PANDANGAN SARWAJAGAT
ISLAM UNTUK ANAK MUDA
A.KHOLIL HASIB
ARKIB KOLEKSI ARTIKEL CHEGU RIDHWAN
LOSS OF ADAB DAN KEPERCAYAAN DIRI MUSLIM
Oleh: A. Kholili Hasib, MA
(peneliti InPas Surabaya)
Saat ini ada suatu penyakit mental serius yang menjangkiti sebagian kaum Muslimin. Yaitu mental
ketidak percayaan diri terhadapa Islam dan sebagai Muslim. Ini merupakan jenis penyakit hati. Perasaan
diri minder sebagai Muslim ini tentu saja memang karena sudah kehilangan kebanggaan terhadap
simbol-simbol Islam.
Di satu sisi, ada upaya simbol-simbol Islam distigmatisasi dengan pandangan buruk, rendah, anti
kemajuan, bodoh dan lain sebagainya. Mau cerdas jangan fanatik agama. Ulama, kiai dan santri adalah
kaum terbelakang. Pesantren itu kotor. Al-Qur’an mengandung ajaran radikal. Inilah contoh statemen-
statemen yang dipaksakan untuk dipercayai Muslim awam.
Akibatnya, sebagian kaum Muslimin lebih bangga dengan memakai simbol non-Islami. Perasaan minder
tersebut muncul karena individu yang mengalami inferioritas merasa Islam itu betul-betul mempunyai
kekurangan. Sehingga, perlu mencari “pelengkap” dari ajaran lain.
Mental inferiority complex sudah menjadi kenyataan yang makin memprihatinkan. Baru-baru ini,
seorang non-Muslim pimpinan partai sekuler disambut gegap gempita oleh ratusan santri di sebuah
pesantren. Mereka menyambut dengan hangat bak seorang ulama kenamaan. Para santri putra-putri
merunduk, mencium tangan tokoh partai itu. Ini bukan sambutan biasa seorang tamu yang datang ke
rumah seseorang. Dia bukan sekedar tamu yang cuma mau sowan ke kiai.
Apa alasannya? Bandingkan jika seumpama yang datang itu adalah Pak Darmaji penjual tempe di
kampung. Meski, umpamanya, dia rajin shalat jamaah, tahajud dan sedekah, dia tak akan mendapatkan
sambutan apa-apa di pesantren tersebut. Karena dia orang tidak terkenal, miskin dan dianggap bukan
orang penting.
Tetapi, si non-Muslim pimpinan partai sekuler ini mendapatkan sambutan meriah. Apa sebab? Karena
dia pemimpin partai, orang kaya bos media televisi nasional, kaya raya dan lain sebagainya. Inilah
penghormatan yang tidak beradab.
Dalam kitab Asna al-Mathalib III halaman 114 diterangkan etika menghormati seseorang dengan
mencium tangannya. Kitab ini menjelaskan bahwa orang sholih, berilmu atau orang-orang yang
dianggap baik dari segi agamanya (diniyyah) harus dihormati dengan mencium tangannya. Bahkan
hukumnya sunnah. Sementara hukumnya makruh menghormati dengan mencium tangan seorang
Muslim karena kekayaannya atau karena hal lain yang bersifat duniawi. Dikutip dalam kitab tersebut
sebuah hadis: “Barang siapa merendahkan hati pada orang kaya karena kekayaannya, maka hilanglah
dua pertiga agamanya”.
Lantas bagaimana menghormati orang kafir dengan mencium tangannya? Ibnu Hajar mengatakan
bahwa bagi seorang Muslim tidak boleh mengagungkan orang kafir dengan cara mencium tangan.
Barang siapa yang melakukannya untuk memperoleh harta si kafir, maka dia merupakan pendosa yang
bodoh (Ibnu Hajar al-Haitami,Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra).
Itulah adab. Menempatkan sesuatu sesuai dengan kedudukannya. Orang berilmu, ulama, orang sholih,
bertakwa kedudukannya lebih mulya daripada orang kaya yang tak berilmu. Kedudukan ulama lebih
tinggi daripada Presiden. Kita wajib menghormati seorang karena ilmu dan ketakwaannya kepada Allah
Swt.
Begitu pula kedudukan seorang Muslim lebih mulya daripada orang kafir. Saudara Muslim harus lebih
dihormati daripada orang kafir. Sebabnya, orang kafir tidak adab kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka
menentang menentang hukum Allah dan Rasul-Nya. Tentu saja pantas disebut bi-adab (tidak beradab)
seseorang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.
Seharusnya, kaum Muslim menghormati seseorang karena keimanan dan ketakwaannya. Bukan karena
jabatannya, kekayaannya, kecantikannya dan popularitasnya. Masyarakat yang beradab adalah mereka
yang menghargai ulama dan aktivitas keilmuan. Tidaklah beradab, jika ulama dan aktivitas keilmuan
dikecilkan. Sementara tokoh partai dan aktivitas hiburan diagung-agungkan.
Kita tidak boleh keliru, yang kaya dimulyakan, sedangkan yang berilmu dihinakan. Ilmu harganya jauh
lebih mahal daripada harta dunia. Orang kafir dimulyakan, sedang orang Muslim dicela-cela.
Wajib hukumnya memulyakan seseorang itu karena takwanya, ilmunya dan keimanannya. Allah
berfirman, “Sesungguhnya orang yang termulia disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa (QS. Al-
Hujurat: 13).
Coba simak riwayat dari Imam Bukhari berikut ini. “Seorang laki-laki lewat didepan Rasulullah, Rasulullah
berkata kepada seseorang yang duduk disisi beliau, “Bagaimana pendapatmu tentang orang ini?” Orang
yang disisi Nabi itu menjawab, “Ia adalah oaring dari golongan terhormat. Demi Allah, jika ia meminang,
ia pasti diterima; jika ia meminta bantuan, pasti dibantu.” Rasulullah SAW diam. Kemudian lewat orang
yang lain. Dan Rasulullah pun bertanya kepada orang yang disampingnya tadi, “Bagaimana pendapatmu
tentang yang ini?” Orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, dia orang dari golongan muslim yang miskin.
Jika ia meminang, pasti ditolak; jika ia minta bantuan, pasti tidak ada yang membantu; jika ia berkata,
pasti tidak ada yang mendengarkan ucapannya.” Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Orang ini (yang
miskin) lebih baik daripada bumi dengan segala isinya dan orang yang tadi (yang dari golongan
terhormat).” (HR. Bukhari).
Nabi Saw mengajarkan kepada sahabatnya itu tentang adab yang benar. Bahwa penghormatan kepada
seseorang itu harus didasarkan oleh keisalaman atau keimanannnya bukan karena hartanya.
Nabi juga mengajarkan supaya kita bangga menjadi Muslim. Karena Islam adalah agama satu-satunya
yang diridhoi oleh Allah. Juga satu-satunya agama wahyu. Mestinya ini menjadi kebanggaan kita.
Seyogyanya seorang mensyukuri nikmat dari Allah berupa agama Islam. Sikap bangga menjadi Muslim
inilah yang tertanam kuta pada generasi emas pertama kaum Muslimin di masa Nabi Saw. Yaitu para
sahabatnya. Sehingga, mereka menjadi umat yang mulya, umat yang disegani oleh berbagai kaum di
dunia. Umat yang dengan bangganya menaklukkan raksasas dunia saat itu, yatu kerajaan Persia.
Seorang Muslim patut bangga dan bersyukur dengan Islamnya. Sebab Islam adalah agama yang telah
terbukti mampu menjelmakan peradaban yang agung dalam sejarah. Adian Husaini mengatakan yang
patut disyukuri kaum Muslim adalah Islam dalam kenyataannya bukan mengandung konsep yang utopia
atau angan-angan di atas kertas belaka. Tetapi, Islam adalah konsep-konsep praktis yang bisa dan telah
terlaksana dalam kehidupan. Islam kini bukan hanya menjadi nama satu agama, tetapi juga telah diakui
sebagai nama agama dan nama peradaban (hadharah/civilization) sekaligus. Bahkan, peradaban Islam
merupakan peradaban yang unik, karena dibangun di atas landasan ajaran dan pemikiran Islam (Islamic
thought).
Penulis Barat, Wallace-Murphy, bahkan mengakui kehebatan peradaban Islam ini. “Kita di Barat
menanggung utang kepada dunia Islam yang tidak akan pernah lunas terbayarkan” (Adian Husaini,10
Kuliah Agama Islam Panduan Menjadi Cendekiawan Mulia dan Bahagia, hal. 34).
Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas pernah mengajarkan untuk bersikap percaya diri kepada
orientalis Barat. Karena, menurutnya, orientalis itu meski dalam kajiannya hanya tahu parsial tentang
ilmu-ilmu Islam. Sedangkan kita memiliki pandangan yang menyeluruh terhadap ilmu keislaman.
Orientalis yang ahli syariah, tidak tahu akidah. Sedangkan ulama memandang dari berbagai sisi; syariah,
akidah, tasawuf, dan lain-lain. Maka sepantasnya seorang santri tidak minder berdiri di hadapan
orientalis Barat.
Kata Nabi Saw “Al-Islam Ya’lu wa Yu’la alaih”(Islam itu tinggi, tidak ada yang lebih tinggi dari Islam) (HR.
al-Baihaqi dan Daruqutni). Karena itu, umat Islam diserahi tugas mulya oleh Allah sebagai khalifah di
muka bumi untuk mewujudkan rahmatan lil alamin, memakmurkan bumi dan mewujudkan keselamatan
bagi manusia.
Karenanya, sangat aneh jika seseorang minder sebagai Islam, tidak percaya diri dengan agamanya yang
hebat. Lalu lebih bangga dengan orang asing non-Muslim, bangga memakai baju kafir dan merasa mulia
memakai cara berpikir orang kafir. Pemain bola kafir dimulyakan, sementara Ulama diabaikan. Karena
kehilangan adab (loss of adab) itu, akhirnya mereka menjadi tidak percaya diri sebagai Muslim.
Dalam Islam, adab terkait dengan iman dan ibadah kepada Allah Swt. Ukuran seorang beradab atau
tidak ditentukan berdasarkan ukuran sopan santun sekedar menurut manusia. KH. Hasyim Asy’ari
mengatakan; Barangsiapa yang tidak memiliki adab, maka ia tiada memiliki iman, tauhid (yang
sempurna) dan tidak melaksanakan syariah (KH. Hasyim Asy’ari,Adabul Alim wa Muta’allim).
Begitu pentingnya masalah adab ini, maka bisa dikatakan, jatuh bangunnya umat Islam, tergantung
sejauh mana mereka dapat memahami dan menerapakan konsep adab ini dalam kehidupan mereka.
Manusia yang beradab terhadap orang lain akan paham bagaimana mengenali dan mengakui seseorang
sesuai harkat dan martabatnya.
Martabat ulama yang sholih beda dengan martabat orang fasik yang durhaka kepada Allah. Maka orang
yang beradab tidak akan lebih menghormat kepada penguasa yang dzalim daripada guru ngaji di
kampung yang sholih. Bangsa yang maju adalah bangsa yang memulyakan tradisi keilmuan. (Bangil, 26
April 2016).