka, tauhid dan syirik dipandang sama; iman dan kufur tidak berbeda. Padahal,
dalam Islam, syirik adalah dosa terbesar, karena merupakan kejahatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
(QS 31:13).
Konsep Islam tentang kepemimpinan inilah yang perlu dipahami, agar tidak mudah menuduh kaum
Muslim berpikiran picik dan tidak toleran. Setiap agama dan peradaban memiliki batas-batas toleransi
yang berbeda, bergantung pada masalah yang mereka anggap penting. Ketika keimanan dipandang
penting, maka iman akan dijadikan sebagai faktor penilai seseorang. Ketika faktor ras dianggap benilai
tinggi, maka bangsa itu akan mementingkan faktor rasial. Mereka akan memandang rendah bangsa atau
ras lain.
Konsep Islam soal kepemimpinan ini perlu disampaikan secara terbuka, bukan untuk memecah belah
bangsa. Umat Islam merindukan pemimpin yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, dan bisa menjadi
teladan bagi masyarakat. Para pendiri dan pemimpin bangsa ini telah mendiskusikan masalah ini secara
terbuka jauh sebelum kemerdekaan. Perdebatan mereka terekam dengan baik dalam catatan-catatan
sejarah. Kejujuran berpikir diperlukan untuk membagun toleransi. Dalam kondisi apa pun, umat Islam
senantiasa mencintai bangsanya, dan ingin agar bangsanya menjadi negeri yang beradab, adil, dan
makmur, sebagaimana diamanahkan oleh Pembukaan UUD 1945./Jakarta, 26 September 2014.*
Penulis adalah Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor.
Catatan Akhir Pekan (CAP) hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM danhidayatullah.com
PENTINGNYA PEMIMPIN YANG CINTA AL-QUR'AN
Oleh. Dr. Adian Husaini
“Andaikan penduduk suatu negeri mau beriman dan bertaqwa, maka pasti akan Kami buka pintu-pintu
barakah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ajaran-ajaran Allah), maka Kami azab
mereka, karena perbuatan mereka sendiri.” (QS: Al A’raf:96).
Al-Qur’an Surat al-A’raf ayat 96 tersebut dengan sangat gamblang memberi kabar gembira, bahwa jika
suatu bangsa mau mendapatkan kucuran rahmat dan dijauhkan dari berbagai musibah, maka iman dan
taqwa harus dijadikan sebagai nilai tertinggi dalam pengambilan kebijakan dan keputusan. Tentu saja,
itu termasuk dalam penentuan pemimpin, baik pada tataran keluarga, kelompok, atau pun pada tataran
kenegaraan.
Pemimpin yang beriman dan bartaqwa pasti bekerja sekuat tenaga menjalankan amanah yang
diembannya; mendahulukan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi dan golongannya; bekerja
keras untuk menjaga dan membina iman dan taqwa bangsanya; bukan sekedar berkutat pada urusan
dunia semata; bekerja keras mencukupi kebutuhan-kebutuhan dasar rakyatnya; takut azab Allah di
dunia dan akhirat; takut mengambil hak rakyat; dan menangis jika rakyat susah dan sengsara.
Pemimpin taqwa dan cinta al-Quran, tidak mau munafik; malu kepada Allah, jika peduli rakyat demi
pencitraan di depan manusia; bukan karena cinta dan takut pada Allah Subhanahu Wata’ala. Pemimpin
taqwa takkan tinggalkan shalat demi kampanye dan konser sia-sia. Pemimpin taqwa pun cinta bangsa
karena Tuhannya, bukan karena tanah subur semata. Pemimpin taqwa tak hambur uang negara untuk
pesta pora tiada guna, karena takut siksa neraka.
Bagi Muslim, memilih pemimpin berdimensi ibadah; dunia akhirat; bukan sekedar itung-itungan rebutan
kuasa dunia. Berpolitik adalah bagian dari ibadah dan dakwah, bukan untuk berbangga-bangga akan
banyaknya golongan dan himpun harta benda dunia. Karena itu, pemimpin beriman dan bertaqwa
mustilah zuhud – tidak gila dunia – dan hidup bersahaja; tidak pamer kemewahan di depan rakyat yang
sebagian besarnya masih berkubang dalam belitan kesulitan hidup.
Dalam Kitab as-Siyasah Syar’iyyah, Syaikhul Islam Ibn Taimiyah mengutip hadits Rasulullah Shallallahu
‘alaihi Wassalam yang memperingatkan kaum Muslimin agar berhati-hati dalam memilih pemimpin:
“Siapa yang mengangkat seseorang untuk mengelola urusan (memimpin) kaum Muslimin, lalu ia
mengangkatnya, sementara pada saat yang sama dia mengetahui ada orang yang lebih layak dan sesuai
(ashlah) daripada orang yang dipilihnya, maka dia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR Al-
Hakim).
Jadi, kita tidak patut sembarangan tentukan pemimpin. Apalagi pemimpin pada level kenegaraan. Ada
tanggung jawab dunia akhirat. Jika memilih pemimpin bukan yang terbaik menurut kriteria Islam, maka
bisa dikategorikan telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya; na’udzubillahi min dzalika. Dalam Islam,
pemimpin bukan sekedar mengurus masalah dunia. Ia akan dimintai tanggung jawab di akhirat.
Pemimpin bukan sekedar mengurus KTP, pajak, dan administrasi kependudukan. Tapi, pemimpin akan
dimintai tanggung jawab apakah ia telah berusaha meningkatkan keimanan dan ketaqwaan rakyatnya,
atau justru ia merusak keimanan rakyatnya.
Pemimpin dalam Islam wajib peduli, apakah rakyatnya menyembah Allah Subhanahu Wata’ala atau
menyembah genderuwo; ia akan sangat peduli, apakah rakyaknya lebih suka beribadah atau hobi
bermaksiat; ia pun berusaha keras untuk mencegah dan menutup pintu-pintu zina. Sangat aneh, jika
pemimpin yang secara formal memeluk agama Islam, tetapi justru melarang rakyatnya menutup aurat.
Sepatutnya, pemmpin tidak berani menantang Tuhannya dengan melarang jilbab yang justru diwajibkan
Sang Pencipta. Jadi, kepemimpinan dalam Islam memiliki dimensi ubudiyah dan dimensi akhirat. Jangan
dianggap selesai urusannya di dunia!
*****
Indonesia, negeri kita, kini merupakan negeri Muslim terbesar di dunia. Dulunya, negeri-negeri di
wilayah Nusantara ini 100% Hindu, Budha, Animis, dan sebagainya. Lalu, datanglah para pejuang Islam
yang hebat dari berbagai negeri Muslim. Mereka bekerja keras, secara sungguh-sungguh dan terencana
untuk meng-Islamkan negeri ini. Mereka rela meninggakan negeri dan keluarga mereka dengan tujuan
mulia, menyebarkan Islam ke seluruh pelosok dunia, sebagaimana diamanahkan oleh Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi Wassallam.
Dengan rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur maka negeri ini
menjadi hampir 100% muslim; bahkan disebut sebagai negeri Muslim terbesar di dunia. Ini sebuah
prestasi dakwah yang amat sangat luar biasa. Secara pelan dan teratur, proses Islamisasi pun terus
berjalan, dengan segala hambatan dan tantangannya. Para pejuang Islam itu terus berusaha
meningkatkan kualitas keislaman masyarakat muslim Indonesia, setahap demi setahap. Dakwah tidak
pernah berhenti. Laksana air, ia terus mengalir, mencari tempat-tempat yang bisa diairi arusnya.
Lalu, datanglah penjajah kuffar. Misi mereka pun jelas: gold, gospel, glory. Mereka merampok kekayaan
alam negeri ini; berusaha memurtadkan kaum Muslim. Indonesia dianggap sebagai negeri yang siap
menerima misi Injil. Dengan segala kekuatan dan cara, proses pengkristenan negeri ini dilakukan oleh
para penjajah dan kaum misionaris, tanpa pernah berhenti.
KM Panikkar menulis dalam bukunya Asia and Western Dominance: “Yang mendorong bangsa Portugal
(untuk menjajah di Asia adalah) strategi besar melawan kekuatan politik Islam, melakukan Kristenisasi,
dan keinginan untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah.” Ketika berhasil menduduki Malaka,
D’albuquerqe berpidato, “Tugas besar yang harus kita abdikan kepada Tuhan kita dalam mengusir
orang-orang Moor (Muslim) dari negara ini dan memadamkan api Sekte Muhammad sehingga ia tidak
muncul lagi sesudah ini…” (Prof. Bilveer Singh, Timor Timur, Indonesia dan Dunia, Mitos dan Kenyataan,
(Jakarta: IPS, 1998)).
Adalah sesuatu yang juga luar biasa, berkat lindungan dan pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala,
meskipun kuasa politik digenggam kaum kufar penjajah, selama ratusan tahun, mayoritas penduduk
negeri ini masih tetap bertahan sebagai Muslim. Padahal, selama itu pula, proses Kristenisasi dan
sekularisasi secara konsisten dipaksakan kepada kaum Muslim. Strategi merusak pemikiran dan aqidah
umat Islam, juga devide et impera – pecah belah dan adu domba — cukup sukses dalam melemahkan
kekuatan internal umat Islam. Sudah menjadi sunnatullah, akan selalu terjadi benturan abadi antara
perjuangan menegakkan misi kenabian (Tauhidullah) dengan para pendukung kemusyrikan, sehingga
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam memerintahkan umatnya: Jaahidul musyrikiina bi-amwaalikum
wa-anfusikum wa-alsinatikum! (Berjihadlah melawan orang-orang musyrik dengan hartamu, jiwamu dan
dengan lidah-mu).
Alhamdulillah, usaha kemerdekaan untuk melepaskan diri dari penjajah kuffar berhasil. Kaum Muslimin
mendukung sepenuhnya usaha kemerdekaan ini. Para ulama dan tokoh Islam melanjutkan perjuangan
para ulama dan muballigh untuk menjadikan negeri ini sebagai negeri Muslim yang diridhoi Allah
Subhanahu Wata’ala, menjadi baldatun thayyibatun wa-rabbun ghafur. Itulah negara yang diatur
dengan nilai-nilai Islam, sebagaimana dulu, Rasulullah saw telah mewujudkan sebuah negara di Madinah
dengan Piagam Madinah yang disebut sebagai konstitusi negara tertulis pertama di dunia (the first
written constitution in the world).
Sepeninggal penjajah, kaum sekuler, kristen, komunis, dan sebagainya, terus berjuang tiada henti untuk
mewujudkan negara sesuai dengan nilai-nilai yang mereka anut. Terjadilah pergulatan pemikiran dan
aspirasi yang terus-menerus hingga kini. Pasca Perang Dingin, dengan dukungan kekuatan penguasa
dunia dari peradaban Barat, kaum liberal-sekuler semakin mendapat angin untuk memposisikan
Indonesia sebagai negara sekuler.
Mereka berhasil membajak pemahaman terhadap Pancasila dan memaksakan penafsiran sekuler atas
Pancasila, sehingga Pancasila diajarkan di sekolah-sekolah sebagai “pandangan hidup” , “pedoman
amal” dan sumber dari segala sumber hukum, yang seharusnya merupakan wilayah Islam. Anak-anak
kaum muslim dipaksa berpikir dualistis dan terbelah sikap dan pemikirannya. Sebab, anak-anak Muslim
itu sudah diajar oleh para ulama, ustad, dan guru-guru agana, bahwa Islam adalah pandangan hidup dan
sekaligus pedoman amal mereka. Pancasila dijadikan sebagai agama, atau diletakkan sejajar dengan
agama. Itu jelas keliru dalam pandangan Islam.
Panggung politik
Sejalan dengan dominannya pandangan hidup sekuler, dunia politik di Indonesia pun tampaknya
semakin didomnasi wacana politik sekuler. Wacana-wacana duniawi, urusan ekonomi, janji-janji
kesejahteraan duniawi, menjadi sangat dominan. Wacana keimanan, akhlak, dan pembangunan jiwa
menjadi terpinggirkan; dianggap “tidak laku dijual”. Panggung politik nyaris tak mendendangkan
‘nyanyian’ politisi Muslim yang menyerukan secara terbuka pentingnya negara Indonesia ini hidup di
bawah naungan al-Quran, merumuskan perundang-undangan yang bersumberkan syariat Islam, atau
menolak perundang-undangan yang bertentangan dengan syariat Allah Subhanahu Wata’ala.
Bukankah aneh, jika aturan penjajah lebih dijunjung tinggi dibandingkan dengan aturan Tuhan Yang
Maha Esa.
Kita sepertinya nyaris tak mendengar lagi politisi muslim yang secara terbuka mengupas kebobrokan
pemikiran dan sistem kehidupan sekuler; yang menyatakan akan berjuang sekuat tenaga dalam
menegakkan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan negara, jika mereka menduduki
pos-pos kekuasaan. Jika politik semakin kehilangan wacana ideologis keislaman, maka dikhawatirkan,
aspek-aspek pragmatisme akan semakin mendominasi. Jiwa pengorbanan akan sirna sejalan dengan
merebaknya penyakit gila dunia.
Pada saat yang sama, kekuatan politik internal umat Islam, kini diwarnai dengan fragmentasi antar
pegiat dakwah, dengan maraknya pendapat-pendapat yang mengharamkan keterlibatan kaum Muslimin
ke dalam sistem parlemen bahkan pemerintahan, karena sistem ini dinilai sebagai sistem kufur. Di era
Partai Islam Masyumi dulu, pendapat semacam ini tidak muncul. Para tokoh Islam bersepakat
“demokrasi” bukan merupakan sistem yang ideal. Tetapi, mereka menempuh cara-cara konstitusional
untuk mengubah secara gradual sistem yang tidak ideal; dari sistem demokrasi sekuler menuju sistem
dan kehidupan masyarakat yang lebih Islami.
Tujuannya sangat jelas: bagaimana mewujudkan tujuan perjuangan, yakni menjadikan Indonesia sebagai
negeri Muslim yang menerapkan ajaran Islam dalam tataran individu, masyarakat, dan negara. Inilah
yang dulu ditegaskan dalam tujuan perjuangan politik Partai Islam Masyumi, yakni: ”Terlaksananya
ajaran dan hukum Islam, di dalam kehidupan orang seorang , masyarakat dan negara Republik
Indonesia, menuju keridhaan Ilahi.” (Anggaran Dasar Partai Masjumi, Pasal III).
Sebagai bagian kewajiban melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan taushiyah sesama Muslim, maka
kita perlu mengimbangi dominasi wacana politik sekuler dengan menggelorakan terus-menerus wacana
politik berbasis al-Quran. Wacana politik sekuler yang hanya menekankan aspek materi dan duniawi,
akan semakin menjauhkan bangsa muslim terbesar ini dari nilai-nilai dan ajaran Ilahi yang
mengutamakan pembangunan iman dan taqwa. Padahal, Al-Quran sudah dengan tegas memberi kabar
kepada bangsa kita semua, bahwa jika penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa, maka pasti akan
dikucurkan barakah Allah dari langit dan bumi.
Kita perlu mengoreksi konsep dan aplikasi pembangunan nasional yang terlalu dominan menekankan
aspek dunia dan meteri serta mengabaikan pembangunan jiwa. Padahal, perintah Allah sangat jelas:
“Sungguh beruntung manusia yang mensucikan jiwanya dan sungguh celaka, manusia yang mengotori
jiwanya!” (QS: 91:9-10). Pembangunan jiwa berdasarkan iman dan taqwa inilah yang seharusnya
menjadi program utama pembangunan manusia Indonesia, sehingga tidak menjadikan manusia
Indonesia sebagai manusia yang serakah dan sombong, yang dengan beraninya menolak konsep-konsep
kehidupan yang bersumberkan pada wahyu Allah Subhanahu Wata’ala. Misi Ilahi inilah yang perlu
digaungkan sekuat-kuatnya oleh para politisi Muslim dan partai Islam.
Karena itu, dengan niat beribadah karena Allah, dalam rangka kecintaan kita kepada negeri amanah
Allah ini, agar tidak mendapatkan murka dan azab dari Allah Subhanahu Wata’ala — karena mengingkari
asas iman dan taqwa – maka tidak berlebihan kiranya jika kita berusaha sekuat tenaga untuk
meneguhkan komitmen kita bersama, melanjutkan amanah perjuangan menegakkan misi kenabian;
berusaha menyadarkan diri, keluarga, dan bangsa kita agar bersedia hidup DI BAWAH NAUNGAN AL-
QURAN, menjunjung tinggi prinsip iman dan taqwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kita dicipta Allah dan kini ada di Indonesia, bukan tanpa makna. Kita dicipta untuk melanjutkan amanah
risalah Sang Nabi tercinta. Kita hanyalah satu mata rantai dari serangkaian derap langkah panjangnya
para Nabi utusan Yang Maha Kuasa. Kita tatap dengan semangat dan penuh optimis masa depan
perjuangan Islam di Indonesia. Kita arahkan pandangan kita ke ufuk cakrawala yang jauh, tanpa
mengabaikan realitas kondisi dan sitausi yang terjadi. Realitas penting untuk menjadi pertimbangan kita.
Tetapi, misi abadi kenabian, penegakan kalimah Tauhid dan menebar rahmat ke seluruh alam, tidak
boleh tenggelam oleh kepentingan pragmatis kekuasaan semata.
“Dialah Allah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan ad-Din yang Haq untuk dimenangkan atas
berbagai agama lainnya, walaupun kaum musyrik membencinya.” (QS: ash-Shaf:9).
Ibrahim (a.s.) memang diusir dan dibakar oleh sang penguasa. Tapi, al-Quran lebih membela Ibrahim,
dan sama sekali tidak bersimpati kepada raja yang musyrik dan zalim. Meskipun Firaun jauh lebih kuat
dari Musa (a.s.), tapi al-Quran tidak pernah sedikit pun memberikan pujian untuk Fir’aun. Ketika kecil
dan ketika kuat, Daud a.s. tetap dipuji karena keteguhannya memperjuangkan kalimah Tauhid.
Jika tidak ingin dimusuhi kaumnya yang musyrik, logikanya, lebih aman dan nyaman, jika Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassallam tidak mendahulukan seruan tauhidnya dan mengkritisi
kemusyrikan yang telah menjadi tradisi bangsanya. Meskipun ditentang keras, dimusuhi, diboikot,
diancam dibunuh, dan sebagainya, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassallam tetap mengajak kaumnya untuk
meninggalkan agama mereka yang syirik dan memeluk Islam, mengakui Allah sebagaisatu-satunya
Tuhan dan mengakui Muhammad saw sebagai utusan-Nya yang terakhir.
Mungkin, jika ingin dakwahnya diterima secara luas, tidak dimusuhi kaum dan keluarganya sendiri, dan
bisa hidup lebih nyaman, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam hanya akan mengangkat isu-isu
ekonomi dan kesejahteraan, dengan – misalnya — membentuk semacam koperasi atau Perseroan
Terbatas. Bangsa Arab akan menerima ajakan itu, karena Rasulullah saw juga pedagang yang sukses dan
manusia terpercaya. Meski pun al-Quran memerintahkan kepedulian sosial yang tinggi sejak dakwah di
periode awal di Makkah, tetapi seruan untuk menegakkan Tauhid adalah isu utama dalam dakwah Nabi.
Dan umat manusia menjadi saksi, di tengah ancaman, makian, hujatan, dan kesulitan hidup, Nabi
Shallalu ‘alaihi Wassallam tetap tegar dalam menggaungkan tegaknya Tauhid. Sebab, hanya dengan
semata-mata menghambakan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala itulah, maka manusia akan bisa
hidup bahagia dunia dan akhirat; bebas dari penindasan antar sesama; bebas dari belenggu perbudakan
setan. Memberantas korupsi itu sangat penting! Tetapi, memberantas kemusyrikan lebih penting lagi!
Cukup sandang pangan dan papan itu harus, tetapi selamat iman, wajib lebih dipentingkan. Sebab,
tanpa iman, amal tiada nilainya, laksana fatamorgana yang tiada berharga. (QS 24:39).
Kita camkan benar peringatan al-Quran:
ََُّم ْؤ ِم ِني ََن ُكنتُم ِإن الأَ ْعلَ ْو َنَ َوأَنتُ ُمَ تَ ْح َزنُوا َولََ تَ ِهنُوا َول
“Jangan merasa hina dan jangan berduka! Sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang paling tinggi
derajatnya, jika kalian mukmin!” (QS ali Imron [3]:139).
Umat Islam adalah ummatur-risalah. Kita mendapatkan amanah dari Allah Subhanahu Wata’ala. Kita
kibarkan panji Tauhid, meski banyak yang enggan melirik, bahan ada yang sinis dan mencibirnya. Kita
pilih pemimpin terbaik, yang kita percayai memiliki ilmu dan pribadi unggul yang mampu memimpin dan
membawa negeri ini kepada keberkahan Ilahi; pemimpin yang tawadhu’, tidak angkuh, tidak jumawa,
ikhlas panca indera dan akalnya dipadukan dengan panduan wahyu Allah Subhanahu Wata’ala.
Perjuangan mengemban misi suci tidak pernah terlambat. Kita mulai melangkah di tahun 2014 ini. Kita
percaya, para politisi dan partai Islam juga merindukan dan mencitakan hal yang sama dengan kita
semua. Kita mencitakan negeri kita menjadi negeri aman sejahtera, adil dan makmur, di bawah naungan
ridha Ilahi.
Karena itu, bismillahirrahmanirrahim... dengan berusaha sekuat-kuatnya mengikhlaskan niat karena
ibadah kepada Allah, kita bersihkan hati kita… kita gaungkan sekeras-kerasnya dalam hati, dan kita
pancarkan gelombang kebenaran abadi sekuat-kuatnya melalui lisan kita: SELAMATKAN INDONESIA
DENGAN AL-QURAN! Semoga dengan itu negeri kita berhak mendapatkan kucuran berkah Allah dan
dijauhkan dari azab dan bencana.
Depok, 26 Maret 2014
Khutbah jumaat: “MENJADI MUSLIM BERADAB”
Ust. DR. Adian Husaini, MA
Dipublikasikan pada Selasa, 15/04/2014 11:12 | 1,396 views
والإسلام الإيمان بنعمة أنعمنا الذي لله الحمد، الله هدانا أن لول لنهتدي كنا وما الإسلام دين إلى مستقيم صراط إلى وهدانا، إل لإله أن أشهد
ورسوله عبده محمدا أن وأشهد له لشريك وحده الله. القيامة يوم إلى بإحسان تبعهم ومن وأصحابه آله وعلى محمد نبينا على وسلم صل اللهم.
المسلمون فيآأيها، المتقون فاز فقد وطاعته الله بتقوى نفسي وإياي أوصيكم. الكريم كتابه فى تعالى الله وقال،: الرجيم الشيطان من بالله أعوذ
الرحيم الرحمن الله بسم:
{} يُ ْؤ َم ُرو ََن َما َويَ ْفعَلُو َنَ أَ َم َرهُ َْم َما ّل َّلََا يَ ْع ُصو ََن َلَ ِش َداَد ِغ َلا َظ َم َلائِ َكَة َعلَ ْي َها َوا ْل ِح َجا َرةَُ النَّا ُسَ َوقُو ُد َها نَارَا َوأَ ْه ِلي ُك ْمَ أَنفُ َس ُك َْم قُوا آ َمنُوا الَّ ِذي ََن أَيُّ َها يَا
التحريم6
الشريف حديثه فى وسلم عليه الله صلى الله رسول وقال: )ماجه ابن روه ( أَ َدبَ ُه َْم َوأَ ْح ِسنُوا أَ ْو َل َد ُك ْمَ أَ ْك ِر ُموا
Ma’asyiral Muslimin sidang jum’at Rahimakumullahu
Mudah-mudahan kita semua termasuk hamba-hamba Allah yang bersyukur kepadaNya atas segala
nikmat dan karunia-Nya, khususnya nikmat iman dan islam, begitu pula nikmat sehat wal ‘afiat. Nikmat
situasi dan kondisi masyarakat negeri kita yang aman sentosa jauh dari peperangan, konflik, musibah
dan lainnya, sebagaimana yang dicobakan oleh Allah Ta’ala pada sebagian saudara kita di negeri lainnya.
Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam beserta keluarganya, para sahabatnya dan siapa saja yang mengikuti petunjuk beliau sampai
akhir zaman nanti.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,
أَ ْو َل َد ُك َْم أَ ْك ِر ُموا قَا ََل َو َسلَّ ََم َعلَ ْي َِه ّل َّلَاُ َصلَّى ّل َّل ِاَ َر ُسو َِل َع َْن يُ َح ِد ُثَ َما ِل َك ْب ََن أَنَ َسَ َس ِم ْع ُتَ النُّ ْع َما َِن ْب َُن ا ْل َحا ِر َُث أَ ْخبَ َرنِي ُع َما َرةََ ْب ُنَ َس ِعي َُد َح َّدثَنَا
)ماجه ابن روه ( أَ َدبَ ُه َْم َوأَ ْح ِسنُوا
Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Umarah, telah mengabarkan kepadaku Harits bin Nu’man
berkata, aku mendengar Anas bin Malik berkata, dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam beliau
bersabda, “Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka”. (HR. Ibnu Majah)
Salah satu ungkapan ulama kepada putranya,
أدبهم وخذ منهم وتعلم الفقهاء أصحب بني يا
“Wahai anakku, bergaul lah kalian dengan para Fuqaha’ (ulama), belajarlah ilmu dari mereka, dan ambil
lah adab mereka”
Para muhadditsin telah mengumpulkan banyak hadits terkait adab. Adab menjadi tiang tegaknya
masyarakat muslim. Bangunan pribadi, keluarga dan masyarakat kita akan tegak jika adab ini ditegakkan.
Dan sebaliknya, masyarakat akan runtuh apabila tidak ada adab. Sungguh aneh bahwa kurikulum-
kurikulum pendidikan, bahkan terkadang di sekolah maupun universitas islam, adab ini tidak diajarkan.
Padahal pendidikan adab ini wajib diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Kata “adab” sering diterjemahkan dengan “budi bahasa” atau “sopan santun”, padahal terjemah ini
tidak sepenuhnya benar. Karena sopan santun terkait dengan budaya. Adab tidak semestinya terkait
dengan budaya, karena adab adalah kemampuan kita semua sebagai seorang muslim untuk memahami
dan mau mengakui segala sesuatu sesuai dengan harkat dan martabat yang ditentukan Allah. Siapa yang
layak kita sembah? Al Khaliq Allah Subhanahu Wa Ta’ala, itu maknanya kita beradab kepada Allah Ta’ala.
Oleh karena itu tokoh pendidikan dalam alquran, Luqman Al Hakim. Pertama kali yang ia ajarkan kepada
putranya adalah bahwa syirik merupakan kezaliman yang besar.
لقمان( َع ِظيمَ لَ ُظ ْلمَ ال ِش ْر َكَ ِإ َّنَ ِباّ َّل ِلَ تُ ْش ِر َْك ََل بُنَ ََّي يَا يَ ِع ُظهَُ َو ُه َوَ ِل ْبنِ َِه لُ ْق َما َُن قَا َلَ َو ِإ َْذ: 13)
“Dan (Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai
anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah
benar-benar kezaliman yang besar”. (Luqman: 13)
Inilah kewajiban pertama bagi tiap orang tua yaitu memahamkan tauhid kepada anak-anak kita.
Memahamkan betapa tingginya kejahatan syirik. Jangan samakan Allah dengan makhluk, jangan angkat
makhluk ke derajat Khaliq begitu juga sebaliknya. Karena itu semua tidak beradab.
Rasulullah telah mengingatkan dengan sabdanya,
َ ّل َّل َِا َر ُسو ََل أَ َّنَ لَ ِبيدَ ْب َِن َم ْح ُمو َِد َع ْن-وسلم عليه الله صلى- » الأَ ْصغَ َُر ال ِش ْر ُكَ َعلَ ْي ُك َُم أَ َخا َُف َما أَ ْخ َو َفَ ِإ َّنَ « قَا ََل. يَا الأَ ْصغَ ُرَ ال ِش ْر َُك َو َما قَالُوا
ََه ْلَ فَا ْن ُظ ُروا ال ُّد ْنيَا ِفى تُ َرا ُءو ََن ُك ْنتُ َْم الَّ ِذي َنَ إِلَى ا ْذ َهبُوا ِبأَ ْع َما ِل ِه ْمَ النَّا َُس ُج ِز َىَ إِ َذا ا ْل ِقيَا َم ِةَ يَ ْو َمَ لَ ُه َْم َو َج َّلَ َع ََّز ّل َّل ُاَ يَقُو َُل ال ِريَا ُءَ « قَا َلَ ّل َّل َِا َر ُسو َل
ََج َزا َء ِع ْن َد ُه َْم تَ ِج ُدو َن
Dari Mahmud bin Labid, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya yang paling
kukhawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik ashgor.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik ashgor,
wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “(Syirik ashgar adalah) riya’. Allah Ta’ala berkata pada mereka yang
berbuat riya’ pada hari kiamat ketika manusia mendapat balasan atas amalan mereka: ‘Pergilah kalian
pada orang yang kalian tujukan perbuatan riya’ di dunia. Lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan
balasan dari mereka?’ (HR. Ahmad)
Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.
Riya’ adalah menampakkan ibadah dengan maksud agar dilihat orang lain. Jadi riya’ berarti melakukan
amalan tidak ikhlas karena Allah karena yang dicari adalah pandangan, sanjungan dan pujian manusia,
bukan balasan murni di sisi Allah. Penyakit inilah yang banyak menimpa kita ketika beribadah. Riya’
inilah yang benar-benar Nabi khawatirkan.
Mengapa riya’ dikatakan syirik kecil? Riya’ adalah perbuatan yang tidak beradab kepada Allah. Karena
ibadah yang semestinya ditujukan hanya kepada Allah Azza Wa Jalla, dipalingkan untuk mencari tujuan,
popularitas, ketenaran di kalangan makhluk. Maka sungguh ia tidak beradab kepada Allah Ta’ala.
Adab kepada Allah ini sangat penting untuk ditanamkan pada diri dan keluarga kita di era modern
sekarang. Karena tantangan yang dihadapi dalam medan akidah sangat luar biasa. Sekarang kita digiring
dengan paham pluralisme, multikulturalisme untuk memandang dan meletakkan agama di tempat yang
sama. Mereka mengatakan bahwa “semua agama adalah sama”, “jangan letakkan satu agama lebih
tinggi dan lebih superior daripada agama lainnya”.
Bahkan kita sekarang mulai diteror dengan apa yang mereka sebut “Hak Asasi Manusia”, tetapi dengan
pandangan sangat sekuler. Mereka mengatakan, “manusia itu sama, apakah ia mukmin atau tidak”.
“Kalau anda mengangkat seorang pemimpin, jangan lihat agamanya, imannya, tidak penting apakah ia
menyembah Allah atau tidak, bertauhid atau berbuat syirik. Yang penting ia humanis, suka menolong,
suka berbuat baik kepada sesama, ahli manajemen dan sebagainya”, kata mereka. Padahal Rasulullah
telah mengingatkan,
َر ِعيَّ ِت َِه َع َْن َو َم ْسئُو َل َراعَ ا ْل ِإ َما ُمَ َر ِعيَّ ِت ِهَ َع َْن َم ْسئُو َل َو ُكلُّكُ َْم َراعَ ُكلُّ ُك ْمَ يَقُو َُل َو َسلَّ ََم َعلَ ْي ِهَ ّل َّلَُا َصلَّى ّل َّل َِا َر ُسو َلَ َس ِم ْع َُت يَقُو َُل ُع َم ََر ْب َنَ ّل َّل َِا َع ْب ََد أَ ََّن
ََو َم ْسئُو َل َسيِ ِد ِهَ َما ِلَ ِفي َرا َع َوا ْل َخا ِد ُمَ َر ِعيَّ ِت َها َع ْنَ َو َم ْسئُولَةَ َز ْو ِج َها بَ ْي ِتَ ِفي َرا ِعيَةَ َوا ْل َم ْرأََةُ َر ِعيَّتِ َِه َع ْنَ َم ْسئُو َل َو ُه َوَ أَ ْه ِل َِه فِي َرا َع َوال َّر ُج ُل
َر ِعيَّتِ ِهَ َع َْن َو َم ْسئُو َل َراعَ َو ُكلُّ ُك َْم َر ِعيَّتِ ِهَ َع َْن َو َم ْسئُولَ أَ ِبي َِه َما ِلَ ِفي َراعَ َوال َّر ُج ُلَ قَا ََل قَ ْدَ أَ ْنَ َو َح ِس ْب ُتَ قَا َلَ َر ِعيَّ ِت ِهَ َع َْن
Bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang
dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang
suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah
pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas
urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan
akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut.\” Aku menduga Ibnu
‘Umar menyebutkan: “Dan seorang laki-laki adalah pemimpin atas harta bapaknya, dan akan dimintai
pertanggung jawaban atasnya. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai
pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya”. (HR. Bukhari)
Bahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menegaskan bahwa amal seseorang tidak ada gunanya jika
imannya hilang.
النور( ا ْل ِح َسا َِب َس ِري ُعَ َوّل َّلاَُ ِح َسابَهُ فَ َوفَّاهَُ ِعن َدَهُ ّل َّلاََ َو َو َج َدَ َش ْيئَا يَ ِج ْدَهُ لَ َْم َجاءَهُ ِإذَا َحتَّى َماء ال َّظ ْمآ ُنَ يَ ْح َسبَُهُ ِب ِقيعَةَ َك َس َرا َب أَ ْع َمالُ ُه ْمَ َكفَ ُروا َوالَّ ِذي ََن:
39)
“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang
disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya
sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya
perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. (An Nur: 39)
Adab ini terkait dengan kemampuan kita, anak-anak dan keluarga kita. Bagaimana memahami keadaan
orang-orang bertauhid. Allah Ta’ala telah mengingatkan,
الحجرات( نَا ِد ِمي َنَ فَعَ َْلتُ ْمَ َما َعلَى فَتُ ْصبِ ُحوا ِب َج َهالَةَ قَ ْومَا تُ ِصيبُوا أَن فَتَبَيَّنُوا بِنَبَأَ فَا ِس َق َجاءكُ ْمَ ِإن آ َمنُوا الَّ ِذي َنَ أَيُّ َها يَا: 6 )
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka
periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa
mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (Al Hujurat: 6)
Fasiq adalah orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya, mengerjakan dosa-dosa besar
atau dosa-dosa kecil secara berterusan.
Sulit kita pahami di negeri ini, masih ada sebagian pemimpin kita yang berani melarang muslimah
menutup aurat. Konon katanya, negri kita adalah negri yang beriman kepada Tuhan yang Maha Esa.
Dimana-mana masuk menjadi pegawai negeri ada syarat iman dan takwa. Bagaimana mungkin seorang
pemimpin berani melarang muslimah menutup auratnya?! Sementara tiap hari ia membiarkan orang
lain mengumbar auratnya?? Bagaimana kita bisa percaya kepada mereka?! Seperti apa sebetulnya para
pemimpin kita?
Kita doakan, mudah-mudahan mereka mendapatkan hidayah dari Allah Ta’ala, sadar bahwa bukan main
tanggung jawab mereka, berani menantang Allah. Kalau orang tidak mampu, belum sanggup seharusnya
ia beristighfar (mohon ampun) kepada Allah. Namun faktanya, sebagian pemimpin melarang anggotanya
menjalankan perintah Allah! Ini bukan sekedar ketidak beradaban, namun lebih kepada menantang
Allah Azza Wa Jalla.
Ma’asyiral muslimin Rahimakumullah
Apakah kita sudah mengajarkan anak-anak kita untuk memuliakan orang-orang bertakwa dan
mengagumi orang beriman? Agar mereka tidak silau dengan jabatan dan kekuasaan. Terkadang seorang
dimuliakan bukan karena dirinya mulia, tapi karena menduduki suatu jabatan tertentu. Kursinya lah
yang mulia, bukan dirinya. Ketika kursinya diambil, ia tidak lagi berharga dihadapan manusia, karena
memang dirinya tidak mulia.
َالحجرات( َخ ِبيرَ َع ِليَم ّل َّلََا إِ َّنَ أَ ْتقَا ُك ْمَ ّل َّل َِا ِعن َدَ أَ ْك َر َم ُك َْم ِإ َّن: 13)
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa
diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Al Hujurat: 13)
Memang tidak mudah bagi kita di era kebebasan informasi untuk mendidik anak-anak kita sebagaimana
hadits pembuka dalam khutbah ini. Agar anak-anak mengetahui siapa yang harus mereka muliakan,
kagumi dan agungkan. Serta mengetahui siapa yang selayaknya dijadikan kawan dan musuh.
َالبقرة( ُّمبِينَ َع ُد َو لَ ُك ْمَ ِإنََّهُ ال َّش ْي َطا َِن ُخ ُط َوا ِتَ تَتَّبِعُواَْ َو َل: 168)
…. dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; Karena sesungguhnya syaitan itu adalah
musuh yang nyata bagimu”. (Al Baqarah: 168)
Allah Ta’ala pun telah memberitahukan bagaimana cara syaithan memperdaya manusia. Syaithan
mengemas perbuatan keji tampak indah. Sehingga manusia tidak sedikit yang memuja perbuatan
maksiat dan munkar. Bahkan terkadang rela membayar untuk menikmati perbuatan-perbuatan munkar.
…النَّا ِسَ ِم ََن ا ْليَ ْو ََم لَ ُك ُمَ َغا ِل ََب لََ َوقَا ََل أَ ْع َمالَ ُه ْمَ ال َّش ْيطَا َُن لَ ُه َُم َزيَّ َنَ َوإِ َْذ. (الأنفال: 48)
“Dan ketika syaithan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: “Tidak
ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini…..” (Al Anfal: 48)
Orang-orang mukmin adalah saudara kita dan ini merupakan adab dari islam. Allah Ta’ala menjanjikan
kemenangan bagi yang memiliki sifat-sifat seperti dalam ayat berikut,
ِفي يُ َجا ِه ُدو ََن ا ْل َكا ِف ِري ََن َعلَى أَ ِع َّزةَ ا ْل ُم ْؤ ِمنِي َنَ َعلَى أَ ِذلَّةَ َويُ ِحبُّونَهَُ يُ ِحبُّ ُه ْمَ بِقَ ْوَم ّلل َُا يَأْ ِتي فَ َس ْو َفَ ِدينِ ِهَ َعن ِمن ُك َْم يَ ْرتَ َّدَ َمن آ َمنُواَْ الَّ ِذي ََن أَيُّ َها يَا
المائدة( َع ِليَم َوا ِسعَ َوّللَاُ َي َشا ُءَ َمن يُ ْؤ ِتي َِه ّلل ِاَ فَ ْض ُلَ َذ ِل َكَ لآ ِئمَ لَ ْو َمَةَ يَ َخافُو ََن َولََ ّلل ِاَ َس ِبي َِل: 54)
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak
Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang
bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir,
yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia
Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi
Maha Mengetahui”. (Al Maidah: 54)
Ibnu Jarir dan Qatadah Rahimahumallahu mengatakan bahwa Allah Ta’ala menurunkan ayat ini karena
Dia mengetahui akan banyaknya orang yang murtad terutama setelah Nabi wafat. Kategori murtad yang
pertama muncul sesudah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam wafat (pada masa Abu Bakar al-Shiddiq)
adalah orang-orang yang mengatakan: “kami shalat tapi kami tidak mau membayar zakat karena Allah
tidak dapat merampas harta kami”.
Inilah jawaban Allah, bahwa Dia akan mendatangkan satu kaum yang Ia mencintai mereka dan mereka
pun mencintai Allah. Huruf fa pada kata fa saufa adalah jawab syarat yang bermakna jika terjadi orang-
orang yang beriman murtad dari agama Allah, maka Allah akan mendatangkan kaum yang Ia cintai dan
mereka pun mencintai Allah Ta’ala. Inilah karakteristik pertama dari mukmin yang sempurna (al-mukmin
al-kamil) yaitu mereka yang dicintai Allah karena mereka mencintai Allah Ta’ala. Oleh karena itu,
mukmin yang sempurna adalah mukmin yang memiliki sifat mahabbah (cinta kepada Allah).
Orang yang berusaha mencintai Allah akan merasakan manisnya iman, sebagaimana hadits Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wasallam berikut,
َلَ ا ْل َم ْر َءَ يُ ِح َّبَ َوأَ َْن ِس َوا ُه َما ِم َّما إِلَ ْي ِهَ أَ َح ََّب َو َر ُسولَُهُ ّل َّلاَُ يَ ُكو َنَ أَ َْن ا ْل ِإي َما ِنَ َح َلا َوَةَ َو َج ََد ِفي َِه ُك َّنَ َم ْنَ ثَ َلاثَ قَا ََل َو َسلََّ ََم َعلَ ْي ِهَ ّل َّلَاُ َصلَّى النَّبِيَِ َع َْن
ُالنَّا َِر ِفي يُ ْقذَ َفَ أَ َْن يَ ْك َرَهُ َك َما ا ْل ُك ْف َِر فِي يَعُو َدَ أَ ْنَ يَ ْك َرَهَ َوأَ ْنَ ِّ َّل ِلَ إِ َّلَ يُ ِحبَُّه
Dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Tiga perkara yang dengannya seseorang akan
merasakan manisnya iman: (1) seseorang yang mencintai Allah dan RasulNya dan tidak ada yang
melebihi cinta kepada keduanya; (2) tidak mencintai seseorang/sesuatu kecuali atas dasar cinta kepada
Allah; (3) seseorang yang benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke
neraka”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Karakteristik yang kedua adalah mereka berkasih sayang dengan sesama mukmin dan keras terhadap
musuh-musuh mereka yang kafir (Yahudi dan Nashrani). Karakter ini semakna dengan ayat:
“Keras terhadap orang-orang kafir dan berkasih sayang dengan sesama mereka” (Al-Fath: 29)
Karakteristik ketiga adalah berjuang di jalan Allah yaitu jalan kebenaran dan kebaikan untuk
memperoleh ridha Allah Ta’ala. Sebaik-baiknya jihad adalah mengorbankankan jiwa dan harta untuk
memerangi musuh-musuh kebenaran (al-haq). Itulah ciri nyata dari mukmin yang benar dan lurus.
Ciri yang keempat adalah mereka tidak takut dengan celaan dari orang-orang munafik. Orang munafik
lebih khawatir kepada hinaan dan celaan dari orang Yahudi dan Nasrani yang menjadi wali mereka, atau
takut dimusuhi dan diperangi oleh Yahudi dan Nashrani. Orang-orang yang memiliki iman sempurna
tidak pernah berharap balasan atau pujian dari manusia tetapi amal yang dilakukan didasarkan kepada
kebenaran dan menjauhi sesuatu yang bathil karena jelas bathilnya.
Jangan malu sebagai seorang muslim. Kalau ia berjilbab, tidak perlu jilbabnya ditanggalkan hanya untuk
menunjukkan bahwa dirinya juga menerima orang lain yang tidak berjilbab. Sejak dahulu Rasulullah
mengajarkan untuk bangga sebagai muslim. Lihatlah para sahabat yang mengungsi di Habasyah, mereka
tidak gentar sama sekali berhadapan dengan para pendeta, bahkan berdialog dengan raja Najasyi.
Rasulullah menanamkan sikap bangga sebagai muslim, mengajarkan untuk tidak minder dengan kaum
yang lain. Bahkan ketika kaum muslimin dalam keadaan miskin papa dan terusir, tidak tampak dari
mereka rasa malu dan terhina dari kaum lainnya. Inilah yang mengangkat derajat kaum muslimin.
Sehingga Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mewanti-wanti,
ََكغُثَا ِءَ ُغثَا َء َولَ ِكنَّ ُك ْمَ َك ِثي َر يَ ْو َم ِئذَ أَ ْنتُ ْمَ بَ َْل قَا ََل يَ ْو َمئِذَ نَ ْح َُن ِقلََّة َو ِم َْن قَا َِئ َل فَقَا َلَ قَ ْصعَتِ َها إِلَى ا ْلأَ َكلَةَُ تَ َدا َعى َك َما َعلَ ْي ُك ْمَ تَ َدا َعى أَ ْنَ ا ْلأُ َم ُمَ يُو ِش ُك
ََو َك َرا ِهيََةُ ال ُّد ْنيَا ُح ُّبَ قَا َلَ ا ْل َو ْه َُن َو َما ّل َّل َِا َر ُسو َلَ يَا قَائِلَ فَقَا َلَ ا ْل َو ْه ََن قُلُوبِ ُك ْمَ فِي ّل َّل َُا َولَيَ ْق ِذفَ ََّن ِم ْن ُك ْمَ ا ْل َم َهابَةََ َع ُد ِو ُك َْم ُص ُدو ِرَ ِم ْنَ ّل َّلَُا َولَيَ ْن َز َع َّنَ ال َّس ْي ِل
ا ْل َم ْو َِت
“Hampir terjadi keadaan yang mana ummat-ummat lain akan mengerumuni kalian bagai orang-orang
yang makan mengerumuni makanannya”. Salah seorang sahabat bertanya; “Apakah karena sedikitnya
kami ketika itu?” Nabi menjawab, Bahkan, pada saat itu kalian banyak jumlahnya, tetapi kalian bagai
ghutsa’ (buih kotor yang terbawa air saat banjir). Dan pasti Allah akan mencabut rasa segan yang ada di
dalam dada-dada musuh kalian, kemudian Allah campakkan kepada kalian rasa wahn”. Kata para
sahabat, “Wahai Rasulullah, apa Wahn itu? Beliau bersabda: “Cinta dunia dan takut mati”. (Shahih – HR.
Abu Daud, Kitab al-Malahim, Bab, Fi Tadaa’al Umam ‘Alal Islam)
Hadits di atas memaparkan berita Rasulullah mengenai keadaan umat Islam di akhir zaman. Unsur-unsur
kekuatan ummat Islam bukan pada banyaknya jumlah dan kekuatannya, pasukan kavalerinya dan
kesombongannya, pasukan infantrinya dan para komandannya, tapi pada aqidahnya dan manhajnya.
Karena ummat ini adalah ummat tauhid dan pengusung panji-panji tauhid. Apakah engkau tidak
perhatikan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di atas, ketika menjawab pertanyaan salah
seorang sahabatnya tentang jumlah, “Bahkan kalian ketika itu banyak!”
Kita telah banyak diingatkan dalam alquran dan as sunnah agar menjadi orang-orang beradab.
Mentauhidkan Allah dan menjadikan Rasulullah sebagai uswah hasanah dan mengikuti para ulama
salafusshalih yang meneruskan jejak sunnah perjuangan Nabi. Karena ini semua merupakan bagian dari
adab kepada beliau Shallallahu Alaihi Wasallam.
ا ْل َك ِر ْي ِمَ ا ْلقُ ْرآ َِن فِي َولَ ُك ْمَ ِل ْيَ الله با َر ََك، َا ْل َح ِك ْي َِم َوال ِذ ْك َِر ا ْلآيَا َِت ِم ََن ِف ْي ِهَ ِب َما َوإِيَّا ُك ْمَ َونَفَعَ ِن ْي. ال َّر ِح ْي َُم ا ْلغَفُ ْو ُرَ ُه ََو ِإنََّهُ فَا ْستَ ْغ ِف ُر ْوهَُ هذا قَ ْو ِل ْيَ أَقُ ْو َُل
- See more at: http://darussalam-online.com/khutbah-jumat-ust-dr-adian-husaini-ma-menjadi-muslim-
beradab/#sthash.GvQkFDZv.dpuf